Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS FRAKTUR COLLES

DISUSUN : KELOMPOK 1

MARIA ULFHA IBRAHIM (C13114004)

EFI HUDRIAH (C13114023)

SAVIRA N SETYARINI (C13114305)

NURUL FADHILAH (C13114

HURUL KHAERUNNISA (C13114313)

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2017
BAB I

ANATOMI DAN FISIOLOGI

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI TULANG

Tulang tidak hanya kerangka penguat tubuh, tetapi juga merupakan


bagian susunan sendi, sebahai pelindung tubuh, serta tempat melekatnya
origo dan insersio sari otot-otot yang menggerakan kerangka tubuh. Tulang
dan kerangka merupakan bagian yang sangat penting di dalam bidang
ortopedi. Banyak sekali penyakit berkaitan dengan kelainan bentuk atau
salah gerak yang disebabkan adanya kelainan-kelainan tulang.
Tulang terbentuk dari jaringan-jaringan mesenkim. Pada
pembentukan tulang zat-zat anorganik seperti kalsium,fosfor,dan CO2
sangat diperlukan, selain zat-zat protein dan lemak. Sementara itu
pertumbuhan tulang dipengaruhi oleh Vitamin D dan hormon-hormon
seperti hormon tiroid dan pituitari.
Komponen utama dari jaringan tulang adalah mineral dan jaringan
organik (kolagen serta proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk suatu
kristal garam (hidroksiapatit), kemudian tertimbun pada matriks kolagen
dan proteoglikan.
B. ANATOMI ELBOW

Gambar 1.1. Tampak posterior dan Gambar 1.2 Tulang elbow bagian kanan
anterior lengan bawah

1. Anatomi Tulang
a. Distal Humerus
Bagian dari anterior distal humerus terdapat dua permukaan
persendian: trochlea, yang berbentuk katrol, agak berbentuk seperti
jam pasir disisinya, dan capitellum, yang membentuk sebagian besar
dari bola di bagian mediolateral dan setengah dari bola di bagian
anteroposterior. Lateral epicondilus meluas secara lateral diatas
capitellum untuk tempat melekatnya otot ekstensor. Epicondulus
medial adalah tempat melekatnya kelompok otot fleksor dan pronator.
Fossa coronoideus terletak tepat diatas trochlea, dan fossa radial
berada tepat diatas capitellum
b. Proksimal Radius
Ujung proksimal radius terdiri dari kepala, leher dan
tuberositas bicipital. ( Gambar 1.2). Kepala radius konkaf pada bagian
permukaan superior dari persendian dengan konveks pada capitellum.
c. Proksimal Ulna
Proksimal ulna terdiri dari olecranon dan prosesus coronoid,
yang dimana diantaranya adalah trochlear notch. Posisi inferior dan
medial pada trochlear notch adalah radial notch, yang dimana
menghadap ke arah lateral untuk persendian dengan kepala radius
(Gambar 1.2)
2. Anatomi Sendi

Gambar 1.4. Hubungan proksimal radius dan ulna


pada (A) pronasi dan (B) supinasi, tampak dari
Gambar 1.3. Tampak posterior elbow atas

Gambar 1.5. Radius dan ulna (tampak depan),


memperlihatkan struktur yang memperkuat sendi radioulnar
superior dan inferior.
Elbow adalah gabungan dari sendi sinovial yang terdiri dari
tiga sendi yaitu humeroulnar, humeroradial, dan superior radioulnar.
Ketiga sendi ini membentuk persendian cubiti. Kapsul dan rongga sendi
terus menerus untuk semua tiga sendi. MacConaill dan Basmajian telah
mengklasifikasikan cubital kompleks sebagai sendi paracondylar dalam
satu tulang (humerus) berartikulasi dengan dua lainnya (radius dan ulna)
dengan cara dua facet. Hal ini memungkinkan salah satu dari dua tulang
lainnya untuk mengalami gerakan independen lainnya. Pertengahan dari
sendi radioulnar juga harus dipertimbangkan ketika memeriksa elbow.

a. Sendi Humeroulnar
Sendi humeroulnar adalah sendi engsel uniaksial yang
dibentuk antara trochlear nocht pada ulna dan trochlear humerus.
Trochlear notch ulnar, seperti trochlear pada humerus dengan yang
mengartikulasikannya, adalah permukaan sellar. Ini konkaf di
bidang sagittal dan konveks di bidang frontal. Trochlea ini
mencakup aspek anterior, inferior, dan posterior pada medial
condylus humerus. Ini adalah permukaan artikular sellar yang
konkaf di bidang frontal dan konveks di bidang sagital. Trochlea
humerus asimetris. Axis dari gerakannya superolateral ke
inferomedial.
b. Sendi Humeroradial
Pada sendi humeroradial, bentuk konveks capitellum berartikulasi
dengan yang berbentuk cangkir, bagian konkaf proksimal pada
kepala radius (Gambar. 1.4B). Ini adalah triaksial ball-and-socket
sendi.
c. Sendi Proksimal Radioulnar
Permukaan persendian pada bagian superior sendi radioulnar
termasuk bidang silinder pada kepala radial dan cincin osseofibrous
terdiri dari radial notch dari ulna dan ligamen annular (lihat Gambar.
1.2). Kepala berbentuk bola dari radius memungkinkan rotasi yang
dibutuhkan untuk lengan untuk pronasi dan supinasi.
d. Sendi Middle Radioulnar
Syndesmosis radioulnar middle meliputi membran interoseus dan
cord oblique antara batang radius dan ulna (lihat Gambar 1.5). Cord
oblique adalah cord datar yang terbentuk dalam fasia yang melapisi
kepala mendalam pada supinator dan ke tuberositas radius.
Membran interoseus (lembar kolagen yang luas) berjalan ke distal
dan medial dari radius dan ulna.
e. Sendi Inferior radioulnar
Sendi radioulnar inferior juga merupakan komponen penting dalam
rotasi lengan. Ini jangkar distal radius dan ulna, dan bersama dengan
sendi radioulnar superior yang menyediakan poros untuk gerakan
radius (Gambar 1.5).

3. Anatomi Ligamen

Gambar 1.6. Tampak anterior dan posterior Gambar 1.7. Ligamen pada elbow
ligamen pada lengan bawah tampak (A) Lateral dan (B) Medial
Gambar 1.8. Tampak anterior
Gambar 1.9. Ligamen Kuadrat
pada ligamen elbow

Kapsul pada elbow diperkuat oleh ligamen colateral ulnar (medial)


dan radial (lateral). Setiap ligamen collateral terdiri dari serat anterior,
intermediate, dan posterior. Ligamentum annular berjalan dari margin
anterior pada radial notch pada ulna disekitar kepala radius ke margin
posterior pada radial notch. Hal ini dilapisi dengan tulang rawan artikular
sehingga dengan pronasi dan supinasi kepala radial berartikulasi dengan
capitellum humerus dan radial notch pada ulna, seperti dengan ligamen
annular (lihat Gambar. 1.7 sampai 1.9).
Kapsul sendi elbow membungkus sendi humeroulnar, sendi
radiohumeral, dan sendi radioulnar proksimal (lihat Gambar. 1.7 dan 1.8).
Bagian anterior dan posterior dari kapsul luas dan tipis.
4. Anatomi Bursa

Gambar 1.10. tampak lateral dari origo


tendon otot lengan bawah

Olecranon bursa terletak diatas olecranon posterior, yang


terletak di antara olecranon superior dan kulit.
a. Origo tendon
Otot fleksor – pronator pada wrist mempunyai origo tendon
pada aponeurosis umum yang berorigo di epikondilus medialis
humerus . kelompok ekstensor wrist mempunyai origo aponeurosis
umum pada epikondilus lateral. Dari superior ke inferior pada
humerus , brakioradialis berinsersio paling awal, diikuti oleh
ekstensor karpi radialis longus, ekstensor karpi radialis brevis, dan
otot-otot ekstensor yang lainnya (Gambar 1.10 ). Ekstensor karpi
radialis brevis adalah otot paling atas untuk komponen ekstensor
tendon tersebut. Ekstensor karpi radialis longus dan brakioradialis
yang tidak terdapat pada komponen tendon tersebut melainkan
mengikat diatas epikondilus.
Didalam tendon ekstensor brevis, dan distal insersio pada
epikondilus lateral, adalah sebuah ruang kecil yang biasanya
longgar, jaringan ikat areolar. Ini disebut ruang subaponeurosis dan
berbatasan di sisi ulnaris oleh tendon ekstensor digitorum dan di
distal oleh komponen brevis sampai ke ligamen annular (lihat
Gambar. 1.10).
Pada pronasi lengan penuh, dengan elbow di ekstensikan,
orientasi ekstensor karpi radialis brevis adalah sedemikian rupa
sehingga secara proksimal teregang diatas tonjolan kepala radus
(lihat Gambar. 1.4). Efek titik tumpu dari kepala radial ini
menambah kekuatan tegangan normal yang ditransmisikan ke origo
otot ini ketika ditegangkan selama gabungan fleksi wrist, lengan
bawah pronasi, dan ekstensi elbow.
5. Nervus dan Arteri
a. Pasokan Darah
Pasokan darah ke sendi elbow biasanya berlimpah. Bagian
medial siku dipasok dari arteri superior dan inferior ulnaris colateral
dan dua arteri ulnaris kearah sebaliknya. Bagian lateral dipasok oleh
cabang colateral radial dan middle pada arteri profunda dan radial
dan arteri interosseus kearah sebaliknya.
b. Inervasi
Cabang sendi dipercaya berasal dari semua saraf utama
melewati persendian ini (yaitu, radial, median, ulnar) termasuk
kontribusi dari saraf muskuloskeletal.
C. ANATOMI WRIST

Gambar 1.11. Gambaran skematik pada persendian kompleks wrist

Persendian pergelangan tangan kompleks terdiri dari persendian


ganda dari delapan tulang carpal dengan distal radius, struktur dalam ruang
ulnocarpal, metakarpal, dan satu sama lainnya (Gambar 1.11). Struktur
jaringan lunak disekeliling tulang karpal termasuk tendon yang melintang
pada carpus atau melengket pada permukaannya dan struktur ligamen yang
menyambung tulang karpal satu sama lainnya dan elemen tulang pada
tangan dan lengan bawah.
Delapan tulang karpal terbagi atas deretan proksimal dan distal.
Tulang pada deretan distal dari radius ke ulna adalah trapezium, trapezoid,
kapitatum, dan hamatum. Deretan distal membentuk satuan transversal
immobile relatif yang mengartikulasikan dengan metakarpal untuk
membentuk sendi carpometakarpal. Keempat tulang pada deratan distal
secara kuat berlawanan satu sama lain dan saling mempertahankan dengan
adanya ligamen interosseous yang kuat.
Deretan proksimal yang lebih mobile terdiri dari schapoid, lunatum,
dan triquertum. Deretan ini berartikulasi dengan distal radius, 46%; fossa
lunatum dari radius, 43% struktur jaringan lunak ulnaris, 11%) (Simon et
al., 1994). Schapoid menjangkau dua deret secara anatomi dan fungsinya
dan semata-mata berartikulasi dengan radius. Lunatum berartikulasi pada
satu bagian struktur jaringan lunak ulnaris. Kedelapan tulang karpal,
pisiformis, adalah tulang sesamoid yang secara mekanikal memberikan
gerakan yang kuat pada pergelangan tangan, fleksor carpi ulnaris, dan
membentuk sendi kecilnya sendiri dengan triquertum. Diantara deretan
proksimal dan distal dari tulang karpal adalah sendi midcarpal, dan diantara
pervatasan tulang dari deretan ini adalah sendi intercarpal. (Gambar 1.11)
BAB II

BIOMEKANIK

A. BIOMEKANIK ELBOW
Fleksi dan ekstensi elbow mengambil tempat pada persendian
humeroulnar dan humeroradial. ROM normal pada fleksi-ekstendi dari 0
sampai 146o dengan jarak fungsional 30 sampai 130o. ROM normal pada
lengan bawah pronasi-supinasi sekitar 71o pada pronasi dan 81o pada supinasi
(Morrey, 1981). Kebanyakan aktifitas dikerjakan dengan jarak fungsional 50o
pronasi ke 50o supinasi. (An & Morrey, 1991)

Gambar 3.2. fleksi elbow

Gambar 3.1. Tulang pada elbow, menunjukkan


hubungan dari (A) distal humerus dan
proksimal ulna dan (B) proksimal radius
(tampak samping)
1. Distal Humerus
Jika kita melihat secara lateral atau medial, bagian distal humerus
memiliki derajat anterior sehingga sumbu longitudinal trochlea mengarah
ke anterior, 45o ke poros humerus. Seperti tersirat di atas, belahan
capitellum menghadap anterior, dengan permukaan artikular memiliki
sudut sekitar 180o (gambar 3.1)
2. Proksimal Ulna
Pembentukan sudut distal humerus dan trochlear notch pada
proksimal ulna mengikuti sekitar 160o untuk fleksi elbow dan 180o untuk
ekstensi. Pembentukan sudut sangat penting guna memberi ruang untuk
kelompok otot anterior pada lengan bawah dan tangan, yang dimana
kurang lebih pada fleksi elbow (Gambar 1-5). Setiap malalignment tulang
yang mengganggu sudut kritis ini (misalnya, setelah fraktur
supracondylar) akan membuat gerakan yang normal tidak mungkin.
3. Humeroulnar Joint
Internal rotasi ulna 5° pada awal fleksi siku dan eksternal rotasi 5°
pada kisaran akhir fleksi.
4. Proksimal Radioulnar Joint
Gerakan radius pada ulna mencapai sekitar 85° untuk pronasi dan
supinasi.
B. BIOMEKANIK WRIST

Gambar 3.3. Garis arah pergelangan tangan normal

Kegandaan dari persendian pergelangan tangan dan


kekompleksitasnya dari gerakan karpal membuatnya menjadi susah untuk
menghitung pusat gerak untuk axis primer dari fleksi-ekstensi atau radial-ulnar
deviasi. Sebuah studi memberi tempat untuk pusat rotasi pada kepala
capitatum, dengan axis fleksi-ekstensi yang diorientasikan dari prosessus radial
ke ulnar styloid dan axis radial ke ulnar deviasi diorientasikan secara
orthogonal pada axis fleksi-ekstensi. Model kinematika niscaya hanya
penyederhanaan gerakan karpal kompleks selama pergerakan pergelangan
tangan, tetapi secara adekuat mendeskripsikan secara fungsional gerakan
pergelangan tangan (Brumbaugh et al., 1982, Landsmeer, 1961; MacConaill,
1941; Volz et al., 1980; von Bonin, 1929; Wright, 1935/1936; Youm&Yoon,
1979).

Permukaan persendian distal agak berhadapan dengan dengan radius


secara palmar (rata-rata 10 °) dan sedikit pada sisi ulnar (rata-rata 20 °)
BAB III

PATOLOGI

A. DEFINISI
1. Pengertian Fraktur
Fraktur adalah rusaknya kontinuitas dari struktur tulang, tulang
rawan dan lempeng pertumbuhan yang disebabkan oleh trauma dan non
trauma. Tidak hanya keretakan atau terpisahnya korteks, kejadian fraktur
lebih sering mengakibatkan kerusakan yang komplit dan fragmen tulang
terpisah. Tulang relatif rapuh, namun memiliki kekuatan dan kelenturan
untuk menahan tekanan. Fraktur dapat diakibatkan oleh cedera, stres yang
berulang, kelemahan tulang yang abnormal atau disebut juga fraktur patologis
(Solomon et al., 2010).

2. Proses Penyembuhan Fraktur

Penyembuhan dengan kalus


Proses ini adalah bentuk alamiah dari penyembuhan fraktur
pada tulang tubular tanpa fiksasi, proses ini terdiri dari lima fase, yaitu
(Solomon et al., 2010) :
a. Destruksi jaringan dan pembentukan hematom
Pembuluh darah robek dan terjadi pembentukan hematom disekitar
fraktur. Tulang pada permukaan yang patah, kehilangan asupan
darah dan mati (gambar 2a).
b. Inflamasi dan proliferasi selular
Dalam 8 jam, fraktur mengalami reaksi inflamasi akut dengan
migrasi sel inflamatorik dan inisiasi proliferasi dan diferensiasi dari
stem sel mesenkimal dari periosteum menembus kanal medular dan
sekitar otot. Sejumlah besar mediator inflamasi seperti sitokin dan
beberapa faktor pertumbuhan dilibatkan. Selanjutnya bekuan darah
hematom diabsorbsi perlahan dan membentuk kapiler baru pada area
tersebut.
c. Pembentukan kalus
Diferensiasi stem sel menyediakan sejumlah sel kondrogenik dan
osteogenik. Pada kondisi yang tepat mereka akan mulai membentuk
tulang dan pada beberapa kasus, juga membentuk kartilago
(gambar 2b). Di sejumlah sel ini terdapat osteoklas yang siap
membersihkan tulang yang mati. Massa seluler yang tebal bersama
pulau‒pulau tulang imatur dan kartilago, membentuk kalus atau
rangka pada permukaan periosteum dan endosteum. Saat
anyaman tulang yang imatur termineralisasi menjadi lebih keras
(gambar 2c), pergerakan pada lokasi fraktur menurunkan
progresivitas dan fraktur menyatu dalam 4 minggu setelah cidera.
d. Konsolidasi
Tulang anyaman terbentuk menjadi tulang lamelar dengan
aktivitas osteoklas dan osteoblas yang kontinyu. Osteoklas pada
proses ini melakukan pelubangan melalui debris pada garis fraktur,
dan menutup kembali jaringan tersebut. Osteoblas mengisi ruang
yang tersisa antara fragmen dan tulang baru. Proses ini berjalan
lambat sebelum tulang cukup kuat untuk menopang beban dengan
normal.
e. Remodeling
Fraktur telah dijembatani dengan lapisan tulang yang solid. Pada
beberapa bulan atau bahkan tahun, dilakukan pembentukkan ulang
atau reshaped dengan proses yang kontinu dari resorpsi dan
pembentukan tulang (gambar 2d).
3. Pengertian Fraktur Colles
Fraktur Colles adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius bagian
distal yang berjarak 1,5 inchi dari permukaan sendi radiocarpal dengan
deformitas ke posterior, yang biasanya terjadi pada umur di atas 45-50 tahun
dengan tulangnya sudah osteoporosis .Kalau ditemukan pada usia muda
disebut fraktur tipe Colles (Appley, 1995; Jupiter, 1991; Salter, 1984).
Fraktur colles adalah terputusnya tulang secara melintang pada
radius tepat di atas pergelangan tangan,dengan pergeseran dorsal fragmen
distal (Zairin Noor Helmi, 2012).

B. EPIDEMOLOGI
Fraktur jenis ini adalah fraktur yang paling sering di temukan pada
manula, insidensinya yang tinggi berhubungan dengan permulaan oeteoporosis
pacsa menopouse. Oleh karena itu pasien biasanya wanita yang memliki
riwayat jatuh pada tangan yang terentang.
Fraktur colles merupakan kira-kira 8-15% dari seluruh fraktur dan 60% dari
fraktur radius. Prevalensi kejadian fraktur colles ,umur diatas 50 tahun wanita
lebih banyak daripada pria (5:1), sedang umur sebelum 50 tahun wanita sama
dengan pria. Sisi kanan lebih sering terkena dari sisi kiri.Angka kejadian rata-
rata 0,98% pertahun. Usia terbanyak dikenai adalah antara umur 50 – 59 tahun.

C. ETIOLOGI
Fraktur colles bisa terjadi karena faktor usia lanjut, osteoporosis,
pascamenopause, cedera atau trauma olahraga, kecelakaan atau terjatuh. Bila
seseorang jatuh dengan tangan menjulur, tangan akan tiba-tiba menjadi kaku
dan kemudian menyebabkan tangan memutar dan menekan lengan bawah.
Fraktur Colles dapat timbul setelah penderita terjatuh dengan tangan
posisi terkadang dan meyangga badan (Appley, 1995 ; Salter, 1981). Pasien
terjatuh dalam keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan
berputar kekedalam (endorotasi).Tangan terbuka yang terfiksasi di tanah
berputar keluar (eksorotasi/supinasi).Pada saat terjatuh sebagian energi yang
timbul diserap oleh jaringanlunak dan persendian tangan, kemudian diteruskan
ke distal radius, hingga dapat menimbulkan patah tulang pada daerah yang
lemah yaitu antara batas tulang kortikal dan tulang spongiosa

D. PATOMEKANISME
a. Klasifikasi
Menurut Frykmann tahun 1967, Klasifikasi ini berdasarkan
biomekanik serta uji klinik, juga memisahkan antara intra dan ekstra
artikular serta ada tidaknya fraktur pada ulna distal. Pada klasifikasi ini
nomor yang lebih besar menunjukkan fase penyembuhan yang lebih rumit
dan prognosa yang lebih buruk.

Gambar 4.2. Klasifikasi fraktur colles menurut Frykmann

i. Tipe1 :Fraktur distal radius dengan garis fraktur ekstra


articular.
ii. Tipe2 :Tipe 1 + Fraktur prosesus styloid radius.
iii. Tipe3 :Tipe 1 + Fraktur permukaan sendi radiocarpalia.
iv. Tipe4 :Tipe 3 + Fraktur prosesus styloid radius.
v. Tipe5 :Fraktur distal radius dengan garis melewati sendi
radio ulnar distal.
vi. Tipe6 :Tipe 5 + Fraktur prosesus styloid radius.
vii. Tipe7 :Tipe 5 + Fraktur permukaan sendi radiocarpalia.
viii. Tipe8 :Tipe 7 + Fraktur prosesus styloid radius.

b. Patofisiologi
Mekanisme trauma pada fraktur colles terjadi akibat benturan
mengenai sepanjang lengan bawah dengan posisi pergelangan tangan
bereksrtensi.Tulang mengalami fraktur pada sambungan kortikon selosa dan
fragmen distal remuk dalam ekstensi dan pergeseran dorsal. Kondisi fraktur
colles memungkinkan adanya gangguan sirkulasi darah pada jari, terdapat
pembengkakan dan nyeri tekan pada sendi-sendi jari, serta kekakuan pada
pergelangan tangan tampak dari terapi imobilisasi.

c. Prognosis
Fragmen pada fraktur colles yang tajam bisa mencederai atau
kompresi/trauma nervus ulnaris dan nervus medianus, kerusakan tendon,
edema post reposisi, redislokasi. Selain itu bisa menyebabkan komplikasi
seperti arthrodesis dan nyeri kronis, shoulder hand syndrome, defek
kosmetik (penonjolan styloideus radii, malunion/non union, stiff hand, atau
volksman ischemic contraktur)

E. GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis fraktur colles terlihat adanya suatu deformitas yang
khas berbentuk garpu. Gambaran ini terjadi karena adanya angulasi dan
pergeseran ke dorsal, deviasi radial, supinasi, dan impaksi kearah proksimal.
Adanya keluhan nyeri tekan (tendernes) dan adanya krepitasi. Penderita terlihat
tidak mampu melakukan pergerakan pada lengan bawah, dalam hal ini
penurunan kekuatan otot, keterbatasan lingkup gerak sendi, atau penuruan
kemampuan fungisional.

F. DIAGNOSIS BANDING FRAKTUR COLLES


a. Fraktur Smith
Fraktur Smith merupakan fraktur dislokasi ke arah anterior (volar),
karena itu sering disebut reverse Colles fracture.Fraktur ini biasa terjadi
pada orang muda.Pasien jatuh dengan tangan menahan badan sedang
posisi tangan dalam keadaan volar fleksi pada pergelangantangan dan
pronasi.Garis patahan biasanya transversal, kadang-kadang
intraartikular.Penonjolan dorsal fragmen proksimal,fragmen distal di sisi
volar pergelangan, dandeviasi ke radial (garden spadedeformity).
b. Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi merupakan fraktur radius distal disertai dislokasi
sendi radiusulna distal. Tampak tangan bagian distal dalam posisi angulasi
ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat diraba tonjolan.
c. Fraktur Monteggia
Fraktur Montegia merupakan fraktur sepertiga proksimal ulna
disertai dislokasi sendi radius ulna proksimal. Terjadi karena trauma
langsung.Terdapat 2 tipe yaitu tipe ekstensi (lebih sering) dan tipe
fleksi.Pada tipe ekstensi gaya yang terjadi mendorong ulna ke arah
hiperekstensi dan pronasi. Sedangkan pada tipe fleksi, gaya mendorong
dari depan ke arah fleksi yang menyebabkan fragmen ulna mengadakan
angulasi ke posterior.
BAB IV

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI

A. CHARTS
Data Diri Pasien
• Nama : Nn.F
• Umur : 21 tahun
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Agama : Islam
• Alamat : Perumnas
• Pekerjaan : Mahasiswa
• Hobby : Travelling
• Status : Belum Menikah

1. Chief of Complain
Kedua tangan sulit digerakkan
2. History Taking
Fisioterapis Pasien

Kapan kejadiaannya? 4 bulan yang lalu

Waktu itu saya naik motor dan tiba-tiba


menabrak mobil dari belakang sehingga
saya terpelanting kedepan dan sayapun

Bagaimana kronologi berusaha melindungi wajah saya dengan


kejadiannya? menggunakan kedua tangan saya dengan
mengarahkannya kedepan akhirnya
tangan saya yang terbentur dan lengan
saya patah. Sayapun dilarikan kerumah
sakit untuk mendapatkan pertolongan
dan keesokan harinya setelah kejadian
sayapun dioperasi.

Dikedua lengan saya masih sulit


digerakkan, pada awal-awal setelah
operasi tangan kiri saya lebih sulit
digerakkan dibandingkan tangan kanan
Dimana letak keluhan?
karena tangan kiri dipasangkaan gips.
Tetapi setelah gipsnya dilepas tangan kiri
saya mulai lebih bisa digerakkan
dibandingkan tangan kanan saya.

Ya ada nyeri yang saya rasakan jika


Apakah ada nyeri tangan kanan saya melakukan gerakan
refleks.

Apakah pernah dirujuk ke Iya setelah dioperasi saya dirujuk ke


fisioterapi? fisioterapi

Saya merasa ada perubahan karena


kedua tangan saya yang awalnya sulit
Apa yang anda rasakan setelah
digerakkan perlahan-lahan mulai lebih
difisioterapi?
mudah digerakkan dan saya juga
diajarkan cara menggenggam.

Apakah anda masih rutin ke Sejak 2 bulan yang lalu saya tidak ke
fisioterapi? fisioterapi lagi?

Jika boleh tau, apa alasan anda Karena kesibukan dikampus jadi saya

berhenti fisioterapi? tidak bisa ke fisioterapi lagi

Jadi anda masih berstatus Iya sekarang saya lagi menyusun skripsi
mahasiwa?
Iya waktu untuk mengetik menjadi

Jadi bagaimana saat mengetik kurang produktif karena tangan kanan

apakah terganggu? saya masih sulit digerakkan kearah


dalam.

Bagaimana dengan makan, Iya sudah bisa tetapi menggunakan


apakah sudah bisa sendiri? sendok

Kalau mandi sudah bisa tetapi untuk


menggosok bagian punggung dan cuci

Bagaimana dengan mandi, rambut perlu bantuan orang lain dan jika

apakah butuh bantuan? memakai gayung airnya harus setengah


karena saya belum bisa mengangkat
yang terlalu berat.

Bagaimana saat berpakaian? Sudah bisa berpakaian sendiri.

Bagaimana dengan aktivitas Tidak ada masalah.


BAK dan BAB ?

Apakah luka bekas operasi Iya awal-awal terasa gatal tetapi

ditangan anda terkadang gatal? sekarang sudah tidak.

Ada dibagian lutut saya terluka sehingga


Apakah ada bagian lain yang
susah berjalan tapi sekarang sudah
terluka saat kecelakaan?
sembuh.

Apakah anda masih


Sudah tidak lagi.
mengonsumsi obat?

Keluarga sangat peduli dan


Bagaimana perhatian keluarga memperhatikan saya terutama mama
dan orang-orang terdekat anda saya selalu ada untuk saya, saat awal-
saat sakit? awal setalah operasi mama saya yang
memandikan saya bahkan pernah
sahabat saya dikampus datang kerumah
untuk menginap dan juga membantu
saya saat mandi,makan dan mengerjakan
tugas kuliah.

Apa masih ada keluhan lain? Tidak ada

3. Assymetric
a. Inspeksi Statis
Luka operasi sudah sembuh,tidak terlihat adanya
pembengkakan,warna kulit normal,posisi tangan masih menumpu di
atas batal saat dalam posisi duduk
b. Inspeksi Dinamis
Pasien masih mengalami kesulitan saat menyingsingkan lengan
bajunya sendiri
c. PFGD

 Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar Aktif

GERAKAN SINISTRA DEKSTRA


Pronasi Terbatas Terbatas
Supinasi Terbatas Terbatas
Palmar Fleksi Terbatas Terbatas
Dorso Fleksi Terbatas Terbatas
Radial Deviasi Cenderung normal Cenderung normal
Ulnar Deviasi Cenderung normal Terbatas
 Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar Pasif
GERAKAN SINISTRA DEKSTRA
Pronasi Hard end feel, (+) nyeri, Hard end feel, (+) nyeri,
outher ROM inner ROM
Supinasi Hard end feel, (+) nyeri, Hard end feel, (+) nyeri,
midle ROM inner ROM
Palmar Fleksi End feel normal (+ nyeri) End feel normal (+ nyeri)
Dorso Fleksi End feel normal (+ nyeri) End feel normal (+ nyeri)
Radial Deviasi End feel normal End feel normal
Ulnar Deviasi End feel normal End feel normal (+ nyeri)

 Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar TIMT (Tes Isometrik


Melawan Tahanan)
GERAKAN SINISTRA DEKSTRA
Pronasi Dapat melawan Dapat melawan
tahanan tahanan
Supinasi Dapat melawan Dapat melawan
tahanan tahanan
Palmar Fleksi Dapat melawan Dapat melawan
tahanan tahanan
Dorso Fleksi Dapat melawan Dapat melawan
tahanan tahanan
Radial Deviasi Dapat melawan Dapat melawan
tahanan tahanan
Ulnar Deviasi Dapat melawan Dapat melawan
tahanan tahanan

d. Tes Orientasi
Pasien di minta untuk mengangkat barang dan memindahkan barang
tersebut mulai dari barang yang paling ringan sampai terberat.
Pasien dapat mengangkat barang pertama berupa botol kecil tanpa
mengalami kesulitan,pada barang kedua pasien di minta untuk
mengangkat botol mineral dan mengalami sedikit kesusahan, pada
barang terakhir pasien diminta untuk mengangkat toples dan pasien
sudah tidak mampu mengangkatnya.
4. Rescrictive
a. Limitasi ROM
 Dekstra : Dorsofleksi, palmar fleksi, pronasi, supinasi
 Sinistra : Dorsofleksi, palmar fleksi, pronasi, supinasi
b. Limitasi ADL
 Eating (sulit saat menggunakan tangan),
 Toileting (mengangkat gayung),
 Perawatan diri (mencuci rambut)
c. Limitasi Pekerjaan
Menurunnya produktivitas penyusunan skripsi dikarenakan
kesulitan saat mengetik dalam waktu lama karena menimbulkan
keram.
d. Limitasi Rekreasi
Kegiatan traveling tidak dilakukan karena belum bisa
mengendarai motor.

5. Tissue Impairment & Psycogenic Predictive


 Musculotendinogen: weaknes -> Grup Otot: Fleksor , Ekstensor,
Supinator, Pronator.
 Neurogen: Gangguan Sensoris (-) , Nyeri Gerak (+ di akhir
gerakan)
 Osteoartrogen : Fraktur Radius Dextra & Sinistra
 Psikogen : -

6. Spesifik Test
a. Vital Sign
1) TD : 110/70mmHg
2) DN : 76x/menit
3) Pernafasan : 20x/mnt
4) Suhu : 37 derajat
b. ROM (Range Of Motion)
Aktif

ROM Normal Hasil Pemeriksaan

Dextra Sinistra

Palmar Fleksi :75°-90° Palmar Flexi : 40° Palmar Flexi : 70°

Dorso : 75°-90° Dorso Flexi : 10° Dorso Flexi : 45°

Ulnar deviasi : 20°-35° Ulnar deviasi : 20° Ulnar deviasi : 30°

Radial deviasi : 15°-25° Radial deviasi : 20° Radial deviasi : 25°

Supinasi : 80°-100° Supinasi :0° Supinasi : 45°

Pronasi : 80°-100° Pronasi : 0° Pronasi : 70°


c. Dermatom

Area Dermatom Tangan Kanan Tangan Kiri


N. Medianus - -
N. Radialis - -
N. Ulnaris - -

d. MMT (Muscle Manual Testing)

Tangan Kanan Tangan Kiri

Plantar Flexi : 3 Plantar Flexi : 4

Dorso Flexi : 3 Dorso Flexi : 4

Ulnar deviasi : 3 Ulnar deviasi : 4

Radial deviasi : 3 Radial deviasi : 4

Supinasi : 2 Supinasi : 3

Pronasi : 2 Pronasi : 3
e. Activities of Daily Living – Intrumental Activities of Daily Living
Scale(ADL – IADL)

Dapat Dapat melakukan Dibantu atau


melakukan secara mandiri dalam
No. Tugas secara mandiri namun dengan pengawasan orang
tanpa kesulitan kesulitan lain
(1) (2) (3)
1. Makan & minum 2

2. Mencuci Muka dan Tangan 2

3. Menggunakan Toilet 2

4. Bangkit dari Kursi 1

5. Bangkit dari tempat tidur 1

6. Bergerak dalam rumah 1

7. berpakaian 2

8. Membersihkan rumah (ringan) 3

9. Membasuh seluruh tubuh 2

10. Berjalan keluar rumah 1

11. Mempersipkan Makan Malam 3


Mempersiapkan Sarapan dan
12. 3
makan Siang
13. Naik Turun Tangga 1

14. Membersihkan tempat tidur 2

15. Perawatan Kaki dan kuku 2


Mencuci dan mengeringkan
16. 3
pakaian
17. Berbelanja 2

18. Membersihkan rumah (berat) 3

ADL – IADL Score : 36 (ketergantungan sedang)


B. Manajemen Fisioterapi
1. Diagnosis
Gangguan Fungsi Gerak radio carpal joint serta radio ulnar Joint
distal bagian Sinistra dan Dekstra berupa Keterbatasan LGS dan
Kelemahan Otot e.c Fraktur Os Radius Post Operatif karena kecelakaan
kendaraan bermotor 4 bulan yang lalu.

2. Problem
a. Kelemahan Otot (Group otot: Fleksor & Ektensor wrist,
Supinator, Pronator)
b. Keterbatasan ROM ( Palmar Fleksi, Dorso Fleksi, Pronasi,
Supinasi) – kondisi keterbatasan ROM lebih buruk pada bagian
Dekstra
c. Keterbatasan dalam ADL
d. Keluhan keram indikasi penjepitan N. medianus saat mengetik
lama
3. Program

No. Problem Modalitas Terpilih Dosis


1. Pre Eliminary IRR F: 3x / hari
Excercise I : Midle Intensity
(15 cm)
T : Local Area
T :15 Menit
2 Kelemahan grup otot Strentening F : 3x /hari
(Fleksor, Ekstensor, I : 4x
Supinator, pronator) repetisi/gerakan
T : Static
Contraction
T : 10 menit
3 Keterbatasan ROM Excercise F : 3x /hari
ROM/LGS radio I : 4x
carpal joint (palmar & repetisi/gerakan
dorso fleksi, Radial & T : A ROM
ulnar deviasi) T : 10 menit
4 Kelemahan grup otot Strentening F : 3x /hari
(Fleksor, Ekstensor, I : 4x
Supinator, pronator) repetisi/gerakan
T : Static
Contraction
T : 10 menit
5 Memelihara kualitas Terapi Latihan (Kombinasi F : 3x /hari
otot daerah Finger/jari Strentening + ROM Exercise) I : 4x
repetisi/gerakan
T : A AROM
T : 10 menit
6 Limitasi ADL ADL Excercise F : 3x /hari
(toileting, eating, I : 4x
perawatan diri) repetisi/gerakan
T : ADL Training
(menyuap, minum,
memakai jilbab,
menyisir)
T : 10 menit
4. Home Program
 Latihan oposisi-reposisi,
 Latihan menggenggam,
 fleksi-ekstensi
 supinasi-pronasi,
 queen’s wave
 CTS Exercise

5. Evaluasi

Hasil
Problem Parameter Interpretasi
Sebelum Sesudah

Sinistra

s. 70˚. 0˚.45˚ s. 78˚.0˚.75˚

f. 30˚. 0˚. 25˚ f. 35˚.0˚.25˚

t. 70˚. 0˚. 45˚ t. 80˚.0˚.60˚


Keterbatasan
Tes ROM ROM bertambah
ROM Dekstra

s. 40˚. 0˚.10˚ s. 60˚.0˚.50˚

f. 20˚. 0˚. 20˚ f.25˚.0˚.30˚

t. 0˚. 0˚. 0˚ t. 15˚.0˚.10˚


Hasil
Problem Parameter Interpretasi
Sebelum Sesudah

Peningkatan
Kelemahan Otot MMT 3 4
kekuatan otot

ADL-IADL Kemandirian
ADL terganggu 36 28
Scale ADL Meningkat

6. Kemitraan
Dalam kasus ini physio dapat bermitra dengan dokter spesialis
bedah, orthopedi, radiologi, ahli okupasional, perawat, psikolog, ahli
gizi, dan pekerja sosial medis lainnya.