Anda di halaman 1dari 37

Source: http://www.kaskus.co.

id/post/538f1c3aaf07e79f0b8b45df#

Seberkas Cahaya Diujung Senja


04-06-2014 20:16
PART 1 : Starts From Here

BRAAAKKKKK!!!!

Gue yang masih setengah sadar pagi itu, sekitar jam 4 subuh, dikejutkan oleh suara pintu kamar yang
dibuka paksa dari luar.

Quote: "PERGI KAMU DARI SINI!!!" ucap seorang pria yang muncul dibalik pintu itu.

Jantung gue berdebar kencang, gue masih belum bisa melihat dengan jelas karena keadaan
diruangan masih gelap, kepala gue juga masih pusing karena terbangun dengan kaget. Gue ngga
sendirian di kamar itu, seorang wanita dan seorang pria yang kurang gue kenal ada disamping gue
saat itu.

Dari raut wajah dan nada suaranya, tampaknya Laki-laki itu sedang marah, laki-laki yang mendobrak
pintu kamar dan membangunkan kami bertiga menunjukkan jarinya pada cowo yang ada disebelah
wanita di kamar ini.

Quote: "Keluar, atau aku habisi kamu disini!!!" Ucapnya dengan nada emosi dan pandangan yang

tajam

Si cowok yang masih baru bangun dan kebingungan ini pun langsung bergegas mengemasi
barangnya dan tampak sedikit gugup berjalan keluar, badannya tampak gemetar, ga ada sepatah
katapun yang dia keluarkan.

Setelah cowok itu keluar, wanita disamping gue beranjak menghampiri lelaki yang masih berdiri di
depan pintu kamar.

Quote: "Aku bisa jelasin, please....tolong jangan marah dulu" ucap wanita itu sambil memegang

tangan lelaki yang disebelahnya.

tampaknya dia sedang memohon, memohon untuk diberi kesempatan agar bisa menjelaskan
tentang apa yang barusan lelaki itu lihat tidaklah seperti yang dia bayangkan.

Quote: "Aku ga butuh penjelasanmu, sekarang kamu kemasi semua barang-barangmu, dan keluar

dari rumah ini, secepatnya!!" Ucap lelaki itu

Sepertinya si lelaki sudah tidak mau menerima apapun penjelasan dari wanita itu, pikirannya sudah
kalut dan hatinya sudah dikuasai emosi.

Gue? Gue hanya duduk diatas kasur memandang semua kejadian itu, bingung, deg-deg'an, mau
nangis tapi ga ada setetes pun air mata yang keluar dari mata gue.. Gue belum bisa mencerna
sepenuhnya mengenai apa yang barusan terjadi di depan mata gue.

Quote: "Bud.."

"Budi.." sayup-sayup gue mendengar ada yang manggil nama gue, perlahan suara itu makin jelas.

"Bud..woyyy!!!" Suara itu sudah sangat jelas di samping kanan telinga gue, ditambah dengan satu

goncangan di tubuh gue dari tangan seseorang yang manggil gue tadi.

"Aduh, sial! Gue ngelamun lagi nih..!" batin gue

"Eh..apa'an sih lo ah, ngga ngenakin orang ngelamun aja" jawab gue setelah sadar.

"Ya elah, siang bolong gini malah ngelamun, kesambet lo!" tegur cowo disebelah gue

"Ngelamunin siapa lo? Siska? Udahlah, relain aja..anggep aja bukan jodoh" tambahnya kemudian

"Sembarangan, bukan tau..Eh, mana nasi gue? Bukannya tadi gue nitip beliin nasi campur di depan

ya?" jawab gue

"Lah, tuh di depan lo..udah daritadi kalee, lo sih ngelamunin Siska mulu.." ucapnya

"Oh..hehe.. Kirain lo lupa" jawab gue sambil nyengir, kemudian meraih nasi bungkus di depan gue

yang udah dibeliin sama Teguh barusan.

Gue bekerja di sebuah agent properti di suatu kota besar di Jawa Timur, posisi gue disana sebagai
marketing saat itu, dan sekitar 9 bulanan gue udah bekerja disana.
Teguh itu temen kantor gue, bisa dibilang satu-satunya temen deket gue di kantor itu, karena dari
pribadi gue sendiri, gue adalah orang yang cukup sulit untuk membangun hubungan sosial dengan
lingkungan sekitar, maka kalau ditanya temen? Mungkin bisa dihitung dengan dua tangan aja yang
deket sama gue.

Akhir-akhir ini memang gue sering ngelamun. Bukan, bukan ngelamunin Siska seperti yang Teguh
tadi bilang, bukan juga ngelamunin Megan Fox atau Keira Knightley maupun Sora aoi (Sora atau Sola
sih?haha).
Tapi pikiran gue sering mendadak kembali ke masa lalu. Ingatan-ingatan dari masa kecil gue, masa
waktu gue SMP, sampe masa-masa waktu gue SMK sering muncul di ingatan gue beberapa bulan
terakhir ini.
Dan tadi, yang barusan gue lamunin, adalah masa kecil gue.

Yup! Sosok wanita dan pria dalam lamunan gue tadi adalah mama dan papa gue, sosok cowo yang ga
seberapa gue kenal tadi? Well, sampe sekarang gue ga tau, dan ga mau tau.
Gue berangkat dari sebuah keluarga yang broken, mama dan papa gue cerai waktu gue masih
sekitaran umur 4 taun, dan gue dengan kakak gue yang cewek memutuskan untuk ikut papa,
terakhir gue denger kabar tentang mama gue skitar 18 taun yang lalu, dia pulang ke kampung
halamannya kemudian merit lagi dan sudah punya anak 3.
Setelah itu gue udah bener-bener lost contact sampe sekarang.

Papa gue memutuskan untuk ga menikah lagi semenjak dia cerai dengan mama gue, alhasil kami
berdua (gue dan kakak) beranjak dewasa tanpa kasih sayang seorang mama.
But, as a father, He is done his job verry well. Thanks, Pa.

Kenalin, nama gue Budi.


Dan ini adalah sepenggal kisah dari hidup gue..

PART 2 : Namanya Siska


04-06-2014 21:23
01 September 2007

Sekitar dua bulan setelah pengumuman kelulusan gue, gue diterima kerja di salah satu agent
properti tempat gue menaruh lamaran sekitaran awal agustus kemaren, dan hari ini adalah
hari pertama gue bekerja.

Gue ambil jurusan otomotif di SMK, tapi entahlah gue malah terdampar dengan disengaja
menjadi seorang marketing properti disini, sementara beberapa temen SMK gue yang lain ada
yang sesuai jalurnya yaitu menjadi mekanik di beberapa bengkel besar di kota ini, tapi ada
juga yang melenceng seperti gue malah menjadi staff admin di salah satu perusahaan penerbit
dan percetakan besar yang berinisial KG, banyak juga yang akhirnya memutuskan untuk
meneruskan kuliah, atau jadi pengacara (baca: pengangguran) dulu untuk sementara.

Quote: "Jadi hari ini nanti kamu ikut sama Siska dulu ya, nanti biar Siska yang ngajarin dan
njelasin semua-semua yang perlu kamu pelajari dan ketahui." ujar pak Anton, salah seorang
supervisor di kantor gue yang terbilang masih muda.

"Oh..iya Pak.." jawab gue sambil menganggukkan kepala

"ya udah, sebentar saya panggilkan Siska nya dulu" ucapnya lagi sambil mengambil gagang
telepon extension untuk menghubungi cewek yang dia sebut Siska tadi.
ga lama kemudian terdengar suara pintu dibuka dibelakang gue.
"Klik.."
"Permisi pak"

"Iya, Sis..tolong ini kamu ajari anak baru ya, dampingi dia dulu selama kurang lebih
sebulan kedepan, kamu ajarin dah semuanya dari prosedur order, presentasi, apa-apa aja
pokoknya yang perlu dia ketahui, ya?" ujar pak Anton

"Oh..iya pak.." Jawab siska

"Ya udah, silahkan Bud, kamu ikut Siska.." ucap Pak Anton sambil ngeliat ke gue

Gue mengangguk, "Saya permisi dulu kalau begitu pak" ucap gue kemudian sambil berdiri,
pak Anton mengangguk.

Gue noleh, baru deh gue ngeliat seperti apa sosok Siska yang disuruh ngajarin dan nemenin
gue selama sebulan ini.
"Wuih, cantik juga ternyata.." batin gue dalam hati.

Rambutnya lurus hitam dengan panjang sekitar sepinggang dan sedikit poni di depan,
matanya cukup sipit tapi ga terlalu terlihat sipitnya karena tertutup kaca mata dengan lensa
berbentuk kotak yang ga terlalu besar dengan bingkai hitam.
Umurnya mungkin 20an, tingginya sekitar 170an taksiran gue saat itu, tapi belakangan gue
tau angka pastinya, ternyata 167.
Dia mengenakan kemeja putih yang ditutup blazer warna hitam yang senada dengan rok span
dan warna sepatunya.
Cantik, dan seksi. Itu yang terlintas dalam pikiran gue saat pertama ngeliat dia.

Quote: "Mari, silahkan.." ucapan Siska yang seolah sadar bahwa gue memandangnya sedikit
terlalu lama

"oh..iya..hehe" jawab gue

Kami berdua melangkah keluar dari ruangan pak Anton.

Quote: "Siska.." ucapnya sambil senyum dan menyodorkan jabat tangan ke gue

"Budi.." jawab gue dengan menyambut jabat tangannya


"Dingin banget, grogi ya?haha" ujarnya kemudian setelah berjabat tangan dengan gue

"Hahaha..iya nih.." jawab gue

"Biasalah, hari pertama emang selalu seperti itu.." kata dia sambil ngeliat gue, gue cuman
senyum

"Btw, sebelumnya udah pernah kerja dimana?" tanyanya lagi

"Belum pernah kok..ini pertama kalinya kerja..hehe" jawab gue sambil nyengir

"Oh..hahaha.. Masih kecil berarti ya.." jawabnya sambil ketawa

"Hehe..iya, masih kecil.." ucap gue "tapi kecil-kecil gini juga udah bisa bikin anak kecil"
gumam gue dalem hati

"Jadi..aku manggilnya apa nih? Kakak? Cece? Mbak?" tanya gue

"Hadeeuuhh..panggil nama aja ga papa, santai ajaa.." jawab Siska

Seharian gue ngekor dibelakang Siska, diajarin semua teori yang sekiranya gue perlukan
untuk kelangsungan hidup gue di kantor ini kedepan. Rasanya udah overload otak gue,
bayangin aja bocah yang baru lulus sekolah yang selama ini disekolahnya diajarin gimana
cara ngelepas busi yang baik dan benar kini harus ngapalin manual book dan product
knowledge tentang jenis perumahan dan macem-macemnya.

Quote: "Lo sepertinya pendiem ya, Bud?" tanya Siska ke gue sore itu waktu kita sedang di
pantry

"Hah? Eh, ehm.. Ngga juga sih, mungkin karena kita baru kenal aja..hehe" jawab gue
sambil menyeduh teh panas.
Iya, gue pendiem, gue tertutup orangnya, gue sulit untuk banyak ngobrol sama orang yang
gue belum akrab dan kenal sepenuhnya.

"Oh..gitu ya, tapi kalo marketing mesti banyak ngomong loh Bud, mesti pinter-pinter
ngerayu customer juga.." katanya sambil nyengir

"Hehe, iya sih ya..kalo marketingnya diem mulu gimana bisa closing.." jawab gue meng-
iyakan

"Nah..tuh tau.." sahut Siska.

Gue introvert dari kecil, masa kecil gue boleh dibilang kurang bahagia, gue sering diremehin
dan direndahin sama temen sekolah gue waktu gue SD dulu, gimana engga? Gue ngitung
tambah-tambahan sama kurang-kurangan di satuan ratusan aja gue ga bisa padahal udah kelas
3.
Dari situlah gue menjelma jadi pribadi yang tertutup, minder, pemalu, pendiem, ga punya
temen, sampe gue lulus SMP.

Quote: "Eh, bro..pinjem bolpennya bentar dong" Suara seorang cowo mengagetkan gue yang
lagi baca-baca koran pagi itu

"Eh, hmm..ini mas.." jawab gue sambil menyodorkan bolpen yang gue ambil dari saku
baju, terlihat cowo itu sedang menanda tangani kertas yang dia taruh dimeja

"Itu kertas apa mas namanya?" tanya gue kepo

"Ini namanya kertas pengajuan order, jadi setelah closing nanti customer sign disini kitanya
sign di sebelah sini, setelah itu baru kita serahkan ke admin, nanti admin yang mroses
selanjutnya..kita tinggal follow-up aja" jawab cowo itu

"Eh iya, nama lo siapa?" imbuhnya

"Budi mas.." jawab gue

"Oh, gue Teguh..btw, ga usah manggil mas segala lah, keliatan tua nya gue" ucapnya
sambil ketawa

Begitulah awal perkenalan gue dengan Teguh. Dan beberapa hari gue kerja disana, kegiatan
gue dikantor masih sama seperti sebelumnya, berkutat dengan buku 'pelajaran' dan ngikutin
kemana Siska pergi, gue dan Siska mulai dekat, gitu juga gue dengan teguh semakin akrab.

Quote: Sepertinya gue mulai tertarik dengannya, dengan Siska, bukan dengan Teguh..
PART 3 : Secangkir Kopi di Suatu Senja
05-06-2014 11:26
Quote: "Lah..mo ngapain lo?" tanya Siska siang itu ke gue

"Kan, kata pak Anton gue disuruh ngikutin lo kemana-mana.." jawab gue

"Ya tapi ga ke kamar mandi juga kaleeee...budd,,." ujar Siska sambil nyubit lengan gue

"Hahahaha..." jawab gue sambil ngeloyor pergi ninggalin dia di depan pintu toilet

Siang itu para staff marketing dikumpulin di ruangannya pak Anton, kita di briefing karena
rupanya penjualan masih belum menampakkan kemajuan padahal udah pertengahan bulan.
Terlihat semua wajah menunduk mendengarkan pak Anton berceramah, termasuk Siska yang
ada disamping gue.

Quote: "Bud, ntar lo pulang naek apa?" tanya Siska setelah kita keluar dari ruangan pak Anton

"Naek elang, kenapa emangnya?" jawab gue

"Sialan..serius Bud.." sahut siska

"Hahaha..naek motor lah sis, bukannya lo udah beberapa ngeliat gue waktu pulang?" jawab
gue

"hehehe.. Gue bareng sampe perempatan depan boleh ya?" ujar Siska sambil nyengir

"Ga boleh.." Gue

"Lah..pelit lo ah!" jawab Siska sambil sewot

"Ga boleh..kalo cuma sampe perempatan, kalo sampe rumah boleh..hehe"


"Lagian ngapain juga lo turun perempatan Sis, masih kesorean mah jam segitu buat nyari
om-om" tambah gue sambil ketawa

"Wahahahahaha, sopan lo ye!!! Maksud gue ntar gue naek angkot di sana.. Tapi ya uda deh,
lo anterin sampe kost gue entar" dia nyengir lagi
"Hahahaha gitu dong..pake sungkan-sungkan segala awalnya tadi" ujar gue, Siska cuma
nyengir.

Gue udah ga asing dekat dengan sosok yang namanya wanita sejak gue SMK, padahal
sebelum-sebelumnya gue ga berani ngedeketin mereka, boro-boro ndeketin, dijejerin aja gue
udah keringet dingin.
Tapi semua berubah..semua berubah sejak negara api menyerang, bukan, semua berubah
sejak gue dikenalin dan akhirnya pacaran sama cewek SMA sebelah waktu gue kelas dua.

Dari situ gue pertama kali kenal namanya kissing, necking, sampai petting. Siapa sosok
cewek itu? Mungkin nanti di depan akan gue bahas sekilas.
Sejak itu gue perlahan mulai berubah dari sosok yang mengurung diri terhadap cewek,
menjadi sosok yang sering gonta-ganti pacar.

Memang, masa-masa SMK merupakan masa yang banyak membawa perubahan dalam hidup
gue. Gue yang awalnya terbilang polos dan anak rumahan jadi suka kelayapan.

Ah..gue jadi inget pertama kali gue cabut sekolah, waktu itu gue masih kelas satu di semester
dua, seperti cerita-cerita anak SMA gue juga punya geng sendiri saat itu, sekitaran 6 anak
termasuk gue. Salah satu anak dalm geng tersebut ada yang namanya Steven, dia yang paling
tajir diantara kita. Rumahnya ga jauh dari sekolah, terbilang lumayan gede dan cuma ada
pembantunya dari pagi-sore karena kedua ortunya sibuk kerja.

Entah setan mana pagi itu yang menghampiri gue yang membuat gue meng-iyakan ide gila
dari mereka untuk cabut dari sekolah, and that's my first time. Kita cabut berenam
dirumahnya Steven, main PS, ngerokok, buy some drink, and finally..mbokep berjama'ah
(disingkat, MB).. Dimana-mana yang disebut berjama'ah biasanya sholat, ini malah ngelakuin
maksiat..

Ditengah-tengah seriusnya kita nonton tuh adegan, saat semua mata terpana, dan semua kaki
dinaikin ke sofa serta dilipat rapat-rapat, tiba-tiba Rangga, salah satu temen gue berteriak

Quote: "Wanjreeetttt!!! Rudi crott di celana" teriaknya sambil tangannya megangin kaki si
Rudi biar ga bisa menutup barang bukti.

Sontak semua mata yang tadinya ngeliat layar tipi langsung beralih ke celana bagian
tengahnya si Rudi, dan emang bener, ada cairan yang membentuk sebuah kepulauan di celana
kainnya yang berwarna abu-abu itu.

Quote: "Wahahahahahah!!!" semua ketawa waktu itu, Rudi mukanya merah merona. Beberapa
kali kita reuni masih aja ketawa kalo mengingat hal ini.

Parah emang si Rudi..baru ngeliat aja udah ga kuat..


Quote: "Bud, yuk cabut.." Tegur siska ke gue

"Eh, baru jam berapa ini? Belum waktunya pulang.." jawab gue sambil ngeliat jam di
komputer

"Udah jam 4 broooo... Betah amat lo di kantor.." ujarnya lagi

"Oh, udah ya?..hehe kirain masih jam 3an.. Ya udah bentar, gue mau ke toilet dulu.." ucap
gue sambil beranjak ke toilet

Sore itu gue pulang bareng Siska, matahari masih bersinar cerah rupanya, sore yang
menyenangkan untuk jalan-jalan.

Quote: "Sis, lo suka ngopi ga?" tanya gue sambil nyetir ditengah perjalanan

"Suka sih..kenapa mang nya?" Jawab Siska

"Ngopi bentar di cafe depan situ yuk, mau ga?" Gue

"Boleh dah.." Siska

Kita berhenti di salah satu cafe yang ga seberapa jauh dari kantor, sore itu gue nongkrong
ditemani secangkir Cappucinno, dan Siska waktu itu pesan segelas frapucinno.

Sore itu kita habiskan dengan banyak ngobrol dan saling mengenal lebih lagi satu sama lain.
Ngimpi apa gue bisa deket sama salah satu sosok yang sangat di-idolakan di kantor gue.

Quote: Semua kejadian di masa lalu adalah proses yang membentuk siapa kita hari ini..

PART 4 : She's Just Too Perfect


05-06-2014 20:39
Quote: “Eh, mulai senin depan lo udah mulai ikut gue prospek ya..” ucap Siska setelah
mencecap kopinya

“Hmm? Jadi.. gue ikut lo keluar gitu? Nemuin customer sama presentasi?” Tanya gue
“Iya, kan udah dua mingguan nih lo stay di kantor doang..nah, mulai minggu depan deh
ikut gue di lapangan..marketing kan medan perangnya di lapangan” Ujar Siska menjelaskan

“Wah, asekk..jadi mulai senin besok gue udah mulai ikut turun berperang nih..” jawab gue
sambil nyengir

“Hahahaha...” Siska cuma ketawa

Siska tipe cewe yang mudah bergaul, dia bisa menyesuaikan dirinya dimanapun dia berada
dan dengan siapapun dia berbicara, itu sebabnya gue (dan mungkin semua orang) selalu
nyambung berbicara dengannya, dari cara bicara dan kata-katanya gue tau kalau dia cewe
yang smart, dan itu yang bikin gue tertarik sama dia selain kecantikannya.

Agak susah sepertinya bagi kita kaum pria untuk menemukan sosok wanita yang selain
cantik, tapi juga pintar, bener kan? Cantik banyak..tapi karena mereka merasa aman dengan
kecantikannya kebanyakan dari mereka berpikir bahwa pria tak akan menilai kepintarannya,
padahal ga semua pria terpesona hanya pada kecantikan.

Time flies... ga terasa udah hampir tiga jam gue dan Siska ngobrol, dan gelas kita berdua pun
sudah kosong meninggalkan sedikit jejak kopi yang mulai mengering.

Quote: “Sis..udah gelap ternyata ya..” jawab gue sambil memandang keluar

“Eh, iya ya?hahaha ga kerasa lama juga kita ngobrol tadi..” ucapnya sambil ngeliat keluar
jendela juga

“Ya udah yuk, gue anterin lo pulang sekarang..ntar kemaleman..” ujar gue
“Btw, rumah lo di daerah mana sih?” tambah gue

“Gue nge-kos disini Bud, kan tadi di kantor gue udah sempet bilang anterin ke kost.. rumah
gue mah di klaten..” jawabnya

“wohoho..cah klaten toh tibak’e, klaten kok iso nyasar mrene ki piye e..?” (anak klaten toh
ternyata, klaten kok bisa nyasar disini gimana tuh) Tanya gue

“lah aku mbiyen kuliah ning kene og..” ucap Siska (lha aku dulu kuliah disini kok)

“Hahahaha..” Gue ketawa, geli juga ngeliat bahasa Siska yang biasanya ga pernah make
bahasa jawa di depan gue kini malah kita ngobrol pake bahasa jawa.

“Ya udah yuk ah, ga selesai-selesai ini mah kalo diterusin..” katanya kemudian sambil
mengemasi dompet dan hapenya yang dia taruh di meja.

Sore itu ditutup dengan gue nganterin Siska ke kost nya dan gue balik ke rumah sambil
cengar-cengir sendiri di perjalanan..

Udah hampir sebulan gue kerja disini, dan sejak senin minggu kemarin gue udah mulai ikut
Siska untuk langsung terjun ke lapangan. Gue diajarin gimana cara bikin appointment,
gimana cara nentuin hari dan tempat ketemuan, diajarin cara persentasi yang baik dan benar,
bedanya kali ini gue diajarinnya dengan langsung praktek, sudah bukan teori lagi.

Quote: “Bud, kali ini lo yang persentasi ya..” Ucap Siska disuatu siang waktu kita lagi
nungguin prospek dateng di salah satu mall di kota ini.

“Hah?? Serius???” Tanya gue

“Iya, serius..kan lo udah cukup sering tuh ngeliat gue presentasi, sekarang gantian gue yang
liat lo perform, sekalian mau liat udah sejauh mana progress lo..” katanya

“Oh..gitu ya, oke..oke” Jawab gue dengan masih setengah ragu sebenernya, ini pertama
kalinya gue presentasi, gue gugup, takut, dan deg-deg’an banget.

“Tapi..kalo ntar gue nge-blank ditengah-tengah.. bantuin yak.. ” gue ngomong ke Siska

“Tenang aja..beresss...hehe” Jawab Siska.

Ga lama kemudian calon customer kita dateng, setelah basa-basi sebentar dan gue rasa cukup
sesi perkenalannya, mulailah gue menjabarkan dan mem-presentasikan produk yang mau gue
jual ke dia.
Awal-awal gue masih sering berhenti, mencoba mengingat apa aja yang perlu disampaikan,
tapi Siska langsung menyahut ketika dia ngeliat gue berhenti.
Overall, presentasi gue hari itu bisa dibilang cukup lancar lah. yah.... meskipun si calon
pembeli ga langsung closing dan beli saat itu juga.

Quote: “Hahahaha...sumpah, nahan ketawa gue tadi selama di dalem..” Ujar Siska ke gue
setelah kita keluar dari mall

“Yeee..malah diketawain..grogi banget gue tadi di dalem Sis..” Gue


“Hahahaha..iya, dan muka lo waktu grogi tadi itu lucu banget Bud, udah kayak maling
ketangkep, pucet, gugup..hahaha” jawabnya sambil masih ketawa, dia melepas kacamata
nya sesaat untuk mengelap matanya yang berair karena terlalu banyak ketawa.

“Hahahaha..Siskaaaa!! awas lo ye, girang banget..huh!! eh tapi asyik juga ya ternyata,


besok gue mau coba lagi deh..” jawab gue

“Hehehe.. seru kan? Itulah kenapa gue mau jadi marketing, kita ga bisa tau orang seperti
apa yang kita temuin, tipenya gimana, sifatnya gimana, banyak belajar dari situ jadinya
kita..” ucap Siska menjelaskan

“Hehe, iya bener..aku baru kali ini ngelakuin hal yang seperti ini, sepertinya ini tadi
pertama kalinya gue omong bayak sama orang yang baru gue kenal dan baru pertama
ketemu..” ujar gue
“Anyway, thanks ya Sis tadi udah ngebantuin selama aku presentasi..” tambah gue sambil
noleh ke dia

“No need to thanks, Bud.. udah tugasku juga kali..” jawabnya

Gue anterin Siska pulang setelah sebelumnya kita mampir makan nasi goreng dulu di warung
pinggir jalan.

Quote: Baik.. Pinter.. Cantik.. Seorang wanita yang terlalu sempur

PART 5 : Why You Crying?


05-06-2014 21:53
05 Oktober 2007

Udah sebulan lebih gue kerja disini, dan sudah hampir seminggu gue udah ngga ditemenin
Siska lagi kemana-mana, gue udah dilepas untuk jalan sendiri.
Hubungan gue dan Siska makin deket meskipun kita udah ga bareng, tapi tiap ketemu di
kantor waktu pagi atau waktu sore sepulang kerja gue dan dia selalu sempetin untuk
komunikasi, entah itu sekedar nge-teh bareng di pantry, atau jalan bareng ke mall bareng
anak-anak kantor.

Gue udah ada rasa sama dia, tapi kadang gue dibuat bingung, kadang gue ngerasa dia suka
sama gue, tapi kadang gue ngerasa dia cuman nganggap gue sebagai sahabatnya doang, itu
yang menyebabkan gue masih berpikir untuk nyatain perasan gue ke dia.

Quote: "Bud.. Lo udah pacaran ye ama Siska?" Tanya Teguh waktu dia main ke meja gue

"Hah? Engga kok.. Cuman baru deket aja.." jawab gue

"Masa...anak-anak kantor kok udah pada nggosipin kalian udah jadian ya?" tanya Teguh
lagi

"Haealahhh.. Jadian dari hongkong, nembak aja belum.." ujar gue

"Oh..tapi lo ada rasa kan sama dia?" Teguh ngeliat gue

"Hm.. Cowok mana sih yang ga suka sama dia, udah pinter, cantik, baik pula.." jawab gue
ngegantung pertanyaannya

"ada..gue.. Gue ga ada rasa tuh sama dia, weee..!!!" jawab Teguh sambil mencibir

"Oh ya jelas.. Lo kan homo, Guh.." jawab gue sambil ngeliat dia n ngetip-ngetipin mata ke
dia

"mwahahah sialan lo!!" Teguh ketawa sambil mukul ringan lengan gue

"Btw, kayaknya saingan lo bakal banyak Bud, hampir semua cowok single di kantor ini
naksir sama Siska" tambah Teguh

"iye..gue tau kok, makanya kan tadi gue bilang, cowok mana yang ga suka sama Siska.."

"Hmm.. Ya udah deh, gue doain aja moga jalan lo dimudahkan, amal ibadah lo diterima,
dan lo dihindarkan dari siksa neraka.." Teguh nyengir ke gue

"Anjriittt!! Doa lo udah kayak gue mo mati aja guh! wahahahhaha" jawab gue sambil
ketawa dan disusul dengan ketawanya Teguh juga.
"Eh Guh! Guh!" Gue

"Yess?" jawab Teguh sambil noleh karena tadi dia udah mau beranjak pergi

"Ntar sore lo ada acara ga?" Gue

"ga ada kok, kenapa? Mo ngajak gue kencan?" Teguh

"Asli dah Guh, homo tulen lo!" Gue

"Hahahaha.. Kenapa bud? Serius ini.."

"Engga, kemaren kan gaji pertama gue, yaa..gue mau berbagi berkatlah sama temen-temen
deket gue disini.." Gue

"Gayaa loo....temen-temen deket... emang ada berapa temen deket lo disini?" tanya Teguh
yang memang tau pasti kalo temen gue di kantor ya cuman dia sama Siska

"Cuman dua sih..hehe" Gue nyengir

"Hahahaha..ya udah, ntar pulang kerja yak!" Teguh

"Okeh, sippp...!"

Ga lama kemudian gue sms Siska, karena gue liat di mejanya dia ngga ada, mungkin lagi ada
appointment.

Quote: 15.05 : "Sis, lagi prospek? Selese jam brapa kira-kira?" Sms gue
15.23 : "Ini dah kelar kok, cuman masih nongkrong. kenapa Bud?" Balesnya
15.25 : "Ntar pulang kerja jalan yuk, sama Teguh juga" Gue
15.30 : "Boleh, kemana? Ntar aku langsung nyusul ke lokasi aja ya, males balik kantor lagi
soalnya" Siska
15.31 : "Oh, ya udah ntar ketemuan aja di Grand** deh.." Gue
15.37 : "Ok..." Siska

Sepulang kerja gue langsung berkemasdan ngampirin Teguh di meja nya..

Quote: “Udah bro?” tanya gue saat sampai di meja nya.


“Eh, udah kok..Siska nya mana?” Teguh

“Dia langsung nyusul kesana ntar, males balik kantor lagi katanya..” Jawab gue

“Oh..ya dah yuk cabut.” Teguh

“Eh bentar, satu motor apa sendiri-sendiri neh?” tanya gue

“Sendiri-sendiri aja ya, ntar ga ada yang ngelirik gue kalo kita boncengan mah..” Teguh
nyengir

“Hahahaha..iyalah, semua cewek ngeliriknya ke gue..” Jawab gue sambil ketawa juga

“Sialan..” sahut Teguh

Gaji pertama gue memang masih kalah jauh dengan Siska dan Teguh, secara baru satu bulan
gue kerja, komisi penjualan pun gue belum ada karena gue memang belum menjual apapun,
beda dengan mereka berdua yang minimal dalam sebulan bisa jual 2 rumah, apalagi Siska,
prestasinya udah terkenal di kantor ini, penjualannya per bulan selalu kisaran angka 3-5 biji
rumah, kebayang deh komisinya segede apa.

Gue dan Teguh udah di lokasi, gue liat hape dan ternyata Siska juga udah sampe, dia
nungguin kita di foodcourt.

Quote: “Hei..Sis, udah daritadi?” Ucap gue waktu ketemu Siska di foodcourt

“Barusan kok...baru aja nyampe..” Jawabnya

“Haloo..Sis..hehehe” sapa Teguh ke Siska sambil melambaikan tangan

“Heii Guh..” Siska membalas sapaan Teguh dengan senyuman..

Ada yang sedikit berbeda dengan Siska sore itu, entahlah, tapi sepertinya dia habis
menangis..terlihat dari matanya yang sedikit sembab dan suaranya yang agak bindeng dan
serak.
Tapi gue ga berani menanyakan hal itu ke Siska, selain gue takut itu akan merusak mood nya,
gue juga sadar disitu ada Teguh, tentu akan jadi hal yang agak kurang mengenakkan bagi
Siska kalo gue menanyakannya.

Setelah cukup basa-basi, kita jalan bareng menuju ke salah satu resto di mall itu, dan sepakat
nanti selesai makan kita mau karaokean bareng bertiga. Setelah semua perut terisi dengan
kenyang, kita masuk ke tempat karaoke, pesen room yang small dengan durasi dua jam.
Kita nyanyi bareng-bareng dan gila-gila'an di dalem, melepaskan sementara semua beban
pekerjaan dan apapun masalah yang ada, “rupanya Siska punya suara yang lumayan juga”
gumam gue dalam hati saat meliriknya yang sedang bernyanyi..

Tapi tunggu... ada sesuatu yang berkilat memantulkan sedikit cahaya di ruangan karaoke
yang gelap itu.. iya, ada sesuatu yang tampak mengalir dari ujung matanya yang tanpa
kacamata saat itu.

Quote: Siska meneteskan air mata..

PART 6 : Complicated Life


06-06-2014 16:03
Quote: "Tadi di dalem kenapa nangis, Sis?" Tanya gue ke Siska waktu kita lagi jalan ke
parkiran, Teguh udah pamit balik duluan karena dia lupa ada janji lagi sama temennya yang
lain

"Hah? Eh..engga kok, siapa yang nangis?hehe" Jawab Siska dengan gugup

"Oh..engga ya?hehe mungkin gue yang salah liat.." ucap gue mengalah, karena memang
gue ga mau mendesak Siska untuk cerita

"Ya udah, ati-ati pulangnya ya..kalo ada yang mau diceritain ntar kontek aja.." Tambah
gue, ketika kita udah sampe di parkiran

"He'em..thanks ya Bud buat hari ini.." Ucap Siska ke gue sambil tersenyum, kemudian dia
berbalik dan berjalan ke arah motornya

Gue masih yakin banget kalo tadi beneran gue ngeliat Siska nangis waktu kita di ruang
karaoke, gue masih penasaran sebenernya kenapa dia nangis, yah..tapi mungkin dia belum
bisa menceritakan apa yang sedang dia rasakan.

Baru aja gue nyampe rumah, sekitar jam 9an waktu itu, hape gue berdering dan gue liat
"Siska" di incoming call name nya

Quote: "Ya, Sis?" jawab gue

"Bud.." Suara siska terdengar parau di telepon


"Sis..kenapa?" Tanya gue heran

"Bud..Lo bisa ke kost gue sekarang ngga?" ucapnya, kali ini jelas kedengeran dia sedang
nangis

"Oke..oke, lo tunggu ya, gue meluncur kesana.." jawab gue spontan

Gue matiin telepon dan langsung pamit keluar lagi sama orang rumah, sepanjang perjalanan
ke kost'nya Siska gue deg-deg'an tapi juga penasaran, ada apa dengan Siska kok jam segini
dia telpon gue sambil nangis sampe nyuruh gue dateng ke kostnya.

Sampe di kostnya gue langsung masuk dan naik ke lantai dua, gue udah pernah ke kostnya
beberapa kali waktu nganterin dia pulang kerja, kostnya memang khusus pekerja dan campur
cowok-cewek.

Gue sampai di depan kamarnya, pintu kamarnya tertutup..

Quote: "Sis.." Ujar gue waktu itu sambil mengetuk pintu kostnya
"Siska.." sunyi..ga ada jawaban dan ga ada tanda-tanda ada kehidupan di dalam

Cukup lama gue berulang kali manggil namanya dan ngetok pintu kamarnya, tapi tetep ga
ada suara sama sekali dari dalam. Gue memberanikan diri untuk memegang handle pintu dan
memutarnya perlahan.
Pintu kamarnya sedikit terbuka,
Quote:

"Sis.." masih sunyi, tapi perlahan mulai terdengar suara wanita yang sedang terisak
menangis

"Siska...!" Gue sedikit kaget ketika pintu kamar sudah gue buka dengan lebar dan ngeliat
sosok siska yang sedang meringkuk diatas ranjangnya dengan menangis. Gue hampirin
Siska, gue duduk disampingnya.

"Siska.. Kamu kenapa..? Tanya gue pelan, saat udah disampingnya


Siska mengguman, tapi gue kurang bisa mendengarkan apa yang sedang dia katakan karena
kepalanya menunduk diantara lututnya, rambutnya berantakan.

"Gue ngerasa useless, Bud.." ucapnya beberapa saat kemudian.

"Useless? Useless maksudnya?" Tanya gue yang memang kurang paham dengan
perkataannya

Siska mengangkat wajahnya, kali ini gue bisa ngeliat dengan jelas wajahnya yang kusut dan
matanya yang memerah.

Quote: "Gue merasa useless, gue merasa hina Bud..gue ga pantes hidup.." ucapnya lagi dengan
tatapan kosong ke depan

"Kenapa Sis..Kenapa lo ngerasa seperti itu? Ada apa? Cerita sama gue.." tanya gue

"Dari kecil gue ga pernah ngerasain yang namanya bahagia...sepertinya memang gue ga
berhak untuk bahagia" katanya

"Gue diasuh sama orang tua angkat yang sebenernya mereka itu paman dan bibi gue..orang
tua kandung gue nitipin gue ke mereka.." tambahnya lagi

"Terus.." Gue

"Paman gue melecehkan gue....sejak gue umur 12 taun.." Siska

"What??!" gumam gue dalam hati, karena jujur gue agak shock dengan pernyataannya
barusan

"Dia selalu bilang ke gue, bahwa itu adalah cara gue membalas budi atas jasa mereka yang
telah membantu membesarkan dan merawat gue.."

"Terus Sis.." Ujar gue lagi

"Gue ga berani menolak, karena disatu sisi memang gue merasa hutang budi sama dia.. gue
juga ga berani bilang siapa-siapa Bud..dan itu berjalan bertaun-taun lamanya.." kata Siska

"Itu sebabnya waktu sudah lulus SMA dan mau masuk kuliah, gue memutuskan untuk
kuliah disini, gue pengen bebas dari dia.."

"Paman bilang, kalo gue maksa kuliah disini maka dia ga akan membiayai kuliah gue, dia
bilang dia hanya akan membiayai kalo gue kuliah di Jogja." katanya lagi
"Terus.." cuma itu kata-kata yang bisa keluar dari mulut gue saat itu.

"Gue kira dengan gue kesini gue udah terbebas dari dia Bud, tapi ternyata gue
salah..beberapa kali dia pernah kesini dan meminta 'jatah' sama gue.."

"WTH!! manusia macam apa itu! Bejat banget tuh orang!!" Gue cuma bisa mengumpat
dalem hati

"Dan barusan..tadi sore, gue bukan prospek, gue ga ada appointment hari ini.. Gue tadi
ditelpon sama dia, dia bilang dia lagi di sini dan pengen ketemu gue.." Ujar siska lirih..

Gue saat itu bingung mesti ngapain, secara umur gue yang masih 18 taun waktu itu dan
pertama kalinya gue menghadapi seorang cewek yang curhat ke gue seperti itu, gue sering
ngeliat kejadian seperti ini, tapi cuma di tivi.
dalam hati gue merasa jengkel dan marah banget dengan pamannya Siska, tapi gue ga tau apa
yang mesti gue katakan dan apa yang mesti gue lakukan.
Gue cuma bisa diem saat itu.

we just talk in silence...

*sekali lagi, semua nama tokoh disini bukan nama sebenernya, termasuk nama gue, siska,
teguh, dan beberapa tokoh di depan nanti.

PART 7 : Dinner
07-06-2014 12:07
Cukup lama kita diem-diem'an.. Tangisan Siska udah mulai reda, tapi pandangannya masih
kosong. Perlahan gue beranikan diri untuk megang pundaknya

Quote: "Sis.." gue membuka suara, Siska noleh

"Lo ga pernah kepikiran untuk ngelaporin ini kah?" Tanya gue

Dia menggeleng "Gue kasian bud..gue jengkel sama dia, gue kepaitan sama dia, tapi tiap
gue mau ambil tindakan atas perbuatannya dia ke gue, gue selalu inget Bibi sama ponakan-
ponakan gue yang udah gue anggap kayak mama dan adik-adik gue sendiri.." ucapnya
"Ponakan gue dua-duanya masih pada sekolah, yang satu SMA yang satu masih SMP, gue
ga mau keluarga mereka hancur dengan tindakan gue ngelaporin perbuatan bapaknya."
tambahnya lagi

"Ya tapi..dia bakal jadi seenaknya sendiri manfaatin lo kalo seperti ini Sis.." Nada gue
mulai meninggi karena terpancing emosi
Lagi-lagi Siska menggeleng, dia tertunduk..

Ah..sepertinya gue salah kalau menasehatinya mengenai masalah ini sekarang, yang
dibutuhkan Siska saat ini adalah seseorang yang mendengarkannya, yang bisa dipercayainya,
dan yang bisa menenangkannya..bukan seorang yang malah menyalahkan atau men-judge
tindakannya.

Quote: "Ya udah.. Sekarang lo tenangin diri lo dulu ya..jangan nangis lagi.." ucap gue sambil
mengusap pundaknya, Siska cuma mengangguk.

"Setiap orang pasti punya kenangan buruk di masa lalunya, yang bahkan mungkin masih
berlangsung dalam kehidupannya, tapi satu hal yang gue percaya Sis, Tuhan ga pernah
nyipta-in sampah.." ujar gue

"jadi..seburuk apapun masa lalu lo, sejelek apapun kondisi lo saat ini, gue percaya akan ada
masa dimana semua ini akan berlalu dan lo akan lihat kebaikan Tuhan dalam hidup lo.."
tambah gue

Asli gue sendiri juga ga paham darimana tuh kata-kata bisa keluar dari mulut seorang Budi
yang hidupnya sendiri aja masih ga karuan waktu itu.

"Thanks ya Bud..lo ngga sekecil yang gue kira..umur lo 5 taun dibawah gue, tapi pemikiran
lo udah mateng.," Kata Siska sambil ngeliat gue

Gue khawatir setelah Siska ngomong gitu, khawatir helm gue ga cukup nanti waktu gue
pake pas mau pulang.

"Ya udah sekarang lo bersih-bersih terus istirahat ya..besok kan lo mesti kerja lagi.." ucap
gue sambil senyum
Siska membalas senyuman gue dan mengangguk, ga lama bibirnya nempel di pipi gue, satu
kecupan yang singkat malam itu.

Dagdigdug..dagdigdug..dagdigdug.. Jantung gue langsung berdegup kencang, sepertinya


pipi gue merah, semoga Siska ga ngeliat..

"Ya udah lo buruan pulang deh, ntar kemaleman nyampe rumah, anak kecil ga boleh
pulang malem-malem" katanya kemudian

"Hahaha..pulang malem ga boleh Sis, makanya gue pulang pagi aja.." kata gue sambil
ketawa

"Yeeee!! Itu mah mau loo.." ujarnya sambil ketawa, cukup seneng gue malem itu bisa bikin
Siska ketawa lagi.

"Ati-ati di jalan yah.." ucap Siska waktu kita udah di depan kamarnya, gue mengangguk
dan ga lama gue pun berjalan menuruni tangga dan menuntun motor keluar dari gerbang
kostnya.

Di sepanjang perjalanan gue keinget ceritanya Siska tadi, gue ga nyangka ternyata sosok
Siska yang selama ini terlihat sempurna, ceria, dan baik-baik saja di kantor, ternyata
menyimpan luka yang cukup dalam yang bahkan sampai hari ini si 'pembuat luka' masih saja
memperdalam luka itu di hatinya.

Tapi memang bukan manusia namanya kalau dia sempurna. Semua orang pasti punya luka di
hatinya masing-masing, hanya saja perbedaannya yang satu sudah mengering, yang satu
bahkan mungkin sudah hilang dan tinggal bekasnya, tapi ada juga yang masih fresh! Masih
segar tergores di hatinya.

Huh! Gue jadi emosi lagi kalo keinget apa yang dilakukan pamannya ke dia! What kind of
sh*t this man!!
Tapi gue juga jadi instropeksi diri sendiri, kira-kira sampai detik ini udah berapa banyak luka
yang gue buat dalam hati orang lain? Apakah mereka sudah bisa menutup luka yang gue buat
itu? Atau malah luka itu masih sangat jelas terukir di hati mereka? Ah, sudahlah..ngapain
juga gue tiba-tiba mikirin itu.

Sampai dirumah gue langsung tepar dengan indahnya di kasur..hari yang melelahkan..

12 Oktober 2007
Quote: "Weiittss!! Selamat yak, penjualan perdana nih??" ucap Siska ke gue pagi itu di kantor

"Hehehe..baru pertama, ga boleh seneng dulu, masih perlu banyak belajar dari *shi fu yang
satu ini.." ujar gue (*master)

"wahahah, shi fu..kesannya udah expert banget gue.." kata Siska sambil ketawa

"Btw, makan-makan dimana kita?" tanya Siska

"hahaha, setdaahh, langsung ditagih..ntar deh tunggu kabar selanjutnya" jawab gue sambil
nyengir

Kemaren memang gue sukses menjual satu unit rumah di kawasan sido*rjo, dan itu penjualan
pertama gue selama gue kerja disana yang berarti bahwa..komisi pertama gue bulan depan
bakalan cair, indahnya dunia...

Oiya, hubungan gue dan Siska sejak tragedi kecupan malam itu makin deket aja, gue makin
sering main ke kostnya sepulang kerja, sekedar untuk nemenin dia makan penyetan di
sebrang kost nya atau hanya ngobrol sambil nongkrong di kursi depan kamarnya.
Akhirnya gue mantepin diri untuk nyatain perasaan gue ke dia.

Quote: 13.30 "Sis, ntar malem dinner yuk" gue sms Siska
13.32 "Jiaahhh..Dinner..bahasanyaa..hahaha" balesnya
13.33 "Zzzzzzzzz.....mau ga lo?" Gue

13.37 "Maulahh, kata orang tua kan ga boleh nolak berkat.. " Siska
13.40 "Ya udah ntar gue jemput di kost jam 7 yak.." Gue
13.42 "Siappp bosss!!!" Siska

Oke, gue dandan semaksimal mungkin, rambut klimis, badan wangi, penampilan rapi, kemeja
panjang, celana kain, sepatu pantofel (tunggu, ini dinner apa mau wawancara kerja ya??)

Singkat cerita, sampailah gue dan Siska di salah satu tempat makan yang cukup romantis di
kota kami, ada view outdoor nya di lantai atas yang mendukung suasana romantis malam itu,
dan kebetulan malem itu kota kami sedang cerah-cerahnya.

Siska malem itu pake dress merah dibawah lutut dengan belahan di bawahnya yang cukup
untuk menampilkan sedikit pahanya yang putih, rambutnya diurai tapi dijepit sebagian di
bagian belakang kepalanya, dan ada beberapa helai yang terurai lurus di samping, lipstik dan
make up yang tipis membuatnya makin cantik alami malam itu.
Ni cewek dulu pas dibikin orang tua nya makan apa sik, bisa cakep gitu. Oh ya, malem itu
gue jemput dia pake mobilnya kakak gue..hehe (thanks sist! )

Setelah kita memesan menu dan diem-diem'an beberapa saat, akhirnya gue beraniin diri
untuk ngomong ke dia

Quote: "Sis.." Gue

"Yaa..?" Siska, sambil natap gue

"Gue mau tanya sesuatu, boleh?" Gue

"Boleh, tanya apa Bud?

"......................."

"Mau ga lo jadi pacarku?"

PART 8 : Seriously, I Wanna Punch Your Face.


09-06-2014 18:18
Gue ngeliat ke arah yang ditunjukkan Siska, seorang pria yang terlihat separuh baya terlihat
berjalan menuju pintu keluar, tangannya menenteng tas seperti tas kerja, celana kainnya yang
berwarna hitam dipadu dengan kemeja warna cokelat yang dia kenakan semakin
menunjukkan usianya, rambutnya terlihat sedikit tipis di bagian depan, dan kumisnya yang
tebal tampak jelas dari kejauhan.

Pria itu tampak tersenyum senang saat melihat Siska, tapi senyum itu mendadak hilang ketika
dia menyadari bahwa Siska tidak sendirian, iya, dia ngeliat gue disamping Siska dan
tampaknya itu sedikit membuatnya tidak suka.

Quote: “Siang pak..” Ujar Siska sambil mencium tangan lelaki tersebut sesudah sampai di
pintu keluar dan bertemu kami, lelaki tersebut tidak menjawab, hanya membelai pelan
rambut Siska ketika Siska menyalaminya, tak lama kemudian pria itu menoleh ke gue.

Gue kagum dengan Siska ngeliat tindakannya saat itu, lelaki yang barusan dia cium
tangannya adalah lelaki yang udah melecehkan dia sejak dia berumur dua belas taun, tapi
Siska tetep menunjukkan sopan santun dan respect kepadanya, mungkin dia masih mengingat
bahwa orang ini cukup berjasa membesarkan dan menyekolahkannya.

Quote: “Kenalkan pak, ini temen kantor Siska” ujar Siska memperkenalkan gue

“Budi, om..” ujar gue sambil menawarkan jabat tangan


“Oh..” Cuma itu yang keluar dari mulutnya ketika menyambut jabat tangan gue, tanpa
ekspresi, “gila, songong kali nih orang” batin gue saat itu

Kami berjalan menuju mobil setelah berbasa-basi sebentar, pamannya Siska masih terlihat
sedikit muram yang menurut gue karena adanya gue disana. Gue mah cuek aja, malah seneng
karena dengan begitu dia ga bisa ngapa-ngapain Siska hari itu.

Quote: “Mau makan siang apa, pak?” Tanya Siska ke pamannya saat kita sudah di dalam
mobil

“Hmm.. apa ya nduk? Terserah deh, Bapak ikut aja..” ujarnya

Siska duduk di sebelah gue, dan pamannya duduk di kursi penumpang belakang, akhirnya
kita putuskan untuk mengajak pamannya makan nasi kuning di salah satu tempat makan yang
cukup terkenal di kota kami, selama makan siang pun pamannya Siska masih bersikap dingin
ke gue, terlihat dari pandangan matanya yang ga pernah menatap gue, bahkan sekedar basa
basi menanyakan asal gue darimana atau umur gue berapa pun tak terucap dari mulutnya saat
itu, dia hanya ngobrol dengan Siska.

Siska yang menyadari situasi saat itu pun berinisiatif untuk mengajak ngobrol gue dengan
pembicaraan-pembicaraan ringan hanya sekedar agar gue ga merasa diasingkan.

Quote: “Bud, ntar habis makan mampir kost ku bentar ya, mau ganti tas nih, tas kerja ga enak
bawanya, berat..hehe” ujar Siska setelah menelan sesendok nasi kuning yang tengah
dikunyahnya.

“Oh, oke..” jawab gue sambil meminum es jeruk yang sudah tinggal separuh gelas di depan
gue.

Selesai melakukan pembayaran, kami pun melangkah kembali ke dalam mobil

“Ibu, pripun kabare pak?” (Ibu, gimana kabarnya pak?) Tanya Siska ditengah perjalanan
kami menuju kostnya.

“Apik-apik wae, nduk..” Jawab pamannya.

“Sinta sama Jodi nopo sampun UAS, pak?” (sinta sama Jodi apa sudah UAS, pak?) ujar
Siska menanyakan kedua ponakan yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.

“Wah, yo wes mari no..nek Sinta malah wes prei saiki, tinggal ngenteni rapotan, Jodi ne
minggu ngarep koyone lagek prei..” (wah, ya sudah dong..kalo Sinta malah udah libur
sekarang, tinggal nunggu raport’an, Jodi nya minggu depan sepertinya baru libur) jawab
pamannya.

“Oh..” sahut Siska.

Pagar berwarna hijau muda dengan beberapa tanaman yang menghiasi halaman kost Siska
sudah tampak tak jauh di depan, gue masukin avanza berwarna hitam keluaran taun 2004 ini
ke dalem halaman setelah sesaat sebelumnya Siska turun untuk membukakan pagar..

Maksud hati gue saat itu ga perlu turun, toh dia cuma naruh tas kemudian turun lagi dengan
membawa tas kecil yang biasa dia bawa ketika bepergian, tapi keputusan itu gue rubah
setelah tak lama Siska naik ke kamarnya ternyata pamannya yang duduk di kursi belakang
ikutan turun dan menyusulnya, jadilah gue juga ikutan turun daripada tu orang ambil
kesempatan dalam kesempitan, iya, mungkin celananya udah sempit karena menahan hasrat
yang biasanya sudah bisa dia salurkan tapi jadi terhalang karena hadirnya gue disana.

Ngeliat gue ikutan turun setelah tak berapa lama dia turun, ternyata cukup membuatnya
kaget, terlihat dia menoleh ke belakang ketika mendengar suara pintu mobil yang gue tutup
setelah gue turun darisana.

Dia batal naik, membelokkan arah jalannya yang semula menuju tangga ke atas berbelok ke
kursi panjang yang terlihat di pinggir taman, gue temenin dia duduk disana.
“Anjrit nih anak, ngikut mulu, kapan gue berduaan sama Siskanya..” mungkin itu yang ada
dipikirannya ketika ngeliat gue duduk disebelahnya, dalam hati gue pengen ketawa tapi
rasanya kok kurang sopan kalo dia ngeliat gue ketawa melihat gelagatnya, akhirnya gue
Cuma bergumam dalam hati, “sukurin lo, om-om mesum..”

Quote: “Sudah lama dekat sama Siska?” ujarnya memulai pembicaraan

“Oh, belum kok om..baru akhir-akhir ini aja..” jawab gue

“Oh..pantes kok sekitar dua bulan lalu saya kesini belum ketemu sampeyan..” katanya

“Hehe..” gue cuma tersenyum tipis

“Udah ngapain aja sama Siska?”

“Tunggu, what?? Ngapain aja?? Maksudnya??” Tanya gue dalam hati..

“Hmm? Ngapain aja maksudnya gimana ya om?" Pertanyaan yang meluncur dari mulut gue
“Ya..sesama cowok ngga perlu dijelasin lah, masa ga tau?” jawabnya

“eh, lo kira gue sama kayak lo yang bajingan sampe-sampe ga memandang tu ponakan lo,
lo embat juga!!!” batin gue, emosi yang daritadi sebenernya udah siap meluncur kini
semakin disulut dengan kata-katanya

“Maksudnya gimana ya om? Saya kok kurang paham ini..” ujar gue menahan diri sambil
noleh ke dia

“Ah..ga usah munafik deh mas, ponakan saya kan memang cantik, bodinya juga ok, cowok
mana sih yang ga pengen buat nidurin dia..” ujarnya enteng sambil ngeliat gue santai

“whattt the fu*kkkk!!!” kebangeten ni orang, pikir gue

“Eh om, om kalo ngomong....”

“Bud..” perkataan gue terpotong, Siska udah di depan kami, kami berdua berhenti berbicara
dan melihat Siska

“Yuk, lanjut jalan..” ujar Siska

Kampret tuh om-om, emosi gue belum reda, tapi ga lucu juga kalo gue bentak-bentak tuh
orang di depan Siska yang ga tau kejadian awalnya tadi.

“nduk, mas Budi ndak disuruh pulang aja to, kasian dia capek katanya tadi sama bapak,
mbok biar dia pulang aja buat istirahat, bapak kemana-mana naik motor juga ga papa kok
nduk..” ujar si om-om itu ke Siska, Siska meliat gue

“Eh, apa??? Gue ngomong ke lo kalo gue capek??!!!”....ni orang, belum reda emosi gue
karena perkataannya yang tadi kini udah dibikin darah tinggi lagi, seandainya Siska ga ada
di situ atau gue ga mandang Siska sebagai temen baik gue, mungkin satu pukulan keras dari
tangan gue yang udah gatel ini sudah mendarat dengan indahnya di wajah orang itu.
“Eh, engga kok..hehe ga papa kok Sis..” jawab gue

“Ah..yakin mas?hehe tadi katanya mau istirahat bentar..” sahut pamannya

“ga papa om, saya temani Siska sama om hari ini sampai om pulang nanti.” Jawab gue
tanpa memandang orang itu

“Beneran bud? Gpp?” Tanya Siska sambil nyengir sama gue, gue cukup lega ngeliat dia
nyengir karena itu berarti sepertinya Siska udah paham kalau itu cuma akal-akalan
pamannya aja biar gue pulang dan dia bisa berdua sama Siska

“Ga papa..santaii aja kali..” jawab gue membalas cengirannya, kali ini raut muka pamannya
yang tampak sedikit jengkel terlihat dari sekilas lirikan gue barusan.

Akhirnya kita habiskan sisa waktu hari itu dengan berkeliling kota dan mampir ke salah satu
mall dulu karena Siska mau membelikan oleh-oleh untuk Bibi dan kedua ponakannya.
Setelah jarum jam tangan gue menunjukkan pukul empat sore lewat, kita putuskan untuk
mengantar pamannya ke stasiun karena dia akan balik naik kereta jam 5 sore.

Matahari sore yang memancarkan cahaya agak kekuningan terlihat menghiasi langit senja
saat kami sedang dalam perjalanan ke stasiun, ada sebuah kelegaan dalam hati gue, rencana
awal gue menemani Siska agar pamannya ga berbuat macem-macem berjalan lancar hari itu,
meskipun keinginan gue untuk mendaratkan satu saja, iya, satu aja pukulan ke orang itu
belum kesampaian.

tapi ga papa lah..itung-itung menahan dosa karena memukul orang tua..

PART 9 : Past And Present


09-06-2014 20:39
Hanya ada dua macam kenangan dalam hidup seseorang, yang satu indah dan layak
dikenang, yang satu terlalu sakit untuk dibuka dan kembali diingat.
Beruntunglah bagi mereka yang dapat memetik pelajaran dari setiap kenangan buruk dalam
hidupnya, karena tak banyak yang mampu mengambil sikap hati seperti itu, kemarahan dan
dendam sering jadi hasil akhir ketika sebuah kenangan buruk tertorehkan dalam hati
seseorang.

Siska, salah satu orang yang mengajari gue bagaimana memetik pelajaran dari setiap
kenangan buruk yang dia alami. Dia selalu mengatakan bahwa penyesalan atas sesuatu tidak
akan mengubah apapun kecuali kita belajar darisana, itu yang akan mengubah tindakan kita
kedepan sehingga penyesalan yang serupa tak terulang lagi di depan.
Quote: “Kamu salah satu orang yang membantu mengubahkan cara berpikirku, Bud..” ujarnya
ke gue sambil menyuapkan sepotong waffle dengan es krim ke mulutnya.

Gue dan Siska saat itu sepulang kerja sedang mampir di salah satu gerai es krim yang sudah
cukup lama berdiri di kota kami, gerai es krim yang berada di dekat kantor walikota, kita
duduk di salah satu kursi yang letaknya di pojokan, dari sana kita bisa melihat jelas
keramaian kota pada jam pulang kerja seperti ini, serta langit sore yang cerah waktu itu.

Quote: “Tunggu.. aku?” Tanya gue yang masih kurang paham dengan perkataannya barusan.

“Iya..masih inget kamu waktu malem itu di kamar kost ku, waktu aku lagi nangis, kamu
bilang ke aku bahwa “Tuhan ga pernah nyipta-in sampah” kan waktu itu?” ujarnya sambil
membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengahnya, sekilas cahaya senja sore itu
terpantul dari lensa kacamatanya, rambutnya diikat dan sedikit poni tipis terurai di dahi
nya.

“Oh, itu..hehe tapi kok bisa kata-kata itu merubah cara pandangmu?”

“Ya..dari situ aku sadar, ga ada gunanya aku mewek-mewek merasa rendah diri dan sampe
sempet berpikiran buat mengakhiri hidupku waktu itu. Aku mau nangis seperti apapun juga
ga akan merubah atau membawaku ke masa lalu sebelum hal itu terjadi kan.
Kalo aku bunuh diri juga bukannya menyelesaikan masalah malah semakin menambah
masalah..”

“Kalo memang bener Tuhan ga pernah nyipta-in sampah, aku percaya suatu saat nanti
hidupku akan berubah, kenangan burukku di masa lalu bukan selayaknya aku sesali tapi
malah harus jadi sebuah pelajaran, supaya hidupku ke depan bisa semakin baik, berubah
dari sampah jadi sesuatu yang berguna.” Ujar nya

Gue tertegun, Siska yang sebelumnya sudah cukup membuat gue impress dengan kepintaran
dan cara berpikirnya kini semakin membuat gue berdecak kagum dengan sikap hatinya.

Quote: “Sis..” ujar gue setelah menghabiskan seporsi banana split sore itu.

“Ya, bud?”

“Ehm..kalo boleh tau, papa mama kamu dimana?” Tanya gue


Siska mengalihkan pandangannya keluar, tatapannya tampak melayang jauh kedepan
seakan berusaha menggali lagi setiap ingatannya akan orang tua nya..

“Hmmphh.. aku udah lama ga denger kabar dari mereka, selama ini aku cuma diceritain
sama Bibi, waktu mama melahirkan aku, orang tuaku sedang dalam kondisi keuangan yang
tidak baik.
aku sendiri lahir di tangan dukun beranak di desa kami waktu itu, karena orangtua ku ga
ada dana untuk membawa ke bidan atau rumah sakit bersalin.”

“Kebetulan waktu itu Bibi dan Paman belum mempunyai anak padahal usia pernikahan
mereka udah 5 taun lebih, jadi mereka menawarkan diri untuk merawatku waktu itu, kan
orang jawa percaya kalo ga kunjung punya anak mungkin perlu ‘pancingan’ dulu, seperti
sering-sering menggendong bayi, atau mengadopsi bayi..
jadilah waktu itu aku dirawat sama mereka.. dan ternyata ga secepat itu, setelah kira-kira
aku umur enam taun baru mereka dikarunai anak pertamanya, beberapa taun kemudian
disusul dengan anak kedua mereka.”

“Tapi aku kagum sama Bibi, dia ga pernah sekalipun pilih kasih dalam membesarkan kami
bertiga, aku yang sebenernya bukan anak kandungnya pun dia perlakukan sama dengan
kedua anak kandungnya yang lain..” Siska menghela nafas sebentar, melepas kacamata, dan
mengelapnya sebentar dengan tissue yang ada diatas meja.

“Terus Sis?” ucap gue sambil menoleh ke dia, gue simak setiap perkataan yang keluar dari
mulutnya dengan seksama

“Waktu aku udah mulai gede, mereka pun menceritakan kebenerannya, kebenaran bahwa
aku bukan anak kandung mereka, cukup shock waktu itu, karena aku ga pernah menyangka
bahwa mereka bukan orang tua kandungku..”

“Lalu aku bertanya ke mereka, dimana sekarang orang tua kandungku, kok ga pernah
menengok atau mengunjungiku sekali aja selama ini..”
“Mereka Cuma menjawab bahwa orang tuaku sudah pindah ke Jakarta dengan 3 kakak-
kakak ku, papaku memutuskan untuk membawa keluarganya ke Jakarta mengadu nasib
dengan menjadi buruh borongan di salah satu kontraktor kenalannya..” bulir air mata mulai
tampak menggenang di sudut matanya

“Sorry Sis.. Jangan diterusin kalo ini bikin kamu sedih..” ujar gue yang memang ga pengen
bikin Siska nangis sore itu

“Aku pernah mencari info ke tetangga-tetangga sekitar rumahku yang dulu, dan mereka
memang membenarkan bahwa kedua orang tua dan kakak-kakakku boyongan pindah ke
Jakarta, alamat pastinya ga berhasil aku dapatkan, Cuma ada yang bilang kalau mereka
tinggal di daerah jak-sel.”

“Aku juga udah pernah nyoba kesana, Bud.. gaji pertama ku waktu kerja, aku pake buat
beli tiket pesawat kesana untuk mencari mereka, aku berputar-putar sepanjang hari disana
mencari mereka, tapi luasnya Jakarta dan terlalu lamanya waktu yang berlalu membuat
harapanku untuk menemukan mereka pupus..aku putuskan untuk pulang setelah menginap
dua malam disana” kali ini genangan air mata yang tadi tampak disudut matanya sudah
mengalir turun melewati pipi dan menuju dagu nya.

“Aku ga menuntut apapun seandainya aku ketemu mereka....” suaranya bergetar

“Aku Cuma ingin menanyakan satu hal, kenapa mereka ga pernah sekalipun mengunjungi
aku..” suaranya parau, tampak semakin deras air mata yang mengalir di pipinya, beberapa
tetes sudah terjatuh di pangkuannya.
Gue mengambil beberapa tissue di dalem kotak di atas meja, dan gue usap lembut tetesan
air mata yang membasahi pipinya.

“Aku bisa sedikit merasakan apa yang kamu alami Sis..” ujar gue beberapa saat kemudian.

“Orang tua ku cerai waktu aku masih kecil, sekitar umur 4 taun..memang tidak seperti
kamu yang ditinggal kedua orang tua dan diasuh oleh paman dan bibi mu. Aku masih
punya papa kandung yang merawat aku” tampak Siska berpaling ke gue sambil mengelap
pipinya yang masih basah karena air mata

“Jadi..?” Tanya Siska

“Iya.. mamaku kedapetan selingkuh waktu itu, dan papa langsung mengusir mama saat itu
juga..”

“Sempet beberapa kali mama menemui aku dan kakak ku, mengajak kami jalan-jalan atau
sekedar membelikan kami makan waktu malam, tapi itu hanya beberapa bulan saja..
selanjutnya mama sudah ga pernah muncul lagi, kita bener-bener lost kontek, terakhir
denger kabar kalau dia udah menikah lagi dan balik ke kampung halamannya di Jawa
Tengah”

“Kadang kalo mengingat hal itu masih terasa sedikit sakit dalam hatiku, tapi seiring
umurku bertambah, perlahan aku menyadari bahwa bagaimanapun dia tetep mamaku, orang
yang sudah mempertaruhkan nyawa saat melahirkanku..salah besar kalo sampe sekarang
aku masih mengingat masa lalunya dan membencinya..” ujar gue sambil melihat jalan di
depan yang semakin ramai dan lampu-lampu penerangan tampak mulai menyala.

Cukup menyebalkan melihat anak seumuran gue waktu SD didampingi mamanya ketika
mengambil raport, dan gue hanya di dampingi oleh kakak atau papa kalau pas ada waktu.
Beberapa kali gue ambil sendiri raport dengan surat pengantar dari papa yang menerangkan
bahwa tidak ada wali murid dari gue yang bisa datang untuk mendampingi gue ngambil
raport.
Beberapa kali gue cukup kesulitan ketika beberapa teman sekelas menanyakan, "mama kamu
dimana? kok ga pernah keliatan?"

Quote: “Terus..kamu sudah pernah mencoba cari mama kamu..?” ucapan Siska
mengembalikan ingatan gue yang beberapa saat lalu terbawa kembali ke masa lalu

“Belum.... nanti.. suatu saat ketika aku sudah merasa siap, aku pasti mencarinya..” ujar gue
lirih

Semoga semua belum terlambat, semoga ketika nanti aku kesana, aku masih sempat bertemu
dengannya, semoga....

Quote: Karena seringkali ketika manusia berpikir masih ada banyak waktu untuk menjalankan
rencananya, masih banyak waktu untuk menunda melakukan keinginannya, seringkali
justru seakan semesta berkonspirasi untuk menunjukkan bahwa manusia tak punya kuasa
untuk menentukan dan mengatur semua sesuai apa yang diharapkan dan diinginkannya..

PART 10 : Transformers
10-06-2014 17:35
Besok merupakan salah satu hari yang bersejarah bagi Siska, iya, karena besok, 08 desember,
adalah hari ulang tahunnya.
Gue udah prepare beli kado buat dia sejak satu minggu yang lalu, cukup susah sebenernya
waktu mikirin mau ngado apa ke dia, karena hampir semua yang diinginkannya udah bisa dia
beli sendiri, jadi perlu sedikit mengembangkan bakat detektif gue yang terpendam untuk
mendapatkan kado yang sesuai dengan apa yang sedang dibutuhkannya dan disukainya.

28 November 2007

Quote: “Guh, bantuin gue dongg..” Ujar gue ke Teguh waktu gue ketemu dia di pantry

“Bantuin apa dulu nehhh..kalo bantuin mijitin lo mah ogah.” jawab teguh sambil menyeduh
kopi susu sachet kesukaannya

“Lah..bukannya emang lo dulu mantan tukang pijit nya timung yak?” (timung itu salah satu
tempat pijit plus-plus di kota gue)

“bruakakak! Sialan, bences dong gue..” ujarnya ketawa

“hehehe.. gue mo minta tolong, barangkali kalo lo ada info dari temen-temen cewek disini,
cindy kek, amel kek, dewi kek, kan mereka deket tuh sama Siska..cariin info, Siska akhir-
akhir ini lagi butuh apa, lagi cari barang apa, lagi pengen punya apa..”

“Oh..lo mau beliin dia kado?” Tanya Teguh

“Yup!! Anda benar.. ya ntar syukur-syukur kalo pas dia lagi jalan sama gue dia ngomong
sendiri ke gue..hehe”

“Okehh, ngomong-ngomong kalian udah jadian belum sik?? Apa TTM? Apa HTS? Atau
TTI?”

“TTI? Apa itu TTI??” Tanya gue

“Teman Tapi Intim..” jawab Teguh nyengir

“Wahahaha, omes mulu lo mah..dasar…!”

“Gue udah nembak dia oktober kemaren..” tambah gue

“Wuaahhh, diem-diem lo ye.. temen sendiri ga dikasih tau kalo udah jadian..”

“Hehhh! Gue ditolak taukkk!!”

“Bruakakakakakaka….” Hampir muncrat itu teh yang barusan dia sruput dari cangkirnya,
untung sempet ditelen dulu..

“Jambret! koncoe ditolak malah diguyu, kejem cak arek iki..” (jambret, temennya ditolak
malah diketawain, kejam anak ini) ujar gue sewot

“hahahahaha..kok bisa ditolak sihh?? Bukannya kayaknya dia juga ada rasa sama lo ya??”
Tanya Teguh..

“Ah..sudahlah guh, hentikan pertanyaanmu.. aku tak sanggup lagi jika mengingat hal itu..”
ujar gue lebay

“Eh..serius, pengen tau gue..”

“Ya..sebenernya gue ga boleh ngomong ini ke anak kantor dulu sih, tapi lo jangan bilang
sapa-sapa ya.. Siska nolak gue karena dia kasihan, kasihan sama gue.. Ntar Mei dia mau
cao ke Aussie, dapet beasiswa S2 disana sekitar 2-3 taunan disana.. dia bilang, daripada gue
ngabisin umur dengan nungguin dia yang ga jelas ntar setelah lulus mau balik Indo apa
kaga, mending gue cari cewek lain aja..gitu..”

“Wuihh, emang tu anak..otaknya 11-12 ama Einstein kali ya, gaji udah gede masih mikirin
buat lanjut S2, dapet beasiswa pula..ckck.. kirain lo ditolak karena masih cupu, masih imut-
imut dan menggemaskan..hahahaha”

“Terus..terus, jadi kalian ga pacaran?” Tanya Teguh

“Ya engga, Cuma dia bilang sisa waktu beberapa bulan ini anggap aja seperti pacaran,
gitu..”

“yahh..se-enggaknya sempet ngerasain ‘pacaran’ sama idol nya kantor ini lah ya, meski
cuma beberapa bulan..hihihi” ujar Teguh

“Iya..begitulah.hehe ya udah gue jalan dulu ya, mo siapin berkas buat appointment ntar
siang…” ujar gue sambil beranjak berdiri

“Yoi..yoi.. sukses ya..”

“Eh, jangan lupa..minta tolong yang tadi..hehe”

“iyaa, beress..ntar gue bantuin cari info..”

“Hehehe.. thanks guh..”

“Udah? Gini doing nih??” Tanya Teguh

“Iya.. sih??”

“Ga foto-foto dulu kitaa???”

“Zzzzzz…” -_-

Coffee Shop - Tun****an Plaza 17.40

Siska janjian sama gue sepulang presentasi ketemuan di coffee shop di salah satu mall kota
kami sore ini, dia lngsung meluncur kesini dianter sama driver kantor, dan gue..kira-kira udah
sepuluh menit sampe duluan disini.

Quote: “Hei Bud, udah daritadi?” ujar Siska sambil melepas blazer dan menaruh tas kerjanya
di meja, wangi parfum khas nya langsung kecium di hidung gue, “ah..i’m gonna miss it..”

“Belum kok, baru lima belas menitan..hehe”

“Gimana? Closing?” Tanya gue

“Closing sih, Cuma dealnya lusa karena masih mau ke jepang dulu katanya” Ujar Siska

“Ckckck.. ada yang nutup 5 lagi nih bulan ini..”

“Hahaha.. kok malah kamu yang hapal, aku aja ga ngitungin..hehe”

“Eh, bentar.. aku pesen dulu ya..”

“Udah kok.. udah ku pesenin tadi, satu frappucinno ukuran tall tanpa whip cream kan?..”
ujar gue

“Aduh..emang kamu yang paling mengerti aku ya Bud..” jawabnya sambil memandang gue
genit

“Hahahaha..udah..udah, jangan lebayy lho yaa..” ujar Gue

“Hahahaha..” Siska ikut ketawa

“Eh Bud, ntar nonton yukk..”

“Boleh.. ada film bagus?”

“Transformer itu katanya bagus sih, anak-anak banyak yang udah pada nonton..”

“Transformer? Jason Statham?” Tanya gue

“Bukaaann, itu Transporter..”

“Oh..iya ding..hehe”
kami berdua memang punya hobi yang sama yaitu nonton, kalo kita berdua lagi ngomongin
soal film itu temen-temen kita yang ga seberapa tau film cuma bisa ngeliat kita sambil
melongo, keheranan plus ga ngerti apa yang kita omongin. Mulai dari film yang lagi booming
saat itu, sampai film jadul sekelas Romeo n Julietnya Leonardo sampe Ghost nya Demi
Moore.

Quote: “Transformer itu tentang apa? Kok baru denger aku..” ujar gue setelah mencecap
secangkir cappucinno di depan gue

“wiu wawak wowot-wowoan giu..”

“Hah?? Apa???”

“Itu kayak robot-robotann gituuuu…” jawab siska setelah menelan sepotong sandwich
yang habis dikunyahnya

“Kamu itu..orang lagi ngunyah ditanyain..”

“Huahahaha… wiuwawa wawa woa wawu… hahahaha” ujar gue sambil memonyongkan
mulut dan menirukan bahasanya tadi, Siska ngelempar gula sachet ke gue sambil ketawa

“Ya udah.. jam berapa tayangnya? Tau ga?” Tanya gue

“Tadi pagi aku liat di Koran sih jam 19.25, ntar habis ini langsung ke XXI aja ya, semoga
udah ga seberapa ramai yang nonton..”

“Okee..oke..”

Waktu itu handphone belum se-hebring sekarang, jadi kalo mau liat schedule film biasa mesti
liat lewat Koran, sekarang mah udah biasa kapanpun n dimanapun mau liat schedule tinggal
buka hape masuk ke applikasi atau masuk ke webnya twenty wan..

Selesai ngopi dan menghabiskan sandwich yang tadi kita pesen, kita pun gandengan menuju
bioskop yang masih berada dalam satu mall dengan coffe shop tadi.

Quote: Transformers – Shia Lebay n Megan fox, here we come!


(Iya, Shia LaBeouf bacanya Shia Lebay kan?hehehe)