Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

USAHA PEMBESARAN IKAN BETUTU DI KARAMBA

Tugas Mata Kuliah Management Bisnis Perikanan

DI KARAMBA Tugas Mata Kuliah Management Bisnis Perikanan Oleh: WINARNO NIM. G2D108025 PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU

Oleh:

WINARNO NIM. G2D108025

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU PERIKANAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU

2009

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Tujuan

6

II. TINJAUAN PUSTAKA

7

A. Ikan Betutu

7

B. Produksi dan Pemasaran Ikan Betutu

9

III. PEMBAHASAN

11

A. Profit

11

B. Permasalahan

12

IV. PENUTUP

14

A. Kesimpulan

14

B. Saran

14

DAFTAR PUSTAKA

15

Tabel

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Produksi perikanan darat Kalimantan Selatan tahun 2008

5

2. Produksi perikanan betutu Kalimantan Selatan tahun 2004 - 2008

9

3. Analisis finansial usaha pembesaranikan betutu di karamba

11

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbagai kemajuan di berbagai bidang kehidupan berbangsa telah diraih

sebagai wujud dari hasil pembangunan ekonomi, salah satunya adalah perubahan

“wajah” kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya hayati.

Bila sebelumnya kegiatan

ekonomi berbasis sumberdaya hayati praktis hanya dalam bentuk pertanian primer

(on-farm activities), dewasa ini terjadi industrialisasi yang ditandai dengan (1)

perubahan orientasi kegiatan ekonomi dari peningkatan produksi kepada orientasi

pasar;

(2)

berkembangannya

kegiatan

ekonomi

yang

menghasilkan

dan

memperdagangkan sarana produksi pertanian primer, serta kegiatan mengolah hasil

pertanian primer dan perdagangannya (off-farm agribusiness); (3) semakin kuatnya

keterkaitan antara kegiatan produksi dan perdagangan sarana produksi primer dengan

usahatani, antara pertanian primer dengan kegiatan pengolahan hasil pertanian

primer dan perdagangannya, serta keterkaitannya dengan konsumen; dan (4) motor

penggerak (primer mover) kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya hayati sedang

mengalami proses perubahan, dari pertanian primer sebagai penggerak utama beralih

ke industri pengolahan hasil pertanian primer.

Artinya, bila di masa lalu kegiatan

pertanian primer menentukan kegiatan industri pengolahan, sebaliknya dewasa ini

kegiatan

industri

pengolahan

yang

menentukan

kegiatan

pertanian

primer

dan

selanjutnya menentukan kegiatan penyediaan sarana produksi (Saragih, 2001).

2

Berlangsungnya

proses

industrialisasi

tersebut

telah

merubah

kegiatan

ekonomi berbasis sumberdaya hayati, dari sekedar bentuk pertanian primer menjadi

suatu sektor ekonomi modern dan besar yang dinamakan dengan sektor agribisnis.

Menurut Drillon Jr. (1971), sektor agribisnis sebagai bentuk modern dari pertanian

primer

setidaknya

mencakup

kegiatan

ekonomi

yang

menghasilkan

dan

memperdagangkan sarana produksi pertanian (up-stream agribusisness), subsistem

usahatani yang disebut juga sebagai sektor pertanian primer (on-farm agribusisness),

kegiatan mengolah hasil pertanian menjadi produk olahan, baik dalam bentuk siap

masak atau saji maupun siap untuk dikonsumsi beserta perdagangannya di pasar

domestik dan internasional, dan subsistem jasa pelayanan pendukung (supporting

institution), seperti lembaga keuangan dan pembiayaan, transportasi, penyuluhan dan

layanan informasi agribisnis, penelitian dan pengembangan, kebijakan pemerintah

dan lain sebagainya.

Dalam

pembangunan

ekonomi

nasional,

pembangunan

sektor

agribisnis

diharapkan dapat menjadi salah satu sektor andalan dalam upaya pencapaian tujuan

pembangunan

nasional,

yang

mencakup

beberapa

isu

strategis

pembangunan

ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan ekonomi rakyat, pemerataan

pembangunan dan pendapatan, keamanan pangan dan posisi Indonesia dalam era

perdagangan

bebas

menyangkut

industri/produk

unggulan

nasional.

Hal

ini

mengingat sekitar 54% dari seluruh pelaku agribisnis adalah pelaku pada subsistem

usahatani (on-farm agribusiness), yakni petani, buruh tani, peternak rakyat dan

nelayan yang sebagian besar hidup di perdesaan dan menggantungkan kehidupan

ekonominya pada kegiatan usahatani, dan merupakan kelompok masyarakat yang

3

tergolong rendah pendapatannya, bahkan masih banyak yang tergolong miskin.

Hal

ini

dikarenakan

kegiatan

usahatani

merupakan

subsistem

agribisnis

yang

memiliki nilai tambah terkecil dibanding subsistem lainnya, seperti agribisnis hulu

(upstream

agribusiness),

agribisnis

hilir

(down-stream

agribusiness)

dan

jasa

penunjang agribisnis (supporting institution) (Saragih, 2001).

Menurut Cook and Bredahl (1991), cara yang cukup efektif dan produktif

untuk meningkatkan pendapatan adalah mengembangkan kegiatan ekonomi dimana

sebagian besar masyarakat menggantungkan kehidupan ekonominya.

Dalam hal ini

adalah mengembangkan sektor-sektor ekonomi yang berbasis di dalam negeri,

dimana teknologinya telah dan mudah dikuasai, melibatkan tenaga kerja nasional

dengan segala keberadaannya dan menggunakan barang-barang modal yang telah

dan mudah dihasilkan, guna menghasilkan produk-produk yang diperlukan oleh

masyarakat luas, baik nasional maupun internasional. Inilah yang dimaksud dengan

agribisnis sebagai kegiatan unggulan pembangunan ekonomi nasional, dimana arah

kegiatan pertanian adalah memproduksi untuk dapat dijual, yakni produksi yang

menyesuaikan dengan permintaan pasar.

Melalui agribisnis ini diharapkan terjadi

peningkatan

pendapatan

petani,

yang

pada

akhirnya

akan

mengurangi

tingkat

kemiskinan.

Yang dimaksud dengan kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya hayati pada

sektor agribisnis adalah kegiatan pertanian secara luas, yang mencakup subsektor

tanaman pangan, perkebunan dan peternakan, serta termasuk juga sektor perikanan.

Sektor perikanan merupakan salah satu bidang yang mengalami perkembangan dan

perubahan

dalam

memanfaatkan

sumberdaya

alam

dan

meningkatkan

mutu

4

kehidupan petani ikan dan nelayan.

Usaha perikanan yang pada mulanya hanya

bersifat perburuan secara tradisional telah berkembang menjadi usaha penangkapan

dengan menggunakan peralatan yang canggih, seperti kapal yang dilengkapi mesin,

fish finder, kompas, ruang falka dan refrigerator, serta alat tangkap.

Selain itu,

kegiatan budidaya juga berkembang pesat, dari sistem yang sangat tradisional dan

alami ke sistem yang lebih modern dan intensif, seperti adanya penggunaan kincir

dan pompa air secara elektrik, suplai makanan yang hanya bersumber dari pakan

buatan dan konstruksi media pemeliharaan yang permanen.

Sektor

perikanan

cukup

berperan

dalam

pemulihan

ekonomi

Indonesia,

dikarenakan sumberdaya perikanan masih cukup berlimpah dan belum termanfaatkan

secara optimal.

Permintaan ikan dunia dari tahun ke tahun terus meningkat seiring

dengan

bertambahnya

jumlah

penduduk,

sedangkan

kemampuan

pasok

negara

penghasil ikan dunia semakin berkurang karena keterbatasan sumberdaya yang

dimiliki (Kusumaatmadja, 2000).

Kalimantan

Selatan

merupakan

salah

satu

provinsi

di

Indonesia

yang

memiliki

potensi

sumberdaya

perairan

yang

dapat

dimanfaatkan

untuk

usaha

perikanan, yakni seluas 120.000 km 2 untuk perikanan laut dan 10.595,35 km 2 untuk

perikanan darat (Dinas Perikanan dan Kelautan Kalimantan Selatan, 2009).

Khusus

untuk perikanan darat, produksi perikanan Kalimantan Selatan mencapai 63.261,9

ton pada tahun 2008, yang terdiri dari 49.517,6 ton dari kegiatan penangkapan dan

13.774,3 ton dari kegiatan budidaya air tawar seperti diperlihatkan pada Tabel 1.

5

Tabel 1. Produksi perikanandarat Kalimantan Selatan tahun 2008

 

Produksi

Jenis Kegiatan

(ton)

- Penangkapan

49.517,6

- Budidaya kolam

8.143,7

- Budidaya sawah

263,1

- Budidaya karamba

4.735,8

- Budidaya jaring apung

596,5

- Budidaya lainnya

5,2

Total Produksi

63.261,9

Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kalimantan Selatan (2009)

Tabel 1 memperlihatkan bahwa produksi perikanan darat di Kalimantan

Selatan masih didominasi dari usaha penangkapan, dengan beragam hasil tangkapan

seperti ikan lampan, jambal, gabus, betutu, toman, sepat siam, sepat rawa, belida,

betok, baung dan lain-lain, dan hanya sebagian kecil dari usaha budidaya dengan

komoditas dominan seperti ikan nila, mas dan patin.

Sementara untuk komoditas

lainnya masih sangat sedikit seperti bawal, jelawat, gurami, jambal dan lain-lain

(Dinas Perikanan dan Kelautan Kalimantan Selatan, 2009).

Data statistik perikanan Kalimantan Selatan memperlihatkan bahwa produksi

terbesar per komoditas pada tahun 2008 untuk ikan hasil tangkapan di perairan

umum adalah sepat rawa (6.796,3 ton), diikuti betok (6.408,5 ton), sepat siam

(6.356,5 ton), gabus (4.045,4 ton) dan selebihnya bervariasi dengan komoditas

seperti tambakan, nilem, jambal, patin, betutu dan lain-lain.

Untuk ikan betutu,

tergolong komoditas dengan produksi yang rendah yakni sebesar 145,6 ton atau

terendah kedua setelah ikan gurame (145,3 ton) untuk golongan ikan.

Padahal

diantara komoditas perikanan darat lainnya, hanya betutu yang diantar pulaukan

untuk selanjutnya diekspor ke manca negara.

6

Fenomena ini menunjukkan bahwa betutu sebagai komoditas perikanan darat

yang tergolong terendah produksinya saat ini sebenarnya memiliki potensi pasar

yang sangat besar mengingat betutu merupakan satu-satunya komoditas yang diantar

pulaukan untuk diekspor ke luar negeri dari Kalimantan Selatan.

Atas dasar ini,

penulis bermaksud untuk mengkaji sampai sejauh mana prospek pengembangan

agribisnis ikan betutu di Kalimantan Selatan dan permasalahan apa saja yang

terdapat, khususnya terkait dengan kegiatan on-farm agribusisness.

B. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:

1. mengetahui prospek pengembangan usaha perikanan ikan betutu, khususnya

terkait dengan kegiatan on-farm agribusisness.

2. mengetahui permasalahan yang terdapat pada usaha perikanan ikan betutu.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Ikan Betutu

Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata Bleeker) adalah salah satu spesies dari

famili Eleotridae yang sepintas mirip dengan ikan gabus, sehingga ikan ini disebut

juga dengan gabus malas.

Disebut malas karena sifatnya yang pasif bila diberi

makan dan cenderung diam di dasar perairan (Mulyono, 2001). Menurutnya, ikan ini

sangat disukai karena rasanya yang gurih, dengan daging yang tebal dan tulang yang

sedikit.

Selain itu, ikan ini juga dipercaya mengandung khasiat tertentu terkait

dengan seksualitas bagi kaum pria dan kecantikan bagi kaum wanita.

Ikan yang dikenal di Kalimantan dengan nama bakut ini oleh Dr. F. Koumans

diidentifikasikan memiliki tubuh yang memanjang, bagian depan silindris dan bagian

belakang pipih, panjang total 5 - 6 kali tinggi badan, kepala gepeng, tubuh berwarna

kecoklatan sampai gelap dengan bercak-bercak hitam menyebar, tubuh bagian atas

lebih gelap daripada tubuh bagian bawah (Komarudin, 2000).

Menurut

Komarudin

(2000),

habitat

ikan

betutu

tersebar

luas

meliputi

perairan tawar di daerah beriklim tropis dan subtropis.

Ikan ini menyenangi tempat

yang arusnya tenang dan agak berlumpur seperti rawa, danau atau muara sungai. Ini

sesuai dengan kebiasaan ikan betutu yang gemar membenamkan dirinya didalam

lumpur, disamping yang juga menyukai tempat-tempat yang banyak tumbuhan

airnya sebagai tempat berlindung dan memijah.

8

Ikan betutu tidak seperti ikan-ikan lain yang mudah dijumpai di pasar-pasar

pada umumnya, ikan ini memiliki pangsa pasar tersendiri setidaknya untuk memasok

restoran disamping sebagai komoditas ekspor. Di Kalimantan Selatan sendiri hingga

saat ini hanya ikan betutu dari jenis ikan air tawar yang diperdagangkan ke lain pulau

hingga manca negara, dengan harga yang mencapai 100-150 ribu rupiah di tingkat

petani/nelayan (Dinas Perikanan dan Kelautan Kalimantan Selatan, 2007).

Suplai produksi ikan betutu di Indonesia sebagian besar masih bersumber dari

alam. Akan tetapi, karena kemampuan reproduksi alamiah ikan ini tergolong paling

rendah sedangkan siklus pertumbuhannya tergolong lambat dibandingkan ikan-ikan

air tawar lainnya (Komarudin, 2000), sehingga ketersediaannya masih belum dapat

untuk memenuhi permintaan pasar.

Mengingat besarnya prospek/peluang usaha perikanan betutu, berbagai upaya

untuk meningkatkan suplai produksi ikan ini telah dilakukan.

lembaga-lembaga

penelitiannya

didukung

dengan

institusi

Pemerintah melalui

pendidikan

terus

melakukan riset budidaya ikan ini, khususnya terkait dengan reproduksi/pembenihan.

Usaha pembesaran juga mulai berkembang di berbagai daerah yang diusahakan baik

di kolam, hampang maupun karamba. Untuk Kalimantan Selatan sendiri, khususnya

Kabupaten Banjar, usaha pembesaran ikan betutu pada saat ini tengah berkembang di

Kecamatan Sungai Tabuk, tepat di Desa Sungai Pinang Lama yang dilaksanakan

oleh Kelompok Pembudidaya Suka Maju menggunakan karamba tancap (pen cage).

Hasil kaji terap pengembangan budidaya ikan betutu oleh Dinas Perikanan

dan Kelautan Kalimantan Selatan (2007) menyimpulkan bahwa budidaya ikan ini

layak

untuk

diusahakan

dengan

pemberian

pakan

berupa

daging

ikan

segar.

9

Dilaporkan pula bahwa permasalahan umum yang dihadapi oleh pembudidaya ikan

betutu adalah penguasaan teknologi budidaya yang relatif masih rendah, ketersediaan

pakan yang kadang-kadang terbatas, dan suplai benih yang masih sangat tergantung

pada ketersediaan di alam, sehingga kualitas benih menjadi tidak merata.

B. Produksi dan Pemasaran Ikan Betutu

Perkembangan produksi perikanan ikan betutu di Kalimantan Selatan dalam

kurun waktu lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Produksi perikanan betutu Kalimantan Selatan tahun 2004 - 2008

Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Total Produksi Produksi (ton) 46,7 55,2 61,2 66,0 145,6

Tahun

2004

2005

2006

2007

2008

Total Produksi

Produksi

(ton)

46,7

55,2

61,2

66,0

145,6

374,7

Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kalimantan Selatan (2009)

Tabel 2 memperlihatkan bahwa produksi perikanan ikan betutu di Kalimantan

Selatan cenderung terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, terutama pada

tahun 2008 mengalami peningkatan yang cukup pesat.

Akan tetapi, produksi ikan

betutu ini masih sangat rendah dibandingkan komoditas perikanan lainnya.

Hal ini

dikarenakan masih sangat tergantung pada ketersediaan di alam, sementara alat

tangkap yang digunakan masih sangat sederhana seperti jaring insang tetap, rawai

dan bubu. Jumlah unit alat tangkap pun masih sangat sedikit, yakni sebanyak 67 unit

dengan jumlah nelayan sebanyak 67 orang.

10

Pada umumnya, produsen (nelayan) menjual hasil produksinya (betutu) ke

pedagang pengumpul dalam bentuk hidup.

Biasanya, pedagang pengumpul akan

melakukan sortir terhadap ukuran dan mutu betutu sebelum disalurkan ke pedagang

besar.

Untuk betutu dengan ukuran dan mutu dibawah standar, umumnya akan

dipasarkan ke pasar-pasar lokal atau diproses menjadi produk olahan seperti kerupuk,

ikan asin dan lain-lain.

Sedangkan untuk yang memenuhi standar, oleh pedagang

besar akan diperdagangkan antar pulau dalam bentuk segar atau hidup, untuk

selanjutnya diekspor sesuai permintaan negara pengimpor.

III. PEMBAHASAN

A. Profit

Analisis yang dipakai dalam menghitung profit usaha perikanan betutu pada

makalah ini adalah analisis finansial, yang diperhitungkan sebagai selisih antara

pendapatan kotor (nilai produksi) dengan pengeluaran total (nilai semua input yang

dikeluarkan) dalam produksi secara riil (Soekartawi, 1995).

Dengan kata lain,

sebagai keuntungan dari hasil penjualan output setelah dikurangi dengan biaya

produksi, dengan rumus:

I TR TC

dimana: I

= pendapatan/keuntungan (income/profit)

TR = Q . Pq (Q = output; Pq = harga output) TC = x i . Px i (x i = input i; Px i = harga input i)

Profit yang dihasilkan pada usaha perikanan betutu, dimana sistem yang

berkembang adalah pembesaran di karamba dengan benih hasil tangkapan, untuk rata-

rata per unit karamba per siklusproduksi adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Analisis finansial usaha pembesaranikan betutu di karamba

Input

Volume

Nilai Input

(Rp)

Biaya Operasional Benih uk. 100 g/ekor @ Rp.5.000,- Pakan rucah @ Rp.3.000,-/kg Tenaga kerja

300

ekor

1.500.000

500

kg

1.500.000

1

orang

250.000

Total

 

3.250.000

Biaya Tetap Nilai penyusutan karamba dan peralatan

 

500.000

Total Biaya (TC)

 

3.750.000

Nilai Produksi (TR)

90

kg

11.250.000

Profit/Pendapatan (I)

 

7.500.000

Sumber: Hasil Pengolahan Data (2009)

12

Tabel 3 memperlihatkan bahwa dalam satu unit karamba dapat dihasilkan

betutu sebesar 90 kg dengan berat rata-rata 500 g/ekor, atau sekitar 180 ekor.

Ini

berarti dengan asumsi terjadi kematian (mortalitas) sebesar 40%.

Dengan harga jual

rata-rata

Rp.125.000,-/kg

didapatkan

hasil

penjualan

kotor

(TR)

sebesar

Rp.11.250.000,-; yang mana setelah dikurangi dengan total biaya produksi sebesar

Rp.3.250.000,- diraih profit (pendapatan) sebesar Rp.7.500.000,- per siklus produksi

atau sekitar Rp.937.500,-/bulan.

Pendapatan sebesar Rp.937.500,-/bulan adalah nilai pendapat per unit karamba

dengan ukuran 4 x 4 m 2 .

Jika jumlah karamba yang diusahakan untuk membesarkan

betutu minimal 10 unit, tentunya profit yang akan dicapai jauh lebih besar.

Akan

tetapi, perlu diingat karena lamanya masa pemeliharaan (8 bulan) maka mortalitas ikan

selama pemeliharaan harus dijaga. Hal ini mengingat rata-rata biaya yang dikeluarkan

untuk setiap ekor betutu adalah sekitar Rp.20.000,- sementara keuntungan yang dicapai

untuk setiap ekor adalah sekitar Rp.40.000,- atau sekitar 200% dari biaya per ekor.

B. Permasalahan

Secara umum permasalahan yang terjadi pada usaha perikanan betutu antara

lain meliputi:

1. Produksi ikan betutu masih sangat tergantung pada hasil tangkapan di alam,

sehingga suplai dengan kuantitas dan kualitas yang sesuai permintaan sangat

terbatas.

2. Alat tangkap yang digunakan masih sangat sederhana dengan jumlah alat tangkap

dan pelaku usaha (nelayan) masih sangat sedikit.

13

3. Meskipun

ada

upaya

usaha

budidaya,

namun

masih

sangat

sedikit

yang

mengusahakannya karena keterbatasan modal dan besarnya resiko yang dihadapi.

4. Ketersediaan benih masih tergantung pada alam karena usaha budidaya yang

berkembang masih bersifat menangkarkan/membesarkan ikan betutu berukuran

kecil yang tertangkap.

5. Besarnya nilai pakan yang harus disediakan mengingat kebiasaan makan ikan

betutu yang karnivora, sehingga resiko yang dihadapi cukup besar jika terjadi

kematian, sementara periode pemeliharaan cukup lama (+ 8 bulan).

III. PENUTUP

A.

Kesimpulan

 

1.

Usaha

perikanan

betutu

memiliki

prospek

yang

cukup

besar

untuk

dikembangkan, ini mengingat harga jual dan permintaan pasar yang tinggi, dan

merupakan satu-satunya komoditas ekspor diantara komoditas perairan umum

yang ada di Kalimantan Selatan.

 

2.

Suplai masih tergantung pada alam, sementara alat tangkap dan pelaku usaha

(nelayan) masih sangat minim.

Sekalipun ada upaya untuk usaha budidaya,

suplai benih juga masih tergantung pada alam, termasuk untuk penyediaan pakan

(ikan rucah) dengan nilai pakan yang cukup besar.

 

B.

Saran

Bantuan

permodalan

sangat

diharapkan

seperti

penyediaan

sarana

alat

tangkap dengan harga terjangkau dan penyediaan benih yang cukup kuantitas dan

kualitas, terutama dari instansi/lembaga terkait, dengan dukungan pembinaan yang

rutin dan berkesinambungan, agar dapat dihasilkan produktivitas usaha perikanan

betutu yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Cook, M.L. and M.E. Bredahl, 1991.

Agribusiness Competitiveness in the 1990’s:

Discussion.

American Journal of Agricultural Economics 73 (5): 1472 -

1473.

Dinas Perikanan dan Kelautan Kalimantan Selatan, 2007. Laporan Kegiatan Pengembangan Budidaya Pen Sistem di Waduk Riam Kanan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Dinas Perikanan dan Kelautan, Banjarbaru.

, 2009.

Laporan Tahunan Statistik Perikanan Kalimantan Selatan 2008.

Dinas Perikanan dan Kelautan,

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Banjarbaru.

Drillon Jr., J.D., 1971. Introduction to Agribusiness Management. Agribusiness Management Resource Materials (Vol. 1). Asian Productivity Management, Tokyo.

Komarudin, U., 2000. Betutu. Pemijahan Secara Alami dan Induksi. Pembesaran di Kolam, Karamba dan Hampang. Penebar Swadaya, Jakarta.

Kusumaatmadja, 2000. Kebijakan Eksplorasi Laut dan Perikanan Nasional dalam Kerangka Pembangunan Nasional Berkelanjutan. Rapat Koordinasi Nasional Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan, Jakarta.

Mulyono, D., 2001. Budidaya Ikan Betutu. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Saragih, B., 2001. Agribisnis Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Yayasan Mulia Persada Indonesia dan PT. Surveyor Indonesia, Bogor.

Soekartawi, 1995. Analisis Usahatani. UI-Press, Jakarta. 110 halaman.