Anda di halaman 1dari 2

Analisis Jurnal Tanda-Tanda Vital

1. Perbandingan Pengukuran Tekanan Darah Pada Lengan Kiri Dan Lengan Kanan Pada
Penderita Hipertensi Di Ruangan Irina C Blu Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
Penulis : Cicilia Assa , Rolly Rondonuwu, Hendro Bidjuni
Penerbit : Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Sam Ratulangi Manado
Tahun : 2015

Perbedaan tekanan darah pada kedua lengan dapat disebabkan oleh faktor usia, adanya
oklusi pembuluh darah, penyakit pembuluh darah perifer, dan adanya gangguan jantung.
Ada hubungan timbal balik antara kejadian hipertensi dan penyakit pembuluh darah
perifer. Karena kerusakan pada vaskuler akibat hipertensi terlihat jelas pada seluruh
pembuluh perifer. Hipertensi menyebabkan perubahan struktur dalam arteri-arteri kecil
dan arteriola yang mengakibatkan terjadinya penyumbatan pembuluh progresif. Kelainan-
kelainan pada pembuluh darah perifer yang merupakan salah satu penyebab hipertensi
adalah artherosklerotik obliteratif, aneurisma, kompresi arteri ekstrinsik, dan diseksi
aorta. Kondisi-kondisi ini dapat menimbulkan perbedaan tekanan darah diantara anggota-
anggota tubuh.
Tujuan : untuk mengetahui perbandingan pengukuran tekanan darah pada lengan kiri dan
lengan kanan penderita hipertensi.
Metode penelitian deskriptif analitik.
Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Jumlah sampel yang
ditemukan 31 responden di Ruangan Irina C BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.
Hasil penelitian : dengan program SPSS (Statistic Program for Science) menggunakan uji
Wilcoxon, tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05), didapatkan hasil nilai p = 0,034 (<0,05).
Penelitian dilakukan tiga kali pengukuran, dengan nilai rata-rata pada lengan kiri 2,9032
dan pada lengan kanan 2,7097.
Kesimpulan: ada perbedaan hasil pengukuran tekanan darah lengan kiri dan lengan kanan
penderita hipertensi. Pada hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa rata-
rata pengukuran tekanan darah pada tekanan sistolik maupun tekanan diastolik yang
tertinggi terdapat pada lengan kiri. Variasi tekanan darah dapat ditemukan pada arteri
yang berbeda. Variasi normal sering ditemukan pada kedua lengan, tetapi biasanya 5-10
mmHg. Perbedaan yang lebih dari 10 mmHg merupakan indikasi terjadinya gangguan
vaskuler, dan bila lebih dari 20-30 mmHg pada kedua lengan tangan, menunjukkan
kecurigaan terhadap adanya gangguan organis aliran darah pada daerah yang tekanan
darahnya rendah.
2. Kesesuaian Termometer Digital Dengan Termometer Air Raksa Dalam Mengukur
Suhu Aksila Pada Dewasa Muda
Penulis : Indah Dayanti Darwsi, Edwin Basyar,Albertus Ari Adrianto
Penerbit : Jurnal Kedokteran Diponegoro
Tahun : Volume 7, Nomor 2, Mei 2018

Evaluasi suhu tubuh merupakan salah satu metode diagnostik tertua yang
dikenal dan masih merupakan tanda penting untuk mengetahui status kesehatan
seseorang, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam bidang medis.
Termometer air raksa yang merupakan gold standar dalam pengukuran suhu sudah
banyak ditinggalkan karena bahaya merkuri yang merugikan bagi manusia dan
digantikan dengan termometer digital yang lebih ramah lingkungan.
Tujuan: Membuktikan adanya kesesuaian termometer digital dengan termometer air
raksa dalam mengukur suhu aksila pada dewasa muda.
Metode: Sebanyak 32 orang subyek penelitian dipilih secara simple random
samplingdan dilakukan pengukuran suhu aksila secara bersamaan menggunakan
termometer digital dan termometer air raksa sebanyak tiga kali pengukuran untuk
setiap subyek. Data hasil pengukuran kemudian dianalisis statistik menggunakan uji
Intraclass Correlation Coefficient (ICC) for Absolute Agreement.
Hasil: Rerata suhu aksila menggunakan termometer digital yaitu 36,02±0,49 dan
rerata suhu menggunakan termometer air raksa yaitu 36,34±0,41. Hasil uji kesesuaian
menggunakan ICC didapatkan kesesuaian derajat sedang (ICC = 0,550).
Kesimpulan: Terdapat kesesuaian derajat sedang antara termometer digital dan
termometer air raksa dalam mengukur suhu aksila pada dewasa muda. Pada penelitian
ini didapatkan bahwa terdapat perbedaan hasil pengukuran suhu aksila menggunakan
termometer digital dan termometer air raksa, dimana rerata suhu menggunakan
termometer air raksa lebih tinggi yaitu 36,34 ± 0,41 dibandingkan dengan rerata suhu
menggunakan termometer digital yaitu 36,02 ± 0,49. Perbedaan selisih hasil
pengukuran ini sesuai dengan peneliian lain dimana hasil pengukuran suhu aksila
pada penderita demam menggunakan termometer air raksa lebih tinggi dibandingkan
pengukuran menggunakan termometer digital. Perbedaan selisih hasil pengukuran ini
dapat terjadi karena beberapa hal, yaitu waktu pengukuran suhu tidak dilakukan pada
saat tepat setelah bangun tidur melainkan pada rentang pukul 06.00 –08.00, dimana
subyek telah beraktivitas terlebih dahulu sehingga dapat mempengaruhi suhu tubuh.
Selain itu, untuk satu termometer digital dipakai untuk mengukur 3 –4 subyek
penelitian (9 sampai 12 kali pengukuran) sehingga kinerja dari termometer digital pun
dapat menurun. Pada penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa kesalahan paling
mungkin terjadi pada termometer digital karena peneliti menggunakan termometer air
raksa yang berbeda untuk setiap subyek penelitian (satu termometer untuk satu
orang). Meskipun terdapat perbedaan selisih hasil pengukuran antara termometer
digital dan termometer air raksa, namun dalam pelaksanaannya kedua jenis
termometer tersebut tetap memberikan hasil yang signifikan.