Anda di halaman 1dari 5

Cedera Paru Akut Terkait Transfusi

Syed Iftikhar Ali1, Raju C. Ibraham2, Litty Joseph3

Departemen Kesehatan1, Anestesiologi2 and Obstetri dan Ginekologi3, Rumah Sakit

Nasional Jeddah, Jeddah, Saudi Arabia.

Abstrak

TRALI (Cedera Paru Akut Terkait Transfusi) adalah komplikasi yang parah dari

transfusi darah atau komponennya, terlepas dari golongan darah dan cross match. Kami

melaporkan kasus seorang ibu rumah tangga filipino yang telah transfusi darah untuk

laserasi vaginanya dan mengembangkan edema paru akut yang segera. Antibodi

antigranulosit tidak ditemukan pada donor. Pasien pulih setelah perawatan suportif.

TRALI komplikasi transfusi darah yang lumayan sering dilaporkan dan kurang

terdiagnosis.

Pendahuluan

Edema paru akut telah dilaporkan terjadi setelah transfusi darah lengkap atau

komponennya dalam literatur medis.1-3 TRALI (Cedera Paru Akut Terkait Transfusi)

adalah komplikasi darah dan komponennya yang mengancam jiwa menyerupai ARDS

(sindrom gangguan pernapasan akut) atau ALI (Cedera Paru Akut). Hal ini pertama kali

dilaporkan pada tahun 1992.4 TRALI ditandai oleh dispnea, hipoksemia, hipotensi, edema

paru bilateral dan demam meskipun cross match darahnya tepat.2,4-6 TRALI telah

dikaitkan dengan keberadaan antibodi granulosit, HLA kelas I dan II antibodi. dan lemak

yang aktif secara biologis dalam plasma donor.6-8 TRALI telah diperkirakan terjadi pada

satu dari 5000 transfusi, biasanya terjadi dalam waktu enam jam setelah transfusi darah

atau komponennya atau IVIg.8-12

Laporan Kasus
Seorang ibu rumah tangga berumur dua puluh sembilan tahun berkebangsaan

Filipina (gravida ke-2) menjalani persalinan normal dengan episiotomi kanan-

mediolateral. Dia mengalami perdarahan postpartum karena laserasi vagina dan

diobservasi di ruang persalinan. Karena perdarahan terus berlanjut, dia dibawa ke ruang

operasi untuk diperiksa dengan anestesi dan dibius dengan midazolam dan analgesia

ketamin. Pada pemeriksaan uterus ditemukan kosong. Pendarahan terlihat dari area

serviks dan lokasi laserasi dijahit setelah diepisiotomi. Dia ditransfusikan dengan masing-

masing satu liter solusi polygeline dan Ringer laktat sebelum diberikan darah lengkap

yang sesuai cross match. Pasien mengeluh kesulitan bernapas dan nyeri dada yang parah

dan dipindahkan ke unit perawatan intensif. Ditemukan rales basal bilateral, tidak ada

rhonki dan JVP normal. Tekanan darahnya turun menjadi 80/50, masih tetap sadar dan

berorientasi baik dan SpO2-nya 82% pada pulse oximetry. Transfusi darah dihentikan

segera dan oksigen diberikan dengan masker wajah tetapi saturasi oksigen menurun dari

82% menjadi 75% selama beberapa menit berikutnya. Sementara pasien diberikan

oksigen pada kecepatan 4 liter per menit, analisis darah arteri diperoleh untuk

mengevaluasi gas. Tekanan parsial O2nya 73 mmHg, pCO2nya 42 mmHg dan pHnya

7.18. Trakhea diintubasi dan pasien menggunakan ventilasi mekanik dengan oksigen

100%. Selama proses tersebut, pO2nya adalah 113 mmHg, pCO2nya 36 mmHg dan

pHnya 7.27. EKG 12 lead hanya menunjukkan sinus takikardia dan tidak ada perubahan

segmen ST atau gelombang T. Sebuah ronsen dada portabel mengungkapkan bayangan

intersisial bilateral difus konsisten dengan edema paru. Pada saat ini pasien telah

menghentikan pendarahan dari serviks.

Evaluasi darah urgensi tidak menunjukkan bukti adanya reaksi terhadap transfusi.

Suhu naik menjadi 37,90C dan mereda setelah enam jam. Ekokardiogram urgensi

menunjukkan tidak ada kelainan katup jantung, baik hipokinesia maupun diskinesia
miokardium. Pasien diberi iv metilprednisolon, infus Dopamin, iv ceftriaxone dan iv

mannitol. Dia diberikan bantuan ventilasi selama dua puluh empat jam dan pemulihan

tidak berjalan lancar. Obat-obatan dihentikan pada hari ke-5 tanpa insiden yang tidak

diinginkan. Laporan laboratorium dalam batas normal kecuali pemanjangan APTT dan

hematuria . Kultur darah untuk organisme aerob dan anaerob negatif setelah 3 hari. Donor

untuk pasien adalah subjek filipino laki-laki yang serumnya tidak memiliki antibodi

antigranulosit saat diperiksa ulang. Level faktor VIII dan IX-nya dalam batas normal.

Kami tidak dapat memastikan penyebab perdarahan pada pasien ini dengan pemanjangan

APTT. Apakah itu karena koagulopati dilusional adalah pertanyaan yang masih belum

terjawab.

Diskusi

Kasus-kasus TRALI telah diamati sejak lama tetapi wujudnya baru-baru ini telah

diakui dan dilaporkan.6-10


Tabel Penyelidikan.

Biasanya donor yang terlibat dalam kasus-kasus TRALI adalah perempuan

multipara5 tetapi juga telah dilaporkan setelah transfusi darah oleh donor laki-laki.4

Dalam kasus yang disajikan ini adalah donor laki-laki dengan latar belakang etnis yang

sama dan tidak ada antibodi antigranulosit dalam serum. Meskipun patogenesis TRALI

tidak diketahui, ada bukti yang cukup untuk melibatkan reaksi imunitas dan tidak seperti
kebanyakan reaksi imunitas yang dimediasi secara imunologis, antibodi patologis di

TRALI berasal dari donor penerima. Antibodi dalam pendonor dicurigai sebagai agen

penyebab karena 'substrat' adalah dari sistem ekstrasirkulatori penerima dan kumpulan

leukosit yang termarginasi. Karena tidak ada tes diagnostik atau tanda patognomonik dari

TRALI, hal ini merupakan diagnosis eksklusi.

Penyebab lain dari gangguan pernapasan dan edema paru pada pasien yang

menerima transfusi darah harus dieksklusikan. Infark miokard, overload sirkulasi dan

infeksi bakteri atau penyebab ARDS lainnya, khususnya SARS harus dipertimbangkan.

Tekanan vena jugularis normal konsisten dengan diagnosis TRALI. Pengobatan TRALI

bersifat simtomatik.5 Agen presor mungkin berguna untuk hipotensi yang berkelanjutan,

kortikosteroid bernilai marjinal dan diuretik tidak memiliki peran karena merupakan

kejadian cedera pembuluh darah mikro daripada kelebihan cairan.13 Namun, dalam kasus

ini manitol dan steroid digunakan. Analisis kromosom tidak dilakukan dalam kasus kami.

Pertanyaannya mengapa paru-paru adalah organ target akhir utama masih tidak terjawab.5

Dianjurkan jika kasus TRALI terjadi, donor harus diskors sementara dari donasi selama

tiga bulan dan 14 ml darah bekuan darah dan 7 ml EDTA yang diperoleh dari donor

(sampel segar whole blood harus diperoleh karena jika hanya plasma tidak sesuai) dan

dikirim untuk antibodi HLA tipe I dan II.4,5 Kejadian TRALI jauh lebih tinggi daripada

yang diperkirakan dan masih kurang terdiagnosis dan penyakit yang jarang dilaporkan.11-
13