Anda di halaman 1dari 28

BAB V

Hormon Pengatur Pertumbuhan dan Diferensiasi


5.1. Kelenjar Adrenal

Kelenjar adrenal terdiri atas bagian korteks dan


medulla, diamana secara mekanisme embriologi berasal dari
perkembangan fibroblas yang berbeda. Bagian korteks
adrenal berasal dari mesoderm, sedangkan medulla berasal
dari sel-sel ektoderm neural. Kelenjar adrenal terletak pada
retroperitoneal (bagian belakang peritoneum), lokasi di
bagian atas kedua ginjal.

Secara anatomi kelenjar adrenal (suprarenal)


merupakan kelenjar endokrin yang memiliki bentuk kecil,
tipis, dan terbungkus jaringan lemak. Bentuk kelenjar
adrenal kiri berbeda dengan kelenjar adrenal kanan.
Kelenjar adrenal kanan berbentuk seperti piramid,
sedangkan kelenjar adrenal kiri berbentuk seperti bulan
sabit. Kedua kelenjar ini tebalnya kurang lebih 1 cm, lebar
di daerah apeks kurang lebih 2 cm, dan lebih dari 5 cm di
daerah basal. Masing-masing kelenjar beratnya sekitar 7-10
gram.

Kelenjar adrenal merupakan salah satu organ yang


sangat kaya akan pembuluh darah. Masing-masing kelenjar

93 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
adrenal disuplai oleh arteri yang berasal dari (1) arteri
phrenicus inferior, yang nantinya akan berlanjut menjadi
arteri suprarenal superior (2) aorta, yang nantinya akan
berlanjut menjadi arteri suprarenal bagian medial (3) arteri
renalis yang nantinya akan berlanjut menjadi arteri
suprarenal inferior.

Arteri tersebut akan menembus kapsula adrenal, dan


membentuk pleksus subkapsular. Pleksus akan berlanjut
menjadi arteri kortikal pendek (short cortical arteries),
dimana dalam parenkim kortikal akan membentuk kapiler
sinusoid fenestrata (dengan difragma). Diameter pori
dinding endotel kapiler fenestrata ini meningkat dari 100 nm
di daerah korteks paling luar, sampai 250 nm di daerah
korteks bagian dalam dimana kapiler sinusoid akan berlanjut
menjadi pleksus vena. Venula-venula kecil akan muncul
dari daerah ini dan akan menembus medulla adrenal.
Venula akan mencurahkan darah ke vena suprarenalis, yang
muncul dari daerah hilus. Vena suprarenalis kanan akan
bergabung dengan vena kava inferior, dan vena suprarenalis
kiri akan mengalirkan darahnya ke vena renalis kiri.

Sebagai tambahan, arteri kortikal panjang (long


cortical arteries) tidak bercabang sepanjang menembus
korteks menuju medulla. Arteri akan membentuk jaringan
kapiler ketika mencapai medulla. Dengan demikian, bagian
medulla menerima dua suplai darah yaitu suplai arteri dari
arteri kortikal panjang dan sejumlah pembuluh dari jaringan
kapiler kortikal (Gartner & Hiatt 2001: 316-317).

94 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
Secara organ histologi, kelenjar adrenal dibungkus
oleh suatu kapsula fibrosa padat. Secara histologis dan
fungsional, kelenjar ini mempunyai dua daerah yang
berbeda. Bagian luar berwarna lebih kekuningan dan
menempati 80-90 % kelenjar, disebut korteks. Sedangkan
bagian medulla merupakan bagian dalam organ yang
berwarna lebih gelap dan kecil. Kedua bagian organ ini
berfungsi endokrin, namun berasal dari asal embriologi
berbeda dan mempunyai peran yang berbeda-beda pula.

5.1.1. Korteks Adrenal


Korteks adrenal terdiri dari sel parenkim yang
langsung mensintesis dan mensekresikan beberapa hormon
steroid tanpa menyimpannya terlebih dahulu. Korteks
kelenjar ini terbagi menjadi 3 zona, dari kapsul ke arah
tengah, yaitu(Gartner & Hiatt 2001: 317-319):

a. Zona glomerulosa

Zona glomerulosa adalah daerah berbentuk cincin


konsentris yang terletak tepat di bawah kapsul adrenal.
Zona ini menempati kurang lebih 13% total volume kelenjar.
Sel-sel silindris kecil menyusun daerah ini dalam bentuk
korda dan kelompokan. Kelompokan ini bentuknya mirip
dengan glomerulus pada ginjal, sehingga daerah ini disebut
sebagai zona glomerulosa (Wonodirekso 2003: 119). Sel-
sel ini mempunyai inti kecil terwarna gelap dengan 1-2 anak
inti. Sitoplasmanya asidofilik dengan banyak retikulum
95 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan
diferensiasi
endoplasma halus, mitokondria pendek, kompleks Golgi
yang berkembang dengan baik, banyak retikulum
endoplasma kasar, dan ribosom bebas. Droplet lemak juga
tersebar pada sitoplasma. Terkadang dijumpai desmosom
dan gap junction kecil yang menghubungkan sel satu sama
lain. Beberapa sel memiliki mikrovili pendek.

b. Zona fasikulata

Zona fasikulata merupakan daerah terbesar di


korteks. Zona ini mencakup diatas 80% total volume
kelenjar. Daerah ini mengandung kapiler sinusoid yang
tersusun longitudinal di antara kolumna-kolumna sel-sel
parenkim. Sel-sel polihedral daerah ini lebih besar
ukurannya dibandingkan dengan sel daerah zona
glomerulosa. Sel-selnya tersusun kolumna radial, dan
terwarna sedikit asidofilik. Sel ini mengandung banyak
sekali droplet lemak pada sitoplasmanya. Droplet lemak
akan larut saat pembuatan preparat histologis, yang akan
mengakibatkan sel tampak mempunyai vakuola. Hal ini
yang menyebabkan sel-sel zona fasikulata disebut
spongiosit. Spongiosit mempunyai mitokondria yang
berbentuk seperti bola dengan krista tubular dan vesikular,
banyak retikulum endoplasma halus, lisosom, dan granula
yang berisi pigmen lipofuchsin.

c. Zona retikularis
Zona retikularis adalah daerah korteks yang
berbatasan dengan medulla. Zona retikularis menyusun

96 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
hanya 7% total volume kelenjar. Sel-selnya sangat asidofilik
dan tersusun dalam korda yang saling beranastomosis. Sel-
selnya sama dengan spongiosit zona fasikulata, hanya lebih
kecil dan lebih sedikit droplet lemak. Sel-selnya sering
mengandung granula pigmen lipofuchsin dalam jumlah
besar. Beberapa sel yang berada dekat dengan medulla
adrenal tampak gelap, dengan sitoplasma padat elektron
dan inti piknotik, yang menandakan pada zona ini
mengandung sel parenkim yang berdegenerasi.

5.1.2. Medulla Adrenal


Medula kelenjar adrenal tersusun dari dua macam sel
yaitu sel kromafin yang berfungsi mensekresi katekolamin
(epinefrin & norepinefrin) dan sel-sel ganglion simpatik
yang tersebar di sepanjang jaringan ikat(Gartner & Hiatt
2001: 317-319).

a. Sel Kromafin

Sel kromafin adalah sel epiteloid besar yang yang


terdapat berkelompok atau dalam korda pendek. Sel ini
mengandung granula yang dapat terwarna dengan baik
menggunakan garam kromafin. Granula akan berwarna
coklat gelap jika diwarnai dengan garam kromafin, yang
menandakan bahwa sel tersebut mengandung katekolamin.
Katekolamin adalah transmitter yang diproduksi oleh sel
postganglion sistem saraf simpatik.

97 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
b. Sel-sel ganglion simpatik

Medulla adrenal mensintesis hormon dengan pengaturan


sistem saraf simpatik. Hormon yang dihasilkan adalah
katekolamin. Katekolamin terdiri atas epinefrin dan
norepinefrin. Sumber katekolamin berasal dari sel kromafin.
Mekanime pembentukan katekolamin di atur oleh saraf
preganglion, simpatik dan splanknik. Fungsi epinefrin yaitu
mengoperasikan mekanisme “flight or fight” untuk
persiapan tubuh dari stress dan ketakutan, meningkatkan
denyut dan out put jantung, meningkatkan aliran darah ke
organ, melepaskan glukosa dari hepar untuk pembentukan
energi. Norepinefrin berfungsi meningkatkan tekanan darah
pada saat vasokonstriksi.

Korteks adrenal berfungsi mensintesis hormon


kortikosteroid yang disintesis dari kolesterol. Hormon yang
disekresi oleh kelenjaqr adrenal terdiri atas 3 golongan
yaitu
1. Glukokortikoid berasal dari sel-sel zona fasikulata,
terhadap metabolisme protein, karbohidrat dan lipid.
2. Mineralkortikoid, berasal dari dari sel-sel zona
glomerulosa, berperan dalam transport/ keseimbangan
elektrolit dan distribusi air dalam jaringan.
3. Androgen dan esterogen, bearasal dari sel-sel zona
retikularis dan zona fasikulata, berperan dalam terhadap
sifat seks sekunder (lihat bab VII).

98 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
5.2. Sel Target Hormon korteks adrenal (hormon steroid)
Hormon koteks adrenal semua merupakan golongan
steroid,dalam sitoplasma bergabung dengan protein Reseptor
spesifik untuk tiap-tiap hormon steroid tersebut. Bisa juga
terikat secara kompetitif membentuk kompleks Hormon-
reseptor. Untuk steroid tertentu kompleks Hormon-reseptor
berperan sebagai sebagai pengatur. Kompleks Hormon-
reseptor masuk ke inti dan terikat pada kromatin (reversibel)
DNA yang selanjutnya sebagai bahan untuk membuat
mRNA pada sintesis protein atau enzim. Steroid pada
konsentrasi tinggi bekerja langsung pada aktivitas enzim-
enzim di membran sel-sel target.

Variasi Isomer Steroid terdiri atas 2 yaitu cincin A


dan B bisa sis atau trans kecuali estrogen karena cincin A-
nya aromatik dan hidrogen atau gugus lain yang melekat
pada cincin A atau B dengan orientasi α atau β, Bentuk α
gugus di bawah bidang cincin, Bentuk β gugus di atas
bidang cincin dan Orientasi α terdapat metil di C17.
Orientasi β terdapat gugus metil pada atom C-19 yang
berada di atas bidang cincin.

Steroid aktif secara fisiologis berjumlah 50 steroid.


Steroid terbanyak dalam plasma dalam bentuk bebas
(kortisol) antara lain kortison, hidrokortison (kortisol, 17-
OH-kortikosteron), aldosteron, androstenedion dan
dehidroepiandrosteron (DHA/DHEA). Di alam terdapat pula
bentuk sintetik steroid alam. Steroid sintetik ini lebih
99 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan
diferensiasi
potensial memiliki afinitas terhadap reseptor di sitosol lebih
besar, terdapat flour pada posisi 9α struktur kortison, kortisol
dan kortikosteron. Demikian pula efek retensi garam lebih
tinggi contoh pada 9α-flourokortison, deksametason (9α-
fluoro-16α metil prednisolon).

Gambar 10. Biosintesis hormon steroid

100 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
Gambar 11. Metabolisme angiotensin

Terdapat pula senyawa yang memiliki sifat antagonis


terhadap steroid yang terikat pada resptor secara kompetitif,
sperti spironolakton (aldakton) yang antagonois terhadap
aldosteron dan progesteron yang antagonis glukokortikoid
pada beberapa jaringan.

101 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
5.3. Mekanisme Pembentukan Hormon Steroid

Hormon adrenokortikal (mineralokortikoid,


glukokortikoid, dan androgen), seluruhnya disintesis dari
kolesterol, yang merupakan komponen utama low density
lipoprotein. Kolesterol diambil dari darah dan disimpan
untuk diesterifikasi dalam droplet lemak di dalam sitoplasma
sel-sel kortikal. Ketika sel distimulasi, kolesterol
dibebaskan dan digunakan untuk mensintesis hormon di
dalam retikulum endoplasma halus. Proses sintesis ini
dibantu oleh enzim-enzim. Produk sementara yang
dihasilkan akan ditransfer ke retikulum endoplasma halus
dan mitokondria sampai produk akhir terbentuk.
Regulasi sekresi steroid melalui (1) ACTH
meningkatkan pembentukan cAMP selanjutnya
mengaktifkan protein kinase dan meningkatkan hidrolisis,
sehingga kolesterol dibebaskan serta membentuk
pregnenolon/17α-pregnenolon yaitu reaksi desmolase yang
memerlukan NADPH. Dalam hal ini ACTH akan
merangsang semua sintetis substrat (2) vitamin C mungkin
sebagai pereduksi (reduksi equivalent) untuk enzim-enzim
yang memerlukan NADPH (3) cAMP diperlukan sebagai
mediator (4) ion Ca2+ (5) feedback control untuk kelebihan
ACTH, kortisol darah dan pregnenolon (6) aldosteron
regulasinya hampir tidak dipengaruhi oleh ACTH, namun
dirangsang oleh jumlah Na yang sedikit, pemeberian K+, dan
jumlah cairan ekstrasel lebih banyak. Bila Aldosteron
meningkat menyebabkan retensi Na, peningkatan cairan

102 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
ekstrasel maka akibatnya penghambatan secara feedback.
Dalam hal ini sekresi aldoteron di atur oleh renin. Sekresi
renin distimulasi oleh volume darah yang menurun.
Keberadaan angiotensinogen juga merangsang sekresi
aldosteron melalui sistem renin. Sejumlah 90% kortisol
dalam darah terikat longgar dengan protein pengangkut
corticosteroid binding protein (CBG)/transcortin. Estrogen
dapat meningkatkan CBG sehinggan meningkatkan kortisol
yang terikat. Progesteron dapat menyebabkan afinitas CBG
bebas bersaing dengan kortisol, sehingga kortisol terikat
menjadi menurun dan kortisol bebas meningkat. Ekskresi
kortisol lengkap (tidak terpecah) 70% melalui urin, 20%
melalui feses dan sisanya melalui kulit.
Kortikosteroid diinaktifkan di hepar, cincin dan
gugus keton pada posisi-3 direduksi oleh NADH/NADPH
dhidrogenase. Kortikosteroid dalam urin sebagai derivat
tetrahidro dan terkonjugasi dengan glukuronat, 25-50%
terdiri dari karboksilat C17 atau C21. Kortikosteroid dalam
feses berbentuk terkonjugasi, yang dapat lepas melalui
empedu, sirkulasi enterohepatik dan diekskresikan ke urin.
Kortikosteroid dalam hepar, sintesis aldosteron sebagian
besar dari androstenedion, hanya aktivitasnya rendah, segera
direduksi dan berkonjugasi di hepar. Bentuk terkonjugasi ini
yang akan terdeteksi dalam darah dan urin.
Pemberian hormon steroid/ACTH terus-menerus
akan terjadi hiperglikemia, retensi Na dan air, penurunan
kadar kalium sehingga terjadi alaklosis dan hipokalamia,
keseimbangan nitrogen menjadi negatif, maskulinisasi dan
terjadi penimbunan lemak di tubuh. Pada kasus congenital

103 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
Sajian:
Kelenjar Adrenal
Pewarnaan: Hematoxylin Eosin
Perbesaran: 4 x 10

Keterangan gambar:
A: Kapsula fibrosa
B: Korteks adrenal
C: Medulla adrenal
D: Zona glomerulosa
E: Zona fasikulata
F: Zona retikularis

adrenal hperplasia (CAH) merupakan tumor adrenal


disebabkan tidak adanya C21-hidroksilase, akibatnya
kortisol dan kortison tidak dibuat, demikian pula aldosteron
104 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan
diferensiasi
dan lain-lain juga terganggu pada pembentukan feminisasi
testis, yang tidak memiliki reseptor di sel-sel target.

Sajian:
Kelenjar Adrenal
Pewarnaan : Hematoxylin Eosin
Perbesaran: 10 x 10
Keterangan gambar:
C: Medulla adrenal
D: Zona glomerulosa
E: Zona fasikulata
F: Zona retikularis
G:Vaskular(Vena medularis)

105 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
Sajian
Kelenjar Adrenal
Pewarnaan: Hematoxylin Eosin
Perbesaran: 20 x 10
Keterangan gambar:
H: aringan ikat dengan pembuluh darah
A : Kapsula fibrosa
D : Zona glomerulosa
E : Zona fasikulata

106 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
Sajian :
Kelenjar Adrenal
Pewarnaan: Hematoxylin Eosin
Perbesaran: 20 x 10
Keterangan gambar:
C: Medulla adrenal
F: Zona retikularis
G: Vaskular (Vena medularis)
107 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan
diferensiasi
5.4. Sekresi Hormon Steroid
Hormon steroid sedikit sekali tersimpan dalam
kelenjar adrenal atau gonad tetapi disekresikan ke darah.
Pembebasan kortisol dilakukan oleh ACTH dengan ritme
durnal, dimana kadar kortisol tinggi terjadi pada pagi hari
dan terendah pada siang hari dalam darah. Transport homon
steroid dalam plasma : (1) glukokortikoid yaitu kortisol
dapat terikat pada protein dan juga dalam bentuk bebas di
darah, protein α-globulin sebagai transkortikoid yang disebut
Coticosteroid binding globulin (CBG). Glukokortikoid
diproduksi di hepar , ikatan kortisol pada CGB memiliki
halflife 1,5-2 jam. Ikatan kortikodteron psds CGB memiliki
halflife kurang dari 1 jam. Deoksikortikosteron dan
progesteron dapat terikat pada CGB dengan baik, dapat pula
bersifat kompetetif dengan kortisol. Kortisol bebas dalam
darah dalam bentuk aktif hanya +8%. (2) mineralkortikoid
yaitu aldosteron tidak memiliki protein transporter khusus,
sehingga dapat bergabung dengan albumin, tetapi ikatannya
lemah. Kortikosteron dan 11-hidroksi kortison punya sifat
atau efek seperti mineralkortikoid bila bergabung dengan
CBG.
Beberapa enzim yang berperan pada sistem hormon
steroid antara lain : dibentuk dari kolesterol yang ada dalam
plasma dan sedikit dibentuk secara in situ (setempat), yang
in situ dibentuk dari asetil koA melewati pembentukan
mevalonat dan skualen, sebagian besar kolesterol
dehidrogenase adrenal diesterifikasi dan disimpan dalam
108 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan
diferensiasi
bentuk lipid dalam sitoplasma, karena rangsangan adrenal
oleh ACTH (atau cAMP) mengaktifkan esterase dan
kolesterol bebas terbentuk serta diangkut ke mitokondria,
dalam mitokondria terdapat cyitochrome P450 side chain
clearage enzyme (P450 scc) yang mengubah kolesterol
menjadi pregnenolon. Pemecahan rantai samping termasuk
untai hidroksilasi yang mula-mula C22 berikutnya C20
diikuti oleh pemindahan rantai samping 6 atom C iso
kaproaldehid yang menghasilkan steroid C21, protein
steroidogenesis acute regulatory (STAR) yang dipengaruhi
ACTH diperlukan untuk transpor kolesterol ke P450 sel
pada membran mitokondria bagian dalam.
Metabolisme dan ekskresi hormon steroid tergantung
pada ada tidaknya protein carrier. Pada glukokortikoid
dalam hal ini kortisol dan metbolitnya dalam plasma, terdiri
atas 8)% 17-OH kortikoid, 20% kortison dan 11-
deoksikortisol. Hampir setengahnya kortisol (baik kortison
dan 11 deoksikortisol) beredar dalam dalam pembuluh darah
dalam bentuk tereduksi (duhidro dan tetrahidro) yang
dihasilkan dari reduksi cincim A dengan ikatan rangkap oleh
dehidrtogenase dengan NADPH dan dari reduksi dari 3 grup
keton oleh dehidrogenase yang reaksinya reversibel. Steroid
yang telah terkonjugasi dengan glukoronat atau sulfat akan
diekskresi oleh ginjal (dibentuk di hepar) yang mengubah
steroid tidak larut menjadi larut lalu diekresikan. Pada tubuh
steroid terkonjugasi ini diekresikan ke dalam membran
empedu, direabsopsi oleh sirkulasi enterohepatik, 70%
diekresikan melalui urin dan 20% melalui fases dan sisanya
lewat keringat/kulit. Pada minerlokortikoid dalam hal ini

109 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
aldosteron, cepat diambil oleh hepar dari peredaran darah
karena tak ada carrier yang mengikat dalam darah. Di hepar
terbentuk tetrahidroaldosteron 3-glukoronat yang
diekresikan ke urin.

5.4.1. Glukokortikoid

Glukokortikoid disintesis di kortek adrenal, dalam


bentuk kortisol dan kortikosteron. Sumber glukokortikoid
terdapat dalam sel-sel zona fasikulata (spongiosit). Dalam
mekanisme sekresinya memerlukan hormon pengatur yaitu
ACTH. Fungsi hormon glukokortikoid antara lain mengatur
metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein; menurunkan
sintesis protein; meningkatkan kadar asam amino dalam
darah; menstimulasi glukoneogenesis dengan mengaktifkan
hepar untuk mengubah asam amino menjadi glukosa;
melepaskan asam lemak dan gliserol; berperan sebagai agen
antiinflamasi; menurunkan permeabilitas kapiler dan
menekan respon imun (Gartner & Hiatt 2001: 311).

5.4.2. Hormon androgen Adrenal ( dehidroepiandrosteron)


Hormon androgen Adrenal dibentuk dari 17-OH
pregnenolon, yang dipecah pada rantai sampingnya.
Estrogen adrenal berjumlah sedikit serta dapat dibuat dari
testosteron (melalui dehidroepiandrosteron (DHEA) dan 17-
OH progesteron). Konyugat sulfat DHEA terdapat dalam
kelenjar Adrenal. Pregnenolon-sulfat dapat menjadi
110 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan
diferensiasi
dehidroepiandrosteron tanpa melepaskan sulfatnya,
berperanan dalam sintesis hormon steroid. Fungsi
Metabolisme hormon-hormon glukokortikoid Kortisol dan
steroid lain yaitu sintesis enzim sel-sel target, glikolisis bila
terjadinya peningkatkan glukosa darah, pada lipolisis bila
terjadi peningkatkan asam lemak darah dan metabolisme
protein bila terjadi peningkatkan asam amino darah.
Pada jaringan perifer di otot, jaringan adiposa dan
jaringan limfoid akan terjadi reaksi katabolik oleh DHEA
yaitu pada saat pengambilan glukosa (uptake) dan glikolisis
oleh sel-sel jaringan menurun akibatnya glukosa menjadi
sangat meningkat, sintesis protein menurun dan pemecahan
protein meningkat, pada otot mengecil karena cadangan
protein otot menurun. Jaringan adiposa terjadi peningkatan
lipolisis yang meningkat menyebabkan asam lemak bebas
meningkat pula. Gangguan metabolisme glukosa dalam
jaringan adiposa akan menyebabkan peningkatan gliserol
fosfat serta sintesis lipid berkurang.
DHEA pada Hepar terjadi reaksi anabolik, terjadi
peningkatan dan sintesis protein, glukoneogenesis,
deposisiglikogen, asam amino dirubah menjadi CO 2 dan
sintesis urea. Efek glukoneogenik disebabkan oleh gliserol,
asam lemak dan asam amino yang dibebaskan dari jaringan
perifer ke dalam darah selanjutnya masuk ke hepar.
Tugas khusus DHEA adalah meningkatkan enzim-
enzim khusus di hepar yang berperan pada metabolisme
asam amino, alanin-α ketoglutarat transaminase, tirosin
transaminase, triptofan pirolase. Kelenjar adrenal dapat
meningkatkan enzim-enzim glukoneogenesis menjadi

111 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
piruvat karboksilase, piruvat karboksikinase, fruktosa 1,6
bisfosfatse, glukosa 6 fosfatase. Pada hepar proses-proses
yang meningkat oleh karena kelenjar adrenal adalah
perubahan asam amino menjadi glukosa, pembentukan
glikogen dan sintesis protein. Pemberian DHEA yang
merupakan steroid, dalam jangka waktu lama akan terjadi
hiperglikemia, karena peningkatan glukoneogenesis di hepar
(juga dari laktat dan gliserol di samping dari asam amino)
dan penurunan uptake glukosa di jaringan perifer.
Pada jantung, otak dan eritrosit DHEA relatif tidak
aktif, efek lainnya dalam :
1. Efek anti-inflamasi, pada dosis tinggi yang penurunan
reaksi pertahanan seluler, mengurangi migrasi lekosit ke
daerah lesi membentuk kortisol, terjadi penurunan sintesis
dan sekresi prostaglandin
2. Efek Imunosupresif
penurunan respon imun yang berhubungan dengan
infeksi, alergi, reaksi anafilaksis dan penurunan
pembentukan zat anti pada trsaplantasi organ yang
mencegah reaksi penolakan jaringan. Sebagian besar efek
steroid adalah pada limfosit T (Thymus dependent
lymphosit) pada Jantung, otak dan eritrosit.
3. Efek Eksokrin
peningkatan sekresi HCl dan pepsinogen lambung
peningkatan tripsinogen di pankreas
4. Efek Pada tulang
penurunan osteoid pada matrix tulang, osteoporosis
akibat kehilangan Ca ( pada demineralisasi tulang)

112 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
5. Efek pada cAMP
Pada beberapa jaringan : penurunan aktivitas enzim
fosfodiesterase menyebabkan cAMP meningkat
6. Efek tehadap surfaktan
Peningkatan sintesis surfaktan (pada bayi prematur).

5.4.3. Mineralkortikoid
Hormon mineralkortikoid disintesis di kortek
adrenal, dalam bentuk aldosteron dan deoksikortikosteron.
Sumber mineralkortikoid terdapat dalam sel-sel zona
glomerulosa. Dalam mekanisme sekresinya memerlukan
hormon pengatur angiotensin II dan ACTH. Fungsi
mengatur volume cairan tubuh dan konsentrasi ion dengan
mempengaruhi tubulus kontortus distal ginjal, sehingga
menyebabkan ekskresi potasium dan resorbsi sodium.
Semua kortikosteroid kecuali androgen dapat
peningkatan absopsi Na, Cl ( ginjal) dan penurunan Na,Cl
(kel keringat, kel liur dan traktus gastrointestinal).
Aldosteron merupakan golongan mineralokortikoid dalam
darah, memiliki 1000 kali kekuatan dari kortisol dan 35 kali
kekuatan dari deoksikortikosteron. Aldosteron memeiliki
sifat retensi terhadap N2 dan ekskresi K & Mg, bila cairan
ekstra sel lebih banyak maka menyebabkan volume darah
lebih banyak (urin juga lebih banyak) dan akibatnya
menyebabkan hipertensi. Aldosteron memiliki reseptor
disitosol yang selanjutnya akan menuju ke inti bertujuan
untuk meningkatan sintesis RNA dalam sintesis protein
enzim.
113 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan
diferensiasi
Hormon Mineralkortikoid/ Aldosteron pada
sintesisnya perlu hidroksilasi pada C18 oleh enzim
hidrosilasenya hanya ada di zona Glomerulus ginjal ( di
bawah kapsula bowmann). Sebagian besar hidroksilase
steroid ada di adrenal korteks. Struktur aldosteron mirip
kortikosteron, hanya pada atom C18 ada gugus aldehid.
Deoskikortikosteron (DOC) merupakan prazat aldosteron.
Aldosteron sintetis pada strukturnya mempunya gugus asetat
dan deoksikortikosteroid asetat (DOCA)

5.4.4. Katekolamin (Epinefrin, nor-epinefrin)


Hormon yang berperan dalam sistem saraf adalah
katekolamin dalam bentuk epinefrin (adrenalin) dan
norepinefrin (noradrenalin). Medula adrenal mengandung
granula kromafin (organel dalam sel) yang berfungsi untuk
biosintesis, uptake, penyimpanan dan sekresi katekolamin.
Senyawa lain yang terdapat dalam granulai ini adalah ATP-
Mg2+, Ca2+, Dopamin-β-hidroksilase (DBH), dan protein
kromogranina. Katekolamin masuk ke dalam granula dengan
mekanisme transport dengan ATP dependent ratio
katekolamin : ATP = 4 : 1. Norepinefrin disimpan dalam
granula, dapat keluar serta mengalami metilasi ujung
terminal-N proteinnya sehingga membentuk nor-epinefrin
dan selanjutnya masuk ke granula baru.
Katekolamin tidak menfasilitasi respon stress sendiri
tetapi dibantu oleh hormon glukokortikoid, growth factor,
vasopressin, angiotensin II dan glukagon. Katekolamin
merupakan derivat 3,4-dihidroksi feniletilamin (dalam
114 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan
diferensiasi
bentuk dopamin, epinefrin, norepinefrin dalam medulla
adrenal (sel-sel kromafin). Kelompok sel-sel kromafin ini
terdapat juga di jantung, hepar, ginjal dan gonad dan neuron-
neuron adrenergik system simpatetik postganglion dari
susunan saraf pusat. Produk terbesar dalam bentuk epinefrin.
Katekolamin dibuat dari tirosin, dikatalisis oleh
enzim tirosin hidroksilase dengan kofaktor
tetrahidropteridin. Enzim bekerja sebagai enzim
oksidoreduktase yang bersifat rate limiting dengan cara
feedback inhibition oleh katekolamin dan hambatan
kompetitif oleh beberapa senyawa lain antara lain metil
tirosin untuk feokromositom dan dipiridil (kelasi Fe yang
menyebabkan kofaktor hilang).
Katekolamin disintesis dari jaringan saraf medula
adrenal. Kelenjar ini merupakan sumber utama dari epinefrin
pada sirkulasi darah sirkulasi. Katekolamin disintesis dari
tirosin dan kemudian disimpan dalam granula sel medula
adrenal. Tirosin diubah menjadi dihidroksifenilalanin
(DOPA) oleh hidroksilase tirosin, lalu DOPA diubah
menjadi dopamin dalam sitoplasma oleh enzim
dekarboksilase. Dopamin kemudian diankut ke dalam
membran granula, selanjutnya diubah menjadi norepinefrin,
produk akhir katekolamin. Namun, pada lokasi lain dalam
medula adrenal ditemukan feniletanolamin-
Ometiltransferase (PNMT); dimana pada lokasi ini
norepinefrin meninggalkan vesikel untuk kembali ke
sitoplasma, selanjutnya PNMT mengubah norepinefrin
menjadi epinefrin untuk disekresi. Katekolamin disimpan
dalam granula pada kromogranin A dan membuthkan ATP

115 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
dalam sekresinya. Katekolamin ini pula segera dibersihkan
dengan cepat, dengan waktu-paruh 1-2 menit. Dimanfaat
dalam metabolisme selular secara tidak berlebihan, dan
hanya sekitar 2-3% dari norepinefrin diekskresikan dalam
urin. Katekolamin segera didegradasi melalui katekol-O-
metiltransferase (COMT) dan monoamin oksidase (MAO)
guna mencegah produksi katekolamin yang berlebihan.
Tirosin menjadi DOPA disitoplasma dibantu olen
enzim tirosin hidroksilase, dan enzim ini dapat dihambat
oleh metil-P-tirosin, dopamin dan norepinefrin secara
feedback. Enzi mini dapat diaktifkan oleh cAMP-protein
kinase. Dopa menjadi dopamin juga disintesis di sitoplasma
dengan bantuan enzim DOPA dekarboksilase dan koenzim
B6 fosfat (bukan regulator). Dopamin masuk ke vesikel
medulla adrenal dan ke dalam sel-sel neuron. Yang
selanjutnya disimpan. Dopamin menjadi norepinefrin dalam
granula kromafin dalam vesikel oleh batuan enzim dopamine
oksidase. Dalam medulla adrenal norepinefrin menjadi
epinefrin dibantu oleh enzim fenil etanolamin-N-metil
transferase dan terjadi donor S-adenosil metionin. Dalam
vesikel, katekolamin ini disimpan dalam bentuk kompleks
dengan ATP dan proteinnya disebut kromogranin.
Sifat epinefrin adalah disintesis dan disimpan dalam
medulla adrenal, bekerja di jaringan lain dan diangkut oleh
darah. Efek epinefrin menyerupai perangsangan simpatik
pada organ. Epinefrin penting untuk respon fisiologi yang
cepat terhadap dingin (temperature rendah), capek, shock
dan lain-lain.

116 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
Gambar 12. Metabolisme katekolamin
117 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan
diferensiasi
Norepinefrin disintesis di sel-sel saraf (neuron) dan
ditemukan pada saraf simpatis serta bekerja sebagai
neurotransmitter. Epinefrin dan norepinefrin dalam
mempengaruhi metabolisme dalam menstimulasi terjadinya
glikolisis di hepar dan otot, menstimulasi lipolysis di
jaringan adiposa guna meningkatkan gula darah dan lemak
bebas dalam darah.
Norepinefrin yang ada pada organ yang dipersarafi
oleh saraf simpatik dibuat di ujung saraf lain yang kemudian
dibawa ke organ targetnya melalui sirkulasi darah. Epinefrin
dan norepinefrin dapat dibuat dan disimpan di sel-sel lain di
medulla adrenal dan jaringan kromafin lain.
Sekresi hormon ini menstimulasi eksositosis dan
kalsium, sekresi dirangsang oleh pars β-adrenal dan
dihambat oleh pars α- adrenal. Epinefrin disekresi ke sel
target/ hepar dan dipecah. Nor-epinefrin di sekresi,
selanjutnya di ambil kembali oleh sel-sel neuron selanjutnya
masuk ke vesikel. Dalam vesikel nor-epinefrin aktif menjadi
tidak aktif (bentuk simpanan) dan aktivitas neurotransmiten
di hentikan, dalam hal ini perlu energi. Norepinefrin tidak
menembus barrier darah ke otak dan selanjutnya disintesis di
otak. L-Dopa dapat masuk juga ke otak.
Degradasi dan ekskresi katekolamin melalui
mekanisme pengeluaran urin. Degradasi di semua jaringan
dengan cara (1) metilasi gugus OH-nya oleh enzim katekol-
O-metil transferase (COMPT) terjadi disitosol, activator
Mg2+ S-adenosil metionin sebagai donor metil (2) oksidasi
rantai cabangnya, dengan enzim monoamine oksidase

118 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
(MAO) terdapat dalam mitokondria.Tempat terbanyak
terjadi pemecahan di hepar. Regulasi epenefrin dan nor-
epinefrin sebagai allosterik inhibisi terhadap sintesisnya
sendiri yaitu terhadap tirosin hidroksilase. Stress, makanan,
sistem β-adrenal, hiper-hipofisis, ACTH/kortikosteroid
dalam jangka panjang terjadi peningkatan sintesis perlahan-
lahan.
Epinefrin berperan dalam glikogenolisis hepar dan
otot skelet, laktasidemia, sumber glukoneogenesis hepar,
resistensi insulin, lipolisis jaringan lemak, menghambat
sekresi insulin oleh sel β, dan merangsang sekresi glukagon
oleh sel α. Efek katekolamin pada : (1) sistem saraf pusat
merangsang korteks euphoria ( rasa senang atau puas) dan
mengurangi persepsi (fatigue) (2) pada pembuluh darah
konstriksi artriol kulit dan ginjal, dilatasi pembuluh darah
otot skelet (3) pada jantung (peran epinefrin 80% dari
norepinefrin), menyebakan peningkatan frekwensi dan
kekuatan kontraksi jantung (4) pada sitem respirasi dapat
mempercepat frekwensi pernafasan, relaksasi bronkus (5)
pada otot skelet dapat memperpanjang masa kontraksi dan
dilatasi pembuluh darah karena adanya akumulasi laktat.
Regulasi hormon salah satunya melalui epinefrin
dan norepinefrin dapat sebagai inhibitor alosterik terhadap
sintesisnya sendiri yaitu menghambat enzim tirosin
hidroksilase. Stress, makanan, stimulasi β-adrenal,
hiperhipofisis, ACTH dalam jangka waktu yang panjang
akan meningkatkan sintesis perlahan-lahan. Demikian pula
hormon glukokortikoid dapat merangsang enzim etanolamin

119 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi
N-metil transferase. Asetilkolin juga dapat merangsang
sekresi epinefrin dan norepinefrin.
Norepinefrin tidak menembus barier darah otak dan
disintesisi di otak, sebaliknya L-DOPA dapat masuk ke
dalam otak. Mekanisme kerja epinefrin setelah disekresi
menuju ke sel target hepar, setelah digunakan sesuai
keperluan akan didegradasi. Norepinefrin setelah disekresi
diambil kembali oleh sel-sel neuron, masuk ke vesikel,
norepinefrin yang tadinya aktif menjadi tidak aktif sebagai
bentuk simpanan, serta aktivitas neurotransmiter berhenti,
dalam proses ini memerlukan energi. Dalam vesikel,
katekolamin disimpan dalam bentuk komplek dengan ATP
dengan perbandingan 4:1 dan protein yang disebut
kromogranin. Kelompok sel-sel kromafin ini terdapat juga di
jantung, hepar, ginjal, gonad dan neuron-neuron adrenergik
sistem simpatik postganglion dari sistem saraf pusat, produk
terbesar adalah epinefrin.
Norepinefrin yang ada pada organ yang dipersarafin
sendri sekitar 80%, sisanya dibuat di ujung saraf lain yang
kemudian di bawa ke organ targetnya melalui sirkulasi
darah. Epinefrin dan norepinefrin dapat dibuat dan disimpan
di sel-sel lain di medula adrenal dan jaringan kromafin lain.
Enzim DOPA hidroksilase (disemua jaringan) perlu
koepiridoksal fosfat. Inhibitor kompetitif α-metil DOPA
yaitu senyawa yang mirip metil-DOPA antara lain : hifroksi
tiramin (tiramin), metil tirosin, metaraminol yaitu obat-obat
yang digunakan untuk hipertensi.

120 | H o r m o n pengatur pertumbuhan dan


diferensiasi