Anda di halaman 1dari 25

MATERI UJIAN FISIKA TEKNIK

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO 18.1

BAB I
A. PENDAHULUAN
Hubungan antara listrik dan magnetisme belum diketahui hingga abad ke-19, ketika
Hans Christian Oersted menemukan bahwa arus listrik mempengaruhi kedudukan jarum
kompas. Percobaan berikutnya yang dilakukan oleh Andre-Marie Ampere dan yang lainnya
menunjukkan bahwa arus listrik menarik serpihan besi dan arus sejajar akan saling tarik-
menarik. Ia menaksir bahwa sumber dasar magnetisme bukanlah kutub magnetik akan tetapi
arus listrik. Selanjutnya Ampere menyimpulkan bahwa magnetisme magnet permanen
diakibatkan oleh penyearahan simpal arus molekuler di dalam suatu bahan. Sekarang, kita
mengetahui bahwa simpal arus ini sebagian terjadi akibat gerak elektron dalam atom dan
sebagian lagi akibat putaran elektron, sifat mekanis-kuantum dalam elektron. Interaksi
magnetik dasar merupakan gaya magnetik satu muatan yang bergerak yang dikerahkan pada
muatan bergerak lainnya. Gaya ini adalah gaya lain yang juga terjadi selain gaya listrik antara
kedua muatan. Seperti pada gaya listrik, kita menganggap gaya magnetik juga dipindahkan
oleh sesuatu, yakni medan magnetik. Muatan yang bergerak menghasilkan medan magnetik,
dan medan ini, selanjutnya, mengerahkan suatu gaya pada muatan bergerak lainnya. Karena
muatan bergerak menimbulkan arus listrik, interaksi magnetik dapat juga dipikirkan sebagai
interaksi di antara dua arus.

Pada awal tahun 1830-an. Michael Faraday dan Joseph Henry telah memperagakan
dalam percobaan terpisah bahwa medan magnetik yang berubah akan menghasilkan medan
listrik. Beberapa tahun kemudian, James Clerk Maxwell mengembangkan suatu teori lengkap
tentang listrik dan magnetisme yang menunjukkan bahwa suatu perubahan medan listrik akan
menghasilkan medan magnetik.
Jika sebuah kawat yang diletakkan vertikal di sekitar tumpukan serbuk besi diberi
arus listrik, maka serbuk besi ini akan membentuk garis-garis konsentris dengan kawat
sebagai pusatnya. Garis-garis ini menggambarkan bahwa di sekitar kawat tersebut terdapat
medan magnet (B). Medan Magnet merupakan ruang magnet yang di dalamnya masih dapat
dirasakan adanya gaya magnet.
Magnet pertama kali ditemukan di Magnesia (sebuah kota di Asia Kecil). Dimana
daerah tersebut magnet lebih dulu ditemukan dari listrik. Di tempat tersebut terdapat batu-
batuan yang saling tarik menarik. Sedangkan bumi merupakan energi magnet yang besar,
sehingga dimanfaatkan sebagai alat bantu navigasi sejak dahulu.

B. SIFAT-SIFAT DAN MATERIAL MAGNETIK


Pada magnet terdapat dua buah kutub saling berhubungan, yaitu kutub utara (U) dan
kutub selatan (S). sedangkan kutub magnet itu sendiri merupakan bagian magnet yang paling

1
kuat pengaruh magnetnya. Kutub-kutub magnet mengarah bebas ke utara dan selatan. Kutub
magnet yang ada di bumi mengalami pengeseran dari kutub asalnya.
Material dari magnet itu sendiri terdapat pada bahan ferromagnetik, yaitu material yang
mudah menimbulkan efek magnetik. Namun sebenarnya ada 3 jenis benda magnet, yaitu:
a. Benda Magnetik = nilai permeabilitas relative lebih kecil dari 1.
Contoh : bismuth, tembaga, emas, antimon, kaca flinta.
b. Benda Paramagnetik = nilai permeabilitas relative lebih besar dari satu.
Contoh : Aluminium, platina, oksigen, sulfat tembaga dan banyak lagi
garam-garam logam adalah zat paramagnetik.
c. Benda Ferromagnetik = nilai permeabilitas relative sampai beberapa ribu.
Contoh : besi, baja, nikel, cobalt dan campuran logam tertentu (almico)
Sifat-sifat yang terdapat pada magnet adalah :

1. Tarik menarik apabila ujung kutub-kutubnya berbeda jenis di dekatkan.

U S U S

2. Tolak menolak apabila ujung kutub-kutubnya sejenis di dekatkan.

S U U S

C. MEDAN DAN GAYA MAGNETIK


Interaksi antara benda bermuatan dalam medan listrik yang mengingatkan pada
konsep bahwa terdapat medan magnet di sekitar muatan listrik. Medan magnet sangat
berperan dalam konversi energi. Melalui media medan magnet, bentuk energi mekanik dapat
diubah menjadi energi listrik, alat konversinya disebut generator, atau sebaliknya dari bentuk
energi listrik menjadi energi mekanik, alat konversinya disebut motor.
Keutamaan medan magnet dalam proses konversi energi disebabkan terdapatnya bahan-
bahan meganetik yang memungkinkan diperolehnya kerapatan energi yang tinggi. Kerapatan yang
tinggi ini akan menghasilkan kapasitas daya per unit volume mesin yang tinggi pula. Hal tersebut
membuktikan bahwa pengertian medan kuantitatif tentang medan magnet dan rangkaian magnet
merupakan bagian penting untuk memahami proses konversi energi listrik.

Medan magnet pada dasarnya mempunyai simbol B, sedangkan gaya magnetik diberi
simbol FB. Sehingga rumus medan magnet adalah sebagai berikut. FB = qv x B dimana
kecepatan partikel (v) dan B adalah cross product, untuk q adalah muatan yang bergerak.

2
Kompas

Gambar 1. Jarum kompas dapat digunakan untuk menelusuri garis-garis


medan magnet di wilayah luar

Dalam ruang hampa, kuat medan magnet (induksi magnet) dB pada titik di sekitar
penghantar yang dialiri arus listrik (i), ternyata :
1. Berbanding lurus dengan kuat arus (i).
2. Berbanding lurus dengan elemen panjang (dL).
3. Berbanding terbalik dengan kuadrat jarak (r) antara elemen panjang
(dL) dengan titik tersebut.
4. Berbanding lurus dengan sinus sudut antara dL dan r.

Sehingga dirumuskan sebagai berikut.

dL
θ
dB
r

Gambar 2. Kuat medan magnet (induksi magnetik)


o .i
dB =  dL sin θ
2
4r
dengan : dB = kuat medan magnet (induksi) magnet
Perbedaan antara gaya magnet dengan gaya listrik, yaitu:
a. Gaya Magnet
> Bekerja dalam arah tegak lurus medan magnet.
> Bekerja pada partikel bermuatan hanya jika partikel tersebut bergerak.
> Tidak bekerja untuk memindahkan partikel.
b. Gaya Listrik
~> Bekerja searah dengan medan listrik.
~> Bekerja pada partikel bermuatan tanpa memperdulikan apakah
bergerak atau tidak.
~> Bekerja memindahkan partikel.

3
D. KEMAGNETAN (MAGNETOSTATIKA)
Benda yang dapat menarik besi disebut magnet. Macam-macam bentuk magnet, antara
lain :
magnet batang magnet ladam magnet jarum

Gambar 3. Macam-macam bentuk magnet

Magnet dapat diperoleh dengan cara buatan. Misalnya suatu baja di gosok dengan
sebuah magnet dan cara menggosoknya dalam arah tetap, maka abaj itu akan menjadi magnet
buatan.

Gambar 4. Plat besi digosok magnet batang dengan arah searah

Baja atau besi dapat pula diberi magnet adanya arus listrik. Baja atau besi itu
dimasukkan ke dalam kumparan kawat. Kemudian ke dalam kumparan dialiri arus listrik yang
searah. Ujung-ujung sebuah magnet disebut Kutub Magnet. Garis yang menghubungkan
kutub-kutub magnet disebut sumbu magnet dan garis tegak lurus sumbu magnet serta
membagi dua sebuah magnet disebut garis sumbu.

Gambar 5. Kumparan kawat pada plat besi

Sebuah magnet batang digantung pada titik beratnya. Sesudah keadaan seimbang
tercapai, ternyata kutub-kutub batang magnet itu menghadap ke utara dan selatan. Dimana
kutub magnet yang menghadap ke utara di sebut kutub utara, sedangkan yang menghadap ke
selatan di sebut kutub selatan. Hal serupa dapat kita jumpai pada magnet jarum yang dapat
berputar pada sumbu tegak (jarum deklinasi).
Kutub Utara jarum magnet deklinasi yang seimbang didekati kutub Utara magnet
batang, ternyata kutub Utara magnet jarum bertolak. Bila yang didekatkan adalah kutub
selatan magnet batang, kutub utara magnet jarum tertarik.

4
Gambar 6. Jarum deklinasi
Kesimpulan : Kutub-kutub yang sejenis tolak-menolak dan kutub-kutub yang tidak
sejenis tarik-menarik. Jika kita gantungkan beberapa paku pada ujung-ujung sebuah magnet
batang ternyata jumlah paku yang dapat melekat di kedua kutub magnet sama banyak. Makin
ke tengah, makin berkurang jumlah paku yang dapat melekat.
Kesimpulan : Kekuatan kutub sebuah magnet sama besarnya semakin ke tengah
kekuatannya makin berkurang.

E. HUKUM COULOMB
Definisi : Besarnya gaya tolak-menolak atau gaya tarik menarik antara kutub-kutub
magnet, sebanding dengan kuat kutubnya masing-masing dan berbanding terbalik dengan
kwadrat jaraknya.

F = gaya tarik menarik/gaya tolak menolak dalam newton


R = jarak dalam meter
m1 dan m2 = kuat magnet dalam Ampere-meter
μo = permeabilitas hampa

Nilai permeabilitas benda-benda, ternyata tidak sama dengan permeabilitas hampa.


Perbandingan antara permeabilitas suatu zat debgan permeabilitas hampa disebut permeabilitas
relatif zat itu.

μr = Permeabilitas relative suatu zat


μ = Permeabilitas zat itu
μ0 = Permeabilitas hampa

F. PENGERTIAN MEDAN MAGNET


Medan magnet adalah ruangan di sekitar magnet, yang gaya tarik/ tolaknya masih dirasakan
oleh magnet lain.
a. Kuat Medan (H) = Itensity
5
Kuat medan magnet di suatu titik di dalam medan magnet ialah besar gaya
pada suatu satuan kuat kutub di titik itu di dalam medan magnet m adalah kuat kutub
yang menimbulkan medan magnet dalam Ampere-meter. R jarak dari kutub magnet
sampai titik yang bersangkutan dalam meter. Sedangkan H = kuat medan titik itu
dalam :N/(A.m) atau dalam Weber/m2.

b. Garis Gaya
Garis gaya adalah Lintasan kutub Utara dalam medan magnet atau garis
yangbentuknya demikian hingga kuat medan di tiap titik dinyatakan oleh garis
singgungnya.
Sejalan dengan faham ini, garis-garis gaya keluar dari kutub-kutub dan
masuk ke dalam kutub Selatan. Untuk membuat pola garis-garis gaya dapat dengan
jalan menaburkan serbuk besi disekitar sebuah magnet.

Gambar 7. Garis Gaya Magnet

c. Rapat Garis-Garis Gaya (B) = Fluk density


Definisi : Jumlah garis gaya tiap satuan luas yang tegak lurus kuat medan.

Kuat medan magnet di suatu titik sebanding dengan rapat garis-garis gaya
dan berbanding terbalik dengan permeabilitasnya.

B = μ . H = μr.μo.H
B = rapat garis-garis gaya.
μ = Permeabilitas zat itu.
H = Kuat medan magnet.

catatan : rapat garis-garis gaya menyatakan kebesaran induksi magnetik.


Medan magnet yang rapat garis-garis gayanya sama disebut : medan magnet serba
sama ( homogen )

6
Gambar 8. Rapat garis-garis gaya magnet sama (homogen)

Bila rapat garis-garis gaya dalam medan yang serba sama B, maka
banyaknya garis-garis gaya (Ø) yang menembus bidang seluar A m2 dan mengapit
sudut θ dengan kuat medan adalah : Ø = B.A Sin θ  Satuanya : Weber.

d. Diamagnetik dan Para Magnetik


Sehubungan dengan sifat-sifat kemagnetan benda dibedakan atas
Diamagnetik dan Para magnetik.
Benda magnetik : bila ditempatkan dalam medan magnet yang
tidak homogen, ujung-ujung benda itu mengalami gaya tolak sehingga
benda akan mengambil posisi yang tegak lurus.

G. MEDAN MAGNET DI SEKITAR ARUS LISTRIK


(Percobaan OERSTED)
Di atas jarum kompas yang seimbang dibentangkan seutas kawat, sehingga kawat itu
sejajar dengan jarum kompas. jika kedalam kaewat dialiri arus listrik, ternyata jarum kompas
berkisar dari keseimbangannya. Kesimpulan : di sekitar arus listrik ada medan listrik.

Gambar 9. Hubungn magnet dan arus listrik

Cara menentukan arah perkisaran jarum.


a. Bila arus listrik yang berada anatara telapak tangan kanan dan jarum magnet
mengalir dengan arah dari pergelangan tangan menuju ujung-ujung jari, kutub utara jarum
berkisar ke arah ibu jari.
b. Bila arus listrik arahnya dari pergelangan tangan kanan menuju ibu jari, arah
melingkarnya jari tangan menyatakan perkisaran kutub Utara.
Pola garis-garis gaya di sekitar arus lurus.
Pada sebidang karton datar ditembuskan sepotong kawat tegak lurus, di atas karbon
ditaburkan serbuk besi menempatkan diri berupa lingkaran-lingkaran yang titik pusatnya pada
titik tembus kawat.
7
Gambar 10. Arah medan magnet terhadap arus tegak lurus

Kesimpulan : Garis-garis gaya di sekitar arus lurus berupa lingkaran-lingkaran yang


berpusatkan pada arus tersebut.
Cara menentukan arah medan magnet
Bila arah dari pergelangan tangan menuju ibu jari, arah melingkar jari tangan menyatakan
arah medan magnet.

Gambar 11. Kaidah Tangan Kanan


Pada suatu elemen arus listrik, terdapat persamaan sebagai berikut.

Gambar 12. Medan Magnet terhadap elemen arus listrik


dF = I dl x B
(Perumusan ini sering dianggap sebagai “definisi” medan magnet)
Apabila arus konstan pada medan uniform, maka:
F=IlxB Atau |F| = I L |B| sin θ

Satuan induksi medan magnet : Tesla, Gauss 1 Tesla = 104 Gauss


Kalau dikaitkan dengan “definisi” medan magnet:
“Apabila sebuah kawat dengan panjang 1 meter dan berarus listrik 1 ampere dalam pengaruh
medan magnet menghasilkan gaya 1 Newton, maka besar medan magnet tsb adalah 1 Tesla”.
Muatan bergerak dalam Medan Magnet adalah pengaruh adanya arus listrik. Dimana hal
tersebut ditinjau dari muatan positif, yaitu:

Gambar 13. Arah Muatan pada Medan Magnet

8
F = I I x B; F = (q/t)(v. t) x B ; F = q(v x B)
Untuk medan uniform, perhatikan gerak muatan pada gambar.

H. HUKUM BIOT SAVART


Definisi : Besar induksi magnetik di satu titik di sekitar elemen arus, sebanding
dengan panjang elemen arus, besar kuat arus, sinus sudut yang diapit arah arus dengan
jaraknya sampai titik tersebut dan berbanding terbalik dengan kwadrat jaraknya.

k adalah tetapan, di dalam SI (sistem internasional)

Vektor B tegak lurus pada l dan r, arahnya dapat ditentukan dengan kaidah tangan kanan. Jika
l sangat kecil, dapat diganti dengan dl.

Persamaan ini disebut hukum Ampere

I. HUKUM AMPERE
Integral garis dari komponen tangensial H sepanjang suatu lintasan tertutup adalah
sama dengan besarnya arus yang dikelilingi lintasan itu.

 H.dl  Ienc Ini adalah hukum ampere.

Pada pandangan pertama orang barangkali akan mengira bahwa penggunaan hukum ini
adalah untuk menentukan arus dengan suatu integrasi. Hal ini membuktikan bahwa hukum
ampere serupa dengan penggunaan hukum gauss untuk menentukan D dalam hal distribusi
muatan yang diberikan.
Untuk dapat memanfaatkan Hukum Ampere dalam menentukan H haruslah ada simetri
bertaraf cukup tinggal pada masalah yang bersangkutan. Dua syarat harus dipenuhi:
1. H mestinya bersifat atau tangensial, atau normal pada setiap titik lintasan tersebut.
2. Jika tangensial, maka besarnya harus tetap.

Hukum Biot Savart dapat digunakan untuk menolong memilih lintasan yang memenuhi
syarat-syarat itu.
Hukum Biot-Savart sangat baik digunakan untuk menggambarkan hubungan antara
medan magnet dengan arus pada kawat lurus panjang, namun sulit untuk diterapkan pada lilitan
kawat seperti pada solenoide dan toroide. Untuk itu Andre Marie Ampere menyusun hukum

9
Ampere tentang induksi magnet sebagai berikut : “Jumlah perkalian antara komponen
tangnesial induksi magnet (B) dan panjang elemen ( L) pada suatu sirkuit tertutup sama
dengan perkalian antara permeabelitas vakum dengan kuat arus.”

J. MEDAN MAGNET PADA KUMPARAN BERARUS LISTRIK (SOLENOIDE)


Jika sebuah solenoid panjangnya L terdiri dari lilitan sebanyak N berarus listrik I, maka :
 Besarnya induksi magnet di pusat solenoide adalah :

 Besarnya induksi magnet di ujung solenoid sebesar :

Jadi besarnya induksi magnet di ujung solenoid sebesar setengah dari besarnya induksi
magnet di pusat solenoid.

K. MEDAN MAGNET PADA TOROIDE


Toroide adalah solenoid yang dilengkungkan sehingga sumbunya membentuk
lingkaran. Besarnya induksi magnet pada sumbu toroide dirumuskan :

dimana B = induksi magnet (T); N = banyak lilitan


I = kuat arus (A); R = jari-jari lingkaran toroide (m)
L. MEDAN MAGNET PADA MAGNET BATANG
Sebuah magnet batang yang memiliki kuat kutub magnet m, akan menimbulkan medan
magnet di sekitar magnet tersebut. Besarnya induksi magnet yang di timbulkan oleh magnet
batang adalah :

B = induksi magnet (T)


k = tetapan = 10-7Wb/A.m m
= kuat kutub magnet (A.m)
r = jarak titik dengan kutub magnet (m)

10
Dua magnet batang dengan kuat kutub magnet m 1 dan m2 yang saling didekatkan pada jarak r
akan terjadi gaya magnet sebesar :

F = gaya kedua kutub magnet (N)

M. GAYA LORENTZ
Gaya Lorentz adalah gaya yang ditimbulkan oleh medan magnet pada arus listrik.
Arah gaya lorent tegak lurus terhadap arah arus listrik dan arah medan magnet. Arah gaya
Lorent dapat ditentukan dengan aturan tangan kanan. Ibu jari menggambarkan arah arus
listrik, jari telunjuk menunjukkan arah medan magnet dan jari lain arah gaya Lorent.

Gaya Lorentz Yang Dialami Sebuah Kawat Lurus


Bila sebuah kawat panjangnya L berarus listrik I diletakkan di dalam medan magnet
homogen B maka kawat akan mengalami gaya Lorentz. Jika kawat penghantar membentuk
sudut α terhadap arah medan magnet, maka induksi magnet yang dialami kawat sebesar :

F = gaya Lorentz (N)


B = induksi magnet (T)
I = kuat arus listrik (A)
L = panjang kawat (m) α
= sudut (°)

Gaya Lorent pada Kawat Sejajar Berarus Listrik


Dua kawat panjang sejajar berjarak r yang dialiri arus listri I 1 dan I2 akan saling
berinteraksi. Jika arah kedua arus listrik sama, maka akan terjadi gaya lorent yang berupa gaya
tarik menarik. Sebaliknya jika kedua arah arus berlawanan, gaya lorent kedua kawat akan
saling tolak menolak.

Gambar 15. Gaya Lorentz pada Kawat Sejajar berarus listrik

Besarnya gaya Lorentz yang ditimbukan oleh kedua kawat sejajar adalah :

I1 dan I2 = kuat arus kawat 1 dan 2 (A); r = jarak kedua kawat (m)
11
Gaya Lorentz Yang dialami Muatan
Sebuah partikel bermuatan listrik q yang bergerak dengan kecepatan v di dalam
medan magnet B, akan mengalami gaya Lorent. Jika arah gerak partikel terhadap arah medan
magnet membentuk sudut α, maka gaya Lorentz yang dialami partikel sebesar sebesar :

F = gaya Lorentz (N)


B = induksi magnet (T) q
= muatan listrik (C)
v = kecepatan partikel (m/s) α
= sudut (°)

Jika arah gerak partikel dan arah induksi magnet tegak lurus (α = 90o), maka partikel
akan bergerak melingkar dengan jari-jari R. Partikel tersebut akan mengalami dua gaya
segaligus, yaitu gaya Lorentz dan gaya sentripetal yang besarnya sama.
Gaya Lorentz dapat diaplikasikan dalam pembuatan peralatan seperti motor listrik,
galvanometer dan siklotron (alat untuk menghasilkan partikel berenergi tinggi)

R = jari-jari lintasan partikel (m)


m = massa partikel (kg)
*massa electron = 9.1 x 10-31kg

N. MOMEN KOPEL PADA KUMPARAN


Jika sebuah kumparan berarus listrik diletakkan di dalam medan magnet, maka kumparan
akan mengalami momen kopel (momen puntir = Torsi) sehingga kumparan dapat berputar.
Peristiwa ini dapat diterapkan pada peraralatan listrik seperti galvanometer dan motor listrik
Perhatikan kumparan persegi panjang yang terletak di dalam medan magnet berikut :

Gambar 16. Momen kopel pada kumparan

Sebuah kumparan yang luasnya A (PQRS) terdiri dari N buah lilitan dan berarus listrik I
yang terletak di dalam medan magnet B dengan posisi arah normal bidang kumparan terhadap

12
arah medan magnet membentuk sudut α (pada gambar tersebut α = 90°) , maka kumparan
akan mengalami momen puntir (torsi) sebesar:

τ = momen punter (Nm)


N = banyaknya lilitan kumparan
I = kuat arus kumparan (A)
B = kuat medan magnet (T)
A = luas kumparan (m2)
α = sudut antara normal bidang kumparan dengan arah medan magnet

O. EFEK HALL

Gambar 17. Efek Hall


Efek Hall yaitu suatu peristiwa berbeloknya aliran listrik (elektron) dalam pelat
konduktor karena adanya pengaruhmedan magnet. Ketika ada arus listrik yang mengalir pada
divais efek Hall yang ditempatkan dalam medan magnet yang arahnya tegak lurus arus listrik,
pergerakan pembawa muatan akan berbelok ke salah satu sisi dan menghasilkan medan listrik.
Medan listrik terus membesar hingga gaya Lorentz yang bekerja pada partikel menjadi nol.
Perbedaan potensial antara kedua sisi divais tersebut disebut potensial Hall.
Pada Gambar 10. memperlihatkan sebuah pita datar (flat strip) tembaga yang mengangkut
sebuah arus î di dalam arah yang seperti diperlihatkan. Seperti biasanya arah panah arus, yang
ditandai î adalah arah mana pengangkut muatan akan bergerak jika pengangkut muatan tersebut
adalah positif. Panah arus dapat menyatakan baik muatan-muatan positif yang bergerak ke bawah
maupun muatan-muatan negatif yang bergerak ke atas. Efek Hall dapat digunakan untuk
memutuskan yang mana diantara kedua kemungkinan ini yang benar.

P. SOAL-SOAL dan PENYELESAIAN

1. Hitunglah besarnya induksi magnet pada suatu titik yang berjarak 10 cm dari sebuah
kawat sangat panjang yang dialiri arus listrik 5 A!
Jawaban:
B=  o .I  4.10 7.5  10 5 Tesla
2.a 2.0,1

2. Sebuah partikel bermuatan 2.10-6 C bergerak secara tegak lurus dalam medan magnet
0,06 T, sehingga lintasan melingkar dengan jari-jari 60 cm. Tentukan momentum yang
dimiliki partikel tersebut !
Jawaban: R= m.v
q.B
m.v = p = momentum

p = m.v = B.q.R = 0,06.2.10-2.0.6, p = 7,2.10-8 kgm/s

13
7
3. Elektron bergerak dengan kecepatan mula-mula 2x10 m/s masuk secara tegak lurus medan
19
magnet 0,1 T. Jelaskan jejak partikel ini (cari radius lingkaran), (e = 1,6x10 Coulomb,
-31
Massa elektro = 9,1x10 kg)
Jawaban:
Jejak awal elektron mula-mula tegak lurus medan magnet B, maka electron akan
mengalami gaya yang tegak lurus B dan arah mula-mula.
 Oleh karena itu gerak elektron akan melengkung.
 Arah gaya bergeser, tetapi masih tegak lurus B dan arah gerak elektron
 Elektron akan mengikuti jejak lingkaran karena besar gaya konstan namun selalu
menuju ke pusat  gaya sentripetal
 F medan magnet = F sentripetal
q.v.B = (m.v2)/r  jari-jari jejak = 1.1 mm

BAB II
A. Pengertian Listrik
Kelistrikan adalah sifat benda yang muncul dari adanya muatan listrik. Listrik, dapat juga
diartikan sebagai berikut:
1. Listrik adalah kondisi dari partikel sub atomik tertentu, seperti elektron dan proton, yang
menyebabkan penarikan dan penolakan gaya di antaranya.
2. Listrik adalah sumber energi yang disalurkan melalui kabel. Arus listrik timbul karena muatan
listrik mengalir dari saluran positif ke saluran negatif.
Bersama dengan magnetisme, listrik membentuk interaksi fundamental yang dikenal sebagai
elektromagnetisme. Listrik memungkinkan terjadinya banyak fenomena fisika yang dikenal luas,
seperti petir, medan listrik, dan arus listrik. Listrik digunakan dengan luas di dalam aplikasi - aplikasi
industri seperti elektronik dan tenaga listrik.
Benda yang bermuatan listrik dikelilingi sebuah daerah yang disebut medan listrik. Dalam
medan ini, muatan listrik dapat dideteksi. Menurut Faraday (1791- 867), suatu medan listrik keluar dari
setiap muatan dan menyebar ke seluruh ruangan. Untuk memvisualisasikan medan listrik, dilakukan
dengan menggambarkan serangkaian garis untuk menunjukkan arah medan listrik pada berbagai titik di
ruang, yang disebut garis-garis gaya listrik. Untuk lebih jelasnya lihatlah gambar ilustrasi berikut.

14
Gambar a merupakan partikel bermuatan positif. Garis-garis yang keluar dari partikel a
disebut dengan medan listrik. Arah medan listrik pada gambar a keluar dari partikel bermuatan positif.
Perhatikan pada gambar b, pada gambar tersebut merupakan partikel bermuatan negatif. sama dengan
gambar a garis-garis yang ada pada gambar b merupakan medan listrik. Bedanya dengan partikel
bermuatan positif, arah medan listrik pada partikel bermuatan negatif menuju pusat arah partikel. Dari
pembahasan ini kita dapat menjelaskan bagaimana dua partikel yang sejenis tolak-menolak dan partikel
yang lain jenis tarik menarik. Agar lebih jelas perhatikan ilustrasi gambar berikut ini.

Gambar a merupakan interaksi dua partikel yang berlainan jenis. Perhatikan garis medan listriknya,
garis dari partikel postif menuju partikel negatif.Ini menjeelaskan mengapa dua partikel tersebut dapat
tarik menarik. Pada gambar b dapat kita lihat partikel yang muatanya sama. Garis medan listrik pada
partikel tersebut saling menjauhi satu sama lain. Sehingga kedua partikel tersebut saling tolak-menolak.

Rumus matematika untuk medan listrik dapat diturunkan melalui Hukum Coulomb, yaitu gaya antara
dua titik muatan:

Menurut persamaan ini, gaya pada salah satu titik muatan berbanding lurus dengan besar muatannya.
Medan listrik didefinisikan sebagai suatu konstan perbandingan antara muatan dan gaya :

Maka, medan listrik bergantung pada posisi. Suatu medan, merupakan sebuah vektor yang bergantung
pada vektor lainnya. Medan listrik dapat dianggap sebagai gradien dari potensial listrik. Jika beberapa
muatan yang disebarkan menghasiklan potensial listrik,gradien potensial listrik dapat ditentukan.

B. Sifat-sifat Listrik
Listrik memberi kenaikan terhadap 4 gaya dasar alami, dan sifatnya yang tetap dalam benda
yang dapat diukur. Dalam kasus ini, frase "jumlah listrik" digunakan juga dengan frase "muatan listrik"
dan juga "jumlah muatan". Ada 2 jenis muatan listrik: positif dan negatif. Melalui eksperimen, muatan-
sejenis saling menolak dan muatan-lawan jenis saling menarik satu sama lain. Besarnya gaya menarik
dan menolak ini ditetapkan oleh hukum Coulomb. Beberapa efek dari listrik didiskusikan dalam
fenomena listrik dan elektromagnetik.

15
Satuan unit SI dari muatan listrik adalah coulomb, yang memiliki singkatan "C".
Simbol Q digunakan dalam persamaan untuk mewakili kuantitas listrik atau muatan. Contohnya, "Q=0,5
C" berarti "kuantitas muatan listrik adalah 0,5 coulomb".
Jika listrik mengalir melalui bahan khusus, misalnya dari wolfram dan tungsten, cahaya pijar
akan dipancarkan oleh logam itu. Bahan-bahan seperti itu dipakai dalam bola lampu (bulblamp atau
bohlam).
Setiap kali listrik mengalir melalui bahan yang mempunyai hambatan, maka akan dilepaskan
panas. Semakin besar arus listrik, maka panas yang timbul akan berlipat. Sifat ini dipakai pada elemen
setrika dan kompor listrik.

C. Tanda muatan listrik

Muatan listrik dapat bernilai negatif, nol (tidak terdapat muatan atau jumlah satuan muatan
positif dan negatif sama) dan negatif. Nilai muatan ini akan memengaruhi perhitungan medan listrik
dalam hal tandanya, yaitu positif atau negatif (atau nol). Apabila pada setiap titik di sekitar sebuah
(atau beberapa) muatan dihitung medan listriknya dan digambarkan vektor-vektornya, akan terlihat
garis-garis yang saling berhubungan, yang disebut sebagai garis-garis medan listrik. Tanda muatan
menentukan apakah garis-garis medan listrik yang disebabkannya berasal darinya atau menuju darinya.
Telah ditentukan (berdasarkan gaya yang dialami oleh muatan uji positif), bahwa:
1. Muatan positif (+) akan menyebabkan garis-garis medan listrik berarah dari padanya menuju
keluar,
2. Muatan negatif (-) akan menyebabkan garis-garis medan listrik berarah menuju masuk padanya.
3. Muatan nol ( ) tidak menyebabkan adanya garis-garis medan listrik.

D. Teori Dasar Medan Gaya Listrik


1. Garis medannya memiliki awal dan akhir, berawal dari penghantar bertegangan sebagai
sumbernya dan berakhir pada struktur konduktif.
2. Besaran medan listrik
3. Kuat medan listrik E, satuan kV/m.

Medan adalah suatu besaran yang mempunyai harga pada tiap titik dalam ruang. Atau secara
matematis, medan merupakan sesuatu yang merupakan fungsi kontinu dari posisi dalam ruang.
Medan Listrik merupakan daerah atau ruang di sekitar benda yang bermuatan listrik dimana,
jika sebuah benda bermuatan lainnya diletakkan pada daerah itu masih mengalami gaya elektrostatis
(disebut juga gaya coulomb).

16
Gaya listrik adalah gaya yang dialami oleh obyek bermuatan yang berada dalam medan
listrik. Rumusan gaya listrik kadang sering dipertukarkan dengan hukum Coulomb, padahal gaya listrik
bersifat lebih umum ketimbang hukum tersebut, yang hanya berlaku untuk dua buah muatan titik. Jadi
suatu titik dikatakan berada dalam medan listrik apabila suatu benda yang bermuatan listrik
ditempatkan pada titik tersebut akan mengalami gaya listrik.

Gambar diatas titik B berada didalam daerah medan listrik yang disebabkan oleh benda bermuatan A.
Gaya listrik, sebagaimana umumnya gaya, dilambangkan dengan huruf F atau biasa d iberi
indeks kecil di bawah E (electric) atau L (listrik).
F = qE
dimana : q = muatan listrik (coulomb)
E = medan listrik (N/C)

Medan Listrik sering juga di pakai istilah kuat medan listrik atau intensitas medan listrik. Kuat
medan listrik di suatu titik adalah gaya yang diderita oleh suatu muatan percobaan yang diletakkan
dititi itu dibagi oleh besar muatan percobaan.
Adanya medan gaya listrik digambarkan oleh Garis Medan Listrik (Lines of Force) yang
mempunyai sifat:
1. Garis Medan listrik keluar dari muatan positif menuju ke muatan negatif
2. Garis medan listrik antara dua muatan tidak pernah berpotongan
3. Jika medan listrik di daerah itu kuat, maka garis medan listriknya rapat dan sebaliknya.

Medan ada dua macam yaitu :


* Medan vektor, misalnya medan listrik dan medan magnet
Ada dua jenis muatan listrik yang diberi nama positif dan negatif. Muatan listrik selalu
merupakan kelipatan bulat dari satuan muatan dasar e. Muatan dari elektron adalah - e dan proton + e.
Benda menjadi bermuatan akibat adanya perpindahan muatan dari satu benda ke benda lainnya,
biasanya dalam bentuk elektron. Muatan bersifat kekal. Muatan tidak diciptakan maupun dimusnahkan
pada proses pemberian muatan, tetapi hanya berpindah tempat.
Gaya yang dilakukan oleh satu muatan kepada muatan lainnya bekerja sepanjang garis yang
menghubungkan muatan-muatan. besarnya gaya berbanding lurus dengan hasil kali muatanmuatan dan
berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. Gaya akan tolak menolak jika muatanmuatan mempunyai
17
tanda yang sama dan akan tarik menarik jika mempunyai tanda yang tidak sama. Hasil ini dikenal sebagai
Hukum Coulomb :

dimana :
F = gaya tarik (N)
r = jarak muatan q1 dan q2 (m)
k = tetapan Coulumb = 8,99x109 (N.m2 /C2)
q1 dan q2 = muatan listrik (Coulumb)

Sebuah muatan listrik dikatakan memiliki medan listrik di sekitarnya. Medan listrik adalah
daerah di sekitar benda bermuatan listrik yang masih mengalami gaya listrik. Jika muatan lain berada di
dalam medan listrik dari sebuah benda bermuatan listrik, muatan tersebut akan mengalami gaya listrik
berupa gaya tarik atau gaya tolak.
Arah medan listrik dari suatu benda bermuatan listrik dapat digambarkan menggunakan garis-
garis gaya listrik. Sebuah muatan positif memiliki garis gaya listrik dengan arah keluar dari muatan
tersebut. Adapun, sebuah muatan negatif memiliki garis gaya listrik dengan arah masuk ke muatan
tersebut.
Besar medan listrik dari sebuah benda bermuatan listrik dinamakan kuat medan listrik. Jika
sebuah muatan uji q’ diletakkan di dalam medan listrik dari sebuah benda bermuatan, kuat
medanlistrik E benda tersebut adalah besar gaya listrik F yang timbul di antara keduanya dibagi besar
muatan uji. Jadi, dituliskan:
F = E q’
Kuat medan listrik juga merupakan besaran vektor karena memiliki arah, maka penjumlahan antara
dua medan listrik atau lebih harus menggunakan penjumlahan vektor. Arah medan listrik dari sebuah
muatan positif di suatu titik adalah keluar atau meninggalkan muatan tersebut. Adapun, arah medan
listrik dari sebuah muatan negatif di suatu titik adalah masuk atau menuju ke muatan tersebut.

E. HUKUM OHM

Pengertian Hukum Ohm


Bila ada dua titik mempunyai potensial bereda berarti kedua titik tersebut mempunyai beda
potensial.

Kemudian bila kedua titik tersebut di hubungkan dengan suatu penghantar , maka pada penghantar
ersebut akan mengalir arus listril . besarnya arus listrik tersebut tergantung dari besarnya beda potensial
kedua titik tersebut dan nilai tahanan penghantarnya .Besarnya arus listrik tersebut ternyata berbanding
terbalik dengan tahanan penghantarnya.

Untuk menghasilkan arus listrik dalam satu rangkaian diperlukan suatu beda potensial. George
Simon Ohm (1787 – 1854) yang pertama kali secara eksperimen menunjukkan bahwa arus listrik
dalam kawat logam (I) sebanding dengan beda potensiall atau tegangan (V) yang diberikan pada kedua
ujungnya.I sebanding V ...(1)
Secara tepat berapa besarnya arus yang mengalir dalam kawat tidak hanya bergantung pada tegangan,

18
tetapi juga pada hambatan yang diberikan oleh kawat terhadap aliran elektron. Mengambil analogi
dengan aliran air, dinding pipa, pinggir sungai dan batu di tengahnya memberikan hambatan terhadap
aliran air. Hal yang serupa, elektron diperlambat oleh interaksi dengan atom dalam kawat. Hambatan
yang lebih tinggi akan mengurangi arus listrik untuk suatu tegangan tertentu. Sehingga hambatan dapat
didefinisikan sebagai suatu besaran yang berbanding terbalik dengan arus. I = .....(2)
Di mana R adalah hambatan dari kawat atau komponen elektronik lainnya, V adalah beda potensial yang
melewati komponen dan I adalah arus yang mengalir melalui komponen tersebut. Persamaan (2) dapat
ditulis sebagai berikut : V = IR .............(3)
Persamaan (3) dikenal sebagai Hukum Ohm.

Banyak Fisikawan mengatakan bahwa persamaan (3) bukanlah suatu hukum melainkan hanya
definisi untuk hambatan. Jika kita menyatakan Hukum Ohm, cukup dengan mengatakan bahwa arus
yang melalui konduktor logam sebanding dengan tegangan yang diberikan. Karenanya hambatan (R)
dari suatu bahan atau komponen adalah konstan, tidak tergantung pada tegangan.

Tetapi persamaan (3) tidak berlaku umum untuk bahan dan komponen lain seperti diode,
tabung vakum, transistor, dan lain-lain. Karenanya Hukum Ohm bukanlah hukum fundamental, tetapi
merupakan deskripsi dari suatu kelompok material tertentu (konduktor logam).

Bunyi Hukum Ohm :


“ Kuat arus yang melalui suatu penghantar adalah sebanding dengan beda potensial antara ujung-ujung
penghantar asalkan suhu penghantar tetap.”
George Ohm juga menyatakan dalilnya dalam bentuk rumus. Ini merupakan rumus dasar
yang digunakan untuk menghitung nilai listrik. Nilai tersebut bisa dihitung selama dua nilai
lainnya diketahui. Rumus : I = E/R

dimana I = Arus listrik diukur dalam ampere.


E = Tekanan listrik diukur dalam Volt.
R = Hambatan/Tahanan diukur dalam Ohm.

Jika anda mengetahui adanya dua nilai dalam sirkuit, anda dapat menentukan salah satu yang
hilang dengan menggunakan rumus Hukum Ohm dan berikut prosedurnya.
1. Tutuplah hruf yang tidak diketahui nilainya.
2. Gantilah huruf sisanya dengan nilai yang sudah diketahui
3. Pecahkan nilai yang hilang dengan menggunakan Rumus Hukum Ohm.

Dalam teknik listrik banyak sekali yang harus di perhatikan salah satunya adalah hukum-
hukum tentang listrik di antaranya adalah hokum ohm , untuk itu dalam makalah ini akan di jelaskan
,agar dalam pengukuran arus listrik tidak terjadi kesalahan .
Dalam hukum Ohm (Ω) adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir
melalui sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan kepadanya.
Sebuah benda penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila nilai resistansinya tidak bergantung
terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan kepadanya. Walaupun pernyataan ini tidak
selalu berlaku untuk semua jenis penghantar, namun istilah "hukum" tetap digunakan dengan alasan
sejarah. Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan persamaan

Dimana I adalah arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar dalam satuan Ampere, V
adalah tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar dalam satuan volt, dan R adalah
nilai hambatan listrik (resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar dalam satuan ohm.Hukum ini
dicetuskan oleh Georg Simon Ohm, seorang fisikawan dari Jerman pada tahun 1825 dan dipublikasikan
pada sebuah paper yang berjudul The Galvanic Circuit Investigated Mathematically pada tahun 1827.
Dalam mengukut arus, hambatan , dan sebagainya sudah ada alat untuk mengukur, tapi dalam
pengunaan lat harus ada dasar teori dan praktek untuk mendapatkan hasil atau mengetahui besarnya
arus dalam konstruksi listrik.

19
Maka dari itu mahasiswa di berikan mata kuliah teknik dasar listrik agar mahasiswa tidak asal
memasukan data pengukuran karena dalam alat pengukuran yang sudah ada yaitu multimeter nilai yang
sudah tertera pada saat mengukur bukanlah nilai sebenarnya karena hasil pengukuran alat tersebut
belum diketahui arus sebenarnya.
Untuk itu dalam pengukuran arus,tegangan ,dan hambatan harus menggunakan sistematis
dengan menggunakan hokum Ohm. V, I, dan R sebagai komponen parameter dalam Hukum Ohm.
Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir melalui sebuah
penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan kepadanya. Sebuah benda
penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila nilai resistansinya tidak bergantung terhadap
besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan kepadanya. Walaupun pernyataan ini tidak selalu
berlaku untuk semua jenis penghantar, namun istilah "hukum" tetap digunakan dengan alasan sejarah.
Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan persamaan:
dimana I adalah arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar dalam satuan Ampere, V adalah
tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar dalam satuan volt, dan R adalah nilai
hambatan listrik (resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar dalam satuan ohm.

D. Teori Dasar Listrik – Hukum OHM

Setelah mengenal beberapa “teori dasar listrik “sekarang kita kenalan dengan Hukum OHM.
Berdasarkan percobaan, bila antara 2 buah titik yang di hubungkan dengan sebuah kawat penghantar
terdapat beda tegangan (E), maka akan mengalir arus listrik (I) yang mengalir melalui kawat
penghantar tersebut.

Banyaknya arus yang mengalir pada kawat penghantar tersebut tergantung dari beda tegangan
antara ke 2 titik tersebut. Makin besar beda tegangan antara titik A dengan titik B, maka makin besar
pula arus yang akan mengalir pada kawat penghantar tersebut.
Besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar, selain tergantung dari besarnya beda
tegangan juga dipengaruhi oleh:
1. Besar kecilnya diameter atau garis tengah dari kawat penghantar.
2. Jenis dari kawat penghantar.

Besar kecilnya arus listrik di ukur dengan satuan ampere atau disingkat A dan notasinya dituliskan
dengan huruf I.

Nama Ampere diambil sebagai tanda penghormatan terhadap seorang sarjana Perancis yang
bernama Andre Marie Ampere (1755-1836).
Pada percobaan rangkaian elektronika pada umumnya kita akan menghubungkan dengan penggunaan
arus listrik yang ukurannya relative kecil, sehingga untuk menuliskan nilai arus yang kecil tersebut
diperlukan satuan yang lebih kecil dari ampere (A)
Satuan yang lebih kecil dari ampere adalah mili Ampere =1mA = 0,001A =10-3A 1
micro Ampere = 1 uA =0,000.001 = 10-6 A

Dari hasil percobaan di atas ternyata kuat arus (I) berbanding langsung dengan beda tegangan (E),
sehingga hasil bagi dari beda tegangan (E) dan arus (I) merupakan suatu bilangan tetap. Bilangan ini
merupakan suatu tahanan dari kawat penghantar yang dilalui arus tadi. Besar kecilnya tahanan dapat di
ukur dengan satuan Ohm dan tahanan sendiri di tuliskan dengan notasi R.
Berdasarkan hukum Ohm, hubungan antara tegangan listrik, arus listrik dan tahanan listrik dapat dibuat
persamaan sebagai berikut:

Timbulnya perbedaan antara tegangan yang terjadi pada percobaan di atas di sebabkan karena
adanya tekanan dan perlawanan dari adanya perpindahan electron-elektron yang berpindah dari kutub
negative ke kutub positif yang mengalir pada kawat penghantar tersebut.
Besar kecilnya tegangan listrik dapat diukur dengtan satuan Volt atau disingkat V dan notasinya
dituliskan dengan huruf E. Nama satuan Volt diambil sebagai tanda penghormatan yang diberikan
terhadap seorang sarjana Italia yang bernama Alesandro Guiseppe Antomio Volta (1766-1857) yaitu
sebagai penemu elemen Volta.
Perlu diketahui bahwa pada umumnya pembangkit tegangan listrik masa kini dapat menghasilkan

20
tegangan listrik dalam jumlah yang sangat besar, yang ukurannya kadang-kadang sampai mencapai
berjuta-juta Volt dan ini tentunya untuk menuliskan angka sebesar itu harus dituliskan dengan satuan
listrik yang lebih besar dari Volt.

Satuan yang lebih besar dari Volt adalah:


1 kila Volt = 1 KV = 1.000 V = 103 V
1 mega Volt = 1MV = 1.000.000 V = 106 V

Dan sebaliknya pada percoban-percobaan elektronika kadang kala kita akan berhubungan dengan
tegangan listrik yang nilainya lebih kecil dari satuan Volt. Satuan yang lebih kecil dari Volt adalah:

1 mili Volt = 1 mV = 0,001V


1 micro Volt = 1 uV = 0,000,001 V
1 micro-micro Volt = 1 uuV = 0,000.000.000.001 V
Untuk mengukur ketiga besaran arus listrik di atas yaitu tegangan listrik, arus listrik dan tahanan listrik
dapat dipergunakan sebuah alat ukur listrik yang dinamakan Avometer/multi meter.

Hambatan Kawat Penghantar


Hasil eksperimen menunjukkan bahwa hambatan kawat penghantar R berbanding lurus
dengan panjang kawat lurus / dan berbanding terbalik dengan luas penampang kawat A. secara
matematis dapat dirumuskan sebagai berikut. Besaran “P” (row) dikenal sebagai hambatan jenis atau
resistivitas yang nilainya bergantung pada jenis bahan penghantar, dalam suatu batas perubahan suhu
tertentu, perubahan hambatan jenis sebanding dengan besar perubahan suhu (At) = Delta “t”, karena
hambatan R berbanding lurus dengan hambatan jenis “P”, maka perubahan nilai hambatan akan
mengikuti hubungan, sehingga dengan :

Rt = Hambatan pada suhu t0C


R0 = Hamabtan mula-mula
ɑ = Koefisien suhu hambatan jenis (per
0
C) Δt = perubahan suhu (oC)

koefisien suhu hambatan jenis (ɑ) tergantung pada jenis bahan, meskipun hambatan jenis sebagian
besar logam bertambah akibat kenaikan suhu, namun bahan tertentu hambatan jenis justru akan
semakin kecil akibat kenaikan suhu. Halini terjadi pada bahan semikonduktor yaitu, karbot, grafit,
geranium, dan silicon.

Hubungan antara Tegangan, Arus dan Tahanan


Suatu rangkaian listrik terbentuk bila jalan konduktif terhubung sehingga dapat melakukan
electron bebas untuk bergerak secara kontinu. Pergerakan kontinu electron-elektroin bebas yang
melalui konduktor pada rangkaian disebut arus, dan sering disebut dengan istilah “Aliran” seperti aliran
air yang melalui pipa bolong.
gaya yang menggerakan electron-elektron bebas agar mengalir dalam rangkaian disebut
tegangan. Tegangan adalah ukuran tertentu dari energy potensial yang selalau ebrhunbungan dengan
dua titik. Ketika tegangan pada nilai tertentu ada dalam sebuah rangkaian listrik, maka hal ini
menunjukkan pada ukuran seberapa besar energy potensial yang ada untuk menggerakkan electron dari
satu titik ke titik yang lain dalam rangkaian tersebut. Dengan demikian tanpa menunjukkan dua titik
tertentu istilah tegangan tidak memiliki arti.
electron-elektron bebas yang bergerak melalui konduktor cenderung mengalami gesekan atau
perlawanan gerakan. Perlawanan gerakan lebit tepat bila disebut dengan tahanan (resistansi) . jumlah
arus dalam rangkaian tergantung pada nilai tegangan yang tersedia untuk menggerakakn electron-
elektron bebas, dan juga nilai tahanan dalam rangkaian yang melawan aliran electron. Sama seperti
tegangan, tahanan adalah nilai relative antara dua titik. Berdasarkan hal ini, maka nilai tegangan dan
tahanan sering dinyatakan sebagai “antara” atau “ melalui” dua titik dalam rangkaian.

Trik Menggunakan Rumus Hukum Ohm

21
Untuk mengetahui tegangan (V), pada segitiga persamaan Ohm di atas, “V” diberi warna biru
yang berarti nilai yang dicari. Sedangkan arus (I) dan resistansi (R) diberi warna hijau yang berarti
solusi untuk mencari nilai “V”, karena posisi “I” dan “R” sejajar secara horizontal dalam segitiga
tersebut yang memiliki arti I x R, jadi V = I x R.

Pada segitiga kedua digunakan untuk mencari nilai arus (I) ditandai dengan “I” diberi warna
biru. Sedangkan tegangan “V” dan resistansi “R” diberi warna hijau yang berarti solusi untuk mencari
nilai “I”. Posisi “V” dan “R” berada pada posisi vertikal sehingga memiliki arti V / R, jadi I = V / R.

Pada segitiga ketiga digunakan untuk mencari nilai resistansi (R) yang ditandai dengan “R”
diberi warna biru. Sedangkan tegangan “V” dan arus “I” diberi warna hijau yang berarti solusi untuk
mencari nilai “R” dan posisi “V” dan “I” berada pada posisi vertikal sehingga memiliki arti V / I, jadi R
= V / I.

HUKUM OHM (untuk rangkaian tertutup)

I=nE
R + n rd I = n
R + rd/p
n = banyak elemen yang disusun seri
E = ggl (volt)
rd = hambatan dalam elemen
R = hambatan luar
p = banyaknya elemen yang disusun paralel

RANGKAIAN HAMBATAN DISUSUN SERI DAN PARALEL

R = R1 + R2 + R3 + ...
V = V1 + V2 + V3 + ...
I = I1 = I2 = I3 = ... PARALEL 1 = 1 + 1 + 1
R R1 R2 R3
V = V1 = V2 = V3 = ...
I = I1 + I2 + I3 + ...

ENERGI DAN DAYA LISTRIK


ENERGI LISTRIK (W)
adalah energi yang dipakai (terserap) oleh hambatan R.

W = V I t = V²t/R = I²Rt
Joule = Watt.detik; KWH = Kilo.Watt.jam
DAYA LISTRIK (P) adalah energi listrik yang terpakai setiap detik.
P = W/t = V I = V²/R = I²R

Percobaan Hukum Ohm

22
Percobaan Hukum Ohm,rangkaian Percobaan Hukum Ohm,hukum ohm,george simon ohm,teori
ohm,teorema ohm,teori hukum ohm,rumus hukum ohm,penyataan hukum ohm,bunyi hukum
ohm,artikel hukum ohm,meteri hukum ohm,definisi hukum ohm,percobaan ohm,penemu hukum
ohm,tahun penemuan hukum ohm,majalah publikasi hukum ohm,judul artikel hukum ohm,persamaam
hukum ohm,gambar hukum ohmpengertian hukum ohm Rangkaian percobaan hukum ohm diatas
adalah rangkaian listrik yang dapat digunakan untuk membuktikan teorema atau hukum ohm. Hukum
ini ditemukan atau dicetuskan oleh George Simon Ohm, seorang fisikawan dari Jerman pada tahun
1825 dan dipublikasikan pada sebuah paper yang berjudul The Galvanic Circuit Investigated
Mathematically pada tahun 1827. Berlakunya hukum ohm sangat terbatas pada kondisi-kondisi
tertentu, bahkan hukum ini tidak berlaku jika suhu konduktor tersebut berubah. Untuk material –
material atau piranti elektronika tertentu seperti diode dan transistor, hubungan I dan V tidak linier.

Contoh peristiwa dalam arus listrik

Gejala kelistrikan ditimbulkan oleh aliran muatan listrik antara dua titik. Semua alat listrik
yang setiap hari kita gunakan merupakan susunan komponen-komponen listrik yang membentuk jalur
tertutup yang disebut rangkaian.

Dalam pengukuran kelistrikan dapat d hitung secara sistematis

V=RI
R merupakan faktor pembanding yang besarnya tetap untuk suatu penghantar (pada suhu
tertentu). Faktor pembanding ini dinamakan hambatan suatu penghantar.

Dalam suatu hambatan juga di pengaruhi factor-faktor:


1. Panjang kawat penghantar ( l ), Semakin panjang kawat semakin besar besar pula
nilai hambatannya.
2. Luas penampang kawat penghantar (A),Semakin besar penampang penghantar,
semakin kecil nilai hambatannya.
3. Hambat jenis kawat penghantar ( ρ ), Semakin besar hambat jenis penghantar,
23
semakin besar nilai hambatannya. Perhitungan secara sistematis

Penggunaan Hukum Ohm

Kita telah mengenal tiga besaran dalam listrik dinamik, yakni kuat arus listrik, tegangan, dan
hambatan, atau I, V, dan R. dan seorang penemu telah merumuskan yaitu George Simon Ohm (1789-
1854) merumuskan hubungan antara kuat arus listrik (I), hambatan (R) dan beda potensial (V) yang
kemudian dikenal dengan hukum Ohm yang penurunannya sebagai berikut : sebuah kawat konduktor
dengan panjang l dan luas penampang A

Karena berbentuk silinder volume dari dV adalah :

karena dl adalah jarak yang ditempuh elektron dengan kecepatan Vd dengan waktu 1 detik maka :

Penerapan hukum ohm dalam kehidupan sehari –


hari misalnya pada:
a) Penggunaan alat – alat listrik seperti lampu. TV, kulkas, dan sebagainya harus
disesuaikan dengan tegangan
b) Bila alat listrik diberi tegangan yang lebih kecil dari tegangan yang seharusnya, arus
akan mengecil sehingga alat itu tidak bekerja normal (misalnya lampu redup).
c) Contoh:
1) Lampu padam karena tegangan lampu yang dibutuhkan 4,5 V sedangkan tegangan
dari baterai 1,5 V
2) Lampu redup karena tegangan yang dibutuhkan 4,5 V sedangkan tegangan dari
batu baterai 3 V sehingga kekurangan tegangan
3) Lampu menyala terang karena tegangan lampu yang dibutuhkan 4,5 V sama
dengan tegangan dari batu baterai 4,5 V
4) Lampu menyala sangat terang karena tegangan yang dibutuhkan lampu 4,5 V
sedangkan dari baterai 6 V sehingga tegangan melebihi lampu. Akibat ini lampu
cepat mati/putus.

Contoh Soal Hukum Ohm

Arus listrik 2A mengalir melalui seutas kawat penghantar ketika beda potensial 12 V diberikan pada
ujung-ujungnya. Tentukan hambatan listrik pada kawat tersebut!

Diketahui : i = 2A ; V= 12 V ; Ditanya : R ?

Jawab : R = V/I = 12/2 Jadi R = 6 ohm

24
Hambatan kawat dalam penghantar

Kawat yang hambat jenisnya 0,000 001 Ωm dan luas penampangnya 0,000 000 25 m² digunakan untuk
membuat elemen pembakar listrik 1kW yang harus memiliki hambatan listrik 57,6 ohm. Berapa
panjang kawat yang diperlukan?

Jawab : Diketahui ρ = 0,000 001 Ωm R = 57,6 Ω A = 0,000 000 25 m²

Ditanya L ? Jawab

R = ρ (L/A) = 57,6 = 0.000 001 . (L/o.oooooo25)


L = 57,6 . 0,25
L = 14,4 m

Rangkaian Seri

Bila R1 = 30 Ohm, R2 = 40 ohm dan R3= 10 ohm disusun secara seri, berapakah hambatan pengganti
dari rangkaian di atas?

Jawab :
Karena rangkaian seri, maka
Rangkaian pengganti =R1+R2=R3 = 30 + 40 + 10 = 80 Ohm

Rangkaian Paralel

Jika R1 = 10 ohm, R2 = 15 ohm dan R3 = 30 ohm disusun paralel, berapakah hambatan pengganti dari
rangkaian diatas?

Karena paralel mka :

1/R1+1/R2+1/R3 = 1/10+1/15+1/30= 6/30

Rangkaian pengganti = 30/6 = 5 Ohm.

SELAMAT BELAJAR SEMOGA BERHASIL

25