Anda di halaman 1dari 72

Untuk

Kota-Kab
u
atau Wil paten
aya
Sektoral h-

0.2
Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF

ADAPTANGGUH
Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Jakarta, 2017
Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF
ADAPTANGGUH 0.2
Untuk Kota-Kabupaten atau Wilayah-Sektoral
@ Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), Jakarta, 2017

Tim Penulis
Adaptation and Resilience Coordinator ICCTF
Muhammad Varih Sovy

Planning, Monitoring and Evaluation Manager ICCTF


Ni Komang Widiani

Program Director ICCTF


Joseph Viandrito

Editor
Communication Officer
Adhi Fitri Dinastiar

Layout
Creative Officer
Oki Triono

Silahkan mengutip isi buku ini untuk kepentingan studi dan atau
kegiatan pelatihan dan penyuluhan dengan menyebut sumbernya.

i Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
KATAPE N GA N TA R

Separuh dari warga dunia saat ini tinggal di perkotaan (United Nation, 2012) sehingga kota
akan semakin diperhitungkan di masa datang. Namun demikian kota-kota besar memiliki
ikatan kuat dengan kota-kota pinggiran, kota-kota kecil dan pedesaan terutama terkait arus
urbanisasi, akses komunikasi, informasi, transportasi serta infrastruktur dan hubungan timbal
o o , o or r o
yang lentur dengan batasan yang terus berkembang. Karena sebagian besar kota semakin
lama semakin rumit, maka diperlukan perencanaan untuk memudahkan perubahan yang
r r o r or
bagaimana menghadapi perubahan yang lain yang saat ini terus berkembang, satu hal yaitu
perubahan iklim.

Dengan mempertimbangkan penjelasan di atas, buku panduan ketangguhan kota-kabupaten


dan wilayah ini dibuat untuk mendorong strategi yang nantinya diharapkan merubah paradigma
perencanaan dan tata kelola perkotaan terutama terkait risiko perubahan iklim yang akan
dihadapi. Setiap kota atau wilayah dalam kesatuan pemerintahan memiliki karakter dan
keunikan sendiri sehingga cara-cara pemerintah terkait dalam menghadapi perubahan iklim
akan berbeda-beda. Oleh karenanya, buku panduan ini selain memberi standar kajian yang
sama untuk subjek kota-kabupaten atau wilayah juga memberikan ruang untuk memasukkan
konteks-konteks lokal dengan membebaskan penentuan indikator dan sub indikator untuk
membangun unsur-unsur risiko serta memberi wewenang yang lebih kepada (pemerintah)
daerah untuk memilih aksi adaptasi mana yang penting bagi pemerintah setempat.

Keluaran dari buku panduan ini ada dua, yang pertama berupa dokumen risiko adaptasi untuk
ketangguhan kota-kabupaten atau wilayah dan yang kedua dokumen rencana aksi adaptasi.
Kedua keluaran ini disatukan untuk menjadi dokumen besar kajian adaptasi perubahan iklim
untuk kota-kabupaten atau wilayah. Faktor-faktor penting terkait tolok ukur keberhasilan
kajian adaptasi dalam buku ini adalah pengarus utamaan hasil kajian terutama aksi adaptasi
di level kebijakan (dan anggaran) pemerintah atau pemangku kepentingan terkait, hal ini
sangat penting karena maksud dari buku panduan ini tidak berhenti hanya sebagai dokumen
kajian.

Faktor penting lain dalam buku kajian adaptasi yang dihasilkan adalah memperhitungkan
seberapa jauh menangguhkan kelompok rentan dan meningkatkan kapasitaf adaptif wilayah-
wilayah yang berisiko tinggi terkait perubahan iklim. Penting bagi pelaksana proyek hibah
ICCTF yang memiliki keluaran terkait kajian ini untuk memperhitungkan sungguh-sungguh
kerentanan yang dikaji dan ketangguhan melalui program dan aksi adaptasi yang dipilih.

Dengan menggunakan panduan melalui pelibatan pemerintah setempat yang dibangun


melalui pokja iklim atau adaptasi, diharapkan pelaksana kajian dan pemerintah setempat
atau yang terkait dapat memenuhi standar minimal ICCTF terkait kajian risiko dan memahami
lebih baik program dan aksi yang akan dibuat. Hal ini untuk menjamin bahwa hasil kajian
merupakan produk dari oleh dan untuk pemerintah dan para pihak terkait setempat.

ii Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
DAF TAR I ST I LA H

Adaptasi Penyesuaian pada sistem alam atau manusia sebagai respon terhadap rangsangan
iklim aktual atau yang diharapkan maupun dampaknya, mengontrol dampak yang
merugikan ataupun mengeksploitasi peluang yang menguntungkan.

Aksi Adaptasi Tindakan nyata yang memiliki perencanaan dan anggaran pembiayaan yang
jelas termasuk lokasi, penanggung jawab dan kerterlibatan, dalam mengurangi
Kerentanan (V) dan Bahaya (H), merujuk pada pilihan Program Adaptasi hasil Kajian
Risiko.

Bahaya (H) Sebuah fungsi dari karakter, kekuatan,tingkatan perubahan iklim, dan variabilitasnya.

BAU (Business Kegiatan atau program yang dilakukan sebagai rutinitas/kegiatan yang biasa
As Usual) dilakukan merujuk pada sistem yang sudah ada sejak lama.

Bobot maksimal Nilai maksimal bobot apabila memenuhi batas maksimal penilaian.

Brainstorming Upaya kreatif dalam mencari solusi atas permasalahan tertentu dengan
mengumpulkan gagasan secara spontan dari anggota kelompok.

Curah Hujan Volume hujan (mm) dalam satuan waktu.

Dokumen Aksi Dokumen aksi adaptasi yang telah melalui proses perbaikan setelah mendapatkan
Adaptasi masukan dari konsultasi publik, yang disusun secara rinci dalam bentuk tabel aksi
adaptasi.

Dokumen Besar Dokumen komprehensif yang terdiri dari Dokumen Kajian Risiko untuk Ketangguhan
Kajian Adaptasi Adaptasi Perubahan Iklim dan Dokumen Final Aksi Adaptasi.

Dokumen Dokumen yang terdiri dari Dokumen Kajian Risiko untuk Ketangguhan Adaptasi
Kajian Adaptasi Perubahan Iklim dan Dokumen Aksi Adaptasi.

Dokumen Dokumen kajian risiko adaptasi perubahan iklim dalam satuan wilayah, administratif
Kajian atau sektor tertentu.
Risiko untuk
Ketangguhan
Adaptasi
Perubahan Iklim
FGD Bentuk pertemuan diskusi kelompok yang terpusat atau terfokus.

Indeks Nilai Indeks nilai yang dihasilkan dari formulasi nilai tengah populasi sebagai acuan
Median normalisasi.
Indikator Variabel yang membangun unsur risiko (dalam kajian risiko).

IPCC Intergovernmental Panel on Climate Change adalah suatu panel ilmiah para ilmuwan
seluruh dunia yang terlibat dalam kebijakan perubahan iklim global.

Kajian Risiko Kajian terkait perubahan iklim yang terdiri dari kajian kerentanan dan kajian bahaya.

Kapasitas Kemampuan sistim (manusia atau alam) untuk menyesuaikan diri terhadap
Adaptif (C) perubahan iklim,memanfaatkan peluang yang ada, dan atau mengatasi
konsekuensinya.
Kejadian Data atau informasi kejadian historis terkait bencana atau bahaya.
Historis
Kerentanan (V) r r

Ketangguhan Hasil dari pengurangan risiko melalui pengurangan kerentanan dan bahaya di
tingkat kota-kabupaten dan wilayah lokasi kajian (IPCC, 2014).

iii Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Keterpaparan Sejumlah elemen (misalnya populasi dan sumber daya ekonomi) di sebuah area
(E) yang berpotensi terjadi bencana atau bahaya.

Kota-kabupaten Kesatuan sistem administratif atau sistem bentang alam lintas administratif yang
atau wilayah memiliki kesatuan pemerintahan baik di level pemerintahan kota-kabupaten atau
provinsi.
Model Iklim Sebuah pengembangan proyeksi iklim dengan mengacu pada pendekatan dan
metodologi yang terintegrasi dalam sistem teknologi untuk memproyeksikan iklim di
masa datang.
Nilai Indeks Sebuah kuantitas dari risiko, unsur, indikator dan sub indikator kajian risiko dengan
rentang kelas 0-1.
Nilai Skenario Nilai yang dihasilkan dari pemodelan yang menggunakan skenario moderat.
Moderat

Normalisasi Mekanisme atau formulasi yang dibangun untuk membuat nilai-nilai indeks tidak
memiliki kesenjangan yang lebar.

OPD Organisasi Pemerintah Daerah, dahulu disebut SKPD (Satuan Kerja Perangkat
Daerah).

Pembobotan Batasan proporsi nilai yang dikenakan pada risiko dan turunannnya (unsur,
indikator, sub indikator).

Penerima Kelompok, institusi, entitas atau sistem yang menerima keuntungan atau manfaat
Manfaat kegiatan adaptasi.
Pengarusutamaan Kegiatan untuk memasukkan program atau aksi adaptasi ke perencanaan atau
kebijakan pemerintah dan atau pemangku kepentingan terkait.

Pokja Satuan kelompok kerja yang dibuat oleh pemerintah dengan tugas dan waktu yang
terbatas.

Program Program pilihan yang dihasilkan dari kajian risiko untuk pengurangan Kerentanan (V)
Adaptasi dan Bahaya (H) yang dihasilkan dalam kajian risiko.

Proyeksi Iklim Prakiraan yang dibangun untuk melihat kondisi iklim masa depan melalui
pendekatan dan metode tertentu.

RAD API Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim, yaitu sejumlah rencana dan
strategi adaptasi yang dikembangkan oleh pemerintah daerah.

RAN API Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim yang merupakan rencana strategi
serta aksi adaptasi di tingkat nasional Indonesia.

Risiko (R) Merupakan fungsi dari Ancaman/Bahaya (H), Kerentanan (V) dan Keterpaparan (E).

Sensitivitas (S) Derajat atau tingkatan penilaian dimana komunitas atau ekosistem tertentu
terpengaruh oleh tekanan iklim.

Skenario Iklim Suatu prakiraan kuantitatif terkait variabel perubahan iklim, misalnya karbon yang
terlepas bebas, berdasarkan tingkat pertumbuhan wilayah atau negara.

Sub Indikator Variabel yang membangun nilai indikator (dalam kajian risiko).

Tingkat Nilai Nilai yang hasilnya relatif sama pada wilayah yang sama walau modelnya berbeda.
Baik

Tingkat Tapak Tingkat lapangan yang merupakan tingkatan paling rendah yang merujuk pada
lokasi kegiatan adaptasi. Biasanya berhubungan dengan lokasi berdampak,
kelompok atau wilayah rentan secara langsung.
Tinjauan Fase kegiatan peninjauan terhadap draft kajian risiko atau aksi adaptasi yang telah
Kembali disusun.

Unsur Variabel yang membangun indeks risiko.

iv Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
DAF TAR I S I

Kata Pengantar.............................................................................................................i
Daftar Istilah................................................................................................................ii
Daftar Tabel & Gambar.................................................................................................vi

01.
Pendahuluan........................................................................................................1

02.
Cara Menggunakan Buku Ini........................................................................................2

03.
Pengenalan Kerangka Besar Ketangguhan
Kota-Kabupaten atau Wilayah.....................................................................................6

04.
Pembentukan Pokja Iklim Kota-Kabupaten.................................................................8

05.
Menyusun Draft Kajian Kerentanan dan
Risiko Perubahan Iklim..............................................................................................10

06.
Pengarus-utamaan Adaptasi Berdasarkan
Kajian Adaptasi.........................................................................................................32

07.
Penyusunan Aksi Adaptasi dari Keluaran Program
Dokumen Kajian Risiko untuk Ketangguhan Adaptasi
Perubahan Iklim ICCTF...............................................................................................36

08.
Penutup...............................................................................................................44

09.
Daftar Pustaka...........................................................................................................45

10.
Lampiran.................................................................................................................46
Lampiran 1...................................................................................................47
Lampiran 2...................................................................................................50

v Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
DA FTA R
TABE L &GA M B A R

Tabel 1. Contoh informasi umum perubahan iklim untuk pemahaman awal


Pemangku kebijakan di kota A..........................................................................7
Tabel 2. Contoh analisis kesenjangan data di kota-kabupaten A...............................12
Tabel 3 o o r r
Tabel 4. Contoh indikator, sub indikator dan bobot untuk unsur sensitivitas................16
Tabel 5. Contoh indikator, sub indikator dan bobot untuk unsur kapasitas adaptif......17
Tabel 6. Contoh indikator, sub indikator dan bobot untuk unsur keterpaparan............18
Tabel 7. Contoh informasi iklim dan lahan untuk estimasi indeks bahaya.....................21
Tabel 8. Contoh perhitungan estimasi indeks puting beliung di desa X........................24
Tabel 9. Contoh analisis nilai salah satu unsur risiko menggunakan indeks median....26
Tabel 10. Contoh pilihan program adaptasi untuk pengurangan sensitivitas..................29
Tabel 11. Contoh pilihan program adaptasi melalui penambahan kapasitas adaptif......30
Tabel 12 o o r ro r
pembangunan daerah (untuk semua pilihan program adaptasi)......................30
Tabel 13. Contoh analisis ekonomi pilihan program adaptasi.........................................34
Tabel 14. Contoh program dan aksi adaptasi untuk ketangguhan kota-kabupaten
dan atau wilayah yang sinergis dengan RAN API.............................................39
Tabel 15. Contoh tabel bantuan aksi adaptasi dengan rincian informasi........................40
Tabel 16. Contoh kebijakan daerah sebagai pertimbangan memasukkan
aksi adaptasi....................................................................................................41
Table 17. Contoh tabel monitoring implementasi aksi adaptasi bulan ke-X....................43

Gambar 1. Penjelasan langkah-langkah buku panduan kajian adaptasi tingkat kota-


kabupaten atau wilayah......................................................................................2
Gambar 2. Konsep risiko perubahan iklim (IPCC, 2014)...................................................11
Gambar 3. Contoh alur perhitungan indeks kerentanan dan keterpaparan........................15
Gambar 4. Contoh perbandingan beberapa pemodelan dan skenario iklim
(Rata-rata suhu bulan Juni) dan perbandingan tahun saat ini
(1960-2000) dan proyeksi mendatang (2041-2060).........................................20
Gambar 5. Contoh analisis bahaya per indikator untuk model xxxx skenario xxx............24
Gambar 6. Contoh perubahan nilai indeks konvensional (kiri) dengan menggunakan
indeks median (kanan)......................................................................................27
Gambar 7. Rentang penilaian indeks risiko perubahan iklim.............................................28
Gambar 8. Contoh proses penilaian pilihan program adaptasi perubahan iklim...............37
Gambar 9. Diagram alir proses pengembangan aksi adaptasi..........................................38

vi Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
01.
P ENDA HULUAN

Buku panduan ADAPTANGGUH 02 ini merupakan petunjuk teknis dan standar kualitas
program ICCTF yang berhubungan dengan dokumen adaptasi tingkat kota-kabupaten dan
wilayah. Buku ini menjadi panduan utama dalam menyusun kajian adaptasi untuk program
adaptasi skala kota-kabupaten dan wilayah dimana beberapa kegiatan dari penerima hibah
swakelola ICCTF memiliki atau berhubungan dengan program yang dimaksud. Dengan
mengikuti panduan dari buku ini, penerima swakelola secara otomatis mengikuti standar
minimal yang diharapkan ICCTF dari output kegiatan mereka yang berhubungan dengan
kajian ketangguhan, VA kota-kabupaten, atau kajian untuk sektor rentan yanng berskala
minimal kota-kabupaten.

Ketangguhan kota-kabupaten atau wilayah yang menjadi kajian penting dalam buku panduan
ini merupakan hasil dari pengurangan resiko melalui pengurangan kerentanan dan bahaya
di tingkat kota-kabupaten dan wilayah lokasi kajian (IPCC, 2014). Sementara itu pengertian
risiko, kerentanan dan unsur terkait akan dijelaskan secara detail pada bagian lain di buku ini
(pemetaan tingkat risiko) karena menyangkut metodelogi, pendekatan dan pilihan konsep.
Kota-kabupaten atau wilayah yang dimaksudkan dalam buku panduan ini adalah kesatuan
sistem administratif atau sistem bentang alam lintas administratif yang memiliki kesatuan
pemerintahan entah itu walikota-bupati atau gubernur. Sehingga pengertian kota dalam buku
ini tidak berkaitan dengan kota sebagai pusat administratif atau pusat perdagangan, industri
dan jasa dengan kepadatan tertentu dan tingkat infrastruktur tertentu seperti ibukota, kota
besar dan pusat kota.

Dalam buku panduan ini hal pokok yang akan dihasilkan adalah (1) kajian risiko untuk
ketangguhan yang terdiri dari kajian kerentanan dan kajian bahaya. Dari kajian risiko tersebut
akan menghasilkan program pilihan adaptasi untuk ketangguhan yang akan diturunkan
menjadi (2) aksi adaptasi untuk ketangguhan kota-kabupatan atau wilayah. Kedua pokok
keluaran yang dihasilkan itu kemudian disatukan menjadi dokumen kajian adaptasi wilayah-
kabupaten atau kota.

Terkait substansi yang diarahkan melalui buku panduan ini merujuk pada dokumen yang telah
menjadi sumber kajian resmi dan utama secara nasional maupun internasional. Dokumen
rujukan diantaranya (1) Dokumen IPCC 2014 terkait adaptasi di wilayah perkotaan, (2)
Dokumen Rencana Aksi Perubahan Iklim Nasional (RAN API) Indonesia serta contoh kajian
lainnya seperti UNISDR, ISET, 100 Resilience City and UNICEF. Selain itu contoh-contoh
yang diambil dalam buku ini merujuk pada kajian-kajian lain yang terkait seperti kajian Marcy
Corp Indonesia serta kegiatan-kegiatan ICCTF yang sedang atau telah berlangsung, seperti
PPI ITB, YTKPI Transformasi, Fakultas Geometeorologi IPB, Fakultas Teknik Pertanian UGM
dan YEU Yogyakarta Indonesia.

1 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
02.
CA RA MENG G U N AKAN
B U KU I N I

Buku ini terdiri dari beberapa bab yang merupakan urutan dari proses kajian. Proses yang
dijalankan di bab sebelumnya akan mempengaruhi bab selanjutnya sehingga melakukan
langkah-langkah secara berurutan sesuai bab dan sub bab buku panduan ini sangat
diharapkan. Namun demikian penggunaan buku ini hanyalah standar minimal yang diterapkan
ICCTF untuk kajian adaptasi tingkat kota-kabupaten atau wilayah, pengguna buku ini bisa
menambahkan atau mempertajam setiap proses selama tidak bertentangan dengan standar
minimal yang diwajibkan oleh ICCTF, yaitu memenuhi output setiap proses dalam buku ini.

Secara singkat setiap proses yang dilakukan pada buku panduan ini akan dijelaskan dalam
gambar sebagai berikut:

Gambar 1. Penjelasan langkah-langkah buku panduan kajian adaptasi tingkat kota-


kabupaten atau wilayah.

01.
Pengenalan kerangka besar
ketangguhan kota di tingkat
02.
pemerintah dan masyarakat Pembentukan pokja/tim iklim,
mekanisme tugas & wewenang,
Prakiraan jumlah pertemuan: 2 perencanaan kerja & anggaran
No. tabel terkait: 1
Catatan: Untuk kepala daerah, OPD Prakiraan jumlah pertemuan: 2
(dulu SKPD) terkait dan parapihak No. tabel terkait: -
terkait Catatan: Dibentuk oleh pemerintah
yang mewakili OPD, akademisi,
pengusaha, tokoh, lembaga
pelasana program ICCTF dan
lembaga masyarakat.

2 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
PENYUSUNAN KAJIAN RISIKO

03.
Mengembangkan
pendekatan, metodologi,
04.
konsep dan data Penyusunan kajian unsur
sensitivitas
Prakiraan jumlah pertemuan: 1
No. tabel terkait: 2 dan 3
Catatan: Pilihan data untuk Prakiraan jumlah pertemuan: 3
membangun indikator dan unsur No. tabel terkait: 4
adaptasi diserahkan pada lembaga Catatan: Dikembangkan oleh pokja
pelaksana dengan dasar ilmiah yang melalui tim ahli di dalam pokja dan
kuat. lembaga pelaksana ICCTF

05.
Penyusunan kajian unsur
kapasitas adaptif
06.
Penyusunan kajian unsur
keterpaparan
Prakiraan jumlah pertemuan: 3
No. tabel terkait: 5
Catatan: Dikembangkan oleh pokja Prakiraan jumlah pertemuan: 3
melalui tim ahli di dalam pokja dan No. tabel terkait: 6
lembaga pelaksana ICCTF Catatan: Dikembangkan oleh pokja
melalui tim ahli di dalam pokja dan
lembaga pelaksana ICCTF

07.
Penyusunan kajian
unsur bahaya
08.
Analisis indeks yang
dihasilkan dari risiko
Prakiraan jumlah pertemuan: 3 dan unsur-unsurnya
No. tabel terkait: 7
Catatan: Dikembangkan oleh pokja Prakiraan jumlah pertemuan: 1
melalui tim ahli di dalam pokja dan No. tabel terkait: 8 dan 9
lembaga pelaksana ICCTF Catatan: Dilakukan dalam
pertemuan pokja

3 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
09.
Menyusun pilihan
program adaptasi
10.
Penyusunan dokumen
kajian risiko
Prakiraan jumlah pertemuan: 1
No. tabel terkait: 10, 11, dan 12
Catatan: Dilakukan dalam Prakiraan jumlah pertemuan: 2
pertemuan pokja No. tabel terkait: lampiran 1
Catatan: Dilakukan dalam
pertemuan pokja

11.
Finalisasi dokumen
kajian risiko
12.
Konsultasi para pihak dan
pengarus utamaan hasil kajian
Prakiraan jumlah pertemuan: 2 dalam kebijakan terkait
No. tabel terkait: -
Catatan: Melalui proses tinjauan Prakiraan jumlah pertemuan: 1
para ahli No. tabel terkait: 13
Catatan: Diselenggarakan oleh
pokja yang dihadiri pimpinan daerah
OPD terkait dan wakil lembaga
masyarakat terkait

4 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
PENYUSUNAN PILIHAN AKSI ADAPTASI

13.
Penyusunan dokumen
aksi adaptasi
14.
Penyusunan dokumen
adaptasi yang terdiri dari (1)
Prakiraan jumlah pertemuan: 2 dokumen kajian risiko dan (2)
No. tabel terkait: 14 aksi adaptasi
Catatan: Oleh Pokja
Prakiraan jumlah pertemuan: 3
No. tabel terkait: 15
Catatan: Oleh Pokja

15.
Konsultasi parapihak
dan pengarus utamaan
16.
hasil kajian dalam Monitoring dan
kebijakan terkait evaluasi

Prakiraan jumlah pertemuan: 2


No. tabel terkait: 16 Prakiraan jumlah pertemuan: 1
Catatan: Oleh Pokja No. tabel terkait: 17
Catatan: Oleh Pokja

5 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
03.
PENGENALAN KERANGKA BESAR
KETANGGUHAN KOTA-KABUPATEN
ATAU WILAYAH

Proses paling awal dalam kegiatan kajian adaptasi adalah dengan memberikan pemahaman
yang jelas terkait kegiatan kajian yang akan dilakukan. Pelaksana program perlu mengadakan
pertemuan khusus dengan perwakilan para pihak terkait, misalnya kepala daerah, dewan
perwakilan daerah, sektor swasta (private sector), akademisi, serta lembaga swadaya
masyarakat di wilayah lokasi program. Istilah-istilah yang kurang populer seperti adaptasi,
perubahan iklim, kerentanan iklim, risiko iklim, keterpaparan iklim, kapasitas adaptif iklim,
proyeksi iklim dan ketangguhan iklim harus diterangkan secara jelas dan rinci hingga
menumbuhkan pemahaman yang sama terhadap penggunaan istilah-istilah tersebut selama
pelaksanaan kegiatan kajian adaptasi dan aksi ketangguhan iklim.

Pelaksana program diharapkan mampu memberikan gambaran jelas tentang beberapa hal
r r , r r r
yang berada di lokasi kajian yang akan dilakukan; 2) bentuk-bentuk pembuktian secara
ilmiah dan fenomena umum yang nampak dan dirasakan dalam konteks lokal; 3) dampak,
tantangan, serta potensi kerusakan akibat perubahan iklim pada masa mendatang di
lokasi program juga perlu dijelaskan meskipun secara umum. Penjelasan terkait perubahan
iklim untuk pemangku kebijakan atau pemerintah akan lebih efektif bila dikaitkan dengan
pembangunan daerah. Penting untuk memahami visi ke depan daerah terkait agar kajian
yang dihasilkan efektif dan sejalan dengan visi daerah tersebut. Elemen-elemen penting
terkait visi ketangguhan daerah (UNISDR, 2012), misalnya mencakup: (1) Penguatan
kerangka kerja kelembagaan; (2) Manajemen anggaran dan sumber anggaran; (3) Kajian
risiko bahaya dan iklim; (4) Perencanaan dan peremajaan infrastruktur; (5) Pendidikan dan
kesehatan; (6) Tata aturan pemukiman dan tata guna lahan; (7) Pelatihan, pendidikan dan
kesadaran publik; (8) Perlindungan lingkungan dan ekosistem; (9) Kesiap-siagaan bencana,
(10) Pemulihan kelompok rentan dan pembangunan komunitas. Merujuk pada dokumen RAN
API (BAPPENAS, 2014), terdapat lima bidang yang menjadi fokus utama adaptasi sebagai
berikut:
1. Ketahanan ekonomi meliputi ketahanan pangan dan energi;
2. Ketahanan sistem kehidupan yang meliputi ketahanan kesehatan, pemukiman dan
infrastruktur;
3. Ketahanan ekosistem yang meliputi konservasi dan keragaman hayati;
4. Ketahanan wilayah khusus yang meliputi perkotaan dan pulau kecil;
5. Sistem pendukung yang memadai yang meliputi, penguatan pengetahuan, informasi
iklim, perencanaan, riset dan monitoring.

Keseluruhan atau sebagian bidang tersebut dapat dikaitkan dengan ancaman baik secara
langsung maupun tidak langsung dengan perubahan iklim, seperti banjir, kekeringan,
kegagalan panen, kelangkaan tangkapan ikan, kenaikan penderita penyakit khusus seperti
Malaria dan Diare. Lembaga pelaksana program harus memiliki pemahaman komprehensif

6 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
tentang ancaman ini serta memiliki rancangan umum terkait (1) ancaman/bahaya perubahan
iklim di tingkat wilayah program, (2) kerugian yang telah dan akan dialami, (3) rencana ke depan
terkait strategi pengurangan yang bisa dilakukan dan peluang yang dapat dikembangkan.

Tabel 1. Contoh informasi umum perubahan iklim untuk pemahaman awal pemangku
kebijakan di kota A.

BAHAYA & ANCAMAN KERUGIAN STRATEGI & PELUANG

Gagal panen Perbaikan tata guna


(100 ha/± Rp 10 Milyar) air dan lahan: selokan,
sengkedan air,
pemukiman.
Kerusakan infrastruktur Pengembangan
jalan (3 km/Rp xxxxx) informasi pertanian dan
perikanan terkait cuaca.
Pengembangan

Banjir Peningkatan malaria pembibitan dan metode


tahun 25% dari rata- tahan kekeringan dan
2015 rata sepuluh tahun hujan tinggi.
sebelumnya/Rp xxxx Restorasi ekosistem.
Dan lain sebagainya,

Perbaikan sanitasi dan


manajemen air di kota/
Kelangkaan air bersih kabupaten
untuk pertanian, gagal Restorasi ekosistem
panen 80 ha/Rp xxxx, wilayah yang rusak.
subsidi air bersih Rp xxx Pengembangan tata
Kemarau ruang.
tahun Dan lain sebagainya.
2012-2013

Penjelasan awal terkait perubahan iklim dan strategi yang diinformasikan sekaligus menjadi
bahan awal rencana adaptasi yang diharapkan membantu pemahaman pemangku kebijakan
terkait rencana kegiatan yang akan dilakukan di kota/kabupaten. Kesepahaman juga
dibangun terkait pengertian adaptasi dan komponen-komponennya untuk lebih memahami
kegiatan kajian yang akan dilakukan dengan selalu melibatkan pemerintah dan pemangku
kepentingan.

Keluaran (output) yang diharapkan dari proses awal ini adalah inisiatif daerah terkait untuk
menyelenggarakan pertemuan tindak lanjut pembentukan tim (yang biasanya merupakan
Kelompok Kerja (Pokja) khusus perubahan iklim) di daerah terkait. Tujuan dari pembentukan
pokja adalah keterlibatan pemerintah dan pemangku kepentingan dalam kajian adaptasi
termasuk merancang pengarus-utamaan strategi adaptasi yang dihasilkan di tingkat
perencanaan seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana
Strategis (Renstra), Rencana Kerja Anggaran (RKA) atau Peraturan Daerah terkait, termasuk
target untuk memasukkan kegiatan ke Anggaran Daerah setempat.

7 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
04.
PEMBENTUKAN POKJA IKLIM
KOTA KABUPATEN

01. Pembentukan yang Mewakili Para Pihak (Pemerintah, Akademisi, Masyarakat Rentan)

Pertemuan lanjutan ke dua adalah inisiatif pembentukan tim khusus misalnya Pokja (iklim
atau adaptasi) di daerah kajian yang selanjutnya akan dipimpin oleh perwakilan pemerintah
terkait. Pembentukan Pokja ini menjamin keterlibatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD)
yang diperkirakan berhubungan dengan rencana ketangguhan iklim Kota atau Kabupaten,
misalnya BAPPEDA, Badan Lingkungan Hidup (BLH), Dinas Pekerjaan Umum (PU), Badan
Daerah Penanggulangan Bencana (BDPB), Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Meteorologi,
oo , o , r r r r r
kelembagaan daerah masing-masing). Selain itu perlu dipertimbangkan untuk memasukkan
akademisi di dalam Pokja tersebut, misalnya perwakilan dari universitas atau perguruan
tinggi setempat, peneliti khusus yang dilibatkan dalam Pokja tersebut, wakil-wakil lembaga
swadaya masyarakat, dan sektor swasta serta perwakilan komunitas yang berpotensi
terdampak ancaman perubahan iklim dan atau memiliki peluang untuk menguatkan
ketangguhan adaptasi perubahan iklim di daerah.

Perwakilan dalam tim khusus tersebut, diharapkan akan mempertimbangkan (1) Perimbangan
komposisi antara pemerintah, swasta, dan lembaga sosial masyarakat; (2) Perimbangan jenis
kelamin juga menjadi faktor penting keluaran dari kajian, karena memberikan kesempatan
yang sama pada perempuan akan berpotensi mengurangi kerentanan iklim di sisi gender; (3)
Perwakilan kelompok yang terkena dampak langsung perubahan iklim, dan sangat rentan
terhadap perubahan iklim, misalnya kelompok tani dan kelompok nelayan serta komunitas
adat setempat; (4) Perwakilan pemuda juga sangat dipertimbangkan karena berhubungan
dengan kesadaran menyeluruh perubahan iklim di masa datang.

02. Kerangka Kerja dan Target Capaian Tim Adaptasi atau Pokja Iklim

Pada fase awal pembentukan, Tim Khusus (Pokja) tersebut perlu menyusun target keluaran
dari Pokja tersebut, diantaranya kerangka kerja (termasuk mencantumkan jumlah pertemuan),
target capaian per pertemuan, dan tujuan utama memasukkan strategi adaptasi ke kebijakan
daerah dan rencana kerja sektor swasta atau lembaga sosial terkait. Selain itu juga menyusun
mekanisme pembagian kerja untuk 1) kajian ilmiah terkait proyeksi iklim dan ancaman
bahaya, 2) analisis kerentanan wilayah yang terdiri dari analisis keterpaparan di daerah,
sensitivitas di daerah, analisis kapasitas adaptif, 3) analisis terkait strategi adaptasi daerah
dengan mempertimbangkan risiko perubahan iklim, 4) analisis strategi pengarusutamaan
adaptasi ke perencanaan dan kebijakan institusi daerah dan pemangku kepentingan terkait

8 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
03. Pemilihan dan Pengembangan Data dan Metode dalam Kajian oleh Pokja

Untuk mempertajam analisa dan memperkuat validitas data kajian yang akan disusun, data
yang didapatkan harus terorganisir/sistematis dan direncanakan secara komprehensif.
Kajian kerentanan biasanya melibatkan banyak data sosial ekonomi serta infrastruktur dari
Badan Pusat Statistik (BPS), sementara kajian iklim banyak berhubungan dengan informasi
BMKG, dan kajian ilmiah banyak bersumber dari institusi penelitian, akademis (universitas),
serta program-program nasional dan internasional yang berkaitan dengan isu adaptasi
perubahan iklim. Sesuai dengan kebutuhan sebaran varian data yang luas, tim harus
mengatur pengumpulan dan pengelompokan data sesuai dengan tujuan masing-masing.
Pembahasan lebih mendalam tentang analisis data akan dijabarkan pada topik metodologi.

Selain mengatur pengelompokan data pada saat analisis data, tim Pokja juga harus
menentukan metode yang tepat sesuai dengan penggunaan dan pengembangannya dalam
kerangka kerja tim Pokja. Metode yang terbaik adalah metode yang telah diuji sebelumnya
atau yang telah masuk dalam jurnal ilmiah nasional dan internasional. Peran akademisi
atau peneliti dalam hal ini sangat penting untuk dilibatkan, karena perspektif dan kesamaan
r o
tentang metodologi kajian akan dijelaskan lebih detil pada topik metodologi.

9 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
05.
MENYUSUN DRAFT
KAJIAN KERENTANAN
DAN RISIKO
PERUBAHAN IKLIM

10 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
01. Pendekatan, Metodologi, Pengumpulan dan Analisis Data

Dalam kajian risiko dan adaptasi iklim, pendekatan dianggap sebagai proses analisis
sistematik data-data yang terkumpul dan yang dibangun (MoEI, 2012). Pendekatan yang dapat
digunakan dalam kajian risiko meliputi: (1) Pendekatan Konvensional; (2) Kajian Dampak, (3)
Kajian Adaptasi Umum; (4) Kajian Kerentanan; (5) Kajian Terintegrasi (Suroso, 2008). Dalam
buku panduan ini, pendekatan adaptasi harus diintegrasikan dengan kebijakan pemerintah
atau entitas terkait untuk memperkuat strategi adaptasi perubahan iklim di tingkat pengambil
keputusan dan sistem di pemerintahan (UNDP, 2005).

Metodologi dalam kajian adaptasi terdiri dari beberapa pendekatan sebagai berikut:
a. Kajian adaptasi yang mengambil lokasi tanpa mempertimbangkan batas administratif
namun tetap bekerja dengan pemerintah atau pemangku kepentingan yang terkait.
Kajian ini biasanya mengambil pendekatan landscape ecology seperti DAS, ekosistem
karst gunung sewu dan sejenisnya.
b. Kajian adaptasi yang mempertimbangkan batas administratif, seperti misalnya kota
atau kabupaten tertentu atau batasan provinsi dan negara. Kajian administratif ini
dibagi dalam skala makro (negara), meso (provinsi) dan mikro (kota-desa) (Messner.
2005).

02. Pemetaan Tingkat Risiko

Kajian risiko dalam buku panduan ini menggunakan rumusan dari IPCC (2014) sebagai
rujukan yang pada umumnya digunakan secara luas. Dalam rumusan tersebut, Risiko
(R) merupakan fungsi dari Ancaman/Bahaya (H), Kerentanan (V) dan Keterpaparan (E),
r r r r
Perbedaan dengan konsep sebelumnya (R= (HxV) seperti dalam rumusan Peraturan Kepala
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PERKA BNPB), pada rumusan risiko di IPCC
2014, keterpaparan dikeluarkan dari komponen Kerentanan, sementara itu Kapasitas Adaptif
r r r gambar 2.

Gambar 2. Konsep risiko perubahan iklim (IPCC, 2014; IPB-WVI, 2015).

DAMPAK

KERENTANAN
PROSES
IKLIM SOSIAL-EKONOMI

Sosial-
Keragaman Ekonomi
ANCAMAN RISIKO
Iklim
Aksi Adaptasi
& Mitigasi
Perubahan
Iklim Pemerintahan
KETERPAPARAN

Emisi & Perubahan Lahan

11 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Sehingga rumusan konsep risiko dalam kajian ini dapat dirumuskan sebagai berikut

RUMUS 1

R: Risiko (Risk)
H: Bahaya (Hazard)
V: Kerentanan (Vulnerability)
E: Keterpaparan (Exposure)
S: Sensitivitas (Sensitivity)
C: Kapasitas adaptif (Adaptive Capacity)

Bahaya dapat diartikan sebagai sebuah fungsi dari karakter, kekuatan,tingkatan perubahan
iklim, dan variabilitasnya. Sementara itu Kerentanan merupakan fungsi yang memiliki
sensitivitas dan kapasitas adaptif terhadap perubahan iklim. Keterpaparan adalah sejumlah
elemen (misalnya populasi dan sumberdaya ekonomi) di sebuah area yang berpotensi
terjadi bencana atau bahaya. Sensitivitas adalah derajat dimana komunitas atau ekosistem
tertentu terpengaruh oleh tekanan iklim. Misalnya, sebuah komunitas yang bergantung pada
pertanian tadah hujan jauh lebih peka terhadap perubahan pola curah hujan daripada petani
dengan irigasi. Kapasitas adaptif diartikan sebagai kemampuan sistem (manusia atau alam)
untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim, memanfaatkan peluang yang ada, dan
atau mengatasi konsekuensinya.

03. Analisis Data Dasar dan Kesenjangan Data

r or r
tersedia di lapangan terlebih dahulu sebelum melakukan analisis Kerentanan, Kepaparan,
dan Bahaya. Jika terjadi kesenjangan terhadap ketersediaan data, maka tim harus mencari
solusi yang tepat guna dengan mempertimbangkan data-data alternatif sebagai pengganti
data primer, namun tetap berpedoman kepada prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah. Contoh analisis kesenjangan data dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Contoh analisis kesenjangan data di kota-kabupaten A.

Data yang Data Data alternatif Relevansi


diharapkan yang ada yang ada data pengganti

Data sejarah Data banjir Tidak perlu -


banjir tahunan

Data kekeringan Tidak ada Data historis Dapat memperkirakan


wilayah kemarau kondisi kekeringan

Data persentase Tidak ada Data gizi Dapat membangun


mal-nutrisi anak informasi mal-nutrisi

12 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Selain kesenjangan data, dalam buku panduan ini Tabel Data Dasar diperlukan untuk
memastikan sumber data yang mendukung sub indikator dari unsur risiko. Dalam Tabel
Dasar, data-data ini disediakan sesuai dengan indikator yang diperlukan guna membangun
r o r ,
contoh dalam tabel 3 berikut.

Tabel 3 o o r r

UNSUR RISIKO INDIKATOR (JENIS DATA) FORMAT/SATUAN SKALA

Biofisik
DEM (Digital Elevation Model) Raster 15 m
RTH (Ruang Terbuka Hijau) Vektor Administrasi
Penggunaan Lahan Vektor Administrasi
Buffer Sungai/Panjang Sungai Vektor Administrasi
Iklim
BAHAYA Curah Hujan
Suhu Maksimum
Raster
Raster
30 Second
30 Second
Suhu Rata-rata Raster 30 Second
Suhu minimum Raster 30 Second
Banjir Excel Kelurahan
Kekeringan Excel Kelurahan
Puting Beliung Excel Kelurahan

Populasi Penduduk Orang/ha Kelurahan


KETERPAPARAN
Keberadaan bangunan Unit/ha Kelurahan

Tingkat Kesejahteraan
Persentase keluarga miskin % Kelurahan
Persentase penduduk dengan % Kelurahan
mata pencaharain berisiko
(buruh, petani kecil, nelayan
kecil)
Persentase pengangguran % Kelurahan
Tingkat kesehatan
SENSITIVITAS Persentase penduduk miskin % Kelurahan
yang tidak mendapatkan
akses layanan kesehatan
Persentase penduduk miskin % Kelurahan
yang tidak terdaftar dalam
BPJS
Persentase rumah tangga % Kelurahan
tanpa MCK layak

13 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Tingkat Pendidikan
Penduduk yang tidak lulus % Kelurahan
SMP
Persentase penduduk yang % Kelurahan
jauh dari sekolah SMP
Kondisi Lingkungan
Persentase hutan yang rusak %(Raster) Kecamatan
(terdegradasi)
Proporsi luas RTH Pembobotan Kelurahan
(1-4) (Raster)
Persentase dusun yang % Kelurahan
kekurangan air di musim
kemarau
Kondisi Pemukiman
Persentase penduduk yang %(Vektor) Kelurahan
tinggal di bantaran sungai
Persentase penduduk miskin %(Vektor) Kelurahan
yang tinggal di wilayah kering
Persentase rumah % Kelurahan
semipermanen

Persentase sanitasi yang % Kelurahan


layak
Jumlah bangunan sekolah Unit/kelurahan Kelurahan
Persentase akses pelayanan % Kelurahan
air minum
Persentase akses pelayanan % Kelurahan
KAPASITAS telekomunikasi
ADAPTIF Aksis kesehatan
Jumlah fasilitas kesehatan Unit/kelurahan Kelurahan
Jumlah tenaga kesehatan Orang/1000 jiwa /1000 jiwa
Jumlah warung/kelontong/ Unit/100 jiwa 100 jiwa
pasar
Tingkat kesiagaan bencana Pembobotan Kelurahan
(1-4)

04. Langkah dan Analisis Kerentanan dan Keterpaparan

Proses untuk analisis kajian kerentanan dan keterpaparan kota - kabupaten atau wilayah
khusus dalam buku panduan ini menggunakan prosedur sebagai berikut:
r , or or or r
perubahan iklim serta gambaran kemampuan setempat dalam mengatasi masalah.
Teknik yang digunakan adalah melalui (1) brainstroming, (2) konsultasi publik, dan (3)
Focus Group Discussion (FGD) dengan para pihak terkait.
b. Hasil rumusan ini untuk membangun sub indikator dan indikator bagi masing masing
unsur kerentanan kota-kabupaten atau wilayah sebagai berikut: (1) Sensitivitas (S) dan
(2) Kapasitas Adaptif (C) serta (3) Keterpaparan (E).

14 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
c. Data-data tersebut diolah dengan menentukan pembobotan serta normalisasi masing-
o o r r r ,
Indeks Kerentanan (bagi unsur S dan C) dan Indeks Sensitivitas.

Secara lebih rinci perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 3. Contoh alur perhitungan indeks kerentanan dan keterpaparan.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Sub indikator
Proses pembobotan

S.1 S.2 C.1 C.2 E.1 E.2 Indikator

X.1 X.2 X.3 Proses pembobotan

S C Nilai Indeks Unsur Kerentanan


dengan Normalisasi

S/C Rumus Kerentanan (S/C)

V E Nilai kerentanan
dan keterpaparan

Untuk mempermudah operasionalisasi prosedur di atas diperlukan tabel-tabel bantuan (1)


r r
data dan (2) Tabel Pengelolaan Data-Data Sub Kategori agar sesuai dengan peruntukkannya
dalam Analisis Kerentanan dan Keterpaparan.

Tabel pengelolaan data-data sub kategori digunakan untuk mempermudah analisis


perhitungan indeks dengan memasukkan bobot pada setiap sub kategori. Tabel ini
mempermudah proses untuk membangun indeks-indeks yang dibutuhkan (kerentanan,
risiko, bahaya, sensitivitas, kapasitas adaptif, keterpaparan).

Dalam buku panduan ini, kategori dan sub kategori yang digunakan untuk membangun
indeks disesuaikan dengan kegiatan kajian risiko kota atau wilayah yang ingin ditekankan,
kajian wilayah/kota pesisir akan jauh berbeda dengan kajian wilayah pegunungan atau
dataran aluvial, demikian juga kajian perkotaan ibu kota akan sangat berbeda dengan kajian

15 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
kabupaten di pedalaman. Dalam buku panduan ini, unsur kerentanan dan keterpaparan serta
bahaya diolah pada skala desa per satu wilayah atau kota-kabupaten atau satuan terkecil
lainnya bila melintasi batas administrasi pada pendekatan bentang alam.

Tabel pengelolaan data di bawah ini hanya sebagai contoh menyusun indikator dan
sub indikator serta bobot dalam tabel, dalam realisasi kegiatan, pelaksana kajian bisa
menggunakan indikator, sub indikator dan bobot sesuai dengan tujuan yang diharapkan
namun tetap dalam kerangka ilmiah dan sesuai dengan bidang-bidang RAN API Indonesia
(lihat lampiran 3). Contoh operasionalisasi Tabel Pengelolaan Data dapat dilihat pada Tabel
4 di bawah ini.

Tabel 4. Contoh indikator, sub indikator dan bobot untuk unsur sensitivitas.

INDIKATOR SUB INDIKATOR BOBOT MAKSIMAL KETERANGAN

Persentase keluarga 0.25


miskin

Persentase penduduk 0.5 Persentase petani


Kesejahteraan

dengan mata kecil dan buruh tani.


pencaharian berisiko Persentase nelayan
kecil tanpa perahu.
Persentase buruh
Tingkat

pabrik.

Persentase 0.25
pengangguran

Persentase penduduk 0.25 Persentase penduduk


miskin yang tidak miskin yang jauh dari
mendapatkan akses layanan kesehatan
layanan kesehatan (5 km)
Kesehatan

Persentase penduduk 0.5


miskin yang tidak
Tingkat

terdaftar dalam BPJS

Persentase rumah 0.25


tangga tanpa MCK layak

Penduduk yang tidak 0.5 Persentase penduduk


lulus SMP tidak lulus SMP
termasuk yang tidak/
Pendidikan

lulus SD dan yang tidak


pernah bersekolah dasar
Tingkat

Persentase penduduk 0.5 Lebih sama dengan


yang jauh dari sekolah 10 km
SMP

16 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Persentase hutan yang 0.5 r
rusak yang terdeforestasi
r
yang terdegradasi
Lingkungan

Proporsi luas RTH 0.25 Standar RTH 1/3 total


wilayah (di kota)
Kondisi

Persentase dusun yang 0.25


kekurangan air di musim
kemarau

Total Indeks Sensitivitas adalah


0.25 x (Indeks Pendidikan + Indeks Kesehatan + Indeks Pendidikan + Indeks Lingkungan)

Tabel 5. Contoh indikator, sub indikator dan bobot untuk unsur kapasitas adaptif.

INDIKATOR SUB INDIKATOR BOBOT MAKSIMAL KETERANGAN

Akses Listrik Akses Listrik 1 Persentase KK


pengguna listrik

Sanitasi Kondisi Sanitasi 1 Persentase kepemilikan


jamban per 100 KK

Pendidikan Bangunan Sekolah 1 Proporsi bangunan sekolah


untuk tingkat umur sampai SMP

Akses Air Minum Persentase kepemilikan air


Akses Air Minum 1
ledeng (sumur atau PDAM)
Bersih terhadap kebutuhan air minum

Akses Akses Persentase kepemilikan alat


1
telekomunikasi per rumah
Telekomunikasi Telekomunikasi tangga

Akses Fasilitas 0.5 Proporsi puskemas per seratus


Akses Kesehatan jiwa
Kesehatan
Akses Tenaga 0.5 Proporsi tenaga kesehatan per
Kesehatan seribu jiwa

17 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Akses Ekonomi Akses Warung/ 1 Proporsi warung kelontong per
Kelontong/Pasar seribu jiwa

0.25 Nilai sistem pengamanan


dan perlengkapan untuk
keselamatan bencana
Akses Antisipasi Kesiap-siagaan
0.25 Nilai penyuluhan dan sistem
Bencana Bencana rehabilitasi kebencanaan

0.5 Persentase kawasan hijau

Total Indeks Kapasitas Adaptif adalah


0.125 x (total penjumlahan semua hasil pembobotan dari indikator kapasitas adaptif)

Tabel 6. Contoh indikator, sub indikator dan bobot untuk unsur keterpaparan.

INDIKATOR SUB INDIKATOR BOBOT MAKSIMAL KETERANGAN

Kepadatan 1 Proporsi penduduk terhadap


penduduk luasan desa
KEPADATAN
Persentase jumlah
1 pemukiman di bawah
standar kelayakan
Jumlah
bangunan Persentase jumlah bangunan
1
di bantaran sungai.

1 Persentase bangunan
BANGUNAN non permanen

Luasan sawah Persentase luasan sawah


irigasi dan kebun 1 dan perkebunan di bantaran
dekat mata air sungai

Luasan sawah Persentase sawah


LAHAN non irigasi dan 1 perkebunan kering
PRODUKSI kebun non irigasi

Luasan hutan Persentase luasan hutan di


di wilayah non 1 wilayah non landai
landai

Luas hutan di Proporsi luasan hutan/ RTH


WILAYAH daerah tangkapan 1 di catchment area
HUTAN (catchment area)

Total Indeks Keterpaparan adalah


0.125 x (total penjumlahan semua hasil pembobotan dari indikator kapasitas adaptif)

18 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Dalam proses analisis sub indikator untuk menjadi nilai Unsur Risiko, nilai dari pembobotan
diproses sebagai berikut:

a. Persentase dinilai maksimal sesuai maksimal bobot bila sub indikator yang dihitung
memenuhi 100% dari total 100% populasi, demikian seterusnya persamaan yang
dibangun. Sebagai contoh jika persentase hanya 50% dan bobot maksimal 1, maka nilai
bobotnya adalah 0.5.

b. Proporsi dinilai 1 bila sesuai dengan proporsi standar nasional. Sebagai contoh proporsi
standar RTH 1/3 luasan total lahan, apabila hanya separuh dari proporsi standar maka
nilainya adalah 0.5, dan seterusnya.

c. Nilai dari sub indikator bisa dikonversi dalam nilai bobot sebagaimana contoh berikut:
nilai 100 maka mendapatkan nilai bobot maksimal, namun apabila nilainya hanya 50
maka akan mendapatkan setengah dari nilai maksimal bobot. Misal nilai maksimal bobot
1, maka jika nilai 50 bobotnya 0.5.

Terkait data-data yang dipilih untuk membangun indeks unsur sensitivitas, kapasitas
adaptif,dan keterpaparan, lembaga pelaksana program bisa menentukan data-data lain yang
relevan dan tersedia dengan relatif mudah di kota-kabupaten atau wilayah terkait. Namun
demikian harus memiliki referensi ilmiah untuk menjadi data pembangun Unsur Risiko
terutama melalui jurnal ilmiah yang terpublikasi.

05. Langkah dan Analisis Bahaya

Untuk mendapatkan nilai bahaya akibat perubahan iklim, diperlukan analisis berdasarkan
data historis dan proyeksi perubahan iklim mendatang (lihat lampiran 2). Data-data tersebut
disarankan dikomunikasikan dengan institusi resmi terkait seperti BMKG. Data-data iklim
termasuk pemodelan iklim dan skenario iklim saat ini bisa didapatkan melalui akses ke
website lembaga riset perubahan iklim seperti www.worldclim.com, www.ipcc-data.org, dan
lain sebagainya.

Untuk mendapatkan komponen perubahan iklim yang akurat (seperti frekuensi hujan, suhu
dan model distribusi spesies), buku panduan ini mengharuskan lembaga pelaksana program
untuk menganalisis minimal dua atau lebih model proyeksi iklim dan tiga variasi skenario
iklim (misal: A1/A2/B1/B2/RCP2.6/RCP4.5/RCP6.0/RCP8.5). Perhatikan contoh analisis
pemodelan dan skenario rata-rata suhu di suatu daerah sebagaimana disajikan oleh Gambar 4.

19 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Gambar 4. Contoh perbandingan beberapa pemodelan dan skenario iklim (rata-rata suhu
bulan juni) dan perbandingan tahun saat ini (1960-2000) dan proyeksi mendatang (2041-
2060).

Data Historis Skenario Model Iklim


(2060-2000) Iklim MIROC 5 GFDL-CM3 HadGEM2-CC

RCP 2.6

RCP 4.5

RCP 6.0

RCP 8.5

15°C 29°C

Data iklim yang dianalisis terdiri dari data historis dan proyeksi iklim. Data historis tidak memiliki
model dan skenario, sehingga hasil yang didapat akan relatif sama. Hal ini dikarenakan data
historis tersebut didapatkan dari data iklim yang telah terjadi dan dan telah tercatat, misalnya
di stasiun hujan. Namun terkait data iklim, nilai-nilai yang muncul adalah nilai-nilai prediksi
yang dikembangkan oleh Sistem Pemodelan Iklim. Analisis iklim lebih lanjut bisa dilihat di
lampiran 2.

Analisis proyeksi iklim akan menghasilkan nilai-nilai elemen iklim (suhu, curah hujan, suhu
maksimal, suhu minimal, dan lainnya) yang dapat diturunkan hingga tingkat Desa dan atau
Kecamatan. Analisis data-data iklim dalam buku panduan ini, akan dibagi ke dalam beberapa
tingkatan nilai, sebagai berikut:

(1) Tingkat Nilai Baik adalah nilai yang hasilnya relatif sama pada wilayah yang sama walau
modelnya berbeda.
(2) Tingkat Nilai yang Sangat Baik adalah hasil nilai yang menunjukkan kesamaan relatif
di satu wilayah yang sama meskipun model dan skenarionya berbeda. Nilai yang diambil
sebisa mungkin merupakan nilai yang paling baik atau yang baik. Bila nilai tersebut tidak

20 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
muncul, maka menggunakan nilai skenario moderat, yaitu nilai pemodelan dari skenario
moderat, misal RCP 6.0 dengan atau tanpa mencari rerata nilai semua pemodelan yang
digunakan. Namun yang perlu diperhatikan, pilihan nilai-nilai harus memperhatikan
tingkat kesahihan (mempertimbangkan kejadian historis di lokasi yang sama).

Penilaian Bahaya (H) dari nilai-nilai elemen iklim dapat dilakukan dengan menggunakan
Tabel Bantu guna mempermudah analisis Bahaya (H) sehingga menghasilkan nilai indikator.
Analisis bahaya iklim dalam buku ini minimal menggunakan indikator banjir, kekeringan, dan
puting beliung (khusus untuk wilayah terestrial atau darat). Perhatikan contoh Tabel Bantuan
(Tabel 7) berikut.

Tabel 7. Contoh informasi iklim dan lahan untuk estimasi indeks bahaya.

Indikator Sub Indikator Pembobotan Keterangan


Kelas Bobot Nilai
Iklim
(proyeksi 2017-2050 dan current (1960-2016) berdasar data iklim yang didapat)
Curah Hujan Tahunan > 1600 4 Diambil dari
(mm/tahun) 1200-1600 3 rata-rata nilai
800-1199 2 indeks proyeksi
< 800 1 dan current
Curah Hujan Bulanan > 1000 4
Musim Hujan (mm/musim) 800-100 3
600-799 2
< 600 1
Curah hujan maksimum > 300 4
musim hujan (mm/bulan) 200-300 3
100-199 2
< 100 1
Kejadian Historis
Informasi sejarah banjir >3 4 Dari data setempat
wilayah (total jumlah/desa 3 3
atau wilayah) 2 2
1 1
Fisik

Banjir Wilayah potensi kemarau 0-15 4


(dataran aluvial, pantai, 16-30 3
dataran) berdasarkan 31-45 2
ketinggian > 45 1
Tutupan vegetasi (%) 80 1
60-79 2
40-59 3
< 40 4
Panjang sungai terhadap > 10 4
luas wilayah (%) 6-10 3
2-5,9 2
<2 1
Nilai sub indikator = bobot nilai/nilai bobot maksimal
Nilai Indikator Banjir = ((2 x rerata nilai iklim)+(3 x kejadian historis)+(2 x rerata nilai

21 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Iklim
(proyeksi 2017-2050 dan current (1960-2016) berdasar data iklim yang didapat)
Curah hujan tahunan (mm/ > 1600 1 Diambil dari
tahun) 1200-1600 2 rata-rata nilai
800-1199 3 indeks proyeksi
< 800 4 dan current
Curah hujan musim > 1000 1
kemarau (mm/musim) 800-100 2
600-799 3
< 600 4
Curah hujan minimum > 300 1
musim hujan (mm/bulan) 200-300 2
100-199 3
< 100 4
ETP (Evapotranspirasi) > 2000 4
tahunan (mm/tahun) 1500-2000 3
1000-1499 2
< 1000 1
ETP musim kemarau (mm/ > 1500 4
musim) 1000-1499 3
500-1000 2
< 500 1
ETP bulanan musim > 500 4
kemarau (mm/musim) 350-499 3
200-349 2
< 200 1
Kejadian Historis
Kekeringan Informasi sejarah kemarau >3 4 Dari data setempat
wilayah (total jumlah/desa 3 3
atau wilayah) 2 2
1 1
Fisik
Wilayah potensi kemarau 0-15 1
(dataran aluvial, pantai, 16-30 2
dataran) berdasarkan 31-45 3
ketinggian > 45 4
Ruang terbuka hijau untuk 80 1
menahan air (%) 60-79 2
40-59 3
< 40 4
Nilai maksimum Tubuh air 1
penggunaan tutupan lahan Hutan 2
Pemukiman 3
Pertanian 4
Terbuka 5
Nilai sub indikator = bobot nilai/nilai bobot maksimal
Nilai Indikator Banjir = ((2 x rerata nilai iklim)+(3 x kejadian historis)+(2 x rerata nilai

22 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Iklim
(proyeksi 2017-2050 dan current (1960-2016) berdasar data iklim yang didapat)
Curah hujan selama musim > 1000 4 Diambil dari
peralihan (mm/musim) 800-1000 3 rata-rata nilai
600-799 2 indeks proyeksi
< 600 1 dan current
Curah hujan maksimum > 300 4
selama musim peralihan 200-300 3
100-199 2
< 100 1
Kejadian Historis
Informasi sejarah kemarau >3 4 Dari data setempat
wilayah (total jumlah/desa 3 3
atau wilayah) 2 2
1 1
Fisik
Nilai ketinggian maksimum 0-15 4
pada daerah berpotensi 16-30 3
Puting puting beliung 31-45 2
Beliung > 45 1
Ruang terbuka hijau 80 1
60-79 2
40-59 3
< 40 4
Nilai maksimum Tubuh air 1
penggunaan tutupan lahan Hutan 2
Pemukiman 3
Pertanian 4
Terbuka 5
Nilai sub indikator = bobot nilai/nilai bobot maksimal
Nilai Indikator Banjir = ((2 x rerata nilai iklim)+(3 x kejadian historis)+(2 x rerata nilai

Total indeks bahaya = total nilai indikator/jumlah nilai indikator

Nilai Indeks Bahaya (H) adalah rerata dari indikator Bahaya, dalam buku panduan ini minimal
meliputi banjir, kekeringan, dan puting beliung (khusus untuk wilayah terestrial atau darat).
Masing masing nilai indikator didapat dari rata-rata proporsi nilai masing masing data dengan
konversi nilai maksimal ‘1’. Apabila nilai maksimal sebuah data ‘5’, maka bobot per satuan
nilainya adalah 0.2. Apabila nilai maksimal sebuah data ‘4’, maka bobot per satuan nilainya
0.25. Perhatikan contoh pada Tabel 8 berikut.

23 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Tabel 8. Contoh perhitungan estimasi indeks puting beliung di desa X.

Data Kelas Nilai Nilai maksimal Konversi


ke Indeks

Curah hujan > 1000 4 4 1


peralihan musim

Curah hujan 200-300 3 4 0,75


bulanan
maksimum musim
peralihan
Kelerengan Lahan < 40 % 4 4 1

Proporsi vegetasi < 40 % 4 4 1

Penggunaan lahan Tanah terbuka 2 5 0,4

Total Nilai Indeks Bahaya untuk puting beliung di desa X adalah: 0,83

Berdasarkan hasil olah indeks tersebut, dengan menggunakan olah data spasial akan
muncul tampilan data spasial seperti gambar berikut:

Gambar 5. Contoh analisis bahaya per indikator untuk model xxxx skenario xxx.

BAN JI R

24 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
K E K E R I N GAN

P U TI N G BE L I U N G

Sumber: IPB-WVI, 2015

Sesuai bahasan tentang Standar Minimal Analisis Bbahaya yang telah dijelaskan di awal, jika
tim pengkaji data menggunakan dua model dan dua kenario proyeksi iklim maka masing-
masing Indikator Bahaya akan menghasilkan empat data spasial atau peta dengan pasangan
model dan skenario yang berbeda. Indeks-indeks Bahaya (misal banjir, kekeringan dan
puting beliung) diintegrasikan dalam satu nilai indeks, dengan membuat nilai rata-rata semua
indeks.

25 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
06. Pengolahan Data dengan Pendekatan Normalisasi

Untuk mempersempit kesenjangan nilai indeks di masing-masing desa, nilai indeks per
Unsur Risiko, dianjurkan untuk dikonversi dengan nilai median. Penggunaan nilai median
sebagai nilai indeks data dapat dirumuskan sebagai berikut:

Untuk nilai indeks Unsur Risiko desa X ke-i ≥ nilai median:

Xi_adj= (0,5 ×((Xi-Xmedian)/(Xmax-Xmedian)))+0,5 RUMUS 2

Untuk nilai indeks Unsur Risiko desa X ke-i < nilai median:

Xi_adj= 0,5 ×((Xi-Xmin)/(Xmedian-Xmin)) RUMUS 3

Keterangan
Xi_adj : Nilai skor Desa X ke-i yang akan dinormalisasi
Xi : Nilai skor variabel Desa X ke-i
Xmin : Nilai skor minimum variabel Desa X
Xmax : Nilai skor maksimum variabel Desa X
Xmedian : Nilai skor median variabel Desa X

Keterangan lebih jelas, silahkan untuk melihat contoh perhitungan konversi nilai indeks di
bawah ini.

Tabel 9. Contoh analisis nilai salah satu unsur risiko menggunakan indeks median.

Nama Desa Hasil Indeks Konvensional (0-1) Indeks Normalisasi Median (0-1)

A 1 1

B 0,9 0,9

C 0,9 0,9

D 0,5 0,6

E 0,4 0,7

F 0,3 0,5

G 0,3 0,5

H 0,3 0,5

I 0,3 0,5

J 0,3 0,5

K 0,3 0,5

L 0,2 0

Penggunaan indeks median dalam analisis ini akan menghasilkan tampilan data yang
memiliki kesenjangan kelas yang sempit.

26 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Gambar 6. Contoh perubahan nilai indeks konvensional (kiri) dengan menggunakan indeks
median (kanan).

Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi Sumber: IPB-WVI, 2015

07. Proses Analisis Risiko dari Nilai Indeks Unsur-Unsur Risiko

Kajian Risiko sebagaimana diterangkan pada Sub Bab Pemetaan Tingkat Risiko, merupakan
hasil dari rumusan IPCC (2014) dengan memasukkan setiap indeks Unsur Risiko ke
dalam rumusan tersebut. Unsur Risiko yang terdiri atas Kerentanan (V), Bahaya (H), dan
Keterpaparan (E) memiliki bobot yang sama dalam rumusan IPCC tersebut. Semua indeks
Unsur Risiko harus dinormalisasikan menggunakan indeks median guna mempersempit
kesenjangan nilai indeks. Hasil dari dari proses ini akan menghasilkan nilai indeks risiko yang
memiliki rentang nilai (0-1).

Dalam pembagian kelas nilai indeks, semakin tinggi nilai indeks Unsur Risiko maka semakin
tinggi tingkat risikonya. Kecuali untuk Kemampuan Adaptif berlaku sebaliknya, yaitu,
semakin tinggi nilai indeksnya, maka semakin rendah risikonya. Untuk keterangan lebih detil,
perhatikan Gambar 7.

27 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Gambar 7. Rentang penilaian indeks risiko perubahan iklim.

Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

1 0,8 0,6 0,4 0,2 0

08. Menyusun Pilihan Program Adaptasi di Kota-Kabupaten atau Wilayah

Dengan mengikuti proses penghitungan indeks, maka akan diperoleh indeks setiap desa
atau sub wilayah pada satu kota atau fokus area. Dari perhitungan indeks risiko akan
memunculkan wilayah atau desa dengan indeks risiko tinggi hingga sangat tinggi. Hasil
pengkajian unsur-unsur indeks risiko dan indikator pembentuk unsur nilai indeks risiko
menjadi dasar penguatan ketangguhan kelurahan-desa atau wilayah yang memiliki indeks
risiko tinggi.

Ketangguhan adaptasi perubahan iklim menjadi lebih kuat dengan berkurangnya indeks
Kerentanan dan indeks Bahaya, sehingga untuk penguatan ketangguhan adaptif dapat
dilakukan dengan mengembangkan program-program adaptasi guna mengurangi ancaman
Bahaya (H), Sensitivitas (S), dan menguatkan Kapasitas Adaptif (C). Program-program
adaptasi tersebut dibuat dengan mempertimbangkan indikator atau sub indikator yang
membentuk unsur Bahaya, Sensitivitas, dan Kapasitas Adaptif. Urutan pilihan prioritas untuk
indikator dan sub indikator yang menyusun unsur Bahaya dan Sensitivitas ditentukan dari
nilai indeks tertinggi ke nilai indeks terendah. Sebaliknya dengan Kapasitas Adaptif, urutan
prioritas dimulai dari indeks terendah ke indeks tertinggi.

o r r r ro r
telah dipilih. Sebagai contoh, untuk program penguatan infrastruktur maka pihak yang
dilibatkan adalah Dinas Pekerjaan Umum (PU), untuk program pelatihan tenaga kerja
maka pihak yang dilibatkan adalah Dinas Tenaga Kerja, dan seterusnya. Selain itu, tim juga
r or private sector) serta kelompok masyarakat yang
berpotensi mengambil bagian dan terlibat dalam program tersebut. Analisis selanjutnya
ro r ro r r
dimasukkan ke dalam perencanaan atau peraturan daerah setempat di tingkat tapak.
Perhatikan contoh pada Tabel 10, 11, dan 12.

28 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Tabel 10. Contoh pilihan program adaptasi untuk pengurangan sensitivitas.

Indikator Sub Nilai Program Pemangku Kepentingan


indikator Indeks* Pilihan
Pemerintah Swasta/ Kelompok
LSM Masyarakat
Tingkat Persentase 0.9 Pengembangan Dinas Bank Koperasi,
Kesejahteraan keluarga mata Tenaga Kerja Pemerintah LKMD
miskin pencaharian Daerah
alternatif yang
berkelanjutan
melalui
pinjaman modal
lunak dan
pelatihan
Persentase 0.8 Menguatkan dst dst dst
penduduk sistem jaminan
dengan mata sosial petani
pencaharian gurem/kecil
berisiko
Pengembangan dst dst dst
keahlian dan
bantuan perahu
Menguatkan dst dst dst
sistem jaminan
sosial buruh
dan pendidikan
anak buruh
Persentase 0.8 Pengembangan dst dst dst
pengangguran lapangan kerja
padat karya
dan pelatihan
kewirausahaan
Tingkat Persentase 0.8 Menambah dst dst dst
kesehatan penduduk fasilitas
miskin kesehatan
yang tidak masyarakat
mendapatkan
akses
layanan
kesehatan
Persentase 0.8 Perluasan dst dst dst
penduduk kesempatan
miskin BPJS
yang tidak
terdaftar
dalam BPJS
Persentase 0.25 Program dst dst dst
rumah pengembangan
tangga (Contoh MCK terpadu
tanpa MCK nilai yang
layak tidak
menjadi
prioritas
karena
indeksnya
rendah)

dan seterusnya

*Nilai indeks didapat dari nilai skor yang didapat dibagi bobot skor total

29 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Tabel 11. Contoh pilihan program adaptasi melalui penambahan kapasitas adaptif.

Indikator Sub Nilai Keterangan Pemangku Kepentingan


indikator Indeks*
Pemerintah/ Swasta/ Kelompok
BUMN LSM Masyarakat
Akses listrik Akses listrik 0.1 Perluasan PLTN, PU LSM – PT Masyarakat
akses listrik Energi adat
atau melalui pedalaman
pengembangan A
tenaga alternatif
Sanitasi Kondisi 0.2 Program dst dst dst
Sanitasi terpadu
pengembangan
jamban desa/
wilayah
Pedidikan Bangunan 0.3 Perbaikan dst dst dst
sekolah fasilitas
sekolah dan
pengembangan
sekolah baru
Akses air Akses air 0.3 Pengembangan dst dst dst
minum minum instalasi air
bersih minum melalui
instalasi MCK
umum
Akses Akses 0.7 Perluasan dst dst dst
telekomunikasi telekomunikasi (bukan instalasi
merupakan telekomunikasi
prioritas) umum
dan seterusnya

*Nilai indeks didapat dari nilai skor yang didapat dibagi bobot skor total

Tabel 12 o o r ro r
daerah (untuk semua pilihan program adaptasi).

Indikator Sub Nilai Keterangan Kemungkinan Pengarus-utamaan


Indikator Dalam (tingkat kemungkinan, 3: besar, 2: sedang, 1: kecil)
Kajian
RKPD RPJMD RPJPD RAD API Perda PERDES dst

Akses Akses 0,1 Perluasan 3 2 2 3 2 dst


listrik listrik akses listrik
atau melalui
pengembangan
tenaga alternatif
Sanitasi Kondisi 0,2 Program 2 2 2 3 1 dst
Sanitasi terpadu
pengembangan
jamban desa/
wilayah
Pendidikan Bangunan 0,3 Perbaikan dst dst dst dst dst dst
sekolah fasilitas
sekolah dan
pengembangan
sekolah baru
dan seterusnya

30 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
09. Format Penyusunan Kajian Risiko untuk Ketangguhan Adaptasi Perubahan Iklim

Setelah pilihan program adaptasi selesai disusun (perhatikan Tabel 10, 11, dan 12), maka
tim wajib memasukkannya ke dalam draft Dokumen Kajian Risiko untuk Ketangguhan
Adaptasi Perubahan Iklim yang kemudian disatukan menjadi Dokumen Kajian Adaptasi.
Dokumen Kajian Adaptasi merupakan dokumen yang terdiri dari Dokumen Kajian Risiko
untuk Ketangguhan Adaptasi Perubahan Iklim dan Dokumen Aksi Adaptasi.

Dokumen Kajian Risiko ini terdiri atas beberapa pokok bahasan (Lampiran 1):
Pendekatan dan metodologi: Pilihan pendekatan dan metodologi disesuaikan dengan
penjelasan dalam buku panduan ini. Penting untuk menjelaskan alasan pemilihan sesuai
dengan konteks tujuan kegiatan dan lokasi program.
Data dan analisis data: Pokok bahasan ini menjelaskan tentang pemilihan data-data
dasar berdasarkan pilihan indikator untuk penyusunan Unsur Risiko (Bahaya, Kerentanan
(Sensitivitas dan Kapasitas adaptif) dan Keterpaparan). Pokok bahasan ini juga
menjelaskan operasionalisasi pembobotan dan sistem ambang batas. Untuk data-data
dasar bahaya iklim harus diterangkan secara detil sumbernya (USGS, NOAA, worldclim
model xxx, dan lain sebagainya), waktu keluaran, bentuk data (misal vektor atau raster)
dan lain-lain. Proses pengolahan data, misal sistem ambang batas sebagai bantuan
analisis (jika memang diperlukan), perlu dilengkapi dengan referensi ilmiah. Hasil indeks
konvensional dalam buku panduan ini harus dikorvensi menjadi indeks median.
Kajian bahaya akibat perubahan iklim: Dalam pokok bahasan ini, tim minimal
menggunakan tiga indikator bahaya, yaitu banjir, kekeringan dan angin puting beliung
(khusus untuk wilayah terestrial atau darat). Buku ini menganjurkan pembahasan Kajian
ENSO dan La Nina sebagai tambahan data dalam Kajian Bahaya. Hasil kajian bahaya
harus merujuk pada hasil dari indeks. Misalnya daerah mana yang berpotensi banjir,
kekeringan, dan puting beliung dan seberapa besar potensi kejadiannya harus dijelaskan
secara detil beserta alasan ilmiah yang melatar-belakangi. Untuk kajian bahaya iklim,
tim harus memberi nilai (pembobotan) yang sama antara potensi Bahaya dari proyeksi
dengan kejadian historis. Penampakan peta harus memperlihatkan minimal dua model
dan skenario.
Kajian kerentanan dan keterpaparan kota atau wilayah atau sektor: Kajian
kerentanan harus mempertimbangkan pendekatan, metode, data dan analisis data yang
dipilih. Indikator dan sub indikator yang disusun harus sesuai dengan tujuan program,
dengan mempertimbangkan indikator RAN API (lihat Lampiran 3). Buku panduan ini
tidak menentukan indikator dan sub indikator dalam membangun analisis kerentanan
dan keterpaparan. Deskripsi wilayah yang rentan dan yang terpapar harus dijelaskan
secara rinci. Termasuk di dalamnya unsur Sensitivitas dan Kapasitas Adaptif sebagai
unsur kerentanan.
Pilihan program adaptasi: Pilihan program adaptif untuk kota-kabupaten dan atau
wilayah/sektor harus mempertimbangkan nilai indeks analisis yang dihasilkan dalam
Kajian Risiko, Bahaya, dan Kerentanan. Selanjutnya program-program tersebut harus
berkontribusi dalam memperkuat ketangguhan adaptasi dan mengurangi kerentanan serta
bahaya. Pengurangan risiko dilakukan dengan mengurangi Sensitivitas dan Bahaya dan
menguatkan Kapasitas Adaptif melalui program yang dikembangkan. Program tersebut
r r , ,
kelompok masyarakat terkait. Selain itu setiap program harus dianalisis kemungkinannya
masuk dalam perencanaan daerah, penganggaran daerah atau kemungkinan untuk
mengarusutamakan program di level pemangku kebijakan.

31 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
06.
PENGARUS-UTAMAAN
ADAPTASI BERDASARKAN
KAJIAN ADAPTASI

32 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
01. Prasyarat untuk Pengarus-utamaan Kajian Adaptasi ke Level Kebijakan dan Aksi
hingga Level Tapak

Kajian risiko dan kerentanan untuk adaptasi perubahan iklim dalam buku ini disusun untuk
mendukung ketangguhan kota-kabupaten dan atau wilayah/sektor sesuai dengan tujuan
kegiatan. Kajian ini dari awal harus melibatkan pemangku kebijakan dan kepentingan agar
hasil dari kajian tersampaikan ke strategi pembangunan kota-kabupaten dan atau wilayah.

Langkah penting untuk mencapai target pengarus-utamaan adaptasi ke level kebijakan di


tingkat tapak sebagai berikut: (1) kesepahaman dan dukungan penuh para pihak yang berkaitan
dengan program adaptasi perubahan iklim dan penguatan ketangguhan kota-kabupaten dan
atau wilayah. (2) integritas tim atau pokja adaptasi-iklim yang dibentuk mewakili para pihak
(pemerintah, tokoh masyarakat, akademisi, kelompok rentan dan lain-lain), (3) pemahaman
keuntungan yang akan dicapai dan pengurangan kerugian dari dampak perubahan iklim, (4)
keterlibatan para pihak baik pemangku kebijakan maupun kelompok-kelompok rentan dalam
kajian dan aksi yang dibangun, (5) kajian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
dan memiliki keluaran yang nyata di tingkat pemangku kebijakan serta kelompok rentan
seperti buruh, petani, nelayan kecil dan masyarakat adat, (6) Sistem monitoring dan evaluasi
r r , r

02. Finalisasi Draft Dokumen Kajian Risiko untuk Ketangguhan Adaptasi Perubahan Iklim
ICCTF

Finalisasi dokumen kajian risiko untuk ketangguhan adaptasi perubahan iklim akan
ditentukan melalui dua prosedur penting: (1) Tinjauan kembali (review) substansi ilmiah
dokumen kajian; (2) Analisis peluang, keuntungan, dan kerugian program-program adaptasi
untuk kota-kabupaten dan atau wilayah/sektor yang merupakan hasil utama dari dokumen
ini; (3) Konsultasi dan persetujuan pemerintah terkait. Apabila prosedur ini telah dipenuhi
maka dokumen kajian dianggap telah selesai.

a. Tinjauan kembali (review) substansi ilmiah dari kajian

r r ,
metode serta turunannya untuk memastikan kajian tersebut sesuai atau memenuhi standar
ilmiah. Prosedur yang dijelaskan dalam buku panduan ini akan menjadi standar minimal
Kajian Risiko kota-kabupaten dan atau wilayah yang mendukung tinjauan substantif Kajian
Risiko.

Perhatikan poin-poin utama berikut:


Memastikan pilihan pendekatan dan metode sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Apakah kajian telah relevan untuk sesuai pendekatan, misal: kota-kabupaten dan atau
wilayah/sektor seperti pertanian, perikanan tangkap atau wilayah khusus berdasarkan
bentang alam seperti Daerah Aliran Sungai (DAS), kawasan karst dan lain-lain.
Memastikan pilihan sub indikator sesuai dengan indikator dan unsur yang membangun
Kerentanan, Keterpaparan, Bahaya dan Risiko itu sendiri. Dengan demikian, data-data
yang didapat dan prosedur yang dipilih harus valid, , r r r

Memastikan tidak ada inkonsistensi prosedur ilmiah dalam analisis data hingga ke
perhitungan indeks risiko.
Memastikan prosedur ilmiah dan hasilnya memiliki kesesuaian dengan sistem yang

33 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
sudah ada, misalnya terkait analisis proyeksi iklim harus bersinergi dengan data BMKG.
Oleh karena itu komunikasi dan keterlibatan para pihak disetiap proses harus diperkuat
guna mencapai tujuan yang diharapkan.

Setelah draft Dokumen Kajian selesai, tim dapat memulai tinjauan kembali substansi.
Selain itu, tim juga harus menyiapkan ringkasan kajian (summary) yang memuat sistematika
kajian yang informatif serta mudah dipahami oleh seluruh pihak. Pertemuan khusus harus
diagendakan dengan memenuhi minimal kehadiran para pihak sebagai berikut: Bappeda
setempat, Organisasi Pemerintah Daerah terkait (OPD/dahulu SKPD), perwakilan BMKG
daerah, perwakilan kelompok rentan setempat, sektor swasta dan perwakilan akademisi
yang memiliki kepakaran terkait kajian tersebut di daerah. Pertemuan ini penting untuk
dilakukan guna mendapatkan masukan dan perbaikan untuk revisi kajian sehingga dapat
ro o

b. Tinjauan Kembali (review) Program untuk Menghitung Peluang, Keuntungan dan


Kerugian

, o
peluang, keuntungan, dan kerugian terkait keluaran (output) program adaptasi pilihan yang
dikembangkan (lihat Tabel 10-12). Program-program yang disusun tersebut harus memuat
peluang, tantangan, keuntungan jika dijalankan dan kerugian jika diabaikan. Analisis ini harus
mampu memproyeksikan dampak jangka menengah dan panjang, sebagaimana contoh
pada Tabel 13.

Peluang dalam analisis ini berarti bahwa program tersebut (1) memungkinkan dilakukan
walaupun dengan keterbatasan sumberdaya dan kondisi terkini pemerintahan serta pihak
terkait setempat, (2) adanya sinkronisasi dengan program yang sedang berjalan atau
mendukung program yang sedang berjalan, (3) adanya ketertarikan institusi pemerintah dan
swasta terhadap program. Sementara keuntungan atau kerugian dalam buku ini dihitung
dengan (1) tingkat pengurangan kelompok rentan seperti petani, nelayan atau buruh miskin,
(2) tingkat pengurangan melalui perbaikan lingkungan, (3) tingkat potensi untuk perbaikan
tata kelola pemerintahan dan lembaga serta kelompok masyarakat.

Tabel 13. Contoh analisis ekonomi pilihan program adaptasi.

Peluang Keuntungan Kerugian Indikatif


(sangat Apabila Dijalankan pabila Diabaikan
Program mungkin, (mempertimbangkan (mempertimbangkan
mungkin tidak sisi sosial-ekonomi, sisi sosial-ekonomi,
mungkin) lingkungan) lingkungan hidup)

Program peningkatan gizi Sangat Mengurangi risiko Potensi meningkatnya


mungkin kematian anak kematian anak pada
kelompok rentan
semakin tinggi

Program restorasi hutan bakau Sangat Mengurangi risiko banjir Bertambahnya luasan
mungkin rob, meningkatkan banjir rob, hilangnya
potensi jumlah ikan ikan
tangkapan

Program pelatihan budi daya padi Mungkin Mengurangi risiko Semakin meningkatnya
tahan kekeringan dan pembenihan gagal panen di musim risiko gagal panen di
varietas tahan kekeringan (bekerja kering, meningkatkan musim kemarau
sama dengan balai pembibitan) ketahanan pangan

34 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Keterlibatan para pihak menjadi elemen kunci dalam proses analisis keuntungan dan kerugian
program-program adaptasi yang akan diajukan. Pakar ekonomi setempat dari institusi
pendidikan, tokoh masyarakat, dan sektor swasta terkait harus terlibat dalam analisis ini,
tentunya dengan tetap melibatkan pemerintah daerah seperti BAPPEDA dan OPD terkait.

c. Konsultasi dan Persetujuan Pemerintah Terkait

Setelah dua prosedur tinjauan kembali dilakukan, tim penyusun harus melakukan konsultasi
khusus dengan pemerintah daerah guna mendapatkan masukan akhir dan mendapatkan
persetujuan dokumen kajian sebagai keluaran pokja iklim atau adaptasi. Sebuah draft
dokumen kajian dan rangkumannya, dikonsultasikan dengan walikota-bupati atau gubernur
(jika merupakan kajian lintas administratif) atau wakil resmi pemerintah beserta staf terkait
untuk kemudian diharapkan diterima dengan atau tanpa catatan. Dalam pertemuan tersebut
dibahas pula agenda konsultasi publik ke pemangku kepentingan lebih luas sebagai proses
o , r r
daerah setelah konsultasi publik. Aksi adaptasi merupakan turunan dari program-program
pilihan adaptasi yang dihasilkan.

03. Konsultasi Publik Dokumen Final Kajian Risiko untuk Ketangguhan Adaptasi Perubahan
Iklim ICCTF

o r o ro r ro r
dijelaskan dalam buku panduan ini), dokumen kajian wajib diinformasikan dan disosialisasikan
kepada publik. Konsultasi yang efektif bisa dilakukan dengan cara menyelenggarakan
workshop skala kecil namun dihadiri oleh pemangku kepentingan utama yang berkaitan (OPD
terkait, sektor swasta, LSM, kelompok rentan dan tokoh masyarakat). Pada saat workshop,
ada beberapa pokok bahasan yang penting untuk dibahas sebagai berikut: 1) Pendekatan
dan metodologi; 2) Kajian Bahaya; 3) Kajian Kerentanan (Sensitivitas dan Kapasitas Adaptif;
4) Kajian pilihan program adaptasi: keterlibatan, potensi, keuntungan, dan kerugian serta
rencana aksi adaptasi ke depan.

Dalam paparan hasil kajian sangat dimungkinkan ada masukan atau bahkan sanggahan
dan ralat atau pembetulan lainnya, sehingga dalam dokumen kajian risiko selanjutnya harus
disertakan ralat atau masukan namun dimasukkan dalam lampiran dokumen. Hasil
konsultasi publik juga akan membahas rencana tindak lanjut untuk menurunkan program-
program adaptasi yang direncanakan ke bentuk aksi-aksi adaptasi serta rencana strategis
lanjutan untuk memasukkan program adaptasi ke level perencanaan pemerintah atau aksi
realistis adaptasi di tingkat masyarakat.

35 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
07.
PENYUSUNAN AKSI
ADAPTASI DARI KELUARAN
PROGRAM DOKUMEN
KAJIAN RISIKO UNTUK
KETANGGUHAN ADAPTASI
PERUBAHAN IKLIM ICCTF

36 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
01. Siapa dan Bagaimana Melakukan Penyusunan Aksi Adaptasi

Penyusunan aksi adaptasi dilakukan oleh pokja atau tim yang dibentuk oleh kota-kabupaten
dan atau wilayah yang menjadi lokasi implementasi program. Penyusunan aksi adaptasi ini
terkait erat dengan hasil dari dokumen Kajian Risiko dan Kerentanan, karena aksi adaptasi
merupakan turunan dari program adaptasi hasil Kajian Risiko. Kajian Risiko perubahan iklim
akan merekomendasikan pilihan program-program adaptasi hasil dari proses dan analisis
penilaian tiap tahap penyaringan.

Pengembangan prioritas program adaptasi dilakukan mengacu pada indeks prioritas dari
indeks risiko (Kerentanan dan Bahaya dari hasil kajian sebagaimana contoh Tabel 10-12).
ro r o o r r r
faktor: 1) para pihak terkait, 2) potensi untuk mengarusutamakan program pada kebijakan
pemerintah daerah atau institusi lokal.

Dengan melihat Tabel Peluang pada Tabel 13, program-program yang muncul dalam kajian
diolah dengan mempertimbangkan nilai peluang, keuntungan dan kerugian. Jika seluruh
tahapan tersebut telah terpenuhi, maka program-program yang dihasilkan relevan dan dapat
diturunkan ke dalam bentuk aksi-aksi adaptasi. Semakin banyak tahapan penyaringan yang
dilalui, maka semakin tinggi potensi program untuk direalisasikan menjadi aksi adaptasi.
Perhatikan contoh pada Gambar 8 berikut.

Gambar 8. Contoh proses penilaian pilihan program adaptasi perubahan iklim.

Berpeluang Program
untuk potensial
dikembangkan menjadi aksi
Berpeluang
untuk
dikembangkan Tidak berpeluang
Berpotensi untuk
mainstreaming dikembangkan
Terkait Tidak berpeluang
bahaya/ untuk
kerentanan dikembangkan
Kurang
Program A berpotensi
mainstreaming
Tidak terkait
bahaya/
kerentanan

Kaitan dengan Kaitan ditingkat Kaitan


hasil kajian kebijakan dan Kaitan tingkat pertimbangan Pilihan
adaptasi pemangku realistis di ekonomi dan program yang
perubahan iklim kepentingan lapangan sosial lingkungan terbaik

tinggi rendah
Tingkat nilai program

37 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
02. Pengertian Aksi-Aksi Adaptasi dalam Buku Panduan Ini

, r r ro r
pilihan adaptasi yang diajukan atau dihasilkan dalam Dokumen Kajian Risiko. Aksi adaptasi
berhubungan erat dengan Kajian Risiko yang dilakukan sebelumnya, dan harus sinergis
dengan program besar Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) serta
Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim (RAD-API) di daerah (jika ada). Aksi adaptasi
ini dikembangkan sebagai bentuk kegiatan nyata di lapangan dengan ruang lingkup yang
lebih kecil dan berdampak langsung terhadap para penerima manfaat (beneficiaries). Proses
pengembangan aksi adaptasi lebih lanjut dapat dilihat dalam penjelasan Gambar 9 di bawah
ini.

Gambar 9. Diagram alir proses pengembangan aksi adaptasi.

Kajian Kajian Program Aksi


Pengurangan
Risiko Bahaya Bahaya adaptasi

Kajian Kajian Program Aksi


pengurangan
Kerentanan Sensitivitas sensitivitas adaptasi

Kajian Program Aksi


Kapasitas penguatan
Adaptif kapasitas adaptif adaptasi

tingkatan proses menuju aksi adaptasi

Keterangan

Berkesesuaian dengan bidang dan atau sub bidang RAN API

Berkesesuaian dengan sub bidang dan kelompok (cluster) RAN API dan
substansi RAD API

Pada gambar 8 di atas, unsur-unsur risiko yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan
program dan aksi adaptasi meliputi Kajian Bahaya, Kajian Kerentanan, Kajian Sensitivitas
dan Kajian Kapasitas Adaptif. Khusus untuk Kajian Keterpaparan dalam buku panduan ini
tidak diturunkan ke dalam program adaptasi dan aksi adaptasi karena hanya merupakan
data atribut wilayah lokasi program.

Untuk menunjukkan perbedaan yang jelas antara program dan aksi dapat dilihat dari kriteria
berikut:
a. Program adaptasi tidak memunculkan prakiraan kuantitatif secara rinci serta menggunakan
redaksional yang masih bersifat umum;
b. Aksi adaptasi memuat indikatif kuantitatif, merupakan kegiatan secara nyata yang
akan diimplementasikan di lapangan dan memiliki perincian anggaran, memperlihatkan
perhitungan dampak secara kuantitatif maupun kualitatif, serta dapat dihitung jumlah
penerima manfaat langsung maupun tak langsung. Secara lebih rinci, perhatikan contoh
pada Tabel 14.

38 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Tabel 14. Contoh program dan aksi adaptasi untuk ketangguhan kota-kabupaten dan atau
wilayah yang sinergis dengan RAN API.

Program Adaptasi Aksi Adaptasi RAN API

Program terpadu pengembangan Ketahanan sistem kehidupan,


jamban desa jamban umum untuk kelompok sub bidang pemukiman,
rentan iklim di wilayah klaster/kelompok penyediaan
pinggiran sungai infrastruktur kesehatan
r kelompok rentan perubahan
desa untuk rumah tangga iklim
miskin kelompok rentan
perubahan iklim, petani miskin
dan nelayan miskin

dengan akses air yang


memadai di 8 desa potensi
kekeringan khusus kelompok
rentan miskin.

dst dst dst

03. Kriteria Aksi-Aksi Adaptasi

Kriteria aksi adaptasi yang dipaparkan dalam buku panduan ini dibangun untuk membantu
menentukan aksi adaptasi yang sesuai dengan yang diharapkan dalam kerangka besar
adaptasi untuk ketangguhan kota-kabupaten dan atau wilayah. Kriteria tersebut adalah
sebagai berikut:
Aksi adaptasi bukan bagian dari Business As Usual (BAU) kegiatan pemerintah atau
lembaga terkait, namun merupakan kegiatan baru atau kegiatan yang sudah berjalan
o o r , o r r
Merupakan pilihan aksi yang memiliki korelasi dengan Kajian Risiko kota-kabupaten dan
atau wilayah yang dikembangkan serta memiliki keterkaitan dampak perubahan iklim
secara langsung maupun tak langsung.
Memiliki korelasi dengan lima bidang ketahanan, sub bidang ketahanan dan klaster RAN
API Indonesia, secara langsung maupun tidak langsung.
Memiliki dampak yang efektif terhadap pengurangan kerentanan dan penguatan
ketangguhan kelompok atau entitas rentan di kota-kabupaten atau wilayah yang memiliki
indeks bahaya yang tinggi.

Guna mencapai tujuan kegiatan adaptasi (secara teknis maupun substansi) yang diharapkan
sebagaimana Business Process ICCTF, maka tim harus menyusun aksi adaptasi dengan
memenuhi seluruh kriteria tersebut di atas (sebagai standar minimal adaptasi perubahan
iklim) baik secara redaksional maupun substansi dalam mengembangkan aksi ketangguhan
kota-kabupaten dan atau wilayah.

04. Tabel Informasi sebagai Final Dokumen Aksi Adaptasi

Semua tahapan terkait aksi adaptasi diatas dirangkum dan disusun dalam kerangka pokja
iklim atau adaptasi yang dibentuk yang kemudian dikembangkan dalam tabel bantuan aksi
adaptasi kota-kabupaten dan atau wilayah sebagai berikut.

39 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Tabel 15. Contoh tabel bantuan aksi adaptasi dengan rincian informasi.

Program Aksi Kelompok Rangkuman Biaya Waktu Potensi Pemangku RAN API
Adaptasi Rentan Kegiatan (Rencana) Pendanaan Kepentingan (RAD API)
yang
Dilibatkan

Program Aksi 600 Kegiatan ini 600 1/2/2017- APBD dan Pemerintah Ketahanan
terpadu pengem- keluarga dilakukan juta 1/3/2017 LSM daerah sistem
pengem- bangan miskin dengan (OPD Dinas kehidupan
bangan jamban di 8 membangun PU) dan klaster
jamban kota dengan kelurahan instalasi air Perusahaan penyediaan
akses bersih untuk MCK serta infrastruktur
air yang perbaikan LSM Sanitasi kesehatan
memadai di 600 jamban nasional dan untuk
8 kelurahan pada internasional kelompok
potensi keluarga rentan
kekeringan miskin di 8
khusus desa
kelompok
rentan miskin

dan seterusnya

Program Penumbuhan Enam Kegiatan ini 800 1/2/2017- APBN Pemerintah Ketahanan
restorasi pohon serap desa dilakukan juta 1/3/2017 daerah (OPD Ekosistem,
daerah air di sepuluh dengan untuk PU, BP sub bidang
tangkapan lokasi potensi memulihkan DAS) dan peningkat-
air tangkapan banjir kawasan BLH, Dinas an kualitas
air (100 H) di tinggi konservasi Kehutanan tutupan
hutan rakyat air di hutan pada
kecamatan B kecamatan B wilayah
DAS

dan seterusnya

05. Bagaimana Mengarahkan Aksi Adaptasi ke Pembangunan Daerah dan Entitas Lainnya
yang Terkait

Dalam Tabel Aksi dan Rincian Informasi (Tabel 15 , r


yang berpotensi untuk dilibatkan. Guna memaksimalkan efektivitas rencana aksi, maka perlu
strategi untuk memasukkannya ke dalam agenda perencanaan daerah. Penyusunan strategi
tersebut harus melibatkan OPD tekait seperti BAPPEDA kota-kabupaten atau BAPPEDA
Provinsi guna membahas kemungkinan mengarusutamakan aksi adaptasi tersebut ke dalam
perencanaan daerah. Sebagaimana ditekankan sedari awal dalam buku ini, bahwa tim harus
memastikan 1) melibatkan pemerintah dan para pihak terkait sejak awal proses penyusunan
rencana kegiatan; 2) menciptakan kemauan pemerintah daerah untuk ikut berkontribusi
aktif melalui pendekatan yang efektif; 3) menumbuhkan rasa saling memiliki kegiatan oleh
para pihak terkait baik dalam proses pembentukan Pokja, proses Kajian Risiko, hingga
penyusunan aksi adaptasi.

Jika pemerintah daerah memiliki kesadaran dan kemauan untuk menerima sebagian maupun
keseluruhan aksi adaptasi yang disusun oleh tim (dengan catatan atau tanpa catatan), maka
dalam proses input redaksional program dan aksi adaptasi harus mengikuti sistem daerah
yang berlaku, sebagaimana contoh pada Tabel 16 berikut.

40 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Tabel 16. Contoh kebijakan daerah sebagai pertimbangan memasukkan aksi adaptasi.

Level Bentuk Perencanaan Daerah Pengertian

1 Strategi RAN API (belum Strategi nasional terkait


mengikat) adaptasi perubahan iklim
Kebijakan 2 Strategi API Daerah (belum Strategi adaptasi perubahan
adaptasi mengikat) iklim di daerah

1 RPJMD (mempertimbangkan Rencana pembangunan


RPJMN, RPJPN dan RPJPD) jangka menengah

2 RKPD Rencana kerja pemerintah


daerah

3 Renstra OPD (dulu SKPD) Rencana strategi OPD

4 Renja OPD Rencana kerja

5 RKA OPD Rencana kerja anggaran


Kebijakan
perencanaan 6 RPJMDES Rencana pembangunan
daerah jangka menengah desa

1 KLHS Kajian lingkungan hidup


strategis

2 RTRW Daerah Rencana tata ruang wilayah


Kebijakan (mempertimbangkan RTRW
keruangan nasional)

Tabel 16 tersebut di atas, menunjukkan tingkatan perencanaan pembangunan. Setiap


tingkatan level akan mempengaruhi tingkatan level lain di bawahnya satu sama lain. Aksi
adaptasi yang telah melalui prosedur penyaringan berdasarkan tingkat peluang, harus
mempertimbangkan tingkatan di atasnya saat akan dimasukkan ke level kebijakan. Jika
rencana aksinya ingin dimasukkan ke dalam perencanaan daerah, maka tim Pokja harus
memastikan jika kegiatan tersebut relevan untuk dimasukkan. Meskipun demikian, kebijakan
terkait adaptasi tidak bersifat mutlak dan wajib disepakati kecuali kebijakan tersebut sudah
diterima di level kebijakan lainnya.

Payung kebijakan pembangunan daerah terkait pengarus utamaan adaptasi dapat merujuk
pada kerangka besar RPJMN Nasional. RAN API telah dimasukkan dalam perencanaan
pembangunan nasional yaitu di Buku II RPJMN (2015-2019) poin 1.2.2.3 Arah Kebijakan dan
Strategi Pembangunan Bidang yang berbunyi:

41 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
“...Menerapkan Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim(RAN-API) secara
sinergis... dengan strategi: (i) mengarusutamakan RAN-API ke dalam perencanaan
pembangunan nasional dan daerah; (ii) melaksanakan rencana aksi adaptasi perubahan
iklim seperti yang tercantum dalam RAN-API secara terkoordinasi antara K/L dan
pemerintah daerah serta antar daerah; (ii) mengembangkan indikator kerentanan dan
memperkuat proyeksi dan sistem informasi iklim dan cuaca; (iii) menyusun kajian
kerentanan dan meningkatkan ketahanan (resiliensi) pada sektor yang sensitif serta
pelaksanaan upaya adaptasi di daerah percontohan; (iv) mensosialisasikan RAN-API
kepada pemerintah daerah dan meningkatkan kapasitas daerah dalam upaya adaptasi;
dan (v) melaksanakan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan adaptasi..”

06. Bagaimana Dokumen Final Aksi Adaptasi Dalam Panduan Ini Disusun

ro , o r r
dalam bentuk draft Tabel Rencana Aksi Adaptasi (Tabel 15). Draft dokumen tersebut kemudian
dikonsultasikan secara terbuka ke OPD dan para pihak lainnya yang terkait sebagaimana
ro ro o r
buku panduan ini disebut Konsultasi Publik Dokumen Aksi Adaptasi Perubahan Iklim.

Proses ini hampir serupa dengan konsultasi publik Dokumen Final Kajian Risiko untuk
ketangguhan adaptasi perubahan iklim ICCTF pada bab 6 poin 2. Meskipun demikian,
masukan, sanggahan atau tambahan, ralat serta rekomendasi dari hasil diskusi publik ini
sangat penting untuk dimasukkan ke dalam Tabel Aksi Adaptasi sebagai proses perbaikan
Dokumen Aksi Adaptasi.

Dokumen Final Aksi Adaptasi adalah dokumen aksi adaptasi yang telah melewati proses
perbaikan setelah mendapatkan masukan dari konsultasi publik, yang disusun secara rinci
dalam bentuk tabel aksi adaptasi sebagaimana dicontohkan pada Tabel 15. Tabel tersebut
kemudian dilampirkan dalam Dokumen Besar Kajian adaptasi yang juga sudah melewati
tahap konsultasi publik sebagaimana proses yang telah diterangkan dalam sub bab
Konsultasi Publik Kajian Risiko. Perhatikan Lampiran 1.

07. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi dikembangkan untuk menjadi bagian integral/tak terpisahkan dari
bentuk perencanaan adaptasi hasil dari kajian dokumen adaptasi. Monitoring ini berbeda
dengan monitoring proyek pada umumnya yang tingkat kemungkinan implementasi dan
anggarannya sudah pasti. Monitoring terkait adaptasi ditingkat perkotaan-kabupaten dan
atau wilayah harus mempertimbangkan kemungkinan implementasi di level kebijakan melalui
proses pengarusutamaan adaptasi, swadaya masyarakat, bantuan donor serta peran swasta.

Tidak semua draft aksi adaptasi bisa masuk ke dalam kebijakan pemerintah atau
diimplementasikan melalui bantuan pemangku kepentingan (stakeholders) terkait. Perlu
upaya monitoring khusus terkait status terbaru implementasi setiap rincian aksi adaptasi.
Tabel bantuan terkait status terkini penerimaan aksi adaptasi dan strategi implementasi
akan menjadi bagian penting monitoring aksi adaptasi yang disusun dalam setiap bulan
perencanaan hingga batas tertentu sesuai kesepakatan tim Pokja sejak proses awal.
Perhatikan Tabel 17.

42 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Table 17. Contoh tabel monitoring implementasi aksi adaptasi bulan ke-X.

Nama Aksi Status Terkini Strategi Lanjutan Terkini Evaluasi Substansi

Rehabilitasi lahan Masih menunggu Pertemuan lanjutan Perbaikan detil teknis


20 hektar di daerah persetujuan revisi terkait detil teknis dan oleh pihak ke 3
tangkapan hujan Renstra mekanisme pendanaan
kelurahan X serta administratif
Perbaikan Situ Y Masih menunggu Komunikasi intensif Perbaikan-perbaikan
sebagai tampungan concept note bantuan dan roundtable meeting sasaran dan proposal
limpasan air kecamatan pendanaan Lembaga X terkait proposal teknis teknis
Y dengan pemrakarsa.
Pembuatan sumur Sudah masuk RKA Menunggu
resapan di desa X untuk SKPD X perkembangan lebih
100 KK miskin lanjut

dan seterusnya

43 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
08.
PENUTUP

Kajian adaptasi untuk ketangguhan kota-kabupaten dan atau wilayah merupakan


bagian integral dari kebutuhan kota-kabupaten dan atau wilayah dalam menghadapi
perubahan iklim. Secara khusus, ketangguhan kota-kabupaten dan atau wilayah
didorong untuk mengurangi risiko bagi kelompok rentan yang ikut terpapar karena
perubahan iklim seperti buruh, petani atau nelayan serta masyarakat berpendapatan
kecil. Selain target sasaran untuk kelompok rentan, ketangguhan perkotaan-kabupaten
dan atau wilayah juga berhubungan dengan perencanaan pembangunan berkelanjutan
yang memberi kesempatan pada generasi penerus untuk merasakan kualitas hidup
yang sama atau bahkan lebih baik. Ancaman bahaya sebagai akibat dari perubahan
iklim seperti banjir, kekeringan, badai puting beliung dapat diantisipasi dan diminimalisir
dengan perencanaan adaptasi perubahan iklim yang lebih baik.

Buku ini disusun sebagai instrumen adaptasi tingkat kota-kabupaten dan atau wilayah
yang menjadi salah satu bagian penting program adaptasi ICCTF. Sangat disadari
bahwa masih banyak pertanyaan yang muncul terkait upaya pengurangan kerentanan
dan aksi meningkatkan ketangguhan perubahan iklim yang belum terjawab dan
terakomodir sepenuhnya di dalam buku panduan ini. Oleh karenanya tim penyusun
sangat mengharapkan adanya masukan untuk penyempurnaan isi buku panduan ini
ke depannya.

44 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
09.
DAFTAR PUSTAKA

________. (2013). Assessing City Resilience Lessons from Using the UNISDR Local
Government Self-Assessment Tool in Thailand and Vietnam. ISET-International,
Colorado-USA

________. (2014). Rencana Aksi Nasional Perubahan Iklim (RAN-API). BAPPENAS, Jakarta

________. (2016). Resilient Semarang. 100Resilientcity, Semarang

_______. (2015). Prelimenary Resilience Assessment Da Nang City, 100Resilientcity, Hanoi

_______. (2016). Pembelajaran dari ACCCRN Indonesia. Mercy Corps Indonesia, Jakarta

_______. (2015). Pengembangan Kajian Risiko Iklim Fokus Anak. IPB-WVI, Jakarta

_______. (2017). Kajian Iklim Sektor Pertanian Kabupaten Subang (Draft). Fak-Geomet IPB-
ICCTF, Jakarta

_______. (2017). Kajian Risiko Sektor Perikanan Tangkap (Draft). PPI ITB-ICCTF, Jakarta

_______. (2017). Kajian Cepat Ketahanan Kota (Draft). YTKPI-Transformasi-ICCTF, Jakarta

_______. (2017). Proyeksi Iklim Untuk Wilayah Kering Kupang (Draft). FTP UGM, Jakarta

Valdee H.M, dkk. (2012). How To Make Cities More Resilient: A Handbook For Local
Government Leaders. UNISDR, Geneva

Tunner T, dkk. (2009). Urban Governance for Adaptation: Assessing Climate Change
Resilience in Ten Asian Cities. Institute of Development Study, Brighton-UK

Revi. A, dkk. (2014). IPCC WGII AR5 Chapter 8. IPCC, Geneva

IPCC. 2007. Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of
Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel
on Climate Change, Cambridge University Press, Cambridge-UK

45 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
10.
LAMPIRAN

46 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Lampiran

1
Format dokumen kajian adaptasi:
Kajian risiko untuk ketangguhan adaptasi perubahan iklim ICCTF dan dokumen aksi
adaptasi

Kata pengantar

1 Pendahuluan

Kepentingan dokumen
dibuat
Pendekatan umum

Tujuan dokumen

2 r o o r
dikembangkan RAN API dan ICCTF

a. misal: kerentanan

b. dll

3 Lokasi dan cakupan Sedetail mungkin menyangkut administratif, kajian bentang


kegiatan alam atau landscape, gambaran besar iklim dan perubahan
yang terjadi di wilayah, potensi wilayah dan risiko secara
umum (terkait risiko akan diterangkan lebih detail di
pembahasan)

4 Data, metode dan prosedur


Metode dan prosedur Pilihan pendekatan dan metodologi disesuaikan
sebagaimana diterangkan dalam buku panduan ini demikian
juga untuk pilihan metodologi yang diambil. Penting untuk
menjelaskan alasan pemilihan sesuai dengan konteks tujuan
kegiatan dan lokasi program, termasuk prosedur terkait
pembuatan dokumen rencana aksi.

Data Penjelasan ini menyangkut data-data dasar apa yang dipilih


berdasarkan pilihan indikator untuk penyusunan unsur risiko
(bahaya, kerentanan (sensitivitas dan kapasitas adaptif)
dan keterpaparan). Selain itu menjelaskan penggunaan
pembobotan dan sistem ambang batas. Untuk data-data
dasar bahaya iklim harus diterangkan secara detail data-data
dasar yang dipakai (sumber (berasal dari mana, misal USGS,
NOAA, worldclim model xxx), waktu keluaran, bentuk data
(misal vektor atau raster) dan lain-lain). Proses pengolahan
misalnya sistem ambang batas sebagai bantuan analisis (jika
memang diperlukan) perlu dilengkapi dengan referensi ilmiah.
Hasil indeks konvensional dalam buku panduan ini harus
dikorvensi dengan pendekatan median. Termasuk data dasar
untuk dokumen aksi adaptasi apabila ada.

47 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
5 Hasil Pembahasan
a. Kajian bahaya akibat Dalam kajian ini, minimal menggunakan tiga bahaya, banjir,
perubahan iklim kekeringan dan angin puting beliung (khusus untuk wilayah
terestrial atau darat) dengan menggunakan kajian indikator
iklim di data historis dan proyeksi iklim, dapat menambahkan
kajian ENSO sebagai rekomendasi dari buku panduan ini.
Hasil kajian bahaya harus merujuk pada hasil dari indeks,
daerah mana yang berpotensi banjir kekeringan dan puting
beliung, berapa besar potensi kejadian, harus dijelaskan
secara detail beserta alasan ilmiah yang melatar belakangi.
Untuk kajian bahaya iklim harus memberi nilai yang sama
(pembobotan) antara potensi kedepan dengan kejadian
historis. Penampakan peta harus memperlihatkan minimal
dua model dan skenario.

b. Kajian kerentanan dan Kajian kerentanan harus mempertimbangkan pendekatan,


keterpaparan kota atau metode, data dan analisis data yang dipilih. Indikator dan
wilayah atau sektor sub indikator yang disusun harus sesuai dengan tujuan
program. Buku panduan ini tidak menentukan indikator
dan sub indikator dalam membangun analisis kerentanan
dan keterpaparan. Deskripsi wilayah yang rentan dan yang
terpapar harus dijelaskan secara rinci. Termasuk di dalamnya
unsur Sensitivitas dan Kapasitas Adaptif sebagai unsur
kerentanan.
c. Pilihan program adaptasi ro r o
sektor harus mempertimbangkan analisis yang dihasilkan
dalam kajian risiko, bahaya, kerentanan dan bahaya.
Pertimbangan utama adalah hasil dari nilai indeks risiko.
Selanjutnya program-program tersebut harus diarahkan
pada menguatkan ketangguhan dengan mengurangi
kerentanan dan bahaya. Pegurangan kerentanan dan
bahaya dilakukan dengan mengurangi sensitivitas dan
bahaya dan menguatkan kapasitas adaptif melalui program
r ro r r r
pemangku kepentingan baik pemerintah, swasta, LSM
atau kelompok masyarakat terkait. Selain itu setiap
program harus dianalisis kemungkinan untuk masuk dalam
perencanaan daerah dan penganggaran daerah atau
kemungkinan untuk masuk dalam mainstriming di level
pemangku kebijakan.
, r
draft)

d. Daftar aksi adaptasi Dalam sub bab ini diterangkan secara singkat proses yang
sebagai dokumen aksi dibuat terkait penyusunan tabel aksi adaptasi, detail aksi
adaptasi kota-kabupaten adaptasi selanjutnya di jelaskan melalui tabel di dalam
atau wilayah lampiran dokumen

e. Batasan, update hasil dan Keterbatasan kajian, mekanisme yang akan direncanakan
tingkat ketidakpastian terkait update data karena perkembangan data dan teknologi
hasil kajian serta mekanisme perbaikan data-data yang masih dianggap
perlu kajian lebih lanjut

48 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
6. Diskripsi rekomendasi Rangkupan singkat poin per poin
kebijakan, perencanaan dan
dampak yang diharapkan
Rekomendasi
Rencana-rencana dari
dokumen dan dampak yang
diharapkan
7 Aturan perbaikan dokumen
(kedepan)
Perbaikan data
Perbaikan metodologi
Referensi atau daftar pustaka

Lampiran Lampiran 1. Tabel lampiran dokumen aksi adaptasi kota-kabupaten atau wilayah
Lampiran 2. Tabel bantuan monitoring dan evaluasi aksi adaptasi bulan ke-1
Lampiran 3.
Lampiran lain-lain
Foto dokumentasi proses kegiatan

49 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Lampiran

2
01. Analisis Bahaya Menggunakan Data Worldclim dengan Bantuan Arcgis dan Excel

Lampiran ini menerangkan tentang analisis unsur bahaya iklim dari data-data pemodelan iklim
internasional untuk membangun indeks risiko secara keseluruhan. Mengingat banyaknya
data dasar yang harus diproses, perlu tim khusus dan jadwal rinci terkait kegiatan tersebut.
Selain pakar spasial, diperlukan pakar iklim dan ahli analisis tabular untuk mengolah data-
data terkait. Komunikasi dan keterlibatan secara langsung dan atau tidak langsung dengan
institusi BMKG dan pihak terkait wajib dilakukan untuk mensinergikan hasil analisis yang
diharapkan.

Proses download data

Silahkan buka www.worldclim.com, lalu klik version 1.4, klik ‘current’ untuk data historis
dengan perhitungan dari beberapa dekade tahun dan ‘future’ untuk proyeksi iklim beberapa
dekade kemudian lengkap dengan model dan skenarionya. Untuk pilihan ‘current’, data
yang bisa didapatkan diantaranya curah hujan dan rata-rata suhu. Untuk data ‘future’, harus
terlebih dahulu membaca secara seksama penjelasan di halamannya. Di dalam ‘future’ ada
beberapa pilihan skenario, model dan variabel iklim seperti curah hujan, suhu dan lain-lain.
Sebagaimana standar yang diwajibkan dalam buku panduan ini, data yang diambil harus
menggunakan dua pemodelan dan dua skenario disetiap pemodelan. Untuk kedetailan data,
pilih ukuran ‘30 second’, yaitu ukuran data terdetail.

Gambar 10. Penampakan halaman data future.

50 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Setelah memilih data yang dimaksud, tinggal klik, dan tunggu sampai download selesai,
proses akan menunggu cukup lama karena kapasitas setiap data cukup tinggi. Setiap satu
kali download, akan menghasilkan 12 file yang menunjukkan 12 data bulanan. Setap file akan
memiliki nama yang merujuk pada properti dari file tersebut. Misal, ‘mc45pr5012.tif’, ‘mc’
menunjukkan model MIROC. ‘45’ menunjukkan skenario Rcp 45, ‘pr’ berarti curah hujan, ‘50’
berarti proyeksi 2050, ‘12’ berarti bulan ke-12 atau desember.

02. Proses Analisis Spasial Menggunakan Arcgis

Sebelum data iklim diproses, perlu untuk menyiapkan data-data penunjang sebagai berikut,
(1) data administratif lokasi kegiatan ekstensi .Shp tanpa sub polygon, misal data Kabupaten
Blitar, poligonnya hanya Kabupaten yang terkait, tanpa poligon turunan, kecamatan atau
desa, (2) data administratif lokasi kegiatan ekstensi .Shp dengan polygon turunan seperti
kecamatan atau desa.

Selanjutnya perlu disiapkan program olah spasial, dalam lampiran ini akan digunakan aplikasi
Arcgis 10. Langkah olah spasial ini dimulai dengan membuka Arcgis.

Gambar 11. Simbol Arcgis.

Buka satu file ((raster) dari hasil download (1 file berarti satu bulan)

Gambar 12. Contoh data raster.

51 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Gambar 13. Penampakan data raster.

Jangan kawatir bila data Indonesia tidak jelas, karena sebenarnya bila dipotong, akan
nampak sangat jelas. Untuk melakukan pemotongan, cari ‘Extract Mask’ dari tools pencarian
. Lalu masukkan file raster dengan klik simbol folder ke input raster. Masukkan file
.Shp administratif (disarankan menggunakan file .Shp ‘utuh’ tanpa polygon turunan: misal
propinsi tanpa polygon kota-kabupaten, kabupaten tanpa polygon kecamatan-desa) dengan
cara seperti cara memasukkan raster.

Untuk sementara biarkan nama output raster ditentukan secara otomatis. Setelah proses
selesai, save hasil proses dengan klik kanan di nama file, pilih ‘data’ lalu pilih ‘export’ data
dan buatlah file baru di folder yang anda inginkan.

Gambar 14. Contoh input di extract mask.

52 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Gambar 15. Cara menyimpan data dengan nama yang dibuat sendiri.

Cari Raster to polygon menggunakan tools pencarian , konversi raster ke file polygon
(.Shp). Untuk sementara biarkan nama output raster ditentukan oleh program. Setelah
proses selesai, save hasil proses dengan klik kanan di nama file, pilih ‘data’ lalu pilih ‘export’
data dan buatlah file baru di folder yang anda inginkan (sama seperti langkah export data
sebelumnya).

Lakukan proses union antara file raster yang sudah dalam bentuk polygon dengan file .Shp
yang memiliki polygon turunan seperti .Shp kabupaten yang memiliki turunan kecamatan
dan atau desa.

Gambar 16. Proses penggabungan SHP hasil konversi raster dengan wilayah administrasi
dan turunannya.

53 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Untuk menghitung dominasi variabel iklim misalnya hujan dalam satuan desa atau kecamatan,
terlebih dahulu rubah coordinat system ke UTM, klik kanan ‘layer’ di dashboard ‘table of
contents’, klik properties, klik ‘Coordinate System’, lalu pilih ‘Project Coordinate System’, lalu
pilih UTM, lalu pilih lagi ‘WGS 1984’, lalu pilih ‘Southerm Hamisphere’ dan pilih WGS 1984
UTM Zone 49S. Sekarang Coordinat system anda menggunakan UTM.

Gambar 17. Mengubah koordinat Geo ke UTM.

Untuk menghitung persen dominan per wilayah setelah perubahan sistem koordinat, ikuti
langkah berikut tambahkan tabel baru di ‘attribute table’; dengan klik kanan file hasil union,
klik ‘add field’ pilih ‘float’ di add field dan berikan nama ‘luas’ untuk field baru. Kolom baru
akan muncul di paling kanan tabel.

Gambar 18. Penghitungan luasan per administratif (desa, kecamatan atau sub wilayah).

54 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Selanjutnya klik kanan pada judul kolom baru tersebut, di contoh ini namanya ‘luas’, lalu
pilih ‘calculate geometry’, lalu pilih satuan luas, di contoh ini dipilih satuan kilometer (Km).
Selanjutnya akan secara otomatis muncul tabel luasan satuan kilometer.

Gambar 19. Penghitungan luasan per administratif (desa, kecamatan atau sub wilayah) 2.

03. Analisis Data Tabular Menggunakan Excel

Langkah selanjutnya untuk mengetahui faktor iklim dominan di satu lokasi (kecamatan,
desa atau satuan wilayah lebih), buka file yang memiliki ekstensi .Dbf dari file Arcgis terakhir
(yang telah ditambah kolom luasan) menggunakan folder program, file .Dbf tersebut lalu
buka dengan aplikasi excel. Setelah file telah terbuka di program excel, klik ‘Insert’ dan pilih
‘PivotTable’

Gambar 20. Proses analisis tabular menggunakan pivot excel.

Setelah masuk ke ‘PivotTable’, masukkan data desa (atau satuan wilayah terkecil dalam
analisis risiko) ke kolom ‘rows’, lalu masukkan data ‘luas’ dan ‘gridcode’ ke kolom values. Di
‘gridcode’ yang sudah dipindah di kolom values pilih ‘max of’, sehingga data yang muncul
setiap desa adalah data maksimal. Yang kemudian diolah untuk menjadi data Analisis Risiko.

55 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Gambar 21. Pengolahan menggunakan pivot.

Data-data yang dihasilkan tersebut selanjutnya diolah dalam tabel kompilasi Olah Data Iklim
untuk Analisis bahaya.

Tabel Contoh Bantuan Olah Data Iklim untuk Analisis Bahaya

Administrasi Model Skenario Data Iklim Bulan 1 Bulan 2 dst

Desa A MIROC5 Skenario Curah Hujan 100 mm 150 mm dst


Rcp 45

MIROC5 Skenario Curah hujan 110 mm 120 mm dst


Rcp 60

MIROC5 Skenario Suhu rata- 26 27 dst


Rcp 45 rata

MIROC5 Skenario Suhu rata- 25 26 dst


Rcp 60 rata

dan seterusnya

04. Memasukkan data Excel ke Arcgis

Untuk memasukkan data Excel yang sudah diolah ke dalam data spasial, terlebih dahulu
siapkan kolom kunci dimana data excel dan data arcgis (atribute) memiliki kesamaan,
misalnya kolom desa dari .Shp administratif desa. Kemudian buatlah tabel baru yang kolom
awalnya merupakan copy paste kolom desa dari data atribute .Shp Desa untuk dijadikan
kunci ketika nanti datanya digabungkan di Arcgis dalam ‘Joint’. Selanjutnya masukkan data
olahan excel berdasarkan ‘kunci kolom’ desa.

56 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Gambar 22. Kolom desa sebagai kunci kolom yang diolah dari atribute.

Untuk membuat ‘kolom kunci’, buka dari folder kolom tersebut, cari file .DBF, lalu tarik file
ke excel, otomatis data akan masuk.

Gambar 23. Data desa yang bisa dijadikan ‘kunci kolom’ di excel berformat .DBF.

57 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Copy paste kolom kunci, misalnya kolom Desa, ke sheet baru.

Gambar 24. Copy paste ‘kolom kunci’.

Gabungkan kolom kunci dengan hasil olahan Excel dari data Pivot (nama desa olahan pivot
didapat dari proses sebelumnya yang menggunakan file .Shp administratif desa yang sama
dengan kolom kunci). Untuk memasukkan data olahan pivot ke kolom kunci yang biasanya
acak dan tidak berurutan, maka sisakan satu atau dua kolom kosong diantara kolom kunci
dan kolom hasil olahan. Lalu masukkan rumus vlookup = VLOOKUP (lokasi kunci;tabel
yang dicocokkan;jumlah tabel;0), maka secara otomatis data olahan akan masuk ke desa
masing-masing.

Gambar 25. Proses otomatisasi pengisian hasil data pivot.

58 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Buat sheet baru hasil olahan vlookup dan tabel kunci. Simpan dalam format CSV (Comma
delimited)

Gambar 26. Data yang siap digabung dengan format .CSV.

Untuk menggabungkan dengan data shp, buka data .shp administratif desa yang kolom
desanya dijadikan ‘kolom kunci’. Pilih join, lalu isilah data join. Nomor 1 menunjukkan desa
sebagai kolom kunci file .shp, nomor 2 menunjukkan file excel yang akan di’join’ (dengan
nama kolom kunci yang sama). Nomer 3 menunjukkan kolom kunci di file excel.

Gambar 27. Proses joint data.

59 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Setelah selesai maka kolom excel yang memuat contoh informasi curah hujan akan
terintegrasi dengan atribute administratif.

Gambar 28. Hasil joint data dengan membuka ‘atribute’.

Untuk menunjukkan warna yang menggambarkan variabilitas iklim atau data iklim misalnya
curah hujan, klik properties dengan cara mengklik kanan file .Shp. Lalu pilih symbology, pilih
quantitative, dan graduated calors. Lalu di fields > values pilih curah hujan, secara otomatis
akan muncul warna berdasarkan kelas, lalu klik oke.

Gambar 29. Proses simbiologi kelas data.

60 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Selanjutnya akan muncul perbedaan warna seperti gambar di bawah ini, berdasarkan kelas
curah hujan. Sebagaimana acuan di panduan, untuk menganalisis indeks (misal banjir) maka
kelas tersebut (misal kelas frekuensi hujan di musim hujan) diubah dalam indeks bahaya
banjir indikator frekuansi hujan berdasarkan nilai bobot yang dicontohkan dalam panduan ini.

Gambar 30. Proses simbiologi dengan warna berdasarkan data kelas.

Proses yang sama dilakukan pada setiap data raster yang akan diolah baik suhu rata-rata,
curah hujan, suhu maksimal suhu minimal dan lain-lain. Data yang telah terkompilasi dalam
satu ‘kolom kunci’ misalnya desa dengan mudah dapat menganalisis proyeksi (dengan
o ro , o o r
di bawah ini.

Tabel contoh atribute file .Shp kompilasi hasil analisis iklim.

Desa gs45tn50_1 gs45tn50_2 gs45tn50_3 dst mi45tx50_1 mi45tx50_2 mi45tx50_3 dst

Desa A 19 20 19 dst 31 29 30 dst

Desa B 19 19 21 dst 29 29 30 dst

dst dst dst dst dst dst dst dst dst

61 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
Lampiran

3 Indikator-indikator Sub Bidang dan Klaster RAN API Indonesia

Sebagai rujukan dan pertimbangan untuk membangun indikator kerentanan terhadap


perubahan iklim dalam kajian risiko dokumen adaptasi ICCTF, RAN API telah mengembangkan
indikator ketahanan pada sub bidang dan klaster dari 5 bidang RAN API Indonesia.

Berikut indikator RAN API yang terkait sub bidang dan klaster berdasarkan Dokumen RAN
API, “Satu Tahun Rencana Aksi Nasional Perubahan Iklim:

a. Indikator Ketahanan Pangan


Indikator untuk mengukur ketahanan pangan adalah:
r , r r ro ro , r
tanaman pangan, (c) luasan lahan gagal panen, (d) jumlah penduduk rawan pangan
per tahun, (e) tingkat ketersediaan cadangan pangan dan (f) tersedianya infrastruktur,
teknologi dan kelembagaan pasca panen.
2. Akses Pangan dan Penghidupan, terdiri atas (a) persentase penduduk hidup di bawah
garis kemiskinan, (b) jumlah dan kualitas sarana dan pra sarana yang mendukung
kelancaran distribusi pangan, (c) jumlah kelembagaan distribusi pangan masyarakat,
(d) PDB/PDRB Perikanan dan Pertanian serta (e) Harga bahan pangan utama.
3. Pemanfaatan pangan, terdiri atas (a) prevalensi balita dengan berat badan rendah dan
gizi buruk, (b) persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih dan (c) konsumsi
pangan per kapita.

b. Indikator Kemandirian Energi


Indikator untuk mengukur kemandirian energi adalah:
1. Indikator ketersediaan, terdiri atas (a) jumlah produksi energi yang sumbernya sensitif
terhadap parameter iklim, (b) ketersediaan bahan baku pembangkitan energi yang
transportasinya dipengaruhi oleh gangguan iklim, (c) nilai kerusakan dan kerugian
akibat bencana hidro-meteorologis, (d) luasan lahan rehabilitasi dan reklamasi hutan di
daerah DAS dan (e) produktivitas jenis tanaman kayu energi.
2. Indikator Akses, terdiri atas (a) durasi pemadaman listrik/gas akibat bencana hidro-
meteorologi dan (b) penurunan intensitas energi di sektor rumah tangga dan industri
pada saat terjadinya bencana hidro-meteorologi.
3. Indikator Keberlanjutan, yaitu jumlah desa yang memanfaatkan sumber EBT di wilayah-
wilayah rawan bencana hidro-meteorologi.

c. Indikator Ketahanan Kesehatan


Indikator ketahanan kesehatan adalah sebagai berikut:
1. Indikator penduduk yang menderita malnutrisi, yaitu prevalensi balita dengan berata
badan rendah/gizi kurang dan buruk.
2. Indikator penurunan angka kematian, terdiri atas (a) Angka Kematian Bayi dan Balita
per 1000 kelahiran dan (b) Tingkat kematian akibat cuaca ekstrim dan bencana hidro-
meteorologi.
3. Indikator pengendalian penyebaran penyakit dan penurunan jumlah kasus baru, terdiri
atas (a) prevalensi penyakit yang dibawa oleh vektor, (b) prevalensi penyakit yang
disebarakan melalui udara dan (c) prevalensi penyakit yang disebarkan melalui air.

62 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
4. Indikator sarana dan pra-sarana kesehatan, terdiri atas (a) presentase kecamatan
dengan kesiapan pelayanan kesehatan tingkat pertama, (b) persentase kabupaten/ kota
dengan akses pelayanan kesehatan tingkat lanjutan dan (c) persentase ketersediaan
vaksin dan obat di seluruh fasilitas farmasi kabupaten.
5. Indikator kesehatan lingkungan yaitu presentase kabupaten/kota yang memenuhi
syarat kesehatan lingkungan.
6. Penguatan sistem kewaspadaan dan pemanfaatan sistem peringatan dini, terdiri
atas (a) jumlah provinsi yang menggunakan sistem peringatan dini, (b) jumlah desa
yang mengembangkan Participatory Adaptation Climate Change Transformation
dalam menyusun rencana aksi adaptasi masyarakat untuk bidang kesehatan dan (c)
Tersedianya peta kerentanan iklim bidang kesehatan tingkat nasional.
7. Regulasi, kapasitas kelembagaan dan IPTEK, terdiri atas (a) adanya kebijakan di tingkat
kabupaten dan provinsi yang berorientasi pada adaptasi perubahan iklim di bidang
kesehatan dan (b) jumlah produk/penelitian bidang kesehatan terkait perubahan iklim.

d. Indikator Ketahanan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil


Indikator untuk mengukur ketahanan pesisir dan pulau-pulau kecil adalah sebagai berikut:
1. Indikator Peningkatan Kesejahteraan dan kesiapan usaha masyarakat kelautan dan
perikanan dan pulau kecil, (a) rata-rata pembudidaya ikan, nelayan tangkap, pengolah
ikan dan petambak garam, (b) adanya sumber pendapatan alternatif bagi pelaku,
(c) ketersediaan informasi mengenai cuaca ekstrim, (d) jumlah unit pembenihan dan
pembudidayaan ikan yang memenuhi standar cara budidaya ikan yang baik, (e) Jumlah
kapal dan alat penangkap ikan yang memenuhi standar laik laut, laik tangkap dan
laik simpan, (f) Jumlah petambak garam rakyat yang menerapkan teknologi adaptif
dan sistem kelembagaan yang mendukung produksi garam Kualitas Produksi 1, (g)
Ragam produk olahan bernilai tambah, (h) Jumlah pelaky usaha dan masyarakat pulau
kecil yang dilatih dan disuluh tentang mitigasi bencana hidro-meterologi dan adaptasi
perubahan, (i) Jumlah desa pesisir tangguh, (j) Panjang pra-sarana pelindung pantai
yang dibangun dan dipelihara dan direhabilitasi, (k) Jumlah pulau kecil yang terfasilitasi
peningkatan kualitas lingkungannya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan (l)
Jumlah pulau kecil yang terfasilitasi sarana/pra-sarana air bersih.
2. Indikator Peningkatan pengelolaan SDKP secara berkelanjutan, terdiri atas (a) Jumlah
pulau kecil dan luasan kawasan yang terfasilitasi rehabilitasi ekosistem dan (b)
Tersedianya peta kerentanan perubahan iklim untuk wilayah pesisir dan pulau kecil.

Sementara itu indikator untuk Ketahanan Ekosistem, Ketahanan Infrastruktur masih dalam
proses kajian.

63 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
64 Buku Panduan Kajian Adaptasi ICCTF ADAPTANGGUH 0.2 - Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
ICCTF Secretariat
Wisma Bakrie 2 Building, 20th floor,
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B-2,
Jakarta 12920, Indonesia
P (62-21) 5794 5760
F (62-21) 5794 5759
E secretariat@icctf.or.id

w w w . i c c t f . o r. i d