Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan rahmat serta
hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah Hukum
Perkawinan.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum


Perkawinan. Makalah ini berisi tentang Dampak sosial yang dapat timbul akibat
pernikahan siri.

Dalam menyusun makalah ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang
penyusun alami, namun berkat dukungan, dorongan dan semangat dari orang
terdekat, penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu penyusun
mengucapkan terima kasih kepada :

1. Harti Winarni, S.H., M.H. selaku Pembimbing Akademi JurusanIlmu


Hukum Universitas Cokroaminoto Yogyakarta.
2. Dra. Istifanah, M.Ag selaku dosen pengampu mata kuliah Hukum
Perkawinan.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak


kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun dan pembaca.

Yogyakarta, Juli 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

1. Halaman Judul ............................................................................ i


2. Kata Pengantar ............................................................................ ii
3. Daftar Isi ...................................................................................... iii
4. BAB 1 PENDAHULUAN
a. Latar Belakang ...................................................................... 1
b. Permasalahan ........................................................................ 2
c. Tujuan ................................................................................... 2
5. BAB II PEMBAHASAN
a. Pengertian Nikah Siri ............................................................ 3
b. Nikah Siri Menurut Hukum Positif ....................................... 4
c. Dampak Nikah Siri ................................................................ 6
6. BAB III PENUTUP
Kesimpulan ................................................................................. 7
7. Daftar Pustaka

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pernikahan atau Perkawinan dalam UU No. 1 Tahun 1974 Tentang


Perkawinan, Pernikahan adalah sebuah ikatan lahir batin antara seorang pria
dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk
membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal yang
didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Berbicara mengenai tujuan
pernikahan atau tujuan perkawinan, kedua belah pihak antara laki-laki dan
perempuan melangsungkan pernikahan atau perkawinan bertujuan untuk
memperoleh keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah.
Dalam perkembangan zaman sekarang ini manusia mulai berontak
terhadap keadaan hidup, mulai dari tindakan yang tidak bermoral hingga
mengambil jalan yang tidak halal mereka lakukan karena desakan
kebutuhan hidup, dalam hal ini khususnya tindakan dengan jalan kawin
dibawah tangan atau disebut Nikah sirri yang saat ini banyak terjadi. Nikah
sirri merupakan istilah yang sudah lazim di pergunakan dalam bahasa
komunikasi sehari-hari. Fenomena nikah sirri, di era teknologi informasi ini,
semakin muncul kepermukaan dan menjadi issue nasional yang cukup
menyita perhatian masyarakat hukum di Indonesia sejalan dengan
terbukanya akses informasi dan maraknya pemberitaan mengenai pelaku
nikah sirri, terutama yang dilakukan oleh beberapa public figure di negeri
ini yang notabene seharusnya menjadi contoh masyarakat bawah dalam
menegakkan keberlakuan undang-undang perkawinan Indonesia.
Untuk selanjutnya penulis akan mengemukakan dampak sosial
nikah sirri dalam makalah ini.

2
1

B. Permasalahan
1. Apakah yang dimaksud dengan nikah sirri ?
2. Bagaimana pandangan nikah sirri menurut hukum positif ?
3. Bagaimana dampak nikah sirri dari segi sosial ?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian nikah sirri
2. Mengetahui pandangan nikah sirri menurut hukum positif
3. Mengetahui dampak nikah sirri dari segi sosial

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pernikahan Sirri
Nikah siri adalah nikah secara rahasia (sembunyi-sembuyi). Disebut
secara rahasia karena tidak dilaporkan ke kantor urusan agama atau KAU bagi
muslim atau kantor catatan sipil bagi non muslain. Biasanya nikah siri
dilakukan karena dua pihak belum siap meresmikannya atau meramaikannya,
namun dipihak lain untuk menjadi agar tidak terjadi hal-hal yag tidak
dinginkan atau terjerumus kepada hal-hal yang dilarang agama. Secara umum
nikah siri dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Kurangnya Kesadaran Hukum Masyarakat

Masih banyak di antara masyarakat kita yang belum memahami


sepenuhnya betapa pentingnya pencatatan perkawinan.
Dengan demikian, rendahnya tingkat kesadaran hukum masyarakat
seperti itu perlu ditingkatkan melalui kegiatan penyuluhan hukum baik
secara formal yang dilakukan oleh lembaga instansi terkait maupun
secara informal melalui para penceramah di forum pengajian majelis
ta’lim dan lain sebagainya.

b. Sikap Apatis Sebagian Masyarakat Terhadap Hukum

Sebagian masyarakat ada yang bersikap masa bodoh terhadap


ketentuan peraturan yang menyangkut perkawinan
4
c. Ketentuan Pencatatan Perkawinan Yang Tidak Tegas

Sebagaimana kita ketahui, ketentuan pasal 2 UU No.1 / 1974


merupakan azas pokok dari sahnya perkawinan. Ketentuan ayat (1) dan
(2) dalam pasal tersebut harus dipahami sebagai syarat kumulatif, bukan
syarat alternative sahnya suatu perkawinan.Dari fakta hukum dan/atau
norma hukum tersebut sebenarnya sudah cukup menjadi dasar bagi umat
Islam terhadap wajibnya mencatatkan perkawinan mereka. Akan tetapi
ketentuan tersebut mengandung kelemahan karena pasal tersebut multi
tafsir dan juga tidak disertai sanksi
3 bagi mereka yang melanggarnya.
Dengan kata lain ketentuan pencatatan perkawinan dalam undang-
undang tersebut bersifat tidak tegas.

d. Ketatnya Izin Poligami

UU No.1/1974 menganut azas monogami, akan tetapi masih


memberikan kelonggaran bagi mereka yang agamanya mengizinkan
untuk melakukan poligami (salah satunya agama Islam) dengan
persyaratan yang sangat ketat

B. Nikah Siri Menurut Hukum Positif

Undang-Undang (UU RI) tentang Perkawinan No. 1 tahun 1974 diundang-


undangkan pada tanggal 2 Januari 1974 dan diberlakukan bersamaan dengan
dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yaitu Peraturan Pemerintah No. 9 tahun
1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Menurut
UU Perkawinan, perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan
seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah
tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal
1 UU Perkawinan). Mengenai sahnya perkawinan dan pencatatan perkawinan
terdapat pada pasal 2 UU Perkawinan, yang berbunyi: "(1) Perkawinan adalah
sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya itu; (2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan
5
perundang-undangan yang berlaku."

Dari Pasal 2 Ayat 1 ini, kita tahu bahwa sebuah perkawinan adalah sah
apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya itu. Ini berarti bahwa jika suatu perkawinan telah memenuhi
syarat dan rukun nikah atau ijab kabultelah dilaksanakan (bagi umat Islam)
atau pendeta/pastur telah melaksanakan pemberkatan atau ritual lainnya, maka
perkawinan tersebut adalah sah terutama di mata agama dan kepercayaan
masyarakat. Tetapi sahnya perkawinan ini di mata agama dan kepercayaan
masyarakat perlu disahkan lagi oleh negara, yang dalam hal ini ketentuannya
terdapat pada Pasal 2 Ayat 2 UU Perkawinan, tentang pencatatan perkawinan
. Bagi mereka yang melakukan perkawinan menurut agama Islam pencatatan
dilakukan di KUA untuk memperoleh Akta Nikah sebagai bukti dari adanya
perkawinan tersebut. (pasal 7 ayat 1 KHI "perkawinan hanya dapat dibuktikan
dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah"). Sedangkan
bagi mereka yang beragama non muslim pencatatan dilakukan di kantor
Catatan Sipil, untuk memperoleh Akta Perkawinan.

Mengenai pencatatan perkawinan, dijelaskan pada Bab II Pasal 2 PP No. 9


tahun 1975 tentang pencatatan perkawinan. Bagi mereka yang melakukan
perkawinan menurut agama Islam, pencatatan dilakukan di KUA. Sedangkan
untuk mencatatkan perkawinan dari mereka yang beragama dan kepercayaan
selain Islam, cukup menggunakan dasar hukum Pasal 2 Ayat 2 PP No. 9 tahun
1975. Tata cara pencatatan perkawinan dilaksanakan sebagaimana ditentukan
dalam Pasal 3 sampai dengan Pasal 9 PP No. 9 tahun 1975 ini, antara lain setiap
orang yang akan melangsungkan perkawinan memberitahukan secara lisan
atau tertulis rencana perkawinannya kepada pegawai pencatat di tempat
perkawinan akan dilangsungkan, selambat-lambatnya 10 hari kerja sebelum
perkawinan dilangsungkan. Kemudian pegawai pencatat meneliti apakah
syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi dan apakah tidak terdapat halangan
perkawinan menurut UU. Lalu setelah dipenuhinya tata cara dan syarat-syarat
pemberitahuan serta tidak ditemukan suatu halangan untuk perkawinan,
pegawai pencatat mengumumkan dan menandatangani pengumuman tentang
pemberitahuan kehendak melangsungkan perkawinan dengan cara
menempel surat pengumuman pada suatu tempat yang sudah ditentukan dan
mudah dibaca oleh umum .

C. Dampak Nikah Siri


Dampak yang pertama itu adalah untuk wanita karena memang wanita akan
kehilangan haknya atau tidak bisa mendapatkan haknya secara penuh sebagai
seorang istri, hak yang memang didapatkan oleh istri yang sah secara hukum
tidak bisa didapatkan oleh istri yang nikah siri, seperti hak waris atau hak
penghidupan anak nantinya akan sangat sulit sekali jika ditinggalkan atau
suaminya meninggal, hal ini memang tidak akan bisa dituntut secara hukum
karena memang secara hukum pernikahan siri ini tidak sah

Dan yang kedua pihak yang melakukan nikah siri itu biasanya tidak
memikirkan secara penuh bagaimana nasib anak-anak yang dilahirkan dari
pernikahan siri ini, semua anak nantinya itu akan membutuhkan akta kelahiran
baik untuk urusan pendidikan atau mungkin juga untuk administrasi,
sedangkan untuk membuatnya orang tua itu harus bisa menunjukan surat nikah
kepada pemerintahan, dan apabila anda menikah siri secara otomatis anda tidak
memiliki surat nikah dan tidak bisa membuat akta kelahiran

Jika suami meninggal dunia maka anak dan juga istri itu tidak berhak
mendapatkan hak waris dari suaminya, dan sudah jelas tidak bisa dituntut
secara hukum. Dan apabila nantinya bercerai maka istri itu tidak memiliki hak
mengenai tunjangan nafkah yang biasanya didapatkan oleh mantan istri yang
resmi ataupun juga harta gono-gini

Status anak yang lahir dari nikah siri itu tidak akan memiliki status hukum
yang jelas. Dan yang perlu anda ketahui kalau pihak wanita yang menikah siri
juga bisa dipidanakan jika istri sah dari suami itu melaporkan ke pihak berwajib
karena suami dan istri sirinya telah melakukan kejahatan dalam pernikahan, hal
ini memang sudah tertulis jelas didalam pasal 279(1)KUHP dan juga pasal 284
ayat (1) KUHP

BAB
6
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pernikah siri adalah nikah dibawah tangan atau nikah secara
sembunyi-sembunyi. Disebut secara sembunyi karena tidak dilaporakan
kekantor urusan agama bagi muslaim atau catatan sipil non muslim.
Sesungguhnya Islam telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya yang
akan memasuki jenjang pernikahan, lengkap dengan tata cara atau aturan-
aturan Allah Subhanallah. Penikahan sesuai dengan Sunnah Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang hanya dengan cara inilah kita
terhindar dari jalan yang sesat (bidah).
Hukum nikah sirih secara aturan agama adalah sah. Dan dihalalkan atau
diperbolehkan jika sarat dan rukun nikanya terpenuhi. Namun secara hukum
yang berlaku di Negara kita tentang perundang-undangan pernikahan itu
tidak sah karena di dalam perundangan ada yang tidak lengkap secara
administrasi.
Dampak yang ditimbulkan dari nikah sirih lebih banyak faktor kerugaiannya
dibandingkan faktor keuntungannya. Kerugaian yang terbesar dari nikah siri
berdampak pada pihak perempuan dan anaknya untuk masa depannya.
Faktor yang melatarbelakangi adanya nikah sirih yaitu 1) faktor ekonomi,
2) proses admisntrasi pernikahan yang dianggap terlalu sukar, 3) bagi pria
yang yang ingin menukah lagi atau poligami tetap tidak mendapat
persetujuan atau disetujui dari istri ke pertama, 4) dari awal baik siwanita
atau pria yang melakukan nikah siri mempunyai itikad tidak baik, hanya
sekedar menghalalkan hubungan persetubuhan saja.

DAFTAR PUSTAKA
http://iusyusephukum.blogspot.com/2013/04/makalah-hukum-nikah-sirih-
dalam.html
https://www.nomifrod.com/2016/06/4-faktor-penyebab-terjadinya-nikah-siri.html

https://ilmutauhid.com/dampak-negatif-nikah-siri/

MAKALAH

DAMPAK NIKAH SIRI


DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH HUKUM
PERKAWINAN DOSEN PENGAMPU Dra. Istifianah, M.Ag

DISUSUN OLEH :

NOVITA LAKSMI PUTRI NIM 1630102455

UNIVERSITAS COKROAMINOTO YOGYAKARTA

JURUSAN ILMU HUKUM

2017

MAKALAH

DAMPAK NIKAH SIRI


DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH HUKUM
PERKAWINAN DOSEN PENGAMPU Dra. Istifianah, M.Ag

DISUSUN OLEH :

NOVITA LAKSMI PUTRI NIM 1630102455

UNIVERSITAS COKROAMINOTO YOGYAKARTA

JURUSAN ILMU HUKUM

2017