Anda di halaman 1dari 16

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 2, 1 (Juni 2017): 21-36

PERKEMBANGAN TAFSIR DI INDONESIA


( PRA KEMERDEKAAN 1900-1945)

Rifa Roifa, Rosihon Anwar, Dadang Darmawan


Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jl.A.H.Nasution 105 Cibiru Bandung 40614, Indonesia
E-Mail : rifa.roifa@yahoo.com
___________________________

Abstrak

Pada paruh pertama abad ke-20 karya-karya tafsir mulai bermunculan dan berkembang pesat di Nusantara. Hal ini
merupakan fenomena baru, karena pada abad-abad sebelumnya, karya-karya tafsir Nusantara sangat jarang
ditemukan.Ditambah kondisi Indonesia pada masa sebelum masa kemerdekaan berada dalam keadaan yang cukup
sulit dan rumit. Kitab tafsir yang ditulis oleh para mufasir Indonesia saat itu, berupaya membangkitkan semangat
bangsa untuk lepas dari penderitaan walaupun hanya dengan pernyataan yang samar-samar. Penelitian ini
memfokuskan diri pada masalah perkembangan tafsir di Indonesia dari tahun 1900-1945, dilihat dari
karakteristiknya yang meliputi aspek metode, sumber dan corak penafsiran, sebagaimana terlihat pada karya-karya
tafsir yang lahir pada masa itu. Penelitian ini merupakan penelitian studi kepustakaan atas empat karya tafsir dari
tahun 1900-1945 sebagai sumber data primer yaitu; Tafsir Al-Qura>n Kari>m, Tafsir Al-Furqan, Tafsir Malja Al-
Thalibin, dan Tamsiyah Al-Muslimin. Penelitian ini lebih bersifat deskriptif-analitis dengan menggunakan
pendekatan historis. Dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan data-data sebagai berikut: untuk metode
penafsiran yang terdapat pada ketiga tafsir ini yaitu, tafsir Al-Qura>n Kari>m, tafsir Al-Furqan, dan tafsir Malja Al-
Thalibinmenggunakan metode Ijma>li. Sedangkan untuk tafsir Tamsyiah Al-Muslimin ialah Tahli>li. Sumber
penafsiran pada keempat tafsir tersebut masing-masing dari karya tersebut semua sumbernya ialah bil ra‟yi.Untuk
corak tafsir yang terdapat pada kedua tafsir ini yaitu tafsir Al-Qura>n Kari>m, dan Tamsyiah Al-Muslimin adalah corak
adab al-ijtim‟i.Pada tafsir Al-Furqa>n adalah corak lughawi.Adapun pada tafsir Malja Al-Thalibin tidak ada corak
yang dominan, adakalanya Sanusi menafsirkan ayat yang berhubungan dengan masalah fiqih, kalam, atau sufi,ini
menunjukan bahwa sifat coraknya adalah umum. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa pada keempat
tafsir ini karena berada pada masa pra kemerdekaan, tentu saja di dalam penafsirannya ada sedikitnya ayat-ayat yang
menyentuh mengenai motivasi pada semangat perjuangan seperti misal contoh yang ada pada ayat 85 surah Al-
Baqarah dan ayat 71 surah Al-Taubah, yang membuktikan bahwa penulisan karya tafsir pada masa ini ada kaitannya
dengan persoalan sosio-politik yang terjadi dan bahkan dapat menjurus kepada jawaban-jawaban dari masalah yang
terjadi, yang merupakan suatu ciri khas dari karya-karya tafsir masa itu.
Kata Kunci :
Perkembangan tafsir; Pra Kemerdekaan ; Metode; Sumber.
________________________
Abstract
In the beginning of the 20th cerntury, several tafsir emerged and developed significantly in Indonesian archipelago.
This phenomenon was exceptional because there were no documentation on tafsir writing in Indonesia in the
centuries before. It was understandable because of Indonesian condition before independence was tough and
threatening. Thus, the content of tafsir written by Indonesian scholars in this era indicated (indirectly) to raising the
spirit to escapefrom suffering of collonialisation. This article attempts to investigate the development of tafsir in
Indonesia from the periode of 1990 to 1945. This article focuses on the analysis of four tafsir namely: Tafsir Al-
Qura>n Kari>m, Tafsir Al-Furqan, Tafsir Malja Al-Thalibin, dan Tamsiyah Al-Muslimin related to their methods,
sources and approaches. This article based on library research on four tafsir employing descriptive analytical study
and historical approach. This article shows that the methods used in three tafsir such as tafsir Al-Qura>n Kari>m,
tafsir Al-Furqan, and tafsir Malja Al-Thalibin are ijmaly (global). Meanwhile, in tafsir Tamsyiah Al-Musliminthe
author used Tahli>li (analytical) method. The source of interpreting the Qur‟an for these four tafsir are bil ra‟yi
(rational).In term of approach, the two tafsir (tafsir Al-Qura>n Kari>m, andTamsyiah Al-Muslimin) employed adab al-
ijtim‟i (literary and social).Tafsir Al-Furqa>n used lughawi.(linguistics) approach in understanding the Qur‟an, while
tafsir Malja Al-Thalibin no indication of following dominant approach but it was a combination between fiqih,
kalam, and sufi. In these four tafsir, the socio political aspects were emerged to encourage Indonesian people to fight
for independence.
Keywords:
The development of Tafsir ; Pre Independence, Methods, source.
________________________
Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

A. PENDAHULUAN penafsiran yang lebih luas dan rinci.3Dalam


Upaya penulisan tafsir di Indonesia juga periode ini, karya-karya tafsir di Nusantara
sudah lama berjalan, dimulai dari karya Abd bermunculan dan berkembang pesat, hal
Al-Rauf Singkili Tarjuman al-Mustafid, dalam tersebut dibuktikan dengan adanya karya-
tulisan Arab Melayu pada abad ke-17, hingga karya tafsir yang telah mereka wariskan.
Tafsir Rahmat karya H. Oemar di abad ke-20 Tradisi tafsir di Indonesia bergerak pada
ini. Pada masa kurang lebih tiga abad itu telah model dan teknis penulisan yang masih
banyak tafsir Alquran yang dihasilkan. sederhana. Dari segi material, teks Alquranlah
Namun, tidak didapatkan keterangan apakah di yang menjadi objek tafsir, literatur tafsir
setiap abad itu terdapat tafsir Alquran. periode ini cukup beragam. Diantaranya ;
Walaupun terdapat informasi, Syaikh Nawawi Pertama, ada literatur tafsir yang
Banten menulis tafsirnya yang berjudul Tafsir berkonsentrasi pada surat-surat tertentu.
Maroh Labib pada abad ke-19, tetapi tafsir ini sebagai objek penafsiran, misalnya; Tafsir
terbit di Mekah pada permulaan tahun 1880. Alquran Al-Karim,Yasin (Medan: Islamiyah,
Agaknya penulisan tafsir yang terbanyak 1951) karya Adnan Yahya lubis dan Tafsir
barulah pada adab ke-20. Di samping ada Surat Yasin dengan keterangan (Bangil:
tafsir yang berbahasa Indonesia ada pula yang Persis, 1951) karya A. Hassan.Kedua, karya
berbahasa daerah, antara lain: Tafsir Hibarna literarur tafsir yang berkonsentrasi pada juz-
oleh KH. Iskandar Idris (1960), Al-Quran juz tertentu dengan muncul hanya juz 30 (Juz
Jawen dan Al-Quran Sundawiyah (Solo: AB Amma) yang menjadi objek tafsir. Contoh dari
Siti Samsiah, tanpa tahun) dan lain-lain.1 model ini adalah: Al-Burhan, Tafsir Juz
Akhir tahun 1920-an, sejumlah Amma (Padang: Al-Munir, 1922) karya H.
terjemahan Alquran sudah dalam bentuk juz Abdul karim Amrullah. Ketiga, ada yang
per-juz, bahkan seluruh isi Alquran mulai menafsirkan Alquran secara utuh 30 juz, yaitu
bermunculan. Bahkan dalam periode awal misal, Tafsir Al-Qura>n Kari>m (Jakarta:
abad ke-20 tradisi tafsir di Indonesia bergerak Pustaka Mahmudiyah, 1957cetakan VII) karya
dalam model dan teknis yang sudah cukup H. Mahmud Yunus yang pertama kalinya
berkembang. Kondisi penerjemahan Alquran diselesaikan penulisannya pada tahun 1938
semakin kondusif setelah terjadinya sumpah dll.
pemuda pada tahun 1928 yang menyatakan Di Indonesia pada masa ini tepatnya
bahwa bahasa persatuan adalah bahasa sebelum masa kemerdekaan adalah keadaan
Indonesia. Tafsir Al-Furqa>nmisalnya adalah yang rumit, sebab kondisi Indonesia pada saat
salah satu tafsir pertama yang diterbitkan pada itu dalam keadaan terjajah oleh penjajahan
tahun 1928.2 Perkembangan penafsiran Jepang dan sebelumnya oleh Belanda yang
Alquran agaknya berbeda dengan kurang lebih sampai tiga abad setengah, yang
perkembangan yang terjadi di dunia Arab yang tentunya sangat mempengaruhi psikologis
merupakan tempat turunnya Alquran. Oleh masyarakat Indonesia dan kondisi ini tentu
karena itu, proses pemahaman Alquran saja dapat mempengaruhi khazanah tafsir yang
terlebih dahulu dimulai dengan penerjemahan ada di Indonesia. Ditambah lagi problem
Alquran ke dalam bahasa Indonesia, baru internal munculnya gerakan nasionalis salah
kemudian setelah itu dilanjutkan dengan satunya yang kala itu sedang marak, ditambah
lagi dengan permasalahan Indonesia yang
menghadapi berbagai problematika dalam hal
1
M. Amin Aziz, Jurnal Ilmu Dan Kebudayaan menyiapkan proklamasi kemerdekaan.
Ulumul Quran, “Karakteristik Tafsir di Indonesia Abad Dengan demikian, keberadaan kitab
Keduapuluh,” (Jakarta: Lembaga Studi Agama dan
Filsafat (LSAF) dan Ikatan Cendikiawan Muslim se
tafsir yang ditulis oleh para mufasir Indonesia
Indonesia, 1992), Volume III. No. 4, 51.
2 3
Nashruddin Baidan, Perkembangan Tafsir Al- Sulaiman Ibrahim, Pendidikan dan Tafsir
Qur‟an di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Mandiri, “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”,
2003), 62. (Jakarta: LEKAS, 2001), 80.

22 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 2, 1 (Juni 2017): 21-36


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

salah satunya untuk membangkitkan semangat Hal ini juga disebutkan oleh Jalaludin As-
bangsa walaupun hanya dengan pernyataan Suyuti dalam tafsirnya.4
yang samar-samar, juga merespon atau Dengan demikian tafsir adalah suatu ilmu
menjawab tantangan zaman yang kala itu yang di dalamnya berupaya untuk
sedang dalam keadaan yang sulit. Inilah mengungkapkan isi kandungan ataupun
sebabnya ketertarikan penulis akan meneliti makna-makna yang terkandung dalam ayat
lebih lanjut bagaimana perkembangan tafsir di Alquran. Selanjutnya, yang dimaksud dengan
Indonesia sebelum masa kemerdekaan dan karakteristik tafsir ialah suatu sifat yang khas
bagaimana karakteristik tafsir dilihat dari yang melekat dan dapat dijadikan ciri untuk
aspek metode, sumber dan corak karya-karya mengidentifikasi suatu penafsiran. Misalnya
tafsir di Indonesia dari tahun 1900-1945. metode, sumber, laun (corak), teknik
penafsiran, sistematika, dan lain sebagainya.
B. PEMBAHASAN Namun istilah karakteristik sebuah tafsir
1. Pengertian Karakteristik Tafsir dalam Ulu<m al-Tafsi>r sering diidentifikasikan
Secara etimologi, istilah karakteristik lewat metode penafsiran, sumber penafsiran
tafsir tersusun dari dua kata, yaitu kata dan pendekatan atau corak pemikiran
“karakteristik dan tafsir”. Istilah karakteristik penafsiran.
terambil dari bahasa Inggris
yakni characteristic, yang maknanya 2. Pengertian Metode, Sumber dan Corak
mengandung sifat khas. Dalam Kamus Bahasa penafsiran
Indonesia edisi elektronik (2008) karakteristik, Berbicara mengenai karakteristik tafsir
mempunyai sifat khas sesuai dengan maka barang tentu di dalamnya membahas
perwatakan tertentu. mengenai kajian dalam aspek metode, sumber
Sedangkan kata tafsir berasal dari kata al- dan corak atau pendekatan penafsiran. Adapun
fasr yang artinya adalah menjelaskan dan ranah yang akan penulis bahas pertama yakni
mengungkapkan makna. kata tafsir secara yang meliputi tiga aspek berikut ini, yaitu;
etimologi merupakan bentuk mashdar dari a. Metode penafsiran
" ‫تفسيرا‬-‫ يفسّر‬-‫( "فسّر‬fassara yufassiru), yang Untuk pembagian metode tafsir sendiri
secara terminilogi mengandung banyak dibagi empat.5 1) Metode Tahli>li, metode
pengertian: misal salah satu contoh bahwa tafsir tahli>li biasanya diartikan dengan
tafsir berarti menerangkan dan analisis. Yaitu suatu metode tafsir yang
menjelaskan ‫( اإليضاح والتبيين‬al-idhah wa al- mufasirnya berusaha menjelaskan kandungan
tabyin), yaitu ada sesuatu yang semulanya makna ayat-ayat Alquran dari berbagai
tidak ada atau mungkin belum ada dan aspeknya, dengan memperhatikan urutan ayat
memerlukan penjelasan lebih lanjut, sehingga sebagaimana yang tercantum dalam
jelas dan terang. Contohnya firman Allah mushafnya. 2) Metode Ijma>li, metode Ijma>li
ta‟ala dalam Alquran: adalah suatu metode tafsir yang mufasirnya
berusaha untuk menjelaskan kandungan
makna ayat-ayat Alquran secara global tanpa
uraian yang panjang lebar. Contohnya seperti;
“Tidaklah orang-orang kafir datang
kepadamu (membawa) sesuatu yang
4
Imam Al-T}aba>ri>, Tafsir Al-T}aba>ri>, Juz VI Kairo:
Maktabah Ibnu Taimiyah, 387. Lihat juga Tafsir
ganjil, melainkan kami datangkan Jalalain Al-Suyuti Maktabah Syamilah edisi ketiga.
kepadamu suatu yang benar dan yang 5
Keempat metode adalah metode penafsiran yang
paling baik penjelasannya” (Q.S Al- disepakati oleh para ahli tafsir. Hal ini dapat dilihat dari
Furqa>n[25]: 33).” berbagai sumber yang ada. Di antara tokoh yang
Al-T}aba}ri} menyebutkan pada tafsirnya membagi seperti ini adalah a) „Abd Al-Hayy Al-
Farmawi, ia menggunakan istilah manhaj untuk
bahwa makna “tafsira” dalam ayat ini menyebut metode tafsir. b) Ibrahim al-Dasuqi Khamis
maknanya adalah penjelasan dan perincian. dengan istilah manhaj.

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Juni 2017): 21-36 23


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

Tafsi>r Jalalain. 3) Metode Muqaran, metode mazhab batil.10 Adapun status tafsir bila
tafsir muqaran adalah metode yang ditempuh dengan ijtihad semata tanpa ada dasar yang
mufasir dengan cara mengambil sejumlah ayat shahih adalah haram. Sebagaimana firmn
Alquran, kemudian mengemukakan pendapat Allah swt:
para mufasir tentang penafsiran ayat tersebut, …
baik ulama salaf maupun khalaf yang
bersumber manqul atau ra‟yu.6 4) Metode “Dan janganlah kamu mengikuti apa
Maud}u‟i, menurut pengertian istilah para yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
ulama adalah menghimpun seluruh ayat tentangnya.”(Q.S al- Isra> [17]: 36).”11
Alquran yang memiliki tujuan dan tema yang c. Corak Penafsiran
sama.7 Corak penafsiran Alquran atau disbeut
b. Sumber Penafsiran dengan laun ialah hal yang tak dapat
Macam-macam penafsiran dilihat dari dihindari, Berbicara mengenai karakteristik
sumbernya maka terbagi menjadi dua, dan corak sebuah tafsir, di antara para ulama
pertama, tafsir bi al-mathur dan kedua, tafsir yang membuat pemetaan dan kategorisasi
bi al-Ra’yi>>. Namun, sebagian ulama ada yang yang berbeda-beda, ada yang menyusun
menambah tafsir bi al-Isharah, yaitu bentuk pemetaannya dengan tiga arah, yaitu;
menafsirkan dengan cara firasat atau kekuatan yang pertama adalah metode (misalnya;
intuitif yang biasanya dimiliki oleh para metode ayat antar ayat, ayat dengan hadis,
tokoh-tokoh shufi, sehingga sering juga ayat dengan kisah Israiliyyat), yang kedua,
disebut dengan tafsir shufi. Tafsir bi al-mathur teknik penyajian (misalnya; teknik runtut dan
adalah tafsir yang berlandaskan naql yang topikal), dan yang ketiga, pendekatan
shahih, dengan cara menafsirkan Alquran (misalnya; fiqih, falsafi, sufi dan lain-lain).12
dengan Alquran atau sunnah, yang merupakan Adapun di Indonesia yang dikategorikan
orang-orang yang paling tahu tentang tafsir sufi seperti yang telah katakana oleh
kitabullah, atau perkataan tabi‟in yang belajar penelitian sebelumnya adalah Tarju>man al-
tafsir langsung dari para sahabat.8 Mustafid karya Abd Rauf Al-Singkili. Kedua,
Tafsi>r bi al-Ra’yi>, berasal dari kata al- tafsir yang bercorak fiqh adalah tafsir yang
ra‟yu>, secara etimologis bermakna keyakinan, cenderung dengan metode fiqih sebagai
qiyas dan ijtihad. Jadi, tafsi>r bi al-Ra’yi> itu basisnya, atau dengan kata lain tafsir yang
adalah penafsiran yang dilakukan dengan cara berada di bawah pengaruh ilmu fiqih, karena
ijtihad, yaitu rasio yang dijadikan titik tolak fiqih itu sudah menjadi minat dasar
penafsiran.9Ra‟yu> semata yang tidak disertai mufassirnya sebelum dia melakukan upaya
bukti-bukti akan membawa penyimpangan penafsiran.13Tafsir semacam ini seakan-akan
terhadap Kitabullah. Kebanyakan orang melihat Alquran sebagai kitab suci yang berisi
melakukan penafsiran dengan semangat ketentuan perundang-undangan, atau
demikian adalah ahli bid‟ah, penganut menganggap Alquran sebagai kitab
hukum.14Ketiga, yaitu tafsir yang bercorak
falsafi, yang mana kecenderungan tafsirnya itu
6
Badruzzaman M. Yunus dan Eni Zulaiha,
10
Metodologi Tafsir Klasik,80-84. Manna‟ Khalil Al-Qat}t{an, Studi Ilmu-Ilmu Al-
7
Abdul Hayy Al-Farmawi, Metode Tafsir Qur‟an, 488.
Maudhu‟i dan Cara Penerapannya, terj. Rosihon 11
Manna‟ Khalil Al-Qat}t{an, Studi Ilmu-Ilmu Al-
Anwar, cet. 1, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2002), 43- Qur‟an, 489.
12
44. Muhammad Al-Fatih Suryadilaga dkk,
8
Manna‟ Al-Qat}t{an, Mabahits fi> Ulu>m Al-Qur‟a>n, Metodologi Ilmu Tafsir, 12.
13
Terj: Aunur Rafiq el-Mazni, (Jakarta: Pustaka al- Abdul Mustaqim, Aliran-Aliran Tafsir; dari
Kautsar, 2006), 358. Periode Klasik Hingga Kontemporer, (Yogyakarta:
9
Muhammad Al-Fatih Suryadilaga dkk, Kreasi Warna, 2005), 70.
14
Metodologi Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Teras. 2010), Taufik Adnan Amal, dkk,Tafsir Kontekstual Al-
306. Qur‟an, (Bandung: Mîzan, 1990), 24.

24 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 2, 1 (Juni 2017): 21-36


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

dengan menggunakan teori-teori filsafat, atau Sebenarnya kita bisa mencatat bahwa
tafsir dengan dominasi filsafat sebagai pisau pada abad ke-16 di Nusantara telah muncul
bedahnya. Tafsir semacam ini pada akhirnya proses penulisan tafsir. Buktinya telah
tidak lebih dari deskripsi tentang teori-teori ditemukan naskah tafsir surat al-kah}fi [18]: 9
filsafat.15Keempat, tafsir yang bercorak ilmi, yang ditulis pada masa-masa itu, meskipun
adalah tafsir yangcenderung menafsirkan belum diketahui siapa penulisnya,18 teknik
Alqurannya itu dengan memfokuskan tafsir ini ditulis secara parsial berdasarkan
penafsiran pada kajian bidang ilmu surat tertentu.19 Manuskrip ini tertanggal
pengetahuan, yaitu untuk menjelaskan ayat- sebelum tahun 1620 M dibawa ke Belanda
ayat yang berkaitan dengan ilmu dalam yaitu tafsir surah al-kahfi dalam bahasa
Alquran.16 Melayu namun tidak tercantum pengarangnya.
Kelima, tafsir adab al-ijtima>‟i ini adalah b. Abad ke-18 dan ke-19 (abad pra
tafsir yang memiliki kecenderungan kepada modern)
persoalan sosial kemasyarakatan. Tafsir jenis Pada abad ke-18 muncul beberapa ulama-
ini lebih banyak mengungkapkan hal-hal yang ulama sebagai penulis dalam berbagai disiplin
berkaitan dengan perkembangan kebudayaan ilmu termasuk tafsir, meskipun yang paling
masyarakat yang sedang berlangsung. menonjolnya adalah karya yang terkait mistik
Keenam, tafsir yang bercorak lughawi, atau tasawuf, seperti dalam kitab Sayr al-
ialah sebuah tafsir yang cenderung kepada Salik, yang ditulis oleh Al-Palimbani dari
bidang bahasa. Penafsirannya meliputi segi ringkasan kitab Ih}ya „Ulu>m al-Din karya Al-
i‟rab, harakat, bacaan, pembentukan kata, Ghazali.
susunan kalimat dan kesusastraannya. Tafsir c. Abad ke-20 (abad modern sampai
semacam ini selain menjelaskan maksud- tahun 1945)
maksud ayat-ayat Alquran, tapi juga Sejak akhir tahun 1920-an dan seterusnya,
menjelaskan segi-segi kemu‟jizatannya. sejumlah terjemahan Alquran sudah dalam
Ketujuh, tafsir bercorak teologi(Kalam), ialah bentuk juz per-juz, bahkan seluruh isi Alquran
tafsir dengan kecenderungan pemikiran mulai bermunculan.20 Kondisi penerjemahan
Kalam, atau tafsir yang memiliki warna Alquran semakin kondusif setelah terjadinya
pemikiran kalam. Tafsir semacam ini sumpah pemuda pada tahun 1928 yang
adalahsalah satu bentuk penafsiran Alquran menyatakan bahwa bahasa persatuan adalah
yang tidak hanya ditulis oleh simpatisan bahasa Indonesia. Tafsir Al-Furqa>n misalnya
kelompok teologis tertentu, tetapi lebih dari itu adalah tafsir pertama yang diterbitkan pada
merupakan tafsir yang dimanfaatkan untuk tahun 1928.21
membela sudut pandang teologi tertentu.
Paling tidak, tafsir model seperti ini akan lebih 4. Analisis Terhadap Metode Penafsiran
banyak membicarakan tema-tema teologis a. Tafsir Al-Qur’a>n Kari>m22
dibandingkan mengedepankan pesan-pesan
pokok Alquran. Salah satu kitab tafsir yang 18
M. Nurdin Zuhdi, Pasaraya Tafsir Indonesia,
bercorak teologi adalah Tafsir Mu‟tazilah.17 (Yogyakarta: Kaukabapa. 2014), cet. I. 61.
19
Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia: dari
Hermeneutika Hingga Ideologi, 53.
3. Sejarah Penulisan Tafsir di Indonesia 20
Karya awal tentang terjemahan Al-Qur‟an
a. Abad ke-16 hingga abad ke-17 (abad adalah Tafsir Al-Qur‟an Al-Karim yang disusun oleh
pertengahan) Mahmud Yunus, (Jakarta: dimulai tahun 1922 dan
dicetak pertama kalinya secara keseluruhan tahun
1938).
21
Nashruddin Baidan, Perkembangan Tafsir Al-
Muh{ammad H{usein al-Dzaha{bi{,Al-Tafsi}r Wa
15
Qur‟an di Indonesia, 62.
Al-Mufasiru}n, ( Al-Qahirah:, Maktabah Wahbah 2000), 22
Tafsir ini mulai ditulis pada tahun 1922 yang
Juz II, 419. diterbitkan tiga juz dengan huruf Arab-Melayu.
16
Abd. Kholid, Kuliah Madzahib Al-Tafsir, 69. Kemudian ditulis kembali pada tahun Desember 1935
17
Abdul Mustaqim, Aliran-Aliran Tafsir, 70. dengan menafsirkan pada ayat-ayat yang dianggap

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Juni 2017): 21-36 25


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

Karya tafsir yang ditulis oleh Mahmud


Yunus23 (gambar 1 cover tafsir Al-Qur‟a>n Karakteristik tafsir Al-Qura>n Kari>m
Kari>m) yang terdiri dari satu jilid ini karya Mahmud Yunus menggunakan metode
sistematika penulisannya diawali dengan Ijma>li (global), di mana metode ini ditandai
muqadimah pengarang di mana isi muqadimah dengan dimulai menjelaskan makna kata yang
tersebut adalah latar belakang penulis tafsir, dianggap penting, menerangkan ayat yang
selanjutnya langsung masuk pada pembahasan memiliki asba>b al-nuzu>l dan selanjutnya
ayat-ayat Alquran. Adapun cara penulisan menjelaskan setiap ayat dalam Alquran
Tafsir al-Qur‟a>n Kari>m ialah ayat demi ayat dengan uraian yang tidak mendetail dan tidak
dan surah demi surah sesuai dengan urutan menyentuh segala aspek penafsiran.
yang ada dalam mushaf Alquran yang ada Adapun untuk contoh penafsirannya
sekarang ini dan penafsirannya dilakukan dalam tafsir Mahmud Yunus dapat dilihat
secara umum (global) tanpa uraian yang berikut ini:
panjang lebar pada setiap ayatnya. Dengan Q.S At-Taubah [9]: 71
cirinya24 memberi catatan kaki (footnote), juga
menerangkan ayat satu digabung dengan ayat
lain, misalnya, salah satunya penjelasan surah
Al-Baqarah ayat 67-73, ayat 111-112 dan
banyak lagi.
Gambar 1 Cover Tafsir Mahmud Yunus

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki


dan perempuan, sebahagian mereka
(adalah) menjadi penolong bagi
sebahagian yang lain. mereka menyuruh
(mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah
dari yang munkar, mendirikan shalat,
menunaikan zakat dan mereka taat pada
Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan
diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya
penting, dan Mahmud Yunus memberi nama tafsir ini Allah Maha Perkasa lagi Maha
dengan “Tafsir Al-Qur‟an Karim” dengan susah payah Bijaksana.”
diterbitkan berjuz 2 setiap bulan, sedang juz 7 s/d 18 Tafsirannya:
tafsir ini dibantu oleh Almarhum H.M.K Bakry. Pada Orang-orang mukmin baik laki-laki atau
bulan April 1938 tamatlah tiga puluh juz.
23
Mahmud Yunus dilahirkan di sebuah desa yang
perempuan sebagian mereka menjadi
bernama Sungayang, Batusangkar, Sumatera Barat, penolong bagi yang lainnya. Mereka
pada hari Sabtu pada 10 Februari 1899M bersamaan 30 menyuruh yang ma‟ruf dan melarang dari
Ramadhan 1361H.23Ia tumbuh di tengah-tengah yang mungkar, mendirikan shalat,
keluarga terpandang dan taat beragama. Ayahnya, memberikan zakat serta mengikuti
Yunus bin Incek adalah seorang pengajar surau.
Sementara ibunya, Hafsah binti Imam Samiun, adalah
perintah Allah dan rasul-Nya. Maka
anak Engku Gadang M. Tahir bin Ali, pendiri serta orang-orang Mukmin wajib menyuruh
pengasuh surau di wilayah itu. Yang dikutip dari, Saiful dengan yang ma‟ruf dan melarang dari
Amin Ghafur, Profil Para Mufasir Al-Qur‟an, yang mungkar terhadap siapa yang tidak
(Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008), hal. 197. mengikuti jalan kebenaran, meskipun
24
Adapun untuk ciri yang membedakan dengan
tafsir yang lain yaitu, dalam tafsir ini terdapat catatan
pemerintah sendiri. Kezaliman-kezaliman
kaki, sumber penafsiran yang dipakai dari penafsiran yang dibuat orang dalam negeri, wajib
mufasir lain, dan terdapat juga daftar surat dan isi tafsir kaum Muslimin memberantasnya dan
Al-Qur‟an Karim.

26 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 2, 1 (Juni 2017): 21-36


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

menghilangkannya dengan sekuat tenaga. “Tafsir Al-Furqan” terdiri dari satu jilid.
Orang-orang dapat berjuang dengan Tafsir ini mulai ditulis pada tahun 1928.
tulisannya, anggota-anggota dewan Karena penerbitannya diselingi dengan
perwakilan dengan pembicaraannya beberapa kitab yang dianggap perlu oleh
dalam sidang-sidang dewan, ulama-ulama anggota Persatuan Islam (Persis). Pada tahun
dengan perkataan dan fatwanya dan 1941 tafsirnya baru sampai surah Maryam.
begitu seterusnya, sehingga tiap-tiap
orang Islam bertanggung jawab terhadap Gambar 2 Cover Tafsir Al-Furqan
kezaliman yang dibuat orang dalam
negerinya. Apabila yang demikian tidak
dilaksanakan oleh kaum Muslimin, maka
Allah akan mendatangkan siksa, bukan
saja kepada orang-orang yang berbuat
kezaliman, melainkan ke seluruh
penduduk negeri.
Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap
umat muslim hendak selalu mengajak kepada
kebaikan dan melarang hal-hal yang buruk
dalam bentuk apapun. Intinya saling
mengingatkan kepada kebaikan dan hal itu
bisa dilakukan oleh siapapun bahkan kepada
atasan jika seorang budak jika memang Sistematika penulisan tafsir Al-Furqa>n
atasannya melakukan hal-hal yang tidak benar. yang terdiri dari satu jilid ini yaitu dimulai
Berlaku juga bagi pemerintah-pemerintah, dengan kata pengantar, pendahuluan,
perwakilan rakyat jika memang mereka dilanjutkan dengan menuliskan pasal-pasal
melakukan kesalahan dan menyimpang kepada yang terdapat 35 pasal,26 ditambahkan oleh
hal yang tidak dibenarkan agama maka hal itu Abdul Qadir Hassan dengan menuliskan
harus dicegah. petunjuk tema-tema pokok dalam Alquran,
Dengan demikian dapat penulis lihat dari daftar surah Alquran, daftar isi surah Alquran
contoh penafsiran di atas, bahwa penjelasan dalam bahasa Indonesia, daftar isi surah
tafsir yang dilakukan oleh Mahmud Yunus itu Alquran dalam bahasa Arab, dan daftar isi juz
jelas menggunakan metode Ijma>li dilihat dari dalam Alquran.27 Kemudian baru dimulai
cara menafsirkan dimulai dengan menjelaskan penafsiran surah Al-Fatihah hingga Al-Nas.
makna kata dan selanjutnya menafsirkan ayat Ciri lainnya yakni dalam tafsir ini terdapat
yang dianggap penting tanpa menerangkan 4559 catatan kaki yang ditulis dalam kata
berbagai aspek penafsiran. Selain daripada itu pengantarnya.28 Ini merupakan salah satu
Mahmud Yunus ternyata menggunakan keunikan ataupun ciri dari tafsir Al-Furqan>
bahasa-bahasa yang erat hubungannya dengan karya A. Hassan yang membedakan dengan
keadaan dan kondisi zaman pra kemerdekaan karya tafsir lain.
di Indonesia, sebagai suatu pelajaran yang Adapun untuk metode panafsirannya ialah
mesti diambil hikmahnya yang hendak menggunakan metode Ijma>li (global) di mana
dijelaskan oleh Mahmud Yunus. mufasir menafsirkan dengan penjelasan-
b. Tafsir Al-Furqan penjelasan secara global tanpa penjelasan
Tafsir ini ditulis oleh seorang tokoh yang
bernama Ahmad Hassan (gambar 2 cover keturunan India di Singapura, nama bapak ditaruh di
depan. Ayahnya, Ahmad adalah seorang penulis, ahli
tafsir al-Furqan)25 yang dinamai dengan kesusteraan Tamil dan ahli tentang Islam.
26
Lihat. A. Hassan, Tafsir Al-Furqan, ix.
25 27
Nama lengkapnya adalah Hassan bin Ahmad. Ia Lihat. A. Hassan, Tafsir Al-Furqan, hal. xli dan
dilahirkan di Singapura pada tahun 1887, ayahnya xlvi.
28
berasal dari India dan ibunya dari Indonesia. Lazimnya Lihat. A. Hassan, Tafsir Al-Furqan, vii.

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Juni 2017): 21-36 27


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

yang panjang lebar dan tidak menyentuh Sebagaimana para pahlawan melawan
berbagai aspek penafsiran, seperti asbab al- penjajah yang hendak merusak negeri ini.
nuzul, munasabah, nasikh-mansukh, riwayat- Dengan demikian dapat disimpulkan
riwayat dan lain sebagainya. seperti dapat dilihat dari contoh-contoh di atas
Hassan menerangkan makna-makna kata bahwa yang dilakukan oleh A.Hassan dalam
yang dianggap penting untuk diterangkan. Ini menafsirkan Alquran yaitu dengan
sesuai dengan tujuan penulisan tafsir ini menggunakan metode Ijma>li yang diuraikan
sebagaimana penulis paparkan di atas. Bahwa secara singkat dan padat, untuk memudahkan
tujuan dari tulisannya ialah menerangkan arti pembaca dalam memahami Alquran.
tiap-tiap ayat supaya pembaca bisa faham c. Tafsir Malja Al-Thalibin
maknanya dengan mudah. Tafsir ini merupakan salah satu karya
Di bawah ini contoh penafsiran yang pertama yang ditulis oleh Sanusi dengan
penulis akan tuliskan di antaranya: bahasa daerah yaitu bahasa Sunda yang diberi
Q.S Al-Imra>n [3]: 169 nama Malja Al-Thalibin yang artinya
“Panyalindungan santri-santri dina tafsiran
kalamna rabb al-alamin” dan jika
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,
maka maknanya menjadi; “Untuk melindungi
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-
para santri dalam menafsirkan firman Allah
orang yang gugur di jalan Allah itu mati;
yang ada dalam Alquran yang menguasai
bahkan mereka itu hidup29 disisi
sekalian alam”
Tuhannya dengan mendapat rezki.”
Tafsirannya: Gambar 3 Tafsir Malja Al-Thalibin
Orang-orang yang mati di dalam
peperangan di jalan Allah itu janganlah
disangka mereka sudah mati sebagaimana
orang-orang yang mati bisaa. Tidak
sekali-kali! Bahkan mereka itu hidup
pada pandangan Allah selama ada agama
Islam, karena mereka telah korbankan
jiwa-jiwa mereka untuk menyelamatkan
agama Allah yang hendak dihapuskan
oleh musuh-musuh Allah itu, buat mana
terus ditulis amal mereka dengan tidak
putus-putus sebagaimana ditulis amal
orang-orang yang hidup dengan membela
agama, dan di hari Kiamat kelak, Gambar di atas menunjukan dalam tafsir
diberikan kepada mereka sekalian ini ditulis nama-nama tujuh qira‟ah sab‟ah dan
ganjaran mereka yang dikumpulkan- penulisannya dengan menggunakan Arab
kumpulkan itu.30 Pegon.
Ayat di atas menjelaskan begitu luar Adapun untuk metode penafsiran yang
bisaanya orang yang jihad di jalan Allah ada pada karya tafsir ini yang penulis teliti
selama dalam hati mereka ada agama Islam ialah menggunakan metode Ijma>li (global), di
dan terlebih membela agama Islam. mana penafsirannya ditandai dengan langsung
menerangkan dan menafsirkan penggalan kata
dengan uraian yang singkat jelas, bentuk
29
Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan tafsirannya seperti kitab tafsir Jalalain.
alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-
d. Tafsir Tamsyiah Al-Muslimin
kenikmatan di sisi Allah, dan Hanya Allah sajalah yang
mengetahui bagaimana keadaan hidup itu. Tafsir ini juga merupakan karya tafsir
30
Lihat. A. Hassan, Tafsir Al-Furqan, 140. yang ditulis oleh Ahmad Sanusi bin

28 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 2, 1 (Juni 2017): 21-36


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

Abdoerahim, adapun untuk nama yang beliau


beri ke dalam karya tafsir ke dua ini adalah
Tamsjijjatoel-Moeslimien fie Tafsieri Kalami
Robbil-„alamien yang beliau artikan dengan;
“Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh
“Menindakkan sekalian orang Islam, di dalam
dirimu (saudaramu sebangsa) dan
menafsirkan firman Toehan seroe sekalian
mengusir segolongan daripada kamu dari
„alam.”
Gambar 4 Tafsir Tamsyiah Al-Muslimin kampung halamannya, kamu bantu
membantu terhadap mereka dengan
membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika
mereka datang kepadamu sebagai
tawanan, kamu tebus mereka, padahal
mengusir mereka itu (juga) terlarang
bagimu. apakah kamu beriman kepada
sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar
terhadap sebahagian yang lain? tiadalah
balasan bagi orang yang berbuat demikian
daripadamu, melainkan kenistaan dalam
kehidupan dunia, dan pada hari kiamat
mereka dikembalikan kepada siksa yang
sangat berat. Allah tidak lengah dari apa
Gambar di atas menunjukkan penulisan yang kamu perbuat.”
dan metode tafsir Tamsyiah Al-Muslimin Asbab al-nuzul:
Adapun untuk metode penafsiran yang ada Ayat Ini berkenaan dengan cerita orang
pada karya tafsir ini yang penulis teliti ialah Yahudi di Madinah pada permulaan Hijrah.
Yahudi Bani Quraizhah bersekutu dengan
menggunakan metode Tahli>li (analisis), di
suku Aus, dan Yahudi dari Bani Nadhir
mana penafsirannya ditandai dengan memulai
bersekutu dengan orang-orang Khazraj,
menerangkan makna kata dan kemudian
antara suku Aus dan suku Khazraj sebelum
disambungkan dengan penafsiran yang
Islam selalu terjadi persengketaan dan
panjang lebar ditambah dengan menambah
peperangan yang menyebabkan Bani
penjelasan dalam tema tersendiri ketika ada
Quraizhah membantu Aus dan Bani Nadhir
penjelasan yang membutuhkan penjelasan
membantu orang-orang Khazraj, sampai
yang panjang lebar. Seperti contoh di bawah
antara kedua suku Yahudi itu pun terjadi
ini:
peperangan dan tawan menawan, Karena
Mengenai penafsiran Q.S Al-Baqarah [2]:
membantu sekutunya. Tetapi jika
85;
Kemudian ada orang-orang Yahudi
tertawan. Maka kedua suku Yahudi itu
bersepakat untuk menebusnya kendatipun
mereka tadinya berperang-perangan.
Tafsirannya:
Dan Allah ta‟ala mengambil atas mereka
itoe, ampat perdjanjian: 1) Wadjib
meninggalkan saling boenoeh satoe sama
laen, 2) Wadjib meninggalkan mengoesir
orang-orang daripada tempat-tempat ke
diamannja. 3) Wadjib meninggalkan tolong
menolong daripada sekalian satroenja. 4)
Wadjib melepaskan sekalian tawanannja,
akan tetapi mereka itoe berpaling pada

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Juni 2017): 21-36 29


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

ampat perdjandjian jang terseboet itoe, dengan surah Al-Baqarah [2] juga pada ayat
melainkan meneboes orang-orang tawanan, 215.32
oleh karena itoe maka ditoeroenkan atas Adapun untuk tafsiran ayat Alquran
mereka itoe daripada Alloh jaitoe (apakah dengan hadits atau riwayat Nabi salah satu
kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab contohnya dapat dilihat pada surah Al-
(Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian Mumtahanah [60] ayat 12 dijelaskan dengan
yang lain?) yaitoe dengan tiada hadits riwayat Ibn „Asakir.33 Ada juga dengan
meninggalkan saling boenoeh, dan pendapat tabi‟in dan ulama-ulama lain.
mengoesir orang-orang daripada tempat- Dengan demikian, sumber penafsiran
tempat kediamannja, dan bertolong- yang digunakan dalam tafsir Mahmud Yunus
tolongan kepada sekalian satoenja. ialah bi al-Ra’yi>, walaupun ia melakukan
Keterangan: 1) Inilah ajat menjatakan akan penafsiran dalam kitabnya tidak luput dengan
soeatoe ni‟mat daripada beberapa ni‟mat riwayah-riwayah, qaul sahabat, qaul tabi‟in,
daripada Alloh atas sekalian bani Isro-il, pendapat-pendapat para ulama dan mufasir
jaitoe sekalian bani Isro-il di perentah lain. Ia juga menggunakan sumber penafsiran
dengan perentah-perentah jang di dalam primer (mashadir ashliyah) maupun sekunder
ajat-ajat ini, dan di ambil poela (mashadir tsanawiyah) dalam menjelaskan
perdjandjian atas mereka itoe, soepaja ayat-ayat yang ia jelaskan dalam Alquran.
menjalankan segala perdjandjian itoe, serta Namun tetap saja Mahmud Yunus memberi
mereka itoe menerima akan dia. 2) Ajat ini komentar terhadap penafsiran ayat-ayat
menoendjoekan atas haramja dlolim dan dengan tidak keluar dari dukungan dari
haramja menolong orang-orang dlolim.31 sumber lain, yang membuktikan bahwa upaya
Ayat di atas yang ditafsirkan oleh Sanusi Yunus dalam menjelaskan ayat Alquran
merupakan ayat yang menunjukan kepada dengan upaya pemikirannya.
motivasi perjuangan atau kemerdekaan b. Tafsir Al-Furqan
Indonesia. Dengan ditambahkan penjelasan Untuk sumber penafsiran yang ada pada
yang ia cantumkan. tafsir ini ialah penulis temukan Hassan
Dengan demikian dapat disimpulkan rupanya hendak menafsirkan Alquran dengan
metode yang dipakai dalam tafsir Ahmad Alquran sebagaimana dalam tafsirnya salah
Sanusi ialah metode Tahli>li dengan uraian satu contohnya; surah Al-Baqarah [2] ayat 60
yang panjang dan memotivasi, supaya dapat ditafsirkan dengan surah Al-’Ara>f[7] ayat
memberikan pemahaman yang jelas bagi 160.34 Ada juga penafsiran Hassan yang
pembaca dalam memahami Alquran. diperkuat dengan pemdapat ulama, seperti
contoh dalam surah Al-’Ara>f[7] ayat 54.35
5. Analisis Terhadap Sumber Penafsiran Untuk sumber yang penulis temukan
a. Tafsir Al-Qura>n Kari>m dapat disimpulkan bahwa Hassan
Penulis temukan dalam tafsir ini yaitu: menggunakan sumber bi al-Ra’yi> dalam
sumber ashliyahnya yang ada dalam tafsir penafsirannya, terlihat dari setiap ayat yang
Mahmud Yunus, penulis temukan ia ditandai dengan catatan kaki ia menafsirkan
menafsirkan suatu ayat dengan ayat lain dengan pengetahuan atau ijtihadnya yang ia
dengan kata lain menafsirkan Alquran dengan ketahui tanpa menyimpang dengan aturan-
Alquran, salah satu contohnya ketika ia aturan yang ada dalam penafsiran. Namun
menafsirkan surah Al-Baqarah [2] ayat 83. walaupun demikian, ada juga penafsiran yang
Dalam ayat ini ia menjelaskan penafsirannya
32
Lihat. Mahmud Yunus, Tafsir Al-Qur‟an Karim,
17.
33
Lihat. Mahmud Yunus, Tafsir Al-Qur‟an Karim,
31
Lihat. Ahmad Sanusi, Tamsjijjatoel Moeslimien 825.
34
Fie Tafsieri Kalami Robbil-„alamien, ), jilid I Lihat. A. Hassan, Tafsir Al-Furqan, 16.
35
(Sukabumi: Al-Ijtihad, 1937, 255-257. Lihat. A. Hassan, Tafsir Al-Furqan, 302.

30 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 2, 1 (Juni 2017): 21-36


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

diperkuat dengan ayat atau surah lain dan dilanjutkan dengan menghubungkan
pendapat ulama atau mufasir lain, akan tetapi penjelasan kondisi keadaan Indonesia serta
itu hanya ada di beberapa ayat saja. Beliau mengambil petunjuk-petunjuk dari ayat
mencantumkan makna tiap kata yang dianggap Alquran dan pelajaran serta hikmah-hikmah
penting untuk disampaikan, dan mencatumkan dari kisah-kisah umat terdahulu, asbab nuzul,
asba>b al-nuzu>l pada ayat yang memilikinya. riwayat-riwayat. Walaupun Yunus seorang
c. Tafsir Malja Al-Thalibin ulama yang ahli bahasa Arab sebagaimana
Dalam tafsir ini sumber yang penulis latarbelakang pendidikannya mengambil
temukan ialah menggunakan sumber bi al- jurusan Bahasa Arab, namun ia tidak
Ra’yi>¸ di mana penafsirannya itu menafsirkan setiap ayat dengan
menggunakan ijtihad yang didasarkan pada kecenderungan bahasa (lughawi) sesuai
keterangan ayat lain, dan juga banyak keahliannya. Akan tetapi ia tetap menjelaskan
mencantumkan sumber hadits-hadits Nabi makna kata yang dianggap penting untuk
saw, serta pendapat ulama dan mufasir lain. dijelaskan.
Seperti contoh dalam menerangkan mengenai b. Tafsir Al-Furqan
“Membaca Amin setelah Al-Fatihah” di sana Dalam tafsir ini penulis menyimpulkan
terdapat hadits Nabi saw., yang diriwayatkan mengenai corak penafsiran yang ada ialah
dari Abi Hurairah,36 sebagai dukungan bagi bercorak lughawi, di mana penafsiran yang ia
penafsirannya. gunakan banyak membahas makna-makna
d. Tafsir Tamsyiah Al-Muslimin kata yang dijelaskan dengan kaidah-kaidah
Dalam tafsir ini, yang penulis teliti kebahasaan sesuai dengan yang beliau
rupanya sama seperti tafsir sebelumnya, ketahui. Walaupun penafsiran yang beliau
bahwa Sanusi menggunakan sumber bi al- jelaskan hanya mencakup uraian yang umum
Ra’yi> dalam menafsirkan ayat-ayat. Namun atau global saja.
walaupun ia menjadikan sumber pijakan Contoh penfsiran yang menunjukkan
dengan ra‟yi akan tetapi tidak selamanya pada kepada kebahasaan:
ijtihadnya, ia juga menggunakan dan Q.S Al-Baqarah [2]: 1;
mencantumkan penjelasan ayat-ayat lain,
menuliskan banyak hadits-hadits yang
mendukung, serta pendapat ulama dan mufasir “Alif laam miin.”37
lain dalam penafsirannya itu. Tafsirannya:
Menurut sebagian dari tafsir-tafsir, bahwa:
6. Analisis Terhadap Corak Penafsiran
a. Tafsir Al-Qura>n Kari>m
Corak penafsiran biasanya diartikan
warna penafsiran atau dengan kecenderungan 37
Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada
yang ada dalam penafsiran seorang mufasir permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti:
dalam tafsinya, sebagaimana yang telah Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad
penulis paparkan pada bab sebelumnya. dan sebagainya. di antara ahli-ahli tafsir ada yang
Untuk corak yang terdapat dalam tafsir menyerahkan pengertiannya kepada Allah Karena
dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada
ini, penulis menyimpulkan bahwa corak pula yang menafsirkannya. golongan yang
penafsiran yang lebih dominan adalah corak menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama
adab al-ijtima‟, di mana corak ini lebih surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-
menjelaskan mengenai kondisi sosial yang huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para
tengah dihadapi masyarakat pada waktu itu. Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan
untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan
Kebanyakan dari penjelasan tiap ayat dan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-
surah itu ditafsirkan dulu kemudian huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al
Quran diturunkan dari Allah dan Hanya buatan
Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka
36
Lihat. Ahmad Sanusi, Malja Al-Thalibin, 15. buat semacam Al Quran itu.

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Juni 2017): 21-36 31


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

1) “Alif” ringkasan atau potongan huruf Sebagimana contoh penafsiran Ahmad


dari kalimah “Allah” atau “Ana” Sanusi dalam tafsir Malja Al-Thalibindapat
(Aku). dilihat di bawah ini.
2) “Lam” itu ringkasan atau potongan 1) Corak kalamidalam Tafsir Malja Al-
huruf dari “Jibril”, “Allah”, atau Thalibin misalnya ketika Ahmad Sanusi
“Lathif” (Pemanis, Pelemah lembut). memberikan pengantar seputar Alquran,
3) “Mim” itu ringkasan dai potongan Sanusi menjelaskan bagaimana posisi dan
huruf dari “Muhammad”, “A‟lam” kedudukan kitab suci tersebut:
(Yang terlebih mengetahui), atau
“Majid” (Yang amat mulia atau Yang
amat dijunjung). Maka “Alif” “Lam”
“Mim” itu bisa dirangkai bermacam-
macam:
4) Allah, Jibril, Muhammad.
5) Aku, Allah Yang terlebih mengetahui.
6) Allah, Pelemah lembut, Yang amat
mulia.
7) Jadi maksudnya bahwa: Alquran ini ‫ڠ‬ ‫ڠ‬
dari Allah kepada Jibril, kepada
Muhammad.
8) Alquran ini daripadaKu, Allah yang
terlebih mengetahui.
9) Alquran ini dari Allah Pelemah lembut,
Yang amat mulia.38

Ayat ini, menjelaskan mengenai huruf-


huruf muqattha‟ah dalam ayat yang termasuk ‫ڠ‬
ayat mutasyabihat. Dengan menguraikan kosa
kata atau kajian kebahasaan mengenai huruf-
huruf tersebut. Dari penafsiran di atas telihat
bahwa Hassan mencoba menjelaskan tiap-tiap
huruf dengan kaidah yang ada dalam bahasa
‫ڠ‬
Arab sesuai dengan apa yang beliau ketahui
dengan mengerahkan segala pengetahuannya. ‫ڠڠ‬
c. Tafsir Malja Al-Thalibin
Pada karya tafsir ini terlihat juga dalam
penjelasan tafsirannya corak yang menonjol
pada penafsiran ini adalah umum, tidak bisa ‫ڠ‬ ‫ڠ‬
ditentukan secara pasti apa corak yang
menonjol dalam kitab ini. Karena terlihat ‫ڠ‬ ‫ڠ‬
dalam penafsirannya beliau terkadang
menjelaskan penafsiran yang menyangkut hal
yang bernuansa fiqih, teologi, dll seperti
terlihat pada halaman 12 yang menjelaskan
mengenai hukum membaca Al-Fatih}ah} dalam ‫ڠ‬
shalat.

38
Lihat. A. Hassan, Tafsir Al-Furqan, 2.

32 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 2, 1 (Juni 2017): 21-36


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

Kutipan ini menunjukan secara jelas sikap Fatihah ini tidak bisa diganti dengan
Sanusi sebagai pembela Aswaja dalam membaca surat lain. Tafsir Malja Al-
bidang teologi, khususnya dalam menyikapi Thalibin bahkan memaparkan banyak
masalah kedudukan Alquran. Secara hadits-hadits mengenai keharusan
teologis, madzhab Aswaja menganut ajaran membaca Al-Fatihah dalam shalat.
bahwa Alquran bukan makhluk. Ini Hadits-hadits itu jelas menunjukkan
berseberangan dengan kelompok Mu‟tazilah kewajiban membacanya dalam setiap
yang melalui teologi rasionalnya rakaat baik imam atau makmum, nyaring
menempatkannya sebagai makhluk dan atau pelan-pelan.
karenanya berlaku hukum sejarah atasnya. 3) Corak sufi Ahmad Sanusi dalam Tafsir
Sekte yang lahir di saat perdebatan teologi Malja Al-Thalibin, sebagaimana terdapat
berjalan dengan bebas ini mencoba penafsiran pada surat Al-Fatih}ah} [1]: 1-7
mengajukan pandangan bahwa Alquran ‫ڠ‬
adalah mushaf yang diciptakan oleh ruang
dan waktu tertentu, sehingga kedudukannya ‫ڠ‬
adalah profan. Melalui perspektif ini,
kalangan Mu‟tazilah menempatkan Alquran ‫ڠ‬ ‫ڠڠ‬ ‫ڠ‬
itu sepenuhnya sebagai bacaan independen
yang memberikan ruang interpretasi secara
bebas, tanpa kungkungan dokttinal apapun.
‫ڠ‬
Sanusi sebagai ulama yang memegang teguh
ideologi Aswaja tentu saja berkepentingan 39
untuk menegaskan sikapnya atas masalah ini.
2) Corak fiqih Ahmad Sanusi dalam Tafsir Dapat disimpulkan dari contoh-contoh di
Malja Al-Thalibin, sebagaimana terdapat atas bahwa corak yang terdapat pada tafsir
penafsiran pada hukum membaca surat Malja Al-Thalibin ini tidak dapat dipastikan
Al-Fatih}ah} [1]: 1-7 apakah coraknya itu fiqih, falsafi, lughawi
atau yang lainnya. Adakalanya Sanusi
‫ڠ‬ menafsirkan ayat yang berhubungandengan
masalah fiqih, kalam, atau sufi.Dengan
demikian coraknya bersifat umum.
d. Tafsir Tamsyiah Al-Muslimin
Dalam penafsiran kitab tafsir ini
penulis menemukan bahwa corak yang ada
pada tafsir ini yakni adab al-ijtima>‟i, di mana
penafsiran yang ada menunjukkan kepada hal-
hal yang bersangkutan pada hal yang
bersangkutan sosial kemasyarakatan yang
‫ڠ‬ ‫ڠ‬ sedang terjadi. Juga, karena tafsir ini ada di
zaman masa pra kemerdekaan tentu saja ada
sedikitnya bahasa yang digunakannya dengan
memotivasi pada semangat perjuangan
‫ڠ‬ Indonesia. Seperti pada surah Al-Baqarah [2]
ayat 85 di sana ada bahasa atau menunjukan
kepada semangat untuk merdeka.
Menurutnya, membaca Al-Fatih}ah} ketika
shalat hukumnya wajib menurut madzhab 39
Yuliawati, “Karakteristik Tafsir Malja Al-
al-Syafi‟i, Maliki, Hanbali, dan jumhur Thalibin (studi pada sumber, metode dan corak tafsir)”
ulama. Kewajiban membaca surat Al- , S-1 Kearsipan Fakultas Ushuluddin, UIN Bandung,
2016, 87-89.

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Juni 2017): 21-36 33


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

4. Ciri Khas Penafsiran pada Karya-Karya perkembangannya tafsir dari abad ke abad
Tafsir Tahun 1900-1945 mengalami perkembangan dilihat dari
Setelah penulis meneliti mengenai banyaknya karya tafsir yang dihasilkan,
metode, sumber dan corak penafsiran pada struktur penulisan, mufasir serta dari hal
keempat karya tafsir masa itu. Maka setelah spesifik mengenai karakteristik penafsiran
itu,selanjutnya penulis menemukan mengenai yang telah penulis teliti dari segi metode,
ciri khas yang terdapat pada semua karya tafsir sumber dan corak penafsiran yang ada pada
tersebut. Singatnya ciri khas adalah sesuatu karya-karya tafsir tahun 1900-1945 di
yang dapat dibedakan dengan yang lain. Indonesia pada masa pra kemerdekaan.
Dalam hal ini, mengenai ciri khas yang Adapun untuk karya tafsir yang ada dan
terdapat pada keempat karya tafsir yang ada telah penulis teliti di antaranya; Tafsir
pada masa itu ialah kental dengan keadaan Mahmud Yunus (Alquran al-Karim), Tafsir A.
sosio-politik di mana masyarakat Indonesia Hassan (Al-Furqan), Tafsir Ahmad Sanusi
berada dalam keadaan yang cukup rumit, (Malja Al-Thalibin dan Tamsyiah Al-
karena keadaan mereka pada saat itu dalam Muslimin). Maka pada keempat tafsir yang
keadaan terjajah, ditambah dengan masalah- berada pada masa kemerdekaan Indonesia
masalah yang lainnya seperti masalah internal yang dilihat dari segi karakteristik metode,
yang terjadi pada masyarakat Indonesia sumber dan corak penafsiran itu untuk
dengan munculnya berbagai gerakan dari kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian
organisasi-organisasi. ini dapat diuraikan sebagai berikut:
Dengan lahirnya karya-karya tafsir 1. Metode
tersebut menunjukkan bahwa sedikitnya Untuk metode penafsiran yang ada pada
penafsiran-penafsiran para mufasir Indonesia ke dua tafsir yaitu Alquran al-Kari, Al-
mempunyai niat untuk memberikan motivasi Furqa>ndan Malja Al-Thalibin adalah metode
melalui karya tulisan mereka yang berupa Ijma>li (global), di mana penjelasan tafsirannya
karya tafsir, walaupun hanya dengan itu bersifat global atau umum, uraiannya
pernyataan-pernyataan yang samar-samar. Ini singkat padat dengan penjelasan yang mudah
dapat dibuktikan dengan melihat corak dipahami oleh pembaca. Sedangkan pada
penafsiran karya-karya tersebut pada arah karya Ahmad Sanusi yaitu Tamsyiah Al-
sosial kemasyarakatan. Muslimin adalah metode Tahli>li, di mana
Dengan demikian, ciri khas pada karya penafsiran yang ada dalam kedua karya
tafsir tahun 1900-1945 kental dengan keadaan tersebut penjelasannya banyak yang dijelaskan
sosio-politik. Pada keempat tafsir ini karena dengan rinci dan menyentuh aspek lain selain
berada pada masa pra kemerdekaan, tentu saja seperti, qira‟ah sab‟ah dll.
di dalam penafsirannya ada sedikitnya ayat- 2. Sumber
ayat yang menyentuh mengenai motivasi pada Sumber penafsiran yang ada pada ke
semangat perjuangan seperti misal contoh empat karya tafsir ini seluruhnya
yang ada pada ayat 85 surah Al-Baqarah dan menggunakan tafsir yang berpijak pada ijtihad
ayat 71 surah Al-Taubah, yang membuktikan mufasir, dengan kata lain menggunakan
bahwa penulisan karya tafsir pada masa ini sumber bil ra‟yi di mana penafsirannya itu
ada kaitannya dengan persoalan sosio-politik banyak ditafsirkan oleh pemahaman dan
yang terjadi dan bahkan dapat menjurus pengetahuan mufasir dengan mengunggkap isi
kepada jawaban-jawaban dari masalah yang kandungan yang ada pada ayat-ayat Alquran.
terjadi, yang merupakan suatu ciri khas dari Namun pada dasarnya semua karya-karya
karya-karya tafsir masa itu. tafsir itu tetap menuliskan sumber-sumber
lain, dengan tidak mengesampingkan sumber-
C. SIMPULAN sumber lain seperti ayat-ayat lainnya yang
Berdasarkan dari penelitian yang telah mendukung pada penafsiran yang dijelaskan,
penulis teliti adalah bahwa dalam hadits-hadits nabi, keterangan sahabat dan

34 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 2, 1 (Juni 2017): 21-36


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

tabiin, pendapat ulama dan mufasir lain dan Filsafat (LSAF) dan Ikatan
sebagai dukungan dalam memperkuat Cendikiawan Muslim se Indonesia,
tafsirannya. Volume III. No. 4, 1992.
3. corak Baidan, Nashiruddin. Metodologi Penafsiran
Dalam segi corak penafsiran yang dapat Alquran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
diketahui penulis dari keempat karya tafsir ini 1998.
ialah berbeda, untuk tafsir Alquran Al-Karim .__________________ Perkembangan Tafsir
karya Mahmud Yunus adalah corak adab al- Alquran di Indonesia. Yogyakarta:
ijtima, di mana penulis melihat dari Pustaka Mandiri, 2003.
penafsirannta itu banyak uraian yang dikaitkan Darmawan, Dadang. “Pengaruh
dengan apa yang terjadi pada kejadian sosial Pembaharuan Terhadap Perkembangan
kemasyarakatan yang sedang terjadi pada Tafsir di Indonesia Tahun 1900-
masa itu. Pada tafsir Al-Furqan, corak yang 1945”(laporan penelitian). Fakultas
penulis telah teliti lebih ke corak lughawi, Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati
sebab Hassan senantiasa ketika menjelaskan Bandung, 2013.
makna tata kebahasaan dengan lebih detail. Al-Dzahabi,Muhammad Husein.Al-Tafsir Wa
Untuk tafsirini seperti halnya tafsir Mahmud Al-Mufasirun. Maktabah Wahbah: Al-
Yunus yaitutafsir Tamsyiah Al-Muslimin Qahirah,2000.
adalah bercorak adab al- ijtima‟i maksudnya Eni Zulaiha, dan Badruzzaman M.
coraknya lebih membahas dan mengaitkan Yunus.Metodologi Tafsir Klasik. tt.th. tp.
penafsirannya dengan sosial kemasyarakatan Al-Farmawi, Abdul Hayy.Metode Tafsir
sebagai tujuan dari menjawab persoalan yang Maudhu‟i dan Cara Penerapannya, terj.
sedang terjadi di kala itu. Adapun pada karya Rosihon Anwar. Bandung: CV. Pustaka
tafsir Malja Al-Thalibhincorak yang terdapat Setia. 2002.
dalam tafsir ini tidak ada yang dominan, Al-Fatih, Suryadilaga, dkk.Metodologi Ilmu
dengan demikian corak yang ada dalam tafsir Tafsir. Yogyakarta: Teras, 2010.
ini adalah bersifat umum. Gusmian, Islah.Khazanah Tafsir Indonesia:
Dengan demikian, pada keempat tafsir ini dari Hermeneutika Hingga Ideologi.
karena berada pada masa pra kemerdekaan, Jakarta: Teraju, 2003.
tentu saja di dalam penafsirannya ada Hassan, A, Tafsir Al-Furqan.Bangil: UD.
sedikitnya ayat-ayat yang menyentuh Pustaka Tamaam,2014.
mengenai motivasi pada semangat perjuangan Ibrahim, Sulaiman. Pendidikan dan Tafsir
seperti misal contoh yang ada pada ayat 85 “Kiprah Mahmud Yunus dalam
surah Al-Baqarah dan ayat 71 surah Al- Pembaruan Islam.”Jakarta: LEKAS,
Taubah, yang membuktikan bahwa penulisan 2001.
karya tafsir pada masa ini ada kaitannya Izzan, Ahmad. Metodologi Ilmu Tafsir.
dengan persoalan sosio-politik yang terjadi Bandung: Tafakur,2011.
dan bahkan dapat menjurus kepada jawaban- Kholid, Abd. Kuliah Madzahib Al-Tafsir.
jawaban dari masalah yang terjadi, yang IAIN Sunan Ampel Surabaya: Fakultas
merupakan suatu ciri khas dari karya-karya Ushuluddin, 2003.
tafsir masa itu. Mustaqim, Abdul.Aliran-Aliran Tafsir;
dari Periode Klasik Hingga
DAFTAR PUSTAKA Kontemporer. Yogyakarta: Kreasi
Amal, Taufik Adnan dkk. Tafsir Kontekstual Warna, 2005.
Alquran. Bandung: Mizan, 1990. Al-Qaththan, Manna. Mabahits fi Ulum
Amin Aziz, M. “Karakteristik Tafsir di Alquran, Terj: Aunur Rafiq el-Mazni.
Indonesia Abad Keduapuluh,” Jurnal Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2006.
Ilmu Dan Kebudayaan Ulumul
Quran.Jakarta: Lembaga Studi Agama

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Juni 2017): 21-36 35


Rifa Roifa, Rosihon Anwar dan Dadang Darmawan Perkembangan Tafsir Di Indonesia (Pra Kemerdekaan
1900-1945)

Sanusi, Ahmad. Tamsjijjatoel Moeslimien Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam


Fie Tafsieri Kalami Robbil-„alamien. di Indonesia. Jakarta: Hidakarya
Sukabumi: Al-Ijtihad, 1937. Agung,1984.
Shihab, M. Quraish.Membumikan ______________ Tafsir Qur‟an
Alquran.Bandung: Mizan, 1992. Karim.Jakarta: PT. Mahmud Yunus Wa
Yuliawati, “Karakteristik Tafsir Malja Al- Dzurriyah, 2011.
Thalibin (studi pada sumber, metode Yusuf, Kadar M. Study Alquran. Jakarta:
dan corak tafsir)” (skripsi). Jurusan Amza, 2009
Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin, Zuhdi, M. Nurdin.Pasaraya Tafsir
UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia.Yogyakarta: Kaukabapa,
2016. 2014.

36 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 2, 1 (Juni 2017): 21-36