Anda di halaman 1dari 21

TUGAS MATA KULIAH MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN

DEPOSISI NUTRISI PADA IKAN KAKAP PUTIH


(Lates calcarifer)

Dosen Pengampu :
Dr. Vivi Endar Herawati, S.Pi., M.Si.
NIP. 19810623 200312 2 010

Kelompok 2
Rini Listianti 26010216120006
Ozan Faozi 26010216120014
Thesa Kumala Ningrum 26010216120016
Febri Puji Fitriani 26010216120020
Endar Agung Kusuma 26010216120036
Nadilla Ramadhanti 26010216140043

DEPARTEMEN AKUAKULTUR
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Pemanfaatan perairan laut dan pantai serta sumberdayanya untuk kegiatan
budidaya ikan telah lama dikembangkan dan terus ditingkatkan. Salah satu
pemanfaatan perairan laut pantai yang menjanjikan prospek yang bagus adalah
budidaya ikan kakap putih. Ikan kakap putih merupakan salah satu jenis ikan yang
mempunyai nilai ekonomis penting dan potensial untuk dibudidayakan karena
cepat pertumbuhannya dan toleran terhadap ruang terbatas dan perubahan
lingkungan. Fungsi utama pakan pada ikan adalah untuk menghasilkan energi
2

yang digunakan untuk menopang pertumbuhan dan perkembangan ikan. Pakan


tersebut bisa diperoleh dari pakan alami maupun pakan buatan. Secara umum,
ikan memanfaatkan protein sebagai sumber energi utama. Oleh karena itu,
komponen utama yang harus tersedia saat membuat pakan buatan adalah protein.
Nutrisi pada tubuh ikan harus terpenuhi untuk menunjang kehidupan dari ikan
tersebut. Hal ini dinyatakan oleh Nurmasyitah et. al. (2018), nilai nutrisi dalam
pakan merupakan unsur penting yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan,
perkembangbiakan dan pemeliharaan kesehatan tubuh.
Kakap putih (Lates calcarifer) merupakan salah satu jenis ikan yang banyak
disukai masyarakat dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Peningkatan
permintaan akan jenis ikan ini harus segera diimbangi dengan upaya budidaya.
Salah satu faktor yang cukup penting dalam melaksanakan budidaya adalah
"benih ikan". Ketersediaan benih dalam kualitas yang baik dan dengan kuantitas
yang cukup akan membawa kegiatan budidaya kakap putih berhasil. Kegiatan
budidaya ikan kakap putih dapat dilakukan ditambak maupun dalam karamba
jaring terapung di laut. Sampai saat ini usaha budidaya kakap putih di tambak
sudah bukan merupakan teknologi baru. Ikan kakap putih (Lates calcarifer)
merupakan salah satu ikan laut yang mempunyai nilai ekonomis penting serta
mengandung nilai gizi yang tinggi sebagai ikan konsumsi.Tahapan budidaya ikan
kakap terdiri dari pemijahan, pembenihan dan pembesaran. Tahap pembenihan
ikan kakap banyak terdapat kendala salah satunya rendahnya nilai tingkat
kelangsungan hidup (Nurmasyitah et al.,2018).
Keberhasilan usaha budidaya kakap putih ditentukan oleh beberapa faktor
seperti kualitas benih, pakan, dan kualitas perairan (kondisi lingkungan).
Keberhasilan dalam kegiatan budidaya ini dapat mendukung kegiatan produksi
dari ikan kakap putih itu sendiri. Jumlah produksi yang banyak dalam kegiatan
budidaya dapat mendukung kebutuhan masyarakat. Nilai nutrisi pada ikan juga
dapat ditentukan oleh pakan yang dikonsumsi dari ikan tersebut. Salah satu nutrisi
yang penting dalam ikan yaitu kandungan protein. Menurut Husain et al. 2017
bahwa protein ikan mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi industri ikan,
memperbaiki stabilitas dan fungsional dari produk ikan. Protein ikan dalam
3

bentuk konsentrat telah digunakan sebagai suplementasi bahan pangan berprotein


rendah untuk golongan rawan gizi.

I.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah deposisi nutrisi ikan kaka putih sebagai
berikut:
1. Bagaimana manajemen pemberian pakan pada ikan kakap
2. Bagaimana metabolisme pakan pada ikan kakap
3. Bagaimana deposisi nutrisi pada ikan kakap
4. Bagaimana deposisi protein pada ikan kakap
5. Bagaimana deposisi lemak pada ikan kakap

I.3. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari pembuatan makalah deposisi nutrisi ikan kakap putih
sebagai berikut
1. Mengetahui manajemen pemberian pakan pada ikan kakap
2. Mengetahui metabolisme pakan pada ikan kakap
3. Mengetahui deposisi nutrisi ikan kakap
4. Mengetahui deposisi protein pada ikan kakap
5. Mengetahui deposisi lemak pada ikan kakap

II.TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Klasifikasi
Berikut ini adalah klasifikasi dari Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch)
yang dikelompokkan dalam klasifikasi taksonomi sebagai berikut (FAO, 2007
dalam Garbono, 2017):
Phillum : Chordata
Sub phillum : Vertebrata
Klas : Pisces
4

Subclas : Taleostei
Ordo : Percomorphi
Famili : Centroponidae
Genus : Lates
Species : Lates calcarifer (Bloch)
II.2. Morfologi

Sumber : Garbono (2017)


Ciri-ciri khusus yang dapat kita lihat secara kasat mata yang terdapat pada
ikan kakap putih adalah badan memajang , gepeng, batang sirip ekor lebar, kepala
lancip dengan bagian atas cekung, cembung didepan sirip punggung. Memiliki
mulut lebar, gigi halus dan bagian bawah preoporculum berduri kuat. Operculum
mempunyai duri kecil, cuping bergerigi diatas pangkal gurat sisi. Sirip punggung
berjari- jari keras 7-9 dan 10-11 jari jari lemah. Sirip dada pendek dan membulat.
Sirip punggung dan sirip dubur mempunyai lapisan bersisik. Sirip dubur
bulat,berjari keras 3 dan berjari lemah 7 – 8. Sirip ekor bulat. Sisik bertipe sisir
besar. Tubuh berwarna dibagian sisik dan perut berwarna keperakan. Ikan dewasa
berwarna kehijauan atau keabu – abuan pada bagian atas dan keperakan pada
bagian bawah (Razi,2013).
Kepala menjorong, dengan profil dorsal yang cekung menjadi cembung di
depan sayap dorsal. Mulut besar, rahang atas panjang hingga mencapai belakang
mata: gigivilliform, tidak dijumpai gigi canine. Warna dasar tubuh coklat olive di
atas dengan sisi samping. Ikan Kakap Putih yang hidup di lingkungan perairan
laut dan air payau memiliki warna perut keperakan dan coklat emas (biasanya saat
masih muda (Garbono, 2017).
5

2.3. Kebiasaan Makan


Pakan yang biasa diberikan dalam pembesaran ikan kakap putih adalah ikan
rucah (trash fish) dalam bentuk segar, seperti ikan lemuru, selar dan tamban. Jenis
ikan ini mengandung protein tinggi dan kadar lemaknya rendah. Beberapa daerah
di Indonesia barramundi dikenal oleh beberapa orang nama-nama seperti jelas,
peta, cabek, cabik (Jawa Tengah dan Jawa Timur), pangkat tekong (Madura),
talungtar, pica-pica, kaca (Sulawesi). Ikan kakap putih milik keluarga
Centroponidae. Faktor yang mempengaruhi jumlah populasi ikan adalah
ketersediaan makanan di perairan tempat hidupnya. Kebiasaan makan ikan kakap
mengacu kepada struktur anatomi ikan, maka ikan kakap tergolong karnivora.
Hal ini dicirikan dengan tapis insang sedikit, pendek, kaku dan jarang, rongga
mulut bergigi kuat dan tajam, lambung berbentuk tabung, dan ususnya pendek
(Ridho dan Patriono, 2016).
Ikan kakap sebagai salah satu ikan karnivora yang dibudidayakan perlu
diberikan pakan yang memiliki nilai kandungan protein yang tinggi. Masalahnya
jenis pakan yang sesuai untuk kecepatan pertumbuhan benih ikan kakap putih
belum ditemukan. Kegiatan budidaya diperlukan kondisi perairan yang baik dan
ketersediaan pakan alami yang cukup untuk kebutuhan nilai proteinnya
mendukung keberhasilan pembesaran ikan kakap dalam proses. Akhir-akhir ini
para pembudidaya yang memelihara ikan kakap putih mengandalkan pakan alami
yang ada di dalam tambak. Hal ini kurang efesien dikarenakan apabila pakan
alami tersebut habis maka masalah yang terjadi yaitu pertumbuhan ikan kakap
putih akan menurun (Sahputra et al., 2017).
II.3. Habitat
Kakap putih/barramundi (L. calcarifer) adalah ikan yang memiliki toleransi
cukup besar ke salinitas (euryhaline) dan ikan katadromous (dibesarkan di air
tawar dan air laut kawin). Bahkan kakap putih bisa masuk kesungai smpai jauh ke
selatan sungai berkilo-kilo meter sejauh mana salitas air masih sedikit asin
(salinitas rendah) mendekati tawar . Hal ini dikarenakan saat bertelur atau
menetaskan telur kakap putih membutuhkan salitas air yang rendah agar anak
yang ditetaskan bisas bertahan hidup smpai saatnya anak kakap putih tersebut
kembali lagi ke air bersalitas yang lebih tinggi ke muara atau ke pantai. Saat
6

berusia dibawah 2 kg kakap putih masih bisa sebagai jantan atau betina. Saat usia
diatas 2 kg barulah kelamin kakap putih sudah permanen jadi jantan atau betina.
Ikan kakap merupakan salah satu jenis ikan demersal yang hidup berkelompok di
daerah terumbu karang atau perairan dengan dasar yang rata pada kedalaman 10-
100. Daerah persebaran ikan kakap mencapai seluruh wilayah tropis, seperti di
sebelah barat Samudera Pasifik, sebelah timur Samudera Hindia, Caledonia Baru
dan Pulau Gilbert hingga ke selatan India dan perairan Jepang. Ikan kakap
menjadi salah satu ikan komersial paling penting di laut tropis dan subtropis. Ikan
kakap putih hidup diperairan tawar selama kurang lebih 2-3 tahun seperti sungai
dan danau yang berhubungan langsung dengan laut. Ikan kakap putih dewasa
yang berumur 3 – 4 tahun biasanya beruaya kemuara sungai, danau atau laguna
yang mempunyai salinitas 30 – 32ppt untuk pematangan kelamin kemudian
memijah secara alami. Pemijahan biasanya terjadi pada akhir musim panas dan
awal musim hujan (Oktaviani dan Kurniawan, 2017).
Sebagai ikan demersal ikan kakap memiliki aktivitas gerak relatif jauh
membentuk gerombol yang relatif tidak terlalu besar, bermigrasi jauh, dan
mempunyai daur hidup yang stabil dikarenakan habitat didasar laut relatif stabil.
Sifat yang demikian menyebabkan ikan ini rawan terhadap berbagai pengaruh,
baik lingkungan perairan maupun ekspolitas (Husen et al., 2016).
Kelompok ikan kakap umumnya hidup di perairan dengan substrat dasar
sedikit berkarang, pada ke dalaman antara 40–100 m, sedangkan ikan-ikan muda
didapatkan di daerah hutan bakau, rumput laut, dan karang-karang dangkal
Kelompok ikan ini pada umumnya menempati wilayah perairan dengan substrat
sedikit berkarang dan banyak tertangkap pada ke dalaman antara 40–70 m
terutama untuk yang berukuran besar, ikan muda yang masih berukuran kecil
biasa menempati daerah hutan bakau yang dangkal atau daerah-daerah yang
banyak ditumbuhi oleh rumput laut (Suastika et al, 2011).
2.6. Fisiologi
Secara fisiologi ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch) atau barramundi
adalah ikan yang mempunyai sifat toleransi yang tinggi terhadap kadar garam
(euryhaline) dan merupakan jenis ikan yang hidup di sungai kemudian bermigrasi
ke laut atau air payau untuk memijah (katadromous). Ikan Kakap Putih tersebar
7

luas di wilayah tropis dan sub tropis Pasifik Barat dan Lautan Hindia, di antara
50°E - 160°W, 24°N - 25°S. Secara khusus Kakap Putih tersebar pada bagian
Utara Asia, Utara Australia, Barat hingga Timur Africa (Garbono, 2017).
Umumnya ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch) adalah ikan liar yang
hidup di laut. Kakap putih saat ini sudah banyak dibudidayakan, teknik
pembenihannya juga saat ini sudah sepenuhnya dikuasai sehingga distribusi benih
untuk budidaya sudah cukup banyak. Habitat yang sangat luas Ikan Kakap Putih
(Lates calcarifer Bloch) dapat hidup di daerah laut yang berlumpur, berpasir, serta
di dalam ekosistem mangrove, sehingga dalam budidayanya lebih mudah dengan
tingkat keberhasilan yang cukup bagus (Garbono, 2017).
Analisis kandungan merkuri (Hg) sungai Kobok dan Taolas untuk daging
ikan kakap putih musim panas adalah 0,002 ppm. Kandungan merkuri (Hg) pada
musim hujan untuk hati ikan pada sebesar 0,005 ppm. Hasil analisis kandungan
merkuri (Hg) daging dan hati ikan nilainya berfluktuasi tidak tetep dari musim
panas dan musim hujan hal ini disebabkan karena ikan kakap putih merupakan
ikan yang memiliki kemampuan toleransi yang tinggi terhadap kadar garam
(euryhaline). Selain itu, ikan kakap putih juga termasuk ikan katadromus besar di
air tawar dan kawin di air laut, kisaran toleransi fisiologis ikan kakap putih cukup
luas (Husen et al., 2016).

2.5. Kebutuhan Nutrisi


Nilai nutrisi dalam pakan merupakan unsur penting yang sangat dibutuhkan
dalam pertumbuhan, perkembangbiakan dan pemeliharaan kesehatan tubuh. Pakan
yang cocok dan efesien bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan
kakap putih pada stadia awal adalah rotifera. Hal ini dikarenakan rotifer mudah
dicerna oleh larva ikan kakap dengan ukuran sesuai bukaan mulutnya. Larva ikan
kakap putih pada awal penebaran tidak diberikan pakan hal ini disebabkan karena
larva ikan kakap putih yang baru menetas masih ada cadangan makanan yang
dibawa dari dalam telur yaitu kuning telur. Kandungan kuning telur yang dimiliki
oleh larva ikan kakap tersebut akan bertahan selama ±2 hari (Nurmasyitah et al.,
2018).
8

2.6. Deposisi (Penyerapan) Protein Ikan Kakap


Retensi protein menunjukkan besarnya kontribusi protein yang dikonsumsi
dalam pakan terhadap pertambahan protein tubuh. Nilai retensi protein selain
menggambarkan adanya deposit protein dalam tubuh ikan, juga menggambarkan
protein sparing effect dari lemak dan karbohidrat sebagai penyedia energi untuk
aktivitas sehari-hari. Meningkatnya nilai retensi protein seiring dengan
peningkatan dosis tiroksin pada tiap padat tebar diduga karena adanya peran
hormon terhadap sintesis protein melalui aktivitas mRNA. Dosis yang optimum
pada hewan percobaan yang masih muda dapat meningkatkan pertumbuhan
dengan jalan meningkatkan deposisi protein dan retensi protein. Hormon
pertumbuhan berperan dalam meningkatkan protein tubuh, menggunakan lemak
dari tempat penyimpanannya dan menghemat karbohidrat (Susanti et al., 2016).
2.7. Deposisi Lemak pada Ikan Kakap
Kandungan lemak pada pakan juga tidak kalah penting dengan kandungan
protein pada pakan. Pemanfaatan penyerapan protein oleh jaringan tubuh akan
meningkat secara lebih efisien jika kadar lemak dalam ransum ditingkatkan
sampai batas tertentu. Penggunaan lemak sampai batas tertentu (18%) akan
meningkatkan efisiensi deposisi (penyerapan) protein serta menghemat energi
protein tanpa mempengaruhi pertumbuhan dan komposisi kimia ikan. Kandungan
lemak dalam pakan ikan segar yang sangat tinggi dibandingkan pakan pelet dapat
mempengaruhi performansi pertumbuhan ikan. Kadar lemak yang tinggi dalam
pakan akan menyebabkan penyimpanan lemak pada tubuh, penurunan konsumsi
pakan dan pertumbuhan, serta degenerasi hati (Yudha et al., 2009).
Lemak pakan merupakan sumber energi dan sumber asam lemak esensial
bagi ikan. Sumber dari lemak akan menentukan susunan asam lemak esensialnya.
Pada badan ikan, asam lemak tersebut merupakan salah satu senyawa fosfolipid
membran sel. Lemak, selain sebagai sumber energi juga digunakan untuk struktur
sel, dan mempertahankan integritas pada biomembran. Lebih lanjut dikatakan
bahwa pada beberapa spesies, HUFA dalam pakan induk dapat meningkatkan
fekunditas, fertilisasi, dan kualitas telur. Fosfolipid disusun oleh gliserol, fosfat,
asam lemak esensial, dan non-esensial terutama asam lemak dari kelompok HUFA
(high unsaturated fatty acid) dan PUFA (poly unsaturated fatty acid) berperan
9

penting untuk kegiatan metabolisme, komponen membran, senyawa awal


prostaglandin seperti tromboksan, prostasiklin, dan leukotrin. lemak merupakan
salah satu unsur utama dari komponen pakan induk yang memengaruhi komposisi
telur karena berkaitan dengan pembentukan hormon. Fosfolipid merupakan
bagian dari lipid yang banyak mengandung asam lemak tak jenuh (PUFAs)
(Marzuqi et al., 2015)

III. PEMBAHASAN

3.1. Manajemen Pemberian Pakan pada Ikan Kakap


Pemberian pakan merupakan aspek terpenting dalam usaha budidaya untuk
mengoptimalkan pertumbuhan ikan budidaya. Manfaat dari pemberian pakan
dapat tercapai jika persyaratan pada pakan tersebut terpenuhi, seperti komposisi
nutrisi dan tekstur makanan. Pakan merupakan komponen yang mahal dan penting
dalam usaha budidaya, sehingga pakan yang tidak termanfaatkan dan yang tersisa
akan menjadi hambatan yang besar pada usaha budidaya tersebut. Pakan
diperlukan untuk pertumbuhan, kesehatan ikan, dan untuk peningkatan mutu
produksi Jenis pakan yang diberikan dapat dibedakan menjadi dua sesuai tahapan
10

stadia pertumbuhan ikan kakap yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami
umumnya merupakan mikroorganisme atau jasad renik yang hidup di dalam air,
sedangkan untuk pakan buatan merupakan pakan yang sengaja dibuat dari
beberapa bahan baku. Hal ini dinyatakan oleh Suastika et al (2011), bahwa secara
umum hasil yang diharapkan dalam usaha budi daya adalah produksi yang
tinggi serta mendapatkan serta mendapatkan pertumbuhan yang cepat. Faktor
pakan harus diperhatikan terutama dari segi kualitas, jumlah serta kecukupan
jumlah serta kecukupan nutrisi untuk mendapatkan produksi yang tinggi.
Pakan yang dimanfaatkan oleh ikan terutama untuk pertumbuhan.
Manajemen pemberian pakan pada budidaya ikan kakap sangat penting
dilakukan agar budidaya ikan kakap dapat optimal. Ukuran dan jenis pakan yang
diberikan harus diperhatikan setiap stadia pertumbuhan ikan kakap agar pakan
dapat termanfaatkan secara optimal. Pakan yang diberikan pada larva ikan kakap
berupa pelet bubuk / tepung ataupun pakan alami. Pelet bubuk atau tepung
diberikan dengan cara ditaburkan diatas perairan. Pakan alami yang diberikan
ketika ikan kakap masih larva adalah pakan alami berupa fitoplankton dan
zooplankton. Pakan alami diberikan ketika larva ikan kakap belum mengalami
critical time (fase kuning telur sudah habis) sekitar 2 hari agar survival rate larva
ikan kakap tinggi. Pemberian pakan larva pada ikan kakap dilakukan secara (ad
libittum) yaitu pakan selalu tersedia agar larva ikan kakap sebelum kuning telur
habis sudah ada makanan. Zooplankton yang biasa diberikan pada larva ikan
kakap berupa rotifera karena ukuran dan bentuknya yang mudah dimakan dan
dicerna larva ikan kakap. Rotifera menpunyai keuntungan yaitu mudah dicerna
oleh larva ikan, mempunyai ukuran yang sesuai dengan mulut larva ikan,
mempunyai gerakan yang sangat lambat sehingga mudah ditangkap oleh larva
mudah dikultur secara massal, pertumbuhan dan perkembangannya sangat cepat
dilihat dari siklus hidupnya, tidak menghasilkan racun atau zat lain yang dapat
membahayakan kehidupan larva serta memiliki nilai gizi yang paling baik untuk
pertumbuhan larva.. Menurut Nurmasyitah at al, (2018) bahwa hasil penelitian
terhadap tingkat kelangsungan hidup larva ikan kakap putih yang diberikan pakan
alami yang berbeda menunjukkan bahwa nilia tertinggi terjadi pada perlakuan A
berupa pemberian rotifera dengan nilai rata-rata 72,50%. Berdasarkan penjelasan
11

tersebut menunjukkan bahwa pakan yang cocok dan efesien bagi pertumbuhan
dan kelangsungan hidup larva ikan kakap putih pada stadia awal adalah rotifera.
Pemberian pakan pada pendederan dengan system pemberian pakan hingga
ikan kenyang (ad libitum) yang ditandai dengan ikan sudah tidak memberikan
respon lagi saat diberi pakan pelet. Pemberian pakan pada pendederan yaitu
diberikan untuk benih ikan ukuran 3 - 4 cm, 5 - 7 cm dan 7 - 12 cm. ukuran pelet
yang digunakan sesusai dengan umur dan bukaan mulut ikan kakap agar pelet
dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pertumbuhan ikan kakap. Pelet yang
digunakan memiliki kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ikan kakap.
Pada proses pendederan ikan kakap kandungan nutrisi pelet tidak jauh beda
dengan kandungan pelet yang diberikan pada proses pembesaran.
Pemberian pakan pada pembesaran ikan kakap diberikan pakan berupa pelet
dengan kandungan nutrisi pelet berupa protein sebesar 35% sampai 50%, lemak
sebesar 9% sampai 15% dan serat kasar sebesar 12%. Pelet yang diberikan
mengandung tinggi protein hewani karena ikan kakap merupakan ikan karnivora
yang cenderung pada habitat asalnya memakan ikan yang lebih kecil dan biota
laut lainnya seperti udang. Protein adalah faktor penting yang mempengaruhi
kinerja pertumbuhan ikan. Pembesaran ikan kakap juga diberikan pakan tambahan
berupa ikan rucah untuk menunjang pertumbuhan ikan agar optimal. Hal ini
dinyatakan oleh Yaqin et al, (2018) bahwa protein pakan 37% merupakan protein
pakan yang optimum untuk performa pertumbuhan ikan kakap putih di KJA. Perlu
dilakukan penelitian lanjutan dengan memperbaiki penyusunan formulasi pakan
agar level karbohidrat >25%, lemak >25%, penambahan dosis vitamin C dan
atraktan untuk mengoptimalkan kinerja pertumbuhan seperti pakan komersil.
Ikan kakap putih tergolong dalam ikan jenis karnivora sehingga
membutuhkan protein tinggi untuk energi tubuhnya. Protein pada pakan apabila
diberikan sesuai dengan kebutuhan ikan kakap maka dapat digunakan sebagai
energi untuk pertumbuhan. Protein yang dibutuhkan oleh ikan kakap dapat
diberikan melalui pakan alami maupun pakan buatan yang diberikan selama
kegiatan budidaya ikan kakap. Pakan buatan yang digunakan dapat berupa pellet
dengan kandungan protein berkisar 38-55%. Pakan alami yang biasa diberikan
pada budidaya ikan kakap dapat berupa ikan rucah serta jenis ikan-ikan kecil
12

lainnya. Hal ini dinyatakan oleh Sahputra et. al. (2017), bahwa sebagai salah satu
ikan karnivora ikan kakap yang dibudidayakan perlu diberikan pakan yang
memiliki nilai kandungan protein yang tinggi. Beberapa pakan alami yang dapat
membantu dalam usaha untuk menumbuhkan ikan kakap yaitu pakan alami dari
jenis udang-udangan, keong dan ikan rucah. Pakan alami tersebut memiliki nilai
protein yang tinggi yang mana dapat membantu dalam proses pertumbuhan ikan
kakap putih.
3.2. Energi Pakan untuk Metabolisme Ikan Kakap
Ikan kakap merupakan biota poikiloterm (suhu tubuh dingin) yang berarti
suhu tubuh dalam ikan kakap dapat mengikuti suhu lingkunga perairannya. Proses
metabolisme ikan dilakukan dengan adanya energi yang didapat hasil perombakan
pakan yang diberikan. Kandungan nutrisi (mineral) pada yang terkandung dalam
pakan digunakan ikan untuk melakukan proses metabolisme. Selain itu kandungan
serat kasar pada pakan juga akan mempengaruhi proses metabolisme (pencernaan
ikan). Semakin ikan cepat melakukan proses metabolisme maka energi yang
dipelukan semakin banyak sehingga energi untuk petumbuhan akan berkurang.
Menurut Hardianti et al, (2016) bahwa kandungan serat kasar yang tinggi dalam
pakan ikan akan mempengaruhi daya cerna dan penyerapan ikan di dalam alat
pencernaaan ikan. Kandungan serat kasar yang tinggi menyebabkan
mningkatkanya sisa metabolisme dan mempercepat penurunan kualitas air.
Kandungan serat kasar yang tinggi ( lebih dari8%) akan mengurangi kualitas
pakan ikan, pakan yang baik mengandung serat kasar 1-8%.
Pertumbuhan ikan kakap dapat terjadi apabila ada kelebihan energi dan
protein yang berasal dari pakan yang diberikan dan termanfaatkan yang telah
digunakan oleh tubuh untuk metabolisme dasar, pergerakan, perawatan bagian
tubuh dan mengganti sel-sel yang rusak bila adanya kerusakan sel atau jaringan.
Budidaya kakap putih, selalu ditemukan adanya amoniak dalam jumlah yang
besar, karena amoniak merupakan bentuk eksresi bernitrogen pada ikan. Hal ini
berkaitan dengan nutrisi pada pakan yang mengandung protein, karena amoniak
merupakan hasil metabolisme protein.
Frekuensi proses metabolisme ikan kakap dipengaruhi oleh faktor-faktor
lingkungan perairan yaitu parameter perairan. Suhu perairan merupakan salah satu
13

faktor yang sangat berpengaruh terhadap frekuensi proses metabolisme ikan. Pada
suhu yang relatif tinggi proses metabolisme ikan akan dipacudan percepat,
sedangkan pada suhu air yang lebih rendah proses metabolisme melambat.
Peningkatan suhu juga menyebabkan kadar oksigen terlarut pada perairan
menurun dan selanjutnya akan mempengaruhi proses metabolism ikan, seperti laju
pernapasan yang semakin cepat dan meningkatnya konsentrasi karbondioksida
didalam perairan. Faktor lingkungan yang juga mempengaruhi proses
metabolisme ikan adalah salinitas. Peningkatan salinitas dapat meningkatkan
tekanan osmotik yang selanjutnya akan mempengaruhi metabolisme terutama
dalam proses osmoregulasi. Hal ini dinyatakan oleh Noor et.al. (2016) bahwa
suhu merupakan parameter yang sangat mempengaruhi metabolisme tubuh untuk
tumbuh dan berkembang. Suhu yang meningkat dapat menyebabkan peningkatan
laju metabolisme dan respirasi pada petumbuhan organisme.
3.3. Deposisi Nutrisi Ikan Kakap
Nutrisi pada pakan dapat dimanfaatkan oleh ikan kakap putih untuk
pertumbuhan serta kelangsungan hidup terutama pada saat ikan kakap berada pada
stadia benih. Larva ikan kakap membutuhkan nutrisi yang dapat memenuhi
kebutuhan tubuhnya untuk dijadikan energi. Nutrisi yang dibutuhkan oleh larva
ikan kakap putih dapat berasal dari pakan alami. Pakan alami yang digunakan
memiliki kriteria seperti ukurannya yang lebih kecil dari bukaan mulut larva ikan
kakap putih serta nilai nutrisinya memenuhi kebutuhan. Larva ikan kakap putih
biasanya lebih menyukai pakan yang bergerak daripada pakan yang tidak bergerak
Salah satu contoh pakan alami yang baik untuk pakan larva ikan kakap putih yaitu
rotifer. Rotifer mempunyai nilai nutrisi yang baik serta ukurannya yang lebih kecil
dari bukaan mulut larva ikan kakap putih. Rotifera dapat memberikan pengaruh
yang baik terhadap kelangsungan hidup maupun pertambahan panjang dari larva
ikan kakap putih. Hal ini dinyatakan oleh Nurmasyitah et. al. (2018), bahwa
kelangsungan hidup yang diperoleh pada larva ikan kakap putih yang diberi
rotifer dapat mencapai 72%, sedangkan pertambahan panjang yang didapatkan
1,18 mm perhari. Larva ikan kakap putih yang berumur D-1 sampai D-15
memiliki panjang total 1,5 mm – 5 mm.
14

Pakan yang dibutuhkan oleh larva dengan benih ikan kakap putih
mempunyai kriteria yang berbeda. Salah satu pakan yang dapat diberikan untuk
benih ikan kakap yaitu jenis udang. Udang memiliki bau khas yang menarik
sehingga dapat mempengaruhi tingkat konsumsi ikan kakap. Udang juga memiliki
nilai nutrisi yang baik, sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup dari benih ikan kakap. Udang sebagai pakan alami memiliki
nilai kandungan protein yaitu 16,72%, karbohidrat 0,4%, lemak 1,3% dan air
78%. Protein ini mampu menjadikan ikan kakap cepat tumbuh. Pertumbuhan pada
benih ikan kakap putih meliputi pertambahan panjang dan pertambahan bobot
tubuhnya. Kelangsungan hidup dari benih ikan kakap yang diberi pakan udang
juga memiliki tingkat kelangsungan hidup yang baik. Kelangsungan hidup ini
dipengaruhi oleh ketersediaan pakan yang berkelanjutan dan kandungan
nutrisinya. Hal ini dinyatakan oleh Sahputra et. al. (2017), bahwa tingginya nilai
pertambahan berat tubuh ikan kakap putih dengan pakan jenis udang dikarenakan
kandungan protein basah pada udang lebih tinggi yaitu sekitar 16, 72%. Ikan
kakap sangat menyukai pakan udang selain dari protein yang tinggi yaitu 16,72%
serta daging yang lembek juga memiliki bua yang enak sesuai dengan selera ikan
kakap. Daging yang lembek dan bau yang enak yang terdapat pada udang
membuat ikan kakap segera memakannya tanpa harus menunggu waktu yang
lama.

3.4. Deposisi Protein Ikan Kakap


Deposisi protein menunjukan seberapa banyak protein yang dapat
dimanfaatkan oleh tubuh ikan salah satunya pada tubuh ikan kakap putih. Ikan
kakap memanfaatkan protein pada pakan untuk energi tubuhnya yang digunakan
dalam berbagai hal mulai dari metabolisme standar sampai dengan pertumbuhan
dari ikan kakap itu sendiri. Metabolisme standar ini tetap dilakukan oleh ikan
walaupun ada atau tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh ikan.
Metabolisme standar ini meliputi kegiatan pernafasan untuk mempertahankan
hidupnya. Adanya protein yang diberikan melalui pakan kemudian dicerna oleh
ikan kakap putih, energi yang ada kemudian akan dimanfaatkan untuk
pertumbuhan gonad pada ikan yang dewasa. Ikan dewasa energi yang digunakan
15

untuk pertumbuhan merupakan energi sisa dari energi untuk pertumbuhan gonad.
Protein dalam tubuh ikan berperan dalam pembentukan jaringan baru pada masa
pertumbuhan dan reproduksi, mengganti jaringan yang rusak dan memelihara
jaringan yang telah ada, pembentukan enzim dan hormon, pengatur berbagai
metabolisme dalam tubuh, dan sebagai sumber energi. Penyerapan protein pada
tubuh ikan dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ikan.
Tinggi rendahnya protein yang diserap oleh tubuh ikan menunjukkan kualitas
protein pakan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh ikan. Kualitas protein tidak
ditentukan oleh tingginya kadar protein akan tetapi ditentukan oleh bagaimana
ikan dapat memanfaatkan protein pada pakan tersebut.
Ikan kakap putih membutuhkan kandungan protein yang tinggi untuk
dijadikan energi dalam pertumbuhannya. Kebutuhan protein pada ikan dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti spesies ikan, umur ikan dan tahapan dari
pertumbuhan ikan. Ikan kakap putih biasanya membutuhkan protein yang lebih
tinggi ketika ukurannya masih kecil atau pada tahap benih. Ikan kakap putih yang
masih kecil membutuhkan protein yang lebih tinggi karena untuk
mempertahankan hidupnya dan sebagian besar untuk pertumbuhan. Protein pada
pakan akan dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan dari ikan. Kekurangan protein
pada ikan dapat menghambat pertumbuhan. Ikan dapat memanfaatkan protein
dengan maksimal pada batas pemberian pakan dengan kandungan protein tertentu,
apabila protein diberikan dalam jumlah yang berlebih maka sebagian besar akan
dikeluarkan dari tubuh ikan melalui fesesnya. Protein pada pakan tidak semuanya
dimanfaatkan untuk pertumbuhan ikan kakap putih. Protein untuk ikan kakap
putih merupakan salah satu komponen nutrisi yang paling banyak dibutuhkan. Hal
ini dinyatakan oleh Yaqin et. al. (2018), protein adalah salah satu nutrisi utama
pakan ikan yang mempengaruhi pertumbuhan ikan dengan menyediakan
kebutuhan pokok dan asam amino esensial untuk mensintesis protein tubuh dan
energi untuk pemeliharaan. Kebutuhan protein pada pakan ikan menunjukkan
perbedaan antara spesies, tahapan pertumbuhan, suhu, salinitas dan faktor stres
yang terkait dengan budidaya. Kekurangan protein meghasilkan pertumbuhan
yang buruk, kelebihan protein menyebabkan ekskresi amonia ke lingkungan
sekitarnya dan biaya pakan yang tinggi. Menurut Yudha et al (2009), pertumbuhan
16

ikan sangat dipengaruhi oleh kandungan protein di dalam pakan, yang sampai
kisaran tertentu akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya
pertumbuhankekurangan protein dalam pakan dapat menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan yang diikuti oleh kehilangan bobot yang menyebabkan pemakaian
protein tubuh untuk memelihara fungsi vital.
3.5. Deposisi Lemak pada Ikan Kakap
Penyerapan lemak pada tubuh ikan kakap mempunyai peranan penting
seperti untuk menyediakan energi metabolik serta sebagai sumber untuk asam
lemak. Asam lemak ini juga digunakan untuk pertumbuhan dan pertahanan tubuh
dari ikan. Lemak pada pakan dapat tersimpan dalam jaringan dan berfungsi untuk
menjaga kekebalan pada tubuh ikan. Lemak juga berperan sebagai media
penyimpan vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E, K. Lemak
pada tubuh ikan dibutuhkan dalam jumlah tertentu, karena apabila jumlahnya
berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada hati (degenerasi hati). Lemak juga
dapat membantu proses metabolisme, osmoregulasi, dan memelihara bentuk serta
fungsi membran/jaringan. Lemak dapat disimpan dalam jangka panjang sebagai
cadangan energi dalam tubuh hewan pada saat beraktivitas dan selama waktu
tidak ada makanan. Hal ini dinyatakan oleh Subandiyono dan Sri (2016), bahwa
lemak memiliki fungsi utama yang berbeda dengan dengan sumber energi lainnya.
Selain sebagai sumber energi, peran penting lainnya dari lemak adalah sebagai
sumber asam lemak. Lemak hampir mengandung dua kali lipat energi protein dan
karbohidrat. Lemak sebagai sumber asam lemak esensial (essential fatty acids,
EFA) yang penting untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup.
Asam lemak esensial merupakan asam lemak yang tidak dapat disintesis
oleh tubuh sehingga perlu ditambahkan melalui pakan untuk memenuhi kebtuhan
ikan yang dibudidayakan. Salah satu sumber asam lemak esensial yang dapat
digunakan sebagai penambahan pada pakan adalah minyak ikan. Asam lemak
esensial pada minyak ikan tersebut memiliki peranan penting untuk kegiatan
metabolisme, komponen membran, senyawa awal prostaglandin, tromboksan,
prostasiklin, dan leukotrin.
Asam lemak esensial yang dibutuhkan oleh ikan laut seperti ikan kakap
putih yaitu asam lemak tidak jenuh berupa HUFA. HUFA bisa didapatkan melalui
17

pakan yang diberikan. Asam lemak esensial juga dapat berpengaruh terhadap
pertumbuhan ikan mulai dari kecacatan serta kematian pada benih ikan karena
masih benih masih membutuhkan nutrisi yang cukup untuk kelangsungan
hidupnya. Hal ini dinyatakan oleh Febrianti et al (2016), bahwa ikan laut
membutuhkan lemak esensial tetapi yang lebih utama asam lemak tidak jenuh
(HUFA). Cara meningkatkan pertumbuhan yang maksimal maka ikan diberi
pakan yang mempunyai kandungan HUFA rantai panjang ω-3 dan ω-6 yang
sangat dibutuhkan bagi ikan laut karena ikan laut tidak memiliki sistem enzim
seperti ikan air tawar yang memiki enzim. Asam lemak dapat bersumber dari
lemak hewani dan nabati. Pembuatan pakan, minyak cumi bisa digunakan sebagai
sumber asam lemak ω-3, minyak jagung sebagai sumber asam lemak ω-6, dan
minyak kelapa sebagai sumber asam lemak jenuh. Apabila asam lemak esensial
tidak terpenuhi akan menyebabkan gangguan pada kesehatan ikan, kematian larva,
dan pertumbuhan abnormal, penglihatan yang cacat, ketidakmampuan untuk
makan pada intensitas cahaya yang rendah, tingkah laku yang abnormal dan
turunnya fungsi membran pada suhu yang rendah.

VI. PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Manajemen pemberian pakan pada budidaya ikan kakap sangat penting
dilakukan agar budidaya ikan kakap dapat optimal. Ukuran dan jenis pakan
yang diberikan harus diperhatikan setiap stadia pertumbuhan ikan kakap
agar pakan dapat termanfaatkan secara optimal. Pemberian pakan pada
pendederan yaitu diberikan untuk benih ikan ukuran 3 - 4 cm, 5 - 7 cm dan 7
- 12 cm. Pemberian pakan pada pembesaran ikan kakap diberikan pakan
berupa pelet dengan kandungan nutrisi pelet berupa protein sebesar 35%
18

sampai 50%, lemak sebesar 9% sampai 15% dan serat kasar sebesar 12%.
Ikan kakap putih tergolong dalam ikan jenis karnivora sehingga
membutuhkan protein tinggi untuk energi tubuhnya. Protein pada pakan
apabila diberikan sesuai dengan kebutuhan ikan kakap maka dapat
digunakan sebagai energi untuk pertumbuhan.
2. Proses metabolisme ikan dilakukan dengan adanya energi yang didapat hasil
perombakan pakan yang diberikan. Pertumbuhan ikan kakap dapat terjadi
apabila ada kelebihan energi dan protein yang berasal dari pakan yang
diberikan dan termanfaatkan yang telah digunakan oleh tubuh untuk
metabolisme dasar, pergerakan, perawatan bagian tubuh dan mengganti sel-
sel yang rusak bila adanya kerusakan sel atau jaringan. Frekuensi proses
metabolisme ikan kakap dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan perairan
yaitu parameter perairan. Suhu perairan merupakan salah satu faktor yang
sangat berpengaruh terhadap frekuensi proses metabolisme ikan.
3. Nutrisi pada ikan kakap putih digunakan untuk pertumbuhan maupun
kelangsungan hidupnya. Nutrisi yang dibutuhkan dapat diperoleh melalui
pakan yang diberikan selama pada budidaya ikan kakap putih. Nutrisi pada
pakan alami yang digunakan seperti rotifer dan udang-udangan.
4. Ikan kakap putih membutuhkan kandungan protein yang tinggi untuk
dijadikan energi dalam pertumbuhannya. Kebutuhan protein pada ikan dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti spesies ikan, umur ikan dan
tahapan dari pertumbuhan ikan. Ikan dapat memanfaatkan protein dengan
maksimal pada batas pemberian pakan dengan kandungan protein tertentu,
apabila protein diberikan dalam jumlah yang berlebih maka sebagian besar
akan dikeluarkan dari tubuh ikan melalui fesesnya. Protein pada pakan tidak
semuanya dimanfaatkan untuk pertumbuhan ikan kakap putih.
5. Lemak pada pakan mempunyai fungsi yang tidak kalah penting protein pada
pakan. Lemak mempunyai peranan sebagai sumber energi metabolik dan
sumber asam lemak esensial. Lemak pada tubuh ikan diperlukan dalam
jumalah tertentu, apabila lemak terlalu berlebihan pada ikan maka dapat
merusak hati (degenerasi hati). Asam lemak esensial merupakan asam lemak
yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh ikan, sehingga untuk memenuhi
kebutuhan asam lemak esensial pada ikan diberikan melalui pakan.
19

4.2. Saran
Saran yang dapat diberikan berdasarkan makalah yang telah dibuat sebagai
berikut:
1. Sebaiknya pemberian pakan pada ikan kakap putih lebih dipahami
sehingga dapat dilakukan dengan baik selama kegiatan budidaya dilakukan;
2. Sebaiknya kebutuhan nutrisi pada ikan kakap putih harus
diperhatikan sehingga dapat terpenuhi kebutuhannya.

DAFTAR PUSTAKA

Febrianti,H., K. Sukarti dan C. A. Pebrianto. 2016. Pengaruh Perbedaan Sumber


Asam Lemak pada Pakan terhadap Pertumbuhan Ikan Bawal Bintang
(Trachinotus blochii, Lecepede). Jurnal Aquawarman., 2(1): 24-33.

Garbono, A. 2013. Penentuan Waktu Henti Antibiotik Oksitetrasiklin pada


Pembesaran Ikan Kakap Putih (L. Calcarifer Bloch) untuk Penetapan
Waktu Panen Sebagai Upaya Pencegahan Dampak terhadap Lingkungan
dan Keamanan Pangan. Universitas Diponegoro. Tesis.

Hardianti, Q., Rusliadi dan Mulyadi. 2016. Effect Of Feeding Made With Different
Composition On Growth and Survival Seeds Of Barramundi (Lates
calcarifer , Bloch) . Jurnal Perikanan dan Kelautan; 1-10.

Husain.,R.S.Suparmo.,E.Harmayani dan C.Hidayat. 2017. Kinetika Oksidasi


Protein Ikan Kakap (Lutjanus sp.) selama Penyimpanan.,
Agritech.,37(2):109-204.
20

Husen, A., E. Y. Herawati2 dan Y. Risjani. 2016. Seasonal Variation In Meat And
Liver Histopathology Of White Snapper (Lates Calcarifer) From Mercury-
Polluted Kao Gulf Waters, North Halmahera, Indonesia. Aquatic Science
& Management. 4(1): 1-10.

Noor, N. M., A. D. Astuti., E. Efendi dan S. Hudaidah. 2016. Performance of


Green Mussel (Perda viridis) in Monoculture and Polyculture System
Whitin Sea Bass (Lates calcarifer). Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya
Perairan. 4(2); 1-11.

Marzuqi, M., I. N. A. Giri, T. Setiadharma, R. Andamari, W. Andriyanto, dan N.


W. W. Astuti. 2015. Penggunaan Pakan Prematurasi untuk Peningkatan
Perkembangan Gonad pada Calon Induk Ikan Bandeng (Chanos chanos
Forsskal). Jurnal Riset Akuakultur., 10(4): 519-530.

Nurmasyitah, C. N., Defira dan Hassanuddin.,2018.,Pengaruh Pemberian Pakan


Alami yang Berbeda terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Kakap
Putih (Lates calcalifer).,Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan
Unsiyah.,3(1):56-65.

Oktaviyani, S dan W. Kurniawan. 2017. Aspek Reproduksi Ikan Kakap Lutjanus


Vitta (Quoy & Gainmard, 1824) di Teluk Jakarta dan Sekitarnya. Jurnal
Iktiologi Indonesia 17(2): 215-225.

Razi, F. 2013. Penanganan Hama dan Penyakit pada Ikan Kakap Putih. Booklet
Perikanan. Jakarta.

Ridho, R dan E. Patriono. 2016. Food Habits And Feeding Habits Of White
Snapper Fish (Lates Calcarifer Block) In Terusan Dalam (Inside
Canal)Waters, East Coast Of South Sumatera Province. Biovalentia. 2(2):
104-111.

Sahputra, I., M. Khalil Dan Zulfikar. 2017. Pemberian Jenis Pakan yang Berbeda
terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Kakap Putih
(Lates Calcalifer, Bloch). Acta Aquatica, 4(2): 68-75.

Suastika, M., T. Aslianti, dan Afiffah. 2011. Pemeliharaan Ikan Kakap Merah
(Lutjanus sebaeebae) di Tangki Secara Terkontrol. Berk. Penel. Hayati
Edisi Khusus: 4B (37–41).

Subandiyono dan S. Hastuti. 2016. Buku Ajar Nutrisi Ikan. Semarang. Lembaga
Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan; 246 hlm.

Susanti, N. M., Sukendi dan Syafriadiman. 2016. Efektivitas Pemberian Hormon


Tiroksin (T4) terhadap Pertumbuhan Ikan Pawas (Osteochillus hasselti
CV). Jurnal Perikanan dan Kelautan, 21(2): 26-31.
21

Yaqin, M. A., L. Santosa dan S. Syahputra. 2018. Pengaruh Pemberian Pakan


dengan Kadar Protein Berbeda Terhadap Performa Pertumbuhan Ikan
Kakap Putih (Lates Calcarifer) di Keramba Jaring Apung. Jurnal Sains
Teknologi Akuakultur. 2(1): 12-19.

Yudha, H. T., T. Sutarmat dan N. A. Giri. 2009. Pola Pertumbuhan Ikan Kakap
Merah, Lutjanus Sebae di Keramba Jaring Apung Melalui Pakan yang
Berbeda. Prosiding Forum Inovasi Akuakultur, 495-498.

Anda mungkin juga menyukai