Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PERSENTASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. N.S
Umur : 10 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal Lahir : 18 Agustus 2009
Agama : Islam
Alamat : Dusun Kaliasen II Natar
Tanggal masuk : 16 Mei 2019
No. RM : 035298

II. ANAMNESIS
Anamnesis diperoleh melalui aloanamnesis terhadap orang tua pasien.
A. Keluhan Utama
Demam.
B. Riwayat Perjalanan penyakit
Pasien datang dengan keluhan Demam sejak 3 hari yang
lalu, Demam dirasakan naik turun, disertai pusing dan rasa mual
tetapi tidak disertai muntah,napsu makan juga menurun, batuk (-),
pilek (-), BAB cair (-), mimisan (-).
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada riwayat penyakit terdahulu
D. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit keluarga (-)

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum
Keadaan umum : sedang
Derajat kesadaran : kompos mentis
Status gizi : kesan gizi baik

1
Tanda vital
BB : 19 kg
Nadi : 80 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 38,6º C

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan laboratorium tgl 16 Mei 2019
Darah lengkap
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan
Hemoglobin 13,7 16 – 12 gr%
Leukosit 9.000 4.500 – 10.700 ul
Basofil 0 0 – 1%
Eosinofil 0 1 – 3%
Batang 2 2 – 6%
Segmen 84 50 – 70%
Limfosit 13 20 – 40%
Monosit 1 2 – 8%
Eritrosit 4,9 6,2 – 4,2 jt ul
Hematoktit 41 54 – 38 %
Trombosit 291.000 159 – 400 rb ul
MCV 84 80 – 96 fl
MCH 21 27 – 31 pg
MCHC 33 32 – 36 g/dl
Widal Test
Pemeriksaan Hasil Titer
Shalmonella typhi H 1/320
Shalmonella typhi O 1/160
Shalmonella paratyphi A-O 1/320
Shalmonella paratyphi B-O 1/320

2
V. DIAGNOSIS
Typoid Fever

VI. TATALAKSANA
- IUFD 24 jam /1500cc (RL 500cc + KAN3B 1000cc)
- Inj. Ceftriaxone 500 mg/12 jam (ST)
- PB = - vit B6 8 mg
- ambroxol 11,5 mg
- cetirizin 4 mg pulu XV 3x1
- triamcinolon 2 mg
- valisanbe 2,5 mg

- Itramol (PCT) syr 4x10 ml


- multivitamin syr 2x 5 ml

VII. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia
Ad sanam : dubia
Ad fungsionam : dubia

VIII. FOLLOW UP
Tanggal 17 Mei 2019
S : Demam (+) , muntah (-), mual (-), batuk (-),
O :
keadaan umum : lemah
kesadaran : compos mentis
nadi : 80x/menit
napas : 28x/menit
suhu : 38,40C
- akral teraba panas
- cek FL pagi (+)
- cek widal
- cek salmonella IgG/ IgM (-)

3
A : masalah teratasi segera
P : intensi dilanjutkan

Tanggal 18 Mei 2019


S : Demam (+) naik turun,
O :
keadaan umum : sedang
kesadaran : compos mentis
nadi : 92x/menit
napas : 20x/menit
suhu : 38,20C
akral teraba panas

A : masalah teratasi sebagian

P : - lanjutkan intervensi

Tanggal 19 Mei 2019


S : demam (-)
O :
keadaan umum : sedang
kesadaran : compos mentis
nadi : 88x/menit
napas : 20x/menit
suhu : 36,80C

A : masalah sudah teratasi

P : lanjutkan intervensi

4
IX. RINGKASAN KASUS
An. NS, 10 tahun datang ke RS pukul 08.00 WIB ( 16 Mei 2019 )
dengan keluhan demam sejak 3 hari yang lalu, Demam dirasakan
naik turun, disertai pusing dan rasa mual tetapi tidak disertai
muntah,napsu makan juga menurun, batuk (-), pilek (-), BAB cair
(-), mimisan (-).

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat


pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu,
gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran.1

Demam tifoid adalah penyakit infeksi sistemik akut usus halus yang
disebabkan infeksi Salmonella typhi. Organisme ini masuk melalui makanan
dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh feses atau urin dari orang yang
terinfeksi salmonella. Tifoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever,
typhus dan para typhus abdominalis.2

B. Etiologi

Penyebab demam tifoid dan paratifoid adalah :


a. S. thypi , S. parathypi B dan S. parathypi C
b. Bakteri – bakteri Salmonella ( gram negatif bacillus dari famili
enterobacteriaceae)

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman salmonella thyposa dan


mempunyai masa inkubasi selama 7 – 14 hari.Salmonella thypi hanya dapat
menyebabkan gejala demam thypoid pada manusia.Salmonella thypi termasuk
bakteri family enterobacteriaceae dari genus salmonella. Kuman berspora,
motil , berflagel, berkapsul, tumbuh dengan baik pada suhu optimal 37O C ,
bersifat fakultatif anaerob, dan hidup subur pada media yang mengandung
empedu. Untuk menimbulkan infeksi diperlukan S. thypi sebanyak 105 - 109
yang tertelan melalui makan dan minuman.4

6
C. Epidemiologi
Saat ini demam tifoid masih berstatus endemik di banyak wilayah di
Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, di mana sanitasi air dan pengolahan
limbah kotoran tidak memadai. Sementara, kasus tifoid yang ditemukan di
negara maju saat ini biasanya akibat terinfeksi saat melakukan perjalanan ke
negara-negara dengan endemik tifoid. Pada area-area endemik, kejadian
demam tifoid paling tinggi terjadi pada anak-anak usia 5 sampai 19 tahun,
pada beberapa kondisi tifoid secara signifikan menyebabkan kesakitan pada
usia antara 1 hingga 5 tahun. Pada anak usia lebih muda dari setahun,
penyakit ini biasanya lebih parah dan berhubungan dengan komplikasi yang
umumnya terjadi.3 Diseluruh dunia diperkirakan antara 16–16,6 juta kasus
baru demam tifoid ditemukan dan 600.000 diantaranya meninggal dunia.3,5

Di Asia diperkirakan sebanyak 13 juta kasus setiap tahunnya. Suatu


laporan di Indonesia diperoleh sekitar 310 – 800 per 100.000 sehingga setiap
tahun didapatkan antara 620.000 – 1.600.000 kasus. Demam tifoid di
Indonesia masih merupakan penyakit endemik, mulai dari usia balita, anak-
anak dan dewasa. Demam ini terutama muncul di musim kemarau dan konon
anak perempuan lebih sering terserang. Peningkatan kasus saat ini terjadi
pada usia dibawah 5 tahun.2.3

D. Patofisiologi
Infeksi terjadi pada saluran pencernaan. Basil diserap di usus halus.
Melalui pembuluh limfa halus masuk ke dalam peredaran darah sampai di
organ – organ terutama hati dan limpa. Basil yang tidak dihancurkan
berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga organ – organ tersebut akan
disertai nyeri pada perabaan.6

Kemudian basil masuk kembali ke dalam darah ( bekterimia ) dan


menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus,
menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak Peyeri.
Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus. Gejala
demam disebabkan oleh kelainan usus.

7
S. Typhi/ S. Paratyphi

Saluran pencernaan dan menempel di Usus (sel M di plak Peyeri)

Penetrasi ke mukosa dan di fagosit

Multiplikasi di dalam sel mononuklear

limfonodi mesenterica  Duktus thorasicus

Peredaran darah

Kulit Usus Mecapai RES (Hepar, Pelepasan


Lien, Sumsum tulang) endotoksin

Rose Spot Perlukaan pada plak


peyer Hepatopsplenomegali Demam

Ulserasi Nyeri Perut,


mual,
Perdarahan dan Perforasi muntah.

Anemia dan Kekurangan


peritonitis volume cairan

Gambar 1. Patofisiologi Demam Tifoid5

Gejala Klinis
 Demam > 7 hari ( step ladder temperature chart), biasanya dimulai
demam yang meninggi, pada minggu kedua demam tinggi terus menerus
terutama malam hari, pada siang hari suhu agak menurun tapi suhu tidak
pernah mencapai nilai normal ( intermitten).

8
 Gejala konstitusional : nyeri kepala, malaise, mialgia, anoreksia
 Gejala gastrointestinal : obstipasi, diare, mual, muntah atau kembung
 Gangguan saraf sentral : apatis, kesadaran menurun, mengigau, delirium
 Hepatomegali ringan
 Splenomegali
 Skibala
 Lidah kotor tepi hiperemis
 Bradikardi relatif
 Rose spot ( dijumpai pada orang kulit putih)

Dalam minggu pertama , keluhan gejala serupa dengan penyakit infeksi


akut pada umumnya yaitu , demam nyeri kepala, pusing , nyeri otot, anoreksia,
mual, muntah, obstipasi, dan diare, perasaan tidak enak pada perut. Pada
pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan meningkat.4,5

Pada minggu kedua gejala – gejala semakin jelas berupa demam,


brakikardi relatif, lidah yang khas ( kotor dibagian tengah, tepi dan ujung lidah
merah serta tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental
berupa somnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis, rose spots (bercak
makulopapular) ukuran 1 – 6 mm dan dapat timbul di kulit dada dan abdomen
tetapi jarang timbul pada orang Indonesia.2

E. Pemeriksaan Laboratorium

1. Laboratorium

1) Pemeriksaan darah rutin


 Leukopeni ( 47% dari kasus) 2000 – 3000 mm3 sampai dengan
5000 mm3. Bila ada leukositosis ( 4% dari kasus) hati – hati
ada penyulit, perforasi atau infeksi sekunder.
 Limfositosis relatif ( pasien tetap leukopeni tetapi persentasi
leukosit lebih banyak dari normal)

9
Walaupun pada pemeriksaan darah perifer lengkap sering ditemukan
leukopenia dapat pula terjadi kadar leukosit atau leukositosis. Leukositosis dapat
terjadi walaupun tanpa disertai oleh infeksi sekunder. Selain itu dapat pula
ditemukan anemia ringan dan trombositopenia. Pada pemeriksaan hitung jenis
leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun limfopenia. Laju endap darah pada
demam tifoid dapat meningkat. SGOT dan SGPT seringkali meningkat, tetapi
akan kembali menjadi normal setelah sembuh. Kenaikan SGOT dan SGPT tidak
perlu penanganan khusus.6

2) Pemeriksaan bakteriologik
a) Biakan Gall, biakan dapat diambil dari :
 Sum – sum tulang pada minggu ke I dan II
 Darah pada minggu ke I dan II ( 70 % - 90% ), pada minggu ke II
dan III ( 30% - 40% ).
b) Biakan pada agar Salmonella thypi, diambil dari :
 Tinja pada minggu ke II sampai minggu ke III
 Urine pada minggu ke III sampai minggu ke IV
Bila Gall positif diagnosa pasti dari thypoid tetapi bila negatif belum
tentu bebas dari thypoid, tergantung dari tehnik pengambilan bahan, waktu,
perjalanan penyakit dan post vaksinasi. Pada pemeriksaan feses mikroskopis dari
pasien demam thypoid terkadang dapat ditemukan fecal monocytes.

3) Pemeriksaan Serologik
Uji Widal
Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap
kuman S.thypi. pada uji Widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara
antigen kuman S. Thypi dengan antibodi yang disebut aglutinin. Antigen
yang digunakan pada uji Widal adalah suspensi Salmonella yang sudah
dimatikan dan diolah di laboratorium.
Maksud uji Widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin
dalam serum penderita tersangka demam thypoid yaitu aglutinin O ( dari
tubuh kuman) , aglutinin H (flagela kuman) , dan aglutinin Vi ( simpai
kuman).

10
Dari ketiga agluitinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang
digunakan untuk diagnosis demam thypoid. Semakin tinggi titernya
semakin tinggi kemungkinan infeksi kuman nya.Interpretasi hasil
pemeriksaan pada uji Widal adalah :
 Positif jika titer O meningkat lebih dari 1/160 atau peningkatan > 4x
pada pengambilan serum yang berangkaian.
 Nilai titer O 1/180 menunjukan suggestif thypoid.
 Nilai positif titer H adalah > 800 semua hasil tersebut dengan syarat
tidak menerima vaksinasi thypoid dalam 6 bulan terakhir.
 Peninggian titer H 1/160 menunujukan bahwa penderita pernah
divaksinasi atau terinfeksi S. Thypi.
 Titer Vi ( antigen kapsul) meninggi pada pembawa kuman atau karier.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi uji Widal yaitu :

 Pengobatan dini dengan antibiotik


 Gangguan pembentukan antibodi,dan pemberian kortikosteroid
 Waktu pengambilan darah
 Daerah endemik atau non – endemik
 Riwayat vaksinasi
 Reaksi anamnestik, yaitu peningkatan titer aglutinin pada infeksi
bukan demam thypoid akibat infeksi demam thypoid masa lalu atau
vaksinasi.
 Faktor teknik pemeriksaan antar laboratorium, akibat aglutinasi silang,
dan strain Salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen.

Saat ini belum ada kesamaan pendapat mengenai titer aglutinin


yang bermakna diagnostik untuk demam thypoid. Batas titer yang sering
dipakai hanya kesepakatan saja, hanya berlaku setempat dan batas ini
bahkan dapat berbeda di berbagai laboratoium.4.5

11
Diagnosis

Diagnosa demam tifoid ditegakkan atas dasar anamnesis, gambaran


klinik dan laboratorium (jumlah lekosit menurun dan titer widal yang
meningkat) . Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya bakteri pada
salah satu biakan. Adapun beberapa kriteria diagnosis demam tifoid adalah
sebagai berikut :
 Tiga komponen utama dari gejala demam tifoid yaitu:
1. Demam yang berkepanjangan (lebih dari 7 hari). Demam naik
secara bertahap lalu menetap selama beberapa hari, demam
terutama pada sore/ malam hari.
2. Gejala gastrointestinal; dapat berupa obstipasi, diare, mual,
muntah,hilang nafsu makan dan kembung, hepatomegali,
splenomegali dan lidah kotor tepi hiperemi.
3. Gangguan susunan saraf pusat/ kesadaran; sakit kepala, kesadaran
berkabut, bradikardia relatif.2,3

Komplikasi
1. Tifoid toksik
Penderita dengan sindrom demam tifoid dengan panas tinggi yang
disertai dengan kekacauan mental hebat, kesadaran menurun, mulai dari
delirium sampai koma.
2. Syok septic
Penderita dengan sindrom demam tifoid, panas tinggi serta gejala-
gejala toksemia yang berat. Didapatkan gejala gangguan hemodinamik
seperti tensi turun, nadi halus dan cepat, keringatan serta akral dingin.
3. Perdarahan dan perforasi
Komplikasi perdarahan ditandai dengan hematoshezia dan
pemeriksaan feses.Perforasi ditandai dengan gejala akut abdomen dan
peritonitis.Didapatkan gas bebas dalam rongga abdomen yang dibantu
dengan pemeriksaan foto polos 3 posisi.
4. Hepatitis tifosa
Hepatitis tifosa merupakan suatu diagnosis klinis yang ditandai
dengan ikterus, hepatomegali, serta kelainan fungso hati.

12
5. Pancreatitis tifosa
Pancreatitis tifosa merupakan diagnosis klinis yang ditandai
dengan gejala pancreatitis akut dengan peningkatan enzim lipase dan
amylase.Pemeriksaan dapat dibantu menggunakan USG dan CT scan.
6. Pneumonia
Didapatkan tanda dan gejala pneumonia.Diagnosis dapat
ditegakkan dengan foto polos thoraks.1,2

F. Penatalaksanaan
1. Tirah baring
Pada pasien demam tifoid dilakukan tirah baring secara sempurna
untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan dan perforasi
usus.Apabila terjadi gangguan kesadaran maka posisi tidur pasien harus
diubah pada waktu tertentu untuk mencegah terjadinya pneumonia
hipostatik dan dekubitus.Setelah keadaan klinis membaik mobilisasi
bertahap dilakukan sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.Hindari
pemasangan kateter apabila tidak benar-benar dibutuhkan.

2. Diet
a. Harus cukup kalori, protein, cairan dan elektrolit.
b.Mudah dicerna dan halus.
c. Tipe diet :
1) Tipe I : Bubur susu/cair tidak diberikan pada pasien yang demam
tanpa komplikasi.
2) Tipe II : Bubur saring.
3) Tipe III : Bubur biasa.
4) Tipe IV : Nasi tim.
d.Prinsip pengelolaan dietetik pada typhoid padat dini, rendah
serat/rendah selulosa.
e. Typoid diet biasanya dimulai dari tipe II, setelah 3 hari bebas demam
menjadi tipe III, sampai 3 hari kemudian dapat diganti kembali menjadi
tipe IV.

13
f. Harus diberikan rendah serat karena pada typoid abdominalis ada luka
di ileum terminale bila banyak selulosa maka akan menyebabkan
peningkatan kerja usus, hal ini menyebabkan luka makin hebat.
3. Terapi simptomatik
a. Demam
Analgetik-antipiretik : Paracetamol
b.Muntah : Prochlorperazine (Stemetil) dengan dosis 3 x 5mg atau 3 x
10 mg
c. Diare : Diphenoxylate hydrochloride (Lomotil, Reasec) 4 x 2 tab
d.Laxantia untuk memudahkan BAB
e. Dexamethasone 3 mg/kgBB IV, selanjutnya 1 mg/kgBB setiap 6 jam
sebanyak 8 kali. Diberikan pada pasien dengan gangguan kesadaran
serta demam yang tak membaik.
4. Terapi antimikroba
a. Lini pertama
1) Kloramfenikol (50 – 100 mg/kgBB/hari maksimal 2 gr selama 14
hari dosis terbagi 4).
2) Ampisillin atau Amoxicillin (100 mg/kgBB/hari selama 10 hari)
3) Trimetroprim-Sulfametoksazol (TMP 6 – 10 mg/kgBB/hari, SMX 30
– 50 mg/kgBB/hari selama 10 hari)
b.Lini kedua
1) Seftriakson (80 mg/kgBB/hari maksimal 2 – 4 gr/hari selama 3 – 5
hari dosis tunggal).
2) Cefixime (15 – 20 mg/kgBB/hari selama 10 hari dosis terbagi 2)
3) Quinolone (2x500 mg selama 7 hari namuntidak dianjurkan pada
usia< 18 tahun).5

G. Pencegahan
1. Penatalaksanaan yang adekuat sehingga mencegah terjadinya kasus relaps,
karier dan resistensi tifoid.
2. Perbaikan sanitasi lingkungan
3. Peningkatan hygiene makanan dan minuman
4. Peningkatan hygiene perorangan

14
5. Pencegahan dengan imunisasi
a. Vaksin Oral Ty 21a Vivotif Berna
Vaksin ini mempunyai daya proteksi 36% - 66% dan memiliki
lama proteksi 5 tahun.Vaksin ini dikontraindikasikan pada wanita
hamil dan menyusui, anak <6 tahun, dan penderita imunokompromais.
b. Vaksin Parenteral sel utuh
Vaksin ini terdiri dari 2 jenis yaitu K Vaccine dengan daya proteksi
79% - 89% dan L vaccine dengan daya proteksi 51% - 66%.
c. Vaksin Polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux
Vaksin ini mempunyai daya proteksi 60% - 70% pada orang
dewasa dan anak diatas 5 tahun.Vaksin ini memiliki lama proteksi 3
tahun dan dikontraindikasikan pada keadaan hipersensitif, demam,
anak 2 tahun, wanita hamil dan menyusui. 4
.

15
BAB III
ANALISIS KASUS

Diagnosis thypoid fever pada kasus ini berdasarkan :


a. Anamnesis

- Demam (sudah 3 hari naik turun)

- mual (+)

b. Pemeriksaan fisik

dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang,
suhu 38,6oC, nadi 80x/menit , RR 20x/menit

c. Pemeriksaan Penunjang

Penyebab dari demam thypoid pada pasien kemungkinan berasal dari


bakteri salmonella thyphi. Penatalaksanaan pada pasien ini yaitu diberikan
parasetamol syr 4x10cc untuk mengatasi demam, kemudian diberikan juga
injeksi ceftriaxon 500 mg/12 jam secara intravena..
Edukasi yang diberikan kepada keluarga mengenai penyakit ini adalah
bahwa demam thypoid dapat timbul kembali jika pasien daya tahan tubuhnya
menurun dan terpapar kuman salmonella kembali. Oleh karena itu, keluarga
pasien harus waspada terhadap kebersihan lingkungan dan makanan.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Ashkenazi, Shai dan Clearly, Thomas G. 2000. Infeksi Salmonella dalam


Nelson: Ilmu Kesehatan Anak Volume 2. Edisi 15. Jakarta: EGC.
2. Diagnosis of typhoid fever.Dalam : Background document : The diagnosis,
treatment and prevention of typhoid fever. World Health Organization,
2003;7-18.
3. Fauci.Et. Al. 2008.Harrison's Principles of Internal Medicine: Salmonellosis.
17th Edition. McGraw-Hill Companies. USA
4. Pawitro UE, Noorvitry M, Darmowandowo W. Demam Tifoid. Dalam :
Soegijanto S, Ed. Ilmu Penyakit Anak : Diagnosa dan Penatalaksanaan, edisi
1. Jakarta : Salemba Medika, 2002:1-43
5. Tumbelaka AR, Retnosari S. Imunodiagnosis Demam Tifoid.Dalam
:Kumpulan Naskah Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan
Anak XLIV. Jakarta : BP FKUI, 2001:65-73.
6. Widodo Darmowandoyo. Demam Tifoid. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Anak Infeksi dan Penyakit Tropis.Edisi pertama. 2002.Jakarta ;Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI: 367-375

17