Anda di halaman 1dari 38

Laporan Kasus

Pasien dengan G3P2A0 H 33-34 mg + JTHIU +


Letkep + HAP ec Placenta Previa

Oleh:
Afifatul Munawarah
I730912320146

Pembimbing:
dr. Budi Zulhardi, Sp. OG

BAGIAN/SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FK ULM – RUMAH SAKIT IDAMAN
BANJARBARU
Februari, 2019

0
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ............................................................................... i

DAFTAR ISI ............................................................................................ 1

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................. 4

BAB III LAPORAN KASUS .................................................................. 23

BAB IV PEMBAHASAN........................................................................ 32

BAB V PENUTUP .................................................................................. 35

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 36

1
BAB I

PENDAHULUAN

Kematian ibu masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, hal ini

merupakan salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat pada suatu negara.

Angka kematian ibu menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu

penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya

selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas tanpa memperhitungkan

lama kehamilan. Angka kematian ibu di seluruh dunia pada tahun 2015 sebanyak

303.000 jiwa. Setiap hari terjadi kematian ibu sebanyak 830 akibat kehamilan dan

persalinan. Sekitar 99% angka kematian ibu terjadi di negara berkembang,

sedangkan angka kematian ibu di negara maju sebesar 1%. Penanganan yang baik

dari tenaga medis dalam penatalaksanaan selama dan setelah persalinan dapat

menyelamatkan ibu dan bayi, sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu dan

bayi. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya penurunan AKI hingga 44% antara

tahun 1990 sampai 2015.1

Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya

berkisar 3% dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta previa,

solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas sumbernya.2 Plasenta previa

merupakan salah satu penyebab serius perdarahan pada usia kehamilan >22

minggu. Perdarahan obstetrik yang terjadi pada usia kehamilan >22 minggu dan

yang terjadi setelah anak atau plasenta lahir pada umumnya adalah perdarahan

yang berat, jika tidak ditangani dengan cepat akan mendatangkan syok yang fatal.3

2
Di dunia, pada beberapa rumah sakit umum pemerintah dilaporkan insidensi

plasenta previa sebesar 1.7 % sampai 2.9 %, sedangkan di negara maju insidennya
3
kurang dari 1% . Di Amerika Serikat, plasenta previa dilaporkan terjadi pada

0,5% dari semua kehamilan. Angka kejadian sekitar 2,8 per 1000 kelahiran

hidup.4

Risiko plasenta previa meningkat 1,5 sampai 5 kali lipat dengan riwayat

kelahiran sesar. Sebuah meta-analisis menunjukkan bahwa tingkat plasenta previa

meningkat dengan meningkatnya jumlah kelahiran sesar, dengan tingkat 1%

setelah 1 kelahiran sesar, 2,8% setelah 3 kelahiran sesar, dan setinggi 3,7% setelah

5 kelahiran sesar.4 Plasenta previa lebih banyak terjadi pada kehamilan dengan

paritas tinggi dan pada usia di atas 30 tahun, dan lebih sering terjadi pada

kehamilan ganda daripada kehamilan tunggal.3 Kejadian plasenta previa setelah

usia 35 tahun dilaporkan 2%. Kenaikan lebih lanjut menjadi 5% terlihat setelah

usia 40 tahun. 4

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. HAP (Hemoragik Ante Partum)

1. Definisi

Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada trimester terakhir dari

kehamilan. Menurut Royal College of Obstetrician and Gynecologist, definisi

perdarahan antepartum adalah perdarahan yang berasal dari traktus genitalis yang

terjadi mulai usia kehamilan 24 minggu sampai sebelum kelahiran bayi.4,5

2. Etiologi

a. Kelainan plasenta: plasenta previa, solusio plasenta, ruptur sinus marginalis

b. Penyebab perdarahan lokal: polip servikal, ca servix, vaginitis, vasa previa

c. Ruptur uteri

B. PLACENTA PREVIA

1. Definisi

Secara harfiah plasenta previa adalah plasenta yang ada di depan jalan lahir

(pre = di depan; vias = jalan). Sehingga yang dimaksud dengan plasenta previa

adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada

segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan

lahir (ostium uteri internal) dan oleh karenanya bagian terendah sering kali

terkendala memasuki pintu atas panggul (PAP) atau menimbulkan gangguan janin

dalam rahim. 7 Plasenta previa merupakan salah satu penyebab utama perdarahan

4
vagina pada kehanilan tua dan dapat menjadi penyebab kematian yang serius baik

bagi janin dan ibu. 8

2. Epidemiologi

Insidensi plasenta previa meningkat sesuai dengan jumlah paritas dan usia

terutama diatas 30 tahun. Pada beberapa rumah sakit umum pemerintah

dilaporkan insidensi plasenta previa berkisar 1,7-2,9%. Di Negara maju

insidensinya lebih rendah yaitu kurang dari 1%, hal ini kemungkinan disebabkan

oleh berkurangnya wanita hamil paritas tinggi. Dengan meluasnya penggunaan

ultrasnografi dalam obstetrik yang menungkinkan deteksi lebih dini insidensi

plasenta previa bisa lebih tinggi. 10

Plasenta letak rendah terdapat pada 28% kehamilan <24 minggu, karena

segmen bawah rahim belum terbentuk. Sesuai dengan membesarnya segmen atas

uterus dan terbentuknya segmen bawah uterus maka plasenta akan berpindah

posisinya ke atas (migrasi plasenta). Sehingga USG harus diulang pada minggu ke

32-34 usia kehamilan. Selain itu plasenta previa lebih sering pada kehamilan

ganda daripada kehamilan tunggal. 7

3. Etiologi

Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim berlum

diketahui dengan pasti. Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa

desidua di daerah segmen bawah rahim tanpa latar belakang lain yang mungkin.

Teori lain mengemukakan sebagai salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi

desidua yang tidak memadai, mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrfi.

Paritas tinggi, usia lanjut, cacar rahim misalnya bekas bedah sesar, miomektomi,

5
dan sebagainya berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di

endometrium yang semuanya dapat dipandang sebagai faktor risiko bagi

terjadinya plasenta previa. Cacat bekas bedah sesar berberan menaikkan insidensi

dua sampai tiga kali. Pada perempuan perokok dijumpai insidensi plasenta previa

lebih tinggi 2 kali lipat. Hipoksemia akibat karbin monoksida hasil pembakaran

rokok meyebabkan plasenta menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi.

Plasenta yang terlalu besar sepereti pada kehamilan ganda dan eritroblastosis

fetalis bisa menyebabkan pertumbuhan palsenta melebar ke segmen bawah rahim

sehingga menuupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.

4. Klasifikasi

Klasifikasi plasenta previa tidak didasarkan pada keadaan anatomi

melainkan pada keadaan fisiologis yang dapat berubah-ubah, maka klasifikasi ini

dapat berubah setiap waktu misalnya plasenta previa total pada pembukaan 4 cm

mungkin akan berubah menjadi plasenta previa pada pembukaan 8 cm. Ada juga

penulis yang menganjurkan bahwa menegakkan diagnosa sewaktu yaitu saat

penderita diperiksa.10

Secara umum plasenta previa dapat dibagi menjadi empat menurut

Cunningham, yaitu: 7

1) Plasenta previa totalis. Apabila jaringan plasenta menutupi seluruh ostium

uteri internum.

2) Plasenta previa parsialis. Apabila jaringan plasenta menutupi sebagian

ostium uteri internum.

6
3) Plasenta previa marginalis. Yaitu plasenta yang tepinya terletak pada pinggir

ostium uteri internum.

4) Plasenta previa letak rendah. Apabila jaringan plasenta berada kira-kira 3-4

cm di atas ostium uteri internum, pada pemeriksaan dalam tidak teraba.

A
B

C D

Gambar (a) .Implantasi plasenta normal, (b) Plasenta previa letak rendah (c)

Plasenta previa parsialis (d) Plasenta previa totalis

7
Klasifikasi plasenta previa menurut De Snoo berdasarkan pembukaan 4-5

cm dibagi menjadi dua, yaitu: 10

1) Plasenta previa sentralis (totalis), bila pada pembukaan 4-5 cm teraba

plasenta menutupi seluruh ostium.

2) Plasenta previa lateralis, bila pada pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan

ditutupi oleh plasenta, dapat dibagi menjadi:

3) Plasenta previa lateralis posterior, bila sebagian menutupi ostium bagian

belakang.

4) Plasenta previa lateralis anterior, bila sebagian menutupi ostium bagian

depan

5) Plasenta previa lateralis marginalis, bila sebagian kecil atau hanya pinggir

ostium yang ditutupi plasenta

Sedangkan klasifikasi plasenta previa menurut Browne adalah sebagai

berikut: 10

1. Tingkat 1 (Lateral plasenta previa)

Pinggir bawah plasenta berinsersi sampai ke segmen bawah rahim, namun

tidak sampai ke pinggir pembukaan.

2. Tingkat 2 (Marginal plasenta previa)

Plasenta mencapai pinggir pembukaan

3. Tingkat 3 (Complete plasenta previa)

Plasenta menutupi ostium waktu tertutup, dan tidak menutupi bila

pembukaan hampir lengkap.

8
4. Tingkat 4 (Central plasenta previa)

Plasenta menutupi seluruhnya pada pembukaan hampir lengkap.

5. Patofisiologi

Plasenta merupakan bagian dari kehamilan yang penting, mempunyai

bentuk bundar dengan ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan

beratnya 500 gram. Plasenta merupakan organ yang sangat aktif dan memiliki

mekanisme khusus untuk menunjang pertumbuhan dan ketahanan hidup janin. Hal

ini termasuk pertukaran gas yang efisien, transport aktif zat-zat energi, toleransi

imunologis terhadap imunitas ibu pada alograft dan akuisisi janin. Melihat

pentingnya peranan dari plasenta maka bila terjadi kelainan pada plasenta akan

menyebabkan kelainan pada janin ataupun mengganggu proses persalinan. Salah

satu kelainan pada plasenta adalah kelainan implantasi atau disebut dengan

plasenta previa. 11

Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trimester ketiga dan

mungkin juga lebih awal oleh karena mulai terbentuknya segmen bawah rahim,

tapak plasenta akan mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tampak

plasenta terbentuk dari jaringan maternal yaitu bagian desidua basalis yang

bertumbuh menjadi bagian dari uri. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi

segmen bawah rahim, maka plasenta yang berimplantasi di situ sedikit banyak

akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada desidua pada tapak plasenta.

Demikian pula pada waktu serviks mendatar (effacement) dan membuka

(dilatation) ada bagian tapak plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi akan

terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari ruang intervillus

9
dari plasenta. Oleh karena fenomena pembentukan segmen bawah rahim itu

perdarahan pada plasenta previa betapa pun pasti kan terjadi (unavoidable

bleeding). Perdarahan di tempat itu relative dipermudah dan diperbanyak oleh

karena segmen bawah rahim dan serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat

karena elemen otot yang dimilikinya minimal, dengan akibat pembuluh darah

pada tempat itu tidak akan tertutup dengan sempurna. Perdarahan akan berhenti

karena terjadi pembekuan kecuali jika ada laserasi mengenai sinus yang besar dari

plasenta dimana perdarahan akan berlangsung lebih banyak dan lebih lama. Oleh

karena pembentukan segmen bawah rahim itu akan berlangsung progresif dan

bertahap, maka laserasi baru akan mengulang kejadian perdarahan. Demikian

perdarahan akan berulang tanpa sesuatu sebab lain (causeless). Darah yang keluar

berwarna merah segar tanpa rasa nyeri (pain-less). 7

Pada plasenta yang menutupi seluruh uteri internum perdarahan terjadi lebih

awal dalam kehamilan karena segmen bawah rahim terbentuk lebih dahulu pada

bagian terbawah yaitu ostium uteri internum. Sebaliknya pada plasenta previa

parsialis atau letak rendah perdarahan baru akan terjadi pada waktu mendekati

atau mulai persalinan. Perdarahan pertama biasanya sedikit tetapi cenderung lebih

banyak pada perdarahan berikutnya. Perdarahan yang pertama sudah bisa terjadi

pada kehamilan dibawah 30 minggu, tetapi lebih separuh kejadiannya pada

kehamilan 34 minggu ke atas. Berhubung tempat perdarahan terletak pada dekat

dengan ostium uteri internum, maka perdarahan lebih mudah mengalir keluar

rahim dan tidak membentuk hematom retroplasenta yang mampu merusak

10
jaringan lebih luas dan melepaskan tromboplastin ke dalam sirkulasi maternal.

Dengan demikian sangat jarang terjadi koagulopati pada plasenta previa. 7

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah rahim yang

tipis mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari trofoblas, akibatnya plasenta

melekat lebih kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan

inkreta bahkan plasenta perkreta yang pertumbuhan vilinya bisa sampai

menembus buli-buli dan ke rectum bersama plasenta previa. Plasenta akreta dan

inkreta lebih sering terjadi pada uterus yang sebelumnya pernah bedah sesar.

Segmen bawah rahim dan serviks yang rapuh mudah robek oleh sebab kurangnya

elemen otot yang terdapat disana. Kedua kondisi ini berpotensi meningkatkan

kejadian perdarahan pasca persalinan pada plasenta previa, misalnya dalam kala

tiga karena plasenta sukar melepas dengan sempurna (retensio plasenta) atau

setelah uri lepas karena segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi dengan

baik. 7

6. Manifestasi Klinis

Gambaran klinik plasenta previa adalah sebagai berikut: 11

1) Perdarahan tanpa nyeri

Pasien mungkin berdarah sewaktu tidur dan sama sekali tidak terbangun.

Baru waktu ia bangun, ia merasa bahwa kainnya basah. Biasanya perdarahan

karena plasenta previa baru timbul setelah bulan ketujuh dan perdarahan sebelum

bulan ketujuh memberi gambaran yang tidak berbeda dari abortus. 12

Perdarahan pada plasenta previa disebabkan pergerakan antara plasenta dan

dinding rahim . Setelah bulan ke -4 terjadi regangan pada dinding rahim karena isi

11
rahim lebih cep at tumbuhnya dari rahim sendiri. Akibatnya ismus uteri tertarik

menjadi bagian dinding korpus uteri yang disebut segmen bawah rahim. 12

Pada plasenta previa, perdarahan tidak mungkin terjadi tanpa pergeseran

antara plasenta dan dinding rahim. Saat perdarahan bergantung pada kekuatan

insersi plasenta dan kekuatan ta rikan pada istmus uteri. Dalam kehamilan tidak

perlu ada his untuk menimbulkan perdarahan. Sementara dalam persalinan, his

pembukaan menyebabkan perdarahan karena bagian plasenta di atas atau dekat

ostium akan terlepas dari dasarnya. Perdarahan pada plasenta previa terjadi karena

terlepasnya plasenta d ari dasarnya. 12

Pada plasenta previa, perdarahan bersifat berulang -ulang karena setelah

terjadi pergeseran antara plasenta dan dinding rahim, regangan dinding rahim dan

tarikan pada serviks berkurang. Namun, dengan majunya kehamilan regangan


12
bertambah lagi dan menimbulkan perdarahan baru. Darah yang keluar

terutama berasal dari ibu , yakni dari ruangan intervilosa. Akan tetapi dapat juga

berasal dari anak jika jonjot terputus atau pembuluh darah plasenta yang lebih

besar terbuka. 12

2) Kelainan letak janin

Bagian terendah anak masih tinggi karena plasenta terletak pada kutub

bawah rahim sehingga bagian terendah tidak dapat mendekati pintu atas panggul.

Pada plasenta previa, ukuran panjang rahim berkurang maka pada plasenta previa

lebih sering disertai kelainan letak. 12

3) Perdarahan pasca persalinan

12
Pada plasenta previa mungkin sekali terjadi perdarahan pascapersalinan

karena kadang-kadang plasenta lebih erat melekat pada dinding rahim (plasenta

akreta), daerah perlekatan luas dan kontraksi segmen bawah rahim kurang

sehingga mekanisme penutupan pembuluh darah pada insersi plasenta tidak

baik.12

4) Infeksi nifas

Selain itu, kemungkinan infeksi nifas besar karena luka plasenta lebih dekat

pada ostium dan merupakan port de entree yang mudah tercapai. Lagi pula, pasien

biasanya anemia karena perdarahan sehingga daya tahannya lemah. 12

7. Diagnosis

Secara klinis, diagnosis plasenta previa sulit untuk ditegakkan. Kecuali

dengan pemeriksaan dalam, dengan memasukkan jari melalui serviks dan plasenta

dipalpasi. Pemeriksaan ini tidak diperbolehkan, kecuali pasien ada didalam ruang

operasi dengan persiapan lengkap untuk section secaria atau disebut dengan

double set-up examination, dimana dilakukan observasi plasenta dengan

memasukkan jari melalui serviks untuk memeriksa dan menentukan derajat atas

klasifikasi plasenta serta jika sudah ditetapkan plasenta previa total maka

dilakukan section sesarea7.

Namun, pemeriksaan ini sudah ditinggalkan karena sentuhan jari lembut saja

bisa menimbulkan perdarahan yang hebat dan di sisi lain pemeriksaan

ultrasonografi lebih menguntungkan karena bisa dideteksi jauh sebelum inpartu

atau lebih tepatnya saat antenatal dan tidak menimbulkan perdarahan.13

13
Diagnosis pada penderita plasenta previa dapat dilakukan berdasarkan

gambaran klinik dengan cara:9,14

1 Anamnesis

Gejala pertama, perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu. Sifat

perdarahan yang berupa tanpa sebab, tanpa disertai rasa nyeri, sering berulang.

Sedikit banyaknya perdarahan; tergantung besar atau kecilnya robekan pembuluh

darah dan plasenta. 15

2 Pemeriksaan Fisik

Inspeksi

- Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau sedikit berwarna merah

segar.

- Jika perdarahan lebih banyak; ibu tampak anemia.

Palpasi abdomen

- Janin sering terlihat belum cukup bulan sehingga fundus uteri masih

rendah. Sering dijumpai kesalahan letak

- Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya kepala

masih goyang atau terapung

- Bila pemeriksa sudah cukup pengalaman dapat dirasakan suatu bantalan

pada segmen bawah rahim, terutama pada ibu yang kurus. 15

Inspekulo

Dengan pemeriksaan inspekulo dengan hati-hati dapat diketahui asal

perdarahan, apakah dari dalam uterus, vagina, varises yang pecah atau lain -lain.

14
Pemeriksaan Dalam (VT)

Tidak dilakukan pemeriksaan VT kecuali pemeriksaan berada di meja

operasi dengan segala persiapan seksio sesarea segera karena pemeriksaan yang

paling hati-hati pun dapat menyebabkan perdarahan masif. 14

3 Pemeriksaan Penunjang

Plasenta previa hampir selalu dapat didiagnosa dengan menggunakan USG

abdomen yaitu sekitar 95% pemeriksaan. Kemungkinan plasenta previa tidak

dapat disingkirkan hingga pemeriksaan sonografi telah jelas menunjukkan

ketiadaan plasenta previa. Pemeriksaan ultrasonografi ada tiga macam:

ultrasonografi (USG) transabdominal, USG transvaginal dan USG transperineal.


16
Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat digunakan untuk

mendiagnosis plasenta previa namun, kalah praktis dengan USG terutama bila

dilakukan dalam keadaan yang mendesak. 13

8. Diagnosis Banding

Tabel Diagnosis banding17

Gejala dan tanda Faktor predisposisi Penyulit lain Diagnosis

* Perdarahan tanpa nyeri, * multipara * Syok Plasenta

usia gestasi >22 * mioma uteri * perdarahan Previa

minggu * usia lanjut setelah koitus

* Darah segar atau *kuretase *Tidak ada

Kehitaman dengan berulang kontraksi uterus

bekuan * bekas SC *Bagian terendah

* Perdarahan dapat terjadi * merokok janin tidak masuk

15
setelah miksi atau PAP

defekasi, aktivitas fisik, *Bisa terjadi gawat

kontraksi braxton hicks janin

atau koitus

* Perdarahan dengan * Hipertensi * Syok yang tidak Solusio

nyeri intermitten atau * versi luar sesuai dengan plasenta

menetap *Trauma jumlah darah

* Warna darah kehitaman abdomen (tersembunyi)

dan cair, tapi mungkin * Polihidramnion * anemia berat

ada bekuan jika solusio * gemelli * Melemah atau

relatif baru * defisiensi gizi hilangnya denyut

* Jika ostium terbuka, jantung janin

terjadi perdarahan *gawat janin atau

berwarna merah segar. hilangnya denyut

jantung janin

* Uterus tegang dan

Nyeri

*Perdarahan * Riwayat seksio *Syok atau Ruptur uteri

intraabdominal dan/atau sesarea takikardia

vaginal *Partus lama *Adanya cairan

* Nyeri hebat sebelum atau kasep bebas

perdarahan dan syok, yg *Disproporsi intraabdominal

kemudian hilang setelah Kepala *Hilangnya gerak

16
terjadi regangan hebat /fetopelvik atau denyut jantung

pada perut bawah *Kelainan letak/ janin

(kondisi ini tidak khas) presentasi *Bentuk uterus

*Persalinan abnormal atau

traumatik konturnya tidak

jelas.

* Nyeri

raba/tekan dinding

perut

*bagian janin

mudah dipalpasi

*Perdarahan berwarna * solusio plasenta * perdarahan gusi Gangguan

merah segar. * janin mati * gambaran memar pembekuan

* Uji pembekuan darah dalam rahim bawah kulit darah

tidak menunjukkan * eklamsia * perdarahan dari

adanya bekuan darah * emboli air tempat suntikan

setelah 7 menit ketuban jarum infus

* Rendahnya faktor

pembekuan darah,

fibrinogen, trombosit,

fragmentasi sel darah

17
9. Penatalaksanaan

1. Umum

Tirah baring dan lakukan perbaikan kekurangan cairan/darah dengan infus

cairan intravena (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat). Lakukan penilaian jumlah

perdarahan. Jika pedarahan banyak dan berlangsung, persiapkan seksio sesarea

tanpa memperhitungkan usia kehamilan. Jika perdarahan berhenti, dan janin

masih premature, pertimbangkan terapi konservatif. 18

2. Khusus

a. Konservatif

Yakni agar janin tidak terlahir premature dan upaya diagnosis dilakukan

secara non-invasif.

Syarat terapi ekspektatif:

- Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti

dengan atau tanpa pengobatan tokolitik

- Belum ada tanda inpartu

- Keadaan umum ibu cukup baik (bila kadar Hb dalam batas normal)

- Janin masih hidup dan kondisi janin baik.

Penatalaksanaan konservatif terdiri dari

- Rawat inap, tirah baring dan beri antibiotika profilaksis

- Lakukan pemeriksaan USG untuk memastikan letak plasenta

- Berikan tokolitik jika ada kontraksi seperti MgSO4 4g IV dosis awal

dilanjutkan 4 g setiap 6 jam, atau Nifedipine 3x20 mg/hari

18
- Pemberian tokolitik dikombinasikan dengan betamethason 12 mg IV dosis

tunggal untuk pematangan paru janin. Dapat pula digunakan deksametason

16 mg IM 2x selang 24 jam. Pemberian kortikosteroid jika usia kehamilan

<34 minggu.

- Observasi di kamar bersalin selama 24 jam, jika tidak ada perdarahan

pindahkan ke ruangan selama 2 hari.

- Observasi Hb setiap hari dan tanda vital, DJJ, serta perdarahan setiap 6 jam.

- Perbaiki anemia dengan sulfas ferosus atau ferosus fumarat per oral 60 mg

selama 1 bulan.

- Pastikan tersedianya sarana transfuse

- Jika perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama,

ibu dapat dirawat jalan dengan pasien segera kembali ke rumah sakit jika

terjadi perdarahan. 14,18

b. Aktif

Rencanakan terminasi kehamilan jika:

- Usia kehamilan cukup bulan (≥37 mingggu)

- Janin mati atau menderita anomaly atau keadaan yang mengurangi

kelangsungan hidupnya (misalnya anensefali)

- Pada perdarahan aktif dan banyak segera dilakukan terapi aktif (>500cc)

- Adanya tanda-tanda persalinan

Penatalaksanaan aktif terdiri dari

- Ada 2 pilihan cara persalinan, yaitu persalinan pervaginam dan seksio

sesarea. Persalinan pervaginam bertujuan agar bagian terbawah janin

19
menekan bagian plasenta yang berdarah selama persalinan berlangsung,

sehingga perdarahan berhenti. Seksio sesarea bertujuan mengangkat sumber

perdarahan, memberikan kesempatan pada uterus untuk berkontraksi

menghentikan perdarahannya, dan menghindari perlukaan servik dan

segmen bawah uterus yang rapuh apabila dilakukan persalinan

pervaginam.15

- Di rumah sakit yang lengkap, seksio sesarea merupakan cara persalinan

terpilih Jika terdapat plasenta letak rendah, perdarahan sangat sedikit, dan

presentasi kepala, maka dapat dilakukan pemecahan selaput ketuban dan

persalinan pervaginam masih dimungkinkan. Jika tidak, lahirkan dengan

seksio sesarea. 19

- Jika pada waktu masuk terjadi perdarahan yang banyak perlu dilakukan

segera terminasi kehamilan bila keadaan janin sudah viabel. Pasien dengan

semua klasifikasi plasenta previa dalam trimester ketiga yang dideteksi

dengan ultrasonografi transvaginal belum ada pembukaan pada serviks,

persalinannya dilakukan melalui seksio sesarea tertutama pada plasenta

previa totalis. Seksio sesarea juga dilakukan apabila ada perdarahan banyak

yang mengkhawatirkan. 9

- Kebanyakan seksio sesarea pada plasenta previa dapat dilaksanakan melalui

insisi melintang pada segmen bawah rahim bagian anterior bila plasentanya

terletak di belakang dan segmen bawah rahim telah terbentuk dengan baik.

Insisi yang demikian juga dapat dilakukan oleh dokter ahli pada plasenta

letak anterior dengan melakukan insisi yang cepat dan dengan cepat pula

20
mengeluarkan janin dan menjepit tali pusat sebelum janin sempat

mengalami perdarahan (fetal exsanguinations) akibat plasenta terpotong.

Seksio sesarea klasik hanya dilakukan jika janin dalam letak lintang atau
9
terdapat varises yang luas pada segmen bawah rahim. Pelahiran melalui

Sectio Caesarea dilakukan pada perempuan yang mengalami plasenta

previa, dikarenakan pada bagian segmen bawah uterus tidak dapat

berkontraksi secara maksimal, sehingga dikhawatikan akan terjadi

perdarahan hebat. 16

10. Komplikasi

Ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada ibu hamil yang menderita

plasenta previa, yaitu: 9

Komplikasi pada ibu

- Dapat terjadi anemia bahkan syok

- Dapat terjadi robekan pada serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh

- Solusio plasenta, kelainan letak janin, perdarahan paska persalinan

Komplikasi pada janin

- Kelainan letak janin

- Prematuritas dengan morbiditas dan mortalitas tinggi

- Asfiksia intra uterin sampai dengan kematian

11. Prognosis

Prognosis ibu pada plasenta previa dewasa ini lebih baik jika dibandingkan

dengan masa lalu. Hal ini dikarenakan diagnosa yang lebih dini, ketersediaan

transfusi darah, dan infus cairan yang telah ada hampir semua rumah sakit.

21
Demikian juga dengan kesakitan dan kematian anak mengalami penurunan,

namun masih belum terlepas dari komplikasi kelahiran prematur baik yang lahir

spontan maupun karena intervensi seksio cesarea. Dengan persalinan seksio

sesarea, fasilitas transfusi darah, dan metode anestesi yang benar kematian ibu

dapat diturunkan sampai kurang dari 1%. Karenanya kelahiran prematur belum

sepenuhnya bisa dihindari sekalipun tindakan konservatif diberlakukan. 7

22
BAB III

LAPORAN KASUS

A. Identitas

Pasien

Nama : Ny. S

Umur : 32 th

Agama : Islam

Suku : Banjar

Pendidikan Terakhir : SMA

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

MRS : 11 Februari 2019, pukul 23.55 WITA

Alamat : Jl. Purnawirawan, Palam, Cempaka, Banjarbaru

B. Anamnesis

Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis tanggal 11 Februari 2019 (Pukul

23.55 WITA)

1. Keluhan utama : Keluar darah dijalan lahir

2. Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke PONEK RSUD Idaman Banjarbaru dengan keluhan

keluar darah dijalan lahir sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Perdarahan

sudah terjadi sejak 2 hari yang lalu berupa darah berwarna merah segar,

namun sejak 5 jam sebelum masuk rumah sakit darah keluar beserta gumpalan

darah. Pasien mengatakan jumlah darah yang keluar hingga satu-dua softex

23
penuh. Dari hasil pemeriksaan USG saat kontrol kehamilan oleh dokter

spesialis kandungan di RS Syifa Medika 2 minggu yang lalu didapatkan hasil

bahwa terdapat kelainan berupa letak plasenta abnormal yaitu plasenta previa,

Pasien juga mengatakan perut kencang-kencang sudah dirasakan terkadang.

Pasien menyangkal adanya rasa nyeri pada perutnya. Tidak ada keluhan

pusing. Tidak ada riwayat trauma. Keluhan lain seperti pusing, demam, mual,

muntah, kejang hingga penurunan kesadaran juga tidak ada. Pasien dirawat di

ruang VK RSUD Idaman Banjarbaru, dan direncnakan untuk dilakukan SC

cito.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

HT (-), DM (-), Asma (-), riwayat perdarahan sulit berhenti (-),

riwayat kelainan darah (-),

4. Riwayat Penyakit Keluarga

Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang lain yang

menderita tekanan darah tinggi, kencing manis, asma.

5. Riwayat Haid

Menarche : 13 tahun

Lama : 7 hari

Siklus : 28 hari

HPHT : 20 Juni 2018

TP : 27 Maret 2019

6. Riwayat Perkawinan: 1 kali, selama 11 tahun

24
7. Riwayat Kontrasepsi: Pil KB (+) berhenti sejak 8 bulan yang lalu dan

konsumsi tidak teratur, IUD (-)

8. Riwayat Obstetri:

1. 9 thn/2010/Aterm/BPM/SptBK/3200/Pr/H

2. 3 thn/2016/Aterm/BPM/SptBK/3250/Pr/H

3. Hamil ini

C. Pemeriksaan

Pemeriksaan Fisik Umum tanggal 11 Februari 2019, pukul 23.55 WITA

(saat datang)

1. Keadaan umum : Tampak sakit sedang

2. Kesadaran : Compos mentis E4V5M6

3. Tanda Vital

Tensi : 100/80 mmHg

Nadi : 89 x/menit

Pernapasan : 22 x/menit

Suhu : 36,5oC

4. Kepala dan leher

Kepala : Bentuk normal

Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), palpebra edem

(-), pupil isokor, refleks cahaya +/+.

Telinga : Bentuk normal, keluar cairan dari telinga (-),gangguan

pendengaran (-).

25
Hidung : Bentuk normal, defiasi septum (-), sekret (-), epistaksis (-),

pernapasan cuping hidung (-).

Mulut : Bibir dan mukosa normal, perdarahan gusi (-), trismus (-),

pembesaran atau radang pada tonsil (-), kelainan lidah (-),

gigi palsu (-).

Leher : Kaku kuduk (-), pembesaran kelenjar getah bening dan

tiroid (-), pembesaran JVP (-).

5. Thoraks

Paru

Inspeksi : Bentuk normal, gerakan simetris dan ICS tidak melebar.

Palpasi : Fremitus +/+ simetris, nyeri tekan (-).

Perkusi : Sonor +/+, nyeri ketuk (-).

Auskultasi : Vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-).

Jantung

Inspeksi : Iktus cordis (-).

Palpasi : Teraba thrill (-).

Perkusi : Batas jantung normal, ICS V LMK kiri dan ICS II LPS

kanan.

Auskultasi : S1 dan S2 tunggal, bising jantung (-).

6. Abdomen : Tampak dilatasi, lihat Status Obstetri.

7. Ekstremitas atas dan bawah

Atas : Akral dingin (-/-), edema (-/-).

Bawah : Akral dingin (-/-), edema (-/-).

26
8. Status Obstetri

1. Palpasi

Leopold I : Tinggi fundus uteri 28 cm

Leopold II : Punggung Kanan

Leopold III : Presentasi kepala

Leopold IV : belum masuk Pintu Atas Panggul (PAP)

TBJ : 2480 gram

His :-

Auskultasi

DJJ 1 : 155x/ menit

2. Pemeriksaan dalam

VT : Tidak dilakukan

Inspekulo : Tampak selaput placenta, selaput ketuban (+),

V/V : Flx (+) aktif mengalir

3. Pemeriksaan panggul :

Tidak dilakukan

Pemeriksaan Penunjang (Tanggal 12 Februari 2019) :

1. DR, Elektrolit, GDS, HBsAg, PT, APTT

Darah Lengkap
Hb 10.4
WBC 13.600
PLT 265.000

27
HCT 31.3
HBsAg NR
Anti HIV NR

GDS 88

SGOT 39

SGPT 18

Ur 7

Cr 0.74

2. USG ABDOMEN

28
A) G3P2A0 H 33-34 mg + JTHIU + Letkep + HAP ec Placenta Previa

P) Penatalaksanaan

 IVFD RL

 Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam

 Observasi 15 menit perdarahan

 02 2 lpm

 Cek DL

 Pasang kateter menetap

 R/ Terminasi kehamilan SC

29
Laporan Post SC Tanggal 12 Februari 2019, Pukul 08.30 WITA

30
A) P3A0 Post Sectio Caesarea Ai Placenta Previa

P) Penatalaksanaan

Tranfusi PRC 1 kolf

Inj. Cefotaxim 1gr/12jam

Inj. Ranitidin/12jam

Inj. Metoclopramid/8jam

Inj. As. Tranexamat/8jam

Inj. Ketorolac/8jam

Inf. Metronidazole/8jam

31
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada makalah ini dibahas sebuah kasus Ny.S berusia 32 tahun dengan

diagnosis G3P2A0 H 33-34 mg + JTHIU + Letkep + HAP ec Placenta Previa.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan

penunjang.

Anamnesis
Teori Fakta

- Dalam anamnesis dicari keluhan - Ibu usia 32 tahun, G3P2A0


utama serta gejala klinis plasenta kehamilan 33-34 minggu.
previa, faktor risiko serta - Keluhan utama pasien adalah
kemungkinan komplikasi yang keluhan keluar darah dari
terjadi. Ciri yang menonjol pada jalan lahir sejak 2 hari
plasenta previa adalah perdarahan sebelum masuk rumah sakit.
uterus keluar dari vagina tanpa rasa - Nyeri perut (-)
nyeri. Perdarahan biasanya baru
terjadi pada trimester kedua ke atas.

Pemeriksaan Fisik
Teori Fakta

- Tanda-tanda vital dapat ditemukan - KU : Tampak Sakit Sedang


tanda-tanda syok hemoragik. - Kesadaran: Kompos mentis
- Pemeriksaan kepala dan leher dapat - TD: 100/80 mmHg, nadi: 89
ditemukan tanda-tanda anemia. kali/menit, RR: 22 kali/ menit,
- Pemeriksaan dalam tidak boleh suhu: 36,5oC
dilakukan pada perdarahan - Status general: konjungtiva
antepartum. anemis (-/-), sianosis (-), akral

32
hangat, CRT<2 detik.
- Status Obstetri:
Inspeksi: Perut membesar sesuai
kehamilan.
Palpasi:
Leopold I : TFU 28cm
Leopold II: Punggung kanan
Leopold III: Presentasi kepala
Leopold IV: Belum Masuk
PAP
TBJ : 2480 gram
HIS :-
Auskultasi : DJJ 155 x/menit
VT tidak dilakukan
Inspekulo: Tampak selaput
plasenta, selaput ketuban (+),
v/v flx (+) aktif mengalir.

Pemeriksaan Penunjang
Teori Fakta

- Pemeriksaan Laboratorium - Pemeriksaan Laboratorium :


Pemeriksaan laboratorium bermanfaat Leukosit : 13.600 /mm3
Hemoglobin : 10,4 gr/dl
untuk mengevaluasi efek dari
Hematokrit : 31,3 %
perdarahan antepartum misalnya Trombosit : 265.000/mm3
GDS : 88 mg/dl
seperti anemia.
Ureum : 7 mg/dL
- Pemeriksaan Radiologi
Creatinin : 0,74 mg/dL
USG bermanfaat dalam menentukan
- Pemeriksaan USG dilakukan
diagnosis klinis dan letak dari plasenta
oleh dokter spesialis kandungan
previa.
dengan hasil berupa letak

33
plasenta abnormal yaitu plasenta
previa

Penatalaksanaan
Teori Fakta

- Jika terdapat gejala hypovolemia seperti - Pasien dianjuran untuk


hipotensi, takikardi, kemungkinan tirah baring
perdarahan yang dialami cukup berat, - Observasi keadaan
sehingga transfuse darah yang banyak perlu umum dan tanda-tanda
segera diberikan. vital ibu
- Konservatif - Observasi perdarahan
a. Kehamilan preterm
- Observasi DJJ
b. Perdarahan sedikit kemudian
- Ivfd rl
berhenti
- Inj Cefotaxime 1 1
c. Janin masih hidup
gr/12jam
d. Belum inpartu
- Aktif Pada pasien ini dilakukan
Pervaginam terapi aktif berupa SC Cito
Perdarahan pervaginam aktif
Perabdominal dan banyak
- Plasenta previa

34
BAB V

PENUTUP

Kesimpulan

Telah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang,

diagnosis, hingga penatalaksanaan pada pasien dengan identitas Ny. S berusia 32

tahun didiagnosis G3P2A0 H 33-34 mg + JTHIU + Letkep + HAP ec Placenta

Previa. Pada pasien dilakukan terminasi kehamilan secara seksio sesarea. Secara

umum, alur penegakkan diagnosis dan penatalaksanaan sesuai dengan teori.

Saran

Sebaiknya dokter umum memahami tentang gejala-gejala HAP dalam hal

ini adalah HAP yang disebabkan plasenta previa. Penanganan awal harus segera

dilakukan secara tepat dan jika bertugas di fasilitas kesehatan primer sesegera

mungkin merujuk ke fasilitas kesehatan yang memiliki fasilitas yang dapat

menangani kasus ini.

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Kim L, Caughey A, Esscobar G. Racial and ethnic differences in the


prevalence of placenta previa. Am J Obstet Gynecol. 2014.

2. Obstetrics hemorrhage. In: Cunningham FG, Levono KJ, Bloom SL,


Hauth JC, Gilstrap III LC, Wenstrom KD, editors. Williams Obstetrics.
22th ed. New York: The McGraw-Hill Companies; 1997. p. 809-54.

3. Dashe JS, McIntire DD, Ramus RM, Santos-Ramos R, Twickler DM.


Persistence of placenta previa according to gestational age at ultrasound
detection. Obstet Gynecol. 2012.

4. Fakultas Kedokteran UNPAD. Obstetri patologi. Ilmu Kesehatan Produksi.


Edisi 2. Jakarta : EGC. 2004.

5. Thomson AJ, Ramsey JE. Antepartum Haemorrhage. Royal College of


Obstetricians and Gynecologists, RCOG Green-Top Guidelines no.63,
2011.

6. Sarwono Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo. 2008.

7. Ko P. Placenta Previa in Emergency medicine. Available at:


http://emedicine.medscape.com/article/796182-followup#a2650. Accessed
on Feb 12, 2019.

8. Beckmann CRB, Ling FW, Barzansky BM, et al. Obstetrics and


Gynecology. Sixth Edition. Baltimore: Lippincott William & Wilkins,
2010.

9. Berghella V. Obstetrics Evidence Based Guidelines. UK: Informa. 2007.

10. Placenta Previa. Available at: http://www.patient.co.uk/doctor/placenta-


praevia. Accessed on Feb 12, 2019.

11. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, dkk. Obstetri Williams. Ed 23.
New York: McGrawHill. 2010.755-772.

12. Martaadisoebrata, D, et al. Bunga Rampai Obstetri dan Ginekologi Sosial.


Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

13. Saifuddin, Rachimhadhi, & Wiknjosastro. Ilmu Kebidanan. Indonesia:


Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2010.

36
14. Bunga, S. R., Ibrahim, S., Montessori, I., Mansyur, A., Rachmiputeri, A.,
& Novia Ngo, F. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kebidanan dan
Penyakit Kandungan. Samarinda: SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit
Kandungan. 2006.

15. Wiknjosastro,Hanifa. Ilmu Kebidanan. Edisi ketiga. Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawiroharjo. Jakarta. 2005.

16. Cunningham, Leveno, Bloom, Hauth, Rouse, & Spong. Obstetri Williams
(Indonesia ed., Vol. II). (Yoavita, N. Salim, R. Setia, Nalurita, E.
Muliawan, Rifky, A. Adityaputri, Penyunt., B. U. Pendit, A. Dimanti,
Chairunnisa, D. A. Mahanani, N. Yesdelita, L. Dwijayanthi, & W. K.
Nirmala, Penerj.) Texas: EGC. 2014.

17. Hanafiah, T.M. Plasenta Previa, online, (http://www.


Library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-tmhanafiah2.pdf, diakses tanggal
12 Feb 2019).

18. Moegni. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan


Dasar dan Rujukan. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
2013.

19. DeCherney, AH ; Nathan, L. Current Obstetric % Gynecologic Diagnosis


& Treatment. Ninth Edition. The McGraw-Hill Companies, Inc. 2013

20. Hanafi, H. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar


Harapan. 2004.

37