Anda di halaman 1dari 10

Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR)

Kawin Kontrak Pada Anak Perempuan Usia 17 Tahun di Desa


Kalisat Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan: Faktor,
Karakteristik dan Motif

Oleh:
1. Irvan Maulana Yusuf
2. Abdul Kafi

SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPP-Teknologi Peterongan Jombang


2018
ABSTRAK
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Perkawinan merupakan salah satu bagian terpenting dari siklus kehidupan


masyarakat, dimana dari dua jenis kelamin yang berbeda dipertemukan dengan
syarat dan hukum-hukum yang berlaku untuk satu tujuan yang sama, yakni
membentuk sebuah keluarga dalam jangka waktu yang tidak terbatas dan
berlaku seumur hidup. Perkawinan hanya sekali dalam seumur hidup, hal ini
berarti bahwa perkawinan bersifat kekal tanpa mengenal waktu. Tak heran jika
sebagian besar masyarakat mengadakan pesta yang megah untuk proses
perkawinannya, bahkan rela mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk proses
yang hanya berlangsung dalam beberapa jam saja.

Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut pasal 2 Undang-Undang Nomor 1


Tahun 1974 tentang perkawinan. Namun meskipun sudah ada peraturan
mengenai hukum dan syarat melakukan perkawinan baik secara agama maupun
pemerintahan, masih saja ada masyarakat yang melakukan perkawinan yang
tidak sesuai dengan syarat tersebut. Salah satunya bentuk perkawinan yang tidak
sesuai dengan syarat dan hukum yang berlaku adalah kawin kontrak.

Kawin kontak atau dalam agama islam disebut kawin mut’ah adalah orang
laki-laki mengawini wanita dalam imbalan harta (uang) dengan batas waktu
tertentu, yang secara emotologi memiliki pengertian kenikmatan dan
kesenangan. Tujuan dari kawin kontrak tersebut hanya untuk memperoleh
kesenangan seksual saja, bukan bertujuan untuk membentuk sebuah keluarga
dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Dalam kawin kontrak, masa perkawinan
akan berakhir dengan tanpa adanya perceraian dan tidak ada kewajiban bagi
laki-laki untuk memberikan nafkah, tempat tinggal serta kewajiban yang lainnya.
Hal tersebut tentunya dapat merugikan kaum wanita dan keturunannya, karena
itulah kawin kontrak tidak diperbolehkan baik secara agama maupun hukum
negara.

Kawin kontrak berbeda dengan nikah sirih. Yang membedakannya adalah


nikah sirih tidak ada batasan waktunya kecuali berakhir dengan perceraian,
sedangkan kawin kontrak ada batasan waktunya sesuai kesepakatan kedua belah
pihak. Di desa Kalisat kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan, kawin kontrak
sudah menjadi kebudayaan dari dulu hingga saat ini dan semakin terus
berkembang. Praktik kawin kontrak justru disalahgunakan sehingga dapat
memicu terjadinya prostitusi. Disamping itu, kawin kontrak dianggap merugikan
kaum wanita karena tidak ada hukum yang berlaku mengenai keturunan,
perceraian, dan janji palsu. Hal inilah yang dapat menimbulkan konflik seperti,
istri kawin kontrak harus menuruti kontrak yang berlaku untuk tidak menolak
berhubungan seksual dengan suaminya, suami mempunyai wewenang untuk
menolak sebagai ayah jika kawin kontrak menghasilkan kehamilan. Hal ini dapat
menimbulkan dampak negatif bagi kaum wanita. Salah satunya adalah dampak
psikologis yang terutama dirasakan oleh kaum wanita menjadi janda dengan
anak tanpa ada suami yang jelas, sehingga harus menanggung malu, meratapi
nasib dan merelakan sang suami jika kawin kontrak berakhir.

Di Desa Kalisat Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan, dikenal sebagai


desa nikah sirih dan kawin kontrak, sehingga disana banyak ditemukan
perkawinan yang hanya bertahan sementara dengan kesepakatan kedua belah
pihak. Seorang pria dapat melakukan kawin kontrak dengan menyerahkan mas
kawin yang telah disepakati oleh calon pasangan wanita. Pada umumnya mas
kawin yang diberikan berupa uang, perbaikan rumah, dan emas. Tidak
diherankan jika wanita di desa tersebut kawin lebih dari satu kali. Secara garis
besar makelar membagi perempuan yang akan dikawin kontrak menjdi dua
kategori, yaitu perawan dan janda. Jika yang ingin dinikahi adalah perawan maka
uang jasa yang diminta makelar ke lelaki kliennya sekitar Rp.35 jt, sementara jika
janda uang jasanya Rp.15 jt, namun selain keperawan, penampilan dan wajah si
perempuan juga bisa menentukan nilai dan harganya. Menyadari bahwa kawin
kontrak banyak membawa dampak negatif terhadap kaum wanita, indonesia
telah menegaskan larangan adanya perkawinan kontrak. Pemerintahan
menyiapkan draft rancangan Undang-Undang Peradilan Agama tentang
perkawinan sirih, kawin kontrak, serta poligami. Hal ini bermaksud dengan
adanya rancangan Undang-Undang Peradilan Agama tentang pernikahan dapat
melindungi para istri dan anak-anak hasil dari nikah sirih, kawin kontrak dan
poligami. Peraturan tersebut dibuat agar masyarakat tidak melakukan
perzinahan dan perempuan dan anak-anak terlindungi. (www.liputan6.com)

Susunan Rancangan Undang-Undang tersebut adalah pasal 143. Disebutkan


pelaku pernikahan sirih bisa didenda maksimal Rp.6 juta atau penjara maksimal
enam bulan, kawin kontrak diancam pidana maksimal tiga tahun penjara dan
perkawinannya batal demi hukum, sementara bagi para lelaki yang berkeinginan
melakukan poligami atau menikahi istri kedua, ketiga atau keempat bukan saja
harus mendapat izin dari istri pertama tapi izin tersebut harus disahkan di
pengadilan sebab jika tidak mendapat izin maka pelaku dikenakan denda
maksimal Rp.6 juta atau penjara maksimal enam bulan. (www.liputan6.com)
Anak usia 17 tahun secara garis besar memang tergolong masih memasuki
usia remaja, namun di Desa Kalisat Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan
anak usia 17 tahun sudah banyak yang melakukan kawin kontrak. Karena para
orang tua mulai gelisah jika jika anak putrinya berusia 17 tahun belum ada yang
menanyakan untuk dijadikan istri, bahkan jika anak putrinya sudah berumur 20
tahun dan masih belum nikah sudah disebut perawan kasep atau perawan tua.
Jika sudah seperti itu akan berpengaruh terhadap psikologisnya dan anak hasil
dari kawin kontrak tersebut.

Secara hukum anak yang lahir dari hasil kawin kontrak dikategorikan sebagai
anak luar kawin. Anak hasil kawin kontrak dipertanyakan kependudukannya,
dengan tidak adanya pencatatan perkawinan dapat dipastikan ibu dari anak hasi
kawin kontrak itu tidak mempunyai akta perkawinan. Namun anak hasil dari
kawin kontrak masih bisa memiliki akta kelahiran dan tercatat dalam sistem
kependudukan. Berdasarkan Pasal 52 Ayat 1 dan 2 Peraturan Presiden No. 25
Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan
Pencatatan Sipil, anak yang lahir dari hasil kawin kontrak dapat memiliki akta
kelahiran yang tercatat dalam sistem kependudukan.

B. Rumusan Masalah

Perkawinan kontrak sama saja halnya seperti nikah sirih yaitu hak seorang
anak dan ibu tidak bisa mendapatkan hak hak yang semestinya diperoleh ketika
melakukan nikah sah. Hal ini disebabkan karena ada beberapa aturan yang
disepakati kedua belah pihak terutama dari pihak perempuan. Terutama dalam
pemenuhan kebutuhan biologis (seks). Pihak perempuan selalu berada pada
posisi yang dirugikan karena setelah kontrak selesai dan mereka mempunyai
anak, mayoritas langsung ditinggal begitu saja dan hanya sedikit yang mau
bertanggung jawab.

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui motif yang mendasari anak perempuan umur 17 tahun


melakukan kawin kontrak?

2. Mengetahui faktor yang melatar belakangi anak perempuan umur 17 tahun


melakukan kawin kontrak?

D. Pertanyaan Penelitian

1. Apa saja faktor yang melatar belakangi perkawinan anak perempuan usia 17
tahun di Desa Kalisat Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan?

2. Apa saja hak-hak yang didapat dari perempuan sebagai pelaku kawin kontrak
di Desa Kalisat Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan?

3 Bagaimana ciri khas dari perempuan usia 17 tahun tersebut sebagai pelaku
kawin kontrak di Desa Kalisat Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan?

BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

A. Perkawinan

1. Definisi Perkawinan

Secara etimologis nikah (berasal dari bahasa arab) berarti berhimpun.


Adapun kata kawin sendiri adalah penyebutan lain dari nikah dalam bahasa
indonesia. Secara etimologis, nikah (berasal dari bahasa arab) berarti berhimpun.
Adapun kata kawin sendiri adalah penyebutan lain dari nikah dalam bahasa
indonesia. Secara terminologis, nikah berarti perjanjian antara laki-laki dan
perempuan untuk bersuami dan beristri secara resmi.

2. Definisi Kawin Kontrak

Kawin kontak atau dalam agama islam disebut kawin mut’ah adalah orang
laki-laki mengawini wanita dalam imbalan harta (uang) dengan batas waktu
tertentu, yang secara emotologi memiliki pengertian kenikmatan dan
kesenangan. Tujuan dari kawin kontrak tersebut hanya untuk memperoleh
kesenangan seksual saja, bukan bertujuan untuk membentuk sebuah keluarga
dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Dalam kawin kontrak, masa perkawinan
akan berakhir dengan tanpa adanya perceraian dan tidak ada kewajiban bagi
laki-laki untuk memberikan nafkah, tempat tinggal serta kewajiban yang lainnya.

B. Teori Tindakan Sosial Max Weber

Teori tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu tindakan individu
yang mempunyai makna bagi dirinya sendiri yang diarahkan pada orang lain.
Tindakan individu yang diarahkan pada orang lain. Tindakan individu yang
diarahkan pada benda mati, tidak disebut sebagai tindakan sosial. Jadi objeknya
haruslah orang, dan orang tersebut memberikan respon terhadap tindakan yang
kita lakukan. Jadi tindakan sosial ini mirip dengan kelakuan caper atau “pengen
banget diperhatiin”, dimana kita melakukan suatu tindakan dan kemudian
mendapat suatu tanggapan atau respon dari orang lain. Contohnya mungkin
orang yang bernyanyi ditempat umum untuk menghibur para penontonnya.
Menurut weber juga, tindakan sosial dibedakan menjadi empat diantaranya:

Pertama. "Tindakan Rasional Instrumeental". Tindakan ini adalah tindakan


sosial yang dilakukan individu yang didasarkan atas pertimbangan dan pilihan
sadarnya dalam mencapai tujuannya dengan pertimbangan ketersediaan alat
untuk mencapai tujuan. Jadi dalam tindakan rasional instrumental ini individu
mempertimbangkan dan pilihan sadarnya dalam mencapai tujuannya dengen
mempertimbangkan apa saja alat-alat yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuannya. Contohnya, seorang siswa yang sering kesiangan dikarenakan tidak
memiliki alat transportasi, akhirnya siswa tersebut membeli sepeda motor agar
siswa tersebut tidak kesiangan lagi.

Kedua. "Tindakan Rasional Nilai". Dalam tingkat tindakan rasional nilai ini
merupaka tindakan sosial yang sebelumnya sudah dipetrimbangkan terlebih
dahulu karana mendahulukan nilai-nilai sosial ataupun nilai agama yang dimiliki.
Dalam tindakan sosial ini lebih mengedepanka nilai-nilai individu yang tertanam
dalam diri individu. Contohnya apabila seseorang yang memberikan kursi untuk
duduk di bis pada ibu hamil yang tidak kebagian tempat duduk.

Ketiga. "Tindakan Afektif". Tindakan ini tindakan sosial yang dilakukan


berupa reflex tanpa ada pertimbangan terlebih dahulu atau secara tidak sadar.
Tindakan ini biasanya spontan, tidak rasional dan merupakan ekspresi emosional
dan individu. Contohnya adalah seorang kakak yang melindungi adiknya yang
diganggu oleh orang lain. Karena disini ada ikatan keluarga, otomatis setidaknya
ada perasaan melindungi si adik sehingga ketika si adik diganggu oleh orang lain
tanpa pikir panjang kakaknya langsung melindunginya.

Keempat. "Tindaka Tradisional". Dalam tindakan jenis ini, seseorang memper


lihatkan perilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh seseorang dari nenek
moysng tanpa refleksi dan kesadaran penuh dari dalam diri individu tersebut.

C. Motif

Motif dari perempuan yang melakukan kawin kontrak adalah rata rata
didasarkan pada motif ekonomi. Dengan melakukan hal seperti itu keuangan
kelurga bisa semakin membaik. Rata rata pelaku tersebut juga membantu si
suami kontak dalam mendapatkan pekerjaan. Contohnya saja dengan memiliki
istri WNI, orang asing di Indonesia akan makin mudah mencari pekerjaan karerna
ada jaminan istri dari indonesia. Bahkan mereka juga lebih sering melakukan
praktik kawin kontrak. Motifnya, lebih mudah mendapat pekerjaan dengan
memiliki istri WNI, orang asing di Indonesia akan makin mudah mencari dan
mendapat pekerjaan. Dia juga akan makin dipercaya karena ada sponsor atau
jaminan istri di Indonesia. Perusahaan akan lebih percaya. Selain bisa menjadi
penjamin, dengan memperistri WNI akan lebih lama bisa tinggal di Indonesia.
Ada yang hanya tiga sampai lima bulan. Ada juga WNA bisa tinggal di Indonesia
setahun kemudian bisa diperpanjang hingga lima kali.
D. Faktor Pendorong
Faktor-faktor yang mendorong melakukan kawin kontrak yaitu factor
ekonomi. Hal ini disebabkan kondisi masyarakat di daerah tersebut masih sangat
miskin dan kebanyakan mata pencaharian keluarga adalah petani, oleh karena
itu masyarakat melakukan kawin kontrak dengan WNI agar kebutuhan sehari-
hari dapat terpenuhi.

E. Karakteristik
Tolong cari di jurnal sosial ttg kawin kontrak…
Bnyk literatur yg membahas ttg karakteristik si pelaku Mulai dr faktor ekonomi
sampai kebutuhan seks..
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (yaitu metode dengan cara
pengumpulan data dan wawancara). Dipilih karena metode kualitatif
???alasannya tolong dijelaskan..
B. Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu mendeskripsikan menggambarkan
semua fenomena yang terjadi selama penelitian berlangsung
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian dalam studi penelitian ini adalah para anak perempuan
yang berusia 17 tahun yang melakukan pernikahan dengan sistem kawin kontrak.
DAFTAR PUSTAKA
http://library.um.ac.id/
www.liputan6.com
http://belitung.tribunnews.com/2016/10/18/inilah-motif-orang-asing-kawin-
kontrak-di-indonesia

https://www.slideshare.net