Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH MANAJEMEN SEKOLAH

MANAJEMEN KEUANGAN PENDIDIKAN


SMA KATOLIK XAVERIUS PADANG

Kelompok Monitoring :
1. Maria Bestanika Nugrahani 171444005
2. Novena Tesalonika Rasuh 171444008
3. Noer Kurnia Dewi 171444017

Dosen Pengampu :
Dra. Maslichah Asy’ari, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk segala berkat yang diberikan,
sehingga makalah mengenai Manajemen Keuangan ini dapat terselesaikan. Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Sekolah Tahun Akademik
2018/2019.
Secara garis besar, makalah ini menerangkan topik mengenai pengaturan keuangan
yang ada di sekolah menengah, khususnya Sekolah Menengah Atas (SMA). Pembahasan
makalah yang disusun akan membandingkan hasil observasi dengan literatur yang ada.
Ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan kontribusi dalam
pembuatan makalah ini. Penyusun menyadari makalah ini belum bisa dikatakan sempurna.
Maka dari itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik yang akan membantu
mengembangkan makalah ini menjadi lebih baik. Semoga makalah yang dibuat ini dapat
bermanfaat bagi semua orang.

Yogyakarta, 22 Februari 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 2
1.3 Tujuan .................................................................................................. 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA .......................................................................... 3
2.1 Definisi Manajemen Keuangan Sekolah ............................................. 3
2.2 Tujuan Manajemen Keuangan Sekolah ............................................... 3
2.3 Tugas Manajemen Keuangan Sekolah ................................................ 4
2.4 Pengelolaan Keuangan Sekolah ........................................................... 5
2.5 Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan Sekolah ................................... 9
2.6 Penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah
(RAPBS) .............................................................................................. 11
BAB III PRAKTIK .......................................................................................... 13
BAB IV ANALISIS DATA ............................................................................ 15
BAB V PENUTUP .......................................................................................... 17
5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 17
5.2 Saran .................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manajemen keuangan di setiap lembaga baik dari segi pendidikan maupun non
pendidikan sangat perlu dilakukan untuk mengatur aktivitas kinerja. Secara umum,
kegiatan manajemen keuangan dilakukan melalui proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengawasan atau pengendalian. Dalam dunia
pendidikan, manajemen keuangan termasuk salah satu substansi manajemen sekolah
yang turut menentukan berjalannya kegiatan pendidikan. Menurut Arikunto (1999),
manajemen sekolah adalah suatu bentuk upaya pemberdayaan sekolah dan
lingkungannya dalam mewujudkan sekolah yang mandiri dan efektif melalui
optimalisasi peran dan fungsi sekolah sesuai visi dan misi yang telah ditetapkan sekolah.
Manajemen keuangan sekolah sangat penting hubungannya dalam pelaksanaan kegiatan
sekolah. Sebab keuangan atau pembiayaan merupakan salah satu sumber daya
pendidikan yang sangat esensial yang secara langsung menunjang efektivitas dan
efisiensi pengelolaan pendidikan. Oleh karena itu, keuangan sekolah perlu dikelola
dengan baik agar dana yang diperoleh dapat digunakan secara efektif dan efisien
sehingga tidak menghambat upaya untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pada umumnya pengelolaan keuangan sekolah sudah diterapkan dengan baik,
hanya saja untuk kadar tingkatan pelaksanaannya berbeda antara sekolah satu dengan
sekolah lainnya. Setiap sekolah memiliki permasalahannya masing-masing dalam
mengelola keuangan sekolah baik dari segi kondisi fisik, kondisi geografis sekolah atau
citra sekolah. Sekolah yang sangat diminati oleh masyarakat pengelolaan keuangannya
berbeda jauh dibandingkan sekolah yang kurang diminati oleh masyarakat karena
sekolah harus mampu menyiapkan dan menampung keseluruhan kegiatan yang semakin
banyak dituntut oleh masyarakat. Di sisi lain, banyak sekolah yang kurang terbuka
terhadap sistem pengelolaan keuangan sekolah kepada masyarakat terutama orang tua
siswa yang akibatnya berujung pada tuduhan penyelewengan dana terhadap sekolah.
Melihat permasalahan tersebut, penulis menyusun sebuah makalah mengenai
manajemen keuangan sekolah yang didasari secara teori dan praktik.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari manajemen keuangan sekolah?
2. Apa tujuan adanya manajemen keuangan sekolah?
3. Apa tugas manajemen keuangan sekolah?
4. Bagaimana pengelolaan keuangan yang ada di sekolah?
5. Apa prinsip-prinsip manajemen keuangan sekolah?
6. Bagaimana penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah
(RAPBS)?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari manajemen keuangan sekolah.
2. Untuk mengetahui tujuan adanya manajemen keuangan sekolah.
3. Untuk mengetahui tugas manajemen keuangan sekolah.
4. Untuk mengetahui pengelolaan keuangan yang ada di sekolah.
5. Untuk mengetahui prinsip-prinsip manajemen keuangan sekolah.
6. Untuk mengetahui penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah
(RAPBS).

2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Definisi Manajemen Keuangan Sekolah


Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat di zaman
ini. Biaya pendidikan merupakan komponen yang sangat penting terhadap
penyelenggaraan pendidikan. Proses pendidikan di sekolah dapat berjalan dengan baik
jika didukung dari manajemen sekolah yang baik salah satunya adalah manajemen
keuangan. Menurut Depdiknas (2007), manajemen keuangan adalah suatu tindakan
pengurusan keuangan yang terdiri dari pencatatan, pelaksanaan, pertanggungjawaban,
dan pelaporan. Manajemen keuangan dapat diartikan sebagai pembiayaan pendidikan.
Pembiayaan pendidikan adalah jumlah uang yang diperoleh dan dikeluarkan untuk
berbagai keperluan penyelenggaraan pendidikan yang meliputi gaji guru, pengadaan
sarana ruang, perbaikan ruang, alat tulis kantor, buku pelajaran, dan lain-lain (Fatah,
2000).
Dalam arti sempit manajemen keuangan diartikan sebagai tata pembukuan.
Sedangkan dalam arti luas manajemen keuangan adalah pengurusan dan
pertanggungjawaban dalam menggunakan keuangan baik pemerintah pusat maupun
daerah (Sartono, 2001). Manajemen keuangan di sekolah merupakan sesuatu hal yang
sangat sensitif sehingga perlu dikelola secara cermat dan hati-hati. Pengelola keuangan
harus mengetahui tata cara pembukuan keuangan, prosedur penggunaan uang,
pertanggungjawaban terhadap penggunaan keuangan serta adanya pengawasan dalam
mengelola keuangan.
Menurut Mulyasa (2005), ada 3 tahapan dalam manajemen keuangan yaitu
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tiga tahap tersebut perlu diperhatikan secara
cermat dan matang untuk mencapai tujuan pendidikan yang produktif, efisien, dan
relevan antara kebutuhan di bidang pendidikan dan pembangunan masyarakat.
2.2 Tujuan Manajemen Keuangan Sekolah
Adanya kegiatan manajemen keuangan yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk
memperoleh dan mencari peluang sumber-sumber pendanaan untuk kegiatan sekolah,
mampu menggunakan dana secara efektif dan tidak melanggar aturan yang telah
ditetapkan pemerintah, serta membuat laporan keuangan yang transparan dan akuntabel.

3
Menurut Sagala (Kadarman, 1992), manajemen keuangan memiliki tujuan sebagai
berikut:
a. Meningkatkan efektivitas dan efisisensi tingkat penggunaan keuangan sekolah
b. Meningkatkan akuntabilitas dan transpransi pada keuangan sekolah
c. Meminimalkan penyalahgunaan anggaran sekolah
Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan kekreatifan dari kepala sekolah karena
disini kepala sekolah sangat berpengaruh besar dalam mengelola keuangan sekolah.
Misalnya dalam menggali sumber dana, menempatkan bendaharawan yang dapat
dipercaya dan menguasai dalam soal pembukuan dan pertanggungjawaban keuangan,
serta mengelola keuangan secara bijak. Menurut Depdiknas (2007), tujuan utama
manajemen keuangan adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan dana yang tersedia secara optimal berdasarkan kegiatan pendidikan
yang ditetapkan
b. Mensinergiskan berbagai jenis kegiatan antar bidang secara harmonis dalam tujuan-
tujuan pendidikan
Mengembangkan sifat yang transparansi dan akuntabilitas dalam mengelolaan
keuangan sekolah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
2.3 Tugas Manajemen Keuangan Sekolah
Pelaksanaan manajemen keuangan menganut asas pemisahan tugas antara fungsi
otorisator, ordonator, dan bendaharawan. Otorisator merupakan pejabat yang diberi
wewenang dalam mengambilkan tindakan terhadap penerimaan dan pengeluaran
anggara. Ordonator merupakan pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan
memerintahkan pembayaran sesuai peraturan yang telah ditetapkan. Bendaharawan
adalah pejabat yang berwenang untuk melakukan penerimaan, penyimpanan,
pengeluaran uang serta harus membuat laporan pertanggungjawaban.
Pada manajemen keuangan, kepala sekolah dianggap sebagai seorang manajer yang
memiliki fungsi sebagai otorisator dan juga dilimpahkan sebagai ordonator. Untuk
fungsi bendaharawan dipegang oleh pejabat lain yang dapat dipercaya dan menguasai
di bidang bendaharawan. Di samping itu, bendaharawan ini juga dilimpahi fungsi
ordonator untuk menguji hak atas pembayaran (Depdiknas, 2007).
Manajer keuangan memiliki kewajiban untuk menentukan keuangan, cara
mendapatkan dana untuk infrastruktur sekolah serta penggunaan dana untuk kebutuhan
sekolah. Berikut ini adalah tugas manajer keuangan antara lain:

4
a. Manajemen untuk perencanaan perkiraan
b. Manajemen memusatkan perhatian pada keputusan investasi dan pembiayaannya
c. Manajemen kerjasama dengan pihak lain
d. Penggunaan keuangan dan mencari sumber dana
(Depdiknas, 2007)
2.4 Pengelolaan Keuangan Sekolah
Dalam instansi pendidikan, ketersediaan dana merupakan satu syarat agar
kegiatan pendidikan dapat dilaksanakan. Dana pendidikan dan komponen-komponen
lain dalam administrasi pendidikan seperti personil, fasilitas, teknologi pendidikan akan
menghasilkan output dan tujuan yang hendak dicapai. Keterbatasan kemampuan
pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan dana pendidikan maka pembiayaan
pendidikan dipertanggung jawabkan bersama antara pemerintah, masyarakat, dan orang
tua (UUSPN No. 20 Tahun 2003). Proses pegelolaan keuangan di sekolah menurut
Saihudin (2018) meliputi beberapa tahapan sebagai berikut ini.
a. Perencanaan Anggaran
Perencanaan anggaran merupakan bagian awal dalam memanajemen
keuangan sekolah. Anggaran merupakan rencana kuantitatif terhadap operasi
organisasi sekolah. Proses penyiapan anggaran disebut sebagai penganggaran yang
artinya menyediaka anggaran untuk melaksanakan program yang telah
direncaakan. Perencanaan anggaran ini dilakukan oleh kepala sekolah beserta pihak
yang berwenang untuk mengurusi keuangan sekolah seperti dewan guru.
Perencanaan anggaran ini disusun dalam bentuk RAPBS (Rencana Anggaran dan
Pendapatan Belanja Sekolah). Oleh karena itu, kepala sekolah diharuskan untuk
mengetahui sumber-sumber dana sekolah yang secara umum didapatkan dari
anggaran rutin, Dana Penunjang Pendiidkan (DPD), Subsidi Bantuan
Penyelenggaraan Pendidikan (SBPP), Bantuan Operasional Sekolah (BOS),
donatur, badan usaha, dan sumbangan lain-lain. Untuk sekolah swasta sumber dana
berasal dari SPP, subsidi pemerintah, donatur, yayasan, dan masyarakat sekitar
(Saihudin, 2018).
Setelah mengetahui sumber dana yang didapatkan maka selanjutnya
dilakukan penyusunan RAPBS, sehingga kepala sekolah perlu untuk menyusun tim
dewan guru yang akan menyusun RAPBS tersebut. Tim penyusun RAPBS tersebut
menyelesaikan tugas, merinci semua anggaran yang dibutuhkan sekolah adalam

5
bentuk RAPBS. RAPBS ini dijadikan sebagai acuan dan pedoman dalam
melaksanakan kegiatan yang melibatkan pendanaan dari sekolah.
b. Strategi mencari Sumber Dana
Dalam menyusun suatu anggaran dana maka sumber dana harus ditentukan
terlebih dahulu agar rencana dan tujuan yang sudah direncanakan dapat
dilaksanakan dan tujuan dapat terwujud. Menurut Sulistiyorini (2009), Secara garis
besar dana pendidikan didapatkan dari tiga sumber yaitu :
1. Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah untuk kepentingan
pendidikan yaitu dana BOS yang diberikan secara berkala yang digunakan
untuk membiayai seluruh kegiatan operasioanl sekolah.
Dana dari pemerintah disediakan melalui Anggaran rutin dalam DIK
(Daftar Isian Kegiatan) yang dialokasikan untuk seluruh sekolah untuk setiap
tahun ajaran. Besarnya DIK untuk setiap sekolah didasarkan pada keseluruhan
jumlah siswa. Dalam DIK terdapat mata anggaran dan besarnya dana untuk
masing-masing jenis pengeluaran sudah ditentukan oleh pemerintah dala DIK
serta pengeluaran dan pertanggungjawaban harus sesuai dengan mata anggaran
tersebut.
2. Orang tua atau peserta didik
Dana yang didapatkan dari orang tua ini sering disebut sebagai iuran
komite sekolah yang besarnya ditentukan melalui rapat komite sekolah
bersama wali murid. Dana komite ini terdiri atas :
a) Dana bulanan tetap sebagai dana yang harus dibayarkan wali murid dalam
satu bulan selama anaknya menjadi murid di sekolah tersebut. Dana ini
sering disebut sebagai SPP bulanan.
b) Dana insidental yang merupakan dana yang harus dibayarkan saat menjadi
murid baru dan hanya sekali dalam tiga tahun tetapi pembayaran dapat
diangsur.
c) Dana sukarela yang sering ditawarkan kepada orang tua yang dermawan
dan bersedia memberi sumbangan suka rela tanpa suatu ikatan atau
perjanjian apapun.

6
3. Masyarakat umum
Dana ini merupakan sumbangan suka rela yang tidak mengikat dari
masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Danan ini dapat dari perorangan,
suatu organisasi, yayasan, ataupun badan usaha milik pemerintah/ swasta.
Selain dari ketiga sumber diatas, dana pendidikan suatu sekolah dapat diperoleh
dari :
1. Dana dari alumni
Para alumni yang merasa peduli biasanya akan memberikan bantuan ke sekolah
untuk meningkatkan mutu sekolah. Bantuan tersebut tidak hanya berupa uang
tetapi juga dapat berupa fasilitas sekolah seperti buku dan peralatan belajar.
Dana ini dapat diperoleh melalui sumbangan sukarela dari alumni secara
langnsung perorangan maupun dari sebuah acara seperti lustrum maupun dies
natalis sekolah.
2. Dana dari peserta kegiatan
Dana ini diperoleh dari siswa atau anggota masyarakat yang mendapatkan
pelayanan kegiatan pendidikan tambahan atau ekstrakulikuler.
3. Dana dari kegiatan wirausaha sekolah
Dana ini berumber dari kegiatan usaha seperti koperasi sekolah, kantin sekolah,
bazar tahunan, usaha fotokopi dan lain sebagainya untuk mendapatkan
tambahan dana. Pihak yang terlibat merupakan staf sekolah maupun siswa
Apabila suatu sekolah membutuhkan tambahan dana untuk program sekolah
maka diperlukan strategi untuk mendapatkan sumber dana. Berikut ini strategi yang
dapat digunakan untuk mendapatkan tambahan dana :
1. Melakukan ekstra kurikuler yang berkualitas seperti KIR (Karya Ilmiah
Remaja) kemudian mengikuti perlombaan untuk mendapatkan juara dan
menjalin promosi dnegan pihak luar.
2. Menyelenggarakan kursus luar sekolah misalnya menyelenggarakan kursus
yang pesertanya dari siswa dan masyarakat luar sekolah.
3. Membentuk koperasi sekolah yang menyediakan barang atau jasa yang
dibutuhkan pada warga sekolah.
4. Melakukan wawancara dengan wali murid tentang kesediaan memberi dana.

7
c. Penggunaan Keuangan Sekolah
Penggunaan keuangan sekolah ini harus disesuaikan dengan RAPBS
sehingga anggaran yang disusun dapat tepat sasaran. Dana-dana yang didapatkan
dari berbagai sumber harus dibukukan begitu juga dengan pengeluaran
pembiayaan. Menurut Ibrahim (1988) ada beberapa komponen dalam penggunaan
keuangan sekolah yaitu :
1. Program rutin yang meliputi : gaji dn tunjangan guru, tunjangan beras, lembur,
keperluan alat kantor, barang inventaris, langganan daya/jasa (listrik, telepon,
air), kegiatan belajar mengajar, dan pemeliharaan gedung.
2. Program pembangunan yang meliputi DPP (Dana Pembinaan Pendidikan),
DBO (Dana Bantuan Operasi), dan OPF (Operasi Pembangunan dan Fasilitas).
d. Pengawasan dan Evaluasi
Menurut Handoko (2005), pengawasan merupakan suatu upaya dalam
menetapkan standar pelaksanaan melalui tujuan perencanaan, sistem informasi
umpan balik yang dirancang, kegiatan nyata yang dibandingkan dengan standar
yang ditetapkan, penyimpangan-penyimpangan yang diukur, dan perbaikan pada
sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan.
Kegiatan evaluasi itu sendiri dilakukan dalam rangka melihat ketercapaian
sasaran yang telah ditentukan dari awal. Evaluasi dalam hal ini merupakan aktivitas
yang dilakukan untuk membandingkan apa yang disusun dengan hasil konkret yang
terjadi (Baharuddin & Makin, 2010).
e. Pertanggungjawaban
Kepala sekolah atau bendaharawan sekolah perlu menyusun bentuk
pertanggungjawaban akan keuangan sekolah. Segala bentuk pendapatan dan
pengeluaran dalam suatu periode perlu dipertanggungjawabkan. Hal ini dilakukan
untuk menghindari perspektif negatif yang dapat muncul pada suatu instansi.
Kegiatan pertanggungjawaban ini meliputi deskripsi penerimaan, penggunaan dan
pengadministrasian keuangan pada kegiatan sekolah.
Menurut Werang (2015), suatu pertanggungjawaban keuangan yang ada di
sekolah disusun dalam bentuk laporan yang diserahkan pada Kepala Dinas
Pendidikan, Kepala Badan Administrasi Keuangan Daerah, dan Kantor Dinas
Pendidikan. Laporan tersebut mencakup laporan penggunaan dana yang bersumber
dari pemerintah. Untuk dana yang berasal dari sumber lain, laporan

8
pertanggungjawaban disampaikan secara terbatas pada tingkat kepengurusan,
seperti komite sekolah. Laporan yang diserahkan pada kedua sumber tersebut
disusun berdasarkan format dan ketepatan waktu yang telah ditentukan.
2.5 Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan Sekolah
Penggunaan anggaran dapat berjalan secara efektif maka dalam mengelola
keuangan pendidikan harus didasarkan pada prinsip-prinsip pengelolaan keuangan.
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 pasal 48 menyatakan bahwa pengelolaan dana
pendidikan harus berdasarkan pada prinsip efektivitas, efisiensi, transparansi, dan
akuntabilitas publik. Berikut ini penjelasan mengenai prinsip-prinsip manajemen
keuangan sebagai berikut:
a. Transparansi
Transparansi dapat diartikan sebagai keterbukaan. Menurut Engkoswara dan
Komariah (2012), manajemen keuangan yang transparan adalah mudah diakses
anggota, manajemen memberikan laporan secara kontinu sehingga masyarakat
dapat mengetahui proses dan hasil pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah.
Di bidang pendidikan, manajemen keuangan yang bersifat transparan berarti adanya
keterbukaan dalam manajemen keuangan lembaga pendidikan baik dari segi sumber
keuangan dan jumlahnya, rincian penggunaan, dan pertanggungjawaban yang jelas
sehingga bisa memudahkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk
mengetahuinya.
Manajemen keuangan harus dilaksanakan secara transparan agar
meningkatkan dukungan orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam
penyelenggaraan seluruh program pendidikan sekolah. Di samping itu, warga
sekolah dan masyarakat dapat memberikan saran, kritik, serta melakukan
pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan program. Beberapa informasi
keuangan yang bersifat terbuka oleh semua warga sekolah dan orang tua siswa
seperti rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) yang bisa
ditempel pada papan pengumuman atau di depan ruang tata usaha sehingga semua
orang yang membutuhkan informasi itu dapat dengan mudah mendapatkannya
(Depdiknas, 2007).
b. Efektivitas
Efektivitas adalah adanya kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas
dengan sasaran yang dituju dan bagaimana suatu organisasi berhasil menempatkan

9
dan memanfaatkan sumber daya dalam usaha mewujudkan tujuan operasional
(Mulyasa, 2005). Manajemen keuangan dapat dikatakan memenuhi prinsip
efektivitas jika kegiatan yang dilakukan dapat mengatur keuangan untuk membiayai
aktivitas yang diselenggarakan oleh sekolah tersebut (Depdiknas, 2007).
c. Efisiensi
Menurut Depdiknas (2007), efisiensi berkaitan dengan kuantitas hasil suatu
kegiatan. Di samping itu, efisiensi merupakan perbandingan yang terbaik antara
masukan dan keluaran atau juga antara daya dan hasil. Daya ini meliputi tenaga,
pikiran, waktu, dan biaya. Perbandingan ini dilihat dari dua sisi yaitu:
a. Segi penggunaan waktu, tenaga, dan biaya
Kegiatan dikatakan efisien jika penggunaan waktu, tenaga, dan biaya yang
sekecil-kecilnya dapat mencapai hasil yang ditetapkan
b. Segi hasil
Kegiatan dikatakan efisien apabila dengan penggunaan waktu, tenaga, dan biaya
tertentu memberikan hasil yang besar baik kuantitas maupun kualitasnya.
d. Akuntabilitas
Menurut PP No. 48 Tahun 2008 Pasal 59, prinsip akuntabilitas dilakukan
dengan memberikan pertanggungjawaban atas kegiatan yang dilaksanakan oleh
penyelenggara kepada pemegang kepentingan pendidikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Dalam manajemen keuangan, akuntabilitas berarti
penggunaan sekolah dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang
telah ditetapkan. Ada tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya
akuntabilitas yaitu:
a. Adanya transparansi para penyelenggaraan sekolah dengan menerima masukan
dan mengikutsertakan berbagai komponen dalam mengelola sekolah.
b. Adanya standar kinerja di setiap institusi yang dapat diukur pada pelaksanaan
tugas, fungsi, dan wewenangnya.
c. Adanya partisipasi untuk saling menciptakan suasana yang kondusif dalam
rangka menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah, biaya
yang murah dan pelayanan yang cepat.
(Depdiknas, 2007)

10
2.6 Penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS)
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) merupakan
anggaran penerimaan dan penggunaannya yang disusun lalu dikelola untuk memenuhi
kebutuhan sekolah selama suatu periode tertentu. RAPBS yang disusun meliputi
kegiatan pengajaran, materi kelas, pengembangan profesi guru, renovasi bangunan
sekolah, pemeliharaan, buku, meja, dan lainya. Penyusunan RAPBS melibatkan kepala
sekolah, guru, komite sekolah, dan staf tata usaha. RAPBS dibuat tiap tahun ajaran agar
alokasi dana berjalan optimal (Faizah, 2017).
Penyusunan RAPBS dilakukan dengan berdasarkan 8 Standar Nasional
Pendidikan (SNP), yaitu sebagai berikut.
a. Standar isi
b. Standar proses
c. Standar kompetensi
d. Standar pendidik dan tenaga kependidikan
e. Standar sarana dan prasarana
f. Standar pengelolaan
g. Standar pembiayaan
h. Standar penilaian pendidikan
Adapun proses penyusunan RAPBS yang dituliskan sebagai berikut (Faizah,
2017).
a. Rencana pengembangan sekolah yang menggunakan tujuan jangka menengah dan
jangka pendek.
b. Isu-isu dan masalah utama dikelompokkan dalam bidang-bidang yang luas
cakupannya.
c. Menyelesaikan analisis kebutuhan.
d. Memprioritaskan kebutuhan.
e. Rencana pengembangan sekolah yang telah dibuat dikonsultasikan bentuk rencana
aksi yang dipaparkan.
f. Mengidentifikasi seluruh sumber pemasukan.
g. Menggambarkan rincian (waktu, biaya, penanggungjawab, dan pelaporan) yang
diawasi dan dipantau kegiatannya sampai evaluasi.
Berikut adalah langkah-langkah penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan
Belanja Sekolah (RAPBS) menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS).

11
a. Penyusunan RAPBS dilakukan oleh sekolah dan komite sekolah.
b. RAPBS yang telah dirumuskan diserahkan ke kantor Departemen Pendidikan
Nasional Kota atau Dinas Pendidikan Kota untuk persetujuan.
c. RAPBS dinilai oleh pengawas dan kasubag keuangan, kasubag PRP, subag yang
relevan di Kandep Diknas yang lalu dikirim kembali ke sekolah dalam bentuk
revisi.
d. Sekolah kembali mengadakan rapat dengan komite sekolah.
e. RAPBS disetujui setelah mendapat kesepakatan antara sekolah dengan komite
sekolah pada rapat.
f. Kepala Kandep Diknas Kota atau Kepala Dinas Pendidikan Kota mengesahkan
RAPBS menjadi APBS.
g. APBS yang telah sah dikirim ke sekolah dan dijadikan acuan pembiayaan sekolah.
h. Rekapitulasi APBS dikirim ke Walikota
i. Setelah itu, rekapitulasi dikirim ke Diknas Provinsi.
(Faizah, 2017)

12
BAB III
PRAKTIK

Hari/tanggal : Sabtu, 23 Februari 2019


Tempat : SMA Katolik Xaverius Padang
Narasumber : Ibu Evisyanti S.Pd
No. Komponen Penilaian Penjelasan
Tugas Manajemen Keuangan Sekolah
1. Bendaharawan Rolling tiap tahun anggaran
Pengelolaan Keuangan Sekolah
2. Sumber Dana Sumber Utama :
- Swadaya dari Orang Tua
SPP tiap bulan dan uang pembangunan di awal
masuk sekolah.
- Pemerintah (Dana Bos)
Sumber Pendukung :
Alumni
3. Sistem Pembayaran Sistem Online
SPP Pembayaran dilakukan tiap siswa yang telah
mendapat nomor virtual account melalui bank dan
akan masuk ke rekening yayasan.
4. Sistem Penggajian Sistem Online
Guru dan Pegawai - Penggajian guru melalui bank yang secara
otomatis masuk ke rekening guru tiap bulan
yang dikelola oleh bagian keuangan yayasan.
5. Fasilitas Sarana dan Menggunakan dana bos sesuai peraturan
Pra-sarana Sekolah penggunaannya.
6. Evaluasi Pengelolaan Dilakukan tiap akhir tahun anggaran
Keuangan

7. Pertanggungjawaban Laporan pertanggungjawaban dikirim tiap bulan


ke yayasan

13
Penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPSB)
8. Penyusunan RAPBS - RAPBS disusun melalui lokakarya sekolah di
mana tiap komunitas sekolah akan menulis
kebutuhan sekolah per tahun anggaran yang
disesuaikan dengan tahun pelajaran.
- Kepala sekolah bersama para wakil kepala
sekolah dan bendahara akan menginventaris
semua kebutuhan sekolah dalam satu tahun
anggaran.
- Hasil dikelompokkan sesuai nomor bidang
yang telah ditetapkan oleh yayasan untuk
memenuhi 8 standar pendidikan.
Draft RAPBS yang telah disusun akan
dirapatkan dengan kantor yayasan untuk
pengkajian ulang.
Setelah diterima RAPBS oleh pihak yayasan,
maka akan menjadi APBS yang merupakan
pedoman pembiayaan kebutuhan sekolah selama
satu tahun anggaran.
Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan
9. Prinsip Manajemen - Transparan
Keuangan - Efektif
- Akuntabilitas
- Efisiensi tidak maksimal

14
BAB IV
ANALISIS DATA

Manajemen keuangan termasuk dalam satu substansi manajemen sekolah yang


mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah. Manajemen keuangan sangat penting
dalam suatu instansi pendidikan. Berdasarkan hal tersebut, manajemen keuangan tiap
sekolah perlu dikaji lebih mendalam untuk melihat kualitas pengelolaan keuangan sekolah.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di SMA Katolik Xaverius Padang
melalui Ibu Evisyanti, S.Pd., data menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh dengan kajian
teori yang ada.
a. Tugas Manajemen Keuangan
Sekolah menerapkan pembagian tugas untuk mengelola keuangan sekolah. Dalam
hal ini kepala sekolah bertugas sebagai otorisator dan ordonator. Sedangkan untuk
bendaharawan dipilih oleh yayasan sesuai kebutuhan unit yang diganti secara berkala.
b. Pengelolaan Keuangan Sekolah
1. Sumber Dana
Sekolah ini mengandalkan dua sumber keuangan, yaitu sumber dana utama
dan sumber dana pendukung. Sumber dana utama berupa dana dari pemerintah dan
swadaya orang tua. Sumber dana utama dari pemerintah dalam bentuk dana BOS
yang dianggarkan tiap tahunnya sesuai dengan ketentuan yang ada. Sumber dana
utama dari swadaya orang tua berupa pembayaran uang pembangunan yang dibayar
sekali dan pembayaran uang SPP tiap bulan. Untuk uang pembangunan dan SPP
ditetapkan sesuai tingkat ekonomi orang tua/wali siswa. Uang SPP dibayarkan
melalui sistem Online (bank) oleh siswa yang memiliki nomor virtual account.
Sumber dana pendukung berupa donatur dari alumni melalui proposal yang tidak
dilakukan secara rutin.
2. Penggunaan Dana Sekolah
Dana sekolah yang telah dianggarkan digunakan untuk penggajian guru dan
pegawai, serta pembayaran fasilitas sarana pra-sarana sekolah. Penggajian guru dan
pegawai dilakukan secara online tiap bulannya oleh bagian keuangan yayasan.
Untuk pembayaran fasilitas sarana pra sarana (internet, listrik, buku pelajaran,
pelatihan guru, kegiatan siswa) diambil dari dana BOS.

15
3. Pengawasan dan Evaluasi
Pengawasan keuangan sekolah dilakukan oleh kepala sekolah dan yayasan.
Untuk evaluasi dilakukan tiap akhir tahun anggaran dalam bentuk rapat bersama
yayasan, kepala sekolah, dan komunitas sekolah.
4. Pertanggungjawaban
Pertanggungjawaban keuangan sekolah dibuat dalam bentuk laporan
penggunaan dana yang diserahkan ke yayasan tiap bulannya. Laporan
pertanggungjawaban disusun secara sistematis berdasarkan ketentuan yang
ditetapkan yayasan.
b. Prinsip Manajemen Keuangan
Sekolah dalam mengelola keuangan telah memenuhi prinsip-prinsip manajemen
keuangan, yaitu transparansi, efektifitas, dan akuntabilitas. Prinsip transparansi telah
diterapkan oleh sekolah dalam bentuk wawancara dengan wali murid untuk
memutuskan besarnya SPP dan penggunaan dana BOS yang ditempel di papan mading.
Untuk efektifitas, dilihat dari pengaturan keuangan yang menggunakan sistem online
yang meminimalisir kesalahan dalam pengelolaan keuangan. Prinsip akuntabilitas
dilihat dari laporan pertanggungjawaban yang dikirim tiap bulan ke yayasan. Terakhir,
prinsip efisiensi yang belum berjalan secara optimal karena kebutuhan dana saat
melakukan kegiatan terkadang tidak sesuai dengan APBS, sehingga sekolah
mengajukan proposal pada donatur luar (alumni).
c. Penyusunan RAPBS
Penyusunan RAPBS dilakukan dengan baik dan sistematis sesuai dengan
pedoman penyusunan RAPBS dan mengacu pada 8 standar nasional pendidikan.
RAPBS disusun melalui lokakarya antara kepala sekolah dengan tiap komunitas sekolah
untuk menganggarkan kebutuhan sekolah. Setelah itu, kepala sekolah, wakasek, dan
bendahara menginventaris semua kebutuhan sekolah dalam satu tahun. Hasil lalu
dikelompokkan sesuai nomor bidang yayasan untuk memenuhi 8 standar nasional
pendidikan. Draft RAPBS yang ada dikaji ulang oleh yayasan dan dikembalikan ke
pihak sekolah untuk direvisi. RAPBS yang telah direvisi dan disetujui oleh yayasan akan
menjadi APBS sebagai pedoman dalam satu tahun anggaran.

16
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan di SMA Katolik Xaverius
Padang, pengelolaan keuangan sekolah berlangsung dengan baik sesuai dengan kajian
teori yang ada. Hal ini terlihat dari tugas manajemen keuangan yang dijalankan oleh
kepala sekolah dan bendaharawan. Untuk pengelolaan dana sekolah yang terdiri dari
perencanaan, sumber dana, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi, serta
pertanggungjawaban keuangan telah mengacu pada panduan penyusunan RAPBS yang
berlandaskan 8 standar nasional pendidikan. Selain itu, keuangan sekolah dikelola
sesuai prinsip-prinsip yang ada, seperti transparan, efektif, dan akuntabilitas.
5.2 Saran
Penggaran dana dilakukan secara tepat agar prinsip-prinsip manajemen keuangan
dapat terealisasikan secara optimal. Selain itu, mahasiswa sebagai calon pendidik juga
harus memahami pengelolaan keuangan di sekolah untuk bekal di masa depan.

17
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (1999). Manajemen Berbasis Sekolah: Bentuk Inovasi Mutakhir Dalam


Penyelenggaraan Sekolah. Jurnal Dinamika Pendidikan. 1(1). 12.
Baharuddin dan Makin, M. 2010. Manajemen Pendidikan Islam: Transformasi Menuju
Sekolah/Madrasah Unggul. Malang: UIN Press.
Depdiknas. (2007). Manajemen Keuangan Sekolah. Jakarta: Direktorat Tenaga
Kependidikan.
Engkoswara dan Komariah, A. (2012). Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Faizah, M. C. 2017. Manajemen Keuangan Pendidikan SMA Negeri 5 Yogyakarta.
Yogyakarta: UNY.
Fatah, N. (2000). Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
Handoko, T. H. 2005. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta:
B.P.F.E. UGM.
Mulyasa, E. (2005). Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, Implementasi.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Saihudin. 2018. Manajemen Institusi Pendidikan. Uwais Inspirasi Indonesia: Ponorogo
(Jawa Timur).
Sartono, R.A. (2001). Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Fakultas
Eknonomi UGM.
Sulistiyorini. 2009. Manajemen Pendiidkan Islam : Konsep, Strategi, dan Aplikasi. Teras:
Yogyakarta.
Werang, B. R. 2015. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Yogyakarta: Media Akademi.

18