Anda di halaman 1dari 5

MENDORONG PERILAKU ETIS

Manajer dapat melakukan banyak hal bila benar-benar serius hendak


mendorong perilaku etis menerima karyawan dengan standar etika tinggi,
membuat kode etik, memimpin dengan memberi teladan, dan lain-lain. Secara
terpisah, tindakan seperti itu tidak akan berdampak banyak. Namun, program etika
yang komprehensif berpotensi meningkatkan iklim etika di organisasi. Variabel
kuncinya adalah berpotensi. Tidak ada jaminan bahwa program etika yang
dirancang dengan baik akan membawa hasil yang diinginkan. Kadangkala,
program etika korporat hanya lebih dari sekedar sikap hubungan masyarakat yang
berpengaruh kecil bagi manajer dan karyawan. Contohnya, Sears mempunyai
sejarah panjang dalam mendorong praktik bisnis beretika melalui Praktik Etika
dan Bisnis Kantor korporatnya. Namun, program etika mereka tidak
menghentikan para manajer yang secara ilegal mencoba mengumpulkan
pembayaran dari pemilik akun tagihan yang bangkrut atau secara rutin menipu
para pelanggan pusat layanan otomotif yang membuat mereka berfikir bahwa
membutuhkan perbaikan yang tidak perlu.

Seleksi Karyawan

Proses seleksi ( wawancara, tes, pengecekan latar belakang, dan yang


lainnya ) harus dipandang sebagai kesempatan untuk mempelajari tingkat
perkembangan moral, nilai pribadi, kekuatan ego, dan fokus kendali seorang
individu. Namun, bahkan proses seleksi yang dirancang dengan hati-hati pun
masih dapat dikelabui. Bahkan dalam kondisi terbaik, individu dengan standar
benar dan salah yang dipertanyakan dapat diterima. Namun, hal ini seharusnya
tidak menjadi masalah bila kendali etika lain diberlakukan.

Kode Etik dan Peraturan Keputusan

George David, mantan CEO dan komisaris United Technologies


Corporation (UTC) meyakini kekuatan kode etik. Karena itu, UTC mempunyai
satu kode etik yang cukup eksplisit dan rinci. Karyawan mengetahui ekspektasi
perilaku, terutama bila berhubungan dengan etika. UBS AG, bank Swiss terkenal
itu, juga memiliki tata tertib karyawan yang eksplisit (disusun oleh CEO-nya)
yang melarang staf membantu klien untuk berbuat curang dalam pajak mereka.
Namun, tidak semua organisasi memiliki panduan perilaku etis eksplisit seperti
itu.

Kelompok 1. Menjadi Warga Organisasi yang dapat Diandalkan

1. Mematuhi peraturan keselamatan, kesehatan, dan keamanan.

2. Menunjukkan kesopanan, penghormatan, kejujuran, dan keadilan.

3. Obat-obat terlarang dan alkohol dilarang digunakan di tempat kerja.

4. Mengatur keuangan pribadi dengan baik.

5. Menunjukkan kehadiran dan ketepatan yang baik.

6. Mengikuti arahan penyelia.

7. Tidak menggunakan kata-kata kasar

8. Berpakaian yang layak.

9. Senjata api dilarang di tempat kerja.

Kelompok 2. Jangan Melakukan Hal yang Melanggar Hukum atau Tidak


Layak yang Akan Membahayakan Organisasi

1. Melakukan bisnis yang mematuhi semua hukum.

2. Melarang pembayaran untuk tujuan yang melanggar hukum.

3. Melarang penyuapan.
4. Menghindari aktivitas dari luar yang menyebabkan pekerjaan tidak terlaksana
dengan baik.

5. Menjaga kerahasiaan catatan.

6. Mematuhi semua peraturan antitrust dan perdagangan.

7. Mematuhi semua aturan dan kendali akunting.

8. Tidak menggunakan barang kantor untuk keperluan pribadi.

9. Karyawan bertanggung jawab secara pribadi atas dana perusahaan.

10. Tidak menggembar-gemborkan informasi salah atau palsu.

11. Membuat keputusan tanpa menghiraukan kepentingan pribadi.

Kelompok 3. Berlakulah Baik kepada Pelanggan

1. Berikan klaim yang benar pada iklan produk.

2. Melakukan tugas dengan baik sesuai dengan ketentuan.

3. Menyediakan produk dan layanan pada kualitas tertinggi.

Kode etik harus cukup spesifik untuk menunjukkan kepada karyawan


tentang semangat bahwa mereka harus melakukan hal yang benar, tetapi cukup
longgar untuk memungkinkan kebebasan penilaian. Sebuah survey terhadap kode
etik perusahaan dibagi menjadii tiga seperti yang dituliskan diatas. Sayangnya,
kode etik tidak terlihat bekerja dengan baik.

Apakah kode etik tidak seharusnya dikembangkan? Tidak. Namun, dalam


pelaksanaannya, para manajer harus menggunakan saran-saran berikut ini.

1. Pemimpin organisasi harus memberi contoh yang baik tentang perilaku dan
memberi imbalan bagi mereka yang bertindak etis.
2. Semua manajer harus senantiasa meneguhkan pentingnya kode etik dan secara
konsisten mendisiplinkan mereka yang melanggar.

3. Para pemangku kepentingan perusahaan (karyawan, pelanggan, dan yang lain)


harus turut dipertimbangkan pada saat kode etik dikembangkan atau ditingkatkan.

4. Para manajer harus mengomunikasikan dan menegakkan kode etik secara


teratur.

5. Manajer harus menggunakan langkah untuk memandu karyawan pada saat


menghadapi dilema etika yaitu :

 Apa yang menjadi dilema etika?


 Siapa saja pemangku kepentingan yang berpengaruh?
 Faktor-faktor pribadi, organisasi, dan eksternal mana yang penting dalam
keputusan ini?
 Alternatif-alternatif apa yang mungkin?
 Apa yang menjadi keputusan saya dan bagaimana saya melakukannya?

Kepemimpinan Manajemen Tingkat Atas

Melakukan bisnis secara berkala membutuhkan komitmen dari para


manajer tingkat atas. Mengapa? Karena merekalah yang berdiri menyangga nilai-
nilai bersama tingkah laku walaupun apa yang mereka lakukan jauh lebih penting
daripada apa yang mereka katakan. Bila manajer tingkat atas menggunakan
sumber daya perusahaan untuk kepentingan pribadi, menggelembungkan akun
pengeluaran mereka, atau memberikan pelayanan khusus kepada teman, mereka
menyatakan bahwa tindakan seperti itu dapat diterima bagi semua karyawan.

Manajer tingkat atas juga memberi dorongan dengan praktik penghargaan


dan hukuman sanksi. Pilihan siapa dan apa yang akan diberi hadiah dengan
kenaikan gaji dan promosi memberikan syarat yang kuat bagi karyawan. Ketika
seorang karyawan melakukan hal yang tidak etis, manajer harus menghukum sang
pelanggar dan mempublikasikan fakta bahwa hasilnya dapat dilihat oleh semua
orang di dalam organisasi. Praktik ini memberikan pesan bahwa melakukan hal
yang salah ada ganjarannya, dan bukan pilihan terbaik bagi karyawan untuk
bertindak tak etis.

Tujuan Pekerjaan dan Penilaian Kinerja

Di bawah tekanan tujuan yang tidak realistis, karyawan yang seharusnya


mempunyai etika mungkin merasa bahwa mereka tidak mempunyai pilihan
kecuali melakukan apa yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tersebut. Selain
itu, pencapaian tujuan biasanya merupakan hal penting dalam penilaian kinerja.
Bila penilaian kinerja berfokus hanya kepada tujuan ekonomis, hasil akhir akan
mulai membenarkan caranya. Untuk mendorong perilaku etis, baik hasil akhir
maupun caranya harus dievaluasi.

Pelatihan Etika

Banyak organisasi yang mengadakan seminar, lokakarya, dan program


pelatihan etika sejenis untuk mendorong perilaku etis. Para kritikus menekankan
bahwa usaha ini tidak berguna karena masyarakat menekankan sistem nilai
perorangan mereka sendiri saat mereka masih muda. Meskipun demikian,
pendapat yang bertentangan menyatakan bahwa beberapa studi telah
memperlihatkan bahwa nilai dapat dipelajari setelah masa awal kanak-kanak.
Selanjutnya, mereka menyajikan bukti yang memperlihatkan bahwa mengajarkan
penyelesaian masalah etika dapat memberikan moral seseorang dan meningkatkan
kesadaran isu etika dalam bisnis.