Anda di halaman 1dari 9

I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konsep bangunan ramah lingkungan atau green building didorong
menjadi tren dunia, terutama bagi pengembangan properti saat ini. Bangunan
ramah lingkungan ini mempunyai kontribusi menahan laju pemanasan global
dengan membenahi iklim mikro. Dalam pemanasan global, hal yang perlu
diperhatikan adalah dengan penghematan air dan energi serta penggunaan energi
terbarukan.
Arsitektur ramah lingkungan, yang juga merupakan arsitektur hijau,
mencakup keselarasan antara manusia dan lingkungan alamnya. Arsitektur hijau
mengandung juga dimensi lain seperti waktu, lingkungan alam, sosio-kultural,
ruang, serta teknik bangunan. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur hijau
bersifat kompleks, padat dan vital dibanding dengan arsitektur pada umumnya.
Green architecture didefinisikan sebagai sebuah istilah yang
menggambarkan tentang ekonomi, hemat energi, ramah lingkungan, dan dapat
dikembangkan menjadi pembangunan berkesinambungan.
Green architecture (dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan yang
berkelanjutan) adalah praktek membuat struktur dan menggunakan proses yang
bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien di seluruh
siklus hidup bangunan: dari tapak untuk desain, konstruksi, operasi,
pemeliharaan, renovasi, dan dekonstruksi. Praktek ini memperluas dan
melengkapi desain bangunan klasik keprihatinan ekonomi, utilitas, daya tahan,
dan kenyamanan. Tujuan umumnya adalah bahwa bangunan hijau dirancang
untuk mengurangi dampak keseluruhan dari lingkungan yang dibangun pada
kesehatan manusia dan lingkungan alam oleh:
* Efisien menggunakan energi, air, dan sumber daya lain
* Kesehatan penghuni Melindungi dan meningkatkan produktivitas karyawan
* Mengurangi limbah, polusi dan degradasi lingkungan
Fakta akibat pemanasan global mendorong lahirnya berbagai inovasi
produk industri terus berkembang dalam dunia arsitektur dan bahan bangunan.
Konsep pembangunan arsitektur hijau menekankan peningkatan efisiensi dalam
penggunaan air, energi, dan material bangunan, mulai dari desain building
interior, pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan itu ke depan.
Desain rancang bangunan memerhatikan banyak bukaan untuk memaksimalkan
sirkulasi udara dan cahaya alami. Sedikit mungkin menggunakan penerangan
lampu dan pengondisi udara pada siang hari.
Bentuk arsitek design bangunan yang baik dan ramah lingkungan adalah
bangunan yang memperhatikan lingkungan sekitarnya seperti membuat taman di
lingkungan rumah dan gedung selain itu kurangi jumlah penggunaan kaca pada
rumah atau bangunan gedung kantor. Untuk desain interior, menggunakan
interior yang ramah lingkungan dan mengurangi pengunaan listrik yang sangat
berlebihan, selain itu gunakan bahan bahan seperti kayu, dan kurangin
penggunaan kaca dan lampu atau interior lainnya yang menggandung bahan
kaca. Sedangkan pada desain eksteriornya, dengan menghindari penggunaan
bahan bangunan yang berbahaya dan diganti dengan yang ramah lingkungan,
dengan memperbanyak taman hijau dan taman yang memang di butuhkan untuk
mengatur keseimbang lingkungan sekitar.
Desain bangunan hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout
sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan
material ramah lingkungan. Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman
atap (roof garden, green roof) yang memiliki nilai ekologis tinggi (suhu udara
turun, pencemaran berkurang, ruang hijau bertambah).
Pemilihan material yang ramah lingkungan dapat dijabarkan menjadi dua
hal yakni dari sisi teknologi dan penggunaan. Dari sisi teknologi, pemilihan
bahan sebaiknya menghindari adanya toksin atau racun dan diproduksi tidak
bertentangan dengan alam. Sebagai contoh, minimalkan penggunaan material
kayu, batu alam ataupun bahan bangunan yang mengandung racun seperti
asbeston. Sedangkan dari sisi penggunaan, pemilihan material yang ramah
lingkungan misalnya menggunakan lampu hemat energi seperti lampu LED
yang rendah konsumsi listrik, semen instan yang praktis dan efisien, atau pun
memilih keran yang memakai tap yang hanya mengeluarkan air dalam volume
tertentu.

Penggunaan material bahan bangunan yang tepat berperan besar dalam


menghasilkan bangunan berkualitas yang ramah lingkungan. Beberapa jenis
bahan bangunan ada yang memiliki tingkat kualitas yang memengaruhi harga.
Penetapan anggaran biaya sebaiknya sesuai dengan anggaran biaya yang tersedia
dan dilakukan sejak awal perencanaan sebelum konstruksi untuk mengatur
pengeluaran sehingga baik building interior maupun eksteriornya tetap
berkualitas.Bahan baku building interior design maupun eksteriornya yang
ramah lingkungan berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan
bumi. Beragam inovasi teknologi proses produksi terus dikembangkan agar
industri bahan baku tetap mampu bersahabat dengan alam. Industri bahan
bangunan sangat berperan penting untuk menghasilkan bahan bangunan yang
berkualitas sekaligus ramah lingkungan.
Konstruksi design bangunan yang berkelanjutan dilakukan dengan
penggunaan bahan-bahan alternatif dan bahan bakar alternatif yang dapat
mengurangi emisi CO2 sehingga lebih rendah daripada kadar normal bahan baku
yang diproduksi sebelumnya. Bahan baku alternatif yang digunakan pun
beragam. Bahan bangunan juga memengaruhi konsumsi energi di setiap
bangunan. Pada saat bangunan didirikan konsumsi energi antara 5-13 persen dan
87-95 persen adalah energi yang dikonsumsi selama masa hidup bangunan.

B. Tujuan
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui seperti apa arsitektur
yang sempurna.

C. Batasan Masalah
Adapun yang menjadi batasan masalah dalam penulisan artikel ini adalah :
1. Apa itu arsitektur yang sempurna?
2. Apa saja kriteria dari arsitektur yang sempurna itu?

II
PEMBAHASAN

A. Arsitektur Yang Sempurna


Arsitektur yang sempurna adalah design arsitektur yang aman, nyaman,
dan indah bagi bangunan arsitektur itu sendiri dan lingkungan sekitar. Design
arsitektur suatu bangunan yang sempurna mencakup fungsi dan bentuk yang
ramah lingkungan.
B. Kriteria Arsitektur Yang Sempurna

1. Form Follow Function & Function Follow Form


- Form Follow Function : saat seseorang atau arsitek ingin mendesain sebuah
bangunan, ia harus tau fungsi (function) bangunan tersebut terlebih dahulu
supaya bisa disesuaikan dengan bentuk (form) bangunan lainnya
- Function Follow Form : bentuk bangunan sekitar harus disesuaikan dengan
fungsi sekitar site, agar saat bangunan di desain dan terealisasi maka
bangunan tersebut tidak terlihat berbeda dengan bangunan di sekitarnya

2. Peduli Lingkungan
Kampanye green technologi juga telah membuat para arsitektur mapun
teknokrat dibidang konstruksi untuk melakukan berbagai inovasi untuk
merancang konstruksi bangunan dan memilih material bangunan yang sesuai
dengan prinsip ramah lingkungan. Sebagai contoh, berbagai instansi telah
banyak mengadakan lomba desain rumah indah, sederhana, hemat, dan ramah
lingkungan.
Terdapat banyak aspek yang harus diperhatikan ketika merancang sebuah
rumah. Berikut ini adalah berbagai contoh yang telah ditawarkan/dicontohkan
oleh para arsitektur yang peduli akan lingkungannya. Pertama, kita bisa meniru
konsep rumah pangung. Dengan adanya jarak antara tanah dengan lantai, maka
area tanah dibawah lantai masih bisa berfungsi untuk penyerapan air. Hal ini
bisa bermanfaat untuk mengurangi banjir. Kedua, harus diperhatikan masalah
pencahayaan. Jika rumah mempunyai titik-titik masuknya cahaya yang cukup,
maka akan mengurangi penggunaan lampu pada siang hari. Selanjutnya yang
ketiga adalah masalah ventilasi, jika pertukaran udara di rumah cukup, maka
akan mengurangi penggunaan AC maupun kipas angin, ditambah lagi jika rumah
mempunyai ruang terbuka hijau maka udara yang keluar masuk rumah akan
lebih bersih begitupun suhu udara akan menjadi lebih rendah. Masalah sanitasi
juga harus diperhatikan, misalnya perancangan saluran pembuangan air dan
penempatan tempat sampah organic maupun anorganik.
Pemilihan material untuk membangun sebuah rumah juga akan
berpengaruh terhadap efek keramah-tamahan lingkungan yang sedang gencar-
gencarnya dikampanyekan. Pertama, gunakan sumber daya yang bisa diperbarui.
Sumber daya yang bisa diperbarui misalnya material bangunan dari kayu,
bebatuan dan semacamnya yang pada umumnya adalah material alami yang
banyak terdapat di lingkungan sekitar dan mudah untuk diperbarui kembali.
Selanjutnya kita bisa menggunakan kembali material bangunan yang masih
layak pakai, dan mengolah limbah atau material sisa bangunan untuk dapat
dimanfaatkan kembali.
Berikut ini adalah contoh berbagai bahan yang bisa dipilih untuk
menghasilkan sebuah rumah yang ramah lingkungan. Low E-Glass, yang bisa
digunakan untuk kaca jendela yang akan menyerap panas sehingga ruangan
tidak akan terlalu panas dan berarti penggunaan AC juga bisa dihemat. Rain
Harversting yang memanfaatkan air hujan dengan cara menampungnya dan
digunakan kembali untuk kebutuhan sehari-hari seperti menyiram tanaman
sampai untuk toilet. Storage Heating adalah penyimpanan sumber panas yang
nantinya akan digunakan untuk menghangatkan ruangan pada saat suhu dingin
tiba, sehingga penggunaan mesin penghangat ruangan (heater) dapat dikurangi.
Penggunaan bahan Photocatalytic pada permukaan dinding bagian luar yang
akan mengkonversi organik yang berbahaya menjadi tidak berbahaya.

3. Peduli Jangka Panjang


Menurut Richard Meier, kualitas arsitektur terjadi ketika arsitektur dapat
digunakan dalam rentang waktu yang lama, yang menua secara alami, original,
berkesinambungan, dan mudah digunakan.

4. Hemat Energi
Arsitektur hemat energi (energy efficient architecture) adalah arsitektur
dengan kebutuhan energi serendah mungkin yang bisa dicapai dengan
mengurangi jumlah sumber daya yang masuk akal (Enno, 1994). Dengan
demikian, arsitektur hemat energi ini berlandaskan pada pemikiran
meminimalkan penggunaan energi tanpa membatasi atau merubah fungsi
bangunan, kenyamanan, maupun produktifitas penggunanya. Konsep Arsitektur
Hemat Energi ini mengoptimasikan sistem tata cahaya dan tata udara, integrasi
antara sistem tata udara buatan – alamiah dan sistem tata cahaya buatan –
alamiah serta sinergi antara metode pasif dan aktif dengan material dan
instrumen hemat energi.
Konsep bangunan dengan efisiensi energi sangat penting karena jika
melihat pada penggunaan energi secara global, sektor bangunan sendiri
menyerap 45 % dari kebutuhan energi keseluruhan. Pemanfaatan energi dalam
bangunan ini khususnya untuk pemanasan, pendinginan dan pencahayaan
bangunan.
Konsumsi energi yang terbesar dalam bangunan baik dalam fungsinya
sebagai hunian maupun kantor adalah untuk memenuhi kebutuhan akan listrik
yang digunakan untuk pencahayaan buatan, pendinginan dan pemanasan ruang
(Mintorogo, 1999). Komposisi konsumsi energi antara kedua fungsi ini berbeda
(lihat Gambar 1.2) namun secara umum yang terbesar adalah kebutuhan listrik.
Konsumsi energi terbesar pada sebuah hunian adalah untuk memenuhi
kebutuhan akan listrik sejumlah 67,5% dari keseluruhan konsumsi energi. Ini
menunjukkan bahwa dalam perencanaan bangunan untuk tujuan efisiensi energi
yang paling harus diperhatikan adalah pengaruhnya terhadap penghematan
penggunaan energi listrik yang termasuk sebagai purchased energy.
Sedangkan untuk di Indonesia sendiri, konsep konservasi energi pada
bangunan dimulai pada tahun 1985 saat diperkenalkannya program DOE
(Departement of Energy, USA) oleh Departemen Pekerjaan Umum. Dalam
rangka meningkatkan pemahaman akan konservasi energi pada bangunan maka
disusun SNI Konservasi Energi pada Sistem Pencahayaan dan Petunjuk Teknis
Konservasi Energi pada Sistem Pencahayaan. Menurut SNI 03-6197-2000
tentang Konservasi Energi pada Sistem Pencahayaan, penggunaan energi
sehemat mungkin dengan mengurangi daya terpasang melalui tiga metode yaitu :
- Pemilihan lampu yang memiliki efikasi lebih tinggi dan menghindari lampu
yang dengan efikasi rendah. Dianjurkan menggunakan lampu fluoresen dan
lampu pelepasan gas lainnya.
- Pemilihan armatur yang mempunyai karakteristik distribusi pencahayaan
sesuai dengan penggunaannya, mempunyai efisiensi yang tinggi dan tidak
mengakibatkan silau atau refleksi yang mengganggu.
- Pemanfaatan cahaya alami siang hari.
Sebagaimana disebutkan diatas salah satu cara dalam metode efisiensi
energi pada bangunan adalah pemanfaatan cahaya alami siang hari dan
khususnya untuk penghematan energi listrik. Jika dilakukan secara integral
dalam tahap desain bangunan, pencahayaan alami bisa meningkatkan kualitas
bangunan dengan cara : (Lyons and Lee, 1994)
- Penghematan energi listrik dan biaya operasional - Menyediakan cahaya
langsung dan cahaya difusi dengan karakteristik alami
- Bisa disesuaikan dengan keinginan setiap orang
- Menyediakan keterhubungan dengan dunia luar dan perubahannya.

5. Green Building
Green building (juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan
yang berkelanjutan) mengacu pada struktur dan menggunakan proses yang
bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien di seluruh
siklus hidup-bangunan: mulai dari penentuan tapak untuk desain, konstruksi,
operasi, pemeliharaan, renovasi pembongkaran, dan. Hal ini membutuhkan
kerjasama yang erat dari tim desain, arsitek, insinyur, dan klien di semua
tahapan proyek. Praktik Green Building memperluas dan melengkapi desain
bangunan klasik keprihatinan ekonomi, utilitas, daya tahan, dan kenyamanan.
Green construction ialah sebuah gerakan berkelanjutan yang mencita-
citakan terciptanya konstruksi dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan
pemakaian produk konstruksi yang ramah lingkungan, efisien dalam pemakaian
energi dan sumber daya, serta berbiaya rendah. Gerakan konstruksi hijau ini juga
identik dengan sustainbilitas yang mengedepankan keseimbangan antara
keuntungan jangka pendek terhadap resiko jangka panjang,dengan bentuk usaha
saat ini yang tidak merusak kesehatan, keamanan dan kesejahteraan masa depan.
Konsep pembangunan berkelanjutan dapat ditelusuri dengan energi
(minyak terutama fosil) krisis dan pencemaran berwawasan lingkungan pada
tahun 1970. Gerakan green building di Amerika Serikat berasal dari kebutuhan
dan keinginan untuk lebih hemat energi dan ramah lingkungan konstruksi
praktek. Ada sejumlah motif untuk membangun hijau, termasuk manfaat
lingkungan, ekonomi, dan sosial. Namun, inisiatif keberlanjutan yang modern
panggilan untuk desain terpadu dan sinergis untuk kedua konstruksi baru dan
dalam perkuatan struktur yang ada. Juga dikenal sebagai desain yang
berkelanjutan, pendekatan ini mengintegrasikan membangun siklus hidup
dengan setiap praktik hijau digunakan dengan tujuan desain-untuk menciptakan
sinergi antara praktek yang digunakan.
Green building menyatukan array yang luas dari praktek, teknik, dan
keterampilan untuk mengurangi dan akhirnya menghilangkan dampak bangunan
terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Hal ini sering menekankan
mengambil keuntungan dari sumber daya terbarukan, misalnya, menggunakan
sinar matahari melalui solar pasif, surya aktif, dan fotovoltaik teknik dan
menggunakan tanaman dan pohon-pohon melalui atap hijau, taman hujan, dan
pengurangan air hujan run-off. Banyak teknik lain yang digunakan, seperti
menggunakan kayu sebagai bahan bangunan, atau menggunakan beton kerikil
atau permeabel dikemas bukan beton atau aspal konvensional untuk
meningkatkan pengisian air tanah. Di sisi estetika arsitektur hijau atau desain
yang berkelanjutan adalah filosofi merancang bangunan yang harmonis dengan
fitur alam dan sumber daya sekitar situs. Ada beberapa langkah kunci dalam
merancang bangunan berkelanjutan: menentukan ‘hijau’ bahan bangunan dari
sumber-sumber lokal, mengurangi beban, sistem mengoptimalkan, dan
menghasilkan di tempat energi terbarukan.
Aplikasi dari konstruksi hijau pada tahap perencanaan terlihat pada
beberapa desain konstruksi yang memperoleh award sebagai desain bangunan
yang hemat energi, dimana sistem bangunan yang didesain dapat mengurangi
pemakaian listrik untuk pencahayaan dan tata udara.Selain itu berbagai
terobosan baru dalam dunia konstruksi juga memperkenalkan berbagai material
struktur yang saat ini menggunakan limbah sebagai salah satu komponennya,
seperti pemakaian flyash, silica fume pada beton siap pakai dan beton pra cetak.
Selain itu terobosan sistem pelaksanaankonstruksi juga memperkenalkan
material yang mengurangi ketergantungan dunia konstruksi pada pemakaian
material kayu sebagai perancah.
Pemakaian material/bahan bangunan yang banyak digunakan seperti
kaca, beton, kayu, asphalt, baja dan jenis metal lainnya ditengarai dapat
menimbulkan efek pemanasan global yang signifikan dan menyebabkan
perubahan iklim di dunia. Ingat kan penggunaan kaca gelap/ kaca yag dapat
memantulkan cahaya matahari yang biasanya digunkan pada gedung-gedung
tinggi/bertingkat yang biasa disebut dengan kaca film ribben. Jelas-jelas itu
sangat merugikan karena menghantarkan cahaya matahari kembali ke atmosfer
bumi dan terjadilah penumpukan sehingga suhu bumi semakin panas. Empat
aspek utama yang perlu dipertimbangkan dalam membangun green building
yaitu:

- Material
Material yang digunakan untuk membangun haruslah diperoleh dari
alam, merupakan sumber energi terbarukan yang dikelola secara berkelanjutan,
atau bahan bangunan yang didapat secara lokal untuk mengurangi biaya
transportasi. Daya tahan material bangunan yang layak sebaiknya tetap teruji,
namun tetap mengandung unsur bahan daur ulang, mengurangi produksi
sampah, dan dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

- Energi
Penerapan panel surya diyakini dapat mengurangi biaya listrik bangunan.
Selain itu, bangunan juga selayaknya dilengkapi jendela untuk menghemat
penggunaan energi (terutama untuk lampu serta AC). Untuk siang hari, jendela
sebaiknya dibuka untuk mengurangi pemakaian listrik. Jendela tentunya juga
dapat meningkatkan kesehatan dan produktivitas penghuninya. Green building
juga harus menggunakan lampu hemat energi, peralatan listrik hemat energi lain,
serta teknologi energi terbarukan seperti turbin angin dan panel surya.

- Air
Penggunaan air dapat dihemat dengan menginstal sistem tangkapan air
hujan. Cara ini akan mendaur ulang air yang misalnya dapat digunakan untuk
menyiram tanaman atau menyiram toilet. Gunakan pula peralatan hemat air,
seperti pancuran air beraliran rendah, tidak menggunakan bathtub di kamar
mandi, menggunakan toilet flush hemat air atau toilet kompos tanpa air, dan
memasang sistim pemanas air tanpa listrik.

- Kesehatan
Gunakan bahan-bahan bagunan dan furnitur yang tidak beracun serta
produk dapat meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, untuk mengurangi
risiko asma, alergi, dan penyakit lainnya. Bahan-bahan yang dimaksud adalah
bahan bebas emisi, rendah atau non-VOC, dan tahan air untuk mencegah
datangnya kuman dan mikroba lainnya. Kualitas udara dalam ruangan juga dapat
ditingkatkan melalui sistim ventilasi dan alat-alat pengatur kelembaban udara.

III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas maka diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Arsitektur yang sempurna adalah design arsitektur yang ramah bagi lingkungan
sekitar
2. Ada beberapa kriteria arsitektur yang sempurna yaitu : form follow function,
function follow form, peduli lingkunga, peduli jangka panjang, hemat energi, dan
green building.

DAFTAR PUSTAKA

HTTP://DIGILIB.ITS.AC.ID/PUBLIC/ITS-MASTER-12525-CHAPTER1.PDF

HTTP://WWW.SCRIBD.COM/DOC/21749163/TEORI-ARSITEKTUR-FORM-FOLLOWS-
FUNCTION

HTTPS://ISMIY.WORDPRESS.COM/2010/10/20/BANGUNAN-ARSITEKTUR-RAMAH-
LINGKUNGAN-4/

HTTPS://FARHADTHLB.WORDPRESS.COM/2014/10/02/BANGUNAN-HEMAT-ENERGI/
HTTPS://ELSYARA15.WORDPRESS.COM/2014/02/04/MAKALAH-TENTANG-KONSEP-
PEMBANGUNAN-YANG-BERKELANJUTAN-GREEN-BUILDING/