Anda di halaman 1dari 81

Buku Panduan

Aplikasi Database
Penilaian Mandiri Pembangunanan
Zona Integritas (PMPZI)

Aplikasi PMPZI
 Berbasis Web Menggunakan PHP
dan MySql;
 Fitur proses pencarian dokumen
dengan mudah dan cepat;
 Fitur keamanaan sistem untuk
menghindari penggunaan oleh
pengguna (user) yang tidak
berhak;
 Tersedia Executive Information
System (EIS)
 User Friendly;

Biro Organisasi dan Tata Laksana


Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama RI
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

KATA PENGANTAR
Pemerintah Indonesia mendorong
pemanfaatkan teknologi informasi untuk
meningkatkan kualitas administrasi
pemerintahan dan komunikasi kepada seluruh
masyarakat dan stakeholder, untuk memberikan
pelayanan dan berinteraksi yang lebih baik
kepada seluruh stakeholdernya. Konsep ini
disebut dengan e-government
yang sudah diamanatkan melalui Instruksi
Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang
Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan
E-Government, dimana lembaga-lembaga
pemerintahan baik di Pusat maupun Daerah
wajib menerapkan teknologi informasi dalam mewujudkan Good Governance.
Dalam hal pengimplementasian e-government, Biro Organisasi dan Tata Laksana Sekretariat
Jenderal Kementerian Agama telah membangun dan mengembangkan Aplikasi Penilaian Mandiri
Pembangunan Zona Integritas (PMPZI) secara on-line yang dapat diakses melalui alamat website
pmpzi.kemenag.go.id. Aplikasi ini merupakan sebuah sarana untuk dapat mengawal dan
memelihara konsistensi setiap satuan kerja pada Kementerian Agama untuk tidak hanya
melakukan penilaian tetapi juga berupaya membangun Zona Integritas menuju Wilayah Bebas
Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di satuan kerjanya masing-
masing. Penerapan PMPZI online secara benar akan dapat menghasilkan informasi berkualitas
mengenai profil PMPZI Kementerian Agama secara nasional, PMPZI Kementerian Agama Pusat,
PMPZI Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), PMPZI Kanwil Kementerian Agama Provinsi,
PMPZI Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, dan PMPZI Balai.
Semoga Buku Panduan Aplikasi ini dapat bermanfaat dalam pengoperasian Aplikasi Penilaian
Mandiri Pembangunan Zona Integritas demi terlaksananya fungsi e-government yang lebih baik
dan fungsional.

Jakarta, Juli 2017


Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana

ttd

Afrizal Zen

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
1
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Teknologi informasi dan komunikasi menjanjikan efisiensi, kecepatan penyampaian
informasi, jangkauan yang global dan tranparansi. Oleh karena itu untuk mewujudkan
pemerintahan yang good governance salah satu upayanya adalah menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi.
Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang lebih baik atau pelayanan prima
menjadikan pemerintah mau tak mau harus mengikuti perkembangan teknologi yang
menjanjikan efisiensi yang tinggi dan pelayanan yang lebih baik.
Dalam hal pengimplementasian e-government, Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal Kementerian Agama telah membangun dan mengembangkan Aplikasi
Penilaian Mandiri Pembangunan Zona Integritas (PMPZI) secara on-line yang dapat diakses
melalui alamat website pmpzi.kemenag.go.id. Aplikasi ini merupakan sebuah sarana untuk
dapat mengawal dan memelihara konsistensi setiap satuan kerja pada Kementerian Agama
untuk tidak hanya melakukan penilaian tetapi juga berupaya membangun Zona Integritas
menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di
satuan kerjanya masing-masing. Penerapan PMPZI online secara benar akan dapat
menghasilkan informasi berkualitas mengenai profil pembangunan Zona Integritas menuju
WBK dan WBBM Kementerian Agama secara nasional, baik Kementerian Agama Pusat
maupun Daerah.
B. DASAR HUKUM
1. Undang-undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan
Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme;
2. Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
3. Undang-undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik;
4. Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta
Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Negara;
5. Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta
Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi;
6. Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan E-Government;
7. Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi;
8. Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan
Pemberantasan Korupsi;
9. Instruksi Presiden No. 17 Tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan
Korupsi Tahun 2012;
10. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi
Kementerian Negara serta susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian
Negara;
11. Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2011 tentang Pembentukan dan Organisasi
Kementerian Negara;

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
2
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

12. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019;
13. Permenpan No. 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas Menuju
Wilayah Bebas Dari Korupsi Dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di Lingkungan
Instansi Pemerintah;
14. KMA No. 42 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama;
15. KMA No. 186 Tahun 2017 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan Zona Integritas
Menuju Wilayah Bebas Dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani Pada
Kementerian Agama.
C. MAKSUD DAN TUJUAN
1. MAKSUD
Melakukan penilaian mandiri (self assessement) kemajuan pelaksanaan pembangunan ZI
menuju WBK dan WBBM yang dilakukan secara online pada Kementerian Agama.
2. TUJUAN
Tujuan utama pembangunan aplikasi ini adalah:
a. Memudahkan Sekretariat Jenderal Cq. Biro Organisasi dan Tata Laksana memantau
pelaksanaan pembangunan Zona Integritas menuju WBK dan WBBM.
b. Memudahkan dalam penyusunan profil pembangunan Zona Integritas menuju WBK
dan WBBM Kementerian Agama secara nasional.
c. Sebagai bahan dalam penyusunan perencanaan pengawasan Inspektorat Jenderal.
D. RUANG LINGKUP

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
3
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

BAB II
IMPLEMENTASI KMA NOMOR 186 TAHUN 2017

KEPUTUSAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 186 TAHUN 2017
TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBANGUNAN ZONA INTEGRITAS
MENUJU WILAYAH BEBAS DARI KORUPSI DAN WILAYAH BIROKRASI BERSIH
DAN MELAYANI PADA KEMENTERIAN AGAMA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan Peraturan Menteri Pendayagunaan


Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 52 Tahun
2014 tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas Menuju
Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan
Melayani di Lingkungan Instansi Pemerintah, perlu adanya
petunjuk pelaksanaan;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Menteri Agama
tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan Zona Integritas
Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi
Bersih dan Melayani pada Kementerian Agama;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara


Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999
Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3851);
2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3874);
3. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Tindak
Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2002 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4250);
4. Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2012 tentang Strategi
Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Jangka

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
4
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Panjang Tahun 2012-2025 dan Jangka Menengah Tahun 2012-


2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor
122);
5. Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2014 tentang Aksi
Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi;
6. Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2012 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Kementerian Agama
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 851);
7. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Nomor 52 Tahun 2014 tentang Pedoman
Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari
Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di
Lingkungan Instansi Pemerintah;
8. Peraturan Menteri Agama Nomor 42 Tahun 2016 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1495);
9. Keputusan Menteri Agama Nomor 27 Tahun 2015 tentang
Pembentukan Tim Kerja Pembangunan Zona Integritas Menuju
Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan
Melayani pada Kementerian Agama;

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI AGAMA TENTANG PETUNJUK
PELAKSANAAN PEMBANGUNAN ZONA INTEGRITAS MENUJU
WILAYAH BEBAS DARI KORUPSI DAN WILAYAH BIROKRASI
BERSIH DAN MELAYANI PADA KEMENTERIAN AGAMA.

KESATU : Menetapkan Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan Zona


Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah
Birokrasi Bersih dan Melayani pada Kementerian Agama
sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Keputusan ini.

KEDUA : Pelaksanaan Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK


Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan
Melayani pada Kementerian Agama dikoordinasikan oleh
Sekretariat Jenderal.

KETIGA : Penilaian pelaksanaan Pembangunan Zona Integritas Menuju


Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan
Melayani pada Kementerian Agama dilaksanakan oleh Tim
Penilai Internal.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
5
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

KEEMPAT : Tim Penilai Internal sebagaimana dimaksud dalam Diktum


KETIGA dikoordinasikan oleh Inspektorat Jenderal.

KELIMA : Seluruh Satuan Organisasi/Satuan Kerja/Unit Pelaksana Teknis


pada Kementerian Agama sampai dengan satuan kerja tingkat
Eselon III wajib melaksanakan Program Pembangunan Zona
Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah
Birokrasi Bersih dan Melayani pada Kementerian Agama.

KEENAM : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
6
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

LAMPIRAN
KEPUTUSAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 186 TAHUN 2017
TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBANGUNAN ZONA INTEGRITAS
MENUJU WILAYAH BEBAS DARI KORUPSI
DAN WILAYAH BIROKRASI BERSIH DAN MELAYANI
PADA KEMENTERIAN AGAMA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan Indonesia dititikberatkan tidak hanya Sumber Daya Alam
(SDA) saja, namun juga menyentuh pada akar penggerak terciptanya tata kelola
pemerintahan yang baik, yakni faktor Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karena
itu, melalui Reformasi Birokrasi merupakan langkah awal untuk melakukan
penataan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik, efektif, dan efisien,
sehingga dapat melayani masyarakat secara cepat, tepat, dan profesional.
Dalam rangka pelaksanaan program Reformasi Birokrasi tersebut,
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang
Grand Design Reformasi Birokrasi yang mengatur tentang pelaksanaan program
Reformasi Birokrasi. Peraturan tersebut menargetkan tercapainya tiga sasaran
hasil utama yaitu peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi, pemerintah
yang bersih dan bebas KKN, serta peningkatan pelayanan publik.
Kementerian Agama dalam hal ini Inspektorat Jenderal telah melakukan
pembangunan zona integritas melalui pilot project pembangunan zona integritas
terhadap beberapa Satuan Organisasi/Satuan Kerja/Unit Pelaksana Teknis pada
Kementerian Agama berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 265 Tahun
2015 tentang Penetapan Satuan Kerja sebagai Pilot Project Pembangunan Zona
Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan
Melayani pada Kementerian Agama, yang telah menetapkan kegiatan tersebut pada
107 Satuan Organisasi pada Kementerian Agama. Hasil pelaksanaan program
tersebut terdapat beberapa Satuan Organisasi yang telah diusulkan menjadi
Satuan Organisasi berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi kepada Kementerian
PAN dan RB.
Oleh karena itu, dalam rangka pembangunan zona integritas pada Satuan
Organisasi/Satuan Kerja/Unit Pelaksana Teknis pada Kementerian Agama secara
menyeluruh, maka program ini perlu dikoordinasikan secara terintegrasi melalui
mekanisme yang ditetapkan dalam petunjuk pelaksanaan pembangunan Zona
Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
7
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Melayani pada Kementerian Agama. Selain itu, perlu adanya penyelarasan


instrumen zona integritas dengan instrumen evaluasi reformasi birokrasi serta
menyederhanakan pada indikator proses dan indikator hasil yang lebih fokus dan
akurat sesuai kondisi Kementerian Agama sehingga dapat diterapkan secara lebih
mudah dan terintegrasi.
Keberhasilan dari pembangunan zona integritas ini harus dilakukan secara
intensif, serius, dan sungguh-sungguh yang diwujudkan melalui program dan
tindakan yang nyata secara terpadu dan komprehensif yang dilakukan oleh
seluruh aparatur sipil negara Kementerian Agama untuk mensukseskan
pelaksanaan pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi
dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani dalam mewujudkan visi misi
Kementerian Agama serta mendorong tercapainya tujuan pembangunan nasional.

B. Maksud dan Tujuan


1. Petunjuk Pelaksanaan ini dimaksudkan sebagai acuan bagi Satuan
Organisasi/Kerja/UPT pada Kementerian Agama dalam membangun Zona
Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih
dan Melayani.
2. Tujuan penyusunan Petunjuk Pelaksana ini adalah memberikan keseragaman
pemahaman dan tindakan bagi Satuan Organisasi/Kerja/UPT pada
Kementerian Agama dalam membangun Zona Integritas menuju Wilayah Bebas
dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani.

C. Sasaran
Sasaran Petunjuk Pelaksanaan ini adalah terwujudnya pembangunan Zona
Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan
Melayani pada Satuan Organisasi/Kerja/UPT Kementerian Agama.

D. Pengertian Umum
Dalam Keputusan ini, yang dimaksud dengan:
1. Zona Integritas yang selanjutnya disingkat ZI adalah predikat yang diberikan
kepada Satuan Organisasi/Kerja/UPT yang pimpinan dan jajarannya
mempunyai komitmen untuk mewujudkan Wilayah Bebas dari Korupsi dan
Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani melalui reformasi birokrasi, khususnya
dalam hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
2. Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi yang selanjutnya disebut Menuju WBK
adalah predikat yang diberikan kepada Satuan Organisasi/Kerja/UPT yang
memenuhi sebagian besar manajemen perubahan, penataan tatalaksana,
penataan sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, dan penguatan
akuntabilitas kinerja.
3. Menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani yang selanjutnya disebut

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
8
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Menuju WBBM adalah predikat yang diberikan kepada Satuan


Organisasi/Kerja/UPT yang memenuhi sebagian besar manajemen perubahan,
penataan tatalaksana, penataan sistem manajemen SDM, penguatan
pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, dan penguatan kualitas
pelayanan publik.
4. Pencanangan Pembangunan Zona Integritas adalah deklarasi/ pernyataan dari
pimpinan Satuan Organisasi/Kerja/UPT bahwa Satuan Organisasi/Kerja/UPT
telah siap membangun Zona Integritas.
5. Satuan Organisasi yang selanjutnya disebut Sator adalah bagian dari suatu
organisasi yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan administrasi dalam arti
terbatas yang di dalamnya terdapat pejabat-pejabat yang mengurusi
administrasi kepegawaian, keuangan, dan administrasi umum.
6. Satuan Kerja yang selanjutnya disebut Satker adalah satuan-satuan di bawah
satuan organisasi yang melaksanakan administrasi tertentu dan tidak
memenuhi unsur-unsur yang menangani administrasi kepegawaian, keuangan,
dan umum.
7. Unit Pelaksana Teknis yang selanjutnya disingkat UPT adalah unit kerja bagian
dari satuan kerja yang bersifat mandiri yang melaksanakan tugas teknis
operasional tertentu dan/atau tugas teknis penunjang tertentu dari organisasi
induknya.
8. Menteri adalah Menteri Agama.
9. Tim Penilai Internal yang selanjutnya disingkat TPI adalah tim yang dibentuk
oleh Menteri yang mempunyai tugas melakukan penilaian pada
Sator/Satker/UPT dalam rangka memperoleh predikat Menuju WBK dan
WBBM.
10. Tim Penilai Nasional yang selanjutnya disingkat TPN adalah tim yang dibentuk
untuk melakukan evaluasi terhadap Sator/Satker/ UPT yang diusulkan
menjadi ZI Menuju WBK dan WBBM. Tim Penilai Nasional terdiri dari unsur
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Ombudsman Republik Indonesia (ORI).

E. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Petunjuk Pelaksanaan ini:
1. Tahap-Tahap Pembangunan ZI;
2. Syarat, Mekanisme Penilaian, dan Penetapan Sator/Satker/UPT Berpredikat
WBK dan WBBM;
3. Pembobotan dan Indikator Komponen WBK/WBBM;
4. Pembinaan dan Pengawasan; dan
5. Evaluasi dan Pelaporan.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
9
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

BAB II
TAHAP-TAHAP PEMBANGUNAN ZI

A. Pencanangan Pembangunan ZI
Pencanangan Pembangunan ZI adalah deklarasi/pernyataan dari pimpinan
Sator/Satker/UPT yang telah siap membangun ZI, dengan memperhatikan
beberapa ketentuan, yaitu:
1. Seluruh atau sebagian besar pegawainya telah menandatangani Dokumen
Pakta Integritas, yang dapat dilakukan secara serentak pada saat pelantikan,
baik sebagai CPNS, PNS, maupun pelantikan dalam rangka mutasi
kepegawaian horisontal atau vertikal.
2. Bagi Sator/Satker/UPT yang belum seluruh pegawainya menandatangani
Dokumen Pakta Integritas dapat melanjutkan/melengkapi setelah
pencanangan pembangunan ZI.
3. Pencanangan Pembangunan ZI pada Unit Eselon I pusat dapat dilakukan
secara bersama, sedangkan pada Sator/Satker/UPT daerah dapat dilakukan
secara bersama dalam satu provinsi.
4. Pencanangan pembangunan ZI dilaksanakan secara terbuka dan
dipublikasikan secara luas dengan maksud agar semua pihak termasuk
masyarakat dapat memantau, mengawal, mengawasi dan berperan serta dalam
program kegiatan reformasi birokrasi khususnya di bidang pencegahan korupsi
dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
5. Penandatanganan Piagam Pencanangan Pembangunan ZI untuk Unit Eselon I
pusat dilaksanakan oleh pimpinan Unit Eselon I terkait, sedangkan untuk
Sator/Satker/UPT daerah dilaksanakan oleh pimpinan Sator/Satker/UPT
terkait.
6. Komisi Pemberantasan Korupsi, Ombudsman RI, unsur masyarakat lainnya
(perguruan tinggi, tokoh masyarakat/LSM, dunia usaha) dapat juga menjadi
saksi pada saat pencanangan ZI.
B. Proses Pembangunan ZI Menuju WBK dan WBBM
1. Proses pembangunan ZI difokuskan pada penerapan program Manajemen
Perubahan, Penataan Tatalaksana, Penataan Manajemen SDM, Penguatan
Pengawasan, Penguatan Akuntabilitas Kinerja, dan Peningkatan Kualitas
Pelayanan Publik yang bersifat konkrit.

2. Tahapan-tahapan dalam proses pembangunan ZI adalah:


a. Pemilihan Sator/Satker/UPT;
b. Evaluasi;
c. Pengusulan; dan
d. Penetapan.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
10
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

3. Proses pemilihan Sator/Satker/UPT yang berpotensi sebagai ZI dilakukan oleh


Tim Kerja Pembangunan ZI Kementerian.

4. Pemilihan Sator/Satker/UPT yang diusulkan berpredikat WBK dan WBBM


dengan memprioritaskan beberapa hal, antara lain:
a. merupakan Sator/Satker/UPT yang penting/strategis dalam melakukan
pelayanan publik;
b. mengelola sumber daya yang cukup besar; dan
c. memiliki tingkat keberhasilan Reformasi Birokrasi yang cukup tinggi pada
Sator/Satker/UPT tersebut.

5. Dalam membangun ZI, Menteri berdasarkan hasil evaluasi TPI menetapkan


satu atau beberapa Sator/Satker/UPT yang menjadi binaannya untuk
diusulkan sebagai Sator/Satker/UPT berpredikat WBK dan WBBM.

C. Tim Kerja
Tim Kerja pembangunan ZI menuju WBK dan WBBM pada Kementerian Agama
terdiri dari:
1. Tim Kerja Tingkat Kementerian
a. Tim Kerja Tingkat Kementerian dibentuk dan ditetapkan oleh Menteri,
terdiri dari:
1) Pengarah;
2) Penanggung Jawab;
3) Ketua;
4) Wakil Ketua;
5) Sekretaris;
6) Wakil Sekretaris;
7) Anggota; dan
8) Sekretariat.

b. Tim Kerja Tingkat Kementerian beranggotakan pejabat struktural dan


fungsional pada Unit Eselon I pusat.
c. Tim Kerja Tingkat Kementerian bertugas:
1) menyusun petunjuk pelaksanaan pembangunan ZI menuju WBK dan
WBBM pada Kementerian Agama dan perangkat lainnya yang
diperlukan;
2) menyusun rencana dan agenda kerja;
3) melakukan internalisasi dan implementasi kebijakan pembangunan ZI
menuju WBK dan WBBM pada Kementerian Agama;
4) melakukan pemantauan atas pelaksanaan pembangunan ZI menuju
WBK dan WBBM pada Sator/Satker/UPT;

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
11
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

5) melaporkan hasil penyelenggaran pembangunan ZI menuju WBK dan


WBBM pada Kementerian Agama kepada Menteri; dan
6) mengusulkan Sator/Satker/UPT berpredikat WBK dan WBBM kepada
Menteri PAN dan RB.

2. Tim Kerja Tingkat Sator/Satker/UPT


a. Tim Kerja Tingkat Kementerian dibentuk dan ditetapkan oleh pimpinan
Sator/Satker/UPT, terdiri:
1) Penanggung Jawab;
2) Ketua;
3) Sekretaris;
4) Anggota; dan
5) Sekretariat.
b. Tim Kerja Tingkat Sator/Satker/UPT beranggotakan pejabat struktural dan
fungsional pada Sator/Satker/UPT.
c. Tim Kerja Tingkat Sator/Satker/UPT bertugas:
1) menyusun rencana dan agenda kerja;
2) melakukan internalisasi dan implementasi pembangunan ZI menuju
WBK dan WBBM pada Sator/Satker/UPT;
3) melakukan pemantauan atas pelaksanaan pembangunan ZI menuju
WBK dan WBBM pada Sator/Satker/UPT di lingkungannya; dan
4) melaksanakan pembangunan ZI sesuai program kerja yang telah
ditetapkan;
5) melakukan penilaian mandiri pembangunan ZI baik secara manual
maupun secara elektronik;
6) mengupayakan terpenuhinya seluruh dokumen pendukung
pembangunan ZI;
7) melakukan monitoring dan evaluasi terhadap capaian target yang telah
ditetapkan melalui penilaian mandiri pembangunan ZI baik secara
manual maupun secara elektronik; dan
8) melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada pimpinan
Sator/Satker/UPT.

D. Tim Penilai Internal


1. TPI dibentuk dan ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri.
2. TPI diketuai oleh Inspektur Jenderal dan beranggotakan Auditor dan/atau ASN
pada Inspektorat Jenderal.
3. Dalam melaksanakan tugas penilaian, Ketua TPI membentuk sub tim sesuai
kebutuhan jumlah Sator/Satker/UPT yang akan dinilai.
4. Pedoman Penilaian ZI menuju WBK dan WBBM pada Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
12
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

ditetapkan tersendiri dengan Keputusan Inspektur Jenderal Kementerian


Agama.
5. TPI bertugas:
a. menyusun program kerja penilaian ZI dalam setiap tahun anggaran;
b. melakukan penilaian mandiri (self assessment) dengan melakukan verifikasi
lapangan atas hasil penilaian mandiri pada Sator/Satker/UPT yang telah
mengusulkan penetapan kepada Menteri; dan
c. melaporkan hasil verifikasi lapangan kepada Menteri tentang
Sator/Satker/UPT yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai
Sator/Satker/UPT ZI Menuju WBK dan WBBM.

BAB III
SYARAT, MEKANISME PENILAIAN, DAN PENETAPAN SATOR/SATKER/UPT
BERPREDIKAT WBK DAN WBBM

A. Syarat Pengajuan Predikat WBK


Sator/Satker/UPT yang diusulkan sebagai Sator/Satker/UPT ZI Menuju WBK dan
WBBM harus memenuhi syarat yang telah ditentukan, baik untuk Kementerian
maupun Sator/Satker/UPT yang diusulkan.
1. Syarat untuk tingkat Kementerian adalah:
a. mendapatkan predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas
Laporan Keuangan Kementerian; dan
b. mendapatkan nilai minimal “CC” dari Menpan dan RB atas pelaksanaan
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP).
2. Syarat untuk tingkat Sator/Satker/UPT adalah:
a. memiliki peran dan penyelenggaraan fungsi pelayanan strategis;
b. telah melaksanakan program-program reformasi birokrasi;
c. mengelola sumber daya yang cukup besar; dan
d. memperoleh minimal “75.00” berdasarkan hasil verifikasi TPI.

B. Mekanisme Penilaian Mandiri


1. Sator/Satker/UPT melaksanakan penilaian mandiri atas pelaksanaan
pembangunan ZI Menuju WBK dan WBBM secara online dan melakukan
submit kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal paling lambat 31 Desember
tahun berjalan.
2. Seluruh unsur Sator/Satker/UPT wajib terlibat dalam penilaian mandiri dan
hasilnya dilaporkan kepada pimpinan Sator/Satker/UPT.
3. Hasil penilaian mandiri harus didukung dengan evidence yang relevan.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
13
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

4. Tim Kerja Tingkat Kementerian melakukan analisis hasil penilaian mandiri


paling lambat tanggal 15 Januari tahun berikutnya.
5. Hasil analisis Tim Kerja Tingkat Kementerian disampaikan kepada TPI untuk
dilakukan penilaian dan verifikasi paling lambat tanggal 31 Januari.
6. Menteri memerintahkan TPI untuk melakukan penilaian dan verifikasi
terhadap Sator/Satker/UPT yang memiliki capaian nilai signifikan.
7. TPI melakukan penilaian melalui verifikasi lapangan terhadap evidence pada
Sator/Satker/UPT sesuai surat Menteri pada minggu kedua Februari sampai
dengan minggu ketiga Maret.
8. Hasil Penilaian TPI berupa penetapan Sator/Satker/UPT yang memenuhi
syarat untuk diajukan sebagai calon Sator/Satker/UPT berpredikat WBK dan
WBBM disampaikan kepada Menteri paling lambat tanggal 31 Maret.

C. Mekanisme Pengusulan Predikat WBK


1. Menteri Agama mengusulkan Sator/Satker/UPT yang ditetapkan berdasarkan
hasil penilaian TPI kepada Menteri PAN dan RB paling lambat tanggal 10 April.
2. Kementerian PAN dan RB melakukan reviu atas usulan Menteri.
3. Menteri menetapkan Sator/Satker/UPT tersebut sebagai Sator/Satker/UPT
berpredikat WBK apabila berdasarkan rekomendasi Kementerian PAN dan RB
Sator/Satker/UPT tersebut memenuhi syarat WBK.
4. Menteri memerintahkan kepada Tim Kerja Tingkat Kementerian untuk
melakukan pembinaan kembali, apabila rekomendasi Kementerian PAN dan RB
menyatakan bahwa nilai Sator/Satker/UPT tersebut tidak memenuhi nilai
minimal syarat WBK.

D. Syarat Pengajuan Predikat WBBM


Sator/Satker/UPT yang diajukan sebagai Sator/Satker/UPT berpredikat WBBM
harus memenuhi syarat yang telah ditentukan, baik untuk Kementerian maupun
untuk Sator/Satker/UPT yang diusulkan.
1. Syarat untuk tingkat Kementerian adalah:
a. mendapatkan predikat opini WTP dari BPK atas Laporan Keuangan
Kementerian; dan
b. mendapatkan nilai minimal “CC” dari Menpan dan RB atas pelaksanaan
SAKIP.
2. Syarat untuk tingkat Sator/Satker/UPT adalah telah mendapatkan predikat
WBK.

E. Mekanisme Pengusulan Predikat WBBM


1. Menteri mengusulkan Sator/Satker/UPT yang telah berpredikat WBK kepada
Kementerian PAN dan RB sebagai Sator/Satker/UPT berpredikat WBBM.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
14
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

2. TPN yang terdiri dari Kementerian PAN dan RB, Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK), dan ORI melakukan penilaian terhadap Sator/Satker/UPT yang
diusulkan.
3. Apabila hasil evaluasi Sator/Satker/UPT memenuhi syarat berpredikat WBBM,
maka Kementerian PAN dan RB akan menetapkan Sator/Satker/UPT tersebut
sebagai Sator/Satker/ UPT berpredikat WBBM.
4. Menteri memerintahkan kepada Tim Kerja Tingkat Kementerian untuk
melakukan pembinaan kembali, apabila rekomendasi TPN menyatakan bahwa
Sator/Satker/UPT tersebut tidak memenuhi nilai minimal predikat WBBM.

F. Penetapan Predikat WBK


1. Menteri menetapkan Sator/Satker/UPT sebagai Sator/Satker/ UPT berpredikat
WBK berdasarkan hasil evaluasi TPI dan rekomendasi Menteri PAN dan RB.
2. TPI merekomendasikan Sator/Satker/UPT sebagai Sator/Satker/ UPT
berpredikat WBK setelah memenuhi kriteria syarat minimal hasil penilaian
sebagai berikut:
a. memiliki nilai total (pengungkit dan hasil) minimal 75; dan
b. memiliki nilai komponen hasil “Terwujudnya Pemerintah yang Bersih dan
Bebas KKN” minimal 18, dengan nilai sub komponen Survei Persepsi Anti
Korupsi minimal 13,5 dan sub komponen Persentasi TLHP minimal 3,5.
3. Penetapan Sator/Satker/UPT berpredikat WBK ditetapkan dengan Keputusan
Menteri.
4. Penetapan predikat WBK berlaku sesuai yang tertera dalam Keputusan
Menteri, dan dapat dicabut kembali, apabila setelah penetapan terdapat
kejadian/peristiwa yang mengakibatkan tidak terpenuhinya lagi indikator
bebas dari korupsi.

G. Penetapan Predikat WBBM


1. Penetapan predikat WBBM menjadi kewenangan Menteri PAN dan RB
berdasarkan hasil evaluasi TPN.
2. Kriteria syarat minimal predikat WBBM adalah:
a. memiliki nilai total (pengungkit dan hasil) minimal 85; dan
b. memiliki nilai komponen hasil “Terwujudnya Pemerintah yang Bersih dan
Bebas KKN” minimal 18, dengan nilai sub komponen Survei Persepsi Anti
Korupsi minimal 13,5; dan
c. sub komponen Persentasi TLHP minimal 3,5; 3) memiliki nilai komponen
hasil “Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik kepada
Masyarakat” minimal 16.
3. Penetapan Sator/Satker/UPT berpredikat WBBM ditetapkan dengan
Keputusan Menteri PAN dan RB.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
15
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

4. Penetapan predikat WBBM berlaku sesuai dengan Keputusan Menteri PAN dan
RB, dan dapat dicabut kembali apabila setelah penetapannya terdapat
kejadian/peristiwa yang mengakibatkan tidak terpenuhinya lagi indikator
birokrasi bersih dan melayani.

H. Evaluasi Predikat WBK dan WBBM


1. Evaluasi terhadap pemberian predikat WBK dan WBBM dilakukan secara
berkala oleh TPN.
2. Apabila hasil penilaian Sator/Satker/UPT yang bersangkutan tidak memenuhi
syarat minimal evaluasi, maka predikat WBK akan dicabut dan secara otomatis
Sator/Satker/UPT bersangkutan tidak dapat diusulkan berpredikat WBBM.

BAB IV
PEMBOBOTAN DAN INDIKATOR
KOMPONEN WBK DAN WBBM

A. Pembobotan Komponen
Komponen yang harus dibangun dalam Sator/Satker/UPT terpilih, adalah
komponen pengungkit dan komponen hasil.
Komponen pengungkit terdiri dari 6 (enam) komponen, yaitu:
1. Manajemen Perubahan;
2. Penataan Tatalaksana;
3. Penataan Manajemen SDM;
4. Penguatan Akuntabilitas Kinerja;
5. Penguatan Pengawasan; dan
6. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik.
Sedangkan komponen hasil merupakan keberhasilan komponen pengungkit yang
dapat menghasilkan sasaran Sator/Satker/UPT yang bersih dan bebas KKN serta
peningkatan kualitas pelayanan publik.
Komponen pengungkit memiliki bobot 60%, dengan rincian sebagai berikut:
1. Komponen Manajemen Perubahan memiliki bobot 5%;
2. Komponen Penataan Tatalaksana memiliki bobot 5%;
3. Komponen Penataan Manajemen SDM memiliki bobot 15%;
4. Komponen Penguatan Akuntabilitas Kinerja memiliki bobot 10%;
5. Komponan Penguatan Pengawasan memiliki bobot 15%, dan
6. Komponen Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik memiliki bobot 10%.
Sedangkan komponen hasil memiliki bobot 40%, dengan klasifikasi sebagai
berikut:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
16
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

1. terwujudnya Sator/Satker/UPT yang Bersih dan Bebas dari Korupsi memiliki


bobot 20%; dan
2. terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik kepada Masyarakat
memiliki bobot 20%.

B. Indikator Komponen Pengungkit


1. Manajemen Perubahan
Manajemen perubahan bertujuan untuk mengubah secara sistematis dan
konsisten mekanisme kerja, pola pikir (mind set), serta budaya kerja (culture
set) individu pada Sator/Satker/UPT yang dibangun, sehingga pimpinan
Sator/Satker/UPT wajib meningkatkan komitmen seluruh jajaran pimpinan
dan pegawai Sator/Satker/UPT dalam membangun ZI Menuju WBK dan
WBBM.

Target yang ingin dicapai melalui program ini adalah:


a. meningkatnya komitmen seluruh jajaran pimpinan dan pegawai
Sator/Satker/UPT dalam membangun ZI Menuju WBK dan WBBM;
b. terjadinya perubahan pola pikir dan budaya kerja pada Sator/Satker/UPT
yang diusulkan sebagai ZI Menuju WBK dan WBBM; dan
c. menurunnya risiko kegagalan yang disebabkan kemungkinan timbulnya
resistensi terhadap perubahan.
Hal yang perlu dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
a. membentuk Tim Kerja dengan menentukan anggota tim melalui
prosedur/mekanisme yang jelas;
b. menyusun dokumen rencana pembangunan ZI menuju WBK dan WBBM,
yang memuat target prioritasnya yang relevan dengan tujuan;
c. menyediakan mekanisme atau media sosialisasi pembangunan ZI Menuju
WBK dan WBBM;
d. melakukan pemantauan dan evaluasi Pembangunan ZI Menuju WBK dan
WBBM untuk memastikan bahwa:
1) seluruh kegiatan pembangunan ZI Menuju WBK dan WBBM telah
dilaksanakan sesuai dengan target yang direncanakan;
2) terdapat monitoring dan evaluasi terhadap pembangunan ZI Menuju
WBK dan WBBM; dan
3) hasil monitoring dan evaluasi telah ditindaklanjuti.
e. melakukan program dalam rangka perubahan pola pikir dan budaya kerja
melalui:
1) sosialisasi dan implementasi Lima Nilai Budaya Kerja Kementerian
Agama;
2) menumbuhkan kesadaran jajaran pimpinan untuk berperan sebagai
role model dalam pelaksanaan pembangunan ZI Menuju WBK dan

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
17
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

WBBM;
3) membentuk agen perubahan/tunas integritas; dan
4) melibatkan pegawai dalam pembangunan ZI Menuju WBK dan WBBM.

2. Penataan Tatalaksana
Penataan tatalaksana bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
sistem, proses, dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien, dan terukur pada
Sator/Satker/UPT ZI Menuju WBK dan WBBM.
Target yang ingin dicapai pada masing-masing program ini adalah:
a. meningkatnya penggunaan teknologi informasi dalam proses
penyelenggaraan manajemen pemerintahan pada Sator/ Satker/UPT ZI
Menuju WBK/WBBM;
b. meningkatnya efisiensi dan efektivitas proses manajemen pemerintahan
pada Sator/Satker/UPT ZI Menuju WBK dan WBBM; dan
c. meningkatnya kinerja Sator/Satker/UPT ZI Menuju WBK dan WBBM.
Indikator yang wajib dilakukan untuk menerapkan penataan tatalaksana,
yaitu:
a. Standar Operasional Prosedur (SOP) Kegiatan Utama
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) menyusun SOP mengacu pada peta proses bisnis Kementerian Agama;
2) menerapkan SOP; dan
3) mengevaluasi SOP.
b. E-Office
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) membangun sistem pengukuran kinerja berbasis sistem informasi;
2) membangun sistem kepegawaian berbasis sistem informasi; dan
3) membangun sistem pelayanan publik berbasis sistem informasi.
c. Keterbukaan Informasi Publik
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) menerapkan kebijakan tentang keterbukaan informasi publik; dan
2) melakukan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan kebijakan
keterbukan informasi publik.

3. Penataan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)


Penataan sistem manajemen SDM aparatur bertujuan untuk meningkatkan
profesionalisme SDM aparatur pada Sator/Satker/UPT ZI Menuju WBK dan
WBBM.
Target yang ingin dicapai melalui program ini adalah:
a. meningkatnya ketaatan terhadap pengelolaan SDM aparatur pada
Sator/Satker/UPT ZI Menuju WBK dan WBBM;

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
18
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

b. meningkatnya transparansi dan akuntabilitas pengelolaan SDM aparatur


pada Sator/Satker/UPT ZI Menuju WBK dan WBBM;
c. meningkatnya disiplin SDM aparatur pada Sator/Satker/UPT ZI Menuju
WBK dan WBBM;
d. meningkatnya efektivitas manajemen SDM aparatur pada
Sator/Satker/UPT ZI Menuju WBK dan WBBM; dan
e. meningkatnya profesionalisme SDM aparatur pada Sator/Satker/UPT ZI
Menuju WBK dan WBBM.
Indikator yang wajib dilakukan untuk menerapkan penataan manajemen SDM,
adalah:
a. Perencanaan Kebutuhan Pegawai sesuai dengan kebutuhan organisasi
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) membuat rencana kebutuhan pegawai dengan memperhatikan rasio
dengan beban kerja dan kualifikasi pendidikan;
2) menerapkan rencana kebutuhan pegawai; dan
3) melakukan monitoring dan evaluasi terhadap rencana kebutuhan
pegawai.
b. Pola Mutasi Internal
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) menetapkan kebijakan pola mutasi internal;
2) menerapkan kebijakan pola mutasi internal; dan
3) melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kebijakan pola mutasi
internal.
c. Pengembangan Pegawai Berbasis Kompetensi
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) melakukan kegiatan yang berorientasi pada upaya pengembangan
kompetensi (capacity building/transfer knowledge); dan
2) menyusun program yang berorientasi pada pemberian kesempatan/
hak bagi pegawai untuk mengikuti diklat maupun pengembangan
kompetensi lainnya.
d. Penetapan Kinerja Individu
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) menyusun sistem penilaian kinerja individu yang terkait dengan
kinerja organisasi;
2) menyusun ukuran kinerja individu yang sesuai dengan indikator
kinerja individu level di atasnya;
3) melakukan pengukuran kinerja individu secara periodik; dan
4) melaksanakan dan memantau hasil penilaian kinerja individu mulai dari
penetapan sampai dengan implementasi dan pemantauan.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
19
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

e. Penegakan Aturan Disiplin/Kode Etik/Kode Perilaku Pegawai


Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah melaksanakan
aturan disiplin/kode etik/kode perilaku.
f. Sistem Informasi Kepegawaian
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah memutakhirkan
sistem informasi kepegawaian secara berkala.

4. Penguatan Akuntabilitas
Akuntabilitas kinerja adalah perwujudan kewajiban Kementerian Agama untuk
mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan program dan
kegiatan dalam mencapai misi dan tujuan organisasi. Program ini bertujuan
untuk meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja Kementerian Agama.
Target yang ingin dicapai melalui program ini adalah:
a. meningkatnya kinerja Kementerian Agama; dan
b. meningkatnya akuntabilitas Kementerian Agama.
Indikator yang wajib dilakukan untuk mengukur pencapaian program ini
adalah:
a. Keterlibatan Pimpinan
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) melibatkan pimpinan secara langsung pada saat penyusunan
perencanaan;
2) melibatkan secara langsung pimpinan saat penyusunan perjanjian
kinerja; dan
3) memantau pencapaian kinerja secara berkala oleh pimpinan.
b. Pengelolaan Akuntabilitas Kinerja
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) menyusun dokumen perencanaan yang berorientasi hasil;
2) menyusun indikator kinerja yang memenuhi kriteria Specific,
Measurable, Acheivable, Relevant, and Timebound (SMART);
3) menyusun laporan kinerja tepat waktu;
4) menyusun laporan kinerja yang memuat informasi tentang kinerja; dan
5) melakukan kegiatan yang berorientasi pada peningkatan kapasitas
SDM yang menangani akuntabilitas kinerja.

5. Penguatan Pengawasan
Penguatan pengawasan bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan
pemerintahan yang bersih dan bebas KKN pada Kementerian Agama.
Target yang ingin dicapai melalui program ini adalah:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
20
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

a. meningkatnya kepatuhan terhadap pengelolaan keuangan negara;


b. meningkatnya efektivitas pengelolaan keuangan negara;
c. meningkatnya status opini BPK terhadap pengelolaan keuangan negara;
dan
d. menurunnya tingkat penyalahgunaan wewenang.
Indikator yang wajib dilakukan untuk mengukur pencapaian Penguatan
Pengawasan adalah:
a. Penerapan Pengendalian Gratifikasi
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) melakukan sosialisasi peraturan tentang gratifikasi baik secara internal
maupun eksternal;
2) mengkoordinasikan pelaporan gratifikasi dan melaporkannya kepada Unit
Pengendalian Gratifikasi (UPG);
3) melakukan kegiatan public campaign tentang pengendalian gratifikasi; dan
4) mengimplementasikan pengendalian gratifikasi.
b. Penerapan Sistem Pengawasan Internal Pemerintah (SPIP)
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) melaksanakan dan mensosialisasikan peraturan tentang SPIP;
2) membentuk Satuan Tugas SPIP;
3) membangun dan melakukan evaluasi terhadap lingkungan
pengendalian;
4) melakukan identifikasi dan penilaian risiko;
5) menetapkan kegiatan pengendalian untuk meminimalisir risiko yang
telah diidentifikasi;
6) mengkomunikasikan dan mengimplementasikan SPI kepada seluruh
pihak terkait; dan
7) menyusun laporan pelaksanaan SPIP kepada Menteri melalui
Sekretaris Jenderal setiap awal bulan Desember tahun berjalan.
c. Penanganan Pengaduan Masyarakat
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) mengimplementasikan dan mensosialisasikan peraturan tentang
Pengaduan Masyarakat;
2) melaksanakan tindak lanjut atas hasil penanganan pengaduan
masyarakat;
3) melakukan monitoring dan evaluasi atas penanganan pengaduan
masyarakat; dan
4) menindaklanjuti hasil evaluasi atas penanganan pengaduan
masyarakat.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
21
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

d. Penanganan Whistleblowing System


Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) mengimplementasikan dan mensosialisasikan peraturan tentang
whistleblowing system;
2) melakukan evaluasi atas penerapan whistleblowing system; dan
3) menindaklanjuti hasil evaluasi atas penerapan whistleblowing system.
e. Penanganan Benturan Kepentingan
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) mensosialisasikan peraturan tentang benturan kepentingan;
2) mengidentifikasi benturan kepentingan dalam tugas fungsi utama;
3) mengimplementasikan penanganan benturan kepentingan;
4) melakukan evaluasi atas penanganan benturan kepentingan; dan
5) menindaklanjuti hasil evaluasi atas penanganan benturan
kepentingan.

6. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik


Peningkatan kualitas pelayanan publik merupakan suatu upaya untuk
meningkatkan kualitas dan inovasi pelayanan publik pada Kementerian Agama
secara berkala sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Di samping itu,
peningkatan kualitas pelayanan publik dilakukan untuk membangun
kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara pelayanan publik dalam
rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan menjadikan keluhan
masyarakat sebagai sarana untuk melakukan perbaikan pelayanan publik.
Target yang ingin dicapai melalui program ini adalah:
a. meningkatnya kualitas pelayanan publik (lebih cepat, lebih murah, lebih
aman, dan lebih mudah dijangkau) pada Kementerian Agama;
b. meningkatnya jumlah unit pelayanan yang memperoleh standardisasi
pelayanan internasional pada Kementerian Agama; dan
c. meningkatnya indeks kepuasan masyarakat terhadap penyelenggaraan
pelayanan publik oleh Kementerian Agama.
Indikator yang wajib dilakukan untuk mengukur pencapaian Peningkatan
Kualitas Pelayanan Publik adalah:
a. Standar Pelayanan
Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) mensosialisasikan tentang standar pelayanan;
2) mengimplementasikan kebijakan tentang standar pelayanan;
3) memaklumatkan standar pelayanan;
4) menyusun SOP pelaksanaan standar pelayanan; dan
5) melakukan reviu dan perbaikan atas Standar Pelayanan dan SOP

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
22
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

secara berkala.

b. Budaya Pelayanan Prima


Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) melakukan sosialisasi/pelatihan berupa kode etik, estetika, capacity
building dalam upaya penerapan budaya pelayanan prima;
2) membangun sistem informasi tentang pelayanan mudah diakses
melalui berbagai media;
3) menyusun dan menerapkan sistem reward and punishment bagi
pelaksana layanan serta pemberian kompensasi kepada penerima
layanan bila layanan tidak sesuai standar;
4) mengupayakan sarana layanan terpadu/terintegrasi; dan
5) melakukan kegiatan inovatif terkait pelaksanaan pelayanan.

c. Penilaian Kepuasan Terhadap Pelayanan


Hal yang harus dilakukan oleh Sator/Satker/UPT adalah:
1) melakukan survey kepuasan masyarakat terhadap pelayanan;
2) mempublikasikan hasil survey kepuasan kepada masyarakat secara
terbuka; dan
3) melakukan tindak lanjut atas hasil survey kepuasan masyarakat.

C. Indikator Hasil
Sasaran yang dicapai untuk mengukur komponen hasil adalah:
1. terwujudnya Pemerintahan yang Bersih dan Bebas KKN; dan
2. terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik kepada Masyarakat.

Dalam pembangunan ZI Menuju WBK dan WBBM, fokus pelaksanaan reformasi


birokrasi tertuju pada dua sasaran utama, yaitu:
1. Terwujudnya Pemerintahan yang Bersih dan Bebas dari KKN, diukur dengan
menggunakan ukuran:
a. Nilai persepsi korupsi (survei eksternal); dan
b. Presentase penyelesaian TLHP.
2. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik kepada Masyarakat,
diukur melalui nilai persepsi kualitas pelayanan (survei eksternal).

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
23
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

BAB IV
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

A. Pembinaan
1. Pimpinan Sator/Satker/UPT wajib melakukan pembinaan terhadap
Sator/Satker/UPT masing-masing baik terhadap institusional maupun
terhadap pegawai.
2. Pembinaan dapat dilakukan dengan cara memberikan asistensi perbaikan
sistem dan prosedur, pemberian fasilitas dan anggaran kedinasan yang
memadai, pelatihan pelaksana, perbaikan kesejahteraan, kenaikan pangkat
istimewa atau kegiatan lainnya yang mengarah pada tujuan untuk
mempersempit peluang/ kesempatan melakukan korupsi.
3. Pembinaan juga dapat dilakukan melalui pembinaan karakter pegawai melalui
pelatihan anti korupsi atau pembentukan integritas, pendekatan
spiritual/keagamaan.

B. Pengawasan
1. Masyarakat dapat berpartisipasi melakukan pemantauan dan pengawasan
melalui berbagai media seperti kontak pengaduan masyarakat, website, e-mail,
TP 5000, dan media lainnya.
2. Hasil tindak lanjut dari pengaduan/pelaporan masyarakat agar dijadikan
bahan oleh Menteri dalam mengevaluasi penetapan predikat WBK dan WBBM.
3. Apabila hasil evaluasi menunjukkan kebenaran pengaduan/ laporan yang
menyebabkan tidak lagi dipenuhinya indikator WBK dan WBBM, maka Menteri
PAN dan RB akan mencabut predikat WBK dan WBBM pada Sator/Satker/UPT
yang bersangkutan.
4. Atas pencabutan predikat WBK dan WBBM, Menteri akan mencabut predikat
WBK pada Sator/Satker/UPT yang bersangkutan.

BAB V
EVALUASI DAN PELAPORAN

A. Evaluasi
1. Tim Kerja Tingkat Kementerian melakukan Evaluasi atas pelaksanaan
pembangunan ZI dan kinerja WBK dan WBBM pada Kementerian Agama
secara berkala minimal satu kali dalam satu tahun.
2. Tim Kerja Tingkat Sator/Satker/UPT melakukan evaluasi atas pelaksanaan
pembangunan ZI dan kinerja WBK dan WBBM pada Sator/Satker/UPT secara
berkala minimal dua kali dalam satu tahun.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
24
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

3. Hasil evaluasi yang dilaksanakan oleh Tim Kerja Tingkat Kementerian


disampaikan kepada Menteri.
4. Hasil evaluasi yang dilaksanakan oleh Tim Kerja Tingkat Sator/Satker/UPT
disampaikan kepada pimpinan Sator/Satker/UPT yang bersangkutan.

B. Pelaporan
1. Pimpinan Sator/Satker/UPT berpredikat WBK dan WBBM wajib menyampai-
kan laporan kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal mengenai pelaksanaan
WBK dan WBBM secara berkala.
2. Menteri wajib menyampaikan laporan kepada Menteri PAN dan RB mengenai:
a. telah dilaksanakannya pencanangan pembangunan ZI pada Kementerian
Agama;
b. telah ditetapkannya Sator/Satker/UPT yang berpredikat WBK; dan
c. hal-hal lain yang terkait dengan proses pembangunan ZI.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
25
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

BAB III
LEMBAR KERJA EVALUASI ZONA INTEGRITAS (ZI) MENUJU WBK/WBBM
(Sesuai dengan Permenpan No. 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Zona
Integritas Menuju Wilayah Bebas Dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Dan Melayani
di Lingkungan Instansi Pemerintah)

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
26
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
27
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
28
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
29
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
30
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
31
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
32
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
33
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
34
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
35
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
36
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
37
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
38
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
39
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
40
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
41
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
42
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
43
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

BAB IV
PANDUAN PENGOPERASIAN
APLIKASI PENILAIAN MANDIRI PEMBANGUNAN ZONA INTEGRITAS (PMPZI)

Aplikasi PMPZI merupakan aplikasi/software database yang dibangun untuk membantu


pelaksanaan Penilaian Mandiri Pembangunan Zona Integritas di lingkungan Kementerian Agama
RI, secara digital/elektronis sehingga proses pengelolaan data Zona Integritas dapat dilakukan
secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
Buku Panduan Penggunaan Aplikasi ini dibuat untuk membantu dan mempermudah
pengguna aplikasi (user) dalam melakukan pengoperasian dan untuk lebih mempermudah dalam
memahami dan menguasai alur kerja dari Aplikasi tersebut. Disusun dalam bentuk yang
sederhana dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti serta menampilkan bentuk menu
dari form aplikasi yang ada.
Aplikasi ini berjalan di atas browser, misalnya Internet Explorer, Mozilla, Google Crome, dan
lain-lain (direkomendasikan menggunakan Browser Mozilla), dengan tampilan awal sebagai
berikut.

Gambar di atas adalah home page utama dari Aplikasi PMPZI. Pada Home Page aplikasi ini
terdapat Dashboard Informasi Publik yang dapat dilihat oleh user publik tanpa harus login

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
44
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

aplikasi juga memuat informasi Count Down hari batas waktu pelaporan PMPZI ke Menteri
Agama yaitu Tanggal 31 Desember setiap tahun. Berikut adalah 4 kelompok informasi publik
yang ada dalam aplikasi ini:

Berikut adalah penjelasannya:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
45
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

1. Rekapitulasi Satker Yang Harus Melakukan Penilaian ZI, menu ini berisi informasi
rekapitulasi satker yang harus melakukan PMPZI di unit kerjanya masing-masing mulai dari
Satker Eselon I Pusat sampai dengan Satker Unit Eselon III Daerah.
2. Rekapitulasi Satker Yang Sudah Melakukan Penilaian ZI, menu ini berisi informasi
rekapitulasi satker yang sudah melakukan PMPZI di unit kerjanya masing-masing.

3. Daftar Satker Yang Sudah Melakukan Penilaian ZI, menu ini berisi informasi Daftar satker
yang sudah melakukan PMPZI di unit kerjanya masing-masing.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
46
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

4. Informasi Pendukung, menu ini berisi informasi pendukung pelaksanaan PMPZI, antara lain
tentang regulasi pelaksanaan ZI, alur proses PMPZI, dan lain-lain.

Untuk menggunakan aplikasi ini, buka browser internet (disarankan menggunakan


Browser Mozilla), dalam URL browser ketik alamat aplikasi dengan pmpzi.kemenag.go.id.
Aplikasi ini dapat juga diakses melalui Local Area Network dengan alamat
http://localhost:12367, kata localhost dapat diganti menjadi nama_komputer atau IP komputer
dimana aplikasi ini diinstal. Nama komputer dapat dilihat di System properties, seperti terlihat
pada gambar berikut ini.

Dengan informasi “full computer name” di atas, maka


alamat aplikasi bisa diakses dengan URL:
http://mvx1n2:12367/. Begitu juga dengan alamat
Tranfer Control Protocol/Internat Protocol (TCP/IP) ,
maka aplikasi bisa diakses juga dengan URL
http://192.168.0.1:12367/.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
47
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

A. MANAJEMEN USER DAN FUNGSI MODUL APLIKASI PMPZI


Dalam rangka pengelolaan sekuriti data, aplikasi ini dilengkapi fitur Manajemen User. User
aplikasi terbagi menjadi 3 user, yaitu Administrator, User Pengguna, dan User Tim Penilai Internal
(TPI). Berikut penjelasannya:
1. Administrator
User ini adalah power user yang berfungsi sebagai administrator aplikasi, yaitu otoritas kepada
seluruh modul sangat luas. Berikut adalah modul aplikasi yang dapat ditangani oleh
administrator:

a. Menu Dashboard Laporan

Modul ini berisi informasi laporan rekapitulasi dan detail dari aplikasi. Seluruh laporan
tersebut merupakan output dari seluruh data yang telah diinput ke dalam aplikasi. Laporan
yang tersedia adalah sebagai berikut:
1) Laporan Rekap Satker ZI
Laporan ini berisi informasi Rekapitulasi dan Rincian Satker yang harus melakukan
PMPZI. Berikut adalah tampilan laporan ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
48
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Untuk melihat detail satker yang harus PMPZI, pilih salah satu angka dalam kolom
Jumlah Satker. Contohnya pilih satker Kanwil, maka akan tampil gambar berikut ini.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
49
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

2) Laporan Rekap Satker Sudah PMPZI


Laporan ini berisi informasi Rekapitulasi dan Rincian Satker yang sudah dan belum
melakukan PMPZI. Berikut adalah tampilan laporan ini:

Untuk melihat detail satker yang sudah/belum PMPZI, pilih salah satu angka dalam
kolom Belum/Sudah Lapor. Contohnya pilih satker Kankemenag yang sudah lapor, maka
akan tampil gambar berikut ini.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
50
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

3) Laporan Rekapitulasi Capaian Area ZI


Laporan ini berisi informasi Rekapitulasi Rerata Capaian Area Zona Integritas. Berikut
adalah tampilan laporan ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
51
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

4) Laporan Daftar Hasil Penilaian dan Pemringkatan ZI


Laporan ini berisi informasi Daftar Seluruh Hasil Penilaian dan Pemringkatan ZI
Kementerian Agama. Berikut adalah tampilan laporan ini:

b. Menu Identitas
Modul ini berfungsi untuk mengubah identitas seluruh user yang dapat akses ke aplikasi.
Semua user yang akses ke dalam aplikasi ini, akan mendapat akses awal berupa User Name,
Password dan Profile User yang diberikan oleh Sistem. Sehubungan dengan hal tersebut,
seluruh user wajib untuk melakukan Update identitasnya. Berikut adalah tampilan modul ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
52
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Pada gambar di atas, bila tombol “Ubah Profil User” dipilih maka muncul gambar berikut ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
53
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

c. Menu Dokumen Pelaksanaan ZI


Modul ini berfungsi untuk mendukung pelaksanaan ZI pada Satker Kementerian Agama.
Dokumen pendukung tersebut berupa regulasi, paparan materi, LKE ZI, dan lain-lain. Di
bawah ini adalah tampilan dari modul ini:

Pada gambar di atas, bila tombol dipilih, maka muncul


gambar ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
54
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Untuk menambah dokumen pendukung pilih tombol ,

sedangkan untuk edit dokumen ZI pilih tombol , untuk melihat dokumennya pilih

tombol , dan untuk menghapus dokumen pendukung ZI pilih tombol .

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
55
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
56
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

d. Menu Petunjuk Aplikasi


Menu ini akan menampilkan petunjuk pemakaian aplikasi ini dalam bentuk file .PDF.
e. Menu Link
Modul ini berfungsi untuk menampilkan informasi tentang daftar link website lain yang
terkait dengan aplikasi ini. Link website ini sering digunakan oleh user untuk memberikan
informasi sekitar PMPZI. Berikut adalah tampilan dari modul ini.

f. Menu Hubungi Kami


Modul ini berfungsi untuk user memberikan saran, kritik, dan lain-lain terkait dengan
aplikasi ini. Berikut adalah tampilan dari modul ini.

g. Menu Manajemen User


Modul ini berfungsi untuk memantain data user aplikasi, ini adalah otoritas seorang
Administrator. Di bawah ini adalah tampilan dari modul ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
57
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Untuk menambah user aplikasi (User


Satker, User TPI dan User Administrator),

pilih tombol ,
sedangkan untuk edit User Aplikasi pilih

tombol , untuk melihat rincian Data

User Aplikasi pilih tombol , dan


untuk menghapus Data User Aplikasi pilih

tombol . Berikut adalah tampilan


untuk menambah data User Aplikasi

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
58
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Di dalam form Tambah Data User Aplikasi di atas, untuk mengisi data Kode Satuan Kerja,

pilih tombol , maka akan tampil pop up form data berikut ini.

h. Menu Daftar Satuan Kerja


Modul ini berfungsi untuk memantain data satuan kerja pada Kementerian Agama, ini
adalah otoritas seorang Administrator. Satuan kerja yang dipantau oleh aplikasi ini, yaitu:
Unit Eselon I Pusat, Kanwil Kementerian Agama Provinsi, Kankemenag Kabupaten/Kota,
Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), Unit Kerja Kementerian Agama di Arab Saudi,
dan Balai se Indonesia. Di bawah ini adalah tampilan dari modul ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
59
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Pada gambar di atas, terdapat


data satker madrasah (MIN,
MTsN, dan MAN) dan untuk
sementara waktu satker madrasah
tidak dipantau. Selanjutnya untuk
menambah data satuan kerja,
pilih tombol

.. berikut
adalah tampilan untuk aplikasi ini

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
60
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

i. Menu Maintain Satuan Kerja


Modul ini berfungsi untuk memantain data satuan kerja Kementerian Agama. Berikut adalah
tampilan dari menu ini.

Untuk menambah data satker baru, pilih

tombol, sedangkan

untuk edit data satker pilih tombol ,


untuk melihat rincian data satker pilih

tombol , dan untuk menghapus data

satker pilih tombol . Berikut adalah


tampilan untuk menambah data satker.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
61
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

j. Menu Daftar Status Penilaian ZI


Modul ini menampilkan Daftar Status Penilaian ZI. Status penilaian ZI ada 2 jenis, yaitu:
1) Tahap 1, artinya PMPZI tersebut masih dalam proses koordinasi penilaian atau
perbaikan penilaian pada satuan kerja.
2) Tahap 2, artinya PMPZI sudah final dan sudah disubmit ke Menteri Agama.
Dengan menu ini Administrator dapat merubah status penilaian ZI, tentunya dengan jalur
yang resmi yaitu melalui surat. Berikut adalah tampilan dari modul ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
62
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
63
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

2. User Pengguna
User ini adalah pengguna murni aplikasi, yaitu PIC para satker

a. Menu Hasil Penilaian


Modul ini berfungsi untuk menampilkan informasi terkait dengan Hasil Penilaian PMPZI
tahun berjalan. Berikut adalah tampilan dari menu ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
64
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Pada gambar di atas untuk mencetak Lembar Kerja Evaluasi (LKE) hasil PMPZI, pilih tombol

, maka akan tampil gambar berikut ini.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
65
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
66
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

b. Menu Daftar Penilaian


Modul ini berfungsi untuk menampilkan informasi seluruh Penilaian PMPZI dari tahun ke
tahun. Berikut adalah tampilan dari menu ini:

Pada gambar di atas, untuk menampilkan hasil lengkap penilaian PMPZI, pilih tombol

c. Menu Penilaian
Modul ini berfungsi untuk melakukan PMPZI tahun berjalan. Menu ini adalah otoritas user
aplikasi untuk semua satker. PMPZI dilakukan terhadap 2 Komponen, yaitu:
1) Komponen Proses/Pengungkit dengan bobot penilaian 60%. Kompenen ini terdiri dari 6
area penilaian, yaitu:
a) Manajemen Perubahan, bobot penilaiannya 5%;
b) Penataan Tata Laksana, bobot penilaiannya 5%;
c) Penataan Sistem Manajemen SDM, bobot penilaiannya 15%;
d) Penguatan Akuntabilitas Kinerja, bobot penilaiannya 10%;
e) Penguatan Pengawasan, bobot penilaiannya 15%; dan
f) Penguatan Kualitas Pelayanan Publik, bobot penilaiannya 10%.
2) Komponen Hasil dengan bobot penilaian 40%. Kompenen ini terdiri dari 2 area
penilaian, yaitu:
a) Pemerintahan Bersih dan Bebas KKN, bobot penilaiannya 20%; dan
b) Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, bobot penilaiannya 20%.
Seluruh satuan kerja yang harus melakukan PMPZI, dibatasi waktu penilaiannya sampai
batas terkahir tanggal 31 Desember setiap tahunnya. Sehingga modul ini hanya akan
berfungsi sampai tanggal tersebut dan akan dibuka kembali proses PMPZI pada tanggal 1
Mei pada tahun berjalan.
Di bawah ini adalah tampilan dari modul ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
67
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Pada gambar di atas, bila dipilih salah satu area PMPZI, maka akan muncul kuesioner
pertanyaan untuk masing-masing area yang dipilih. Kuesioner pertanyaan tersebut
berpedoman pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi (PAN dan RB) Nomor 52 tahun 2014 Tentang Pedoman Pembangunan Zona
Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani
Di Lingkungan Instansi Pemerintah.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
68
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
69
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
70
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
71
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
72
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
73
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
74
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Selanjutnya untuk melihat hasil input penilaian ZI secara lengkap, pilih

tombol , maka akan tampil gambar berikut ini.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
75
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Kemudian untuk melakukan submit hasil PMPZI ke Menteri Agama, pilih tombol

, maka akan tampil form


pop up konfirmasi berikut ini.

Pada form pop up konfirmasi di atas, akan menanyakan apakah hasil PMPZI akan di submit
ke Menteri Agama ???. Pada sistem ini setelah proses ini maka status satker tersebut sudah
menjadi Tahap 2, artinya data dalam LKE ZI sudah final dan sudah tidak dapat diubah lagi.

Untuk penjelasan menu yang ada dalam User Aplikasi, lihat penjelasan sebelumnya, yaitu
dalam User Administrator.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
76
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

3. User TPI (Tim Penilai Internal)


User ini adalah kewenangan dari APIP (Aparat Pengawas Internal Pemerintahan) dalam hal ini
yaitu Inspektorat Jenderal Kementerian Agama. User TPI menggunakan aplikasi ini sebagai
sumber data dalam melakukan verifikasi lapangan terhadap satker ZI yang nantinya satker
tersebut dapat diusulkan menjadi satker WBK dan WBBM kepada Kementerian PAN dan RB.
Berikut adalah tampilan utama dari user TPI.

Modul khusus untuk user TPI adalah Modul Input Hasil Penilaian TPI. Modul ini berfungsi untuk
menyimpan data seluruh hasil penilaian verifikasi lapangan yang dilakukan TPI terhadap
beberapa satker yang sudah melakukan PMPZI. Kegiatan verifikasi lapangan tersebut bertujuan
untuk memastikan apakah PMPZI yang dilakukan satker sudah sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Berikut adalah tampilan dari modul ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
77
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Pada gambar di atas untuk melakukan input hasil verifikasi lapangan, pilih tombol

, maka akan tampilan berikut ini:

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
78
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Proses Input hasil verifikasi lapangan, dilakukan per area perubahan. Untuk input Area

Manajemen Perubahan pilih tombol , maka akan tampil form


inputan berikut ini.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
79
Biro Organisasi dan Tata Laksana
Sekretariat Jenderal
Kementerian Agama

Pada form inputan di atas, akan ditampilkan 2 tab informasi, yaitu


 Tab Hasil PMPZI, yang akan menampilkan data hasil PMPZI dan bersifat Read Only dimana
data tidak dapat diubah
 Tab Hasil Verifikasi Lapangan TPI, disiapkan untuk input hasil verifikasi lapangan dan wajib diisi
setiap datanya.
Selanjutnya, untuk inputan hasil verifikasi lapangan terhadap area perubahan lainnya, prosesnya
sama dengan di atas.

Untuk penjelasan menu yang ada dalam User TPI, lihat penjelasan sebelumnya, yaitu dalam User
Administrator.

Aplikasi Penilaian Mandiri


Panduan Pengoperasian Pembangunan Zona Integritas (PMPZI)
80