Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pernyataan Masalah


Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air bahan sampai mencapai
kadar air tertentu sehingga dapat memperlambat laju kerusakan produk akibat
aktivitas biologi dan kimia. Pengeringan pada dasarnya merupakan proses
perpindahan energy yang digunakan untuk menguapkan air yang berada dalam
bahan, sehingga mencapai kadar air tertentu agar kerusakan bahan pangan dapat
diperlambat. Kelembapan udara pengering harus memenuhi syarat yaitu sebesar
55 – 60% . Perpanjangan daya simpan terjadi karena aktivitas mikroorganisme
dan enzim menurun sebagai akibat jumlah air yang dibutuhkan untuk aktivitasnya
tidak cukup. Proses pengeringan bukan merupakan proses sterilisasi. Produk yang
sudah dikeringkan harus dijaga supaya kadar airnya tetap rendah. Pengeringan
adalah proses pengeluaran air atau pemisahan air dalam jumlah yang relative kecil
dari bahan dengan menggunakan energi panas (Pinem, 2004).
Salah satu alat pengering yang ada adalah tray drier yang beroperasi secara
batch, dimana bahan yang dikeringkan berada di suatu tempat tertentu (di tray)
sedang gas (biasanya udara) mengalir secara terus menerus melalui bahan yang
dikeringkan dan menguapkan airnya. Operasi secara batch ini di industri
merupakan proses yang relatif mahal dan hanya sesuai untuk beberapa bahan
tertentu. Tetapi untuk skala laboratorium alat ini sangat bermanfaat untuk
mempelajari pengetahuan fundamental tentang pengeringan seperti misalnya
mekanika fluida, kimia permukaan, struktur padatan, perpindahan massa dan
panas yang kesemuanya itu berpengaruh pada proses pengeringan.
1.1 Tujuan
1. Menentukan kadar air suatu bahan baik dalam % massa maupun rasio
massa.
2. Mengukur laju alir suatu arus udara dan menerapkan hukum kontinuitas..
3. Mengukur dry bulb dan wet bulb temperature.
4. Menentukan kelembaban udara didasarkan dry bulb dan wet bulb
temperature dengan menggunakan psychrometer chart.
2

5. Membuat kurva karakteristik pengeringan.


6. Menjelaskan perbedaan mekanisme pengeringan di setiap periode
pengeringan pada kurva karakteristik.
7. Menjelaskan pengaruh variabel pengeringan terhadap laju pengeringan pada
periode laju pengeringan konstan.
8. Membandingkan laju pengeringan hasil percobaan pada periode laju
pengeringan konstan dengan laju pengeringan teoritis yang didasarkan
persamaan empiris perpindahan panas.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Pengeringan


Proses pengeringan merupakan proses perpindahan panas dari sebuah
permukaan benda sehingga kandungan air pada permukaan benda berkurang.
Perpindahan panas dapat terjadi karena adanya perbedaan temperatur yang
signifikan antara dua permukaan. Perbedaan temperatur ini ditimbulkan oleh
adanya aliran udara panas diatas permukaan benda yang akan dikeringkan
yang mempunyai temperatur lebih dingin.
Pengeringan merupakan operasi pengurangan kadar air bahan padat sampai
batas tertentu sehingga bahan tersebut bebas terhadap serangan mikroorganisme,
enzim, dan insekta yang merusak. Secara lebih luas, pengeringan merupakan
proses yang terjadi secara simultan (serempak) antara perpindahan panas dari
udara pengeringan ke bahan yang dikeringkan dan terjadi penguapan uapair dari
bahan yang dikeringkan.Pengeringan dapat terjadi karena adanya perbedaan
kelembapan (humidity) antara udara kering dengan bahan yang dikeringkan
(Wirakartakusumah, 1992).
Ada pengering yang beroperasi secara kontinyu (sinambung) dan batch. Untuk
mengurangi suhu pengeringan, beberapa pengering beroperasi dalam vakum.
Beberapa pengering dapat menangani segala jenis bahan, tetapi ada pula yang sangat
terbatas dalam hal umpan yang ditanganinya. Pembagian pokok pengering (dryer) :
1. Pengering (dryer) dimana zat yang dikeringkan bersentuhan langsung
dengan gas panas (biasanya udara) disebut pengering adiabatik (adiabatic
dryer) atau pengering langsung (direct dryer).
2. Pengering (dryer) dimana kalor berpindah dari zat ke medium luar, misalnya
uap yang terkondensasi, biasanya melalui permukaan logam yang
bersentuhan disebut pengering non adiabatik (non adiabatic dryer) atau
pengering tak langsung (indirect dryer)(Mc. Cabe, 2002).
2.2 Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Pengeringan
2.2.1 Luas Permukaan
4

Makin luas permukaan bahan makin cepat bahan menjadi kering Air
menguap melalui permukaan bahan, sedangkan air yang ada di bagian tengah
akan merembes ke bagian permukaan dan kemudian menguap (Fadilah, 2010).
2.2.2 Perbedaan Suhu dan Udara Sekitarnya
Semakin besar perbedaan suhu antara medium pemanas dengan bahan
material makin cepat pemindahan panas ke dalam bahan dan makin cepat pula
penghilangan air dari bahan. Air yang keluar dari bahan yang dikeringkan akan
menjenuhkan udara sehingga kemampuannya untuk menyingkirkan air berkurang.
Jadi dengan semakin tinggi suhu pengeringan maka proses pengeringan akan
semakin cepat. Akan tetapi bila tidak sesuai dengan bahan yang dikeringkan,
akibatnya akan terjadi suatu peristiwa yang disebut "Case Hardening", yaitu suatu
keadaan dimana bagian luar bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya
masih basah (Fadilah, 2010).
2.2.3 Kecepatan Aliran Udara
Makin tinggi kecepatan udara, makin banyak penghilangan uap air dari
permukaan bahan sehinngga dapat mencegah terjadinya udara jenuh di permukaan
bahan. Udara yang bergerak dan mempunyai gerakan yang tinggi selain dapat
mengambil uap air juga akan menghilangkan uap air tersebut dari permukaan
bahan pangan, sehingga akan mencegah terjadinya atmosfir jenuh yang akan
memperlambat penghilangan air. Apabila aliran udara disekitar tempat
pengeringan berjalan dengan baik, proses pengeringan akan semakin cepat, yaitu
semakin mudah dan semakin cepat uap air terbawa dan teruapkan (Fadilah, 2010).
2.2.4 Tekanan Udara
Semakin kecil tekanan udara akan semakin besar kemampuan udara untuk
mengangkut air selama pengeringan, karena dengan semakin kecilnya tekanan
berarti kerapatan udara makin berkurang sehingga uap air dapat lebih banyak
tetampung dan disingkirkan dari bahan pangan. Sebaliknya jika tekanan udara
semakin besar maka udara disekitar pengeringan akan lembab, sehingga
kemampuan menampung uap air terbatas dan menghambat proses atau laju
pengeringan (Fadilah, 2010).
2.2.5 Kelembapan Udara
5

Makin lembab udara maka Makin lama kering sedangkan Makin kering
udara maka makin cepat pengeringan. Karena udara kering dapat mengabsobsi
dan menahan uap air Setiap bahan mempunyai keseimbangan kelembaban nisbi
masing-masing. kelembaban pada suhu tertentu dimana bahan tidak akan
kehilangan air (pindah) ke atmosfir atau tidak akan mengambil uap air dari
atmosfir (Fadilah, 2010)
2.3 Prinsip dasar dan mekanisme pengeringan
Proses pengeringan pada prinsipnya menyangkut proses pindah panas dan
pindah massa yang terjadi secara bersamaan (simultan). Pertama panas harus di
transfer dari medium pemanas ke bahan. Selanjutnya setelah terjadi penguapan
air, uap air yang terbentuk harus dipindahkan melalui struktur bahan ke medium
sekitarnya. Proses ini akan menyangkut aliran fluida di mana cairan harus di
transfer melalui struktur bahan selama proses pengeringan berlangsung. Jadi
panas harus di sediakan untuk menguapkan air dan air harus mendifusi melalui
berbagai macam tahanan agar supaya dapat lepas dari bahan dan berbentuk uap air
yang bebas. Lama proses pengeringan tergantung pada bahan yang di keringkan
dan cara pemanasan yang digunakan. Makin tinggi suhu dan kecepatan aliran
udara pengeringan makin cepat pula proses pengeringan berlangsung. Makin
tinggi suhu udara pengering, makin besar energi panas yang di bawa udara
sehingga makin banyak jumlah massa cairan yang di uapkan dari permukaan
bahan yang dikeringkan. Jika kecepatan aliran udara pengering makin tinggi maka
makin cepat massa uap air yang dipindahkan dari bahan ke atmosfer. Kelembaban
udara berpengaruh terhadap proses pemindahan uap air. Pada kelembaban udara
tinggi, perbedaan tekanan uap air didalam dan diluar bahan kecil, sehingga
pemindahan uap air dari dalam bahan keluar menjadi terhambat. Pada
pengeringan dengan menggunakan alat umumnya terdiri dari tenaga penggerak
dan kipas, unit pemanas (heater) serta alat-alat kontrol. Sebagai sumber tenaga
untuk mengalirkan udara dapat digunakan blower. Sumber energi yang dapat
digunakan pada unit pemanas adalah tungku, gas, minyak bumi, dan elemen
pemanas listrik.
Proses utama dalam pengeringan adalah proses penguapan air maka perlu
terlebih dahulu diketahui karakteristik hidratasi bahan pangan yaitu sifat-sifat
6

bahan yang meliputi interaksi antara bahan pangan dengan molekul air yang
dikandungnya dan molekul air di udara sekitarnya. Peranan air dalam bahan
pangan dinyatakan dengan kadar air dan aktivitas air, sedangkan peranan air di
udara dinyatakan dengan kelembaban relatif dan kelembaban mutlak (Fadilah,
2010).
2.4 Jenis – Jenis Tray
Berikut – berikut ini adalah jenis – jenis tray (Christie,1993) :
1. Tray Dryer
Salah satu alat pengering yang ada adalah tray dryer yang
beroperasi sacara batch, dimana bahan yang dikeringkan berada di suatu
tempat tertentu (di tray) sedang gas (biasanya digunakan udara) mengalir
secara terus-menerus melalui bahan yang dikeringkan dan menguapkan
airnya. Operasi secara batch ini di industri merupakan proses yang relatif
mahal dan hanya sesuai dengan bahan tertentu saja. Tetapi untuk skala
laboratorium alat ini sangat bermanfaat untuk mempelajari pengetahuan
fundamental tentang pengeringan seperti misalnya mekanika fluida, kimia
permukaan, struktur padatan, perpindahan massa dan panas yang
kesemuanya itu sangat berpengaruh terhadap proses pengeringan.
Contoh tray dryer ditunjukkan pada Gambar 1.1 Pengering ini
terdiri dari sebuah ruang dari logam lembaran yang berisi dua buah truk
yang mengandung rak-rak H. Setiap rak mempunyai sejumlah piringan
sebagai penapis tempat bahan yang akan dikeringkan diletakkan. Piringan
ini umumnya berukuran 30 in2, dengan ketebalan 2 sampai 6 in. Udara
panas disirkulasikan pada kecepatan 7 sampai 15 ft/detik di antara piringan
dengan bantuan kipas C dan motor D, mengalir melalui pemanas E. Sekat-
sekat G membagi udara tersebut secara seragam di atas susunan talam tadi.
Sebagian udara basah diventilasikan keluar melalui talang pembuang B;
sedangkan udara segar masuk melalui pemasuk A. Rak-rak itu disusun di
atas roda truk I sehingga pada akhir siklus pengeringan truk itu dapat
ditarik keluar dari ruang pengering dan dibawa ke bagian akhir untuk off
loading bahan yang selesai dikeringkan.
7

Gambar 1.1. Skema Tray Dryer


Tray dryer dapat beroperasi dalam vakum, terkadang dengan
pemanasan tidak langsung. Masing-masing tray terdiri atas pelat-pelat
logam bolong yang dilalui uap atau air panas atau terkadang dilengkapi
ruang khusus untuk fluida pemanas. Uap dari zat padat dikeluarkan dengan
ejektor atau pun pompa vakum. Pengering beku (freeze drying) terdiri dari
sublimasi es dari es pada tekanan vakum dan pada temperatur di bawah
0oC. Freeze drying dilakukan khusus untuk mengeringkan vitamin dan
berbagai bahan yang peka terhadap panas.
2. Screen Conveyor Dryer
Contoh umum Screen Conveyor Dryer dengan sirkulasi tembus
ditunjukkan pada Gambar 1.2. Lapisan bahan yang akan dikeringkan
setebal 1 sampai 6 in diangkut perlahan di atas lapisan screen logam
melalui ruang lurus seperti pengering. Selama pergerakan itu bahan
dikeringkan. Ruang/ terowongan tersebut terdiri dari sederetan bagian
terpisah, yang masing-masing mempunyai kipas dan pemanas udaranya
sendiri. Pada ujung masuk ke perngering itu, udara biasanya mengalir ke
atas melalui lapisan screen dan zat padat. Di dekat ujung keluar dimana
bahan sudah kering dan umumnya jadi berdebu, udara dialirkan ke bawah
melalui screen tersebut.
8

Gambar 1.2. Screen Conveyor Dryer


Pengering screen conveyor biasanya mempunyai lebar 6 ft dan
panjang 12 sampai 150 ft dan waktu pengeringannya 5 sampai 120 menit.
Ukuran anyaman pada lapisan screen kira-kira 30 mesh. Bahan-bahan
bijian kasar, serpih, atau bahan berserat dapat dikeringkan dengan sirkulasi
tembus tanpa sesuatu proses pretreatment dan tanpa ada bahan yang lolos
dari lapisan screen. Akan tetapi bahan saring yang halus harus dicetak
terlebih dahulu untuk dapat dikeringakan dengan screen conveyor drier.
Agregat tersebut biasanya tidak kehilangan bentuknya pada waktu
dikeringkan dan sangat sedikit yang tiris menjadi debu melalui lapisan
screen tersebut. Terkadang screenconveyor dryer juga dilengkapi fasilitas
untuk mengambil dan mencetak kembali partikel-partikel halus yang
tertapis oleh lapisan screen tersebut.
3. Tower Dryer
Tower Dryer terdiri dari sederetan piringan bundar yang dipasang
bersusun ke atas pada suatu poros tengah yang berputar. Umpan padat
dijatuhkan pada piringan teratas dan dikenakan pada arus udara panas atau
gas yang mengalir melintasi setiap piringan. Zat padat tersebut lalu
didorong keluar dan dijatuhkan pada piringan berikut di bawahnya. Proses
tersebut terus dialami zat padat yang dikeringkan sampai keluar dari
piringan terbawah sebagai hasil yang kering pada dasar menara. Aliran zat
padat dan gas pengering tersebut dapatsearah dan dapat pula berlawanan
arah. Turbo dryer pada Gambar 1.3 adalah salah satu contoh tower dryer
9

dengan resirkulasi-dalam pada gas pemanas. Kipas-kipas turbin digunakan


untuk mensirkulasikan udara atau gas ke arah luar di antara beberapa
piringan, di atas elemen pemanas, dan ke arah dalam di antara piringan-
piringan lain. Kecepatan gas biasanya 2 sampai 8 ft/detik. Dua piringan
terbawah pada pengering merupakan bagian pendinginan untuk zat padat
kering. Udara yang dipanaskan terlebih dahulu biasanya masuk dari bawah
menara dan keluar dari atas sehingga terdapat aliran berlawanan arah.
Turbo dryer berfungsi sebagian dengan pengeringan sirkulasi silang,
seperti pada traydryer dan sebagian dengan mengontakkan partikel-
partikel melalui gas panas pada waktu partikel itu jatuh dari piringan yang
satu ke piringan berikutnya.

Gambar 1.3. Tower Dryer


4. Rotary Dryer
Rotary Dryer terdiri dari sebuah selongsong berbentuk silinder
yang berputar, horisontal, atau agak miring ke bawah ke arah luar. Umpan
basah masuk dari satu ujung silinder sedangkan bahan kering keluar dari
ujung yang satu lagi. Pada waktu selongsong berputar, sayap-sayap yang
terdapat di dalam mengangkat zat padat tersebut dan mendorong padatan
jatuh melalui bagian dalam selongsong. Rotary dryer ada yang dipanaskan
dengan kontak langsung gas dengan zat padat, dengan gas panas yang
mengalir melalui mantel luar, atau dengan uap yang kondensasi di dalam
10

seperangkat tabung longitudinal yang dipasangkan pada permukaan dalam


selongsong. Jenis yang dirancang sedemikian rupa dinamakan rotary dryer
dengan tabung uap. Dalam rotarydryer tipe direct-indirect gas panas
terlebih dahulu dilewatkan melalui mantel dan kemudian masuk ke dalam
selongsong, dimana gas tersebut berada pada kontak dengan zat padat
yang dikeringkan.

Gambar 1.4. Rotary Dryer Arus Counter Current


Keterangan Alat:
A: selongsong pengering
B: selongsong bantalan rol
C: roda gigi penggerak
D: tudung pembuang udara
E: kipas pembuang
F: peluncur umpan
G: sayap-sayap pengangkut
H: pengeluaran produk
I : pemanas udara
5. Screw Conveyor Dryer
Screw conveyor Dryer adalah pengering kontinu dengan sistem
kontak tidak langsung. Pada pokoknya pengering ini terdiri dari sebuah
screw conveyor horizontal yang terletak di dalam selongsong bermantel
berbentuk silinder. Zat padat yang diumpankan di satu ujung diangkut
perlahan melalui zona panas dan dikeluarkan dari ujung yang satu lagi.
Uap yang keluardisedot melalui pipa yang dipasang pada atap selongsong.
Selongsong umumnya berdiameter 75 sampai 600 mm dan panjangnya
dapat sampai 20 ft. Bila diperlukan selongsong panjang, digunakan
beberapa selongsong yang dipasang bersusun satu di atas yang lain.
11

Sering pula unit paling bawah dalam susunan itu merupakan pendingin
dimana air atau bahan pendingin lain yang dialirkan dalam mantel itu
untuk menurunkan temperatur zat padat yang telah dikeringkan tersebut
sebelum keluar dari pengering.
Laju putar selongsong umumnya rendah, antara 2 sampai 30 putaran per
menit. Koefisien perpindahan kalor didasarkan atas keseluruhan
permukaan dalam selongsong, biarpun selongsong tersebut hanya 10
sampai 60 persen terisi. Koefisien itu bergantung pada pembebanan di
dalam selongsong dan kecepatan conveyor. Nilainya untuk kebanyakan zat
padat berkisar antara 17 sampai 57 W/m2.0C. Screw conveyor dryer dapat
menangani zat padat yang terlalu halus atau terlalu lengket bila
dikeringkan pada rotary dryer. Pengering ini tertutup seluruhnya, dan
memungkinkan recovery uap zat pelarut tanpa terlalu banyak pengenceran
oleh udara atau bahkan tanpa pengenceran sama sekali. Bila dilengkapi
dengan pengumpan yang sesuai, pengering ini dapat dioperasikan dalam
vakum. Jadi sangat sesuai untuk mengeluarkan zat pelarut yang mudah
menguap dari zat padat yang basah dengn pelarut, seperti sisa dari operasi
pengurasan.
12

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan yang Digunakan


1. Air
2. Pasir
3.2 Alat yang Digunakan
1. Anemometer
2. Baskom plastik
3. Cawan
4. Gelas ukur
5. Neraca Digital
6. Oven
7. Pipet tetes
8. Psychometer
9. penggaris
10. Termometer
11. Tray
12. Unit Tray Drier
3.3 Rangkaian Alat

Gambar 3.1 Rangkaian alat tray drier


13

3.4 Prosedur Percobaan


3.4.1 Percobaan 1
1. Pasir 1,5 kg ditambahkan 600 ml air kemudian diaduk rata di dalam wadah
plastik.
2. Sampel diambil 10 gram ditimbang untuk kemudian dioven pada suhu
110oC sampai didapatkan berat konstan.
3. Tray dryer disiapkan, kemudian diatur suhu dan laju alir udara sesuai
variasi yanng telah ditentukan. Pada percobaan ini, variasi suhu udara dan
laju alir berturut-turut adalah 5:5 dan 6:5.
4. Luas penampang tray dryer diukur pada bagian ujung dan bagian tengah.
5. Psycrometer dibasahi dengan menggunakan pipet tetes, dilakukan setiap
kali mengukur kelembapan udara.
6. Tray dibersihkan dan dikeringkan. Panjang dan lebar diukur, ditimbang
dan dicatat massanya.
7. Sampel dimasukkan kurang lebih 600 gram kemudian diratakan di tray.
Ketebalan pasir diukur.
8. Setiap 10 menit, tray yang berisi sampel dikeluarkan dan ditimbang. Pada
saat dimasukkan kembali, suhu dan laju alir udara diukur kembali.
9. Apabila selisih penimbangan ΔΦ= 0,1 gram percobaan dihentikan.
14

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut.

Tabel 4.1 Data pengeringan laju alir udara skala 5 dan suhu skala 5
Waktu berat pasir rata- kadar air (%) Laju pengeringan
(menit) rata
10 0,59145 0,395878447 0,446213344

20 0,58898 0,393344948 0,112219669

30 0,58043 0,384408641 0,395827832

40 0,57458 0,37814109 0,277617042

50 0,5684 0,371379852 0,299484612

60 0,56521 0,36783197 0,157151087

70 0,56304 0,365395545 0,107919832

80 0,56243 0,364707266 0,030486862

90 0,56235 0,364616889 0,004003183

Tabel 4.2 Data pengeringan laju alir udara skala 5 dan suhu skala 6
Waktu berat pasir rata-rata kadar air Laju
( menit ) ( kg ) (%) pengeringan

10 0,59369 0,39815781 0,003536362


20 0,58574 0,38998926 0,010050569
30 0,57849 0,38234422 0,009406442
40 0,57334 0,37679616 0,00682633
50 0,56967 0,37278127 0,004939905
60 0,56744 0,37031635 0,003032841
15

70 0,56681 0,36961646 0,000861135


80 0,56633 0,36908217 0,000657389
90 0,56617 0,36890388 0,000219377
4.2 Pembahasan

4.2.1 Kurva Karakteristik


Pada praktikum ini, dilakukan percobaan dengan variabel laju alir skala 5
dengan suhu skala 5 dan laju alir skala 5 dengan suhu skala 6. Proses Pengering
dan interval waktu pengukuran laju pengeringan setiap 10 menit. Pada awal
percobaan mengukur kadar air mula-mula, sebanyak 30 gram pasir diukur kadar
air nya dilakukan dengan menggunakan oven pada suhu 110 0C hingga berat pasir
konstan.

0,4
Laju Pengeringan (m3/jam)

B
0,35
C
0,3 A
0,25
0,2 D
0,15 E
0,1
0,05
0
0,36 0,37 0,38 0,39 0,4
Kadar Air %

Gambar 4.1 Kurva Karakteristik Laju Pengeringan VS Kadar Air dengan skala 5
dan suhu skala 5
16

0,012

Laju Pengeringan (m3/jam)


0,01

0,008

0,006

0,004

0,002

0
0,36 0,37 0,38 0,39 0,4
Kadar Air %

Gambar 4.2 Kurva Karakteristik Laju Pengeringan VS Kadar Air dengan skala
5 dan suhu skala 6
Pada periode awal operasi, kecepatan pengeringan semakin meningkat
seiring kenaikan suhu bahan. Peningkatan ini terjadi karena adanya perbedaan
temperatur yang cukup besar dari udara pengering masuk dan permukaan medium
yang dikeringkan. Hal ini menyebabkan terjadinya transfer panas dari udara
pengering ke medium, sehingga air yang terkandung menguap. Periode ini dapat
dilihat pada titik A - B.
Titik B – C menunjukkan periode kecepatan pengeringan tetap, dimana
konsentrasi cairan pada permukaan akan terus berkurang walaupun kecepatan
pengeringan yang terjadi tetap. Hal ini disebabkan oleh difusi atau efek kapiler
dari bahan ke permukaan dapat mengimbangi kecepatan penguapan air pada
permukaan padatan. Pada periode ini semua panas yang dipindahkan dari udara
pengeringakan digunakan untuk menguapkan air, periode ini dimulai ketika suhu
permukaan medium sudah sama dengan suhu bola basah udara pengering.
Apabila kandungan cairan zat padat telah mencapai titik kritis, maka
lapisan permukaan cairan berkurang, sehingga pada pengeringan berikutnya akan
mengakibatkan terjadinya tempat-tempat kering pada permukaan yang semakin
meluas selama pengeringan. Penurunan kecepatan pengeringan dikarenakan
kecepatan pengeringan yang dihitung berdasarkan luas permukaan yang tetap.
Periode penurunan kecepatan pengeringan yang pertama dapat dilihat pada titik C
– D. Penurunan kecepatan pengeringan ini juga disebabkan karena difusitas cairan
17

dalam bahan (pasir) tidak mampu mengimbangi kecepatan pengeringan pada


permukaan. Setelah penurunan kecepatan pengeringan pertama tercapai,
kecepatan pengeringan selanjutnya akan turun kembali sampai tercapai kadar air
kesetimbangan yang ditunjukkan oleh titik D – E.
Namun, hasil dan kurva yang diperoleh ada beberapa titik yang tidak
sesuai dengan teori seperti titik B – C yang kecepatan pengeringannya tidak tetap.
Hal ini mungkin disebabkan karena laju udara pengeringan dari alat tray drier
yang diukur dengan psycometer tidak stabil atau konstan. Selain itu, kesalahan ini
mungkin disebabkan uap air dari proses pengeringan dalam tray drier berubah
fasa menjadi air kembali kedalam sampel yang terjadi pada saat penimbangan.
18

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Suhu udara mermpengaruhi poses pengeringan semakin tinggi suhu
pengering maka semakin cepat proses pengeringan .
2. Pada proses pengeringan terdapat beberapa variabel yang dapat
mempengaruhi laju pengeringan, diantaranya: suhu pengering,
kelembaban udara pengering, luas permukaan medium dan lain-lain.

5.2 Saran

Sebaiknya praktikan lebih memahami prosedur pengeringan sehingga


tidak terjadi kesalahan pada saat proses berlangsung dan lebih teliti saat
melakukan penimbangan karena akan sangat mempengaruhi hasil yang akan
didapat.

.
19

DAFTAR PUSTAKA

Fadilah, dkk. 2010. Pengaruh Metode Pengeringan Terhadap Kecepatan


Pengeringan Dan Kualitas Karagenan Dari Rumput Laut Eucheuma
Cottonii. Program Studi Teknik Kimia FT Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.
Geankoplis, Christie J.1993. Transport Process and Unit Operations, third
edition. Allyn and Bacon Inc, Boston.
Mc. Cabe, Warren, L. 2002. Unit Operation of Chemical Engineering Edition 4th.
Mc Grow Hill International Book Co : Singapore
Pinem, 2004. Rancang Bangun Alat Pengeringan Ikan Teri Kapasitas 12kg/jam.
Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin. Politeknik Negeri Malang. Jurnal
Teknik SIMETRIKA Vol.3. No.3. 249-253
Tim Penyusun. 2017. Penuntun Praktikum Laboratorium Teknik Kimia II.
Program Studi Teknik Kimia S1, Fakultas Teknik, Universitas Riau,
Pekanbaru.
Wirakartakusumah, M.A., K. Abdullah, A.M. Syarief. 1992. Sifat Fisik Pangan.
PAU Pangan Gizi IPB, Bogor. Hal: 26-31.