Anda di halaman 1dari 61

BAB I

TINJAUAN TEORITIS

I. KONSEP DASAR
I.I DEFENISI
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tubeculosis. Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun
saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen , tetapi hanya strain bovin dan human yang
patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih
kecil dari satu sel darah merah.

I.2 ANATOMI FISIOLOGI


Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung Mycobakterium tuberkulosis dapat menetap dalam
udara bebas selama 1-2 jam. Orang dapat terifeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran
pernapasan. Setelah Mycobacterium tuberkulosis masuk ke dalam saluran pernapasan, masuk ke
alveoli, tempat dimana mereka berkumpul dan mulai memperbanyak diri. Basil juga secara sistemik
melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri), dan
area paru-paru lainnya (lobus atas).
Sistem imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit (neutrofil dan
makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit melisis (menghancurkan) basil dan jaringan normal.
Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan
bronkopneumonia. lnfeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah pemajanan.
Massa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan gumpalan basil yang masih hidup dan
yang sudah mati, dikelilingi oleh makrofag yang membentuk dinding protektif. Granulomas diubah
menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa fibrosa ini disebut tuberkel Ghon. Bahan
(bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa seperti keju. Massa ini dapat mengalami
kalsifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan
atau respons yang inadekuat dari respons sistem imun. Penyakit aktif dapat juga terjadi dengan infeksi
ulang dan aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini, tuberkel Ghon memecah, melepaskan bahan
seperti keju ke dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara, mengakibatkan penyebaran
penyakit lebih jauh. Tuberkel yang memecah menyembuh, membentuk jaringan parut. Paru yang
terinfeksi menjadi lebih membengkak, mengakibatkan terjadinya bronkopneumonia
lebih lanjut, pembentukan tuberkel dan selanjutnya.
Kecuali proses tersebut dapat dihentikan, penyebarannya dengan
lambat mengarah ke bawah ke hilum paru-paru dan kemudian meluas ke
lobus yang berdekatan. Proses mungkin berkepanjangan dan ditandai
oleh remisi lama ketika penyakit dihentikan, hanya supaya diikuti
dengan periode aktivitas yang diperbaharui. Hanya sekitar 10%
individu yang awalnya terinfeksi mengalami penyakit aktif (Brunner dan
Suddarth, 2002)

I.3 ETIOLOGI
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium
tuberkulosis tipe humanus, sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-
4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah
yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan
fisik.
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-
tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat
dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain
kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi
kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada
bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. Basil
mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection)
sampai alveoli, maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah
bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). keduanya dinamakan tuberkulosis
primer, yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Tuberkulosis
paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil
mikobakterium. Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Sedangkan yang
disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena
terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil
tersebut.

I.4 MANIFESTASI KLINIS


Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala
sistemik:
1. Gejala respiratorik, meliputi:
a. Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan.
Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada
kerusakan jaringan.
b. Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau bercak-
bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darak terjadi
karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya
pembuluh darah yang pecah.
c. Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang
menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
d. Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila
sistem persarafan di pleura terkena.

2. Gejala sistemik, meliputi:


a. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam
influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas
serangan makin pendek.
b. Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise.

Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan, akan tetapi penampilan
akut dengan batuk, panas, sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala
pneumonia.
Gejala klinis Haemoptoe:
Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri-ciri
sebagai berikut :
1. Batuk darah
a. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan
b. Darah berbuih bercampur udara
c. Darah segar berwarna merah muda
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia kadang-kadang terjadi
f. Benzidin test negatif
2. Muntah darah
a. Darah dimuntahkan dengan rasa mual
b. Darah bercampur sisa makanan
c. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung
d. Darah bersifat asam
e. Anemia seriang terjadi
f. Benzidin test positif
3. Epistaksis
a. Darah menetes dari hidung
b. Batuk pelan kadang keluar
c. Darah berwarna merah segar
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia jarang terjadi

I.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


a.Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah tepi pada umumnya akan memperlihatkan adanya :
– Anemia, terutama bila penyakit berjalan menahun
– Leukositosis ringan dengan predominasi limfosit
– Laju Endap Darah (LED) meningkat terutama pada fase akut, tetapi pada umumnya nilai-
nilai tersebut normal pada tahap penyembuhan
b. Pemeriksaan radiologi
– Bayangan lesi radiologik yang terletak di lapangan atas paru
– Bayangan yang berawan atau berbecak
– Adanya kavitas tunggal atau ganda
– Adanya kalsifikasi
– Kelainan bilateral, terutama bila terdapat di lapangan atas paru
– Bayangan yang menetap atau relatif setelah beberapa minggu
c. Pemeriksaan bakteriologik (sputum)
Ditemukan kuman mikobakterium tuberkulosis dari dahak penderita, memastikan diagnosis TB
paru
pada pemeriksaan dahak.
d. Uji tuberkulin
Sangat penting bagi diagnosis tersebut pada anak. Hal positif pada orang dewasa kurang bernilai.

I.6 PENATALAKSANAAN MEDIS


a) Jenis dan Dosis Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
 Isoniazid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 % populasi kuman dalam beberapa
hari pertama pengobatan. Sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif yaitu
kuman yang sedang berkembang. Dosis harian 5 mg/kg berat badan, sedangkan untuk
pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat badan.
 Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman semi dormant yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasid.
Dosis 10 mg/kg berat badan. Dosis sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 kali
seminggu.
 Pirazinamid (Z)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian 25
mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35
mg/kg berat badan.
 Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis 15 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali
seminggu digunakan dosis yang sama.
 Etambutol (E)
Bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik). Dosis harian 15 mg/kg berat badan,
sedangkan untuk intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan 30 mg/kg berat badan.
b) Tahap Pengobatan
Pengobatan Tuberculosis diberikan dalam 2 tahap yaitu:
1. Tahap Intensif
Penderita mendapat obat setiap hari. Pengawasan berat/ketat untuk mencegah terjadinya
kekebalan terhadap semua Obat Anti Tuberculosis (OAT).
2. Tahap Lanjutan
Penderita mendapat jenis obat lebih sedikit dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan
penting untuk membunuh kuman persistem (dormant) sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan.
c) Kategori Pemberian Obat Anti Tuberculosis
1. Kategori 1 (211RZE/4113R3)
Tahap intensif terdiri dari isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan Etambutol(E). Obat-
obatan tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2 HRZE), kemudian teruskan dengan tahap
lanjutan yang terdiri dari Isoniasid (H) dan Rifampisin (R), diberikan tiga kali dalam seminggu selama
4 bulan (4H3R3). Obat ini diberikan untuk :
- Penderita baru TBC paru BTA positif
- Penderita TBC paru BTA negatif, rontgen positif.
- Penderita TBC ekstra paru berat.

2. Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3RE3)
Tahap intensif diberikan selama 3 (tiga) bulan, yang terdiri dari 2 bulan dengan isoniasid (H),
Rifampisn, Pirazinamid (Z), Etambutol (E) setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan
selama 5 bulan dengan Isoniasid (H),Rifampisin (R), Etambutol (E) yang diberikan 3 kali dalam
seminggu.
Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah penderita selesai menelan obat. Obat
ini diberikan untuk penderita kambuh, penderita gagal, penderita dengan pengobatan setelah lalai

3. Kategori 3 (2HRZ/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) diberikan setiap hari
selama 2 bulan (2HRZ) diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari Isoniasid (H),
Rifampisin (R) selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu (4H3R3). Obat ini diberikan untuk :
- Penderita baru BTA negatif dan roentgen positif sakit ringan
- Penderita ekstra paru ringan, yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis), pleuritis aksudativa
unilateral, TBC kulit, TBC tulang (kecuali tulang belakang) sendi dan kelenjar adrenal.
4. OAT Sisipan (HRZE)
Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau
penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak
masih BTA positif, diberikan obat sisipan Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z),
Etambutol (E) setiap hari selama 1 bulan.

I.7 KOMPLIKASI
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita
tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
 Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian
karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
 Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi
bronchial.
 Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses
pemulihan atau reaktif) pada paru.
 Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.

BAB II
ASKEP TEORITIS

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


2.I PENGKAJIAN (DATA DASAR)
Data dasar pengkajian pasien ( Doengoes, Marilynn E : 2000 ) adalah sebagai berikut:
a. Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek),
demam, menggigil.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap,lanjut;infiltrasi radang
sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.
b. Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
c. Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent,mukoid
kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di
daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas,
pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus
(cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
d. Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila
infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.
e. Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada
harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.
f. Keamanan
Subyektif: adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker.
Obyektif: demam rendah atau sakit panas akut.
g. Interaksi Sosial
Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa dalam
tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.

2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah,
kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru,
atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan,
batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan
finansial.
d. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen.
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak
ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak
akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif
h. Risiko tinggi infeksi penyebaran / aktivitas ulang infeksi berhubungan dengan pertahanan
primer tidak adekuat, fungsi silia menurun/ statis sekret, kerusakan jaringan akibat infeksi yang
menyebar, malnutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang informasi tentang infeksi kuman.

2.3 INTERVENSI KEPERAWATAN DENGAN RASIONAL


Diagnosa
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
a. Kaji ulang fungsi a. Penurunan bunyi
pernapasan: bunyi napas, napas indikasi
kecepatan, irama, atelektasis, ronki
kedalaman dan penggunaan indikasi akumulasi
otot aksesori.b. Catat secret/ketidakmampuan
kemampuan untuk membersihkan jalan
mengeluarkan secret atau napas sehingga otot
batuk efektif, catat aksesori digunakan dan
karakter, jumlah sputum, kerja pernapasan
Setelah diberikan adanya hemoptisis. meningkat. b.Pengeluar
tindakan keperawatan c. Berikan pasien posisi an sulit bila sekret tebal,
kebersihan jalan napas semi atau Fowler, sputum berdarah akibat
efektif, dengan criteria Bantu/ajarkan batuk efektif kerusakan paru atau
hasil: dan latihan napas dalam. luka bronchial yang
 Mempertahankan jalan d. Bersihkan sekret dari memerlukan
napas pasien. mulut dan trakea, suction evaluasi/intervensi
 Mengeluarkan sekret bila perlu. lanjut .
tanpa bantuan. e. Pertahankan intake c. Meningkatkan
 Menunjukkan prilaku cairan minimal 2500 ekspansi paru, ventilasi
Bersihan jalan untuk memperbaiki ml/hari kecuali maksimal membuka
napas tidak efektif bersihan jalan napas. kontraindikasi. area atelektasis dan
berhubungan  Berpartisipasi dalam f. Lembabkan peningkatan gerakan
dengan sekret program pengobatan udara/oksigen inspirasi. sekret agar mudah
kental atau sekret sesuai kondisi. Kolaborasi: dikeluarkan.
darah, kelemahan, Mengidentifikasi g. Berikan obat: agen d. Mencegah
upaya batuk buruk, potensial komplikasi mukolitik, bronkodilator, obstruksi/aspirasi.
edema dan melakukan kortikosteroid sesuai Suction dilakukan bila
trakeal/faringeal. tindakan tepat. indikasi. pasien tidak mampu
mengeluarkan sekret.
e. Membantu
mengencerkan secret
sehingga mudah
dikeluarkan.
f. Mencegah
pengeringan membran
mukosa.
g. Menurunkan
kekentalan sekret,
lingkaran ukuran lumen
trakeabronkial, berguna
jika terjadi hipoksemia
pada kavitas yang luas.
a. Kaji dispnea, takipnea, a. Tuberkulosis paru
bunyi pernapasan dapat rnenyebabkan
abnormal. Peningkatan meluasnya jangkauan
upaya respirasi, dalam paru-pani yang
keterbatasan ekspansi dada berasal dari
dan bronkopneumonia yang
kelemahan.b. Evaluasi meluas menjadi
perubahan-tingkat inflamasi, nekrosis,
kesadaran, catat tanda- pleural effusion dan
tanda sianosis dan meluasnya fibrosis
perubahan warna kulit, dengan gejala-gejala
Gangguan Setelah diberikan membran mukosa, dan respirasi
pertukaran gas tindakan keperawatan warna kuku. distress. b.Akumulasi
berhubungan pertukaran gas efektif, c. Demonstrasikan/anjurk secret dapat menggangp
dengan dengan kriteria hasil: an untuk mengeluarkan oksigenasi di organ vital
berkurangnya  Melaporkan tidak napas dengan bibir dan jaringan.
keefektifan terjadi dispnea. disiutkan, terutama pada c. Meningkatnya
permukaan paru, Menunjukkan pasien dengan fibrosis atau resistensi aliran udara
atelektasis, perbaikan ventilasi dan kerusakan parenkim. untuk mencegah
kerusakan oksigenasi jaringan d. Anjurkan untuk bedrest, kolapsnya jalan napas.
membran alveolar adekuat dengan GDA batasi dan bantu aktivitas d. Mengurangi konsumsi
kapiler, sekret yang dalam rentang normal. sesuai kebutuhan. oksigen pada periode
kental, edema  Bebas dari gejala e. Monitor GDA. respirasi.
bronchial. distress pernapasan. f. Kolaborasi: Berikan e. Menurunnya saturasi
oksigen sesuai indikasi. oksigen (PaO2) atau
meningkatnya PaC02
menunjukkan perlunya
penanganan yang lebih.
adekuat atau perubahan
terapi.
f. Membantu mengoreksi
hipoksemia yang terjadi
sekunder hipoventilasi
dan penurunan
permukaan alveolar
paru.
a. Catat status nutrisi a. Berguna dalam
paasien: turgor kulit, mendefinisikan derajat
timbang berat badan, masalah dan intervensi
integritas mukosa mulut, yang tepat b. Membantu
kemampuan menelan, intervensi kebutuhan
adanya bising usus, riwayat yang spesifik,
mual/rnuntah atau meningkatkan intake
diare.b. Kaji ulang pola diet pasien.
diet pasien yang c. Mengukur keefektifan
Setelah diberikan disukai/tidak disukai. nutrisi dan cairan.
tindakan keperawatan c. Monitor intake dan d. Dapat menentukan
diharapkan kebutuhan output secara periodik. jenis diet dan
nutrisi adekuat, dengan d. Catat adanya anoreksia, mengidentifikasi
Gangguan kriteria hasil: mual, muntah, dan tetapkan pemecahan masalah
keseimbangan  Menunjukkan berat jika ada hubungannya untuk meningkatkan
nutrisi, kurang dari badan meningkat dengan medikasi. Awasi intake nutrisi.
kebutuhan mencapai tujuan frekuensi, volume, e. Membantu
berhubungan dengan nilai konsistensi Buang Air menghemat energi
dengan kelelahan, laboratoriurn normal Besar (BAB). khusus saat demam
batuk yang sering, dan bebas tanda e. Anjurkan bedrest. terjadi peningkatan
adanya produksi malnutrisi. f. Lakukan perawatan metabolik.
sputum, dispnea, Melakukan perubahan mulut sebelum dan sesudah f. Mengurangi rasa
anoreksia, pola hidup untuk tindakan pernapasan. tidak enak dari sputum
penurunan meningkatkan dan g. Anjurkan makan atau obat-obat yang
kemampuan mempertahankan berat sedikit dan sering dengan digunakan yang dapat
finansial. badan yang tepat. makanan tinggi protein dan merangsang muntah.
karbohidrat. g. Memaksimalkan
Kolaborasi: intake nutrisi dan
h. Rujuk ke ahli gizi menurunkan iritasi
untuk menentukan gaster.
komposisi diet. h. Memberikan bantuan
i. Awasi pemeriksaan dalarn perencaaan diet
laboratorium. (BUN, dengan nutrisi adekuat
protein serum, dan unruk kebutuhan
albumin). metabolik dan diet.
i. Nilai rendah
menunjukkan malnutrisi
dan perubahan program
terapi.
a. Nyeri merupakan
respon subjekstif yang
dapat
diukur.b.Perubahan
frekuensi jantung TD
menunjukan bahwa
a. Observasi karakteristik pasien mengalami nyeri,
nyeri, mis tajam, konstan , khususnya bila alasan
ditusuk. Selidiki perubahan untuk perubahan tanda
karakter /lokasi/intensitas vital telah terlihat.
nyeri.b. Pantau TTV c. Tindakan non
c. Berikan tindakan analgesik diberikan
nyaman mis, pijatan dengan sentuhan lembut
punggung, perubahan dapat menghilangkan
posisi, musik tenang, ketidaknyamanan dan
relaksasi/latihan nafas memperbesar efek
Setelah diberikan d. Tawarkan pembersihan terapi analgesik.
tindakan keperawatan mulut dengan sering.. d. Pernafasan mulut dan
rasa nyeridapat e. Anjurkan dan bantu terapi oksigen dapat
berkurang atau pasien dalam teknik mengiritasi dan
Nyeri akut terkontrol, dengan KH: menekan dada selama mengeringkan membran
berhubungan  Menyatakan nyeri episode batukikasi. mukosa, potensial
dengan inflamasi berkurang f. Kolaborasi dalam ketidaknyamanan
paru, batuk atauterkontrol pemberian analgesik sesuai umum.
menetap  Pasien tampak rileks indikasi e. Alat untuk
mengontrol
ketidaknyamanan dada
sementara
meningkatkan
keefektifan upaya batuk.
f. Obat ini dapat
digunakan untuk
menekan batuk non
produktif, meningkatkan
kenyamanan
a. Mengetahui
peningkatan suhu tubuh,
memudahkan
intervensib. Mengurangi
panas dengan
pemindahan panas
secara konduksi. Air
hangat mengontrol
a. Kaji suhu tubuh pemindahan panas
pasienb. Beri kompres secara perlahan tanpa
air hangat menyebabkan hipotermi
c. Berikan/anjurkan atau menggigil.
pasien untuk banyak c. Untuk mengganti
minum 1500-2000 cc/hari cairan tubuh yang
(sesuai toleransi) hilang akibat evaporasi
d. Anjurkan pasien d. Memberikan rasa
untuk menggunakan nyaman dan pakaian
pakaian yang tipis dan yang tipis mudah
mudah menyerap keringat menyerap keringat dan
e. Observasi intake tidak merangsang
dan output, tanda vital peningkatan suhu tubuh.
(suhu, nadi, tekanan darah) e. Mendeteksi dini
Setelah diberikan tiap 3 jam sekali atau sesuai kekurangan cairan serta
tindakan keperawatan indikasi mengetahui
Hipertermi diharapkan suhu tubuh f. Kolaborasi : keseimbangan cairan
berhubungan kembali normal dengan pemberian cairan intravena dan elektrolit dalam
dengan proses KH : dan pemberian obat sesuai tubuh. Tanda vital
inflamasi aktif.  Suhu tubuh 36°C-37°C program. merupakan acuan untuk
mengetahui keadaan
umum pasien.
f. Pemberian cairan
sangat penting bagi
pasien dengan suhu
tubuh yang tinggi. Obat
khususnya untuk
menurunkan panas
tubuh pasien.

a. Menetapkan
kemampuan atau
kebutuhan pasien
a. Evaluasi respon pasien memudahkan pemilihan
terhadap aktivitas. intervensi.b.Menurunka
Catat laporan dispnea, n stress dan rangsanagn
peningkatan kelemahan berlebihan,
atau kelelahan.b. Berikan meningkatkan istirahat.
lingkungan tenang dan c. Tirah baring
Setelah diberikan batasi pengunjung selama dipertahankan selama
tindakan keperawatan fase akut sesuai indikasi. fase akut untuk
pasien diharapkan c. Jelaskan pentingnya menurunkan kebutuhan
mampu melakukan istirahat dalam rencana metabolic, menghemat
aktivitas dalam batas pengobatandan perlunya energy untuk
yang ditoleransi keseimbangan aktivitas dan penyembuhan.
dengan kriteria hasil: istirahat. d. Pasien mungkin
 Melaporkan atau d. Bantu pasien memilih nyaman dengan kepala
menunjukan posisi nyaman untuk tinggi, tidur di kursi
peningkatan toleransi istirahat. atau menunduk ke
Intoleransi aktivitas terhadap aktivitas yang e. Bantu aktivitas depan meja atau bantal.
berhubungan dapat diukur dengan perawatan diri yang e. Meminimalkan
dengan adanya dispnea, diperlukan. Berikan kelelahan dan
ketidakseimbangan kelemahan berlebihan, kemajuan peningkatan membantu
antara suplai dan dan tanda vital dalam aktivitas selama fase keseimbanagnsuplai dan
kebutuhan oksigen. rentan normal. penyembuhan. kebutuhan oksigen.
Kurang Setelah diberikan a. Kaji a. Kemampuan belajar
pengetahuan tindakan keperawatan ulang kemampuan belajar berkaitan dengan
tentang kondisi, tingkat pengetahuan pasien misalnya: perhatian, keadaan emosi dan
pengobatan, pasien meningkat, kelelahan, tingkat kesiapan fisik.
pencegahan dengan kriteria hasil: partisipasi, lingkungan Keberhasilan
berhubungan  Menyatakan belajar, tingkat tergantung pada
dengan tidak ada pemahaman proses pengetahuan, media, orang kemarnpuan
yang menerangkan, penyakit/prognosisdan dipercaya.b. Berikan pasien. b.Informasi
interpretasi yang kebutuhan pengobatan. Informasi yang spesifik tertulis dapat membantu
salah, informasi  Melakukan perubahan dalam bentuk tulisan mengingatkan pasien.
yang didapat tidak prilaku dan pola hidup misalnya: jadwal minum c. Meningkatkan
lengkap/tidak unruk memperbaiki obat. partisipasi pasien
akurat, terbatasnya kesehatan umurn dan c. Jelaskan mematuhi aturan terapi
pengetahuan/kognit menurunkan resiko penatalaksanaan obat: dan mencegah putus
if pengaktifan ulang dosis, frekuensi, tindakan obat.
luberkulosis paru. dan perlunya terapi dalam d. Mencegah keraguan
 Mengidentifikasi jangka waktu lama. Ulangi terhadap pengobatan
gejala yang penyuluhan tentang sehingga mampu
mernerlukan interaksi obat Tuberkulosis menjalani terapi.
evaluasi/intervensi. dengan obat lain. e. Kebiasaan minurn
 Menerima perawatan d. Jelaskan tentang efek alkohol berkaitan
kesehatan adekuat samping obat: mulut dengan terjadinya
kering, konstipasi, hepatitis
gangguan penglihatan, sakit f. Efek samping
kepala, peningkatan etambutol: menurunkan
tekanan darah. visus, kurang mampu
e. Anjurkan pasien untuk melihat warna hijau.
tidak minurn alkohol jika g. Debu silikon beresiko
sedang terapi INH. keracunan silikon yang
f. Rujuk perneriksaan mengganggu fungsi
mata saat mulai dan paru/bronkus.
menjalani terapi etambutol. h. Pengetahuan yang
g. Berikan gambaran cukup dapat
tentang pekerjaan yang mengurangi resiko
berisiko terhadap penularan/ kambuh
penyakitnya misalnya: kembali. Komplikasi
bekerja di pengecoran Tuberkulosis: formasi
logam, pertambangan, abses, empisema,
pengecatan. pneumotorak, fibrosis,
h. Review tentang cara efusi pleura, empierna,
penularan Tuberkulosis dan bronkiektasis,
resiko kambuh lagi. hernoptisis, u1serasi
Gastro, Instestinal (GD,
fistula bronkopleural,
Tuberkulosis laring, dan
penularan kuman.
a. Review patologi a. Membantu pasien
penyakit fase aktif/tidak agar mau mengerti dan
aktif, penyebaran infeksi menerima terapi yang
melalui bronkus pada diberikan untuk
jaringan sekitarnya atau mencegah
aliran darah atau sistem komplikasi.b. Orang-
limfe dan resiko infeksi orang yang beresiko
melalui batuk, bersin, perlu program terapi
meludah, tertawa., ciuman obat untuk mencegah
atau penyebaran infeksi.
menyanyi.b. Identifikasi c. Kebiasaan ini untuk
orang-orang yang beresiko mencegah terjadinya
terkena infeksi seperti penularan infeksi.
anggota keluarga, teman, d. Mengurangi risilio
orang dalam satu penyebaran infeksi.
perkumpulan. e. Febris merupakan
Setelah diberikan c. Anjurkan pasien indikasi terjadinya
tindakan keperawatan menutup mulut dan infeksi.
Risiko tinggi tidak terjadi membuang dahak di tempat f. Pengetahuan tentang
infeksi penyebaran penyebaran/ aktivitas penampungan yang tertutup faktor-faktor ini
/ aktivitas ulang ulang infeksi, dengan jika batuk. membantu pasien untuk
infeksi kriteria hasil: d. Gunakan masker setiap mengubah gaya hidup
berhubungan  Mengidentifikasi melakukan tindakan. dan
dengan pertahanan intervensi untuk e. Monitor temperatur. menghindari/menguran
primer tidak mencegah/menurunkan f. Identifikasi individu gi keadaan yang lebih
adekuat, fungsi resiko penyebaran yang berisiko tinggi untuk buruk.
silia menurun/ infeksi. terinfeksi ulang g. Periode menular
statis sekret,  Menunjukkan/melakuk Tuberkulosis paru, seperti: dapat terjadi hanya 2-3
malnutrisi, an perubahan pola alkoholisme, malnutrisi, hari setelah permulaan
terkontaminasi oleh hidup untuk operasi bypass intestinal, kemoterapi jika sudah
lingkungan, kurang meningkatkan menggunakan obat penekan terjadi kavitas, resiko,
informasi tentang lingkungan yang. aman. imun/ kortikosteroid, penyebaran infeksi
infeksi kuman. - adanya diabetes melitus, dapat berlanjut sampai
kanker. 3 bulan.
g. Tekankan untuk tidak h. INH adalah obat
menghentikan terapi yang pilihan bagi penyakit
dijalani. Tuberkulosis primer
Kolaborasi: dikombinasikan dengan
h. Pemberian terapi INH, obat-obat lainnya.
etambutol, Rifampisin. Pengobatan jangka
i. Pemberian terapi pendek INH dan
Pyrazinamid Rifampisin selama 9
(PZA)/Aldinamide, para- bulan dan Etambutol
amino salisik (PAS), untuk 2 bulan pertama.
sikloserin, streptomisin. i. Obat-obat sekunder
j. Monitor sputum BTA. diberikan jika obat-obat
primer sudah resisten
j. Untuk mengawasi
keefektifan obat dan
efeknya serta respon
pasien terhadap terapi

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Tn. R DENGAN MASALAH
TB PARU DI DESA BATU TANGGA KEC.BATANG ALAI TIMUR
KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

3.I PENGKAJIAN
I. Pengumpulan Data
Struktur dan sifat keluarga.
1. Kepala Keluarga
Nama : Tn. R
Umur : 45 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku Bangsa : Banjar/Indonesia
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tani
Alamat : Desa Batu Tangga Kec.BAT.

2. Susunan Anggota Keluarga


NO NAMA J.KELAMIN UMUR HUBUNGAN PENDIDIKAN PEKRJAAN
1 Ny.M P 40Th Istri SD Tani
2 Tn.N L 29Th Anak SD Tani
3 Ny.SP P 25Th Menantu SD Tani

3. Tipe Keluarga
Merupakan type keluarga besar ( extended family ) yang terdiri atas ayah, ibu, satu orang anak
dan menantu perempuan.

4. Pengambilan Keputusan
Pola pengambilan keputusan dalam keluarga dilakukan secara musyawarah, anggota keluarga
yang paling menonjol dalam pengambilan keputusan adalah anak laki-laki Tn. R yang tinggal
serumah.

5. Hubungan Dalam Keluarga


Hubungan antar keluarga harmonis, komunikasi yang terjalin dalam keluarga baik, anggota
keluarga yang paling dipercaya adalah anak Tn. R yang tinggal serumah.

6. Kebiasaan Hidup Sehari-hari


a. Kebiasaan Istirahat dan Tidur
NO NAMA TIDUR SIANG TIDUR MALAM
1 Tn.R Jarang 6 – 7 jam 1 jam 
2 Tn.N Jarang 7 - 8 jam
3 Ny .S Jarang 7 - 8 jam

b. Kebiasaan Makan
Makanan pokok keluarga adalah nasi, lauk-pauk dgm frekwensi 3 x sehari. Pengadaan makanan
sehari-hari adalah memasak sendiri dengan komposisi jenis makanan bervariasi, kebiasaan
makan keluarga bersama-sama,tanpa ada alat makan yang dikhususkan untuk Tn.R
c. Personal Hygiene
Kebiasaan mandi keluarga Tn. R 2 x sehari dengan menggunakan sabun, gosok gigi 3 x /hari
menggunakan pasta gigi. Ganti pakaian 2 x sehari atau bila kotor. Rambut dikeramas 2 - 3 x
seminggu, memotong kuku bila panjang, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, memakai
alas kaki bila keluar rumah.
d. Penggunaan Waktu Senggang
Waktu senggang digunakan anggota keluarga untuk beristirahat dan 3 bulan yang lalu
lebihrekreasi, sementara Tn. R sejak ia sakit banyak di rumah daripada bekerja.
e. Kebiasaan Tidak Sehat
Semua anggota keluarga Tn. R tidak ada yang merokok dan mengkonsumsi 3alkohol,
sementara Tn. R sendiri berhenti merokok sejak ia sakit ( bulan yang lalu). Kadang meludah
disembarang tempat, dan tempat penampungan ludah yang terbuka.

8. Faktor Sosial, Ekonomi dan Budaya


a. Pendapatan dan pengeluaran
Rp 350.00,-. Tidak ada penghasilanPendapatan keluarga perbulan  Rp 300.000,- dengan
keperluan perhari tambahan. Pengeluaran perbulan Rp 10.000.
b. Sosial dan Budaya.
BAB I
TINJAUAN TEORITIS

I. KONSEP DASAR
I.I DEFENISI
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tubeculosis.
Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. Ada
beberapa mikrobakteria patogen , tetapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap
manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih kecil dari satu sel
darah merah.

I.2 ANATOMI FISIOLOGI


Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung Mycobakterium tuberkulosis dapat menetap dalam
udara bebas selama 1-2 jam. Orang dapat terifeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam
saluran pernapasan. Setelah Mycobacterium tuberkulosis masuk ke dalam saluran pernapasan,
masuk ke alveoli, tempat dimana mereka berkumpul dan mulai memperbanyak diri. Basil juga
secara sistemik melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang,
korteks serebri), dan area paru-paru lainnya (lobus atas).
Sistem imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit (neutrofil dan
makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit melisis (menghancurkan) basil dan jaringan normal.
Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan
bronkopneumonia. lnfeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah pemajanan.
Massa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan gumpalan basil yang masih
hidup dan yang sudah mati, dikelilingi oleh makrofag yang membentuk dinding
protektif. Granulomas diubah menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa fibrosa
ini disebut tuberkel Ghon. Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa
seperti keju. Massa ini dapat mengalami kalsifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri
menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan
atau respons yang inadekuat dari respons sistem imun. Penyakit aktif dapat juga terjadi dengan
infeksi ulang dan aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini, tuberkel Ghon memecah,
melepaskan bahan seperti keju ke dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara,
mengakibatkan penyebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel yang memecah menyembuh,
membentuk jaringan parut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak, mengakibatkan
terjadinya bronkopneumonia lebih lanjut, pembentukan tuberkel dan selanjutnya.
Kecuali proses tersebut dapat dihentikan, penyebarannya dengan lambat mengarah ke bawah ke
hilum paru-paru dan kemudian meluas ke lobus yang berdekatan. Proses mungkin
berkepanjangan dan ditandai oleh remisi lama ketika penyakit dihentikan, hanya supaya diikuti
dengan periode aktivitas yang diperbaharui. Hanya sekitar 10% individu yang awalnya terinfeksi
mengalami penyakit aktif (Brunner dan Suddarth, 2002)

I.3 ETIOLOGI
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium
tuberkulosis tipe humanus, sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-
4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah
yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan
fisik.
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-
tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat
dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain
kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi
kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada
bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. Basil mikrobakterium
tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli,
maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat
dan terbentuklah primer kompleks (ranke). keduanya dinamakan tuberkulosis primer, yang
dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Tuberkulosis paru primer,
peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium.
Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Sedangkan yang disebut
tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi
penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut.

I.4 MANIFESTASI KLINIS


Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala
sistemik:
1. Gejala respiratorik, meliputi:
a. Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Mula-
mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada
kerusakan jaringan.
b. Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau bercak-
bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darak terjadi
karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya
pembuluh darah yang pecah.
c. Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang
menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
d. Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila sistem
persarafan di pleura terkena.

2. Gejala sistemik, meliputi:


a. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam
influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas
serangan makin pendek.
b. Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise.
Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan, akan tetapi penampilan akut
dengan batuk, panas, sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala
pneumonia.
Gejala klinis Haemoptoe:
Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri-ciri
sebagai berikut :
1. Batuk darah
a. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan
b. Darah berbuih bercampur udara
c. Darah segar berwarna merah muda
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia kadang-kadang terjadi
f. Benzidin test negatif
2. Muntah darah
a. Darah dimuntahkan dengan rasa mual
b. Darah bercampur sisa makanan
c. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung
d. Darah bersifat asam
e. Anemia seriang terjadi
f. Benzidin test positif
3. Epistaksis
a. Darah menetes dari hidung
b. Batuk pelan kadang keluar
c. Darah berwarna merah segar
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia jarang terjadi

I.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


a.Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah tepi pada umumnya akan memperlihatkan adanya :
– Anemia, terutama bila penyakit berjalan menahun
– Leukositosis ringan dengan predominasi limfosit
– Laju Endap Darah (LED) meningkat terutama pada fase akut, tetapi pada umumnya nilai-
nilai tersebut normal pada tahap penyembuhan
b. Pemeriksaan radiologi
– Bayangan lesi radiologik yang terletak di lapangan atas paru
– Bayangan yang berawan atau berbecak
– Adanya kavitas tunggal atau ganda
– Adanya kalsifikasi
– Kelainan bilateral, terutama bila terdapat di lapangan atas paru
– Bayangan yang menetap atau relatif setelah beberapa minggu
c. Pemeriksaan bakteriologik (sputum)
Ditemukan kuman mikobakterium tuberkulosis dari dahak penderita, memastikan diagnosis TB
paru
pada pemeriksaan dahak.
d. Uji tuberkulin
Sangat penting bagi diagnosis tersebut pada anak. Hal positif pada orang dewasa kurang bernilai.

I.6 PENATALAKSANAAN MEDIS


a) Jenis dan Dosis Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
· Isoniazid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 % populasi kuman dalam beberapa
hari pertama pengobatan. Sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif yaitu
kuman yang sedang berkembang. Dosis harian 5 mg/kg berat badan, sedangkan untuk
pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat badan.
· Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman semi dormant yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasid.
Dosis 10 mg/kg berat badan. Dosis sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 kali
seminggu.
· Pirazinamid (Z)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian
25 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan
dosis 35 mg/kg berat badan.
· Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis 15 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali
seminggu digunakan dosis yang sama.
· Etambutol (E)
Bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik). Dosis harian 15 mg/kg berat badan,
sedangkan untuk intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan 30 mg/kg berat badan.
b) Tahap Pengobatan
Pengobatan Tuberculosis diberikan dalam 2 tahap yaitu:
1. Tahap Intensif
Penderita mendapat obat setiap hari. Pengawasan berat/ketat untuk mencegah terjadinya
kekebalan terhadap semua Obat Anti Tuberculosis (OAT).
2. Tahap Lanjutan
Penderita mendapat jenis obat lebih sedikit dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan
penting untuk membunuh kuman persistem (dormant) sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan.
c) Kategori Pemberian Obat Anti Tuberculosis
1. Kategori 1 (211RZE/4113R3)
Tahap intensif terdiri dari isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan Etambutol(E).
Obat-obatan tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2 HRZE), kemudian teruskan dengan
tahap lanjutan yang terdiri dari Isoniasid (H) dan Rifampisin (R), diberikan tiga kali dalam
seminggu selama 4 bulan (4H3R3). Obat ini diberikan untuk :
- Penderita baru TBC paru BTA positif
- Penderita TBC paru BTA negatif, rontgen positif.
- Penderita TBC ekstra paru berat.

2. Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3RE3)
Tahap intensif diberikan selama 3 (tiga) bulan, yang terdiri dari 2 bulan dengan isoniasid (H),
Rifampisn, Pirazinamid (Z), Etambutol (E) setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap
lanjutan selama 5 bulan dengan Isoniasid (H),Rifampisin (R), Etambutol (E) yang diberikan 3
kali dalam seminggu.
Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah penderita selesai menelan
obat. Obat ini diberikan untuk penderita kambuh, penderita gagal, penderita dengan pengobatan
setelah lalai

3. Kategori 3 (2HRZ/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) diberikan setiap hari
selama 2 bulan (2HRZ) diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin
(R) selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu (4H3R3). Obat ini diberikan untuk :
- Penderita baru BTA negatif dan roentgen positif sakit ringan
- Penderita ekstra paru ringan, yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis), pleuritis aksudativa
unilateral, TBC kulit, TBC tulang (kecuali tulang belakang) sendi dan kelenjar adrenal.
4. OAT Sisipan (HRZE)
Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau
penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA
positif, diberikan obat sisipan Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), Etambutol (E)
setiap hari selama 1 bulan.

I.7 KOMPLIKASI
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita
tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
· Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
· Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi
bronchial.
· Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada
proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
· Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.

BAB II
ASKEP TEORITIS

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


2.I PENGKAJIAN (DATA DASAR)
Data dasar pengkajian pasien ( Doengoes, Marilynn E : 2000 ) adalah sebagai berikut:
a. Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek),
demam, menggigil.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap,lanjut;infiltrasi radang
sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.
b. Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
c. Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent,mukoid
kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di
daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas,
pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus
(cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
d. Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila
infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.
e. Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada
harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.
f. Keamanan
Subyektif: adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker.
Obyektif: demam rendah atau sakit panas akut.
g. Interaksi Sosial
Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa dalam
tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.

2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah,
kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru,
atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan,
batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan
finansial.
d. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen.
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak
ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak
akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif
h. Risiko tinggi infeksi penyebaran / aktivitas ulang infeksi berhubungan dengan pertahanan
primer tidak adekuat, fungsi silia menurun/ statis sekret, kerusakan jaringan akibat infeksi yang
menyebar, malnutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang informasi tentang infeksi kuman.

2.3 INTERVENSI KEPERAWATAN DENGAN RASIONAL


Diagnosa
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
Setelah diberikan tindakan a. Kaji ulang fungsi a. Penurunan bunyi
keperawatan kebersihan pernapasan: bunyi napas, napas indikasi
jalan napas efektif, dengan kecepatan, irama, atelektasis, ronki
criteria hasil: kedalaman dan indikasi akumulasi
Bersihan jalan · Mempertahankan penggunaan otot secret/ketidakmampua
napas tidak efektif jalan napas pasien. aksesori.b. Catat n membersihkan jalan
berhubungan · Mengeluarkan sekret kemampuan untuk napas sehingga otot
dengan sekret tanpa bantuan. mengeluarkan secret atau aksesori digunakan
kental atau sekret · Menunjukkan batuk efektif, catat dan kerja pernapasan
darah, kelemahan, prilaku untuk memperbaiki karakter, jumlah sputum, meningkat. b.Pengelua
upaya batuk bersihan jalan napas. adanya hemoptisis. ran sulit bila sekret
buruk, edema · Berpartisipasi dalam c. Berikan pasien posisi tebal, sputum berdarah
trakeal/faringeal. program pengobatan sesuai semi atau Fowler, akibat kerusakan paru
kondisi. Bantu/ajarkan batuk atau luka bronchial
· Mengidentifikasi efektif dan latihan napas
yang memerlukan
potensial komplikasi dan dalam. evaluasi/intervensi
melakukan tindakan tepat. d. Bersihkan sekret darilanjut .
mulut dan trakea, suction
c. Meningkatkan
bila perlu. ekspansi paru,
e. Pertahankan intake ventilasi maksimal
cairan minimal 2500 membuka area
ml/hari kecuali atelektasis dan
kontraindikasi. peningkatan gerakan
f. Lembabkan sekret agar mudah
udara/oksigen inspirasi.dikeluarkan.
Kolaborasi: d. Mencegah
g. Berikan obat: agen obstruksi/aspirasi.
mukolitik, bronkodilator,
Suction dilakukan bila
kortikosteroid sesuai pasien tidak mampu
indikasi. mengeluarkan sekret.
e. Membantu
mengencerkan secret
sehingga mudah
dikeluarkan.
f. Mencegah
pengeringan membran
mukosa.
g. Menurunkan
kekentalan sekret,
lingkaran ukuran
lumen trakeabronkial,
berguna jika terjadi
hipoksemia pada
kavitas yang luas.
Gangguan Setelah diberikan tindakan a. Kaji dispnea, a. Tuberkulosis paru
pertukaran gas keperawatan pertukaran takipnea, bunyi dapat rnenyebabkan
berhubungan gas efektif, dengan kriteria pernapasan abnormal. meluasnya jangkauan
dengan hasil: Peningkatan upaya dalam paru-pani yang
berkurangnya · Melaporkan tidak respirasi, keterbatasan berasal dari
keefektifan terjadi dispnea. ekspansi dada dan bronkopneumonia
permukaan paru, · Menunjukkan kelemahan.b. Evaluasi yang meluas menjadi
atelektasis, perbaikan ventilasi dan perubahan-tingkat inflamasi, nekrosis,
kerusakan oksigenasi jaringan adekuat kesadaran, catat tanda- pleural effusion dan
membran alveolar dengan GDA dalam tanda sianosis dan meluasnya fibrosis
kapiler, sekret rentang normal. perubahan warna kulit, dengan gejala-gejala
yang kental, · Bebas dari gejala membran mukosa, dan respirasi
edema bronchial. distress pernapasan. warna kuku. distress. b.Akumulasi
c. Demonstrasikan/anjur secret dapat
kan untuk mengeluarkan menggangp oksigenasi
napas dengan bibir di organ vital dan
disiutkan, terutama pada jaringan.
pasien dengan fibrosis c. Meningkatnya
atau kerusakan parenkim. resistensi aliran udara
d. Anjurkan untuk untuk mencegah
bedrest, batasi dan bantu kolapsnya jalan napas.
aktivitas sesuai d. Mengurangi
kebutuhan. konsumsi oksigen pada
e. Monitor GDA. periode respirasi.
f. Kolaborasi: Berikan e. Menurunnya
oksigen sesuai indikasi. saturasi oksigen
(PaO2) atau
meningkatnya PaC02
menunjukkan perlunya
penanganan yang
lebih. adekuat atau
perubahan terapi.
f. Membantu
mengoreksi
hipoksemia yang
terjadi sekunder
hipoventilasi dan
penurunan permukaan
alveolar paru.
Gangguan Setelah diberikan tindakan a. Catat status nutrisi a. Berguna dalam
keseimbangan keperawatan paasien: turgor kulit, mendefinisikan derajat
nutrisi, kurang diharapkan kebutuhan timbang berat badan, masalah dan intervensi
dari kebutuhan nutrisi adekuat, dengan integritas mukosa mulut, yang
berhubungan kriteria hasil: kemampuan menelan, tepat b. Membantu
dengan kelelahan, · Menunjukkan berat adanya bising usus, intervensi kebutuhan
batuk yang sering, badan meningkat mencapai riwayat mual/rnuntah atau yang spesifik,
adanya produksi tujuan dengan nilai diare.b. Kaji ulang pola meningkatkan intake
sputum, dispnea, laboratoriurn normal dan diet pasien yang diet pasien.
anoreksia, bebas tanda malnutrisi. disukai/tidak disukai. c. Mengukur
penurunan · Melakukan c. Monitor intake dan keefektifan nutrisi dan
kemampuan perubahan pola hidup output secara periodik. cairan.
finansial. untuk meningkatkan dan d. Catat adanya d. Dapat menentukan
mempertahankan berat anoreksia, mual, muntah, jenis diet dan
badan yang tepat. dan tetapkan jika ada mengidentifikasi
hubungannya dengan pemecahan masalah
medikasi. Awasi untuk meningkatkan
frekuensi, volume, intake nutrisi.
konsistensi Buang Air e. Membantu
Besar (BAB). menghemat energi
e. Anjurkan bedrest. khusus saat demam
f. Lakukan perawatan terjadi peningkatan
mulut sebelum dan metabolik.
sesudah tindakan f. Mengurangi rasa
pernapasan. tidak enak dari sputum
g. Anjurkan makan atau obat-obat yang
sedikit dan sering dengan digunakan yang dapat
makanan tinggi protein merangsang muntah.
dan karbohidrat. g. Memaksimalkan
Kolaborasi: intake nutrisi dan
h. Rujuk ke ahli gizi menurunkan iritasi
untuk menentukan gaster.
komposisi diet. h. Memberikan
i. Awasi pemeriksaan bantuan dalarn
laboratorium. (BUN, perencaaan diet
protein serum, dan dengan nutrisi adekuat
albumin). unruk kebutuhan
metabolik dan diet.
i. Nilai rendah
menunjukkan
malnutrisi dan
perubahan program
terapi.
Nyeri akut Setelah diberikan tindakan a. Observasi a. Nyeri merupakan
berhubungan keperawatan rasa karakteristik nyeri, mis respon subjekstif yang
dengan inflamasi nyeridapat berkurang atau tajam, konstan , ditusuk. dapat
paru, batuk terkontrol, dengan KH: Selidiki perubahan diukur.b.Perubahan
menetap · Menyatakan nyeri karakter /lokasi/intensitas frekuensi jantung TD
berkurang atauterkontrol nyeri.b. Pantau TTV menunjukan bahwa
· Pasien tampak rileks c. Berikan tindakan pasien mengalami
nyaman mis, pijatan nyeri, khususnya bila
punggung, perubahan alasan untuk
posisi, musik tenang, perubahan tanda vital
relaksasi/latihan nafas telah terlihat.
d. Tawarkan c. Tindakan non
pembersihan mulut analgesik diberikan
dengan sering.. dengan sentuhan
e. Anjurkan dan bantu lembut dapat
pasien dalam teknik menghilangkan
menekan dada selama ketidaknyamanan dan
episode batukikasi. memperbesar efek
f. Kolaborasi dalam terapi analgesik.
pemberian analgesik d. Pernafasan mulut
sesuai indikasi dan terapi oksigen
dapat mengiritasi dan
mengeringkan
membran mukosa,
potensial
ketidaknyamanan
umum.
e. Alat untuk
mengontrol
ketidaknyamanan dada
sementara
meningkatkan
keefektifan upaya
batuk.
f. Obat ini dapat
digunakan untuk
menekan batuk non
produktif,
meningkatkan
kenyamanan
a. Mengetahui
peningkatan suhu
tubuh, memudahkan
intervensib. Menguran
gi panas dengan
pemindahan panas
secara konduksi. Air
hangat mengontrol
pemindahan panas
secara perlahan tanpa
menyebabkan
hipotermi atau
menggigil.
c. Untuk mengganti
cairan tubuh yang
hilang akibat
evaporasi
a. Kaji suhu tubuh d. Memberikan rasa
pasienb. Beri nyaman dan pakaian
kompres air hangat yang tipis mudah
c. Berikan/anjurkan menyerap keringat dan
pasien untuk banyak tidak merangsang
minum 1500-2000 cc/hari peningkatan suhu
(sesuai toleransi) tubuh.
d. Anjurkan pasien e. Mendeteksi dini
untuk menggunakan kekurangan cairan
pakaian yang tipis dan serta mengetahui
mudah menyerap keringat keseimbangan cairan
e. Observasi intake dan elektrolit dalam
dan output, tanda vital tubuh. Tanda vital
(suhu, nadi, tekanan merupakan acuan
Setelah diberikan tindakan darah) tiap 3 jam sekali untuk mengetahui
keperawatan diharapkan atau sesuai indikasi keadaan umum pasien.
Hipertermi suhu tubuh kembali normal f. Kolaborasi : f. Pemberian cairan
berhubungan dengan KH : pemberian cairan sangat penting bagi
dengan proses · Suhu tubuh 36°C- intravena dan pemberian pasien dengan suhu
inflamasi aktif. 37°C obat sesuai program. tubuh yang tinggi.
Obat khususnya untuk
menurunkan panas
tubuh pasien.
a. Menetapkan
kemampuan atau
kebutuhan pasien
memudahkan
pemilihan
intervensi.b.Menurunk
an stress dan
a. Evaluasi respon rangsanagn
pasien terhadap aktivitas. berlebihan,
Catat laporan dispnea, meningkatkan
peningkatan kelemahan istirahat.
atau c. Tirah baring
kelelahan.b. Berikan dipertahankan selama
lingkungan tenang dan fase akut untuk
batasi pengunjung selama menurunkan
fase akut sesuai indikasi. kebutuhan metabolic,
c. Jelaskan pentingnya menghemat energy
Setelah diberikan tindakan istirahat dalam rencana untuk penyembuhan.
keperawatan pasien pengobatandan perlunya d. Pasien mungkin
diharapkan mampu keseimbangan aktivitas nyaman dengan kepala
melakukan aktivitas dalam dan istirahat. tinggi, tidur di kursi
batas yang ditoleransi d. Bantu pasien memilih atau menunduk ke
Intoleransi dengan kriteria hasil: posisi nyaman untuk depan meja atau
aktivitas · Melaporkan atau istirahat. bantal.
berhubungan menunjukan peningkatan e. Bantu aktivitas e. Meminimalkan
dengan toleransi terhadap aktivitas perawatan diri yang kelelahan dan
ketidakseimbanga yang dapat diukur dengan diperlukan. Berikan membantu
n antara suplai dan adanya dispnea, kelemahan kemajuan peningkatan keseimbanagnsuplai
kebutuhan berlebihan, dan tanda vital aktivitas selama fase dan kebutuhan
oksigen. dalam rentan normal. penyembuhan. oksigen.
Kurang Setelah diberikan tindakan a. Kaji a. Kemampuan belajar
pengetahuan keperawatan tingkat ulang kemampuan belajar berkaitan dengan
tentang kondisi, pengetahuan pasien pasien misalnya: keadaan emosi dan
pengobatan, meningkat, dengan kriteria perhatian, kelelahan, kesiapan fisik.
pencegahan hasil: tingkat partisipasi, Keberhasilan
berhubungan · Menyatakan lingkungan belajar, tergantung pada
dengan tidak ada pemahaman proses tingkat pengetahuan, kemarnpuan
yang penyakit/prognosisdan media, orang pasien. b.Informasi
menerangkan, kebutuhan pengobatan. dipercaya.b. Berikan tertulis dapat
interpretasi yang · Melakukan Informasi yang spesifik membantu
salah, informasi perubahan prilaku dan pola dalam bentuk tulisan mengingatkan pasien.
yang didapat tidak hidup unruk memperbaiki misalnya: jadwal minum c. Meningkatkan
lengkap/tidak kesehatan umurn dan obat. partisipasi pasien
akurat, menurunkan resiko c. Jelaskan mematuhi aturan
terbatasnya pengaktifan ulang penatalaksanaan obat: terapi dan mencegah
pengetahuan/kogn luberkulosis paru. dosis, frekuensi, tindakan putus obat.
itif · Mengidentifikasi dan perlunya terapi dalam d. Mencegah keraguan
gejala yang mernerlukan jangka waktu lama. terhadap pengobatan
evaluasi/intervensi. Ulangi penyuluhan sehingga mampu
· Menerima perawatan tentang interaksi obat menjalani terapi.
kesehatan adekuat Tuberkulosis dengan obat e. Kebiasaan minurn
lain. alkohol berkaitan
d. Jelaskan tentang efek dengan terjadinya
samping obat: mulut hepatitis
kering, konstipasi, f. Efek samping
gangguan penglihatan, etambutol:
sakit kepala, peningkatan menurunkan visus,
tekanan darah. kurang mampu melihat
e. Anjurkan pasien warna hijau.
untuk tidak minurn g. Debu silikon
alkohol jika sedang terapi beresiko keracunan
INH. silikon yang
f. Rujuk perneriksaan mengganggu fungsi
mata saat mulai dan paru/bronkus.
menjalani terapi h. Pengetahuan yang
etambutol. cukup dapat
g. Berikan gambaran mengurangi resiko
tentang pekerjaan yang penularan/ kambuh
berisiko terhadap kembali. Komplikasi
penyakitnya misalnya: Tuberkulosis: formasi
bekerja di pengecoran abses, empisema,
logam, pertambangan, pneumotorak, fibrosis,
pengecatan. efusi pleura, empierna,
h. Review tentang cara bronkiektasis,
penularan Tuberkulosis hernoptisis, u1serasi
dan resiko kambuh lagi. Gastro, Instestinal
(GD, fistula
bronkopleural,
Tuberkulosis laring,
dan penularan kuman.
a. Review patologi a. Membantu pasien
penyakit fase aktif/tidak agar mau mengerti
aktif, penyebaran infeksi dan menerima terapi
melalui bronkus pada yang diberikan untuk
jaringan sekitarnya atau mencegah
aliran darah atau sistem komplikasi.b. Orang-
limfe dan resiko infeksi orang yang beresiko
melalui batuk, bersin, perlu program terapi
meludah, tertawa., ciuman obat untuk mencegah
atau penyebaran infeksi.
menyanyi.b. Identifikasi c. Kebiasaan ini untuk
orang-orang yang mencegah terjadinya
beresiko terkena infeksi penularan infeksi.
seperti anggota keluarga, d. Mengurangi risilio
Risiko tinggi teman, orang dalam satu penyebaran infeksi.
infeksi perkumpulan. e. Febris merupakan
penyebaran / c. Anjurkan pasien indikasi terjadinya
aktivitas ulang Setelah diberikan tindakan menutup mulut dan infeksi.
infeksi keperawatan tidak terjadi membuang dahak di f. Pengetahuan tentang
berhubungan penyebaran/ aktivitas ulang tempat penampungan faktor-faktor ini
dengan pertahanan infeksi, dengan kriteria yang tertutup jika batuk. membantu pasien
primer tidak hasil: d. Gunakan masker untuk mengubah gaya
adekuat, fungsi · Mengidentifikasi setiap melakukan hidup dan
silia menurun/ intervensi untuk tindakan. menghindari/mengura
statis sekret, mencegah/menurunkan e. Monitor temperatur. ngi keadaan yang lebih
malnutrisi, resiko penyebaran infeksi. f. Identifikasi individu buruk.
terkontaminasi · Menunjukkan/melaku yang berisiko tinggi untuk g. Periode menular
oleh lingkungan, kan perubahan pola hidup terinfeksi ulang dapat terjadi hanya 2-
kurang informasi untuk meningkatkan Tuberkulosis paru, 3 hari setelah
tentang infeksi lingkungan yang. aman. seperti: alkoholisme, permulaan kemoterapi
kuman. - malnutrisi, operasi bypass jika sudah terjadi
intestinal, menggunakan kavitas, resiko,
obat penekan imun/ penyebaran infeksi
kortikosteroid, adanya dapat berlanjut sampai
diabetes melitus, kanker. 3 bulan.
g. Tekankan untuk h. INH adalah obat
tidak menghentikan terapi pilihan bagi penyakit
yang dijalani. Tuberkulosis primer
Kolaborasi: dikombinasikan
h. Pemberian terapi dengan obat-obat
INH, etambutol, lainnya. Pengobatan
Rifampisin. jangka pendek INH
i. Pemberian terapi dan Rifampisin selama
Pyrazinamid 9 bulan dan Etambutol
(PZA)/Aldinamide, para- untuk 2 bulan pertama.
amino salisik (PAS), i. Obat-obat sekunder
sikloserin, streptomisin. diberikan jika obat-
j. Monitor sputum obat primer sudah
BTA. resisten
j. Untuk mengawasi
keefektifan obat dan
efeknya serta respon
pasien terhadap terapi

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Tn. R DENGAN MASALAH
TB PARU DI DESA BATU TANGGA KEC.BATANG ALAI TIMUR
KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH
3.I PENGKAJIAN
I. Pengumpulan Data
Struktur dan sifat keluarga.
1. Kepala Keluarga
Nama : Tn. R
Umur : 45 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku Bangsa : Banjar/Indonesia
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tani
Alamat : Desa Batu Tangga Kec.BAT.

2. Susunan Anggota Keluarga


NO NAMA J.KELAMIN UMUR HUBUNGAN PENDIDIKAN PEKRJAAN
1 Ny.M P 40Th Istri SD Tani
2 Tn.N L 29Th Anak SD Tani
3 Ny.SP P 25Th Menantu SD Tani

3. Tipe Keluarga
Merupakan type keluarga besar ( extended family ) yang terdiri atas ayah, ibu, satu orang anak
dan menantu perempuan.
4. Pengambilan Keputusan
Pola pengambilan keputusan dalam keluarga dilakukan secara musyawarah, anggota keluarga
yang paling menonjol dalam pengambilan keputusan adalah anak laki-laki Tn. R yang tinggal
serumah.

5. Hubungan Dalam Keluarga


Hubungan antar keluarga harmonis, komunikasi yang terjalin dalam keluarga baik, anggota
keluarga yang paling dipercaya adalah anak Tn. R yang tinggal serumah.

6. Kebiasaan Hidup Sehari-hari


a. Kebiasaan Istirahat dan Tidur
NO NAMA TIDUR SIANG TIDUR MALAM
1 Tn.R Jarang 6 – 7 jam± 1 jam ±
2 Tn.N Jarang 7 - 8 jam±
3 Ny .S Jarang 7 - 8 jam±
b. Kebiasaan Makan
Makanan pokok keluarga adalah nasi, lauk-pauk dgm frekwensi 3 x sehari. Pengadaan makanan
sehari-hari adalah memasak sendiri dengan komposisi jenis makanan bervariasi, kebiasaan
makan keluarga bersama-sama,tanpa ada alat makan yang dikhususkan untuk Tn.R
c. Personal Hygiene
Kebiasaan mandi keluarga Tn. R 2 x sehari dengan menggunakan sabun, gosok gigi 3 x /hari
menggunakan pasta gigi. Ganti pakaian 2 x sehari atau bila kotor. Rambut dikeramas 2 - 3 x
seminggu, memotong kuku bila panjang, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, memakai
alas kaki bila keluar rumah.
d. Penggunaan Waktu Senggang
Waktu senggang digunakan anggota keluarga untuk beristirahat dan 3 bulan yang lalu
lebih±rekreasi, sementara Tn. R sejak ia sakit banyak di rumah daripada bekerja.
e. Kebiasaan Tidak Sehat
Semua anggota keluarga Tn. R tidak ada yang merokok dan mengkonsumsi 3±alkohol,
sementara Tn. R sendiri berhenti merokok sejak ia sakit ( bulan yang lalu). Kadang meludah
disembarang tempat, dan tempat penampungan ludah yang terbuka.

8. Faktor Sosial, Ekonomi dan Budaya


a. Pendapatan dan pengeluaran
Rp 350.00,-. Tidak ada penghasilan±Pendapatan keluarga perbulan ± Rp 300.000,- dengan
keperluan perhari ±tambahan. Pengeluaran perbulan Rp 10.000.
b. Sosial dan Budaya.
Semua anggota keluarga adalah suku Jawa (WNI) dengan menggunakan bahasa Jawa untuk
komunikasi, semua anggoata keluarga beragama Islam, hubungan dengan masyarakat sekitar
baik, sebelum sakit Tn. R aktif dalam kegiatan keagamaan, saat sakit Tn. R lebih banyak di
rumah daripada mengikuti kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

9. Faktor Lingkungan
a. Perumahan
Status pemilikan rumah adalah rumah sendiri dengan type non permanen dengan 1 ruang tamu,
ruang tengah, 2 kamar tidur dan 1 dapur tanpa WC dan kamar mandi, atap terdiri atas sirap,
lantai dari papan, ventilasi terdiri atas 6 buah jendela namun 2 buah jendela jarang di buka yaitu
pada kamar tamu dengan alasan orang tua jarang ada dirumah, penerangan listrik dan
pencahayaan kurang baik, keadaan di dalam rumah cukup bersih, pemakaian air dari sumur gali
cukup bersih, tidak berbau, tidak berasa serta jernih, sampah dikumpulkan disamping rumah
kemudian 3 m2 x 5 m2.±dibakar, luas halaman
3.2 PRIORTAS MASALAH
a. Bersihan jalan napas tidak efektif
b. Gangguan pertukaran gas
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan
d. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas

3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN


a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah,
kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru,
atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan,
batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan
finansial.
d. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen.

3.4 INTERVENSI KEPERAWATAN


Intervensi :
1. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi
2. Identifikasi orang lain yang beresiko
3. Anjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada tissue dan menghindari
meludah
4. Kaji tindakan kontrol infeksi sementara
5. Awasi suhu sesuai indikasi
6. Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang
7. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat
8. Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara perodik terhadap sputum
9. Dorong memilih makanan seimbang
10. Kolaborasi pemberian antibiotik
11. Laporkan ke departemen kesehatan lokal
3.5 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
1. MengKaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi
2. MengIdentifikasi orang lain yang beresiko
3. MengAnjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada tissue dan menghindari
meludah
4. MengKaji tindakan kontrol infeksi sementara
5. MengAwasi suhu sesuai indikasi
6. mIdentifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang
7. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat
8. Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara perodik terhadap sputum
9. Dorong memilih makanan seimbang
10. Kolaborasi pemberian antibiotik
11. Laporkan ke departemen kesehatan lokal

3.6 EVALUASI
1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental.
S : Pasien mengatakan dapat mengeluarkan dahaknya.
O : Tanda-tanda penggunaan otot aksesori pernapasan berkurang.
A : Tujuan tercapai sebagian.
P : Lanjutkan intervensi
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler
S : Pasien mengatakan lemas
O : Pasien tampak pucat, frekuensi napas menurun dari 32 x/mnt menjadi 30 x/mnt
A : Tujuan belum tercapai
P : Lanjutkan intervensi
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri akut.
S : Pasien tidak mengeluh nyeri lagi saat batuk.
O : Pasien tampak tidak meringis saat batuk.
A : Tujuan tercapai.
P : Pertahankan kondisi.
DAFTAR PUSTAKA
http://askep-asuhankeperawatan.blogspot.com/2009/08/askep-asuhan-keperawatan-
tuberkulosis.html (diakses tgl 19 january, pkl 21:00)

http://hesa-andessa.blogspot.com/2010/04/askep-tuberkulosis-paru.html (diakses tgl 19, pkl


21:35 )
http://search.4shared.com/q/1/askep%20tube
BAB I

TINJAUAN TEORITIS

I. KONSEP DASAR
I.I DEFENISI
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tubeculosis. Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun
saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen , tetapi hanya strain bovin dan human yang
patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih
kecil dari satu sel darah merah.

I.2 ANATOMI FISIOLOGI


Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung Mycobakterium tuberkulosis dapat menetap dalam
udara bebas selama 1-2 jam. Orang dapat terifeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran
pernapasan. Setelah Mycobacterium tuberkulosis masuk ke dalam saluran pernapasan, masuk ke
alveoli, tempat dimana mereka berkumpul dan mulai memperbanyak diri. Basil juga secara sistemik
melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri), dan
area paru-paru lainnya (lobus atas).
Sistem imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit (neutrofil dan
makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit melisis (menghancurkan) basil dan jaringan normal.
Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan
bronkopneumonia. lnfeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah pemajanan.
Massa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan gumpalan basil yang masih hidup dan
yang sudah mati, dikelilingi oleh makrofag yang membentuk dinding protektif. Granulomas diubah
menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa fibrosa ini disebut tuberkel Ghon. Bahan
(bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa seperti keju. Massa ini dapat mengalami
kalsifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan
atau respons yang inadekuat dari respons sistem imun. Penyakit aktif dapat juga terjadi dengan infeksi
ulang dan aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini, tuberkel Ghon memecah, melepaskan bahan
seperti keju ke dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara, mengakibatkan penyebaran
penyakit lebih jauh. Tuberkel yang memecah menyembuh, membentuk jaringan parut. Paru yang
terinfeksi menjadi lebih membengkak, mengakibatkan terjadinya bronkopneumonia
lebih lanjut, pembentukan tuberkel dan selanjutnya.
Kecuali proses tersebut dapat dihentikan, penyebarannya dengan
lambat mengarah ke bawah ke hilum paru-paru dan kemudian meluas ke
lobus yang berdekatan. Proses mungkin berkepanjangan dan ditandai
oleh remisi lama ketika penyakit dihentikan, hanya supaya diikuti
dengan periode aktivitas yang diperbaharui. Hanya sekitar 10%
individu yang awalnya terinfeksi mengalami penyakit aktif (Brunner dan
Suddarth, 2002)

I.3 ETIOLOGI
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium
tuberkulosis tipe humanus, sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-
4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah
yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan
fisik.
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-
tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat
dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain
kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi
kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada
bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. Basil
mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection)
sampai alveoli, maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah
bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). keduanya dinamakan tuberkulosis
primer, yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Tuberkulosis
paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil
mikobakterium. Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Sedangkan yang
disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena
terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil
tersebut.

I.4 MANIFESTASI KLINIS


Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala
sistemik:
1. Gejala respiratorik, meliputi:
a. Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan.
Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada
kerusakan jaringan.
b. Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau bercak-
bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darak terjadi
karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya
pembuluh darah yang pecah.
c. Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang
menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
d. Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila
sistem persarafan di pleura terkena.

2. Gejala sistemik, meliputi:


a. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam
influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas
serangan makin pendek.
b. Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise.

Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan, akan tetapi penampilan
akut dengan batuk, panas, sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala
pneumonia.
Gejala klinis Haemoptoe:
Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri-ciri
sebagai berikut :
1. Batuk darah
a. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan
b. Darah berbuih bercampur udara
c. Darah segar berwarna merah muda
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia kadang-kadang terjadi
f. Benzidin test negatif
2. Muntah darah
a. Darah dimuntahkan dengan rasa mual
b. Darah bercampur sisa makanan
c. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung
d. Darah bersifat asam
e. Anemia seriang terjadi
f. Benzidin test positif
3. Epistaksis
a. Darah menetes dari hidung
b. Batuk pelan kadang keluar
c. Darah berwarna merah segar
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia jarang terjadi

I.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


a.Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah tepi pada umumnya akan memperlihatkan adanya :
– Anemia, terutama bila penyakit berjalan menahun
– Leukositosis ringan dengan predominasi limfosit
– Laju Endap Darah (LED) meningkat terutama pada fase akut, tetapi pada umumnya nilai-
nilai tersebut normal pada tahap penyembuhan
b. Pemeriksaan radiologi
– Bayangan lesi radiologik yang terletak di lapangan atas paru
– Bayangan yang berawan atau berbecak
– Adanya kavitas tunggal atau ganda
– Adanya kalsifikasi
– Kelainan bilateral, terutama bila terdapat di lapangan atas paru
– Bayangan yang menetap atau relatif setelah beberapa minggu
c. Pemeriksaan bakteriologik (sputum)
Ditemukan kuman mikobakterium tuberkulosis dari dahak penderita, memastikan diagnosis TB
paru
pada pemeriksaan dahak.
d. Uji tuberkulin
Sangat penting bagi diagnosis tersebut pada anak. Hal positif pada orang dewasa kurang bernilai.

I.6 PENATALAKSANAAN MEDIS


a) Jenis dan Dosis Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
 Isoniazid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 % populasi kuman dalam beberapa
hari pertama pengobatan. Sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif yaitu
kuman yang sedang berkembang. Dosis harian 5 mg/kg berat badan, sedangkan untuk
pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat badan.
 Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman semi dormant yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasid.
Dosis 10 mg/kg berat badan. Dosis sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 kali
seminggu.
 Pirazinamid (Z)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian 25
mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35
mg/kg berat badan.
 Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis 15 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali
seminggu digunakan dosis yang sama.
 Etambutol (E)
Bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik). Dosis harian 15 mg/kg berat badan,
sedangkan untuk intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan 30 mg/kg berat badan.
b) Tahap Pengobatan
Pengobatan Tuberculosis diberikan dalam 2 tahap yaitu:
1. Tahap Intensif
Penderita mendapat obat setiap hari. Pengawasan berat/ketat untuk mencegah terjadinya
kekebalan terhadap semua Obat Anti Tuberculosis (OAT).
2. Tahap Lanjutan
Penderita mendapat jenis obat lebih sedikit dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan
penting untuk membunuh kuman persistem (dormant) sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan.
c) Kategori Pemberian Obat Anti Tuberculosis
1. Kategori 1 (211RZE/4113R3)
Tahap intensif terdiri dari isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan Etambutol(E). Obat-
obatan tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2 HRZE), kemudian teruskan dengan tahap
lanjutan yang terdiri dari Isoniasid (H) dan Rifampisin (R), diberikan tiga kali dalam seminggu selama
4 bulan (4H3R3). Obat ini diberikan untuk :
- Penderita baru TBC paru BTA positif
- Penderita TBC paru BTA negatif, rontgen positif.
- Penderita TBC ekstra paru berat.

2. Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3RE3)
Tahap intensif diberikan selama 3 (tiga) bulan, yang terdiri dari 2 bulan dengan isoniasid (H),
Rifampisn, Pirazinamid (Z), Etambutol (E) setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan
selama 5 bulan dengan Isoniasid (H),Rifampisin (R), Etambutol (E) yang diberikan 3 kali dalam
seminggu.
Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah penderita selesai menelan obat. Obat
ini diberikan untuk penderita kambuh, penderita gagal, penderita dengan pengobatan setelah lalai

3. Kategori 3 (2HRZ/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) diberikan setiap hari
selama 2 bulan (2HRZ) diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari Isoniasid (H),
Rifampisin (R) selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu (4H3R3). Obat ini diberikan untuk :
- Penderita baru BTA negatif dan roentgen positif sakit ringan
- Penderita ekstra paru ringan, yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis), pleuritis aksudativa
unilateral, TBC kulit, TBC tulang (kecuali tulang belakang) sendi dan kelenjar adrenal.
4. OAT Sisipan (HRZE)
Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau
penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak
masih BTA positif, diberikan obat sisipan Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z),
Etambutol (E) setiap hari selama 1 bulan.

I.7 KOMPLIKASI
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita
tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
 Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian
karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
 Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi
bronchial.
 Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses
pemulihan atau reaktif) pada paru.
 Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.

BAB II
ASKEP TEORITIS

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


2.I PENGKAJIAN (DATA DASAR)
Data dasar pengkajian pasien ( Doengoes, Marilynn E : 2000 ) adalah sebagai berikut:
a. Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek),
demam, menggigil.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap,lanjut;infiltrasi radang
sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.
b. Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
c. Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent,mukoid
kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di
daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas,
pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus
(cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
d. Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila
infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.
e. Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada
harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.
f. Keamanan
Subyektif: adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker.
Obyektif: demam rendah atau sakit panas akut.
g. Interaksi Sosial
Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa dalam
tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.

2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah,
kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru,
atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan,
batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan
finansial.
d. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen.
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak
ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak
akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif
h. Risiko tinggi infeksi penyebaran / aktivitas ulang infeksi berhubungan dengan pertahanan
primer tidak adekuat, fungsi silia menurun/ statis sekret, kerusakan jaringan akibat infeksi yang
menyebar, malnutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang informasi tentang infeksi kuman.

2.3 INTERVENSI KEPERAWATAN DENGAN RASIONAL


Diagnosa
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
a. Kaji ulang fungsi a. Penurunan bunyi
pernapasan: bunyi napas, napas indikasi
kecepatan, irama, atelektasis, ronki
kedalaman dan penggunaan indikasi akumulasi
otot aksesori.b. Catat secret/ketidakmampuan
kemampuan untuk membersihkan jalan
Setelah diberikan mengeluarkan secret atau napas sehingga otot
tindakan keperawatan batuk efektif, catat aksesori digunakan dan
kebersihan jalan napas karakter, jumlah sputum, kerja pernapasan
efektif, dengan criteria adanya hemoptisis. meningkat. b.Pengeluar
hasil: c. Berikan pasien posisi an sulit bila sekret tebal,
 Mempertahankan jalan semi atau Fowler, sputum berdarah akibat
napas pasien. Bantu/ajarkan batuk efektif kerusakan paru atau
 Mengeluarkan sekret dan latihan napas dalam. luka bronchial yang
tanpa bantuan. d. Bersihkan sekret dari memerlukan
 Menunjukkan prilaku mulut dan trakea, suction evaluasi/intervensi
Bersihan jalan untuk memperbaiki bila perlu. lanjut .
napas tidak efektif bersihan jalan napas. e. Pertahankan intake c. Meningkatkan
berhubungan  Berpartisipasi dalam cairan minimal 2500 ekspansi paru, ventilasi
dengan sekret program pengobatan ml/hari kecuali maksimal membuka
kental atau sekret sesuai kondisi. kontraindikasi. area atelektasis dan
darah, kelemahan, Mengidentifikasi f. Lembabkan peningkatan gerakan
upaya batuk buruk, potensial komplikasi udara/oksigen inspirasi. sekret agar mudah
edema dan melakukan Kolaborasi: dikeluarkan.
trakeal/faringeal. tindakan tepat. g. Berikan obat: agen d. Mencegah
mukolitik, bronkodilator, obstruksi/aspirasi.
kortikosteroid sesuai Suction dilakukan bila
indikasi. pasien tidak mampu
mengeluarkan sekret.
e. Membantu
mengencerkan secret
sehingga mudah
dikeluarkan.
f. Mencegah
pengeringan membran
mukosa.
g. Menurunkan
kekentalan sekret,
lingkaran ukuran lumen
trakeabronkial, berguna
jika terjadi hipoksemia
pada kavitas yang luas.
a. Kaji dispnea, takipnea, a. Tuberkulosis paru
bunyi pernapasan dapat rnenyebabkan
abnormal. Peningkatan meluasnya jangkauan
upaya respirasi, dalam paru-pani yang
keterbatasan ekspansi dada berasal dari
dan bronkopneumonia yang
kelemahan.b. Evaluasi meluas menjadi
perubahan-tingkat inflamasi, nekrosis,
Gangguan Setelah diberikan kesadaran, catat tanda- pleural effusion dan
pertukaran gas tindakan keperawatan tanda sianosis dan meluasnya fibrosis
berhubungan pertukaran gas efektif, perubahan warna kulit, dengan gejala-gejala
dengan dengan kriteria hasil: membran mukosa, dan respirasi
berkurangnya  Melaporkan tidak warna kuku. distress. b.Akumulasi
keefektifan terjadi dispnea. c. Demonstrasikan/anjurk secret dapat menggangp
permukaan paru, Menunjukkan an untuk mengeluarkan oksigenasi di organ vital
atelektasis, perbaikan ventilasi dan napas dengan bibir dan jaringan.
kerusakan oksigenasi jaringan disiutkan, terutama pada c. Meningkatnya
membran alveolar adekuat dengan GDA pasien dengan fibrosis atau resistensi aliran udara
kapiler, sekret yang dalam rentang normal. kerusakan parenkim. untuk mencegah
kental, edema  Bebas dari gejala d. Anjurkan untuk bedrest, kolapsnya jalan napas.
bronchial. distress pernapasan. batasi dan bantu aktivitas d. Mengurangi konsumsi
sesuai kebutuhan. oksigen pada periode
e. Monitor GDA. respirasi.
f. Kolaborasi: Berikan e. Menurunnya saturasi
oksigen sesuai indikasi. oksigen (PaO2) atau
meningkatnya PaC02
menunjukkan perlunya
penanganan yang lebih.
adekuat atau perubahan
terapi.
f. Membantu mengoreksi
hipoksemia yang terjadi
sekunder hipoventilasi
dan penurunan
permukaan alveolar
paru.
a. Catat status nutrisi a. Berguna dalam
paasien: turgor kulit, mendefinisikan derajat
timbang berat badan, masalah dan intervensi
integritas mukosa mulut, yang tepat b. Membantu
kemampuan menelan, intervensi kebutuhan
adanya bising usus, riwayat yang spesifik,
Setelah diberikan mual/rnuntah atau meningkatkan intake
tindakan keperawatan diare.b. Kaji ulang pola diet pasien.
diharapkan kebutuhan diet pasien yang c. Mengukur keefektifan
nutrisi adekuat, dengan disukai/tidak disukai. nutrisi dan cairan.
Gangguan kriteria hasil: c. Monitor intake dan d. Dapat menentukan
keseimbangan  Menunjukkan berat output secara periodik. jenis diet dan
nutrisi, kurang dari badan meningkat d. Catat adanya anoreksia, mengidentifikasi
kebutuhan mencapai tujuan mual, muntah, dan tetapkan pemecahan masalah
berhubungan dengan nilai jika ada hubungannya untuk meningkatkan
dengan kelelahan, laboratoriurn normal dengan medikasi. Awasi intake nutrisi.
batuk yang sering, dan bebas tanda frekuensi, volume, e. Membantu
adanya produksi malnutrisi. konsistensi Buang Air menghemat energi
sputum, dispnea, Melakukan perubahan Besar (BAB). khusus saat demam
anoreksia, pola hidup untuk e. Anjurkan bedrest. terjadi peningkatan
penurunan meningkatkan dan f. Lakukan perawatan metabolik.
kemampuan mempertahankan berat mulut sebelum dan sesudah f. Mengurangi rasa
finansial. badan yang tepat. tindakan pernapasan. tidak enak dari sputum
g. Anjurkan makan atau obat-obat yang
sedikit dan sering dengan digunakan yang dapat
makanan tinggi protein dan merangsang muntah.
karbohidrat. g. Memaksimalkan
Kolaborasi: intake nutrisi dan
h. Rujuk ke ahli gizi menurunkan iritasi
untuk menentukan gaster.
komposisi diet. h. Memberikan bantuan
i. Awasi pemeriksaan dalarn perencaaan diet
laboratorium. (BUN, dengan nutrisi adekuat
protein serum, dan unruk kebutuhan
albumin). metabolik dan diet.
i. Nilai rendah
menunjukkan malnutrisi
dan perubahan program
terapi.
a. Nyeri merupakan
respon subjekstif yang
dapat
a. Observasi karakteristik diukur.b.Perubahan
nyeri, mis tajam, konstan , frekuensi jantung TD
ditusuk. Selidiki perubahan menunjukan bahwa
karakter /lokasi/intensitas pasien mengalami nyeri,
nyeri.b. Pantau TTV khususnya bila alasan
c. Berikan tindakan untuk perubahan tanda
nyaman mis, pijatan vital telah terlihat.
punggung, perubahan c. Tindakan non
posisi, musik tenang, analgesik diberikan
relaksasi/latihan nafas dengan sentuhan lembut
Setelah diberikan d. Tawarkan pembersihan dapat menghilangkan
tindakan keperawatan mulut dengan sering.. ketidaknyamanan dan
rasa nyeridapat e. Anjurkan dan bantu memperbesar efek
berkurang atau pasien dalam teknik terapi analgesik.
Nyeri akut terkontrol, dengan KH: menekan dada selama d. Pernafasan mulut dan
berhubungan  Menyatakan nyeri episode batukikasi. terapi oksigen dapat
dengan inflamasi berkurang f. Kolaborasi dalam mengiritasi dan
paru, batuk atauterkontrol pemberian analgesik sesuai mengeringkan membran
menetap  Pasien tampak rileks indikasi mukosa, potensial
ketidaknyamanan
umum.
e. Alat untuk
mengontrol
ketidaknyamanan dada
sementara
meningkatkan
keefektifan upaya batuk.
f. Obat ini dapat
digunakan untuk
menekan batuk non
produktif, meningkatkan
kenyamanan
a. Mengetahui
peningkatan suhu tubuh,
memudahkan
intervensib. Mengurangi
panas dengan
a. Kaji suhu tubuh pemindahan panas
pasienb. Beri kompres secara konduksi. Air
air hangat hangat mengontrol
c. Berikan/anjurkan pemindahan panas
pasien untuk banyak secara perlahan tanpa
minum 1500-2000 cc/hari menyebabkan hipotermi
(sesuai toleransi) atau menggigil.
d. Anjurkan pasien c. Untuk mengganti
untuk menggunakan cairan tubuh yang
pakaian yang tipis dan hilang akibat evaporasi
mudah menyerap keringat d. Memberikan rasa
e. Observasi intake nyaman dan pakaian
dan output, tanda vital yang tipis mudah
(suhu, nadi, tekanan darah) menyerap keringat dan
Setelah diberikan tiap 3 jam sekali atau sesuai tidak merangsang
tindakan keperawatan indikasi peningkatan suhu tubuh.
Hipertermi diharapkan suhu tubuh f. Kolaborasi : e. Mendeteksi dini
berhubungan kembali normal dengan pemberian cairan intravena kekurangan cairan serta
dengan proses KH : dan pemberian obat sesuai mengetahui
inflamasi aktif.  Suhu tubuh 36°C-37°C program. keseimbangan cairan
dan elektrolit dalam
tubuh. Tanda vital
merupakan acuan untuk
mengetahui keadaan
umum pasien.
f. Pemberian cairan
sangat penting bagi
pasien dengan suhu
tubuh yang tinggi. Obat
khususnya untuk
menurunkan panas
tubuh pasien.

a. Menetapkan
kemampuan atau
kebutuhan pasien
a. Evaluasi respon pasien memudahkan pemilihan
terhadap aktivitas. intervensi.b.Menurunka
Catat laporan dispnea, n stress dan rangsanagn
peningkatan kelemahan berlebihan,
atau kelelahan.b. Berikan meningkatkan istirahat.
lingkungan tenang dan c. Tirah baring
Setelah diberikan batasi pengunjung selama dipertahankan selama
tindakan keperawatan fase akut sesuai indikasi. fase akut untuk
pasien diharapkan c. Jelaskan pentingnya menurunkan kebutuhan
mampu melakukan istirahat dalam rencana metabolic, menghemat
aktivitas dalam batas pengobatandan perlunya energy untuk
yang ditoleransi keseimbangan aktivitas dan penyembuhan.
dengan kriteria hasil: istirahat. d. Pasien mungkin
 Melaporkan atau d. Bantu pasien memilih nyaman dengan kepala
menunjukan posisi nyaman untuk tinggi, tidur di kursi
peningkatan toleransi istirahat. atau menunduk ke
Intoleransi aktivitas terhadap aktivitas yang e. Bantu aktivitas depan meja atau bantal.
berhubungan dapat diukur dengan perawatan diri yang e. Meminimalkan
dengan adanya dispnea, diperlukan. Berikan kelelahan dan
ketidakseimbangan kelemahan berlebihan, kemajuan peningkatan membantu
antara suplai dan dan tanda vital dalam aktivitas selama fase keseimbanagnsuplai dan
kebutuhan oksigen. rentan normal. penyembuhan. kebutuhan oksigen.
a. Kaji a. Kemampuan belajar
ulang kemampuan belajar berkaitan dengan
pasien misalnya: perhatian, keadaan emosi dan
kelelahan, tingkat kesiapan fisik.
partisipasi, lingkungan Keberhasilan
belajar, tingkat tergantung pada
pengetahuan, media, orang kemarnpuan
dipercaya.b. Berikan pasien. b.Informasi
Informasi yang spesifik tertulis dapat membantu
dalam bentuk tulisan mengingatkan pasien.
misalnya: jadwal minum c. Meningkatkan
obat. partisipasi pasien
c. Jelaskan mematuhi aturan terapi
penatalaksanaan obat: dan mencegah putus
dosis, frekuensi, tindakan obat.
dan perlunya terapi dalam d. Mencegah keraguan
Setelah diberikan jangka waktu lama. Ulangi terhadap pengobatan
tindakan keperawatan penyuluhan tentang sehingga mampu
tingkat pengetahuan interaksi obat Tuberkulosis menjalani terapi.
pasien meningkat, dengan obat lain. e. Kebiasaan minurn
dengan kriteria hasil: d. Jelaskan tentang efek alkohol berkaitan
 Menyatakan samping obat: mulut dengan terjadinya
pemahaman proses kering, konstipasi, hepatitis
Kurang penyakit/prognosisdan gangguan penglihatan, sakit f. Efek samping
pengetahuan kebutuhan pengobatan. kepala, peningkatan etambutol: menurunkan
tentang kondisi,  Melakukan perubahan tekanan darah. visus, kurang mampu
pengobatan, prilaku dan pola hidup e. Anjurkan pasien untuk melihat warna hijau.
pencegahan unruk memperbaiki tidak minurn alkohol jika g. Debu silikon beresiko
berhubungan kesehatan umurn dan sedang terapi INH. keracunan silikon yang
dengan tidak ada menurunkan resiko f. Rujuk perneriksaan mengganggu fungsi
yang menerangkan, pengaktifan ulang mata saat mulai dan paru/bronkus.
interpretasi yang luberkulosis paru. menjalani terapi etambutol. h. Pengetahuan yang
salah, informasi  Mengidentifikasi g. Berikan gambaran cukup dapat
yang didapat tidak gejala yang tentang pekerjaan yang mengurangi resiko
lengkap/tidak mernerlukan berisiko terhadap penularan/ kambuh
akurat, terbatasnya evaluasi/intervensi. penyakitnya misalnya: kembali. Komplikasi

pengetahuan/kognit Menerima perawatan bekerja di pengecoran Tuberkulosis: formasi
if kesehatan adekuat logam, pertambangan, abses, empisema,
pengecatan. pneumotorak, fibrosis,
h. Review tentang cara efusi pleura, empierna,
penularan Tuberkulosis dan bronkiektasis,
resiko kambuh lagi. hernoptisis, u1serasi
Gastro, Instestinal (GD,
fistula bronkopleural,
Tuberkulosis laring, dan
penularan kuman.
a. Review patologi a. Membantu pasien
penyakit fase aktif/tidak agar mau mengerti dan
aktif, penyebaran infeksi menerima terapi yang
melalui bronkus pada diberikan untuk
jaringan sekitarnya atau mencegah
aliran darah atau sistem komplikasi.b. Orang-
limfe dan resiko infeksi orang yang beresiko
melalui batuk, bersin, perlu program terapi
meludah, tertawa., ciuman obat untuk mencegah
atau penyebaran infeksi.
menyanyi.b. Identifikasi c. Kebiasaan ini untuk
orang-orang yang beresiko mencegah terjadinya
terkena infeksi seperti penularan infeksi.
Setelah diberikan anggota keluarga, teman, d. Mengurangi risilio
tindakan keperawatan orang dalam satu penyebaran infeksi.
Risiko tinggi tidak terjadi perkumpulan. e. Febris merupakan
infeksi penyebaran penyebaran/ aktivitas c. Anjurkan pasien indikasi terjadinya
/ aktivitas ulang ulang infeksi, dengan menutup mulut dan infeksi.
infeksi kriteria hasil: membuang dahak di tempat f. Pengetahuan tentang
berhubungan  Mengidentifikasi penampungan yang tertutup faktor-faktor ini
dengan pertahanan intervensi untuk jika batuk. membantu pasien untuk
primer tidak mencegah/menurunkan d. Gunakan masker setiap mengubah gaya hidup
adekuat, fungsi resiko penyebaran melakukan tindakan. dan
silia menurun/ infeksi. e. Monitor temperatur. menghindari/menguran
statis sekret,  Menunjukkan/melakuk f. Identifikasi individu gi keadaan yang lebih
malnutrisi, an perubahan pola yang berisiko tinggi untuk buruk.
terkontaminasi oleh hidup untuk terinfeksi ulang g. Periode menular
lingkungan, kurang meningkatkan Tuberkulosis paru, seperti: dapat terjadi hanya 2-3
informasi tentang lingkungan yang. aman. alkoholisme, malnutrisi, hari setelah permulaan
infeksi kuman. - operasi bypass intestinal, kemoterapi jika sudah
menggunakan obat penekan terjadi kavitas, resiko,
imun/ kortikosteroid, penyebaran infeksi
adanya diabetes melitus, dapat berlanjut sampai
kanker. 3 bulan.
g. Tekankan untuk tidak h. INH adalah obat
menghentikan terapi yang pilihan bagi penyakit
dijalani. Tuberkulosis primer
Kolaborasi: dikombinasikan dengan
h. Pemberian terapi INH, obat-obat lainnya.
etambutol, Rifampisin. Pengobatan jangka
i. Pemberian terapi pendek INH dan
Pyrazinamid Rifampisin selama 9
(PZA)/Aldinamide, para- bulan dan Etambutol
amino salisik (PAS), untuk 2 bulan pertama.
sikloserin, streptomisin. i. Obat-obat sekunder
j. Monitor sputum BTA. diberikan jika obat-obat
primer sudah resisten
j. Untuk mengawasi
keefektifan obat dan
efeknya serta respon
pasien terhadap terapi

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Tn. R DENGAN MASALAH
TB PARU DI DESA BATU TANGGA KEC.BATANG ALAI TIMUR
KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH
3.I PENGKAJIAN
I. Pengumpulan Data
Struktur dan sifat keluarga.
1. Kepala Keluarga
Nama : Tn. R
Umur : 45 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku Bangsa : Banjar/Indonesia
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tani
Alamat : Desa Batu Tangga Kec.BAT.

2. Susunan Anggota Keluarga


NO NAMA J.KELAMIN UMUR HUBUNGAN PENDIDIKAN PEKRJAAN
1 Ny.M P 40Th Istri SD Tani
2 Tn.N L 29Th Anak SD Tani
3 Ny.SP P 25Th Menantu SD Tani

3. Tipe Keluarga
Merupakan type keluarga besar ( extended family ) yang terdiri atas ayah, ibu, satu orang anak
dan menantu perempuan.

4. Pengambilan Keputusan
Pola pengambilan keputusan dalam keluarga dilakukan secara musyawarah, anggota keluarga
yang paling menonjol dalam pengambilan keputusan adalah anak laki-laki Tn. R yang tinggal
serumah.

5. Hubungan Dalam Keluarga


Hubungan antar keluarga harmonis, komunikasi yang terjalin dalam keluarga baik, anggota
keluarga yang paling dipercaya adalah anak Tn. R yang tinggal serumah.

6. Kebiasaan Hidup Sehari-hari


a. Kebiasaan Istirahat dan Tidur
NO NAMA TIDUR SIANG TIDUR MALAM
1 Tn.R Jarang 6 – 7 jam 1 jam 
2 Tn.N Jarang 7 - 8 jam
3 Ny .S Jarang 7 - 8 jam
b. Kebiasaan Makan
Makanan pokok keluarga adalah nasi, lauk-pauk dgm frekwensi 3 x sehari. Pengadaan makanan
sehari-hari adalah memasak sendiri dengan komposisi jenis makanan bervariasi, kebiasaan
makan keluarga bersama-sama,tanpa ada alat makan yang dikhususkan untuk Tn.R
c. Personal Hygiene
Kebiasaan mandi keluarga Tn. R 2 x sehari dengan menggunakan sabun, gosok gigi 3 x /hari
menggunakan pasta gigi. Ganti pakaian 2 x sehari atau bila kotor. Rambut dikeramas 2 - 3 x
seminggu, memotong kuku bila panjang, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, memakai
alas kaki bila keluar rumah.
d. Penggunaan Waktu Senggang
Waktu senggang digunakan anggota keluarga untuk beristirahat dan 3 bulan yang lalu
lebihrekreasi, sementara Tn. R sejak ia sakit banyak di rumah daripada bekerja.
e. Kebiasaan Tidak Sehat
Semua anggota keluarga Tn. R tidak ada yang merokok dan mengkonsumsi 3alkohol,
sementara Tn. R sendiri berhenti merokok sejak ia sakit ( bulan yang lalu). Kadang meludah
disembarang tempat, dan tempat penampungan ludah yang terbuka.

8. Faktor Sosial, Ekonomi dan Budaya


a. Pendapatan dan pengeluaran
Rp 350.00,-. Tidak ada penghasilanPendapatan keluarga perbulan  Rp 300.000,- dengan
keperluan perhari tambahan. Pengeluaran perbulan Rp 10.000.
b. Sosial dan Budaya.
Semua anggota keluarga adalah suku Jawa (WNI) dengan menggunakan bahasa Jawa untuk
komunikasi, semua anggoata keluarga beragama Islam, hubungan dengan masyarakat sekitar
baik, sebelum sakit Tn. R aktif dalam kegiatan keagamaan, saat sakit Tn. R lebih banyak di
rumah daripada mengikuti kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

9. Faktor Lingkungan
a. Perumahan
Status pemilikan rumah adalah rumah sendiri dengan type non permanen dengan 1 ruang tamu,
ruang tengah, 2 kamar tidur dan 1 dapur tanpa WC dan kamar mandi, atap terdiri atas sirap,
lantai dari papan, ventilasi terdiri atas 6 buah jendela namun 2 buah jendela jarang di buka yaitu
pada kamar tamu dengan alasan orang tua jarang ada dirumah, penerangan listrik dan
pencahayaan kurang baik, keadaan di dalam rumah cukup bersih, pemakaian air dari sumur gali
cukup bersih, tidak berbau, tidak berasa serta jernih, sampah dikumpulkan disamping rumah
kemudian 3 m2 x 5 m2.dibakar, luas halaman
3.2 PRIORTAS MASALAH
a. Bersihan jalan napas tidak efektif
b. Gangguan pertukaran gas
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan
d. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas

3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN


a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah,
kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru,
atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan,
batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan
finansial.
d. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen.

3.4 INTERVENSI KEPERAWATAN


Intervensi :
1. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi
2. Identifikasi orang lain yang beresiko
3. Anjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada tissue dan menghindari meludah
4. Kaji tindakan kontrol infeksi sementara
5. Awasi suhu sesuai indikasi
6. Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang
7. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat
8. Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara perodik terhadap sputum
9. Dorong memilih makanan seimbang
10. Kolaborasi pemberian antibiotik
11. Laporkan ke departemen kesehatan lokal
3.5 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
1. MengKaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi
2. MengIdentifikasi orang lain yang beresiko
3. MengAnjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada tissue dan menghindari
meludah
4. MengKaji tindakan kontrol infeksi sementara
5. MengAwasi suhu sesuai indikasi
6. mIdentifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang
7. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat
8. Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara perodik terhadap sputum
9. Dorong memilih makanan seimbang
10. Kolaborasi pemberian antibiotik
11. Laporkan ke departemen kesehatan lokal

3.6 EVALUASI
1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan
sekresi yang kental.
S : Pasien mengatakan dapat mengeluarkan dahaknya.
O : Tanda-tanda penggunaan otot aksesori pernapasan berkurang.
A : Tujuan tercapai sebagian.
P : Lanjutkan intervensi
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran
alveolar-kapiler
S : Pasien mengatakan lemas
O : Pasien tampak pucat, frekuensi napas menurun dari 32 x/mnt menjadi 30 x/mnt
A : Tujuan belum tercapai
P : Lanjutkan intervensi
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri akut.
S : Pasien tidak mengeluh nyeri lagi saat batuk.
O : Pasien tampak tidak meringis saat batuk.
A : Tujuan tercapai.
P : Pertahankan kondisi.
DAFTAR PUSTAKA
http://askep-asuhankeperawatan.blogspot.com/2009/08/askep-asuhan-
keperawatan-tuberkulosis.html (diakses tgl 19 january, pkl 21:00)
http://hesa-andessa.blogspot.com/2010/04/askep-tuberkulosis-
paru.html (diakses tgl 19, pkl 21:35 )

http://search.4shared.com/q/1/askep%20tuberkulosis%20paru?view=ls(d
iakses tgl 21, pkl 20:30 )

http://zumrohhasanah.wordpress.com/2010/12/31/-tb-paru/ (diakses
tgl 21, pkl 21:23 )

rkulosis%20paru?view=ls(diakses tgl 21, pkl 20:30 )

http://zumrohhasanah.wordpress.com/2010/12/31/-tb-paru/ (diakses tgl 21, pkl 21:23 )

Semua anggota keluarga adalah suku Jawa (WNI) dengan menggunakan bahasa Jawa untuk
komunikasi, semua anggoata keluarga beragama Islam, hubungan dengan masyarakat sekitar
baik, sebelum sakit Tn. R aktif dalam kegiatan keagamaan, saat sakit Tn. R lebih banyak di
rumah daripada mengikuti kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

9. Faktor Lingkungan
a. Perumahan
Status pemilikan rumah adalah rumah sendiri dengan type non permanen dengan 1 ruang tamu,
ruang tengah, 2 kamar tidur dan 1 dapur tanpa WC dan kamar mandi, atap terdiri atas sirap,
lantai dari papan, ventilasi terdiri atas 6 buah jendela namun 2 buah jendela jarang di buka yaitu
pada kamar tamu dengan alasan orang tua jarang ada dirumah, penerangan listrik dan
pencahayaan kurang baik, keadaan di dalam rumah cukup bersih, pemakaian air dari sumur gali
cukup bersih, tidak berbau, tidak berasa serta jernih, sampah dikumpulkan disamping rumah
kemudian 3 m2 x 5 m2.dibakar, luas halaman

3.2 PRIORTAS MASALAH


a. Bersihan jalan napas tidak efektif
b. Gangguan pertukaran gas
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan
d. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas
3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah,
kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru,
atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
c. Gangguan keseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan,
batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan
finansial.
d. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen.

3.4 INTERVENSI KEPERAWATAN


Intervensi :
1. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi
2. Identifikasi orang lain yang beresiko
3. Anjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada tissue dan menghindari meludah
4. Kaji tindakan kontrol infeksi sementara
5. Awasi suhu sesuai indikasi
6. Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang
7. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat
8. Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara perodik terhadap sputum
9. Dorong memilih makanan seimbang
10. Kolaborasi pemberian antibiotik
11. Laporkan ke departemen kesehatan lokal

3.5 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN


1. MengKaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi
2. MengIdentifikasi orang lain yang beresiko
3. MengAnjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada tissue dan menghindari
meludah
4. MengKaji tindakan kontrol infeksi sementara
5. MengAwasi suhu sesuai indikasi
6. mIdentifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang
7. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat
8. Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara perodik terhadap sputum
9. Dorong memilih makanan seimbang
10. Kolaborasi pemberian antibiotik
11. Laporkan ke departemen kesehatan lokal

3.6 EVALUASI
1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan
sekresi yang kental.
S : Pasien mengatakan dapat mengeluarkan dahaknya.
O : Tanda-tanda penggunaan otot aksesori pernapasan berkurang.
A : Tujuan tercapai sebagian.
P : Lanjutkan intervensi
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran
alveolar-kapiler
S : Pasien mengatakan lemas
O : Pasien tampak pucat, frekuensi napas menurun dari 32 x/mnt menjadi 30 x/mnt
A : Tujuan belum tercapai
P : Lanjutkan intervensi
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri akut.
S : Pasien tidak mengeluh nyeri lagi saat batuk.
O : Pasien tampak tidak meringis saat batuk.
A : Tujuan tercapai.
P : Pertahankan kondisi.
DAFTAR PUSTAKA
http://askep-asuhankeperawatan.blogspot.com/2009/08/askep-asuhan-
keperawatan-tuberkulosis.html (diakses tgl 19 january, pkl 21:00)

http://hesa-andessa.blogspot.com/2010/04/askep-tuberkulosis-
paru.html (diakses tgl 19, pkl 21:35 )

http://search.4shared.com/q/1/askep%20tuberkulosis%20paru?view=ls(d
iakses tgl 21, pkl 20:30 )

http://zumrohhasanah.wordpress.com/2010/12/31/-tb-paru/ (diakses
tgl 21, pkl 21:23 )