Anda di halaman 1dari 10
ECONOMIC VALUE ADDED (EVA) SEBAGAL PENGUKUR KINERJA PERUSAHAAN : SEBUAH HARAPAN DAN KENYATAAN ‘Tjutjuk Mardi Santoso* ABSTRACT In United States, Beonomic vaive added (BVA) has been proven as prominent measurement of companies business performance. EVA is better than other traditional performance measurements, such as ROA (return on assets) and ROE (retun on equity) because of its two advantages. Besides, considers cost of equity in calculating the net income, EVA also uses some adjustments in calculating the certain expenses including research and development expenses, selling ex- penses, bed debt expenses, etc. However, researches of the relationship of business performance and stock returns in Indonesia concluded that the traditional measurement 1s better than EVA. In Jact, EVA has not yet been broad used in the decision making process. Even investors and securities analysts did not recommend EVA as their financial decision making of investment in stock exchange. In addition, managers of companies with good or positive EVA have revealed that they. explicitly did not use EVA 10 evaluate business performance. Accordingly, EVA has only been used for internal decision making, including in evaluating performance of division ‘managers, giving Bonuses, and so on. Keywords: Economic value added, performance measurement, stock return. Dua tahun terakhir ini (tahun 2006 den 2007) majalah Swa telah melakukan pemeringkatan perusahaan-perusahaan yang go public berdasar pada EVA yang diperoleh. Pemeringkatan tersebut dilakukan untuk melibat perusafiaan- perusahaan yang mempunyai kinerja Kevangan berdasar EVA yang dihasilkan. Penerapan EVA sebagei pengukur kinerja menjadi kian relevan Karena mencerminkan kemempuan perusahaan dalam menciptakan nilai_tambah seksligus mengeliminasi rekayasa keuangan. Lebih menarik lagi adalah bahwa EVA merupakan pengukuran kinerja yeng memuat total faktor kinerja karena ‘memasukkan semua unsur dalam laporan laba/rugi dan neraca perusahaan. Hal ini berbeda dengan pendekatan tradisional yang biasanya hanya menfokuskan peda salah satu ukuran pertumbuhan seperti pertumbuhan pendapatan dan rasio tingkat kembelian investasi (return on investment), Selanjutaya disingkat ROM). Kedua pengukuran ini (pertumbuhan pendapatan dan RO!) diangeap berisiko ‘2 permasalahan berfokus pada pertumbuhen yang besar saja tanpa memperhatikan tingkat kembalian yang lebih tinggi dari biaya modal, akaa menghancurkan nilaiperusahaan. Sebaliknta, jika hanya berfokus ‘Tajuk War Sentosa” Dosen Fakuliag rosa UNTTOVO ‘um Stu Masaonen - Vol2, No? Ofer 208 nifnggemukkan ROI saja, mangjemen cenderung menckan aset_ atau mengerem investasi Akibatnya manajemen akan enggan untuk melakukan invests! meskipan investai tersebut menguatungkan perusahaan dalam jangka panjang. EVA merupskan perpaduan antara kedua pendekatan tradisional tersebut, schingga pengukuran dengan model ini sliharapkan ebih mencerminkan nlai prusabaan yang sebenarnya. PPengokur kinesja EVA muncul sebagai aatisipasi kelemahan pengukur kineyja akuntansi ‘radisional yang hanya mendaserkan pada laba akuntansi (accounting income) éan tidak rmemasukkan biaya modal atas ekuitas. EVA telah banyak digunakan di berbagsi perusahasn di Amerika Serikat seperti Coca-Cola, AT & T, Quaker Oats, Bi Lilly, dan Tenneco, Survey terhadap beberspa perusshaan di Amerika Serikat yang dilakulcan oleh Manufacturer's Alliance juga mengungkapkan bahwa EVA merupakan pengukor kinerja yang membust perusahaan lebih memfokuskan peshatian pads penciptaan nila ‘perusahan (Utama, 1997) ‘Meskipun EVA mempanyai kelobiban dbandingkan dengon pengulur kerja tradicional, tidak semua kalangan mengakuinya, Dengan menggunakan rumus penghitungan EVA versi Stem Steward, hasil penelitian Dodd dan Chen (1996) menunjulkkan bahwa EVA. hanya mampu menunjukkan hubungan dengan stock return sebesar 20,2%, sedangkan ROA menunjuldan hubungan yeng lebih tinggi yaitu 24,5%. Hasil penelitian Dodd dan Chen tersebut menyebutkan bahwa ROA mempunyai hubungan yang lebih kuat Gibandingkan dengan EVA. Beberapa penclitian tentang hubungan pengukur kineja (EVA, ROA, ROL, PER (price earning rato), EPS (earning per share, dan Isin-lsin) dengan return saham yang dilakulsan di Indonesia juga menanjukkan bahwa EVA ‘mempunyai hubungan lebih Jemah dibandinglcan dengan pengukur kinerjatradisional Hal ini mungkin didukung oleh laporen keuangan yang dipublikasi di media cctak dan clektronik maupun yang terangkum dalam Indonesian Capital Market Directory belum ‘meneantumkan EVA sebagai informasi yang dapat digunakan oleh publik untuk menilai perusehaan. Media publikasi tersebut hanya _mencantumkan rasio-rasio keuangan tradisional seperti ROE, ROA, PER, Book value, dan lain-lain, ‘Artikel ini akan membabss tentang mengapa EVA merupakan pengukur kinesja perusafsan febih baik dibendingkan dengan pengukur kinerja akuntansi traisional seta ‘bagaimana kenyataan yang trjadi pada perusehean-perusahaan di Indonesia. ‘MENILAI PERUSAHAAN DI PASAR MODAL Investor memeriukan informasi keuangan suatu perusehisan untuk melakukan penilsian perasehaan, dan lebih laut untuke menentukan ssham perusabian mana yang akan deli, ‘mana yang akan dijual dan mana yang akan diperahankan. Kriteia yang pada wmumnya sigunakan dalam penilaian tesebut sdalah pendekatan anaisis fundamental. Pendckatan inj berlandaskan prinsip babwa sebab mendasar yang menimbulkan gerak barga saham adalgh antsipasi perubahan dalam penjualan atau iaba (Rousana, 1997). Hial-hal yang termasuk dalam proses analisis fundamental meliputianalisis ekonomi dan industri, penilaian perusshaan secara individu dengan model penilaian dividen dan model penilaian pendspatan, atau model pendekatan kekayaan, analisis laporan keuangan seperti analisis tend dan anslisis resi. Husnan (1996) mengatakan bahwa beberapa 4 wieh, eonomie Value Added ‘aktor yang dapat mempengarci hargasshars adalah: harpan investor tehadep tingkat eunungan divden untuk masa yang akan datang, tngkat pendapatan porsahaen, kondisi perekonomian, psikologis pembeli, kondis perasahaan dan laba perusabaan, dan Ininain, Koesno (1990), menyatakan bahwa kinera perusabaan dapat diukur dari ‘eberapafaktor, yaitu book value per share, EPS, voatilias sah, fakor inte, epet profit tngkat efsiensi,Zeverage, Kualias manajemen, tngkat ktvis/perdagangan, populaitas mere, stko uaa; dan fikor eter, seperti suku bunga deposito, ingkat infasi, pjok divides, dan Kekuatan pesting. Urian dalam paragrat ini menunjubkan ‘bahwa persian kinerja perusahaan dapat dikelompokkan menjadi dua ysitu penilaian kinesja keuangan dan non Keuangan,Puromo (1998) mengatakanbahe rasio Rewangan rmerupakan pengukr kinesja Keuangan yang lebih fundamental dalam menjcaskan teberapa kekustan dan kelemahan Keuangan perusaean, Rasio keuangan biasanye dapat digunakan untuk menjawab persmyaan-peranyaan seperti bagaimana likuiditas ‘perusaan, salah manajemen menghasikan aba yang memadei dari penggunaan asct- ‘set penuatwan, hngaimann pentcahaan mendanai asc-esetnys, dan apakah para ‘emegangsabain menerima penghaslan yang memadsi dar investasi yang telah mereka lnkukan, Rasio Keuangan yang dapat digunakan wnuk merenohi tjuan tesebut dapat berupa dota! debt to otal equly ratio (DER), ROE, EPS, PER, dividen per share (DPS) dan lsindsin, Rasionasio tesebut Basanya telah dicantumkan dalam laporan euangan yang dipubikaikan MENILAI PERUSAHAAN DENGAN PENDEKATAN TRADISIONAL Pendekatan tradisional yang dimaksud adalah penilaian atau penguluran kinerja ‘perusahaan dengan rasio-rasio tertentu yang tidak memasukkan fektor biaya modal (cost df equity). Pendckatan ini mendasarkan pada angka-angka yang tertera dalam laporan keuangan suatu perusahsan yang dipublikasikan (neraca dan laporan laba rugi). Angka~ angka trsebut kemudian dihubung-hubungkan,baik angks-angka yang tertera dalam satu Japoran Keuangan (neraca atau laporanlaba rugi saa) maupun antar dua laporan keuangan, (nerca dan laporan laba rugi) schingea membentuk swat rasio, Dalam literaur rmangjemen keuangan, rasio keuangan dikelompolkan menjadi rasio likuiditas (quick ratio, current ratio, éan lsit-ain); rasio aktivitas (Cata-ata mur piutang, perputaran persodiaan, perputaran aktive tetap, perputaran total ative, dan Iain-lain); rasio solvabilitas (total utang techadap toial aset, times interest earned, fixed charged coverage, dan lainlain};rasio proftabiltas (profit margin, ROA, ROE, dan lain-lain); dan rasio pasar (PER, dividend yield, dividend payout ratio, EPS, dan lain-lain) (Prastowo, 1995). ‘Chen dan Dodd (2001) mengatakan bahwa secara tradisional, lgporan keuangan lebih smenekankan pada laba akuntansi (accounting earning) meskipun disadari bah teori penilaian ekutas lebih mementingkan ture cash flow dalam meenentukan harga salam suatu perusahian. Argumen yang mendasari hal tersebut adalah informasi tentang earn ing (aba) merupakan indikator lebih baik bagi kemampuan perusahaan dalam ‘menghasilkan aliran kat sekarang dan masa datang dibandingkan dengan informasi tentang penerimaan dan pengeluaran kas, Bebecapa model penilaian ikembangkan oleh ‘komunitas investsi dengan memasukkan laba sebagai input utama, sebagai contoh PER 45