Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

HEPATOMEGALI

A. Pengertiank
Hepatomegali adalah penyakit yang diakibatkan oleh terjadinya pembesaran
ukuran organ hati yang melebihi ukuran normalnya (Bruner, 2002)
Hepatomegali Pembesaran Hati adalah pembesaran organ hati yang
disebabkan oleh berbagai jenis penyebab seperti infeksi virus hepatitis, demam
tifoid, amoeba, penimbunan lemak (fatty liver), penyakit keganasan seperti
leukemia, kanker hati (hepatoma) dan penyebaran dari keganasan (metastasis)
(Noer, 2002).
Hepatomegali merupakan nama lain dari pembesaran hati. Hal ini terjadi
ketika organ hati membengkak melebihi ukuran normal. Ini bukan penyakit
melainkan menjadi tanda dari berbagai macam penyakit yang akan timbul,
misalnya penyakit hati, gagal jantung kongestif, atau kanker sekalipun
(Carpenito, 2007 )

B. Etiologi
Penyebab hepatoma belum diketahui secara pasti, beberapa faktor yang
diduga penyebabnya adalah :
1. Infeksi / penyakit kronik akibat virus hepatitis sirosis.
2. Beberapa hepatotoksik terutama aflatoksin yang berasal dari makanan
yang tercemar aspergillus flavus dan obat-obatan.
3. Sirosis, hepatitis B serta C
4. Kontak dengan racun kimia misal vinil klorida, arsen
5. Merokok
6. Alkohol
7. Aflatoksin atau karsinogen dalam preparat herbal.
(Brunner & Suddarth, 2002)
C. Klasifikasi

Karsinoma hati primer dibedakan atas adl :

1. Karsinoma yg berasal dari :

a. Sel-sel hati disebut karsinoma hepatoseluler

b. Sel-saluran empedu disebut karsinoma kolangiaseluler

c. Campuran kedua sel tersebut, kolangiohepatoma

2. Karsinoma yg berasal dari jaringan kulit

a. Fibrosarkoma

b. Limfotoma maligna

c. Leiomiosarkoma

d. Hemangioma endotelioma maligna.

Secara makroskopis dibedakan atas :

a. Tipe mosif

Biasanya dilobus kanan, batas tegas dapat diikuti nodul kecil disekitar massa

tumor, bisa dgn / tiada sirosis.

b. Tipe nodular

Terdapat nodul-nodul tumor dgn ukuran bervariasi tersebar diseluruh hati.

c. Tipe Difus

Secara makroskopis sukar ditentukan daerah massa tumor.


D. Patofisiologi
Tumor ganas primer ini berasal dari sel parenkim / epitel saluran empedu &
mengalami sirosis hati khususnya jenis alkoholik & postnekrotik. Pedoman
dignostik yg paling penting adl terjadinya kerusakan yg tidak dapat dijelaskan
sebabnya & penderita sirosis hati yg diikuti pembesaran hati mendadak. Tumor
hati sering adl metastasis tumor ganas dari tempat lain. (Sylvia Price, 1996).
Kanker hati biasanya dgn riwayat infeksi hepatitis B & C / penyakit hati kronik
misalnya sirosis & terpajan ke karsinogen–karsinogen jenis cukup tinggi,
termasuk aflatoksin yg diketemukan pada kacang / jagung berjamur. Kanker
hati primer dapat berasal dari hepatosit (karsinoma hepatoseluler) / dari duktus
ampedu. Kanker hati sekunder timbul akibat metastasis kanker di bagian tubuh
lain misalnya usus & pankreas yg mengalirkan darahnya ke hati melalui vena
porta. Kanker hati primer & sekunder sering bermetastasis keluar hati terutama
jantung & paru. Oleh aliran darah dari hati mula-mula menyerang kedua organ
tersebut. (Corwin, 2001)
E. Pathway

(Corwin, 2001)
F. Manifestasi Klinis
Hati yang membesar biasanya tidak menyebabkan gejala. Tetapi jika
pembesarannya hebat, bisa menyebabkan rasa tidak nyaman di perut atau
perut terasa penuh. Jika pembesaran terjadi secara cepat, hati bisa terasa
nyeri bila diraba. Tanda dan gejala yang lain berupa:
1. Umumnya tanpa keluhan
2. Pembesaran perut
3. Nyeri perut pada epigastrium/perut kanan atas
4. Nyeri perut hebat, karena ruptur hepar
5. Ikterus
6. Sering disertai kista ginjal (Price, 2005)

G. Komplikasi
Orang yang hatinya rusak karena pembentukan jaringan parut (sirosis), bisa
menunjukkan sedikit gejala atau gambaran dari hepatomegali. Beberapa
diantaranya mungkin juga mengalami komplikasi, yaitu:
1. hipertensi portal dengan pembesaran limpa
2. asites (pengumpulan cairan dalam rongga perut)
3. gagal ginjal sebagai akibat dari gagal hati (sindroma hepatorenalis)
4. kebingungan (gejala utama dari ensefalopati hepatikum) atau
5. kanker hati (hepatoma) (Smelter, 2006)

H. Pemeriksaan Penunjang
Ukuran hati bisa diraba/dirasakan melalui dinding perut selama pemeriksaan
fisik. Jika hati teraba lembut, biasanya disebabkan oleh hepatitis akut, infiltrasi
lemak, sumbatan oleh darah atau penyumbatan awal dari saluran empedu. Hati
akan teraba keras dan bentuknya tidak teratur, jika penyebabnya adalah
sirosis. Benjolan yang nyata biasanya diduga suatu kanker. Pemeriksaan
lainnya yang bisa dilakukan untuk membantu menentukan penyebab
membesarnya hati adalah:
- Pemeriksaan radiologi
1. Pemeriksaan barium esofagus : Menunjukkan peningkatan tekanan portal.
2. Foto rongent abdomen : Pada penderita kanker hati akan terlihat perubahan
ukuran hati.
3. Arteriografi pembuluh darah seliaka : Untuk melihat hati dan pankreas.
4. Laparoskopi : Melihat perbedaan permukaan hati antara lobus kanan dengan
kiri sehingga jika ada kelainan akan terlihat jelas.
5. Biobsi hati : Menentukan perubahan anatomis pada jaringan hati
6. Ultrasonografi : Memperlihatkan ukuran – ukuran organ abdomen.

- Pemeriksaan Laboraturium

Uji Normal Makna klinis


Bilirubin serum Meningkat bila terjadi gangguan
0,1-0,3 mg/dl
terkonjugasi ekskresi bilirubin terkonjugasi.
Bilirubin serum
0,2-0,7 mg/dl Meningkat pada hemolitik.
tak terkonjugasi
Bilirubin serum Meningkat pada penyakit
0,3-1,0 mg/dl
total hepatoseluler.
Urobilinogen 1,0-3,5 Berkurang pada gangguan ekskresi
urine mg/24jam empedu, gangguan hati.
Enzim SGOT 5-35 unit/ml Meningkat pada kerusakan hati.
Enzim SGPT 5-35 unit/ml Meningkat pada kerusakan hati
Enzim LDH 200-450 unit/ml Meningkat pada kerusakan hati

I. Penatalaksanaan

1. Non Pembedahan
a. Terapi Radiasi
1. Suntikan antibodi intravena secara khusus menyerang antigen yg
berkaitan dgn adanya tumor.
2. Penempatan perkutan sumber berintensitas cukup tinggi untuk
terapi radiasi.
b. Kemoterapi
1. Kemoterapi sistemik & infus regional yg digunakan untuk
pemberian preparat antineoplastik.
2. Suatu pompa yg dapat ditanam, digunakan untuk pemberian
kemoterapi dgn konsentrasi cukup tinggi ke hepar melalui arteri
hepatika.
c. Drainase Bilier Perkutan
Digunakan untuk membupase duktus yg tersumbat melalui hepar.
2. Pembedahan
Lobektomi hepatik dapat dilakukan jika tumor hepatik primer adl setempat /
jika tempat primer dapat dieksisi secara keseluruhan & metastasis dapat
dibatasi. Dgn kemampuan pada kapasitas regenerasi sel hepar, 90 % hepar
telah dapat diangkat dgn berhasil. Adanya sirosis menyebabkan
keterbatasan kemampuan dari hepar untuk regenerasi. (Boghman, 2000).

J. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Tahap pengkajian
merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai
dengan individu. Dalam hal ini yang perlu dikaji pada pasien berupa:

a. Biodata yang terdiri dari identitas pasien dan penanggung jawab.


b. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat kesehatan sekarang meliputi beberapa informasi seperti
tanggal dan cara (tiba-tiba, bertahap) dimana terjadi masalah,
manifestasi masalah, gejala yang timbul seperti nyeri, perubahan
biasa buang air besar, perubahan nutrisi, sejalan dengan lokasi dan
penyebaran (jika nyeri), kualitas, keparahan dan durasi. Pada kasus
penyakit hati, pengkajian keperawatan awitan gejala dan riwayat faktor
khususnya penggunaan alkohol dalam jangka waktu lama dan
jumlahnya, riwayat kontak dengan zat-zat toksik ditempat kerja atau
selama melakukan aktivitas, rekreasi pejanan dengan obat-obat
potensial bersifat hepatotoksik atau distensi abdomen,metaorismus,
perdarahan gastrointestinal, memar.
2. Riwayat kesehatan dahulu diperoleh dari pengkajian apakah pasien
pernah opname dirumah sakit dan saat usia berapa pasien menderita
penyakit tersebut. Apakah pasien juga riwayat kontak dengan zat-zat
toksik dan pejanan dengan obat-obat bersifathepatotoksik atau obat
anestesi.
3. Riwayat kesehatan keluarga dikaji status kesehatan dan usia dan
penyebab kematian keluarga dan juga ditanyakan untuk
mengidentifikasi penyakit yang mungkin diturunkan dan menular atau
berhubungan dengan lingkungan hidup.(Brunner & Suddarth, 2002)
c. Pengkajian Pola Fungsional
Dalam hal ini penulis menggunakan konsep fungsional menurut Virginia
Henderson (Harmer dan Henderson, 1955) mencakup seluruh kebutuhan
dasar seorang manusia, Handerson (1964), mendefinisikan keperawatan
sebagai membantu individu yang sakit dan sehat dalam melaksanakan
aktivitas yang memiliki konstribusi terhadap kesehatan dan
penyembuhannya dimana individu tersebut mampu mengerjakannya
tanpa bantuan. Bila ia memiliki kekuatan dan pengetahuan yang
dibutuhkan dan hal ini dilakukan dengan cara membantu mendapatkan
kembali kemandirian secepat mungkin.
d. Pengkajian Fisik
Pada pengkajian fisik didapatkan pada abdomen terjadidistensi abdomen,
serta meteorismus (kembung), pendarahangastrointestinal, memar. Pada
fokus pengkajian makanan dan cairan terjadi gejala anoreksia, mual atau
muntah sehingga terjadi penurunan berat badan yang ditandai berat
badan turun, perubahan kelembapan turgor kulit, oedema, berkurangnya
masa otot. Mata pada sklera terjadi ikterus. Hal yang perlu di kaji :
1. Keadaan umum
Bagaimana keadaan umum klien, apakah letih, lemah atau sakit perut
2. Tanda vital
Bagaimana suhu, nadi, pernapasan dan tekanan darah klien.
3. Kulit
Kaji warna kulit, intregritas kulit utuh/ tidak, turgor kulit kering/ tidak,
apakah kulit teraba panas, keadaan turgor kulit apakah normal/ tidak.
4. Kepala
Bagaimana kebersihan kepala, rambut serta bentuk kepala apakah
ada kelainan, benjolan dan lesi pada kepala.
5. Wajah
Bagaimana bentuk wajah, kulit wajah pucat atau tidak
6. Mata
Bagaimana bentuk mata, keadaan konjungtiva anemis/ tidak, scelra
imterik/tidak, keadaan pupil, palpebra dan apakah ada gangguan
dalam penglihatan.
7. Hidung
Bentuk hidung,keadaan bersih/ tidak,apakah ada sekret pada hidung
serta cairan yang keluar, ada sinus/ tidak da apakah ada gangguan
dalam penciuman.
8. Mulut
Bentuk mulut, membran mukosa kering/ lembab, lidah kotor/ tidak,
apakah ada kemerahan/ tidak pada lidah,apakah ada gangguan dalam
menelan, dan apakah ada kesulitan untuk berbicara
9. Leher
Apakah terjadi pembengkakan kelenjar tyroid, apakah di temukan
distensi vena jugularis
10. Thoraks
Bagaimana bentuk dada simetris/ tidak,kaji pola pernapasan apkah ada
wheezing dan apakah ada gangguan dalam pernapasan.
11. Abdomen
Bagaimana bentuk abdomen, turgor kulit kering/tidak, apakah terdapat
nyeri tekan pada abdomen, apakah perut terasa kembung,lakukan
pemeiksaan bising usus, apakah terdapat nyeri tekan, apakah terjadi
peningkatan bising usus/ tidak.
12. Genetalia
Bagaimana bentuk alat kelamin, distribusi rambut kelamin. Pada laki-
laki lihat keadaan penis, apakah ada kelainan/ tidak. Pada wanita lihat
keadaan labia minora, biasanya labia minora tertutup oleh labia mayora.
13. Ekstrimitas atas dan bawah
Lihat kesimetrisan antara kiri dan kanan, apakah ada kelemahan otot,
apakah terjadi trem0r, kelemahan fisik, nyeri otot serta kelainan bentuk
K. Diagnosa Keperawatan
1. Defisit volume cairan b/d intake yang tidak adekuat, mual, status
puasa/aspirasi nasogestrik.
2. Nyeri akut b/d proses penyakit, imflamasi
3. Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan masukan oral, mual, status puasa/aspirasi nasogestrik
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada perut kanan atas
dan punggung.
5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidaknyamanan.
L. Intervensi Keperawatan

N DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI Rasional


O
1 Devisit Fluid balance 1. Monitor status 1. Mengetahu tingkat
volume hidrasi hidrasi pasien
cairan b.d Setelah dilakukan (kelembapan 2. Ttv merupakan
intake yang tindakan keperawatan membran mukosa, suatu acuan untuk
tidak selama ... x ... jam turgor kulit, CRT ) melihat keadaan
adekuat. diharapkan defisit volume 2. Monitor vital sign pasien
cairan dapat teratasi 3. Brikan cairan oral 3. Untuk menambah
dengan kriteria: 4. Dorong keluarga input/ cairan tubuh
1. Mempertahankan untuk membantu pasien agar tidak
urine output sesuai pasien makan terjadinya hidrasi.
dengan usia dan 5. Kolaborasi dengan 4. Untuk memenuhi
BB . dokter jika tanda input –pasien
2. TTV dalam rentang cairan berlebih 5. Dengan
normal berkollaborasi
3. Tidak ada tanda- dengan dokter
tanda agar
dehidrasi,elastis mempermudah
turgor kulit baik, terapi apa yang di
lembab, tidak ada berikan.
rasa haus yang
berlebihan
4. Intake oral dan
intravena adekuat

2. Nyeri akut Pain Level 1 . Observasi TTV 1. TTV merupakan


b/d proses Setelah dilakukan 2 Ajarkan tentang teknik suatu acuan untuk
penyakit. perawatan .. x .. jam non farmakologi: napas megetahui keadaan
diharapkan nyeri pasien dalam, relaksasi, pasien
dapat berkurang dan distraksi, kompres 2. Untuk mengajarkan
menghilang dengan hangat/ dingin. apabila nyeri timbul
kriteria hasil: 3. Berikan informasi supaya pasien
1. Tanda-tanda tentang nyeri seperti tampak rileks
vitaldalam rentang penyebab nyeri,berapa 3. Agar pasien
normal. lama nyeri akan mengetahui nyeri
2. Mampu mengenali berkurang dan antisipasi yang di rasakan
nyeri (skala, ketidaknyamanan dari pada saat itu.
intensitas, prosedur. 4. Berkolaborasidenga
frekuensi dan 4. Kolaborasi dengan n dokter untuk
tanda nyeri) dokter dalam pemberian mempercepat
3. Pasien terapi lainnya. penyembuhan
mengatakan pasien.
nyerinya hilang
4. Nyeri berada pada
skala 0-3
3 Perubahan Status gizi :Asupan gizi 1 1. Untuk mengetahui
status Setelah dilakukan 1. . – Observasi intake keadaan dan
nutrisi tindakan keperawatan makanan dan kebutuhan nutrisi
kurang dari selama ... x ... jam minuman yang di pasien, sehingga
kebutuhan diharapkan perubahan konsumsi klien setiap dapat diberikan
tubuh status nutrisi kurang dari hari. tindakan dan
berhubunga kebutuhan tubuh dapat 1. Observasi tanda- pengaturan diet
n dengan teratasi dengan kriteria: tanda vital yang adekuat.
penurunan 1. Mencerna jumlah 2. Untuk mengetahui
masukan kalori/nutrien yang14. 2. - Kaji status nutrisi status nutrisi
oral, mual, tepat pasien pasien sehingga
status 2. Menunjukkan - Kaji penurunan nafsu dapat
puasa/aspir tingkat energi makan menentukan
asi biasanya Klien. intervensi yg di
nasogestrik 3. Berat badan stabil 1. Ukur tinggi dan berikan
atau bertambah berat badan pasien. 3. – Mulut ysng
bersih dapat
15. - Jaga kebersihan meningkatkan
mulut, anjurkan untuk nafsu makan.
selalu melakukan oral - Informasi yang di
hygiene. berikan dapat
1. Berikan informasi memotivasi
yang tepat terhadap pasien untuk
pasien tentang meningkatkan
kebutuhan nutrisi intake nutrisi.
yang tepat dan - Zat besi dapat
sesuai. membantu tubuh
2. Anjurkan pasien sebagai zat
untuk mengkonsumsi penambah darah
makanan yang tinggi sehingga
zat besi seperti mencegah
sayuran hijau. terjadinya anemia.
4. Untuk membantu
16. Kolaborasi dengan memenuhi kebutuhan
ahli gizi pemberian nutrisi yang di butuhkan
nutrisi yang sesuai pasien.
dengan kebutuhan
pasien.

Gangguan 1.Monitor kebutuhan 1. Untuk mengetahui


4 pola tidur Sleep : Extant ang tidur pasien setiap hari berapa lama
berhubunga patern 2. Kaji adanya faktor pasien tidur dalam
n dengan Setelah dilakukan penyebab gangguan setiap hrinya
rasa nyeri perawatan selama …x pola tidur yang lain 2. Untuk mengetahui
pada perut jam diharapkan gangguan seperti cemas, efek apakah gangguan
kanan atas pola tidur pasien akan obat-obatan dan pola tersebut
dan teratasi, dengan kriteria suasana ramai. merupakan efek
punggung hasil: 3. Anjurkan pasien dari obat-obatan
. 1. Pasien mudah tidur untuk menggunakan atau lingkungan
dalam waktu 30 – pengantar tidur dan sekitar.
40 menit teknik relaksasi 3. Untuk merilekskan
2. Pasien tenang dan 4. Jelaskan pikiran sebelum
wajah segar pentingnya tidur tidur.
3. Pasien yang adekuat 4. Agar tubuh tidak
mengungkapkan 5. Kolaborasi dengan mudah lelah
dapat beristirahat dokter pemberian 5. Untuk
dengan cukup farmakologi mempercepat
penyembuhan.
5 Gangguan Self care :ADLs 1. Monitoring vital sign 1. Untuk mengetahui
mobilitas Setelah dilakukan sebelum/sesudah keadaan umum
fisik tindakan keperawatan latihan pasien
berhubunga selama ... x ... jam 2. Kaji kemampuan 2. Untuk
n dengan diharapkan mobilitas fisik pasien dalam mempengaruhi pilihan
ketidaknya dapat teratasi dengan mobilisasi intervensi
manan. kriteria: 3. Ajarkan pasien 3. Mengajarkan
1. Klien meningkat bagaimana merubah pasien melakukan
dalam aktivitas fisik posisi dan berikan pergeraka seperti
2. Mengerti tujuan bantuan jika di miring kanan dan kiri
dari peningkatan perlukan 4. Untuk mengetahui
mobilitas 4. Latih pasien dalam seberapa mampu
3. Memverbalisasikan pemenuhan ADLs pasien untuk
perasaan dalam secara mandiri melakukan mobilitas
meningkatkan 5. Kosultasikan dengan sendiri
kekuatan dalam terapi fisik tentang 5. Untuk
kemampuan rencana ambulasi meningkatkan
berpindah sesuai dengan aktivitas secara
kebutuhan. bertahap
Daftar Pustaka

Boughman C.D. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Brunner & suddarth 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 3. Volume 2. Jakarta : EGC

Carpanito. 2007. BukuSaku Keperawatan.Edisi 8. Jakarta: EGC

Corwin, Elizabeth. 2001. Buku saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

Nanda. 2013. Diagnosi Keperawatan Nanda. Yogyakarta: Medika Salemba

Noer. 2002. Kapita Salemba Kedokteran. Jakarta: FKUI

Smelter, S.C., & Bare, B.G. (2006), Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Price, Sylvia. 2005. Patofisiologi. Konsep Klinis proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta:

EGC