Anda di halaman 1dari 16

Nilai

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR

(Reaksi Kimia)

Oleh:

Nama : Raihan Gifari

Npm : 240310180063

Hari / Tgl : Jumat, 3 Mei 2019

Shift / Waktu : II / 8.00 – 11.00

Nama Asisten : 1. Sasvia Ayu Puzianti 240310170014

2. Bunga Ega Evania 240310170027

3. M. Rifqi Fajriansyah 240310170030


LABORATORIUM PENDIDIKAN 2

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN

2019

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu menghasilkan antar
peubahan senyawa kimia. Senyawa ataupun senyawa-senyawa awal yang terlibat
dalam reaksi disebut reaktan. Dan hasil dari suatu reaksi kimia disebut hasil reaksi.

Reaksi-reaksi kimia dapat dilihat dari adanya perubahan, misalnya perubahan


warna, perubahan wujud, dan yang utama adalah perubahan zat yang disertai
perubahan energi dalam bentuk kalor. Dengan mereaksikan suatu zat berarti kita
mengubah zat itu menjadi zat lainnya, baik sifat maupun wujudnya.

Peristiwa yang terjadi jika dua pereaksi atau lebih bergabung dan
menyatakan jumlah zat yang bereaksi atau jumlah produk reaksi. Dalam ilmu kimia
reaksi itu merupakan salah satu cara untuk mengetahui sifat-sifat kimia dari suatu
atau berbagai jenis zat. Sifat-sifat kimia kemudian dicatat sebagai data kuantitatif.

Menurut hukum penggabungan kimia, setiap zat dijelaskan oleh suatu


rumus kimia yang menyatakan jumlah relatif atom yang ada dalam zat itu. Rumus
molekul suatu zat menjelaskan jumlah atom setiap unsur dalam satu molekul zat.
Rumus empiris suatu senyawa adalah rumus paling sederhana yang memberikan
jumlah atom relatif yang betul untuk setiap jenis atom yang ada di dalam senyawa
itu. Reaksi kimia menggabungkan unsur-unsur menjadi senyawa, penguraian
senyawa menghasilkan unsur-unsurnya, dan transformasi mengubah senyawa yang
ada menjadi senyawa baru.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Utama

1. Memahami berbagai reaksi kimia berdasarkan perubahan yang


terjadi.

2. Mengetahui karakteristik tiap tipe reaksi kimia

3 Mengenal beberapa macam reaksi kimia.

1.2.2 Tujuan Intruksional


1. Mengamati bukti terjadinya suatu reaksi kimia.
2. Menuliskan persamaan reaksi kimia.
3. Mempelajari secara sistematis lima jenis reaksi utama.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Reaksi kimia adalah proses yang mengonversi sekelompok zat, yang disebut
reaktan, menjadi sekelompok zat baru, yang dinamakan produk. Dengan kata lain,
reksi kimia adalah proses yang menghasilkan perubahan kimia. Memang dalam
banyak kasus, tidak ada yang terjadi ketika sejumlah zat dicampur, masing-masing
mempertahankan komposisi dan sifat aslinya. Kita memerlukan bukti sebelum kita
dapat mengatakan bahwa suatu reaksi kimia telah terjadi. Beberapa jenis bukti fisis
yang perlu ditunjukkan dengan perubahan warna, pembuatan padatan atau endapan,
evolusi gas, dan penyerapan kalor. Bukti kuat masih memerlukan analisis kimia
terperinci dari campuran reaksi untuk mengidentifikasi semua zat yang ada. Lebih
lagi, analisis kimia dapat mengungkapkan bahwa reaksi kimia telah terjadi
meskipun tidak ada gejala fisis (Petrucci, 2008 : 108)
Beberapa jenis reaksi kimia yang umumnya dapat terjadi berdasarkan apa
yang terjadi saat reaktan berubah menjadi produk. Reaksi-reaksi yang lebih umum
dapat terjadi adalah penggabungan, penguraian, penggantian tunggal, penggantian
rangkap, pembakaran dan redoks (Moore, 2004 : 126)
Suatu reaksi dalam larutan tidak selalu dilihat dengan terbentuk endapan.
Dalam beberapa reaksi terbentuk gas, kadang-kadang yang terjadi hanya
perubahan warna dan bahkan ada yang kelihatannya tidak terjadi perubahan sama
sekali. Hal ini karena semua reaktan dan hasil reaksi dalam air tidak berwarna
(Brady, 1994 : 118).
Tanda-tanda terjadinya reaksi kimia yaitu terjadinya perubahan warna,
perubahan suhu, perubahan bau, pembentukan endapan dan pembentukan gas.
Faktor - faktor terjadinya reaksi kimia dapat diakibatkan oleh beberapa hal antara
lain bisa karena pencampuran antara zat satu dengan yang lainnya atau karena
pembakaran dan lain-lain. (Raymond,2003)

Reaksi Kimia adalah suatu perubahan dari suatu senyawa atau molekul
menjadi senyawa lain atau molekul lain. Reaksi yang terjadi pada senyawa
anorganik biasanya merupakan reaksi antar ion, sedangkan reaksi pada senyawa
organik ditandai dengan adanya pemutusan ikatan kovalen dan pembentukan ikatan
kovalen yang baru. Pada reaksi yang berlangsung dalam beberapa tahap untuk
menghasilkan suatu senyawa, dikenal istilah

Intermediet sesuatu yang dapat atau tidak dapat diisolasi. (Riswiyanto, 2009: 83)
Kelarutan zat padat dalam larutan bertambah bila suhu dinaikkan, Karena
umumnya proses kelarutan bersifat endoterm. Akan tetapi ada zat yang sebaliknya,
yaitu eksoterm dalam melarut. Jika kelarutan zat padat bertambah dengan kenaikan
suhu, maka kelarutan gas berkurang bila suhu dinaikkan, karena gas menguap dan
meninggalkan pelarut. (Syukri,1999: 360)
Pada reaksi kimia yang terjadi. Konstanta laju yang tinggi akan membuat
laju reaksi semakin cepat Orde reaksi merupakan pangkat-pangkat dalam suatu
persamaan laju reaksi kimia. Orde reaksi tergantung reaksi yang berlangsung, bila
pangkat tinggi, maka laju reaksi semakin tinggi. Orde reaksi dapat mempengaruhi
kecepatan reaksi, orde reaksi total merupakan jumlah total dari orde-orde reaksi
tersebut (Bird,1991)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat :
1. Bunsen
2. Erlenmeyer 250 mL
3 Gelas Piala
4 Kasa
5. Kurs Porselin
6. Lemari Asam
7. Tabung Reaksi
3.1.2 Bahan :
1. Asam Fosfat (HNO3) 0,1 M
2 Asam Nitrat (H2SO4) 0,1 M
3 Asam Sulfat (H3PO4) 0,1 M
4 Fenolflatein 0,5 %
5 Kristal Tembaga(II) Sulfat Pentahidrat (NaOH) 0,1 M
6 Natrium Hidrogen Karbonat, (CuSO4) 0,5 M

3.2 Prosedur

3.2.1 Reaksi Penguraian


1. Masukkan beberapa butir kristal tembaga(II) sulfat pentahidrat kedalam
tabung reaksi kering. Pegang tabung reaksi dengan penjepit dan panaskan
dengan nyala bunsen. Perhatikan perobahan warna dan tekstur kristal dan
amati dinding dalam tabung reaksi.
2. Masukkan bubuk natrium hidrogen karbonat (soda kue) ke dalam
Erlenmeyer 250 mL hingga menutupi dasar labu. Letakkan labu di atas kasa
dan jepit dengan klem.
a. Masukkan batang lidi yang menyala ke dalam tabung, catat waktu sampai
nyala padam.
b. Panaskan labu dengan kuat dan amati dinding dalam labu. Setelah udara
lembab habis, masukkan lagi batang lidi yang menyala. Catat lagi waktu

3.2.2. Reaksi Penetralan

1. Masukkan 2 mL asam nitrat, asam sulfat dan asam fosfat masing-masing ke


dalam tabung nomor 1, 2 dan 3.
2. Tambahkan 1 tetes fenolftalein kedalam masing-masing tabung.
3. Tambahkan larutan natrium hidroksida ke dalam setiap tabung reaksi di atas
setetes demi setetes sampai terbentuk warna merah muda.
4. Catat jumlah natrium hidroksida yang diperlukan pada setiap tabung.
BAB IV

HASIL PENGAMATAN

4.1 Tabel Hasil Pengamatan Reaksi Penguraian CuSO4 .5H2O

Kelompok Waktu Perubahan Warna Tekstur Dinding Tabung

8 Menit Hijau Tosca


1. Kristal Terdapat uap air
9 Menit Hijau Tosca Tua

2. 8 Menit Hijau Tosca Kristal Terdapat Uap Air

4.2 Tabel Hasil Pengamatan Reaksi Penguraian NaHCO3

Kelompok Bahan Waktu Padam

3 NaHCO3 1,892 Detik

4 NaHCO3 5 Detik

4.3 Tabel Hasil Pengamatan Reaksi Pentralan

Jumlah Tetes
Kelompok Bahan Keterangan
HNO3 H2SO4 H3PO4

Ditetesi langsung
NaOH pada larutannya,
5 (indikator 40 tetes 3 tetes 50 tetes ketika ditetesi di
pp) dinding tabung
reaksi, hanya terjadi
perubahan warna

pada dindingnya.

Percobaan 1 dan 3,
perubahan warna
NaOH
merah muda hanya
6 (indikator 40 tetes 5 tetes 56 tetes
terjadi pada dinding
pp)
dan larutan tetap
bening

BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Reaksi Penguraian

5.1.1 Penguraian CuSO4 .5H2O

CuSO4.5H2O → CuSO4 + 5H2O

Diuraikan dengan cara di panaskan sampai terjadi perubuhan pada kritsal,


menyebabkan dinding tabung reaksi tedapat uap air. Karena pemanasan
melepaskan Hidrat pada CuSO4 .5H2O

Warna yang asalnya biru berubah menjadi hijau tosca, karena hidrat yang
menyebabkan warna biru terlepas saat pemanasan. Tekstur pecah menjadi
seperti kristal - kristal

5.1.2 Penguraian NaHCO3

2NaHCO3→ Na2CO3 + H2O + CO2

Mereaksikan antara bubuk NaHCO3 dengan batang lidi yang menyala.


Batang lidi menyala dimasukkan kedalam bubuk NaHCO3 , dan setelah
kurang lebih 6 detik, batang lidi yang menyala menjadi padam. Hal ini
dapat terjadi karena adanya H2O dari reaksi penguraian NaHCO3.
Terdapat juga lapisan lilin pada permukaan lidi. Sama hal nya ketika
NaHCO3 di panaskan terlebih dahulu, kemudian di masukan lidi nyala dan
dimasukak kedalam NaHCO3 , batang lidi yang menyala, padam dalam
waktu kurang 2 detik.

5.2 Reaksi Penetralan

5.1.1 Penetralan HNO3

HNO3 (aq) + NaOH (aq) → NaNO3 (aq) + H2O (c).

Dalam reaksi ini masing-masing senyawa saling bertukar kation dan


anionnya sehingga menghasilkan garam netral NaNO3, dari asam kuat
HNO3 dan basa kuat NaOH. Percobaan kedua ialah mereaksikan H2SO4.
Larutan H2SO4 yang berwarna bening ditambahkan dengan indikator
fenolftalein (pp),warna larutan tersebut tetap bening karena indikator pp
dicampur dengan asam, warna larutan tetap bening. Larutan NaOH
kemudian diteteskan dengan menggunkan pipet tetes ke dalam larutan
tersebut, pada tetesan ke 2, warna pada larutan sudah menjadi warna
pink paling muda. Hal ini menunjukkan bahwa H2SO4 dan NaOH
bereaksi, karena memenuhi syarat terjadinya suatu reaksi kimia, yang tak
lain adalah perubahan warna. Perubahan warna ini terjadi karena telah
tercapainya titik ekivalen.

5.1.2 Penetralan H2SO4

NaOH (aq) + H2SO4 (aq) → Na2SO4 (aq) + H2O (I)

Dalam reaksi ini masing-masing senyawa saling bertukar kation dan


anionnya sehingga menghasilkan garam netral Na2SO4, dari asam kuat
Na2SO4 dan basa kuat NaOH.

Percobaan ketiga ialah mereaksikan larutan H3PO4 dengan NaOH.


Larutan H3PO4 yang berwarna bening ditambahkan dengan indicator
fenolftalein (pp),warna larutan tersebut tetap bening karena indicator pp
dicampur dengan asam, warna larutan tetap bening. Larutan NaOH
kemudian diteteskan dengan menggunkan pipet tetes ke dalam larutan
tersebut, pada tetesan ke 50 bahkan hingga 56, warna pada larutan tidak
berubah atau warnanya tetap bening. Hal ini menunjukkan bahwa H3PO4
dan NaOH tidak bereaksi, karena tidak memenuhi syarat terjadinya suatu
reaksi kimia, yang tak lain adalah perubahan warna maupun perubahan
lainnya. Namun, warna larutan H3PO4 yang telah dicampur pp, ketika
larutan NaOH diteteskan pada dinding tabung reaksi, warna pada dinding
tersebut menjadi keunguan. Hal ini terjadi karena pada dinding tabung
reaksi tersebut masih terdapat fenolftalein yang belum terhomogenkan
dengan larutan H3PO4, sehingga yang bereaksi adalah fenolftalein dan
NaOH, karena jika indicator pp dicampur dengan basa, warna larutan akan
berubah menjadi merah muda atau keunguan.

5.1.3 Penetralan H3PO4

NaOH (aq) + H3PO4 (aq) → Na3PO4 (aq) + H2O (I). Dalam reaksi ini
masing-masing senyawa saling bertukar kation dan anionnya sehingga
menghasilkan garam basa Na3PO4, dari asam lemah H3PO4 dan basa kuat
NaOH. Pada proses penetralan titik akhir terjadi pada campuran asam
dengan basa, Apabila asam lemah + basa kuat akan mengasilkan garam
yang bersifat basa (pH > 7) Apabila asam kuat + basa kuat maka
mengasilkan garam netral (pH = 7) Apabila asam kuat + basa lemah maka
akan menghasilkan garam yang bersifat asam (pH<7).
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1. Terdapat lima jenis reaksi, ialah reaksi penggabungan, reaksi penguraian,
reaksi penggantian, reaksi penggantian ganda dan reaksi penetralan.
2. Pada Reaksi penguraian CuSO45H2O, terdapat perbedaan waktu dalam
perubahan reaksi kimianya, karena berbeda kandungan kristal padatan nya
3. Dalam penguraian NaHCO3, lidi lebih cepat waktu padamnya pada
NaHCO3 yang di panaskan terlebih dahulu
4. Dalam Reaksi penetralan, terdapat larutan yang tidak bereaksi dengan
NaOH yaitu H3PO4, karena tidak terjadi perubahan apapun. Berbeda
dengan larutan HNO3 dan H2SO4
6.2 Saran
1 Lengkapi peralatan yang dibutuhkan untuk praktikum
2 Prakitan harus lebih serius dalam praktikum

DAFTAR PUSTAKA

Bird, S. 1991. Laju Reaksi dan Tetapan Laju.. Jakarta. Erlangga


Brady, James E. 1994. Kimia Universitas. Jakarta : Erlangga

Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar. PT. Gramedia Pustaka: Jakarta.

Moore, John T. 2004. Kimia For Dummies. Bandung : Pakar Raya.

Petrucci, R.H. 2008. Kimia Dasar Prinsip-prinsip dan Aplikasi Modern.Jakarta :


Erlangga

Riswiyanto, Drs.2009. Kimia Organik Jakarta: Erlangga

Syukri, S dan Sadijah Achmad. 1999. Kimia Dasar jilid dua. Bandung: ITB Press
LAMPIRAN

Gambar 1. Penguraian Gambar 2 Hasil dari Gambar 3 Pengambilan


CuSO4 Pemanasan CuSO4 CuSO4

Gambar 4 Penetralan Gambar 5 Penetralan Gambar 6 NaHCO3


NaOH NaOH