Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

Hepatitis atau inflamasi pada liver umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau
kelanjutan dari penyakit alkoholik di liver. Ada beberapa tipe hepatitis yang sering kita
dengar seperti hepatitis A ,hepatitis B, hepatitis C, hepatitis etc autoimun. Namun, Angka
infeksi Hepatitis virus tipe B (HBV) adalah yang paling tinggi di negara-negara industri
seperti Indonesia. Beberapa tipe dari hepatitis ini bersifat self-limited sehingga dapat sembuh
tanpa terapi tetapi ada juga yang bisa bertahan lama atau bersifat kronik sehingga
menimbulkan sirosis hati atau penurunan fungsi hati. Hepatitis B merupakan salah satu dari
enam bentuk hepatitis yang dapat berkembang menjadi penyakit hati kronik, termasuk
hepatitis kronik persisten, hepatitis kronik aktif, sirosis dan kanker hati primer atau
hepatocellular carcinoma. Kanker hati primer merupakan salah satu dari 10
kanker yang paling sering terjadi di dunia saat ini.
Infeksi virus Hepatitis B saat ini mulai merupakan masalah kesehatan masyarakat
yang serius, karena selain manifestasinya bersifat akut beserta komplikasinya, dapat menjadi
sumber penularan bagi lingkungan terutama bagi pengidap HbsAg kronik. Setiap tahun
jumlah pasien yang terinfeksi HBV ini semakin bertambah, karena reservoir pengidap HBV
yang cukup besar yang menjadi wadah penularan untuk sekitarnya.Saat ini di seluruh dunia
diperkirakan lebih 300 juta orang pengidap HBV persisten, hampir 74 % (lebih dari 220 juta)
pengidap bermukim dinegara-negara Asia. Di Indonesia prevalensi pengidap HBV
memperlihatkan adanya variasi yang besar yaitu dari sedang sampai tinggi.
Pada umumnya virus hepatitis B ini terjadi melalui kontak dengan darah atau cairan
tubuh dari pengidap infeksi virus tersebut. Manifestasi klinis dari virus hepatitis B ini
umumnya terjadi dua sampai tiga bulan setelah kontak tersebut dengan tanda dan gejala
seperti flu-like symptoms (demam, sakit kepala, mialgia, batuk, mual dan muntah), bagian
tubuh menjadi warna kuning, penurunan berat badan, nyeri perut terutama di kuadran kanan
atas,dan warna urin menjadi lebih gelap.
Tujuan terapi hingga saat ini ialah meningkatkan kualitas hidup dan survival. Terapi
pada virus hepatitis B ini ada yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang atau seumur
hidup. Tujuan terapi jangka pendek ialah menekan replikasi virus, menurunkan jumlah DNA
HBV sedangkan,untuk terapi jangka panjang ialah untuk mencegah progresi penyakit ini
menjadi sirosis atau kanker hati.
Selain itu, untuk pencegahan perlu dilakukan immunisasi terhadap Hepatitis B
terutama untuk kelompok dengan risiko infeksi yang tinggi sesuai dengan pola
epidemiologik, faktor sosio-ekonomi, budaya dan kebiasaan seksual serta lingkungan.

BAB II
DASAR TEORI

A. Definisi
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B
(HBV), suatu anggota famili hepadnavirus tipe I yang dapat menyebabkan peradangan
hati akut atau kronis yang dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Virus
hepatitis B adalah virus nonsitopatik, yang berarti virus tersebut tidak menyebabkan
kerusakan langsung pada sel hepar. Sebaliknya, adalah reaksi yang bersifat menyerang
sistem kekebalan tubuh yang biasanya menyebabkan radang dan kerusakan pada hepar.1

B. Klasifikasi
Hepatitis B dibedakan menjadi 2 macam berdasarkan onset yaitu: 1
1. Hepatitis B akut adalah hepatitis yang terjadi dalam jangka waktu <6 bulan. Pada
dewasa sehat dengan gejala klinis, angka penyembuhan dapat mencapai 99%. Namun
terapi antivirus tidak mempercepat kesembuhan, oleh sebab itu terapi antivirus pada
hepatitis akut tidak diperlukan.
2. Hepatitis B kronis adalah adanya persistensi HBV >6 bulan. Sebagian besar kasus
Hepatitis B kronis pada dewasa terjadi pada pasien yang tidak memiliki gejala klinis
sebelumnya. Tingkat kerusakan hati dari pasien Hepatitis B kronis ini bervariasi,
mulai dari tidak adanya kerusakan pada karier HBV, ringan, sedang, dan berat. Pada
penderita Hepatitis B kronis, gambaran histologi hati sangat penting secara
prognostik. 1

C. Epidemiologi
Infeksi VHB ini endemis di daerah Timur Jauh, sebagian besar kepulauan Pasifik,
banyak negara di Afrika, sebagian Timur Tengah, dan di lembah Amazon. Center for
Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan bahwa sejumlah 200.000 hingga
300.000 orang (terutama dewasa muda) terinfeksi oleh VHB setiap tahunnya. Hanya
25% dari mereka yang mengalami ikterus, 10.000 kasus memerlukan perawatan di
rumah sakit, dan sekitar 1-2% meninggal karena penyakit fulminant.2 Sepertiga
penduduk dunia diperkirakan telah terinfeksi oleh VHB dan sekitar 400 juta orang
merupakan pengidap kronik Hepatitis B.3
Pravelensi hepatitis di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 1,2% meningkat dua
kali lipat dibandingkan Riskesdas tahun 2007 yang sebesar 0,6%. Pravelensi meningkat
pada penduduk berusia diatas 15 tahun. Jenis hepatitis yang banyak menginveksi
penduduk Indonesia adalah hepatitis B (21,8%), hepatitis A (19,3%) dan hepatitis C
(2,5%).5