Anda di halaman 1dari 8

5.

3 Membandingkan Pencapaian Keluaran Program dengan Tolak Ukur


Keluaran
Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara
keluaran atau pencapaian denngan target atau tolak ukurnya. Proses
identifikasi masalah dilakukan secara bertahap, dimulai dari keluaran (output)
program kerja puskesmas, kemudian apabila ditemukan adanya kesenjangan
antara tolak ukur dengan data keluaran tersebut maka harus dicari
kemungkinan penyebab masalah pada unsur masukan (input, proses, atau
lingkungan). Hasil pencapaian Program Pemberantasan Penyakit TBC di
Puskesmas Rawat Inap Simpur Periode Tahun 2009.
Tabel 11. Hasil Pencapaian
Target (%) Capaian Masalah
No. Indikator
(%)
Proporsi suspek tuberkulosis 70% (dari 110% (504
paru yang dilakukan sasaran 458 orang)
1 (-)
pemeriksaan dahak. orang)

Angka penemuan kasus baru 70% (dari 65,2% (30


dengan tuberkulosis baru BTA sasaran 46 orang)
2 (+) setelah dilakukan orang) (+)
pemeriksaan dahak

Proporsi penderita tuberkulosis 10% (dari 5,9% (30


paru dengan BTA (+) diantara sasaran 504 orang) (+)
3
suspek tuberkulosis paru orang)

Angka kesembuhan penderita 85% (dari 120% (36


tuberkulosis paru yang sasaran 30 orang) (-)
4
diberikan pengobatan orang)

Angka konversi penderita BTA 80% (dari 110% (33


(+) menjadi BTA (-) setelah sasaran 30 orang) (-)
5
diberikan pengobatan orang)

Dari data yang ada terdapat dua masalah yang ditemukan pada program upaya
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yang terdiri dari:
a. Angka Penemuan Kasus Baru BTA(+), tidak mencapai target 70%
Angka penemuan kasus baru dengan tuberkulosis baru BTA (+) setelah
dilakukan pemeriksaan dahak di Puskesmas Rawat Inap Simpur Periode
Tahun 2009, berikut dijelaskan dalam tabel.
Tabel .Angka Penemuan Kasus Baru BTA(+) Puskesmas Rawat Inap
Simpur tahun 2009
NO KELURAHAN SASARAN DIPERIKSA PENEMUAN
KASUS BARU
JMLH % JMLH %

1 Pasir Gintung 115 11 9,1 8 72

2 Gunung Sari 140 13 9,3 12 92


3 Penengahan 119 10 9 4 40

4 Kelapa Tiga 130 12 9,2 6 50

Jumlah 504 46 9,1 30 65,2

Dari tabel di atas terlihat bahwa penemuan kasus baru BTA(+)


masih di bawah target yaitu hanya tercapai 65,2 % dari target > 70%.

Angka Penemuan Kasus Baru BTA(+) Puskesmas Rawat


Inap Simpur 2009

pasir gintung
100
80
60
40 Penemuan Kasus Baru
20 (%)
kelapa tiga 0 gunung sari
sasaran

penengahan

Gambar. Angka Penemuan Kasus Baru BTA(+) Puskesmas Rawat Inap Simpur tahun
2009
b. Proporsi penderita tuberkulosis paru dengan BTA (+) diantara suspek
tuberkulosis paru, tidak mencapai target 10%
Tabel. Cakupan TB Paru tahun 2009
NO KELURAHAN SUSPEK BTA BTA Proporsi TB Paru
+ - BTA (+) diantara
semua pasien TB
paru %
1 Pasir Gintung 115 8 107 6,9
2 Gunung Sari 140 12 128 8,5
3 Penengahan 119 4 115 3,3
4 Kelapa Tiga 130 6 124 4,6
jumlah 504 30 474 5,9

Dari tabel di atas terlihat bahwa proporsi pasien TB BTA + diantara


semua pasien TB paru masih di bawah target yaitu hanya tercapai 5,9 % dari
target 10 %.

Proporsi pasien TB BTA + diantara semua pasien TB


Puskesmas Rawat Inap Simpur tahun 2009
Pasir Gintung
10
8
6
4
2 Proporsi TB
Kelapa Tiga 0 Gunung Sari BTA +

Penengahan

Gambar. Proporsi pasien TB BTA + diantara semua pasien TB paru Puskesmas Rawat
Inap Simpur Tahun 2009

5.4 Menetapkan Prioritas Masalah


Pada evaluasi program pemberantasan penyakit tuberculosis paru setelah
membandingkan pencapaian program dan target sasaran program, terdapat dua
masalah yang ditemukan pada program pemberantasan penyakit TBC di
Puskesmas Rawat Inap Simpur tahun 2009. Masalah ini ditegakkan karena
adanya perbedaan antara target sasaran dengan capaian.

Tabel 12. Penentuan prioritas masalah metode USG


No Masalah Urgency Seriousness Growth Total
Angka penemuan 4 4 3 48
kasus baru dengan
tuberkulosis baru
1
BTA (+) setelah
dilakukan
pemeriksaan dahak.
Proporsi penderita 5 4 4 80
tuberkulosis paru
2 dengan BTA (+)
diantara suspek
tuberkulosis paru

Berdasarkan tabel masalah yang terdapat pada program pemberantasan


penyakit tuberculosis paru dikarenakan tidak tercapainya target terdiri dari
Angka Penemuan Kasus Baru BTA(+) jumlah skor 48 dan Proporsi Penderita
TB Paru BTA (+) jumlah skor 80 sehingga masalah yang menjadi prioritas
untuk diselesaikan dalam laporan ini adalah terkait dengan Proporsi
penderita tuberkulosis paru dengan BTA (+) diantara suspek
tuberkulosis paru.

Pada dasarnya dari kelima kelurahan yang berada di wilayah kerja Puskesmas
Rawat Inap Simpur harus dilakukan intervensi, namun untuk menentukan
prioritas masalah dari keempat kelurahan tersebut harus dilakukan dengan
perhitungan metode USG.

Tabel. Matriks pemecahan masalah per kelurahan dengan metode USG


No Masalah U S G Total
1 Pasir Gintung 3 3 3 28
2 Gunung Sari 2 2 2 8
3 Penengahan 4 4 4 64
4 Kelapa Tiga 3 3 2 18

Berdasarkan hasil dari jaringan laba-laba yang telah dibuat maka prioritas
masalah terdapat pada kelurahan Penengahan, sehingga perlu dilakukan
intervensi karena pada kelurahan tersebut menempati nilai Proporsi TB Paru
BTA (+) diantara semua pasien TB yang paling rendah.

5.5 Membuat Kerangka Konsep dari Masalah yang Diprioritaskan


Untuk mempermudah identifikasi faktor penyebab masalah program
pemberantasan penyakit tuberculosis paru terkait Proporsi penderita
tuberkulosis paru dengan BTA (+) diantara suspek tuberkulosis paru di
Puskesmas Rawat Inap Simpur diperlukan kerangka konsep dengan
menggunakan pendekatan sistem.

INPUT
 Tenaga Kesehatan
PROSES
 Sarana dan Prasarana
 Promosi Kesehatan  Identifikasi pasien suspek TBC Paru
 Dana Yang Tersedia  Pemeriksaan dahak pasien suspek TBC

OUTPUT
Tercapainya target program
penatalaksanaan TBC Paru

Gambar 6. Kerangka Konsep


5.6 Identifikasi penyebab masalah
Setelah mengetahui prioritas masalah maka dibuat identifikasi penyebab
masalah dengan menggunakan diagram fishbone
5.6.1 Merumuskan Masalah
 What : Angka penemuan kasus Tuberculosis Paru tidak mencapai target
 Who : Penderita baru tuberculosis paru dengan BTA (+)
 When : 2009
 Where : Puskesmas Rawat Inap Simpur
 Why : Target pencapaian lebih rendah daripada target pencapaian
 How : 5,9% dari 10% dari 504 orang

Tidak tercapainya target penemuan kasus baru Tb dengan BTA (+) yaitu hanya
5,9% dari 10%

5.6.2 Menentukan Akar Permasalahan

5.6.3

Man Machine
kurang kesadaran
terpenuhinya masyarakat yang
Kurangnya
karakteristik rendah Tidak
petugas kesehatan
rumah sehat tercapainya
kurangnya Kepadatan target penemuan
pelatihan bagi penduduk
petugas kesehatan
kasus baru Tb
dengan BTA (+)
akses ke yaitu hanya 5,9%
alat skrining Pendapatan
masyarakat pelayanan dari 10%
rendah kesehatan
Kurangnya
ketersediaan obat kurangnya dana adanya balai
pelatihan bagi pengobatan
petugas kesehatan swasta
Material
Money Method

Gambar 7. Diagram fishbone

Dari diagram fishbone di atas, masih perlu mencari masalah-masalah yang


paling memiliki peranan dalam mencapai keberhasilan program. Dengan
menggunakan model teknik kriteria matriks pemilihan prioritas dapat dipilih
masalah yang paling dominan.

Tabel 13. Teknik Kriteria Matriks Pemilihan Prioritas Penyebab Masalah


Permasalahan Internal
No. Daftar Masalah I T R Jum
P S RI DU SB PB PC IxTxR
1. Man: 4 3 3 4 2 2 1 3 3 155
 kurangnya
petugas
kesehatan
 kurangnya
pelatihan
petugas
kesehatan
2. Material : 4 2 2 4 3 3 1 2 3 124

Kurangnya
ketersediaan
obat
 alat skrining
3. Money : 2 3 3 4 4 3 2 1 2 40
 Pendapatan
masyarakat
yang rendah
 pendanaan
untuk pelatihan
4. Method : 4 4 4 2 3 2 1 3 3 160
 akses ke
pelayanan
kesehatan
 adanya
pelayanan
swasta
Permasalahan Eksternal
No. Daftar Masalah I T R Jum
P S RI DU SB PB PC IxTxR
1. Machine 4 4 4 3 4 2 2 3 3 123
 kesadaran
masyarakat
yang rendah
 kurang
terpenuhinya
karakteristik
rumah sehat
 Kepadatan
penduduk

Keterangan :
P : Prevalence (besarnya masalah)
S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
RI : Rate of Increase (kenaikan besarnya masalah)
DU : Degree of Unmeet-need (derajat keinginan masyarakat yang tidak
dipenuhi)
SB: Social Benefit (keuntungan social karena selesainya masalah)
PB : Public Concern (Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah)
PC : Political Climate (suasana politik)
I :Importancy, yaitu makin penting satu masalah, makin diprioritaskan
masalah tersebut.
T : Technical feasibility, yaitu makin layak teknologi yang tersedia dan yang
dapat dipakai untuk mengatasi masalah, makin diprioritaskan masalah
tersebut.
R : Resource ability, yaitu makin tersedia sumber daya yang dapat dipakai,
seperti tenaga, dana, dan sarana untuk mengatasi masalah, makin
diprioritaskan masalah tersebut.

Setelah dilakukan pemilihan prioritas penyebab masalah menggunakan teknik


kriteria matriks, didapatkan penyebab masalah tertinggi yaitu screening yang
belum mencakup ke semua daerah ataupun masyarakat, serta kurangnya
petugas screening menjadi prioritas masalah yang harus di selesaikan untuk
mengatasi masalah penurunan proporsi penderita tuberkulosis paru dengan
BTA (+) diantara suspek tuberkulosis paru di Puskesmas Rawat Inap Simpur.