Anda di halaman 1dari 84

Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

TIM PENYUSUN

Pelindung:
dr. H.M. Subuh, MPPM (Direktur Jenderal P2P)
Penasehat:
drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid (Direktur P2PTVZ)
Penanggung Jawab:
dr. Elvieda Sariwati, M.Epid (Kasubdit Malaria)
Kontributor:
drg. Risma Sitorus, MPPM (Kasubdit Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan Lainnya)
Agung Nugroho (Kasie Peralatan, Dit. Fasyankes)
Ninik Sulistiani, SKM, M.Kes (Kasie PTL, BBTKL PP Jakarta)
dr. Iriani Samad, M.Sc (Kasie Pengendalian Sudit Malaria)
Dewa Made Angga Wisnawa, SKM, MSc.PH (Kasie Pencegahan Subdit Malaria)
Prof. Dr. dr. Inge Sutanto, M.Phil (Parasitologi FKUI)
Dra. Rawina Winita, MS (Parasitologi, FKUI)
Tri Suwarni (Subdit Fasyankes Lainnya)
dr. Supinah, MARS (Subdit Pelayanan Penunjang Dirjen Yankes)
dr. Era Renjana Diskamara (Subdit Puskesmas)
Ratu Intan Menyereang, S.ST, FT, MKM (Subdit Mutu dan Akreditasi)
drg. Frita Warasati (Subdit Mutu dan Akreditasi)
Budi Prasetyorini, SKM (Badan Litbangkes)
dr. Chairunnisa Tawadhu Rizal (BBLK Jakarta)
Endah Rahayu Widowati, S.Si (BBLK Jakarta)
Sri Murniyati (BBTKL PP Jakarta)
dr. Srie Sisca Primarianti (Labkesda DKI Jakarta)
Dwi Ariyanti, Amd.AK (Labkesda DKI Jakarta)
Lenny Lia Ekawati (Lembaga Eijkman)
dr. Ni Sayu Dewi, Sp.PK, M.Kes (PDS Patklin)
Entuy Kurniawan, S.Si, MKM (Ketua Umum PATELKI)
Yety Intarti, SKM, M.Kes (Subdit Malaria)
dr. Bangkit Hutajulu, MSc.PH (Subdit Malaria)
dr. Marti Kusumaningsih, M.Kes (Subdit Malaria)
dr. Minerva Theodora, MKM (Subdit Malaria)
dr. Worowijat, MKM (Subdit Malaria)
Dedy Supriyanto, S.Si (Subdit Malaria)
dr. Aneke Theresia Kapoh (Subdit Malaria)
Sri Budi Fajariyani, SKM (Subdit Malaria)
Riskha Tiara Puspadewi, SKM (Subdit Malaria)
Sri Hayati (Subdit Malaria)

Editor :
Nurasni, SKM (Subdit Malaria)

ii
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

iv
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

SAMBUTAN

P
uji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas rahmat dan karuniaNya kita telah menyelesaikan buku Petunjuk
Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria.
Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat
yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko
tinggi, yaitu bayi, anak balita, dan ibu hamil. Selain itu, malaria secara
langsung dapat menyebabkan anemia dan menurunkan produktivitas
kerja.

Dalam upaya pengendalian malaria menuju eliminasi, peran


laboratorium malaria sangat penting, baik pemeriksaan mikroskopik
sebagai gold standard untuk diagnosis, RDT pada kondisi tertentu,
maupun PCR yang akan dikembangkan untuk konfirmasi pada daerah
eliminasi. Oleh karena itu pelayanan laboratorium malaria harus bermutu
agar dapat menghasilkan diagnosis yang akurat.

Sistem pemantapan mutu laboratorium Malaria akan meningkatkan


mutu hasil pemeriksaan melalui berfungsinya komponen – komponen
dalam jejaring laboratorium Malaria. Untuk itu perlu adanya sistem
yang sesuai standar untuk menjamin mutu pemeriksaan laboratorium
malaria melalui Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria.

Peraturan Menteri Kesehatan No.68 Tahun 2015 tentang Jejaring


dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria telah diterbitkan dan
selanjutnya diperlukan petunjuk teknis ( juknis) jejaring dan pemantapan
mutu laboratorium malaria sebagai acuan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan laboratorium malaria yang sesuai dengan standar sehingga
dapat mendukung upaya pengendalian malaria.

v
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Akhir kata saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
mendukung tersusunnya buku petunjuk teknis ini. Semoga buku ini
dapat bermanfaat menuju eliminasi malaria tahun 2030.

Jakarta, Agustus 2017


Direktur Jenderal P2P

dr. H.Mohamad Subuh, MPPM

vi
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

KATA PENGANTAR

P
uji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan
karuniaNya buku Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu
Laboratorium Malaria ini dapat disusun. Salah satu Kebijakan
Program Pengendalian Malaria untuk mencapai tujuan eliminasi malaria
di lndonesia adalah semua penderita malaria klinis yang ditemukan
dan dilakukan pencarian oleh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes)
harus dilakukan diagnosis atau konfirmasi secara mikroskopis ataupun
tes diagnosis cepat (Rapid Diagnostic Test/RDT).

Bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang belum memiliki kemampuan


pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan RDT, sehingga tidak ada
lagi pengobatan penderita malaria tanpa konfirmasi laboratorium untuk
mencegah terjadinya resistensi obat malaria.

Secara nasional kasus malaria selama tahun 2011 - 2016 cenderung


menurun yaitu pada tahun 2011 angka API sebesar 1,75 per 1000, sampai
dengan tahun 2016 menjadi 0,84 per 1000 penduduk dengan jumlah
kasus 218.450. Dari jumlah tersebut sebanyak 81% berasal dari Maluku,
Maluku Utara, Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Persentase suspek malaria yang dilakukan konfirmasi laboratorium


pada tahun 2016 sebesar 99 %. Target persentase pemeriksaan sediaan
darah yang diharapkan adalah di atas 95 %. Walaupun persentase
konfirmasi mencapai target, namun kualitas pemeriksaan laboratorium
masih menjadi tantangan.

Kualitas pelayanan laboratorium malaria sangat diperlukan dalam


menegakkan diagnosis dan sangat tergantung pada kompetensi dan
kinerja petugas laboratorium di setiap jenjang fasilitas pelayanan
kesehatan. Penguatan laboratorium pemeriksaan malaria yang
berkualitas dilakukan melalui pengembangan jejaring dan pemantapan
mutu laboratorium pemeriksa malaria mulai dari tingkat pelayanan
seperti laboratorium Puskesmas, Rumah Sakit serta laboratorium
kesehatan swasta sampai ke laboratorium rujukan uji silang di tingkat
Kabupaten /Kola, Provinsi dan Pusat.

vii
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Kami mengucapkan terima kasih atas kerjasama dan peran aktif semua
pihak terkait dan harapan ke depan agar dapat lebih meningkatkan
komitmen kita untuk melaksanakan berbagai upaya dalam pengendalian
Malaria.

Kepada semua pihak yang telah berkontribusi pada buku pedoman


ini, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Agustus 2017


Direktur PZPfVZ,

drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid

viii
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

DAFTAR ISI
SAMBUATN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 : PENDAHULUAN...........................................................................................1
1. Latar Belakang.................................................................................................. 1
2. Tujuan...................................................................................................................2
3. Dasar Hukum.....................................................................................................3
4. Ruang Lingkup..................................................................................................3
5. Sasaran.................................................................................................................3
BAB 2 : LABORATORIUM MALARIA.....................................................................5
1. Pengertian dan Ruang Lingkup Laboratorium Malaria.....................5
2. Persyaratan Laboratorium Malaria........................................................... 5
2.1. Laboratorium Pelayanan.......................................................................5
2.2. Laboratorium Rujukan Tingkat Kabupaten/Kota.........................6
2.3. Laboratorium Rujukan Tingkat Provinsi.........................................6
2.4. Laboratorium Rujukan Tingkat Nasional.......................................7
BAB 3 : JEJARING LABORATORIUM MALARIA................................................9
1. Tugas Jejaring Laboratorium Malaria.......................................................9
1.1. Laboratorium Pelayanan.......................................................................9
1.2. Laboratorium Rujukan Tingkat Kabupaten/Kota......................10
1.3. Laboratorium Rujukan Tingkat Provinsi.......................................10
1.4. Laboratorium Rujukan Tingkat Nasional.................................... 11
2. Tugas Jejaring Laboratorium Malaria.....................................................11
2.1. Tugas Laboratorium Pelayanan........................................................11
2.2. Tugas Laboratorium Rujukan Tingkat Kabupaten/Kota.........12
2.3. Tugas Laboratorium Rujukan Tingkat Provinsi..........................12
2.4. Tugas Laboratorium Rujukan Tingkat Nasional........................13
2.5. Tip Pemantapan Mutu Laboratorium...........................................14
3. Struktur Jejaring Laboratorium Malaria...........................................15
BAB 4 : PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM MALARIA......................17
1. Pemantapan Mutu Internal........................................................................17
Tujuan Pemantapan Mutu Internal..............................................................17
1.1. Pra Analis................................................................................................17
1.1.1. SDM........................................................................................................17
1.1.2. SPO.........................................................................................................17
1.1.3. Alat dan Bahan ..................................................................................18
1.2. Analisis......................................................................................................19

ix
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

1.3. Pasca Analisis........................................................................................ 19


1.4. Evaluasi dan Tindak Lanjut............................................................. 20
2. Pemantapan Mutu Eksternal.....................................................................20
2.1. Uji Silang..................................................................................................20
2.2. Tes Panel...................................................................................................33
2.2.1. Sasaran .............................................................................................33
2.2.2. Tujuan ...............................................................................................33
2.2.3. Penyelenggara ...............................................................................33
2.2.4. Mekanisme .....................................................................................34
2.2.5. Jumlah dan Komposisi Sediaan Standar .............................35
2.3. Bimbingan Teknis..................................................................................37
3. Peningkatan Mutu.........................................................................................40
a. Plan (Perencanaan)..................................................................................40
b. Do (Pelaksanaan)......................................................................................40
c. Check (Pemeriksaan)...............................................................................40
d. Tahap Act ( Bertindak)............................................................................40
BAB 5 : QUALITY ASSURANCE RAPID DIAGNOTIC TEST (QA RDT).......41
1. Spesifikasi....................................................................................................41
2. Pelaksanaan................................................................................................43
3. Alur Kerja.....................................................................................................43
4. Cara Kerja....................................................................................................43
4.1. Pengujian Rutin ...............................................................................43
4.2. Pengujian Lot ...................................................................................45
BAB 6 : PENUTUP......................................................................................................53
LAMPIRAN..................................................................................................................55
1. Formulir Rujukan Laboratorium...............................................................55
2. Formulir Uji Silang.........................................................................................56
3. Formulir Rekap Uji Silang Fasyankes......................................................57
4. Formulir Rekap Uji Silang Kabupaten/Kota.........................................58
5. Formulir Rekap Uji Silang Provinsi..........................................................59
6. Ceklist Pemantapan Mutu Internal.........................................................60
7. Ceklist Bimbingan Teknis............................................................................61

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................73

x
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

BAB 1
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

M
alaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih
menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena
dapat menyebabkan angka kesakitan dan kematian serta sering
menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sekitar 55% dari kabupaten/
kota di Indonesia termasuk kategori endemis, dengan endemisitas
yang bervariasi dari rendah sampai tinggi, dan sekitar 26% diantara
penduduknya berdomisili di daerah endemis (data tahun 2016).
Secara nasional kasus malaria Secara nasional kasus malaria selama
tahun 2011 – 2016 cenderung menurun yaitu pada tahun 2011 angka
API sebesar 1,75 per 1000, sampai dengan tahun 2016 menjadi 0,84
per 1000 penduduk dengan jumlah kasus 218.450. Dari jumlah tersebut
sebanyak 81% berasal dari Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat
dan NTT.
Persentase suspek malaria yang dilakukan konfirmasi laboratorium
baik menggunakan mikroskop maupun Rapid Diagnostik Test (RDT)
dari semua suspek yang ditemukan. Suspek yang ditemukan pada
tahun 2016 yaitu sebesar 1.520.179 dan jumlah sediaan darah yang
diperiksa sebesar 1.457.858 sehingga persentase pemeriksaan sediaan
darah sebesar 96 %. Target persentase pemeriksaan sediaan darah yang
diharapkan adalah di atas 95 %. Dari tahun 2011 – 2016 pemeriksaan
sediaan darah (konfirmasi laboratorium) terhadap suspek malaria terus
meningkat yaitu pada tahun 2011 sebesar 81% sedangkan pada tahun
2016 meningkat menjadi 99 %.
Upaya penanggulangan malaria telah dilakukan sejak lama, dimulai
pada dekade tahun 1952 – 1959, pada akhir periode ini yaitu pada
tanggal 12 November 1959 di Yogyakarta oleh presiden Republik
Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno, telah mencanangkan program
pembasmian malaria, dikenal dengan sebutan “Komando Pembasmian
Malaria” (KOPEM). Tanggal 12 November tersebut kemudian ditetapkan
sebagai hari Kesehatan Nasional.
Dalam rangka mempercepat penurunan angka kesakitan dan

1
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

kematian akibat malaria terutama pada kelompok rentan yaitu pada


ibu dan anak, telah disepakati sebagai komitmen global sebagaimana
terdapat pada tujuan keenam pembangunan milenium (Millenium
Development Goal’s/MDGs) bahwa kegiatan pengendalian penyakit
malaria perlu dilaksanakan. Hal ini sejalan dengan amanah Presiden pada
peringatan Hari Malaria Sedunia pertama pada tanggal 25 April 2008
yang menginstruksikan untuk terus meningkatkan upaya pengendalian
malaria menuju eliminasi.
Program pengendalian malaria di Indonesia bertujuan untuk
mewujudkan masyarakat hidup sehat dan terbebas dari penularan
malaria secara bertahap dari kabupaten/kota, provinsi dan dari satu
pulau atau beberapa pulau sampai ke seluruh wilayah Indonesia.
Penilaian berdasarkan pada situasi malaria dan kondisi sumber daya
yang tersedia.
Salah satu kebijakan program pengendalian malaria untuk mencapai
eliminasi di Indonesia adalah semua penderita malaria klinis yang
ditemukan dan dilakukan pencarian oleh fasilitas pelayanan kesehatan
harus dilakukan diagnosis atau konfirmasi secara mikroskopik. Bagi
fasilitas pelayanan kesehatan yang belum memiliki kemampuan
mikroskopik dilakukan dengan diagnosis cepat (Rapid Diagnostic Test/
RDT), sehingga tidak ada lagi pengobatan penderita tanpa konfirmasi
laboratorium untuk mencegah terjadinya resistensi obat malaria.
Kualitas pelayanan laboratorium malaria sangat diperlukan dalam
menegakkan diagnosis dan sangat tergantung pada kompetensi dan
kinerja petugas laboratorium di setiap jenjang fasilitas pelayanan
kesehatan. Penguatan laboratorium pemeriksaan malaria yang
berkualitas dilakukan melalui pengembangan jejaring dan pemantapan
mutu laboratorium pemeriksa malaria mulai dari tingkat pelayanan
seperti laboratorium Puskesmas, Rumah Sakit serta laboratorium
kesehatan swasta sampai ke laboratorium rujukan uji silang di tingkat
Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat.
Penyusunan petunjuk teknis ( juknis) jejaring dan pemantapan
mutu laboratorium malaria merupakan salah satu upaya penguatan
laboratorium malaria. Juknis ini dapat dijadikan acuan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan laboratorium malaria yang sesuai
dengan standar sehingga dapat mendukung upaya pengendalian
malaria menuju eliminasi di Indonesia pada tahun 2030.

2
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

2. Tujuan

Petunjuk teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria


bertujuan sebagai acuan kegiatan pemantapan mutu di berbagai tingkat
pelayanan laboratorium dan acuan petugas di fasilitas pelayanan
kesehatan dalam melaksanakan kegiatan laboratorium yang mendukung
program pengendalian malaria.
Secara khusus Juknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium
Malaria bertujuan sebagai berikut :
1. Meningkatkan mutu pemeriksaan laboratorium malaria.
2. Meningkatkan akses pelayanan laboratorium malaria.
3. Meningkatkan efisiensi laboratorium malaria.
4. Mengembangkan sistem rujukan laboratorium malaria di setiap
tingkatan.
5. Meningkatkan pelaksanaan manajemen dan informasi laboratorium
malaria di sektor pemerintah dan masyarakat (swasta, lembaga
swadaya masyarakat dan organisasi profesi terkait).

3. Dasar Hukum

3.1. Undang-undang No.29 tahun 2004, tentang Praktik Kedokteran


mengamanatkan ‘evidence based medicine’ menempatkan peran
labkes pada posisi yang menentukan
3.2. UU Kes. No 36/2009 :
a. ps 5 (2) : Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh
pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau
b. ps 19 : Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan segala
bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan
terjangkau
c. ps 25 (1) : Pengadaan dan peningkatan mutu tenaga kesehatan
diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau
masyarakat melalui pendidikan dan/atau pelatihan
3.3. Permenkes No. 68 Tahun 2015 tentang Jejaring dan Pemantapan
Mutu Laboratorium Malaria.

4. Ruang Lingkup

Petunjuk Teknis (Juknis) ini menggambarkan tugas dan fungsi dari


masing-masing tingkatan laboratorium pemeriksaan malaria di setiap

3
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

tingkat pelayanan baik pemerintah maupun swasta serta berisi tentang


Pemantapan Mutu Laboratorium Pemeriksaan Mikroskopik Malaria yang
meliputi Pemantapan Mutu Internal, Pemantapan Mutu Eksternal dan
Peningkatan Mutu.

5. Sasaran

Sasaran pengguna petunjuk teknis ini adalah petugas laboratorium


dan pengelola program malaria mulai dari tingkat pelayanan,
laboratorium rujukan kabupaten/kota, laboratorium rujukan provinsi,
dan laboratorium rujukan nasional malaria.

4
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

BAB 2
LABORATORIUM MALARIA

1. Pengertian dan Ruang Lingkup Laboratorium Malaria

L
aboratorium malaria adalah unit penunjang pada suatu instansi
pelayanan kesehatan yang melakukan pemeriksaan malaria secara
mikroskopis maupun menggunakan alat diagnostik cepat (Rapid
Diagnostic Test/RDT).

2. Persyaratan Laboratorium Malaria

2.1. Laboratorium Pelayanan


Ruang Mikroskop Pengolahan SDM Penanggung
Binokuler Limbah jawab
- Ukuran min 3x4 m -1 unit dengan pembe saran - Tempat sampah - Paling sedikit 1 orang Kepala fasilitas
- Memiliki SPO okuler 10x dan objektif infeksius dan non tenaga dengan kuali pelayanan kesehatan
- Bench Aid (Atlas 100x infeksius fikasi pendidikan pa- ling atau Kepala Instalasi
Malaria) - Pengolahan limbah (jarum rendah diploma 3 ahli
- Penerangan yang dan spuit) teknologi labora- torium
cukup bekerjasama dengan pihak medik (ATLM)
- Ventilasi ketiga atau - Memiliki kompetensi
- Air bersih mengalir melalui Dinkes paling rendah level tiga*
Kab/Kota - Sudah mengikuti
pelatihan sesuai standar
program nasional 3
tahun terakhir

Catatan : Ruangan laboratorium di puskesmas dapat juga digunakan untuk pemeriksaan laboratorium lainnya.
*level tiga : kompetensi dengan nilai sensitifitas >70% - 79%, spesifisitas >70% - 79%, dan akurasi spesies>70% - 79%.

5
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

2.2. Laboratorium Rujukan Tingkat Kabupaten/Kota

Ruang Mikroskop Pengolahan SDM Penanggung


Binokuler Limbah jawab
- Ukuran min 3x4 m - Paling sedikit - Tempat sampah - Paling sedikit 2 orang Kepala fasilitas
- Memiliki SPO 2 unit dengan infeksius dan non tenaga dengan kualifikasi pelayanan kesehatan
- Bench Aid (Atlas pembesaran infeksius pendidikan paling rendah atau Kepala Instalasi
Malaria) okuler 10x dan - Pengolahan limbah diploma 3 ahli teknologi
- Penerangan yang objektif 100x (jarum dan spuit) laboratorium medik
cukup bekerjasama dengan (ATLM)
- Ventilasi pihak ketiga atau - Memiliki kompetensi
- Air bersih mengalir melalui Dinkes Kab/ paling rendah level dua*
Kota. - Sudah mengikuti
- Instalasi PAL pelatihan sesuai standar
program nasional 3 tahun
terakhir

*level dua : kompetensi dengan nilai sensitifitas 80% - 89%, spesifisitas 80% - 89%, dan akurasi spesies 80% - 89%

2.3. Laboratorium Rujukan Tingkat Provinsi


Ruang Peralatan SDM Pengelolaan
Ruang Mikroskop Teaching Penanggung Mikroskopik Limbah
Mikroskospik Ruang PCR Binokuler mikroskop PCR jawab
- Ukuran - Ukuran - Min 4 unit - 1 Unit - Biosafety Kepala - Min 3 orang - Tempat
min 3x4 m min 3 ruang, dengan cabinet instalasi dengan sampah
- Memiliki Ukuran min pembesaran - Deep freezer dengan kualifikasi infeksius dan
SPO 3x3 m2 tiap okuler 10x minus 20 C kualifikasi pendidikan non infeksius
- Bench Aid ruang dan dan minus pendidikan paling rendah - Tempat
(Atlas - SPO objektif 100x 80 C dokter diploma sampah : Bio
Malaria) - Centrifuge spesialis, S2 tiga analis Hazard
- Penerangan - Hot plate di bidang kesehatan/ - Pengolahan
yang cukup - Thermocycle laborato- sederajat limbah (jarum
- Ventilasi machine rium atau - Memiliki dan spuit)
- Air bersih - Elektroforesis S1 dengan minimal 1 bekerjasama
mengalir - Gel doc pengalaman tenaga ToT dengan
lab. molekuler (Training of pihak ketiga
Trainer) atau melalui
- Sudah Dinkes
mengikuti Provinsi atau
pelatihan incinerator
sesuai standar - Needle
program container
nasional 3 - Instalasi PAL
tahun terakhir
- Memiliki
kompetensi
level satu

*level satu : kompetensi dengan nilai sensitifitas >90%, spesifisitas >90%, dan akurasi spesies >90%

6
2.4. Laboratorium Rujukan Tingkat Nasional
Ruang Peralatan SDM
Pengelolaan
Ruang Mikroskop Teaching Penanggung Mikroskopik PCR Limbah
Mikroskospik Ruang PCR Binokuler mikroskop PCR jawab
- Ukuran - Ukuran - Min 5 unit Minimal - Biosafety Kepala instansi - Paling sedikit 3 Paling sedikit 1 - Tempat sampah
min 3x4 m min 3 dengan 1 Unit cabinet dengan orang dengan orang dengan infeksius dan non
- Memiliki ruang, pembesaran - Deep freezer kualifikasi kualifikasi kualifikasi infeksius
SPO Ukuran min okuler 10x minus 20 C pendidikan pendidikan pendidikan - Tempat sampah :
- Bench Aid 3x3 m2 tiap dan dan minus dokter paling rendah paling rendah Bio Hazard
(Atlas ruang objektif 80 C spesialis, S2 diploma 3 analis S1 laboratorium - Alat penghancur
Malaria) - SPO 100x - Centrifuge di bidang kesehatan/ Berpengalaman jarum dan spuit
- Penerangan - Hot plate laboratorium sederajat dalam - Needle container
yang cukup - Thermo-cycle atau S1 - Mengikuti operasional PCR - Incinerator
- Ventilasi machine dengan pelatihan - Instalasi PAL
- Air bersih - Elektrofo-resis pengalaman tingkat
mengalir - Gel doc lab. molekuler internasional
dan
mendapatkan
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

sertifikat lulus 3

7
tahun terakhir
- Memiliki
kompetensi
level satu

*level satu : kompetensi dengan nilai sensitifitas >90%, spesifisitas >90%, dan akurasi spesies >90%
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

8
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

BAB 3
JEJARING LABORATORIUM MALARIA

1. Tugas Jejaring Laboratorium Malaria

J
ejaring laboratorium malaria adalah suatu jaringan laboratorium
yang melaksanakan pelayanan kepada pasien yang diduga malaria
sesuai jenjangnya mulai dari pemeriksaan di tingkat pelayanan
kesehatan dasar sampai tingkat pusat untuk menunjang program
pengendalian menuju eliminasi malaria dan melaksanakan pembinaan
secara berjenjang.

1.1 Laboratorium Pelayanan

Laboratorium Pelayanan melakukan penegakan diagnosis melalui


pemeriksaan mikroskopik dan RDT malaria, dan merujuk spesimen
untuk pemeriksaan PCR, apabila dengan pemeriksaan mikroskopik
sulit ditentukan spesiesnya karena morfologi yang tidak sesuai
dengan spesies yang sudah dikenali di Indonesia.
Jenis-jenis laboratorium pelayanan :
a. Laboratorium klinik
b. Laboratorium di puskesmas;
c. Laboratorium di klinik;
d. Laboratorium di rumah sakit;
e. Laboratorium di Kantor Kesehatan Pelabuhan;
f. Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK);
g. Balai/Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit
(B/BTKLPP);
h. Laboratorium di Unit Transfusi Darah (UTD);
i. Laboratorium kesehatan daerah kabupaten/kota;
j. Balai Laboratorium Kesehatan (BLK)/laboratorium kesehatan daerah
provinsi; dan
k. Malaria center.

9
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

1.2. Laboratorium Rujukan Tingkat Kabupaten/Kota

Laboratorium Rujukan Kabupaten/Kota melakukan uji silang


pemeriksaan mikroskopik malaria dan pembinaan teknis terhadap
laboratorium pemeriksaan mikroskopik malaria di wilayah kerjanya.
Ditetapkan oleh kepala dinas kesehatan kabupaten/kota. Apabila
laboratorium kesehatan kabupaten/kota melakukan pemantapan
mutu eksternal untuk beberapa kabupaten/kota maka ditetapkan
oleh kepala dinas kesehatan provinsi. Yang dapat ditetapkan sebagai
laboratorium rujukan tingkat kabupaten/kota adalah :
a. Laboratorium di puskesmas;
b. Laboratorium di rumah sakit;
c. Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK);
d. Balai/Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit
(B/BTKLPP);
e. Laboratorium kesehatan daerah kabupaten/kota;
f. Balai Laboratorium Kesehatan (BLK)/laboratorium kesehatan daerah
provinsi; dan/atau
g. Malaria center.

1.3. Laboratorium Rujukan Tingkat Provinsi

Laboratorium Rujukan Provinsi melakukan pemeriksaan uji silang


bila terdapat ketidaksesuaian hasil pembacaan (discordance) serta
melakukan pembinaan bimbingan teknis dan pelatihan teknis di
wilayah kerjanya. Menyelenggarakan tes panel untuk Kab./Kota yang
sudah masuk dalam tahapan eliminasi dan pemeliharaan malaria.
Laboratorium rujukan tingkat provinsi ditetapkan oleh kepala dinas
kesehatan provinsi.
Yang dapat ditetapkan sebagai laboratorium rujukan tingkat provinsi
adalah :
a. Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK);
b. Balai/Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit
(B/BTKLPP);
c. Balai Laboratorium Kesehatan (BLK)/Laboratorium Kesehatan
Daera Provinsi; dan/atau
d. Malaria center.

10
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

1.4. Laboratorium rujukan tingkat nasional

Laboratorium Rujukan Nasional Malaria melakukan pemeriksaan


PCR untuk daerah yang sudah masuk dalam tahapan eliminasi
dan pemeliharaan malaria serta melakukan pembinaan antara lain
supervisi dan tes panel. Laboratorium rujukan nasional ditetapkan
oleh menteri, dan yang dapat dijadikan leboratorium rujukan nasional
malaria adalah :
a. Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK);
b. Balai/Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (B/BTKL) Pengendalian
Penyakit (B/BTKLPP);
c. Balai Laboratorium Kesehatan (BLK)/Laboratorium Kesehatan
Daerah Provinsi;
d. Malaria center; dan/atau
e. Laboratorium lembaga penelitian.

2. Tugas Jejaring Laboratorium Malaria


2.1. Tugas Laboratorium Pelayanan

a. Melakukan pemeriksaan mikroskopis malaria yang merupakan gold


standard dari penegakkan diagnosis malaria. Bagi laboratorium
pelayanan yang tidak mampu melakukan pemeriksaan mikroskopis,
dapat menggunakan pemeriksaan RDT
b. Membuat sediaan darah tebal dan tipis malaria serta pemeriksaan
mikroskopis malaria dengan pencatatan dan pelaporan.
c. Melakukan uji kualitas reagensia (Giemsa, Methanol, dan Minyak
imersi) secara rutin. (Setiap hari bila ada pemeriksaan mikroskopis
malaria)
d. Melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan
secara rutin setiap 1 (satu) bulan.
e. Melakukan analisis data secara sederhana menurut orang, tempat,
dan waktu sehingga apabila ditemukan peningkatan kasus dapat
melakukan sistem kewaspadaan dini dan segera melaporkan ke
Dinas Kesehatan setempat.
f. Merencanakan kebutuhan laboratorium malaria minimal untuk 3
(tiga) bulan kedepan.
g. Melakukan rujukan pemeriksaan mikroskopis malaria apabila tidak
mampu melakukan pemeriksaan atau interpretasi sediaan.

11
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

2.2. Tugas Laboratorium Rujukan Tingkat Kabupaten/Kota

a. Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis malaria dan melakukan


uji silang mikroskopis dari laboratorium pelayanan dalam sistem
jejaring.
b. Menyediakan sarana, pelaksana dan kemampuan yang memenuhi
kriteria sebagai rujukan uji silang mikroskopis.
c. Merencanakan dan melaksanakan monitoring dan evaluasi kegiatan
laboratorium pelayanan di wilayah kerjanya.
d. Merencanakan dan mengusulkan pengadaan kebutuhan alat dan
reagen pada laboratorium pelayanan.
e. Membuat pemetaan sumber daya manusia laboratorium pelayanan
meliputi tenaga teknis terlatih, aktif, belum dilatih ( jumlah,
pendidikan, pelatihan yang pernah diikuti, level kompetensi).
f. Mengidentifikasi jumlah serta kondisi sarana dan prasarana
laboratorium pelayanan yang ada di wilayah kerjanya.
g. Melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan dan
PME uji silang laboratorium malaria secara rutin setiap 1 (satu)
bulan.
h. Melakukan analisis data kasus malaria berdasarkan data individu,
tempat, dan waktu, sehingga apabila ditemukan peningkatan
kasus, segera dapat dilaporkan ke dinas kesehatan provinsi.
i. Melakukan rekapitulasi perencanaan kebutuhan laboratorium
pelayanan di wilayahnya minimal untuk kebutuhan 3 (tiga)
bulan.
j. Melakukan bimbingan teknis laboratorium pelayanan untuk
pemeriksaan mikroskopis dan RDT malaria di wilayah kerjanya.
k. Apabila di laboratorium rujukan tingkat kabupaten/kota belum
memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan uji silang,
dapat melakukan kerjasama dengan laboratorium rujukan tingkat
kabupaten/kota lain dalam jejaring yang ada di wilayahnya.

2.3. Tugas Laboratorium Rujukan Tingkat Provinsi

a. Melakukan pemeriksaan laboratorium mikroskopis malaria dan


PCR. Apabila di laboratorium rujukan tingkat provinsi belum
memiliki kemampuan pemeriksaan PCR, dapat melakukan kerja
sama dengan laboratorium dalam jejaring yang ada di wilayahnya
atau dengan laboratorium rujukan tingkat kabupaten/kota di
wilayah kerjanya.

12
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

b. Melakukan pemeriksaan dan penilaian ketidaksesuaian


(discordance) uji silang mikroskopis malaria dari laboratorium
rujukan tingkat kabupaten/kota di wilayah kerjanya.
c. Membuat pemetaan sumber daya manusia pada laboratorium
rujukan tingkat kabupaten/kota meliputi tenaga teknis terlatih
( jumlah, pendidikan, pelatihan yang pernah diikuti, level
kompetensi)
d. Menyelenggarakan pemantapan mutu eksternal pemeriksaan
laboratorium rujukan tingkat kabupaten/kota di wilayah
kerjanya.
e. Melakukan pembinaan teknis laboratorium rujukan tingkat
kabupaten/kota di wilayah kerjanya.
f. Menyelenggarakan pelatihan teknis untuk laboratorium pelayanan
dan laboratorium rujukan tingkat kabupaten/kota.
g. Mengidentifikasi jumlah serta kondisi sarana dan prasarana
laboratorium rujukan tingkat kabupaten/kota yang ada di wilayah
kerjanya.
h. Merencanakan dan melaksanakan monitoring dan evaluasi
laboratorium rujukan tingkat kabupaten/kota yang ada di wilayah
kerjanya.
i. Menyelenggarakan pengujian kompetensi teknis bagi tenaga
pelaksana uji silang mikroskopis malaria di laboratorium rujukan
tingkat kabupaten/kota.
j. Melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan dan
PME secara rutin setiap 1 (satu) bulan.
k. Melakukan pengolahan dan anlisis data, serta melaporkan ke unit
di Kementerian Kesehatan yang mempunyai tupoksi pengendalian
malaria dan unit di Kementerian Kesehatan yang mempunyai
tupoksi pembinaan laboratorium

2.4. Tugas Laboratorium Rujukan Tingkat Nasional:

a. Melakukan penilaian dan pembinaan terhadap Laboratorium


Rujukan Tingkat Provinsi.
b. Melakukan pemeriksaan molekuler malaria dan pemeriksaan
teknologi baru.
c. Melakukan evaluasi terhadap kit RDT malaria yang beredar di
Indonesia.
d. Melakukan validasi sediaan darah standar.
e. Menyelenggarakan Pemantapan Mutu Eksternal untuk

13
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

laboratorium provinsi secara periodik setiap 6 (enam) bulan.


f. Mengikuti Pemantapan Mutu Eksternal tingkat internasional
secara periodik setiap 1 (satu) tahun.
g. Menyelenggarakan TOT (Training of Trainer) untuk laboratorium
rujukan tingkat provinsi.
h. Bekerja sama dengan unit terkait dalam menjalankan kebijakan
program nasional, prosedur operasional baku laboratorium
malaria dan pedoman teknis laboratorium pemeriksaan
malaria.
i. Pembinaan teknis laboratorium rujukan tingkat provinsi.
j. Monitoring dan evaluasi laboratorium rujukan tingkat provinsi.
k. Menyelenggarakan pengujian kompetensi teknis bagi tenaga
pelaksana uji silang mikroskopis malaria di laboratorium rujukan
tingkat provinsi.
l. Mengoptimalkan sistem informasi pelaporan laboratorium
malaria dan melakukan pengolahan serta analisis data laporan
Laboratorium Rujukan Tingkat Provinsi dan/atau Kabupaten/
Kota.

Dalam melaksanakan jejaring laboratorium malaria, Laboratorium


Rujukan Tingkat Nasional berkoordinasi dengan unit kerja di
Kementerian Kesehatan yang memiliki tugas pokok dan fungsi di bidang
pengendalian malaria dan unit kerja di Kementerian Kesehatan yang
memiliki tugas pokok dan fungsi di bidang pembinaan laboratorium,
mutu dan akreditasi, serta Forum Nasional Gerakan Berantas Kembali
Malaria.
Jejaring laboratorium malaria pada prinsipnya mengacu pada jejaring
pelayanan laboratorium. Kegiatan pokok dalam jejaring laboratorium
malaria adalah pembinaan melalui pemantapan mutu pemeriksaan
malaria untuk mencapai tingkat kompetensi tenaga sesuai standar,
dalam mendukung program pengendalian malaria untuk menuju
eliminasi malaria.

2.5. Tim Pemantapan Mutu Laboratorium

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Laboratorium Rujukan


Tingkat Nasional perlu dibantu oleh Tim Pemantapan Mutu
Laboratorium Malaria untuk memberi masukan dan pertimbangan
kepada Laboratorium Rujukan Tingkat Nasional. Tim Pemantapan Mutu
Laboratorium Malaria ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri

14
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Kesehatan dan beranggotakan ahli laboratorium malaria perwakilan


dari instansi dan organisasi profesi terkait pemeriksaan laboratorium
malaria. Tim ini mempunyai tugas:
1). Membantu pelaksanaan tugas dan fungsi Laboratorium Rujukan
Malaria Nasional dalam melakukan perencanaan, pemantauan,
evaluasi, bimbingan teknis, dan pemantapan mutu laboratorium
malaria.
2). Memberikan masukan kepada Laboratorium Rujukan Nasional
untuk manajemen pengembangan laboratorium malaria.
3). Membantu melaksanakan sosialisasi, koordinasi, dan advokasi
jejaring laboratorium malaria di provinsi.
4). Membantu pembinaan Sumber Daya Manusia laboratorium
malaria melalui Peningkatan Kemampuan Teknis Tenaga
Laboratorium Malaria

3. Struktur Jejaring Laboratorium Malaria


Struktur Jejaring Laboratorium Malaria sebagai berikut:
Kementerian Kesehatan melalui unit
di Kementerian Kesehatan yang
mempunyai tugas pokok dan fungsi di
bidang pengendalian penyakit malaria
dan unit di Kementerian Kesehatan Laboratorium Rujukan
yang mempunyai tugas pokok Tingkat Nasional
dan fungsi di bidang pembinaan
laboratorium dan mutu dan akreditasi
laboratorium

Laboratorium Rujukan
Dinas Kesehatan Provinsi Tingkat Provinsi

Dinas Kesehatan Laboratorium Rujukan


Kabupaten/Kota Tingkat Kabupaten/Kota

Laboratorium Pelayanan

Keterangan :
Rujukan pelayanan, konsultasi, rujukan uji silang, pencatatan dan pelaporan
Pembinaan
Koordinasi

15
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

16
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

BAB 4
PEMANTAPAN MUTU
LABORATORIUM MALARIA

1. Pemantapan Mutu Internal

P
emantapan Mutu Internal (PMI) adalah kegiatan pencegahan dan
pengawasan yang dilaksanakan oleh masing-masing laboratorium
secara terus menerus agar tidak terjadi atau mengurangi kejadian
error penyimpangan sehingga diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat.
Pemantapan Mutu Internal sangat penting dan harus dilaksanakan
oleh petugas laboratorium untuk memeriksa kinerja mereka dan untuk
memastikan kemampuan pemeriksaan serta sensitivitas dan spesifisitas
diagnosis laboratorium.
Kegiatan ini tidak dapat dipisahkan dari aspek kualitas pemeriksaan
laboratorium, oleh karena itu setiap laboratorium wajib meningkatkan
dan mempertahankan mutu kinerja dengan melaksanakan PMI yang
berkesinambungan.

Tujuan pemantapan mutu internal :


1. Memastikan bahwa semua proses mulai dari persiapan pasien,
pengambilan, pengiriman, penyimpanan dan pengolahan
spesimen sampai dengan pencatatan dan pelaporan dilakukan
dengan benar
2. Mendeteksi penyimpangan dan mengetahui sumbernya
3. Menjamin kualitas bahan,alat dan SDM sesuai dengan standar
4. Pelaksanaan PMI meliputi seluruh proses pemeriksaan mikroskopis
malaria sejak pra analisis sampai dengan paska analisis.
5. Membantu perbaikan pelayanan kepada pelanggan

1.1. Pra Analisis


1.1.1. SDM
Setiap laboratorium harus memastikan SDM yang bekerja
adalah SDM yang trampil, memenuhi kualifikasi sesuai persyaratan
jejaring laboratorium malaria dan secara terus menerus ditingkatkan
kualitasnya. Serta wajib bekerja sesuai dengan SPO yang ada.

17
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

1.1.2. SPO
Tersedianya SPO sesuai standar, yaitu :
1. Pengambilan sampel/ spesimen
2. Penerimaan sampel/ spesimen
3. Uji kualitas reagen Giemsa
4. Uji kualitas minyak emersi
5. Uji kualitas metanol
6. Uji pH larutan buffer
7. Pemeliharaan dan penyimpanan mikroskop
8. Pelaksanaan K3 malaria

1.1.3. Alat dan Bahan


Memastikan tersedianya alat dan bahan sesuai dengan standar
pemeriksaan malaria, termasuk atlas malaria/ slide standar. Alat dan
bahan yang dipakai berfungsi dengan baik melalui pemeliharaan
dan kalibrasi, penyimpanan alat dan bahan.

1.1.4. Uji Kualitas Reagensia


a. Uji Kualitas Giemsa
Ada dua cara menguji mutu giemsa untuk mengetahui apakah
giemsa stok yang akan digunakan masih baik :
1) Melakukan pewarnaan pada 1-2 SD, kemudian diperiksa
di bawah mikroskop. Kalau hasilnya sesuai dengan kriteria
standar pewarnaan yang baik, berarti giemsa pengencernya
masih bagus dan dapat digunakan. Pengujian seperti ini perlu
dilakukan setiap kali akan melakukan pewarnaan masal.
2) Melakukan test menggunakan kertas Whatman no.2 dan
metanol (metil alkohol) :
· Letakkan kertas saring diatas gelas atau petridisk/cawan petri
supaya bagian tengah kertas tidak menyentuh sesuatu.
· Teteskan 1-2 tetes giemsa stok pada kertas saring. Tunggu
sampai meresap dan menyebar.
· Kemudian teteskan 3-4 tetes metanol absolut di tengah
bulatan giemsa perlahan dengan jarak waktu beberapa detik
sampai garis tengah giemsa menjadi 5-7 cm, maka akan
terbentuk :
o Lingkaran biru (methilen blue) ditengah
o Lingkaran cincin ungu (methilen azur) diluarnya, serta
o Lingkaran tipis warna merah (eosin) pada bagian tepi.
Giemsa sudah rusak dan tidak boleh dipakai lagi, bila warna

18
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

ungu atau merah tidak terbentuk.


b. Uji Kualitas Minyak Imersi
1. Uji kekentalan : dapat dilakukan dengan memasukkan batang
pengaduk kedalam wadah berisi minyak imersi. Angkat batang
pengaduk, dan amati. Jika minyak imersi masih menempel
pada batang pengaduk dan menetes lambat maka kualitas
minyak imersi masih baik.
2. Uji kekeruhan : Amati ada tidaknya kekeruhan minyak imersi
pada wadah transparan. Bila terlihat keruh maka kualitas
minyak imersi sudah berkurang.
3. Perubahan warna : Amati ada tidaknya perubahan minyak
imersi pada wadah transparan. Bila terjadi perubahan
warna (kekuningan) maka kualitas minyak imersi sudah
berkurang.
c. Uji Kualitas Methanol
Salah satu cara uji kualitas adalah dengan mengukur berat jenis
metanol dengan densitometer (BJ=0,792 – 0,793).
Penyimpanan metanol dilakukan dalam wadah tertutup pada
suhu dibawah titik didih (600C).
d. Uji pH larutan buf fer (literatur?)
1. Dengan kertas lakmus
2. Dengan pH indikator
3. Dengan pH meter
larutan buffer yang digunakan memiliki pH 7,2

1.2. Analisis
a. Memastikan pelaksanaan kegiatan di bawah ini sesuai SPO :
· Pembuatan sediaan malaria
· Pewarnaan sediaan malaria
· Pembacaan sediaan malaria
· Penggunaan Rapid Diagnostic Test (RDT)
· Uji kualitas reagensia (Giemsa, Methanol, Minyak Imersi
b. Memastikan petugas laboratorium melaksanakan prosedur K3

1.3. Paska Analisis


a. Memastikan ketersediaan format pencatatan dan
pelaporan (formulir register laboratorium malaria)
b. Semua kegiatan mulai dari tahap pra analisis sampai paska analisis
harus terdokumentasi dengan baik dan tertelusur selama periode
waktu tertentu (1-3 tahun) oleh unit yang bersangkutan.

19
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

c. Memastikan ketersediaan SPO pengelolaan limbah


d. Penyeliaan berjenjang

1.4. Evaluasi dan tidak lanjut


Hasil Kegiatan PMI harus dievaluasi oleh penanggung jawab
laboratorium dan ditindak lanjuti sesuai permasalahan yang ada
guna perbaikan laboratorium.

2. Pemantapan Mutu Eksternal

PME merupakan kegiatan yang diselenggarakan secara periodik oleh


pihak lain di luar laboratorium yang bersangkutan untuk memantau
dan menilai penampilan suatu laboratorium dalam bidang pemeriksaan
tertentu.
Tujuan PME Laboratorium Malaria:
1. Memperoleh informasi tentang kinerja petugas laboratorium
yang dapat dimanfaatkan sebagai data untuk melakukan
pembinaan.
2. Meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan malaria untuk mendapatkan
diagnosis dini yang tepat dan follow up pengobatan.
3. Sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kinerja
laboratorium.
Tiga metode yang dipakai untuk melaksanakan Pemantapan Mutu
Eksternal Laboratorium Malaria, terdiri dari:
1) Uji silang mikroskopis (cross check)
2) Tes Panel
3) Bimbingan Teknis

2.1. Uji Silang


Uji silang adalah kegiatan pemeriksaan ulang terhadap sediaan
darah malaria yang dilakukan oleh laboratorium rujukan uji silang
jenjang di atasnya untuk menilai ketepatan hasil pemeriksaan
mikroskopis malaria dan menilai kinerja laboratorium.
Ketidaktepatan dalam pemeriksaan dapat disebabkan oleh:
- petugas yang kurang terampil
- peralatan yang kurang memadai
- bahan dan reagen tidak sesuai standar
- jumlah sediaan yang diperiksa melebihi beban kerja

20
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

a. Prinsip Uji Silang


Dalam melakukan uji silang harus memperhatikan hal-hal berikut:
1) Uji silang dilakukan oleh laboratorium di tingkat lebih tinggi
2) Uji silang dilakukan oleh tenaga terlatih yang ditunjuk
sebagai tenaga pelaksana uji silang (cross-checker).
3) Uji silang dilakukan secara blinded artinya tenaga
pelaksana uji silang pada laboratorium rujukan uji silang
tidak mengetahui hasil pembacaan dari laboratorium
pelayanan mikroskopis malaria yang diuji.
4) Metode uji silang dalam pedoman ini menggunakan metode
konvensional atau Lot Quality Assurance System (LQAS).
Pada daerah dengan beban kerja uji silang yang tinggi,
metode uji silang yang digunakan adalah metode LQAS.

b. Indikator Keberhasilan Uji Silang di Kabupaten/Kota


1) Cakupan > 90%
Jumlah laboratorium pelayanan yang mengikuti uji silang
di kabupaten/kota dibandingkan dengan jumlah seluruh
laboratorium pelayanan yang memeriksa mikroskopik
malaria di kabupaten/kota > 90%

Penghitungan indikator cakupan uji silang:

Jumlah laboratorium pelayanan yang mengikuti uji


silang mikroskopik malaria
X 100 %
Jumlah seluruh laboratorium pelayanan yang
memeriksa mikroskopik malaria

2) Hasil Baik > 80%


Jumlah laboratorium pelayanan yang memiliki hasil
baik > 80% dibandingkan dengan jumlah laboratorium
pelayanan yang mengikuti uji silang.
a) Hasil uji silang laboratorium pelayanan dikatakan baik
apabila memiliki nilai : sensitivitas > 70%, spesifisitas
> 70%, akurasi >70%
b) Pencapaian indikator Hasil Baik Uji Silang dikatakan
baik apabila > 80% laboratorium pelayanan yang
mengikuti uji silang memiliki nilai : sensitivitas >70%,
spesifisitas > 70%, akurasi >70%

21
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Penghitungan indikator hasil baik uji silang:

Jumlah laboratorium pelayanan dengan nilai > 70%


sensitivitas >70%, spesifisitas >70%, akurasi >70%

Jumlah laboratorium pelayanan yang


X 100 %
mengikuti uji silang mikroskopik malaria

c. Penilaian kinerja petugas laboratorium

1) Kinerja laboratorium baik


Nilai Sensitivitas > 70% Spesifisitas > 70%, Akurasi
spesies> 70%
2) Kinerja laboratorium cukup
Nilai Sensitivitas 60-69% Spesifisitas 60-69%
Akurasispesies 60-69 %.
3) Kinerja laboratorium kurang
Nilai Sensitivitas <60%, Spesifisitas <60%, Akurasi
spesies <60%.
d. Alur Uji Silang

Laboratorium Laboratorium Laboratorium


Pelayanan Pelayanan Pelayanan

(1)
(3)
Laboratorium Rujukan Pengelola Program
Tingkat Kabupaten/ Malaria di Dinas
(2) Kesehatan
Kota
(3)
(5) (4) (4)

Laboratorium Rujukan Dinas Kesehatan


Tingkat Provinsi (2) Provinsi
(3)
(4) (4)

Laboratorium Rujukan Kementerian


Tingkat Nasional Kesehatan
(4)

Keterangan:
(1) Sediaan darah uji silang dari Laboratorium Pelayanan diambil oleh Pengelola Program
Malaria Dinkes Kabupaten/Kota
(2) Pengelola Program Malaria mengirimkan sediaan darah uji silang ke Laboratorium Rujukan
Kabupaten/Kota
(3) Hasil pemeriksaan uji silang oleh Laboratorium Rujukan Kabupaten/Kota dikirim ke Pengelola
Program Malaria Dinkes Kabupaten/Kota

22
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

(4) Pengelola Program Malaria Kab/Kota melakukan analisis uji silang dan mengirim umpan
balik ke Laboratorium Pelayanan, Laboratorium Rujukan Kabupaten/Kota dan Provinsi
(5) Bila terjadi ketidaksesuaian (discordance), pengelola program akan mengirimkan sediaan
darah uji silang untuk dilakukan pemeriksaan ulang oleh Laboratorium Rujukan Provinsi.

e. Prosedur Uji Silang Mikroskopik


1) Persiapan Sediaan yang akan diuji silang
a) Pemberian Identitas Sediaan
Cara Penulisan identitas:
Penulisan identitas dilakukan pada kertas/label dan
ditempelkan pada bagian atas kaca objek dengan tulisan
menghadap keatas. Bagi fasyankes yang memiliki kaca
objek frosted, identitas ditulis dengan pensil 2B pada
bagian frosted.
Penulisan identitas memuat informasi:

Kode kabupaten/Kode Puskesmas/No.urut/bulan/tahun

Contoh : gambar sediaan darah mikroskopik malaria

Kode ditulis berdasarkan kode yang berlaku di wilayah masing-masing.

2) Prosedur Uji Silang Mikroskopik Konvensional


a) Penyimpanan Sediaan Mikroskopik Malaria di Laboratorium
Pelayanan
Sediaan darah malaria diberi label sesuai register (identitas)
dan disimpan berdasarkan pengelompokan sediaan darah
positif dan sediaan darah negatif.
Sediaan darah disimpan dalam kotak sediaan darah tertutup
dan diletakkan di ruangan dengan suhu kamar dan tidak
lembab untuk menghindari debu dan tumbuhnya jamur.
b) Pemilihan Sediaan
- Daerah Pemeliharaan: sampel uji silang yang dipilih adalah
semua slide
- Daerah Pre eliminasi dan eliminasi : sampel uji silang
yang dipilih adalah 5% negatif dan 100% positif
(konvensional)

23
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

- Daerah Pemberantasan/endemik : sampel uji silang yang


dipilih adalah 5% negatif dan 100 % positif (konvensional)
atau metode LQAS
- Pemilihan sediaan darah untuk uji silang dilakukan oleh
pengelola program.
3) Prosedur Uji Silang Mikroskopik Metode LQAS (Lot Quality
Assurance System)
a) Perbedaan prinsip antara dengan metode konvensional
dengan metode LQAS adalah pada sampling/pemilihan
sediaan dengan penghitungan lot, sehingga dengan
metode ini diharapkan sediaan yang diuji silang dapat
mewakili dari seluruh SD malaria yang diperiksa.
b) Penyimpanan Sediaan Mikroskopik Malaria Laboratorium
Pelayanan
- SD malaria diberi label sesuai register (identitas).
- SD malaria disimpan berurutan sesuai urutan register
laboratorium pelayanan dalam kotak sediaan darah
tertutup dan diletakkan di ruangan dengan suhu
kamar dan tidak lembab untuk menghindari debu dan
tumbuhnya jamur.
c) Penentuan lot dan pemilihan sediaan uji silang harus
melalui beberapa langkah penghitungan sebagai
berikut:
Langkah 1
Sebelum uji silang metode LQAS dilaksanakan, harus
tersedia data sebagai berikut:
- Data nama seluruh laboratorium pelayanan mikroskopik
malaria di kabupaten/kota
- Jumlah seluruh sediaan, jumlah sediaan positif, jumlah
sediaan negatif masing-masing laboratorium pelayanan
mikroskopik malaria yang diperiksa selama satu
tahun diambil dari register laboratorium pelayanan
mikroskopik malaria tahun yang lalu.

24
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Contoh :
Sediaan Sediaan
Lab Sediaan positif negatif
fasyankes 1 tahun 1 tahun 1 tahun
yang lalu yang lalu yang lalu
A 1.500 200 1.300
B 2.550 351 2.199
C 1.990 156 1.834
D 1.040 103 937
E 2.085 151 1.934
F 1.158 100 1.058
G 1.250 125 1.125
H 885 101 784
I 2.569 335 2.234
J 500 55 445

Langkah 2
Penghitungan Slide Positivity Rate (SPR)
SPR : persentase jumlah sediaan positif terhadap jumlah
seluruh sediaan di laboratorium pelayanan.
Jumlah sediaan positif 1 tahun yang lalu
SPR = X 100%
Jumlah seluruh sediaan dalam 1 tahun yang lalu

Contoh perhitungan SPR:


Sediaan
Lab Sediaan positif
fasyankes 1 tahun 1 tahun SPR
yang lalu yang lalu
A 1.500 200 13,3 %
B 2.550 351 14,0 %
C 1.990 156 7,8 %
D 1.040 103 9,9%
E 2.085 151 7,2 %
F 1.158 100 8,6%
G 1.250 125 10,0 %
H 885 101 11,4 %
I 2.569 335 13,0 %
J 500 55 11,0 %

Langkah 3
Penentuan sensitivitas, spesifisitas dan jumlah kesalahan
yang dapat diterima (acceptance number/d)
Program Pengendalian Malaria menetapkan sensitivitas
80%, spesifisitas 100% dan jumlah kesalahan yang dapat
diterima atau d= 0

25
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Sensitivitas:
Kemampuan yang diharapkan untuk mendeteksi sediaan
positif oleh laboratorium pelayanan.
Spesifisitas:
Kemampuan mendeteksi genus, spesies, stadium parasit
malaria
Tingkat kesalahan yang dapat diterima (acceptance
number)/d:
“d” adalah jumlah kesalahan yang dapat diterima Program
Pengendalian Malaria menentukan d=0 artinya tidak ada
toleransi untuk terjadinya kesalahan baca.
Langkah 4
Pembacaan tabel penghitungan sediaan untuk uji silang
metode LQAS
Tentukan jumlah sediaan yang akan diambil untuk uji silang
dengan menggunakan tabel sebagai berikut:

26
Tabel Pengambilan sample untuk metode Lot Sampling (Sensitivitas 80%, spesifisitas 100% dan d = 0)

Jumlah Sediaan darah positivity Rate


sediaan
negatif yang 2.5 % 5.0 % 7.5 % 10.0 % 13.0 % 15.0 % 18.0 % 20.0 % 23.0 % 25.0 % 28.0 % 30.0 % 33.0 % 35.0 %
diperiksa
dalam 1 tahun
jumlah sampel yang dibutuhkan
100 84 72 63 54 48 45 39 36 34 32 29 27 25 23
200 14 10 86 72 61 54 46 43 38 36 32 30 27 26
300 18 12 10 80 67 59 50 45 40 37 33 31 28 26
400 21 14 10 86 70 61 51 46 40 37 33 31 28 26
24 15 11 89 71 62 52 48 42 39 35 31 28 26
500
700 28 16 12 92 75 65 54 49 42 39 35 31 28 26
1000 31 18 12 96 76 66 55 49 43 40 35 33 28 28
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

37 19 13 100 79 68 56 50 53 40 35 33 30 28
2000
14 69 57 40 36 33 30 28

27
5000 42 20 103 80 50 44
10000 44 21 14 104 80 69 57 51 44 40 36 33 30 28
20000 45 21 14 104 82 69 57 51 44 40 36 33 30 28
50000 45 21 14 104 82 69 57 51 44 40 36 33 30 28
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Contoh laboratorium Fasyankes D :


· SPR = 103/1040 X100% = 9,9 % dibulatkan ke angka yang
terdekat menjadi 10 %
· Jumlah sediaan negatif = 937 dibulatkan ke angka yang
terdekat menjadi 1000
Langkah 5
Menghitung jumlah sediaan uji silang
Untuk menentukan jumlah sediaan yang akan diuji silang
per tahun didapat dengan melihat perpotongan antara SPR
dan jumlah sediaan negatif.
Jumlah sediaan uji silang per tahun : 96
Langkah 6
Menghitung jumlah sediaan per bulan
Jumlah sediaan uji silang per bulan = jumlah sediaan uji
silang per tahun dibagi 12
96 = 8 sediaan per bulan
12

Bila pada bulan tersebut jumlah sediaan kurang dari 8, maka


seluruh sediaan diambil untuk uji silang.
Langkah 7
Penghitungan interval pengambilan sediaan
Tentukan interval pengambilan sediaan dengan cara
membagi jumlah sediaan yang tercatat di Register
Laboratorium Pelayanan Mikroskopik Malaria pada bulan
terkait, dengan jumlah sediaan yang akan diambil untuk
diuji silang.
Misalnya pada bulan tersebut jumlah sediaan yang tercatat
di register laboratorium pelayanan mikroskopik malaria
adalah 137, jumlah sediaan yang diuji silang 8, maka
interval pengambilan dihitung dengan cara:

137
8 > interval 17
Langkah 8
Penentuan pengambilan sediaan pertama (lot)
Untuk memulai mengambil sediaan harus ditentukan sediaan
yang akan diambil pertama kali. Penentuannya dilakukan
dengan cara LOT atau diundi dengan menggunakan dadu,

28
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

kalender, nomor seri uang dan sebagainya.


Penentuan sediaan yang diambil pertama harus lebih kecil
atau sama dengan angka interval.
Misal : interval 17, maka sediaan yang pertama dipilih adalah
salah satu sediaan diantara nomor 1 sampai dengan nomor 17
Berilah tanda (misalnya dilingkari) pada register laboratorium
malaria, sediaan yang akan diambil.
Contoh : Jumlah sediaan 137 dan angka yang keluar dari
undian adalah angka 6, maka nomor sediaan 6 adalah
sediaan pertama yang diambil dan tambahkan intervalnya
(17), sediaan yang diambil adalah sediaan no 6, 18, 35, 46,
63, dst. Sampai didapat 8 sediaan
Langkah 9
Pengambilan sediaan berdasarkan interval dan sesuai urutan
register laboratorium pelayanan mikroskopik malaria
Jika terdapat sediaan yang hilang/pecah, ambil sediaan
berikutnya sesuai dengan urutan pada register laboratorium.
Contoh apabila nomor 35 hilang maka sediaan yang
diambil berikutnya adalah nomor 36, pengambilan sediaan
selanjutnya sesuai dengan yang sudah ditandai pada
langkah 8, yaitu 46, dst.
Sediaan yang hilang atau pecah harus didokumentasikan
pada Form Pemeriksaan Uji Silang, karena hal ini dapat
menunjukkan adanya masalah di laboratorium pelayanan.
Kemungkinan penyebabnya adalah:
· Sediaan dibuang karena kualitas yang jelek;
· Sediaan tidak dibaca;
· Petugas mikroskopis tidak memahami kepentingan
penyimpanan sediaan untuk proses uji silang.
4) Pengiriman Sediaan Uji Silang
Sediaan yang dikirim dalam keadaan kering dan bebas dari
minyak immersi. Pengiriman sediaan dalam jumlah besar
sebaiknya menggunakan kotak sediaan darah, apabila tidak
tersedia sediaan dapat dikemas sedemikian rupa agar tidak
mudah pecah dalam pengiriman. Untuk jumlah sampel
yang sedikit (kurang dari 20 SD), sediaan dibungkus dengan
kertas HVS/buffalo.
Sediaan dikirim setiap bulan. Untuk keperluan penilaian
sensivitas, spesifikasi dan akurasi spesies, jumlah sediaan

29
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

yang diperiksa minimal 20 SD. Apabila sediaan kurang


dari 20, maka analisis dilakukan pada saat sediaan sudah
mencapai 20. Dalam hal ini umpan balik (feed back) tetap
diberikan yang berisi penilaian kualitas pembuatan dan
pewarnaan sediaan serta hasil pembacaan (positif benar,
negatif benar, positif palsu, negatif palsu).

5) Pelaksanaan Uji Silang


a) Uji silang dilakukan setiap awal bulan dan umpan balik
disampaikan secepat mungkin (maksimum 3 minggu
setelah pengiriman.
b) Hal-hal yang dinilai pada uji silang
Kualitas Pembuatan Sediaan Darah
(1) Makroskopik
Tetes tebal
- Diameter ± 1cm
- Ketebalan: tulisan dapat dilihat di atas kertas
- Tidak terfiksasi
Tetes tipis : 1 cm dari bagian ujung sediaan darah
tipis berbentuk lidah.
(2) Mikroskopik
Tetes tebal
- Volume darah: 6 µl atau
Untuk menilai SD darah negatif: minimal dapat
dilihat 100 LPB atau setara dengan 3000-4000
leukosit
- Ketebalan:
baik : jumlah leukosit 15 -20/LPB
tebal : jumlah leukosit > 20/LPB
tipis : jumlah leukosit <15 /LPB
Tetes tipis
- Volume darah: 2 µl
- Eritrosit tidak saling bertumpuk.
- Terfiksasi
Kualitas Pewarnaan Sediaan darah
- Normal: inti leukosit berwarna ungu, inti parasit
berwarna merah, sitoplasma berwarna biru
- Asam: inti leukosit berwarna merah, inti parasit
berwarna merah, sitoplasma berwarna merah

30
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

- Basa: inti leukosit berwarna biru, inti parasit


berwarna biru, sitoplasma berwarna biru
- Kotor: banyak sisa-sisa/endapan zat warna/ debu
pada lapang pandang

Pembacaan Sediaan Darah:


- Kriteria penilaian hasil pemeriksaan sediaan darah
meliputi sensitivitas, spesifisitas dan akurasi spesies.

6) Analisis Hasil uji silang


Hasil uji silang dari tenaga pelaksana uji silang disampaikan
kepada penanggung jawab program malaria di Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota untuk dianalisis dengan
menghitung sensitivitas, spesifisitas dan akurasi spesies
sebagai berikut:

PB
Spesifisitas = x 100 %
PB + NP

NB
Sensivisitas = x 100 %
NB + PP

Spesies benar
Akurasi Spesies = x 100 %
Total positif spesies

Keterangan
PB : Positif Benar (true Positive) = Benar Positif + Beda
Spesies
PP : Positif Palsu (False Positive)
NB : Negatif Benar (True Negative)
NP : Negatif Palsu (False Negative)

31
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Interpretasi Hasil Analisis


a. Nilai Sensitivitas >70%, Spesifisitas >70%, Akurasi
spesies >70% artinya kinerja laboratorium baik.
b. Nilai Sensitivitas 60-69%, Spesifisitas 60-69%,
Akurasi spesies 60-69 % artinya kinerja laboratorium
cukup.
c. Nilai Sensitivitas <60%, Spesifisitas <60%, Akurasi
spesies <60% artinya kinerja laboratorium kurang.
Apabila terdapat perbedaan hasil pembacaan
(discordance) maka harus dilakukan pembacaan/
penilaian ulang oleh Laboratorium Rujukan Provinsi.

7) Tindak Lanjut
Kinerja laboratorium cukup berturut-turut dalam empat
kali penilaian sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi spesies
dan/atau satu kali kinerja kurang :
a) Perlu dilaksanakan supervisi/bimbingan teknis
b) Dilakukan pemberian panel tes di tempat

8) Pencatatan dan Pelaporan


a) Hasil penilaian uji silang masing-masing laboratorium
pelayanan diumpanbalikkan kepada penanggung
jawab fasyankes.
b) Hasil analisis seluruh laboratorium dilaporkan kepada
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan diumpan
balikkan kepada Laboratorium Rujukan Uji Silang
Kabupaten/Kota sebagai bahan evaluasi.
Rekapitulasi hasil uji silang dan pencapaian indikator
uji silang Kabupaten/Kota dilaporkan ke Dinas
Kesehatan Provinsi.

f. Penetapan Tenaga Pelaksana Uji Silang


Penetapan tenaga pelaksana uji silang mikroskopik
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas
Kesehatan Provinsi dengan persyaratan sebagai berikut:
1. Telah melaksanakan pemeriksaan mikroskopik malaria
secara rutin dengan akurasi spesies minimal 70% untuk
Kabupaten/Kota dan minimal 80% untuk provinsi,yang
dibuktikan dengan laporan pelaksanaan pemeriksaan.

32
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

2. Merupakan tenaga terlatih dan memiliki sertifikat lulus


pelatihan.
3. Memiliki tingkat kemampuan minimal:
a. Level 2 (Reference) untuk tingkat Kabupaten/Kota
b. Level 1 (Expert) untuk tingkat Provinsi
c. Level 1 (Expert) untuk tingkat pusat
4. Memiliki komitmen untuk melaksanakan tugasnya
minimal 3 tahun.

2.2. Tes Panel


Tes panel/tes profisiensi merupakan suatu metode
untuk mengetahui performa laboratorium dengan cara
membandingkan kemampuan mikroskopis terhadap nilai
rujukan.

2.2.1. Sasaran
Tes panel dilakukan kepada:
1) Tenaga pelaksana laboratorium rujukan tingkat provinsi
dan Laboratorium rujukan tingkat kabupaten/kota.
2) Tenaga pelaksana laboratorium pelayanan di kabupaten/
kota yang pelaksanaan uji silangnya yang belum berjalan
dengan baik.
3) Tenaga pelaksana laboratorium yang baru dilatih mikroskopis
malaria sebagai evaluasi pasca pelatihan.

2.2.2. Tujuan
Hasil tes panel yang diperoleh dapat menunjukkan kinerja
laboratorium yang bersangkutan dalam bidang pemeriksaan
mikroskopis malaria

2.2.3. Penyelenggara
Tes Panel diselenggarakan oleh Penyelenggara Pemantapan
Mutu Eksternal (PME) Tingkat Nasional Berdasarkan Keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.02/MENKES/400/2016
Tanggal 3 Agustus 2016

33
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

2.2.4. Mekanisme
Tes panel/tes profisiensi dilaksanakan melalui mekanisme
sebagai berikut:
a. Persiapan
Persiapan yang harus dilaksanakan sebelum memulai tes
panel
1) Pembuatan sediaan darah tebal dan tipis yang
berkualitas.
2) Menetapkan jumlah sediaan darah untuk tes panel.
3) Mengidentifikasi spesies pada sediaan darah.
4) Menentukan laboratorium yang akan dikirim tes panel
5) Menetapkan cara pengiriman sediaan ke laboratorium
malaria
6) Menyiapkan petunjuk pelaksanaan dan formulir hasil
untuk pencatatan hasil pembacaan.
7) Menetapkan waktu yang dibutuhkan dan disediakan
untuk petugas laboratorium menyelesaikan pemeriksaan
tersebut dan melaporkan hasilnya.
8) Menetapkan kriteria evaluasi untuk kinerja.
b. Pengiriman sediaan
1) Melalui pos:
2) Dibawa bersamaan waktu bimbingan teknis
Pengiriman sediaan dilakukan dalam keadaan kering
dan bebas dari minyak immersi. Pengiriman sediaan
dalam jumlah besar sebaiknya menggunakan kotak
sediaan darah, apabila tidak tersedia sediaan dapat
dikemas sedemikian rupa agar tidak mudah pecah
dalam pengiriman. Untuk jumlah sampel yang sedikit
(kurang dari 20 SD), sediaan dibungkus dengan kertas
hvs/buffalo
c. Interpretasi dan evaluasi hasil pemeriksaan tes panel
Evaluasi hasil pemeriksaan dilakukan oleh laboratorium
penyelenggara tes panel dan cara penilaian Tes Panel
sama seperti cara pemberian penilaian pada uji silang
mikroskopis malaria.
Cara menginterpretasi hasil pemeriksaan sediaan tes
panel harus sama dengan cara yang dipergunakan untuk
menginterpretasi hasil pemeriksaaan sediaan yang berasal
dari pasien sehari-hari. Evaluasi hasil pemeriksaan dilakukan

34
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

oleh laboratorium penyelenggara tes panel.


d. Umpan Balik
Setelah dilakukan penilaian, laboratorium penyelenggara
harus segera mengirimkan hasil penilaian ke setiap
laboratorium peserta, dengan tembusan ke Dinas
Kesehatan setempat. Laboratorium penyelenggara
membuat rekapitulasi hasil penilaian tes panel/tes
profisiensi kemudian melaporkannya kepada Dinas
Kesehatan Provinsi dan Kementerian Kesehatan.
Umpan balik tersebut mencakup:
a) Skor peserta (skor total dan skor tiap sediaan yang
diperiksa).
b) Kemungkinan sebab-sebab terjadinya kesalahan.
c) Usulan tindakan perbaikan.
Untuk laboratorium yang memerlukan bimbingan, tindakan
perbaikan yang dapat dilakukan antara lain:
a) Bimbingan teknis untuk menentukan sumber masalah,
memeriksa ulang bersama-sama dengan teknisi
tersebut dan langsung memecahkan masalah.
b) Kalakarya (on the job training).
c) Pelatihan teknisi laboratorium.
e. Rencana Tindak Lanjut
Membuat rencana tindak lanjut (RTL) bila diperlukan

2.2.5. Jumlah dan Komposisi Sediaan Standar


Sediaan yang dikirim ke masing-masing laboratorium
pada tingkatan yang sama, dengan jumlah dan komposisi
yang sama untuk periode yang sama.
Jumlah sediaan yang dikirim dari laboratorium rujukan
tingkat nasional untuk laboratorium rujukan tingkat
Provinsi dan dari laboratorium rujukan tingkat Provinsi
untuk laboratorium rujukan tingkat kabupaten/kota
adalah 20 SD dan 25 SD dengan komposisi:
Pembacaan 20 SD :
10 sediaan darah negatif
4 sediaan darah Pf
3 sediaan darah Pv
1 sediaan darah Po
1 sediaan darah Pm

35
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

1 Sediaan darah mix (Pf+Pv)


untuk SD positif digunakan kepadatan parasit 40-200
parasit/ul darah
Pembacaan 25 SD (untuk post tes):
10 sediaan darah negatif
6 sediaan darah Pf
6 sediaan darah Pv
1 sediaan darah Po
1 sediaan darah Pm
1 Sediaan darah mix (Pf+Pv)
Sediaan darah yang positif dengan kepadatan 40-200
parasit/µl darah.
Pengiriman sediaan darah ke laboratorium peserta harus
disertai dengan surat pengantar dan petunjuk pelaksanaan,
antara lain menerangkan berapa sediaan darah yang
dikirimkan dan cara pengisian hasil pemeriksaan pada
formulir, kapan hasil harus dilaporkan.

e. Frekuensi Tes Panel


Frekuensi tes panel/tes profisiensi sangat tergantung
pada situasi uji silang. Bila kegiatan belum berjalan baik,
sebaiknya tes panel/tes profisiensi dilaksanakan paling
sedikit 1 kali dalam 1 tahun. Jika kegiatan uji silang
sudah berjalan baik, maka tes panel/tes profisiensi tidak
diperlukan.

f. Pencatatan dan Pelaporan


1) Pencatatan hasil tes panel/tes profisiensi menggunakan
formulir yang telah ditentukan.
2) Formulir akan dikirimkan kepada peserta bersama
dengan sediaan tes panel/tes profisiensi.
3) Peserta harus mengisi formulir tersebut dengan lengkap
dan benar.
4) Formulir yang telah diisi harus dikirimkan kembali kepada
penyelenggara sesuai dengan petunjuk penyelenggara
paling lambat 2 minggu setelah sediaan tes panel
diterima.
5) Tes panel yang dilaksanakan bersamaan dengan bimbingan
teknis atau pertemuan tingkat Kabupaten/Kota hasilnya
langsung disampaikan kepada dinas kesehatan setempat.

36
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

2.3. Bimbingan Teknis


a. Pengertian
Bimbingan Teknis adalah kegiatan yang sistematis untuk
memberikan pemahaman, pengetahuan dan keterampilan,
meningkatkan kemampuan teknis petugas laboratorium,
meningkatkan kompetensi dan motivasi petugas yang
dilakukan secara langsung dalam rangka peningkatan
mutu laboratorium.
Bimbingan Teknis pada fasilitas laboratorium
pelayanan mikroskopis malaria sangat penting dalam
memperkuat komunikasi antara laboratorium pelayanan
dan laboratorium rujukan dengan tujuan untuk
mengidentifikasikan permasalahan kinerja yang kurang
baik dan merekomendasikan tindakan yang harus
dilakukan.
Bimbingan Teknis yang efektif memerlukan:
1. Sumber daya manusia yang kompeten
2.Perencanaan finansial yang baik dan
berkesinambungan
3. Waktu kunjungan yang sesuai
4. Perencanaan secara menyeluruh agar tersedia sebuah
struktur untuk menilai aktifitas dan permasalahan
kinerja di suatu laboratorium
5. Pencatatan dan pelaporan hasil bimbingan teknis
6. Tindak lanjut yang efektif untuk melakukan perbaikan
di laboratorium.

b. Aspek-aspek Bimbingan Teknis


1. Bimbingan Teknis harus dilaksanakan secara rutin dan
teratur pada semua tingkat. Kegiatan ini dilakukan atas
dasar prioritas permasalahan yang terjadi.
2.Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu
ditingkatkan, yaitu:
a. Evaluasi pasca pelatihan
b. Pada tahap awal pelaksanaan program
c. Sosialisasi informasi dan pengetahuan terbaru
d. Hasil uji silang cukup dalam empat bulan berturut-
turut dan/atau kurang.
e. Laboratorium tidak melaporkan hasil kegiatan.

37
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

3. Jenjang laboratorium
Bimbingan Teknis dilakukan secara berjenjang dari unit
laboratorium rujukan sampai dengan laboratorium
pelayanan.
4. Kualifikasi petugas
Kriteria petugas yang melakukan supervisi laboratorium
mikroskopik :
a. Petugas memiliki keterampilan dan pengetahuan
teknis serta kemampuan berkomunikasi yang baik
(profesional dan kompeten).
b. Berpengalaman dalam pemeriksaan mikroskopis
malaria minimal 2 tahun.
c. Memiliki kemampuan manajerial laboratorium.

c. Kegiatan Bimbingan Teknis


a. Mekanisme
1. Persiapan Bimbingan Teknis
Sebelum kunjungan lapangan dilaksanakan, perlu
dipersiapkan hal-hal sebagai berikut:
a. Menentukan petugas pelaksana sesuai dengan kriteria
yang telah ditetapkan.
b. Melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan
setempat.
c. Menentukan prioritas laboratorium yang akan
d i k u n j u n g i b e rd a s a r k a n d a t a - d a t a te r k a i t
laboratorium.
d. Mempelajari laporan bimbingan teknis periode
sebelumnya.
e. Menyusun rencana jadwal kunjungan dan
memberitahukan kepada laboratorium yang akan
dikunjungi sekurang-kurangnya satu minggu
sebelumnya.
f. Membawa alat bantu daftar tilik (check list)
g. Membawa sediaan darah standar untuk meningkatkan
kemampuan dalam identifikasi parasit.
h. Membawa peralatan untuk menguji kualitas dari
reagen yang digunakan.

38
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

2. Kegiatan saat bimbingan teknis


Hal-hal yang harus diperhatikan selama bimbingan
teknis:
a. Setiap petugas yang melaksanakan bimbingan teknis
harus bersikap profesional, membina dan memberikan
usulan perbaikan.
b. Observasi difokuskan pada kegiatan yang berdampak
terhadap mutu hasil pemeriksaan laboratorium.
1) Kualifikasi sumber daya manusia: jumlah,
pendidikan dasar, pelatihan yang diikuti.
2) Sarana laboratorium dan kondisinya, termasuk
ruangan laboratorium.
3) Prasarana laboratorium terdiri atas SPO (alat dan
metode), mikroskop, reagen, bahan habis pakai,
bench aid di ruang pemeriksaan, air dan listrik.
4) Kinerja petugas: beban kerja, kepatuhan pada
pedoman.
5) Pencatatan dan pelaporan kegiatan laboratorium
mikroskopis malaria
6) Mengidentifikasi masalah.
7) Merekomendasi pemecahan masalah.
c. Mengevaluasi perbaikan yang telah dilakukan
berdasarkan hasil kunjungan terdahulu.
d. Menyusun rencana tindak lanjut.

3. Kegiatan pasca bimbingan teknis


a. Bersama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
yang bersangkutan melaporkan hasil temuan dan
rekomendasi kepada atasan langsung dan pimpinan
di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota 1 minggu
setelah bimbingan teknis dilakukan.
b. Melakukan analisis dan umpan balik hasil kunjungan.
Hasil-hasil yang diperoleh dari kunjungan bimbingan
teknis dilakukan pembahasan secara berkala dengan
melibatkan jejaring laboratorium yang ada di
wilayahnya.

39
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

3. Peningkatan Mutu

Peningkatan Mutu adalah suatu proses terus menerus yang


dilakukan oleh laboratorium sebagai tindak lanjut dari Pemantapan
Mutu Internal (PMI) dan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) untuk
meningkatkan kinerja laboratorium. Proses peningkatan mutu dapat
dilakukan dengan pendekatan konsep siklus Deming: plan, do, check,
act (PDCA) sebagai siklus yang berkelanjutan. Komponen utama
dalam siklus Deming terdiri atas empat langkah sebagai berikut:
a. Plan (Perencanaan)
Beberapa kegiatan pada tahap perencanaan antara lain:
mengidentifikasi permasalahan, membuat dan memperbaiki
SPO dan instruksi kerja, dan merencanakan perbaikan secara
berkesinambungan.
b. Do (Pelaksanaan)
Pelaksanaan meliputi: melaksanakan rencana, melakukan perbaikan
sesuai rencana yang telah disusun, mengumpulkan dan menganalisis
data, serta mengukur kinerja pelayanan laboratorium.
c. Check (Pemeriksaan)
Langkah pemeriksaan meliputi: mempelajari hasil pelaksanaan
kegiatan atau perbaikan, memantau dan mengevaluasi proses
dan hasil terhadap tujuan, mendokumentasikan kegiatan untuk
dijadikan dasar penyesuaian dan perbaikan. Kegiatan ini termasuk
melaporkan hasil pemeriksaan kepada pengambil keputusan.
d. Tahap Act (Bertindak)
Langkah ini meliputi: menentukan perubahan yang diperlukan
untuk perbaikan dan melaksanakan tindakan perbaikan yang
sesuai. Langkah ini dilaksanakan berdasarkan hasil langkah
sebelumnya yaitu pemeriksaan (evaluasi). Ini berarti meninjau
semua langkah (Plan, Do, Check, Act) dan memodifikasi proses
untuk memperbaikinya sebelum pelaksanaan siklus berikutnya.
Tindakan perbaikan atau penyesuaian dapat berupa upaya
peningkatan kemampuan teknis sumber daya manusia (teknisi
laboratorium). Keberhasilan siklus PDCA yang digunakan sebagai
konsep untuk peningkatan mutu akan berhasil jika diikuti dengan
peningkatan kompetensi SDM sebagai tindakan peningkatan mutu
yang berkelanjutan.

Langkah selanjutnya adalah mengulangi siklus PDCA mulai rencana


perbaikan berikutnya.

40
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

BAB 5
QUALITY ASSURANCE
RAPID DIAGNOSTIC TEST (QA RDT)

1. Spesifikasi

1. Alat diagnostik cepat berbentuk kaset yang digunakan untuk mendeteksi


adanya infeksi malaria pada manusia. Secara umum, prinsip kerja RDT
adalah reaksi antigen – antibodi menggunakan antibodi monoklonal
yang dikonjugasikan dengan zat warna (Gold Particles)
2. Sensitivitas: >95% (HRP-2), dan >95% (pLDH)
3. Spesifisitas: >95% (HRP-2), dan >95% (pLDH)
4. Berbentuk kaset yang terbuat dari plastik.
5. Bagian-bagian RDT :
Tempat
meneteskan darah

Tempat meneteskan
cairan buffer

C : Tempat munculnya garis kontrol


A : Tempat munculnya garis positif Pf
B : Tempat munculnya garis positif non Pf

6. Untuk pedoman pembelian, jarak antara masa produksi dan


kadaluarsa adalah 24 bulan.
7. Waktu pembacaan berkisar antara 20-30 menit.
8. Alat diagnostik cepat mampu bertahan pada suhu di atas 4oC
dan di bawah 37oC.
9. Setiap kit alat diagnostic cepat memiliki kelengkapan sebagai
berikut:
a. Alat pemeriksaan (device)
b. Pipet kapiler/micropipette/alat pengambil darah sesuai dengan
kebutuhan diagnosis
c. Lancet yang sesuai untuk Autoclick
d. Alcohol swab

41
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

e. Cairan Buffer (disetiap test kit)


f. Silica-gel pada tiap sachet
g.Pada setiap sachet aluminium foil tercetak tanggal
kadaluarsa
10. Kemasan tiap kotak terdiri dari
a. Tiap boks terdiri dari 25 test, beserta kelengkapan tiap test
b. Pada bagian dalam terlampir cara penggunaan dalam bahasa
Indonesia
c. Pada bagian luar boks tertulis :
­Nama alat
­Nama produsen
­Alamat produsen
­Nomor batch/kode produksi
­Tanggal produksi dan Tanggal kadaluarsa
­Logo Kementerian Kesehatan
­Tidak diperjualbelikan
11. Alat diagnostik cepat harus memenuhi persyaratan umum
internasional dan telah memenuhi kualifikasi internasional,
yaitu:
a. Melampirkan bukti produsen telah lolos/ mempunyai
ISO13485:2003
b. Melampirkan bukti merek RDT telah terdaftar dalam list
WHO
c. Melampirkan bukti bahwa barang sudah pernah diuji oleh
Lembaga penelitian pemerintah yang mempunyai kredibilitas
dan kapabilitas atau universitas negeri atau Universitas swasta
yang terakreditasi A di Indonesia
12. Uji kualitas alat diagnostik cepat sesudah tender, yaitu:
a. Bersedia melakukan lot per batch testing ke salah satu centre,
yaitu: Malaria RDT Quality Assurance Laboratory, Research
Institute of Tropical Medicine DoH Filinvest Compound,
Alabang, Muntinlupa City, Philippine Laboratory of Molecular
Epidemiology, Pasteur Institute of Cambodia, #5 Monivong Blvd,
P.O. Box 983, Pnom Penh, Cambodia
Email : mal-rdt@wpro/who.int dan belld@wpro/who.int
b. Produksi dari batch yang telah lulus lot-testing oleh WHO lot-
testing centre yang dikirim ke Indonesia.
13. Uji pemantapan mutu di lapangan akan dilakukan oleh Tim
Pemantapan Mutu

42
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

2. Pelaksana
a. Pelaksana di lapangan atau petugas uji silang (crosschecker)
untuk melaksanakan pemeriksaan sesuai SPO.

b. Supervisor untuk memastikan bahwa SPO sudah dilaksanakan


dengan baik.

3. Alur Kerja

Global Specimen
Bank
Product Testing

Appropriate
Manufacturer storage and timely
Good Manufacturing Procurement distribution
Practice and QA

Regional/country laboratory District/remote area


lot testing Quality Control
Training and Community
Education

4. Cara Kerja
4.1. Pengujian rutin
a. Alat diagnostik cepat/RDT
1) Penyimpanan tes RDT
Setelah dianalisa dan dilaporkan, tes RDT di tempatkan pada
wadah khusus.
a) Jangan membuang alat uji ke dalam tempat pembuangan.
b) Gunakan wadah penyimpanan yang berbeda setiap hari,
sebagai alternatif bisa digunakan kantong plastik yang
berbeda.
c) Beri label wadah penyimpanan atau tas plastik dengan
nama tempat dan tanggal pemeriksaan.
d) Wadah penyimpanan atau tas plastik bisa disimpan pada
suhu kamar.
2) Setiap tes RDT sebaiknya diberi label meskipun invalid (tidak ada
garis kontrol).

43
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

3) Pada akhir hari kerja


a) Kirimkan tempat penyimpanan atau tas plastik yang berisi
device RDT kepada crosschecker pada hari yang sama.
b) Atau petugas crosscheker yang mengumpulkan tempat
penyimpanan atau tas plastik yang berisi RDT.
c) Bila tidak memungkinkan untuk mengirimkan pada hari
yang sama, boleh dikirim keesokan harinya maksimum 2
hari setelah pengujian.
4) Pembuatan sediaan darah malaria untuk konfirmasi tes RDT.
a) Setiap pasien kesepuluh dan kelipatannya yang diperiksa
menggunakan RDT, diambil sediaan darahnya untuk
pemeriksaan mikroskopis.
b) Buat sediaan darah tebal dan tipis.
c) Sediaan darah dikirim ke puskesmas untuk diwarnai dan
diteruskan ke laboratorium tingkat kabupaten/kota
untuk dibaca bersamaan dengan tes RDT yang sudah
dikumpulkan. Pembacaan sediaan darah dilakukan oleh
petugas uji silang dengan kompetensi minimal level 2.
d) Apabila ada perbedaan hasil antara RDT dengan sediaan
darah, sediaan darah tersebut dikirim ke laboratorium
tingkat provinsi. Pembacaan sediaan darah dilakukan oleh
petugas uji silang dengan kompetensi minimal level 1.

44
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

b. Parameter

Parameter Persyaratan Yang tidak Nilai


minimum diterima
Identivikasi Label jelas dengan Sulit dibaca. Hanya 1
Pasien inisial dan kode tertera kode
registrasi registrasi
Waktu Label jelas 1
Tidak ada
pemeriksaan meliputi waktu keterangan waktu.
pemeriksaan dan Sulit dibaca
waktu pembacaan
Latar belakang Putih atau tidak Pink atau 1
zona pembacaan berwarna kemerahan
Terlihat adanya
Darah yang Tidak terlihat darah kering 1
tertinggal adanya darah pada dinding
pada dinding lubang tempat
lubang tempat meneteskan darah
meneteskan darah atau pada alat
RDT
Garis kontrol Terlihat garis Tidak terlihat garis 1
kontrol kontrol atau alat
tidak diberi label
‘invalid’
Alat RDT Alat RDT
Tidak ada Alat cacat seperti 1
yang cacat RDT retak, tidak
yang cacat berwarna, adanya
gelembung pada
zona pembacaan,
dan alat RDT
tidak diberi label
‘cacat’

1) Semua tes RDT yang sudah digunakan disimpan dan diperiksa oleh
supervisor/crosschecker. Komponen yang dinilai adalah:
a) Pemberian label yang benar.
b) Latar belakang zona pembacaan.
c) Adanya darah yang tertinggal pada dinding alat RDT.
d) Adanya garis control.
e) Pengamatan adanya alat RDT yang cacat.
2) Pemeriksaan ini dilakukan dalam 3 hari setelah pengujian.
3) Penguji harus melakukan tindakan perbaikan jika nilai setiap
parameter (identitas pasien, jam pembacaan, zona pembacaan,
adanya darah pada alat uji, adanya garis kontrol, alat yang cacat)
yang didapat kurang dari 100%.

4.2. Pengujian Lot


a. Kerangka Kerja
Kinerja setiap RDT cenderung bervariasi dari waktu ke waktu.
Oleh sebab itu, WHO dan Foundation Innovative New Diagnos-

45
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

tics (FIND) mengembangkan kerangka kerja untuk menguji RDT


malaria pada tiga tahap utama, yaitu sebelum pembelian, sebe-
lum didistribusikan ke fasilitas pelayanan kesehatan dan sebe-
lum digunakan oleh fasilitas kesehatan tersebut (Gambar 1).

Gambar 5.1. Kerangka Kerja Pengujian Lot RDT (WHO–FIND

Pengujian lot yang dilaksanakan sebelum pengiriman dari pabrik di-


gunakan untuk mengetahui kinerja RDT yang akan dibeli. Pengujian lot
pada tahap ini dapat diatur antara pabrik RDT dan penanggung jawab
panitia pengadaan. Kemudian lot RDT yang akan diuji, dikirimkan ke
laboratorium penguji.
Pengujian lot yang dilaksanakan setelah pengiriman dari pabrik di-
gunakan untuk mengetahui bahwa kualitas RDT tidak terpengaruh oleh
proses transportasi. Dengan kata lain, RDT yang diproduksi dalam jumlah
besar memiliki kinerja yang baik dan memenuhi kriteria yang telah diten-
tukan untuk menunjang pemeriksaan malaria di lapangan.
Pengujian lot sebaiknya dilaksanakan minimal enam bulan sekali
sampai sebelum masa kadaluarsa tiba. Informasi yang didapat setelah
pengujian, yaitu kinerja RDT selama masa simpan dan sebelum diguna-
kan di fasilitas kesehatan. Jika terjadi hal-hal yang tidak biasa dan ada
masalah yang timbul selama pengujian lot RDT, maka informasi tersebut
dapat segera diketahui dan dicarikan solusinya.

46
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Pengujian lot RDT ini merupakan bagian dari program penjaminan


mutu yang berhubungan dengan pembelian RDT maupun dengan pro-
gram eliminasi malaria.

b. Alat dan bahan


1. Semua lot RDT yang telah dibeli dan didistribusikan ke fasilitas
kesehatan.
2. Berdasarkan pedoman dari WHO-FIND (2015), pengujian lot RDT
memerlukan 150 sampel dengan kombinasi P. falciparum dan
pan spesifik (non-falciparum).
3. Koin untuk mengambil sampel RDT secara acak
4. Formulir pencatatan dan pengiriman sampel pengujian lot RDT.

c. Cara Kerja
1. Penentuan Wilayah Sampling
a. Menentukan wilayah sampling di provinsi
b. Menentukan wilayah sampling di kabupaten/kota
c. Menentukan secara acak wilayah Puskesmas dari setiap ka-
bupaten terpilih. Kriteria pemilihan adalah Puskesmas yang
jauh dan dekat jaraknya dengan ibukota kabupaten.
2. Pengambilan Sampel RDT
a. Petugas lapangan harus memastikan konsistensi pengacakan
dan mencegah bias pemilihan sampel RDT.
b. Mengambil kotak RDT yang akan diacak.
c. Mengambil koin mata uang dan memilih salah satu sisi koin
sebagai “Pilih” dan sisi lainnya sebagai “Tolak”.
d. Petugas mengambil satu RDT, kemudian melempar koin ke
atas dan menangkap kembali koin tersebut.
1)Jika yang muncul adalah sisi “Pilih”, maka RDT tersebut ter-
pilih sebagai sampel.
2) Jika yang muncul adalah sisi “Tolak”, maka petugas harus
mengambil RDT yang lain.
3) Koin terus dilempar sampai target mengambil lima RDT
tercapai.
4) Jika jumlah RDT di dalam kotak <5 buah, maka semua RDT
dikirimkan sebagai sampel pengujian lot.
e. Setelah mendapatkan lima nomor RDT per lot sesuai kebu-
tuhan, petugas mengirim semua sampel dengan mengguna-
kan layanan pengiriman paket ke koordinator pengujian lot
RDT di Subdit Malaria, Jakarta.

47
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

f. Subdit Malaria diharapkan menerima 160 RDT untuk masing-ma-


sing nomor lot.

3. Pengiriman RDT dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten


a. Mencatat identitas RDT yang terpilih, yaitu nomor RDT dan
nomor lot RDT di dalam formulir pencatatan (Lampiran 2).
b. Memasukkan RDT dan formulir pencatatan identitas RDT ke
dalam kotak yang agak tebal dan dibungkus rapi.
c. Menuliskan nama dan alamat pengirim di bagian belakang ko-
tak.

Gambar 5. 2. Bagian belakang paket :

d. Menuliskan nama dan alamat tujuan, yaitu pengelola ma laria


di Dinas Kesehatan Kabupaten yang bersangkutan.
Gambar 5. 3. Bagian belakang paket :

e. Pengiriman paket, sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau


sore hari untuk menghindari paparan matahari dan suhu tinggi.
f. Mengusahakan paket RDT terhindar dari sinar matahari langsung.

48
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

4. Dokumentasi dan Pencatatan di Dinas Kesehatan Kabupaten


a. Setelah diterima, pengelola program malaria di Dinkes Ka-
bupaten membuka kotak pengiriman dan memeriksa ke-
lengkapan paket.
b. Jika isi paket dan formulir pencatatan sudah sesuai, pen-
gelola program malaria menyiapkan pengiriman paket ke
Subdit Malaria di Jakarta.
c. Jika ada perbedaan antara isi paket dan formulir pencatatan,
pengelola program malaria harus menghubungi petugas di
Puskesmas pengirim untuk melakukan klarifikasi.
d. Jika diperlukan, pengelola program malaria di Dinkes Kabu-
paten dapat mengkoreksi formulir pencatatan pengiriman,
dengan cara mencoret informasi yang salah dengan 1 garis
mendatar, menuliskan informasi yang benar dan memberi
paraf serta tanggal koreksi.
e. Membuat salinan (fotokopi) formulir pencatatan dan disim-
pan di Dinkes Kabupaten.

5. Pengiriman RDT dari Dinas Kesehatan Kabupaten ke Subdit


Malaria
a. Memasukkan sampel-sampel RDT ke dalam kotak dan di-
bungkus rapi.
b. Menuliskan nama dan alamat pengirim dengan lengkap

Gambar 5. 4. Bagian belakang paket:

49
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

c. Menuliskan nama dan alamat penerima, yaitu:


Gambar 5.5 Bagian depan paket

6. Dokumentasi dan Pencatatan di Subdit Malaria


a. Setelah semua sampel lot RDT terkumpul, koordinator di
Subdit Malaria akan menyediakan label nomor identitas
(ID) untuk masing-masing RDT dan mencatatnya di dalam
basis data.
b. Membuat formulir pencatatan
c. Semua sampel RDT akan dikirm ke laboratorium yang bera-
filiasi dengan WHO-FIND (Poin 2.b).

7. Mengajukan Formulir Permintaan


a. Sub-Direktorat Malaria, Dit P2PTVZ Ditjen Pencegahan &
Pengendalian Penyakit, Kementerian Republik Indonesia
mengajukan surat permohonan untuk melaksanakan pen-
gujian lot RDT dan melengkapi formulir permintaan serta
pengiriman.
b. Formulir dikirimkan melalui email ke koordinator pengujian
lot RDT, yaitu Ms.Jennifer Luchavez ( jluchavez@yahoo.com),
dengan tembusan kepada: Christian Nsanzabana (Christian.
Nsanzabana@finddx.org).
c. Formulir permintaan harus diserahkan kepada WHO dan
FIND setidaknya dua minggu sebelum RDT siap dikirim ke
laboratorium pengujian lot RDT.

50
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

8. Pengiriman ke Laboratorium Penguji


a. Setelah menerima formulir permintaan pengujian lot RDT,
koordinator pengujian lot mengirimkan konfirmasi ke
pemohon, beserta rincian prosedur, jumlah RDT yang diper-
lukan untuk pengujian jarak jauh ini, petunjuk pengiriman
dan biaya.
b. Laboratorium yang telah ditunjuk oleh koordinator pengu-
jian lot RDT adalah:
World Health Organization
United Nations Avenue
c/o Dr. Eva-Maria Christophel
For Ms. Jenny Luchavez
Research Institute for Tropical Medicine
Filinvest Compound, Alabang
Muntinlupa City
1000 Manila, Philippines 1781
Tel: +63-2-807-2628 local 227 (RITM)
c. Penanggung jawab pengujian lot RDT di Subdit Malaria
harus memastikan bahwa biaya pengiriman dan pajak telah
dibayar dan formulir permohonan pengujian lot dimasuk-
kan ke dalam kotak yang sama dengan pengiriman RDT.
d. RDT dikirimkan ke laboratorium yang ditugaskan hanya
setelah menerima konfirmasi.
e. Paket RDT dikirim ke Manila dengan menggunakan kurir
berstandar internasional, seperti DHL.
f. Instruksi dari koordinator pengujian lot RDT harus diikuti
dengan seksama agar pengiriman barang tidak tertahan di
bea cukai.

9. Pengujian Lot RDT


a. Setelah laboratorium pengujian lot menerima RDT yang
dikirimkan, sebuah penilaian awal dilakukan dengan meng-
gunakan panel yang terdiri dari darah negatif malaria dan
positif malaria dengan variasi kepadatan parasit per mikroli-
ter tinggi sampai ke rendah.
b. Panel referensi ini disiapkan sesuai dengan prosedur opera-
sional standar yang sama dan memiliki karakteristik serupa
pada panel yang digunakan di dalam program pengujian
produk.

51
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

c. Untuk menguji kestabilan mutu, sisa RDT disimpan di dalam


suhu yang terkendali, yaitu 37oC dan diuji ulang setelah 18
bulan.

10. Pelaporan Hasil Pengujian Lot RDT


a. Laporan akan dikirim melalui surat elektronik (e-mail)
kepada Subdit Malaria dalam waktu lima hari setelah RDT
yang diuji diterima oleh laboratorium penguji lot.
b. Jika dalam pengujian ditemukan hal-hal yang tidak biasa,
hasil pengujian bisa difoto dan dikirimkan bersama den-
gan laporan final.
c. Subdit Malaria mendokumentasikan hasil pengujian lot
RDT secara berkala.

52
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

BAB 6
PENUTUP

K
emampuan laboratorium malaria di setiap jenjang berbeda, mulai
dari pemeriksaan paling sederhana yaitu pemeriksaan mikroskopik
langsung sampai dengan pemeriksaan yang canggih. Oleh karena
itu, fungsi rujukan laboratorium malaria sangat penting. Agar rujukan
bisa berjalan dengan baik, harus ada jejaring laboratorium yang
berfungsi dengan baik.
Masing-masing laboratorium malaria memiliki fungsi, peran, tugas
dan tanggung jawab yang saling berkaitan, sesuai kemampuan dan
kedudukan dalam jejaring laboratorium malaria. Kegiatan jejaring
laboratorium malaria mencakup standar mutu pelayanan dan
Pemantapan mutu (Quality Assurance).
Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Malaria
di Indonesia dilaksanakan melalui sistem pendekatan fungsi. Sistem
pemantapan mutu laboratorium malaria akan meningkatkan mutu hasil
pemeriksaan melalui berfungsinya komponen–komponen dalam jejaring
laboratorium malaria.
Adanya suatu jejaring laboratorium malaria akan memastikan bahwa
pelayanan laboratorium dilaksanakan sesuai standar. Peraturan Menteri
ini disusun sebagai pedoman yang harus diikuti dalam melaksanakan
jejaring dan pemantapan mutu laboratorium malaria.

53
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

54
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria
LAMPIRAN

1. Formulir Register Laboratorium

55
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

2. Formulir Uji Silang

56
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

3. Formulir Rekap Uji Silang Fasyankes

57
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria
4. Formulir Rekap Uji Silang Kabupaten/Kota

58
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

5. Formulir Rekap Uji Silang Provinsi

59
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

6. Ceklist Pemantapan Mutu Internal

60
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

7. Ceklist Bimbingan Teknis


CHECKLIST
BIMBINGAN TEKNIS petugas laboratorium malaria
Nomor : ……………………………………….
Tempat yang dikunjungi : ………………………………………. Petugas Supervisi
Kabupaten : ………………………………………. Nama :
Provinsi : ........................................................ Tandatangan :
Tanggal Kunjungan : ……………………………………….

Nama Petugas Pendidikan Masa Kerja


No. Pengelola Pelatihan Program Malaria yang
Terakhir di Puskesmas pernah diikuti
Program Malaria

1
2

Masa Kerja Pelatihan


No. Nama Petugas Pendidikan Khusus Laboratorium dan atau
Laboratorium Terakhir di Laboratorium
Mikroskopis Malaria yang pernah
diikuti

1
2

1. Sistem/Jejaring* (khusus Provinsi dan Kabupaten/Kota)


Adakah integrasi dengan laboratorium lain?
1. Ya, sebutkan ………………
2. Tidak
Bagaimana hubungan kerjasama dengan BLK?
1. Baik (bekerjasama dalam hal kegiatan uji silang dan bimtek laboratorium)
2. Biasa saja (kadang-kadang bekerjasama dalam hal kegiatan uji silang dan bimtek
laboratorium)
3. Tidak baik (tidak pernah bekerjasama dalam hal kegiatan uji silang dan bimtek
laboratorium)
Apakah ada upaya untuk dikembangkan menjadi laboratorium intermediate?
1. Ya, caranya ………………
2. Tidak, karena ……………,

2. Indikator/Hasil
Cakupan uji silang*) : ……………………… (baik > 90%)
Hasil Uji silang baik**) : ……………………… (baik > 80%)
*Jumlah laboratorium pelayanan yang mengikuti uji silang di kabupaten/kota dibandingkan dengan
jumlah seluruh laboratorium pelayanan yang memeriksa mikroskopis malaria di kabupaten/kota
** Jumlah laboratorium pelayanan yang memiliki hasil baik dibandingkan dengan jumlah laboratorium
pelayanan yang mengikuti uji silang. Hasil uji silang laboratorium pelayanan dikatakan baik apabila
memiliki nilai : sensitivitas > 70%, spesifisitas > 70%, akurasi > 70%
3. Pembiayaan
Komponen pembiayaan :
1. APBD, proporsi ………………….
2. APBN, proporsi ………………….
3. Global Fund, proporsi …………..
4. Donor lain, proporsi …………….
Apakah direncanakan secara rutin?
1. Ya, periode ………..
2. Tidak, karena ……..

61
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

4. Reagensia

Indikator
Observasi dan
Pertanyaan
Reagen Ada Kedaluarsa Penyediaan
cukup

Giemsa Stok (1 pasien : 0,3 ml) Y T Y T Y T


Apakah semua reagen
pewarna tersedia? Larutan Buffer pH. 7,2 Y T Y T Y T
Bila jawaban tidak ada,
larutan apa yang digunakan ?
sebutkan
1. Aqua
2. Air mineral lain
3. Air sumur
4. PAM
(1 pasien : 10 ml)

Methanol Y T Y T Y T
(1 pasien : 2 ml)

*penyediaan cukup adalah untuk 6 bulan ke depan berdasarkan jumlah pasien 6 bulan sebelumnya
*jika penyediaan tidak cukup, tuliskan jumlah sisa reagensia
Jelaskan bila ada masalah atau kekurangan yang ditemukan :
.......…………………………………………………………………………………………………
Tindakan yang diperlukan :
…………………………………………………………………………………..............................
…………………………………………………………………………………..………………….

63
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

5. Persediaan Laboratorium
Indikator
Observasi dan
Pertanyaan Bahan alat Ada Keadaan Penyediaan
Baik cukup
Apakah bahan-bahan Kaca sediaan (frosted) Y T Y T Y T
ini tersedia? (1 pasien : 1 kaca sediaan)
Kotak sediaan/Box Slide Y T
(1 box slide : 100 pasien/sediaan Y T Y T
darah, box slide digunakan untuk
menyimpan sediaan malaria)
Book slide/ map slide
(1 map slide : 20 sediaan darah, Y T Y T Y T
map slide berguna untuk menge
ringkan sediaan darah apabila
tidak segera diwarnai) à 1 fasyan
kes, cukup memiliki 1 map slide
Pensil 2B atau pensil kaca
(gunanya untuk membuat label/ Y T Y T Y T
identitas pasien pada kaca sediaan
frosted) à 1 fasyankes harus punya
salah satu
Kertas whatman no.2 Y T
(gunanya untuk uji mutu giemsa) Y T Y T
à 1 lembar kertas whatman bisa
dibagi 4 bagian. uji mutu giemsa
dilakukan 1 minggu sekali
Rak pewarna Y T Y T Y T
(gunanya untuk mewarnai sediaan)
à 1 fasyankes wajib
punya 1 set rak pewarna
Lancet Y T Y T Y T
(1 pasien : 1 lancet)
Beaker glass
(gunanya untuk pewarnaan sediaan) Y T Y T Y T
à 1 fasyankes wajib punya 1 buah
beaker glass
Kapas alkohol 70%/alkohol swab (1 Y T Y T Y T
pasien : 1 alkohol swab)

Gelas ukur 10 cc Y T Y T Y T
(gunanya untuk pewarnaan sediaan)
à 1 fasyankes wajib punya 1 buah
gelas ukur 10 cc
Gelas ukur 100 cc Y T Y T Y T
(gunanya untuk pewarnaan sediaan)
à 1 fasyankes wajib punya 1 buah
gelas ukur 100 cc
Botol semprot Y T Y T Y T
(gunanya untuk pewarnaan
sediaan) à 1 fasyankes wajib punya
1 buah botol semprot
Batang pengaduk kaca Y T Y T Y T
(gunanya untuk uji mutu minyak
imersi) à 1 fasyankes wajib punya
1 buah batang pengaduk kaca
Hand counter
(gunanya untuk hitung parasit) à Y T Y T Y T
1 fasyankes wajib punya 1 buah
batang hand counter
Sarung tangan 
1 hari kerja : minimal 1 pasang Y T Y T Y T
sarung tangan disposible

Pipet tetes Y T Y T Y T
(gunanya untuk hitung parasit) à
1 fasyankes wajib punya 5 buah
pipet tetes

64
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Kertas lensa
(gunanya untuk pemeliharaan Y T Y T Y T
mikroskop) à 1 hari kerja :
minimal 1 lembar kertas lensa
Air bersih mengalir
Tiap hari harus ada air keran Y T Y T Y T
mengalir

Botol tetes
(gunanya untuk identifikasi sediaan Y T Y T Y T
malaria) à 1 fasyankes wajib punya
1 botol tetes
Timer
(gunanya untuk pewarnaan Y T Y T Y T
sediaan) à 1 fasyankes wajib punya
1 buah timer
Kertas tissue Y T Y T Y T
Setiap hari harus ada tissue
Rak pengering
(gunanya untuk pewarnaan Y T Y T Y T
sediaan) à 1 fasyankes wajib punya
1 set rak pewarnaan
Kertas label/stiker(gunanya untuk
membuat label/identitas pasien
pada kaca sediaan) à sebagai
pengganti label kaca sediaan
frosted
*penyediaan cukup adalah untuk 6 bulan ke depan berdasarkan jumlah pasien 6 bulan
sebelumnya
*jika penyediaan tidak cukup, tuliskan jumlah sisa reagensia
Jelaskan bila ada masalah atau kekurangan-kekurangan
…………………………………………………………………………………
Tindakan yang diperlukan :
………………………………………………………………………………………

65
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

6. Keamanan Laboratorium

Observasi dan pertanyaan Indikator

Dimanakah pekerjaan laboratorium Pekerjaan lab mikroskopik malaria Y T


mikroskopik malaria dilakukan dilakukan di ruangan yang terpisah

Ada meja yang terpisah untuk pembuatan Y T


sediaan dan pemeriksaan mikroskopis
Apakah laboratorium memiliki ventilasi Ada pencahayaan dan ventilasi Y T
dan pencahayaan ? yang cukup dan aman

Apakah ruangan pemeriksaan Ruangan pemeriksaan bersih setiap hari Y T


sering dibersihkan dengan desinfektan
Apakah kaca sediaan yang telah Kaca sediaan yang telah Y T
dipakai dibuang ? digunakan dibuang sesuai prosedur
Observasi bagaimana Tersedianya tempat pembuangan
pembuangan bahan berbahaya Y T
bahan berbahaya sesuai standar
Apakah pekerja menggunakan Selama bekerja di laboratorium, Y T
jas laboratorium ? pekerja menggunakan jas laboratorium
Apakah jas laboratorium dilepas Jas laboratorium tidak digunakan Y T
bila keluar dari laboratorium? di luar laboratorium
Apakah tersedia sarung Tersedia sarung tangan di laboratorium
tangan di laboratorium? Y T
Apakah sarung tangan di Sarung tangan digunakan sesuai
laboratorium digunakan dengan benar ? dengan prosedur keamanan kerja Y T

Apakah pekerja mencuci tangannya Mengikuti prosedur pencucian


setelah bekerja dengan darah? Y T
tangan yang baik
Apakah tata ruang laboratorium Tata ruangan laboratorium bersih, Y T
terlihat bersih dan baik? cukup menjamin keselamatan kerja
Apakah petugas makan/minum Tidak ada makanan/minuman
di ruangan laboratorium ? Y T
di ruangan laboratorium
Jelaskan bila ada masalah atau kekurangan – kekurangan :
………………………………………………………………………………………
Tindakan yang diperlukan :
………………………………………………………………………………………

66
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

7. Formulir permintaan laboratorium, pencatatan dan pelaporan laboratorium

Observasi dan pertanyaan Indikator

Apakah digunakan formulir permintaan Digunakan formulir permintaan Y T


pemeriksaan malaria untuk setiap pemeriksaan malaria untuk setiap
penderita ? form. Terlampir penderita
Apakah formulir permintaan Formulir permintaan pemeriksaan Y T
pemeriksaan malaria diisi dengan malaria diisi dengan lengkap dan benar
lengkap dan benar ?
Apakah buku register laboratorium Buku register laboratorium malaria Y T
malaria diisi dengan lengkap dan benar diisi dengan lengkap dan benar  
Kapan informasi hasil pemeriksaan Hasil pemeriksaan laboratorium Y T
laboratorium dimasukkan dalam buku dimasukkan dalam buku register
register laboratorium ? laboratorium setiap selesai
Apakah hasil pemeriksaan laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium langsung Y T
dicatat dalam formulir permintaan? dicatat dalam formulir malaria
Berapa lama hasil pemeriksaan Formulir malaria dikirim kembali ke unit Y T
laboratorium dikirim kembali ke unit pengirim paling lambat dalam waktu 1
pengirim ? hari setelah sediaan diterima
Apakah dilakukan kegiatan follow Diperiksa spesimen untuk follow up Y T
up malaria setelah hasil pemeriksaan malaria sesuai dengan spesiesnya :
menunjukkan positif? 1. P. falciparum hari ke 4, 7, 14, 21, 28
Non falcifarum

Untuk Lap rujukan


Observasi dan pertanyaan Indikator

Apakah digunakan formulir uji Digunakan formulir uji silang Y T


silang ? form. Terlampir
Apakah formulir uji silang Formulir uji silang diisi dengan lengkap Y T
diisi dengan lengkap dan benar ? dan benar – yang penting data lengkap
Apakah buku harian petugas uji silang Buku harian petugas uji silang diisi dengan Y T
diisi dengan lengkap dan benar ? lengkap dan benar — harus 
Kapan informasi hasil Hasil pemeriksaan uji silang diberikan
uji silang diberikan? segera setiap selesai pemeriksaan Y T
(maksimal 3 minggu setelah sediaan uji
silang diterima – harus
Apakah ada umpan balik hasil uji silang umpan balik hasil uji silang selalu diberikan Y T
diberikan dari pengelola kabupaten/ dari pengelola kabupaten/kota
kota?

Sistem informasi yang dipakai? ........................................................................................................


Apakah ada format laporan yang sudah dibakukan (contohnya dapat diperlihatkan) Bila tidak, formatnya
laporan yang sudah dilakukan seperti apa?
Pengiriman laporan?
1. Rutin
2. Lengkap
3. Valid
4. Tepat waktu
Apakah ada umpan balik dari pengiriman laporan?
1. Ya
2. Tidak
Bila ya apakah diterima secara berjenjang?
1. Ya
2. Tidak
Bila tidak, permasalahan apa yang memerlukan tindakan perbaikan?...........................................

67
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

8. Mikroskop

Observasi dan pertanyaan Indikator

Apakah ada mikroskop binokuler ? Minimal tersedia 1 mikroskop binokuler Y T

Apakah mikroskop binokuler Supervisor dapat menilai gambar yang Y T


berfungsi dengan baik ? jelas ketika melihat sediaan secara acak
di bawah mikroskop

Apakah mekanik mikroskop posisi kondensor stabil meja sediaan dapat


berfungsi dengan baik? bergerak bebas Y T
makrometer dan mikrometer dapat
berfungsi dengan baik
Apakah ada sumber cahaya yang cukup Bola lampu yang berfungsi, atau cermin Y T
mikroskop diletakkan dekat sumber
cahaya yang cukup
Apakah sering listrik mati pada jam sering listrik mati pada jam kerja Y T
kerja?
Sumber cahaya apa yang dipakai cermin mikroskop / memakai alat lain Y T
selama aliran listrik mati yang bisa dipakai (sebutkan)
Perawatan mikroskop dilakukan dengan
Bagaimana pemeliharaan rutin Y T
mikroskop dilakukan ? Mikroskop disimpan dalam lemari/ kotak
sesuai pedoman

Jelaskan bila ada masalah atau kekurangan – kekurangan : .……………………………..........………………………


Tindakan yang diperlukan : …..…………………………………………………..
…………………..…………………………………………………………………

9. Penyimpanan sediaan untuk cross check

Observasi dan pertanyaan Indikator

Apakah semua sediaan disimpan sesuai Sediaan disimpan terpisah sesuai Y T


kebijakan terbaru untuk cross check ? hasil pemeriksaan positif dan negatif
Apakah sediaan disimpan Sediaan disimpan dalam kotak sediaan Y T
dalam kotak sediaan ?

Apakah sediaan dibersihkan dengan Sediaan disimpan dalam keadaan bersih, Y T


kertas tissu sebelum disimpan ? kering dan bebas dari minyak immersi

Jelaskan bila ada masalah atau kekurangan – kekurangan:


……………………………………………………………………………….
Tindakan yang diperlukan : ………………………………………………………..

10. Kompetensi petugas laboratorium.


Apakah ada pergantian petugas laboratorium sejak kunjungan supervisor yang terakhir?
1. Tidak
2. Ya, jelaskan ............
Apakah petugas yang baru telah mendapat pelatihan laboratorium pemeriksaan mikroskopik malaria
sesuai program?
1. Ya, pada tahun ..............
2. Tidak, karena ...............
Apakah saran-saran pada kegiatan cross check, supervisi, dan panel testing periode sebelumnya perlu
terus dilaksanakan ?
1. Ya
2. Tidak, karena …………………

68
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

11. Beban kerja

Hasil pemeriksanaan sediaan


Jumlah sediaan 1 bulan
terakhir Positif Negatif
Total :

Jumlah sediaan follow up Hasil ulang pemeriksaan laboratorium


1 bulan terakhir Positif Negatif
Total : Hari....... Hari.......
Hari....... Hari.......
Hari....... Hari.......
Hari....... Hari.......

Jumlah rata-rata sediaan yang dibaca tiap teknisi per hari? ……….....………

69
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

12. Sediaan dan prosedur pewarnaan

Observasi dan Pertanyaan Indikator

Apakah bahan pemeriksaan yang 1. Ya


digunakan adalah darah dari ujung jari Y T
2. Tidak
(bayi : pada tumit kaki/ ibu jari kaki)?

Apakah digunakan kaca sediaan Kaca sediaan yang digunakan Y T


yang baru untuk sediaan darah malaria? selalu baru

Apakah kaca tersebut bersih? Kaca terlihat bersih Y T

Apakah sediaan diberi label ? Sediaan diberi label yang berisi


nomor identitas sesuai pedoman Y T

Apakah sediaan dikeringkan Sediaan dikeringkan


di udara terbuka Y T
dalam udara terbuka?

Bagaimana prosedur pewarnaan yang dijelaskan cara pembuatan sediaan Y T


dilakukan oleh petugas laboratorium ? darah)
(jelaskan) 1. Dijelaskan dengan baik dan
benar
2. Dijelaskan dengan baik,
tetapi tidak benar
3. Dijelaskan dengan tidakbaik,
tetapi benar
4. Dijelaskan dengan tidak baik
dan tidak benar
Berapa kali lensa-lensa mikroskop Lensa objektif dibersihkan dengan
dibersihkan dengan kertas lensa? kertas lensa setiap kali selesai Y T
digunakan

Berapa lapang pandang yang diperiksa untuk Pemeriksaan mikroskopis Y T


melaporkan hasil negatif? memeriksa minimal 100 lapang
pandang

Observasi dan Pertanyaan Indikator

Berapa lapang pandang yang diperiksa Diperlukan lapang pandang yang cukup Y
untuk melaporkan hasil positif ? untuk memastikan jumlah positif. Untuk
positif +++ diperlukan pemeriksaan T
paling sedikit 20 lapang pandang, untuk
positif ++ diperlukan pemeriksaan
sedikitnya 50 lapang pandang dan
untuk, positif + diperlukan pemeriksaan
minimal 100 lapang pandang

Bagaimana hasil dilaporkan ? Hasil dan pelaporan sesuai Y


dengan pedoman
T

Apakah sediaan positif dan negatif Y


digunakan untuk pemantapan mutu internal? Sediaan yang positif dan negatif yang belum
diwarnai digunakan untuk kontrol : T
- setiap hari setiap kali digunakan
reagen batch baru

Jelaskan bila ada masalah-masalah/ hambatan


…………………………..…………………………………………….
Tindakan yang diperlukan ………………………….........................................

70
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

13. Rapid Diagnostic Test (RDT)

Observasi dan pertanyaan Indikator

Apakah tersedia RDT di layanan? RDT tersedia hanya di layanan yang tidak Y T
(rumah sakit/puskesmas/DPS/bidan ada fasilitas mikroskiopis (SDM, alat, dan
desa) bahan untuk pemeriksaan mikroskopis)

Dimanakah tempat penyimpanan RDT RDT disimpan pada suhu kamar (<400C) Y T
yang ada?
*untuk prosedur pemeriksaan RDT ada form tersendiri

Pertanyaan terbuka khusus QA RDT di BTKL


- Bagaimana hubungan dengan dinas kesehatan?
- Bagaimana hubungan dengan Rumah Sakit?
- Bagaimana hubungan dengan labkesda?
- Apakah pernah melakukan pemeriksaan dengan RDT?
- Darimana RDT didapat? (pengadaan sendiri/dari pusat/dari pemda)
- Apakah pernah melakukan pemantapan mutu terhadap RDT?
- Apakah bersedia sebagai tempat rujukan untuk pemantapan mutu eksternal RDT?

14. Quality Assurance (Jaga Mutu)


Internal Quality Control
Apakah tersedia dan terpasang di dinding laboratorium :
1. Protap tertulis (pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan RDT, pemeliharaan mikroskop)
2. Bench Aids
Kegiatan yang dilakukan untuk QC internal :
1. Uji mutu giemsa
2. Uji mutu minyak imersi
3. Kalibrasi mikroskop
4. Kalinrasi pipet
5. Lain-lain …..
Eksternal Quality Control
Kegiatan QC eksternal yang dilakukan :
1. Uji silang (crosscheck)
2. Panel testing
3. Supervise/bimtek
Crosscheck
Apakah dilakukan crosscheck untuk sediaan darah malaria?
1. Ya
2. Tidak
Dimanakah kegiatan crosscheck dilaksanakan?
1. BLK/Labkesda
2. Dinas kesehatan
3. Puskesmas
4. Rumah sakit
Apakah diberikan umpan balik hasil crosscheck?
1. Ya
2. Tidak, alasannya …………….

Tes Panel
Apakah pernah dilakukan panel testing?
1. Ya, terakhir tahun :
2. Tidak, alasannya …………….

Dengan dasar hasil tes panel apakah kinerja UPK ybs telah memenuhi standar yang ditetapkan
oleh pedoman ?
1. Ya
2. Tidak, alasannya …………….

15. Pemeriksaan ulang di tempat


a. Supervisor membaca ulang hasil pemeriksaan mikroskopis malaria yang dilakukan oleh petugas
laboratoium dan menilai kualitas pembuatan, kualitas pewarnaan, dan pembacaan sediaan darah
malaria.
Kualitas pembuatan SD malaria :
Kualitas pewarnaan SD malaria :
Kualitas pembacaan SD malaria :
Sensitivitas :

71
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

Spesifisitas :
Akurasi Spesies :
Error Rate :
b. Supervisor laboratorium bersama petugas laboratorium setempat harus memeriksa
ulang minimal 20 sediaan sesuai dengan yang telah disiapkan supervisor.
Kesimpulan pembacaan dari petugas laboratorium setempat :
Sensitivitas :
Spesifisitas :
Akurasi Spesies :
Error Rate :

16. Kesimpulan Umum
a. Masalah operasional :
……………………………………………………………………………………………
b. Masalah teknis :
……………………………………………………………………………………………

17. Saran perbaikan :


Untuk Dinas Kesehatan Provinsi :
…………………………………………………………………………….................…
Untuk Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota :
……………………………………………………………………………………………
Untuk Kementerian Kesehatan :
………………………………………………………………………..........................
Mengetahui, Petugas Laboratorium,
Kepala Instalasi/Kepala UPK

( ) ( )
NIP NIP

72
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

DAFTAR PUSTAKA

1. FIND: Shipping Instructions for Lot-Testing of Malaria RDTs

2. Global Malaria Programme: Procedures for product testing and lot


testing. Information for RDT manufacturers and procures. WHO-
FIND Malaria Rapid Diagnostic Test (RDT) Evaluation Programme.
Geneva, Swiss: 2015: 21

3. Kementerian Kesehatan RI, Ditjen P2P, Dit. P2PTVZ, Pedoman Teknis


Pemeriksaan Parasit Malaria, Jakarta, 2016

4. Kementerian Kesehatan, Permenkes RI No. 68 Tahun 2015 tentang


Pedoman Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria
(Jakarta : 2015

5. Malaria Microscopy Quality Assurance Manual, WHO, 2015

73
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria

74
Petunjuk Teknis Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Malaria