Anda di halaman 1dari 66

MAKALAH QUALITY CONTROL

“PRODUKSI DAN PRODUK SEDIAAN SEMI SOLID”

DI SUSUN OLEH:
AMANUDDIN 1613015048
SELVY JUMIATUL ASTATI 1613015066
MEUTIA RIDHA SAPUTRI 1613015105
RIRIN 1613015108
ULFAH NUR FADILLAH 1613015111
HESTI NURLINDA 1613015135
MAULIDYA 1613015141
SONNYA SHANDRISCA 1613015159

S1 C 2016

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
Alhamdulilah puji dan syukur atas ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan karunianya kepada penyusun sehingga dapat menyelesaikan makalah
Quality Control ini tepat waktu.
Adapun tujuan penulis membuat makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas
makalah pada mata kuliah Quality Control. Semoga makalah yang disusun oleh
kami sebagai penyusun ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembaca.
Demikian makalah ini dibuat dan kami menyadari di dalam penyusunan
dan pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan dan maka daripada itu
kritik dan saran sangat kami harapkan untuk mencapai kesempurnaan makalah ini
agar lebih baik lagi, dan atas kritik dan saran kami ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb

Samarinda, 29 Maret 2019

Penyusun

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Seiring dengan semakin berkembangnya sains dan tekhnologi,
perkembangan di dunia farmasi pun tak ketinggalan. Semakin hari
semakin banyak jenis dan ragam penyakit yang muncul. Perkembangan
pengobatan pun terus di kembangkan. Berbagai macam bentuk sediaan
obat, baik itu liquid, solid dan semisolid telah dikembangkan oleh ahli
farmasi dan industri.
Ahli farmasi mengembangkan obat untuk pemenuhan kebutuhan
masyarakat, yang bertujuan untuk memberikan efek terapi obat, dosis yang
sesuai untuk di konsumsi oleh masyarakat. Selain itu, sediaan semisolid
digunakan untuk pemakaian luar seperti krim, salep, gel, pasta dan
suppositoria yang digunakan melalui rektum. Kelebihan dari sediaan
semisolid ini yaitu praktis, mudah dibawa, mudah dipakai, mudah pada
pengabsorbsiannya. Juga untuk memberikan perlindungan pengobatan
terhadap kulit.
Berbagai macam bentuk sediaan semisolid memiliki kekurangan,
salah satu diantaranya yaitu mudah di tumbuhi mikroba. Untuk
meminimalisir kekurangan tersebut, para ahli farmasis harus bisa
memformulasikan dan memproduksi sediaan secara tepat. Dengan
demikian, farmasis harus mengetahui langkah-langkah yang tepat untuk
meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Dengan cara melakukan,
menentukan formulasi dengan benar dan memperhatikan konsentrasi serta
karakteristik bahan yang digunakan dan dikombinasikan dengan baik dan
benar.
Industri farmasi seperti sediaan semisolid merupakan salah satu
industri yang sangat diatur oleh regulasi/pemerintah. Regulasi mengatur
banyak area termasuk aspek mutu, pengujian, audit, produksi, spesifikasi
bahan awal dan produk jadi, dll. Salah satu regulasi yang menjadi

2
persyaratan dan harus dipenuhi oleh setiap industri farmasi di Indonesia
adalah CPOB. Mutu menjadi reputasi dari suatu perusahaan. Mutu dijaga
untuk mencegah produk kembalian dan untuk memberikan pengobatan
yang efektif dan aman pada pasien. Selain regulasi oleh CPOB, standard
mutu minimal dari suatu obat juga dicantumkan dalam farmakope. Selain
itu, setiap industri farmasi akan memiliki kebijakan mutu yang dianut
masing-masing dalam menjaga mutunya .

3
BAB II
ISI

II.1 PENGERTIAN
II.1.1 SALEP
Menurut FI. ed III, salep adalah sediaan semi padat yang
mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar.
Menurut FI.ed IV, salep adalah sediaan setengah padat
ditunjukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir.
Salep tidak boleh berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar
bahan obat dalam salep mengandung obat keras atau narkotika
adalah 10%.
Menurut DOM, Salep adalah sediaan semi padat
dermatologis yang menunjukkan aliran dilatan yang penting.
Menurut Scoville’s, salep terkenal pada daerah dermatologi dan
tebal, salep kental dimana pada dasarnya tidak melebur pada suhu
tubuh, sehingga membentuk dan menahan lapisan pelindung pada
area dimana pasta digunakan. Menurut Formularium Nasional,
salep adalah sediaan berupa massa lembek, mudah dioleskan,
umumnya lembek dan mengandung obat, digunakan sebagai obat
luar untuk melindungi atau melemaskan kulit, tidak berbau tengik.

DASAR SALEP
Menurut FI Ed IV, dasar salep yang digunakan sebagai
pembawa dibagi dalam 4 kelompok, yaitu dasar salep senyawa
hidrokarbon,dasar salep serap,dasar salep yang dapat dicuci dengan
air, dasar salep larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan
salah satu dasar salep tersebut.
a) Dasar Salep Hidrokarbon
Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, antara
lain vaselin putih dan salep putih. Hanya sejumlah kecil

4
komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. Salep
ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat
dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar
salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien, sukar
dicuci, tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam
waktu lama.
Contoh :
a. Vaselin kuning (Petrolatum), merupakan campuran yang
dimurnikan dan hidrokarbon setengah padat diperoleh
dari minyak bumi. Dapat mengandung zat penstabil yang
sesuai. Massa seperti minyak, kekuningan hingga amber
lemah, berfluoresensi sangat lemah, walaupun setelah
melebur. Dalam lapisan tipis transparan. Tidak atau
hampir tidak berbau dan berasa.
Melebur pada temperatur antara 38o C dan 60o C.
Dapat digunakan secara tunggal atau dalam campuran
dengan zat lain sebagai dasar salep.
b. Vaselin putih (White Petrolatum USP), merupakan
campuran yang dimurnikan dan hidrokarbon setengah
padat diperoleh dari minyak bumi dan keseluruhan atau
hampir keseluruhan dihilangkan warnanya. Dapat
mengandung stabilizator yang sesuai. Putih atau
kekuningan pucat massa berminyak transparan dalam
lapisan tipis setelah didinginkan pada suhu 00C.
Penggunaannya sama dengan Vaselin kuning.
Vaselin putih yang telah dihilangkan warnanya dengan
menggunakan Asam Sulfat, maka harus hati – hati dalam
penggunaan untuk salep mata, karena akan terjadi iritassi
mata oleh kelebihan asam yang dikandung kalau tidak
dinetralkan dahulu dengan Kalium hidroksida atau basa
lain.

5
Vaselin hanya dapat menyerap air sebanyak 5% dengan
penambahan surfaktan seperti Natrium laurylsulfat,
Tween, akan mampu menyerap air lebih banyak juga
akan penambahan kolesterol kemampuan menyerap air
akan dinaikkan.
Penggunaan Vaselin sebagai dasar salep mempunyai
kelebihan:
a) Tidak bercampur dan tidak larut dalam air.
b) Tidak tengik
c) Tidak terkesan pada kulit
d) Tidak terabsobsi
Selain mempunyai kelebihan juga mempunyai
kekurangan yaitu karena sukarnya bercampur atau tidak
larut dalam air, sehingga sukar dihilangkan atau dicuci
bila melekat pada kulit, sehingga yang menggunakan
kurang menyenanginya.
c. Salep putih (White ointment) yang merupakan campuran
50 bagian malam putih dan 950 bagian vaselin putih.
d. Salep kuning (Yellow ointment), yang merupakan
campuran 50 bagian malam kuning dan 950 bagian
vaselin kuning.
e. Paraffin adalah campuran hidrokarbon padat yang
dimurnikan, yang diperoleh dari minyak tanah. Hablur
tembus cahaya atau agak buram, tidak berwarna atau
putih, tidak berasa, agak berminyak. Dapat digunakan
untuk membuat keras atau kaku dasar salep setengah
padat yang berlemak.
f. Paraffin cair adalah campuran hidrokarbon yang
diperoleh dari minyak mineral. Berguna dalam
menggerus bahan yang tidak larut pada preparat salep
dengan dasar berlemak.

6
Paraffin padat dan cair jarang digunakan secara sendiri-
sendiri, tetapi selalu dikombinasikan (dicampur keduanya
sesuai konsistensi salep yang diinginkan atau dengan
lemak-lemak lain serta lemak padat lainnya.
g. Jelene terdiri dari minyak hidrokarbon dan malam yang
tersusun sedemikian hingga fase cair mudah bergerak
dengan demikian terbentuk gerakan dalam sehingga
difusi obat ke sekelilingnya dapat terjadi lebih baik.
Keuntungan penggunaan jelene dalam penyimpanan tetap
dan cukup lunak. Tidak tercampurkan dengan Pix
Liquida, Kamfer, Menthol, Gandapura, karena akan
membuat jelene encer.
h. Minyak tumbuh – tumbuhan misalnya : Oleum Sesami.

b) Dasar Salep Serap


Dasar salep serap ini dibagi dalam dua kelompok.Kelompok
pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan
air membentuk emulsi air dalam minyak(paraffin hidrofilik
dan lanolin anhidrat),dan kelompok kedua terdiri atas emulsi
air dalam minyak dan dapat bercampur dengan sejumlah
larutan air tambahan(lanolin).Dasar salep ini juga berfungsi
sebagai emolien.
a. Petrolatum Hidrofilik; dan kolesterol, alkohol stearat, lilin
putih dan petrolatum putih. Dasar salep ini memiliki
kemampuan mengabsorbsi air dengan membentuk emulsi
dalam minyak.
b. Lanolin Anhidrat adalah zat serupa lemak yang
dimurnikan, diperoleh dari bulu domba yang dibersihkan
dan dihilangkan warna dan baunya dapat mengandung
tidak lebih dari 0,25% air. Massa seperti lemak, lengket,
warna kuning, bau khas.

7
c. Lanolin adalah setengah padat, bahan seperti lemak
diperoleh dari bulu domba, merupakan emulsi air dan
minyak yang mengandung air antara 25% - 30%.
Penambahan air dapat dicampurkan kedalam lanolin
dengan pengadukan.
d. Cold Cream ( krim pendingin ), merupakan emulsi air
dalam minyak, setengah padat, putih, dibuat dengan lilin
setil ester, lilin putih, minyak mineral, Natrium Tetraborat
dicampur dengan asam lemak bebas yang terdapat dalam
lilin-lilin akan membentuk sabun Natrium yang berfungsi
sebagai zat pengemulsi.
Krim pendingin digunakan sebagai emolien dan dasar
salep.
e. Campuran terdiri dari:
 30 bagian kolesterol
 30 bagian stearil alkohol
 80 bagian malam putih
 860 bagian vaselin putih.
Dasar salep ini mempunyai kemampuan mengabsorbsi air
dalam membentuk emulsi air dalam minyak.
f. Unguentum Molle terbuat dari :
 Paraffin 22 bagian
 Wolfet 10 bagian
 Paraffin Liquidum 68 bagian
Dilebur pada suru serendah mungkin, massa lembek
seperti Vaselin dan tahan lama. Mampu menyerap air
100%.
g. Unguentum Durum ( Pharmacope Jennan )
 Paraffin 20 bagian
 Wolfet 10 bagian
 Paraffin Liquidum 50 bagian

8
Dibuat sama dengan unguentum Molle, konsistensinya
agak keras dibanding dengan unguentum Molle dan
digunakan sebagai salep penutup. Sangat kuat menyerap
air sama dengan unguentum Molle.
Dasar ini juga berfaedah dalam farmasi untuk
pencampuran larutan berair kedalam larutan berlemak
karena mudah menyerap air.

c) Dasar salep yang dapat dicuci dengan air


Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air, antara lain
salep hidrofilik (krim). Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai
dapat dicuci dengan air karena mudah dicuci dari kulit atau
dilap basah sehingga lebih dapat diterima untuk dasar
kosmetika. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif
menggunakan dasar salep ini dari pada dasar salep
hidrokarbon. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat
diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang
terjadi pada kelainan dermatoligik.
Dasar salep ini nampaknya seperti cream dapat
diencerkan dengan air atau larutan berair. Bahan obat tertentu
dapat diabsorbsi lebih baik oleh kulit bilamana menggunakan
dasar salep tipe ini dibanding dasar salep lainnya.
Dasar salep ini dapat digunakan campuran yang terdiri dari:
 0,25 bagian Metil Paraben
 0,15 bagian Propil Paraben
 10 bagian Natrium Laurylsulfat (pengemulsi)
 120 bagian Propilenglikol (fase air)
 250 bagian Stearil alkohol
 250 bagian Vaselin putih dan air secukupnya hingga 100
bagian (fase air). Campuran tersebut, juga disebut salep
hidrofilik (suka air), yang dapat bercampur dengan baik

9
terhadap bahan obat, tetapi harus diingat yang merusak
emulsi. Dasar salep ini (Hidrofilik) mempunyai kelebihan
yaitu dapat dicuci dengan air, tidak berbekas pada
pakaian, dapat diencerkan dengan air serta dapat
menyerap cairan – cairan dan luka / kudis,
menghilangkan rasa panas yang ditimbulkan, disamping
itu juga bersifat kosmetika.
Sifat –sifat ini disebabkan karena adanya emulgator
yang digunakan untuk mempengaruhi pengemulsian.
Namun, pada umumnya dasar salep hidrofilik adalah relatif
stabil karena dipengaruhi adanya penguapan (air) yang
nantinya akan merusak emulsi. Itulah sebabnya salep
tersebut sebaiknya diberikan dalam wadah tertutup rapat
(tube). Salep hidrofilik selain cepat menjadi kering (terjadi
penguapan) juga cepat berjamur untuk itu perlu
penambahan bahan pengawet dengan kadar 0,1%.

d) Dasar Salep larut dalam air


Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri
dari konstituen larut air. Dasar salep jenis ini memberikan
banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapar dicuci
dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air
seperti paraffin, lanolin anhidrat atau malam. Dasar salep ini
lebih tepat disebut gel.
Tidak seperti dasar salep yang tidak larut dalam air, yang
mengandung keduanya, yaitu komponen yang larut maupun
yang tidak larut dalam air. Dasar salep yang larut dalam air
hanya mengandung komponen yang larut dalam air. Tetapi,
seperti dasar salep yang dapat dibersihkan dengan basis yang
larut dalam air dapat dicuci dengan air.

10
Basis yang larut dalam air hasilnya disebut Greaseless karena
tidak mengandung bahan berlemak. Karena dasar salep ini
sangat mudah melunak dengan penambahan air, larutan air
tidak efektif dicampurkan kedalam bahan dasar ini. Dasar
salep ini lebih baik digunakan untuk bahan padat atau tidak
berair. Dasar salep yang dapat larut dalam air umumnya
digunakan.
Campuran yang terdiri dari :
 25 bagian poliglikol – 1500
 40 bagian poliglikol – 4000
 Propilenglikol atau gliserol secukupnya hingga 100
bagian atau dasar salep larut lainnya yang cocok
Polyethylenglicol ointment USP, campuran terdiri dari:
 40% Polietilenglikol – 4000
 60% Polietilenglikol – 400
Campuran ini dibuat dengan peleburan atau campuran dari:
 400 bagian PEG 3350 (padat)
 600 bagian PEG 400 (cair)
Bila diperlukan salep yang lebih baik, formula dapat
diubah untuk menghindari bagian yang sama antara kedua
bahan. Jika 6% sampai 25 % dan larutan berair dicampurkan
kedalam dasar salep. Penggantian 50 gram PEG 3350 dengan
sejumlah alkohol stearat berguna untuk membuat produk
akhir yang lebih padat dalam jumlah yang sama.
Polietilenglikol adalah polimer dan etilen oksida dan
air ditunjukkan dengan rumus HOCH2(CH2OCH2)n CH2OH.
Panjang rantai dapat berbeda–beda untuk mendapatkan
polimer yang mempunyai viskositas bentuk fisik (cair, padat,
atau setengah padat) yang diinginkan.
Dalam Farmakope Indonesia Edisi III, diuraikan macam –
macam Poliglikol yaitu :

11
1) Poliglikol – 400, berbentuk cairan kental jernih
2) Poliglikol – 1000, berbentuk massa seperti salep
3) Poliglikol – 1500, berbentuk serbuk licin
4) Poliglikol – 4000, berbentuk serbuk licin putih atau
potongan putih kuning gading
5) Poliglikol – 6000, berbentuk serbuk licin.
Dalam pengadaan Poliglikol yang mempunyai nomor 1000
keatas dikenal dengan nama “ Carnaubawax “. Salep – salep
yang dibuat dengan bahan dasar salep ini mudah dipakai,
melekat pada kulit dan mudah dicuci dengan air dan tidak
merangsang kulit. Poliglikol juga dapat digunakan sebagai
bahan dasar pada pembuatan suppositoria.
Unguentum Gliserin ( FN ’78 ) terbuat dari :
Untuk 10 gram salep mengandung ;
 1 gram amylum manihot
 9 gram gliserin
 Aqua destillata hingga 10 gram
Dibuat dengan cara pemanasan diatas api langsung (api kecil)
atau diatas penangas air sambil diaduk, setelah terbentuk
massa salep ditimbang dan cukupkan beratnya hingga 10
gram dengan penambahan air suling atau larutan gliserin
dalam air 5 %. Dasar salep ini selalu dibuat segar (baru)
karena dalam penyimpanan akan kehilangan konsistensinya
dan termasuk dasar salep yang mudah dicuci dengan air.

Kualitas dasar salep yang baik adalah :


1) Stabil, selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas,
tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembaban kamar.
2) Lunak, semua zat yang ada dalam salep harus dalam
keadaan halus, dan seluruh produk harus lunak dan
homogen.

12
3) Mudah dipakai
4) Dasar salep yang cocok
5) Dapat terdistribusi merata

Cara Pembuatan Salep Ditinjau Dari Zat Berkhasiat Utamanya


1. Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam dasar salep
1) Camphora
a. Dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan
dalam pot salep tertutup (bila tidak melampaui daya
larutnya)
b. Bila dalam resep terdapat minyak – minyak maka
kamfer dilarutkan dalam minyak lemak tersebut.
c. Bila kamfer bersama – sama menthol, salol, atau zat
lainnya yang dapat mencair jika dicampur (karena
penurunan titik eutektik) maka kamfer dicampur dengan
sesamanya supaya mencair baru ditambahkan dasar
salep
d. Jika a, b, c, tidak ada maka kamfer diberi etanol 95 %
atau eter, kemudian digerus dengan dasar salep.
Contoh – contoh resep :
R/ Camphora 1
Vaselin falv. 9
m.f.ungt.
S.ungt.Camphoratum

R/ Camphorae 1
Ol.cocos. 1
Adeps lanae 18
m.f.ungt

13
R/ Mentholi
Camphorae aa 0,3
Lanolin 5
Ungt. Acid Salycylas 15
m.d.s.u.e

2) Pellidol
Larut 3 % dalam vaselin dan 7 % dalam minyak lemak maka
Pellidol dilarutkan bersama – sama dasar salep yang
dicairkan. Bila dasar salep disaring maka pellidol juga ikut
disaring dan jangan lupa menambahkan 20 %. Kalau
jumlahnya melebihi daya larutnya, maka digerus dengan
dasar salep yang sudah dicairkan.
R/ Pellidol 0,1
Zinci Oxyd. Ungt 20
m.d.s.ad.us.ext

R/ Pellidol 0,5
Zinci. Oxyd. Liniment. Oleos 25
m.d.s.ad.Us.ext.

3) Iodium
a. Kalau memenuhi kelarutan dikerjakan seperti pada
kamfer (Ia)
b. Dilarutkan dalam larutan pekat KI atau NaI (seperti pada
unguentum Iodii dari Farmakope Indonesia)
c. Dilarutkan dalam etanol 95% kemudian tambahkan dasar
salep
Contoh resep :
R/ Iodii 2
Kalii iodii 3

14
Aq.dest 5
Ungt.Simplex 90
m.d.s.u.e
caranya : larutkan KI dalam air lalu tambahkan iodium
hingga larut, setelah itu gerus bersama unguentum simplex
hingga homogen.

2. Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam air


1. Protargol (argentum proteinatum)
a. Larut dalam air dengan jalan menaburkan diatas air
kemudian didiamkan selama 15 menit ditempat gelap.
b. Bila dalam resep terdapat gliserol, maka Protargol
digerus dengan gliserin baru ditambah air, dan tidak
perlu ditunggu 15 menit (gliserol mempercepat daya
larut protargol dalam air)
2. Colargol (argentum colloidale)
Sama dengan Protargol dan air yang di pakai 1/3 kalinya.
3. Argenti Nitras
Jika dilarutkan dalam air akan meninggalkan bekas hitam
pada kulit kerena terbentuk Ag2O, karena itu pada
pembuatan AgNO3 tidak dilarutkan dalam air walaupun ia
larut. Kecuali pada resep obat wasir.
4. Phenol
Sebenarnya phenol mudah larut dalam air, tetapi dalam salep
tidak dilarutkan karena bekerja-nya merangsang, juga tidak
dapat diganti dengan phenol liquefactum (campuran fenol
dan air 77-81,5 %). Jadi dikerjakan seperti pada kamfer
dalam salep.
5. Bahan obat yang dalam salep tidak boleh dilarutkan ialah
Argenti Nitras, Phenol, Pyrogalol, Chrysarobin, Zinci

15
Sulfas, Antibiotika, Oleum lecoris Aselli, Hydrargyri
Bichloridum dan Stibii et Kalii sulfas.
Contoh-contoh resep:
R/ Kalii iodii 3
Lanolin 16
Ungt. Simplex ad 30
m.d.s.u.e
penyelesaian : KI dilarutkan dengan air dari lanolin.

R/ Procain HCl 0,1


Aq.rosae 1
Adeps lanae 3
ZnO 3
Vaselin ad 30
m.d.s.u.e
penyelesaian :
 Procain HCl dilarutkan dengan aqua rosae
 ZnO diayak dulu

3. Zat berkhasiat bentuk padat tak larut


Umumnya dibuat halus dengan mengayak atau menjadikannya
serbuk halus terlebih dahulu.
 Belerang, tidak boleh diayak
 Acidum Boricum, diambil yang pulveratum
 Zinci Oxydum, harus diayak terlebih dahulu dengan
pengayak No.100

4. Zat berkhasiat berupa cairan


a. Air

16
 Terjadi reaksi, misalnya aqua calcis dengan minyak
lemak akan terjadi penyabunan. Untuk itu cara
pengerjaannya adalah:
a. Diteteskan sedikit – sedikit
b. Dikocok dalam botol bersama minyak lemak, baru
dicampur dengan bahan lainnya.
Contoh resep :
R/ Zinci Oxyd.
Oleum Sesami
Aqua Calcis aa 10
Disini akan terjadi penyabunan Aqua Calcis dengan Oleum
Sesami.
 Tidak terjadi reaksi
a. Jumlah sedikit, diteteskan terakhir sedikit demi sedikt
sampai terserap oleh dasar salep.
b. Jumlah banyak, diuapkan atau diambil bahan
berkhasiatnya dan berat airnya diganti dengan dasar
salep.
b. Alkohol
 Jumlah sedikit, diteteskan terakhir sedikit demi sedikit
sampai terserap oleh dasar salep.
 Jumlah banyak :
1. Tahan panas, misalnya Tinc.Ratanhiae dipanaskan diatas
tangas air sampai sekental sirup atau 1/3 bagian,
kehilangan beratnya diganti dengan dasar salep.
2. Tidak tahan panas:
 Diketahui perbandingannya maka diambil bagian-
bagiannya saja. Contohnya tinctura iodii.
 Tidak diketahui perbandingannya, diteteskan
terakhir sedikit demi sedikit.

17
Perlu diperhatikan bahwa kehilangan berat
pelarutnya hendaknya diganti dengan dasar salep.
Bila dasar salep lebih dari satu macam, maka harus
diperhitungkan menurut perbandingan dasar salep
tersebut.
Contoh :
R/ Tinct. Ratanhiae 6
Vaselin 20
Adeps lanae 10
m.f.ungt.
setelah Tinct. Ratanhiae dipanaskan beratnya menjadi 2 g ,
jadi kehilangan berat sebanyak 4 g diganti dengan dasar
salep yaitu vaselin dan adeps lanae yang jumlahnya sesuai
dengan perbandingan vaselin dan adeps lanae dala resep.
Vaselin = 20 + 20/30 x 4 = 22,667
Adeps lanae = 10 + 20/30 x 4 = 11,333
c. Cairan kental
Umumya dimasukkan sedikit demi sedikit, contoh : Gliserin,
Pix Lithantracis, Pix Liquida, Oleum Cadini, Balsamum
Peruvianum, Ichtyol, Kreosot.

5. Zat berkhasiat berupa extractum


a. Extractum Siccum
Pada umumnya larut dalam air, jadi dilarutkan dalam air dan
berat air dikurangi dasar salep.
b. Extractum Liquidum
Dikerjakan seperti pada cairan dengan alkohol
c. Extractum Spissum
Diencerkan terlebih dahulu dengan air atau etanol.

18
6. Lain-lain
a. Naphtolum
Dapat larut dalam Sapo Kalinus, kalau tidak ada sapo
kalinus dikerjakan seperti kamfer.
b. Bentonit
Berupa serbuk halus yang dengan air membentuk massa
seperti salep. Senyawa Aluminium Silikat yang mengikat
air. Cara pembuatan yang terbaik dengan menambahkan
sedikit demi sedikit ke dalam air hangat ( direndam dalam
air, biarkan kurang lebih 1 jam ) salep dengan Bentonit dan
air tidak tahan lama, karena itu perlu ditambahkan lemak
agar tidak memisah airnya.

Ketentuan Umum Cara Pembuatan Salep


1. Peraturan salep pertama
Zat – zat yang dapat larut dalam campuran lemak
dilarutkan kedalamnya, jika perlu dengan pemanasan.
2. Peraturan salep kedua
Bahan – bahan yang dapat larut dalam air, jika tidak ada
peraturan-peraturan lain dilarutkan lebih dahulu dalam air
asalkan air yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis
salep. Jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis.
3. Peraturan salep ketiga
Bahan – bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat
larut dalam lemak dan air, harus diserbuk lebih dahulu
kemudian diayak dengan pengayak B40.
4. Peraturan salep keempat
Salep – salep yang dibuat dengan jalan mencairkan,
campurannya harus digerus sampai dingin.

19
Bahan Yang Ditambahkan Terakhir pada Suatu Massa Salep
1. Ichtyol, sebab jika ditambahkan pada massa salep yang panas
atau digerus terlalu lama dapat terjadi pemisahan.
2. Balsem – balsem dan minyak atsiri, balsem merupakan
campuran dari damar dan minyak atsiri, jika digerus terlalu lama
akan keluar damarnya sedangkan minyak atsiri akan menguap.
3. Air, berfungsi sebagai pendingin dan untuk mencegah
permukaan mortir menjadi licin.
4. Gliserin, harus ditambahkan kedalam dasar salep yang dingin,
sebab tidak bisa campur dengan bahan dasar salep yang sedang
mencair dan ditambahkan sedikit-sedikit sebab tidak bisa
diserap dengan mudah oleh dasar salep.

II.1.2 PASTA
Menurut FI ed IV, pasta adalah sediaan semi padat yang
mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk
pemakaiaan topikal. Kelompok pertama dibuat dari gel fase
tunggal mengandung air, misalnya pasta natrium
korboksimetilselulose ( Nat. CMC ). Kelompok lain adalah pasta
berlemak misalnya pasta zinc oksida merupakan salep yang padat,
kaku, tidak meleleh pada suhu tubuh dan berfungsi sebagai lapisan
pelindung pada bagian yang diolesi.
Pasta berlemak ternyata kurang berminyak dan lebih
menyerap dibanding dengan salep karena tinggi kadar obat yang
mempunyai afinitas terhadap air. Pasta ini cenderung untuk
menyerap sekresi seperti serum dan mempunyai daya penetrasi dan
daya maserasi lebih rendah dari salep. Oleh karena itu pasta
digunakan untuk lesi akut yang cenderung membentuk kerak,
menggelembung atau mengeluarkan cairan.

20
Pasta gigi digunakan untuk pelekatan pada selaput lendir
untuk memperoleh efek lokal, misalnya pasta gigi Triamsinolon
asetonida.
Cara pemakaian dengan mengoleskan lebih dahulu dengan
kain kasa. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, wadah tertutup
rapat atau dalam tube.
Pembuatan pasta umumnya bahan dasar yang berbentuk
setengah padat sebaiknya dicairkan terlebih dahulu baru dicampur
dengan bahan padat dalam keadaan panas agar lebih mudah
bercampur dan homogen.
Contoh resep
Acidi Salicylici Zinci Oxydi Pasta ( FN 78 ) = Pasta Zinci Oxydi
Salicylata ( Ph. Bld.Ed.V )
R/ Acidi Salicylici 0,2
Zinci Oxydi 2,5
Amylum Tritici 2,5
Vaselin flava ad 10
m.f.pasta
catatan : Zno diayak dan Vaselin flava dilelehkan

Zinci Pasta ( FN 78 ) = Pasta Zinci Oxydi ( Ph.Bld.Ed.V)


R/ Zinci Oxydum 25
Amylum tritici 2,5
Vaselin flava hingga 10
m.f.pasta
catatan : Zno diayak dan Vaselin Flava dilelehkan
pasta kering adalag suatu pasta bebas minyak mengandung
kurang lebih 60 % zat padat (serbuk). Dalam pembuatan akan
terjadi kesukaran bila dalam resep terdapat Ichthamolum atau
Turnenol Ammonium, karena dengan zat tersebut pasta akan
menjadi encer.

21
Contoh resep:
R/ Bentonit 1
Sulfur Praecip 2
Zinci Oxydi 10
Talcum 10
Ichthamolum 0,5
Glycerin
Aqua aa 5
m.f.pasta
supaya tidak menjadi kering, sebaiknya ditempatkan ditempat
yang kedap. Bentonit ditambahkan sebagai stabilisator, bentonit
dicampur dengan serbuk yang lain baru ditambahkan cairan yang
tersedia.

Formulasi Pasta
Pasta biasanya dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang
berbentuk serbuk dalam jumlah besar dengan vaselin atau paraffin cair
atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan gliserol,
musilago, atau sabun.
1. Vaselinum album
Vaselin terdiri dari vaselin putih dan kuning. Vaselin putih adalah
bentuk yang telah dimurnikan warnanya, karena pemucatan
menggunakan asam sulfat anhydrous tidak larut dalam air, tidak
tercucikan dengan air. Kerugiannya adalah berlemak dan tidak
dapat dikombinasikan dengan cairan yang mengandung air, hanya
dapat menyerap air 5 %, jarang dipengaruhi oleh udara,
kelembaban kebanyakan bahan obat dan bahan kimia. Vaselin
digunakan pula sebagai pelumas, pelindung, penutup kulit, karena
merupakan film penutup pada kulit yang mencegah penguapan.

22
2. Gliserol
Gliserol dipakai sebagai zat tambahan, antimikroba dan
kelembapan. Pada dasarnya basis yang digunakan dalam formulasi
sediaan pasta tidak jauh berbeda dengan basis yang digunakan
dalam formulasi sediaan salep, yaitu:
 Karakteristik Basis Hidrokarbon:
- Tidak diabsorbsi oleh kulit
- Inert
- Tidak bercampur dengan air
- Daya absorbsi air rendah
- Menghambat kehilangan air pada kulit dengan membentuk
lapisan tahan air dan meningkatkan absobsi obat melalui
kulit.
 Basis absorbsi
Karakteristik bersifat hidrofil dan menyerap sejumlah tertentu
air dan larutan cair. Terbagi menjadi:
- Non emulsi co. Basis ini menyerap air untuk memproduksi
emulsi air dan minyak. Terdiri atas Wool Fat, Wool
Alcohols, Beeswax, dan Cholesterol.
- Emulsi A/M co. Terdiri atas : Hydrous Wool Fat (Lanolin),
Oily Cream
 Larut Air
Misalnya PEG ( Polyethylene Glycol ) yang mampu
melarutkan zat aktif yang tak larut dalam air dan meningkatkan
penyebaran obat. Bersifat stabil, tersebar merata, dapat
mengikat pygmen dan higroskopis (mudah menguap),
sehingga dapat memberikan kenyamanan pada pemakaian
sediaan pasta.
Keuntungan dan Kerugian Pasta:
Adapun keuntungan dari bentuk sediaan pasta adalah :
1. Mengikat cairan sekret (eksudat)

23
2. Tidak mempunyai daya penetrasi gatal dan terbuka, sehingga
mengurangi rasa gatal lokal.
3. Lebih melekat pada kulit sehingga kontaknya dengan jaringan lebih
lama.
4. Konsentrasi lebih kental dari salep.
5. Daya absorbsi sediaan pasta lebih besar dan kurang berlemak
dibandingkan dengan sediaan salep.
Sedangkan kerugian dari bentuk sediaan pasta adalah :
1. Karena sifat pasta yang kaku dan tidak dapay ditembus, pasta pada
umumnya tidak sesuai untuk pemakaian pada bagian tubuh yang
berbulu
2. Dapat mengeringkan kulit dan merusak lapisan kulit epidermis
3. Dapat menyebabkan iritasi kulit.

1. Linimenta (obat gosok / olesan)


Linimenta adalah sediaan cair atau kental, mengandung analgetika
dan zat yang mempunyai sifat rubifasien, melemaskan otot atau
menghangatkan dan digunakan sebagai obat luar. Pemakaian
linimenta dengan cara dioleskan menggunakan kain flanel lalu
diurut.
Macam-macam linimenta yaitu:
1. Campuran lemak padat dengan lemak lunak
2. Campuran minyak dan cairan alkali (dibuat dengan cara
penyabunan)
3. Linimentum dengan Balsamum Peruvianum Ol. Terebinthinae
4. Linimentum dengan minyak (harus memakai gom)
5. Emulsi yang digunakan sebagai liniment, yaitu Emulsum
Benzylis Benzoatus
6. Linimentum Chloroform (dengan cara pencampuran biasa)
Ada dua jenis linimentum yaitu sebagai berikut :

24
1. Liniment beralkohol liniments oleaginous lebih ringan dalam
tindakan mereka, digunakan umumnya untuk mereka tetapi
rubefacient, counteriritan lebih berguna ketika nanti agak
kurang mengiritasi. Astringen dan pijat diperlukan efek
menembus kulit, tergantung pada mereka mudah daripada
bahan-bahan dengan minyak dasar yang berfungsi lapisan
semata-mata sebagai pelindung.
2. Liniments beralkohol liniments oleaginous, solvent mungkin
rubefacient tetap,digunakan umumnya untuk minya
counteriritan (minyak alkohol, kacang agak astringen, dan
minyak, minyak wijen efek penetrasi, minyak biji kapas) atau
menembus kulit lebih tidak stabil substansi (mudah daripada
melakukan hal wintergreen dengan basis minyak-minyak
terpenting) atau kombinasi minyak tetap dan volatile.
Penyimpanan dalam botol berwarna, bermulut kecil dan ditempat
sejuk. Pada etiket juga tertera “Obat Luar”. Linimenta tidak dapat
digunakan untuk kulit yang luka atau lecet.
Cara pembuatan :
a. Mencampurkan seperti pada pembuatan salep, contohnya
Linimen Gondopuro (FN)
b. Terjadi penyabunan, contohnya Linimen Amoniak dan Lotion
Benzylis Benzoas (FN)
c. Terbentuk emulsi, contohnya Peruvianum Emulsum I dan II
(FN)
Contoh resep:
Linimentum Ammonia ( FN 1978 )
R/ Ammonia 20 ml
Acid oleinicum 1 ml
Oleum sesami 70 ml
Pembuatan:

25
Oleum sesami yang telah ditambahi acid. Oleinic. Dikocok dengan
ammonia di dalam botol.
Linimentum Methylis Salicylas
R/ Methylis salicylas 25 ml
Menthol 4 ml
Ol.Eucalypti 10 ml
Ol. Arachidis ad 100 ml
Sifat – sifat linimentum yaitu sebagai berikut :
1. Dipakai pada kulit yang utuh (tidak boleh adanya luka
berakibat terjadinya iritasi) dengan cara digosokkan pada
permukaan kulit.
2. Apabila pelarutnya minyak, iritasinya berkurang apabila
dibandingkan dengan pelarut alkohol
3. Linimentum dengan pelarut alkohol atau hidroalkohol baik
digunakan untuk tujuan counterritan sedang pelarut minyak
cocok untuk tujuan memijat atau mengurut. Contoh :
Linimentum salonpas (untuk counteriritan)
Adapun keuntungan linimenta adalah :
1. Zat yang ditambahkan padanya diabsorbsi lebih cepat.
2. Mudah dicuci dan sangat baik untuk pemakaian pada kulit yang
lembut.
3. Penetrasi lebih baik dari sediaan salep.

II.1.3 GEL (JELLY)


Gel merupakan semi padat yang terdiri dari suspensi yang
dibuat dari partikel anorganik kecil atau molekul organik besar,
terpenetrasi oleh suatu cairan. Jika massa gel terdiri dari jaringan
partikel kecil terpisah, digolongkan sebagai sitem dua fase ( gel
aluminium hidroksida ). Dalam sistem dua fase, jika ukuran
partikel dari fase terdispersi relatif besar disebut Magma (misalnya
Magma Bentonit). Baik gel maupun magma dapat berupa

26
tiksotropik, membentuk semi padat jika dibiarkan dan menjadi cair
pada pengocokan. Jadi sediaan harus dikocok dahulu sebelum
digunakan untuk menjamin homogenitas dan hal ini tertera pada
etiket.
Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang
tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak
terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan
cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat cdari makromolekul sintetik
(karbomer) atau dari gom alam (tragakan). Walaupun gel –gel ini
umumnya mengandung air, etanol,dan minyak dapat juga
digunakan sebagai pembawa. Contohnya minyak mineral dapat
dikombinasi dengan resin polietilena untuk membentuk dasar salep
berminyak.
Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara
topikal atau dimasukkan dalam lubang tubuh, contoh Voltaren Gel,
Bioplacenton. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, dalam
mulut lebar terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk.

II.1.4 KRIM
Menurut FI Ed IV, krimadalah bentuk sediaan setengah
padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau
terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara
tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang
mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air
dalam minyak atau minyak dalam air.
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi
mikrokristal asam – asam lemak atau alkohol berantai panjang
dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk
pemakaian kosmetika dan estetika. Krim dapat juga digunakan
untuk pemberian obat melalui vaginal.

27
Ada 2 tipe krim yaitu tipe minyak air (m/a) dan krim tipe
air minyak (a/m). Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan
dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki. Untuk krim tipe a/m
digunakan sabun polivalen, span, adeps lanae, kolesterol dan cera.
Sedangkan untuk krim type m/a digunakan sabun monovalen
seperti tietanolamin, natrium stearat, kalium stearat dan ammonium
stearat. Selain itu dapat juga dipakai tween, natrium laurylsulfat,
kuning telur, gelatinum, caseinum, CMC dan emulgidum.
Kestabilan krim akan terganggu/rusak jika sistem
campurannya terganggu, terutama disebabkan oleh perubahan suhu
dan perubahan komposisi yang disebabkan perubahan salah satu
fase secara berlebihan atau zat pengemulsinya tidak tercampurkan
satu sama lain.
Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui
pengencernya yang cocok dan dilakukan dengan teknik aseptik.
Krim yang sudah diencerkan harus digunakan dalam jangka waktu
1 bulan. Sebagai pengawet pada krim umumnya digunakan metil
paraben (nipagin) dengan kadar 0,12 % hingga 0,18 % atau propil
paraben (nipasol) dengan kadar 0,02 % hingga 0,05 %.
Penyimpanan krim dilakukan dalam wadah tertutup baik
atau tube ditempat sejuk. Penandaan pada etiket harus juga tertera
“Obat Luar”.
Pembuatan krim adalah dengan melebur bagian berlemak
diatas tangas air, kemudian tambahkan air dan zat pengemulsi
dalam keadaan sama – sama panas, aduk sampai terjadi suatu
campuran yang berbentuk krim.
Contoh resep :
R/ Acid. Stearas 15
Cera alba 2
Vaseln alba 8
TEA 1,5

28
Propilenglikol 8
Aq.dest 65,6
m.f.ungt.
Pembuatan :
a. Lebur cera bersama vaselin dan acid stearas
b. TEA + propilenglikol dilarutkan dalam air hangat dan
dicampurkan pada leburan tersebut diatas
R/ Bentonit 20
Glycerin 10
Aq.dest 70
m.f.ungt
pembuatan :
taburkan bentonit dalam campuran aqua dan glycerin hangat,
aduk,biarkan sampai bentonit larut.

Kelebihan dan kerugian sediaan krim


Kelebihan sediaan krim yaitu:
1. Mudah menyebar rata
2. Praktis
3. Mudah dibersihkan atau dicuci
4. Cara kerja berlangsung secara setempat
5. Tidak lengket terutama tipe m/a
6. Memberikan rasa dingin (cold cream) tipe a/m
7. Digunakan sebagai kosmetik
Kekurangan sediaan krim yaitu:
1. Susah dalam pembuatannya harus dalam keadaan panas
2. Gampang pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak
pas
3. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena
terganggu sistem campuran terutama disebabkan oleh

29
perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan
penambahan salah satu fase secara berlebihan.

II.2 QUALITY CONTROL SEDIAAN SEMI SOLID


II.1.1 Bahan awal
a. Pengadaan bahan awal hanya dari pemasok yang disetujui dan
memenuhi spesifikasi yang relevan.
b. Tiap bahan harus memenuhi sepsifikasi.
c. Pada tiap penerimaan dilakukan pemeriksaan visual
d. Bahan awal yang diterima harus dikarantina sebelum
pemakaian
e. Bahan awal masing-masing disimpan pada kondisi yang sesuai

II.1.2 Validasi proses


Sebelum suatu prosedur pengolahan induk diterapkan harus
dibuktikan produk tersebut cocok untuk pelaksanaan produksi rutin
dan bahwa proses yang telah ditetapkan dengan menggunakan
bahan dan peralatan yang telah ditentukan menghasilkan produk
yang memenuhi syarat mutu.

II.1.3 Pencegahan cemaran silang


Pencemaran bahan awal atau produk oleh bahan atau
produk lain harus dihindarkan. Risiko pencemaran silang ini dapat
timbul akibat tidak terkendalinya debu dan gas, uap, percikan atau
organisme dari bahan atau produk yang sedang diproses, sisa yang
tertinggal pada alat dan pakaian operator.

II.1.4 Penimbangan dan penyerahan


a. Kapasitas, ketelitian dan ketepatan alat timbangan dan alat ukur
yang dipakai hendaklah sesuai dengan jumlag bahan yang
ditimbang atau diukur

30
b. Ruang timbang dan penyerahan hendaklah dijaga
kebersihannya
c. Kegiatan penimbangan dan penyerahan dilakukan dengan
memakai peralatan yang sesuai dan bersih
Produk krim dan salep mudah terkena kontaminasi terutama
terhadap mikroba atau cemaran lain selama proses pembuatan. Oleh
karena itu, tindakan khusus harus diambil untuk mencegah kontaminasi.
Penggunaan system tertutup untuk produksi dan transfer sangat
dianjurkan, area produksi dimana produk atau wadah bersih tanpa penutup
terpapar ke lingkungan diberi ventilasi yang efektif dengan udara yang
disaring. Untuk melindungi produk terhadap kontaminasi disarankan
memakai sistem tertutup untuk pengolahan dan transfer. Tangki, wadah,
pipa dan pompa yang digunakan didesain dan dipasang sedemikian rupa
sehingga memudahkan pembersihan dan bila perlu disanitasi. Penggunaan
peralatan dari kaca sedapat mungkin dihindarkan. Baja tahan karat
bermutu tinggi merupakan bahan pilihan untuk bagian peralatan yang
bersentuhan dengan produk. Kualitas kimia dan mikrobiologi air yang
digunakan ditetapkan dan selalu dipantau. Perawatan sistem air hendaklah
diperhatikan untuk menghindarkan perkembangan mikroba. Sanitasi
secara kimiawi pada sistem air diikuti pembilasan yang prosedurnya telah
divalidasi agar sisa bahan sanitasi dapat dihilangkan secara efektif.

II.3 PRODUKSI
II.1.1. PRODUKSI SALEP DAN KRIM
Menurut Cara Pembuatan Obat yang Baik tahun 2012,
produksi krim dan salep terdapat beberapa aspek, diantaranya :
 Karena sifat alamiah produk, maka untuk melindungi produk
terhadap pencemaran mikroba dianjurkan agar 3semua alat
yang berhubungan langsung dengan produk didisinfeksi lebih
dahulu sebelum dipakai, misal dengan etanol 70%, isopropanol
atau hidrogen peroksida %.

31
 Sistem yang digunakan untuk membuat sediaan salep dan krim
adalah system tertutup. Sistem tertutup adalah suatu sistem di
mana produk hampir tidak terpapar ke lingkungan selama
proses dan sedikit sekali melibatkan operator. Produk cair
disaring dan ditransfer ke holding tank melalui pipa sebelum
produk tersebut diisikan ke dalam wadah akhirnya (misal botol
dan tube) dan ditutup.
 Untuk mencegah ada “sambungan mati” (deadlegs),
sambungan hendaklah tidak lebih panjang dari 1,5 kali
diameter pipa sampai katup. Hendaklah menggunakan jenis
katup diafragma atau katup kupu-kupu dan bukan katup bola.
 Air yang digunakan untuk produksi hendaklah memenuhi
persyaratan minimal kualitas Air Murni (Purified Water).
Parameter kimia dan mikrobiologi hendaklah dipantau secara
teratur, minimal seminggu sekali, sedangkan pH dan
konduktivitas hendaklah dipantau tiap hari. Terhadap data hasil
pemantauan hendaklah dilakukan analisis kecenderungan
(trend analysis). Lihat Persyaratan Air Untuk Produksi :
Sanitasi Sistem Pengolahan Air dapat dilakukan dengan cara:
a. Pemanasan, atau
b. Kimiawi.
 Pemeriksaan mutu bahan yang diterima sebelum dipindahkan
ke dalam tangki penyimpanan adalah untuk mencegah agar
bahan yang masih tersisa di dalam tangki penyimpanan (yang
sudah memenuhi persyaratan mutu) tidak tercampur dengan
bahan yang sama dari tangki pemasok yang belum diketahui
mutunya.
 Tiap pipa transfer hendaklah diberi penandaan yang jelas
dengan mencantumkan identitas produk.

32
 Homogenitas hendaklah dipertahankan selama pengisian
dengan pengadukan terus-menerus sejak awal sampai akhir
proses pengisian.
 Kondisi penyimpanan produk antara dan produk ruahan
hendaklah disesuaikan untuk menghindarkan perubahan mutu
produk. Jangka waktu dan kondisi penyimpanan produk antara
hendaklah divalidasi.
Untuk alur proses produksi krim dan salep diawali pada
ruang bahan baku. Pada proses pembuatannya, setiap bahan baku
diperiksa terlebih dahulu oleh tim QC dengan mengambil sampel
di ruang sampling, pemeriksaan yang dilakukan oleh tim QC
meliputi pemerian, kelarutan, bilangan asam, dan bilangan
penyabunan, dari hasil uji tersebut tim QC dapat memutuskan
apakah bahan baku tersebut memenuhi kriteria yang berstandarkan
CPOB atau tidak. Lalu petugas yang bertanggung jawab terhadap
bahan baku menimbang bahan-bahan apa saja yang akan
dibutuhkan dalam proses produksi sediaan krim dan salep.
Penimbangan bahan dilakukan untuk produksi sediaan per satu
bets. Setelah bahan baku ini dinyatakan lulus uji kriteria, bahan
baku tersebut dicampur dan diolah menjadi produk antara.
Kemudian petugas bagian produksi mengambil bahan baku yang
telah ditimbang dengan melakukan serah terima yang disertai
dengan dokumen CPB (Catatan Pengolahan Bets) yang telah
melampirkan tanda tangan petugas.
Proses produksi dilanjutkan di ruang pencampuran. Pada
ruang ini, awalnya air ditampung di dalam alat pemanas (Double
Jacket). Air yang digunakan dalam proses produksi menggunakan
air Aquadem (Aquademineralisasi). Air yang dipakai adalah air
yang diambil dari pipa yang telah diatur penyalurannya, yang mana
sebelumnya air ini telah melewati serangkaian proses
pernyaringan. Kemudian proses dilanjutkan di tangki Oil Pot,

33
tangki ini berfungsi untuk melebur fase minyak dari sediaan, lalu
dilanjutkan proses pencampuran bahan dengan menggunakan alat
Vacum emulsifier Mixer. Pada alat ini proses pencampuran dimulai
dari pembuatan basis hingga membentuk masa krim/salep.
Selanjutnya masa yang telah jadi disimpan dalam wadah kemudian
di tempatkan di ruang Ruang karantina produk antara. Produk yang
telah jadi di lakukan kembali proses IPC oleh QC, pemeriksaan
pemerian, pH, homogenitas, koefisien variasi, dan stabilitas krim
jika dinyatatakan lulus maka produk tersebut dimasukkan ke dalam
wadah. selama proses pengisian sediaan krim/salep operator
melakukan proses penimbangan setiap 15 menit sekali, proses ini
bertujuan untuk memastikan bobot per tube sesuai dengan bobot
yang diinginkan dari kemasan. kemudian produk yang telah diisi
ditempatkan di ruang karantina produk ruahan untuk selanjutnya
melewati tahap pemeriksaan oleh QC, pemeriksaan itu meliputi
pemerian, identifikasi, pH, kadar zat berkhasiat, homogenitas,
koefisien variasi dan keseragaman sediaan,. Waktu yang
dibutuhkan untuk menuggu hasil pemeriksaan ini yaitu 1-2 hari.

II.1.2. PRODUKSI GEL


Gel relatif lebih mudah disiapkan dibandingkan dengan
salep dan krim. Selain zat pembentuk gel, gel obat mengandung
obat, pengawet antimikroba, zat penstabil, zat pendispersi, dan
peningkat permeasi. Beberapa faktor yang dibahas di bawah ini
penting untuk mendapatkan persiapan gel yang seragam.
a. Urutan pencampuran.
Urutan pencampuran bahan-bahan ini dengan agen
pembentuk gel didasarkan pada pengaruhnya terhadap proses
pembentuk gel. Jika mereka cenderung mempengaruhi laju dan
tingkat pengembangan agen pembentuk gel, mereka dicampur
setelah pembentukan gel. Dengan tidak adanya gangguan

34
tersebut, obat dan aditif lainnya dicampur sebelum proses
pengembangan. Dalam hal ini, efek suhu pencampuran, durasi
pengembangan, dan kondisi pemrosesan lainnya pada stabilitas
fisikokimia obat dan aditif juga dipertimbangkan. Idealnya obat
dan zat tambahan lainnya dilarutkan dalam pelarut
pengembangan, dan bahan pengembangan ditambahkan ke
larutan ini dan dibiarkan mengembangk.

b. Gelling Medium.
Air murni adalah media dispersi yang paling banyak
digunakan dalam persiapan gel. Dalam keadaan tertentu, gel
juga mengandung kosolven atau zat pendispersi. Campuran
etanol dan toluena meningkatkan dispersi etilselulosa,
diklorometana dan metanol meningkatkan viskositas dispersi
hidroksipropil selulosa, alkohol meningkatkan stabilitas reologi
gel polietilena oksida, dan penambahan gliserin, propilen
glikol, sukrosa, dan alkohol meningkatkan dispersi natrium
dispersi alginat. Boraks termasuk dalam gel polivinil alkohol
dan magnesium oksida, seng oksida, dan gliserin termasuk
dalam gel bentonit sebagai agen pendispersi. Perawatan harus
diambil untuk menghindari penguapan atau degradasi
cosolvents ini dan agen pendispersi selama persiapan gel.

c. Kondisi Pemrosesan dan Durasi pengembangan.


Suhu pemrosesan, pH dispersi, dan durasi
pengembangan adalah parameter penting dalam persiapan gel.
Kondisi ini bervariasi dengan masing-masing agen pembentuk
gel. Misalnya, air panas lebih disukai untuk gelatin dan alkohol
polivinil, dan air dingin lebih disukai untuk dispersi
metilselulosa. Karbomer, guar gum, hydroxypropyl cellulose,
poloxamer, dan bentuk-bentuk tragacanth gel pada kondisi pH

35
asam lemah atau hampir netral (pH 5 - 8). Zat pembentuk gel
seperti natrium karboksimetil selulosa, hidroksipropilmetil
selulosa, dan natrium alginat membentuk gel pada kisaran pH
yang luas (4 - 10). Hydroxyethyl cellulose membentuk gel pada
kondisi pH basa. Durasi pembengkakan sekitar 24 - 48 jam
umumnya membantu dalam mendapatkan gel homogen. Gusi
alami membutuhkan sekitar 24 jam dan polimer selulosa
membutuhkan sekitar 48 jam untuk hidrasi lengkap.

II.4 ALAT PRODUKSI SEDIAAN SEMISOLID


1. Agigator mixer

2. Shear mixer

36
3. Triple roller mill

Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan


konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan
dikualifikasi dengan tepat, agar mutu obat terjamin sesuai dengan desain
serta seragam dari bets ke bets dan untuk memudahkan pembersihan serta
perawatan.
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan obat hendaklah
memiliki rancang bangun dan kontruksi yang tepat. Permukaan peralatan
yang bersentuhan langsung dengan bahan atau produk tidak boleh bereaksi
karena dapat merubah identitas, mutu dan kemurnian produk yang
dihasilkan, tidak boleh mencemari produk, harus mudah dibersihkan baik
bagian dalam maupun bagian luar mesin/alat tersebut. Peralatan yang
digunakan untuk menimbang, mengukur, dan menguji harus diperiksa
ketelitiannya secara teratur serta dikalibrasi menurut program dan prosedur
yang tepat.
Pemasangan dan penempatan alat harus dapat mencegah terjadinya
kontaminasi silang dan cukup renggang untuk memberikan keleluasaan
kerja. Saluran air, uap, udara bertekanan atau hampa udara harus dipasang
dengan baik sehingga mudah dicapai selama kegiatan berlangsung.
Peralatan hendaknya dirawat menurut jadwal agar tetap berfungsi
dengan baik dan mencegah pencemaran terhadap produk. Catatan mengenai
pelaksanaan, pemeliharaan dan pemakaian suatu peralatan utama hendaklah

37
dicakup dalam buku catatan harian yang menunjukkan tanggal, waktu,
kekuatan dan nomor batch atau lot produk yang diolah dengan peralatan
tersebut serta pelaksana pembersihan.

II.5 TEKNIK PENCAMPURAN


Pencampuran adalah salah satu operasi farmasi yang paling umum.
Sulit untuk menemukan produk farmasi dimana pencampuran tidak
dilakukan pada tahap pengolahan. Pencampuran dapat didefinisikan
sebagai proses di mana dua atau lebih komponen dalam kondisi campuran
terpisah atau kasar diperlakukan sedemikian rupa sehingga setiap partikel
dari salah satu bahan terletak sedekat mungkin dengan partikel bahan atau
komponen lain. Proses ini melibatkan pencampuran gas, cairan atau
padatan dalam setiap kombinasi dan rasio dua atau lebih komponen yang
mungkin (Madinah, 2008).
Tujuan pencampuran adalah sebagai berikut.
1. Untuk memastikan bahwa ada keseragaman bentuk antara bahan
tercampur yang dapat ditentukan dengan mengambil sampel dari
bagian terbesar bahan dan menganalisisnya, yang harus mewakili
komposisi dari keseluruhan campuran.
2. Untuk memulai atau meningkatkan reaksi fisika atau kimia seperti
difusi, disolusi, dll (Madinah, 2008).
Umumnya pencampuran dilakukan untuk memperoleh jenis produk
berikut.
1. Ketika dua atau lebih cairan misibel dicampur bersama-sama, hasilnya
dikenal sebagai larutan nyata.
2. Ketika dua cairan imisibel dicampur dengan agen pengemulsi, hasilnya
dikenal sebagai emulsi.
3. Ketika padatan dilarutkan dalam suatu pembawa, hasilnya dikenal
sebagai larutan.
4. Ketika padat tidak larut dilarutkan dalam suatu pembawa, hasilnya
dikenal sebagai suspensi.

38
5. Ketika padatan atau cairan dicampur dengan basis semi padat, hasilnya
dikenal sebagai salep atau supositoria.
6. Ketika dua atau lebih bahan padat bersama, diperoleh serbuk yang bila
diisi ke dalam kapsul dikenal sebagai kapsul dan ketika dikompresi di
bawah tekanan tinggi disebut tablet (Madinah, 2008).
Campuran dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1. Campuran Positif
Jenis campuran ini terbentuk ketika dua atau lebih gas atau cairan
misibel dicampur bersama-sama melalui proses difusi. Dalam hal ini
tidak diperlukan energi, cukup hanya dengan memberikan waktu untuk
pembentukan larutan. Jenis bahan ini tidak memberikan masalah
dalam pencampuran (Bhatt & Agrawal, 2007).
2. Campuran Negatif
Campuran jenis ini terbentuk ketika padatan tidak terlarut dicampur
dengan pembawa untuk membentuk suspensi atau ketika dua cairan
tidak saling larut yang dicampur untuk membentuk emulsi.
Pencampuran ini lebih sulit disiapkan dan memerlukan tingkat
pencampuran yang lebih tinggi dengan kekuatan eksternal karena ada
kecenderungan komponen campuran ini terpisah kecuali jika terus
diaduk (Bhatt & Agrawal, 2007).
3. Campuran Netral
Banyak produk farmasi seperti pasta, salep, dan serbuk tercampur
adalah contoh campuran netral. Produk tersebut statis dan
komponennya tidak memiliki kecenderungan bercampur secara
spontan tetapi sekali tercampur, mereka tidak akan terpisah dengan
mudah (Bhatt & Agrawal, 2007).
Dalam semua jenis campuran, pencampuran dicapai dengan menerapkan
satu atau lebih dari mekanisme berikut.
 Convective mixing : selama convective mixing perpindahan
sekelompok partikel dalam jumlah besar terjadi dari satu

39
bagian powder bed ke bagian yang lain. Convective mixing disebut
sebagai pencampuran makro.
 Shear mixing : Selama shear mixing gaya geser terbentuk dalam massa
bahan dengan menggunakan agitator arm atau blast of air.
 Diffusive mixing : Selama diffusive mixing, bahan-bahan miring
sehingga gaya gravitasi menyebabkan lapisan atas tergelincir dan
difusi partikel individu berlangsung di atas permukaan yang baru
dikembangkan. Diffusive mixing disebut sebagai pencampuran
mikro (Bhatt & Agrawal, 2007).

Mixing Guidelines
1. Gunakan waktu yang cukup dalam pencampuran untuk memastikan
bahwa polimer benar-benar terhidrasi sebelum menambahkan
komponen formulasi tambahan.
2. Pencampuran yang berlebihan atau tidak tepat selama dispersi dapat
menyebabkan udara terperangkap, variasi viskositas, dan/atau
ketidakstabilan formulasi. Udara terperangkap dapat diminimalkan
dengan menggunakan variable drive motor. Setelah polimer
terdispersi, udara terperangkap dapat diminimalkan dengan
reposisi impeller dan mengurangi kecepatan pencampuran. Biarkan
dispersi asam untuk melepaskan gelembung udara terperangkap.
3. Dianjurkan melakukan pengadukan sedang.
4. Setiap pencampuran intensitas tinggi yang diperlukan harus
diselesaikan sebelum netralisasi.
5. Hindari pencampuran high shear dengan Waring blender atau rotor-
stator homogenizers. Pencampuran seperti itu dapat menggeser
polimer dan menghasilkan kehilangan fungsionalitas permanen.
6. Jika busa persisten dihasilkan, busa tersebut dapat hilang dengan
merusak polimer secara parsial dengan penambahan asam dengan
kadar yang sangat rendah sebelum menetralisir dispersi dengan basis

40
yang cocok. Asam klorida atau fosfat memiliki efektivitas sebesar
0,5% dari berat polimer yang digunakan (Anonim, 2011).
Bentuk sediaan semi padat seperti salep dan krim digunakan untuk bagian
eksternal. Sediaan ini sering digunakan ketika resep dokter memerlukan
kombinasi dari dua atau lebih salep atau krim dalam rasio tertentu atau
penggabungan obat ke dalam salep atau basis krim. Salep berbasis minyak,
sedangkan krim berbasis air. Karena pencampuran langsung dari bahan-
bahan tidak selalu dapat dilaksanakan, penggabungan agen lain diperlukan
untuk memastikan partikel berukuran halus.
 Wetting agent : menggantikan udara dari partikel dan memungkinkan
mereka untuk bercampur lebih baik. Contoh: alkohol.
 Levigating agent : mengurangi ukuran partikel. Contoh: minyak
mineral, gliserin
 Suspending agent : thickening agent yang memberikan struktur ke
suspensi. Memungkinkan partikel mudah terdispersi. Contoh: karboksi
metil selulosa, tragakan (Madinah, 2008).

Gambar 1. Contoh sediaan semi padat


Teori Pencampuran Sediaan Semi Padat
 Pellet and powder state: penambahan sejumlah kecil cairan ke
sebagian besar serbuk kering padatan menjadi bola dan membentuk
pelet kecil. Pelet tertanam dalam matriks serbuk kering, yang memiliki
efek bantalan dan membuat pelet sulit putus. Secara keseluruhan, zat
padat ini mengalir bebas dan tingkat homogenisasinya rendah.

41
 Pelet state: penambahan lebih lanjut dari hasil cairan dalam konversi
serbuk kering berlebih menjadi pelet, sampai akhirnya semua bahan
pelet tidak melekat dan agitasi akan menyebabkan agregat terurai
menjadi butiran yang lebih kecil. Tingkat pencapaian homogenisasi
bahkan lebih rendah daripada di tahap pelet dan serbuk dan
adalah powder state bertujuan dalam bubuk untuk melembabkan
granulasi tablet.
 Plastic state: Sementara isi cairan meningkat lebih jauh, karakter
campuran berubah secara nyata, agregat bahan menempel, penampilan
granular hilang, campuran menjadi lebih atau kurang homogen. Sifat
plastik muncul, campuran menjadi sulit untuk bergeser, yang mengalir
pada tegangan rendah tetapi rusak di bawah tekanan tinggi.
Homogenisasi dapat dicapai jauh lebih cepat daripada di kasus
sebelumnya. Tingkat ini diperoleh misalnya ketika membuat massa pil.
 Sticky state: penggabungan cairan terus menerus menyebabkan
campuran mencapai keadaan lengket, penampilan menjadi seperti
pasta, permukaan mengkilap, dan massa melekat pada permukaan
padat. Massa mengalir dengan mudah, bahkan di bawah tekanan
rendah, tetapi homogenitas dicapai secara perlahan.
 Liquid state: akhirnya, penambahan cairan hasil penurunan konsistensi
sampai tingkat cairan tercapai. Dalam keadaan ini, campuran mengalir
menurut beratnya sendiri dan akan mengalirkan permukaan
vertikal (Bhatt & Agrawal, 2007).

Dilusi Geometrik
Extemporaneous compounding salep dan krim seringkali
melibatkan penggunaan mortir dan stamper, spatula dan ointment slab.
Kunci untuk campuran homogen adalah menggunakan alat ini dengan baik
dan menggabungkannya dengan metode dilusi geometrik dalam persiapan
semua produk salep ateu krim. Pengenceran geometris adalah proses
dimana campuran homogen atau bahkan distribusi dua atau lebih zat

42
tercapai. Bila menggunakan metode ini, jumlah terkecil bahan aktif
dicampur secara menyeluruh dengan volume pengencer atau basis
pada ointment slab yang sama. Pengencer atau basis berlebih ditambahkan
dalam jumlah yang sama dengan volume dari campuran pada ointment
slab. Proses ini diulang sampai semua pengencer atau basis dimasukkan ke
dalam campuran. Meskipun metode ini memakan waktu, namun akan
membuat campuran homogen atau dispersi halus dari obat salep atau krim
(Madinah, 2008).

(Bhatt & Agrawal, 2007).


Alat Pencampur Sediaan Semi Padat
1. Spatula
Spatula biasanya digunakan untuk memindahkan bahan padat seperti
serbuk, salep, atau krim. Mereka juga digunakan untuk mencampur
bahan bersama-sama menjadi campuran homogen. Spatula tersedia
dalam stainless steel, plastik dan hard rubber. Jenis spatula yang

43
digunakan tergantung pada apa yang sedang dipindahkan atau
dicampur (Madinah, 2008).

Gambar 2. Spatula

2. Mortar dan Stamper


Mortar dan stamper digunakan untuk menggiling partikel ke dalam
bubuk halus (triturasi). Penggabungan cairan (levigasi) dapat
mengurangi ukuran partikel lebih lanjut. Mortar dan stamper terbuat
dari kaca, porselin, wedgwood atau marmer. Kaca lebih baik
digunakan untuk pencampuran bentuk sediaan cairan dan semi padat
(Madinah, 2008).

Gambar 3. Mortar dan stamper

3. Ointment Slab
Sama halnya dengan mortar, stamper, dan spatula, ointment
slab merupakan andalan di pengaturan farmasi. Ointment
slab memberikan permukaan yang keras dan bersih untuk
pencampuran senyawa. Sebagian besar ointment slab berupa plat
kaca yang permukaannya non-absorbable. Untuk beberapa

44
peracikan, apotek banyak membeli kertas perkamen yang melayani
tujuan yang sama ketika ditempatkan di atas slab salep, tapi mudah
dibuang setelah digunakan tanpa pembersihan yang diperlukan
termasuk antara campuran (Madinah, 2008).

Gambar 4. Ointment slab

4. Blender
Blender dilengkapi dengan pengadukan pisau, melalui pengadukan
dengan kecepatan tinggi akan memberikan energi kinetik yang dapat
menggerakkan cairan dalam wadah sehingga dapat mendispersikan
fase dispersi ke dalam medium dispersinya. Selain itu blender juga
dapat menghomogenkan campuran dan memperkecil ukuran partikel.
Dengan adanya pengadukan mengakibatkan terjadinya tumbukan
antarpartikel dispers. Bila tumbukan terjadi terus-menerus maka
terjadi transfer massa sehingga ukuran partikel menjadi semakin
kecil. Ukuran partikel yang kecil biasanya sukar homogen karena
gaya kohesivitasnya tinggi sehingga cendrung memisah. Namun
kelemahan alat ini adalah muah terbentuk buih/busa yang dapat
menggangu pengamatan selanjutnya. Penggunaan emulgator
hidrokarbon akan membuat makromolekul dari hidrokarbon
terpotong-potong sehingga dapat mempengaruhi kestabilan emulsi
yang terbentuk (Lieberman HA & Lachmann, 1994).

45
Gambar 5. Blender

5. Homogenizer
Homogenizer paling efektif dalam memperkecil ukuran fase dispers
kemudian meningkatkan luas permukaan fase minyak dan akhirnya
meningkatkan viskositas emulsi sehingga mengurangi kemungkinan
terjadinya ”creaming”. Homogenizer bekerja dengan cara menekan
cairan dimana cairan tersebut dipaksa melalui suatu celah yang
sangat sempit lalu dibenturkan ke suatu dinding atau ditumbuhkan
pada peniti-peniti metal yang ada di dalam celah tersebut.
Homogenizer umumnya terdiri dari pompa yang menaikkan tekanan
dispersi pada kisaran 500-5000 psi, dan suatu lubang yang dilalui
cairan dan mengenai katup penghomogenan yang terdapat pada
tempat katup dengan suatu spiral yang kuat. Ketika tekanan
meningkat, spiral ditekan dan sebagian dispersi tersebut bebas di
antara katup dan tempat (dudukan) katup. Pada titik ini, energi yang
tersimpan dalam cairan sebagian tekanan dilepaskan secara spontan
sehingga produk menghasilkan turbulensi yang kuat dan shear
hidrolik. Cara kerja homogenizer ini cukup efektif sehingga bisa
didapatkan diameter partikel rata-rata kurang dari 1 mikron tetapi
homogenizer dapat menaikkan temperatur emulsi sehingga
dibutuhkan pendinginan (Lieberman HA & Lachmann, 1994).

46
Gambar 6. Homogenizer

6. Mixer
Mixer memiliki sifat menghomogenkan sekaligus memperkecil
ukuran partikel tapi efek menghomogenkan lebih
dominan. Mixer biasanya digunakan untuk membuat emulsi
tipe batch. Terdapat berbagai macam mixer yang dapat digunakan
dalam pembuatan sediaan semi padat. Dalam hal ini sangat penting
untuk merancang dan memilih mixer sesuai dengan jenis produk
yang diproduksi atau sedang dicampur. Sebagai contoh: salah satu
aspek desain mixer yang penting adalah seberapa baik/tahan dinding
internal dari mixer. Hal ini karena terdapat beberapa permasalahan
dengan baja tahan karat dari mixer sebab mata pisau pengikis harus
fleksibel cukup untuk memindahkan/mengaduk bagian dalam
dinding mixer. Atau dengan kata lain, mata pisau atau pengaduk
harus mampu mengaduk atau memindahkan bahan yang melekat
pada dinding mixer tanpa merusak dinding mixer. Jika proses
pengadukan tidak berjalan dengan baik (masih banyak bahan yang
menempel/tersisa pada dinding mixer), maka hasil pencampurannya
tidak akan homogen. Oleh karena mixer mempunyai aksi planetary
mixing maka kemampuannya untuk mencampur fase air, fase minyak
dan emulgator sangat tergantung pada macam pengaduk yang
digunakan. Selain spesifikasi untuk tiap alatnya, harus diperhatikan
pula agar tidak terlalu banyak udara yang ikut terdispersi ke dalam
cairan karena akan membentuk buih atau bisa yang menggangu saat

47
melakukan pembacaan volume sedimentasi (Lieberman HA &
Lachmann, 1994).

Gambar 7. Mixer

7. Agitator Mixers
Secara prinsip mirip dengan mixer pengaduk yang digunakan untuk
cairan dan untuk serbuk, memang mixer gerakan planetary sering
digunakan untuk semi padat. Mixers dirancang khusus untuk semi
padat yang biasanya memiliki bentuk lebih berat untuk menangani
bahan dengan konsistensi lebih besar. Lengan pengaduk dirancang
untuk menarik, meremas, membentuk dan bergerak sedemikian rupa
sehingga bahan dibersihkan dari semua sisi dan sudut tempat
pencampuran (Bhatt & Agrawal, 2007).
Salah satu bentuk umum yang digunakan untuk menangani
konsistensi plastik semi padat dikenal sebagai mixer lengan sigma,
karena mixer menggunakan dua bilah mixer, dengan bentuk yang
menyerupai huruf Yunani, sigma (∑). Kedua bilah berputar terhadap
satu sama lain dan beroperasi di sebuah tempat pencampuran yang
memiliki bentuk bak double, masing-masing bilah menyesuaikan bak.
Dua bilah berputar pada kecepatan yang berbeda, yang satu biasanya
sekitar dua kali kecepatan yang lain, menghasilkan penarikan lateral
bahan dan terbagi ke dalam kedua bak. Bentuk bilah dan perbedaan
kecepatan menyebabkan gerakan end-to-end. Dengan bentuk yang
kokoh dan daya yang lebih tinggi, bentuk mixer ini dapat menangani
bahkan bahan plastik terberat, dan produk-produk seperti massa pil,
massa tablet granul, dan salep yang telah siap dicampur. Salah satu

48
masalah yang dihadapi dalam pencampuran semi padat adalah
masuknya udara. Mixer lengan sigma dapat ditutup dan dioperasikan
pada tekanan rendah, yang merupakan metode terbaik untuk
menghindari masuknya udara dan dapat membantu dalam
meminimalkan dekomposisi bahan oxidisable, tetapi harus digunakan
dengan hati-hati jika campuran mengandung bahan yang mudah
menguap (Bhatt & Agrawal, 2007).

Gambar 8. Agitator mixer

8. Shear Mixers
Mesin yang dirancang untuk pengurangan ukuran ini dapat
digunakan untuk mencampur. Tetapi meskipun gaya gesernya baik,
efisiensi pencampuran umumnya buruk. Bentuk rotary mungkin
digunakan dan colloid mill memiliki stator dan rotor dengan
permukaan kerja kerucut. Rotor bekerja pada kecepatan antara 3.000-
15.000 rpm dan pembersihan dapat diatur antara 50-500 mikrometer.
Suspensi campuran kasar atau dispersi dimasukkan melalui corong
dan dikeluarkan antara permukaan kerja dengan gaya sentrifugal
(Bhatt & Agrawal, 2007).

49
Gambar 9. Shear mixer

9. Planatory Mixer
Planatory mixer digunakan untuk pencampuran dan mengaduk bahan
kental dan seperti bubur, planatory mixer tersebut masih sering
digunakan untuk operasi dasar pencampuran dalam industri
farmasi. Planatory mixer digunakan dengan kecepatan rendah untuk
pencampuran kering dan kecepatan lebih cepat untuk peremasan yang
diperlukan dalam granulasi basah (Bhatt & Agrawal, 2007).
Keuntungan: planatory mixer bekerja pada berbagai kecepatan. Hal
ini lebih berguna untuk granulasi basah dan lebih menguntungkan
dibandingkan sigma mixers.
Kerugian:
 Planatory mixer membutuhkan daya tinggi.
 Panas mekanik dibangun dalam campuran bubuk.
 Penggunaan terbatas hanya pada pekerjaan batch (Bhatt &
Agrawal, 2007)

50
10. Double Planetary Mixers
Double planetary mixers mencakup dua bilah yang berputar pada
sumbu mereka sendiri, sementara mereka mengorbit tempat
mencampur pada sumbu umum. Bilah terus maju di sepanjang
pinggiran tempat, menghapus bahan dari dinding tempat dan
membawanya ke bagian interior. Berlawanan dengan conventional
planetary mixer, negosiasi kedua konsfigurasi bilah menyapu
dinding tempat searah jarum jam dan memutar dalam arah yang
berlawanan pada sekitar tiga kali kecepatan perjalanan. Shear
blades menggantikan bahan dari dinding tempat dan oleh aksi
tumpang tindih mereka pusat membawa partikel ke arah agitator
shafts, sehingga menghasilkan gaya geser yang luas. Dengan
menggunakan bahan ini bahkan bahan yang sangat kental dan
kohesif dapat dicampur secara efisien (Bhatt & Agrawal, 2007).

Gambar 11. Double planetary mixers

11. Sigma mixer


Sigma mixer berisi pencampuran elemen (blades) dari dua tipe
sigma dalam jumlah yang kontra berputar ke dalam untuk mencapai
sirkulasi ujung ke ujung serta menyeluruh dan pencampuran yang
seragam di pembersihan dekat atau tertentu dengan wadah. Produk
campuran dapat dengan mudah diberhentikan dengan memiringkan
wadah dengan tuas tangan secara manual baik dengan sistem roda
gigi yang dioperasikan secara manual atau bermotor. Mixer yang

51
lengkap dipasang pada baja dibuat dari kekuatan yang sesuai untuk
menahan getaran dan memberikan performance (Bhatt & Agrawal,
2007).

Gambar 12. Sigma mixer


Sigma mixer digunakan untuk proses granulasi basah dalam
pembuatan tablet, massa pil dan salep. Hal ini terutama digunakan
untuk pencampuran padat-cair meskipun bisa digunakan untuk
campuran padat-padat juga.
Keuntungan:
 Bilah sigma mixer menciptakan jarak kematian minimal selama
pencampuran.
 Ada toleransi dekat antara bilah dan dinding samping maupun
bawah mixer shell.
Kerugian: Sigma mixer bekerja dengan kecepatan tetap (Bhatt &
Agrawal, 2007).

12. Ultrasonic Mixers


Metode yang efektif untuk menangani bentuk-bentuk tertentu dari
masalah pencampuran adalah untuk permasalahan bahan terhadap
getaran ultrasonik. Hal ini memiliki aplikasi khusus dalam
pencampuran dalam preparasi emulsi (Bhatt & Agrawal, 2007).

52
Gambar 13. Ultrasonic mixer

13. Colloid Mill


Colloid mill berguna untuk penggilingan, dispersi, homogenisasi dan
merusak aglomerat dalam pembuatan pasta makanan,
emulsi, coating, salep, krim, pulp, minyak, dll. Fungsi utama
dari colloid mill adalah untuk memastikan kerusakan aglomerat atau
dalam kasus emulsi untuk menghasilkan tetesan halus yang
berukuran sekitar 1 mikron. Bahan yang diproses diisi oleh gravitasi
untuk dipompa sehingga lewat di antara elemen rotor dan stator
dimana ia mengalami gaya geser dan hidrolik tinggi. Bahan dibuang
melalui gerbong dimana ia dapat diresirkulasi untuk perlewatan
kedua, biasanya untuk bahan yang memiliki kepadatan lebih tinggi
dan isi serat cakram beralur berbentuk kerucut. Terkadang
pengaturan pendinginan dan pemanasan juga ditentukan dalam
penggilingan ini yang tergantung pada jenis bahan yang diproses.
Kecepatan rotasi rotor bervariasi dari 3.000-20.000 rpm dengan jarak
kemampuan penyesuaian yang sangat halus antara rotor dan stator
bervariasi dari 0.001-0.005 inci tergantung pada ukuran alat. Colloid
mills memerlukan pengisian air yang banyak, cairan dipaksa melalui
celah sempit dengan aksi sentrifugal dan jalur spiral. Dalam
penggilingan ini hampir semua energi yang diberikan diubah
menjadi panas dan gaya geser terlalu dapat meningkatkan suhu
produk. Oleh karena itu, sebagian besar colloid mills dilengkapi

53
dengan jaket air dan itu adalah juga diperlukan untuk mendinginkan
bahan sebelum dan setelah melewati penggilingan (Bhatt & Agrawal,
2007).

Gambar 14. Colloid mills


Dalam colloid mill primer, aksi geser intens diproduksi
antara running rotor pada beberapa ribu rpm dengan permukaan
kerjanya dalam proxim yang dekat ke stator. Sebuah rotor
berdiameter 5 inci berjalan pada 9000 rpm dan memiliki output 40-
60 galon tergantung pada viskositas cairan. Kesenjangan antara
dua permukaan disesuaikan dari 0,3-0,002 inci. Campuran mentah
dimasukkan melalui gerbong ke pusat rotor. Bahan dikeluarkan
dan berhenti setelah homogenisasi di seluruh permukaan shearing.
Bahan harus diberikan pada tingkat yang jarak antara rotor dan
stator menjaga keseluruhan pengisian dengan cairan. Colloid
mills digunakan dalam produksi salep, krim, gel dan cairan kental
tinggi untuk grinding, membubarkan dan homogenisasi dalam satu
operasi (Bhatt & Agrawal, 2007).
Keuntungan:
– Distribusi partikel sangat halus melalui gaya geser yang
optimal.
– Kapasitas yang tinggi dengan kebutuhan ruang minimal.
– Penanganan cepat dan memudahkan pembersihan.
– Aplikasi hampir terbatas karena sistem homogenisasi
fleksibel yang tinggi (Bhatt & Agrawal, 2007).

54
14. Triple-Roller Mill
Berbagai jenis roller mill biasanya digunakan terdiri dari satu atau
lebih rol, terutama triple-roller mill. Alat ini dilengkapi dengan tiga
rol yang terdiri dari bahan tahan abrasi keras. Mereka dilengkapi
sedemikian rupa sehingga mereka datang dalam kontak dekat satu
sama lain dan berputar pada kecepatan yang berbeda. Materi yang
datang di antara rol dihancurkan dan ukuran partikelnya dikurangi.
Penurunan ukuran partikel tergantung pada gap antara rol dan
perbedaan kecepatannya. Bahan masuk melewati gerbong A,
diantara rol B dan C dimana ia mengurangi ukuran. Kemudian bahan
tersebut lewat di antara rol C dan D dimana ia kemudian mengurangi
ukuran partikel dan menghasilkan campuran yang halus. Gap antara
rol C dan D biasanya kurang dari celah antara B dan C, setelah
melewati materi antara rol C dan D bahan halus terus dihapus dari
rol D oleh sarana scraper E, dari mana ia dikumpulkan dalam
penerima (Bhatt & Agrawal, 2007).
Pada skala besar, roller mill salep mekanik digunakan untuk
mendapatkan salep halus dan tekstur yang seragam. Perlakuan salep
kasar dipaksa untuk lewat melalui rol stainless steel di mana ia
mengurangi ukuran partikel dan produk halus yang seragam dalam
komposisi dan tekstur yang diperoleh. Untuk skala kecil kerja, pabrik
salep kecil tersedia (Bhatt & Agrawal, 2007).
Keuntungan: triple-roller mill menghasilkan dispersi yang sangat
seragam dan cocok untuk terus menerus memproses (Bhatt &
Agrawal, 2007).

Gambar 15. Triple-roller mills

55
II.6 PENGEMASAN DAN PENYIMPANAAN
II.1 Salep
Sediaan setengah padat yang menggunakan dasar salep
yangmengandung atau menahan air, membantu pertumbuhan
mikroba dan oleh karena itu merupakan masalah yang lebih besar
dan pengawetan. Sediaan setengah padat harus pula dilindungi
melalui kemasan penyimpanan yang sesuai dan pengaruh
pengerusakan oleh udara, cahaya,uap air (lembab) dan panas serta
kemungkinan terjadinya interaksi kimia antara preparat dengan
wadah. Salep biasanya dikemas baik dalam botol atau dalam tube,
botol dapat dibuat dan gelas tidak berwarna, warna hijau, amber
atau biru atau buram dan porselin putih. Botol plastik juga dapat
digunakan. Wadah dan gelas buram dan berwarna berguna untuk
salep yang mengandung obat yang peka terhadap cahaya. Tube
dibuat dari kaleng atau plastik, beberapa diantaranya diberi
tambahan kemasan dengan alat bantuk husus bila salep akan
digunakan untuk dipakai melalui rektum, mata,vagina, telinga atau
hidung.
Tube umumnya diisi dengan bertekanan alat pengisi
dan bagian ujung belakang yang terbuka (ujung yang berlawanan
dan ujung tutup) dan tube yang kemudian ditutup dengan segel.
Salep yang dibuat dengan cara peleburan dapat dituangkan
langsung kedalam tube. Pada skala kecil seperti yang dibuat
berdasarkan resep dokter, pengisian dan tube salep oleh ahli
Farmasi di apotek, dapat diisi dengan cara sebagai berikut :
1. Salep yang telah dibuat digulung diatas kertas perkamen
menjadi bentuk silinder, diameter sedikit lebih kecil dan tube
supaya dapatdiisikan dengan panjang kertas yang lebih dari
tube.

56
2. Tutup tube dilepas supaya udara keluar, silinder dan salep
dengankertas dimasukkan ke dalam bagian ujung bawah tube
yang terbuka.
3. Potongan kertas yang melipat salep dipegang oleh salah satu
tangan sedang lainnya menekan dengan spatula yang berat
kearah tutup tube sampai tube tadi penuh dan sambil menarik
perlahan lahan kertas salep tadi dilepaskan, ratakan
permukaan salep dengan spatula, kurang lebih ½ inci dari
ujung bawah.
4. Bagian bawah yang disisakan, dilipat 2/18 inci dan
dibuat dan ujung bawah tube yang dipipihkan, ditekan
dijepit dengan penyegel tepat diatas lipatan untuk menyakini
bahwa sudah betul betul tertutup. Penjepit dapat digunakan
dari tang tangan atau dengan mesin lipatyang dijalankan
dengan tangan atau kaki. Salep dalam tube lebih
menguntungkan pemakaiannya dari pada botol,
disebabkan lebih muda dan menyenangkan digunakan
oleh pasien dan tidak mudah menimbulkan keracunan.
Pengisian dalam tube juga mengurangi terkena udara dan
menghindari terkontaminasi dari mikroba yang
potensial, oleh karena itu akan stabil dan dapat tahan lama
pada pemakaian dibanding dengansalep dalam
botol.Kebanyakan salep harus disimpan pada temperatur
dibawah 30º, untuk mencegah melembek apalagi dasar
salepnya bersifat dapat mencair.

II.7 AREA PENYIMPANAN


 Tindakan pencegahan harus diambil untuk mencegah orang yang tidak
berwenang memasuki area penyimpanan. Karyawan harus mematuhi
kebijakan perusahaan untuk menjaga lingkungan kerja yang aman,
aman, dan efisien.

57
 Area penyimpanan harus memiliki kapasitas yang memadai untuk
memungkinkan penyimpanan teratur dari berbagai kategori produk
farmasi, yaitu produk komersial dan non-komersial, produk dalam
karantina, dan produk yang dirilis, ditolak, dikembalikan atau ditarik
kembali serta yang diduga palsu.
 Area penyimpanan harus dirancang atau disesuaikan untuk
memastikan kondisi penyimpanan yang tepat dan baik. Secara khusus,
mereka harus bersih dan kering dan dipelihara dalam batas suhu yang
dapat diterima. Produk farmasi harus disimpan di lantai dan
ditempatkan dengan jarak yang sesuai untuk memungkinkan
pembersihan dan inspeksi. Palet harus dijaga kebersihan dan
perbaikannya.
 Area penyimpanan harus bersih dan bebas dari akumulasi sampah dan
hama. Organisasi yang bertanggung jawab atas distribusi harus
memastikan bahwa tempat dan area penyimpanan dibersihkan secara
teratur. Juga harus ada program tertulis untuk pengendalian hama.
Agen pengendalian hama yang digunakan harus aman dan tidak boleh
ada risiko kontaminasi produk farmasi. Harus ada prosedur yang tepat
untuk pembersihan tumpahan untuk memastikan penghapusan risiko
kontaminasi.
 Jika pengambilan sampel dilakukan di area penyimpanan, itu harus
dilakukan sedemikian rupa untuk mencegah kontaminasi atau
kontaminasi silang. Prosedur pembersihan yang memadai harus
dilakukan untuk area pengambilan sampel.
 Menerima dan mengirim bays harus melindungi produk farmasi dari
cuaca. Area penerima harus dirancang dan dilengkapi untuk
memungkinkan wadah produk farmasi yang masuk dibersihkan, jika
perlu, sebelum disimpan.
 Jika status karantina dipastikan dengan penyimpanan di area yang
terpisah, area ini harus ditandai dengan jelas dan akses dibatasi untuk
personel yang berwenang. Sistem apa pun yang menggantikan

58
karantina fisik harus memberikan keamanan yang setara. Misalnya,
sistem terkomputerisasi dapat digunakan, asalkan mereka divalidasi
untuk menunjukkan keamanan akses.
 Pemisahan fisik atau setara lainnya yang divalidasi (mis. Elektronik)
harus disediakan untuk penyimpanan produk yang ditolak,
kedaluwarsa, ditarik kembali atau dikembalikan dan dugaan
pemalsuan. Produk dan area terkait harus diidentifikasi secara tepat.
 Kecuali jika ada sistem alternatif yang sesuai untuk mencegah
penggunaan yang tidak disengaja atau tidak sah atas karantina, ditolak,
dikembalikan, ditarik kembali atau diduga produk farmasi palsu, area
penyimpanan yang terpisah harus ditugaskan untuk penyimpanan
sementara mereka sampai keputusan mengenai masa depan mereka
telah dibuat.
 Bahan radioaktif, narkotika dan produk farmasi berbahaya, sensitif dan
atau berbahaya lainnya, serta produk yang mengandung risiko khusus
penyalahgunaan, kebakaran atau ledakan (mis. Cairan dan padatan
yang mudah terbakar atau mudah terbakar dan gas bertekanan) harus
disimpan di area khusus (s) yang tunduk pada langkah-langkah
keselamatan dan keamanan tambahan yang sesuai.
 Produk farmasi harus ditangani dan disimpan sedemikian rupa untuk
mencegah kontaminasi, campur aduk dan kontaminasi silang.
 Suatu sistem harus ada untuk memastikan bahwa produk farmasi yang
akan kedaluwarsa pertama kali dijual dan / atau didistribusikan terlebih
dahulu (pertama kali kedaluwarsa / pertama kali keluar (FEFO)).
Pengecualian dapat diizinkan jika diperlukan, asalkan ada kontrol yang
memadai untuk mencegah distribusi produk yang kedaluwarsa.
 Barang yang rusak atau rusak harus ditarik dari stok yang dapat
digunakan dan disimpan secara terpisah.
 Area penyimpanan harus dilengkapi dengan pencahayaan yang
memadai untuk memungkinkan semua operasi dilakukan secara akurat
dan aman.

59
A. Kondisi penyimpanan dan kontrol stok
1. Kondisi penyimpanan dan penanganan harus mematuhi peraturan
nasional dan lokal yang berlaku.
2. Kondisi penyimpanan untuk produk farmasi harus sesuai dengan
rekomendasi pabrik.
3. Fasilitas harus tersedia untuk penyimpanan semua produk
farmasi dalam kondisi yang sesuai (mis. Dikendalikan
lingkungan bila perlu). Rekaman harus dipelihara dari kondisi ini
jika sangat penting untuk pemeliharaan karakteristik produk
farmasi yang disimpan.
4. Rekaman data pemantauan suhu harus tersedia untuk ditinjau.
Harus ada interval yang ditentukan untuk memeriksa suhu.
Peralatan yang digunakan untuk pemantauan harus diperiksa
pada interval yang telah ditentukan yang sesuai dan hasil
pemeriksaan tersebut harus dicatat dan disimpan. Semua catatan
pemantauan harus disimpan setidaknya untuk masa simpan
produk farmasi yang disimpan ditambah satu tahun, atau seperti
yang disyaratkan oleh undang-undang nasional. Pemetaan suhu
harus menunjukkan keseragaman suhu di seluruh fasilitas
penyimpanan. Direkomendasikan agar pemantau suhu
ditempatkan di area yang paling mungkin menunjukkan
fluktuasi.
5. Peralatan yang digunakan untuk memantau kondisi penyimpanan
juga harus dikalibrasi pada interval yang ditentukan.
6. Rekonsiliasi stok berkala harus dilakukan dengan
membandingkan stok aktual dan tercatat. Ini harus dilakukan
pada interval yang ditentukan.
7. Perbedaan stok harus diselidiki sesuai dengan prosedur yang
ditentukan untuk memeriksa bahwa tidak ada campur aduk yang
tidak disengaja, masalah dan penerimaan yang salah, pencurian
dan / atau penyalahgunaan produk farmasi. dokumentasi yang

60
berkaitan dengan penyelidikan harus disimpan untuk jangka
waktu yang telah ditentukan.

II.8 BANGUNAN DAN FASILITAS


Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat harus memiliki
desain, konstruksidan letak yang memadai, serta disesuaikan kondisinya
dan dirawat dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang
benar. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk
memperkecil risiko terjadi kekeliruan, pencemaran silang dan kesalahan
lain, serta memudahkan pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif
untuk menghindarkan pencemaran silang, penumpukan debu atau kotoran,
dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu.
Kegiatan produksi produk semi solid dalam beberapa ruangan,
antara lain :
1. Ruang antara yang berfungsi sebagai ruang untuk transfer barang dari
gudang kepada production supervisor berdasarkan kesesuaian antara
barang yang dikirim dengan permintaan yang tertera pada batch record
2. Dispensing room merupakan ruang untukk menimbang raw material
yang dilakukan oleh petugas. Ruangan ini memiliki Laminar air flow
yang dilengkapi dengan High Efficiency Particulate air filter. Sistem ini
mengatur keluar masuknya udara dan menyaring partikel yang
bertujuan untuk memberikan kulaitas udara yang bersih dengan aliran
udara yang teratur dan menjamin kualitas bahan yang ditimbang tetap
baik. Untuk penimbangan bahan higroskopis ruang dikondisikan
dengan RH kurang dari 50% dan suhu kurang dari 25°C.
3. IPC Room merupakan ruangan untuk melakukan pengujian khusus
selama proses produksi yang tidak dilakukan diruang produksi. IPC
dlakukan terhadap tahap kritis selama proses produksi. IPC untuk
sediaan semisolid adalah viskositas, pH, keseragaman bobot isi tube, tes
penampilan produk, percetakan expired date, dan nomor bets pada
label.

61
4. Ruang pencucian digunakan untuk mencuci peralatan yang telah selesai
digunakan. Setiap alur produksi memiliki wash room tersendiri.
5. Manufacturing room adalah ruangan yang digunakan untuk produksi
sediaan

62
BAB III
PENUTUP

III.1 KESIMPULAN
Sediaan semi solid dapat mengandung zat aktif, biasanya

digunakan secara topikal yaitu diaplikasikan pada permukaan kulit atau

selaput lendir.

1. Salep merupakan sediaan semi solid yang mengandung satu atau lebih

zat aktif yang larut atau terdispersi dalam basis salep yang sesuai

2. Krim merupakan sediaan semi solid yang menggunakan basis emulsi,

dapat bertipe A/M ataupun M/A, dapat mengandung zat aktif atau

tidak mengandung zat aktif.

3. Gel/ jelly merupakan sediaan semi solid yang mengandung cairan yang

terperangkap dalam suatu matriks 3 dimensi yang terbentuk dari

gelling agent yang mengembang.

4. Pasta merupakan sediaan semi padat yang mengandung satu atau lebih

bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian luar/topikal.

5. Linimentum atau liniment adalah sediaan cair atau kental,

mengandung analgetikum dan zat yang mengandung sifat rubefasien,

melemaskan otot atau menghangatkan, digunakan sebagai obat luar.

63
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Pharmaceutical Polymers for Liquid and Semisolid Dosage


Forms. USA: Lubrizol Pharmaceutical Ingredients.

Asfi, Dzul, 2011, Ilmu Resep, Smk Kesehatan Terpadu Mege Rezky, Makassar

Bhatt B, Agrawal SS. 2007. Pharmaceutical Engineering. New Delhi: Delhi


Institute of Pharmaceutical Science and Research.

Hasanah, 2013. LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT.


GLAXO WELLCOME INDONESIA. Fakultas farmasi program studi
Profesi Apoteker. Depok

John Wiley & Sons. 2008. Pharmaceutical Manufacturing Handbook: Production


and Processes. edited by Shayne Cox Gad Copyright, Inc.

Karim, Djuniasti, et all, 2014, Farmasetika Dasar, Politeknik Kesehatan


Kemenkes Jurusan Farmasi, Makassar.Kedotera Jakarta.

Lieberman HA, Lachmann L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi I.
Jakarta: UI Press.

Madinah J. 2008. Tech Lectures for the Pharmacy Technician: Section XXIV –
Principles of Compounding. USA: Tech Lectures®.

Peraturan kepala BPOM. Tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat


yang Baik. NOMOR HK.03.1.33.12.12.8195. TAHUN 2012

64
Syamsuni, 2005, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, EGC Penerbit Buku
Kedoteran, Jakarta.

WHO. 2010. Good Distribution Practices (GDP) For Pharmaceutical Products.


WHO Technical Report Series, No. 957, Annex 5.

65