Anda di halaman 1dari 5

TUGAS METODE PENGUKURAN DAN ANALISIS 01

Nama : Andre Citrawijaya

NIM : 13016046

I. UJI BENEDICT

1.1. Pengertian
Uji benedict ditemukan oleh seorang ahli kimia Amerika bernama Stanley Rossiter
Benedict. Uji benedict adalah sebuah metode yang digunakan untuk mengetahui
kandungan karbohidrat pada suatu larutan. Metode ini memanfaatkan reaksi kimia antara
gula pereduksi dengan ion tembaga yang menghasilkan endapan berwarna merah bata.
Warna tersebut berasal dari senyawa tembaga (I) oksida yang terbentuk dari hasil reaksi.
Uji benedict ini hanya bisa digunakan untuk mengetahui karbohidrat yang mengandung
gula pereduksi seperti semua jenis monosakarida dan disakarida pereduksi (maltosa dan
laktosa). Disakarida non-pereduksi seperti sukrosa dan polisakarida tidak bereaksi positif
dengan uji ini. Monosakarida dan gula pereduksi dapat bereaksi dengan reagen benedict
karena keduanya mengandung aldehida sedangkan sukrosa dan polisakarida tidak
memiliki gugus aldehid.

1.2. Reaksi

Monosakarida / gula pereduksi + ion tembaga dari reagen benedict =


karboksilat + tembaga (I) oksida

Warna merah bata berasal dari tembaga (I) oksida


1.3. Reagan
Reagan yang digunakan pada uji benedict adalah reagan benedict yang
mengandung ion tembaga (Cu2+) dalam kondisi basa.

1.4. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat reagan benedict adalah sebagai
berikut

Alat Bahan

1. Gelas kimia 1. Na-sitrat 86,5 g


2. Gelas ukur 2. Na2CO3 50 g
3. Pemanas 3. CuSO4.5H2O 8,65 g
4. Pengaduk 4. Akuades
5. Tabung reaksi 5. Air
6. Penjepit kayu 6. Kertas saring
Langkah yang harus dilakukan untuk membuat reagan benedict adalah sebagai
berikut :
1. Menyiapkan larutan A yang terdiri dari natrium sitrat 86,5 g, Na2CO3 50 g, dan
akuades 400 ml dengan cara melarutkan natrium sitrat dan Na2CO3 ke dalam air
(dibantu dengan pemanasan)
2. Menyaring hasilnya dengan kertas saring
3. Mengencerkan dengan akuades hingga volumenya menjadi 425 ml
4. Menyiapkan larutan B yang terdiri dari CuSO4.5H2O 8,65 g dan akuades 50 ml
dengan cara melarutkan CuSO4.5H2O ke dalam akuades hingga larut dengan
sempurna
5. Menuangkan larutan B ke dalam larutan A sambil mengaduk pelan-pelan
6. Menambahkan akuades hingga volume menjadi 500 ml.

1.5. Metode Uji Benedict


Langkah yang harus dilakukan untuk melaksanakan uji Benedict antara lain :
1. Memasukkan sampel sebanyak kurang lebih 1 mL ke dalam tabung reaksi.
2. Menambahkan 2 mL reagen Benedict ke dalam tabung reaksi.
3. Memanaskan air hingga mendidih untuk menaikkan temperatur campuran antara
sampel dan reagan.
4. Memasukkan tabung reaksi yang sudah berisi campuran sampel dan reagen
menggunakan penjepit kayu ke dalam air panas selama 3-5 menit
5. Mengangkat tabung reaksi, mengamati perubahan warna larutan dan keberadaan
endapan di dasar tabung reaksi.

1.6. Prinsip Uji Benedict

Uji benedict memanfaatkan reaksi kimia antara gula pereduksi dengan ion tembaga
yang menghasilkan endapan berwarna merah bata. Warna tersebut berasal dari senyawa
tembaga (I) oksida (Cu2O) yang terbentuk dari hasil reaksi. Sampel akan bereaksi positif
menghasilkan endapan berwarna merah yang berasal dari Cu2O apabila memiliki gugus
aldehid. Gugus aldehid disebut pereduksi karena reaksinya dengan ion tembaga
menyebabkan bilangan oksidasi tembaga turun dari +2 menjadi +1 membentuk senyawa
Cu2O. Namun, ion Cu+ tidak dapat larut dengan baik di dalam air. Oleh karena itu,
dilakukan pemanasan pada larutan. Pemanasan ini akan meningkatkan kelarutan ion Cu+
dalam air sehingga masih akan menghasilkan endapan berwarna merah bata.
II. ANALISA KUALITATIF ZAT KIMIA

Zat kimia dengan padatan/serbuk putih, larut baik dalam air dengan pH netral,
dalam uji reaksi nyala menggunakan bunsen memberikan warna nyala kuning. Larutan
zat ini bila ditetesi larutan perak nitrat memberikan endapan berwarna putih. Bila
dicampur dengan sedikit larutan asam sulfat pekat (jika perlu dipanaskan) akan
terbentuk gas tidak berwarna yang berbau merangsang. Jika terhadap gas ini dikenakan
batang pengaduk yang telah dicelupkan ke dalam larutan NH4OH memberikan uap
putih.

Jawaban :

Kriteria pertama yang diberikan adalah zat kimia berbentuk padatan yang
mempunyai pH netral dan larut baik dalam air. Berdasarkan kriteria tersebut, dapat
disimpulkan bahwa jenis zat kimia tersebut adalah padatan garam yang larut baik dalam
air.
Kriteria kedua adalah zat kimia tersebut memberikan warna nyala kuning dalam uji
reaksi nyala menggunakan bunsen, oleh karena itu terindikasi bahwa garam tersebut
mengandung unsur Na. Semua garam dengan kation Na+ larut baik dalam air sehingga
kriteria pertama dan kedua terpenuhi. Karena kriteria dari zat kimia ini adalah bersifat
netral dalam air, maka kemungkinan anion dapat diperkecil menjadi beberapa anion yang
merupakan pembentuk asam kuat, di antaranya NO3-, SO42-, Cl-, ClO3-, ClO4-, Br-, BrO3-
, BrO4-, I-, IO3-, IO4-.
Kriteria ketiga adalah menghasilkan endapan berwarna putih apabila direaksikan
dengan perak nitrat. Dari beberapa kemungkinan anion yang menjadi pasangan Na+,
anion yang apabila direaksikan dengan perak nitrat menghasilkan endapan adalah adalah
anion klorida, bromida, dan iodida. Endapan itu adalah endapan perak halida.
Selanjutnya dari ketiga endapan tersebut yaitu AgCl (perak klorida), AgBr (perak
bromida), dan AgI (perak iodida), ditinjau warnanya. Ternyata endapan yang berwarna
putih adalah AgCl, sementara AgI berwarna kuning dan AgBr berwarna coklat
kekuningan. Dapat diketahui bahwa spesi zat kimia yang dianalisis adalah NaCl.
Kriteria selanjutnya menyebutkan bahwa bila dicampur dengan sedikit larutan
asam sulfat pekat (jika perlu dipanaskan) akan terbentuk gas tidak berwarna yang berbau
merangsang dan jika terhadap gas ini dikenakan batang pengaduk yang telah dicelupkan
ke dalam larutan NH4OH memberikan uap putih. Kriteria ini masih terpenuhi oleh
padatan garam NaCl seperti yang dapat ditunjukkan melalui reaksi sebagai berikut.

𝑁𝑎𝐶𝑙(𝑎𝑞) + 𝐻2 𝑆𝑂4 (𝑎𝑞) → 𝐻𝐶𝑙(𝑔) + 𝑁𝑎𝐻𝑆𝑂4 (𝑎𝑞)

𝐻𝐶𝑙(𝑔) + 𝑁𝐻4 𝑂𝐻(𝑎𝑞) → 𝑁𝐻4 𝐶𝑙(𝑎𝑞) + 𝐻2 𝑂(𝑔)

Gas yang tidak berwarna dan berbau merangsang seperti disebutkan pada kriteria
keempat adalah HCl(g) sedangkan uap putih seperti yang disebutkan pada kriteria kelima
adalah uap air yang mengandung sedikit NH4Cl(g).