Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Luka merupakan penyebab utama kecacatan fisik yang membatasi

seseorang dalam melakukan aktivitas dan perawatan luka yang lama akan

meningkatkan biaya perawatan pasien di rumah sakit sehingga penyembuhan

luka yang cepat menjadi hal yang penting bagi pasien dan ahli bedah.

Penyembuhan luka dapat terhambat akibat banyak faktor, baik yang bersifat

lokal maupun sistemik. Beberapa produk alami telah menunjukkan dapat

mempercepat proses penyembuhan luka (Guo dan DiPietro, 2010; Jarbrink et

al., 2017; Hajialyani et al., 2018).

Keadaan yang dihadapi setelah pembedahan salah satunya adalah

penyembuhan luka. Luka yang tidak sembuh atau sembuh dalam waktu lama

merupakan masalah yang sering ditemukan. Kejadian ini akan mengakibatkan

komplikasi sebagai salah satu sumber morbiditas, menyebabkan gangguan

psikologis bagi penderita, meningkatkan anggaran biaya pengobatan, dan

kehilangan jam kerja pada penderita dalam usia produktif. Kejadian gagal

penyembuhan luka di Amerika dilaporkan sebesar 0,48 dari 100.000

penduduk. Disebutkan juga bahwa gagalnya penyembuhan luka akan

memperlama hari perawatan di rumah sakit sebesar 9,4 hari dan menelan

biaya US$ 40.323 tiap kasusnya. Hingga saat ini belum terdapat data terkait

1
prevalensi penyembuhan luka, biaya morbiditas dan penambahan hari rawat

inap di Indonesia (Shanmugam et. al., 2015).

Pada penyembuhan luka, fibroblas adalah sel yang mensintesis matriks

ektraseluler dan kolagen yang berperan penting. Jumlah fibroblas mencapai

puncak pada hari ke-7 setelah trauma dan merupakan sel dominan pada

minggu pertama fase penyembuhan luka. Sintesis dan aktivasi fibroblas oleh

protein sekretori dan makrofag memicu penggantian matriks ekstraseluler baru

dengan kolagen sebagai struktur utamanya (Gurtner, 2014).

Perawatan luka dengan traditional wound dressing dengan hanya

menggunakan normal saline biaya yang dikeluarkan relatif murah tetapi

memiliki kekurangan yaitu penyembuhan luka yang lebih lama dibandingakan

dengan penggunaan modern wound dressing. Pada modern wound dressing

dimana salah satunya tulle memiliki bahan dasar polymer synthetic yang

berfungsi tidak hanya menutup luka tetapi juga memacu penyembuhan luka.

Namun kekurangan dari sifat tulle yang tidak dapat di tembus oleh air

mengakibatkan eksudat dapat terperangkap di dalam luka (Atiyeh et al., 2002;

Caroline dan Geoff, 2006; Dhivya et al., 2015).

Kunyit (Curcuma longa) adalah tanaman rimpang yang telah banyak

dikenal oleh dunia khususnya India dan Cina yang digunakan sebagai obat

tradisional. Salah satu zat aktif yang terkandung di dalam kunyit adalah

kurkumin, yang merupakan salah satu dari tiga zat kurkuminoid dalam kunyit

yang sering diteliti efeknya dalam bidang medis. Kurkumin mempercepat

2
proliferasi fibroblas dan sintesis kolagen serta maturasi kolagen. (Akbik et al.,

2014; Emiroglu et al., 2017).

Atas dasar pemikiran di atas maka penelitian ini bertujuan untuk

meneliti perbandingan antara produk herbal ekstrak kunyit dan modern

synthetic dressing tulle terhadap jumlah fibroblas dan kepadatan kolagen

dalam mempercepat penyembuhan luka bersih pada kulit tikus secara

eksperimental.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar balakang di atas maka dapat dibuat rumusan masalah

sebagai berikut:

1. Apakah pemberian ekstrak kunyit topikal dapat meningkatkan

jumlah fibroblas dan kepadatan kolagen dalam proses

penyembuhan luka bersih pada kulit tikus?


2. Apakah pemberian tulle dapat meningkatkan jumlah fibroblas dan

kepadatan kolagen dalam proses penyembuhan luka bersih pada

kulit tikus?
3. Produk manakah yang lebih efektif antara ekstrak kunyit topikal

dan tulle dalam mempercepat proses penyembuhan luka bersih

pada kulit tikus?

3
1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Membandingkan efektifitas pengaruh pemberian ekstrak kunyit topikal

dan tulle dalam proses percepatan penyembuhan luka pada kulit tikus.

1.3.2 Tujuan Khusus

1 Membuktikan pengaruh pemberian ekstrak kunyit topikal

terhadap jumlah fibroblas dan kepadatan kolagen dalam proses

penyembuhan luka bersih pada kulit tikus.


2 Membuktikan pengaruh pemberian tulle terhadap jumlah fibroblas

dan kepadatan kolagen dalam proses penyembuhan luka bersih

pada kulit tikus.


3 Membandingkan perbedaan jumlah fibroblas dan kepadatan

kolagen luka bersih pada kulit tikus antara pemberian ekstrak

kunyit topikal dan tulle sebagai produk tambahan dalam

perawatan luka.

1.4 Manfaat Penelitian

1.3.2 Manfaat teoritis

 Mengetahui produk mana yang lebih efektif dalam hal

mempercepat penyembuhan luka antara ekstrak kunyit topikal dan

tulle.
 Mengetahui efektifitas produk ekstrak kunyit topikal dan tulle

dalam hal mempercepat penyembuhan luka.

4
1.3.3 Manfaat praktis

 Memperoleh bukti manfaat pemberian ekstrak kunyit topikal dan

tulle pada percepatan penyembuhan luka.


 Menentukan pilihan produk yang akan digunakan dalam hal

mempercepat penyembuhan luka.


 Dapat digunakan sebagai terapi adjuvant pasien setelah operasi.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Lapisan Kulit Manusia

Kulit adalah organ terbesar di tubuh. Kulit menutupi seluruh

permukaan eksternal tubuh, dan berfungsi sebagai penghalang pertama untuk

melawan patogen, sinar UV, bahan kimia, dan sebagai penghalang mekanis

terhadap cedera. Kulit juga mengatur jumlah air yang dilepaskan ke

lingkungan (Yousef, 2019).

Lapisan kulit terdiri dari lapisan epidermis, lapisan dermis, serta

lapisan hipodermis atau disebut juga lapisan subcutis Lapisan epidermis terdiri

dari stratum basale atau stratum germinativum, stratum spinosum, stratum

granulosum, stratum lucidum, dan stratum corneum (gambar 2.1) (Yousef,

2019).

Stratum basale alias stratum germinativum merupakan lapisan

terdalam, dipisahkan dari dermis oleh membran basal (lamina basal) dan

dilekatkan oleh hemidesmosom. Sel berbentuk kuboid hingga kolumnar dan

merupakan sel punca yang aktif secara mitosis. Stratum spinosum atau lapisan

sel duri adalah sel selpolihedral yang tidak beraturan dengan "duri" yang

memanjang ke luar dan menghubungkan sel sekitarnya dengan desmosom.

Stratum granulosum merupakan sel berbentuk berlian yang mengandung

butiran keratohyalin. Stratum lucidum terdiri dari lapisan transformasi tipis

eleidin (produk transformasi keratohyalin); biasanya terlihat di kulit yang

6
tebal saja. Stratum corneum merupakan lapisan terluar, terbuat dari keratin dan

sisik tanduk yang dulunya merupakan sel hidup, sel-sel mati yang dikenal

sebagai skuamosa (anukleat), serta dengan kepadatan lapisan yang paling

bervariasi, dimana lebih tebal pada kulit yang sering digunakan (Yousef,

2019).

Gambar 2.1. Anatomi Kulit Manusia (Yousef, 2019)

Sel epidermis terdiri dari sel keratinosit, melanosit, sel Langerhans, sel

Merckel. Jenis sel epidermis yang dominan berasal dari lapisan basal,

menghasilkan keratin., pembentuk penghalang air epidermis. Melanosit

berasal dari sel-sel krista neural. Melanin terutama ditemukan di stratum basal

dan melindungi terhadap radiasi UV; melanosit ditemukan di antara sel-sel

stratum basale. Melanosit diproduksi oleh oksidasi tirosin menjadi 3,4 - DOPA

7
oleh tyrosinase dan kemudian terjadi transformasi DOPA menjadi melanin.

Melanosit mengirim proses memanjang antara sel-sel epidermis, berhubungan

dengan sel-sel epidermis. Butiran melanin dari melanosit ditransfer melalui

proses panjang ke sitoplasma keratinosit basal. Melanin dipindahkan ke

keratinosit sebelahnya dengan "sumbangan pigmen yang melibatkan

fagositosis ujung melanosit oleh keratinosit. Sel epidermis lain yakni sel

Langerhans yang merupakan dendritik, menghasilkan antigen, membutuhkan

pengecatan khusus untuk divisualisasikan dalam stratum spinosum. Asal

mesenchymal, berasal dari sel punca dari sumsum tulang, bagian dari sistem

mononuklear-fagositik. Butiran Birbeck mengekspresikan molekul MHC I dan

MHC II penyerapan antigen di kulit dan transportasi ke kelenjar getah bening.

Sel Merckel merupakan sel epidermis yang dimodifikasi dalam stratum basale.

Sel Merckel memiliki fungsi sensorik untuk sentuhan halus, terpadat di ujung

jari. Terikat dengan keratinosit berdampingan oleh desmosom dan memiliki

filamen keratin menengah (Yousef, 2019).

Lapisan dermis terdiri dari dua lapisan jaringan ikat yang bergabung

bersama, tanpa batas yang jelas. Lapisan dermis terdiri dari lapisan papiler dan

reticular, Lapisan papiler merupakan lapisan luar, lebih tipis, terdiri dari

jaringan longgar dan kontak epidermis. Lapisan reticular merupakan lapisan

dalam, lebih tebal, lebih sedikit seluler, dan terdiri dari jaringan ikat / bundel

serat kolagen. Dermis menampung pelengkap kulit (kelenjar keringat dan

rambut), neuron sensorik, dan pembuluh darah (Yousef, 2019).

8
Lapisan hipodermis merupakan lapisan kulit terdalam. Lapisan

hipodermis berisi lobules adiposa bersama dengan beberapa pelengkap kulit

(folikel rambut), neuron sensorik, dan pembuluh darah (O’Connell, 2015;

Denkler, 2015; Herskovitz, 2016).

2.2. Anatomi Lapisan Kulit Tikus Wistar

Sistem integumentari kulit terdiri dari epidermis dan dermis. Lapisan

epidermis terdiri dari sel-sel epitel yang disebut keratinosit yang diproduksi di

lapisan basal dan dermis bertanggung jawab untuk ketahanan kulit dan

elastisitas. Di strata basal, terjadi pembaharuan sel yang konstan, dengan

aktivitas mitosis tinggi. Sel-sel ini mengalami diferensiasi, didorong ke

lapisan spinosum dan lucidum sampai mereka mencapai epidermis. Sel-sel ini

membentuk empat hingga enam lapisan keratinosit dan memberikan kekuatan

mekanis pada epidermis. Pada stratum granulosum, zat yang memastikan

kohesi ke stratum korneum disintesis. Stratum korneum adalah lapisan luar,

yang terdiri atas rata dan sel-sel anukleat yang disebut corneocytes (De Bem et

al., 2010).

9
Gambar 2.2. Skema Lapisan Kulit Tikus Wistar (CALAS, 2017)

2.3 Penyembuhan Luka

Penyembuhan luka adalah proses tubuh untuk memperbaiki kerusakan

jaringan agar dapat berfungsi kembali. Tubuh berusaha untuk menormalkan

kembali semua kondisi abnormal akibat luka dengan proses penyembuhan.

Respon tubuh apabila integritas kulit mengalami kerusakan berupa fase yang

saling tumpang tindih, tetapi secara biologis dapat dibedakan. Setelah terjadi

luka, terjadi fase inflamasi yang bertujuan untuk menghilangkan jaringan non

vital dan mencegah infeksi bakteri invasif. Kemudian, terjadi fase proliferasi

dimana terjadi keseimbangan antara pembentukan jaringan parut dan

regenerasi jaringan. Dan yang terakhir, terjadi fase remodeling yang bertujuan

untuk memaksimalkan kekuatan dan integritas struktural dari luka. Pada setiap

fase penyembuhan tersebut berjalan overlapping dan terdapat satu jenis sel

khusus yang mendominasi (Gambar 2.3) (Taketo, 2011; Gonzales et al., 2016).

10
Gambar 2.3. Fase dan Proses Penyembuhan Luka (Gurtner, 2014)

2.3.1 Fase Inflamasi

Pada fase inflamasi pembentukan plak berperan sebagai hemostasis

atau mencegah kehilangan darah lebih lanjut. Berbagai macam faktor

dilepaskan untuk menstimulasi sel yang memfagositosis debris, bakteri,

jaringan nekrotik, serta menginisiasi proses proliferasi. Setelah jaringan

mengalami kerusakan, pembuluh darah segera melakukan vasokonstriksi dan

pelepasan produk-produk tromboplastik dari subendothelium (Gurtner, 2014).

Agregasi trombosit membentuk plak hemostasis inisial yang akan

menginduksi rangkaian proses selanjutnya. Agregasi trombosit ini merangsang

penyusunan fosfolipid pada membran trombosit, yang memudahkan faktor

pembekuan V berikatan dengan trombosit dan kemudian berinteraksi dengan

faktor X memproduksi banyak trombin. Trombin kemudian meningkatkan

11
agregasi trombosit dan sebagai katalisator pembentukan fibrin dari fibrinogen.

Ikatan fibrin membentuk klot yang impermeable terhadap plasma. Ikatan

fibrin dan trombosit atau thrombus ini akan menjadi penutup luka, mencegah

perdarahan lebih lanjut, infeksi bakteri dan juga sebagai kerangka untuk

mobilisasi sel-sel endotel, sel radang, dan fibroblas setelah terbentuk thrombus

maka telah terjadi hemostasis. Trombosit diaktifkan oleh thrombin melepaskan

IGF-1, TGFα, TGFβ, dan PDGF yang kemudian menarik lekosit dan fibroblas

ke dalam luka. Kerusakan sel-sel endotel juga menimbulkan respon sinyal

yang melibatkan produk komplemen C5a, TNFα, IL-1, dan IL-8 dan reseptor

untuk mengintegrasikan molekul pada membran sel lekosit. Hal ini membuat

lekosit yang berada dalam sirkulasi berpindah menuju jaringan luka (Gurtner,

2014; Gonzales et al., 2016).

Stimulan seperti fibrin, benda asing, dan bakteri akan mengakibatkan

lekositosis, khususnya makrofag yang akan melepaskan sitokin

chemoattractants dan growth factors (Gurtner, 2014).

Pengeluaran chemoattractants berfungsi sebagai sinyal migrasi sel-sel

lekosit, netrofil dan monosit, dan proten plasma memasuki daerah luka.

Pergerakan sel-sel lekosit dari intravaskuler melalui dinding pembuluh darah

melewati celah antar sel-sel endotel, menuju jaringan luka yang disebut

diapedesis. Kemudian sel-sel endotel pecah dan kontak ke sel-sel lain dan

membatasi sel-sel inflamasi di area luka. Proses ini disebut marginasi

(Gurtner, 2014).

12
Netrofil adalah sel lekosit yang pertama memasuki luka dalam waktu 6

jam dan mencapai puncaknya pada 24-48 jam. Netrofil bertugas menginfiltrasi

selular debris, benda asing dan bakteri. Tugas utama netrofil adalah

mensterilisasi luka (Gurtner, 2014).

Dalam waktu dua sampai tiga hari, populasi sel radang didominasi oleh

monosit. Monosit dalam sirkulasi akan tertarik dan infiltrasi ke tempat luka.

Monosit ini akan berdiferensiasi menjadi makrofag dan bergabung dengan

makrofag setempat, dan memulai proses penyembuhan. Makrofag tidak hanya

melanjutkan fagositosis debris jaringan dan bakteri, tetapi juga mensekresikan

multiple growth factor (Gurtner, 2014).

Kekurangan monosit dan makrofag mengakibatkan gangguan hebat

pada penyembuhan luka yang mengakibatkan debridemen yang buruk,

proliferasi fibroblas yang terlambat dan tidak adekuatnya angiogenesis

(Gurtner, 2014).

Gambar 2.4. Fase Inflamasi Luka (Gurtner, 2014)

13
2.3.2 Fase Proliferasi

Fase proliferasi berlangsung mulai hari ke-4 hingga hari ke-21 pasca

cidera. Keratinosit yang berada pada tepi luka sesungguhnya telah mulai

bekerja beberapa jam pasca cidera, menginduksi terjadinya reepitelialisasi.

Pada fase ini matriks fibrin yang didominasi oleh platelet dan makrofag secara

gradual digantikan oleh jaringan granulasi yang tersusun dari kumpulan

fibroblas, makrofag dan sel endotel yang membentuk matriks ekstraseluler dan

neovaskular. Pada fase ini juga sudah mulai terjadi proses angiogenesis pada

sel endotel pembuluh darah, faktor yang memicu terjadinya angiogenesis

termasuk VEGF, FGF-2, dan Angiopoietin-1. Hal penting yang menjadi

perhatian pada fase proliferasi adalah ketika kolagen sudah mengisi penuh dari

luka, maka aktivitas fibroblas akan berhenti dan ini merupakan proses

fisiologis dalam tubuh manusia untuk mencegah terjadinya penyembuhan luka

yang berlebihan seperti pada jaringan parut hipertrofik dan keloid (Gambar

2.5) (Gurtner, 2014).

14
Gambar 2.5. Fase Proliferasi Luka (Gurtner, 2014)

Faktor setempat seperti growth factor, sitokin, hormon, nutrisi, pH dan

tekanan oksigen sekitar menjadi perantara dalam proses diferensiasi sel induk.

Regresi jaringan desmosomantar keratinosit mengakibatkan terlepasnya

keratinosit untuk bermigrasi ke daerah luka. Keratinosit juga bermigrasi secara

aktif karena adanya filamen aktin di dalam sitoplasma keratinosit. Keratinosit

bermigrasi akibat interaksinya dengan protein sekretori seperti fibronektin,

vitronektindan kolagen tipe I melalui perantara integrin spesifik di antara

matriks temporer. Matriks temporer ini akan digantikan secara bertahap oleh

jaringan granulasi yang kaya akan fibroblas, makrofag dan sel endotel. Sel

tersebut akan membentuk matriks ekstraseluler dan pembuluh darah baru.

Jaringan granulasi umumnya mulai dibentuk pada hari ke-4 setelah cidera

(Anderson, 2000; Gonzales et al., 2016).

Fibroblas merupakan sel utama selama fase ini dimana ia menyediakan

kerangka untuk migrasi keratinosit. Makrofag juga akan menghasilkan growth

factor seperti PDGF dan TGF-β yang akan menginduksi fibroblas untuk

berploriferasi dan migrasi. Penelitian yang dilakukan oleh Petrov dkk

menunjukkan bahwa peningkatan kecepatan produksi kolagen yang dihasilkan

dapat mencapai 2 kali lipat apabila TGF-β1 distimulasi dengan maksimal

(Petrov et al., 2001).

Growth factor juga membentuk matriks ekstraseluler. Matriks temporer

ini secara bertahap akan digantikan oleh kolagen tipe III. Ada beberapa

subtipe kolagen yang diproduksi oleh fibroblas pada proses penyembuhan luka

15
dan yang paling dominan adalah kolagen tipe I dan III. Studi yang dilakukan

oleh Goel dkk membuktikan bahwa diantara 2 tipe kolagen ini tipe III

merupakan kolagen yang paling dominan diproduksi pada proses

penyembuhan luka. Kolagen tipe III merupakan kolagen yang bersifat elastis,

sedangkan kolagen tipe I adalah kolagen yang bersifat kaku. Sel endotel akan

membentuk pembuluh darah baru dengan bantuan protein sekretori VEGF,

FGF dan TSP-1 (Goel et al., 2012; Gurtner, 2014).

Pembentukan pembuluh darah baru dan jaringan granulasi merupakan

tanda penting fase proliferasi karena ketiadaan pembuluh darah baru atau

jaringan granulasi merupakan tanda dari gangguan penyembuhan luka. Setelah

kolagen mulai menggantikan matriks temporer, fase proliferasi mulai berhenti

dan fase remodeling mulai berjalan (Gurtner, 2014).

Faktor proangiogenik yang diproduksi makrofag seperti VEGF, FGF-2,

angiopoietin-1 dan thrombospondin akan menstimulasi sel endotel membentuk

neovaskular melalui proses angiogenesis. Hal yang menarik dari fase

proliferasi ini adalah bahwa pada suatu titik tertentu, seluruh proses yang telah

dijabarkan di atas harus dihentikan. Fibroblas akan menghilang setelah

matriks kolagen mengisi kavitas luka dan pembentukan neovaskular akan

menurun melalui proses apoptosis. Kegagalan regulasi pada tahap inilah yang

hingga saat ini dianggap sebagai penyebab terjadinya kelainan fibrosis seperti

jaringan parut hipertrofik (Gurtner, 2014).

2.3.3 Fase Maturasi

16
Fase ini disebut juga fase remodeling. Fase ini terjadi setelah tiga

minggu. Proses yang utama adalah perubahan pada kolagen dan pembentukan

jaringan parut. Penumpukan kolagen pada jaringan luka terjadi akibat

keseimbangan antara aktivitas kolagenolitik dan sintesis kolagen. Kolagen

yang berlebihan didegradasi oleh enzim kolagenase dan kemudian diserap.

Sisanya akan mengerut sesuai tegangan yang ada. Hasil akhir dari fase ini

berupa jaringan parut yang pucat, tipis, lemas dan mudah digerakkan dari

dasarnya (Gurtner, 2014; Gonzales et al., 2016).

Tensile strength akan bertambah secara cepat dalam 6 minggu pertama,

kemudian akan bertambah perlahan selama 1-2 tahun. Pada umumnya tensile

strength pada kulit dan fascia akan mencapai 20% pada minggu ke 3 atau hari

ke 21 dari fase penyembuhan luka, namun tensile strength ini tidak akan

pernah mencapai 100%, namun hanya sekitar 80% dari normal, hal ini terjadi

ketika fase remodeling telah mencapai puncaknya (Gonzales et al., 2016).

Fase remodeling merupakan fase terlama dalam penyembuhan luka

yang terjadi pada hari ke 21 sampai mencapai 1 tahun, fase remodeling juga

terjadi sebelum fase proliferasi berakhir (Gurtner, 2014).

17
Gambar 2.6. Fase Remodeling Luka (Gurtner, 2014)

Gambar 2.7. Penyembuhan Luka Kulit (Zomer and Trentin, 2017)

2.4 Kunyit

Kunyit adalah salah satu tanaman berakar yang berasal dari famili

Zingiberaceae. Kunyit umumnya tumbuh baik pada daerah tropis di kawasan

Asia Tenggara, namun tanaman ini sekarang telah banyak dibudidayakan pada

18
daerah subtropik karena efek positifnya dalam bidang medis yang melimpah

(Li et al., 2011).

Banyak studi yang sudah dilakukan baik secara in vitro maupun in

vivo terkait tanaman kunyit, yang menggunakan ekstrak dari tanaman kunyit.

Kunyit mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral, minyak atsiri dan

kurkuminoid (Prasad et al., 2014).

Kurkuminoid terdiri dari kurkumin (77%), demethoxycurcumin

(DMC; 17%), dan bidemethoxycurcumin (BDMC; 3%). DMC dan BDMC,

analog alami dari kurkumin, yang memiliki aktivitas biologis seperti

kurkumin. Sebuah studi penelitian menemukan bahwa faktor transkripsi

inflamasi nuclear factor kappaB (NF-kB) dari kurkumin jauh lebih efektif

daripada yang lain (kurkumin> DMC> BDMC). Diperkirakan bahwa hasil ini

berasal dari peran kelompok metoksi pada cincin fenil kurkumin (Goel et al.,

2008; Kocaadam dan Sanlier, 2015).

Kurkumin merupakan komponen aktif utama yang memiliki beberapa

metabolit aktif seperti dihidrokurkumin, tetrahidrokurkumin (THC),

oktahidrokurkumin (OHC), hexahidrokurkumin (HHC), kurkumin glukuronid,

dan kurkumin sulfat. Beberapa studi telah menentukan bahwa THC

menunjukkan efek antioksidan, antiinflamasi, dan antikanker; HHC memiliki

epistasisproperti antikanker, antioksidan dan antiinflamasi, dan agregasi; dan

OHC memiliki efek antioksidan dan antiinflamasi (Kocaadam dan Sanlier,

2015).

19
Efek antioksidan dan antiinflamasi dari kurkumin adalah efek yang

digunakan oleh beberapa peneliti dalam meningkatkan respon penyembuhan

luka. Kurkumin disinyalir dapat menangkal radikal bebas yang merupakan

penyebab utama dari terhambatnya penyembuhan luka, dan mampu berperan

dalam remodeling jaringan, pembentukan jaringan granulasi, dan deposisi

kolagen. Beberapa studi juga menyebutkan bahwa kurkumin dapat

meningkatkan regenerasi epitel, proliferasi fibroblas, dan meningkatkan

densitas vaskuler (Akbik et al., 2014).

Selain kurkuminoid, minyak atsiri yang dikenal juga sebagai essential

oil atau volatile oil merupakan komponen aktif utama kunyit lainnya. Minyak

atsiri menyebabkan aroma dan rasa pada kunyit serta berguna pada

penyembuhan luka. Studi fitokimia telah mengisolasi sekitar 62

seskuiterpenoid, 1 monoterpen, 4 norsesquiterpenoid, dan 1 norditerpen dari

kunyit dengan terpenoid merupakan salah satu komponen utama dalam

minyak atsiri kunyit. Minyak atsiri diekstrak dari daun kunyit dan

akar/rhizome dari kunyit. Akar dari tanaman kunyit merupakan sumber

terbesar dari minyak atsiri, yang mengandung sekitar 5,6% minyak atsiri,

dibandingkan dengan daunnya yang hanya mengandung 1% minyak atsiri

(Stanojevic et al., 2015; Meng et al., 2018).

20
Gambar 2.8. Tanaman Kunyit dan Serbuk Ektraksi (Li et al., 2011)

2.4.1 Klasifikasi Tanaman Kunyit

Klasifikasi tanaman kunyit menurut kesepakatan internasional dari

USDA (United States Department of Agriculture) adalah: (USDA, 2018)

 Kingdom : Plantae
 Subkingdom : Tracheobionta
 Superdivisi : Spermatophyta
 Divisi : Magnoliophyta
 Kelas : Liliopsida
 Subkelas : Zingiberidae
 Ordo : Zingiberales
 Familia : Zingiberaceae
 Genus : Curcuma longa

2.4.2. Sejarah dan Perkembangan Kunyit di Dunia Medis

Kurkumin sudah diteliti sejak tahun 1949 dan dikembangkan

berdasarkan sifat antibakterialnya, sejak saat itu mulai banyak kegunaan

kurkumin yang dikembangkan meliputi antiinflamasi, antimikroba, dan

21
antioksidan. Efek kurkumin pada manusia pertama kali diteliti pada tahun

1937 oleh Oppenheimer. Injeksi dari larutan yang mengandung 5% natrium

kurkumin diberikan terhadap pasien yang mengidap kolesistitis akut, subakut,

dan kronis karena kurkumin disinyalir mampu memberikan efek pengosongan

dari kandung empedu. Peran kurkumin dalam penyembuhan luka dikaitkan

dengan kemampuannya sebagai agen antiinflamasi yang dapat berinteraksi

dengan sitokin TNF-α, IL-1, IL-6, protein apoptosis, NFκB, COX-2, STAT3,

IKKβ, endothelin-1, malondialdehyde (MDA), C-reactive protein (CRP),

prostaglandin E2, GST, VCAM-1, glutathione (GSH), pepsinogen,

phosphorylase kinase (PhK), transferrin receptor, total cholesterol, TGF-β,

triglyceride, HO-1, antioxidants, AST, dan ALT. Namun dikarenakan

bioavailabilitas dari kurkumin yang sulitmaka penelitian terhadap kegunaan

tanaman ini pada penyembuhan luka masih belum dilakukan (Gupta et al.,

2013).

22
Gambar 2.9. A. Jumlah Publikasi Penelitian Tentang Kurkumin; B. Peran

Kurkumin (Gupta et al., 2013)

Pengembangan penggunaan kurkumin dalam dunia medis juga terus

dilakukan oleh berbagai ahli, dikarenakan salah satu limitasi dari penggunaan

kurkumin baik secara oral maupun topikal adalah rendahnya daya absorpsi

dan bioavailabilitas sistemik dari kurkumin di dalam tubuh manusia. Beberapa

peneliti menemukan bahwa penggunaan kurkumin yang dipadukan dengan

ekstrak minyak atsiri yang terkandung di dalamnya dapat meningkatkan daya

absorpsi dan bioavailabilitas sistemik dari kurkumin hingga 7-10 kali

dibandingkan dengan penggunaan kurkumin sendiri. Minyak atsiri yang terdiri

dari kandungan aromatic-tumerones (ar-tumerones), α-turmerones, β-

23
turmerones, α-santalene and aromatic curcumenedisinyalir dapat

meningkatkan efek antiinflamasi dan antioksidan daripada penggunaan

kurkumin sendiri (Toden et al., 2017).

2.4.3 Mekanisme Aksi Kurkumin dan Minyak Atsiri Kunyit Terhadap

Penyembuhan Luka

Peran kurkumin pada proses penyembuhan luka sudah terlihat pada

saat fase inflamasi, dimana kurkumin berperan dalam menghambat produksi

dari Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α), dan Interleukin-1 (IL-1) yang

merupakan dua sitokin utama yang dikeluarkan oleh monosit dan makrofag

yang berperan dalam menginduksi respon inflamasi. Jalur lain yang penting

dalam induksi proses inflamasi adalah jalur transkripsi gen yang diinduksi

oleh faktor transkripsi NF-(κ)B, yang merupakan salah satu faktor transkripsi

yang dapat dihambat aktivitasnya oleh kurkumin sehingga menghambat

pembentukan oksidan dan mediator pro-inflamsi pada proses penyembuhan

luka (Akbik, 2014).

24
Gambar 2.10. Jalur Kurkumin dalam Menginduksi Faktor Transkripsi NF-

(κ)B (Akbik et al., 2014)

Pada studi yang dilakukan pada tikus yang diberi perlakuan eksisi

luka, kemudian diberikan kurkumin, didapatkan bahwa kurkumin mampu

menyebabkan peningkatan yang signifikan dari enzim anti oksidan katalase,

superoksida dismutase, dan glutation peroksidase dibandingkan pada tikus

coba yang tidak diberi kurkumin pada luka tersebut (Akbik et al., 2014).

Fibroblas adalah elemen penting dalam pembentukan granulasi

jaringan luka atau yang dikenal dengan remodeling, banyak studi yang

menunjukkan bahwa penyembuhan luka yang baik berkaitan erat dengan

produksi dan migrasi fibroblas yang adekuat ke dalam jaringan luka, yang

merupakan sumber pembentukan granulasi jaringan yang pada akhirnya akan

merangsang epitelialisasi dari luka tersebut. Studi yang pernah dilakukan oleh

25
Mohanty dkk pada tikus yang diberikan kurkumin secara topikal pada luka

eksisi yang dibuat, menunjukkan bahwa pembentukan fibroblas berjalan lebih

baik dibandingkan dengan luka yang hanya dirawat menggunkan kasa biasa

dan penjahitan primer (Mohanty et al., 2012).

Gambar 2.11. Perbedaan Perawatan Luka dengan Menggunakan Kasa

Biasa dan KurkuminTopikal dalam Menghambat Jalur NF-(κ)B (Mohanty

et al., 2012)

Efek kurkumin dalam kunyit dalam pembentukan kolagen juga diteliti

oleh Mohanty dkk pada tahun 2012, dimana mereka meneliti tikus yang

dilakukan perlakuan perlukaan pada kulitnya dan diberikan terapi kurkumin

topikal, didapatkan bahwa pembentukan kolagen terjadi 3 hari setelah luka

dibuat, dan maturase kolagen terjadi lebih cepat dibandingkan dengan tikus

yang tidak mendapat perlakuan perawatan luka dengan kurkumin topikal. Hal

ini mungkin disebabkan karena kurkumin dalam kunyit memiliki efek

meningkatkan kekuatan regang dari luka, dan menurunkan suhu pengerutan

26
luka sehingga hasil akhir yang didapatkan adalah luka yang menyatu lebih

cepat dan memiliki tingkat keregangan yang lebih baik (Mohanty et al., 2012)

Gambar 2.12. Kolagen Perawatan Luka dengan KurkuminTopikal dan

Asam Oleat (COP Bandage) Dibandingkan dengan Perawatan Luka

dengan Asam Oleat tanpa Kurkumin (VOP Bandage) dan Kasa Biasa

(Kontrol) (Mohanty et al., 2012)

Studi yang dilakukan oleh Maheshwari dkk menemukan bahwa kurkumin

dapat mempercepat proses penyembuhan luka dengan cara menginduksi

pembentukan TGF-β1 lebih banyak dibandingkan dengan perawatan luka tanpa

menggunakan ekstrak kunyit kurkumin (Maheshwari et al., 2006).

27
Gambar 2.13. Pemeriksaan IHC Pada Hari Ke 7 Perawatan Luka Menunjukkan

Jumlah TGF-β1 yang Lebih Banyak Pada Perawatan Luka Menggunakan Ekstrak

Kunyit Kurkumin (Maheswari et al., 2006)

Beberapa studi yang sudah dilakukan terkait tanaman kunyit

menyimpulkan bahwa kurkumin yang terdapat di dalam tanaman tersebut

mempercepat penyembuhan luka dari ketiga fase yaitu inflamasi, proliferasi,

dan fase remodeling, dimana hasil akhir yang didapatkan adalah waktu yang

lebih cepat dalam penyembuhan luka dan hasil akhir luka yang lebih baik,

yang dapat disimpulkan pada gambar dibawah ini (Akbik et al., 2014).

28
Gambar 2.14. Efek Kurkumin pada Penyembuhan Luka (Akbik et al., 2014)

Minyak atsiri kunyit dalam penyembuhan luka memiliki efek dengan

bekerja sebagai zat yang memilki aktifitas antioksidan dan antiinflamasi.

Minyak atsiri mempengaruhi proses antioksidan dengan meningkatkan enzim

antioksidan seperti katalase, superoksida dismutase dan glutation reduktase.

Pada proses inflamasi dalam proses penyembuhan luka, minyak atsiri bekerja

dengan mengurangi aktifitas dari NO, superoksida dan peroksinitrat, dimana

za-zat ini dilepaskan secara berlebihan pada proses infeksi dan inflamasi (Liju

et al., 2011).

Toden dkk, pada tahun 2017 melakukan studi untuk membuktikan efek

penggunaan minyak atsiri yang dipadukan dengan kurkumin untuk meneliti

efek antiinflamasi pada tikus yang menderita kolitis. Pada studi ini didapatkan

bahwa penggunaan minyak atsiri yang dipadukan dengan kurkumin

menurunkan angka kesakitan pada hewan coba tersebut yang ditandai dengan

meningkatnya aktivitas dari hewan coba pada hari ke 4 dibandingkan dengan

29
kelompok placebo. Toden dkk, juga melakukan uji coba untuk membuktikan

efek minyak atsiri tanpa dipadukan dengan ektrak dari kunyit dalam

menurunkan inflamasi yang terjadi pada tikus coba, dan mendapatkan bahwa

minyak atsiri sendiri dapat berfungsi sebagai mediator antiinflamasi, namun

efek yang ditimbulkan sangat minimal apabila tidak dipadukan dengan ekstrak

dari kunyit (Toden et al., 2017).

Minyak atsiri dalam kunyit juga bekerja dalam menekan efek inflamasi

yang ditimbulkan dalam proses penyembuhan luka dengan berinteraksi

dengan sitokin-sitokin pro dan antiinflamasi. Toden dkk menemukan

sedikitnya 50 sitokin yang tercakup di dalam interaksi minyak atsiri dan

kurkumin dalam proses penyembuhan luka, dimana minyak atsiri secara

khusus meningkatkan regulasi dari sitokin IL-10 dan IL-11 dengan cara

menginduksi produksi dari sel Treg, yang bertindak sebagai mediator

antiinflamasi. Selain itu, minyak atsiri juga memiliki interaksi khusus dengan

CCL17 dan CXCL5, yang merupakan kemokin penyebab inflamasi pada

membran mukosa. Minyak atsiri menyebabkan menurunkan regulasi dari

kedua kemokin ini, dan khusus pada kemokin CXCL5, ekstrak dari kunyit

yaitu kurkumin tidak memiliki efek pada kemokin ini, menurut studi yang

dilakukan menggunakan alat qRT-PCR, hanya minyak atsiri yang memiliki

efek menurunkan regulasi dari CXCL5. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

minyak atsiri bekerja secara langsung dalam menimbulkan efek antiinflamasi

dan merupakan adisi yang poten terhadap penggunaan kurkumin dalam proses

penyembuhan luka (Toden et al., 2017).

30
Gambar 2.15. Mekanisme Kerja Minyak Atsiri dalam Menginduksi Efek

Antiinflamasi (Toden et al., 2017)

2.5 Tulle

Perkembangan dan penggunaan dressing dalam membantu

penyembuhan luka merupakan sebuah evolusi di banyak negara. Dressing

umumnya diciptakan untuk menimbulkan suasana lingkungan yang lembab

atau moist bagi luka. Manfaat dari lingkungan yang moist pada luka yaitu

mempermudah dan mempercepat keratinosit yang merupakan komponen

utama epidermis, untuk berjalan dan menyeberangi permukaan luka, dan

menjaga growth factor tetap berada di bed luka sehingga menstimulasi

proliferasi dari keratinosit dan fibroblas (Junker et al., 2013).

Dressing yang baik dari suatu luka adalah dressing yang dapat

menciptakan suasana lembab atau moist pada luka tersebut, dan tidak

menghalangi asupan oksigen sebagai nutrisi penyembuhan luka, serta dapat

menyerap eksudat apabila ada. Sangat penting diperhatikan bahwa dressing

luka mampu untuk memfasilitasi pertukaran udara agar luka cepat mengalami

penyembuhan, bersifat non-permeabel terhadap mikroorganisme atau kuman

penghambat penyembuhan luka, dapat mengikuti bentuk dari luka tersebut,

mudah untuk digunakan, sedikit atau tidak menimbulkan nyeri ketika

31
dilakukan penggantian dressing pada saat perawatan luka, dan tidak

menimbulkan biaya yang mahal dalam penggunaannya (Sood et al., 2014).

Dressing kassa dapat dilapisi dengan berbagai bahan seperti petroleum,

iodine, bismuth, dan zinc membuat dressing tidak lengket dan menciptakan

suasana moist pada luka sehingga membantu penyembuhan luka (Sood et al.,

2014).

Gambar 2.16. Tulle Dressing Luka (Sood et al., 2014)

Tulle merupakan serat tekstil sintetis yang merupakan derivat

polyamide resin memiliki karakteristik elastis, memiliki sifat anti-pembusukan

dan mengandung lanolin. Lanolin merupakan senyawa minyak dari bulu

domba dan diaplikasikan pada berbagai produk. Pada luka, lanolin membuat

suasana moist dengan menciptakan suatu barier semi-occlusive sehingga

mencegah luka menjadi kering dan mempercepat reepitelialisasi serta

proliferasi fibroblas. Selain itu lanolin bersifat non adesif atau tidak lengket

terhadap permukaan luka sehingga sangat nyaman digunakan ketika dilakukan

penggantian dressing pada saat perawatan luka karena tidak atau hanya sedikit

32
menimbulkan nyeri pada pasien (Martin, 2000; Kadunc et al., 2002; Sood et

al., 2014).

Dalam studi penelitian dengan menggunakan human dermal fibroblast

secara in vitro, telah terbukti bahwa tulle dapat meningkatkan proliferasi

fibroblas sehingga efisien dalam proses penyembuhan luka akut dan kronis.

Tulle meningkatkan pembentukan TGF-β1 dibandingkan dengan dressing

tanpa menggunakan tulle pada penyembuhan luka, Hal ini dibuktikan oleh

studi yang dilakukan oleh Cherng pada tahun 2018 yang membandingkan

antara dressing pada luka dengan menggunakan tulle dibandingkan dengan

dressing luka tanpa menggunakan tulle. Kecepatan pembentukan growth

factor ini dibutkikan pada beberapa studi dengan mempelajari pembentukan

TGF-β1 ditinjau dari kepadatannya dan dievaluasi setiap hari (Bernard et al.,

2005; Cherng, 2018)

33
BAB III

Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian

3.1 Kerangka Konseptual ↓ sintesis TNF-α, IL-1


dan IL-6 ↑ IL-10

Menghambat
Luka Dengan Luka jalur NF-(κ)B Luka Dengan
Pemberian Tulle Pemberian
Ekstrak Kunyit
percepatan masa
↓ PMN ↓ Ekspresi sitokin Topikal
Lanoline gauze
Fase Inflamasi fase inflamasi
↑ ekspresi kolagen Pro-inflamatori
(↑transkripsi kolagen 1a) (TNF-α, IL-1β)

Moist Environtment Kurkuminoid


↑ Degradasi ECM ↓ MMP-9
Fase Proliferasi
Growth Factor Mencegah efek Minyak atsiri
sitotoksik dan ↓ aktifitas ↑ enzim antioksidan
prodegenerative radikal bebas (SOD, CAT, GPx)
(stress oksidatif)
Karbohidrat
Protein
Lemak Mineral
Jumlah Fibrolas Jumlah Fibrolas
dan Kepadatan dan Kepadatan
Kolagen Dengan Kolagen Dengan ↑ Kolagen
Aplikasi Tulle Aplikasi Ekstrak Mempercepat proses
Kunyit Topikal angiogenesis dan re-
epitelisasi

34
↑ proliferasi fibroblast ↑ TGF-β1
↑ kemotaksis fibroblast ↑ growth
↑ diferensiasi myofibroblast factor
Induksi sintesis ECM

35
Konsep

Proses penyembuhan luka merupakan suatu kejadian kompleks yang

secara alami terjadi dalam tiga fase: fase inflamasi, fase proliferasi, dan fase

maturasi. Pada fase proliferasi, fibroblas memegang peranan yang penting.

Fibroblas akan menghasilkan bahan dasar serat kolagen. Kolagen akan

memberikan kekuatan dan integritas pada semua luka yang menyembuh dengan

baik. Meningkatnya jumlah sel fibroblas akan meningkatkan jumlah serat kolagen

yang akan mempercepat proses penyembuhan luka.

Kurkuminoid dengan senyawa aktif kurkumin mempercepat proses

inflamasi dengan menghambat TNF α dan IL-1. Selain itu, pada proses inflamasi

minyak atsiri bekerja dengan mengurangi aktifitas dari NO, superoksidan

peroksinitrat, dimana za-zat ini dilepaskan secara berlebihan pada proses

inflamasi. Sementara pada proses proliferasi kurkumin meningkatkan migrasi

fibroblas, granulasi formasi jaringan, deposisi kolagen, dan re-epitelisasi dengan

menstimulasi growth factor. Minyak atsiri kunyit memilki aktifitas antioksidan

dan antiinflamasi dengan cara meningkatkan regulasi sitokin IL-10 dan IL-11

serta menurunkan regulasi dari kemokin CCL12 dan CXCL5.

Tulle mempercepat penyembuhan luka dengan menciptakan lingkungan

yang moist. Lingkungan yang moist akan menyebabkan keratinosit (komponen

utama epidermis) menyeberangi permukaan luka lebih cepat dan mudah, dan

growth factor tetap berada di bed luka sehingga menstimulasi proliferasi

keratinosit dan fibroblas.

35
Pada penelitian ini akan dilakukan pengamatan terhadap perbandingan

jumlah fibroblast dan kepadatan kolagen pada dua kelompok yang diberi

perlakuan berbeda, yaitu kelompok yang pada lukanya di aplikasikan ekstrak

kunyit topikal dan kelompok yang pada lukanya diaplikasikan tulle. Sehingga

pada akhir penelitian dapat diketahui metode mana yang lebih efektif dalam

mempercepat penyembuhan luka, dimana luka yang yang memiliki kadar

fibroblast dan kepadatan kolagen yang lebih tinggi merupakan luka yang proses

penyembuhan lukanya lebih baik.

36
3.2 Hipotesis Penelitian
1 Pemberian ekstrak kunyit topikal meningkatkan jumlah fibroblas dan

kepadatan kolagen dalam proses penyembuhan luka bersih pada kulit

tikus dibandingkan dengan tikus kontrol.


2 Pemberian tulle meningkatkan jumlah fibroblas dan kepadatan kolagen

dalam proses penyembuhan luka bersih pada kulit tikus dibandingkan

dengan tikus kontrol.


3 Ekstrak kunyit topikal lebih efektif dibandingkan dengan tulle sebagai

produk tambahan untuk mempercepat proses penyembuhan luka bersih

pada kulit tikus.

37
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium

karena unit eksperimen mendapatkan perlakuan yaitu pemberian ekstrak

kunyit topical dan tulle pada luka bersih kulit tikus. Rancangan yang

dipergunakan adalah Randomized Post Test Only Control Group Design

sehingga pengukuran variabel hanya dilakukan pada akhir penelitian.

4.2 Populasi dan Sampel Penelitian

4.2.1 Populasi penelitian

Populasi penelitian adalah tikus putih jenis Rattus novergicus strain wistar.

4.2.2 Sampel penelitian

Sampel penelitian adalah tikus putih jenis Rattus novergicus strain

wistar yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

4.2.3 Besar sampel

Untuk menentukan besar sampel minimal pada penelitian ini maka rumus

yang dipakai adalah:

38
Jumlah sampel (n) = (r-1) (t-1) > 15

(r-1) (4-1) > 15

(r-1) 3 > 15

r-1 >5

r >6

Keterangan:

r = replikasi

t = jumlah pengamatan atau intervensi

Jadi besar sampel per kelompok yaitu 7 + 25% (dugaan kematian/drop out),

dimana sampel dari setiap kelompok diambil pada hari ke-6 sehingga total

dibutuhkan 36 ekor tikus pada penelitian ini. Seluruh hewan coba

diperlakukan sesuai dengan aturan Animal Care and Use Committee

Universitas Airlangga.

4.2.4 Teknik pengambilan sampel

Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling, dari

36 ekor tikus jantan dengan berat badan antara 250-300 gram dan usia antara 3-4

bulan diberikan penanda tikus 1 sampai tikus 36. Kemudian dikelompokan

menjadi 4 kelompok berdasarkan selang nomor urut sampel yang konstan. Jika

nomor sampel pertamanya sudah terpilih maka pengambilan nomor sampel kedua

dan seterusnya didasarkan pada selang nomor yang konstan. Jadi kelompok 1

yaitu tikus 1, tikus 5, tikus 9, dan seterusnya. Begitupula dengan kelompok 2 yaitu

tikus 2, tikus 6, tikus 10 dan seterusnya. Kelompok 3 dan 4 berlaku cara

pengambilan sampel yang sama.

39
4.2.5 Karekteristik sampel penelitian

a. Kriteria inklusi:

 Tikus putih (Rattus novergicus) strain wistar jantan


 Umur 3-4 bulan
 Berat badan 250-300 gram
 Sehat dan aktif

b. Kriteria eksklusi:

− Tidak ada

4.3 Variabel dan Definisi Operasional

4.3.1 Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian ekstrak kunyit

topikal dan tulle.

4.3.2 Variabel Kontrol

Variabel kontrol positif pada penelitian ini adalah cairan NaCl 0,9%.

Digunakan pula CMC natrium sebagai variabel kontrol negatif untuk mengurangi

bias ekstrak kunyit topikal yang pemberiannya dalam bentuk sediaan topikal gel.

4.3.3 Variabel Tergantung

Jumlah fibroblas dan kepadatan kolagen yang dinilai secara histopatologis.

40
4.3.4 Definisi Operasional Variabel

4.3.4.1 Ekstrak Kunyit Topikal

Penelitian ini menggunakan ekstrak kunyit 5% dalam bentuk sediaan

topikal gel yang diproduksi Departemen Farmakognisi dan Fitokimia Fakultas

Farmasi Universitas Airlangga.

4.3.4.2 Tulle

Tulle yang diaplikasikan pada penelitian ini merupakan sediaan jadi yang

saat ini sudah beredar di pasaran.

4.3.4.3 Cairan NaCl 0,9%

Cairan NaCl 0,9% (Natrium Clorida 0,9%) merupakan cairan yang

mengandung garam NaCl sebesar 0,9%, bersifat isotonis seperti larutan fisiologis

tubuh sama seperti plasma sehingga tidak mempengaruhi sel darah merah.

4.3.4.4 CMC Natrium

Carboxymethyl cellulose (CMC) dalam bentuk garam eter selulosa

polikarboksimetil natrium (CH2COONa) berfungsi untuk stabilisasi suspensi dan

menambah viskositas dalam sediaan obat topikal.

4.3.4.5 Luka bersih

Prosedur ini dilakukan dengan membuat luka linier full thickness dengan

ukuran panjang luka 4 cm dan kedalaman sampai dengan batas fascia pada

punggung kanan tikus menggunakan mesh ukuran no. 15. Luka dibuat dalam

keadaan aseptis dengan pencucian menggunakan cairan NaCl 0,9% dan

41
mengoleskan povidone iodine 10 % kemudian dilanjutkan dengan swab alkohol

70 %.

4.3.4.6 Jumlah Fibroblas

Fibroblas adalah sel yang mensintesis matriks ekstraseluler dan kolagen

yang berperan penting dalam penyembuhan luka. Pengukuran secara histologi

menggunakan pewarnaan hematoxylin-eosin, fibroblas umumnya berkelompok

membentuk garis sejajar dengan sitoplasma berwarna kemerahan dan jumlahnya

diukur pada pembesaran 400x.

4.3.4.7 Kepadatan Kolagen

Kolagen merupakan protein yang terbanyak pada jaringan tubuh, termasuk

kulit. Kolagen memungkinkan terbentuknya tensile strength pada kulit. Evaluasi

kepadatan kolagen secara histokimia menggunakan pewarnaan Masons trichrom

dengan pembesaran 400x.

4.4 Alat dan Bahan Penelitian

4.4.1 Alat

1. Sarung tangan steril


2. Kassa steril
3. Spuit 3 cc
4. Plester
5. Papan bedah
6. Alat bedah minor (scalpel, gunting, pinset anatomis, dan klem) steril,

mesh no.15
7. Kandang tikus putih beserta kelengkapan pemberian makanan dan

minuman
8. Sekam
9. Timbangan
10. Sarung tangan

42
11. Cover glass
12. Mikrometer
13. Catton bud

14. Botol

4.4.2 Bahan

1. Tikus putih (Rattus novergicus) strain wistar

2. Makanan pellet (BR-1) dan air minum untuk tikus

3. Ketamin HCl 10 % Inj. 10 mL.

4. Ekstrak kunyit topikal

5. Tulle

6. CMC natrium

7. Cairan NaCl 0,9%

8. Aquadest

9. Pewarnaan hematoxyllin-eosin

10. Povidone iodine 10%

11. Swab alkohol 70%

43
4.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Pemeliharaan dan perlakuan pada hewan coba dilakukan di Laboratorium

Hewan Coba Fakultas Kedokteran Hewan Airlangga. Pemeriksaan histologi

spesimen dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Dr. Soetomo. Total

waktu penelitian adalah 1 bulan. Rencana penelitian akan dilakukan pada bulan

Juni 2019.

4.6 Prosedur Operasional

4.6.1 Pemberian Ekstrak Kunyit Topikal

Ekstrak kunyit topikal diberikan 1 kali sehari selama 6 hari perlakuan

dengan teknik aseptis.

4.6.2 Pemberian Tulle

Tulle diganti 1 kali sehari selama 6 hari perlakuan dengan teknik aseptis.

4.6.3 Perlakuan Terhadap Hewan Coba Sebelum Penelitian

4.6.3.1 Pemilihan Hewan Coba

Tikus yang dipilih sebagai sampel adalah tikus putih wistar jantan, sehat,

berumur 3-4 bulan, dengan berat badan 250-300 gram. Tikus putih yang

digunakan dalam penelitian ini berjumlah 36 ekor tikus putih dan dibagi secara

acak menjadi 4 kelompok (kelompok tulle, kelompok ekstrak kunyit topikal,

kelompok CMC natrium, dan kelompok cairan NaCl 0,9%). Masing masing

kelompok tersebut terdiri dari 12 ekor putih.

44
4.6.3.2 Persiapan Hewan Coba

Tikus dipelihara dalam kandang kelompok yang dimasukkan ke dalam bak

dengan tutup terbuat dari kawat dengan alas sekam padi. Kandang harus tahan

terhadap gigitan hewan, mudah dibersihkan, dan hewan harus tampak jelas dari

luar. Kandang juga harus berventilasi baik, mendapat penyinaran cukup, dan suhu

normal. Sebelum diberikan perlakuan, dilakukan adaptasi selama 7 hari di tempat

penelitian untuk penyesuain dengan lingkungan. Selama proses adaptasi maupun

perlakuan tikus tetap diberi makan dan minum secara adlibitium.

4.6.4 Proses Pembuatan Luka Bersih

Tikus akan dibius dengan ketamin 20 mg/kgBB intramuscular. Masing-

masing tikus akan dicukur rambutnya pada bagian punggung kanan. Dilakukan

antiseptik dengan povidone iodine 10% dan dan swab alkohol 70% kemudian

dibuat luka linear ukuran panjang 4 cm dan kedalaman sampai dengan batas

fascia menggunakan pisau bedah. Pembuatan sayatan dilakukan oleh dokter

hewan. Setelah itu tikus diberikan perawatan luka berdasarkan kelompoknya

dengan cara, jumlah, dan standar yang sama.

1. Kelompok Perlakuan 1: pemberian tulle dengan 1 kali sehari setelah

perawatan luka dengan cairan NaCl 0,9% selama 5 hari perlakuan.


2. Kelompok Perlakuan 2: pemberian ekstrak kunyit topikal 1 kali sehari

setelah perawatan luka dengan cairan NaCl 0,9% selama 5 hari

perlakuan.
3. Kelompok Kontrol Negatif: dilakukan perawatan luka dengan gel

CMC natrium 1 kali sehari tanpa penambahan ekstrak kunyit topikal

ataupun tulle selama 5 hari perlakuan.

45
4. Kelompok Kontrol Positif: dilakukan perawatan luka dengan cairan

NaCl 0,9% 1 kali sehari tanpa penambahan ekstrak kunyit topikal

ataupun tulle selama 5 hari perlakuan.

4.6.5 Proses Pengambilan Spesimen

Proses anestesi dilakukan terhadap hewan coba yaitu dengan injeksi

ketamin 20 mg/kgBB intramuscular.

Setelah hewan coba teranestesi dengan baik (pingsan), hewan coba

diletakkan di atas meja. Spesimen diambil pada hari ke-6 dengan cara eksisi full

thickness luka di punggung kanan tikus kontrol dan perlakuan. Spesimen lalu

dimasukkan ke dalam botol formalin 10 % untuk fiksasi jaringan.

Spesimen luka kembali diberikan nomor urut secara acak pada spesimen

dengan tujuan untuk meminimalkan penilaian subjektif yang dilakukan oleh ahli

patolog.

4.6.6 Pengukuran Jumlah Fibroblas dan Kepadatan Kolagen

Spesimen yang telah terfiksasi formalin 10% dipindahkan ke cover glass.

Dillakukan pewarnaan hematoxyllin-eosin dan pengukuran jumlah fibroblas pada

daerah tepi luka pada pembesaran 200x. Evaluasi kepadatan kolagen dilakukan

dengan menggunakan pewarnaan Massons trichrome pada pembesaran 400x

(Janin-Manificat et al., 2012).

Kriteria Penilaian Kepadatan Serabut Kolagen:

 Skor 1 : Bila sabut kolagen longgar, dimana diameter serabut kolagen

lebih kecil dari lebar jarak antara serabut kolagen.

46
 Skor 2 : Bila sabut kolagen sedang, dimana diameter serabut kolagen

sama dengan lebar jarak antara serabut kolagen.


 Skor 3 : Bila sabut kolagen padat, dimana diameter serabut kolagen

lebih besar dari lebar jarak antara serabut kolagen.

4.6.7 Penguburan Tikus Percobaan

Tikus yang telah diambil jaringan untuk diteliti akan dimatikan.

Phentobarbital 60-100 mg/kgBB intramuscular disuntikkan pada tikus yang akan

dimatikan. Bangkai tikus diletakkan dalam wadah baskom. Bangkai tikus

kemudian dikubur di tanah dengan kedalaman minimal 50 cm dan luas lubang

0,25 m2. Setiap lubang hanya digunakan untuk mengubur 10 tikus secara bersama,

hal ini untuk mencegah bangkai tikus digali oleh hewan lain seperti kucing.

Lubang ditutup kembali dengan tanah lalu lubang dipadatkan agar tidak tercium

bau dari bangkai tikus tersebut.

47
4.7 Kerangka Operasional

Populasi

Penentuan Besar Sampel


Randomisasi

Pemberian Perlakuan Luka

Kontrol (-) Kontrol (+) Perlakuan I Perlakuan II


Perawatan Luka Perawatan Luka Perawatan Luka Perawatan Luka
dengan penambahan Tanpa Penambahan dengan Penambahan dengan Penambahan
CMC Natrium Ekstrak Kunyit Tulle Ekstrak Kunyit
Topikal dan Tulle Topikal

Pengambilan Spesimen
Hari 6

Pemeriksaan Histologi dan Histokimia Jumlah


Fibrolas dan Kepadatan Kolagen

ANALISIS

48
4.8 Analisa Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan program komputer

Statistical Product and Service Solution (SPSS) 20.0 for Windows.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas data dilakukan dengan uji Shapiro Wilk.Uji Shapiro

Wilk bertujuan menguji apakah sebaran data yang ada dalam distribusi

normal atau tidak. Data penelitian berdistribusi normal dengan nilai p

> 0,05

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas data dilakukan dengan uji Levene. Data penelitian

homogen dengan nilai p > 0,05

3. Uji Komparasi

Data penelitian berdistribusi normal dan homogen maka untuk uji

hipotesis menggunakan uji ANNOVA untuk mengetahui perbedaan

jumlah fibroblas pada luka antara kelompok 1 (kelompok kontrol

positif), kelompok 2 (kelompok kontrol negatif), kelompok 3

(perlakuan 1), serta kelompok 4 (perlakuan 2). Jika terdapat perbedaan

yang bermakna maka dilanjutkan dengan Post hoc test untuk

mengetahui lebih jelas perbedaan yang bermakna di antara kelompok

sampel.

Untuk menguji komparasi variabel kepadatan kolagen ketiga kelompok,

penelitian ini menggunakan uji Krusscal Wallis. Jika terdapat perbedaan yang

bermakna maka dilanjutkan dengan Post-hoc test untuk mengetahui lebih jelas

49
perbedaan yang bermakna di antara kelompok sampel. Derajat kemaknaan yang

digunakan p < 0,05.

4.9 Biaya Penelitian

− Bahan habis pakai Rp. 2.500.000

− Instrumen rawat luka Rp. 1.500.000

− Persiapan pra-operasi Rp. 1.500.000

− Pengumpulan data Rp. 2.000.000

− Penyusunan proposal Rp. 1.500.000

− Analisa statistik Rp. 1.500.000

− Penyusunan hasil penelitian Rp. 1.500.000

Total Biaya penelitian Rp.12.000.000

50
DAFTAR PUSTAKA

Akbik, D., Ghadiri, M., Chrzanowski, W., Rohanizadeh, R., 2014. Curcumin as a

wound healing agent. Life sci, Elsevier. 116:1-7.

Anderson, JM., 2000. The cellular cascade of wound healing.In J.E. Davies (Ed.),

Bone Engineering. Toronto: em squared inc., p.81-93

Atiyeh et al. 2002. Improved healing of split thickness skin graft donor sites. J

Applied Research Vol. 2: 114-121.

Behm, B. et al. (2012) ‘Cytokines, chemokines and growth factors in wound

healing’, Journal of the European Academy of Dermatology and

Venereology, 26(7), pp. 812–820.

Bernard et al. 2005. Stimulation of the proliferation of human dermal fibroblasts

in vitro by a lipidocolloid dressing. Journal of Wound Care Vol. 14 No. 5.

Caroline, W. and Geoff, S. 2006. Wound Dressing Update. Journal of Pharmacy

Practice and research.

Cherng, JH., 2018. Calcium Alginate Polysaccharide Dressing as an Accelerated

Treatment for Burn Wound Healing. DOI:

http://dx.doi.org/10.5772/intechopen.80875

China Institute of Laboratory Animal Science (CALAS). 2017. Laboratory

Animal Laws, Regulations, Guidelines and Standards in China Mainland,

Japan, and Korea. ILAR Journal Vol. 57(3): 301–311. Doi:

10.1093/ilar/ilw018.

51
De Bem, DM, Maciel, CD, Zuanon, JA, et al. 2010. Histological analysis of

healthy epithelium of Wistar rats in vivo irradiated with different

intensities of therapeutic ultrasound. Rev Bras Fisioter.14(2):114-20

Denkler KA, Denkler C. 2015. The Direction of Optimal Skin Incisions Derived

from StriaeDistensae. Plast.Reconstr. Surg. 136(1):120e-121e.

Dhivya, S., Padma, VV., Santhini E.,2015.Wound Dressings A Review.

BioMedicine. 5:24-8.

Emiroglu, G., Coskun, ZO.,Kalkan, Y., Erdivanli, OC.,Tumkaya, L., Terzi, S.,

Özgür, A., Demirci, M., Dursun, E., 2017. The Effects of curcumin on

wound healing in a rat model of nasal mucosal trauma. J EvidBased

Complementary Altern Med. doi.org/10.1155/2017/9452392

Goel et al. 2008. Curcumin as Curecumin: from kitchen to clinic. Biochem

Pharmacol Vol. 75:787–809.

Goel, S.K. et al. 2012. ‘Preferential secretion of collagen type 3 versus type 1

from adventitial fibroblast stimulated by TGF-β/Smad3-treated medial

smooth muscle cells’, Cell Signal. NIH Public Access.,25(4):955-960.

Doi: 10.1016/j.cellsig.2012.12.021.

Gonzalez, AC,. Costa,TF., Andrade, ZA., Medrado, AR.,2016. Wound healing - A

literature review. An Bras Dermatol. 91:614-20.

Guo, S. dan DiPietro, LA,. 2010. Factors affecting wound healing. J Dent Res. 83:

219-27

Gupta, SC., Patchva, S., Aggarwal,BB., 2013. Therapeutic roles of curcumin:

lesson learned from clinical trials. The AAPS Journal. 15(1): 195-216

52
Gurtner, GC. 2014. Wound healing, normal and abnormal; Grabb and smith

plastic surgery 8th edition, p.15-22

Hajialyani, M., Tewari, D., Sobarzo-Sánchez, E., Nabavi, SM.,

Farzaei,MH.,Abdollahi, M.,2018. Natural product-based nanomedicines

for wound healing purposes: therapeutic targets and drug delivery

systems. Int J Nanomedicine. 13:5023-43

Herskovitz I, Macquhae F, Fox JD, Kirsner RS. 2016. Skin movement, wound

repair and development of engineered skin. Exp. Dermatol. 25(2):99-100

ITKI RSUD Dr. Soetomo, 2018. Tentang RSUD Dr. Soetomo. [online]

Rsudrsoetomo.jatimprov.go.id. Available at: http://rsudrsoetomo.

jatimprov.go.id/tentang-rsud-dr-soetomo/ [Accessed 5 Nov. 2018].

Janin-Manificat, H., Rovere, MR., Galiacy, SD., Malecaze, F., Hulmes,DJ.,Moali,

C., Damour O., 2012. Development of ex vivo organ culture models to

mimic human corneal scarring. Mol Vis, 18, p.2896908

Jarbrink, K., Ni, G., Sonnergren, H., Schmidtchen, A., Pang, C., Bajpai, R., Car,

J.,2017. The Humanistic and economic burden of chronic wounds: a

protocol systematic review. Syst Re. 6:15.

Jeyamohan, D., 2011. Angka Prevalensi Infeksi Nosokomial Pada Pasien Luka

Operasi Pasca Bedah Di Bagian Bedah Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji

Adam Malik, Medan Dari Bulan April Sampai September 2010. [online]

Repository.usu.ac.id. Available at: http://repository.usu.ac.id/handle/

123456789/21521 [Accessed 5 Nov. 2018]..

53
Junker, JPE.,Kamel, RA., Caterson, EJ., Eriksson, E., 2013. Clinical impact upon

wound healing and inflammation in moist, wet, and dry environments.Adv

Wound Care.2 (7).

Kadunc BV., Chiachio ND., Almeida ART., 2002. Tulle or veil fabric: A versatile

option for dressings. J Am AcadDermatol, 47, p.129-31.

Kant, V. et al. (2014) ‘Antioxidant and anti-inflammatory potential of curcumin

accelerated the cutaneous wound healing in streptozotocin-induced

diabetic rats’, International Immunopharmacology. Elsevier B.V., 20(2),

pp. 322–330.

Kocaadam, B. dan Sanlier, N. 2015. Curcumin, an active component of turmeric

(Curcuma longa), and its effects on health. Critical Reviews In Food

Science And Nutrition Vol. 57 (13): 28892895. Doi:

http://dx.doi.org/10.1080/10408398.2015.1077195.

Lawrence, J C., 1993. Medicated tulle dressings.J Wound Care.2(4), 2403.

Li, S., Yuan, W., Deng, G., Wang, P., Yang, P., Aggarwal,BB.,2011. Chemical

composition and product quality control of turmeric (curcuma longa l.).

Pharmaceutical Crops.2:28-54.

Liju, VB., Jeena, K., Kuttan, R.,2011. An evaluation of antioxidant, anti-

inflammatory, and antinociceptive activities of essential oil from curcuma

longa l. Indian J. Pharmacol. 43(5): 526-31.

Maheshwari, R. K. et al. (2006) Multiple biological activities of curcumin: A short

review, Life Sciences. Elsevier B.V., 78(18), pp. 20812087. doi:

10.1016/j.lfs.2005.12.007.

54
Martin, J., 2000. Nipple pain: Causes, treatments and remedies LEAVEN, 36(1),

10-11.

Meng et al. 2018. Turmeric: A Review of Its Chemical Composition, Quality

Control, Bioactivity, and Pharmaceutical Application.Natural and Artificial

Flavoring Agents and Food Dyes. Doi: http://dx.doi.org/10.1016/B978-0-

12-811518-3.00010-7.

Mohanty, C., Das, M., Sahoo, SK., 2012. Sustained wound healing activity of

curcumin loaded oleic acid based polymeric bandage in a rat model. Mol

Pharm.9:2801-11.

O'Connell RL, Rusby JE. 2015. Anatomy relevant to conservative

mastectomy. Gland Surg. 4(6):476-83.

Petrov et al. 2001. Stimulation of Collagen Production by Transforming Growth

Factor-β1 During Differentiation of Cardiac Fibroblast to Myofibroblast.

Hypertension.39:258-263.

Prasad et al. 2014. Curcumin, a component of golden spice: Frombedside to bench

and back. Biotechnology Advances 32 : 10531064. Doi:

http://dx.doi.org/10.1016/j.biotechadv.2014.04.004.

Russo, V., Watkins, J., NHSN surgical site infection surveillance in 2018.National

Center for Emerging and Zoonotic Infectious Disease. 2018. Available

from: https://www.cdc.gov/nhsn/pdfs/training/2018/ssi-508.pdf

Serra, M. B. et al. (2017) ‘From Inflammation to Current and Alternative

Therapies Involved in Wound Healing’, International Journal of Inflammation,

2017, pp. 1–17. doi: 10.1155/2017/3406215.

55
Shah, A. and Amini-Nik, S. (2017) ‘The role of phytochemicals in the

inflammatory phase of wound healing’, International Journal of Molecular

Sciences, 18(5). doi: 10.3390/ijms18051068.

Shanmugam, V.K., Fernandez, S., Evans, K.K, McNish, S., Banerjee, A., Couch,

K., Mete, M., Shara, N. 2015. Postoperative wound dehiscence: predictors

and associations. Wound Repair Regen Vol. 23(2): 184–190. Doi:

10.1111/wrr.12268.

Sood, A., Granuick, MS., Tomaselli, NL.,2014. Wound dressings and comparative

effectiveness data. AdvWound Care. 3(8): 511-27.

Stanojevic, JS., Stanojevic, LP., Cvetkovic, DJ., Danilovic, BR., 2015. Chemical

composition, antioxidant and antimicrobial activity of the turmeric

essential oil (curcuma longa l.). Advanced Technologies. 4(2): 19-25.

Taketo, M., 2011.Reflections on the spread of metastasis to cancer

prevention. Cancer Prev Res, 4(3), p.324-8.

Toden, S., Theiss, AL., Wang, X., Goel, A., 2017. Essential turmeric oils enhance

anti-inflammatory efficacy of curcumin in dextran sulfate sodium-induced

colitis. Sci. Rep. 7 (814): 1-12

USDA, 2018.Classification for kingdom plantae down to genus curcuma l. United

States Departmen of Agriculture. Available from:

https://plants.usda.gov/java/ClassificationServlet?

source=display&classid=CURCU

Yousef, H and Sharm, S. 2019. Anatomy, Skin (Integument), Epidermis. Treasure

Island (FL): StatPearls Publishing.

56
Zomer, H.D., dan Trentin, A.G. 2017. Skin wound healing in humans and mice:

Challenges in translational research. Journal of Dermatological Science

Vol. 90(1), 3–12. Doi:10.1016/j.jdermsci.2017.12.009.

57