Anda di halaman 1dari 7

PERAWATAN MASA NIFAS

Pengawasan kala IV yang merupakan jam pertama dari nifas diuraikan secara singkat meliputi :

 Pemeriksaan plasenta, agar tidak ada bagian-bagian plasenta yang tertinggal

 Pengawasan tingginya fundus uteri

 Pengawasan perdarahan dari vagina

 Pengawasan konsistensi rahim

 Pengawasan keadaan umum ibu

Jika plasenta ternyata tidak lengkap, cavum uteri harus dieksplorasi dan sisa plasenta dikeluarkan.

Jika kontraksi rahum kurang baik, dilakukan masase dan diberi 10 U oksitosin dan 0,2 mg

ergometrin intramuskuler. Jika perlu dilanutkan dengan pemberian 0,2 mg ergometrin intravena

dan infus oksitosin, yaitu pemberian infus glukosa 5% 500cc yang telah dicampur dengan 5-20 U

oksitosin.

Jika pasien masih berdarah juga sedangkan kontraksi Rahim baik harus dilakukan

pemeriksaan speculum, karena perdarahan dengan uterus yang keras biasanya disebabkan oleh

luka jalan lahir, terutama robekan serviks. Luka yang berdarah kemudian dijahit. Jika kontraksi

uterus baik masih perlu dilakukan pengawasan yang teliti sampai 1 jam pascasalin (kala IV), tetapi

jika kotraksi rahim kurang baik, mungkin harus diawas beberapa jam sampai kita yakin bahwa

bahaya perdarahan telah berlalu. Selama 2 jam pascasalin, tekanan darah dan nadi dicek tiap 15

menit, atau lebih sering jika ada indikasi. Temperature diperiksa tiap 4 jam dalam 8 jam pertama

dan tiap 8 jam setelahnya.

Setelah kala III selesai dan perineum dijahit, biasanya penderita diberikan T verband

dengan maksud supaya fundus uteri tidak naik, sehingga jika terdapat perdarahan, akan tampak

keluar dari vagina. Vulva biasanya ditutup dengan kain haid yang steril. Kain pada vulva
mengabsorpsi lochia, menghalangi ibu menyentuh alat kemaluan luarnya dan mencegah

kontaminasi tidak hanya dari luar ke dalam, tetapi juga dari dalam keluar, karena orang yang tidak

memakai kain akan mengotori tempat ia duduk dan tidur.

Setelah segalanya selesai, penting sekali ibu mendapatkan istirahat yang cukup karena

istirahat ini memulihkan kembali kekuatan fisik dan mentalnya, juga mempercepat penyembuhan.

Pada umumnya, pemakaian gurita tidak dianggap perlu dari sudut kedeokteran, tetapi karna

banyak penderita merasa lebih enak memakainya, jadi masih diperbolehkan. Walaupun sudah di

ruang nifas, perlu diawasi kemungkinan timbulnya perdarahan, yaitu dengan memeriksa kontraksi

rahim.

Gurita hanya diperlukan pada kondisi berikut :

 Penderita yang dinding perutnya sangat longgar

 Penderita yang tekanan intraabdominalnya sangat menurun setelah persalinan, misalnya

pada hidramnion atau kehamilan kembar.

 Penderita dengan penyakit jantung.

Dalam hal ini, pemakaian gurita bertujuan untuk mencegah syok, dan penggunaannya tidak perlu

lama, kira-kira seminggu sudah cukup.

His pengiring terutama dirasakan oleh multipara dan perlu diberi analgetika, seperti aspirin,

kodein, dan lain-lain supaya paisen dapat beristirahat dengan baik.

Ambulasi Dini

Yang dimaksud dengan ambulasi dini ialah sebagai berikut.

“Kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing penderita turun dari tempat tidurnya dan

membimbingnya selekas mungkin berjalan.”


Saat ini, menahan penderita telentang di tempat tidurnya selama 7-14 hari setelah melahirkan

dianggap tidak perlu lagi. Penderita sudah diperboleh kan bangun dari tempat tidur dalam 6 jam

pascasalin.

Keuntungan ambulasi dini ialah sebagai berikut.

 Penderita merasa lebih sehat dan lebih kuat dengan ambulasi dini.

 Fungsi faal usus dan kandung kencing lebih baik.

 Memungkinkan kita mengajar ibu memelihara anaknya, memandikan, mengganti pakaian,

memberi makanan, dan lain-lain selama ibu masih di rumah sakit.

 Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia (sosial ekonomi)

Menurut penelitian-penelitian yang seksama, ambulasi dini tidak mempunyai pengaruh yang

buruk, tidak menyebabkan perdarahan yang abnormal, tidak mempengaruhi penyembuhan kua

episiotomy atau luka di perut, tidak memperbesar kemungkinan prolapse atau retrofleksio.

Ambulasi dini tentu tidak dibenarkan pada penderita dengan penyulut, misalnya anemia,

penyakit janutng, penyakit paru, demam, dan lain-lain. Selain itu, penambahan kegiatan dengan

ambulasi dini harus berangsur-angsur, jadi bukan berarti membenarkan ibu mencuci masak, dan

lain-lain, segera setelah bangun.

Perawatan perineum

Ibu diajarkan cara membersihkan vulva dari anterior ke posterior (dari vulva menuju anus).

Kompres dingin dapat diaplikasikan ke perineum untuk membantu mengurangi edema dan

ketidaknyamanan dalam 24 jam pertama, jika terdapat laserasi perineum atau episiotomy. Rasa

tidak nyaman biasanya mengindikasikan masalah, seperti hematoma dalam hari pertama dan

infeksi setelah hari ke 3 atau 5. Setelah 24 jam melahirkan, penggunaan bak mandi hangat dapat
mengurangi rasa tidak nyaman. Luka insisi episiotomy normalnya akan sembuh dalam waktu 3

minggu.

Pada keadaan yang jarang terjadi, serviks dan sebagian badan uterus, dapat protursi ke

vulva setelah lahir. Gejala yang dirasakan dapat teraba massa pada saat introitus, kesulitan

berkemih, dan rasa tertekan. Hemorrhoid dapat terjadi setelah lahir, penggunaan anestesi topical,

aur hangat, dana gen pelembut feses dapat digunakan.

Diet

Diet harus sangat mendapat perhatian dalam nifas, karena makanan yang baik mempercepat

penyembuhan ibu, lagi pula makanan ibu sangat memengaruhi suasana air susu. Tidak ada batasan

bagi wanita yang lahir pervaginam. Dua jam setelah melahirkan normal, ibu diperbolehkan untuk

makan. Willobs merekomendasikan suplementasi zat besi peroral sampai 3 bulan setelah

melahirkan.

Suhu

Suhu harus diawasi, terutama dalam minggu pertama masa nifas karena kenaikan suhi adalah tanda

pertama infeksi.

Miksi

Tiap penderita diperintahkan untuk kencing 6 jam pascasalin, jika dalam 8 jam pascasalin belum

dapat kencing, atau sekali kencing belum melebih 100cc, dilakukan katerisasi. Akan tetapi jika

ternyata kandung kencing penuh, tidak perlu menunggu sampai 8 jam untuk katerisasi.

Jika penderita sesudahnya belum dapat kencing, dan banyaknya kencing belum

memuaskan, katerisasi dilakukan setiap 8 jam. Ketika kateter dilepas, latihan berkemih (voiding

trial) dapat dilakukan untuk membantu kemampuan berkemih. Jika ibu tidak bisa berkemih setelah

4 jam, maka ibu dikaterisasi lagi dan urin dihitung, jika lebih dari 200 mL, tandany bladder tidak
berfungsi normal, dan kateter dibiarkan selama 24 jam. Jika setelah dua kali percobaan masih

tedapat retensi dapat dipasang kateter selama seminggu. Jika urin dibawah 200 mL, kateter dapat

dilepas dan dimonitor berkala. Pemberian terapi antibiotik untuk uropatogen dapat diberikan

setelah kateter dilepas karna 40% wanita mengalami bacteriuria.

Sebab-sebab retensi urine pascasalin antara lain

 Tekanan intraabdomen berkurang

 Otot-otot perut masih lemah

 Edema uretra

 Dinding kandung kecing kurang sensitive

Defekasi

Jika penderita belum juga buang air besar hingga hari ketiga, diberi klisma air sabun atau gliserin.

Putting susu

Puting susu harus diperhatikan kebersihannya dan ragade (luka pecah) harus segera diobati karena

kerusakan putting susu merupakan pintu masuk kuman dan dapat menimbulkan mastitis. Air susu

menjadi kering akan membentuk kerak yang dapat merangsang kulit sehingga timbul eksim.

Sebaiknya putting susu dibersihkan dengan air yang telah dimasak tiap kali, sebelum, dan sesudah

menyusui bayi. Ragade diobati dengan salep penisilin, lanolin, dan lain-lain.

Datangnya haid kembali

Haid datang lebih cepat pada ibu yang tidak menyusui anaknya daripada yang menyusui. Pada ibu

yang tidak menyusui, biasanya haid datang 8 minggu stelah persalinan; pada ibu yang menyusui,

haid seringkali tidak datang selama ia menyusui anaknya, tetapi kebanyakan mengalami hadi lagi

pada bulan ke-4.


Amenore sewaktu laktasi disebabkan terhalangnya ovulasi, mungkinkarena hormone LTH.

Tidak adanya ovulasi dalam masa laktasi menimbulkan infertilitas. Oleh sebab itu, memang ada

benarnya jika ibu-ibu dinasihati untuk menyusi anaknya selama mungkin, biasanya sampai anak

berusia 2 tahun, agar tidak lekas hami lagi walaupun usaha ini tidak memberi jaminan mutlak.

Lamanya perawatan di rumah sakit

Lamanya perawatan di rumah sakit bagi ibu-ibu yang bersalin di Indonesia sering ditentukan oleh

keadaan, yaitu keadaan sosial ekonomi dan kekurangan tempat tidur. Pada umumnya, ibu-ibu yang

bersalin normal tidak lama tinggal di rumah sakti, kira-kira antara 3-5 hari.

Di luar negeri pun ada kecenderungan untuk lebih cepat memulangkan ibu-ibu yang

persalinannya normal, tidak lebih dari 48 jam. Pada kelahiran komplikasi atau sesar sampai 96

jam. Hal ini disebabkan adanya kemungkinan mendapatkan infeksi di rumah sakit, yang

mendorong kita untuk secepat mungkin memulangkan anak dan ibu yang sehat. Karena itu, ada

rumah sakit yang sudah mengijinkan ibu dan anaknya pulang pada hari ke-3.

Di Indonesia, pemulangan dengan cepat ini harus diimbangi dengan pengawasan ibu dan

anak di rumahnya. Agar hasil-hasil di rumah sakit keal, hendaknya hubungan yang agak lama

antara petugas kesehatan dan ibu dipergunakan untuk pendidikan kesehatan.

Imunisasi

Wanita yang belum melakukan imunisasi rubella atau varisela merupakan kandidat yang baik

sebelum dikeluarkan dari rumah sakit. Bagi yang belum mendapat vaksin tetanus/difteri atau

influenza harus diberikan.

Tindak Lanjut
Enam minggu setelah persalinan, ibu hendaknya memeriksakan diri kembali. Keadaan umum,

tekanan darah, air kencing keadaan dinding perut dan buah dada diperiksa, kemudian dilakukan

pemeriksaan dalam yang teliti. Kita ada kelainan segera diobati.

Keluarga berencana (Program Pascasalin)

Masa pascasalin merupakan saat yang paling baik untuk menawarkan kontrasepsi, karena pada

saat ini motivasi paling tinggi. Pil kombinasi dpat memengaruhi sekresi air susu. Biasanya

ditawarkan IUD, kontrasepsi suntik, susuk, atau sterilisasi.

Beri Nilai