Anda di halaman 1dari 3

19

Alat-alat laser terbaru yang digunakan, dilengkapi dengan sebuah


eyetracker (pengikut perakan mata yang menjamin akurasinya. LASIK diciptakan
untuk mengatasi kelainan refraksi (kesalahan bias), memperbaiki penglihatan, dan
mengurangi atau mengeliminasi penggunaan kacamata atau lensa kontak.

Gambar 5. Gambar skematik pembentukan ulang kornea oleh laser excimer. (Dikutip dari
Refractive
Surgery. American Academy of Ophthalmology. Section 13, 2014-2015. P.72)

2.3.1 Pertimbangan Khusus LASIK

Pada pasien yang akan dilakukan LASIK harus dilakukan evaluasi pre
operatif. Pemeriksaan oftalmologi lengkap diperlukan. Pemeriksaan penunjang
yang dapat dilakukan berupa topografi kornea, pakimetri, analisis wavefront, dan
perhitungan ketebalan stroma sisa setelah LASIK.?

Pada pasien dengan fisura palpebral yang dekat dan bola mata yang terlalu
dalam dapat meningkatkan kesulitan pembuatan flap kornea yang sukses. Topografi
kornea harus dilakukan untuk menilai silinder kornea dan menentukan adakah
keratokonus dan pellucid marginal degeneration. Pemeriksaan pakimetri
preoperative mutlak dilakukan untuk menilai ketebalan stroma korea yang akan
tersisa jika dilakukan LASIK. Operator harus memberitahukan pre operatif kepada20

pasien dengan komen yang lebih tipis atau koreksi yang lebih tinggi bahwa
dilakukan LASIK kembali tidak memungkinkan.

Banyak oftalmologis mempercayai bahwa pendataran atau pencembungan


komea yang besar setelah LASIK dapat menurunkan kualitas penglihatan dan
meningkatkan aberasi. Banyak dokter bedah mata menghindari menciptakan
kekuatan komea post operatif kurang dari 34.00 D atau lebih dari 50.00 D.

2.3.2 Cara Kerja LASIK


1. Pembuatan Sayatan (Flap)

Flap lamellar dibentuk dengan menggunakan mikrokeratome atau laser


femtosecond, Saat membuat flap sebuah cincin penahan dan pembentuk kornea

dipasang pada mata, menahan posisi mata agar tidak bergerak. Prosedur ini
terkadang, pada beberapa kasus menyebabkan perdarahan minor pada pembuluh
darah halus pada mata, yang akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari

setelah operasi. Setelah mata tertahan pada posisinya, maka sayatan epitellium akan
dibentuk. Proses pembuatan sayatan menggunakan mikrokeratome, sebuah pisau
bedah halus berketebalan beberapa mikrometer, atau menggunakan femtosecond
laser. Setelah sayatan terbentuk, lapisan sayatan diangkat, meninggalkan lapisan
dibawahnya, yaitu stroma, lapisan tengah dari kornea 215

Gambar 6. Prosedur pembuatan lap dengan menggunakan mikrokeratom (Dikutip dari


Refractive
Surgery. American Academy of Ophthalmology. Section 13. 2014-2015. P.85)

2. Laser Remodelling

Gambar 7. Ablasi stroma komea dengan laser excimer (Dikutip dari Refractive Surgery.
American
Academy of Ophthalmology. Section 13. 2014-2015. P.89)

Langkah kedua ialah menggunakan eximer laser, yang memiliki panjang


gelombang sebesar 193 nm untuk merubah bentuk dari stroma kornea. Laser ini
menguapkan jaringan stroma yang ingin dibentuk ulang (remodelling) dengan
ketelitian yang amat tinggi tanpa membahayakan jaringan lain disekitamya, Foton
tunggal 193 nm memiliki energi yang cukup untuk melepaskan ikatan karbon

karbon dan karbon-nitrogen yang membentuk molekul kolagen kornea. Radiasi


laser excimer memecahkan polimer kolagen menjadi fragmen-fragmen kecil. Tidak
ada pemanasan dan pembakaran, maupun pemotongan nyata yang terjadi pada
stroma yang dibentuk ulang, sehingga tidak ada rasa sakit sama sekali pada saat
operasi. Beberapa pasien hanya mengeluhkan rasa tak nyaman. Lapisan yang
diambil saat penguapan jaringan hanya beberapa mikrometer ketebalannya?

Selama proses kedua ini, pengelihatan pasien akan menjadi sangat kabur
setelah lapisan sayatan diangkat. Pasien hanya dapat melihat cahaya putih
mengelilingi cahaya orange dari laser.2

Saat ini, manufaktur laser excimer menggunakan pelacak posisi mata yang
mengikuti gerakan mata sebanyak 4000 kali perdetik, kemudian memusatkan
gelombang laser dengan akurat pada daerah yang akan di remodelling. Gelombanglaser yang
digunakan berkisar antara 1 milijoule (mJ) selama 10 sampai 20

nanodetik?

Gambar 8. Ablasi laser excimer dilakukan pada stroma komen yang terpapar setelah dap
diangkat.
(Dikutip dari Refractive Surgery. American Academy of Ophthalmology. Section 13, 2014-2015
P.73)
Laser excimer konvensional dapat menatalaksana aberasi lower order, atau
sferosilindrikal seperti miopia, hipermetropia, dan astigmat. Aberasi higher order
dapat dihasilkan dari ablasi laser excimer. Aberasi higher order adalah pembelokan
gelombang cahaya yang melewati mata akibat irregularitas media refraktif okular.
Abrasi higher order dapat menyebabkan hilangnya sensitivitas kontras, dan
terdapat glare serta halo pada malam hari, yang dapat menurunkan kualitas
penglihatan. 2,5,6,8,39

Dalam upaya untuk mengurangi aberasi yang telah ada dan meminimalkan
induksi aberasi baru, ablasi wavefront-guided membuat profil ablasi yang sesuai
dengan masing-masing pasien. Ketika dibandingkan dengan ablasi laser excimer
konvensional, ablasi wavefrom-guided menawarkan sensitivitas kontras yang lebih
baik dan menginduksi aberasi higher order post operatif yang lebih

sedikit. 2.56,8,22,23,24,53