Anda di halaman 1dari 44

Kegiatan Belajar 3 : PROSEDUR PENGELASAN

SMAW (Shielded Metal Arc Welding)

1. SMAW posisi 1F

Objective : untuk meningkatkan ketrampilan untuk pengelasan tee joint dan melakukan
praktek yang hasilnya diukur dengan standar yang dapat diterima.

1. Mensetting mesin

Polarity : DC elektrode positif (reserve polarity)

Setting Arus : 100 – 110 Ampere

2. Posisi benda kerja dan Tack Weld

Plat Benda kerja diletakkan pada meja

Dan posisi tack weld pada ujung sambungan

3. Pengelasan

Menggunakan teknik whip dan pause motion dan

juga mengelas dengan teknik one bead on short side

- Profile hasil las seharusnya datar/ flat slighty convex


- Ukuran lebar las seharusnya ¼ inch – 1/32 inch(6,4 – 8)

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

1
2. SMAW posisi 2F

Objective : untuk meningkatkan ketrampilan untuk pengelasan tee joint dan melakukan
praktek yang hasilnya diukur dengan standar yang dapat diterima.

1. Mensetting mesin

Polarity : DC elektrode positif (reserve polarity)

Setting Arus : 120 – 130 Ampere

2. Posisi benda kerja dan Tack Weld

Plat Benda kerja diletakkan pada meja

Dan posisi tack weld pada ujung sambungan

3. Pengelasan

Menggunakan teknik whip dan pause motion dan

juga mengelas dengan teknik one bead on short side

- Profile hasil las seharusnya datar/ flat slighty convex


- Ukuran lebar las seharusnya ¼ inch – 1/32 inch
(6,4 – 8)

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

2
3. SMAW posisi 3F

Objective : untuk mengajarkan metode manipulasi elektrode yang tepat untuk membuat
sambungan multipass las fillet menggunakan teknik ayunan setengah lingkaran

1. Mensetting mesin

Polarity : DC elektrode positif (reserve polarity)

Setting Arus : 100 – 110 Ampere

2. Posisi benda kerja dan Tack Weld

Plat Benda kerja digantung pada meja

Dan posisi tack weld masing-masing ujung sambungan

Jepit benda kerja menggantung

3. Pengelasan

Deposit pada jalur awal

(Hobart School of Welding Technology, 1977)


 Posisi elektroda dengan sudut 40°-45° work angle dan 5°-10° drag travel angle
 Mengelas upward dengan slight up and down gerakan whipping. Berhenti pada
Titik dot sampai mengisi sambungan. Gerakkan elektrode ke atas satu diameter
dan ke bawah ½ diameter.

3
 Gunakan arus yang cukup untuk menyalakan nyala api
 Tahan jarak nyala api (satu diameter elektroda) ketika depositing logam
 Jangan Overfill joint
 Jangan meningkatkan sudut elektrode ketika travel upward atau mengelas
menjadi lebih dekat atau lebih jauh dari jarak normal.

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

4
4. SMAW posisi 4F

Objective : memberikan pelatihan mengelas Tee Joint pada posisi overhead

1. Mensetting mesin

Polarity : DC elektrode positif (reserve polarity)

Setting Arus : 100 – 110 Ampere

2. Posisi benda kerja dan Tack Weld

Dan posisi tack weld masing-masing ujung sambungan

Clam benda kerja pada overhead kira-kira 6 inch (152,4)

di atas kepala welder

3. Pengelasan

Deposit jalur las bead

 Posisi elektrode 45° work angle dan 5°-10° travel angle di drag
 Las dengan teknik slight whip dan gerakan berhenti sebentar (pause movement)
 Jalankan laju las dengan lebar 3/16 inch sampai 1/32 inch (4,8 – 8)
 Gunakan arus las yang cukup untuk mencapai nyala api yang smooth
 Pertahankan jarak busur tidak lebih dari satu diameter elektroda untuk
mendapatkan penetrasi root yang bagus, untuk menghindari undercutting, slag
inclusion dan pinholes/ keyhole

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

5
5. SMAW posisi 1G

Objective : mengajarkan karakteristik yang berbeda dan memanipulasi teknik penggunaan


elektroda dengan yang mengandung serbuk besi yang tinggi .

1. Mensetting mesin

Polarity : DC elektrode positif (reserve polarity) atau AC

Setting Arus : 120 – 130 Ampere

2. Posisi benda kerja dan Tack Weld

Pastikan jarak butt joint tidak lebih dari 1/8 inch (3,2) atau

Kurang dari 3/32 inch (2,4)

3. Pengelasan

Mulai penuhi jalur las

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

6
6. SMAW posisi 2G

Objective : untuk memberikan pelatihan dalam metode yang tepat untuk membuat suara, 100%
penetrasi terbuka bagian root sambungan butt joint

1. Mensetting mesin

Polarity : DC elektrode positif (reserve polarity)- kedua elektrode

Setting Arus : 80 – 85 Ampere untuk Root Pass

80 – 90 Ampere untuk Cover Pass

2. Posisi benda kerja dan Tack Weld

Plat Benda kerja diletakkan pada meja

Dan posisi tack weld menggunakan kawat 3/32 inch (2,4)

Membentuk huruf “U” kawat las yang dikupas

- Deposit ¼ inch (6,4) tack weld pada satu ujung sambungan


- Deposit pada tack weld kedua menggunakan prosedur yang sama
dan ambil kembali kawat tersebut.

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

3. Pengelasan

Penuhi jalur las pertama

7
Dilihat dari sisi welder Dilihat dari sisi akhirnya (end)

 Menggunakan 1/8 inch (3,2) elektrode E6011 untuk root pass


 Posisi elektrode 90° work angle dan 5°-10° drag travel angle

 Pertahankan posisi elektroda dengan mendorong masuk ke dalam sambungan sekitar


1/3 tebal nya material

 Gunakan gerakan slight whipping untuk membantu mengontrol cairan las dan
penetrasi root
 Tahan pada posisi titik atas secukupnya agar terisi penuh logam las square butt joint,
kemudian elektroda di whip lagi.
 Gerakkan pergelangan tangan daripada menggunakan lengan untuk lebih baik dalam
mengontrol gerakan teknik whipping

Catatan : jarak sambungan las jangan terlalu lebar (lebih dari 3/32 inch (2,4) atau terlalu
dekat (kurang dari 1/8 inch (3,2))

 Dinginkan benda kerja pada air setelah melengkapi jalur pengelasan pertama
 Hilangkan semua slag pada jalur las
 Gunakan 1/8 ich (3,2) elektroda E6010 Untuk cover pass
 Berhenti pada sisi atas (Top side) cukup untuk mengisi agar tidak undercut

8
7. SMAW posisi 3G

Objective : meningkatkan ketrampilan dalam prosedur

pengelasan V-groove sambungan butt joint.

praktikkan secara berbeda antara pengelasan

groove posisi vertikal dengan fillet posisi vertikal

1. persiapan bahan :

Buatlah sudut bevel di satu sisi sepanjang 6 inch

Pada masing-masing plat

 Gerinda 1/8 inch (3,2 mm) root face


 Hilangkan/ bersihkan duri yang lancip (burrs) pada
sisi belakang plat

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

2. Setting mesin

Polaritas : Elektroda positif (reserve polarity)

Setting arus : 85 – 110 ampere 1/8 inch (3,2 mm) E6010

85 – 110 ampere 3/32 inch (2,4 mm) E7018

110 – 140 ampere 1/8 inch (3,2 mm) E7018

3. Tack weld material

Posisikan plat pada meja seperti dalam gambar

9
 Atur jarak kedua plat sebesar 1/8 inch (3,2 mm) gunakan wire spacer (kawat
elektroda yang terkupas fluknya dibentuk huruf U)
 Tahan plat agar tidak bergerak secara bersama

Penuhi tack weld pada satu sisi

 Hilangkan kawat satu sisi untuk melanjutkan tack weld yang kedua
 Tahan plat secara bersama untuk menahan diambilnya kawat semuanya.

Penuhi las tack weld pada ujung baliknya

 Hilangkan kawat setelah dipenuhi tack weld semua sisinya


 Hilangkan slag/ terak dari kedua tack weld dan perkuat (reinforce) tack weld sampai
3/8 inch (9,5 mm) pada sisi baliknya
 Jarak sambungan harus 1/8 inch (3,2 mm) dan tampilan root face lurus

4. posisi benda kerja.

Clam benda kerja setinggi dada welder dengan posisi sambungan horisontal. Lihat
gambar

5. Pengelasan

Pengelasan pertama gunakan 1/8 inch (3,2 mm) elektroda E6010

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

10
 Sudut work angle 90° dan travel angle 0°-5° di push (dorong)
 Mulai mengelas dengan melihat cairan las, kemudian cairkan keyhole sebesar
diameter elektroda (termasuk penutup flux)
 Isi kawah las (crater) sampai 3/16 inch (4,8 mm) lebar las nya
 Goyang elektroda ke atas tidak lebih dari 1/8 inch (3,2 mm) dengan panjang busur,
gerakkan elektroda ke bawah ½ diameter elektroda. Isi kawah las lagi. Goyang
elektroda keatas lagi sampai terjadi keyhole lagi.
 Jika nyala busur mati sebelum jalur las sampai selesai, restrike/ whipping (maju
mundur) nyala busur ½ inch (12,8 mm) dibelakang kawah las.

Gerakkan elektroda naik turun untuk memanaskan awal daerah las, kemudian
dorong elektroda sampai kawah las untuk mengisi logam las pada sisi root dan kemudian
melanjutkan mengelas lagi sampai selesai.

Jalur las yang kedua gunakan 3/32 inch (2,4 mm) E7018 elektroda.

 Gunakan gerakan mengayun elektrode berpola Z


 Selalu hilangkan terak sebelum mulai mengelas
jalur berikutnya

Jalur las yang ketiga gunakan 1/8 inch (3,2 mm) E7018 elektroda.

 Gunakan gerakan mengayun elektrode berpola Z


 Dinginkan benda kerja dengan udara. Jangan celupkan benda kerja pada air.

11
8. SMAW posisi 4G

Objective : untuk menghasilkan pengelasan sambungan

Vee Groove yang berkualitas posisi overhead

1. Persiapan bahan :

Buatlah sudut bevel di satu sisi sepanjang 6 inch

Pada masing-masing plat

 Gerinda 1/8 inch (3,2 mm) root face


 Hilangkan/ bersihkan duri yang lancip (burrs) pada
sisi belakang plat

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

2. Setting mesin

Polaritas : Elektroda positif (reserve polarity)

Setting arus : 85 – 110 ampere 1/8 inch (3,2 mm) E6010

85 – 110 ampere 3/32 inch (2,4 mm) E7018

110 – 140 ampere 1/8 inch (3,2 mm) E7018

3. Tack weld material dan posisi pengelasan

Clam benda kerja setelah di tack weld

Posisi overhead seperti pada gambar

 Gunakan sudut work angle 90° terhadap plat dan

Sudut travel angle 5° - 10° di drag.

 Gunakan gerakan mengayun berbentuk huruf Z


 Berhenti sejenak di sisi tepi untuk mengisi cairan las

12
9. SMAW posisi 5G

Bahan Material :

 Tebal kedua ujung dinding pipa mild steel antara


0,237 – 0,322 inch
 Elektroda : 1/8 inch (E6010)
 Pertahankan jarak kawat elektroda pada root face

Peralatan :

 Sumber arus : DC
 Gunakan pelindung tubuh, Gloves dan Helm
 Siapkan palu terak dan sikat baja (wire brush)

Langkah 1 :Persiapan Bahan :

1. Gerinda ujung pipa mengikuti spesifikasi berikut:

Langkah 2 : Mensetting Mesin:

 Polaritas : DC Reverse/ terbalik DCEP/ RP reverse polarity


 Setting Arus : 95 – 130 Ampere

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

13
Langkah 3 :

1. Letakkan satu pipa diatas meja kerja , bentuk seperti huruf V kawat pembuat celah
(spacer wire) secara melintang membentuk sudut V pada pipa. Letakkan pipa yang
kedua diatas kawat pembuat celah. Tandai ujung pipa

2. Las ½ inch sampai ¾ inch panjang tack weld seperti diterangkan dalam gambar berikut:

 Tack weld seharusnya menyatu kedalam root dan sisi kedua sambungan
 Sisi belakang dari root bead seharusnya tidak lebih dari 1/16 inch

3. Ambil kawat pembuat jarak (spacer wire). Letakkan ujung kawat pada sambungan
seperti diterangkan dalam gambar. Berikan tack weld kedua.

4. hilangkan kawat pembuat jarak (spacer wire)

Jika satu sisi jaraknya lebih lebar daripada sisi yang lain, maka berikan tackweld yang
ketiga disisi yang lebar. Penyusutan pada tack weld akan menyamakan jarak. Jika jarak
terlalu lebar untuk di tack weld, maka tapping lah pada meja.

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

14
5. Lakukan tack weld ketiga dan keempat 90° dari tack weld pertama dan kedua

6. Gerinda tack weld sampai ketebalan minimum (1/16 inch) sampai segaris

Membuat ROOT BEAD – Posisi horisontal (5G)

Material : kondisi pipa sudah dilakukan tack weld

Menggunakan elektroda 1/8 inch seri E 6010

Sumber arus : DC

Langkah 1 : mensetting mesin

Polaritas : DC reserve

Setting arus : 100 – 125 ampere

Langkah 2 : atur posisi benda kerja

1). Clam benda kerja diatur tack weld nya pada posisi jam 2, 5, 8 dan 11

 Letakkan sedekat mungkin jarak sambungan pada jam 6 jika memungkinkan

(Hobart School of Welding Technology, 1977)


Langkah 3 : pengelasan

15
1). Jalankan busur las pada sambungan pipa (kecuali pada tack weld) dengan elektrode
posisi diatas pada posisi jam 12

 Tekan elektrode masuk ke dalam sambungan dan sudut elektrode 10°- 15° dari
sudut vetikal (vertikal axis)

(Hobart School of Welding Technology, 1977)


2). Las kearah bawah sampai titik posisi jam 6

 Jaga posisi yang sama sudut elektroda pada waktu pengelasan


 Las pelan-pelan (smoothly)
 Gunakan teknik “dragging” atau “buried arc”, pastikan
elektoda masuk ke dalam sambungan. Keyhole akan
terbentuk dan ikuti terus elektroda pada groove (sudut V)
 Lubang Keyhole kecil akan terlihat pada ujung elektrode waktu pengelasan

 Jika terjadi arc blow, maka goyang elektrode sedikit


 Jika jarak celah terlalu lebar, kurangi arusnya
dan turunkan/ perkecil sudut elektrode.

3). Ketika tidak memungkinkan untuk mengelas utuh dan harus berhenti ditengah jalan,
maka secepat mungkin kibaskan elektrode kearah turun dari kawah las

 Langkah ini untuk mencegah masuknya terak ke campuran logam las yang
belum beku (slag inclusion)

16
 Hilangkan terak (slag) dari kawah las (crater) dan tebal las 2 inch

4) Menyambung Las

 Menyambung maju satu mundur setelah inch kebelakang dari hasil las dan
bergerak mengikuti kawah las dengan sepanjang jalur las. Hal ini mengurangi
kemungkinan terak (slag) atau penetrasi dangkal pada area terak.
 Meneruskan mengelas menggunakan arus normal

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

17
5). Periksa kembali hasil las, pinhole, tampilan las, tinggi rendahnya kontur las

 Root penetration ( sisi belakang) mencapai 1/16 inch

 Jika nyala api las terlalu besar, maka kurangi arusnya perlahan.

Membuat jalur Las Kedua (Hot Pass- horizontal fixed position 5G)

 Bahan : benda kerja pipa yang telah dibuat jalur root beadnya dan sudah
dibersihkan teraknya
 Menggunakan elektrode 1/8 inch E6010

Langkah 1 – mensetting mesin

 Polarity : DC reverse
 Setting arus : 110 – 135 ampere (10 ampere lebih tinggi daripada membuat root
bead)

Langkah 2 : pengelasan

1). Jalankan busur elektrode secara vertikal pada titik jam 12

2) las bergerak turun sampai pukul 6

 Jaga nyala busur pada satu diameter elektroda

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

18
Membuat jalur Las Ketiga (Intermediate horizontal fixed position 5G)

Gunakan arus : 130 -150 ampere

Pengelasan :

1). Jalankan nyala busur las kearah bawah menggunakan sudut elektroda yang sama.

 Pertahankan jarak nyala busur sebesar satu diameter elektrode


 Sudut elektrode 10° - 15° dari posisi vertikal

2). Gunakan gerakan mengayun (weaving) untuk menjalankan cairan las.

 Berhenti sebentar elektrode pada batas tepi jalur las


 Gerakkan ke sisi yang berlawanan ke arah bawah satu turun – setengah ke
samping sebesar diameter elektrode.
 Isi sambungan dengan sampai 1/32 inch tebal nya

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

3). Jika nyala busur elektrode mati sebelum selesai jalur lasnya, bersihkan slag dari jalur
las terakhir, kemudian las kembali pada jalur sebelumnya kemudian gerakkan ke
belakang sampai ke kawah las sambungan.

19
Membuat Cover Bead (horizontal fixed position 5G)

1. Gunakan polaritas : DC reserve

2. setting arus : 130 – 150 ampere

Pengelasan :

1). Gunakan teknik yang sama pada waktu mengelas filler pass dengan menggunakan
teknik Weaving

 Bagian tengah elektroda berhenti sebentar pada


sisi tepi jalur las
 Kecepatan jalan elektroda menghasilkan
1/32 inch sampai 1/16 inch kekuatan las
(bead reinforcement).
 Overlap sambungan tepi 1/16 inch
 Untuk menghindari undercutting dan gas
terjebak untuk mempertahankan nyala busur
yang layak, sudut elektroda, kecepatan pengelasan, gerakan pelan (smoothly)
 Jika genangan las terlalu sulit untuk dicontrol pada titik jam 5 dan jam 7, gunakan
gerakan elektroda semi-melingkar

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

2). Jalankan nyala busur dan ulangi prosedur pengelasan pada kedua logam sambungan

20
10. SMAW posisi 6G

Bahan material : pipa yang sudah dibentuk

Kampuh V dan sudah dibersihkan

Elektroda : 1/8 inch E6010

Sumber arus : DC

Langkah 1 : setting mesin

Polaritas : DC reserve

Setting arus : 95 – 130 ampere

Langkah 2: posisi benda kerja dan tack weld

1). Tack weld sama dengan posisi 5G

2) clam benda kerja pada posisi 45°

seperti pada gambar.

3). Langkah 3 : pengelasan

1. Pembuatan root pass

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

21
 Mulai pada titik jam 12 dan las menurun menggunakan teknik yang sama dengan
job 5G
 Jika lapisan elektrode terbakar tidak merata, maka goyangkan elektroda secara
perlahan dari satu sisi ke sisi lain.

2 Penuhi las lapis/ jalur yang kedua di kedua sisi

 Gunakan setting arus , sudut las dan teknik pengelasan yang sama dengan lapisan
las 5G (hot pass)

3). Penuhi las yang ketiga di kedua sisi

(urutan lapisan las)

 Gunakan prosedur mengelas dengan menggunakan job praktik 5G kecuali posisi


elektroda 10°-15° menuju genangan las dan 25°-30° sudut sisi dari sisi tinggi pada
sambungan.

Posisi sudut elektrode untuk pengelasan

lapisan ketiga dan keempat.

Gunakan gerakan ayun berbentuk

oval pada laju las dan berhenti

pada titik bagian sisi atas pada

sambungan las.

4). Penuhi cover jalur las di kedua sisi


(Hobart School of Welding Technology, 1977)

22
OAW (Oxy Acetylene Welding)

1. OAW- 2F Inside corner joint horizontal position

Objective : meningkatkan ketrampilan untuk menghasilkan pengelasan fillet yang berkualitas


pada posisi horisontal

1. mengatur tekanan gas

Mensetting oksigen : 6 psi

Mensetting acetylene : 6 psi

2. men Tack Weld benda kerja

Posisi dua plat dibentuk cornet joint seperti gambar

 Pada ujungnya harus overlap


 Buat tack weld yang kecil saja pada masing-masing ujung sambungan

Tempatkan benda kerja pada batu bata api posisi horisontal

 Sambungan benda kerja seharusnya tidak berada pada batu bata tahan api / harus
menggantung atau benda kerja tidak akan terkena dampak panas secara langsung

3. Pengelasan cornet joint

Penuhi dengan logam las.

(Hobart School of Welding Technology, 1977)


 Posisi ujung brander 45° work angle dan 35°-40° travel angle
 Posisi bahan tambah berlawanan dengan ujung brander
 Jalankan dengan kecepatan secara perlahan (smoothly) untuk menghasilkan lebar
las 3/8 inch
 Jika terlalu panas, menjalankan las terlalu cepat atau sudut ujung brander terlalu
lambat akan menyebabkan undercutting

23
2. OAW - Single Vee Groove Weld Butt Joint Pipe Welding – 2G Position

Objective : meningkatkan ketrampilan untuk menghasilkan pengelasan single vee groove yang
berkualitas pada posisi 2G

1. Mengatur tekanan gas

Mensetting oksigen : 8 psi

Mensetting acetylene : 8 psi

2. Men-Tack Weld benda kerja

 Atur letak dua sambungan pipa pada jig dengan 1/8 inch root
 Gunakan 1/8 inch bahan tambah untuk menyambung sambungan pipa
 Penuhi logam 4 sisi las ¼ inch sesuai tack weld
 Clam sambungan pipa dengan tackweld posisi jam 12, jam 3, jam 6, dan jam 9

3. Posisi benda kerja

Clam benda kerja sesuai posisi vertikal

 Posisikan benda kerja satu titik tack weld langsung


didepan anda

4. Penuhi sambungan root pass

 Diawali dengan tack weld kemudian jalankan jalur las


secara forehand.
 Posisi torch/ ujung brander sudutnya 80°-85° work angle dan 5°-10° travel angle
 Tahan bahan tambah 45° berlawanan posisinya dengan torch/ ujung brander dan
5° sampai 20° keatas dari posisi horisontal
 Gerakkan torch/ ujung brander sepanjang jalur las, dan tambahkan bahan tambah
metal pada sambungan tepi bagian atas
 Jangan mengikuti keyhole menjadi lebih besar atau cepat meleleh (penetrasi yang
berlebih) akan dihasilkan
 Selesaikan jalur las harus full lasnya dari root pass dan sisi miringnya groove

24
GTAW (Gas Tungsten Arc Welding)

1. GTAW posisi 1F

Objective : untuk mencapai tingkat ketrampilan yang memadai untuk menghasilkan


kualitas las Tee Joint Fillet pada 16 dan 11 gage bahan mild steel posisi horisontal dan vertikal
up

1. Setting mesin :

Arus : DC

Polarity : Elektroda negatif (straight polarity)

Range ampere : 3 – 100

Setting ampere : 50 – 60 (16 gage)

75 – 85 (11 gage)

Pulsation : off

Pengatur arus amperage setting : off

Hot start :4

Post purge : 10 -15 detik

High frequency : auto

High frequency control : 20

Gas flow rate : 20 CFH

Stickout elektode tungsten : 2 – 3 diameter elektroda

2. Posisi material dan tack weld

Posisi dua benda kerja dengan bahan mild steel seri 16

dibentuk tee joint

 Tack weld pada kedua ujungnya


 Posisi material untuk pengelasan
posisi horisontal

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

25
3. Pengelasan Tee Joint pada posisi horisontal

Membuat jalur las

 Posisi torch (brander TIG) dengan sudut 45° work angle dan 10° travel angle, di push/
didorong.

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

 Posisi bahan tambah 20° dari meja dan 20° sudut yang lain
 Luruskan center-kan torch pada bagian tengah sambungan
 Maju mundurkan bahan tambah masuk dan keluar dari genangan cairan las
 Pengaturan panas yang berlebih atau jalannya terlalu lambat akan menyebabkan
concavity (cekung) pada sisi belakang las

 Las sampai akhir seharusnya datar atau sedikit cembung muka hasil lasnya.
 Las lagi di sisi sebaliknya.

26
2. GTAW- 1G (Square Groove Weld, Butt Joint, Flat position with filler metal)

Objective : Menghasilkan pengelasan square groove butt joint yang berkualitas menggunakan
bahan aluminium pada posisi datar.

1. Setting mesin :

Arus : AC

Range ampere : 3 – 300

Setting ampere : 140 – 150

Pulsation : off

Pengatur arus amperage setting : On

Hot start :4

Post purge : 10 -15 detik

High frequency : continuous

High frequency control : 70

Gas flow rate : 20 CFH (cubic feed hour)

Stickout elektode tungsten : 1 – 2 diameter elektroda

2. Posisi material dan tack weld

Posisi dua benda kerja aluminium harus bersih sebelum dibuat sambungan

 Jarak kedua plat 3/32 inch sampai 1/8 inch


pada posisi datar
 Tack weld satu sisi gunakan bahan tambah
 Penuhi tack weld dengan las ¼ inch.
posisi benda kerja datar.

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

27
3. Pengelasan dengan bahan pengisi/ bahan tambah metal

Penuhi jalur las, berkebalikan dengan tack weld

 Tahan posisi Torch (brander TIG) pada sudut 90°


work angle dan 20° travel angle, di push/ dorong
 Tahan bahan tambah pengisi 20° dari meja dengan
sudut samping
 Mulai menyalakan nyala busur dan mulai dengan mengelas 1 ½ inch dimulai dari
samping kiri. Las sambungan sampai akhir. Tack weld pada sebelah kanan
 Cairkan bahan tambah / filler mendahului dari ujung genangan cairan las
 Melelehkan 1/16 inch dari ujung plat

 Mulai dari tack weld ¼ inch dan mengelas sampai 1 ½ inch segmen las
 Tingkatan pengaturan ampere diturunkan dan isi kawah pada ujung las
 Cek kembali jalur las dan bentuk jalur las dan bersihkan kotoran las.

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

28
GMAW (Gas Metal Arc Welding)

1. GMAW posisi 2F

Objective : untuk memperoleh ketrampilan menghasilkan pengelasan groove dan tee joint yang
berkualitas pada posisi horisontal

1. Setting mesin :

Polaritas : elektroda positif (reserve polarity)

Setting ampere : 100 – 120

Setting voltase : 19 – 21

Aliran gas : 20 C.F.H.

Diameter kawat elektroda : ¼ - ¾ inch

2. Posisi material dan tack weld

Posisi dua benda kerja plat pada meja kerja posisi butt joint & fillet joint

 Gunakan 1/8 inch kawat penjarak (spacer wire) kedua plat


 Pastikan jarak kedua plat tidak lebih dari 1/8 inch untuk mempertahankan dari
penyusutan pada waktu tack weld
 Ambil kembali kawat penjarak dan tack weld kedua ujung sambungan

3. Pengelasan

 Posisi gun nozzle pada 80°-85° work angle


dan travel angle 5°-10° di drag
 Penuhi sambungan las dan lebar jalur las
5/16 inch

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

29
4. pengelasan Tee Joint

Penuhi las jalur pertama, lihat gambar

 Posisi gun nozzle : 45° work angle

dan travel angle 5°- 10° di drag

 Gunakan gerakan diayun


(weaving motion)
 Jaga kesamaan dimensi / tebal las
 Jaga dan perhatikan ujung kawah cairan las untuk menghindari sambungan las
yang tidak komplit
 Gunakan gerakan berbentuk Oval

Untuk sambungan kedua

 Work angle 55° dan travel angle 5°- 10° di drag


 Jalur las kedua harus menindih ½ jalur las sebelumnya

Sambungan ketiga :

 Work angle 35° dan travel angle 5°- 10° di drag


 Jalur las kedua harus menindih 1/3 jalur las sebelumnya

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

30
2. GMAW posisi 3G

Objective : untuk memperoleh ketrampilan menghasilkan pengelasan sambungan Vee Groove


pada plat setelabl 3/8 inch posisi vertikal

1. persiapan material :

Buat kampuh V disetiap plat

 Gerinda 1/16 inch untuk root facenya


 Hilangkan duri/ kotoran terak dibagian rootnya

2. Setting mesin :

Polaritas : elektroda positif (reserve polarity)

Setting ampere : 130 – 150

Setting voltase : 20 – 22

Aliran gas : 20 C.F.H.

Diameter kawat elektroda : ¼ - 3/8 inch

3. Posisi material dan tack weld

Posisi dua benda kerja plat pada meja kerja posisi butt joint & fillet joint

 Gunakan 3/32 inch kawat penjarak (spacer wire) kedua plat dibentuk huruf U
 Pastikan jarak kedua plat tidak lebih dari 3/32 inch untuk mempertahankan dari
penyusutan pada waktu tack weld
 Ambil kembali kawat penjarak dan tack weld kedua ujung sambungan

(Hobart School of Welding Technology, 1977)

31
4. Pengelasan dan penempatan benda kerja

Klam benda kerja posisi vertikal.

Penuhi las jalur pertama, lihat gambar

 Lakukan pengelasan dengan pelan (smoothly) dan lengkapi jalur las pada root
 Jaga dan perhatikan ujung kawah cairan las

Untuk sambungan kedua dan ketiga

 Gunakan sudut gun nozzle yang sama dengan pengelasan pertama


 Gunakan teknik gerakan mengayun (weaving) dan berhenti (pause) sesaat di sisi
tepi setiap jalur las
 Jaga kecepatan jalan pengelasan dan pastikan terisi penuh dan dengan jarak 1/16
inch ketinggian las pada permukaan atas
 Jaga dan perhatikan ujung kawah cairan las

32
PENGELASAN KOMBO

1. Pengelasan kombo antara las TIG (Root Pass) dengan SMAW (Filler & Cover Pass)
posisi Downhand

Objective : Menghasilkan pengelasan square groove butt joint yang berkualitas menggunakan
bahan aluminium pada posisi datar.

Pembuatan Root Pass (Menggunakan Proses TIG/ GTAW)

1. Setting mesin :

Arus : AC

Range ampere : 3 – 300

Setting ampere : 140 – 150

Pulsation : off

Pengatur arus amperage setting : On

Hot start : 4

Post purge : 10 -15 detik

High frequency : continuous

High frequency control : 70

Gas flow rate : 20 CFH (cubic feed hour)

Stickout elektode tungsten : 1 – 2 diameter elektroda

2. Posisi material dan tack weld

Posisi dua benda kerja aluminium harus bersih sebelum dibuat sambungan

 Jarak kedua plat 3/32 inch sampai 1/8 inch


pada posisi datar
 Tack weld satu sisi gunakan bahan tambah
 Penuhi tack weld dengan las ¼ inch.
posisi benda kerja datar.

33
3. Pengelasan dengan bahan pengisi/ bahan tambah metal

Penuhi jalur las, berkebalikan dengan tack weld

 Tahan posisi Torch (brander TIG) pada sudut 90°


work angle dan 20° travel angle, di push/ dorong
 Tahan bahan tambah pengisi 20° dari meja
dengan sudut samping
 Mulai menyalakan nyala busur dan mulai dengan mengelas 1 ½ inch dimulai dari
samping kiri. Las sambungan sampai akhir. Tack weld pada sebelah kanan
 Cairkan bahan tambah / filler mendahului dari ujung genangan cairan las
 Melelehkan 1/16 inch dari ujung plat

 Mulai dari tack weld ¼ inch dan mengelas sampai 1 ½ inch segmen las
 Tingkatan pengaturan ampere diturunkan dan isi kawah pada ujung las
 Cek kembali jalur las dan bentuk jalur las dan bersihkan kotoran las.

Pembuatan Filler & Cover Pass (Menggunakan Proses SMAW)

Pengelasan pertama gunakan 1/8 inch (3,2 mm) elektroda E6010

 Sudut work angle 90° dan travel angle 0°-5° di push (dorong)
 Mulai mengelas dengan melihat cairan las, kemudian cairkan keyhole sebesar
diameter elektroda (termasuk penutup flux)
 Isi kawah las (crater) sampai 3/16 inch (4,8 mm) lebar las nya
 Goyang elektroda ke atas tidak lebih dari 1/8 inch (3,2 mm) dengan panjang busur,
gerakkan elektroda ke bawah ½ diameter elektroda. Isi kawah las lagi. Goyang
elektroda keatas lagi sampai terjadi keyhole lagi.
 Jika nyala busur mati sebelum jalur las sampai selesai, restrike/ whipping (maju
mundur) nyala busur ½ inch (12,8 mm) dibelakang kawah las.

34
Gerakkan elektroda ke kanan dan ke kiri untuk memanaskan awal daerah las,
kemudian dorong elektroda sampai kawah las untuk mengisi logam las pada sisi root dan
kemudian melanjutkan mengelas lagi sampai selesai.

Jalur las yang kedua gunakan 3/32 inch (2,4 mm) E7018 elektroda.

 Gunakan gerakan mengayun elektrode berpola Z atau U


 Selalu hilangkan terak sebelum mulai mengelas
jalur berikutnya

Jalur las yang ketiga gunakan 1/8 inch (3,2 mm) E7018 elektroda.

 Gunakan gerakan mengayun elektrode berpola Z atau U


 Dinginkan benda kerja dengan udara. Jangan celupkan benda kerja pada air.

35
2. Pengelasan kombo antara las GMAW (Root Pass) dengan las SMAW (Filler & Cover
Pass) pada Pipa

Pembuatan Root Pass menggunakan GMAW

1. Bahan dan Peralatan :

 Persiapan sambungan kedua pipa posisi V groove seperti pada praktik 5G siap dilas
yang sudah di tack weld
 Gunakan elektroda : HB 18, diameter 0,035 inch
 Peralatan yang digunakan sama seperti praktik 5G

2. Setting mesin & persiapan bahan:

 Sama seperti praktik 5G

3. Posisi benda kerja :

 Clam benda kerja untuk mengepaskan posisi tack weld posisi jam 3, 6, 9 dan 12

4. Pengelasan pembuatan jalur Root

 Pengelasan dimulai posisi jam 12. Sudut gun 45° - 55° dari garis vertikal.

36
 Posisikan nyala busur pada tack weld dan bergeraknya downhill

Gunakan kawat elektroda ¼ inch sampai 3/8 inch

 Jika root lebih lebar daripada 3/32 inch, maka gunakan teknik gerakan mengayun satu
atau dua inch pada jalur root.

3). Ketika sangat perlu untuk berhenti sebelum jalur las selesai mencapai posisi jam 6,
maka hentikan pengelasan pada tack weld jika memungkinkan.

 Ketika pengelasan berhenti di luar sambungan,


maka gerakkan jalur las ¼ inch sampai 3/8 inch
pada sudut pipa (pipe bevel).

 Jika jalur las berhenti diluar


sambungan, maka seharusnya diakhir
jalur las di gerinda dahulu sebelum
melanjutkan pengelasan berikutnya.

 Untuk memulai kembali maka nyalakan


busur nyala api ¼ inch di depan sambungan
dan tarik bererak ke belakang menuju sambungan las untuk melanjutkan mengelas

37
4). Ketika jalur sambungan yang pertama sudah jadi, ulangi untuk sambungan yang
kedua dengan prosedur pengelasan yang sama

5). Periksa hasil las dari penetrasi hasil las, pinholes dan kontur las an.

Pembuatan Filler dan Cover Pass menggunakan SMAW

Membuat jalur Las Kedua (Hot Pass- horizontal fixed position 5G)

 Bahan : benda kerja pipa yang telah dibuat jalur root beadnya dan sudah
dibersihkan teraknya
 Menggunakan elektrode 1/8 inch E6010

Langkah 1 – mensetting mesin

 Polarity : DC reverse
 Setting arus : 110 – 135 ampere (10 ampere lebih tinggi daripada membuat root
bead)

Langkah 2 : pengelasan

1). Jalankan busur elektrode secara vertikal pada titik jam 12

2) las bergerak turun sampai pukul 6

 Jaga nyala busur pada satu diameter elektroda

38
Membuat jalur Las Ketiga (Intermediate horizontal fixed position 5G)

Gunakan arus : 130 -150 ampere

Pengelasan :

1). Jalankan nyala busur las kearah bawah menggunakan sudut elektroda yang sama.

 Pertahankan jarak nyala busur sebesar satu diameter elektrode


 Sudut elektrode 10° - 15° dari posisi vertikal

2). Gunakan gerakan mengayun (weaving) untuk menjalankan cairan las.

 Berhenti sebentar elektrode pada batas tepi jalur las


 Gerakkan ke sisi yang berlawanan ke arah bawah satu turun – setengah ke
samping sebesar diameter elektrode.
 Isi sambungan dengan sampai 1/32 inch tebal nya

3). Jika nyala busur elektrode mati sebelum selesai jalur lasnya, bersihkan slag dari jalur
las terakhir, kemudian las kembali pada jalur sebelumnya kemudian gerakkan ke
belakang sampai ke kawah las sambungan.

39
Membuat Cover Bead (horizontal fixed position 5G)

 Gunakan polaritas : DC reserve


 setting arus : 130 – 150 ampere

Pengelasan :

1). Gunakan teknik yang sama pada waktu mengelas filler pass dengan menggunakan
teknik Weaving

 Bagian tengah elektroda berhenti sebentar pada


sisi tepi jalur las
 Kecepatan jalan elektroda menghasilkan
1/32 inch sampai 1/16 inch kekuatan las
(bead reinforcement).
 Overlap sambungan tepi 1/16 inch
 Untuk menghindari undercutting dan gas
terjebak untuk mempertahankan nyala busur
yang layak, sudut elektroda, kecepatan pengelasan, gerakan pelan (smoothly)
 Jika genangan las terlalu sulit untuk dicontrol pada titik jam 5 dan jam 7, gunakan
gerakan elektroda semi-melingkar

2). Jalankan nyala busur dan ulangi prosedur pengelasan pada kedua logam sambungan

40
3

41
DAFTAR PUSTAKA

American Welding Society (AWS) D1 committee on structural welding, (2008). Structural Welding
Code-steel 21st Edition. Miami: american welding society.
AWS Committee on Methods of Inspection. 2008. Welding Inspection Handbook. Miami: The
American Welding Society.

AWS. 1978. Welding Handbook Seventh Edition, Volume 2 Welding Provesses Arc and Gas
Welding and Cutting, Brazing, and Soldering. Florida : American Welding Society

Feng, Z., 2005, Processes and mechanisms of welding residual stress and distortion, Woodhead
Publishing Limited, Abington Cambridge, England.

Hobart School of Welding Technology. 1977. Training in basic shielded metal-arc welding : a step
by step explanation of the basic skills required for welding with covered electrodes / Hobart
School of Welding Technology. Troy, Ohio USA : Hobart School of Welding Technology.

Holder R., Larkin, N., Li, H., Kuzmikova, L., and Pan, Z., 2011, Development of a DC-LSND
welding process for GMAW on DH-36 Steel, 56th WTIA Annual Converence 2011.

Huda, S., Waluyo, J., dan Fintoro, T., 2013, Analisa pengaruh variasi arus dan bentuk kampuh
pada pengelasan SMAW terhadap distorsi sudut dan kekuatan tarik sambungan butt-joint
baja AISI 4140, Jurnal Teknologi volume 6, (online, di akses tanggal 25 November 2014)

Ilman, M.N., Muslih, M.R., Subeki, N., Wibowo, H., 2016, Mitigating Distortion and Residual
Stress by Static Thermal Tensioning to Improve Fatigue Crack Growth Performance of MIG
AA5083 Welds, Materials and Design vol. 99, pp. 273–283.

Ilman, M.N., Kusmono, Iswanto, P.T., 2013, Fatique crack growth rate behavior of friction-stir
aluminium alloy AA 2024-T3 welds under transient thermal tensioning, Journal of Material
and Design, pp. 235-243.

Kala, S.R., Siva Prasad, N., and Phanikumar, G., 2014, Studies on multipass welding with trailing
heat sink consideringphase transformation, Journal of Materials Processing Technology,
vol 214, p : 1228-1235

Kennedy A Gower (1982). Welding Technology. 2nd Edition. Indianapolis, USA: Bobbs_Merrill
Educational Publishing.

42
Konang, A., 2009, Pengaruh variasi tebal pelat dan besar arus listrik terhadap distorsi pada
pengelasan multilayer proses GMAW dengan menggunakan transfer spray, Proceeding
Seminar Pascasarjana, PPs, ITS, Surabaya.

Radaj, D., 1992, Heat Effects of Welding : Temperature field, Residual Stress and Distortion,
Springer, Verlag-Berlin.

Souto, J., Ares, E., Alegre, P., Procedure in Reduction of Distortion in Welding Process by High
Temperature Thermal Transient Tensioning, Procedia Engineering vol. 132, pp. 732–739.

Spooner, S., David, S.A., Wang, X.L., Hubbard, C.R., Holden, T.M., and Root, J.H., 2008, Effect
of vibratory stress relief during welding of thick stainless steel plate, International journal of
Engineering Science and Technology.

Spooner, S., David, S.A., Wang, X.L., Hubbard, C.R., Holden, T.M., and Root, J.H., 2008, Effect
of vibratory stress relief during welding of thick stainless steel plate, International journal of
Engineering Science and Technology.

Subeki, N., Ilman, M.N., Iswanto, P.T., 2017, The Effect of Heating Temperature in Static Thermal
Tensioning ( STT ) Welding on Mechanical Properties and Fatigue Crack Propagation Rate
of FCAW in Steel A 36, International Conference on Eng. Sci. and Nanotech,30057.

Sudheesh, R.S. and Prasad, N.S., 2014, Parametric studies on effect of trailing liquid nitrogen
heat sink on TIG welding of steels, Edvance material Research, pp. 875-877.

Teng, Liang, T., Fung, C.P., Chang, P.H., and Yang, W.C., 2001, Analysis of residual stresses
and distortions in T-joint fillet welds, International Journal of Pressure Vessels and piping,
no. 78, pp. 523-538.

Triyono, Sukanto, H., Muhayat, M., dan Sutiyono, 2014, Effect of Stretching during Welding
Process on the Weldability of Dissimillar Metals Resistance Spot Welded between Carbon
Steel and Low Nickel Stainless Steel, Advanced Materials Research Journal, vol 894, pp.
206-211.
TWI, (2006). Introduction of Welding Processes. Cambridge: The Welding Intitute Ltd.

TWI (2006). Welding Inspection. Inggris: TWI Training & Examination Services

Winarto. (2010). Welding andJoiningTechnologies. Tokyo: the Japan WeldingSociety 1-1,


KandaSakuma-cho.

Wiryosumarto, H., dan Okumura, T., 2000, Teknologi Pengelasan Logam, Pradnya Paramita,
Jakarta.

43
Xu, J., 2007, Effect of fibratory weld conditioning on the residual stresses and distortion in
multipass girth-butt welded pipes, International Journal of Pressure Vessels and Piping.

Yoshiki, et al., 2006, Measurement and Numerical Simulation of Angular Distortion of Fillet
Welded T-joint, Japan Welding Society vol.24, No. 4(20061105), pp. 312-323.

44