Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

PRAKTIKUM STRUKTUR MOLEKUL ORGANIK

PERCOBAAN 6
SINTESIS KLOROFORM

Dosen Pengampu:
Risnita Vicky Listysrini, M.Sc.

Asisten Dosen:
1. Patricia Dian Anggraeni
2. Gabriella Yuliani Anindya Putri

Disusun oleh:
Nama : Novena Tesalonika Rasuh
NIM : 171444008
Grup/Kelompok : A1/4

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA, YOGYAKARTA
SEMESTER GENAP 2017/2018
PERCOBAAN VI
SINTESIS KLOROFORM

A. Judul Praktikum : Sintesis Kloroform


B. Hari dan Tanggal Praktikum : Jumat, 11 Mei 2018
C. Tujuan Percobaan
Memahami proses sintesis senyawa organik kloroform di laboratorium.
D. Landasan Teori
Sintesis merupakan suatu pengujian akan kemampuan menggunakan dan
mengendalikan reaksi kimia secara nyata. Tujuan dari proses sintesis adalah untuk
menemukan komponen baru dari senyawa atau zat yang memiliki kegunaan untuk
pengujian teori atau produk kimia yang baru. Pengujian dari kegiatan sintesis ini
dilakukan dalam beberapa tahap yang dapat diatur atau dikendalikan (Pine et al.,
1988).
Dalam proses sintesis itu sendiri menggunakan reaksi refluks. Reaksi refluks itu
sendiri adalah proses ekstraksi dengan pelarut yang berada pada titik didihnya dalam
waktu tertentu dan pelarut akan terpisahkan dalam campuran menuju ke dalam labu
melalui kondensor (Ditjen POM, 2000).
Kloroform merupakan nama umum dari senyawa triklorometana (CHCl3).
Kloroform berbentuk cair dalam tekanan dan temperatur yang normal. Kloroform
memiliki banyak kegunaan, seperti bahan anastesi (pembius) atau pelarut nonpolar
untuk laboratorium dan industri (Amonette et al., 2009).

Gambar 1. Struktur Kloroform (Amonette et al., 2009)


Adapun sifat-sifat dari senyawa kloroform itu sendiri, baik fisik maupun kimia.
Secara fisik, kloroform memiliki berat molekul 119,39 g/mol, densitas sebesar 1,48
g/cm3, titik didih 61,2 ℃, dan titik leleh -63,5 ℃ (Ketta dan Cunningham, 1992).
Untuk sifat kimianya, kloroform dapat bereaksi dengan udara atau cahaya menjadi
senyawa beracun phosgene (Karbonil Klorida), dapat direduksi dengan bantuna Zeng
dan asam Klorida membentuk Metil Klorida, dapat bereaksi dengan asam Nitrat pekat
membentuk Nitro Kloroform atau Kloropikrin, dan Kloroform dapat mengalami
proses Klorinasi bila terpapar cahaya matahari membentuk Karbon Tetraklorida (Kirk
dan Othmer, 1998).

2
Kloroform dapat dibuat dengan beberapa cara, salah satunya melalui reaksi
haloform. Reaksi Haloform itu sendiri merupakan reaksi pembentukan senyawa
Haloform dengan bahan dasarnya berasal dari Metil Keton. Reaksi ini mengarah pada
senyawa keton yang memiliki gugus Metil Keton yang mengalami Halogenasi pada
suatu basa. Kloroform akan terbentuk dari Propanon yang menggunakan NaOCl untuk
bubuk pemutih (Daintith, 1994).
E. Alat dan Bahan
Alat:
1. Gelas beker 5. Mantel pemanas
2. Gelas ukur 6. Pengaduk gelas
3. Pendingin Liebig 7. Labu alas bulat
4. Pipet ukur 8. Corong pisah
Bahan:
1. Aseton
2. Natrium Hipoklorit (Kaporit)
3. Akuades

F. Prosedur Kerja

3
G. Data pengamatan
Perlakuan Pengamatan
NaOCl ditambahkan aseton dan diaduk Larutan berubah dari bening menjadi
dengan magnetic stirrer selama 5 menit keruh
Campuran tersebut dibiarkan selama Larutan yang keruh menjadi putih dan
lebih dari 5 menit ada klroform yang terbentuk
Kloroform yang terbentuk dipisahkan Kloroform (lapisan organik) berada di
dari larutan dan dimasukkan dalam bagian bawah corong pisah

4
corong pisah
Kloroform yang ada di bagian bawah
dikeluarkan dan dimasukkan dalam labu Kloroform berwarna bening
alas bulat untuk proses destilasi
Labu alas bulat diletakkan dalam
Klroform menghasilkan uap
rangkaian alat destilasi dan dipanaskan
Uap yang dibentuk mengalami
Uap yang dihasilkan dialirkan melalui
kondensasi di mana fase gas berubah
kondensor masuk ke dalam gelas ukur
menjadi fase cair.
Kloroform yang dihasilkan sebanyak 1,5
Cairan kloroform dalam gelas ukur
mL, berwarna bening, dan memiliki bau
diukur volumenya
yang khas
V CH3COCH3 = 10 mL
% CH3COCH3 = 99,75 % v/v
ρ CH3COCH3 = 0,79 g/mol
Mr CH3COCH3 = 58 g/mol

M CH3COCH3 =

=
= 13,58 M
nCH3COCH3 = M CH3COCH3 x V CH3COCH3
= 13, 58 M x 0,01 L
= 0,23 mol

V NaOCl = 300 mL
% NaOCl = 5,35 % v/v
ρ NaOCl = 1,11 g/mol
Mr NaOCl = 74,5 g/mol
M NaOCl =

=
= 0,78 M
nNaOCl = M NaOCl x V NaOCl
= 0,78 M x 0,3 L
= 0,14 mol

CH3COCH3 + 3NaOCl  CHCl3 + 2NaOH (l) + CH3COONa


M 0,14 mol 0,08 mol - - -
R -0,08 mol -0,08 mol +0,08 mol +0,08 mol +0,08 mol
S 0,06 mol - 0,08 mol 0,08 mol 0,08 mol

5
H. Pembahasan
1. Sintesis Kloroform
Kloroform merupakan salah satu bahan yang digunakan sebagai pembius dan
bahan pelarut non-polar di laboratorium. Kloroform dapat disebut sebagai haloform
karena terdapat reaksi antara klor dengan metil keton. Pada percobaan ini sintesis
kloroform yang dilakukan dengan mereaksikan aseton dan natrium hipoklorit
(Amonette et al., 2009).

6
Gambar 2. Natrium Hipoklorit
Proses sintesis dimulai saat natrium hipoklorit direfluks selama 5 menit dalam
ice bath. Proses sintesis ini dilakukan dalam ice bath karena sintesis kloroform
merupakan reaksi eksoterm. Reaksi eksoterm yang terjadi membuat campuran
menjadi panas. Reaksi refluks yang dilakukan pada sintesis ini bertujuan untuk
mereaksikan campuran natrium hipoklorit dan aseton yang diberikan per tetesnya
karena sifat volatil keduanya. Aseton yang diberikan secara per tetes bertujuan
untuk menjaga reaksinya berjalan secara konstan (Sudjadi, 1986).

Gambar 3. Pemberian aseton yang dilakukan tetes demi tetes

7
Penambahan aseton ini membuat cairan yang berwarna kuning berubah warna
menjadi keruh yang menandakan reaksi sedang berlangsung. Proses penambahan
ini juga dibantu dengan pengadukan cairan agar reaksi yang terjadi berlangsung
secara merata (Sudjadi, 1986).

Gambar 3. Campuran aseton dan natrium hipoklorit


Berikut adalah reaksi yang terjadi antara aseton (CH 3COCH3) dengan natrium
hipoklorit (NaOCl) yang menyebabkan cairan berwarna keruh.
CH3COCH3 (l) + 3NaOCl (l)  CHCl3 (l) + 2NaOH (l) + CH3COONa (l)
(Melati dan Najmina, 2016)
Reaksi yang terbentuk didiamkan selama beberapa menit untuk membentuk
klorofom. Kloroform merupakan senyawa organik yang bersifat non-polar. Maka
dari itu, kloroform tidak akan bercampur dengan larutan air (Melati dan Najmina,
2016).

Gambar 4. Kloroform yang terbentuk (panah merah)


Lapisan air dan lapisan kloroform (organik) dimasukkan ke dalam corong
pisah untuk dapat memisahkan kedua lapisan tersebut. Lapisan kloroform yang

8
memiliki densitas yang lebih besar akan turun ke dasar corong pisah. Penyebab
kloroform berada di bagian bawah karena memiliki densitas yang lebih besar
dibandingkan densitas dari air. Senyawa dengan densitas yang lebih besar dari yang
lain akan selalu menempati lapisan paling bawah. Pemisahan kedua lapisan dapat
terlihat jelas karena lapisan air berwarna agak keruh dan lapisan kloroform
memiliki warna yang bening (Daintith, 1994).

Gambar 5. Pemisahan lapisan kloroform dengan lapisan air menggunakan corong


pisah
2. Destilasi Pemurnian Kloroform
Lapisan klorofom yang dipisahkan dengan lapisan air melalui corong pisah
dimurnikan dengan menggunakan alat destilasi. Hal ini disebabkan kloroform yang
terbentuk masih memiliki campuran dengan air, sehingga perlu dimurnikan
kembali. Penggunaan destilasi lebih mudah di dalam memurnikan kloroform.
Kloroform dapat murnikan dari kontaminan lain yang dalam hal ini adalah air
dengan menggunakan konsep perbedaan titik didih.

9
(a) (b)
Gambar 6. Kegiatan pemisahan dan pemurnian kloroform (a) dan kloroform murni
hasil destilasi (b) pada percobaan sintesis kloroform
Destilasi memurnikan suatu campuran berdasarkan perbedaan titik didih
komponen-komponen yang ada didalamnya. Kloroform memiliki titik didih
memiliki titik didih sebesar 61,2 ℃, sedangkan air memiliki titik didih sebesar 100
℃. Oleh karena itu, suhu pemanasan pada destilasi yang dilakukan berada di
bawah 60 ℃. Perbedaan titik didih keduanya menyebabkan kloroform mendidih
terlebih dahulu. Uap yang dihasilkan akan didinginkan melalui kondensor
membentuk wujud cair kembali. Hasil destilasi yang dikeluarkan atau dihasilkan
merupakan kloroform murni. Hasil kloroform yang didapatkan sebesar 1,5 mL yang
memiliki persentase hasil sebesar 23,43 % v/v. Hasil yang didapatkan dalam jumlah
sedikit disebabkan oleh kloroform yang mungkin menguap pada saat proses sintesis
dan pemurniannya berlangsung (Keyes dan Clark, 1959).

I. Pertanyaan Pascapraktek
1. Apakah ada acara lain untuk mensintensis kloroform selain
menggunakan aseton dan natrium hipoklorit. Jelaskan!
Cara lain untuk mensintesis kloroform adalah Klorinasi Metana. Cara ini
menggunakan katalis alumina yang membantu reaksi klorinasi metana berlangsung.
Metana yang digunakan merupakan senyawa dengan kemurnian tinggi. Proses ini
dilakukan dengan menggunakan reaktor fixed bed katalitik dengan suhu reaksi
antara 275-450 ℃. Klorinasi Metana memiliki beberapa keuntungan antara lain

10
suhu dapat berperan sebagai katalis karena menggunakan proses panas katalitik dan
yield yang dihasilkan sebanyak 90-95 % (Ketta dan Cunningham, 1992).
2. Apa tujuan dari proses refluks dalam proses sintesis?
Tujuan refluks pada proses sintesis adalah untuk memanaskan senyawa
organik yang biasanya bersifat volatif. Prinsip refluks adalah uap yang dihasilkan
dari pemanasan akan didinginkan melalui kondensor menjadi cairan kembali
(Sudjadi, 1986)
J. Simpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, sintesis kloroform dapat dibuat dengan
mereaksikan aseton dan natrium hipoklorit. Hasil kloroform yang didapatkan
dipisahkan dengan menggunakan corong pisah untuk memisahkan kloroform dengan
lapisan air didalamnya. Proses destilasi juga dilakukan untuk mendapatkan hasil berupa
kloroform yang murni. Hasil kloroform yang didapatkan sebesar 1,5 mL yang memiliki
persentase hasil sebanyak 23,43 % v/v. Hasil kloroform yang sedikit dipengaruhi oleh
sifat kloroform yang mudah menguap, sehingga kemungkinannya kloroform menguap
pada proses sintesis dan pemurnian kloroform berlangsung.

Daftar Pustaka

Amonette, J.E., Jeffers, P.M., Qafoku, O., Russell, C.K., Wietsma, T.W., dan Truex, M.J.
(2009). Carbon Tetrachloride and Chloroform Attenuation Parameter Studies:
Heterogeneous Hydrolytic Reactions. Washington: Pacific Northwest National
Laboratory.
Daintith, J. (1994). Kamus Lengkap Kimia. Jakarta: Erlangga.
Direktorat Jenderal POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.
Jakarta: Depkes RI.
Ketta, M.C, dan Cunningham, W.A. (1992). Encyclopedia of Chemical Processing and
Design. New York: Marcel Decker Inc.
Keyes, F. dan C
Kirk, R.E, dan Clark, R.S. (1959). Industrial Chemistry. New York: John Wiley and Sons
Inc.
Melati, G. I. dan Najmina, M. (2016). Prarancangan Pabrik Kloroform dari Natrium
Hidroksida, Klorin, dan Aseton dengan Kapasitas 50.000 Ton/Tahun. Naskah
Pendadaran. Fakultas Teknik. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

11
Pine, S.H., Hendrikson, J.B., Cram, D.J., dan Hammond, G.S. (1998). Kimia Organik.
Bandung: ITB Press.
Sudjadi. (1986). Metode Pemisahan. Yogyakarta: Kanisius.

12