Anda di halaman 1dari 3

MENGGUGAT PERLINDUNGAN

PEKERJA MIGRAN PERSEORANGAN


Oleh. Paul SinlaEloE – Aktivis PIAR NTT
Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam, http://www.teropongntt.com/menggugat-
perlindungan-pekerja-migran-perseorangan/, pada tanggal 4 Juni 2019

Hadirnya UU No. 18 Tahun 2017, tentang


Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
(UUPPMI), pada dasarnya bertujuan ingin
melindungi Pekerja Migran Indonesia (PMI)
dari perdagangan manusia, termasuk
perbudakan dan kerja paksa, korban
kekerasan, kesewenang-wenangan, kejahatan
atas harkat dan martabat manusia, serta
perlakuan lain yang melanggar Hak Asasi
Manusia (Alenia Pertama Penjelasan Umum
UUPPMI). Karenanya, tidaklah mengherankan
apabila UUPPMI lebih menekankan dan
memberikan peran yang lebih besar kepada
pemerintah dan mengurangi peran swasta
dalam penempatan dan Perlindungan PMI.

Dalam penjelasan umum UUPPMI, di jelaskan juga bahwa diperlukan suatu sistem
yang terpadu yang melibatkan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan
masyarakat dalam rangka perlindungan PMI. Perlindungan PMI ini meliputi
perlindungan secara kelembagaan yang mengatur tugas dan kewenangan
kementerian sebagai regulator/pembuat kebijakan dengan Badan sebagai
operator/pelaksana kebijakan. Perlindungan kepada PMI dilakukan mulai dari Desa,
Kabupaten/Kota, dan Provinsi, sejak sebelum bekerja sampai setelah bekerja.

Berdasarkan Pasal 1 angka 2 UUPPMI, PMI dimaknai sebagai “setiap warga negara
Indonesia yang akan, sedang, atau telah melakukan pekerjaan dengan menerima
upah di luar wilayah Republik Indonesia”. Dengan pengertian PMI yang demikian
luasnya, maka Pasal 4 ayat (1) UUPPBMI, membatasi lingkup dari makna PMI hanya
meliputi: a. PMI yang bekerja pada Pemberi Kerja berbadan hukum; b. PMI yang
bekerja pada Pemberi Kerja perseorangan atau rumah tangga; dan c. Pelaut awak
kapal dan pelaut perikanan.

Dengan demikian, yang tidak termasuk sebagai PMI dalam UUPPMI sebagaimana
amanat Pasal 4 ayat (2) UUPPBMI, yaitu: a. Warga Negara Indonesia (WNI) yang
dikirim atau dipekerjakan oleh badan internasional atau oleh negara di luar
wilayahnya untuk menjalankan tugas resmi; b. pelajar dan peserta pelatihan di luar
negeri; c. WNI pengungsi atau pencari suaka; d. penanam modal; e. aparatur sipil
negara atau pegawai setempat yang bekerja di Perwakilan Republik Indonesia;
f. WNI yang bekerja pada institusi yang dibiayai oleh anggaran pendapatan dan
belanja negara; dan g. WNI yang mempunyai usaha mandiri di luar negeri.

Page 1 of 3
Substansi dari Pasal 4 UUPPMI ini, menunjukan bahwa para pengambil kebijakan
ingin melakukan pembedaan secara tegas antara PMI dengan WNI yang melakukan
kegiatan di luar negeri yang tidak termasuk sebagai PMI. Pembedaan ini mungkin
penting untuk pemerintah bisa lebih fokus dalam memberikan perlindungan
terhadap PMI yang akan bekerja keluar negeri tanpa melalui pelaksana penempatan,
maupun PMI yang bekerja keluar negeri melalui pelaksana penempatan PMI ke luar
negeri yang terdiri atas: a. Badan; b. Perusahaan Penempatan PMI; atau
c. Perusahaan yang menempatkan PMI untuk kepentingan perusahaan sendiri (Pasal
49 UUPPMI).

Pelaksanaan penempatan PMI ke luar negeri dilakukan dengan 5 (lima) skema,


yaitu: Government to Government (G to G), Government to Private (G to P), Private
to Private (P to P), mandiri/perseorangan dan untuk perusahaan sendiri di luar
negeri. PMI yang akan bekerja diluar negeri, dapat bekerja pada pemeberi kerja
yang dalam hal ini instansi pemerintah, badan hukum pemerintah, badan hukum
swasta, dan/atau perseorangan di negara tujuan penempatan yang mempekerjakan
PMI (Pasal 1 angka 11 UUPPMI).

PMI yang akan bekerja keluar negeri tanpa melalui pelaksana penempatan, dalam
UUPPMI diartikan sebagai PMI Perseorangan (Pasal 1 angka 4 UUPPMI). Menjadi
PMI Perseorangan, merupakan salah satu strategi untuk mengatasi pembebanan
biaya penempatan yang tinggi. Untuk mengatasi persoalan ini, UUPPMI telah
melarangan bagi setiap orang membebankan komponen biaya penempatan yang
telah ditanggung calon Pemberi Kerja kepada Calon PMI (Pasal 72 huruf a UUPPMI)
dan bagi setiap orang akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan denda paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah), jika
melanggarnya (Pasal 86 huruf a UUPPMI).

Menurut Pasal 63 ayat (1) UUPPMI, PMI Perseorangan dapat bekerja ke luar negeri
pada Pemberi Kerja berbadan hukum. PMI Perseorangan wajib melapor pada
instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan
dan Perwakilan Republik Indonesia (Pasal 63 ayat (3) UUPPBMI) dan ketentuan lebih
lanjut mengenai PMI Perseorangan, diatur dengan Peraturan Menteri. (Pasal 63 ayat
(4) UUPPBMI).

Kalau dicermati secara kritis, maka pengaturan terkait PMI Perseorangan dalam
UUPPMI, memiliki sejumlah kelemahan substantif. Apalagi dalam Pasal 63 ayat (2)
UUPPBMI, ditegaskan bahwa “segala risiko ketenagakerjaan yang dialami oleh PMI
Perseorangan, menjadi tanggung jawab sendiri”. Ketentuan Pasal 63 ayat (2)
UUPPBMI ini, membuka ruang bagi negara untuk lari dari tanggung jawab atas
perlindungan bagi seluruh warga negara, sebagaimana amanat konstitusi.

Kelemahan substantif lainnya yang berhubungan dengan PMI Perseorangan adalah


penggunaan kata “dapat” oleh para perumus UUPPMI yang terdapat pada Pasal 63
ayat (1) UUPPMI. Kata „dapat‟ dalam rumusan Pasal 63 ayat (1) UUPPMI merupakan
ketentuan “karet” yang mengandung tafsir bahwa dapat juga bekerja pada
perseorangan. Artinya, PMI Perseorangan yang akan bekerja disektor rumah tangga,
Page 2 of 3
juga dimungkinkan untuk bekerja secara perseorangan/mandiri pada pemeberi kerja
perseorangan di luar negeri.

Risikonya adalah PMI Perseorangan yang bekerja disektor rumah tangga berpeluang
besar untuk tereksploitasi dan menjadi korban kekerasan serta kesewenang-
wenangan. Bahkan, mereka sangat rentan mengalami kejahatan atas harkat dan
martabat manusia, serta perlakuan lain yang melanggar Hak Asasi Manusia.
Argumen ini bertolak dari realita bahwa tidak sedikit PMI yang bekerja disektor
rumah tangga di luar negeri, banyak yang mengalami penyiksaan hingga menemui
ajal, padahal mereka bisa bekerja melalui pelaksana penempatan PMI ke luar negeri.

Rumusan Pasal 63 UUPPMI yang “miskin” perlindungan bagi PMI Perseorangan ini,
dimanfaatkan oleh Pemerintah Malaysia, dimana Per tanggal 1 Januari 2018,
Pemerintah Malaysia memberlakukan kebijakan Direct Hiring (perekrutan langsung)
sebagai skema baru perekrutan pekerja migran sektor domestik untuk bekerja di
Malaysia. Kebijakan perekrutan langsung pekerja migran sektor domestik ini berlaku
bagi perekrutan tenaga kerja dari sembilan negara yaitu Indonesia, Thailand,
Filipina, Kemboja, India, Laos, Nepal, Sri Langka dan Vietnam.

Untuk memperkuat perlindungan bagi PMI Perseorangan, tidak bisa mengharapkan


hadirnya Peraturan Menteri mengenai PMI Perseorangan. Karena, dalam ilmu
perundang-undangan terdapat asas lex superior derogat legi inferiori yang tidak
bisa dilanggar oleh para pembuat Peraturan Mentri. Penggunaan asas ini dalam
perumusan produk hukum, mengakibatkan hukum yang kedudukannya lebih tinggi
menghapus hukum yang ada di bawahnya, atau dengan kata lain hukum yang lebih
rendah tingkatannya harus sesuai dengan ketentuan yang ada di atasnya. Itu
berarti, secara yuridis tidak mungkin Peraturan Menteri bertentangan dengan
UUPPMI.

Perlindungan untuk PMI Perseorangan akan menjadi sempurna, jika Pasal 63


UUPPMI disempurnakan. Penyempurnaannya bisa dilakukan dengan cara legislative
review atau eksekutive review atau judicial review. Cara apapun yang kan dipilih,
idealnya harus diawali dengan public review. Pablic review ini dimaksudkan untuk
memastikan langkah tepat dalam menyempurnakan Pasal 63 UUPPMI, apakah
melalui egislative review atau eksekutive review atau judicial review.

Page 3 of 3