Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP

KESEJAHTERAAN KELUARGA PELAKU PERNIKAHAN USIA


REMAJA DI KECAMATAN CISAYONG
Tina Rahim
tinarahim911@gmail.com
Andri Kurniawan
andri.kurniawan@ugm.ac.id

Abstract
Early marriage was a problem that woman can not have a good education just
because they will ended up become a housewife and do the housewife work. This
paradigm still happening in this modern equality gender era. Therefore, this research is
aimed to identify the correlation of education background toward family welfare on early
marriage’s family.
The location of this research was in District Cisayong, Regency Tasikmalaya,
Province West Java which well known as an early marriage places. This research used
qualitative method, survey and cross tab with descriptive analysis technique. Interview
performed on 30 respondents who married on 1988 by age 15-19 years old.
The result of this research described that first marriage age, divorce and second
marriage had correlation with family welfare and dominated by age 17-18 years old.
Meanwhile, family welfare had no correlation with education background. The
interview’s results mention that early marriage is reasonable because education is not
important especially for women.
Keywords: education, early marriage, family welfare, Cisayong

Intisari
Pernikahan usia remaja merupakan permasalahan di masa lampau, adanya
paradigma perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan yang tinggi karena takdir
perempuan adalah mengurus dapur. Pemikiran itu rupanya masih terjadi, pada era
perempuan dan laki – laki memiliki hak yang sama, era emansipasi wanita. Penelitian ini
bertujuan untuk melihat pengaruh tingkat pendidikan terhadap kesejahteraan keluarga
bagi para pelaku pernikahan usia remaja.
Lokasi penelitian berada di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa
Barat, provinsi yang cukup dikenal karena maraknya pernikahan usia remaja terjadi.
Metode yang digunkan metode kualitatif dengan teknik survei dan wawancara serta
dianalisis menggunakan cross tab dengan teknik analisis deskriptif.. Wawancara
dilakukan pada 30 responden yang menikah pada rentang usia 15 – 19 tahun pada tahun
1998 di Kecamatan Cisayong.
Hasil penelitian menunjukan bahwa keluarga di Kecamatan Cisayong dipengaruhi
oleh usia nikah pertama, perceraian dan pernikahan kedua. Tingkat kesejahteraan di
dominasi oleh tahapan Keluarga Sejahtera I (KSI) dengan rentang usia 17- 18 tahun. Akan
tetapi, tingkat kesejahteraan keluarga tidak memiliki hubungan dengan tingkat
pendidikan. Hasil wawancara menyebutkan bahwa pernikahan usia remaja merupakan
hal yang dianggap wajar sebab pendidikan pada saat itu belum dianggap penting, terutama
untuk wanita.

Kata kunci: pendidikan, pernikahan usia remaja, kesejahteraan keluarga, Cisayong

1
PENDAHULUAN banyak terjadi di Jawa Barat atau bahkan di
Pernikahan merupakan suatu India dengan agama merupakan aspek
kegiatan sakral bagi setiap manusia. Oleh penting yang menikahkan anaknya di usia
karena, itu ada yang sangat antusias dengan 12,5 tahun (Rahim, 1985).
pernikahan, tetapi ada pula yang sangat sulit Namun, ketika tidak seketika itu juga
untuk memutuskan melakukan pernikahan menikah banyak gadis- gadis tersebut
dan bahkan memutuskan untuk tidak akhirnya menikah dalam kondisi tua atau
menikah sama sekali. Keputusan – bahkan tidak menikah sama sekali.
keputusan tersebut didasari oleh alasan Pengaruh adat dan tradisi lama yang sangat
yang beragam. Dalam UU Perkawinan NO kental begitu berpengaruh. Kehidupan
1 Tahun 1974 disebutkan bahwa ada tradisi dengan tingkat pendidikan tinggi
batasan umur agar pernikahan dapat menjadi isu yang sensitiv untuk dibahas.
dilaksanakan. Untuk laki – laki batasan Ketika semuanya bersinggungan dengan
umur minimal adalah 19 tahun sedangkan adat dan tradisi maka selintas semuanya
untuk wanita adalah 16 tahun. Bagi akan kalah karena adat dan tradisi
masyarakat kota yang disibukan dengan mempunyai tempat tersendiri yang selalu
pekerjaan setiap harinya membuat minimal dibela dan sulit dilepaskan. Tetapi,
usia pernikahan menjadi tidak masalah. pentingnya pendidikan dan tingkat
Lain halnya jika terjadi pada daerah pendidikan itu sendiri juga menjadi hal
pedesaan. Banyak dari masyarakatnya yang sangat penting bagi kehidupan dan
menikah pada usia minimal pernikahan. keberlangsungan hidup. Kemudian adat dan
Orangtua akan melepaskan anaknya jika kebutuhan modern yang selalu banyak
ada yang datang melamar. halangan untuk dapat bersatu utnuk
Rata – rata pendidikan terakhir yang mencapai sebuah kesejahteraan. Halangan –
dienyam hanyalah sebatas Sekolah halangan yang disebabkan karena kecintaan
Menengah Pertama (SMP) bahkan untuk terhadap adat adalah ciri masyarakat desa
memenuhi target pemerintah saja tidak yang skeptis. Yang sulit menerima hal baru.
cukup. Ketika remaja lelaki lebih Bahkan ketika sekarang sudah disebut
ditekankan untuk bekerja, baik itu dengan zaman modern, zaman yang
membantu orangtua bertani, berjualan atau semuanya sudah serba tahu dan dianggap
mengadu nasib di kota – kota besar, dewasa sehingga dapat memilah mana yang
sedangkan gadis remaja menunggu pelamar menguntungkan dan mana yang merugikan.
dan akan langsung dinikahkan, seperti yang

1
TUJUAN PENELITIAN Teknik Analisis Data
1. Mengidentifikasi tingkat kesejahteraan Teknik analisis yang digunakan
bagi keluarga yang melakukan adalah dengan menggunakan crosstab
pernikahan usia remaja. dengan tujuan untuk mengukur hubungan
2. Mengidentifikasi hubungan tingkat deskriptif antara dua variable atau lebih
pendidikan terhadap kesejahteraan (Santoso dan Tjiptono, 2001). Denscombe
ekonomi keluarga yang melakukan dalam Gaol (2003) menjelaskan bahwa
pernikahan usia remaja. langkah dalam analisis kualitatif, yaitu 1)
data dikumpulkan dalam bentnuk narasi; 2)
METODE PENELITIAN mengecek data agar tidak ada yang terlewat;
Teknik Pengumpulan Data 3) mengidentifikasi hubungan untuk
Penelitian ini menggunakan metode melihat pola yang ada; 4) verifikasi hasil;
penelitian kualitatif yang menggunakan dan 5) pengembangan generalisasi agar
data primer dan data sekunder. Data primer dapat diiuraikan.
diambil dari hasil lapangan yang didapat
melalui proses survei, in-depth interview HASIL DAN PEMBAHASAN
yang diperkuat dengan observasi. Kerlinger Tingkat Pendidikan
(2004) menjelaskan bahwa metode survei Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa
adalah metode yang mengkaji populasi responden di lokasi penelitian di dominasi
skala besar maupun kecil yang kemudian oleh responden yang memiliki pendidikan
diseleksi menjadi sampel yang bertujuan terakhir SD dengan jumlah 20 responden,
untuk menemukan insidensi, distribusi dan 66.67% dari jumlah total responden,
interelasi relative sedangkan yang mempunyai pendidikan
Responden dalam penelitian ini terakhir SMP berjumlah 5 responden dan
ditentukan dengan teknik purposive SMA berjumlah 2 responden serta 3
sampling, yaitu pengambilan sampel responden merupakan lulusan SMA. Hasil
dengan kriteria – kriteria yang telah dari tabel tersebut memperlihatkan bahwa
ditentukan sebelumnya. Responden pendidikan yang tinggi belum menjadi
tersebut adalah yang menikah pada rentang prioritas di daerah penelitian, cukup dengan
usia 15 – 19 tahun pada tahun 1998. Data pendidikan dasar asalkan bisa baca tulis.
sekunder didapatkan dari KUA dan
Kecamatan Cisayong dalam Angka 2012.

2
Tabel 1. Usia Pernikahan Pertama dan Tabel 2. Usia Nikah Pertama dan Tingkat
Kesejahteraan
Pendidikan Terakhir

Usia Pertama Menikah Usia Nikah Pertama

Kesejahter
Jumlah Jumlah

Tingkat
15 - 16 17 – 18 19 - 20 15 - 16 17 - 18 19 - 20
Pendidik

aan
an F % F % F % F %
F % F % F % f %
Terakhir
SD 1 58,8 66,6 2 66,6 KPS 3 30 6 35,3 2 66,7 11 36,7
8 80 2
0 2 7 0 7
SMP 23,5 16,6 KS I 5 50 9 52,9 1 33,3 15 50
1 10 4 0 0 5
3 7
SMA 33,3 KS II 0 0 0 0 0 0 0 0
1 10 0 0 1 2 6,66
3
>SMA 17,6 KS III 2 20 2 11,8 0 0 4 13,3
0 0 3 0 0 3 10
5 KS III
JUMLA 1 10 1 3 0 0 0 0 0 0 0 0
plus
H 0 0 7 100 3 100 0 100
Sumber: Pengolahan Data, 2016
Jum
10 100 17 100 3 100 30 100
lah
Sumber: Pengolahan Data, 2016

Tingkat Kesejahteraan Tabel 2 memperlihatkan bahwa


Penentuan tingkat kesejahteraan sebagian responden berada pada tinkgkat
kelurga mengacu pada batasan yang keluarga sejahtera I (KS I) dengan jumlah
diambil dari BKKBN yang dibagi kedalam 15 responden, 4 responden berada pada
tiga 4 tahapan, yaitu KPS (Keluarga Pra keluarga sejahtera III (KS III), tidak ada
Sejahtera) yang tidak dapat memenuhi keluarga yang berada pada tingkat keluarga
kebutuhan , KS I (Keluarga Sejahtera I) sejahtera II (KS II) dan keluarga sejahtera
yaitu kelurga yang sudah dapat memenuhi III plus (KS III plus). Sedangkan terdapat
kebutuhan pokok tetapi belum dapat sebagian besar responden lainnya, dengan
memenuhi kebutuhan psikologi, KS II jumlah 11 responden berada pada tingkat
(Keluarga Sejahtera II) yaitu keluarga yang keluarga pra sejahtera (KPS). Sebanyak
sudah dapat memenuhi kebutuhan pokok 36,67% responden berada pada tingkat
dan psikologi tetapi blm memenuh keluarg pra sejahtera ini sebagian besar
kebutuhan pengembangan, KS III disebabkan oleh adanya anggota keluarga
(Keluarga Sejahtera III) yaitu keluarga yang usia 7 – 15 tahun yang tidak bersekolah.
sudah memenuhi kebutuhan pokok, Penyebab lainnya adalah ukuran luas rumah
psikologi dan pengembangan tetapi bllm yang dimiliki oleh responden tidak luas
memenuhi kebutuhan kautualisasi diri dan sehingga tidak dapat memenuhi kategori
yang terakhir KS III plus yaitu kelurga yang luas ruangan masing masing penghuni 8 m².
sudah memenuhi semua persyaratan dari
kebutuhan pokok sampai aktualisasi diri.

3
Kehidupan Individu dan Sosial yang dijual. Masyarakat beranggapan
Menikah dalam usia remaja bukan bahwa warisan harus dijaga dan diturunkan
saja tentang usia, tetapi mental yang masih ke anak cucu kelak meskipun itu hanya 10
belum matang menjadi kekhawatiran m² saja. Meski demikian, tidak sedikit juga
tersendiri. Kesiapan mental dalam masyarakat yang kemudian memilih untuk
menghadapi kehidupan pernikahan yang menjual tanah warisannya demi untuk
mempunyai permasalahan yang berbeda melanjutkan hidup, hal tersebut juga yang
ditiap keluarga. Permasalahan yang kerap terjadi pada responden yang menjual tanah
muncul adalah permasalahan ekonomi. dan sawah warisannya karena kebutuhna
Tidak sedikit pasangan yang kemudian hidup yang mendesak maka tanah warisan
memutuskan untuk bercerai dikarenakan direlakannya untuk dijual. Hutang piutang
permasalahan ekonomi. Tabulasi usia antara sesama masyarakat yang terjadi juga
pernikahan dan aset yang dimiliki disajikan tidak menjadi solusi untuk melanjutkan
pada Tabel 3. hidup, karena dilingkungan masyarakatnya
sendiri pun bukan lingkungan masyarakat
Tabel 3. Usia Pernikahan Pertama dan Aset
Usia Pernikahan Pertama dengan keuangan berlebih. Masyarakat
Jumlah
Aset 15 – 16 17 – 18 19 - 20
F % F % F % F % sendiri sadar bahwa untuk melanjutkan
Tidak ada 1 10 2 11,7 0 0 3 10
Ternak 2 20 3 17,6 1 33,3 6 20 hidup tidak harus bergantung pada hutang
Tanah 2 20 1 5,9 0 0 3 10
Sawah 0 0 4 23,5 0 0 4 13, 3 ketika keuangan sedang defisit. Menjual
Emas 1 10 0 0 0 0 1 3,3
Ternak 3 30 2 11,7 2 66, 7 7 23,3 tanah warisan dianggap menjadi satu
sawah
Ternak bank 0 0 2 11,7 0 0 2 6, 7 satunya cara untuk melanjutkan hidup tanpa
Ternak, 1 10 0 0 0 0 1 3,3
tanah bank harus berhutang.
Ternak emas 0 0 3 17,6 0 0 3 10
bank Rekatnya hubungan antara
Jumlah 10 100 17 100 3 100 30 100
Sumber: Pengolahan Data, 2016 masyarakat di daerah pedesaan membuat
Karakteristik unik yang dimiliki oleh warga satu dengan yang lainnya saling
masyarakat pedesaan, terutama di mengenal bahkan tidak sungkan untuk aling
Kecamatan Cisayong adalah mempunyai berhutang. Selain itu, interaksi dengan
aset, baik itu berupa sawah, tanah ataupun warga terjalin seraya bekerja mencari
emas. Sebagian dari aset tersebut dimiliki tambahan penghasilan. Tetapi, untuk
dari hasil bagi waris di keluarga masing – kegiatan kemasyarakatn sendiri banyak dari
masing. Tanah dan sawah adalah warisan responden yang tidak begitu aktif. Alasan
yang biasanya diturunkan kepada keluarga ketidakaktifannya adalah karena terlalu
dan tidak banyak dari tanah atau sawah sibuk mencari tambahan penghasilan

4
hingga tidak ada waktu lagi untuk menjalani Tabel 4. Perceraian dan Pernikahan Kedua

Perceraian Pertama
kehidupan dan aktivitas lain diluar bekerja Jumlah
Tidak
Cerai
mencari nafkah bahkan sampai tidak Cerai
Pernikahan
Kedua F % F % F %
sempat memikirkan diri sendiri bahkan Tidak Cerai 0 0 22 100 22 73,33
sekedar untuk bersolek Tidak Menikah
3 37,5 0 0 3 10
Lagi
Menikah sekali
setelah
Pengaruh Pernikhan Usia Remaja pernikahan
2 25 0 0 2 6,67
pertama
terhadap Kesejahteraan Menikah dua
kali
Pada tabel 4 dalam 15 tahun setelah 3 37,5 0 0 3 10
pernikahan
pernikahan yang diteliti ditemukan ada 8 pertama
perempuan yang bercerai dan 10 laki – laki Jumlah 8 100 22 100 30 100
Sumber: Pengolahan data, 2016
yang bercerai. Ketika perceraian terjadi
maka status pun berganti menjadi janda atau
Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap
duda. Bagi perempuan yang telah bercerai
Kesejahteraan Keluarga Pelaku
tau janda dapat terlihat secara tampilan akan
Pernikhan Usia Remaja di Kecamatan
berubah menjadi lebih rapih dan lebih
Cisayong
bergaya. Tampilan baru membuatnya
Tabel 5 memperlihatkan bahwa
terlihat lebih fresh dan banyak diasumsikan
mayoritas responden di Kecamatan
masyarakat lain sebagai cara menarik
Cisayong berada pada tahapan
perhatian lelaki untuk menikah lagi. kesejahteraan Keluarga Sejahtera I (KSI)
Asumsi tersebut bukan tanpa alasan, karena
dengan pendidikan terakhir SD. Dengan
dari 8 janda tersebut ada tiga yang menikah kata lain mayoritas responden hanya dapat
lagi dan lebih dari dua kali bahkan sampai
memenuhi kebutuhan pokok atau basic
tiga kali yang berati sudah menikah
need secara keseluruhan. Keluarga yang
sebanyak tiga kali. Selain itu, ada dua janda berada pada tahap Keluarga Pra Sejahtera
lagi yang menikah lagi yang berarti baru selalu ditemui pada pendidikan akhir SD,
dua kali menikah. Sedangkan, untuk tiga
SMP dan SMA dengan artian bahwa
jandanya belum memutuskakn untuk keluarga tersebut tidak mampu memenuhi
menikah lagi. Selai itu, status janda
kebutuhan pokok secara keseluruhan. Hal
mempunyai nilai dan pandangan tersendiri tersebut disebabkan oleh adanya anggota
di kalangan masyarakat, ada kebanggaan
keluarga yang berumur 7 – 15 tahun tidak
tersendiri menjadi janda. sekolah. Tidak adanya keluarga yang
berada pada tahapan KS II di berbagai

5
tingkat pendidikan terakhir disebabkan oleh untuk memenuhi kebutuhan keluarga per
keluarga responden tidak mampu unutk bulannya. Tidak adanya keluarga responden
memenuhi kebutuhan psikologi atau yang mencapai tahapan KS III plus
psychologist need terutama faktor dikarenakan faktor rutinnya sumbangan
sosial.
seminggu sekali makan dengan lauk
daging dan ikan serta faktor luas ruangan Tabel 5. Tingkat Kesejahteraan dan Pendidikan Terakhir

Pendidikan Terakhir
masing masing penghuni minimal 8 m²

Kesejaht
Jumlah
SD SMP SMA >SMA

eraan
tidak dapat terpenuhi. Bagi responden

Tk.
F % F % F % F % F %
33, 36,
makan dengan daging dan ikan adalah KPS 8 40 2 40 1 11
3 0 0 7
sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan KS I
1
55 2 40 1
33,
15 50
1 3 1 33,3
seminggu sekali dan hanya bisa KS II 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

memaknnya pada saat – saat tertentu saja KS III 1 5 1 20 2


66,
4
13,
7 2 66,7 3
misalnya ketika ada hajatan, hari raya dan KS III 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
plus
acara khusus lainnya dikarenakan Jumla 2 10 10 10
5 3 3 100 30 100
h 0 0 0 0
responden tidak mempunyai cukup alokasi
Sumber: Pengolahan data, 2016
dana untuk selalu menyediakan lauk dengan
daging dan ikan. Luas rumah yang cukup KESIMPULAN

sempit juga menjadi alasan ruangan per 1. Pernikahan usia remaja rentan terhadap

penghuni tidak bisa minimal 8 m² . nikah cerai. Tingkat kesejahteraan bagi

responden dengan tahapan kesejahteraan keluarga yang melakukan pernikahan

KS II tidak ditemui, faktor yang membuat usia remaja mayoritastermasuk pada

responden tidak bisa mencapai tahapan KS kategori KS I ( Keluarga Sejarera I ) dan

II adalah responden tidak memiliki pendidikan masih belum menjadi

tabungan berupa emas atau uang di bank prioritas bagi semua kalangan. Hal

yang merupakan hasil dari pendapatannya tersebut dilihat dari keputusan beberapa

sendiri. Keluarga responden yang berada anak responden yang lebih memilih

pada tahapan KS III dapat ditemui pada putus sekolah demi membantu orang tua

responden dengan tingkat pendidikan mencukupi kebutuhan keluarga agar

terakhir SD, SMP, SMA dan > SMA. terhindar dari kekurangan.

Keluarga responden yang berada pada tahap 2. Tingkat pendidikan terakhir tidak

KS III merupakan keluarga secara ekonomi memiliki hubungan dengan seperti

berkecukupan dan tidak akan kekurangan pekerjaan, pendapatan, pengeluaran,


daya beli dan pengeluaran akhir bulan.

6
Warisan seperti tanah, sawah rumah
bahkan pekerjaan menjadi faktor utama.
Menjaga warisan agar dapat diturunkan
dari generasi penerus menjadi satu –
satunya aset yang dimiliki. Sebagian
besar masyarakat masih memegang
kepercayaan tersebut hanya sebagian
kecil saja yang dengan berat hati menjual
warisannya demi melanjutkan
kehidupannya.

DAFTAR PUSTAKA
BKKBN. Batasan dan Pengertian MDK.
Diunduh pada tanggal 07 Juni 2013 jam
08.33 WIB
dari http://aplikasi.bkkbn.go.id/mdk/Batas
anMDK.aspx .
Gaol, P.H.L. (2011). Impact of Information and
Communication Technology on Improving
Small and Medium Enterprises
Performance in an Urban Kampung. Tesis.
Yogyakarta: MPKD Pascasarjana UGM
Kementrian Agama. Undang – Undang
Perkawinan Nomor 1. Diunduh pada
tanggal 07 Juni 2013 jam 07.38 WIB
dari http://www.kemenag.go.id/file/doku
men/UUPerkawinan.pdf
Kerlinger, Fred N. 2004. Asas – Asas Penelitian
Behavioral. Yogyakarta: UGM Press..
Rahim, Alguers. 1985. Faktor – Faktor yang
mempengaruhi Usia Kawin Muda.
Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan UGM Pascasarjana.