Anda di halaman 1dari 16

ACARA III

ANALISIS SIFAT BIOLOGI AIR DI SUNGAI

PENGKON

Oleh :

Hias Novsi Nuhanan

L1B017041

LAPORAN PRAKTIKUM LIMNOLOGI

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2019
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kualitas lingkungan perairan sungai dapat dilihat dengan cara pendekatan

fisika, kimia, maupun biologi. Suatu lingkungan perairan yang tercemar akan

mempengaruhi kehidupan organisme yang ada di dalamnya. Pendekatan

biologi merupakan pendekatan yang paling efektif, yaitu dengan melihat

struktur organisme yang hidup di lingkungan perairan tersebut.

Sungai merupakan aliran air yang mengalir di permukaan bumi yang

berasal dari air hujan, mata air yang berkumpul pada satu jalur kemudian

mengalir ke tempat yang lebih rendah sampai menuju laut. Mengalirnya air

menuju laut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti bentuk topografi dari

sungai tersebut, kecepatan arus, kedalaman dan kelebaran. Perubahan dari pola

longitudinal ekosistem sungai dari hulu ke hilir sangat dipengaruhi oleh suhu,

kecepatan arus, dan pH (Odum, 1996).

Organisme yang banyak hidup di sungai antara lain plankton, perifiton,

ikan dan bentos. Bentos merupakan organisme dasar perairan, baik berupa

hewan maupun tumbuhan, baik yang hidup di permukaan dasar ataupun di

dasar perairan. Menurut Lind (1979) dalam Fachrul (2007) menyatakan, bentos

semua organisme yang hidup pada lumpur, pasir, batu, kerikil, maupun

sampah organik baik di dasar perairan laut, danau, kolam, ataupun sungai,

merupakan hewan melata, menempel, memendam, dan meliang di dasar

perairan tersebut (Fachrul, 2007). Makrozoobentos lebih banyak ditemukan di

perairan tergenang (lentik) dari pada perairan mengalir (lotik).


1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum acara Analisis Sifat Biologi Air Di Sungai Pengkon

adalah:

1. Mengatahui kualitas parameter Biologi air bagian tengah dan hilir di

sungai Pengkon.

2. Mengetahuai perbedaan sifat Biologi air bagian tengah, hilir di sungai

Pengkon.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sungai

2.1.1. Sungai Pengkon

Sungai adalah air tawar dari sumber alamiah yang mengalir dai tempt

tinggi ke tempat yang lebih endah dan menuju atau bermuara ke laut, danau

atau sungai yang lebih besar. Arus sungai di bagian hulu sungai (umumnya

terletak di daerah pegunungan) biasanya lebih deras dibandingkan denga arus

sungai di bagian hilir. Aliran sungai sering kali berliku-liku karena terjadinya

proses pengikisan dan pengendapan di sepanjang sungai. Sungai merupakan

jalan alamiah, mengalir menuju samudra, danau atau laut, atau ke sungai yang

lain. Sunagi juga skah satu bagian dari siklus hidrologi (Hadi, 2013).

2.2. Parameter Biologi Sungai

2.2.1. Bentos

Bentos adalah organisme yang hidup di dasar perairan. Memiliki sifat

penggalih, pemakan deposit cenderung melimpah pada sedimen lumpur dan

slunak yang merupakan daerah yang mengandung bahan organik yang tinggi

seperi pada pori sedimen (Marmita et al.,, 2016). Bentos merupakan organisme

yang hidupnya pada atau di dalam substrat. Oleh karena itu komunitas yang

memiliki pergerakan terbatas ini, cenderung akan mengalami tekanan bila

habitat tempat hidupnya terganggu (Ulfa et al., 2016).

2.2.2. Makrobenthos

Makrobenthos adalah hewan yang hidup di dasar sungai. Hewan ini

selalu terdedah oleh sungai dan berumur cukup panjang sehingga


mekrobenthos dapat menggambarkan kualitas air sungai. Kualitas air sungai

ditentukan berdasarkan keanekaragaman makrobenthos (Siahaan et al., 2013).

Faktor yang mempengaruhi jumlah dan jenis makrobenthos di dalam perairan

yaitu oksien terlarut (DO).

2.2.3. Kepadatan

Kepadatan adalah jumlah suatu individu organisme yang mendiami

suatu wilayah atau daerah baik didarat maupun di perairan. Jika pada suatu

wilayah atau daerah perairan kosong maka tidak diikutsertakan kedalam suatu

kepdatan dan kepadatan. Keragaman adalah indeks yang digunakan untuk

mengetahui keanekaragaman jenis biota perairan termasuk makrozoobenthos

(Siahaan et al., 2013). Keragaman suatu spesies sangat aka berniali absolut atau

kepadatan ekologi (Purwati, 2015). Menurut Kadim (2013), Kepadatan

didefinisikan sebagai jumlah individu persatuan luas.

2.2.4. Keragaman

tergantung pada daya toleransi terhadap perubahan lingkngan.

Keragaman merupakan suatu variasi di dalam populas yang terjadi akibat

keragaman diantar individu yang menjadi anggota populasi (Marmita et al.,

2013).
III. MATERI DAN METODE

3.1. Materi

3.1.1. Alat

Tabel 1. Alat praktikum

Ukuran/
No Nama alat Merek Fungsi
jumlah

Menangkap

1. Transek 1 x 1 m/1 - makrobenthos dalam

satu luasan transek

Tempat menyimpan
2. Plastic 1 Rose
markobenthos

3.1.2. Bahan

Tabel 2. Bahan praktikum

No Nama bahan Ukuran/ jumlah Merek Fungsi

1. Sampel substrat Banyak - Mencari makrobenthos

Mengawetkan
2. Formalin 3 tetes -
makrobenthos
3.2. Metode

3.2.1. Plankton

Pengambilan sampel dilakukan dengan metode hand sorting menggunakan

transek ukuran 1 x 1 m yang dibuat dari tali rapia. Sampel diambil dari 3 (tiga) titik

sampel, yaitu, tepi, tengah dan tepi pada setiap stasiun tengah dan hilir. Transek

dibentangkan pada titik lokasi sampling, kemudian dengan menggunakan tangan

makrbobenthos yang terdapat dalam transek diambil dan dimasukan ke dalam plastik

bening. Setelah makrobenthos dikumpulkan kemudia diawetkan menggunakan

formalin sebanyak 3 tetes. Makrobenthos yang didapat kemudia dianalisis dan dihitung

kepadatan serta keragaman makrobenthos.

3.2.2. Kepadatan

Kepadatan dihitung dengan rumus :

∑𝒊=𝟏 𝒏𝒊
X=
𝑨𝒙 𝑺

Keterangan :

X = kepadatan individu/m2

A = luas transek pengambilan sampel (m2)

S = jumlah transek pengambilan sampel

Ni = jumlah individu suatu spesies/genus ke-i

3.2.3. Keragaman
Keragaman dihitung dengan rumus :

Indeks Diversitas Shannon-Wiener

𝑆
𝑁𝑖 𝑁𝑖
𝐻= − ∑= ln
𝑁 𝑁
𝑖=1

Keterangan:

H’ = indeks keragaman

S = jumlah spesies

Ni = jumlah individu tiap spesies ke-i

N = jumlah total individu semua spesies

3.3. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilakukan pada Sabtu, 16 Maret 2019 pukul 05.00 WIB.

Pengambilan sampel dilakukan dengan membagi dalam 2 stasiun pengamatan yaitu

Stasiun 1 Sungai Pengkon bagian Tengah, serta Stasiun 2 Sungai Pengkon bagian Hilir.

Pengamatan dilakukan pada pukul 11.30 WIB. Selanjutnya analisis laboratorium

dilakukan di Laboratorium Pemanfaatan Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan

Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman

3.4. Analisis Data

Data pengukuran parameter sifat biologi air yang diperoleh dapat dianalisis

secara deskriptif dengan histogram atau diagram balok antara titik sampling, dan

dengan bantuan tabel.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil

Tabel 3. Sifat Biologi Sungai Pengkon

X
Stasiun Nama Tepi
Jumlah H’
Spesies
Kanan Tengah Kiri (ind/m2)
Sulcospira
1 2 5 8
testudinaria
Tengah 0,1545
Parathelpusa
1 0 0 1 0,33
convexsa
Sulcospira
0 5 6 18 6
testudinaria
Hilir 0,1545
Melanoides 7 1 0 1 0,33
tuberculata

4.2 Pembahasan

4.2.1 Kepadatan

Kepadatan makrobenthos harus diperhatikan untuk mengetahui seberapa banyak

organisme yang berada pada daerah yang diamati. Dalam mencari kepadatan maka

ketelitian harus benar-benar diperhatikan agar kesalahan dalam menentukan

banyaknya spesies makrobenthos tidak mengalami kesalahan (Abel, 1998). Organisme

yang banyak hidup di sungai antara lain plankton, perifiton, ikan dan bentos. Bentos

merupakan organisme dasar perairan, baik berupa hewan maupun tumbuhan, baik

yang hidup di permukaan dasar ataupun di dasar perairan. Menurut Lind (1979) dalam

Fachrul (2014) menyatakan, bentos semua organisme yang hidup pada lumpur, pasir,

batu, kerikil, maupun sampah organik baik di dasar perairan laut, danau, kolam,

ataupun sungai, merupakan hewan melata, menempel, memendam, dan meliang di


dasar perairan tersebut (Fachrul, 2014). Makrozoobenthos lebih banyak ditemukan di

perairan tergenang (lentik) dari pada perairan mengalir (lotik).

20
18
16
14
12
10 Tengah
8
Hilir
6
4
2
0
Sulcospira Parathelpusa Melanoides
testudinaria convexsa tuberculata

Gambar 1. Grafik Kepadatan Makrobenthos Sungai Pengkon

Berdasarkan hasil pengamatan dan identifikasi, Makrobenthos yang ditemukan

di daerah tengah Sungai Pengkon adalah Sulcospira testudinaria dan Parathelpusa

convexsa dengan hasil perhitungan kepadatan makrobenthos masing-masing 2,66

ind/m2 dan 0,33 ind/m2. Makrobenthos yang ditemukan di daerah hilir Sungai

Pengkon adalah Sulcospira testudinaria dan Melanoides tuberculata dengan hasil

perhitungan kepadatan makrobenthos masing-masing 6 ind/m2 dan 0,33 ind/m2.

Kepadatan tertinggi untuk Sulcospira testudinaria, convexa dan Melanoides tuberculata

masing-masing berada di stasiun tengah dan hilir. Hal ini berkaitan dengan substrat

dasar berupa batuan kecil berkerikil. Sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh

Sinaga (2009) dalam Hamdani (2016) kondisi substrat dasar yang berupa pasir

berlumpur dan kandungan substrat organik yang tinggi menyebabkan rendahnya

kepadatan makrozoobenthos. Sungai yang memiliki ukuran lebih panjang dan memiliki
banyak aliran dari anak sungai lain relatif terdapat kepadatan makrobenthos lebih

banyak dibandingkan dengan sungai yang relatif pendek (Nur Fazat, 2015).

Tingkat kepadatan ini juga dipengaruhi oleh variasi kondisi fisika kimia

perairan, substrat dasar dan arus (Wawan et al., 2013). Selain itu rendahnya kepadatan

makrobenthos di Sungai Pengkon ini bisa disebabkan karena adanya gangguan

(stressor) yang berasal dari limbah organik pemukiman yang langsung masuk kedalam

sungai. Luoma dan Carter (1991) menyebutkan bahwa terjadinya penurunan jumlah

kekayaan jenis dan kepadatan merupakan respon dari komunitas makrozoobenthos

terhadap adanya gangguan (stressor). Menurut Prigi (2014) aktifitas manusia yang

banyak memberikan masukan kepada sungai ini berasal dari warung-warung makan

yang dibangun berdekatan dengan aliran sungai, sebagai dampak digunakannya

daerah hulu Sungai Pengkon sebagai tempat wisata Curug Bayan, yaitu air terjun.

Sungai yang memiliki ukuran lebih panjang dan memiliki banyak aliran dari anak

sungai lain relatif terdapat kepadatan makrobenthos lebih banyak dibandingkan

dengan sungai yang relatif pendek (Nur Fazat, 2015).

2.2.1 Keragaman

Keragaman merupakan karakteristik tingkat komunitas berdasarkan organisme

biologi. Keragaman jenis merupakan karakteristik tingkat komunitas berdasarkan

organisme biologisnya (Soegianto, 2004). Keragaman adalah sifat suatu komunitas yang

memperlihatkan tingkat keanekaragaman jenis organisme yang ada di dalamnya.

Karakteristik komunitas pada suatu lingkungan adalah keanekaragaman. Makin

beranekaragam komponen biotik (biodiversitas), maka makin tinggi keanekaragaman.


Sebaliknya makin kurang beranekaragaman maka dikatakan keanekaragaman rendah

(Desanto, 2013).

Keragaman
0.4
0.336
0.35
0.3
0.25 0.2039
ind/m2

0.2
0.15 Keragaman
0.1
0.05
0
Tengah Hilir
Stasiun

Gambar 2. Grafik Indeks Keragaman Makrobenthos Sungai Pengkon

Berdasarkan grafik di atas, menunjukan bahwa keragaman pada bagian tengah

sebesar 0,336 ind/m2 dan keragaman pada stasiun hilir sebesar 0,2039 ind/m2.

Menunjukan bahwa nilai keragaman tertinggi berada pada daerah tengah sungai,

sedangkan nilai keragaman terendah pada daerah hilir sungai. Hal ini disebabkan

karena pada daerah tengah kondisi perairannya lebih mendukung makrozoobenthos

untuk hidup karena pada bagian tengah tidak terjadi penumpukan bahan organik. Hal

tersebut disebabkan karena pada bagian hilir terdapat banyak sumber makanan yang

terbawa oleh arus dari hulu sungai.

Menurut Nurracmi dan Marwan (2012) dalam Mushthofa (2014), menyatakan

bahwa hewan benthos erat kaitannya dengan tersedianya bahan organik yang

terkandung dalam substrat, karena bahan organik merupakan sumber nutrien bagi

biota yang pada umumnya terdapat pada substrat dasar. Namun jika keberadaan
bahan organik melebihi ambang batas sewajarnya maka kedudukan bahan organik

tersebut dianggap sebagai bahan pencemar. Hal ini sesuai dengan penelitian yang

dilakukan oleh Mushthofa (2014) yang menjelaskan bahwa adanya hubungan yang

bersifat positif antara bahan organik dengan kelimpahan makrozoobenthos, artinya jika

kandungan bahan organik semakin besar maka kelimpahan makrozoobenthos

cenderung semakin besar. Keberadaan beberapa jenis spesies yang ditemukan

menunjukan bahwa kondisi perairan di Sungai Pengkon dari tengah ke hilir masih

dalam kondisi baik. Adanya organisme yang hidup di perairan tersebut

mengindikasikan bahwa kondisi perairan masih layak digunakan unutk menunjang

kehidupan organisme akuatik yang hidup di dalamnya. Dengan kondisi yang seperti

ini, memungkinkan kemampuan perairan untuk mendukung kelangsungan hidup

makrozoobenthos (Ratih et. al, 2015).


V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum analisis biologi di Sungai Pengkon dapat
disimpulkan :
1. Perbedaan sifat biologi air Sungai Pengkon pada daerah tengah dan hilir dengan
menggunakan parameter biologi Sungai Pengkon pada daerah tengah dan hilir
meliputi makrobenthos dengan ditemukan beberapa spesies yaitu Sulcospira
testudinaria diperoleh sebanyak 36, Melanoides tuberculata diperoleh sebanyak 1,
Parathelpusa convexa diperoleh sebanyak 1.
2. Kepadatan tertinggi untuk Sulcospira testudinaria, Melanoides tuberculata dan
Parathelpusa convexa masing-masing berada di stasiun hilir, tengah dan hilir.
Kepadatan terendah untuk, Melanoides tuberculata dan Parathelpusa convexa
masing-masing berada di stasiun tengah dan hilir. Nilai indeks keragaman
tertinggi ditemukan pada stasiun hilir Sungai Pengkon. Sedangkan nilai indeks
keanekaragaman terendah ditemukan pada tengah Sungai Pengkon. Nilai
keragaman yang diperoleh di sungai pengkon bagian tengah dan hilir secara
berurutan sebesar 0,336 ind/m2 dan 0,2039 ind/m2.
5.1 Saran
Diharapkan kepada praktikan untuk lebih serius dalam melaksanakan

praktikum, menjaga alat dan bahan yang digunakan agar aman sehingga praktikum

berjalan dengan baik dan lancar.


DAFTAR PUSTAKA

Abel . P. D. 1998. Water Pollution Biology . John Wiley and Sons, New York, Chichester.
Brisbane. Toronto.

Desanto, R.S. 2013. Consepts of Applied Ecology. Springer- Verlad : New York.

Fachrul, M. F. 2014. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Bumi Aksara.

Hadi, Nestiyanto. 2013. Penilaian Kesehatan Sungai Pesanggrahan dari Hulu (Bogor,
Jawa Barat) hingga Hilir (Kembangan, DKI Jakarta) dengan Metrik Index of Biotic
Integrity. Skripsi. Universitas Indonesia Jakarta.

Hamdani, Rachman., Agus, Priyono., dan Yusli Mardianto. 2016. Makrozoobenthos


sebagai Bioindikator Kualitas Air Sungai di Sub DAS Ciliwung Hulu. Institut
Pertanian Bogor. Media Konservasi. 21 (3): 261-269.
Hermanto, Wawan. Sitti Nursinar, Muklis. 2013. Struktur Komunitas Ikan Di Perairan
Danau Limboto Desa Pentadio Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo.
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 1 (3) : 172
Kadim, Miftahul Khair., Sri Sudaryanti., Endang Yuli H. 2013. Pencemaran Residu
Pestisida Di Sungai Umbulrejo Kecamatan Dampit Kabupaten Malang. Jurnal
Manusia dan Lingkungan. 20 (3) : 264.
Luoma SN, Carter JL. 1991. Effect of Trace Metal on Aquatic Benthos. In: M.C Newman
& A.W. McIntosh (Eds): Metal Ecotoxicology: Concepts and Applications.
Michigan (US): Lewis Publishers. 261-300.
Marmita, Rigfah, dkk., 2013. Makrozoobenthos Sebagai Indikator Biologis Dalam
Menentukan Kualitas Air di Sungai Ranoyapo Minahasa Selatan, Sulawesi
Utara. Jurnal Ilmiah Sains FMIPA Universitas Sam Ratulanggi. 13 (1) : 57-61.
Mushthofa, Aqil., Max R.M., Siti R. 2014. Analisis Struktur Komunitas
Makrozoobenthos Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Sungai Wedung
Kabupaten Demak, Diponegoro. Journal Of Maquares. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Semarang, 3 (1) : 81-88.

Nur fazat arinal haq., Saimul Laili., Ahmad Syauqi. 2015. Uji Kualitas Perairan Perairan
dan Pengaruhnya terhadap Indeks Keanekaragaman Makrofauna di DAS
Jangjang Madura. Biosaintropis (Bioscience-Tropic). 1(1) : 46 – 53.

Prigi , Arisandi. 2014. Pengukuran Kualitas Air Hulu Daerah Aliran Sungai Kali Brantas
Berdasarkan Keragaman Taksa Ephemeroptera, Plecoptera, and Trichoptera.
Program Studi Magister Biologi Fakultas Sains Teknologi Universitas
Airlangga. Prosiding Seminar Nasional Kimia. 3(1) : 298 - 309.
Purwati,Sri Unon. 2015. Karakteristik Bioindikator Cisadane: Kajian Pemanfaatan
Makrobentik Untuk Menilai Kualitas Sungai Cisadane. Jurnal Ecolab. 9 (2): 49
Ratih, I, W. Prihanta, & E. Susetyarini. 2015. Inventarisasi Keanekaragaman
Makrozoobentos di Daerah Aliran Sungai Brantas Kecamatan Ngoro Mojokerto
sebagai Sumber Belajar Biologi SMA Kelas X. Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia,
1 (2) :158-169.
Ratna, Siahaan, et al, 2013. Kualitas Air Sungai Cisadane Jawa Barat-Banten. Jurnal
Ilmiah Sains. Vol. 11 (2). IPB. Bogor.
Soegianto, A. 2004. Metoda pendugaan Pencemaran Dengan Indikator Biologis. Airlangga
University Press. Surabaya.
Ulfa, Fitria., M. Ali., Abdullah. 2016. Dampak Pengalihan Lahan Mangrove Terhadap
Keanekaragaman Benthos di Kecamatan Jaya Baru Kota Banda Aceh. Jurnal
Biotik. 4 (1) : 43-45.