Anda di halaman 1dari 4

PERLINDUNGAN PEKERJA MIGRAN

Oleh. Paul SinlaEloE – Aktivis PIAR NTT


Tulisan ini Pernah di Publikasikan dalam http://www.zonalinenews.com/2019/05/perlindungan-pekerja-migran/, pada
tanggal 25 Mei 2019.

Segenap bangsa Indonesia pada dasarnya memberi


apresiasi atas hadirnya UU No. 18 Tahun 2017,
tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
(UUPPMI), karena telah membawa paradigma baru
dalam perlindungan terhadap Pekerja Migran
Indonesia (PMI). UUPPMI yang disahkan
diundangkan pada tanggal 22 November 2017,
dalam LN RI Tahun 2017 Nomor 242, tambahan LN
RI Nomor 6141 ini, tidak lagi berorientasi pada
peningkatan produktivitas dan daya saing melalui
optimalisasi pemberdayaan dan pendayagunaan
tenaga kerja, melainkan sudah mengedepankan
penghormatan terhadap hak asasi dari PMI sebagai
manusia dan warga Negara.

Paradigma baru dalam UUPPMI, tergambar juga pada subjek perlindungannya yang
tidak hanya terbatas pada Calon PMI dan/atau PMI, namun juga sudah mengatur
tentang jaminan perlindungan terhadap hak keluarga dari PMI sebagaimana yang
dimandatkan dalam Konvensi PBB 1990, tentang Perlindungan Hak-hak Pekerja
Migran dan Anggota Keluarganya. Bahkan perlindungan untuk Calon PMI dan/atau
PMI dan kelurgnya, dilakukan mulai dari sebelum bekerja, selama bekerja, dan
setelah bekerja dalam aspek hukum, ekonomi, dan sosial.

Aspek integral, sinergitas dan koordinasi pada setiap level pemerintahan dalam
kerja-kerja pelayanan penempatan dan perlindungan bagi Calon PMI dan/atau PMI,
merupakan bagian dari paradigma baru yang terdapat dalam UUPPMI. Keterpaduan
dan sinergitas ini dijabarkan dalam pembagian tugas dan tanggungjawab.

Berdasarkan Pasal 11 ayat (1) dan Pasal 39 UUPPMI, tugas dan tanggung jawab
pemerintah pusat dalam hal perlindungan PMI adalah: a. Mendistribusikan informasi
dan permintaan PMI kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota melalui Pemerintah
Daerah provinsi; b. Menjamin Perlindungan Calon PMI dan/atau PMI dan
nkeluarganya; c. Mengatur, membina, melaksanakan, dan mengawasi
penyelenggaraan penempatan; d. Menjamin pemenuhan hak Calon PMI dan/atau
PMI dan keluarganya;

e. Membentuk dan mengembangkan sistem informasi terpadu dalam


penyelenggaraan penempatan dan Perlindungan PMI; f. Melakukan koordinasi kerja
sama antar instansi terkait dalam menanggapi pengaduan dan penanganan kasus
Calon PMI dan/atau PMI; g. Mengurus kepulangan PMI dalam hal terjadi
peperangan, bencana alam, wabah penyakit, deportasi, dan PMI bermasalah; h.

1|Page
Melakukan upaya untuk menjamin pemenuhan hak dan Perlindungan PMI secara
optimal di negara tujuan penempatan;

i. Menyusun kebijakan mengenai Perlindungan PMI dan keluargan; j. Menghentikan


atau melarang penempatan PMI untuk negara tertentu atau pada jabatan tertentu di
luar negeri; k. Membuka negara atau jabatan tertentu yang tertutup bagi
penempatan PMI; l. Menerbitkan dan mencabut Surat Izin Perusahaan Penempatan
Pekerja Migran Indonesia (SIP3MI); menerbitkan dan mencabut Surat lzin
Perekrutan Pekerja Migran Indonesia (SIP2MI); m. Melakukan koordinasi antar
instansi terkait mengenai kebijakan Perlindungan PMI; n. mengangkat pejabat
sebagai atase ketenagakerjaan yang ditempatkan di kantor Perwakilan Republik
Indonesia atas usul Menteri; dan o. menyediakan dan memfasilitasi pelatihan Calon
PMI melalui pelatihan vokasi yang anggarannya berasal dari fungsi pendidikan.

Tugas dan tanggung jawab Pemerintah Provinsi, terkait dengan perlindungan PMI
diatur dalam Pasal 11 ayat (1) dan Pasal 40 UUPPMI yaitu: a. Mendistribusikan
informasi dan permintaan PMI dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota; b. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kerja oleh lembaga
pendidikan dan lembaga pelatihan kerja milik pemerintah dan/atau swasta yang
terakreditasi; c. Mengurus kepulangan PMI dalam hal terjadi peperangan, bencana
alam, wabah penyakit, deportasi, dan PMI bermasalah sesuai dengan
kewenangannya; d. Menerbitkan izin kantor cabang Perusahaan Penempatan
Pekerja Migran Indonesia (PPPMI); e. Melaporkan hasil evaluasi terhadap PPPMI
secara berjenjang dan periodik kepada Menteri;

f. Memberikan Perlindungan PMI sebelum bekerja dan setelah bekerja; menyediakan


pos bantuan dan pelayanan di tempat pemberangkatan dan pemulangan PMI yang
memenuhi syarat dan standar kesehatan; g. Menyediakan dan memfasilitasi
pelatihan Calon PMI melalui pelatihan vokasi yang anggarannya berasal dari fungsi
pendidikan; h. Mengatur, membina, melaksanakan, dan mengawasi
penyelenggaraan penempatan PMI; dan i. Dapat membentuk Layanan Terpadu Satu
Atap (LTSA) penempatan dan Perlindungan PMI di tingkat Provinsi.

Dalam melaksanakan perlindungan bagi Calon PMI dan/atau PMI dan kelurgnya,
Pemerintah Kabupaten/Kota harus menjalankan tugas dan tanggungjawab sesuai
dengan amanat Pasal 11 ayat (2) dan Pasal 41 UUPPMI, yakni: a. Melakukan
sosialisasi informasi dan permintaan PMI kepada masyarakat dengan melibatkan
aparat Pemerintah Desa; b. Membuat basis data PMI; c. Melaporkan hasil evaluasi
terhadap PPPMI secara periodik kepada Pemerintah Daerah Provinsi; d. Mengurus
kepulangan PMI dalam hal terjadi peperangan, bencana alam, wabah penyakit,
deportasi, dan PMI bermasalah sesuai dengan kewenangannya;

e. Memberikan Perlindungan PMI sebelum bekerja dan setelah bekerja di daerah


Kabupaten/Kota yang menjadi tugas dan kewenangannya; f. Menyelenggarakan
pendidikan dan pelatihan kerja kepada Calon PMI yang dapat bekerja sama dengan
lembaga pendidikan dan lembaga pelatihan kerja milik pemerintah dan/atau swasta

2|Page
yang terakreditasi; g. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap lembaga
pendidikan dan lembaga pelatihan kerja di Kabupaten/Kota;

h. Melakukan reintegrasi sosial dan ekonomi bagi PMI dan keluarganya;


i. Menyediakan dan memfasilitasi pelatihan Calon PMI melalui pelatihan vokasi yang
anggarannya berasal dari fungsi pendidikan; j. Mengatur, membina, melaksanakan,
dan mengawasi penyelenggaraan penempatan PMI; dan k. Dapat membentuk LTSA
penempatan dan Perlindungan PMI di tingkat Kabupaten/Kota.

Menurut Pasal 42 UUPPMI, tugas dan tanggungjawab Pemerintah Desa dalam


kaitanannya dengan perlindungan terhadap PMI adalah: a. Menerima dan
memberikan informasi dan permintaan pekerjaan dari instansi yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan; b. Melakukan
verifikasi data dan pencatatan Calon PMI; c. Memfasilitasi pemenuhan persyaratan
administrasi kependudukan Calon PMI; d. Melakukan pemantauan keberangkatan
dan kepulangan PMI; dan e. Melakukan pemberdayaan kepada Calon PMI, PMI, dan
keluarganya.

Cacat Bawaan UUPPMI


Walaupun ada perubahan paradigma terkait dengan perlindungan bagi PMI, tetapi
harus diingat bahwa UUPMI adalah produk hukum yang dihasilkan oleh politisi yang
“bergerombol” di parlemen. Artinya, UUPPMI tentu bukan produk ideal dan
sempurna. Apalagi UUPMI lahir dari proses dan negoisasi politik yang panjang
hingga produk finalnya.

Buktinya, UUPPMI masih menyimpan sejumlah kelemahan substantif, diantaranya:


Pertama, penandatanganan perjanjian kerja masih belum jelas diatur apakah
termasuk dalam layanan di LTSA. Selain itu, isi perjanjian kerja yang dimandatkan
dalam UUPPMI belum memastikan mekanisme keberlakuan perjanjian kerja di 2
(dua) negara atau hanya di satu negara saja serta penyelesaiannya sengketanya.

Kedua, meskipun asuransi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) swasta telah diganti
dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, namun
jaminan sosial bagi PMI yang ditanggung oleh BPJS belum mencakup resiko yang
dialami oleh PMI, yaitu pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak dan gaji tidak
dibayar; Ketiga, terkait sanksi pidana yang meskipun telah mengatur tidak hanya
untuk orang peorangan tetapi juga pejabat publik, namun sanksi pidana yang ada
belum mencantumkan hukuman minimal tapi lebih kepada hukuman masksimal,
sehingga penjatuhan sanksi tergantung pada subyektifitas hakim dalam memberikan
putusan.

Keempat, bantuan hukum dalam UUPMI tidak diatur dalam Bab khusus, sehingga
tidak detail dan jelas bagaimana cara mengaksesnya, lembaga mana yang harus
dituju, mekanisme penanganan kasus, berapa lama penyelesaian kasusnya dan
apakah pemerintah daerah dilibatkan dalam penanganan kasusnya serta bagaimana

3|Page
koordinasi penanganan kasus ditingkat daerah dan pusat. Padahal, bantuan hukum
bagi PMI merupakan salah satu perwujudan negara hadir untuk melindungi PMI.

Keseluruhan kelemahan substantif yang terdapat dalam UUPMI, memunjukan bahwa


perlindungan PMI masih tetap belum optimal. Apalagi, sistem penempatan pekerja
migran ke Luar Negeri yang didesain oleh para pengambil kebijakan, belum banyak
berubah dan selalu merentankan PMI menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan
Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Penyelundupan Manusia (TPPM). Hal ini diperparah
lagi dengan kinerja dari para aparatus negara pada semua level pemerintahan mulai
dari Pusat hingga Desa beserta jaringan terkaitnya (BNP2TKI/BP3TKI, APJATI,
Gugus Tugas Anti Trafficking dan Satgas Anti Trafficking) yang tidak mampu
melakukan pencegahan terjadinya TPPO dan TPPM.

Bahkan para aparatus yang ditugaskan oleh negara untuk menata sistem
pengelolaan ketenagakerjaan, masih terkesan tetap membiarkan berjalannya sistem
pengelolaan ketenagakerjaan yang buruk, mulai dari proses rekrutmen, pra
penempatan, penempatan sampai dengan purna penempatan. Buruknya
perlindungan bagi PMI sejak sebelum bekerja (pendaftaran sampai
pemberangkatan), selama bekerja (selama PMI dan anggota keluarganya berada di
luar negeri) dan setelah bekerja (mulai dari tiba di debarkasi di Indonesia hingga
kembali ke daerah asal, termasuk pelayanan lanjutan menjadi pekerja produktif )
adalah fakta „telanjang‟ atas proses pembiaran dimaksud.

Problematika terkait perlindungan PMI yang merupakan cacat bawaan dari UUPMI
ini, perlu dicari jalan keluar terkait dengan implementasinya. Jalan keluarnya tidak
semudah politisi parlemen melakukan delegated legislation pada Peraturan
Pelaksana (verordnung) dan Peraturan Otonom (autonome satzung) yang
merupakan Peraturan-Peraturan yang terletak di bawah undang-undang yang
berfungsi menyelenggarakan ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang. Apalagi,
sumber wewenang dari keduanya adalah berbeda. Peraturan Pelaksana
(verordnung) bersumber dari kewenangan delegasi, sedangkan Peraturan Otonom
(autonome satzung) bersumber dari kewenangan atribusi. Pertanyaannya adalah
apa yang harus dikerjakan oleh semua komponen bangsa dalam
mengimplementasikan UUPMI demi terlindunginya PMI?

4|Page