Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMASI FISIKA
“INDEKS BIAS dan ROTASI OPTIK”

Dosen Pembimbing:
Hanifa Rahma, M.Si., Apt

Disusun oleh:
Kelompok 2
Riska Intania Sofwan P17335116026
Mohamad Marjan M P17335116028
Yolanda Putri A P17335116030
Nurani Hafsyah P17335116032
Siti Robiatul A P17335116034
Intan Aisyah N P17335116036
Kansa Salma H P17335116038
Dita Setiani A P17335116042
Hasna Nur Shifa P17335116044

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BANDUNG


PROGRAM STUDI D-III FARMASI
BANDUNG
2017
I. TUJUAN
a. Menentukan indeks bias dengan refraktometer
b. Menentukan pengaruh konsentrasi zat terhadap nilai indeks bias
c. Menentukan rotasi optik dengan polarimeter
d. Menentukan pengaruh konsentrasi zat terhadap nilai rotas optik

II. DASAR TEORI

a. Indeks bias
Cahaya berjalan lebih lambat melalui suatu zat daripada melalui ruang hampa.
Ketika cahaya memasuki suatu zat yang lebih rapat, gelombang-gelombang yang
diteruskan berinteraksi dengan atom-atom dalam zat tersebut pada antarmuka dan di
sepanjang ketebalan zat tersebut. Interaksi ini mengubah gelombang cahaya dengan
mengabsorpsi energi dan menghasilkan gelombang yang saling mendekat dengan
mengurangi kecepatan dan memperpendek panjang gelombang. Jika cahaya
memasuki suatu zat yang lebih rapat pada suatu sudut, satu bagian gelombang
tersebut melambat lebih cepat begitu melewati antarmuka dan hal ini menghasilkan
penekukan gelombang menuju antarmuka. Gejala ini disebut pembiasan. Jika cahaya
memasuki suatu zat yang kurang rapat, cahaya itu akan dibiaskan menjauhi antarmuka
dan bukan menuju antarmuka. Cahaya tersebut berjalan dengan arah yang sama
setelah dan sebelum interaksi. Pada pemantulan, cahaya berjalan dengan arah yang
berlawanan sesudah berbenturan dengan medium. Indeks bias berubah sesuai dengan
panjang gelombang cahaya dan suhu karena keduanya mengubah energi interaksi.
Tekanan juga harus dijaga konstan saat dilakukan pengukuran indeks bias gas.
Indeks bias dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu zat, untuk
mengukur kemurniannya, dan untuk menentukan konsentrasi suatu zat yang terlarut
dalam zat lainnya. Alat yang digunakan untuk menentukan indeks bias disebut
refraktometer.(Sinko,2011).

b. Rotasi Optik

Radiasi elektromagnetik terdiri atas dua gerakan gelombang mirip sinusoidal


yang terpisah dan saling tegak lurus, yaitu gelombang listrik dan gelombang magnet.
Kedua gelombang ini memiliki energi yang sama. Sebuah sumber setiap saat akan
menghasilkan gelombang berganda radiasi elektromagnetik yang berisolasi sehingga
gelombang listrik dan gelombang magnet berganda diemisikan. Gelombang-
gelombang radiasi elektromagnetik ini berjalan pada banyak arah dan berkas radiasi
melingkar yang dihasilkan terdispersi secara acak.

Dengan melewatkan cahaya melalui suatu prisma polarisasi, seperti prisma


Nikol, vibrasi radiasi listrik yang terdistribusi secara acak akan disortir sehingga
hanya vibrasi-vibrasi yang terjadi pada suatu bidang ruang tunggal yang dilewatkan.
Kecepatan cahaya terpolarisasi bidang ini dapat menjadi lebih lambat atau lebih cepat
ketika melewati suatu sampel zat., seperti yang terjadi pada pembiasan. Untuk suatu
zat aktif optis, perubahan kecepatan tersebut menyebabkan pembiasan cahaya
terpolarisasi pada arah tertentu. Rotasi cahaya planar yang searah jarum jam seperti
yang teramati dalam berkas cahaya terpolarisasi, menunjukkan zat tersebut sebagai
zat dextrorotatory (putar kanan), sedangkan jika sampel merotasi bidang cahaya
berlawanan arah jarum jam, sampel tersebut dikatakan sebagai zat levorotatory (putar
kiri). Zat putar kanan, yang dapat dianggap memutar berkas sinar kekanan
menghasilkan sudut rotasi α yang dinyatakan dengan tanda positif. Sedangkan pada
zat putar kiri yang memutar berkas sinar ke kiri mempunyai α yang dinyatakan
dengan tanda negatif. Alat yang digunakan untuk mengukur aktivitas optik disebut
polarimeter.(Sinko,2011)

c. Refraktrometer

Refraktrometer untuk mengukur indeks bias cairan, padatan dalam cairan atau
serbuk dengan indeks bias dari 1,300 sampai 1,700 dan persentase padatan dari 0
sampai 95%; alat untuk menentukan indeks bias minyak, lemak, gelas optis,larutan
gula,dan sebagainya; indeks bias antara 1,300 dan 1,700 dapat dibaca. (Pudjaatmaka,
2002)

Refraktrometer untuk mengukur indeks bias dari 1,5 sampai 1,71 dan presentase
padatan dari 0 sampai 95%(skala Brix);dikocok untuk meneliti kemurnian minyak
mineral; ketelitian pengukuran sampai 0,001 satuan indeks bias atau 0,5% satuan.
(Pudjaatmaka,2002)

d. Polarimeter
Sebagian besar cahaya yang terdeteksi oleh mata kita tidak terpolarisasi
melainkan gelombang cahaya bervibrasi secara acak ke semua arah yang tegak
lurus dengan arah perambatan gelombang. Jika cahaya normal jenis ini dilewatkan
melalui suatu material yang bersifat kiral, gelombang cahaya ini akan berinteraksi
dengan material kiral tersebut dan menghasilkan cahaya yang berosilasi hanya
pada satu bidang. Cahaya ini disebut cahaya terpolarisasi bidang. Ketika cahaya
terpolarisasi bidang dilewatkan melalui suatu larutan yang mengandung senyawa
aktif optis senyawa kiral akan menyebabkan bidang vibrasi cahaya berotasi. Jika
potongan material kiral yang dilengkapi dengan busur derajat pengukuran
diletakkan pada lintasan cahaya, jumlah derajat rotasi dapat diukur dan dibaca
skala yang terkalibrasi.
Sumber cahaya yang digunakan pada polarimetri adalah lampu uap natrium
yang mengemisikan cahaya kuning dengan panjang gelombang spesifik. Cahaya
ini dipolarisasi oleh polarisator dan dilewatkan melalui sel sampel yang
mengandung larutan senyawa aktif optis. Bidang cahaya dirotasi oleh senyawa
kiral dan muncul dan dari sel sampel dan kemudian memasuki filter gerk yang
kedua. Filter ini memiliki skala dalam derajat dan memungkinkan operator untuk
dapat mengukur sudut di antara kedua filter sehingga sudut rotasi cahaya dapat
ditentukan.

Senyawa yang merotasi bidang cahaya terpolarisasi ke arah kanan searah


jarum jam disebut dekstrorotatori sedangkan senyawa yang merotasi bidang ke
arah kiri atau berlawanan dengan arah jarum jam disebut levorotatori. Arah rotasi
sering ditandai dengan simbol (+) untuk dektrorotatori dan (-) untuk levorotatori
dan arahnya ditentukan oleh operator yang menghadap sumber cahaya.
(Cairns,2008)

III. ALAT DAN BAHAN


a. Alat b. Bahan
- Digital refraktometer - Tissue
- Polarimeter - Aquadest
- Beaker glass - Dextrose
- Gelas Ukur - Sucrose
- Pipet tetes
IV. PROSEDUR KERJA
a. Indeks Bias
1. 10 ml larutan sucrose dibuat dalam aquadest dengan konsentrasi 5%, 10%,
15%, 20%, 25%.
2. Alat dinyalakan dengan menekan tombol on. Suhu dibiarkan pada digital
refraktometer, mencapai suhu ruangan pengukuran.
3. Aquadest diteteskan pada kaca prisma digital refraktometer, lalu tekan tombol
zero. Ditunggu sampai layar menunjukan angka 0.0.
4. Kaca prisma tersebut dikeringkan menggunakan tissue.
5. Laruran sucrose 5% diteteskan pada kaca prisma digital refraktometer lalu
tekan tombol read. Suhu pengukuran dan nilai indeks bias dicatat yang tertera
pada layar digital refraktometer. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali.
6. Pengukuran yang sama dilakukan untuk larutan sucrose dengan konsentrasi
10%, 15%, 20%, 25%

b. Rotasi Optik
1. 30 ml larutan dextrose dibuat dalam aquadest dengan konsentrasi 10% dan
20%.
2. Polarimeter dinyalakan. Tabung polarimeter dibilas dengan sedikit larutan
yang akan ditentukan rotasi optiknya. Lalu larutan uji (dextrose 10%)
dimasukkan kedalam tabung polarimeter sampai terisi penuh dan tidak ada
gelembung udara di dalam nya.
3. Dengan menggunakan pemutar pada alat, diatur agar layar dalam alat tersebut
menjadi batas terang dan gelap dengan batas jelas dan tegas.
4. Nilai rotasi optik yang tertera pada layar polarimeter dicatat saat batas terang
dan gelap telah didapat.
5. Pengukuran yang sama dilakukan untuk larutan dextrose 20%
V. HASIL PRAKTIKUM
a) Perhitungan larutan sukrosa 10 ml
KADAR PERHITUNGAN
5
5% 𝑋 10 𝑚𝑙 = 0,5 gram
100

10
10%
100
𝑋 10 𝑚𝑙 = 1 gram
15
15% 𝑋 10 𝑚𝑙 = 1,5 gram
100
20
20%
100
𝑋 10 𝑚𝑙 = 2 gram
25
25% 100
𝑋 10 𝑚𝑙 = 2,5 gram

b) Indeks Bias
Suhu ruang pengukuran = 26,4o C

KONSENTRASI I II III

5% 4,5 4,5 4,5

10 % 7,2 7,2 7,2

15 % 12,3 12,4 12,5

20 % 16,3 16,4 16,2

25 % 18,1 18,2 18,1

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan uji indeks bias suatu larutan
dengan konsentrasi yang berbeda-beda menggunakan digital refraktometer.
Dilakukan dengan konsentrasi yang berbeda karena konsentrasi suatu larutan
adalah salah satu faktor yang memengaruhi nilai indeks bias. Suhu saat
pengukuran juga harus stabil, karena ketidakstabilan suhu akan memengaruhi
indeks bias.
Praktikan menggunakan larutan contoh sukrosa dengan konsentrasi 5%, 10%,
15%, 20% dan 25%. Setiap konsentrasi diuji sebanyak tiga kali pada suhu tetap
yaitu pada suhu 26,3o C. Didapatkan hasil bahwa semakin tinggi konsentrasi
maka semakin tinggi pula nilai indeks biasnya. Hal tersebut terjadi karena
semakin tinggi konsentrasi suatu larutan maka kerapatan antar molekul semakin
rendah yang mengakibatkan cahaya lebih cepat memasuki suatu zat sehingga
indeks bias menjadi tinggi.(Sinko,2011)
Pengukuran diawali dengan meneteskan aquadest pada kaca prisma digital, hal
ini dimaksudkan untuk kalibrasi, selanjutnya kaca digital prisma dikeringkan
dengan tissue. Setelah kedua permukaan prisma kering, cairan diteteskan
sebanyak satu tetes saja, lalu tekan read dan catat suhu pengukuran serta nilai
indeks bias yang tertera.
Pada percobaan rotasi optik dengan polarimeter, praktikan tidak menguji nilai
rotasi optik larutan dextrose. Hal ini dikarenakan polarimeter yang terdapat di
laboratorium dalam keadaan rusak.
Menurut Farmakope Indonesia Edisi V (2013:296), “Nilai rotasi optik
dextrose yaitu antara +52,6o dan +53,2o”.

KESIMPULAN
- Nilai indeks bias suatu larutan berbanding lurus dengan konsentrasi larutan
tersebut. Semakin tinggi konsentrasi, maka semakin tinggi juga indeks bias.
Begitupun sebaliknya.
- Indeks bias dipengaruhi oleh konsentrasi larutan, kerapatan antar molekul, suhu
dan kecepatan cahaya.
DAFTAR PUSTAKA
Cairns,donald.2008. Inti sari kima farmasi.Jakarta:EGC

Kementerian Kesehatan RI.2013. Farmakope Indonesia. Edisi ke-5.


Jakarta:Kementerian Kesehatan RI.

Pudjaatmaka,A. Hadyana.2002.kamus kimia.Jakarta:Balai pustaka

Sinko, patrick j.2011.MARTIN Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika.Edisi 5.


Jakarta: EGC.
LAMPIRAN

Kalibrasi refraktometer dengan aquadest Indeks bias pada konsentrasi 5%

Indeks bias pada konsentrasi 15% Indeks bias pada konsentrasi 20%

Indeks bias pada konsentrasi 25% Polarimeter

Anda mungkin juga menyukai