Anda di halaman 1dari 10

PERTANYAAN Dr. dr. Satya widya, Sp.

KK(K), FINSDV, FAADV

1. Apa kriteria rujukan pasien MH? Jawab:


-BTA >3+ saat pengobatan selesai
- indeks morfologi tdk mencapai 0%
- reaksi reversal maupun ENL berat
- relaps, reinfeksi, resisten
- neuritis akut dan berat
-laergi obat
- komplikasi dengan penyakit lain
- rencana operasi

2. Pada mh tipe pb pemeriksaan bta awal negatif, lalu pada akhir pengobatan jika
hasilnya tetap negatif namun gejala klinis masih menetap bahkan muncul lesi
baru itu digolongkan relaps atau bisa merupakan reaksi reversal?

Jawab : memang sulit menentukannya karena pada pb tes bta awalnya


negatif, tapi bisa dibedakan antara reaksi reversal dg relaps seperti pada tabel
3. Penjalaran skrofuloderma kan dari organ yang terkena tb dulu, terutama kgb.
Apakah ada waktu tertentu dalam munculnya gejala klinjs untuk membantu
kita mengarahkan bahwa iini adalah skrofuloderma?

Jawab : tidak ada, ini tergantung dari pertahanan tubuh dan kemampuan
infeksius baktterinya. Tp biasanya pada timetable tb, infeksi ada kgb terjadi
pada bulan 3 – 24
4. Kenapa erisipelas yang residif ditempat yang sama dapat terjadi elefantiasis?
Sementara elefentiasis itu disebabkan oleh cacing filiria ?

Jawab :
Erisipelas adalah salah satu bentuk infeksi kulit dan jaringan lunak yang
mengenai pembuluh limfa dermis dan jaringan sekitarnya, biasanya
disebabkan oleh Staphylococus aureus atau Streptococcus β-hemolitikus
group A.
Pada umumnya kuman akan masuk melalui portalt of entry. Sumber bakteri
erisipelas yang terdapat pada wajah sering kali yang menjadi host-nya adalah
nasofaring dan ada nyariwayat infeksi streptokokkus sebelumnya berupa
faringitis yang dilaporkan terjadi pada sepertiga kasus. Masuknya bakteri dari
kulit yang mengalami trauma adalah peristiwa awal terjadinya erisipelas.
Setelah masuk, infeksi menyebar diantara ruang jaringan dan terjadi
perpecahan polisakarida oleh hialuronidase yang dapat membantu dalam
penyebaran kuman,fibrinolisin yang berperan dalan penghancuran fibrin,
lesitin yang dapat merusak membran sel.
Pada erisepelas, infeksi dengan cepat menyerang dan berkembang di dalam
pembuluh limfatik. Infeksi tersebut menyebabkan infiltrasi sel plasma,
eosinofil, dan makrofag didalam dan sekitar pembuluh getah bening yang
mengalami inflamasi bersama dengan proliferasi sel endotel dan jaringan
sekitarnya mengakibatkan berliku-likunya sistem limfatik dan kerusakan
katup pembuluh getah bening.
Pada keadaan terjadinya erisipelas yang terus menerus mengakibatkan
terjadinya granulasi yang proliferatif serta terbentuknya varises saluran limfe
yang luas yang merangsang pembentukan jaringan ikat dan kolagen yang
dapat menimbulkan elefantiasis. Elefentiasis merupakan penyakit yang bukan
hanya disebabkan oleh cacing filiaria, infeksi berulang dari bakteri
streptokokus juga dapat menyebabkan elefantiasis.

5. Kenapa pada impetigo krustosa aja yg komplikasinya glomerulonefritis,


sedangkan pioderma akibat streptokokus yg lain seperti ektima, erisipelas
tidak?

Jawab :
Karena impetigo krustosa hanya terjadi pada anak dan glomerulonefritis pasca
infeksi streptokokus (poststreptococcal glomerulonephritis) juga sering terjadi
pada anak. Pada pioderma akibat streptokokus yg lain seperti ektima dan
erisipelas bisa mengenai anak dan dewasa dan lebih sering pada dewasa
sehingga insiden poststreptococcal glomerulonephritis ini jarang atau hampir
tdk terjadi pada pasien pioderma selain impetigo krustosa ini
6. Pada erisipelas dan selulitis memiliki etiologi,tempat predileksi, gejala
konstitusi dan pem labor yang sama, bagaimana cara membedakannya?
Jawab:
Erisipelas dan selulitis adalah kelainan akibat infeksi bakteri yang bersifat
akut. Erisipelas terutama disebabkan oleh Strepotococcus beta hemolyticus
group A, kadang-kadang grup B dan G. Etiologi tersering pada selulitis adalah
Staphylococcus aureus dan atau Streptococcus. Disebutkan juga bahwa
erisipelas merupakan bentuk selulitis kutaneus superfisial akut. Kedua
penyakit itu memiliki manifestasi klinis berupa eritema, edema, dan panas
pada perabaan. Perbedaan antara erisipelas dan selulitis adalah berdasarkan
adanya keterlibatan lapisan dermis bagian atas dan limfatik
superfisial sehingga menimbulkan kelainan berupa bercak kemerahan,
berbatas tegas dengan tepi lesi yang meninggi. Selulitis melibatkan lapisan
dermis bagian dalam dan lemak subkutan sehingga menimbulkan
kelainan berupa bercak kemerahan dengan batas tidak tegas dan tepi lesi yang
tidak meninggi

7. Skabies keluhan utamanya adalah bintik2 merah yang terasa gatal di daerah
predileksi. Akibat garukan nanti akan bisa timbul eskoriasi hingga
meninggalkan krusta. Apakah antibiotik sistemik pada kasus tersebut tetap
bisa diberikan atau tidak? Dan bagaimana cara pemberiannya?
Jawab:
Antibiotik tetap diberikan pada lesi yang dicurigai terjadinya infeksi sekunder.
Pilihannya antibiotik topikan bisa diberikan pada lesi yabg sedikit dan jika
lesinya banyak dan sampai menimbulkan keluhan demam dan sebaginya maka
antibiotik sistemik patut di pertimbangkan pemeberiannya.

8. Pada skabies di tanda kardinal ada yg mengenai sekelompok orang tetapi


beberapa orang tidak menimbulkan gejala (hiposensitasi). Bagaimana cara
kita mencari tau bahwa orang tersebut hiposensitasi?
Jawab:
Seseorang bisa mengalami infestasi tungau tapi tidak memberikan gejala
(hiposensitasi) atau bisa juga disebut dengan carrier. Susah membedakan
dengan orang yang normal. Tetapi orang hiposensitasi adalah orang yang
berkontak erat dengan penderita skabies baik itu keluargaa, teman, atau
tetangga yang berkontak erat. Untuk itu perlu menatalaksana dan
memberikan pengobatan pada orang tersebut.

9. Pada pemeriksaan menemukan tungau, apakah ttp digunakan pemeriksaan koh


untuk melihatnya? Seandainya pas terowongan tidak terlihat lg akibat
digaruk2, bagaimana cara menemukan tungau nya?
Jawab:
Tetap pakai pemeriksaan koh, bisa dengan menyikat lesi dan tarok di kertas
putih lalu liat dgn kaca pembesar, atau bisa dengan biopsi irisana ataupun
eksisional

10. Pada MH ada istilah default (pb putus obat >3 bln, mb >6bln). Kalau datang
pasien default ini ke kita, apa yg harus kita lakukan mengenai
pengobatannya? Lanjut mdt, diulang, atau ganti regimen?
Jawab:
pada default pertama, dilakukan pemeriksaan klinis dan bakteriologis ulang,
kemudian berikan mdt sesuai hasil pemeriksaan (pb atau mb)
Pada default kedua, lanjutkan mdt Pada default ketiga, berikan edukasi dan
cari tau penyebab mengapa pasien berhenti2 berobat

11. Bagaimana jika seseorang yg terkena tb juga terkena mh, pada pengobatan tb
sudah ada pemberian rifampisin, jadi untuk pengobatan mh nya bagaimana?

Jawab:
pengobatan rifampisinnya mengacu pada pengobatan tb, jadi yg mh tinggal
dikasi klofazimin dan dapson, pengobatan dengan rifampisin dari MH tidak
digunakan, cukup menggunakan rifampisin dari OAT, karena dosis dari
rifampisin OAT lebih besar, seteah OAT habis, baru lanjutkan dengan
rifampisin dari MDT.

12. untuk pengobatan MH, kapan pasien harus datang lagi untuk kontrol? , apa
saja yg perlu kita nilai disaat pasien dtg?
Jawabannya :
pasien harus kita edukasi pada pemberian MDT pertama kali, untuk
menjelaskan bahwa pasien dtg lgi untuk kontrol ditiap bln nya pada hari ke28
untuk menghindari putus obat, lalu sebaiknya memang obat di hari pertama
untuk selanjutnya diminum di depan tenaga medis, lalu apa saja yg harus kita
nilai? Dimulai dengan adakah efek samping obat yg berat pada pasien?
Adakah perbaikan atau perburuan dr gejala sebelum nya? Lalu kita nilai lagi
BTA nya

13. MH dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian bila pasien tidak cepat
diketahui dg MH dan bila tidak dilakukan POD. Apa edukasi bagi keluarga
pasien dalam rangka mendukung kesembuhan dan melakukan pencegahan
sekunder pasien?
Jawab:
- tidak menjauhi pasien
- keluarga terdekat pasien juga berobat/diperiksa
- pencegahan kecacatan dg bantu menggerakkan persendian, tanyakan keluhan
mata, semakin mati rasa
- bawa pasien ke dokter bisa timbul luka/tukak pada kaki atau bagian tubuh
lain
14. Ada berbagai efek samping obat MH yang kita ketahui. Kita melakukan
follow up tiap bulannya untuk mengetahui apa ada muncul efek samping.
Namun bagaimana dengan sebelum dimulainya pemberian MDT, apakah ada
persiapan khusus sebelum memulai pengobatan?
Jawab:
Pengobatan MH adalah pengobatan yang lama dan panjang. Untuk setiap
pengobatan yg berlangsung lama dilakukan bbrp pemeriksaan khusus organ
yg berhubungan dg metobolisme obat. Dilakukan pemeriksaan fungsi hepar
dan ginjal sebelum mulai MDT. Tiap bulan juga dilakukan pemeriksaan.
Bahkan bila memungkinkan dilakukan pemeriksaan enzim G6PD
sebelumnya, apakah pasien defisiensi atau tidak

15. Obat topikal skabies ada beberapa, yautu belerang endap 4-20%, emulsi
benzil-benzoat 20-25%, gemeksan 1%, krotamiton 10% dan permerrin 5%.
Salah satunya yang paling sering diresepkan adalah permetrin. Bagaimana
kita menjelaskan pemakaian permetrin ke pasien?
Jawab:
- Mandi dulu
- Abis itu lakukan aktivitas yang mau dilakukan
- Oleskan permetrin ke seluruh tubuh kec wajah, biarkan 8-10 jam (kalo ada
yang kena air, oleh lagi)
- Setelah itu bilas dengan mandi

16. krim permetrin merupakan obat antiskabies yg paling efektif namun tidak
dianjurkan pada bayi usia kurang dari 2 bulan. Apakah pilihan obat anti
skabies yg cocok dan syarat obat yg ideal pada pasien skabies?
- sulfur presipitatum 4-20% salep atau krim. Obat ini dapat dipakai pada bayi
usia kurang 2 tahun namun obat ini tidak efektif untuk stadium telur sehingga
harus digunakan 3 hari berturut-turut, berbau, mengotori pakaian seeta kdg
iritasi. Tetapi hal ini seharusnya tidak menjadi permasalahan karena bayi
lebih sering di rumah.
- syarat obat ideal adalah efektif pd smua stadium, tidak iritasi dan toksis,
tidak berbau dan mengotori pakaian, mudah didapat dan murah.

17. Pada tb kutis, byk sekali bentuk2nya dgn gejala klinis atau tampilan yg
berbeda. Apakah ada tanda khas dri tb kutis ini shingga kta bisa
memperkirakan pasien tsb menderita tb kutis ?
Jawab
- Pertama, pasien dtg dgn keluhan pembesaran kgb yg multipel (leher,
ketiak, lipat paha) dgn perabaan lunak dan tanpa radang atau sdh ada cold
abses--> dikarenakan Indonesia negara endemis TB maka yg pertama kita
fikirkan adalah TB kutis yg bentuknya sklofuroderma.
- Jika pasien dtg dgn keluhan adanya lesi berbentuk bulan sabit di extremitas
bwh dgn riwayat trauma pada area lesi sblmnya --> yg pertama kita fikirkan
adalah TB kutis verukosa (bentuk ke2 tb kutis trsering stlh sklofuroderma di
indo)--> jika bkn bru fikirkan bentuk lain sperti lupus vulgaris.

18. Impetigo krustosa ditandai dengan adanya vesikel yg mudah pecah sehingga
terlihat sebagai krusta tebal berwarna kuning. Penyakit ini bisa di DD dengan
ektima yg mempunyai klinis kurang lebih mirip seperti krusta teb berwarna
kuning yg jika diangkat akan terdapat ulkus yg dangkal. Penyebab dari kedua
penyakit ini sama2 oleh streptococcus B hemoliticus. Mengapa kedua
penyakit ini mempunyai predileksi tempat yg berbeda?

Jawaban :
pada impetigo krustosa port d entry sumber infeksi berasal dari daerah sekitar
lubang hidung dan mulut sehingga daerah terbanyaknya yaitu mengenai
sekitar mulut dan hidung, sedangkan pada ektima terjadi pada tempat² dilokasi
yg relatif sering terkena trauma seperti pada tungkai bawah, sehingga
manifestasi timbul pada daerah tersebut.