Anda di halaman 1dari 64

Saifullah Idris, Ada empat bentuk perlindungan bagi guru menurut UU NOMOR

14 TAHUN 2005 PASAL 39 ayat 2, yaitu: (1) meliputi perlindurrgan hukum, (2)
perlindungan profesi, (3) perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, dan (4)
pengakuan atas kekayaan intelektual. Berkenaan dengan perlindungan profesi, terdiri
dari: pertama, Perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai
dengan peraturan perundang-undangan; kedua, pemberian imbalan yang tidak wajar;
ketiga, pembatasan dalam menyampaikan pandangan; keempat, pelecehan terhadap
profesi; dan kelima, pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam
melaksanakan tugas. Berkenaan dengan perlindungan yang pertama, di antaranya
adalah: Penugasan guru pada satuan pendidikan harus sesuai dengan bidang keahlian,
minat, dan bakatnya, Penempatan dan penugasan guru didasari atas perjanjian kerja
atau kesepakatan kerja bersama, dan Pemberian sanksi pemutusan hubungan kerja
bagi guru harus mengikuti prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-
undangan atau perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. Berkenaan dengan
yang kedua, di antaranya adalah: Penyelenggara atau kepala satuan pendidikan formal
wajib melindungi guru dari praktik pembayaran imbalan yang tidak wajar. Berkenaan
dengan yang ketiga, di antaranya adalah: Setiap guru memiliki kebebasan akademik
untuk menyampaikan pandangan, Setiap guru memiliki kebebasan untuk:
mengungkapkan ekspresi, mengembangkan kreatifitas, dan melakukan inovasi baru
yang memiliki nilai tambah tinggi dalam proses pendidikan dan pembelajaran,
Kebebasan dalam memberikan penilaian kepada peserta didik: substansi, prosedur,
instrumen penilaian, dan keputusan akhir dalam penilaian, dan ikut menentukan
kelulusan peserta didik: penetapan taraf penguasaan kompetensi, standar kelulusan
mata pelajaran atau mata pelatihan, dan menentukan kelulusan ujian keterampilan
atau kecakapan khusus. Berkenaan dengan yang keempat, diantaranya adalah: Setiap
guru harus terbebas dari tindakan pelecehan atas profesinya dari peserta didik, orang
tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain; Kebebasan untuk berserikat
dalam organisasi/asosiasi profesi: mengeluarkan pendapat secaralisan/tulisan atas
dasar keyakinan akademik, memilih dan dipilih sebagai pengurus organisasi/asosiasi
profesi guru, bersikap kritis dan obyektif terhadap organisasi profesi. Dan berkenaan
dengan yang kelima, diantaranya adalah: Setiap guru yang bertugas di daerah konflik
harus terbebas dari berbagai ancaman, tekanan, dan rasa tidak aman; Kesempatan
untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan formal: akses terhadap sumber
informasi kebijakan, partisipasi dalam pengambilan kebijakan pendidikan pada tingkat
satuan pendidikan formal, dan memberikan masukan dalam penentuan kebijakan pada
tingkat yang lebih tinggi atas dasar pengalaman yang terpetik dari lapangan.
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menerbitkan Surat Keputusan (SK) Nomor 424.05/Kep.
576-Disdikpora/2016 tanggal 9 Juni 2016 tentang Pembentukan Tim Pembela Guru
Kabupaten Purwakarta. Terbitnya SK tersebut dilatarbelakangi oleh kasus orang tua
siswa yang memukul seorang kepada Sekolah karena tidak terima anaknya di beri
hukuman disiplin oleh sang Kepala Sekolah. Menyikapi kasus tersebut, Dedi
menyampaikan kalau ada anak yang sulit didik di sekolah, maka dia dikembalikan saja
kepada orang tuanya, biar orang tuanya yang mendidiknya sendiri.

Keberpihakan Kepada Guru

Terbitnya SK tentang Pembentukan Tim Pembela Guru di Purwakarta dapat dibaca


sebagai bentuk keberpihakan Bupati terhadap guru. Dengan adanya SK tersebut, Dedi
berharap guru di Purwakarta dapat tenang dalam melaksanakan tugas, tidak perlu takut
mendapatkan tindakan kekerasan dan kriminalisasi. Dengan demikian, Bupati
Purwakarta telah menunjukkan political will terhadap perlindungan guru.

Berkaitan dengan perlindungan guru, pasal 39 ayat (1) Undang-undang Nomor 14


Tahun 2005 menyebutkan bahwa “pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat,
organisasi profesi, dan/ atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan
terhadap guru dalam melaksanakan tugas. Selanjutnya pada pasal (2) disebutkan
bahwa “perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan
hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Selanjutnya pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru juga
diatur tentang jenis-jenis perlindungan guru seperti; (1) hukum, (2) profesi (3)
keselamatan dan kesehatan kerja, dan (4) hak atas kekayaan intelektual. Dari empat
jenis perlindungan tersebut, kasus yang paling menonjol adalah yang berkaitan dengan
perlindungan hukum mengingat sudah banyak kasus guru yang mendapatkan tindakan
kekerasan dan dikriminalisasi atas tindakannya mendisiplinkan peserta didik.

Hal yang menjadi dasar pengaduan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru
adalah melanggar Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Pelrindungan Anak.
Oleh karena itu, guru menjadi takut, gamang, bahkan apatis dalam bekerja. Yang
penting datang ke sekolah, ngajar, sampaikan materi, lalu pulang. Masalah pembinaan
sikap, moral, dan akhlak siswa, guru (terpaksa) tidak mau peduli, karena takut
melanggar UU perlindungan anak.

Dalam mendidik dan memberikan hukuman disiplin, guru sebenarnya sudah memiliki
payung hukum. Pasal 39 ayat (1) PP Nomor 74 tahun 2008 menyebutkan bahwa "Guru
memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar
norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulismaupun tidak
tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan
perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah
kewenangannya."
Berdasarkan kepada hal tersebut di atas, pada dasarnya guru tidak perlu khawatir
dilaporkan kepada aparat kepolisian ketika memberikan hukuman disiplin sepanjang
sesuai dengan aturan yang berlaku, tetapi adanya pemberitaan media tentang kasus
kekerasan dan kriminalisasi terhadap guru yang di blow up menjadikan guru takut
dalam melaksanakan tugas.

Inilah hebatnya media yang kadang dapat memutarbalikan fakta dan cerita. Prinsip
media adalah bad news is good news.Oleh karena itu, media pun, seharusnya memiliki
tanggung jawab moral dalam membuat sebuah berita yang objektif dan proporsional,
jangan ikut memprovokasi, karena sekali berita tersebar di media, maka dalam hitungan
detik, berita tersebut dapat tersebar kemana-mana, apalagi dengan adanya media
sosial, mudah sekali sebuah informasi tersebar. Dan kadang adanya berita kekerasan
terhadap guru menjadi contoh sehingga kasus yang sama terulang.

SK Bupati Purwakarta tersebut kalau Saya telaah hanya fokus kepada urusan
perlindungan hukum guru, belum menyentuh tiga jenis perlindungan yang lainnya, yaitu
perlindungan profesi, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, serta
perlindungan atas hak kekayaan intelektual. Walau demikian, hal ini bisa dipahami
karena saat ini yang paling mendesak adalah perlindungan hukum kepada guru.

Bupati Purwakarta telah menjadi pionir dalam perlindungan hukum bagi guru. Semoga
hal ini diikuti oleh para Kepala Daerah lainnya dan pemerintah pusat untuk segera
menerbitkan pedoman teknis perlindungan guru, karena selama ini regulasi yang ada
masih bersifat umum, belum pada tataran teknis dan praktis agar guru benar-benar
terlindungi dalam melaksanakan tugas.

Penulis, Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat.

Oleh:

IDRIS APANDI
ontoh laporan desiminasi

LAPORAN PELAKSANAAN DISEMINASI


BIMTEK PELINDUNGAN KEPROFESIAN BAGI GURU
PENDIDIKAN MENENGAH
BOGOR 2017

Oleh:
DADANG, S.Pd
NUPTK : 4552 7656 6620 0032
dadangperiatna@gmail.com

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT


SMK NEGERI 1 HAURWANGI
KABUPATEN CIANJUR
2017
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa
memberikan limpahan rahmat dan hidayahnya, serta kesehatan sehingga laporan
desiminasi bintek perlindungan profesi bagi Guru pendidikan menengah di wilayah
masing masing dapat terselesaikan. Kegiatan desiminasi tersebut merupakan suatu
bentuk kepedulian dan rasa tanggung jawab kami selaku peserta bimtek perlindungan
profesi bagi guru dikmen yang dilaksankan oleh kementrian pendidikan subdit
kesharlindung dikmen di Bogor Jawa Barat.
Bimtek perlindungan profesi bagi guru dikmen tersebut merupakan upaya
penyuluhan pengetahuan mengenai perlindungan profesi yang selama ini sangatlah
tabu bagi guru dikmen(SMA/SMK/MA), sehingga pada aplikasinya banyak pelanggaran
yang didapat tenaga pendidik yang menjadikan terampasnya hak dan kewajibannya
sebagai profesi mulia tersebut. Guru merupakan profesi yang setara dengan profesi
lainnya seperrti di bidang kedokteran, profesi tersebut sejalan dengan amanah undang
undang mencerdasakan kehidupan bangsa dan berakhlak mulia selayaknya
mendapatkan perlindungan baik secara hukum, kesehatan, pengembangan diri dan
kesejahteraan, hal ini masih sangatlah minim diketahui yang mengakibatkan banyak
penyimpangan dan kesenjangan social hingga kasus hukum persidangan. Melalui
pengetahuan tersebut diharapkan adanya perubahan yang lebih baik dalam
perlindungan profesi guru sehingga kenyamanan dirasakan oleh semua guru yang
berdampak pelayanan pendidikan lebih baik.

Cianjur, Maret 2017

penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………………………………………………………………….. i


Daftar Isi ………………………………………………………………………… ii
BAB. I Pendahuluan
a. Pengertian pelindungan guru …………………………………………… 1
b. Tujuan Desiminasi ………………………………………………………. 1
c. Manfaat Desiminasi ……………………………………………………... 2
BAB. II Pelaksanaan Program
a. Tempat pelaksanaan …………………………………………………….. 3
b. Waktu Pelaksanaan ……………………………………………………… 3
c. Respon Hasil Desiminasi ………………………………………………... 3
BAB. III Penutup
a. Kesimpulan ……………………………………………………………… 5
b. Saran …………………………………………………………………….. 5
Lampiran Daftar Hadir
Lampiran Foto Kegiatan Diseminasi

ii

BAB I
PENDAHULUAN
a. Pengertian perlindungan guru
Undang undang No. 14 tahun 2005 menegaskan guru adalah pendidik professional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,
dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sejalan dengan itu UNESCO
menegaskan status guru sebagai tenaga profesional yang harus mewujudkan
kinerjanya di atas landasan etika profesional serta mendapat perlindungan professional.
Pada aplikasinya banyak ditemukan kasus mengenai ketidaksesuai dengan seperti
guru mendapatkan kasus kriminalitas dalam memberikan pendidikan, kesewenang
wenangan birokrasi sepihak, diskriminasi hak guru dalam mendapatkan kesejahteraan,
kesehatan, pengakuan hak kekayaan intelaktual.
Merujuk pada aturan pemerintah tentunya sangatlah jelas keberadaan guru berada
di posisi mana, tetapi dalam kenyataan profesi guru seakan dipandang sebelah mata
tidak seperti profesi dokter dan lainnya yang mendapat pengakuan dan
kesejahteraannya diatas kecukupan. Hal tersebut menjadi perhatian mengingat profesi
seorang guru tidaklah mudah tetapi melalui perjuangan akademik yang berat dengan
mengemban tugas yang berat sesuai dengan tujuan pendidikan dan amanat undang
undang. Tugas yang diamanahkan undang undang kepada guru dilindungi oleh undang
undang yang meliputi pelindungan profesi, pelindungan hukum, pelindungan kesehatan,
pelindungan kesejahterraan dan pelindungan hak intelektual, sehingga guru mampu
mengapresiasikan inovasi inovasi kepada peserta didik dengan perasaan nyaman dan
aman.

b. Tujuan desiminasi
1. Syarat mendapatkan sertifikat hasil perlindungan profesi
2. Menyampaikan informasi lanjutan kepada teman guru dikmen
3. Memberikan pengetahuan yang luas mengenai hak dan kewajiban seorang guru
4.
1
Diskusi kasus yang dialami guru tentang pelindungan profesi guru

c. Manfaat desiminasi
1. Silaturahim dengan teman guru melalui informasi desiminasi hasil bimtek
2. Mengenal dan memahami perlindungan profesi, perlindungan hukum, perlindungan
kesehatan dan perlindungan kesejahteraan
3. Mengenal dan mengidentifikasi masalah masalah yang ada terkait kasus
perlindungan profesi guru beserta pemecahannya
4. Memahami undang undang yang dibuat pemerintah yang dijadikan pedoman bagi
guru dikmen

2
BAB II
PELAKSANAAN PROGRAM

a. Tempat pelaksanaan
Desiminasi hasil Bimtek perlindungan profesi yang penulis lakukan di sekolah tempat
bekerja yaitu:
Nama Sekolah : SMK Negeri 1 Haurwangi
Kompetensi Keahlian : 1. Teknik Kendaraan Ringan
2. Teknik Komputer jaringan
3. Administrasi perkantoran
Alamat : Jln. Citarum Lama Desa Haurwangi Kabupaten Cianjur
Jawa Barat
No Telp : (0263) 2324053
Kode Pos : 43283

b. Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan desiminasi hasil bimtek perlindungan profesi dilakukan 2 tahapan, yakni
(1) dalam rapat/meeting (2) pemaparan langsung face to face ketika dalam
pembicaraan bias. Adapun Kegiatan yang dilakukan dalam rapat dilaksanakan pada,
Hari/tanggal : Selasa, 21 Maret 2017
Waktu : 12.30 -13.30 ( setelah beres Ujian Sekolah SMK)
Peserta : guru yang menjadi pengawas dan panitia
Selain dari pemaparan dalam rapat, dilakukan pemaparan dengan teman sejawat
dalam pembicaraan biasa.

c. Respon Hasil Desiminasi


3
Setelah kegiatan desiminasi dalam rapat dan pembicaraan biasa dilakukan sesi
tanya jawab, yang responnya sangatlah baik dikalangan guru dan tenaga pendidik
karena merupakan angin segar laksana sebuah minuman yang diberikan kepada orang
yang sedang kehausan. Seperti itulah respon guru guru menerima informasi
perlindungan profesi dengan muka yang senang, dan berharap pemerintah mampu
mengapresiasi dan melaksanakan dari aturan yang sudah dibuat. File pendukung hasil
bimtek dibagikan kepada guru guru melalui group wa sekolah, sehingga informasi
tersebut dapat dinikmati semua guru meski tidak hadir pada kegiatan tersebut.

BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Kegiatan desiminasi perlindungan profesi merupakan tugas yang diberikan kepada
peserta Bimtek Pelindungan profesi bagi guru pendidikan menengah, yang bertujuan
menyampaikan informasi lanjutan kepada teman guru lainnya sehingga informasi
tersebut dapat dirasakan juga manfaatnya oleh guru guru dikmen, yang berkaitan
dengan perlindungan profesi, perlindungan hukum, perlindungan kesehatan dan
perlindungan kesejahteraan. Hal tersebut diharapkan guru merasa nyaman dalam
mengemban amanat mendidik dan mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional
karena dilindungi oleh undang undang dan pemerintah.

b. Saran
1. Kuota peserta perlindungan profesi kedepannya bisa lebih banyak
2. Penambahan pemateri yang lebih menarik dan enerjik
3. Lebih banyak studi kasusnya dan diskusi dibandingkan pemaparan materi

5
Lampiran
Daftar Hadir Peserta Diseminasi Hasil Bimtek Pelindungan Profesi
Lampiran 2
Foto kegiatan desiminasi
Setelah kegiatan ujian sekolah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang

Guru memiliki peran yang sangat esensial bagi mutu pendidikan di Indonesia karena guru
menjadi salah satu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran
disamping kurikulum dan sarana prasarana. Guru memiliki tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, dan mengevaluasi peserta didik. Tugas utama tersebut akan menjadi efektif
apabila guru memiliki derajat profesionalitas tertentu yang meliputi kompetensi yang harus
dimiliki guru disertai dengan kode etik tertentu. Menurut Undang-undang Nomor 14 tahun 2005
kompetensi yang harus dimiliki guru meliputi meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. keempat kompetensi tersebut dalam
praktiknya merupakan satu kesatuan yang utuh. Guru profesional sudah seyogyanya mampu
menguasai keempat kompetensi tersebut.

Dalam kaitannya dengan mutu pendidikan, kompetensi guru memiliki hubungan yang positif.
Semakin guru menguasai kompetensi minimal yang harus dimilikinya maka mutu pendidikan di
Indonesia juga akan meningkat. Namun melihat fenomena yang ada sekarang, masih banyak
ditemukan kasus yang mencerminkan masih rendahnya tingkat profesionalitas guru di Indonesia.
Salah satunya dapat dilihat dari masih banyak guru yang menggunakan metode pembelajaran
yang monoton tanpa adanya inovasi dalam pembelajaran, masih benyak guru yang belum
mempunyai kualifikasi S1dan masih banyak persolan lainnya. Pengembangan guru di Indonesia
juga masih rendah. Banyak guru-guru dalam bidang skill (kemampuan mengajar) masih kurang,
kurangnya pengembangan dan peningkatan organisasi serta kurangnya pengembangan dan
peningkatan keperibadian (motivasi berprestasi). Padahal peran guru demikian penting dalam
peningkatan mutu pendidikan.

Secara kuantitatif jumlah tenaga guru telah cukup memadai, tetapi mutu serta
profesionalismenya belum sesuai dengan harapan. Guru bukan hanya sekedar profesi. Guru
bukan hanya mengajarkan materi dan memberikan

penilaian. Dalam proses penyampaian materi itu sendiri memerlukan teknik dan seni sebagai
hasil dari perpaduan kompetensi yamg dimiliki oleh guru. Sehingga guru menjadi lebih kreatif
dalam mengembangkan pembelajaran. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka
pengembangan profesi guru dinilai sangat berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik dan
lebih luas lagi meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Maka dalam makalah ini, penulis
tertarik untuk membahas tentang guru berkaitan denganpengembangan profesi guru.

1.2 RumusanMasalah

1. Apa yang dimaksud dengan pengembangan profesi keguruan?


2. Bagaimana sikap professional seorang guru?
3. Bagaimana pengembangan profesi keguruan?

1.3 Tujuan

Penulis menyusun makalah “Pengembangan Profesi Keguruan” dalam rangka memenuhi tugas
kelompok mata kuliah Etika Profesi Keguruan dan antara lain bertujuan agar dapat:

1. Menjelaskan pengertian pengembangan profesi keguruan.


2. Menjelaskan sikap professional guru.
3. Menjelaskan pengembangan profesi guru.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Pengembangan Profesi Keguruan

Sebelum menguraikan definisi Pengembangan profesi keguruan, terlebih dahulu kita mengetahui
apa sebenarnya definisi dari ketiga kata tersebut.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Pengembangan bisa diartikan dengan proses atau perbuatan mengembangkan.Sedangkan
menurut

 no 18 tahun 2002, Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya
untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah
ada, atau menghasilkan teknologi baru.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi bisa diartikan dengan bidang pekerjaan yang
dilandasi pendidikan keahlian keterampilan, kejuruan, tertentu. Selain istilah profesi kita
mengenal istilah profesional, profesionalisme, dan profesionalisasi. Ketiga istilah tersebut
memiliki definisi masing-masing. Sudarwan Danim(2011:103) membedakan ketiga istilah
tersebut sebagai berikut :

Profesional merujuk pada dua hal yaitu orang yang menyandang suatu profesi dan kinerja dalam
melakukan pekerjaan yang sesuai denga profesinya. Profesionalisme dapat diartikan sebagai
komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus
menerus mengembangkan strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai
dengan profesinya itu. Sedangkan profesionalisasi merupakan proses peningkatan kualifikasi
atau kemampuan para anggota penyandang suatu profesi untuk mencapai kriteria standar ideal
dari penampilan atau perbuatan yang diinginkan oleh profesinya itu.

Keguruan sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bisa diartikan perihal (yang
menyangkut) pengajaran, pendidikan, dan metode pengajaran. Dalam UU Nomor 14 tahun 2005
tentang guru dan dosen, Profesi keguruan adalah pendidikan profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada usia dini, jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Joan mengemukakan bahwa, pengembangan profesionalitas guru (professional development


teacher) dimaknai sebagai a process wherebyteacher become more professional, yakni suatu
proses yang dilakukan untuk menjadikan guru dapat tampil secara lebih profesional. “ (Pahrudin,
2015)”

Dengan kata lain dapat diartikan bahwa, pengembangan profesi guru didefinisikan sebagai upaya
yang dilakukan untuk meningkatkan taraf atau derajat profesi seorang guru yang menyangkut
kemampuan guru, baik penguasaan materi ajar atau penguasaan metodologi pengajaran, serta
sikap keprofesionalan guru menyangkut motivasi dan komitmen guru dalam menjalankan tugas
sebagai guru.

Pengembangan dan peningkatan profesi guru juga dilakukan dalam rangka menjaga agar
kompetensi keprofesiannya tetap sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin modern.
Pembinaan dan pengembangan profesi guru meliputi pembinaan kompetensi pedagogik,
kepribadian, profesional, dan sosial. Sedangkan pembinaan dan pengembangan karier meliputi
penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi. Keduanya disesuaikan dengan jabatan fungsional
masing-masing.
Urgensi program pengembangan guru sendiri didasarkan pada sebuah asumsi bahwa tidak semua
guru dan tenaga kependidikan yang dihasilkan telah memenuhi kriteria guru profesional. Dengan
berdasarkan pada asumsi-asumsi tersebut, agar guru dapat memberikan kontribusinya secara
maksimal bagi pencapaian tujuan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia,
maka harus ada upaya pengembangan profesi guru yang dilakukan secara bertahap dan
berkesinambungan (terus-menerus). Kegiatan pembinaan dan pengembangan profesi guru
dilakukan atas prakarsa pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara satuan pendidikan,
asosiasi guru, dan guru secara pribadi.

Pemerintah idealnya berperan aktif dalam upaya pengembangan profesi guru seperti dalam UU
Nomor 14 tahun 2005 bahwasanya pemerintah berkewajiban untuk memberikan dana dalam
rangka membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru agar terbentuk
guru yang profesional dan mumpuni dari segi kompetensi. Secara pribadi, seorang guru
seharusnya memposisikan diri sebagai guru pembelajar. Dimana ia akan selalu berusaha
mengupgrade kapasitas dirinya dengan proses belajar mandiri sehingga pengetahuan dan skill
yang dimiliki semakin terasah dan memenuhi kriteria sebagai guru yang profesional. Secara
umum, kegiatan pengembanagan profesi guru dimaksudkan untuk merangsang, memelihara, dan
meningkatkan kompetensi guru dalam memecahkan masalah pendidkan dan pembelajaran yang
berdampak pada peningkatan mutu belajar siswa yang selanjutnya meningkatkan mutu
pendidikan.

1. Sikap Profesionalitas

Konsep sikap profesionalitas

Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau
kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Maister (1997) (Mustofa,2007)
mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan, teknologi dan manajemen
tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan
hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.

Profesional juga bisa diartikan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang
dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau
kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan
profesi (UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ). Jadi profesional menunjuk pada
dua hal yakni orang yang melakukan pekerjaan dan penampilan atau kinerja orang tersebut
dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya Daryanto (2013) (Lilies,2014).

Jadi Guru profesional adalah guru yang menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang dipanggil
untuk mendampingi peserta didik dalam belajar. Sehingga guru secara terus-menerus perlu
mengembangkan pengetahuannya tentang bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar.
Perwujudannya, jika terjadi kegagalan pada peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan
akar penyebabnya dan mencari solusi bersama peserta didik, bukan mendiamkannya atau
malahan menyalahkannya. Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk
mengenali diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya serta mau belajar dengan
meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar, tidak mungkin
kerasan dan bangga menjadi guru. Kerasan dan kebanggan atas keguruannya adalah langkah
untuk menjadi guru yang profesional Kunandar (2010) ( Lilies,2014). Kualitas profesionalisme
guru ditunjukkan oleh lima sikap,yakni :

 Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal;


 Meningkatkan dan memelihara citra profesi;
 Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat
meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan ketrampilannya
 Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi;

5) Memiliki kebanggaan terhadap profesinya Sagala (2009) (Lilies,2014).

Guru profesional adalah guru yangmelaksanakan tugas keguruan dengan kemampuan tinggi
(profesiensi) sebagai sumber kehidupan. Dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, guru
dituntut memiliki keanekaragaman kecakapan (competencies) psikologis yang meliputi :

 Kompetensi kognitif (kecakapan ranah cipta);


 Kompetensi afektif (kecakapan ranah rasa);
 Kecakapan psikomotor (kecakapan ranah karsa).

Disamping itu, ada satu kompetensi yang diperlukan guru, yakni kompetensi kepribadian Syah
(2011) ( Lilies,2014).

Menurut Suryadi dalam Suwarna (2004) ( Mustofa,2007), predikat guru profesional dapat
dicapai dengan memiliki empat karakteristik profesional, yaitu:

1. Kemampuan profesional (professional capacity), yaitu kemampuan intelegensi sikap, nilai, dan
keterampilan serta prestasi dalam pekerjaannya. Secara sederhana, guru harus menguasai
materi yang diajarkan.
2. Kompetensi upaya profesional (professional effort), yaitu kompetensi untuk membelajarkan
siswanya.
3. Profesional dalam pengelolaan waktu (time devotion).
4. Imbalan profesional (professional rent) yang dapat menyejahterakan diri dan keluarganya.

Arifin (2000) (Mustofa,2007) mengemukakan guru Indonesia yang profesional dipersyaratkan


mempunyai:

1. Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi dan masyarakat
ilmu pengetahuan di abad 21;
2. Penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidikan yaitu ilmu pendidikan
sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan
proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan
pada praksis pendidikan masyarakat Indonesia;
3. Pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan. Profesi guru merupakan profesi
yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek
pendidikan. Kekerdilan profesi guru dan ilmu pendidikan disebabkan terputusnya program pre-
service dan in-service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau manajemen pendidikan
yang lemah.

Ciri-ciri Guru Profesional

GPM memiliki ciri-ciri sebagai professional sungguhan. Ciri-ciri itu terefleksi dari perilaku
kesehariannya sebagai GPM. Hasil study beberapa ahli mengenai sifat-sifat atau karakteristik
profesi, yang secara taat asas dimiliki dan dijunjung tinggi oleh GPM, yang menghasilkan
kesimpulan sebagai berikut:

1. Kemampuan intelektual yang diperoleh melalui pendidikan. Termasuk dalam kerangka ini,
pelatihan-pelatihan khusus yang berkaitan dengan keilmuan yang dimiliki oleh seorang
penyandang profesi.
2. Memiliki pengetahuan spesialisasi. Pengetahuan spesialisasi mengkhususkan penguasaan bidang
keilmuan tertentu. Guru yang sesungguhnya harus memiliki spesialisasi bidang studi (subject
matter) dan penguasaan metodologi pembelajaran.
3. Menjadi anggota organisasi profesi. Dibuktikan dengan kepemilikan kartu anggota, pemahaman
terhadap norma–norma organisasi, kepatuhan terhadap kewajiban dan larangan yang
ditetapkan oleh organisasi tersebut.
4. Memiliki pengetahuan praktis yang dapat digunakan langsung oleh orang lain atau klien.
Pengetahuan khusus itu bersifat aplikatif dimana aplikasinya didasari atas kerangka teori yang
jelas dan teruji.
5. Memiliki teknik kerja yang dapat dikomunikasikan atau communicable. GPM mampu
berkomunikasi sebagai guru dalam makna apa yang disampaikannya dapat dipahami oleh siswa.
6. Memiliki kapastitas mengorganisasikan kerja secara mandiri dan self-organization. Istilah
mandiri disini berarti kewenangan kademiknya melekat pada diri sendiri.
7. Mementingkan kepentingan orang lain (altruism). Memberikan layanan kepada anak didik pada
saat bantuan itu diperlukan.
8. Memiliki kode etik. Kode etik dijadikan norma dan asas yang disepakati dan diterima oleh guru–
guru Indonesia sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas profesi sebagai
pendidik.
9. Memiliki sanksi dan tanggung jawab komunitas. Dalam bekerja GPM memiliki tanggung jawab
kepada komunitas terutama anak didiknya.
10. Mempunyai sistem upah. Sistem upah yang dimaksud disini adalah standar gaji yang terima oleh
guru.
11. Budaya professional. Budaya profesi dapat berupa penggunaan symbol yang berbeda dengan
simbol–simbol untuk profesi lain.
12. Melaksanakan pertemuan professional tahunan. Pertemuan ini dapat dilakukan dalam bentuk
forum guru, seminar, diskusi panel, workshop.

1. Prinsip Profesional
Profesi guru menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen harus
memiliki prinsip-prinsip profesional seperti tercantum pada pasal 5 ayat 1, yaitu: ”Profesi guru
dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang memerlukan prinsip-prinsip profesional
sebagai berikut:

1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme.


2. Memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya.
3. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya.
4. Mematuhi kode etik profesi.
5. Memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas.
6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya.
7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan.
8. Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
9. Memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum.

Menurut Richard D. Kellough (1998) (Danim, Sudarwan,2011)

kompetensi yang harus dikuasai guru professional yaitu :

1. Menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran yang diajarkan,


2. Merupakan anggota aktif organisasi profesi guru, membaca jurnal professional, melakukan
dialog dengan sesame guru, mengembangkan kemahiran metodologi, membina siswa dan
materi pelajaran,
3. Memahami proses belajar dalam artian siswa memahami tujuan belajar, harapan – harapan dan
prosedur yang ada di kelas,
4. Terbuka untuk berubah, berani mengambil resiko dan bertanggung jawab,
5. Mengorganisasi kelas dan merencanakan pelajaran secara cermat,
6. Komunikator yang efektif,
7. Bisa mengambil keputusan secara efektif,
8. Menyiapkan situasi belajar yang positif dan konstruktif,
9. Mempunyai humor yang sehat,
10. Mampu mengenali secara cepat siswa yang mememerlukan perhatian yang khusus,
11. Mampu mengimplementasikan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari–hari,
12. Dapat dipercaya baik dalam membuat perjanjian maupun kesepakatan.

Lebih lanjut dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 28
menyebutkan bahwa ”pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai
agen pembelajaran, sehat jasmani dan rokhani, serta memilki kemampuan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional”.

Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Profesionalisme Guru


Menurut Ani M. Hasan (2003) (Mustofa,2007), faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya
profesionalisme guru antara lain:

1. Masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh.Hal ini disebabkan oleh banyak
guru yang bekerja diluar jam kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga
waktu untuk membaca dan menulis untuk meningkatkan diri tidak ada;
2. Kemungkinan disebabkan oleh adanya perguruan tinggi swasta sebagai pencetak guru yang
lulusannya asal jadi tanpa mempehitungkan outputnya kelak di lapangan sehingga
menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesi keguruan;
3. Kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri karena guru tidak dituntut untuk
meneliti sebagaimana yang diberlakukan pada dosen di perguruan tinggi.

Secara lebih rinci, Akadum (1999) (Mustofa,2007) mengemukakan bahwa ada lima penyebab
rendahnya profesionalisme guru:

1. Masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total,


2. Rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi keguruan,
3. Pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah hati dari pengambilan
kebijakan dan pihak-pihak terlibat. Hal ini terbukti dari masih belum mantapnya kelembagaan
pencetak tenaga keguruan dan kependidikan,
4. Masih belum ada kesepakatan pendapat tentang proporsi materi ajar yang diberikan kepada
calon guru,
5. Masih belum berfungsinya PGRI sebagai organisasi profesi yang berupaya secara maksimal
meningkatkan profesionalisme anggotanya. Kecenderungan PGRI bersifat politis memang tidak
bisa disalahkan, terutama untuk menjadi pressure group agar dapat meningkatkan
kesejahteraan anggotanya. Namundemikian di masa mendatang PGRI sepantasnya mulai
mengupayakan profesionalisme para anggotanya.

Pengembangan Profesi Guru

1. strategi pengembangan Profesi Guru

Pengembangan profesionalisme guru selalu mendapatkan perhatian secara global, karenaguru


berperan penting dalam mencerdaskan bangsa dan sebagai sentral pendidikan karakter. Tugas
mulia yang diemban seorang guru tersebut menjadi berat karena bukan saja guru harus
mempersiapkan generasi muda sebagai penerus yang mampu bersaing namun juga unggul dari
segi karakter. Mengembangkan profesi guru bukan sesuatu yang mudah, maka diperlukan
strategi yang tepat dalam upaya menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan profesi guru.
Situasi kondusif ini jelas amat diperlukan oleh tenaga pendidik untuk dapat mengembangkan diri
sendiri ke arah profesionalisme guru. Dalam jurnal ekonomi dan pendidikan yang ditulis
Mustofa dijelaskan beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk menciptakan situasi yang
kondusif bagi pengembangan profesi guru, yaitu: a. Strategi perubahan paradigma
Strategi ini dimulai dengan mengubah paradigma birokasi agar menjadimampu mengembangkan
diri sendiri sebagai institusi yang berorientasipelayanan, bukan dilayani. Strategi perubahan
paradigma dapat dilakukan melalui pembinaan guna menumbuhkan penyadaran akan peran dan
fungsi birokrasi dalam kontek pelayanan masyarakat.

1. Strategi debirokratisasi

Strategi ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkatan birokrasi yang dapatmenghambat pada
pengembangan diri guru. Strategi tersebut memerlukan metode operasional agar dapat
dilaksanakan. Sementara strategi debirokratisasi dapat dilakukan dengan cara mengurangi dan
menyederhanakan berbagai prosedur yang dapat menjadi hambatan bagi pengembangan diri guru
serta menyulitkan pelayanan bagi masyarakat.

Untuk melakukan profesionalisasi ada tiga pengembangan yang ditawarkan oleh R.D. Lansbury
(Pahrudin, 2015) yang dapat dijadikan sebagai kerangka dalam merumuskan strategi
pengembangan yakni :

 Pendekatan karakteristik, berupaya memunculkan karakter yang melekat dalam suatu profesi,
sehingga profesi itu benar-benar dijalankan sesuai dengan tuntunan profesional.
 Pendekatan institusional, pendektan yang lebih memandang profesionalitas sebagai suatu
proses konstitusional atau perkembangan asosional
 Pendekatan legalistik, merupakan upaya profesionalisasi yang menekankan pada adanya
pengakuan suatu profesi oleh negara.

Dari pendekatan diatas, dapat dirumuskan strategi dalam pengembanganprofesionalitas kedalam


tiga level yaitu: pertama, upaya-upaya profesionalisasi yang dilakukan oleh guru secara pribadi
agar mereka dapat meningkatkan kualitas keprofesionalan, dengan atau tanpa bantuan pihak lain.
Dengan kata lain dapat dikatakan sebagai pelatihan mandiri. Kedua, pengembangan yang
dilakukan oleh manajemen lembaga melalui berbagai kebijakan manajerial yang dilakukan.
Kedua level ini dapat diaktegorikan dalam strategi mikro pengembangan profesional guru.
Sedangkan level ketiga adalah upaya pengembangan pada level makro yang menjadi tanggung
jawab pemerintah dan masyarakat secara luas dalam kerangka manajemen pendidikan nasional.

Di lihat dari konteks manajemen makro dalam sistem pendidikan nasional, Tilaar (Pahrudin,
2015) menawarkan langkah-langkah yang disebut dengan strategi pengembangan profesionalitas
guru yaitu:

1. Mengupayakan terjadinya peningkatan status profesi guru agar dapat sejajar dengan profesi
lain.
2. Pengembangan profesionalitas guru harus lebih berorientasi pada peningkatan kualitas, bukan
kuantitas. Dalam hal ini maka dperlukan SDM maupun finansial.
3. Profesionalitas guru membutuhkan upaya pendataan kembali terhadap guru agar mereka dapat
dikembangkan.
Prinsip pengembangan Profesi Guru

Sudarwan Danim (2011 : 92) menyebutkan ada dua prinsip pengembangan profesi guru yaitu
prinsip umum dan khusus. Prinsip umum pengembangan profesi guru adalah sebagai berikut:

 Demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai keagamaan, nilai kultural , dan kemajemukan bangsa.
 Satukesatuan yang sitematis dengan sistem yang terbuka dan multimakna.
 Suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan guru yang berlangsung sepanjang hayat.
 Memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas guru dalam
proses pembelajaran.

Prinsip khusus atau operasional pengembangan profesi guru meliputi hal-hal sebagai berikut:

 Ilmiah, dimana keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam kompetensi dan
indikator harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
 Relevan, dimana rumusnya berorientasi pada tugas pokok dan fungsi guru sebagai pendidik
profesional.

 Sistematis, dimana setiap komponen dalam kompetensi jabatan guru berhubungan secara
fungsional dalam mencapai kompetensi.
 Konsisten, dimana adanya hubungan yang ajeg dan taat asas antar kompetensi dan indikator.
 Aktual dan kontekstual yakni rumusan kompetensi dan indikator dapat mengikuti
perkembangan iptek.
 Fleksibel, dimana rumusan kompetensi dan indikator dapat berubah sesuai dengan kebutuhan
dan perkembangan zaman.
 Demokratis, dimana setiap guru memiliki hak dan peluang yang sama untuk diberdayakan
melalui proses pembinaan dan pengembangan keprofesionalitasnya.
 Objektif, dimana setiap guru dibina dan dikembangkan profesi dan karirnya dengan mengacu
pada hasil penilaian yang dilaksanakan berdasarkan indikator-indikatorterukur dari kompetensi
profesinya.
 Komprehensif, dimana setiap guru dibina dan dikembangkan profesi dan karirnya untuk
mencapai kompetensi profesi dan kinerja yang bermutu dalam memberikan layanan pendidikan.
 Memandirikan, dimana setiap guru secara terus menerus diberdayakan untuk mampu
meningkatkan kompetensinya secara berkesinambungan, sehingga memiliki kemandirian
profesional dalam melaksanakan tugas dan fungsi profesinya.
 Profesional, dimana pengembangan profesi dan karier guru dilaksanakan dengan
mengedepankan nilai-nilai profesionalitas.
 Bertahap, dimana pengembangan profesi dan karier guru dilaksanakan secara bertahap agar
guru benar-benar mancapai puncak profesionalitas.
 Berjenjang, dimana pengembangan profesi guru dilaksanakan secara berjenjang berdasarkan
jenjang kompetensi atau tingkat kesulitan kompetensi yang ada pada standar kompetensi.
 Berkelanjutan, dimana pengembanagn profesi guru dilaksanakan secara berkelanjutan karena
perkembangan ilmu pegetahuan, teknologi dan seni serta adanya kebutuhan penyegaran
kompetensi guru.
 Accountable, dimana pengembangan profesi guru dipertanggungjawabkan secara transparan
kepada publik.
 Efektif, dimana pelaksanaan pengembangan profesi guru harus mampu menberikan informasi
yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang tepat oleh pihak
terkait.
 Efesien, dimana pelaksanaan pengembangan profesi guru harus didasari atas pertimbangan
penggunaan sumber daya seminimal mungkin untuk hasil yang optimal.

Jenis-jenis Kegiatan Pengembangan Profesi Guru

Inisiatif pengembangan keprofesian guru idealnya banyak berasal dari prakarsa lembaga. Atas
dasar ini, diasumsikan munculnya proses pembiasaan, yang kemudian guru dapat tumbuh dengan
sendirinya. Tentu saja, semua itu juga berawal dari prakarsa guru secara individual. Menurut
Sudarwan Danim (2011 : 94) Apabila dilihat dari sisi prakarsa lembaga, pengembangan profesi
guru dilaksanakan melalui berbagai strategi dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (diklat)
maupun bukan diklat, antara lain:

 Pendidikan dan Pelatihan

In-House Training (IHT)

Pelatihan dalam bentuk IHT adalah pelatihan yang dilaksanakan secara internal di kelompok
kerja guru, sekolah, atau tempat lain yang ditetapkan untuk menyelenggarakan pelatihan. Strategi
pembinaan melalui IHT dilakukan berdasarkan pemikiran bahwa sebagian kemampuan dalam
meningkatkan kompetensi dan karier guru tidak harus dilakukan secara eksternal, tetapi bisa juga
secara internal dengan cara dilakukan oleh guru yang memiliki kompetensi yang belum dimiliki
guru lain. Program ini diharapkan dapat menghemat waktu dan biaya.

Program magang

Program magang merupakan pelatihan yang dilaksanankan di dunia kerja atau industri yang
relevan dalam rangka meningkatkan kompetensi profesional guru. Program magang ini
diperuntukkan bagi guru dan dapat dilakukan selama periode tertentu misalnya, magang di
sekolah. Program magang ini dipilih dengan alasan bahwa keterampilan tertentu yang
memerlukan pengalaman nyata.

Kemitraan sekolah

Pelatihan melalui kemitraan sekolah dapat dilaksanakan antara sekolah yang baik dan sekolah
yang kurang baik, antara sekolah negeri atau sekolah swasta. Pembinaan lewat mitra sekolah
diperlukan dengan alasan bahwa agar terjadi transfer nilai-nilai kebaikan dari beberapa keunikan
dan kelebihan yang dimiliki mitra kepada mitra lain. Misalnya dalam bidang manajemen sekolah

Belajar jarak jauh


Pelatihan melalui belajar jarakjauh dapat dilaksanakan tanpa menghadirkan instruktur dan
peserta pelatihan dalam satu tempat tertentu, melainkan dengan sistem pelatihan internet dan
sejenisnya. Pelatihan jarak jauh dilakukan dengan pertimbangan bahwa tidak semua guru
terutama di daerah terpencil dapat mengikuti pelatihan di tempat-tempat pembinaan yang
ditunjuk seperti di ibu kota kabupaten atau provinsi.

Pelatihan berjenjang dan khusus

Pelatihan jenis ini dilaksanakan di lembaga-lembaga pelatihan yang diberi wewenang, dimana
program disusun secara berjenjang mulai dari jenjang dasar, menengah, lanjut, dan tinggi.
Jenjang pelatihan disusun berdasarkan tingkat kesulitan dan jenis kompetensi. Sedangkan
pelatihan khusus (spesialisasi) disediakan berdasarkan kebutuhan khusus atau disebabkan adanya
perkembangan baru dalam keilmuan tertentu.

1. Kursus singkat di perguruan tinggi atau lembaga pendidikan lainnya. Kursus singkat
dimaksudkan untuk melatih meningkatkan kemampuan guru dalam beberapa kemampuan
seperti kemampuan melakukan penilitian tindakan kelas, menyusun karya ilmiah,
merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.
2. Pembinaan internal oleh sekolah

Pembinaan internal ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan guru-guru yang memiliki
kewenangan membina, melalui rapat dinas, rotasi tugas mengajar, pemberian tugas-tugas internal
tambahan, dan diskusi dengan rekan sejawat.

Pendidikan lanjut

Pembinaan guru melalui pendidikan lanjut juga merupakan alternatif bagi peningkatan
kualifikasi dan kompetensi guru. Pengikutsertaan guru dalam pendidikan lanjut ini dapat
dilaksanakan dengan memberikan tugas belajar baik dalam maupun luar negeri bagi guru yang
berprestasi. Pelaksanaan pendidikan lanjut ini akan menghasilkan guru-guru pembina yang dapat
membantu guru-guru lain dalam upaya pengembangan profesi.

2. Non-pendidikan dan pelatihan

Diskusi masalah pendidikan

Diskusi ini diselenggarakan secara berkala dengan topik diskusi sesuai dengan masalah yang
dialamai sekolah. melalui diskusi berkala diharapkan para guru dapat memecahkan masalah yang
dihadapi berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah ataupun masalah peningkatan
kompetensi dan pengembangan kariernya.

Seminar
Pengikutsertaan guru dalam kegiatan seminar dan pembinaan publikasi ilmiah juga dapat
menjadi model pembinaan berkelanjutan bagi peningkatan keprofesian guru. Kegiatan ini
memberikan peluang kepada guru untuk berinteraksi secara ilmiah dengan kolega seprofesinya
berkaitan dengan hal-hal terkini dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan.

Workshop

kegiatan ini dilakukan untuk menghasilkan produk yamng bermanfaat bagi pembelajaran,
peningkatan kompetensi mauapun pengembangan kariernya. Workshop dapat
dilakukan,misalnya dalam kegiatan menyusun KTSP, analisis kurikulum, pengembangan silabus,
sertapenulisan rencana pembelajaran.

Penelitian

Penelitian dapat dilakukan guru dalam bentuk penelitian tindakan kelas, penelitian eksperimen,
ataupun jenis lain dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran.

Penulisan buku/ bahan ajar.

Bahan ajar yang ditulis guru dapat berbentuk diktat, buku pelajaran, ataupun buku dalam bidang
pendidikan.

Pembuatan media pembelajaran.

Media pembelajaran yang dibuat guru dapat berbentuk alat peraga, alat praktikum sederhana,
maupun bahan ajar elektronik atau animasi pembelajaran.

Pembuatan karya teknologi/ karya seni.

Karya teknologi/seni yang dibuat guru dapat berupa karya yang bermanfaat untuk masyarakat
atau kegiatan pendidikan serta karya seni yang memiliki nilai estetika yang diakui oleh
masyarakat.

Selain kegiatan-kegiatan pengembangan profesi yang dikemukakan Sudarwan Danim, terdapat


berbagai model pengembangan profesi guru yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain :

Menurut Richard dan Lockhart (2000) (Sobri, 2016) terdapat beberapa model pengembangan
profesional guru, meliputi:

 Keikutsertaan dalam konferensi (conference participation),


 Workshop dan seminar (workshops and in service seminars),
 Kelompok membaca (reading groups),
 Pengamatan kolega (peer observation),
 Penulisan jurnal/catatan harian guru (writing teaching diaries/journals),
 Kerjaproyek (project work),
 Penelitian tindakan kelas (classroom action research),
 Portofolio mengajar (teaching portfolio),
 Mentoring (mentoring).

Sedangkan menurut Kennedy (2005) (Sobri, 2016) menyatakan ada sembilan model
pengembangan profesionalisme guru, yaitu:

1. Training model,
2. Award-bearing model,
3. Deficit model,
4. Cascade model,
5. Standards-based model,
6. Coaching/mentoring model,
7. Community of practice model,
8. Action research model,

1. Transformative model. Masing-masing mempunyai karakteristik yang disesuaikan dengan


kebutuhan guru.

Ditjen Dikdasmen Kementerian PendidikanNasional menyebutkanbeberapa alternatif program


pengembanganprofesional guru, yaitu:

1. Program peningkatan kualifikasi guru atau program studi lanjut,


2. Program penyetaraan dan sertifikasi,
3. Program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi,
4. Program supervisi pendidikan,
5. Program pemberdayaan MGMP,
6. Simposium guru,
7. Program tradisional lainnya, misalnya CTL, PTK, penulisan karya ilmiah,
8. Membaca dan menulis jurnal atau karya ilmiah,
9. Berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah,
10. Melakukan penelitian,
11. Magang,
12. Mengikuti berita aktual dari media pemberitaan,
13. Berpartisipasi dan aktif dalam organisasi profesi,
14. Menggalang kerjasama dengan teman sejawat.

Diaz dan Maggioli (2003) (Sobri, 2016) menambahkan enam model atau pendekatan, yaitu:
1. Rancangan konferensi (conference plan),
2. Pemantauan kolega (peer coaching),
3. Penelitian tindakan kelas (classroom action research),
4. Kelompok belajar kolaboratif (collaborative study groups)
5. Rencana pengembangan pribadi (individual development plan), dan
6. Jurnal percakapan (dialog journals).

Selanjutnya Castetter (Sobri, 2016) juga menyampaikan lima model pengembangan profesional
guru, yaitu:

1. Pengembangan guru yang dipandu secara individual (individual guided staff development),
2. Observasi atau penilaian (observation/assessment),
3. Keterlibatan dalam proses pengembangan/ peningkatan,
4. Pelatihan (training), dan
5. Pemeriksaan (inquiry).

Berbagai model profesionalisme guru yang dikemukakan oleh para ahli ternyata memiliki
banyak persamaan. Ahmad Yusuf Sobri menjelaskan dalam jurnalnya pada Konvensi Nasional
Pendidikan Indonesia (KONASPI) VIII Tahun 2016 beberapa implementasi model-model
profesionalisme guru sehingga memungkinkan guru dapat memilih model tersebut sesuai dengan
kebutuhannya masing-masing :

1. Program peningkatan kualifikasi pendidikan guru

Program ini ditujukan bagi guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan minimal sarjana
untuk mengikuti pendidikan sarjana bahkanmagister pendidikan keguruan dalam bentuk
tugasbelajar. Namun saat ini, sangat jarang guruberkualifikasi di bawah sarjana.

2. Program penyetaraan dan sertifikasi

Program penyetaraan diberikan kepada guru yang latar belakangpendidikannya tidak sesuai
dengan tugas mengajarnya atau bukan dari program pendidikan keguruan. Sedangkan program
sertifikasi ditujukan kepada guru yang telah memenuhi syarat (misalnya, minimal telah mengajar
lima tahun, lulus UKG) agar mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan
jugamemperoleh kesejahteraan.

3. Program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi


Program pelatihan ini diberikan kepada guru agar tercapai kompetensi yang diinginkan sehingga
materi pelatihan mengacu kepada bahan-bahan yang menunjang kompetensi yang akan dicapai.

4. Program supervisiPendidikan

Program ini ditujukan untuk memberikanbantuan kepada guru dalam menyelesaikan


persoalanpembelajaran yang dihadapi guru di kelas dan jugapersoalan yang terkait dengan
pendidikan secaraumum.

5. Program pemberdayaan KKG dan MGMP

KKG adalah wadah kegiatan profesional guru, biasanya untuk guru SD (guru kelas), sedangkan
MGMP untuk guru SMP dan SMA sesuai dengan bidang studi masing-masing guru. Dengan
adanya wadah ini, guru dapat saling memberi masukan tentang materi pembelajaran yang
diajarkan dan dapat mencari alternatif pemecahan terhadap persoalan-persoalan pembelajaran
yang dihadapi di dalam kelas.

6. Simposium guru

Simposium merupakan media guru untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman tentang proses
pembelajaran dan ajang untuk kompetisi ajang kreativitas diantara guru.

7. Program pelatihan tradisional lainnya

Program pelatihan yang ditujukan kepada guru dengan hanya membahas persoalan aktual dan
penting sehingga guru tidak ketinggalan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
misalnya pembelajaran kontektual, Kurikulum 2013, blended learning, danpenelitian tindakan
kelas.

8. Membaca dan menulis jurnal atau karya ilmiah

Salah satu kelemahan guru adalah kurangnya membaca dan menulis karya ilmiah sehingga karir
guru sedikit terhambat karena mereka kekurangan karya ilmiah. Untuk itu gugus sekolah perlu
memprogram pelatihan penulisan karya ilmiahbagi guru sehingga mereka produktif dalam
berkarya,serta perlu adanya pendampingan dari pihak kepalasekolah dan pengawas pendidikan.

9. Berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah

Pertemuan ilmiah ditujukan kepada guru untuk memberikanpengetahuan mutakhir tentang


pendidikan dan pembelajaran. Pemberian informasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan
aspek kompetensi dan profesional guru dalam proses pembelajaran.

10. Melakukan penelitian tindakan kelas (PTK)

Penelitian ini sangat dianjurkan kepada guru supaya guru dapat merefleksikan program
pembelajaran yang telah dilaksanakan di dalam kelasnya sehingga guru selalu dapat
memperbaiki performansi mengajarnya. Namun, karena tugas mengajar yang banyak
menyebabkan guru jarang melakukan PTK selain juga disebabkan kemauan dan kemampuan
mereka menulis karya ilmiah. Oleh karena itu perlu adanya pendampingan dari kepalasekolah
dan pengawas sekolah agar guru menjadi produktif dalam melakukan PTK.

11. Magang

Kegiatan ini biasanya ditujukan kepada guru pemula. Guru pemula melakukan magang di dalam
kelas dengan bimbingan guru senior sesuai dengan bidang studinya. Kegiatan magang biasanya
meliputi: pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan kelas dengan tujuan agar guru pemula
tersebut dapat mengikuti jejak guru senior yang profesional.

12. Mengikuti berita aktual dari media pemberitaan

Pengetahuan dan pemahaman guru tidak hanya terpacu dengan materi pembelajaran di buku,
tetapi juga perlu pengetahuan yang lebih luas melalui media cetak dan eletronik, dan bahkan
guru diharapkan dapat mengikuti pemberitaan melalui internet. Guru profesional akan selalu
mengikuti perkembangan pengetahuan dari berbagai sumber media yang tersedia.

13. Berpartisipasi dan aktif dalam organisasi profesi

Organisasi profesi memberikan keuntungan yang besar kepada guru (PGRI) untuk
mengembangkan profesionalitasnyadengan membangun sesama komunitas pembelajaran.

14. Menggalang kerjasama dengan teman sejawat

Kerjasama yang erat diantara sejawat guru dapat memberikan peluang pengembangan
profesionalnya melalui kegiatan ilmiah dan kegiatan lainnya sehingga profesionalisme guru
meningkat.

15. Pengembangan guru yang dipandu secara individual

Program ini bertujuan agar guru dapat menilai kebutuhan belajar mereka sendiri, mampu belajar
aktif serta mengarahkan diri mereka sendiri. Oleh karena itu, kepala sekolah dan pengawas
sekolah seyogyanya memotivasi guru saat menyeleksi tujuan belajar berdasarkan penilaian
personal kebutuhan mereka.

16. Observasi dan Penilaian

Kegiatan ini ditujukan kepada guru agar mereka dapat mengamati dan menilai program
pembelajaran yang dilakukansehingga guru memiliki data yang akurat tentang pembelajarannya
untuk kemudian mereka dapat melakukan refleksi dan analisis terhadap peningkatan proses
pembelajaran di kelasnya.

17. Pemberian penghargaan


Agar guru giat menjalankan profesinya, maka diperlukanpenghargaan terhadap prestasi yang
telah ditorehkan,dan bahkan penghargaan perlu juga diberikan kepadaguru tidak tetap sehingga
tidak perbedaan perlakukandiantara guru.

18. Model defisit

Kepala sekolah dan pengawas sekolah seharusnya mengatasidefisit atau kekurangan dalam
kinerja guru yang dikarenakan kelemahan guru secara individual dalam menjalankan tugas
profesinya. Untuk itu, pemimpin sekolah perlu menerapkan manajemen kinerja terhadap guru
sehingga apabila guru mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya dapat dibantuoleh
kepala sekolah dan pengawas sekolah secara individual.

19. Model cascade atau desiminasi

Karena keterbatasan sumberdaya di sekolah, guru secara individual dikirim untuk mengikuti
pelatihan. Setelah selesai mengikuti pelatihan, guru tersebut menyebarkan informasikepada
rekan-rekannya agar mereka juga memperolehpengetahuan yang sama.

20. Model berbasis standar

Model pengembangan ini menitikberatkan kepada standar-standar yang harus dipenuhi dalam
mengadakan pengembangan profesional guru. Model ini kurang diminati karena lebih
menitikberatkan pada standar-standar yang harus dipenuhi bukan kepada kompetensi apa yang
harus dimiliki guru sehingga pengelolaan program pengembangan profesional guru bersifat
seragam tidak berdasarkan kebutuhan.

21. Model mentoring

Model pengembangan ini melibatkan dua guru (guru pemula dan berpengalaman) dan
mengandung unsur konseling dan profesional. Guru yang berpengalaman memberikan pelatihan
kepada guru pemula agar guru pemula dapat meningkatkanprofesionalnya. Ada pula yang
menyatakan model iniadalah model supervisi klinis kepada guru pemula.

 Implementasi Program Pengembangan Profesi Guru di Indonesia

 Implementasi Secara Umum Program Sertifikasi Guru Di Indonesia Dunia pendidikan erat
kaitannya dengan proses transfer ilmu

pengetahuan dan nilai-nilai karakter. Dimana pelaku utamanya adalah guu. Guru menjadi poros
utama yang menentukan kualitas peserta didiknya dan lebih jauh lagi mempengaruhi mutu
pendidikan. Jabatan guru sebagai profesi bermula setelah dikeluarkannya Undang-Undang No 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) yang disahkan oleh DPR. Sesuai dengan amanat
Undang – Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang ditindaklanjuti dengan
Peraturan Pemerintah No 74 tahun 2008 tentang Guru dan Peraturan Menteri pendidikan
Nasional No 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan menyebabkan perlu adanya
penyelenggaraan sertifikasi profesi guru melalui penilaian portofolio atau melalui pendidikan
profesi yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang
selanjutnya disebut LPTK.

LPTK merupakan Perguruan Tinggi yang ditunjuk untuk pelaksanaan proses sertifikasi
(Permendikbud No.62 Tahun 2013). LPTK yang dipilih merupakan perguruan tinggi yang
terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah. Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu
guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru, diharapkan dapat meningkatkan mutu
pembelajaran dan meningkatkan mutu layanan bimbingan dan konseling yang pada akhirnya
meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Bagi peserta sertifikasi yang
belum dinyatakan lulus, LPTK Rayon merekomendasikan alternatif untuk melakukan kegiatan
mandiri untuk melengkapi kekurangan dokumen portofolio atau mengikuti Pendidikan dan
Pelatihan Profesi Guru (Diklat Profesi Guru atau PLPG) yang diakhiri dengan ujian.

PLPG diakhiri dengan uji kompetensi guru (UKG) yang dilakukan oleh LPTK Penyelenggara
Sertifikasi Guru dengan mengacu pada rambu-rambu Ujian PLPG. Uji kompetensi meliputi uji
tulis dan uji kinerja (praktik pembelajaran).

PLPG sangat diperlukan dalam meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia dalam
suatu lembaga pendidikan. PLPG juga penting untuk membantu meningkatkan kemampuan
sumber daya manusia dengan lebih baik. Selain itu PLPG akan membawa keuntungan bagi
lembaga pendidikan, sehingga akan tercipta tenaga-tenaga pendidik yang profesional serta
berkompetensi pada bidangnya masing-masing.

Berdasarkan rambu-rambu pelaksanaan pendidikan dan latihan profesi guru adapun


penyelenggaraan PLPG dilakukan berdasarkan proses baku sebagai berikut:

1. PLPG dilaksanakan oleh LPTK penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan yang telah ditetapkan
pemerintah.
2. PLPG diselenggarakan selama minimal 9 hari dan bobot 90 jam pertemuan (JP), dengan alokasi
30 JP teori dan 60 JP praktik. Satu JP setara dengan 50 menit.
3. Pelaksanaan PLPG bertempat di LPTK atau di kabupaten/kota dengan memperhatikan
kelayakannya (representatif dan kondusif) untuk proses pembelajaran.
4. Rombongan belajar (rombel) PLPG diupayakan satu bidang keahlian/mata pelajaran. Dalam
kondisi tertentu yang tidak memungkinkan (dari segi jumlah) rombel dapat dilakukan
berdasarkan rumpun bidang studi/mata pelajaran.
5. Satu rombel maksimal 30 orang peserta, dan satu kelompok peer teaching/peer counseling/peer
supervising maksimal 10 orang peserta dalam kondisi tertentu jumlah peserta satu rombel atau
kelompok peer teaching/peer counseling/peer supervising dapat disesuaikan.
6. Satu kelompok peer teaching/peer counseling/peer supervising difasilitasi oleh dua orang
instruktur. Dalam kondisi tertentu, peer teaching/peer counseling/peer supervising dapat
difasilitasi oleh satu orang, tetapi pada saat ujian, instruktur harus 2 orang.
7. Dalam proses pembelajaran, instruktur menggunakan multi media dan multi metode yang
berbasis pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).
8. PLPG diawali pretest sacara tertulis (1 JP) untuk mengukur kompetensi pedagogic dan
professional awal peserta.
9. PLPG diakhiri uji kompetensi dengan mengacu pada rambu-rambu pelaksanaan PLPG. Uji
kompetensi meliputi uji tulis dan uji kinerja (praktik pembelajaran).
10. Ujian tulis pada akhir PLPG dilaksanakan dengan pengaturan tempat duduk yang layak dan
setiap 30 peserta diawasi oleh dua orang pengawas.
11. Ujian praktik dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
12. Guru kelas dan guru mata pelajaran terpadu dengan kegiatan peer
13. Guru bimbingan konseling atau konselor terpadu dengan kegiatan peer counseling.
14. Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas, ujian praktik terdiri atas penyusunan rencana
program kepengawasan, penyusunan laporan kepengawasan dan ujian praktik supervisi (peer
supervising).
15. Sekurang-kurangnya satu penguji pada ujian praktik harus memiliki NIA yang relevan atau dalam
kondisi tertentu serumpun dengan mata pelajarannya.
16. Ujian praktik mengajar dinilai dengan Lembar Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran (IPKG II),
ujian praktik bimbingan konseling dinilai dengan Lembar Penilaian Pelaksanaan Bimbingan
Konseling.
17. Khusus untuk guru yang diangkat dalam jabatan pengawas ujian praktik supervisi dinilai dengan
lembar penilaian yang analog dengan IPKG II.
18. Penentuan kelulusan peserta PLPG dilakukan secara objektif dan didasarkan pada rambu-rambu
penilaian yang telah ditentukan.
19. Peserta yang lulus mendapat sertifikat pendidik, sedangkan yang tidak lulus diberi kesempatan
untuk mengikut ujian ulang sebanyak-banyaknya dua kali. Ujian ulang diselesaikan pada tahun
berjalan. Jika terpaksa tidak terselesaikan, maka ujian ulang dilakukan bersamaan dengan ujian
PLPG kuota tahun berikutnya.
20. Pelaksanaan ujian diatur oleh LPTK penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan dengan
mengacu rambu-rambu ini.
21. Peserta yang belum lulus pada ujian ulang yang kedua diserahkan kembali ke dinas
pendidikan/kandepag kabupaten/kota untuk dibina lebih lanjut18

Adapun materi PLPG disusun dengan memperhatikan empat kompetensi guru, yaitu ”1)
pedagogik, 2) profesional, 3) kepribadian, 4) sosial.” Standarisasi kompetensi dirinci dalam
materi PLPG ditentukan oleh LPTK penyelenggara sertifikasi dengan mengacu pada rambu-
rambu yang ditetapkan oleh Dirjen Dikti atau Ketua Konsorsium Sertifikasi Guru dan hasil need
assesment. (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Sertifikasi
Guru dalam Jabatan Tahun 2009:Rambu-rambu Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Profesi
Guru (PLPG) : 4-6

1. Analisis Mendalam permasalahan program sertifikasi guru di Indonesia

Menjadi guru bukan merupakan bakat sejak lahir, seseorang yang akan menjadi guru profesional
harus melewati proses pendidikan, pengarahan, dan pelatihan yang intensif terlebih dahulu. Guru
sebagai pemeran utama dalam menentukan kualitas pendidikan memang sudah semestinya
mendapatkan sarana dalam mengupgrade kapasitas dirinya agar menjadi guru yang berkompeten
dan profesional yang kemudian berdampak pada peningkatan kualitas peserta didik dan lebih
jauh lagi menigkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Dalam rangka merealisasikan amanat Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen (UUGD) tentang sertifikasi guru, pemerintah telah menyusun berbagai program yang
bertujuan untuk peningkatan kualitas dan juga kesejahteraan guru. Salah satunya adalah adanya
program sertifikasi guru. Namun dalam realisasinya pelaksanaan program sertifikasi guru masih
menemui banyak permasalahan, baik dalam hal pelaksannannya maupun pencapian tujuan sesuai
dengan hasil yang diinginkan. Dalam praktiknya ternyata banyak ditemui berbagai tindak
penyelewengan baik yang nampak hingga ke publik maupun yang terselubung oleh pihak-pihak
tertentu.

Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Malem Sendah Sembiring, Staf Peneliti
Puslitjaknov, balitbang Kemdiknas, melalui penelitiannya yang berjudul “Kajian Implementasi
Kebijakan Program Sertifikasi Guru” (Rohemi, 2013) mencatat setidaknya ada empat temuan
yang menunjukkan kegagalan program sertifikasi guru di Indonesia.

Pertama, implementasi kebijakan uji kompetensi guru melalui uji portofolio diragukan
pengaruhnya terhadap peningkatan kompetensi guru dan mutu pembelajaran. Kedua, untuk
memenuhi persyaratan penilaian portofolio sejumlah guru terkendala dengan persyaratan jumlah
jam mengajar dan kualifikasi pendidikan. Ketiga, terindikasi adanya praktek-praktek kurang
terpuji alam proses mendapatkan dokumen yang diperlukan untuk penilian portofolio guru.
Keempat, belum terlihat adanya perbedaan kompetensi akademik, paedagogik, sosial antara guru
yang bersertifikat dan belum bersertifikat (Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan, vol. 8 tahun
ke-3, Agustus 2010) (Rohemi, 2013)

Dari hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa misi sertifikasi guru untuk
meningkatkan mutu pendidikan dan menyejahterakan guru akan sulit terwujud bila hambatan
dan kecurangan-kecurangan yang sudah terjadi baik oleh pihak pemda maupun oleh para guru itu
sendiri masih tetap terpelihara. Praktik-praktik kecurangan yang telah terindikasi beberapa tahun
terakhir masih saja terjadi. Sehingga tidak menutup kemungkinan proses sertifikasi guru akan
gagal mencapai tujuannya.

Berkaitan dengan UUGD, banyak memberikan efek positif terhadap profesi guru. Martabat guru
semakin dihargai dan dihormati, kesejahteraannya semakin diperhatikan, terlebih lagi dengan
adanya program sertifikasi guru. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik
kepada guru dan dosen (UU No 14 Tahun 2005).

Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Guru
profesional merupakan syarat mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang
berkualitas. Tujuan utamanya adalah meningkatkan profesionalitas guru sehingga kinerjanya
lebih baik dan kualitas pendidikan akan meningkat seiring dengan meningkatnya profesionalitas
guru tersebut. Sebagai konsekuensi logis dari disandangnya predikat guru profesional, maka guru
yang bersangkutan berhak untuk mendapatkan tunjangan profesi, yaitu sejumlah uang yang
besarnya sama dengan satu kali gaji pokok PNS tiap bulan. Dengan adanya tunjangan tersebut
diharapkan kesejahteraan para guru meningkat dan yang lebih utama dan esensial adalah kualitas
guru semakin baik dan kompetensinya semakin terasah.
Amanat UUGD yang berkaitan dengan sertifikasi guru ini didukung secara penuh oleh
Pemerintah. Komitmen pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional
(Kemendiknas), dalam meningkatkan profesionalitas guru di Indonesia ini dibuktikan dengan
memberikan anggaran Rp 70 triliun hingga tahun 2016 untuk membiayai peningkatan
profesionalitas guru melalui sertifikasi. Sebuah jumlah anggaran yang fantastis dan dianggap
wajar yang sedang dan akan digunakan bagi 2,7 juta guru yang saat ini ada di Indonesia.

Tujuan mulia adanya sertifikasi guru ternyata dalam tataran implementasinya menimbulkan
berbagai permasalahan. Permasalahan-permasalahan ini pada umumnya dikeluhkan oleh para
guru, antara lain: tidak transparannya penetapan kuota guru yang disertifikasi; banyak guru yang
seharusnya berhak, justru tidak ditetapkan sebagai peserta sertifikasi; pembayaran tunjangan
sertifikasi yang tidak menentu dan selalu terlambat; kalaupun tunjangan profesi pada akhirnya
dibayarkan, tetapi terkadang jumlah bulan yang dibayarkan tidak utuh, harusnya 12 bulan
misalnya, ternyata yang cair hanya 9 bulan; jarak waktu yang lumayan agak lama antara
pengumuman kelulusan dengan penerbitan SK pencairan tunjangan profesi; khusus untuk guru
agama yang merangkap guru kelas atau kepala sekolah, namanya terkadang tercantum pada
kuota sertifikasi guru di Kemendiknas dan di Kementerian Agama (Kemenag); kinerja guru yang
sudah disertifikasi biasa-biasa saja dan tidak menunjukkan peningkatan kinerja secara signifikan,
tidak ada perubahan yang berarti, malah kinerjanya lebih rendah dari guru yang belum
disertifikasi;

Masalah yang sangat mencolok adalah adanya disharmoni. Program sertifikasi telah
menimbulkan terjadinya kesenjangan atau disharmoni antara guru-guru yang sudah disertifikasi
dengan guru-guru yang belum. Banyak guru senior di sekolah dasar yang hanya berbekal ijazah
Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang sudah bertahun-tahun mengajar tetapi tidak terpanggil
untuk sertitikasi. Sementara guru baru bergelar sarjana (S-1) yang baru beberapa tahun mengajar
sudah dipanggil untuk sertifikasi. Setelah proses sertifikasi bergulir celakanya tidak ada alat
evaluasi atau mekanisme yang jelas dan mampu memetakan kinerja guru sebelum dan setelah
disertifikasi. Yang ada hanya ancaman kalau kelak ada evaluasi kinerja guru yang sudah
disertifikasi dan terbukti kinerjanya rendah, maka guru yang bersangkutan akan dicabut
tunjangan profesinya. Sepertinya proses sertifikasi kurang mampu membangun etos kerja guru
tetapi justru membuat para guru haus tunjangan.

Aspek ini yang menyebabkan para guru seperti menghalalkan segala cara untuk mencapai
tujuannya. Kisah bahwa kelulusan sertifikasi diperoleh dengan curang bukanlah dongeng belaka.
Manipulasi portofolio, kelengkapan dokumen seperti piagam, makalah dan syarat-syarat lain
yang diperlukan menjadi bukti bahwa tunjangan sertifikasi jauh lebih menggiurkan ketimbang
prosesnya sendiri yang harus disertai dengan kerja keras membangun kultur pendidikan.

1. Solusi permasalahan PLPG dan sertifikasi

Dengan memperhatikan berbagai problematika dalam realisasi sertifikasi guru, bukan berarti
sertifikasi guru ini harus ditinjau ulang dan distop pelaksanaannya. Sertifikasi guru harus tetap
berlangsung dan terus dievaluasi secara komprehensif karena program ini merupakan amanat
undang-undang. Dalam tataran penerapannya ada beberapa aspek atau komponen yang harus
dibenahi, antara lain :

1. Pentingnya peran petugas dalam pelaksanaan program sertifikasi guru dalam jabatan
seharusnya diimbangi dengan pemenuhan jumlah sumber dayanya. Maka dari itu perlu untuk
memerhatikan jumlah staf atau pegawai yang dibutuhkan untuk melaksanakan segala kegiatan
yang berhubungan dengan implementasi program sertifikasi guru serta sumber daya
finansialnya.
2. Sosialisasi merupakan hal yang penting agar program sertifikasi guru dalam jabatan dapat
berjalan sesuai dengan tujuan dan harapan. Maka dari itu seharusnya kegiatan sosialisasi ini
lebih ditingkatkan lagi agar pelaksanaan program sertifikasi guru ini berjalan sesuai dengan
panduan yang telah ditetapkan sehingga baik para pelaksana maupun peserta dapat
melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing dengan baik.
3. Dalam melaksanakan suatu program, kegiatan pengawasan dan Pembuatan laporan secara
kontinyu sangat dibutuhkan untuk nantinya dapat digunakan sebagai patokan atau acuan dan
sebagai bahan evaluasi. Untuk itu seharusnya dalam memberikan laporan pelaksanaanprogram
harus sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan agar dapat melihat perkembangan dari
program sehingga memudahkan dalam pengambilan keputusan dan tindakan selanjutnya.
(Ningrum Fauziah Yusuf, dkk. 2017)
4. Diperlukan adanya kesadaran diri khususnya bagi guru yang sudah tersertifikasi, sudah
semestinya berupaya munjukkan kinerja yang lebih baik lagi, khususnya kinerja yang terkait
dengan proses belajar mengajar sangat erat kaitannya dengan usaha meningkatkan mutu
pendidikan.
5. Keyakinan dalam diri setiap guru yang sudah maupun belum tersertifikasi bahwa tunjangan
profesi bukan tujuan utama dan bukan segala-galanya. Semangat atau tidaknya mengajar bukan
dikarenakan ada atau tidaknya tunjangan profesi. Guru bukan merupakan mata pencaharian
yang akan menjadikan kita kaya karena guru adalah pengabdian yang berbalas pahala dan
tunjangan itu hanyalah penghargaan. Maka sudah seharusnya mindset ingin kaya dengan
menjadi guru karena berbagai tunjangan yang didapatkan harus dibuang jauh-jauh. Tanamkan
dalam diri sebuah keyakinan bahwa mendidik merupakan panggilan jiwa, panggilan hati nurani,
yang harus bersih dari motivasi duniawi.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pengembangan profesionalitas guru didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan untuk


meningkatkan taraf atau derajat profesi seorang guru yang menyangkut kemampuan guru, baik
penguasaan materi ajar atau penguasaan metodologi pengajaran, serta sikap keprofesionalan guru
menyangkut motivasi dan komitmen guru dalam menjalankan tugas sebagai guru.
Guru profesional adalah guru yang menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang dipanggil
untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. Sehingga,guru secara terus-menerus perlu
mengembangkan pengetahuannya tentang bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar.
Perwujudannya, jika terjadi kegagalan pada peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan
akar penyebabnya dan mencari solusi bersama peserta didik, bukan mendiamkannya atau
malahan menyalahkannya. Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk
mengenali diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya serta mau belajar dengan
meluangkan waktu untuk menjadi guru.

Strategi dalam pengembanganprofesionalitas dapatdirumuskankedalam tiga level yaitu: pertama


upaya-upaya profesionalisasi yang dilakukan oleh guru secara pribadi agar mereka dapat
meningkatkan kualitas keprofesionalan, dengan atau tanpa bantuan pihak lain. Dengan kata lain
dapat dikatakan sebagai pelatihan mandiri. Kedua, pengembangan yang dilakukan oleh
manajemen lembaga melalui berbagai kebijakan manajerial yang dilakukan. Kedua level ini
dapat diaktegorikan dalam strategi mikro pengembangan profesional guru. Sedangkan level
ketiga adalah upaya pengembangan pada level makro yang menjadi tanggung jawab pemerintah
dan masyarakat secara luas dalam kerangka manajemen pendidikan nasional.

3.2 Saran

Diharapkan bagi pembaca khusunya mahasiswa jurusan kependidikan dan calon guru serta para
guru supaya lebih meningkatkan dan mengembangkan profesinya sehingga menjadi guru yang
lebih professional dan berkualitas dalam upaya menambah wawasan dan memperkaya
pengetahuan pesertadidik.

DAFTAR PUSTAKA

Alzano, Alfi. 2015.” Efektivitas Program Sertifikasi Guru Dalam Meningkatkan Mutu Hasil
Pendidikan (Studi pada SMK Negeri 2 Batusangkar)”. Skripsi. Bandung. Program Sarjana
Unpad.

Chairiah, Siti. 2010. “Efektivitas Pendidikan Dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Dalam
Menunjang Profesionalisme Guru (Studi Kasus Pada Guru Smp Muhammadiyah 22 Setiabudi
Pamulang Tangerang – Banten).”. Skripsi Program Studi Ki-Manajemen Pendidikan . Jakarta.
Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Uin Syarif Hidayatullah
Danil, Deden. 2009. “Upaya Profesionalisme Guru Dalam Meningkatkan Prestasi Siswa di
Sekolah (Study Deskriptif Lapangan di Sekolah Madrasah Aliyah Cilawu Garut)”. Garut: Jurnal
Pendidikan Universitas Garut. Vol. 3,No. 1.

Danim, Sudarwan. 2011. Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Sertifikasi Guru dalam
Jabatan Tahun 2009:Rambu-rambu Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru
(PLPG).

Drajat, Manpandan Ridwan Effendi. 2014. Etika Profesi Keguruan. Bandung: Alfabeta.

Lilies, Noorjanah. 2014. “Pengembangan Profesionalisme Guru Melalui Penulisan Karya Tulis
Ilmiah Bagi Guru Profesional di SMA NEGERI 1 KAUMAN KABUPATEN
TULUNGAGUNG”. Tulungagung: Jurnal Humanity. Vol. 10,No. 1.

Mustofa. 2007. “Upaya Pengembangan Profesionalisme Guru di Indonesia”.

Yogyakarta: Jurnal Ekonomi dan Pendidikan. Vol. 4,No. 1.

Pahrudin. 2015. “Peningkatan Kinerja dan Pengembangan Profesionalitas Guru Sebagai Upaya
Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia”. Surakarta: Prosiding Seminar Nasional Pendidikan
Ekonomi dan Bisnis.

Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia. Nomor 62 Tahun 2013
Tentang Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Dalam Rangka Penataan Dan Pemerataan Guru.

Rohemi. 2013. “Sertifikasi Guru dan Problematikannya”. Semarang: Seminar Nasional Evaluasi
Pendidikan.

Sobri, Ahmad Yusuf.2016. “Model-Model Pengembangan Profesionalisme Guru”.

Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) VIII. Malang.

Syahrul. 2009. ”Pengembangan Profesi dan Kompetensi Guru Berbasis Moral dan Kultur”.
Malang: Jurnal MEDTEK. Vol. 1,No. 1.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagai Tenaga Profesi.

Yusuf, Ningrum Fauziah; Herijanto Bekti; Dedi Sukarno. 2017. “Implementasi Program
Sertifikasi Guru Dalam Jabatan (Studi Pada Madrasah Aliyah Negeri Ciparay Kabupaten
Bandung)”. Bandung: Jurnal Administrasi Negara.Volume 2 No 1.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang

Guru memiliki peran yang sangat esensial bagi mutu pendidikan di Indonesia karena guru
menjadi salah satu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran
disamping kurikulum dan sarana prasarana. Guru memiliki tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, dan mengevaluasi peserta didik. Tugas utama tersebut akan menjadi efektif
apabila guru memiliki derajat profesionalitas tertentu yang meliputi kompetensi yang harus
dimiliki guru disertai dengan kode etik tertentu. Menurut Undang-undang Nomor 14 tahun 2005
kompetensi yang harus dimiliki guru meliputi meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. keempat kompetensi tersebut dalam
praktiknya merupakan satu kesatuan yang utuh. Guru profesional sudah seyogyanya mampu
menguasai keempat kompetensi tersebut.

Dalam kaitannya dengan mutu pendidikan, kompetensi guru memiliki hubungan yang positif.
Semakin guru menguasai kompetensi minimal yang harus dimilikinya maka mutu pendidikan di
Indonesia juga akan meningkat. Namun melihat fenomena yang ada sekarang, masih banyak
ditemukan kasus yang mencerminkan masih rendahnya tingkat profesionalitas guru di Indonesia.
Salah satunya dapat dilihat dari masih banyak guru yang menggunakan metode pembelajaran
yang monoton tanpa adanya inovasi dalam pembelajaran, masih benyak guru yang belum
mempunyai kualifikasi S1dan masih banyak persolan lainnya. Pengembangan guru di Indonesia
juga masih rendah. Banyak guru-guru dalam bidang skill (kemampuan mengajar) masih kurang,
kurangnya pengembangan dan peningkatan organisasi serta kurangnya pengembangan dan
peningkatan keperibadian (motivasi berprestasi). Padahal peran guru demikian penting dalam
peningkatan mutu pendidikan.

Secara kuantitatif jumlah tenaga guru telah cukup memadai, tetapi mutu serta
profesionalismenya belum sesuai dengan harapan. Guru bukan hanya sekedar profesi. Guru
bukan hanya mengajarkan materi dan memberikan

penilaian. Dalam proses penyampaian materi itu sendiri memerlukan teknik dan seni sebagai
hasil dari perpaduan kompetensi yamg dimiliki oleh guru. Sehingga guru menjadi lebih kreatif
dalam mengembangkan pembelajaran. Peningkatan kompetensi guru dalam rangka
pengembangan profesi guru dinilai sangat berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik dan
lebih luas lagi meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Maka dalam makalah ini, penulis
tertarik untuk membahas tentang guru berkaitan denganpengembangan profesi guru.

1.2 RumusanMasalah
1. Apa yang dimaksud dengan pengembangan profesi keguruan?
2. Bagaimana sikap professional seorang guru?
3. Bagaimana pengembangan profesi keguruan?

1.3 Tujuan

Penulis menyusun makalah “Pengembangan Profesi Keguruan” dalam rangka memenuhi tugas
kelompok mata kuliah Etika Profesi Keguruan dan antara lain bertujuan agar dapat:

1. Menjelaskan pengertian pengembangan profesi keguruan.


2. Menjelaskan sikap professional guru.
3. Menjelaskan pengembangan profesi guru.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Pengembangan Profesi Keguruan

Sebelum menguraikan definisi Pengembangan profesi keguruan, terlebih dahulu kita mengetahui
apa sebenarnya definisi dari ketiga kata tersebut.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Pengembangan bisa diartikan dengan proses atau perbuatan mengembangkan.Sedangkan
menurut

 no 18 tahun 2002, Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya
untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah
ada, atau menghasilkan teknologi baru.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi bisa diartikan dengan bidang pekerjaan yang
dilandasi pendidikan keahlian keterampilan, kejuruan, tertentu. Selain istilah profesi kita
mengenal istilah profesional, profesionalisme, dan profesionalisasi. Ketiga istilah tersebut
memiliki definisi masing-masing. Sudarwan Danim(2011:103) membedakan ketiga istilah
tersebut sebagai berikut :

Profesional merujuk pada dua hal yaitu orang yang menyandang suatu profesi dan kinerja dalam
melakukan pekerjaan yang sesuai denga profesinya. Profesionalisme dapat diartikan sebagai
komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus
menerus mengembangkan strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai
dengan profesinya itu. Sedangkan profesionalisasi merupakan proses peningkatan kualifikasi
atau kemampuan para anggota penyandang suatu profesi untuk mencapai kriteria standar ideal
dari penampilan atau perbuatan yang diinginkan oleh profesinya itu.

Keguruan sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bisa diartikan perihal (yang
menyangkut) pengajaran, pendidikan, dan metode pengajaran. Dalam UU Nomor 14 tahun 2005
tentang guru dan dosen, Profesi keguruan adalah pendidikan profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada usia dini, jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Joan mengemukakan bahwa, pengembangan profesionalitas guru (professional development


teacher) dimaknai sebagai a process wherebyteacher become more professional, yakni suatu
proses yang dilakukan untuk menjadikan guru dapat tampil secara lebih profesional. “ (Pahrudin,
2015)”

Dengan kata lain dapat diartikan bahwa, pengembangan profesi guru didefinisikan sebagai upaya
yang dilakukan untuk meningkatkan taraf atau derajat profesi seorang guru yang menyangkut
kemampuan guru, baik penguasaan materi ajar atau penguasaan metodologi pengajaran, serta
sikap keprofesionalan guru menyangkut motivasi dan komitmen guru dalam menjalankan tugas
sebagai guru.

Pengembangan dan peningkatan profesi guru juga dilakukan dalam rangka menjaga agar
kompetensi keprofesiannya tetap sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin modern.
Pembinaan dan pengembangan profesi guru meliputi pembinaan kompetensi pedagogik,
kepribadian, profesional, dan sosial. Sedangkan pembinaan dan pengembangan karier meliputi
penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi. Keduanya disesuaikan dengan jabatan fungsional
masing-masing.

Urgensi program pengembangan guru sendiri didasarkan pada sebuah asumsi bahwa tidak semua
guru dan tenaga kependidikan yang dihasilkan telah memenuhi kriteria guru profesional. Dengan
berdasarkan pada asumsi-asumsi tersebut, agar guru dapat memberikan kontribusinya secara
maksimal bagi pencapaian tujuan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia,
maka harus ada upaya pengembangan profesi guru yang dilakukan secara bertahap dan
berkesinambungan (terus-menerus). Kegiatan pembinaan dan pengembangan profesi guru
dilakukan atas prakarsa pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara satuan pendidikan,
asosiasi guru, dan guru secara pribadi.

Pemerintah idealnya berperan aktif dalam upaya pengembangan profesi guru seperti dalam UU
Nomor 14 tahun 2005 bahwasanya pemerintah berkewajiban untuk memberikan dana dalam
rangka membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru agar terbentuk
guru yang profesional dan mumpuni dari segi kompetensi. Secara pribadi, seorang guru
seharusnya memposisikan diri sebagai guru pembelajar. Dimana ia akan selalu berusaha
mengupgrade kapasitas dirinya dengan proses belajar mandiri sehingga pengetahuan dan skill
yang dimiliki semakin terasah dan memenuhi kriteria sebagai guru yang profesional. Secara
umum, kegiatan pengembanagan profesi guru dimaksudkan untuk merangsang, memelihara, dan
meningkatkan kompetensi guru dalam memecahkan masalah pendidkan dan pembelajaran yang
berdampak pada peningkatan mutu belajar siswa yang selanjutnya meningkatkan mutu
pendidikan.

1. Sikap Profesionalitas

Konsep sikap profesionalitas

Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau
kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Maister (1997) (Mustofa,2007)
mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan, teknologi dan manajemen
tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan
hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.

Profesional juga bisa diartikan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang
dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau
kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan
profesi (UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ). Jadi profesional menunjuk pada
dua hal yakni orang yang melakukan pekerjaan dan penampilan atau kinerja orang tersebut
dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya Daryanto (2013) (Lilies,2014).

Jadi Guru profesional adalah guru yang menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang dipanggil
untuk mendampingi peserta didik dalam belajar. Sehingga guru secara terus-menerus perlu
mengembangkan pengetahuannya tentang bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar.
Perwujudannya, jika terjadi kegagalan pada peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan
akar penyebabnya dan mencari solusi bersama peserta didik, bukan mendiamkannya atau
malahan menyalahkannya. Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk
mengenali diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya serta mau belajar dengan
meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar, tidak mungkin
kerasan dan bangga menjadi guru. Kerasan dan kebanggan atas keguruannya adalah langkah
untuk menjadi guru yang profesional Kunandar (2010) ( Lilies,2014). Kualitas profesionalisme
guru ditunjukkan oleh lima sikap,yakni :

 Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal;


 Meningkatkan dan memelihara citra profesi;
 Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat
meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan ketrampilannya
 Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi;

5) Memiliki kebanggaan terhadap profesinya Sagala (2009) (Lilies,2014).

Guru profesional adalah guru yangmelaksanakan tugas keguruan dengan kemampuan tinggi
(profesiensi) sebagai sumber kehidupan. Dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, guru
dituntut memiliki keanekaragaman kecakapan (competencies) psikologis yang meliputi :

 Kompetensi kognitif (kecakapan ranah cipta);


 Kompetensi afektif (kecakapan ranah rasa);
 Kecakapan psikomotor (kecakapan ranah karsa).
Disamping itu, ada satu kompetensi yang diperlukan guru, yakni kompetensi kepribadian Syah
(2011) ( Lilies,2014).

Menurut Suryadi dalam Suwarna (2004) ( Mustofa,2007), predikat guru profesional dapat
dicapai dengan memiliki empat karakteristik profesional, yaitu:

1. Kemampuan profesional (professional capacity), yaitu kemampuan intelegensi sikap, nilai, dan
keterampilan serta prestasi dalam pekerjaannya. Secara sederhana, guru harus menguasai
materi yang diajarkan.
2. Kompetensi upaya profesional (professional effort), yaitu kompetensi untuk membelajarkan
siswanya.
3. Profesional dalam pengelolaan waktu (time devotion).
4. Imbalan profesional (professional rent) yang dapat menyejahterakan diri dan keluarganya.

Arifin (2000) (Mustofa,2007) mengemukakan guru Indonesia yang profesional dipersyaratkan


mempunyai:

1. Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi dan masyarakat
ilmu pengetahuan di abad 21;
2. Penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidikan yaitu ilmu pendidikan
sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan
proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan
pada praksis pendidikan masyarakat Indonesia;
3. Pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan. Profesi guru merupakan profesi
yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek
pendidikan. Kekerdilan profesi guru dan ilmu pendidikan disebabkan terputusnya program pre-
service dan in-service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau manajemen pendidikan
yang lemah.

Ciri-ciri Guru Profesional

GPM memiliki ciri-ciri sebagai professional sungguhan. Ciri-ciri itu terefleksi dari perilaku
kesehariannya sebagai GPM. Hasil study beberapa ahli mengenai sifat-sifat atau karakteristik
profesi, yang secara taat asas dimiliki dan dijunjung tinggi oleh GPM, yang menghasilkan
kesimpulan sebagai berikut:

1. Kemampuan intelektual yang diperoleh melalui pendidikan. Termasuk dalam kerangka ini,
pelatihan-pelatihan khusus yang berkaitan dengan keilmuan yang dimiliki oleh seorang
penyandang profesi.
2. Memiliki pengetahuan spesialisasi. Pengetahuan spesialisasi mengkhususkan penguasaan bidang
keilmuan tertentu. Guru yang sesungguhnya harus memiliki spesialisasi bidang studi (subject
matter) dan penguasaan metodologi pembelajaran.
3. Menjadi anggota organisasi profesi. Dibuktikan dengan kepemilikan kartu anggota, pemahaman
terhadap norma–norma organisasi, kepatuhan terhadap kewajiban dan larangan yang
ditetapkan oleh organisasi tersebut.
4. Memiliki pengetahuan praktis yang dapat digunakan langsung oleh orang lain atau klien.
Pengetahuan khusus itu bersifat aplikatif dimana aplikasinya didasari atas kerangka teori yang
jelas dan teruji.
5. Memiliki teknik kerja yang dapat dikomunikasikan atau communicable. GPM mampu
berkomunikasi sebagai guru dalam makna apa yang disampaikannya dapat dipahami oleh siswa.
6. Memiliki kapastitas mengorganisasikan kerja secara mandiri dan self-organization. Istilah
mandiri disini berarti kewenangan kademiknya melekat pada diri sendiri.
7. Mementingkan kepentingan orang lain (altruism). Memberikan layanan kepada anak didik pada
saat bantuan itu diperlukan.
8. Memiliki kode etik. Kode etik dijadikan norma dan asas yang disepakati dan diterima oleh guru–
guru Indonesia sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas profesi sebagai
pendidik.
9. Memiliki sanksi dan tanggung jawab komunitas. Dalam bekerja GPM memiliki tanggung jawab
kepada komunitas terutama anak didiknya.
10. Mempunyai sistem upah. Sistem upah yang dimaksud disini adalah standar gaji yang terima oleh
guru.
11. Budaya professional. Budaya profesi dapat berupa penggunaan symbol yang berbeda dengan
simbol–simbol untuk profesi lain.
12. Melaksanakan pertemuan professional tahunan. Pertemuan ini dapat dilakukan dalam bentuk
forum guru, seminar, diskusi panel, workshop.

1. Prinsip Profesional

Profesi guru menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen harus
memiliki prinsip-prinsip profesional seperti tercantum pada pasal 5 ayat 1, yaitu: ”Profesi guru
dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang memerlukan prinsip-prinsip profesional
sebagai berikut:

1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme.


2. Memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya.
3. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya.
4. Mematuhi kode etik profesi.
5. Memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas.
6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya.
7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan.
8. Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
9. Memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum.

Menurut Richard D. Kellough (1998) (Danim, Sudarwan,2011)

kompetensi yang harus dikuasai guru professional yaitu :


1. Menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran yang diajarkan,
2. Merupakan anggota aktif organisasi profesi guru, membaca jurnal professional, melakukan
dialog dengan sesame guru, mengembangkan kemahiran metodologi, membina siswa dan
materi pelajaran,
3. Memahami proses belajar dalam artian siswa memahami tujuan belajar, harapan – harapan dan
prosedur yang ada di kelas,
4. Terbuka untuk berubah, berani mengambil resiko dan bertanggung jawab,
5. Mengorganisasi kelas dan merencanakan pelajaran secara cermat,
6. Komunikator yang efektif,
7. Bisa mengambil keputusan secara efektif,
8. Menyiapkan situasi belajar yang positif dan konstruktif,
9. Mempunyai humor yang sehat,
10. Mampu mengenali secara cepat siswa yang mememerlukan perhatian yang khusus,
11. Mampu mengimplementasikan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari–hari,
12. Dapat dipercaya baik dalam membuat perjanjian maupun kesepakatan.

Lebih lanjut dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 28
menyebutkan bahwa ”pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai
agen pembelajaran, sehat jasmani dan rokhani, serta memilki kemampuan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional”.

Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Profesionalisme Guru

Menurut Ani M. Hasan (2003) (Mustofa,2007), faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya


profesionalisme guru antara lain:

1. Masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh.Hal ini disebabkan oleh banyak
guru yang bekerja diluar jam kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga
waktu untuk membaca dan menulis untuk meningkatkan diri tidak ada;
2. Kemungkinan disebabkan oleh adanya perguruan tinggi swasta sebagai pencetak guru yang
lulusannya asal jadi tanpa mempehitungkan outputnya kelak di lapangan sehingga
menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesi keguruan;
3. Kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri karena guru tidak dituntut untuk
meneliti sebagaimana yang diberlakukan pada dosen di perguruan tinggi.

Secara lebih rinci, Akadum (1999) (Mustofa,2007) mengemukakan bahwa ada lima penyebab
rendahnya profesionalisme guru:

1. Masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total,


2. Rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi keguruan,
3. Pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah hati dari pengambilan
kebijakan dan pihak-pihak terlibat. Hal ini terbukti dari masih belum mantapnya kelembagaan
pencetak tenaga keguruan dan kependidikan,
4. Masih belum ada kesepakatan pendapat tentang proporsi materi ajar yang diberikan kepada
calon guru,
5. Masih belum berfungsinya PGRI sebagai organisasi profesi yang berupaya secara maksimal
meningkatkan profesionalisme anggotanya. Kecenderungan PGRI bersifat politis memang tidak
bisa disalahkan, terutama untuk menjadi pressure group agar dapat meningkatkan
kesejahteraan anggotanya. Namundemikian di masa mendatang PGRI sepantasnya mulai
mengupayakan profesionalisme para anggotanya.

Pengembangan Profesi Guru

1. strategi pengembangan Profesi Guru

Pengembangan profesionalisme guru selalu mendapatkan perhatian secara global, karenaguru


berperan penting dalam mencerdaskan bangsa dan sebagai sentral pendidikan karakter. Tugas
mulia yang diemban seorang guru tersebut menjadi berat karena bukan saja guru harus
mempersiapkan generasi muda sebagai penerus yang mampu bersaing namun juga unggul dari
segi karakter. Mengembangkan profesi guru bukan sesuatu yang mudah, maka diperlukan
strategi yang tepat dalam upaya menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan profesi guru.
Situasi kondusif ini jelas amat diperlukan oleh tenaga pendidik untuk dapat mengembangkan diri
sendiri ke arah profesionalisme guru. Dalam jurnal ekonomi dan pendidikan yang ditulis
Mustofa dijelaskan beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk menciptakan situasi yang
kondusif bagi pengembangan profesi guru, yaitu: a. Strategi perubahan paradigma

Strategi ini dimulai dengan mengubah paradigma birokasi agar menjadimampu mengembangkan
diri sendiri sebagai institusi yang berorientasipelayanan, bukan dilayani. Strategi perubahan
paradigma dapat dilakukan melalui pembinaan guna menumbuhkan penyadaran akan peran dan
fungsi birokrasi dalam kontek pelayanan masyarakat.

1. Strategi debirokratisasi

Strategi ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkatan birokrasi yang dapatmenghambat pada
pengembangan diri guru. Strategi tersebut memerlukan metode operasional agar dapat
dilaksanakan. Sementara strategi debirokratisasi dapat dilakukan dengan cara mengurangi dan
menyederhanakan berbagai prosedur yang dapat menjadi hambatan bagi pengembangan diri guru
serta menyulitkan pelayanan bagi masyarakat.

Untuk melakukan profesionalisasi ada tiga pengembangan yang ditawarkan oleh R.D. Lansbury
(Pahrudin, 2015) yang dapat dijadikan sebagai kerangka dalam merumuskan strategi
pengembangan yakni :

 Pendekatan karakteristik, berupaya memunculkan karakter yang melekat dalam suatu profesi,
sehingga profesi itu benar-benar dijalankan sesuai dengan tuntunan profesional.
 Pendekatan institusional, pendektan yang lebih memandang profesionalitas sebagai suatu
proses konstitusional atau perkembangan asosional
 Pendekatan legalistik, merupakan upaya profesionalisasi yang menekankan pada adanya
pengakuan suatu profesi oleh negara.

Dari pendekatan diatas, dapat dirumuskan strategi dalam pengembanganprofesionalitas kedalam


tiga level yaitu: pertama, upaya-upaya profesionalisasi yang dilakukan oleh guru secara pribadi
agar mereka dapat meningkatkan kualitas keprofesionalan, dengan atau tanpa bantuan pihak lain.
Dengan kata lain dapat dikatakan sebagai pelatihan mandiri. Kedua, pengembangan yang
dilakukan oleh manajemen lembaga melalui berbagai kebijakan manajerial yang dilakukan.
Kedua level ini dapat diaktegorikan dalam strategi mikro pengembangan profesional guru.
Sedangkan level ketiga adalah upaya pengembangan pada level makro yang menjadi tanggung
jawab pemerintah dan masyarakat secara luas dalam kerangka manajemen pendidikan nasional.

Di lihat dari konteks manajemen makro dalam sistem pendidikan nasional, Tilaar (Pahrudin,
2015) menawarkan langkah-langkah yang disebut dengan strategi pengembangan profesionalitas
guru yaitu:

1. Mengupayakan terjadinya peningkatan status profesi guru agar dapat sejajar dengan profesi
lain.
2. Pengembangan profesionalitas guru harus lebih berorientasi pada peningkatan kualitas, bukan
kuantitas. Dalam hal ini maka dperlukan SDM maupun finansial.
3. Profesionalitas guru membutuhkan upaya pendataan kembali terhadap guru agar mereka dapat
dikembangkan.

Prinsip pengembangan Profesi Guru

Sudarwan Danim (2011 : 92) menyebutkan ada dua prinsip pengembangan profesi guru yaitu
prinsip umum dan khusus. Prinsip umum pengembangan profesi guru adalah sebagai berikut:

 Demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai keagamaan, nilai kultural , dan kemajemukan bangsa.
 Satukesatuan yang sitematis dengan sistem yang terbuka dan multimakna.
 Suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan guru yang berlangsung sepanjang hayat.
 Memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas guru dalam
proses pembelajaran.

Prinsip khusus atau operasional pengembangan profesi guru meliputi hal-hal sebagai berikut:

 Ilmiah, dimana keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam kompetensi dan
indikator harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
 Relevan, dimana rumusnya berorientasi pada tugas pokok dan fungsi guru sebagai pendidik
profesional.
 Sistematis, dimana setiap komponen dalam kompetensi jabatan guru berhubungan secara
fungsional dalam mencapai kompetensi.
 Konsisten, dimana adanya hubungan yang ajeg dan taat asas antar kompetensi dan indikator.
 Aktual dan kontekstual yakni rumusan kompetensi dan indikator dapat mengikuti
perkembangan iptek.
 Fleksibel, dimana rumusan kompetensi dan indikator dapat berubah sesuai dengan kebutuhan
dan perkembangan zaman.
 Demokratis, dimana setiap guru memiliki hak dan peluang yang sama untuk diberdayakan
melalui proses pembinaan dan pengembangan keprofesionalitasnya.
 Objektif, dimana setiap guru dibina dan dikembangkan profesi dan karirnya dengan mengacu
pada hasil penilaian yang dilaksanakan berdasarkan indikator-indikatorterukur dari kompetensi
profesinya.
 Komprehensif, dimana setiap guru dibina dan dikembangkan profesi dan karirnya untuk
mencapai kompetensi profesi dan kinerja yang bermutu dalam memberikan layanan pendidikan.
 Memandirikan, dimana setiap guru secara terus menerus diberdayakan untuk mampu
meningkatkan kompetensinya secara berkesinambungan, sehingga memiliki kemandirian
profesional dalam melaksanakan tugas dan fungsi profesinya.
 Profesional, dimana pengembangan profesi dan karier guru dilaksanakan dengan
mengedepankan nilai-nilai profesionalitas.
 Bertahap, dimana pengembangan profesi dan karier guru dilaksanakan secara bertahap agar
guru benar-benar mancapai puncak profesionalitas.
 Berjenjang, dimana pengembangan profesi guru dilaksanakan secara berjenjang berdasarkan
jenjang kompetensi atau tingkat kesulitan kompetensi yang ada pada standar kompetensi.
 Berkelanjutan, dimana pengembanagn profesi guru dilaksanakan secara berkelanjutan karena
perkembangan ilmu pegetahuan, teknologi dan seni serta adanya kebutuhan penyegaran
kompetensi guru.
 Accountable, dimana pengembangan profesi guru dipertanggungjawabkan secara transparan
kepada publik.
 Efektif, dimana pelaksanaan pengembangan profesi guru harus mampu menberikan informasi
yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang tepat oleh pihak
terkait.
 Efesien, dimana pelaksanaan pengembangan profesi guru harus didasari atas pertimbangan
penggunaan sumber daya seminimal mungkin untuk hasil yang optimal.

Jenis-jenis Kegiatan Pengembangan Profesi Guru

Inisiatif pengembangan keprofesian guru idealnya banyak berasal dari prakarsa lembaga. Atas
dasar ini, diasumsikan munculnya proses pembiasaan, yang kemudian guru dapat tumbuh dengan
sendirinya. Tentu saja, semua itu juga berawal dari prakarsa guru secara individual. Menurut
Sudarwan Danim (2011 : 94) Apabila dilihat dari sisi prakarsa lembaga, pengembangan profesi
guru dilaksanakan melalui berbagai strategi dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (diklat)
maupun bukan diklat, antara lain:

 Pendidikan dan Pelatihan


In-House Training (IHT)

Pelatihan dalam bentuk IHT adalah pelatihan yang dilaksanakan secara internal di kelompok
kerja guru, sekolah, atau tempat lain yang ditetapkan untuk menyelenggarakan pelatihan. Strategi
pembinaan melalui IHT dilakukan berdasarkan pemikiran bahwa sebagian kemampuan dalam
meningkatkan kompetensi dan karier guru tidak harus dilakukan secara eksternal, tetapi bisa juga
secara internal dengan cara dilakukan oleh guru yang memiliki kompetensi yang belum dimiliki
guru lain. Program ini diharapkan dapat menghemat waktu dan biaya.

Program magang

Program magang merupakan pelatihan yang dilaksanankan di dunia kerja atau industri yang
relevan dalam rangka meningkatkan kompetensi profesional guru. Program magang ini
diperuntukkan bagi guru dan dapat dilakukan selama periode tertentu misalnya, magang di
sekolah. Program magang ini dipilih dengan alasan bahwa keterampilan tertentu yang
memerlukan pengalaman nyata.

Kemitraan sekolah

Pelatihan melalui kemitraan sekolah dapat dilaksanakan antara sekolah yang baik dan sekolah
yang kurang baik, antara sekolah negeri atau sekolah swasta. Pembinaan lewat mitra sekolah
diperlukan dengan alasan bahwa agar terjadi transfer nilai-nilai kebaikan dari beberapa keunikan
dan kelebihan yang dimiliki mitra kepada mitra lain. Misalnya dalam bidang manajemen sekolah

Belajar jarak jauh

Pelatihan melalui belajar jarakjauh dapat dilaksanakan tanpa menghadirkan instruktur dan
peserta pelatihan dalam satu tempat tertentu, melainkan dengan sistem pelatihan internet dan
sejenisnya. Pelatihan jarak jauh dilakukan dengan pertimbangan bahwa tidak semua guru
terutama di daerah terpencil dapat mengikuti pelatihan di tempat-tempat pembinaan yang
ditunjuk seperti di ibu kota kabupaten atau provinsi.

Pelatihan berjenjang dan khusus

Pelatihan jenis ini dilaksanakan di lembaga-lembaga pelatihan yang diberi wewenang, dimana
program disusun secara berjenjang mulai dari jenjang dasar, menengah, lanjut, dan tinggi.
Jenjang pelatihan disusun berdasarkan tingkat kesulitan dan jenis kompetensi. Sedangkan
pelatihan khusus (spesialisasi) disediakan berdasarkan kebutuhan khusus atau disebabkan adanya
perkembangan baru dalam keilmuan tertentu.

1. Kursus singkat di perguruan tinggi atau lembaga pendidikan lainnya. Kursus singkat
dimaksudkan untuk melatih meningkatkan kemampuan guru dalam beberapa kemampuan
seperti kemampuan melakukan penilitian tindakan kelas, menyusun karya ilmiah,
merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.
2. Pembinaan internal oleh sekolah
Pembinaan internal ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan guru-guru yang memiliki
kewenangan membina, melalui rapat dinas, rotasi tugas mengajar, pemberian tugas-tugas internal
tambahan, dan diskusi dengan rekan sejawat.

Pendidikan lanjut

Pembinaan guru melalui pendidikan lanjut juga merupakan alternatif bagi peningkatan
kualifikasi dan kompetensi guru. Pengikutsertaan guru dalam pendidikan lanjut ini dapat
dilaksanakan dengan memberikan tugas belajar baik dalam maupun luar negeri bagi guru yang
berprestasi. Pelaksanaan pendidikan lanjut ini akan menghasilkan guru-guru pembina yang dapat
membantu guru-guru lain dalam upaya pengembangan profesi.

2. Non-pendidikan dan pelatihan

Diskusi masalah pendidikan

Diskusi ini diselenggarakan secara berkala dengan topik diskusi sesuai dengan masalah yang
dialamai sekolah. melalui diskusi berkala diharapkan para guru dapat memecahkan masalah yang
dihadapi berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah ataupun masalah peningkatan
kompetensi dan pengembangan kariernya.

Seminar

Pengikutsertaan guru dalam kegiatan seminar dan pembinaan publikasi ilmiah juga dapat
menjadi model pembinaan berkelanjutan bagi peningkatan keprofesian guru. Kegiatan ini
memberikan peluang kepada guru untuk berinteraksi secara ilmiah dengan kolega seprofesinya
berkaitan dengan hal-hal terkini dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan.

Workshop

kegiatan ini dilakukan untuk menghasilkan produk yamng bermanfaat bagi pembelajaran,
peningkatan kompetensi mauapun pengembangan kariernya. Workshop dapat
dilakukan,misalnya dalam kegiatan menyusun KTSP, analisis kurikulum, pengembangan silabus,
sertapenulisan rencana pembelajaran.

Penelitian

Penelitian dapat dilakukan guru dalam bentuk penelitian tindakan kelas, penelitian eksperimen,
ataupun jenis lain dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran.

Penulisan buku/ bahan ajar.

Bahan ajar yang ditulis guru dapat berbentuk diktat, buku pelajaran, ataupun buku dalam bidang
pendidikan.
Pembuatan media pembelajaran.

Media pembelajaran yang dibuat guru dapat berbentuk alat peraga, alat praktikum sederhana,
maupun bahan ajar elektronik atau animasi pembelajaran.

Pembuatan karya teknologi/ karya seni.

Karya teknologi/seni yang dibuat guru dapat berupa karya yang bermanfaat untuk masyarakat
atau kegiatan pendidikan serta karya seni yang memiliki nilai estetika yang diakui oleh
masyarakat.

Selain kegiatan-kegiatan pengembangan profesi yang dikemukakan Sudarwan Danim, terdapat


berbagai model pengembangan profesi guru yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain :

Menurut Richard dan Lockhart (2000) (Sobri, 2016) terdapat beberapa model pengembangan
profesional guru, meliputi:

 Keikutsertaan dalam konferensi (conference participation),


 Workshop dan seminar (workshops and in service seminars),
 Kelompok membaca (reading groups),
 Pengamatan kolega (peer observation),
 Penulisan jurnal/catatan harian guru (writing teaching diaries/journals),
 Kerjaproyek (project work),
 Penelitian tindakan kelas (classroom action research),
 Portofolio mengajar (teaching portfolio),
 Mentoring (mentoring).

Sedangkan menurut Kennedy (2005) (Sobri, 2016) menyatakan ada sembilan model
pengembangan profesionalisme guru, yaitu:

1. Training model,
2. Award-bearing model,
3. Deficit model,
4. Cascade model,
5. Standards-based model,
6. Coaching/mentoring model,
7. Community of practice model,
8. Action research model,

1. Transformative model. Masing-masing mempunyai karakteristik yang disesuaikan dengan


kebutuhan guru.
Ditjen Dikdasmen Kementerian PendidikanNasional menyebutkanbeberapa alternatif program
pengembanganprofesional guru, yaitu:

1. Program peningkatan kualifikasi guru atau program studi lanjut,


2. Program penyetaraan dan sertifikasi,
3. Program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi,
4. Program supervisi pendidikan,
5. Program pemberdayaan MGMP,
6. Simposium guru,
7. Program tradisional lainnya, misalnya CTL, PTK, penulisan karya ilmiah,
8. Membaca dan menulis jurnal atau karya ilmiah,
9. Berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah,
10. Melakukan penelitian,
11. Magang,
12. Mengikuti berita aktual dari media pemberitaan,
13. Berpartisipasi dan aktif dalam organisasi profesi,
14. Menggalang kerjasama dengan teman sejawat.

Diaz dan Maggioli (2003) (Sobri, 2016) menambahkan enam model atau pendekatan, yaitu:

1. Rancangan konferensi (conference plan),


2. Pemantauan kolega (peer coaching),
3. Penelitian tindakan kelas (classroom action research),
4. Kelompok belajar kolaboratif (collaborative study groups)
5. Rencana pengembangan pribadi (individual development plan), dan
6. Jurnal percakapan (dialog journals).

Selanjutnya Castetter (Sobri, 2016) juga menyampaikan lima model pengembangan profesional
guru, yaitu:

1. Pengembangan guru yang dipandu secara individual (individual guided staff development),
2. Observasi atau penilaian (observation/assessment),
3. Keterlibatan dalam proses pengembangan/ peningkatan,
4. Pelatihan (training), dan
5. Pemeriksaan (inquiry).
Berbagai model profesionalisme guru yang dikemukakan oleh para ahli ternyata memiliki
banyak persamaan. Ahmad Yusuf Sobri menjelaskan dalam jurnalnya pada Konvensi Nasional
Pendidikan Indonesia (KONASPI) VIII Tahun 2016 beberapa implementasi model-model
profesionalisme guru sehingga memungkinkan guru dapat memilih model tersebut sesuai dengan
kebutuhannya masing-masing :

1. Program peningkatan kualifikasi pendidikan guru

Program ini ditujukan bagi guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan minimal sarjana
untuk mengikuti pendidikan sarjana bahkanmagister pendidikan keguruan dalam bentuk
tugasbelajar. Namun saat ini, sangat jarang guruberkualifikasi di bawah sarjana.

2. Program penyetaraan dan sertifikasi

Program penyetaraan diberikan kepada guru yang latar belakangpendidikannya tidak sesuai
dengan tugas mengajarnya atau bukan dari program pendidikan keguruan. Sedangkan program
sertifikasi ditujukan kepada guru yang telah memenuhi syarat (misalnya, minimal telah mengajar
lima tahun, lulus UKG) agar mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan
jugamemperoleh kesejahteraan.

3. Program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi

Program pelatihan ini diberikan kepada guru agar tercapai kompetensi yang diinginkan sehingga
materi pelatihan mengacu kepada bahan-bahan yang menunjang kompetensi yang akan dicapai.

4. Program supervisiPendidikan

Program ini ditujukan untuk memberikanbantuan kepada guru dalam menyelesaikan


persoalanpembelajaran yang dihadapi guru di kelas dan jugapersoalan yang terkait dengan
pendidikan secaraumum.

5. Program pemberdayaan KKG dan MGMP

KKG adalah wadah kegiatan profesional guru, biasanya untuk guru SD (guru kelas), sedangkan
MGMP untuk guru SMP dan SMA sesuai dengan bidang studi masing-masing guru. Dengan
adanya wadah ini, guru dapat saling memberi masukan tentang materi pembelajaran yang
diajarkan dan dapat mencari alternatif pemecahan terhadap persoalan-persoalan pembelajaran
yang dihadapi di dalam kelas.

6. Simposium guru

Simposium merupakan media guru untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman tentang proses
pembelajaran dan ajang untuk kompetisi ajang kreativitas diantara guru.

7. Program pelatihan tradisional lainnya


Program pelatihan yang ditujukan kepada guru dengan hanya membahas persoalan aktual dan
penting sehingga guru tidak ketinggalan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
misalnya pembelajaran kontektual, Kurikulum 2013, blended learning, danpenelitian tindakan
kelas.

8. Membaca dan menulis jurnal atau karya ilmiah

Salah satu kelemahan guru adalah kurangnya membaca dan menulis karya ilmiah sehingga karir
guru sedikit terhambat karena mereka kekurangan karya ilmiah. Untuk itu gugus sekolah perlu
memprogram pelatihan penulisan karya ilmiahbagi guru sehingga mereka produktif dalam
berkarya,serta perlu adanya pendampingan dari pihak kepalasekolah dan pengawas pendidikan.

9. Berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah

Pertemuan ilmiah ditujukan kepada guru untuk memberikanpengetahuan mutakhir tentang


pendidikan dan pembelajaran. Pemberian informasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan
aspek kompetensi dan profesional guru dalam proses pembelajaran.

10. Melakukan penelitian tindakan kelas (PTK)

Penelitian ini sangat dianjurkan kepada guru supaya guru dapat merefleksikan program
pembelajaran yang telah dilaksanakan di dalam kelasnya sehingga guru selalu dapat
memperbaiki performansi mengajarnya. Namun, karena tugas mengajar yang banyak
menyebabkan guru jarang melakukan PTK selain juga disebabkan kemauan dan kemampuan
mereka menulis karya ilmiah. Oleh karena itu perlu adanya pendampingan dari kepalasekolah
dan pengawas sekolah agar guru menjadi produktif dalam melakukan PTK.

11. Magang

Kegiatan ini biasanya ditujukan kepada guru pemula. Guru pemula melakukan magang di dalam
kelas dengan bimbingan guru senior sesuai dengan bidang studinya. Kegiatan magang biasanya
meliputi: pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan kelas dengan tujuan agar guru pemula
tersebut dapat mengikuti jejak guru senior yang profesional.

12. Mengikuti berita aktual dari media pemberitaan

Pengetahuan dan pemahaman guru tidak hanya terpacu dengan materi pembelajaran di buku,
tetapi juga perlu pengetahuan yang lebih luas melalui media cetak dan eletronik, dan bahkan
guru diharapkan dapat mengikuti pemberitaan melalui internet. Guru profesional akan selalu
mengikuti perkembangan pengetahuan dari berbagai sumber media yang tersedia.

13. Berpartisipasi dan aktif dalam organisasi profesi

Organisasi profesi memberikan keuntungan yang besar kepada guru (PGRI) untuk
mengembangkan profesionalitasnyadengan membangun sesama komunitas pembelajaran.
14. Menggalang kerjasama dengan teman sejawat

Kerjasama yang erat diantara sejawat guru dapat memberikan peluang pengembangan
profesionalnya melalui kegiatan ilmiah dan kegiatan lainnya sehingga profesionalisme guru
meningkat.

15. Pengembangan guru yang dipandu secara individual

Program ini bertujuan agar guru dapat menilai kebutuhan belajar mereka sendiri, mampu belajar
aktif serta mengarahkan diri mereka sendiri. Oleh karena itu, kepala sekolah dan pengawas
sekolah seyogyanya memotivasi guru saat menyeleksi tujuan belajar berdasarkan penilaian
personal kebutuhan mereka.

16. Observasi dan Penilaian

Kegiatan ini ditujukan kepada guru agar mereka dapat mengamati dan menilai program
pembelajaran yang dilakukansehingga guru memiliki data yang akurat tentang pembelajarannya
untuk kemudian mereka dapat melakukan refleksi dan analisis terhadap peningkatan proses
pembelajaran di kelasnya.

17. Pemberian penghargaan

Agar guru giat menjalankan profesinya, maka diperlukanpenghargaan terhadap prestasi yang
telah ditorehkan,dan bahkan penghargaan perlu juga diberikan kepadaguru tidak tetap sehingga
tidak perbedaan perlakukandiantara guru.

18. Model defisit

Kepala sekolah dan pengawas sekolah seharusnya mengatasidefisit atau kekurangan dalam
kinerja guru yang dikarenakan kelemahan guru secara individual dalam menjalankan tugas
profesinya. Untuk itu, pemimpin sekolah perlu menerapkan manajemen kinerja terhadap guru
sehingga apabila guru mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya dapat dibantuoleh
kepala sekolah dan pengawas sekolah secara individual.

19. Model cascade atau desiminasi

Karena keterbatasan sumberdaya di sekolah, guru secara individual dikirim untuk mengikuti
pelatihan. Setelah selesai mengikuti pelatihan, guru tersebut menyebarkan informasikepada
rekan-rekannya agar mereka juga memperolehpengetahuan yang sama.

20. Model berbasis standar

Model pengembangan ini menitikberatkan kepada standar-standar yang harus dipenuhi dalam
mengadakan pengembangan profesional guru. Model ini kurang diminati karena lebih
menitikberatkan pada standar-standar yang harus dipenuhi bukan kepada kompetensi apa yang
harus dimiliki guru sehingga pengelolaan program pengembangan profesional guru bersifat
seragam tidak berdasarkan kebutuhan.

21. Model mentoring

Model pengembangan ini melibatkan dua guru (guru pemula dan berpengalaman) dan
mengandung unsur konseling dan profesional. Guru yang berpengalaman memberikan pelatihan
kepada guru pemula agar guru pemula dapat meningkatkanprofesionalnya. Ada pula yang
menyatakan model iniadalah model supervisi klinis kepada guru pemula.

 Implementasi Program Pengembangan Profesi Guru di Indonesia

 Implementasi Secara Umum Program Sertifikasi Guru Di Indonesia Dunia pendidikan erat
kaitannya dengan proses transfer ilmu

pengetahuan dan nilai-nilai karakter. Dimana pelaku utamanya adalah guu. Guru menjadi poros
utama yang menentukan kualitas peserta didiknya dan lebih jauh lagi mempengaruhi mutu
pendidikan. Jabatan guru sebagai profesi bermula setelah dikeluarkannya Undang-Undang No 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) yang disahkan oleh DPR. Sesuai dengan amanat
Undang – Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang ditindaklanjuti dengan
Peraturan Pemerintah No 74 tahun 2008 tentang Guru dan Peraturan Menteri pendidikan
Nasional No 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan menyebabkan perlu adanya
penyelenggaraan sertifikasi profesi guru melalui penilaian portofolio atau melalui pendidikan
profesi yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang
selanjutnya disebut LPTK.

LPTK merupakan Perguruan Tinggi yang ditunjuk untuk pelaksanaan proses sertifikasi
(Permendikbud No.62 Tahun 2013). LPTK yang dipilih merupakan perguruan tinggi yang
terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah. Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu
guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru, diharapkan dapat meningkatkan mutu
pembelajaran dan meningkatkan mutu layanan bimbingan dan konseling yang pada akhirnya
meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Bagi peserta sertifikasi yang
belum dinyatakan lulus, LPTK Rayon merekomendasikan alternatif untuk melakukan kegiatan
mandiri untuk melengkapi kekurangan dokumen portofolio atau mengikuti Pendidikan dan
Pelatihan Profesi Guru (Diklat Profesi Guru atau PLPG) yang diakhiri dengan ujian.

PLPG diakhiri dengan uji kompetensi guru (UKG) yang dilakukan oleh LPTK Penyelenggara
Sertifikasi Guru dengan mengacu pada rambu-rambu Ujian PLPG. Uji kompetensi meliputi uji
tulis dan uji kinerja (praktik pembelajaran).

PLPG sangat diperlukan dalam meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia dalam
suatu lembaga pendidikan. PLPG juga penting untuk membantu meningkatkan kemampuan
sumber daya manusia dengan lebih baik. Selain itu PLPG akan membawa keuntungan bagi
lembaga pendidikan, sehingga akan tercipta tenaga-tenaga pendidik yang profesional serta
berkompetensi pada bidangnya masing-masing.

Berdasarkan rambu-rambu pelaksanaan pendidikan dan latihan profesi guru adapun


penyelenggaraan PLPG dilakukan berdasarkan proses baku sebagai berikut:

1. PLPG dilaksanakan oleh LPTK penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan yang telah ditetapkan
pemerintah.
2. PLPG diselenggarakan selama minimal 9 hari dan bobot 90 jam pertemuan (JP), dengan alokasi
30 JP teori dan 60 JP praktik. Satu JP setara dengan 50 menit.
3. Pelaksanaan PLPG bertempat di LPTK atau di kabupaten/kota dengan memperhatikan
kelayakannya (representatif dan kondusif) untuk proses pembelajaran.
4. Rombongan belajar (rombel) PLPG diupayakan satu bidang keahlian/mata pelajaran. Dalam
kondisi tertentu yang tidak memungkinkan (dari segi jumlah) rombel dapat dilakukan
berdasarkan rumpun bidang studi/mata pelajaran.
5. Satu rombel maksimal 30 orang peserta, dan satu kelompok peer teaching/peer counseling/peer
supervising maksimal 10 orang peserta dalam kondisi tertentu jumlah peserta satu rombel atau
kelompok peer teaching/peer counseling/peer supervising dapat disesuaikan.
6. Satu kelompok peer teaching/peer counseling/peer supervising difasilitasi oleh dua orang
instruktur. Dalam kondisi tertentu, peer teaching/peer counseling/peer supervising dapat
difasilitasi oleh satu orang, tetapi pada saat ujian, instruktur harus 2 orang.
7. Dalam proses pembelajaran, instruktur menggunakan multi media dan multi metode yang
berbasis pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).
8. PLPG diawali pretest sacara tertulis (1 JP) untuk mengukur kompetensi pedagogic dan
professional awal peserta.
9. PLPG diakhiri uji kompetensi dengan mengacu pada rambu-rambu pelaksanaan PLPG. Uji
kompetensi meliputi uji tulis dan uji kinerja (praktik pembelajaran).
10. Ujian tulis pada akhir PLPG dilaksanakan dengan pengaturan tempat duduk yang layak dan
setiap 30 peserta diawasi oleh dua orang pengawas.
11. Ujian praktik dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
12. Guru kelas dan guru mata pelajaran terpadu dengan kegiatan peer
13. Guru bimbingan konseling atau konselor terpadu dengan kegiatan peer counseling.
14. Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas, ujian praktik terdiri atas penyusunan rencana
program kepengawasan, penyusunan laporan kepengawasan dan ujian praktik supervisi (peer
supervising).
15. Sekurang-kurangnya satu penguji pada ujian praktik harus memiliki NIA yang relevan atau dalam
kondisi tertentu serumpun dengan mata pelajarannya.
16. Ujian praktik mengajar dinilai dengan Lembar Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran (IPKG II),
ujian praktik bimbingan konseling dinilai dengan Lembar Penilaian Pelaksanaan Bimbingan
Konseling.
17. Khusus untuk guru yang diangkat dalam jabatan pengawas ujian praktik supervisi dinilai dengan
lembar penilaian yang analog dengan IPKG II.
18. Penentuan kelulusan peserta PLPG dilakukan secara objektif dan didasarkan pada rambu-rambu
penilaian yang telah ditentukan.
19. Peserta yang lulus mendapat sertifikat pendidik, sedangkan yang tidak lulus diberi kesempatan
untuk mengikut ujian ulang sebanyak-banyaknya dua kali. Ujian ulang diselesaikan pada tahun
berjalan. Jika terpaksa tidak terselesaikan, maka ujian ulang dilakukan bersamaan dengan ujian
PLPG kuota tahun berikutnya.
20. Pelaksanaan ujian diatur oleh LPTK penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan dengan
mengacu rambu-rambu ini.
21. Peserta yang belum lulus pada ujian ulang yang kedua diserahkan kembali ke dinas
pendidikan/kandepag kabupaten/kota untuk dibina lebih lanjut18

Adapun materi PLPG disusun dengan memperhatikan empat kompetensi guru, yaitu ”1)
pedagogik, 2) profesional, 3) kepribadian, 4) sosial.” Standarisasi kompetensi dirinci dalam
materi PLPG ditentukan oleh LPTK penyelenggara sertifikasi dengan mengacu pada rambu-
rambu yang ditetapkan oleh Dirjen Dikti atau Ketua Konsorsium Sertifikasi Guru dan hasil need
assesment. (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Sertifikasi
Guru dalam Jabatan Tahun 2009:Rambu-rambu Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Profesi
Guru (PLPG) : 4-6

1. Analisis Mendalam permasalahan program sertifikasi guru di Indonesia

Menjadi guru bukan merupakan bakat sejak lahir, seseorang yang akan menjadi guru profesional
harus melewati proses pendidikan, pengarahan, dan pelatihan yang intensif terlebih dahulu. Guru
sebagai pemeran utama dalam menentukan kualitas pendidikan memang sudah semestinya
mendapatkan sarana dalam mengupgrade kapasitas dirinya agar menjadi guru yang berkompeten
dan profesional yang kemudian berdampak pada peningkatan kualitas peserta didik dan lebih
jauh lagi menigkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Dalam rangka merealisasikan amanat Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen (UUGD) tentang sertifikasi guru, pemerintah telah menyusun berbagai program yang
bertujuan untuk peningkatan kualitas dan juga kesejahteraan guru. Salah satunya adalah adanya
program sertifikasi guru. Namun dalam realisasinya pelaksanaan program sertifikasi guru masih
menemui banyak permasalahan, baik dalam hal pelaksannannya maupun pencapian tujuan sesuai
dengan hasil yang diinginkan. Dalam praktiknya ternyata banyak ditemui berbagai tindak
penyelewengan baik yang nampak hingga ke publik maupun yang terselubung oleh pihak-pihak
tertentu.

Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Malem Sendah Sembiring, Staf Peneliti
Puslitjaknov, balitbang Kemdiknas, melalui penelitiannya yang berjudul “Kajian Implementasi
Kebijakan Program Sertifikasi Guru” (Rohemi, 2013) mencatat setidaknya ada empat temuan
yang menunjukkan kegagalan program sertifikasi guru di Indonesia.

Pertama, implementasi kebijakan uji kompetensi guru melalui uji portofolio diragukan
pengaruhnya terhadap peningkatan kompetensi guru dan mutu pembelajaran. Kedua, untuk
memenuhi persyaratan penilaian portofolio sejumlah guru terkendala dengan persyaratan jumlah
jam mengajar dan kualifikasi pendidikan. Ketiga, terindikasi adanya praktek-praktek kurang
terpuji alam proses mendapatkan dokumen yang diperlukan untuk penilian portofolio guru.
Keempat, belum terlihat adanya perbedaan kompetensi akademik, paedagogik, sosial antara guru
yang bersertifikat dan belum bersertifikat (Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan, vol. 8 tahun
ke-3, Agustus 2010) (Rohemi, 2013)
Dari hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa misi sertifikasi guru untuk
meningkatkan mutu pendidikan dan menyejahterakan guru akan sulit terwujud bila hambatan
dan kecurangan-kecurangan yang sudah terjadi baik oleh pihak pemda maupun oleh para guru itu
sendiri masih tetap terpelihara. Praktik-praktik kecurangan yang telah terindikasi beberapa tahun
terakhir masih saja terjadi. Sehingga tidak menutup kemungkinan proses sertifikasi guru akan
gagal mencapai tujuannya.

Berkaitan dengan UUGD, banyak memberikan efek positif terhadap profesi guru. Martabat guru
semakin dihargai dan dihormati, kesejahteraannya semakin diperhatikan, terlebih lagi dengan
adanya program sertifikasi guru. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik
kepada guru dan dosen (UU No 14 Tahun 2005).

Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Guru
profesional merupakan syarat mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang
berkualitas. Tujuan utamanya adalah meningkatkan profesionalitas guru sehingga kinerjanya
lebih baik dan kualitas pendidikan akan meningkat seiring dengan meningkatnya profesionalitas
guru tersebut. Sebagai konsekuensi logis dari disandangnya predikat guru profesional, maka guru
yang bersangkutan berhak untuk mendapatkan tunjangan profesi, yaitu sejumlah uang yang
besarnya sama dengan satu kali gaji pokok PNS tiap bulan. Dengan adanya tunjangan tersebut
diharapkan kesejahteraan para guru meningkat dan yang lebih utama dan esensial adalah kualitas
guru semakin baik dan kompetensinya semakin terasah.

Amanat UUGD yang berkaitan dengan sertifikasi guru ini didukung secara penuh oleh
Pemerintah. Komitmen pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional
(Kemendiknas), dalam meningkatkan profesionalitas guru di Indonesia ini dibuktikan dengan
memberikan anggaran Rp 70 triliun hingga tahun 2016 untuk membiayai peningkatan
profesionalitas guru melalui sertifikasi. Sebuah jumlah anggaran yang fantastis dan dianggap
wajar yang sedang dan akan digunakan bagi 2,7 juta guru yang saat ini ada di Indonesia.

Tujuan mulia adanya sertifikasi guru ternyata dalam tataran implementasinya menimbulkan
berbagai permasalahan. Permasalahan-permasalahan ini pada umumnya dikeluhkan oleh para
guru, antara lain: tidak transparannya penetapan kuota guru yang disertifikasi; banyak guru yang
seharusnya berhak, justru tidak ditetapkan sebagai peserta sertifikasi; pembayaran tunjangan
sertifikasi yang tidak menentu dan selalu terlambat; kalaupun tunjangan profesi pada akhirnya
dibayarkan, tetapi terkadang jumlah bulan yang dibayarkan tidak utuh, harusnya 12 bulan
misalnya, ternyata yang cair hanya 9 bulan; jarak waktu yang lumayan agak lama antara
pengumuman kelulusan dengan penerbitan SK pencairan tunjangan profesi; khusus untuk guru
agama yang merangkap guru kelas atau kepala sekolah, namanya terkadang tercantum pada
kuota sertifikasi guru di Kemendiknas dan di Kementerian Agama (Kemenag); kinerja guru yang
sudah disertifikasi biasa-biasa saja dan tidak menunjukkan peningkatan kinerja secara signifikan,
tidak ada perubahan yang berarti, malah kinerjanya lebih rendah dari guru yang belum
disertifikasi;

Masalah yang sangat mencolok adalah adanya disharmoni. Program sertifikasi telah
menimbulkan terjadinya kesenjangan atau disharmoni antara guru-guru yang sudah disertifikasi
dengan guru-guru yang belum. Banyak guru senior di sekolah dasar yang hanya berbekal ijazah
Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang sudah bertahun-tahun mengajar tetapi tidak terpanggil
untuk sertitikasi. Sementara guru baru bergelar sarjana (S-1) yang baru beberapa tahun mengajar
sudah dipanggil untuk sertifikasi. Setelah proses sertifikasi bergulir celakanya tidak ada alat
evaluasi atau mekanisme yang jelas dan mampu memetakan kinerja guru sebelum dan setelah
disertifikasi. Yang ada hanya ancaman kalau kelak ada evaluasi kinerja guru yang sudah
disertifikasi dan terbukti kinerjanya rendah, maka guru yang bersangkutan akan dicabut
tunjangan profesinya. Sepertinya proses sertifikasi kurang mampu membangun etos kerja guru
tetapi justru membuat para guru haus tunjangan.

Aspek ini yang menyebabkan para guru seperti menghalalkan segala cara untuk mencapai
tujuannya. Kisah bahwa kelulusan sertifikasi diperoleh dengan curang bukanlah dongeng belaka.
Manipulasi portofolio, kelengkapan dokumen seperti piagam, makalah dan syarat-syarat lain
yang diperlukan menjadi bukti bahwa tunjangan sertifikasi jauh lebih menggiurkan ketimbang
prosesnya sendiri yang harus disertai dengan kerja keras membangun kultur pendidikan.

1. Solusi permasalahan PLPG dan sertifikasi

Dengan memperhatikan berbagai problematika dalam realisasi sertifikasi guru, bukan berarti
sertifikasi guru ini harus ditinjau ulang dan distop pelaksanaannya. Sertifikasi guru harus tetap
berlangsung dan terus dievaluasi secara komprehensif karena program ini merupakan amanat
undang-undang. Dalam tataran penerapannya ada beberapa aspek atau komponen yang harus
dibenahi, antara lain :

1. Pentingnya peran petugas dalam pelaksanaan program sertifikasi guru dalam jabatan
seharusnya diimbangi dengan pemenuhan jumlah sumber dayanya. Maka dari itu perlu untuk
memerhatikan jumlah staf atau pegawai yang dibutuhkan untuk melaksanakan segala kegiatan
yang berhubungan dengan implementasi program sertifikasi guru serta sumber daya
finansialnya.
2. Sosialisasi merupakan hal yang penting agar program sertifikasi guru dalam jabatan dapat
berjalan sesuai dengan tujuan dan harapan. Maka dari itu seharusnya kegiatan sosialisasi ini
lebih ditingkatkan lagi agar pelaksanaan program sertifikasi guru ini berjalan sesuai dengan
panduan yang telah ditetapkan sehingga baik para pelaksana maupun peserta dapat
melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing dengan baik.
3. Dalam melaksanakan suatu program, kegiatan pengawasan dan Pembuatan laporan secara
kontinyu sangat dibutuhkan untuk nantinya dapat digunakan sebagai patokan atau acuan dan
sebagai bahan evaluasi. Untuk itu seharusnya dalam memberikan laporan pelaksanaanprogram
harus sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan agar dapat melihat perkembangan dari
program sehingga memudahkan dalam pengambilan keputusan dan tindakan selanjutnya.
(Ningrum Fauziah Yusuf, dkk. 2017)
4. Diperlukan adanya kesadaran diri khususnya bagi guru yang sudah tersertifikasi, sudah
semestinya berupaya munjukkan kinerja yang lebih baik lagi, khususnya kinerja yang terkait
dengan proses belajar mengajar sangat erat kaitannya dengan usaha meningkatkan mutu
pendidikan.
5. Keyakinan dalam diri setiap guru yang sudah maupun belum tersertifikasi bahwa tunjangan
profesi bukan tujuan utama dan bukan segala-galanya. Semangat atau tidaknya mengajar bukan
dikarenakan ada atau tidaknya tunjangan profesi. Guru bukan merupakan mata pencaharian
yang akan menjadikan kita kaya karena guru adalah pengabdian yang berbalas pahala dan
tunjangan itu hanyalah penghargaan. Maka sudah seharusnya mindset ingin kaya dengan
menjadi guru karena berbagai tunjangan yang didapatkan harus dibuang jauh-jauh. Tanamkan
dalam diri sebuah keyakinan bahwa mendidik merupakan panggilan jiwa, panggilan hati nurani,
yang harus bersih dari motivasi duniawi.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pengembangan profesionalitas guru didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan untuk


meningkatkan taraf atau derajat profesi seorang guru yang menyangkut kemampuan guru, baik
penguasaan materi ajar atau penguasaan metodologi pengajaran, serta sikap keprofesionalan guru
menyangkut motivasi dan komitmen guru dalam menjalankan tugas sebagai guru.

Guru profesional adalah guru yang menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang dipanggil
untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. Sehingga,guru secara terus-menerus perlu
mengembangkan pengetahuannya tentang bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar.
Perwujudannya, jika terjadi kegagalan pada peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan
akar penyebabnya dan mencari solusi bersama peserta didik, bukan mendiamkannya atau
malahan menyalahkannya. Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk
mengenali diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya serta mau belajar dengan
meluangkan waktu untuk menjadi guru.

Strategi dalam pengembanganprofesionalitas dapatdirumuskankedalam tiga level yaitu: pertama


upaya-upaya profesionalisasi yang dilakukan oleh guru secara pribadi agar mereka dapat
meningkatkan kualitas keprofesionalan, dengan atau tanpa bantuan pihak lain. Dengan kata lain
dapat dikatakan sebagai pelatihan mandiri. Kedua, pengembangan yang dilakukan oleh
manajemen lembaga melalui berbagai kebijakan manajerial yang dilakukan. Kedua level ini
dapat diaktegorikan dalam strategi mikro pengembangan profesional guru. Sedangkan level
ketiga adalah upaya pengembangan pada level makro yang menjadi tanggung jawab pemerintah
dan masyarakat secara luas dalam kerangka manajemen pendidikan nasional.

3.2 Saran

Diharapkan bagi pembaca khusunya mahasiswa jurusan kependidikan dan calon guru serta para
guru supaya lebih meningkatkan dan mengembangkan profesinya sehingga menjadi guru yang
lebih professional dan berkualitas dalam upaya menambah wawasan dan memperkaya
pengetahuan pesertadidik.

DAFTAR PUSTAKA

Alzano, Alfi. 2015.” Efektivitas Program Sertifikasi Guru Dalam Meningkatkan Mutu Hasil
Pendidikan (Studi pada SMK Negeri 2 Batusangkar)”. Skripsi. Bandung. Program Sarjana
Unpad.

Chairiah, Siti. 2010. “Efektivitas Pendidikan Dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Dalam
Menunjang Profesionalisme Guru (Studi Kasus Pada Guru Smp Muhammadiyah 22 Setiabudi
Pamulang Tangerang – Banten).”. Skripsi Program Studi Ki-Manajemen Pendidikan . Jakarta.
Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Uin Syarif Hidayatullah

Danil, Deden. 2009. “Upaya Profesionalisme Guru Dalam Meningkatkan Prestasi Siswa di
Sekolah (Study Deskriptif Lapangan di Sekolah Madrasah Aliyah Cilawu Garut)”. Garut: Jurnal
Pendidikan Universitas Garut. Vol. 3,No. 1.

Danim, Sudarwan. 2011. Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Sertifikasi Guru dalam
Jabatan Tahun 2009:Rambu-rambu Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru
(PLPG).

Drajat, Manpandan Ridwan Effendi. 2014. Etika Profesi Keguruan. Bandung: Alfabeta.

Lilies, Noorjanah. 2014. “Pengembangan Profesionalisme Guru Melalui Penulisan Karya Tulis
Ilmiah Bagi Guru Profesional di SMA NEGERI 1 KAUMAN KABUPATEN
TULUNGAGUNG”. Tulungagung: Jurnal Humanity. Vol. 10,No. 1.

Mustofa. 2007. “Upaya Pengembangan Profesionalisme Guru di Indonesia”.

Yogyakarta: Jurnal Ekonomi dan Pendidikan. Vol. 4,No. 1.

Pahrudin. 2015. “Peningkatan Kinerja dan Pengembangan Profesionalitas Guru Sebagai Upaya
Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia”. Surakarta: Prosiding Seminar Nasional Pendidikan
Ekonomi dan Bisnis.

Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia. Nomor 62 Tahun 2013
Tentang Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Dalam Rangka Penataan Dan Pemerataan Guru.
Rohemi. 2013. “Sertifikasi Guru dan Problematikannya”. Semarang: Seminar Nasional Evaluasi
Pendidikan.

Sobri, Ahmad Yusuf.2016. “Model-Model Pengembangan Profesionalisme Guru”.

Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) VIII. Malang.

Syahrul. 2009. ”Pengembangan Profesi dan Kompetensi Guru Berbasis Moral dan Kultur”.
Malang: Jurnal MEDTEK. Vol. 1,No. 1.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagai Tenaga Profesi.

Yusuf, Ningrum Fauziah; Herijanto Bekti; Dedi Sukarno. 2017. “Implementasi Program
Sertifikasi Guru Dalam Jabatan (Studi Pada Madrasah Aliyah Negeri Ciparay Kabupaten
Bandung)”. Bandung: Jurnal Administrasi Negara.Volume 2 No 1.
Guru memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Pasal 1 ayat (1) Undang-
undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan bahwa “Guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Saat ini tantangan yang dihadapi guru dalam melaksanakan tugas semakin banyak dan semakin
kompleks. Selain dihadapkan kewajiban meningkatkan profesionalismenya, guru dihadapkan
pada semakin dinamisnya situasi dan kondisi, baik lingkungan sekolah, maupun lingkungan
keluarga, lingkungan masyarakat, dan dampak media massa terhadap perkembangan karakter
peserta didik yang cenderung semakin agresif.

Saat ini perlindungan guru masih lemah, padahal UU Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa
profesi guru harus dilindungi. Walau perlindungan guru sudah tercantum pada UU Guru dan
Dosen, belum ada pedoman teknis yang khusus melindungi guru. Pedoman teknis tersebut
disamping perlu mengatur ruang lingkup dan jenis perlindungan guru, juga mengatur tugas dan
wewenang berbagai pihak terkait dalam perlindungan guru.

Karena belum ada pedoman teknis perlindungan, posisi guru menjadi sangat lemah. Guru
bingung mencari perlindungan ketika tersandung kasus dan memperjuangkan hak-haknya.
Pengaduan mereka kepada pemerintah kadang kurang ditanggapi atau kurang ditindaklanjuti.
Oleh karena itu, mereka enggan atau kapok untuk mengadu kepada pemerintah.

Peran organisasi profesi guru perlu lebih ditingkatkan dalam perlindungan guru. Di lapangan,
banyak guru yang belum menjadi anggota profesi guru, sehingga ketika guru tersangkut masalah,
dia enggan meminta perlindungan kepada organisasi profesi guru. Oleh karena itu, guru harus
didorong menjadi anggota organisasi profesi guru. Undang-undang guru dan dosen
mengamanatkan bahwa guru wajib menjadi anggota profesi guru supaya bisa terlindungi.

Beberapa kasus yang muncul yang berkaitan dengan pentingnya perlindungan guru antara lain,
guru terjerat kasus hukum. Guru selain diadukan menjadi pelaku kekerasan terhadap siswa, juga
menjadi korban kekerasan seperti kasus pemukulan seorang guru di sebuah SMA di kota
Sukabumi, pembacokan guru dan ketua yayasan di sebuah SMK di Tangerang baru-baru ini.

Berkaitan dengan tindakan kekerasan, pada beberapa kasus, guru diadukan melanggar hak
perlindungan anak ketika memberikan memberikan sanksi pelanggaran disiplin terhadap
siswa. Di lapangan memang banyak guru yang belum mengetahui dan memahami Undang-
undang perlindungan anak. Mereka beranggapan hukuman disiplin yang diberikan kepada siswa
adalah hal yang biasa karena jaman dulu juga mereka pernah mengalaminya seperti dijewer,
dipukul, dibentak, disuruh lari beberapa putaran, mengelilingi halaman sekolah, disuruh push up,
disuruh menghormat bendera dalam kondisi cuaca panas sampai akhir pelajaran, membersihkan
toilet, dan sebagainya. Seiring dengan munculnya Undang-undang perlindungan anak, maka
jenis-jenis hukuman tersebut dinilai tidak mendidik dan melanggar hak-hak anak. Oleh karena
itu, guru harus semakin hati-hati dalam memberikan hukuman disiplin kepada siswa. Hukuman
disiplin yang diberikan kepada siswa harus mendidik, berpedoman kepada tata tertib sekolah,
dan Undang-undangan perlindungan anak.
Berikutnya, kasus guru yang dipersulit naik pangkat, sulit promosi jabatan, diintimidasi,
diancam, dipolitisasi, menerima imbalan yang rendah, tunjangan profesi terlambat diterima,
diberhentikan secara sepihak oleh penyelenggara pendidikan, dipindahkan tanpa alasan yang
jelas, menghadapi resiko kecelakaan kerja seperti terkena bangunan sekolah yang ambruk,
kebakaran, bertugas daerah rawan bencana, dan daerah konflik, serta kasus pelanggaran terhadap
karya intelektualnya.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka sangat mendesak untuk diterbitkannya peraturan
perundang-undangan berkaitan dengan perlindungan guru. Pasal 39 ayat (1) Undang-undang
Nomor 14 Tahun 2005 menyebutkan bahwa “pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat,
organisasi profesi, dan/ atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru
dalam melaksanakan tugas. Selanjutnya pada pasal (2) disebutkan bahwa “perlindungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta
perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Selain itu, juga diperlukan perlindungan terhadap
hak kekayaan intelektual guru mengingat banyak guru yang menulis karya ilmiah dan membuat
karya inovatif seperti buku pelajaran, buku referensi, alat peraga atau media pembelajaran,
software, aplikasi, dan sebagainya.

Pemerintah dengan dukungan berbagai pihak terkait harus didorong secara serius melindungi
guru agar guru dapat melaksanakan tugas dengan aman, nyaman, dan terbebas dari tekanan. Hal
ini sebagai upaya untuk mewujudkan guru yang sejahtera, bermartabat, dan terlindungi.
Semoga...!!!
PERLINDUNGAN PROFESI GURU

Oleh : Eni Zaetuniah

Perlindungan terhadap profesi guru sebenarnya sudah ada payung hukumnya sejak tahun
2005,pertama lahirnya UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pada pasal 1 ayat(1)
dan Pasal 39. Perlindungan terhadap guru tersebut meliputi perlindungan hukum, perlindungan
profesi, serta perlindungan keselamatan kerja dan kesehatan serta hak atas kekayaan intelektual
.Kedua lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008,Tentang Guru,pada pasal 40
ditegaskan bahwa guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk
rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan,
organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat.Dalam usaha mencerdaskan anak bangsa guru harus
memiliki kebebasan akademik untuk melakukan pendekatan, metode,dan strategi mengajarnya
bahkan metode untuk mendisiplinkan peserta didiknya, berupa penghargaan maupun punishmen

Tapi mengapa akhir akhir ini banyak terjadi pelecehan dan pengkerdilan terhadap profesi guru?
Banyak guru dijebak dalam perkara hukum,diadukan ke aparat kepolisian dengan dalih
melanggar UUPA dan HAM.Karena mendisiplinkan peserta didiknya menyebabkan para guru
tersebut mendekam dalam penjara. Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA) dan HAM, yang
dimaknai secara berlebihan pasca arus reformasi digunakan sebagai senjata.Contohnya pada
kasus yang terjadi pada ibu guru di Kabupaten Bantaeng ,mei 2016.Tidak lama kemudian terjadi
pada bapak guru Dasrul dari Sulsel dan guru dari Sukabumi yang dikeroyok oleh orang tua
siswanya.Melalui medsos ramai reaksi keras terhadap kasus ini,diantaranya dengan
membandingkan pendidikan masa kini dan masa lalu.Apakah metode mendidik masa lalu
berbeda dengan masa kini?apakah kepercayaan orang tua terhadap guru sudah makin terkikis?

Masyarakat juga tahu dahulu jika siswa mengadu ke orang tuanya karena dihukum guru maka
orang tua akan menambah hukumannya. Berbeda dengan saat ini, di mana orang tua justru
membela anaknya bahkan memenjarakan guru anaknya.Para guru pun menuntut adanya undang-
undang perlindungan guru yang mampu melindungi guru dalam melaksanakan tugasnya.
Sebenarnya UU guru dan PP74 sudah cukup membe

rikan perlindungan terhadap guru namun implementasinya baru dimaknai seputar kesejahteraan
guru yang berupa TPG,akibatnya perlindungan terhadap guru selain kesejahteraan materi
menjadi terabaikan bahkan pada birokrasi pendidikan sendiri, para guru sering mendapat
perlakuan tidak adil .

Perlindungan terhadap guru tersebut meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta
perlindungan keselamatan dan kesehatan, serta hak akan kekayaan intelektual.

1. Perlindungan Hukum

Perlindungan hukum dimaksud meliputi perlindungan yang muncul akibat tindakan dari peserta
didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi atau pihak lain, berupa: tin dak kekerasan,
ancaman, baik fisik maupun psikologis, perlakuan diskriminatif intimida si, dan perlakuan tidak
adil
2. Perlindungan profesi

Perlindungan profesi mencakup perlindungan terhadap pemutusan hukubungan kerja (PHK)


yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar,
pembatasan dalam penyampaian pandangan, pelecehan terhadap profesi dan
pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam bekerja.

3. Perlindungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja mencakup perlindungan terhadap resiko


gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam,
kesehatan lingkungan kerja, dan/atau resiko lain. termasuk rasa aman bagi guru dalam bertugas.

4. Perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual

Perlindungan HaKI dapat mencakup hak cipta atas penulisan buku, makalah,karangan
ilmiah,hasil penelitian,hasil penciptaan dan hasil karya seni maupun penemuan dalam bidang
ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta sejenisnya, dan hak paten atas ha sil karya teknologi

Lahirnya PP no10 Tahun 2017 tentang Perlindungan bag iPendidik dan Tenaga Kependidikan
harus dapat memperkuat payung hukum yang ada,dan harus gencar disosialisasikan kepada
masyarakat luas.Dilain pihak gurupun harus merubah paradigma mendidik disesuaikan dengan
perkembangan zaman pada era digital dan menyesuaikan situasi dan kondisi agar tidak
berbenturan dengan UUKPA. Perlu implementasi yang konsisten dari kebijakan mendikbud
tersebut serta kemendikbud harus bisa mengayomi para guru agar guru merasa aman dan nyaman
dalam mendidik siswanya tidak dihantui rasa takut dipidana karena memberikan sanksi kepada
siswanya.Pada akhirnya para gurupun dapat mendidik siswanya sesuai amanat undang-undang
Guru dan Dosen, dan UUD 1945.

Kata Kunci : Perlindungan Hukum, Perlindungan profesi Perlindungan kesejahteraan dan


kesehatan han Perlindungan HaKI.