Anda di halaman 1dari 19

FENOMENA CHAOS

DALAM KEHIDUPAN HUKUM INDONESIA

Oleh: Agus Raharjol

Abstract

The Law is not merely something that normative, not earning is also comprehended by as
social phenomenon. The Law as social phenomenon existed in course of social process.
Social process is extant of interaction among perpetrator law either in court and also
extra judicial. Understanding of law as social phenomenon bring us to various event that
happened in fatherland of since falling regime new order generate atmosphere chaos. The
view normative and positivistic cannot explain this phenomenon gratifying. We require
other theory aid to explain that phenomenon chaos, that is theory chaos previously have
expanded in physics. Chaos and relativity theory represent a success theory uproot
Newton theory domination. Chaos theory in law developed furthermore together with
intelligence spiritual to obtain clarification which holistic of about phenomenon chaos in
life law in Indonesia. Those approaches second used to understanding of us to various
phenomenon chaoses earn more holistic, do not deterministic of and surely reducsionistic.

Kata kunci : Social Fenomena, Chaos Theory, Chaos Theories Of Law, Deterministic,
The Positivism of Law

1. Pendahuluan
Dalam kehidupan modern, hukum memiliki posisi yang cukup sentral, hampir
sebagian besar sisi dari kehidupan manusia telah diatur oleh hukum, baik yang berbentuk
hukum tertulis maupun hukum yang tidak tertulis. Artburthnot mengatakan bahwa
hukum adalah lubang tanpa dasar yang melahap segala sesuatu. Apa yang
dikemukakannya menunjukkan bahwa hukum sebagai sebuah pranata maupun institust
memiliki kekuatan yang besar untuk mempengaruhi nasib seseorang, bahkan citra tentang
bangsanya.
Hukum sebagaimana dikemukakan di atas adalah hukum dalam arti luas, is tidak
hanya sekadar peraturan tertulis yang dibuat oleh penguasa atau badan khusus pembuat
undang-undang atau dengan kata lain hukum bukan hanya sesuatu yang bersifat nonnatiE

Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

142 Fenomena Chaos


Dalam Kehidupan Hukum Indonesia
Hukum juga merupakan fenomena sosial yang terejawantahkan dalam perilaku manusia
atau lebih tepatnya perilaku sosial.2
Melihat hukum dengan pandangan yang demikian berarti pembicaraan tentang
hukum tidak akan terhenti ketika apa yang dinamakan nilai atau konsep dalam masyarakat
atau bangsa atau negara tentang sisi kehidupan manusia telah terwujud secara konkrit
dalam suatu undang-undang atau peraturan, akan tetapi pembicaraan itu akan terus
berlangsung pasca undang-undang itu terbentuk dan diundangkan. Secara normatif
pembicaraan tentang hukum akan selesai setelah diundangkannya suatu peraturan, padahal
persoalannya tidak sampai di situ saja. Siapa yang diuntungkan dan peraturan itu,
bagaimana pelaksanaannya, apa tanggapan masyarakat mengenai peraturan itu, apakah
mempengaruhi individu dalam kehidupan masyarakat dan sebagainya. Ini merupakan
pertanyaan yang tak bisa dijawab hanya dengan menggunakan pendekatan normatif
belaka.3
Persoalan ini akan semakin rumit mengingat nilai-nilai yang ada dalam masyarakat
tents berubah seiring dengan perkembangan jaman. Hukum yang ada sebagai perwujudan
dan nilai-nilai yang ada pada masa lalu akan out of date yang menyebabkan tak akan
mampu menghadapi perubahan sosial itu. Persoalan yang timbul tidak.alcan berhenti
hanya dengan mengganti undang-undang yang ada untuk mengakomodasi pergeseran nilai
dan perubahan sosial hukum (baik institusi, pranata maupun penegak hukumnya) hanya
akan menjadi tukang jahit, tambal sulam.
Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat tidak dapat diakomodasi dengan
undang-undang saja, akan tetapi hukum (ahli hukum) secara teoritis hams dapat
menjelaskan fenomena yang terjadi. Penjelasan secara teoritis inilah yang terkadang sulit
dilakukan karena masih melekatnya alam pikiran dogmatis dan positivistis yang
mengembalikan segala sesuatunya hanya pada peraturan atau undang-undang.
Perubahan sosial di Indonesia sejak akhir rezim orde barn, masa reformasi dan
pasca reformasi memiliki kecepatan yang luar biasa. Perubahan itu ditandai dengan

2
Pandangan yang keliru tentang hukum ini terungkap dari apa yang dikemukakan oleh David N. Schiff
bahwa ada kesalahan konsepsi tentang hukum yang timbul di kalangan masyarakat bahwa hukum adalah
sesuatu yang bersifat normatif, bahwa hukum adalah suatu keharusan. Lihat lebih lengkap pada David N.
Schiff, Hukum Sebagai Fenomena Sosial, dalam Adam Podgorecki dan Christopher J. Whelan (eds),
Pendekatan Sosiologis Terhadap Hukum, Bina Aksara, Jakarta, 1987, hal. 252. Pandangan Schiff ini kemudian
muncul pula dalam David Schiff, N.S. Timasheff's Sociology of Law, dalam Modem Law Review 44, 1981, hal.
400-421. Lihat pula Roger Cotterrel (ed), Sociological Perspective on Law, Volume 1, Aldershot: Dartmouth
Publishing Company, 2001, hal. 333-354. Bandingkan dengan Satjipto Rahardjo yang juga menyatakan bahwa
hukum bukan hanya urusan (a business of rules), tetapi juga perilaku (matter of behavior). Satjipto Rahardjo,
Hukum Itu Perilaku Kita Sendiri, Kompas, 23 September 2002, hal. 4.
3
Pembicaraan tentang hal tersebut sebenamya menunjukkan bahwa ketika nilai yang ada dalam
masyarakat terangkat secara konkrit menjadi hukum, maka ia tidak netral lagi. Siapa yang membuat, mewakili
kepentingan manakah ia, merupakan persoalan dalam proses pembentukan hukum yang akhirnya
mencerminkan bahwa hukum itu sendiri sebenamya tidak steril dari kepentingan-kepentingan yang
melingkarinya. Dalam hal ini hukum merupakan sebuah diskursus yang tiada akhir menuju kesempurnaan
hidup manusia sebagai addresat dari hukum. Bandingkan dengan Satjipto Rahardjo, Hukum Itu Tidak Steril,
Suara Pembaruan, 31 Agustus 1989.

MADAM kraal ktu lukuto


Vol. IX No. 2 Juli 2007 143
berbagai gejolak ekonomi, gejolak sosial dan berbagai gejolak lain yang membawa bangsa
Indonesia semakin terpuruk. Mereka memandang situasi kekacauan (chaos) ini sebagai
malapetaka, merupakan sumber dari keterpurukan, akan tetapi mereka yang memiliki
pandangan positif melihat hal ini sebagai peluang.4
Tulisan ini berusaha untuk memberikan penjelasan atas perubahan sosial yang
terjadi di Indonesia dengan segala masalahnya, dengan menggunakan optik teoritis, bukan
dogmatis apalagi positivis. Tentunya dalam hal ini ilmu hukum akan meminta bantuan dari
ilmu lain untuk memperjelas dan menjelaskan fenomena yang terjadi.5

2. Hukum Sebagai Fenomena Sosial


Hukum ada karena ia diciptakan, ia tidak jatuh dari langit begitu saja (taken for
granted). Dengan kata lain, hukum ada sebagai karya manusia yang mengkonstruksi nilai-
nilai yang ada dalam masyarakat. Sebagai sebuah proses konstruksi, keberadannya tidak
lepas dari berbagai peristiwa atau kenyataan sosial yang tidak berdiri sendiri-sendiri, akan
tetapi saling berhubungan satu sama lain. Satjipto Rahardjo mengemukakan bahwa
Hukum adalah karya manusia yang berupa norma-norma berisikan petunjuk-petunjuk
tingkah laku. Ia merupakan pencerminan dari kehendak manusia tentang bagaimana
seharusnya masyarakat itu dibinda dan kemana hams diarahkan. Oleh karena itu pertama-
tama hukum itu mengandung rekaman dari ide-ide yang dipilih oleh masyarakat tempat
hukum itu diciptakan. Ide-ide ini adalah ide mengenai keadilan.6

Cita atau ide tentang keadilan ini jangan dikacaukan dengan cita atau ide keadilan
oleh kaum skolastik (dengan tokohnya Thomas Aquinas, St. Bonaventura, St.
Augustinus yang tergabung dalam mazhab hukum alam) yang mengidealkan keadilan
sebagai keadilan tuhan saja. Keadilan di sini adalah keadilan dalam koridor hukum ciptaan
manusia. Seiring dengan perkembangan hukum modern untuk mengakomodasi

4
Mereka yang melihat situasi chaos sebagai peluang di antaranya adalah yang bergerak dalam bidang
marketing seperti Hermawan Kertajaya dengan MarkPlus 2000 sebagaimana termuat dalam Majalah Gatra, 14
Desember 1998. Dapat juga disebutkan Michel Serres yang memandang chaos dengan pandangan yang positif
yang dinamakan positive chaos yaitu wajah chaos yang mempunyai sifat-sifat konstruktif, progresif produktif,
dan kreatif. Michel Serres, Genesis, The Univesity of Michigan Press, 1992, hal. 109.
5
Penggunaan disiplin ilmu lain bagi pembahasan persoalan hukum dalam konteks keilmuan dapat
dilakukan, mengingat ilmu hukum memiliki keterkaitan dengan berbagai disiplin ilmu. Bahkan dikatakan oleh
Nonet dan Selznick hal ini akan membuat ilmu hukum lebih hidup jika dilakukan reintegrasi antara hukum,
politik dan berbagai teori dalam ilmu sosial yang lain. Phillip Nonet dan Philip Selznick, Law and Society ill
Transition, Toward Responsive Law, New York: Harper and Row, 1978, hal. 1-3. Lihat juga pendapat Satjipto
Rahardjo yang menyarankan penggunaan ilmu lain khususnya perkembangan teori fisika yang dapat dipakai
untuk menjelaskan perkembangan ilmu dan teori hukum di Indonesia. Satjipto Rahardjo, Mengajarkan
Keteraturan Menemukan Ketidak-teraturan (Teaching Order Finding Disorder), Tiga Puluk Tahun Perjalanan
Intelektual Dari Bojong ke Pleburan, Pidato mengakhiri masa Jabatan sebagai Guru Bess Tetap pada FH
Undip, Semarang, 15 Desember 2000. Bandingkan dengan pendapat Peter Mahmud Marzuki yang menabukan
penggunaan disiplin ilmu lain dalam membicarakan persoalan hukum, ilmu dan teori hukum Peter Mahmud
Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2006.
6
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996, hal. 18.

144 Fenomena Chaos


Dalam Kehidupan Hukum Indonesia
kepentingan kaum kapitalis yang merebak sejak munculnya negara modern (dengan
gerakan modernisme sebagai motor penggeraknya), masyarakat juga menginginkan
peraturan-peraturan yang dapat menjamin kepastian dan kegunaan dalam hubungan
mereka satu sama lain. Dengan demikian maka nilai dasar dari hukurn adalah
sebagaimana telah diintrodusir oleh Gustav Radbruch, yaitu keadilan, kegunaan dan
kepastian. 7
Pencarian untuk menemukan ketiga cita hukum tersebut sampai sekarang terus
dilakukan baik yang terwujud dalam ruang-ruang peradilan (dalam lingkup criminal
justice system) maupun di ruang lain yang memberikan kemungkinan muncul dan
didapatkan cita hukum hukum itu. Banyak persoalan berkaitan dengan masalah hukum
dapat dijawab dengan memuaskan apabila kita mempelajari hukum sebagai suatu
fenomena sosial yang berwujud perilaku manusia sebagaimana dikatakan oleh
Timasheff, "umumnya, norma-norma hukum secara nyata akan menentukan perilaku
manusia di dalam masyarakat". 8
Studi tentang hukum sebagai fenomena sosial tidak hanya studi tentang
bagaimana perilaku individu-individu dalam merasakan, mengetahui dan memahami
hukum, akan tetapi dipelajari pula bagaimana pandangan dan persepsi masyarakat dan
individu terhadap hukum. Selain itu juga dipelajari apa tujuan aturan-aturan hukum
digunakan dan dimanipulasi oleh individu-individu, atau dengan kata lain mengapa
aturan-aturan hukum itu menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang pada
tingkatan sederhana hukum itu menjadi aturan sosial. 9
Studi hukum dengan menggunakan pendekatan normatif-dogmatis tak dapat
menjangkau gambaran tersebut di atas karena pendekatan normatif-dogmatis pada
hakekatnya menganggap apa yang tercantum dalam peraturan hukum sebagai deskripsi
dari keadaan yang sebenarnya. Janganlah peraturan-peraturan hukum itu diterima seabgai
deskripsi dari kenyataan, demikian kata Chambliss dan Seidman.'° Kita sebaliknya
mengamati kenyataan tentang bagaimana sesungguhnya pesan-pesan, janji-janji serta
kemauan-kemauan hukum itu dijalankan.

Ibid, hal. 19. Meskipun ketiganya merupakan nilai dasar dari hukum, akan tetapi seringkali di antara
ketiganya itu terjadi ketegangan. Persoalan mana yang perlu didahulukan, atau dimenangkan dalam
ketegangan itu, merupakan persoalan yang cukup rumit, akan tetapi untuk hukum pidana, nilai keadilanlah
yang didahulukan. Hal ini tercermin dari RUU KUHP yang menempatkan keadilan di atas kemanfaatan dan
kepastian. Lihat Ditjen Peraturan Perundang-undangan Departemen Hukum dan Perundang-undangan, RUU
KUHP, Jakarta, 2004, Pasal 12. Lihat juga Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana,
Cet. Kedua (Edisi Revisi), Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hal. 82; Kapita Selekta Hukum Pidana, Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2003, hal. 54 dan Pembaharuan Hukum Pidana, Dalam Perspektif Kajian
Perbandingan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hal. 21.
8
David N. Schiff, op.cit, hal. 253.
9
/bid, hal. 269.
19
Jika hal ini terjadi maka sesungguhnya kita telah membuat mitos tentang hukum, padahal mitos yang
demikian setiap hari dibuktikan kebohongannya. Chambliss dan Seidman sebagaimana dikutip oleh Satjipto
Rahardjo, Masalah Penegakan Hukum, Sutu Tinjauan Sosiologis, BPHN-Sinar Baru, Bandung, tanpa tahun,
hal. 14.

AN
' - Vol. IX No. 2 Juli 2007 145
Studi sosilogi terhadap fenomena-fenomena hukum yang spesifik dititik beratkan pada
masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan legal relations, umpamanya court
room, solicitor's office. Selain itu adalah studi terhadap proses-proses interaksional.
organizational socialization, typifikasi, abolisi dan konstruksi sosial. Studi demikian
berarti akan melihat hukum seabgai suatu proses atau lebih tepatnya lagi adalah proses
sosial.
Salah satu proses sosial yang terlihat dalam dinamika hukum adalah apa yang
terjadi di pengadilan. Untuk memahami proses sosial yang terjadi di sana, maka kita
perlu memahami arsitektur pengadilan. Pengadilan tidak hanya terdiri dan gedung,
hakim. peraturan yang lazim dikenal oleh ilmu hukum, melainkan merupakan suatu
interaksi antara para pelaku yang terlibat dalam proses pengadilan. Bekerjanya
pengadilan menggambarkan interaksi antara sistem hukum dan masyarakat, yang oleh
Galanter ditulis It is a society in which actors with different amount of wealth and
power are constantly in competitive or partially cooperative relationships in which they
have opposing interests." Peraturan yang mengatur tata cara berperkara dikembangkan
lebih lanjut (worked out) melalui perilaku berperkara para pihak yang terlibat dalam
proses peradilan, khususnya hakim.'2
Jadi proses peradilan adalah jauh lebih kompleks dari pada yang dikira banyak
orang, yaitu tidak sekadar menerapkan ketentuan dalam perundang-undangan. Perilaku
para pejabat maupun pengguna jasa pengadilan menentukan arsitektur pengadilan.
Proses peradilan juga tercermin dalam perilaku orang-orang yang berperkara atau
perilaku dari pejabat pengadilan (court behavior). Mengadili tidak selalu berlcualitas
full adjudication. melainkan sering juga berlangsung in the shadow of law, di mana
penyelesaian secara hukum hanya merupakan lambing di permukaan saja, sedang yang
aktif berbuat adalah interaksi para pihak dalam mencari penyelesaian. Hukum dipakai
untuk mengemas proses-proses sosiologis dan kemudian memberinya legitimasi melalui
ketukan palu hakim. 13
Dalam prakek penegakan hukum sehari-hari, praktek kekuasaan kehakiman
berada pada pundak dan palu hakim. Kedudukan hakim memegang peranan yang penting
sebab setiap kasus baik pidana, perdata maupun tata usaha negara akan bermuara pada
pengadilan. Hal ini terjadi karena pengadilan merupakan instansi terakhir yang akan

Lihat lebih lengkap uraian Marc Galanter mengenai keadilan di banyak ruang, dalam Justice in Many
Rooms: Courts, Private Ordering, and Indigenous Law, dalam Journal of Legal Pluralism, Volume 19, 1981
hal. 1-47. Dapat juga dilihat pada Roger Cotterrel (ed), Sociological Perspective on Law, Volume 11,
Aldershot: Dartmouth Publishing Company, 2001, hal. 235-282.
12
Satjipto Rahardjo, Pendayagunaan Sosiologi Hukum Untuk Memahami Proses-proses Hukum Di
Indonesia Dalam Kontelcs Pembangunan dan Globalisasi, Makalah dalam Seminar Nasional tentang
Pendayagunaan Sosiologi Hukum Dalam Masa Pembangunan dan Restrukturasi Global dan Pembentukan
ASHI, PS Hukum dan Masyarakat, FH Undip Semarang, 12-13 November 1996, hal. 12-13.
13
Ibid, hal. 13-14.

146 Fenomena Chaos


Dalam Kehidupan Hukum Indonesia
menerima, memeriksa clan mengadili perkara tersebut. Ini berarti kedudukan pengadilan
menempati posisi sentral dalam penegakan hukum.I4
Melihat kenyataan itu, diharapkan pengadilan dapat memberikan keputusan yang
adil, fair dan tidak memihak bagi para pencari keadilan. Pengadilan seringkali diharapkan
dapat berkedudukan sebagai benteng terakhir bagi para pencari keadilan pada setiap
permasalahan yang dihadapi. Masyarakat atau para pencari keadilan mengharapkan
pengadilan dapat berkedudukan sebagai lembaga yang dapat memberikan keadilan.15
Hukum yang berintikan keadilan tidak lain berisi "janji-janji" kepada masyarakat yang
terwujudkan melalui keputusan birokratis. Ini berarti lembaga pengadilan mempunyai
kewajiban untuk memberikan dan menjaga terwujudnya janji-janji hukum dan keadilan
melalui keputusan-keputusan yang meliputi segala aspek kehidupan seperti bidang
ekonomi, perburuhan, hak asasi manusia, demokrasi, lingkungan hidup, kesejahteraan dan
hak-hak sipil lainnya.I6
Kenyataan menunjukkan bahwa pengadilan yang disebut sebagai benteng terakhir
keadilan hanyalah mitos belaka, karena banyak keputusan yang dihasilkan ternyata justru
tidak adil. Apa yang dikatakan bahwa hukum itu tidak steril ternyata benar adanya 4,4Fria
banyak putusan pengadilan yang berpihak kepada mereka-mereka yang memiliki
kekuasaan dan kekuatan. Dari hal ini lembaga pengadilan sebagai lembaga yang
memberikan keadilan ternyata gagal dan otomatis memperburuk citra pengadilan di
masyarakat.
Citra pengadilan di masyarakat cukup banyak ditentukan oleh integritas, sikap dan
tindakan hakim. Singkatnya, masalah perilaku hakim terlalu penting untuk tidak
dibicarakan, terutama pada saat kita ingin membangun atau mereformasi atau
meningkatkan citra pengadilan kita." Dari segi sosiologi hukum, putusan hakim

14
Frans Hendar Winarta, Peradilan yang Berkualitas Dalam Suatu Negara Hukum, Majalah Pro Justitia,
Tahun XVII No. 4, Oktober 1999, hal. 78-79.
15
Tugas utama pengadilan adalah memberikan keadilan, sementara keadilan tersebut diberikan melalui
keputusan birokrasi bagi kepentingan umum karenanya cenderung berupa keadilan yang rasional. Dengan
demikian keadilan yang diperoleh masyarakat modern tidak lain adalah keadilan birokratis, yaitu keadilan
yang diperoleh melalui keputusan birokratis yang dirancang untuk melayani kepentingan umum dan
didasarkan pada perangkat peraturan-peraturan yang rasional dan pasti. I.S. Susanto, Lembaga Peradilan dan
Demokrasi, Makalah dalam Seminar Nasional tentang Pendayagunaan Sosiologi Hukum Dalam Masa
Pembangunan dan Restrukturasi Global dan Pembentukan ASHI, PS Hukum dan Masyarakat, FH Undip
Semarang, 12-13 November 1996, hal. 3.
16
Ibid.
17
Pengadilan seringkali mendapat sorotan yang sangat tajam. Hal ini sama sekali tidak mengherankan
mengingat posisi yang teramat vital, yaitu sebagai institusi penjada keadilan. Pengadilan kita sekarang
dihadapkan pada tantangan untuk meningkatkan citranya di masyarakat dengan cepat sehingga dibutuhkan
semacam crash program. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, faktor manusia hakim memegang peran sentral
lebih daripada yang lain. Masyarakat harus dibuat yakin bahwa pengadilan sekarang memang berbeda dengan
sebelumnya, terutama sebagai tempat di mana rakyat dapat mempercayakan perlakuannya yang add. Satjipto
Rahardjo, Sosiologi Pembangunan Peradilan Bersih Berwibawa, Makalah pada Seminar Reformasi Sistem
Peradilan (Menanggulangi Mafia Peradilan di Indonesia), FH Undip Semarang, 6 Maret 1999, hal: 10-11.

147
merupakan hasil dart suatu kompeks faktor-faktor, di mana di antaranya adalah faktor
hakim atau manusia hakimnya."
Persoalan yang berkaitan dengan lembaga peradilan, citra pengadilan dan perilaku
hakim dalam memutus suatu perkara adalah berhubungan dengan proses bekerjanya
hukum. Salah satu sudut penglihatan yang dapat dipakai untuk mengamati bekerjanya
hukum itu adalah dengan melihatnya sebagai suatu proses, yaitu apa yang dikerjakan dan
dilakukan oleh lembaga hukum itu. Dengan melihat hukum sebagai suatu proses, maka
dimungkinkan untuk memberikan penekanan kepada faktor-faktor di luar hukum, terutama
sekali mengenai nilai-nilai dan sikap masyarakat.19
Dari hal tersebut terlihat bahwa bekerjanya hukum itu merupakan suatu proses
sosial dan lebih khusus lagi adalah proses interaksi antara orang-orang yang mengajukan
permintaan dan penawaran. Lebih spesifik lagi orang-orang tersebut adalah para aktor
dalam ruang pengadilan serta masyarakat yang bertindak selaku pengawas, pengontrol dan
juga korban.
Proses sosial merupakan pengaruh timbal balik antara berbagai aspek dalam kehidupan
manusia. Dalam proses sosial tersebut, interaksi sosial merupakan bentuk utamanya.
Dalam interaksi sosial mengandung makna tentang kontak secara timbal balik atau inter-
stimulasi dan respon individu-individu dan kelompok-kelompok. Kontak pada dasarnya
merupakan aksi dari individu-individu atau kelompok dan mempunyai makna bagi
pelakunya, yang kemudian ditangkap oleh individu atau kelompok lain.2°
Komunikasi muncul setelah kontak berlangsung, sehingga terjadinya kontak belum
berarti telah ada komunikasi. Komunikasi timbul apabila seseorang individu
memberikan tafsiran pada perilaku orang lain. Dengan tafsiran tadi seseorang
mewujudkannya dalam perilaku, di mana perilaku tersebut merupakan reaksi terhadap
perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain itu. Dari penjabaran di atas, dapat
disimpukan bahwa syarat terjadinya interaksi adalah kontak dan komunikasi.21
Manusia berinteraksi dengan manusia lain dengan berbagai cara termasuk dengan
simbol-simbol. Dalam konteks teori interaksionisme simbolik menurut Herbert Blumer,
interaksi dengan simbol, isyarat dan juga bahasa menunjuk kepada sifat khas dari interaksi

18
Ibid, hal. 8-9.
19
Dengan demikian, maka telaah tentang hukum harus memperhatikan beberapa hal, yaitu (1)
Memperhitungkan faktor permintaan yang ditujukan kepada lembaga-lembaga hukum, yaitu permintaan yang
menyebabkan lembaga hukum itu bertindak; (2) Sebagai akibat dari permintaan itu adalah timbulnya respon
yang diberikan oleh lembaga-lembaga hukum itu; (3) Efek dari respon itu terhadap orang-orang yang
mengajukan permintaan tersebut; dan (4) Efeknya terhadap masyarakat secara keseluruhan. Satjipto Rahardjo,
Pendayagunaan Sosiologi Hukum op.cit, hal. 83.

Charles P. Loomis sebagaimana dikutip oleh Soleman B. Taneko mencantumkan beberapa ciri penting
dari interaksi sosial, yaitu (1) Jumlah pelaku lebih dari seseorang, bisa dua atau lebih; (2) Adanya komunikasi
antara para pelaku dengan menggunakan simbol-simbol; (3) Adanya suatu dimensi waktu yang meliputi masa
lampau, kini dan akan datang, yang menentukan sifat dari aksi yang sedang berlangsung; dan (4) Adanya
tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidak sama dengan yang diperkirakan oleh para
pengamat.Soleman B. Taneko, Struktur dan Proses Sosial, Suatu Pengantar Sosiologi Pembangunan,
RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1993, hal. 109-112.
21
Mid, hal. 111-112

148 Fenomena Chaos


Dalam Kehidupan Hukum Indonesia
antar manusia. Kekhasannya adalah bahwa manusia saling menterjemahkan dan saling
mendefinisikan tindakannya. Bukan hanya sekadar reaksi belaka dari tindakan seseorang
terhadap orang lain. Tanggapan seseorang tidak dibuat secara langsung terhadap tindakan
orang lain, akan tetapi didasarkan pada "makna" yang diberikan terhadap tindakan orang
lain itu.22
Interaksi sosial tidak saja mempunyai korelasi dengan norma-norma, akan tetapi
juga dengan status, dalam arti bahwa status memberi bentuk atau pola interaksi. Status
dikonsepsikan sebagai posisi seseorang atau sekelompok orang dalam suatu kelompok
sehubungan dengan orang lain dan kelompok itu. Status merekomendasikan perbedaan
martabat, yang merupakan pengakuan interpersonal yang selalu meliputi paling sedikit satu
individu, yaitu siapa yang menuntut dan individu lainnya, yaitu siapa yang menghormati
tuntutan itu.23
Proses peradilan yang berlangsung di pengadilan merupakan proses interaksi yang
berlangsung secara formal dan dipenuhi dengan simbol-simbol, atribut dan
posisi/kedudukan. Semua itu menunjukkan status masing-masing pihak yang bebeda dan
semakin menegaskan bahwa proses interaksi tidak berjalan seimbang karena mereka tidak
berada dalam kedudukan yang sama. Kondisi ini pun semakin menegaskan bahwa mitos
tentang semua orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum (equity before the
law) — khususnya di pengadilan — tak terbukti kebenarannya.
Dalam lingkup yang lebih besar, khususnya pada era dan pasca reformasi, proses
interaksi antara penguasa dan rakyat tidak dapat berjalan dengan baik yang
mengakibatkan kekacauan atau situasi chaos terjadi di mana-mana. Masyarakat
melampiaskan kekecewaannya dengan menguasai jalan melalui demonstrasi, aksi massal
dan sebagainya. Dalam hal ini berlaku apa yang pernah dikatakan oleh Joseph Goebel
yaitu siapa yang menguasai jalan dia menguasai dunia. 24 Perubahan yang cepat ini
bergerak antara perubahan yang humanis, radikal, bahkan anarkis yang disertai dengan
kejutan, teror, horor dan ketidakpastian arah dan gerakannya.

3. Kondisi Hukum Indonesia sebagai Fenomena Chaos


Keadaan hukum, politik, ekonomi dan sosial budaya di Indonesia sejak 'crisis
moneter melanda para pertengahan 1997 sampai sekarang, belum beranjak jauh dari
kondisi keterpurukan. Kita masih berkutat untuk upaya pemulihan, akan tetapi yang

22
George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Penyadur: Alimandan, Rajawali,
Jakarta, 1985, hal. 61. Bandingkan dengan H.R. Riyadi Soeprapto yang menyatakan bahwa Interaksi sosial
adalah sebuah interaksi antar pelaku dan bukan antar faktor-faktor yang menghubungkan mereka atau yang
membuat mereka berinteraksi. Teori interaksi simbolis melihat pentingnya interaksi sosial sebagai sebuah
sarana ataupun sebagai sebuah penyebab ekspresi tingkah laku manusia. H.R. Riyadi Soeprapto,
Interaksionisme Simbolik, Perspektif Sosiologi Modern, Pustaka Pelajar Yogyakarta dan Averroes Press Malang,
2002, hal. 143.
23
Soleman B. Taneko, op.cit, hal. 131.
24
Lihat dalam Paul Virlio, Speed and Politics, Semiotex (e), New York, 1986, hal. 4. Bandingkan
dengan pendapat Satjipto Rahardjo yang menyebutnya sebagai Era Hukum Rakyat, Kompas, 20-21 Januari
2000.

Vol IX No. 2 Juli 2007 149


terjadi adalah semakin merebaknya korupsi, kolusi, nepotisme, utang yang masih melilit,
pseudo intellectual yang makin merajalela dan ini memperburuk situasi politik serta
persoalan sosial budaya yang tak dapat dikatakan sedikit. Kondisi ini menyebabkan
Indonesia menjadi salah satu negara yang terburuk dalam penegakan hukum.
Seiring dengan tumbangnya orde barn dan euphoria reformasi, rakyat beramai-
ramai melakukan tindak kekerasan, seperti tindakan pengkaplingan lapangan golf,
pemagaran jalan tol, pendudukan kantor bupati, penghancuran lokalisasi WTS, sweeping
pada tempat-tempat maksiat, penjarahan toko, perkosaan, penyerangan kantor PDI,
pembakaran kantor LBH, pembantaian dukun santet dan masih banyak lagi. Berbagai
bentuk bentrok massa, pembunuhan, pembantaian, pembakaran, perang etnis di berbagai
daerah dan gejolak yang timbul di Aceh, Papua, Maluku, Poso, Kalimantan Barat,
pembunuhan aktiviis HAM, kekerasan di lembaga pendidikan dan sebagainya merupakan
sebagaian wajah dari negeri ini.
Kondisi sosial budaya tersebut diperparah dengan adanya teladan dari toko politik
yang melecehkan putusan pengadilan yang memvonis dirinya.25 Inilah kegagalan-
kegagalan dari penegakan hukum. Apakah keadaan-keadaan ini patut untuk
diperkabungkan ataukah akan kita biarkan tanpa dikebumikan agar kebusukan ini menyebar
dan menular ke bidang lain.
Keadaan yang demikian kacau dan tidak beraturan ini menimbulkan pertanyaan
yang cukup sulit untuk dijawab. Pertanyaan-pertanyaan dari Yasraf Amir Piliang di
bawah ini sepertinya mewakili masyarakat. Melihat kebalnya berbagai kejahatan terhadap
sentuhan hukum akhir-akhir ini, pantas bertanya apakah kejahatan itu sendiri telah
berkembang begitu sempurna sehingga ia melampaui batas-batas kemampuan hukum, atau
sebaliknya apakah perangkat hukum itu sendiri yang justru telah kehilangan otoritas.
sehingga tidak kuasa menghadapi kecanggihan kejahatan. Apakah masyarakat telah
memasuki wacana kejahatan yang melampaui batas realitas (beyond reality), sebagaimana
disinyalir oleh Jean Baudrillard dalam The Perfect Crime (1997) di mana kejahatan dan
kriminalitas telah berkembang sedemikian rupa sehingga mencapai tingkatannya yang
sempurna.26
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak bisa dijawab secara memuaskan dengan
menggunakan pendekatan yang linier-mekanistik seperti ajaran rechtdogmatiek atau legal-
positivism yang masih menguasai dunia hukum di Indonesia saat ini. Untuk menjawab
persoalan itu maka memerlukan kesediaan untuk melihat dunia hukum bukan sebagai

25
Masih segar dalam ingatan kita kasus Akbar Tanjung yang menolak menjalankan putusan pengadilan
dalam perkara Buloggate. Satjipto Rahardjo menyebut keadaan ini dengan sebutan zombie, yaitu keadaan
penegakan hukum tanpa hati nurani dan hanya mendasarkan saja pada asas-asas hukum yang telah
memisahkan hukum dan moral. Baca lebih jelas pada Satjipto Rahardjo, Indonesia Inginkan Penegakan
Hukum Progresif, Kompas, 19 September 2002.
26
Arti dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah bahwa kejahatan telah menjadi satu wacana yang
direncanakan, diorganisir dan dikontrol secara sempuma melalui teknologi tinggi (high technologyt
manajemen tinggi (high management) dan politik tinggi (high politics), sehingga ia melampaui otoritas
hukum, kemampuan akal sehat dan jangkauan nilai-nilai budaya. Lihat dalam Yasraf Amir Piliang,
Kompas, 30 Oktober 1998.

150 Fenomena Chaos


Dalam Kehidupan Hukum Indonesia
keadaan yang serba tertib dan teratur sebagaimana dipersepsikan oleh kaum legal-
positivism, akan tetapi kita akan menggunakan suatu teori yang berangkat dari realitas yang
serba kacau yaitu teori kekacauan (chaos theory).
Chaos theory merupakan teori yang berkembang dalam bidang fisika.
Perkembangan teori ini tidak lepas dari perkembangan teori sebelumnya yang telah
mendominasi dan memberi penjelasan tentang dunia fisik dalam rentang waktu yang
cukup lama. Dalam pembicaraan sebagai penjelasan atas berbagai persoalan di atas,
penggunaan teori-teori fisika dalam perspektif filsafat ilmu merupakan upaya yang
dinamakan analogi retrosipasi, yang berarti menggunakan analogi terhadap ilmu yang
mempunyai kedudukan atau tingkat abstraksi lebih rendah dari ilmu yang menjadi pokok
utama pembicaraan. 27
Dalam fisika, yang sering dipandang sebagai fondasi sains, bangunan
materialisme dikukuhkan oleh tonggak fisika mekanika Newton. Fisika Newton
memandang alam semesta sebagai sebuah mesin mekanik raksasa yang tersusun atas
komponen-komponen material yang bergerak dan saling terhubungkan secara
deterministik." Ciri yang mencolok dari pandangan alam semesta yang mekanistik ini
adalah reduksionistik."
Paradigma sains mekanistik Newton mengalami krisis yang dahsyat selama tiga
dekade pertama abad ke-20. Upaya pengukuran laju cahaya dan pengamatan berskala
atomik pada masa itu mengikis kejayaan hukum mekanika Newton hingga lengser.
Terungkapnya fenomena relativistik (teori relativitas) dan fenomena kuantum (teori
kuantum) membuka mata para saintis akan cacat-cacat konseptual dalam paradigma yang
pernah berjaya semenjak era revolusi saintifik tersebut. 3°

27
Lihat lebih jelas penjelasan mengenai berbagai jenis analogi dalam filsafat ilmu dalam Liek Wilardjo,
Realita dan Desiderata, Duta Wacana University Press, Yogyakarta, 1990.
28
Lihat lebih jelas pada Seri Penerbitan Sains, Teknologi dan Masyarakat, Dari Cambridge Menuju
Kopenhagen, Edisi I, 2000, Mizan bekerjasama dengan PPS Studi Pembangunan ITB dan STMIK Bandung,
hal. 6. Pandangan deterministic mengatakan bahwa segala sesuatu, termasuk perbuatan manusia mengikuti
hokum sebab akibat yang pasti. jika kita mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masa kini maka masa
depan akan dapat diramalkan. Armahedi Mazhar, Melawan Ideologi Materialisme Ilmiah: Menuju Dialog
Sains dan Agama, pengantar dalam buku Keith Ward, God, Chance and Necessity, Oneworld, Oxford, UK,
1996 (diterjemahkan oleh Larasmoyo menjadi Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu, Argumen Bagi Keterciptaan
Alam Semesta, Mizan, Bandung, 2002), hal. 17.
29
Pandangan reduksionistik ini beranggapan bahwa yang berperan penting adalah bagian, komponen
atau elemen, sementara keseluruhan ataupun keutuhan dipandang tidak berarti. Bagi seorang reduksionisme,
batu bata dan semen itulah yang pokok, sedangkan tujuan pembuatan rumah, arsitektur dan rancangan
interior merupakan persoalan sekunder atau bahkan tak penting, alasannya batu bata dan semen itu
merupakan elemen dasar pembangunan rumah. Watak reduksionistik ini tampaknya merupakan akibat
pemutusan hubungan dengan Tuhan. Tuhan sebagai suatu ide yang universal, menyeluruh dan utuh telah
dikesampingkan. Dengan demikian yang tertinggal adalah bagian-bagian, particular-partikular dan
keterpisahan. Seri Penerbitan Sains, op.cit, hal. 7
30
Kedua teori itu mempunyai dampak histories yang sangat luas. Teori relativitas berujung pada penemuan
born atom, sedangkan aplikasi kuantum menghasilkan akselerasi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi
yang berujung pada tergelamya Internet yang membongkar batas-batas antar negara. Aplikasi kedua teori itu
membawa implikasi yang dahsyat pada pemikiran filosofis manusia tentang dirinya dan
Dalam kacamata fisika Newton, alam semesta tampak teratur atau terprediksi, ada
gaya dan kaidah yang mengatur beroperasinya gaya tersebut. Inilah landasan ide bahwa
alam semesta beroperasi seperti jam mekanik. Teori Newton ini menurut Satjipto
Rahardjo mengingatkan pada teori positivis dalam hukum" dan sebagaimana teori
Newton yang tak dapat menjelaskan fenomena relativistik maupun fenomena chaos, teori
positivis ini pun tak dapat menjelaskan fenomena hukum yang terjadi di Indonesia.32
Dengan demikian secara teoritis, teori positivis semestinya hams sudah lengser
sebagaimana teori Newton, akan tetapi teori tersebut tetap hidup bahkan mendominasi
kehidupan hukum di Indonesia. Ini disebabkan karena teori positivis telah mengakar kuat,
tidak hanya dalam lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga pada lembaga-lembaga penegak
hukiim yang mewujudkan hukum yang ada dalam undang-undang sebagai hukum yang
hidup."
Sebenarnya untuk menjelaskan fenomena relativistik maupun fenomena chaos
yang terjadi di negara kita, kita bisa menggunakan teori chaos yang telah lebih dulu
berkembang dalam bidang fisika.34 Chaos, menurut Ian Stewart adalah tingkah laku

alamnya. Teori relativitas berujung pada gambaran alam semesta terbatas dalam ruang dan berkembang
meluas tak terhindarkan bermula pada suatu peristiwa Big Bang. Teori kuantum berujung pada gambaran
bahwa pada skala terkecil benda-benda termasuk jagat raya di awal hidupnya, peristiwa-peristiwa fisik
merupakan kebetulan tanpa sebab. Teori relativitas berujung pada keniscayaan atau kepastian, sedangkan teori
kuantum berujung pada kebetulan dan ketidakpastian. Dalam filsafat, kedua teori itu berujung pada
bangkitnya kembali perdebatan tentang aliran determinisme dan indeterminisme: pandangan serba pasti dan
pandangan serba tak pasti. Armahedi Mazhar, op.cit, hal. 17 dan Keith Ward, op.cit, hal. 182-187.
31
Bagi teori tersebut, ciri sistematis hukum merupakan hal yang central. Sistem hukum tersusun secara
logis-rasional. Sebagai karya manusia, maka sistem tersebut tidak dapat terlepas dari faktor subjektif manusia
pembuamya. Sejak hukum itu merupakan karya manusia, maka dialah yang menentukan bahwa sistem hukum
itu harus begini dan tidak boleh yang lain. Hukum tidak lagi dibiarkan tampil dan berkembang secara alami,
seperti dalam teori hukum alam, melainkan harus dicampur oleh manusia. Di sinilah mulai muncul persoalan
yang kritis, yaitu terjadi tegangan antara kenyataan dan kemauan manusia. Manusia ini menghendaki agar
hukum itu harus sistematis, harus rasional dan harus merupakan susunan yang logis. Satjipto Rahardjo,
Mengajarkan Keteraturan op.cit, hal. 15.
32
Sama halnya dengan teori Newton, menurut Satjipto Rahardjo, teori positivisme hukum juga
membuang kenyataan yang menganggu keutuhan dan menganggapnya sebagai kenyataan yang salah atau
menyimpang. Teori positivis dogmatis hanya mau melihat tubuh hukum sebagai suatu tatanan logis rasional,
tertib teratur, tak dapat menerima adanya ketidakteraturan. Penerimaannya akan merusak teori keteraturan
yang dianutnya yang berarti teori itu akan menjadi roboh. Keteraturan dan ketidakteratuan adalah dua hal atau
sifat yang berseberangan. Keduanya tak dapat berada di dalam tubuh teori yang sama. Ibid, hal. 19.
B Sebagai sebuah bangunan teori yang telah mengakar, teori positivis dalam praktiknya masih perkasa
Hal ini disebabkan karena hukum modern — sebagai produk modemisiasi yang merupakan ibu kandung dari
teori positivis — masih diagung-agungkan sebagai hukum yang baik untuk Indonesia. Mereka (kaum
positivis) tak mau membuka jendela dan menatap pemandangan lain dan mencari sandaran baru untuk
menjelaskan fenomena chaos yang terjadi. Mereka terkungkung dalam pandangan yang mengagung-agungkan
hukum modern hingga menimbulkan sikap chauvinistik.
34
Chaos sebagai sebuah bidang kajian keilmuan sebenamya bukanlah barang baru, setidak-tidaknya
demikianlah yang ditulis oleh Hesoid, seorang Yunani yang hidup pada abad ke 8 SM. Dalam sebuah puisinya
yang berjudul Theogony, is menulis "awal dari segalanya adalah chaos", baru sesudahnya segalanya menjadi
stabil. Dengan demikian orang Yunani percaya bahwa keteraturan muncul dari ketidakteraturan (chaos).
Ziauddin Sardar dan Iwona Abrams, Mengenal Chaos for Beginners, Mizan, Bandung, 2001, hal. 4.
yang sangat kompleks, iregular dan random di dalam sebuah sistem yang deterministik.
Chaos adalah suatu keadaan di mana sebuah sistem tidak bisa diprediksi di mana ia akan
ditemukan di tempat berikutnya. Sistem ini bergerak secara acak.35 Akan tetapi, menurut
teori chaos, apabila keadaan acak tersebut kita perhatikan dalam waktu yang cukup lama
dengan mempertimbangkan dimensi waktu, maka kita akan menemukan juga keteraturan.
Bagaimana kacaunya sebuah sistem, ia tidak akan pernah melewati batas-batas tertentu.
Mengapa demikian, oleh karena sistem tersebut dibatasi ruang geraknya yang acak tersebut
oleh sebuah kekuatan penarik yang disebut strange attractor. Strange attractor menjadikan
sebuah sistem bergerak secara acak, dinamis, gelisah dan fluktuatif, akan tetapi ia sekaligus
membingkai batas-batas ruang gerak tersebut.36
Dunia budaya chaos adalah dunia yang selalu dipenuhi kegelisahan dan
turbulensi. sebuah kebudayaan yang tidak gelisah adalah kebudayaan yang telah mati.
Kegelisahan dan ketidakpuasan, sebagaimana yang dikatakan Iqbal dalam Pesan dari
Timur, merupakah rahasia hidup dari setiap kebudayaan. Kegelisahanlah yang
mendorong bagi penjelajahan pencarian kreatif, erta sintetis-sintetis baru kehidupan.
Kegelisahan membuat orang tidak pernah mau berada di tempat yang sama pada waktu
yang berbeda; kegelisahan membuat orang mencintai ketidakpastian; kegelisahan
membuat orang selalu ingin mencari teritorial-teritorial yang baru — inilah pola
turbulensi dan kegelisahan dalam chaos.37
Kekacauan yang memporakporandakan masyarakat kita hanya salah satu wajah
saja dari berjuta wajah chaos, yaitu yang disebut negative chaos — sebuah prinsip chaos
yang dicirikan oleh sifat perusakan, destruksi, penghancuran,- agresivitas, eksplosi. Tak
semua chaos bersifat negatif. Ada wajah chaos yang oleh Serres dikatakan dalam
Genesis sebagai positif chaos — wajah chaos yang mempunyai sifat-sifat kontruktif,
progresif dan kreatif. Hanya saja, kita tidak pernah memahami sifat chaos tersebut. Kita
tidak pernah melihat ketidakberaturan, ketidakpastian, multiplisitas dan pluralitas —

35 Ini merupakan perlawanan terhadap teori Newton yang menganggap alam semesta yang bergerak
secara mekanis. Bantahan juga datang dari Edward Lorenz yang mengemukakan bahwa perubahan sedikit
saja pada sistem yang kompleks akan menimbulkan perbedaan yang luar biasa pada keadaan berikutnya.
Atraktor Lorenz dikenal dengan nama efek kupu-kupu, menggunakan persamaan dinamika fluida untuk
memodelkan perilaku keotik sistem gas dengan bantuan komputer. Seri Penerbitan Sains, op.cit, hal. 10-11.
36 Chaos adalah sesuatu yang ada di mana-mana, akan tetapi sukar untuk menjelaskannya, satu situasi
ketidakteraturan atau kekacauan benda (benda, ekonomi, sosial, politik) yang tidak bisa diprediksi polanya. Ian
Stewart sebagaimana dikutip oleh Yasraf Amir Piliang, Sebuah Dunia Yang Menakutkan, Mesin-mesin
Kekerasan Dalam Jagat Raya Chaos, Mizan, Bandung, 2001, hal. 305. Bandingkan dengan James Gleick yang
mengatakan bahwa chaos muncul di dalam segala tingkah laku yang talc dapat diprediksi. James Gleick,
Chaos: Making a New Science, Cardinal, 1987, hal. 5.
37 Turbulensi menurut Michel Serres adalah sebuah keadaan "antara" atau perantara (intermediary). Bila
kita membedakan antara keadaan keberaturan dan keadaan kekacauan. Michel Serres, op.cit, hal. 109.
Turbulensi — menurut James Gleick — adalah kekacauan dalam berbagai skalanya, pusaran kecil di dalam
pusaran besar. Ia tidak stabil. Ia bersifat dissipative, artinya ia melepaskan energi dan kemudian tiba-tiba
menahannya. Ia adalah pergerakan dalam waktu yang acak. James Gleick, op.cit, hal. 22. Lihat juga Yasraf
Amir Piliang, Sebuah Dunia op.cit, hal. 304-305.

Vol. IX No. 2 Juli 2007 153


sebagai ciri-ciri dari chaos — dengan sifat yang positif. 38 Kita selama ini hanya
terperangkap di dalam slogan-slogan pluralitas dan perbedaan, akan tetapi tidak pernah
memahami makna substansialnya. 39
Keteraturan dan kekacauan kini dipandang sebagai dua kekuatan yang saling
berhubungan, yang satu mengandung yang lain, yang satu mengisi yang lain.
Melenyapkan kekacauan berarti melenyapkan daya perubahan dan kreativitas. Chaos
menurut Serres muncul secara spontan di dalam keberaturan, sementara keberaturan itu
sendiri muncul di tengah-tengah kekacauan. Kita harus menyingkirkan ketakutan
terhadap kekacauan yang menyebabkan kita terperangkap di dalam kerangka pikiran
yang serba beraturan. 4°
Charles Stamford merupakan salah satu pemikir tentang pengembangan teori
chaos dalam hukum. Ia mengemukakan teori sekaligus kritik terhadap teori-teori hukum
yang dibangun berdasarkan konsep sistem (sistemik) atau keteraturan. Menurutnya, tidak
selalu teori hukum itu didasarkan kepada teori sistem (mengenai) hukum, karena pada
dasarnya hubungan-hubungan yang terjadi dalam masyarakat menunjukkan adanya
hubungan yang tidak simetris (asymmetries). Inilah ciri khas dari sekalian hubungan sosial,
hubungan-hubungan sosial itu dipersepsikan secara berbeda oleh para pihak. Dengan
demikian apa yang dipermukaan tampak sebagai tertib, teratur, jelas, pasti, sebenarnya
penuh dengan ketidakpastian. 41

38
Selama ini pendekatan budaya kita adalah pendekatan budaya keamanan, stabilitas, keberaturan (order),
keseragaman (uniformity), persatuan dan kesatuan (unity). Kita ingin memaksakan keseragaman menjadi
sebuah kesatuan, dinamisitas menjadi sebuah stabilitas, heterogentias menjadi sebuah homogentias,
keanekaragaman menjadi sebuah keseragaman. Sikap yang melihat perubahan (change), ketidakpastian
(indeterminacy), dan ketidakberaturan (disorder) sebagai sesuatu yang menakutkan sudah masanya untuk
ditinggalkan. Cara-cara pengendalian dengan pendekatan keseragaman, keberaturan, kesatuan total tidak dapat
dipertahankan lagi. Cara pengendalian organisasi seperti ini telah menyimpang, dan semakin lama kita
berpegang pada cara tersebut, makin jauh kita bergeser dari peluang perkembangan yang menakjubkan.
Sebaiknya organisasi apapun dapat dikendalikan di tengah perubahan dan ketidakpastian, bila kita mau belajar
dari prinsip chaos. Ibid, hal. 298 dan 305.
39
Chaos dalam pengertian negative chaos tidak pemah dilihat sebagai sebuah peluang kemajuan, sebagai
peluang dialektika, sebagai peluang persaingan, sebagai peluang peningkatan etos kerja, sebagai peluang
peningkatan daya kreativitas, sebagai peluang peningkatan produktivitas. Chaos tidak pernah dilihat sebagai
cara pemberdayaan; sebagai cara manajemen, sebagai sebuah cara pembelajaran, sebagai cara
pengorganisasian, sebagai cara pemerintahan. Ibid, hal. 298-299.

Ibid, hal. 304.
41
Stamford mengatakan "the sketch of disordered society outlined in this chapter begins with the social
interactions and relations between its members. These can be divided into power relation (which include
authority relations), unintended effects and value effect relations (based on 'normative' belief). Types and the
variation of the mixtures between any two individuals are likely to be a mixture of types and the variation of the
mixtures between ostensibly similar pairs of individuals may not be readily apparent. Furthermore a typical
feature of all social relations is this "asymmetry" — they are perceived differently by the interacting parties".
Charles Stamford, The Disorder of Law, A Critique of Legal Theory, Basil Blackwell, 1989, hal. 103 dan 160.
Lihat juga Anthon F. Susanto, Wajah Peradilan Kita, Konstruksi Sosial tentang Penyimpangan, Mekanisme
Kontrol dan Akuntabilitas Peradilan Pidana, Refika Aditama, Bandung, 2004, hal. 78-79.

154 Fenomena Chaos


Dalam Kehidupan Hukum Indonesia
Berkaitan dengan hal tersebut, Satjipto Rahardjo mengemukakan komentarnya ketika
membicarakan konsep dari Charles Stamford,
"... Stamford bertolak dari basis sosial dari hukum yang penuh dengan hubungan yang
bersifat asimetris. Inilah ciri-ciri khas dari sekalian hubungan sosial; hubungan-hubungan
sosial itu dipersepsikan secara berbeda oleh para pihak. Dengan demikian apa yang
dipermukaan tampak sebagai tertib, teratur, jelas, pasti, sebenarnya penuh dengan
ketidakpastian. Ketidakteraturan dan ketidakpastian disebabkan hubungan-hubungan dalam
masyarakat bertumpu pada hubungan antar kekuatan (power relation). Hubungan kekuatan
ini tidak tercermin dalam hubungan formal dalam masyarakat. Maka terdapat kesenjangan
antara hubungan formal dan hubungan nyata yang didasarkan pada kekuatan. Inilah yang
menyebabkan ketidakteraturan itu".42

Stamford mengemukakan bahwa hukum itu tidak merupakan bangunan yang


penuh dengan keteraturan logis rasional. Untuk mengadapi realitas yang sedemikian
kompleks, kita perlu membuka diri untuk melihat dunia hukum bukan sebagai keadaan
yang tidak tertib dan teratur, melainkan keadaan kacau (chaos). Berangkat dari situ, maka
tidak ada alasan untuk juga tidak menghadirkan suatu teori kekacauan dalam hulcum. Teori
yang bertolak dari realitas itu barang tentu diharapkan akan mampu untuk menjelaskan
hukum secara lebih lengkap.43
Baik teori Newton maupun teori positivis hukum memiliki pandangan yang
deterministik, sedangkan teori chaos berpandangan indeterministik. Pandangan
indeterministik memandang segalanya serba tak pasti. Kebebasan manusia menunjukkan
ketidakpastian itu dengan jelas yang dapat kita amati dalam perilaku kita sehari-hari.
Ketakpastian maupun ketidakberaturan ini sebenarnya bukan hanya milik manusia saja
karena pada skala kecil, semua benda merupakan lapangan ketidalcpastian.
Teori chaos sering dipandang dengan pandangan yang keliru, termasuk teori chaos
tentang hukum. Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa teori chaos berkenaan dengan
ketidakteraturan. Teori chaos tidak menyatakan bahwa sistem yang teratur tidak ada.
Istilah chaos dalam teori chaos justru merupakan keteraturan, bukan sekadar keteraturan,
melainkan esensi keteraturan. Ketakteraturan memang hadir ketika kita mengambil
pandangan reduksionistik dan memusatkan perhatian pada perilaku saja, akan tetapi kalau
sikap holistic yang kita ambil dan memandang pada perilaku keseluruhan sistem secara
terpadu, keteraturanlah yang akan tampak. Jadi teori chaos yang dianggap

42
Satjipto Rahardjo, Rekonstruksi Pemikiran Hukum Di Era Reformasi, Makalah pada Seminar Nasional
Menggugat Pemikiran Hukum Positivistik di Era Reformasi, Semarang, 22 Juli 2000, hal. 15-16.
Teori ini (theories of legal disorder atau chaos theory of law) pertama kali dibahas secara panjang lebar
43

oleh Denis J. Brion dalam The Chaotic Indeterminacy of Tort Law: Between Formalism and Nihilsm, dalam
David S. Caudill & Steven J. Gold (eds), Radical Philosophy of Law, Contemporary Challenges to
Mainstream Legal Theory and Practice, New Jersey: Humanity Press, 1995, hal. 179-199. Di Indonesia, teori
ini diperkenalkan oleh Satjipto Rahardjo dalam pidato mengakhiri masa jabatan Guru Besar. Satjipto
Rahardjo, Mengajarkan Keteraturan op.cit, hal. 16.

Vol. IX No. 2 Juli 2007 155


berkenaan dengan ketakteraturan, pada saat yang sama berbicara tentang keteraturan.
Ketakteraturan dalam pandangan reduksionistik, keteraturan dalam pandangan holistik. 44
Implementasi theories of legal disorder atau chaos theories of law dalam
penegakan hukum belum memiliki pola yang baku. Akan tetapi Satjipto Rahardjo
memberi petunjuk untuk menggabungkan teori chaos dengan kecerdasan spiritual.
Kecerdasan spiritual — demikian yang dikatakan Satjipto Rahardjo — tidak berhenti
menerima keadaan dan beku, tetapi kreatif dan membebaskan. Dengan kreativitasnya, is
mungkin bekerja dan mematahkan patokan yang ada (rule breaking) sekaligus membentuk
dug baru (rule making). Kecerdasan spiritual sama sekali tidak menyingkirkan dua model
yang lain, tetapi meningkatkan kualitasnya sehingga mencapai tingkat yang oleh Zohar
dan Marshall disebut kecerdasan sempurna (ultimate intelligence).45
Penggabungan chaos theories of law dengan kecerdasan spiritual bukan hanya
didasarkan pada kandungan nilai yang ada di dalamnya, akan tetapi menurut penulis
didasarkan pada dua hal. Pertama, pada dasarnya masyarakat Indonesia adalah
masyarakat religius, sehingga penggunaan kecerdasan spiritual akan lebih mengena dan
cepat dirasakan manfaatnya. Kedua, adanya kecenderungan di dunia barat (Eropa dan
Amerika) untuk mempelajari dan mengikuti kebijaksanaan dan timur, yang bagi orang-
orang timur sendiri hal tersebut (spiritualitas) merupakan kekuatan yang dahsyat.
Di era Quantum ini, self critique terhadap paradigma hukum yang ada sekarang
ini tetap dan hams dimunculkan. Hal ini terutama pada penggunaan IQ (Intellectual
Quotient) yang selama ini menjadi andalan untuk mengukur kecerdasan seseorang.
Janganlah berpretensi bahwa dengan pergeseran paradigma, menjadikan permasalahan-
permasalahan sosial bisa dijelaskan dan diatasi keseluruhannya dengan baik. Dalam
pandangan Danah Zohar dan Ian Marshall, hanya dengan komplementaritas, antara IQ
dan SQ (Spiritual Quotioent), maka seseorang bisa mencapai puncak pemahaman, yaitu
sampai konteks-makna. Ini pula yang menurut Satjipto Rahardjo dipandang sebagai
tingkat pembelajaran paling tinggi, juga dalam bidang hukum. 46
Kita menggunakan SQ untuk berhadapan dengan masalah eksistensial yaitu saat kita
menjadi pribadi merasa terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran dan masalah
masa lalu akibat penyakit dan kesedihan. SQ menjadikan kita sadar bahwa kita memiliki
masalah eksisensial dan membuat kita mampu mengatasinya atau setidak-tidaknya
berdamai dengan masalah tersebut. SQ memberi kita semua rasa yang "dalam"
menyangkut perjuangan hidup. SQ adalah pedoman saat kita berada di "ujung".
Masalah-masalah eksistensial yang paling menantang dalam hidup berada di luar yang

Seri Penerbitan Sains, op.cit, hal. 10. Penjelasan tentang fenomena chaos seringkali diperbandingkan
44

dengan pendapat Thomas Kuhn yang mensyaratkan perlunya sebuah !crisis bahkan revolusi untuk kemudian
memunculkan bangunan teori baru (dalam kajian teoritis) atau menimbulkan keteraturan baru dalam
masyarakat. Lihat Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 2"d Ed., The University of Chicago
Press, 1970.
45
Satjipto Rahardjo, Menjalankan Hukum Dengan Kecerdasan Spiritual, Kompas, Januari 2003
Satjipto Rahardjo, Mengajarkan...... , op.cit, hal. 13.
46

156 Fenomena Chaos


Dalam Kehidupan Hukum Indonesia
diharapkan dan dikenal di luar aturan-aturan yang telah diberikan, melampaui masa lalu,
dan melampaui sesuatu yang kita hadapi.47
Teori hukum positivis tak memiliki spirit demikian. Ini disebabkan dalam sejarah
perkembangan teori tersebut (sebagai anak kandung modernisme), teori hukum positivis
lebih sekuler meski banyak diterapkan dalam negara yang religius. Akibat dari latar
belakang yang demikian, teori hukum positivis dalam prakteknya cenderung kurang peka
terhadap suaru hati nurani mereka yang menuntut keadilan, baik melalui jalur litigasi
(pengadilan) maupun jalur non litigasi.

4. Simpulan
Kondisi hukum dan keadaan Indonesia yang terpuruk sejak jatuhnya orde barn
sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda pulih. Keadaan ini diperparah dengan
berbagai perilaku pejabat negara dan warga masyarakat yang kurang terpuji menyebabkaan
atau menimbulkan keadaan chaos di negara tercinta ini. Pendekatan legal-positivism yang
linier-mekanistik dan deterministik tak mampu menjelaskan fenomena ini, sehingga untuk
menjelaskan keadaan ini diperlukan analogi dari ilmu lain yang relevan. Penjelasan dapat
diberikan dengan gamblang bila menggunakan teori chaos yang intinya bukan
ketakteraturan melainkan keteraturan apabila dilihat secara holistik. Jadi dalam
memandang kondisi Indonesia yang chaos ini pandanglah dengan pandangan yang holistik,
jangan reduksionistik sehingga berbagai peristiwa yang menimbulkan suasana chaos itu
akan dipahami sebagai keteraturan dalam ketakteraturan.

47
Dalam teori kekacauan (chaos), "ujung" adalah perbatasan antara keteraturan dan kekacauan, antara
mengetahui din kita sama sekali kehilangan jati din. "Ujung" adalah suatu tempat bagi kita dapat menjadi sangat
kreatif. SQ, pemahaman kita yang dalam dan intuitif kita akan makna dan nilai merupakan petunjuk bagi kita
saat berada di "ujung" SQ adalah hati nurani kita. Agus Nggermanto, Quantum Quotient (Kecerdasan Quantum),
Nuansa, MUC, Yayasan Quantum, ZQTC, Bandung, 2001, hal. 141-142.

Vol. IX No. 2 Juli 2007 157


DAFTAR PUSTAKA
Arief, Barda Nawawi, 2002. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Cet. Kedua (Edisi
Revisi), Citra Aditya Bakti, Bandung;
---------------- , 2003. Kapita Selekta Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung;
---------------------------------- , 2005. Pembaharuan Hukum Pidana, Dalam Perspektif Kajian
Perbandingan, Citra Aditya Bakti, Bandung;
Brion, Denis J., The Chaotic Indeterminacy of Tort Law: Between Formalism and Nihilsm,
dalam David S. Caudill & Steven J. Gold (eds). 1995. Radical Philosophy of Law,
Contemporary Challenges to Mainstream Legal Theory and Practice, New Jersey:
Humanity Press;
Cotterrel, Roger (ed). 2001. Sociological Perspective on Law, Volume I, Aldershot:
Dartmouth Publishing Company;
-----------------------------------. 2001. Sociological Perspective on Law, Volume II, Aldershot:
Dartmouth Publishing Company;
Ditjen Peraturan Perundang-undangan Departemen Hukum dan Perundang-undangan,
2004, Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Jakarta;
Galanter, Marc. 1981. Justice in Many Rooms: Courts, Private Ordering, and Indigenous
Law, dalam Journal of Legal Pluralism, Volume 19;
Gleick, James. 1987. Chaos: Making a New Science, Cardinal;
Kuhn, Thomas. 1970. The Structure of Scientific Revolutions, 2nd Ed., The University of
Chicago Press;
Majalah Gatra, 14 Desember 1998
Marzuki, Peter Mahmud. 2006. Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta;
Mazhar, Mazhar, Melawan Ideologi Materialisme Ilmiah: Menuju Dialog Sains dan
Agama, pengantar dalam buku Keith Ward, 1996. God, Chance and Necessity, Oneworld,
Oxford, UK, 1996 (diterjemahkan oleh Larasmoyo menjadi Dan Tuhan Tidak Bermain
Dadu, Argumen Bagi Keterciptaan Alam Semesta, Mizan, Bandung, 2002)
Nggermanto, Agus. 2001. Quantum Quotient (Kecerdasan Quantum), Nuansa, MUC,
Yayasan Quantum, ZQTC, Bandung;
Nonet, Phillip dan Philip Selznick. 1978. Law and Society in Transition, Toward
Responsive Law, New York: Harper and Row;
Piliang, Yasraf Amir. Hiper-Kriminalitas, Kompas, 30 Oktober 1998.
---------------------- . 2001. Sebuah Dunia Yang Menakutkan, Mesin-mesin Kekerasan Dalam
Jagat Raya Chaos, Mizan, Bandung;

158 Fenomena Chaos


Dalam Kehidupan Hukum Indonesia
Rahardjo, Satjipto. tanpa tahun. Masalah Penegakan Hukum, Sutu Tinjauan Sosiologis,
BPHN-Sinar Baru, Bandung;
------------------- . Hukum Itu Tidak Steril, Suara Pembaruan, 31 Agustus 1989;
--------------------- . 1996. Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung;
------------------- . "Pendayagunaan Sosiologi Hukum Untuk Memahami Proses-proses
Hukum Di Indonesia Dalam Konteks Pembangunan dan Globalisasi", Makalah dalam
Seminar Nasional tentang Pendayagunaan Sosiologi Hukum Dalam Masa Pembangunan
dan Restrukturasi Global dan Pembentukan ASHI, PS Hukum dan Masyarakat, FH Undip
Semarang, 12-13 November 1996;
------------------- . "Sosiologi Pembangunan Peradilan Bersih Berwibawa", Makalah pada
Seminar Reformasi Sistem Peradilan (Menanggulangi Mafia Peradilan di Indonesia), FH
Undip Semarang, 6 Maret 1999;
------------------- . Era Hukum Rakyat, Kompas, 20-21 Januari 2000;
------------------ . "Rekonstruksi Pemikiran Hukum Di Era Reformasi", Makalah pada
Seminar Nasional Menggugat Pemikiran Hukum Positivistik di Era Reformasi, Semarang,
22 Juli 2000
------------------- . Mengajarkan Keteraturan Menemukan Ketidak-teraturan (Teaching
Order Finding Disorder), Tiga Puluh Tahun Perjalanan Intelektual Dari Bojong ke
Pleburan, Pidato mengakhiri masa Jabatan sebagai Guru Besar Tetap pada FH Undip,
Semarang, 15 Desember 2000;
---------------- . Indonesia Inginkan Penegakan Hukum Progresif, Kompas, 19
September 2002;
. Hukum Itu Perilaku Kita Sendiri, Kompas, 23 September 2002;
. Menjalankan Hukum Dengan Kecerdasan Spiritual, Kompas, Januari
2003;
Ritzer, George. 1985. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Penyadur:
Alimandan, Rajawali, Jakarta;
Sardar, Ziauddin dan Iwona Abrams. 2001. Mengenal Chaos for Beginners, Mizan,
Bandung;
Schiff, David N. Hukum Sebagai Fenomena Sosial, dalam Adam Podgorecki dan
Christopher J. Whelan (eds). 1987. Pendekatan Sosiologis Terhadap Hukum, Bina
Aksara, Jakarta;
--------, 1981. N.S. Timasheff's Sociology of Law, dalam Modern Law Review 44;
Seri Penerbitan Sains, Teknologi dan Masyarakat, Dari Cambridge Menuju Kopenhagen,
Edisi I, 2000, Mizan bekerjasama dengan PPS Studi Pembangunan ITB dan STMIK
Bandung
Serres, Michel. 1992. Genesis, The Univesity of Michigan Press;
Soeprapto, H.R. Riyadi. 2002. Interaksionisme Simbolik, Perspektif Sosiologi Modern,
Pustaka Pelajar Yogyakarta dan Averroes Press Malang;
Stamford, Charles. 1989. The Disorder of Law, A Critique of Legal Theory, Oxford: Basil
Blackwell;
Susanto, I.S. "Lembaga Peradilan dan Demokrasi", Makalah dalam Seminar Nasional
tentang Pendayagunaan Sosiologi Hukum Dalam Masa Pembangunan dan Restrukturasi
Global dan Pembentukan ASHI, PS Hukum dan Masyarakat, FH Undip Semarang, 12-13
November 1996;
Taneko, Soleman B. 1993. Struktur dan Proses Sosial, Suatu Pengantar Sosiologi
Pembangunan, RajaGrafmdo Persada, Jakarta;
Virlio, Paul. 1986. Speed and Politics, Semiotex (e), New York;
Ward, Keith. 1996. God, Chance and Necessity, Oneworld, Oxford, UK, 1996
Wilardjo, Liek. 1990. Realita dan Desiderata, Duta Wacana University Press,
Yogyakarta;
Winarta, Frans Hendra. "Peradilan yang Berkualitas Dalam Suatu Negara Hukum",
Majalah Pro Justitia, Tahun XVII No. 4, Oktober 1999

160 Fenomena Chaos


Dalam Kehidupan Hukum Indonesia