Anda di halaman 1dari 48

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG.
Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemampuan dan kemauan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal. Dengan perkataan lain masyarakat diharapkan mampu
berpartisifasi aktif dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya sendiri,
dengan demikian masyarakat mampu menjadi subjek dalam pembangunan kesehatan.
Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut berbagai upaya telah dilakukan
oleh pemerintah dengan tetap memperhatikan Paradigma Sehat, disamping selalu
mempersiapkan sumber daya kesehatan (tenaga, dana, dan fasilitas pelayanan),
mengembangkan program kesehatan, subsidi pembiayaan kesehatan, dan pemberian
makanan tambahan bagi balita gizi buruk, serta mengembangkan sistem jaringan
pelayanan kesehatan dan deteksi dini kasus pada pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Dalam Konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) tahun 1948 disepakati
antara lain diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya adalah suatu hak yang
fundamental bagi setiap orang tanpa membedakan ras, agama, politik yang dianut dan
tingkat sosial ekonominya. Sedangkan dalam Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan ditetapkan bahwa “Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan,
mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya.Pelaksanaannya meliputi upaya kesehatan perseorangan, upaya kesehatan
masyarakat, dan pembangunan berwawasan kesehatan”.
Pembangunan Kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak
dasar rakyat, yaitu hak rakyat untuk memperoleh akses atas kebutuhan pelayanan
kesehatan.Pembangunan Kesehatan juga harus dipandang sebagai suatu investasi dalam
kaitannya untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan
pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanganan
kemiskinan.

1
Indonesia saat ini sedang mengalami transisi demografi dan transisi
epidemiologi yang berkepanjangan, sehingga pembangunan bidang kesehatan menghadapi
beban ganda.Sementara penyakit menular belum sepenuhnya teratasi, terjadi peningkatan
penyakit tidak menular. Adanya beban ganda ini secara cepat harus diantisipasi karena
akan berdampak pada masalah sosial, ekonomi dan kesehatan. Untuk itu Pemerintah
Indonesia telah menetapkan pendekatan baru dalam Pembangunan Kesehatan dari
”Paradigma Sakit” ke “Paradigma Sehat”, di mana upaya pencegahan dan promosi lebih
diutamakan tanpa mengabaikan upaya pengobatan dan rehabilitasi.
Bertolak dari pendekatan tersebut, maka arah kebijakan dan pembangunan
kesehatan yang tersirat dalam visi pembangunan kesehatan Puskesmas I Mendoyo
ditetapkan dengan mengacu pada visi pembangunan kesehatan menuju masyarakat Sehat
Yang Mandiri dan Berkeadilan yaitu “Puskesmas I Mendoyo Menjadi Pusat Pelayanan
Prima”.Yaitu suatu keadaan di mana manusia hidup dalam lingkungan sehat, berperilaku
hidup bersih dan sehat, akses terhadap pelayanan kesehatan secara merata berkeadilan
dan optimal.
Dengan visi tersebut, Puskesmas I Mendoyo telah merumuskan misi
pembangunan kesehatan yaitu mewwujudkan sumber daya manusia (SDM) yang
profesional dan sejahtera, mewujudkan pelayanan kesehatan yang prima, mewujudkan
lingkungan puskesmas yang bersih dan tertib, mewujudkan kemandirian puskesmas
dengan prinsip otonomi dalam pengelolaan.
Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk melaporkan pemantauan dan
evaluasi terhadap pencapaian hasil Pembangunan kesehatan, termasuk kinerja dari
penyelenggaraan pelayanan minimal dibidang kesehatan adalah Profil Kesehatan
Puskesmas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Profil Kesehatan Puskesmas ini
pada intinya berisi berbagai data/informasi yang menggambarkan situasi dan kondisi
kesehatan masyarakat di Wilayah UPT Puskesmas IMendoyo.
Oleh karena kedudukannya yang sangat strategis itu, Penyusunan Profil
Kesehatan Puskesmas perlu dicermati dan sedapat mungkin mengunakan petunjuk teknis
sebagai acuan sehingga dapat dikompilasi menjadi Profil Kesehatan Kabupaten dan
dikompilasi menjadi Profil Kesehatan Provinsi dan selanjutnya menjadi Profil Kesehatan
Indonesia serta dapat dikomparasikan antar satu daerah dengan daerah lain . Buku profil
ini disusun dengan format dan modifikasi dari petunjuk Teknis Profil Kesehatan
Kabupaten/ Kota tahun 2007. Secara umum format petunjuk teknis ini menyajikan data
kesehatan yang terpilah menurut jenis kelamin.

2
B. MAKSUD DAN TUJUAN
Profil Kesehatan UPT Puskesmas I Mendoyo dimaksudkan sebagai gambaran
tentang kondisi kesehatan masyarakat di Kecamatan Mendoyo khususnya pada wilayah
kerja UPT Puskesmas I Mendoyo, yang mencatat indikator pencapaian target dari masing-
masing pelaksanaan program yang dipergunakan sebagai sarana untuk memantau,
mengevaluasi pencapaian visi di bidang kesehatan.
Diharapkan dengan disusunnya Profil Puskesmas ini dapat memberikan
gambaran situasi dan hasil pembangunan di bidang kesehatandi wilayah kerja
UPTPuskesmas I Mendoyo.
Adapun capaian indikatornya adalah sebagai berikut :
1. Derajat kesehatan.
a. Angka Kematian Bayi (AKB).
Pencapaian Angka Kematian Bayi di Kecamatan/Puskesmas Mendoyo
tiga tahun terakhir yang menggambarkan fluktuasi antara lain, pada tahun 2013
sebesar 14,08 per 1.000 KH, tahun 2014 sebesar 10,63 per 1.000 KH,tahun 2015
sebesar 6,47 per 1.000 KH, tahun 2016 sebesar 1,97/1000 KH dan Tahun 2017
1,88 per 1.000 KH. Pada tahun 2018 tidak ada kematian bayi.

b. Angka Kematian Balita (AKABA).


Pencapaian Angka Kematian Balita di Kecamatan /Puskesmas Mendoyo
pada tahun 2013 sebesar 14,52 per 1.000 KH, tahun 2014 sebesar 11,47 per 1.000
KH, tahun 2015sebesar 6,70 per 1.000 KH, tahun 2016 sebesar 1,97/1000 KH dan
Tahun 2017 1,88 per 1.000 KH. Pada tahun 2018 tidak ada kematian balita.

c. Angka Kematian Ibu (AKI).


Angka kematian ibu atau Maternal Mortility Rate (MMR) menunjukan
jumlah kematian ibu pada setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu
dipergunakan untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, keadaan sosial
ekonomi, kondisi keadaan lingkungan serta fasilitas dan tingkat pelayanan
prenatal. Angka kematian ibu di Kecamatan/Puskesmas I Mendoyo tahun 2010
sebesar 110,01/100.000KH, tahun 2014 tidak terjadi kematian ibu (0/100.000
KH),tahun 2015ada 1kematian ibu (119,75/100.000 KH) tahun 2016 terjadi 1
kematian ibu (197,63/100.000 KH) . Tahun 2017 dan tahun 2018 tidak ada
kematian ibu.

3
d. Frekwensi Gizi Buruk berdasarkan BB/U sebanyak 1 orang dan berdasarkan
BB/TB tidak ada dengan prosentase 0.048 %.

e. Umur Harapan Hidup (UHH)


Pencapaian Umur Harapan Hidup ( UHH ) pada tahun 2013 sebesar 71,75per
tahun, pada tahun 2014 sebesar 71,75 tahun,pada tahun 2015 sebesar 71,78 tahun,
pada tahun 2016 71,75 per tahun dan pada tahun 2017 adalah 71,75. Pada tahun
2018 sebesar

2. Perilaku Hidup Masyarakat


a. Prilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS ).
Persentase Rumah Tangga ber-Prilaku Hidup Bersih dan Sehat di Puskesmas I
Mendoyo mengalami penurunan yaitu79,70% tahun 2013 sedangkan tahun 2014
sebesar 76,86 %,dan tahun 2015 menjadi 68,42 %,. Pada tahun 2016 naik menjadi
78,95% dan tahun 2017 79,90 %. Sedangkan pada tahun 2018 mengalami
penurunan yaitu 73,4%

b. Lingkungan Sehat.
- Cakupan akses air bersih tahun 2012 mencapai 100 % . Selanjutnya tahun
2013 mencapai 72,66 %, tahun 2014 mencapai 90,17 %. Pada tahun 2015,
2016, 2017 dan 2018 dapat mencapai 100 %.
- Keluarga dengan kepemilikan jamban pada tahun tahun 2012 mencapai 75,06
%, tahun 2013 mencapai 72,96 % ,tahun 2014 mencapai 75,58 %, tahun 2015
mencapai 85,30 %, tahun 2016 mencapai 93,25% dan tahun 2017 93,45%.
Pada tahun 2018 mencapai 94,31%.

3. Pelayanan Kesehatan yang Bermutu dan Terjangkau.


a. Rata-rata kunjungan masyarakat pada sarana kesehatan diwilayah Puskesmas
Mendoyo tahun 2013 sebesar 46 per hari buka, tahun 2014 sebesar 31 perhari
buka, tahun 2015 jumlah kunjungan sebesar 43.959 kasus dengan hari buka
pelayanan dalam satu tahun 289 hari sehingga rata-rata kunjungan kasus setiap
hari sebanyak 152 kasus , pada tahun 2016 mengalami penurunan menjadi 102,18

4
per hari dan untuk tahun 2017 68 rata rata per hari. Untuk tahun 2018 meningkat
120 kunjungan perhari.
b. Cakupan imunisasi lengkap pada bayi tahun 2013 sebesar 93,87 %, tahun 2015
sebesar 95,98 %, tahun 2015 sebesar 97,50 %, tahun 2016 sebesar 103,0%, tahun
2017 92,6 % dan tahun 2018 sebesar 106,8%.
c. Persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2013 sebesar 96,20 % ,tahun 2014
mencapai 84,04 %, tahun 2015 mencapai 78,07%, tahun 2016 mencapai 85,55 %,
dan tahun 2017 100%. Pada tahun 2018 mencapai 100,8%.
d. Peserta KB Aktif tahun tahun 2013 sebesar 88,79 % dan tahun 2014 mencapai
87,92 %, tahun 2015 mencapai 87,51 %, tahun 2016 sebesar 82,39%, sedangkan
tahun 2017 84,10 %, Pada tahun 2018 mencapai sebesar 85,5 %.

Buku Profil Kesehatan UPT Puskesmas I Mendoyo Tahun 2018 ini merupakan potret
Kesehatan di Kecamatan Mendoyo yang juga wilayah kerja UPT Puskesmas I Mendoyo,
tidak saja dalam bidang kesehatan akan tetapi juga bidang lain yang banyak terkait dengan
bidang kesehatan seperti demografi atau kependudukan, keadaan dan
pertumbuhanekonomi termasuk ketenagakerjaan, pendidikan serta keadaan dan perilaku
masyarakat serta keadaan lingkungan.
Data yang dipergunakan dalam penyusunan buku Profil Kesehatan UPT
Puskesmas IMendoyo ini bersumber dari pencatatan dan pelaporan program pada jajaran
di lingkungan Puskesmas I Mendoyo juga bersumber dari lintas sektoral lainnya
khususnya jajaran Pemerintah Kecamatan Mendoyo.

C. SISTEMATIKA PENYUSUNAN
Untuk mendukung penyajian informasi kesehatan yang memadai dan
meningkatkan kualitas pemantauan terhadap upaya kesehatan, maka penyusunan profil
kesehatanpuskesmas ini telah dilakukan dengan mengacu pada Petunjuk Teknis
Penyusunan Profil Kesehatan Puskesmas Edisi Data Terpilah menurut Jenis Kelamin.

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Maksud dan Tujuan
C. Sistematika Penyusunan
BAB II : GAMBARAN UMUM UPT PUSKESMAS I MENDOYO.

5
A. Keadaan Umum.
B. Keadaan Penduduk
BAB III : PROGRAM KESEHATAN UPT PUSKESMAS IMENDOYO.
A. V i s i
B. M i si
C. Tujuan
D. Program Puskesmas

BAB IV : SITUASI DERAJAT KESEHATAN.


A. Umur Harapan Hidup
B. Angka Kematian.
C. Angka Kesakitan.
D. Angka Status Gizi Masyarakat.
BAB V : SITUASI UPAYA KESEHATAN.
A. Pelayanan Kesehatan .
B. Perilaku Hidup Masyarakat.
C. Keadaan Lingkungan.
BAB VI : SUMBER DAYA KESEHATAN.
A. Tenaga Kesehatan.
B. Pembiayaan Kesehatan.
C. Sarana Kesehatan.
BAB VII : PENUTUP
A. Simpulan.
B. Saran–Saran
LAMPIRAN LAMPIRAN

6
7
BAB II
GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN UMUM
1. Letak Geografis.
Kecamatan Mendoyo memiliki posisi strategis, bila dilihat dari perspektif
geografis, karena Kecamatan Mendoyo merupakan jalur penghubung utama segala
aktifitas, antara pusat pemerintahan provinsi, Kabupaten Tabanan dan Kecamatan
Pekutatan dengan ibu kota Kabupaten Jembrana yaitu Kota Negara.
Kecamatan Mendoyo merupakan salah satu dari 5 (lima) Kecamatan yang
berada dalam wilayah Kabupaten Jembrana dengan wilayah seluas 294,49 Km2,
dengan jarak orbitasi ibu kota Kecamatan dengan ibu kota Kabupaten adalah 7 Km,
jarak ke pusat pelayanan rujukan 10 Km, dan jarak ibu kota Propinsi Bali adalah 85
Km, dengan miliki 5 gunung di sebelah utara yaitu Gunung Mesehe, Gunung Lalang,
Gunung Bangul, Gunung Pakukajang, dan Gunung Sari.
Puskesmas I Mendoyo merupakan salah satu dari 10 Puskesmas yang ada di
Kabupaten Jembrana, yang berlokasi di Banjar Dauh Pasar, Desa Pergung, Kecamatan
Mendoyo, Kabupaten Jembrana, dengan jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas
I Mendoyo yaitu sebanyak 43.897 jiwa (12.876 KK).Luas wilayah kerja Puskesmas I
Mendoyo adalah 294,49Km2, atau 34,98% luas wilayah Kabupaten Jembranayang
secara topografi memiliki titik terendah 1 m dan titik tertinggi 700 m dengan
kemiringan tanah rata-rata 5,80 m atau terdiri dari dataran tinggi, rendah,dan pantai
dengan komposisi luas lahan yang hampir seimbang. Pemanfaatan tanah sebagai
pekarangan, perkebunan, bangunan/ rumah, sawah dan lain-lain.
Wilayah kerja Puskesmas IMendoyo di batasi oleh :
- Batas Utara : berbatasan dengan hutan Negara
- Batas Timur : Desa Penyaringan
- Batas Selatan : Samudra Indonesia
- Batas Barat : Kecamatan Jembrana (Desa Dangin Tukadaya)
wilayah kerja Puskesmas I Jembrana)

8
Wilayah kerja Puskesmas I Mendoyo terdiri dari 6 desa dan 1 kelurahan ,dan42
dusun/banjar/ lingkungan, yaitu :
1. Desa Mendoyo Dauh Tukad : 6 dusun
2. Desa Mendoyo Dangin Tukad : 4 dusun
3. Desa Pohsanten : 5 dusun
4. Desa Pergung : 6 dusun
5. Desa Delod Brawah : 2 dusun
6. Kelurahan Tegal Cangkring : 6 lingkungan
7. Desa Penyaringan : 13 dusun
Berdasarkan tingkat sosial ekonomi penduduk di wilayah kerja Puskesmas I
Mendoyo sebagian besar berada dikelompok menengah dan sekitar 8,80 % merupakan
keluarga miskin.Mata pencaharian sebagian besar penduduk adalah petani kebun dan
persawahan.

2. Topografi:

Secara umum keadaan morfologi wilayah Kecamatan Mendoyo/wilayah


kerjaPuskesmas I Mendoyo terbagi atas 3 (tiga) kelompok besar, yaitu :
- Morfologi mendatar.
- Morfologi Perbukitan landai.
- Morfologi Perbukitan terjal.
Morfologi dataran rendah pada umumnya membentang dari arah Timur menuju ke
arah Barat menyusuri sepanjang pantai.Perbukitan landai membentang dari arah Timur
menuju arah Barat berada di tengah-tengah antara pantai dan perbukitan, sedangkan
perbukitan berada di bagian Utara juga membentang dari arah Timur sampai Barat
yang berbatasan dengan wilayah Kecamatan Pekutatan dan Kecamatan Jembrana.

B. KEADAAN PENDUDUK.
1. Pertumbuhan Penduduk.
Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Jembrana jumlah penduduk
Kecamatan Mendoyo tahun 2018 sebesar 66.040 orang dengan laju pertumbuhan
penduduk sebesar 1,20 % pertahun, sedangkan dari hasil rekapitulasi laporan
pemerintahan desa/kelurahan, jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas I Mendoyo
tahun 2018 terdata 43.897 jiwa.

9
2. Jumlah dan Distribusi Penduduk.
Berdasarkan data olahan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab.
Jembrana, jumlah jiwa di wilayah kerja Puskesmas I Mendoyo tahun 2018 sejumlah
43.897 jiwa,yang terdiri dari penduduk laki-laki 21.887 jiwa dan perempuan 22.10
jiwa dan 12.876 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 6 desa dan 1 kelurahan, 42
dusun/ lingkungan/banjar (Th 2018) dengan rincian jumlah penduduk per desa sebagai
berikut :
1. Desa Mendoyo Dauh Tukad : 6.192 orang
2. Desa Mendoyo Dangin Tukad : 3.404 orang
3. Desa Poh Santen : 7.537 orang
4. Desa Pergung : 5.274 orang
5. Desa Delod Brawah : 2.343 orang
6. KelurahanTegal Cangkring : 8,540 orang
7. Desa Penyaringan :10.593 orang

TABEL II.1
Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk menurut Jenis Kelamin menurut
Desa/kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas I Mendoyo Tahun 2018

JENIS KELAMIN JUMLAH RT


D E S A / KELURAHAN JUMLAH

LAKI PRP

(1) (2) (3) (3) (5)

1.Mendoyo Dauh Tukad 3096 3096 6192 1,830

2. Mendoyo Dangin Tukad 1674 1730 3404 995

3. Poh Santen 3730 3807 7537 2,181

4. Pergung 2665 2609 5274 1,542

5. Delod Brawah 1181 1176 2357 713

6. Tegal Cangkring 4258 4282 8540 2,447

7. Penyaringan 5283 5310 10593 3,168

21887 22010 43897 12,876


JUMLAH
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Jembrana Th 2018

10
TABEL II.2
Luas Wilayah, Kepadatan Penduduk dan Sex Ratio
Menurut Desa/Kelurahan Wilayah Kerja Puskesmas IMendoyoTahun 2018

KEPADATAN
LUAS WILAYAH
D E S A / KELURAHAN PENDUDUK SEX RATIO
(KM 2)
Per KM
1 2 3 4
1. Mendoyo Dauh Tukad 19.310 3,27 100,00

2. Mendoyo Dangin Tukad 3,140 0,99 96,76

3. Poh Santen 30,500 4,53 97,98

4. Pergung 21,000 4,12 102,15

5. Delod Brawah 2,690 1,15 99,07

6. Tegal Cangkring 22,340 2,91 99,44

7. Penyaringan 51,120 4,94 99,49

JUMLAH 294,490 3,13 100,57


Sumber : Seksi Pemerintahan Kecamatan Mendoyo Tahun 2016

TABEL II.3
Jumlah Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas I Mendoyo
Menurut Kelompok Umur Tahun 2018

Kelompok Umur Banyaknya


(Tahun) N %
1 2 3
0 – 14 2.128 4,85%
15 – 64 37.209 84,76%
65 4.560 10,39%
Jumlah 43.897 100,00%
Sumber : Seksi Pemerintahan Kecamatan Mendoyo Tahun 2018
3. Profil Penduduk Miskin
Sesuai dengan Keputusan Bupati Jembrana No. 129 / DPMD / 2018 tentang
Penetapan Jumlah Keluarga Miskin Akhir Tahun 2018 yang tercatat sebanyak 498 KK
atau sebesar 3,86 % dari jumlah keluarga, yang tersebar di 6 desa dan 1 kelurahan.

11
12
BAB
PROGRAM KESEHATAN
III UPT PUSKESMAS I MENDOYO

K ebijakan Pembangunan Kesehatan telah diarahkan dan diprioritaskan pada upaya


pelayanan kesehatan dasar yang lebih menitik beratkan pada upaya pencegahan
dan penyuluhan kesehatan. Dan arah kebijakan pemerintah dewasa ini menetapkan
pendekatan baru dalam pembangunan kesehatan yaitu dari “paradigma sakit” ke “paradigma
sehat”, di mana upaya pencegahan dan promosi lebih diutamakan tanpa mengabaikan upaya
pengobatan dan rehabilitasi. Dengan paradigma ini diharapkan mampu mendorong
masyarakat untuk bersikap dan bertindak mandiri dalam menjaga kesehatan melalui
kesadaran terhadap pentingnya upaya-upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif.

A. VISI
Visi UPT Puskesmas I Mendoyo adalah “ Puskesmas I Mendoyo Menjadi Pusat
Pelayanan Prima”.Visi ini perlu ditanamkan pada setiap unsur organisasi sehingga menjadi
visi bersama (shared vision) yang pada gilirannya mampu mengarahkan dan menggerakkan
segala sumber daya instansi.
Visi adalah harapan yang hendak diwujudkan pada masa yang akan datang atau
periode 5 tahun mendatang, visi tersebut harus mampu mengilhami semua anggota organisasi
dan mampu memotivasi serta membangkitkan semangat dan rangsangan bagi seluruh
anggotanya untuk dapat meraih atau mencapainya.
UPT Puskesmas I Mendoyo sebagai pemberi pelayanan kesehatan tingkat
pertama diharapkan dapat memberikan pelayanan terbaik sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki dan fungsinya sebagai pusat pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat Kecamatan
Mendoyo.Oleh karena sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat maka diharapkan selain
dapat memberikan pelayanan terbaik juga dapat terjangkau oleh masyarakatyang sangat
membutuhkan pelayanan kesehatan.
Luasnya jangkauan pelayanan yang diberikan oleh UPT Puskesmas I Mendoyo
sekaligus akan mendukung agenda prioritas yaitu “terwujudnya pelayanan kesehatan
berkualitas menuju masyarakat sehat dan sejahtera.”

13
B. MISI
Dari visi tersebut diatas dijabarkan kedalam misi sebagai berikut:
a. Mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) Puskesmas sebagai Penggerak
Pelayanan Kesehatan.

b. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Dasar yang Bermutu, Merata dan


Terjangkau

c. Mendorong Kemandirian Masyarakat Untuk Hidup Bersih dan Sehat dengan


Meningkatkan Kesehatan Individu, Keluarga dan Masyarakat Beserta Lingkungan.

d. Menggerakkan Potensi Sumber Daya Yang Menunjang Percepatan Pencapaian


Pembangunan Kesehatan di Wilayah Puskesmas I Mendoyo.

Mewujudkan VISI dan MISI tersebut, UPT Puskesmas Mendoyo menerapkan


MOTTO yaitu “ Kesembuhan dan Kepuasan Anda adalah Kebahagiaan Kami”
Sedangkan Janji Layanan Puskesmas Mendoyo adalah :“ SEHATI”
 S: Segera (pelayanan yang tanggap, cepat, bermutu)
 E : Efektif (memberikan pelayanan dengan protap pelayanan)
 H : Handal ( pelayanan dengan kompetensi tenaga)
 A : Aman (pelayanan yang memberikan rasa aman secara fisik, psikologis)
 T : Tanggap (pelayanan dengan penelusuran kasus)
 I : Indah (pelayanan dengan lingkungan asri, bersih dan tertib)

C. TUJUAN
Tujuan UPT Puskesmas I Mendoyo, adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum adalah :
Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan memuaskan pelanggan.
2. Tujuan khusus adalah :
a. Mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa
mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
b. Melaksanakan pelayanan prima yang “SEHATI” ( Segera, Efektif, Handal,
Aman, Tanggap, dan Indah).
c. Meningkatkan kemampuan keuangandan mengellola Puskesmas secara mandiri.
d. Meningkatkan kepuasan pasien/ masyarakat/ pelanggan.

14
D. PROGRAM PUSKESMAS
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75 Tahun 2014 mengamanatkan bahwa
kegiatan yang dilaksanakan di Puskesmas I Mendoyo meliputi kegiatan yang tercakup dalam
upaya kesehatan masyarakat esensial (UKM) yang meliputi : Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
termasuk Keluarga Berencana (KB), Perbaikan Gizi Masyarakat,Pencegahan Pemberantasan
Penyakit Menular (P2M), Promosi Kesehatan (Promkes), Kesehatan Lingkungan (Kesling),
dan upaya kesehatan perorangan (UKP) diantaranya Pengobatan Dasar (primer) dan
penunjang lainnya serta upaya kesehatan masyarakat (UKM) pengembangan kesehatan
lainnyaseperti kesehatan jiwa masyarakat, mata/indra, pengendalian penyakit tidak menular,
kesehatan kerja, kesehatan olah raga, kesehatan sekolah, kesehatan gigi dan mulut, kesehatan
haji, kesehatan lanjut usia, perawatan kesehatan masyarakat, Pembinaan Pengobatan
Tradisional.

15
BAB
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
IV

U ntuk menunjang pencapaian pembangunan kesehatan telah dikelompokkan program


dan kegiatan pelaksanaannya yang ditentukan berdasarkan indikator-indikator
pencapaiannya. Adapun indikator-indikator yang dibahas antara lain :

A. Umur Harapan Hidup.


Derajat kesehatan masyarakat selain ditentukan oleh menurunnya Angka Kesakitan
dan Angka Kematian juga ditentukan oleh meningkatnya Umur Harapan Hidup.Tinggi
rendahnya Angka Umur Harapan Hidup menggambarkan tinggi rendahnya taraf hidup suatu
daerah.Dengan melihat Angka Kematian Bayi dan Angka Umur Harapan Hidup dapat
ditentukan indeks mutu hidup atau Indeks Pembangunan Manusia suatu daerah secara
lengkap.Estimasi hasil penelitian BPS menunjukkan bahwa Umur Harapan Hidup Kabupaten
Jembrana mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.Hal ini terlihat dalam tabel berikut.
TABEL IV.1
Umur Harapan Hidup Kabupaten Jembrana
Tahun 2011– 2018
Umur Tahun
Harapan 2016 2017 2018
2011 2012 2014 2015
Hidup
Jembrana 70,65 70,80 71,25 71,45 71,75 71,80
Sumber : Kantor BPS Kabupaten Jembrana.tahun 2018

B. Angka Kematian.
Angka Kematian secara umum berkaitan erat dengan tingkat Angka Kesakitan dan
Status Gizi.Indikator untuk menilai keberhasilan program pembangunan kesehatan dapat
dilihat dari perkembangan Angka Kematian.
Besarnya tingkat Angka Kematian dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain :
a. Angka Kematian Bayi ( AKB ).
Angka Kematian Bayi atau Infant Mortality Rate adalah kematian bayi di bawah
usia 1 tahun tiap 1.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Bayi merupakan salah satu
indikator terhadap persediaan, pemanfaatan dan kualitas pelayanan prenatal. Tahun
2012adalah 8,8 / 1.000 Kelahiran Hidup, tahun 2013adalah 9,4 / 1.000 Kelahiran Hidup,
pada tahun 2014 menjadi 8,5/1000 Kelahiran Hidup,pada tahun 2015 menjadi 8,7/1000

16
Kelahiran Hidup pada tahun 2016 terjadi penurunan menjadi 1,97/1000 kelahiran hidup
dan tahun 2017 adalah 1,88/1000. Pada tahun 2018 didapatkan 0/1000 kelahiran hidup.

TABEL IV.1
Angka Kematian Bayi Kecamatan Mendoyo/Puskesmas I Mendoyo
Tahun 2012 – 2018

Tahun
NO Indikator
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
1 Lahir hidup 922 835 835 506 532 517
9 4 4 1 1 0
Kematian bayi
2
IMR/1000 8,8 9,4 8,5 8,77 1,97 1,88 0
Sumber : Program KIA

b. Angka Kematian Balita ( AKABA ).


Angka Kematian Balita ( >1 – 5 tahun ) adalah jumlah anak (termasuk bayi) yang
meninggal sebelum mencapai umur 5 tahun / 1.000 Kelahiran Hidup.
Angka Kematian Balita Puskesmas Mendoyo tahun 2011 sebesar0 / 1.000 KH,
selanjutnya naik menjadi 2,2 / 1.000 KH pada tahun 2012, tahun 2013 sebesar0,7 / 1.000
KH, selanjutnya menjadi 0,7 / 1.000 KH pada tahun 2014, tahun 2015 sebesar 0,8/1000
tahun 2016 sebesar 1,97/1000 kelahiran hidup dan tahun 2017 adalah 1,88/1000. Pada
tahun 2018 didapatkan 0/1000 kelahiran hidup.

TABEL IV.2
Angka Kematian Balita Puskesmas IMendoyo
Tahun 2012 – 2018
N Tahun
Indikator
O 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
1 Lahir hidup 969 987 922 835 506 532 517
Kematian Balita 0 3 1 1 1 1 0
2
CMR/1000 0 2,2 0,7 0,8 1,97 1,88 0
Sumber : Program KIA
c. Angka Kematian Ibu ( AKI ).
Angka Kematian Ibu atau Maternal Mortility Rate (MMR)
menunjukkan jumlah kematian ibu pada setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka
Kematian Ibu ini dipergunakan untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan
ibu, keadaan sosial ekonomi, kondisi kesehatan lingkungan serta fasilitas dan tingkat
pelayanan prenatal. Angka Kematian Ibu Puskesmas IMendoyo 68,1/100.000 KH
tahun 2012, namun pada tahun 2013mengalami peningkatan menjadi 144,2/100.000
KH , tahun 2014tidak terjadi kematian ibu (0/100.000 KH), tahun 2015terjadi terjadi

17
kematian ibu sebanyak 119,76/100.000 KH pada tahun 2016 terjadi kematian ibu
sebanyak 1 orang (197,63/100.000 KH) dan pada tahun 2017 dan 2018 tidak ada (0)

TABEL IV.3
Angka Kematian Ibu Puskesmas I Mendoyo
Tahun 2012– 2018

Tahun
NO Indikator
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
1 Lahir hidup 969 987 922 835 506 532 517
Kematian Ibu 1 2 0 1 1 0 0
2
MMR/100.000
Sumber : Program KIA

C. Angka Kesakitan.
Pola penyakit yang ada di masyarakat tahun 2016 dapat dilihat dari sepuluh besar
penyakit pada kegiatan pelayanan rawat jalan untuk program pengobatan dimana
Nasofaringitis akut (commoncold) merupakan jenis penyakit yang paling banyak yaitu
3.118 (30.74%) untuk lebih lengkap dapat dilihat pada table berikut.

TABEL IV.Sepuluh Besar Penyakit UPT Puskesmas I Mendoyo tahun 2018


Jenis Kasus
No Kode Jenis Penyakit %
Kelamin Baru
L 1571
NOSAFARINGITIS AKUT (COMMON
1 J00 P 1547
COLD)
Total 3118 30.74%
L 769
2 K30 DYSPEPSIA P 696
Total 1465 14.44%
L 468
STRIKING AGAINTS OR STRUCK BY
3 W22 P 506
OTHER
Total 974 9.60%
L 253
4 M13.0 POLYARTHRITIS P 263
Total 522 5.15%
L 228
5 I10 HIPERTENSI PRIMER P 224
Total 472 4.65%
L 606
6 L23.0 DERMATITIS KONTAK ALERGI P 646
Total 1250 12.32%
L 456
NONINSULIN-DEPENDENT
7 E11 P 430
DIABETES MILLITUS
Total 886 8.73%

18
L 466
8 R50.9 FEVER, UNSPECIFIED P 522
Total 988 9.74%
L 160
9 R42 PULP DEGENERATION P 201
Total 361 3.56%
L 73
10 H10 CONJUNVTIVITIS P 59
Total 132 1.30%
L 5050
JUMLAH P 5094
Total 10144 100%

D. Penyakit Menular.
1) Penyakit Menular Bersumber Binatang.
a. Penyakit Malaria.
Kasus Penyakit Malaria di Puskesmas Mendoyo, dalam tiga tahun terakhir
angka API yaitu gabungan kasus indegenus dan kasus import masih berada di
bawah 1 / 1.000 sehingga masih tergolong Low Case Insidence.pada tahun 2012
dan tahun 2013 tidak ada sediaan darah yang positif (+).Pada tahun 2014 jumlah
kasus penyakit Malaria sebanyak 1 kasus. pada tahun 2015 jumlah kasus penyakit
Malaria sebanyak 3 kasus, pada tahun 2016 sebanyak 4 kasus dan tahun 2017 dan
2018 tidak ada kasus.
TABEL IV.5
Penderita Malaria dan API / 1.000 penduduk
Tahun 2012 – 2018

Penderita Malaria MoPI per


Positif Positif Meninggal 1.000
Tahun Jumlah
ACD PCD penduduk
1 2 3 4 5 6
2012 0 0 0 0 0
2013 0 0 0 0 0
2014 1 0 1 0 0,02
2015 3 0 3 0 0,03
2016 4 0 4 0 0,04
2017 0 0 0 0 0
2018 0 0 0 0 0
Sumber : Program Malaria

19
b. Penyakit Deman Berdarah Dengue ( DBD ).
Jumlah kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas
Mendoyo dari tahun ke tahun menunjukkan trend yang berfluktuasi. Tahun 2012
ditemukan sebanyak 5 kasus sedangkan tahun 2013 ditemukan 7 kasus, dan tahun
2014 sebanyak 6 kasus, tahun 2015 sebesar 47 kasus tahun 2016 181 kasus dan
tahun 2017 ditemukan sebanyak 19 kasus. Sedangkan pada tahun 2018 ditemukan
11 kasus.
TABEL IV.6
Prevalensi Rate / 100.000 penduduk
dan CFR / 100 Penderita Penyakit DBD
Tahun 2012 – 2018.
Prevalensi
Jumlah CFR
Per 100.000
Tahun Penderita Meninggal (%)
penduduk
1 2 3 4 5
2012 5 0 0,0002 0

2013 7 0 0,0004 0

2014 6 0 0,0003 0

2015 47 0 0,0012 0

2016 181 0 0,0049 0

2017 19 0 0.0043 0

2018 11 0 0 0
Sumber : Program DBD.

2) Penyakit Menular Langsung.


a. P2TB Paru.
 Angka Deteksi Dini (Case Detection Rate)
Dalam tahun 2012 Jumlah suspek TBC yang diperiksa sebanyak 198
orang, sedangkanpenderita BTA (+)sebanyak 39 orang.Penemuan penderita
BTA (+) tahun 2013 mencapai 34 orang dari jumlah suspek penderita TBC
yang diperiksa sebanyak 225 orang. Pada tahun 2014 jumlah suspek TBC 218
orang yang diperiksa 39 orang dinyatakan positif, Pada tahun 2015 jumlah
suspek TBC 218 orang yang diperiksa 39 orangdinyatakan positif. Pada
tahun 2016 jumlah suspek TBC yang diperiksa 115 orang dan dinyatakan
positif sebanyak 21 orang sedangkan tahun 2017 jumlah suspek TBC 249
orang yang diperiksa 12 orang dinyatakan positif. Pada tahun 2018 jumlah
suspek TBC sebanyak yang diperiksa sebanyak 225 dan yang dinyatakan
positif sebanyak 26 kasus.

20
 Pengobatan Penderita TB paru.
Dalam tahun 2009 jumlah kasus BTA(+) yang diobati sebanyak 34
orang dan BTA(-) Ro(+) sebanyak 13 orang. Sedangkan tahun 2010 jumlah
kasus BTA(+) yang diobati sebanyak 34 orang dari 225 kasus yang ditemukan
dan BTA(-) Ro (+)
sebanyak 25 orang, tahun 2011 jumlah kasus baru BTA(+)
yang diobati sebanyak 39 orang, BTA(-) Ro(+) sebanyak 17 orang, tahun 2012
jumlah kasus baru BTA(+) yang diobati sebanyak 39 orang, BTA(-) Ro(+)
sebanyak 17 orang. Pada tahun 2013 kasus baru BTA (+) yang di obati
sebanyak 34 orang, tahun 2014 sebanyak 39 orang, tahun 2015 sebanyak 22
orang tahun 2016 sebanyak 18 orang BTA (+) dan 3 orang rontgen (+)
sedangkan untuk tahun 2017 ditemukan 12 orang BTA (+) dan 3 orang
rontgen (+). Pada tahun 2018 ditemukan 20 orang BTA (+), 2 orang rontgen
(+), 2 orang TB Kelenjar dan 2 orang TCM (+).
TABEL IV.7
Penemuan dan Pengobatan Penderita TB. Paru
Tahun 2012 – 2018.

Penemuan Pengobatan Penderita Penderita


(%)
Tahun Penderita TBC yang
Sembuh
Tersangka BTA (+) BTA (+) BTA (-) Ro (+) sembuh
2012 170 19 19 0 15 78,95
2013 227 9 7 2 7 72,73
2014 325 10 10 7 10 58,82
2015 174 8 8 0 6
2016 94 15 3 2 6 63
2017 249 12 12 3 9 75
2018 225 26 20 2 0 0
Sumber : Program P2TB Paru Puskesmas I Mendoyo 2018

b. P2 Diare.
Penemuan dan pengobatan penderita Diare pada Balita di Puskesmas
Mendoyo pada tahun 2013 sebanyak 84 orang, pada tahun 2014 sebanyak 125
orang , tahun 2015 sebanyak 155 orang dan pada tahun 2016 ditemukan 424
orang. Semua kasus telah ditangani dan tidak ada kematian.Sedangkan untuk
tahun 2017 ditemukan 336 penderita dan tidak ada kasus kematian akibat diare.
Pada tahun 2018 ditemukan 520 penderita dan tidak ada kasus kematian.

21
TABEL IV.9
Penderita Diare Tahun 2012 – 2018
Prevalensi
Jumlah CFR
Tahun Meninggal per 1.000
Penderita (%)
penduduk
1 2 3 4 5

2012 84 0 1,35 0
2013 125 0 1,48 0
2014 155 0 1,84 0
2015 303 0 1.67 0
2016 424 0 10,2 0
2017 336 0 8.14 0
2018 520 0 0
Sumber : Program Diare.

c. P2 IMS danHIV / AIDS.


Pada tahun 2014 tidak ditemukan kasus HIV/AIDS dan penderita
Siphilis.. Pada tahun 2015 ditemukan0 kasus HIV/AIDS dan ditemukan kasus
penderita Siphilis sebanyak 0 kasus, Pada tahun 2015 ditemukan0 kasus
HIV/AIDS dan ditemukan kasus penderita Siphilis sebanyak 0 kasus.Pada
tahun 2016 ditemukan 6 kasus HIV Positif sedangkan kasus Sifilis tidak
ditemukan. Ini disebabkan karena semakin gencarnya kegiatan VCT yang
dilakukan.Untuk tahun 2017 ditemukan 5 kasus 2 pada ibu hamil dan 3 kasus
pada kelompok resiko. Pada tahun 2018 ditemukan 9 kasus terdiri dari 1 pada
ibu hamil, 1 orang LSL, 2 orang waria, 5 orang dari pasien umum.

TABEL IV.10
Penderita Penyakit Kelamin dan HIV / AIDS
Tahun 2013 – 2018
Tahun HIV / AIDS (+) Siphilis
1 2 3
2013 0 0
2014 0 0
2015 0 0
2016 6 0
2017 5 0
2018 9 2
Sumber : Klinik VCT &Program HIV /IMS Puskesmas I Mendoyo

22
d. Pencegahan dan pengamatan penyakit
Sasaran imunisasi pada bayi yang dilaksanakan tahun 2018 sebesar 480
orang dengan cakupan imunisasi yang terdiri dari BCG : 102,9 %, DPT 1:
110,8%, Polio 4: 114,2 %, Campak: 103,1%, DPTHB3 : 114,2 % BIAS SD (
DT/TD) : 100%( untuk BIAS Campak diganti dengan Imunisasi MR), MR
(pada bulan Agustus – September) : 103,1 %, Imunisasi JE (pada bulan Maret
April): 105,0% dan TT5 Bumil : 106,5 %.
Bila ditinjau dari sasaran imunisasi,jumlah bayi mengalami penurunan
tetapi bila ditinjau dari cakupannya program menunjukkan peningkatan. Sejak
tahun 2010 Cakupan Desa Universal Child Immunization ( UCI ) di Puskesmas
Mendoyo hanya mencapai 95%.

TABEL IV.11
Cakupan Imunisasi Bayi di Puskesmas Mendoyo
Tahun 2014 – 2018
Sasaran Cakupan Imunisasi ( % )
Tahun
Bayi BCG DPT 1 DPT2 DPT3 Pol 1 Pol 2 Pol 3 Pol 4 Campak UCI

86,40
2014 965 88,30 90,70 91,10 86,40 90,70 91,10 91,10 97,50 75

84,10
2015 965 87,67 87,67 91,09 84,10 87,67 90,57 91,10 97,51 45,45

2016 562 91,9 95,4 98,6 105,2 91,9 95,4 98,6 105,2 103 95,0

2017 551 99,3 99,3 95,5 99,5 99.3 99,3 95,5 99,5 99,8 71,43

2018 480 102,9 110,8 113,3 114,2 102,9 110,8 113,3 114,2 103,1 100

Sumber : Program Imunisasi.

Sasaran imunisasi pada Ibu Hamil pada tahun 2016 sebesar 577
orang, dan cakupan imunisasi yang dicapai 94,3% sedangkan pada tahun 2018
sasaran ibu hamil 605 orang dengan cakupan 92,2 %

TABEL IV.12
Cakupan Imunisasi TT 1, TT 2 dan Boster pada Ibu Hamil
Tahun 2014 – 2018

Sasaran Pencapaian ( %)
Tahun Ibu
TT 1 TT 2 Boster TT5
Hamil
1 2 3 4 5 6
2014 656 0 0 0 60,27

23
2015 630 0 0 0 69,65
2016 577 0 0 0 94,3
2017 605 0 0 0 92,20
2018 605 0 0 0 106,5
Sumber :Program Imunisasi
Cakupan Catch Up Campaign Tahun 2012 untuk imunisasi DT anak
SD kelas I mencapai 100 % dari jumlah sasaran 854 orang. Cakupan untuk
imunisasi TT anak SD kelas II dengan cakupan 100 % dari jumlah sasaran
854 orang. Sedangkan untuk anak SD kelas III cakupan mencapai 100 % dari
sasaran 1906 orang
Cakupan Catch Up Campaign Tahun 2013 untuk imunisasi DT anak
SD kelas I mencapai 98,63% dari jumlah sasaran 1578 orang. Cakupan untuk
imunisasi TT anak SD kelas II dengan cakupan 100 % dari jumlah sasaran
1.496 orang. Sedangkan untuk Imunisasi TT untuk anak SD kelas III cakupan
mencapai 100 %) dari sasaran 1.483 orang
Cakupan Catch Up Campaign Tahun 2014 untuk imunisasi DT siswa
SD kls.1 mencapai 100 % dari jumlah sasaran 1. 499 orang. Cakupan untuk
imunisasi TT anak SD kelas II dengan cakupan 100 % dari jumlah sasaran
1.533 orang. Sedangkan untuk Imunisasi TT untuk anak SD kelas III cakupan
mencapai 100 % dari sasaran 1.486 orang
Cakupan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Tahun 2015 untuk
imunisasi Campak siswa SD kls.1 mencapai 100 % dari jumlah sasaran 845
orang. Cakupan untuk imunisasi DT anak SD kelas I dengan cakupan 100 %
dari jumlah sasaran 845 orang. Sedangkan untuk Imunisasi TD untuk anak SD
kelas II dan III cakupan mencapai 100 % dari sasaran 1.906 orang.
Cakupan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Tahun 2016 untuk
imunisasi Campak siswa SD kls.1 mencapai 100 % dari jumlah sasaran 567
orang. Cakupan untuk imunisasi DT anak SD kelas I dengan cakupan 100 %
dari jumlah sasaran 1.653 orang. Sedangkan untuk Imunisasi TD untuk anak
SD kelas II dan III cakupan mencapai 100 % dari sasaran 1.653 orang.
Cakupan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Tahun 2017 untuk
imunisasi Campak siswa SD kls.1 mencapai 100 % dari jumlah sasaran 565
orang. Cakupan untuk imunisasi Td untuk anak SD kelas II dengan cakupan
100 % dari jumlah sasaran 546 orang.
Cakupan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Tahun 2018 untuk
imunisasi Campak siswa SD kls.1 tidak dilakukan karena adanya Kampanye
imunisasi Measles Rubella (MR) adalah suatu kegiatan imunisasi secara masal
sebagai upaya untuk memutuskan transmisi penularan virus campak dan

24
rubella pada anak usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun, tanpa
mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Imunisasi ini sifatnya wajib
dan tidak memerlukan individual informed consent. Kegiatan ini dilakukan di
bulan Agustus- September 2018 dengan pencapaiannya sebesar 103,1 % dari
jumlah sasaran 7.679 orang.
Pelaksanaan kampanye imunisasi JE (Japanese encephalitis)
dilaksanakan dengan sasaran anak usia 9 bulan sampai 15 tahun dan dilakukan
di seluruh Provinsi Bali pada tahun 2018 bulan Maret sampai Mei. Pencapaian
imunisasi JE sebesar 105% dari sasaran 7. 679 orang. Setelah pelaksanaan
program imunisasi JE di Bali selesai, maka imunisasi JE akan dimasukkan ke
dalam imunisasi dasar pada anak usia 9 bulan.

TABEL IV.13
Hasil Imunisasi Campak dan TD
untuk Murid Kelas I dan II
Tahun 2013 – 2018
cakupan
JUMLAH SASARAN (%)
Tahun CAMPAK DT TD
KELAS 1 KELAS 2 KELAS 3 % % %
2 3 4 5 7 9 11
2013 1614 1525 1496 100 97.52 0
2014 1600 1496 1483 100 98.63 0
2015 854 960 946 100 100 100
2016 553 542 558 100 100 100
2017 565 546 - 100 - 100
2018 548 573 - - 100 100
Sumber :Program Imunisasi.

D. Angka Status Gizi Masyarakat.

Masalah Gizi Merupakan salah satu penentu Kualitas Sumber Daya Manusia.
Kurang Gizi akan menyebabkan kegagalan pembentukan fisik dan terjadinya gangguan
perkembangan kecerdasan, menurunkan produktivitas kerja, menurunkan daya tahan
tubuh serta meningkatkan angka kesakitan dan kematian.
Sementara terhadap gizi lebih juga memperlihatkan dampak negative. Masalah yang
timbul dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain status kesehatan, status ekonomi
ketersediaan pangan, pendidikan, asupan zat-zat gizi, sosial budaya sehingga
penanganannya memacu kita untuk lebih profesional mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan
Berbagai upaya untuk mengatasi masalah gizi telah dilakukan melalui Program

25
Perbaikan Gizi Masyarakat, seperti pemberian kapsul Vitamin A untuk anak 1–4 tahun,
distribusi kapsul yodium untuk penduduk pada daerah rawan Gangguan Akibat
Kekurangan Yodium (GAKY), pemberian tablet Fe untuk ibu hamil dan upaya lain yang
berhubungan dengan peningkatan konsumsi pangan dan pendapatan masyarakat.

a. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG).


Upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan status gizi masyarakat
antara lain melalui Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang bertujuan untuk
meningkatkan mutu konsumsi pangan sehingga berdampak pada status gizi
masyarakat. Peningkatan gizi diarahkan pada peningkatan intelektualitas,
produktivitas dan prestasi kerja serta penurunan angka gangguan, terutama gizi
kurang dan buruk.
Kegiatan yang dilakukan antara lain pelacakan kasus gizi buruk,
pemantauan status gizi balita, pemantauan pertumbuhan balita dan pemberian
makan tambahan pada balita gizi buruk.
TABEL IV.1
Prevalensi Gizi Buruk pada BalitaDi Puskesmas I MendoyoTahun 2012 – 2018
Tahun
Indikator
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Status Gizi
0.52 % 0.44 % 0.53 % 0.52 0.51 0,49% 0,048%
Buruk
Sumber : Program Gizi.

b. Kekurangan Vitamin A.
Tujuan utama program penanggulangan Kekurangan Vitamin A adalah
untuk menurunkan prevalensi kebutaan akibat Xerophthalmia.
Distribusi Vitamin A untuk balita usia 6 bulan – 5 tahun dilaksanakan bulan Februari
dan Agustus. Sedangkan kegiatan sweeping Vitamin A dilaksanakan pada bulan
Maret dan September. Jumlah balita yang mendapat Vitamin A sebanyak 1934 orang
(100 %) dari jumlah Balita sebanyak 1908 orang. Distribusi Vitamin A tahun 2016
sebesar 100,00%, capaian tahun 2017 sebesar 98,66 %.Sedangkan di capaian di
tahun 2018 sebesar 99,54 %
TABEL IV. D.2
Distribusi Vitamin A di Puskesmas I MendoyoTahun 2012 – 2018

Indikator Tahun

Cakupan 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Distribusi
100 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 99,54%
Vit. A (%)

26
Sumber :Program Gizi

c. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium ( GAKY ).


Program penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
bertujuan untuk menurunkan Angka Gondok serta mencegah munculnya kasus kretin
pada bayi baru lahir. Upaya yang dilakukan dengan cara pendistribusian kapsul
yodium dan yodisasi garam pada keluarga-keluarga.
d. Penanggulangan Anemia.
Anemia gizi merupakan masalah klasik kesehatan, terutama bagi ibu
hamil. Cakupan distribusi Tablet besi ( Fe I ) untuk ibu hamil pada tahun 2013
sebesar 105.68 %. tahun 2014 sebesar 102 %.tahun 2015 sebesar 100,24 % , dan
tahun 2016 sebesar 85,71. Sedangkan distribusi Tablet Besi (Fe III) tahun 2012
sebesar 99,26 %,tahun 2013 sebesar 99.15 %, tahun 2014 sebesar 97,55 %, tahun
2015 sebesar 69,65 %dan tahun 2016 sebesar 78,97%. Pada tahun 2018 sebesar
88,64%.

TABEL IV. D.4


Distribusi Tablet Besi ( Fe.3 ) pada Ibu Hamil
Tahun 2013 – 2018
Indikator 2015 2016 2017 2018
2013 2014
Cakupan
90,44 106,7
Distribusi Fe.I 105.68 106.29 74,34 85,71

96,98 87,52
Distribusi Fe.III 99.15 97.55 69,65 78.97

Program : Gizi

27
BAB SITUASI UPAYA KESEHATAN

A. PELAYANAN KESEHATAN
Tujuan pokok Program Upaya Kesehatan adalah untuk meningkatkan pemerataan dan
mutu pelayanan kesehatan yang effektif dan effisien serta terjangkau oleh segenap anggota
masyarakat.Sasaran program ini ditujukan agar tersedianya sarana pelayanan kesehatan
dasar dan rujukan baik oleh pemerintah maupun swasta yang didukung oleh peran serta
masyarakat dan sistem pra-upaya.
1. Pelayanan Kesehatan Dasar.
Dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan telah dilakukan pembangunan dan
rehabilitasi sarana pelayanan puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Puskesmas
Keliling.Disamping itu telah pula dilakukan penempatan tenaga kesehatan di sarana-
sarana kesehatan.Meski demikian, penampilan dan mutu pelayanan kesehatan dirasakan
belum optimal. Hal ini disebabkan lemahnya sistem manajeman dan belum mantapnya
pelayanan rujukan serta kurangnya dukungan logistik dan biaya operasional untuk
mendukung pelayanan yang akan diberikan.
Jumlah kunjungan rawat jalan di poli umum di Puskesmas I Mendoyo pada
tahun 2018 sebesar 34.834 kunjungan. Pada tahun 2016 sebesar 29.529, pada tahun
2015 sebesar 43.959 orang. Rata-rata kunjungan pada tahun 2014 sebesar 17.575
orang,kunjungan tahun 2013 sebanyak 16,681, kunjungan tahun 2012 sebanyak 15,131
TABEL V.1
Jumlah Kunjungan Rawat Jalan Puskesmas I Mendoyo
Tahun 2012 – 2018

Jenis Tahun
Kunjungan 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

1 2 3 4 5 6 7 8

Rawat Jalan 43.959 16.681 17,575 43.959 29.529 24.792 34.834


Sumber :Program SP2TP, tahun 2015

a. Kesehatan Ibu dan Anak ( KIA ).


1) Pelayanan Antenatal.
Cakupan capaian pelayanan ibu hamil (K1) Pada tahun 2012
sebesar103,83 %, Tahun 2013 sebesar 105,68 %,Tahun 2014 sebesar 106,29

28
%Tahun 2015 sebesar 74,34%, tahun 2015 sebesar 87,3%.
Sedangkan capaian pelayanan ibu hamil (K4) Pada tahun 2012 sebesar
99,26%, Tahun 2013 sebesar 99,15 %Tahun 2014 sebesar 97.55 %,Tahun 2015
sebesar 69,65 %, Tahun 2016 sebesar 76,9%, Tahun 2017 96,9% dan Tahun 2018
sebesar 83,2 %.
TABEL V.3
Cakupan Pelayanan Antenatal Puskesmas I Mendoyo
Tahun 2012 – 2018

Cakupan Pelayanan Ibu hamil ( % ).


No. Tahun
K1 K4
1 2 3 4
1. 2012 74,34 69,65
2. 2013 105,68 99,15
3. 2014 106,29 97.55
4. 2015 74,34 69,65
5 2016 87,3 76,9
6 2017 90,44 96,90
7 2018 108,0 83,2
Sumber : Program KIA.

1) Pertolongan Persalinan.
Cakupan capaian persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2012
sebesar 112,98%, tahun 2013 sebesar 103,80%,tahun 2014 sebesar 104,46%tahun
2015 sebesar 77,62 %, tahun 2016 sebesar 85,55%. Pada tahun 2017 sebesar
72,20 % sedangkan di tahun 2018 sebesar 100,8%.

TABEL V.4
Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
Puskesmas I Mendoyo Tahun 2012 - 2018
Cakupan Persalinan oleh
No. Tahun
Nakes (%).
1 2 3

1. 2012 77,62

2. 2013 103,80

3. 2014 104,46

4. 2015 77,62

29
5 2016 85,55
6 2017 72,20
7 2018 100,8
Sumber :Program KIA.

2) Pelayanan Nifas.
Cakupan capaian pelayanan Nifas pada tahun 2012 sebesar 100%, tahun
2013 sebesar 100%, tahun 2014 sebesar 98,57 %,tahun 2015 sebesar 78,74%,
tahun 2016 sebesar 85,71%. Tahun 2017 72,20% sedangakan di tahun 2018
sebesar 107,8%
TABEL V.5
Cakupan Pelayanan Nifas Puskesmas IMendoyo
Tahun 2012 – 2018

Cakupan Pelayanan nifas


No. Tahun
(%)
1 2 3

1. 2012 109,35

2. 2013 102,91

3. 2014 98,57

4. 2015 78,74
5 2016 85,71
6 2017 89,77
7 2018 107,8
Sumber :Program KIA.

b. Keluarga Berencana.
Untuk menilai keberhasilan pelaksanaan Program KB dapat ditinjau dari 3
unsur antara lain :pencapaian target KB Baru, cakupan peserta KB Aktif dan
penggunaan Metode Kontrasepsi EfektifTerpilih (MKET).
1) Pencapaian Target Peserta KB Baru.
Dalam tahun 2012 perolehan Akseptor KB Baru mencapai 1.079 orang
dari jumlah perolehan Akseptor KB Baru tersebut pengguna alat kontrsepsi non
MKJP 724 orang (69,69 %) dan yang menggunakan metode MKJP sebesar 355
orang (30,31 %).
Tahun 2013 perolehan Akseptor KB Baru mencapai 346 orang dari jumlah
perolehan Akseptor KB Baru tersebut pengguna alat kontrsepsi non MKJP 654
orang (63,31 % ) dan yang menggunakan metode MKJP sebesar 379 orang

30
(36,69 %).
Tahun 2014 perolehan Akseptor KB Baru mencapai 1.257 orang dari
jumlah perolehan Akseptor KB Baru tersebut pengguna alat kontrsepsi non
MKJP 893 orang (71,04 %) dan yang menggunakan metode MKJP sebesar 364
orang (28,96 %).
Tahun 2015 perolehan Akseptor KB Baru mencapai 1.031 orang dari
jumlah perolehan Akseptor KB Baru tersebut pengguna alat kontrsepsi non
MKJP 654 orang (72,34 %) dan yang menggunakan metode MKJP sebesar 377
orang (41,70 %).
Tahun 2016 perolehan Akseptor KB mencapai 6018 orang dari jumlah
Pasangan Usia Subur (PUS) yaitu 7304 dengan rincian pengguna alat kontrsepsi
non MKJP 3303 orang dan yang menggunakan metode MKJP sebesar 2847
orang.
Tahun 2018 perolehan Akseptor KB mencapai 6.324 orang dari jumlah
Pasangan Usia Subur (PUS) yaitu 7.432 dengan rincian pengguna alat kontrsepsi
non MKJP 183 orang (41,9%) dan yang menggunakan metode MKJP sebesar
254 orang (58,1%).

2) Peserta KB Aktif.
Dalam tahun 2012 peserta KB aktif mencapai 11.818 orang dari jumlah
Akseptor KB tersebut pengguna alat kontrsepsi non MKJP 5.586 orang (54,87
%) dan yang menggunakan metode MKJP sebesar 5.232 orang (45,13 %).
Tahun 2013 peserta KB aktif mencapai 11.695 orang dari jumlah Akseptor
KB tersebut pengguna alat kontrsepsi non MKJP 5.592 orang (49,54 %) dan
yang menggunakan metode MKJP sebesar 6.103 orang (50,46 %).
Tahun 2014 peserta KB aktif mencapai 12.203 orang dari jumlah Akseptor
KB tersebut pengguna alat kontrsepsi non MKJP 6.534 orang (53,63%) dan yang
menggunakan metode MKJP sebesar 5.669 orang (46,53 % ).
Tahun 2015 peserta KB aktif mencapai 12.070 orang dari jumlah Akseptor
KB tersebut pengguna alat kontrsepsi non MKJP 6.568 orang (48,13%) dan yang
menggunakan metode MKJP sebesar 5.502 orang (40,32 % ).
Tahun 2016 peserta KB aktif mencapai 6.018 orang.Dari jumlah Akseptor
KB tersebut pengguna alat kontrsepsi non MKJP 3306 orang (54,9%) dan yang
menggunakan metode MKJP sebesar 2712 orang (45,1 % ).
Tahun 2017 peserta KB aktif mencapai 6357 orang.. Dari jumlah Akseptor
KB tersebut pengguna alat kontrsepsi non MKJP 3051 orang (47,99%) dan yang
menggunakan metode MKJP sebesar 3128 orang (49,2 % ).
Tahun 2018 peserta KB aktif mencapai 6324 orang.. Dari jumlah Akseptor

31
KB tersebut pengguna alat kontrsepsi non MKJP 3355 orang (53,05%) dan yang
menggunakan metode MKJP sebesar 2969 orang (46,95 % ).

TABEL V.6
Pelayanan Keluarga Berencana Puskesmas I Mendoyo
Tahun 2012 – 2018
Jumlah Peserta KB Baru Jumlah Peserta KB Aktif
No. Tahun
MKJP Non MKJP MKJP Non MKJP
1 2 3 4 5 6
1. 2012 355 (30,31 %) 724 (69,69 %) 6.232 (15,43 %) 5.586(84,57 %)

2. 2013 379 (36,69 %) 654 (63,31 %) 6.103 (50,46 %) 5.592 (49,54 %)

3. 2014 364( 28,96 %) 893 (71,04 %) 5.669 (46,53 %) 6.534 (53,63 %)

4. 2015 377( 41,70 %) 654 (72,34 %) 5.502 (40,32 %) 6.568 (48,13%)

5 2016 417 (31,07%) 925 (68,92%) 2712 (45,1 %) 3306 (54,9%)

6 2017 428 (30,76) 963 (69,23) 2870 (38,87%) 3340 (45.23)

7 2018 254 (58,1%) 183 (41,9%) 2969(46,95% ) 3355(53,05%)


Sumber : Program KIA dan KB.

B. PERILAKU HIDUP MASYARAKAT.


Kesehatan adalah hak azasi manusia, dan sekaligus merupakan investasi sumber
daya manusia, serta memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan Indek
Pembangunan Manusia (IPM). Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi semua pihak
untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan demi kesejahteraan seluruh
masyarakat Indonesia.
Untuk mewujudkan masyarakat sehat, Promosi Kesehatan memegang peran yang
sangat penting. Upaya ini dilakukan melalui penyuluhan dan keberhasilannya tergantung
dari adanya perubahan perilaku masyarakat yang juga dipengaruhi oleh adat dan kebiasaan
setempat.
Upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari,
oleh, untuk dan bersama masyarakat agar dapat menolong dirnya sendiri serta

32
mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat sesuai sosial budaya setempat
dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.
Kegiatan Promosi Kesehatan dilaksanakan di semua desa/kelurahan yang ada
diwilayah Puskesmas I Mendoyo

 Hasil Penyuluhan di Luar Gedung :


Jumlah Desa yang di diberikan penyuluhan : 6 Desa dan 1 Kelurahan pada 82 posyandu
dengan frekwensi penyuluhan 46 kali per bulan, dengan jumlah sasaran 36.650 orang
per tahun.
 Hasil Penyuluhan di Dalam Gedung :
Jumlah frekwensi penyuluhan 1.800 kali dengan jumlah sasaran 26.421orang per tahun.
Beberapa kegiatan yang menjadi sasaran antara lain :
a. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di rumah tangga
merupakan salah satu strategi untuk menggerakkan dan memperdalam anggota rumah
tangga untuk hidup bersih dan sehat.Melalui upaya ini setiap rumah tangga diberdayakan
agar tahu, mau dan mampu menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dengan
mengupayakan lingkungan sehat, mencegah dan menanggulangi masalah-masalah
kesehatan yang dihadapi serta memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.Setiap
rumah tangga juga digerakkan untuk berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan
masyarakatnya dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber masyarakat.
Pelaksanaan survey PHBS dilaksanakan berdasarkan pendekataan dengan
menggunakan teknik survey cepat.Populasi yang disurvey adalah keluarga yang
berdomisili di wilayah Puskesmas Mendoyo.Desain sampel menggunakan rancangan
kluster 2 tahap dan besar sampel menggunakan pendekatan yang dikembangkan oleh
WHO.Jumlah sampel minimal 210 RT tiap desa/ kelurahan.
Berdasarkan hasil survey PHBS yang dilaksanakan pada 6desa dan 1 Kelurahan
di Puskesmas IMendoyo tahun 2016 prosentase rumah tangga sehat sudah cukup baik
dengan pencapaian yaitu78, 95 %.dan tahun 2018 73,40 %
Adapun hasil survey sesuai indikator PHBS yang dilakukan di Puskesmas I
Mendoyo tahun 2018 didapati skor rumah tangga sebagai berikut :
a. Rumah tangga sehat : 73,40 %
b. Persalinan oleh Nakes : 100 %
c. ASI Eksklusif : 100 %
d. Balita ditimbang : 100 %
e. Tidak merokok : 88 %
f. Aktivitas fisik : 98 %
g. Diet Sayur Buah : 98 %

33
h. JPK : Tidak di survey
i. Jamban : 100 %
j. Air Bersih : 100 %
k. Luas lantai : Tidak di survey
l. Lantai bukan tanah : Tidak di survey
m. Pembersihan Jentik : 100 %.
n. Mencuci tangan dgn air bersih + sabun : 100 %

TABEL V.7
Survey Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Tahun 2013– 2018

Tahun
Indikator PHBS
2013 2014 2015 2016 2017 2018

1 3 4 5 5 6 7
73,40
RT Sehat 69,00 76,86 78,86 78,95 79,90

Persalinan oleh
100,00 103,14 106.15 100 100 100
Nakes

ASI Eksklusif 78,14 59,10 60.10 100 100 100

Bayi + Balita
98,08 98,08 99.08 100 100 100
ditimbang

Tidak merokok 96,10 96,40 97.40 90,76 91,25 88

Aktivitas fisik 99,72 99,72 99.72 100 100 98

Diet Sayur Buah 98,16 98,16 99.16 86,92 87,95 98

Cuci tangan ( Air +


99,64 99,64 99.64 99,64 99,70 100
sabun )

JPK - - - - - -

Pemberantasan
98,20 92,00 93.00 93,5 95,0 100
Jentik

Jamban 94,66 75,73 77.73 93,25 95,20 100

Air bersih 100,00 90,03 95.03 100 100 100

Luas lantai - - - - - -

Lantai bukan tanah - - - - - -

Sumber :ProgramPromkes

b. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat.


Masyarakat sebagai pelaku upaya kesehatan sangat besar perannya.Bentuk peran

34
tersebut terlihat dari partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu, Desa Siaga,
Poskesdes dan TOGA. Posyandu sebagai wahana kesehatan bersumber masyarakat yang
memberikan pelayanan KIA, KB, Gizi, Imunisasi, P2 Diare, Lansia, dan PTM.
Poskesdes adalah Pos Kesehatan Desa yang berfungsi sebagai wahana kesehatan
bersumber masyarakat yang dikelola oleh Bidan Desa bersama masyarakat guna
memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Desa Siaga adalah salah satu pendukung bagi masyarakat untuk dapat hidup sehat
secara mandiri.
Tanaman Obat Keluarga (TOGA) berfungsi sebagai wahana kesehatan bersumber
masyarakat yang berupaya menghasilkan tanaman yang dapat dipergunakan oleh
keluarga untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan keluarga

TABEL V.8
Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat
DiPuskesmas I Mendoyo Tahun 2018

Jenis UKBM
No. Desa/Kelurahan
Posyandu Poskesdes Desa Siaga TOGA

1 2 3 4 5 6
1. Mendoyo Dauh Tukad 6 - 1 1
Mendoyo Dangin
2. 4 - 1 -
Tukad
3. Poh Santen 6 - 1 -
4. Pergung 6 - 1 1
5. Delodbrawah 4 - 1 -
6. Tegal Cangkring 6 - 1 -
7. Penyaringan 16 - 1 -
Jumlah 48 0 7 2
Sumber :Program Promkes UPT. Puskesmas I Mendoyo

Bila ditinjau dari tingkat perkembangannya maka kondisi UKBM seperti tertera dalam
tabel berikut

35
TABEL V.9
Tingkat perkembangan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat
Di Puskesmas I Mendoyo Tahun 2018

Jenis UKBM
No. Tingkat UKBM
Posyandu Poskesdes
1 2 3 4
1. Pratama 0 0
2. Madya 2 0
3. Purnama 46 0
4. Mandiri 0
Jumlah 48 0
Sumber :Program Promkes UPT. Puskesmas I Mendoyo

c. Pemberdayaan Dana Masyarakat.


Perilaku masyarakat lain perlu ditumbuhkan terutama dalam upaya
menanggulangi biaya perawatan yang semakin mahal. Oleh sebab itu masyarakat
dianjurkan membentuk dana Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM )
untuk mengantisipasi kemungkinan jatuh sakit yang memerlukan biaya perawatan. Hal
ini dimaksudkan untuk mewujudkan kemandirian masyarakat dalam memperoleh
pelayanan kesehatan dengan menggalang peran serta masyarakat dalam pembiayaan
kesehatan. Adapun tujuannya agar masyarakat dapat mempercepat pemerataan dan
keterjangkauan pelayanan kesehatan, sehingga diharapkan akan timbul kemandirian
masyarakat melalui kesadaran berasuransi. Kemudian pada bulan oktober 2011 program
JKJ disinkronkan dengan program JKBM dimana semua masyarakat memperoleh subsidi
biaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan baik PPK 1 sampai rawat inap di RS
Pemerintah dan swasta untuk ruang perawatan kelas III di seluruh Propinsi Bali.

TABEL V.10
Peserta Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM)
Di Wilayah Kerja UPT Puskesmas IMendoyo Tahun 2018
JKBM
No. Desa/Kelurahan Jumlah KK
Jumlah Peserta Prosentase
1 2 3 4 5
Mendoyo Dauh
1. 1.781 1.197 69,07
Tukad
Mendoyo Dangin
2. 945 843 96,23
Tukad

36
3. Poh Santen 1.996 1.917 97,66
4. Pergung 1.532 1.164 77,91
5. Delodbrawah 678 603 87,64
6. Tegal Cangkring 2.343 2.090 94,48
7. Penyaringan 3.085 2.802 94,06
Jumlah 12.360 12.085 89,72
Sumber : Pengelola JKBM UPT. Puskesmas Mendoyo.

C. KEADAAN LINGKUNGAN.

Salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat
adalah kondisi lingkungan yang tercermin antara lain dari akses masyarakat terhadap air
bersih dan sanitasi dasar. Perilaku masyarakat yang mendukung pola hidup bersih dan sehat
merupakan salah satu faktor untuk mendukung peningkatan status kesehatan.Untuk
meningkatkan kualitas lingkungan sehingga menjadi kondusif bagi terciptanya derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya ditunjukkan melalui pemanfaatan Sarana Air
Bersih, Jamban, Sarana Pembuangan Air Limbah dan Rumah Sehat.

Dan terciptanya keberdayaan individu, keluarga dan masyarakat yang ditandai oleh
peningkatan perilaku hidup sehat dan peran aktif dalam memelihara, meningkatkan dan
melindungi kesehatan diri dan lingkungan sesuai dengan sosial budaya setempat. Beberapa
perilaku masyarakat yang kurang sehat dapat dilihat antara lain melalui kebiasaan merokok
dan rendahnya pemberian air susu ibu eksklusif dan gizi lebih pada wanita.

Upaya mencapai pembangunan kesehatan di wilayah Puskesmas I Mendoyo, sangat


bergantung pada aspek lingkungan masyarakat yang berpengaruh terhadap keberhasilan
pencapaian paradigma sehat. Baik buruknya pelayanan air minum dan penyehatan
lingkungan merupakan tolok ukur untuk menentukan keberhasilan upaya peningkatan
kesehatan lingkungan. Adapun kegiatan yang telah dilakukan selama tahun 2015meliputi :
1) Penyehatan Makanan dan Minuman.
Kegiatan ini bertujuan untuk menurunkan Angka Kesakitan yang disebabkan oleh
makanan dan minuman.Sasaran yang dituju adalah tempat pengelolaan makanan, seperti
rumah makan / restoran, warung nasi, jasa boga, kantin, pengrajin makanan dan
pedagang keliling.
Kegiatan yang dilakukan antara lain :
a) Menginventarisasi dan pengawasan tempat pengelolaan makanan dan minuman
secara berkala.
b) Melaksanakan penilaian tingkat mutu hygiene / grading terhadap rumah makan /
restoran secara berkala.

37
c) Pengawasan kualitas dengan melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap makanan
dan minuman, air minum dan usapan dubur pada penjamah makanan.
Hasil yang dicapai dalam kegiatan Penyehatan Tempat Pengelolaan Makanan dan
Minuman berupa inventarisasi, pengawasan dan grade, antara lain :
a) Rumah Makan / Restoran :
Jumlah yang terdaftar : 3 buah, dengan hasil :
Yang diperiksa : 3 buah.
Yang memenuhi syarat kesehatan :0 buah.
b) Sampel Makanan untuk pemeriksaan sampel makanan :
Uji petik pengambilan sampel untuk pemeriksaan sampel makanan sebanyak 12
sampel terhadap beberapa jenis makanan yang dijual di Rumah Makan/ Restoran,
kantin sekolah, dengan hasil pemeriksaan baik ( tidak ada sampel makanan yang
mengandung bahan berbahaya).
2) Penyehatan Lingkungan Permukiman.
Kegiatan yang dilakukan melalui :
a) Pengawasan dan Pembinaan terhadap penggunaan dan kepemilikan sarana kesehatan
berupa jamban.
b) Monitoring Sarana Pembuangan Air Limbah, Pengelolaan sampah dan rumah-rumah
yang belum memenuhi syarat kesehatan.
c) Pemberian bantuan stimulan kepada masyarakat / kepala keluarga yang belum
memiliki sarana kesehatan lingkungan.
Hasil kegiatan yang dilakukan antara lain terhadap :
a) Jamban.
- Pengguna jamban : 34.284 jiwa.
- Jamban yang diperiksa : 1.200 buah.
- Jamban yang memenuhi syarat kesehatan: 1200 buah.
b) Tempat Pembuangan Sampah.
- Pengguna TPS : 12.848 KK
- TPS yang diperiksa : 1.200 buah
- TPS yang memenuhi syarat kesehatan : 1.104 buah.
c) Sarana Pembuangan Air Limbah.
- Pengguna SPAL : 12.848 KK..
- SPAL yang diperiksa : 1.200 buah
- SPAL yang memenuhi syarat kesehatan : 1.200 buah
d) Rumah.
- Jumlah Rumah : 10.919 buah.
- Rumah yang diperiksa : 1.200 buah.
- Rumah yang memenuhi syarat kesehatan : 1.200 buah.

38
3) Penyehatan Tempat Tempat Umum.
Kegiatan yang dilakukan berupa pengawasan dan pembinaan terhadap pengguna
tempat tempat umum seperti pasar, hotel, kawasan pariwisata dan kawasan industri.
Hasil yang dicapai :
- TTU yang ada : 54 buah.
- TTU yang diperiksa : 28 buah.
- TTU memenuhi syarat kesehatan: 28 buah.

TABEL V. 11
Pemanfaatan SAB, Jamban, SPAL dan Rumah Sehat
UPT Puskesmas I MendoyoTahun 2018
Jumlah Keluarga Rumah
No. Desa/Kelurahan SAB SPAL Jamban
yang ada Sehat

1 Mendoyo Dauh Tukad 1.817 1.817 1.645 1.533 1.594

2 Mendoyo Dangin Tukad 995 995 730 699 924

3 PohSanten 2.181 2.181 1.665 1.606 1.722

4 Pergung 1.542 1.542 1.394 1.362 1.285

5 Delodbrawah 698 698 675 662 599

6 Tegal Cangkring 2.447 2.447 2.152 2.097 2.048

7. Penyaringan 3.168 3.168 2.658 2.564 2.943

JUMLAH 12.848 12.848 10.919 10.523 11.115

Sumber : Program Kesling UPT. Puskesmas I Mendoyo Th 2018

39
40
BAB
SUMBER DAYA KESEHATAN
VI

U paya Kesehatan dapat berdaya guna dan berhasil guna bila pemenuhan sumber
daya tenaga, pembiayaan dan sarana kesehatan dapat memadai dan seimbang
dengan kebutuhan.
Di UPT Puskesmas I Mendoyo kebijakan di bidang kesehatan terus didorong
secara berkelanjutan.Berbagai kebijakan dilakukan oleh Pemerintah Daerah bekerjasama
dengan Pemerintah Provinsi Bali, diantaranya memberikan subsidi biaya kesehatan
melalui Program JKBM.Disamping subsidi biaya kesehatan, Pemerintahan Daerah juga
mempersiapkan sarana dan prasarana yang dapat mendukung kegiatan yang dilakukan.

A. TENAGA KESEHATAN.
Salah satu sumber daya kesehatan selain tersedianya sarana pelayanan kesehatan
dan sumber pembiayaan kesehatan telah pula disediakan tenaga kesehatan yang meliputi
dokter, bidan, perawat dan tenaga kesehatan lainnya.Ketersediaan antara fasilitas fisik
dengan tenaga kesehatan merupakan bagian yang saling melengkapi yang disesuaikan
dengan kebutuhan masyarakat.

1) Persebaran Tenaga Kesehatan.


Jumlah tenaga kesehatan yang ada di UPT.PuskesmasI Mendoyo telah
menunjukkan jumlah yang mencukupi, diisi dengan tenaga kesehatan yang sesuai
dengan kebutuhan dasar untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pelayanan. Data
jumlah pegawai Puskesmas I Mendoyo berdasarkan kualifikasi pendidikan seperti
tertera di dalam tabel berikut

41
TABEL VI. 1
Data Pegawai Berdasarkan Jumlah dan Kualifikasi Pendidikan
di UPT Puskesmas I MendoyoTahun 2018
STATUS
NO JENIS TENAGA JUMLAH
PNS NON PNS MAGANG
Tenaga Medis Dokter
1. Dokter Umum 1 4 0 5
I
2. Dokter Gigi 1 1 0 2
8
Paramedis Keperawatan
1. Ners 0 6 1 7
2. S1 Keperawatan 0 0 0 0
3. DIII Keperawatan 2 1 0 3
4. DIII Kebidanan 9 20 7 36
5. DIII Anastesi 0 0 0 0
II 6. D1 Kebidanan 0 0 0 0
7. SPK 0 0 0 0
8. PKC 0 0 0 0
9. SPKA /C 0 0 0 0
10. D3 Kesehatan Gigi 0 0 2 2
11. SPRG 1 0 0 1
49
Paramedis Keperawatan
1. S2 Kesehatan Masyarakat 0 0 0 0
2. S1 Kesehatan Masyarakat 1 1 0 2
3. D3 Kesling 0 0 0 0
4.D3 Analis Kesehatan 0 1 0 1
5. D3 Gizi 0 2 0 2
6. SPPH 0 0 0 0
III
7. Apoteker 0 2 0 2
8. SMF 1 0 0 1
9. SMA Kejuruan 0 0 0 0
10. SM Analis Kesehatan 1 0 0 1
11. Pekarya Kesehatan 0 0 0 0
12. SPAG 0 0 0 0
9
Non Medis
1. SMA 4 14 0 18
2. STM 0 0 0 0
III
3. SMEA 0 0 0 0
4. SMP 0 0 0 0
5. SD 0 0 0 0

42
18
TOTAL 21 52 10 83

B. PEMBIAYAAN KESEHATAN.
Sejak diterapkanya Keputusan Bupati Jembrana Nomor 26/KEU/2010 tanggal4
Januari 2010 dan Pertauran Bupati Jembrana Nomor 21 Tahun 2013 tentang Pola Tata
Kelola Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Unit Pelaksana Teknis Pusat Kesehatan
Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Jembrana,dimana UPT Puskesmas dapat
mengelola pendapatannya untuk mendukung operasionalnya, maka rekapitulasi
pendapatan UPT Puskesmas I Mendoyo yang dapat dipergunakan langsung adalah seperti
tabel berikut.
.TABEL VI.2
Proporsi pendapatan UPT Puskesmas I Mendoyo
2013 - 2016
Tahun Trend

No Uraian
2013 2014 2015 2016

1 Pendapatan Umum 0 11.611.475 10.261.900 27.371.000 Fluktuatif

2 Jamkesmas/Askeskin/ 10.855.000,- 0 0 0 Menurun


JPKM
3 Jampersal 2.880.000 0 0 0 Menurun

4 JKBM 321.780.000 309.365.000,- 298.640.000 271.495.000 Meningkat

5 APBD Kabupaten 0 0 0 0 -

6 APBN 110.000.000 94.600.000 133.400.000

7 BPJS 61.069.300 610.184.000 686.972.000 682.286.000 Meningkat

8 8.480.470
Pendapatan lain lain 9.231.748,19 20.814.988,71 Meningkat

Total 515.064.770 1.034.992.223 1.150.008.888 Meningkat


Sumber : Sub Bag Tata Usaha Puskesmas I Mendoyo

C. SARANA KESEHATAN. :
Pembangunan Kesehatan diarahkan untuk makin meningkatkan kualitas dan

43
pemerataan pelayanan kesehatan. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut penyediaan
sarana kesehatan merupakan hal yang sangat penting., adapun jumlah sarana
kesehatanpemerintah dan swasta yang ada di wilayah UPT Puskesmas I Mendoyo antara
lain :
1 Puskesmas Pembantu : 8 buah
2 Posyandu : 48 buah
3 Rumah Sakit : 0 buah
4 Jumlah Apotik : 4 buah
5 Jumlah Klinik Swasta : 0 buah
6 Dokter Umum Praktek Mandiri : 7 buah
7 Bidan Praktek Mandiri : 16 buah
8 Perawat Praktek mandiri : 6 buah

Dan untuk tahun 2017 Puskesmas I Mendoyo yang saat ini dengan klasifikasi
puskesmas pedesaan rawat inap dengan kapasitas 15 tempat tidur yang baru diresmikan
pengoperasiannya tanggal 2 Januari 2017.

44
45
BAB VII PENUTUP

A. SIMPULAN.
Berbagai, upaya telah dilaksanakan untuk meningkatan derajat kesehatan
masyarakat sesuai tujuan pembangunan daerah Kabupaten Jembrana diantaranya dengan
peningkatan pelayanan dan perbaikan sarana kesehatan sejalan dengan perbaikan kondisi
umum dan perbaikan keadaan sosial dan ekonomi masyarakat Jembrana.Upaya tersebut
dilaksanakan melalui penerapan visi, misi dan strategi pemerintah daerah yang kemudian
dituangkan dalam visi, misi dan strategi puskesmas. Dan dampak yang ditimbulkan oleh
pelaksanaan program kesehatan adalah meningkatnya derajat kesehatan yang ditunjukkan
dari tercapainya indikator derajat kesehatan dari target MDGs yang hendak dicapai pada
tahun 2018, antara lain :
1. Angka Kematian Bayi (AKB).
Pencapaian Angka Kematian Bayi di Kecamatan/Puskesmas Mendoyo tiga
tahun terakhir yang menggambarkan fluktuasi antara lain, pada tahun 2013 sebesar
14,08per 1.000 KH, tahun 2014 sebesar 10,63 per 1.000 KH,tahun 2015 sebesar6,47
per 1.000 KH tahun 2016 sebesar 1,97/1000 KH dan tahun 2018 adalah 1,88/1000
KH

2. Angka Kematian Balita (AKABA).


Pencapaian Angka Kematian Balita di Kecamatan / Puskesmas Mendoyo pada
tahun tahun 2013 sebesar 14,52 per 1.000 KH,tahun 2014 sebesar 11,47 per 1.000
KH,dan tahun 2015sebesar 6,70per 1.000 KH tahun 2016 sebesar 1,97/1000 KH dan
tahun 2018 adalah 1,88/1000 KH

3. Angka Kematian Ibu (AKI).


Angka kematian ibu atau Maternal Mortility Rate (MMR) menunjukan jumlah
kematian ibu pada setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu dipergunakan
untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, keadaan sosial ekonomi, kondisi
keadaan lingkungan serta fasilitas dan tingkat pelayanan prenatal. Angka kematian ibu

46
di Kecamatan/ Puskesmas I Mendoyo tahun 2010 sebesar 110,01/100.000 KH, tahun
2014 tidak terjadi kematian ibu (0/100.000 KH),tahun 2015ada 1 kematian ibu
(119,75/100.000 KH) tahun 2016 terjadi 1 kematian ibu (197,63/100.000 KH) dan
pada tahun 2018 nihil

4. Frekwensi Gizi Buruk berdasarkan BB/U sebanyak 1 orang dan berdasarkan BB/TB
sebanyak 1 orang dengan prosentase 0.045 %.

5. Umur Harapan Hidup (UHH)


Pencapaian Umur Harapan Hidup ( UHH ) pada tahun 2013 sebesar 70,80per
tahun, pada tahun 2014 sebesar 71,25 tahun,pada tahun 2015 sebesar 71,48 per tahun
pada tahun 2016 71,75 per tahun dan tahun 2018 umur harapan hidup 71,75

6. Prilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS ).


Persentase Rumah Tangga ber-Prilaku Hidup Bersih dan Sehat di Puskesmas I
Mendoyo mengalami penurunan yaitu 79,70% tahun 2013, tahun 2014 sebesar 76,86
%,dan tahun 2015 menjadi 68,42 %. Sedangkan pada tahun 2016 naik menjadi
78,95% dan pada tahun 2018 79,90 %

7. Lingkungan Sehat.
Cakupan akses air bersih tahun tahun tahun 2012 mencapai 100 % dan tahun
2013 mencapai 72,66 %, tahun 2014 mencapai 90,17 %.tahun 2015 mencapai 100 %
tahun 2016 mencapai 100% dan tahun 2018 adalah 100%
Keluarga dengan kepemilikan jamban pada tahun tahun 2012 mencapai
75,06 %, tahun 2013 mencapai 72,96 % ,tahun 2014 mencapai 75,58 %, tahun 2015
mencapai 85,30 % tahun 2016 mencapai 93,25%, dan tahun 2018 93,25%

B. SARAN-SARAN.
Untuk menindak lanjuti hasil yang telah dicapai selama periode tahun 2016, perlu
dilakukan upaya-upaya yang lebih intensif, antara lain :

a. Perlunya upaya meningkatkan kualitas pendataan dari masing-masing program untuk


mendukung penyajian informasi kesehatan yang akurat.
b. Perlu dilakukan koordinasi yang lebih baik diantara Satuan Kerja Pemerintah Daerah
dan Lintas Sektor dengan jajaran kesehatan

47
c. Perlunya dilakukan pemutakhiran data untuk memperoleh data yang lebih valid
sehingga data yang tersaji semakin akurat.
d. Perlu dilakukan upaya peningkatan kemampuan petugas dan evaluasi hasil kegiatan
terutama program yang mendukung percepatan sasaran SDGs.
e. Perlu digalakkan upaya meningkatkan dan memasyarakatkan pelayanan kesehatan
yang lebih bersifat pencegahan dalam rangka pencapaian Paradigma Sehat.
f. Perlunya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia dalam upaya meningkatkan
mutu dan kualitas pelayanan gterutama program kesehatan masyarakat.
g. Perlunya inovasi yang mendukung percepatan capaian indikator kinerja puskesmas.

48