Anda di halaman 1dari 48

PROPOSAL PENELITIAN

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN MALARIA PADA IBU HAMIL DI


PUSKESMAS SENTANI KABUPATEN JAYAPURA

DISUSUN OLEH :
DWI SANDRA ASTUTI PAKOMBONG
NIM. PO.71.24.4.16.007

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAYAPURA
PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN

TAHUN 2019
DAFTAR ISI

Daftar Isi ...................................................................................................... i

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

A. Latar Belakang .................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah............................................................................... 2

C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 2

1. Tujuan Umum................................................................................ 2

2. Tujuan Khusus .............................................................................. 3

D. Manfaat ............................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 4

A. Landasan Teori.................................................................................... 4

1. Malaria .......................................................................................... 4

a. Pengertian Malaria .................................................................. 4

b. Gejala Klinis ............................................................................ 4

2. Vektor Malaria ............................................................................. 10

a. Bionomik Nyamuk Malaria .................................................... 10

b. Parasitologi ........................................................................... 13

c. Epidemiologi ......................................................................... 14

d. Patogenesis .......................................................................... 15

e. Diagnosis .............................................................................. 16

f. Pencegahan Malaria ............................................................. 18

g. Pemberantasan Malaria ........................................................ 20

i
ii

3. Faktor Risiko Kejadian Malaria.................................................... 21

a. Faktor Parasit ....................................................................... 21

b. Faktor Manusia ..................................................................... 23

c. Faktor Nyamuk ..................................................................... 24

d. Faktor Lingkungan ................................................................ 25

4. Konsep Dasar Kehamilan............................................................ 29

a. Pengertian ............................................................................ 29

b. Proses Kehamilan ................................................................. 30

c. Diagnosis Tanda Kehamilan ................................................. 33

B. Kerangka Teori .................................................................................. 36

C. Kerangka Konsep .............................................................................. 37

D. Definisi Operasional .......................................................................... 37

BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 41

A. Rancangan Penelitian ....................................................................... 41

B. Populasi dan Sampel......................................................................... 41

C. Instrumen Penelitian .......................................................................... 41

D. Pengumpulan Data ............................................................................ 42

E. Pengolahan Data ............................................................................... 42

F. Analisis Data ..................................................................................... 42

G. Penyajian Data .................................................................................. 43

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 44


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infeksi malaria pada kehamilan sangat merugikan baik bagi ibu dan

janin yang dikandungnya, karena infeksi ini dapat meningkatkan

kejadian morbiditas dan mortalitas ibu maupun janin. Pada ibu

menyebabkan anemia, malaria serebral, edema paru, gagal ginjal

bahkan dapat menyebabkan kematian. Pada janin menyebabkan

abortus, persalinan prematur, berat badan lahir rendah, dan kematian

janin. Infeksi pada wanita hamil oleh parasit malaria ini sangat mudah

terjadi, hal ini disebabkan oleh adanya perubahan sistim imunitas ibu

selama kehamilan, baik imunitas seluler maupun imunitas humoral,

serta diduga juga sebagai akibat peningkatan horman kortisol pada

wanita selama kehamilan.

Kabupaten Jayapura merupakan salah satu wilayah endemik

malaria di provinsi Papua. Kasus kematian secara umum yang tercatat

oleh Puskesmas tahun 2016 jumlahnya mencapai 79 kasus kematian

dibanding tahun 2015 yang terdiri dari 116 kasus. Penyebab kematian

tertinggi adalah kasus malaria dengan 16 kasus. (Jayapura, 2016).

Beberapa upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit

malaria telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura

diantaranya fogging, pembagian kelambu berinsektisida dan

pengobatan penderita tetapi pada kenyataannya sampai saat ini

1
2

penyakit malaria di Kabupaten Jayapura masih belum dapat

terselesaikan dengan tuntas.

Ini terbukti bahwa sampai saat ini wilayah Danau Sentani masih

tetap menjadi daerah endemik penyakit malaria. Jumlah masyarakat

yang tertular penyakit malaria di wilayah ini juga tidak berkurang.

Terkait dengan itu, pentingnya dilakukan penelitian di lokasi ini dengan

mengarahkan topik peneliti kepada Analisis Faktor Risiko Kejadian

Malaria pada Ibu Hamil di Puskesmas Sentani Kabupaten Jayapura.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas, maka dapat

disampaikan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apa yang menjadi risiko kejadian Malaria pada ibu hamil di

puskesmas Sentani Kabupaten Jayapura ?

2. Apa yang menjadi faktor risiko yang paling besar terhadap kejadian

malaria pada ibu hamil di puskesmas Sentani Kabupaten Jayapura

C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Tujuan Umum

Menganalisis secara khusus faktor risiko kejadian malaria

khususnya pada ibu hamil di puskesmas Sentani Kabupaten

Jayapura.
3

2. Tujuan Khusus

a. Untuk menganalisis hubungan risiko kejadian malaria pada ibu

hamil di puskesmas Sentani

b. Untuk mengetahui faktor risiko yang paling besar terhadap

kejadian malaria pada ibu hamil di puskesmas Sentani

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi institusi

Memberikan informasi hasil dan menambah data penelitian terkait

dengan faktor risiko kejadian malaria khususnya pada ibu hamil

2. Bagi masyarakat

Memberikan informasi terkait malaria khususnya pada ibu hamil

3. Bagi peneliti

Menambah pengalaman dalam melakukan penelitian dan

menambah wawasan dalam menganalisis faktor risiko kejadian

malaria terutama pada ibu hamil

4. Bagi peneliti lain

Sebagai acuan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan faktor

risiko malaria khususnya pada ibu hamil


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Malaria

a. Pengertian Malaria

Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung,

kera dan primate lainnya, hewan melata dan hewan pengerat,

disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium dan

mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin menggigil)

serta demam berkepanjangan (Depkes, 2003).

Malaria pada manusia dapat disebabkan oleh P.malariae,

P.vivax, P. falciparum, P.ovale. Penularan malaria dilakukan

oleh nyamuk betina dari tribus Anopheles. Dari sekitar 400

species nyamuk Anopheles telah ditemukan 67 spesies yang

dapat menularkan malaria dan 24 diantaranya ditemukan di

Indonesia. Selain oleh gigitan nyamuk, malaria dapat ditularkan

secara langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang

tercemar darah serta ibu hamil kepada bayinya (Harijanto,

2000).

b. Gejala Klinis

1) Gejala Umum Malaria

Gejala malaria terdiri dari beberapa serangan demam

dengan interval tertentu (disebut parokisme), diselingi oleh

4
5

suatu periode yang penderitanya bebas sama sekali dari

demam (disebut periode laten). Gejala yang khas tersebut

biasanya ditemukan pada penderita non imun. Sebelum

timbulnya demam, biasanya penderita merasa lemah,

mengeluh sakit kepala, kehilangan nafsu makan, merasa

mual, di ulu hati, atau muntah (semua gejala awal ini

disebut gejala prodormal). Masa tunas malaria sangat

tergantung pada spesies Plasmodium yang menginfeksi.

Masa tunas paling pendek dijumpai pada malaria

falciparum, dan terpanjang pada malaria kuartana

(P.malariae). Pada malaria yang alami, yang penularannya

melalui gigitan nyamuk, masa tunas adalah 12 hari (9-14)

untuk malaria falciparum, 14 hari (8-17 hari) untuk malaria

vivax, 28 hari (18-40 hari) untuk malaria kuartana dan 17

hari (16-18 hari) untuk malaria ovale. Malaria yang

disebabkan oleh beberapa strain P.vivax tertentu

mempunyai masa tunas yang lebih lama dari strain P.vivax

lainnya. Selain pengaruh spesies dan strain, masa tunas

bisa menjadi lebih lama karena pemakaian obat anti

malaria untuk pencegahan (kemoprofilaksis).

2) Pola Demam Malaria

Demam pada malaria ditandai dengan adanya parokisme,

yang berhubungan dengan perkembangan parasit malaria


6

dalam sel darah merah. Puncak serangan panas terjadi

berbarengan dengan lepasnya merozit – merozit ke dalam

peredaran darah (proses sporulasi). Untuk beberapa hari

pertama, pola panas tidak beraturan, baru kemudian

polanya yang klasik tampak sesuai spesiesnya. Pada

malaria falciparum pola panas yang ireguler itu mungkin

berlanjut sepanjang perjalanan penyakitnya sehingga

tahapan – tahapan yang klasik tidak begitu nyata terlihat.

Suatu parokisme demam biasanya mempunyai tiga stadia

yang berurutan, terdiri dari :

a) Stadium dingin

Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan

sangat dingin. Nadi penderita cepat, tetapi lemah. Bibir

dan jari – jari pucat kebiru – biruan (sianotik). Kulitnya

kering dan pucat, penderita mungkin muntah dan pada

penderita anak sering terjadi kejang. Stadium ini

berlangsung selama 15 menit – 1 jam.

b) Stadium Demam

Setelah menggigil/merasa dingin, pada stadium ini

penderita mengalami serangan demam. Muka

penderita menjadi merah, kulitnya kering dan dirasakan

sangat panas seperi terbakar, sakit kepala bertambah

keras, dan sering disertai dengan rasa mual atau


7

muntah – muntah. Nadi penderita menjadi kuat

kembali. Biasanya penderita merasa sangat haus dan

suhu badan bisa meningkat sampai 410 Celcius.

Stadium ini berlangsung selama 2–4 jam.

c) Stadium berkeringat

Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali,

sampai membasahi tempat tidur. Namun suhu badan

pada fase ini turun dengan cepat, kadang – kadang

sampai di bawah normal. Biasanya penderita tertidur

nyenyak dan pada saat terjaga, ia merasa lemah, tetapi

tanpa gejala lain. Stadium ini berlangsung selama 2-4

jam.

Sesudah serangan panas pertama terlewati, terjadi

interval bebas panas selama antara 48-72 jam, lalu

diikuti dengan serangan panas berikutnya seperti yang

pertama; dan demikian selanjutnya. Gejala – gejala

malaria “klasik” seperti diuraikan di atasa tidak selalu

ditemukan pada setiap penderita, dan ini tergantung

pada spesies parasit, umur, dan tingkat imunitas

penderita.

3) Mekanisme Periode Panas

Periode demam pada malaria mempunyai interval

tertentu, ditentukan oleh waktu yang diperlukan oleh siklus


8

aseksual/sizogoni darah untuk mengahasilkan sizon yang

matang, yang sangat dipengaruhi oleh spesies Plasmodium

yang menginfeksi. Demam terjadi menyusul pecahnya

sizon–sizon darah yang telah matang dengan akibat

masuknya merozoit – merozoit, toksin, pigmea dan

kotoran/debris sel ke peredaran darah. Masuknya toksin –

toksin, termasuk pigmen ke darah memicu dihasilkannya

tumor necrosis factor ( TNF ) oleh sel – sel makrofag yang

teraktifkan. Demam yang tinggi dan beratnya gejala klinis

lainnya, misalnya pada malaria falciparum yang berat,

mempunyai hubungan dengan tingginya kadar TNF dalam

darah. Pada malaria oleh P.vivax dan P.ovale sizon – sizon

pecah setiap 48 jam sekali sehingga demam timbul setiap

hari ketiga, yang terhitung dari serangan demam

sebelumnya (malaria tertiana) pada malaria karena

P.malariae pecahnya sizon (sporulasi) terjadi setriap 72 jam

sekali. Oleh karena itu, serangan panas terjadi setiap hari

keempat (malaria kuartana). Pada P.falciparum

kejadiannya mirip dengan infeksi oleh P.vivax hanya

interval demamnya tidak jelas, biasanya panas badan di

atas normal tiaphari, dengan puncak panas cenderung

mengikuti pola malaria tertiana (disebut malaria subtertiana

atau malaria quotidian).


9

4) Kekambuhan (relaps dan rekrudesensi)

Serangan malaria yang pertama terjadi sebagai akibat

infeksi parasit malaria, disebut malaria primer (berkorelasi

dengan siklus sizogoni dalam sel darah merah). Pada

infeksi oleh P.vivax/P.ovale, sesudah serangan yang

pertama berakhir atau disembuhkan, dengan adanya siklus

eksoeritrositik (EE) sekunder atau hipnozoit dalam sel hati,

suatu saat kemudian penderita bisa mendapat serangan

malaria yang kedua (disebut: malaria sekunder).

Berulangnya serangan malaria yang bersumber dari siklus

EE sekunder pada malaria vivax/ovale disebut relaps.

Umumnya relaps terjadi beberapa bulan (biasanya>24

minggu) sesudah malaria primer, disebut long- term

relapse.

Pada malaria karena P.falciparum dan P. malariae,

relaps dalam pengertian seperti diatas tidak terjadi, karena

kedua spesies ini tidak memiliki siklus EE sekunder dalam

hati. Kemungkinan berulangnya serangan malaria pada

kedua jenis malaria ini disebabakan oleh kecenderungan

parasit malaria bersisa dalam darah, yang kemudian

membelah diri bertambah banyak sampai bisa

menimbulkan gejala malaria sekunder. Kekambuhan

malaria seperti ini disebut rekrudesensi. Pada malaria


10

karena P.falciparum rekrudesensi terjadi dalam beberapa

hari atau minggu (biasanya <8 minggu) sesudah serangan

malaria primer, disebut short term relapse. Namun pada

malaria karena P.malariae, karena suatu mekanisme yang

belum begitu jelas, kekambuhan terjadi dalam rentang

waktu jauh lebih lama. Bisa terjadi beberapa tahun atau

bahkan puluhan tahun sejak serangan pertama (sutrisna,

2004).

2. Vektor Malaria

a. Bionomik nyamuk malaria

1) Anopheles farauti

Anopheles farauti hampir bisa ditemukan disemua

genangan air. Hal ini disebabkan oleh karena perilaku

berkembang biak nyamuk tersebut, dimana An.farauti dapat

berkembang biak di air tawar, air payau maupun air limbah,

baik pada genangan air di tanah maupun genangan air di

dalam perahu. Pada genangan air di tanah An.farauti lebih

menyukai tempat yang kena sinar mata hari, air jernih,

dangkal dan ada tumbuh-tumbuhan airnya, misalnya

rumput dan kangkung. Genangan air ini bisa genangan air

sementara seperti bekas roda, bekas tapak kaki dan

genangan air di tanah yang rendah ataupun genangan air

tetap seperti rawa-rawa, kolam ikan, pinggiran sungai, parit


11

dan got yang tidak mengalir. Pada genangan air di dalam

perahu biasanya tanpa tumbuh-tumbuhan agak terlindung.

Dengan demikian An.farauti dapat menjadi vektor yang

potensial di daerah pantai, daerah pedalaman dan

pegunungan.

2) Anopheles punctulatus

Anopheles punctulatus memiliki perilaku berkembang

biak yang lain dari An.farauti. An.punctulatus tidak dapat

berkembang biak di air payau maupun air limbah.

Genangan air yang disukai adalah genangan air sementara

seperti bekas galian, parit-parit yang baru, jejak roda

kendaraan dan jejak kaki, tanpa tumbuh-tumbuhan air,

kena sinar mata hari dan berlumpur. Sehingga

An.punctulatus dapat menjadi vektor yang potensial di

lokasi yang sedang dibuka atau daerah-daerah yang

berlumpur.

3) Anopheles coliensis

Anopheles coliensis ditemukan di empat kabupaten

yaitu Jayapura, Manokwari dan Jayawijaya. Hal ini

disebabkan karena perilaku berkembang biak nyamuk ini

berbeda dengan An.punctulatus . Genangan air yang

disukai untuk tempat perkembang biakkan An.coliensis

adalah genangan air di pinggir hutan sagu untuk daerah


12

pantai dan hutan pandan berduri untuk daerah

pegunungan, air tawar, jernih, dangkal, terlindung dari sinar

matahari. Dengan demikian Anopheles coliensis berperan

sebagai vektor malria yang potensial di daerah-daerah

dengan rawa sagu atau pandan berduri.

4) Anopheles bancrofti

Anopheles bancrofti ditemukan dalam jumlah yang

banyak pada waktu musim hujan di Kabupaten Merauke,

oleh karena genangna air yang disenangi untuk

berkembang biak adalah rawa-rawa air tawar, jernih

dengan rumput-rumputan yang tinggi dan terlindung dari

sinar mata hari. Menurut Assem dan Bonne-Wepster 1964

An.boncrofti ditemukan juga di Jayapura dan Sentani, tetapi

pada penangkapan nyamuk yang dilakukan pada tahun

1968-1977 di kedua tempat tersebut tidak pernah

ditemukan jenis nyamuk ini.

5) Anopheles karwari

Anopheles karwari sangat menyukai genangan air

tawar, dangkal, jernih, dan mengalir perlahan di sela-sela

rumputan. An karwari ditemukan di Senggi. Menurut

Bonne-Wepster and Swellengrebel (1953), jenis nyamuk ini

belum pernah ditemuka mengandung sporozoit di alam.

Horsfall (1955) pernah menemukan nyamuk ini


13

mengandung sporozoit di dalam 2 ekor dari 128 ekor

nyamuk yang diselidiki. Menurut Assem dan Bonne-

Wepster (1964) An.karwari ditemukan di Jayapura, Sentani

dan Nimboran. Pada penangkapan nyamuk yang dilakukan

setelah 1968, di Jayapura dan Nimboran tidak pernah

tertangkap lagi. Di Sentani pada waktu penangkapan di

kampung Harapan ditemukan tetapi hanya sedikit. Hal ini

oleh karena adanya perubahan lingkungan di lokasi-lokasi

tersebut sehingga tidak sesuai lagi untuk perkembang

biakan An.karwari (pranoto, 1983).

b. Parasitologi

Malaria disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium,

pada manusia terdapat 4 spesies yaitu Plasmodium falcifarum,

P.vivax, P. malariae, P.ovale, P.facifarum menyebabkan infeksi

paling berat dan angka kematian tertinggi.

Parasit malaria merupakan suatu protozoa darah yang

termasuk dalam Phylum apicomplexa, kelas protozoa, sub

kelas coccidiida, ordo eucudides, sub ordo haemosporidiidae,

famili plasmodiidae, genus plasmodium dengan spesies yang

menginfeksi manusia adalah P.vivax, P. malariae, P. ovale. sub

genus lavarania dengan spesies yang menginfeksi malaria

adalah P. Falcifarum; serta sub genus vinkeia yang tidak


14

menginfeksi manusia (menginfeksi kelelawar, binatang

pengerat dan lain lain).

c. Epidemiologi

Di Indonesia malaria ditemukan tersebar luas di semua

pulau dengan derajat dan berat infeksi yang bervariasi.

Penularan malaria tergantung dari adanya tiga faktor utama

yang merupakan dasar epidemiologinya : hospes (manusia),

parasit (plasmodium) dan lingkungan (fisik, biologis dan sosial

ekonomi). Keadaan malaria di berbagai daerah endemik tidak

sama, derajat endemisitas dapat diukur dengan berbagai cara,

seperti angka limpa (spleen rate), angka parasit (parasite rate)

dan angka sporozoit (sporozoid rate) yang disebut

malariometri. Angka limpa adalah presentase orang dengan

pembesaran limpa pada penduduk daerah endemi yang

diperiksa.

Angka parasit di tentukan dengan presentase orang dengan

sediaan darahnya positif pada saat tertentu, sedang slide positif

rate (SPR) adalah persentase persediaan darah yang positif

dalam periode penemuan kasus (Cas Detection Activites).

Annual parasit incidence (API) adalah jumlah kesedian darah

positif dibandingkan dengan jumlah kesedian darah yang

diperiksa pertahun dalam permil (0/00). Berat ringannya infeksi

malaria pada suatu masyarakat diukur dengan densitas parasit


15

(parasite density), yaitu jumlah rata-rata parasit dalam sedian

darah positif. Berat ringannya infeksi malaria pada seseorang

diukur dengan hitung parasit (parasite count) yaitu jumlah

parasit dalam 1 mm3 darah.

Perubahan lingkungan yang dapat menyebabkan perubahan

tempat perindukan vektor, sangat berpengaruh terhadap

keadaan malaria, dan dapat mempunyai dampak positif atau

negatif terhadap keadaan malaria di daerah itu. Kolam-kolam

bandeng merupakan man made breeding places untuk An.

sundaicus, sedangkan pengolahan sawah yang terus menerus

merupakan man made breeding places untuk An. aconitus,

begitu juga aktivitas pembangunan dapat menyebabkan

timbulnya tempat perindukan manusia untuk vektor malaria,

sehingga keadaan malaria dapat naik dengan adanya

pembangunan tersebut.

d. Patogenesis

Perubahan patologik pertama adalah vascular yaitu

penghancuran eritrosit dan penyumbatan kapiler di alat-alat

dalam dan kedua, kelainan yang disebabkan oleh anoksemia

jaringan hati dan alat-alat lain. Tiap penghancuran sel darah

merah yang mengandung merozoit yang berlangsung berturut-

turut, merangsang reaksi humoral dan reaksi selular. Ini

merangsang fagositosis terhadap parasit, sel yang diinfeksi,


16

pigmen dan sisa sel-sel oleh histiosit pengembara dan oleh

makrofag tetap dari sistem letikuloendotel, khususnya dari

limpa, sehingga limpa membesar. Penimbunan pigmen yang

dibentuk oleh parasit malaria selama pertumbuhan dalam

eritrosit memberi warna kelabu atau hitam pada kortek serebri,

limpa, hati, ginjal dan alat-alat lain.

Palasmodium patogen pada manusia memberikan pola

infeksi yang berbeda mnurut spesies dan sering spesifik strain.

Beberapa faktor kunci yang berkaitan parasit memainkan suatu

peran dalam menyebabkan fenomena patogenesis seperti

kecepatan dan kepadatan skizogoni predileksi merozoit untuk

jenis eritrosit khusus, interaksi inang manusia dan parasit, dan

skuetrasi (pengasingan) eritrosit terinfeksi pada pembuluh-

pembuluh darah kecildimana merupakan peristiwa sentral dan

spesifik pada malaria falcifarum.

e. Diagnosis

Diagnosis malaria sebagaimana penyakit pada umumnya

didasarkan pada manifestasi klinik (termasuk anamnesis), uji

imunoserologis dan ditemukannya parasit (Plasmodium) di

dalam darah penderita. Manifestasi klinis demam malaria

seringkali tidak khas dan menyerupai penyakit infeksi lain

(demam dengue dan demam tifoid) sehingga menyulitkan para

klinisi untuk mendiagnosis malaria dengan mengandalkan


17

pengamatan manifestasi klinis saja, untuk itu diperlukan

pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosis malaria

sedini mungkin. Hal ini penting mengingat infeksi oleh parasit

Plasmodium terutama P. falciparum dapat berkembang dengan

cepat dan dapat menimbulkan kematian.

Cara satu-satunya untuk melakukan diagnosis infeksi

malaria adalah menemukan parasit Plasmodium dengan

pemeriksaan darah secara mikroskopis. Pemeriksaan ini

seharusnya dilakukan secara rutin. Tidak saja di daerah malaria

tetapi juga didaerah non malaria, apapun gejala atau

diagnosisnya, bila penderita pernah ke daerah endemi malaria

dalam waktu satu tahun. Alasannya terutama karena gambaran

klinis malaria dapat sangat bervariasi, infeksi malaria dapat

juga terjadi sebagai akibat transfusi darah dari donor yang

diinfeksi atau merupakan faktor komplikasi penyakit lain.

Pemeriksaan darah untuk parasit malaria dapat dilakukan

dengan mengambil darah dari jari tangan dan membuat

sediaan darah tebal dan tipis untuk kemudian dipulas dengan

giemsa. Pemeriksaan darah tebal dilakukan untuk memeriksa

dengan cepat adanya parasit malaria, terutama bila infeksinya

ringan. Pemeriksaan sediaan darah tipis dilakukan untuk

menentukan spesiesnya yaitu P. vivax, P. falciparum, P.


18

malariae, atau P. ovale. Kadang-kadang ditemukan infeksi

campur P. vivax dan P. falcifarum.

f. Pencegahan Malaria

Pencegahan penyakit malaria mencakup :

1) Pengurangan pengandung gametosit yang merupakan

sumber infeksi

Pengandung gametosit atau penderita adalah

merupakan sumber infeksi yang baik, bila pengandung

gametosit memiliki gametosit yang cukup banyak di dalam

darahnya maka pada saat darahnya diisap oleh nyamuk,

nyamuk terinfeksi dan dapat menularkan penyakit. Bila

gametosit yang terkandung dalam darah sedikit maka

nyamuk tidak dapat terinfeksi sehingga tidak dapat

menularkan penyakit.

2) Pemberantasan nyamuk vektor

Pemberantasan nyamuk meliputi pengendalian

tempat perindukan, larva dan nyamuk dewasa.

Pengendalian tempat perindukan di lakukan dengan

pengeringan dan pengisian/penimbunan lubang-lubang

yang mengandung air. Larva diberantas dengan insektisida,

dengan memelihara ikan pemangsa larva atau dengan

menggunakan bakteri misalnya Bacillus thuringensis.

Nyamuk dewasa di berantas dengan menggunakan


19

insektisida dan akhir-akhir ini sedang dikembangkan

pemberantasan genetik untuk mensterilkan nyamuk

dewasa.

3) Perlindungan orang yang rentan

Rumah-rumah di buat bebas nyamuk dengan memasang

kawat kasa pada pintu, jendela dan lubang angin.

Perlindungan pribadi dilakukan dengan memakai

penghalau serangga (repellent) misalnya dietil toluamid dan

minyak sereh, pada tempat tidur di pasang kelambu. Akhir-

akhir ini kelambu dapat dicelup insektisida permetrin

supaya lebih efektif.

Obat anti malaria dapat digunakan untuk pencegahan

infeksi malaria kepada seorang (proteksi atau profilaksis

individu). Obat di berikan dengan diberikan dengan tujuan

mencegah terjadinya infeksi atau timbulnya gejala.

Pencegahan mutlak terhadap infeksi adalah dengan

membasmi sporozoit, segera sesudah sporozoit masuk

melalui gigitan nyamuk Anopheles yang infektif. Tetapi tidak

ada obat yang dapat segera membunuth sporozoit. Hanya

ada obat yang dapat membasmi parasit stadium dini dalam

sel hati, sebelum merozoit dilepaskan ke dalam peredaran

darah tepi. Obat ini adalah obat profilaksis kausal. Obat

dapat mengurangi jumlah parasit malaria dalam darah


20

sedemikian rendahnya sehingga tidak menimbulkan gejala

klinis selama obat tersebut diminum terus dalam dosis

adekuat.

g. Pemberantasan Malaria

Tujuan dari pemberantasan malaria adalah menurunkan

angka kesakitan dan mencegah kematian sedemikian rupa

sehingga penyakit ini tidak lagi merupakan masalah kesehatan

masyarakat. Antara tahun 1959 dan 1968 Indonesia, sesuai

dengan kebijakan WHO yang diputuskan World Health

Assembly (WHA) 1955, melaksanakan program pembasmian

malaria di Jawa–Bali. Program pembasmian ini pada mulanya

sangat berhasil, namun kemudian mengalami berbagai

hambatan, baik yang bersifat administratif maupun teknis,

sehingga pada tahun 1969 di tinjau kembali oleh WHA.

Meskipun pembasmian tetap menjadi tujuan akhir, cara yang

ditempuh disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan

masing-masing negara dan wilayah. Karena untuk

melaksanakan pembasmian malaria dibutuhkan suatu

organisasi tersendiri yang disebut KOPEM (Komandan Operasi

Pembasmian Malaria) yang mempunyai unit sampai desa.

Maka sejak tahun 1968 KOPEM telah dibubarkan dan program

pemberantasan malaria di integrasikan ke dalam pelayanan

kesehatan umum yang ada.


21

Program pemberantasan malaria dapat didefinisikan sebagai

usaha terorganisasi untuk melaksanakan berbagai upaya

menurunan penyakit dan kematian yang diakibatkan malaria,

sehingga tidak menjadi masalah kesehatan yang utama.

Berbagai kegiatan yang dapat dijadikan untuk mengurangi

malaria adalah :

1) Menghindari atau mengurangi kontak/gigitan nyamuk

Anopheles (pemakaian kelambu, repelan, obat nyamuk,

dsb.)

2) Membunuh nyamuk dewasa (dengan menggunakan

berbagai insektisida)

3) Membunuh jentik (kegiatan anti larva) baik secara kimiawi

(larvisida) maupun secara biologis (ikan, tumbuhan, jamur,

bakteri)

4) Mengurangi tempat perindukan (source reduction)

5) Mengobati penderita malaria

6) Pemberian pengobatan pencegahan (profilaksis)

3. Faktor Risiko kejadian malaria

a. Faktor Parasit

Parasit malaria harus ada dalam tubuh manusia untuk waktu

yang cukup lama dan menghasilkan gametosit jantan dan

betina pada saat yang sesuai untuk penularan. Parasit juga

harus menyesuaikan diri dengan kondisi spesies vektor


22

Anopheles (anthropofilik) agar sporogoni dapat menghasilkan

sporozoit infektif. Sifat – sifat parasit berbeda – beda untuk

setiap spesies malaria dan hal ini mempengaruhi terjadinya

manifestasi klinis dan penularan. P.falciparum mempunyai

masa infeksi yang paling pendek, namun menghasilkan

parasitemia paling tinggi, gejala yang paling berat dan masa

inkubasi yang paling pendek. P.falciparum baru berkembang

setelah 8-15 hari sesudah masuknya parasit ke dalam darah.

Gametosit P.falciparum menunjukkan periodisitas dan

infektivitas yang berkaitan dengan kegiatan menggigit vektor

P.vivax dan P.ovale pada umumnya menghasilkan parasitemia

yang rendah, gejala yang lebih ringan dan masa inkubasi yang

lebih lama. Sporosoit P.vivax dan P.ovale dalam hati

berkembang menjadi sizon jaringan primer dan hipnozoit.

Hipnozoit ini yang menjadi sumber untuk terjadinya relaps

(gunawan, 2000).

Setiap spesies malaria terdiri dari berbagai “strain” yang

secara morfologik tidak dapat dibedakan. Strain dari suatu

spesies yang menginfeksi vektor lokal, mungkin tidak dapat

menginfeksi vektor di tempat lain. Lamanya masa inkubasi dan

pola terjadinya relaps juga berbeda menurut geografis.

Plasmodium vivax di daerah Eropa Utara mempunyai masa

inkubasi lebih lama, sedangkan P.vivax dari Pasifik Barat


23

(termasuk Irian Jaya, Chessn strain ) mempunyai pola releps

yang berbeda. Terjadinya resistensi terhadap obat anti malaria

juga berbeda – beda menurut strain geografik parasit dan hal

ini sangat dipengaruhi oleh lamanya penggunaan obat dan juga

kebiasaan minum obat yang kurang baik dari masyarakat

setempat. Pola resistensi di Irian Jaya juga berbeda dengan

pola resistensi di Sumatera dan Jawa.

b. faktor Manusia

Secara umum dapat dikatakan bahwa pada dasarnya setiap

orang dapat terkena malaria. Perbedaan prevalensi menurut

umur dan jenis kelamin sebenarnya berkaitan dengan

perbedaan derajat kekebalan karena perbedaan variasi

keterpaparan kepada gigitan nyamuk. Bayi di daerah endemik

malaria mendapat perlindungan antibody maternal yang

diperoleh secara transplasental.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan

mempunyai respon imun yang lebih kuat dibandingkan laki –

laki, namun kehamilan menambah risiko malaria (Depkes,

1996). Malaria pada wanita hamil mempunyai dampak yang

buruk terhadap kesehatan ibu dan anak antara lain berat badan

lahir yang rendah, abortus, partus premature, dan kematian

janin intrau terin (gramiccia, 1980). Malaria congenital

sebenarnya sangat jarang dan sebenarnya kasus ini


24

berhubungan dengan kekebalan yang rendah pada ibu. Secara

proporsional malaria congenital lebih tinggi di daerah prevalensi

di daerah malaria rendah.

c. Faktor Nyamuk

Malaria pada manusia hanya dapat ditularkan oleh nyamuk

Anopheles betina. Lebih dari 400 jenis spesies Anopheles di

dunia, dilaporkan hanya sekitar 67 yang terbukti mengandung

sporozoit dan dapat menularkan malaria (gunawan, 2000).

Nyamuk Anopheles terutama hidup di daerah tropik dan

subtropik, namun dapat juga hidup di daerah beriklim sedang

bahkan dapat juga hidup di Arktika. Anopheles jarang

ditemukan pada ketinggian lebih dari 2000– 2500m. Sebagian

besar nyamuk Anopheles ditemukan di daerah dataran rendah

(gunawan, 2000). Efektifitas vektor untuk menularkan malaria

ditentukan oleh hal–hal sebagai berikut.

1) Kepadatan vektor dekat pemukiman manusia, karena

semakin padat semakin sering kontak dengan manusia.

2) Kesukaan menghisap darah manusia atau antropofilik.

3) Kesukaan menghisap darah ( ini tergantung dari suhu )

4) Lamanya sporogoni ( berkembangnya parasit dalam

nyamuk sehingga menjadi infektif ).


25

5) Lamanya hidup nyamuk harus cukup untuk sporogoni dan

kemudian menginfeksi jumlah berbeda – beda menurut

spesies.

d. Faktor Lingkungan

1) Lingkungan Fisik

Faktor geografi dan meteorologi di Indonesia sangat

menguntungkan transmisi malaria di Indonesia.

a) Suhu

Suhu mempengaruhi perkembangan parasit dalam

nyamuk. Suhu yang optimum berkisar antara 20 –

30oC. Makin tinggi suhu (sampai batas tertentu) makin

pendek masa inkubasi ekstrinsik (sporogoni) dan

sebaliknya makin rendah suhu makin panjang masa

inkubasi ekstrinsik. Pengaruh suhu ini berbeda bagi

setiap spesies, pada suhu 26,7oC masa inkubasi

ekstrinsik adalah 10–12 hari untuk P. falciparum dan 8–

11 hari untuk P. vivax, 14–15 hari untuk P. malariae

dan P. ovale.

b) Kelembaban

Kelembaban yang rendah memperpendek umur

nyamuk, meskipun tidak berpengaruh pada parasit.

Tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling

rendah untuk memungkinkan hidupnya nyamuk. Pada


26

kelembaban yang lebih tinggi nyamuk menjadi lebih

aktif dan lebih sering menggigit, sehingga

meningkatkan penularan malaria. Apabila kondisi

dalam rumah memiliki kelembaban yang tinggi, maka

akan mempengaruhi kebiasaan menggigit dan istirahat

nyamuk (tumewu, 2003).

c) Hujan

Pada umumnya hujan akan memudahkan

perkembangan nyamuk dan terjadinya epidemi malaria.

Besar kecilnya pengaruh tergantung pada jenis dan

deras hujan, jenis vektor dan jenis tempat perindukan.

Hujan yang diselingi panas akan memperbesar

kemungkinan berkembangbiaknya nyamuk Anopheles.

d) Ketinggian

Secara umum malaria berkurang pada ketinggian

yang semakin bertambah, hal ini berkaitan dengan

menurunnya suhu rata-rata. Pada ketinggian diatas

2000 m jarang ada transmisi malaria. Hal ini bisa

berubah bila terjadi pemanasan bumi dan pengaruh

dari El – nino. Di pegunungan Irian Jaya yang dulu

jarang ditemukan malaria kini lebih sering ditemukan

malaria. Ketinggian paling tinggi masih memungkinkan


27

transmisi malaria ialah 2500 m diatas permukaan laut

(di Bolivia).

e) Angin

Kecepatan angin saat matahari terbit dan terbenam

yang merupakan saat terbangnya nyamuk ke dalam

atau ke luar rumah, adalah salah satu faktor yang ikut

mempengaruhi jarak terbang nyamuk dan ikut

menentukan jumlah kontak antara nyamuk dan

manusia.

f) Sinar Matahari

Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva

nyamuk berbeda beda An.sundaicus lebih suka tempat

yang teduh. An.hyrcanus spp dan An.puncutulatus spp

lebih menyukai tempat terbuka. An.barbirostris dapat

hidup baik di tempat teduh maupun terang.

2) Lingkungan Biologik

Keadaan lingkungan sekitar penduduk seperti adanya

tumbuhan salak, bakau, lumut ganggang dan berbagai

tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva

karena ia dapat menghalangi sinar matahari atau

melindungi dari serangan mahluk hidup lainnya. Adanya

berbagai jenis ikan pemangsa larva seperti ikan kepala

putih (Panchax spp), gambusia, nila, mujair dan lain-lain


28

akan mempengaruhi populasi nyamuk disuatu daerah.

Begitu pula adanya hewan piaraan seperti sapi, kerbau dan

babi dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada

manusia, bila ternak tersebut kandangnya terpisah dari

rumah.

3) Lingkungan Kimia

Dari lingkungan ini yang baru diketahui pengaruhnya

adalah kadar garam dari tempat perindukan. Sebagai

contoh An. sundaicus tumbuh optimal pada air payau yang

kadar garamnya berkisar antara 12-18o/oo dan tidak dapat

berkembang biak pada kadar garam 40o/oo ke atas,

meskipun di beberapa tempat di Sumatera Utara

An.sundaicus ditemukan pula dalam air tawar dan An.

letifer dapat hidup di tempat yang asam / pH rendah.

4) Lingkungan Sosial Budaya

Faktor sosial budaya juga berpengaruh terhadap

kejadian malaria seperti: kebiasaan untuk berada diluar

rumah sampai larut malam, dimana vektornya bersifat

eksofilik dan eksofagik akan memudahkan kontak dengan

nyamuk. Tingkat kesadaran masyarakat tentang bahaya

malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk

memberantas malaria antara lain dengan menyehatkan

lingkungan, menggunakan kelambu. Memasang kawat


29

kasa pada rumah dan menggunakan obat nyamuk.

Berbagai kegaiatan manusia seperti pembuatan

bendungan, pembuatan jalan, pertambangan dan

pembangunan pemukiman baru/transmigrasi sering

mengakibatkan perubahan lingkungan yang

menguntungkan penularan malaria.

Kejadian-kejadian seperti konflik antar penduduk, gempa

bumi, tsunami dan perpindahan penduduk dapat pula

menjadi faktor penting untuk meningkatkan malaria.

Peningkatan pariwisata dan perjalanan dari daerah

endemik mengakibatkan meningkatnya kasus malaria yang

diimport.

4. Konsep Dasar Kehamilan

a. Pengertian

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.

Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9

bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan

dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari

konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat

sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9

bulan (saifuddin, 2009)

Dari berbagai pengertian di atas, penulis menyimpulkan

bahwa kehamilan merupakan proses yang terdiri dari ovulasi,


30

konsepsi, pertumbuhan zigot, nidasi hasil konsepsi,

pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi

hingga lahirnya janin. Kehamilan berlangsung sampai lahirnya

janin pada usia kurang lebih 9 bulan lebih 7 hari atau 40

minggu.

b. Proses Kehamilan

Proses kehamilan dimulai dengan terjadinya konsepsi.

Konsepsi adalah bersatunya sel telur (ovum) dan sperma.

Proses kehamilan (gestasi) berlangsung selama 40 minggu

atau 280 hari di hitung dari hari pertama menstruasi terakhir.

Usia kehamilan sendiri adalah 38 minggu, karena dihitung

mulai dari tanggal konsepsi (tanggal bersatunya sel sperma

dengan telur) yang terjadi dua minggu setelahnya (sulistyawati,

2009). Fertilisasi pada manusia ini diawali dengan terjadinya

persetubuhan (koitus). Fertilisasi merupakan peleburan anatara

inti spermatozoa dengan inti sel telur. Proses fertilisasi ini dapat

terjadi di bagian ampula tuba falopi atau uterus yang berhasil

menemukan ovum akan merusak korona radiata dan zona

pelusida yang mengelilingi membran sel ovum, lalu

spermatozoa akan melepaskan enzim. Enzim dari banyak

spermatozoa akan merusak korona radiata dan zona pelusida

sehingga spermatozoa berhasil menembus membran sel ovum,

konfigurasi membran ovum langsung berubah sehingga


31

spermatozoa lain tidak. Spermatozoa menuju masa apa saja

uang berbentuk telur yang ditemuinya, dan hanya sedikit yang

mencapai ovum sebenarnya. Spermatozoa dapat masuk.

Hanya kepala spermatozoon yang masuk ke dalam ovum,

bagian ekor akan ditinggalkan. DNA dalam nukleus

spermatozoon akan dilepaskan dari kepala, memicu

pembelahan miosis akhir pada kromosom wanita. Bersatunya

inti spermatozoon dan inti sel telur akan tumbuh menjadi zigot.

Zigot mengalami pertumbuhan dan perkembangan melalui 3

tahap selama kurang lebih 280 hari.

Tahap-tahap ini meltiperiode implamantasi (7 hari pertama),

periode embrionik (7minggu berikutnya), dan periode fetus (7

bulan berikutnya). Selama 2-4 hari pertama setelah fertilisasi,

zigot berkembang dari satu sel menjadi kelompok 16 sel

(morula). Morula kemudian tumbuh dan berdiferesiasi menjadi

100 sel. Selama periode ini zigot berjalan di sepanjang tuba

falopi,setelah itu masuk ke uterus dan tertanam dalam

endomentrium uterus. Perkembangan Janin di Dalam Uterus

(sulistyawati, 2010).

1) Trimester pertama (minggu 0-12)

Dalam fase ini ada tiga periode penting pertumbuhan mulai

dari periode germinal sampai periode terbentuknya janin

(kusmiyati, 2009).
32

a) Periode germinal (minggu 0-3).

Proses pembuhan telur oleh sperma yang terjadi

pada minggu ke-2 di hari pertama menstruasi terakhir.

Telur yang sudah di buahi sperma bergerak dari tuba

falopi dan menempel di dinding uterus (endrometrium).

b) Periode embrionik (minggu 3-8).

Proses dimana sistem saraf pusat, organ organ

utama dan struktur anatomi mulai tebentuk seperti

mata, mulut dan lidah mulai terbentuk, sedangkan hati

mulai memproduksi sel darah. Janin mulai berubah dari

blastosit menjadi embrio berukuran 1,3cm dengan

kepala yang besar.

c) Periode fetus (minggu 9-12)

Periode dimana semua organ penting terus

bertumbuh dengan cepat dan saling berkaitan dan

aktivitas otak sangat tinggi.

2) Trimester Ke-dua (minggu ke 12-24)

Pada trimester kedua ini terjadi peningkatan perkembangan

janin. Pada minggu ke-18 kita bisa melakukan pemeriksaan

dengan ultrasonografi (USG) untuk mengecek

kesempurnaan janin, posisi plasenta dan kemungkinan bayi

kembar. Jaringan kuku, kulit serta rambut berkembang dan

mengeras pada minggu ke-20 dan ke-21. Indra pengliatan


33

dan pendengaran janin mulai berfungsi. Kelopak mata

sudah dapat membuka dan menutup. Janin (fetus) mulai

tampak sosok manusia dengan panjang 30cm (kusmiyati,

2009).

3) Trimester Ketiga (minggu 24-40)

Pada trimester ini semua oragan tumbuh dengan

sempurna. Janin menunjukkan aktivitas motorik yang

terkoordinasi menendang atau menonjok serta dia sudah

mempunyai periode tidur dan bangun. Massa tidurnya jauh

lebih lama dibandingkan masa bangun. Paru-paru

berkembang pesat menjadi sempurna. Pada bulan ke

sembilan,janin mengambil posisi kepala di bawah dan siap

untuk dilahirkan. Berat bayi lahir anatara 3kg sampai 3,5kg

dengan panajang 50cm (kusmiyati, 2009).

c. Diagnosis Tanda gejala kehamilan

Banyak manifestasi dari adaptasi fisiologis ibu terhadap

kehamilan yang mudah dikenali dan dapat menjadi petunjuk

bagi diagnosis dan evaluasi kemajuan kehamilan. Tetapi

sayangnya proses farmakologis atau patofisiologis kadang

memicu perubahan endokrin atau anatomis yang menyerupai

kehamilan sehingga dapat membingungkan. Perubahan

endokrinologis, fisiologis, dan anatomis yang menyertai

kehamilan menimbulkan gejala dan tanda yang memberikan


34

bukti adanya kehamilan. Untuk menegakkan kehamilan

ditetapkan dengan melakukan penilaian terhadap beberapa

tanda dan gejala kehamilan (marjati, 2011).

1) Tanda dugaan hamil

a) Amenorea (berhentinya menstruasi)

b) Mual (nausea) dan muntah (emesis)

c) Ngidam (menginginkan makan tertentu)

d) Syncope (pingsan)

e) Kelelahan

f) Payudara tegang

g) Sering miksi

h) Kontipasi atau obstipasi

i) Pigmentasi Kulit

2) Tanda kemungkinan hamil (Problem sign)

a) Perubahan abdomen, yaitu perubahan ukuran uterus

menyebabkan pertambahan lingkar abdomen secara

bertahap.

b) Perubahan uterus. Dimana dalam 12 minggu pertama

uterus berbentuk menjadi bulat kuat, membesar, lunak

dan berbentuk seperti rongga.

c) Tanda hegar menggambarkan perlunakan ekstrem

segmen bawah uterus sampai kedaerah yang dapat

dikompresi hampir setipis kertas (reeder, 2011).


35

d) Ballotement. Ketukan mendadak pada uterus

menyebabkan janin bergerak dalam cairan ketuban yang

dapt dirasakan oleh tangan pemeriksa (ummi, 2011).

e) Perubahan serviks. Pada usia sekitar 8 minggu gestasi,

serviks mulai melunak dan lubang eksternal serviks

memperlihatkan konsistensi atau derajat pelunakan,

seperti lobus telinga atau bibir (dikenal dengan istilah

tanda Goodell). Sebagai perbandingan konsistensi

serviks pada wanita yang tidak hamil terasa sama

dengan ujung hidung (reeder, 2011).

f) Kontraksi Braxton Hicks. Apabila uterus di rangsang atau

distimulasi dengan rabaan akan mudah berkontraksi

(sulistyawati, 2011). Peregangan sel-sel otot uterus,

akibat meningkatnya aktomiosin di dalam otot uterus

(ummi, 2011).

3) Tanda pasti (positive sign)

Tanda pasti adalah tanda yang menunjukkan langsung

keberadaan janin, yang dapat dilihat langsung oleh

pemeriksa.

a) Terdengarnya bunyi jantung janin, tanda ini baru timbul

setelah kehamilan lanjut diatas empat bulan. Jika

dengan ultrasound bunyi jantung janin dapat didengar

pada kehamilan 12 minggu


36

b) Melihat, meraba, atau mendengar pergerakan anak saat

melakukan pemeriksaan

c) Melihat rangka janin pada sinar Ro atau dengan

menggunakan ultrasonografi

B. Kerangka Teori

Pengertian

Malaria Gejala Klinis


Bionomik
Parasitologi
Epidemiologi Vektor Malaria
Patogenesis
Diagnosis Faktor Parasit
Pencegahan Faktor Risiko faktor Manusia
Pemberantasan Faktor Nyamuk
Kejadian Malaria
Faktor Lingkungan

Pengertian
Proses Kehamilan
Konsep Dasar Diagnosis Tanda gejala kehamilan

Kehamilan

Gambar 1. Kerangka Teori


37

C. Kerangka Konsep

Variabel Bebas : Variabel terikat

Penggunaan kelambu, Kejadian Malaria Pada Ibu


breeding place, Hamil di Puskesmas Sentani
keberadaan semak-
Kabupaten Jayapura
semak, penggunaan
kawat kassa,
menggantung pakaian
dan adanya riwayat
malaria

Gambar 2. Kerangka Konsep

D. Definisi Operasional Variabel

Skala
Variabel Definisi Pengukuran Penyajian
data

Kejadian Kejadian Uji 1. Kasus : Nominal


Malaria pada malaria pada laboratorium apabila positif
Ibu Hamil ibu hamil terinfeksi
adalah kasus Plasmodium
malaria yang berdasarkan
terjadi pada hasil
ibu hamil pemeriksaan
yang ditandai mikroskopis
dengan
ditemukanny 2. Kontrol :
a apabila
Plasmodium negatif
dalam darah Plasmodium
38

melalui berdasarkan
pemeriksaan hasil
laboratorium pemeriksaan
di mikroskopis
Puskesmas
Sentani

Kebiasaan Kebiasaan Wawancara 1. Tidak : Nominal


menggunaka responden dengan apabila setiap
n kelambu menggunaka responden kali tidur
n kelambu pada malam
sewaktu tidur hari
pada malam responden
hari tidak
menggunaka
n kelambu

2. Ya : apabila
setiap kali
tidur pada
malam hari
responden
selalu
menggunaka
n kelambu
Genangan Keberadaan Observasi 1. Ada : apabila Nominal
air/breeding ekosistem secara terdapat
place dengan langsung jentik nyamuk
potensial habitat yang dirumah di tempat
digenangi air responden yang
dan digenangi air
merupakan dengan jarak
breeding <100m dari
place nyamuk rumah
yang ditandai responden
dengan
terdapatnya 2. Tidak ada :
jentik naymuk apabila tidak
didalamnya. ditemukan
Dapat berupa jentik nyamuk
sumgai, di tempat
rawa, yang
parit/selokan, digenangi air
dan danau dengan jarak
yang ada <100m dari
disekitar rumah
39

rumah responden
responden
Semak- Kumpulan Observasi 1. Ada : apabila Nominal
semak/restin pepohonan langsung terdapat
g place dan dirumah rumputan
potensial tumbuhan responden dengan
berupa jarang <100m
rumputan dari rumah
atau perdu responden
dengan 2. Tidak ada :
ketinggian apabila tidak
maksimal 1-2 memenuhimk
meter riteria diatas
sebagai
tempat
peristirahatan
nyamuk
Ventilasi/ Adalah Observasi 1. Tidak Nominal
kawat kassa kondisi secara memenuhi
ventilasi yang langsung syarat : bila
dinilai dirumah terdapat
menurut ada responden lubang atau
atau tidak celah
ada kawat
kassa yang 2. Memenuhi
dipasang syarat : bila
pada ventilasi tidak ada
untuk lubang atau
mencegah celah
masuknya
nyamuk ke
dalam rumah
Kebiasaan Kebiasaan Wawancara 1. Ya : apabila Nominal
menggantun responden dengan responden
g pakaian menggantung responden menggantung
pakaian pakaian
dalam rumah, didalam
baik pakaian rumah
habis pakai
maupun 2. Tidak : bila
pakaian yang tidak
belum dipakai memenuhi
kriteria diatas
Riwayat Riwayat Wawancara 1. Ya : apabila Nominal
malaria responden dengan responden
40

pernah responden mempunyai


terkena riwayat
penyakit malaria
malaria atau
tidak 2. Tidak :
apabila
responden
tidak memiliki
riwayat
malaria

Tabel 1. Definisi Operasional


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini termasuk studi observasional analitik dengan

rancangan peneltiian cross sectional study, yaitu rancangan studi

epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan paparan (faktor

penelitian) dengan cara mengamati status paparan dan penyakit

serentak pada individuindividu dari populasi tunggal, pada suatu saat

atau periode.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini yaitu semua ibu-ibu hamil yang

ada di wilayah Puskesmas Sentani baik yang menderita malaria

dan sedang menjalani pengobatan malaria maupun ibu-ibu yang

tidak menderita malaria.

2. Sampel

Sampel pada penelitian ini tidak dilakukan perhitungan besar

sampel, dimana semua ibu hamil yang datang berkunjung ke

Puskesmas Sentani dijadikan sebagai responden, dan sebagai

target survey dalam penelitian ini yaitu rumah ibu hamil.

C. Instrumen Penelitian

Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah

wawancara dan observasi.

41
42

D. Pengumpulan Data

Pengumpulan data akan dilakukan secara langsung dengan

melakukan kunjungan ke rumah. Data yang berkaitan dengan variabel

bebas akan dikumpulkan melalui wawancara, dan pengamatan.

E. Pengolahan Data

1. Data entry

Memasukkan data kedalam Microsoft Excel untuk diolah dengan

menghitung frekuensi dengan rumus :

𝑓
P = 𝑛 x 100%

Keterangan :

P : persentase

f : frekuensi

n : jumlah sampel

2. Coding

Mengklasifikasikan data dari para responden

3. Editing

Memeriksa data yang telah diperoleh dari responden

4. Cleaning

Data yang telah dimasukkan diperiksa ulang

F. Analisis Data

Data dianalisa secara deskriptif, diolah secara komputerisasi

menggunakan Microsoft Excel dan dibuat dalam bentuk tabel kemudian

dinarasikan.
43

G. Penyajian Data

Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk narasi sebagai

penjelasan hubungan antara variabel bebas dan terikat, dan ditunjang

oleh penyajian dengan menggunakan grafik dan tabel nilai dari hasil

analisis data
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan R.I. (1996). Malaria Jilid 1 : Epidemiologi.


Direktorat Jenderal P2M-PLP : Jakarta

Departemen Kesehatan R.I. (2003). Modul Surveilens Malaria. Direktorat


Jenderal PPM & PL : Jakarta

Gunawan, S. (2000). Epidemiologi Malaria. Penerbit Buku Kedokteran


EGC : Jakarta

Harijanto, P.N. Malaria. (2000). Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi


Klinis dan penanganan. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta

Kusmiyati, dkk. (2009). Perawatan Ibu Hamil (Asuhan Ibu Hamil).


Fitramaya : Yogyakarta

Marjati, dkk. (2011). Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Fisiologis.


Salemba Medika : Jakarta

Molineaux, L., Gramiccia, G. (1980). The Garki Project, Research in The


Epidemiology and Control of Malaria in The Sudan Savana of West
Africa. WHO : Genewa

Nugroho, A., Tumewu, W.M. (2003). Siklus Plasmodium Malaria. Penerbit


Buku Kedokteran EGC : Jakarta

Pranoto. (1983). Penyebaran Vektor Malaria Di Irian Jaya. Direktorat


Jenderal P3M : Jakarta

44
45

Reeder, Sharon J. Martin, Leonide L. Koniak-Griffin, Deborah. (2011).


Keperawatan maternitas kesehatan wanita, bayi, & keluarga. EGC :
Jakarta

Saifuddin, Abdul Bahri (ed). (2009). Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina


Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta

Sulistyawati, Ari. (2009). Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan.


Salemba Medika : Jakarta

Sulistyawati, Ari. (2011). Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan.


Salemba Medika : Jakarta

Sutrisna, P. (2004). Malaria Secara Ringkas, Dari Pengetahuan Dasar


Sampai Terapan. Penerbit Buku Kedokteran : Jakarta

Ummi, dkk. (2011). Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Fisiologi.


Salemba Medika : Jakarta