Anda di halaman 1dari 7

TUGAS KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH II

ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS (DM)

Disusun oleh :
ARIF WIBOWO (180101158)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN ALIH JENJANG


UNIVERSITAS ALMA ATA
2019
SOAL
1. Berapakah kadar gula normal?
2. Kapan seseorang dikatakan menderita DM?
3. Bagaimanakah penatalaksanaan pasien dengan KAD?
4. Apakah efek samping dari masing-masing obat anti hiperglikemia?
5. Bagaimana anda meng edukasi pasien dengan DM?
Jawaban :
1. Kadar gula darah normal :
 Sebelum makan : sekitar 70-130 mg/dl
 Dua jam setelah makan : kurang dari 140 mg/dl
 Setelah tidak makan (puasa) selama setidaknya 8 jam : kurang dari 100 mg/dl
 Menjelang tidur 100-140 mg/dl

2. Seseorang dikatakan menderita DM


Seseorang dicurigai atau di katakana menyandang DM apabila ditemukan sejumlah
keluhan klasik yaitu: sering buang air kecil, banyak minum, mudah lapar, dan
adanya penurunan berat badan tanpa sebab. Selain keluhan di ataas dapat di jumpai
juga keluhan lainya seperti kesemutan, lemah, mata kabur, gatal-gatal, luka sukar,
sembuh, disfungsi eraksi pada pria dan timbul rasa gatal di sekitar kemaluanwanita.
Dengan adanya gejala tersebut maka akan di lakukan pemeriksaan gula darah ,
sesorang akan di katakana menderita DM apabila ditemukan kadar gula darah yang
tinggi yaitu kadar gula darah puasa (tidak ada asupan kalori selama minimal 8 jam
>=126 mg/dl atau kadar glukosa darah sewaktu >= 200 mg/dl disertai dengan
keluhan klasik DM .

3. penatalaksanaan pasien dengan KAD


penatalaksanaak KAD bersifat multifactorial sehingga memerluka pendekat
terstruktur oleh dokter dan paramedic. Dalam penatalaksanaan penderita KAD
setiap rumah sakit memiliki pedoman atau disebut sebagai integrated care pathway
pedoman ini dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan terapi keberhasilan
penatalaksanaan KAD membutuhkan koreksi dehidrasi, hiperglikemi, asidosis dan
kelainan elektrolit dan yang terpentng adalah pemantauan pasien terus menerus.
Berikut beberapa hal yang harus di perhatikan pada penatalaksanaan KAD :

A. terapi cairan
B. terapi insulin
C. natrium
D. kalium
E. bikarbonat
F. fosfat
G. magnesium
H. hiperkloremik asidosis selama terapi
I. penatalaksanaan terhadap infeksi yang menyertai
J. terapi pencegaan terhadap Deep Vein Thrombosis (DVT)

4. Efek samping anti hiperglikemia :

 Chlorpropamide(Diabenese)
 Tolbutamide (Rastinon)
 Gliclazide (Diamicron)
 Glibenklamide (Euglucon/ Daonil)
 Glipizid (Minidiab)
 Gliquidone (Glurenorm)

Kontra Indikasi :

Pada pasien DM dengan: Disfungsi hati, ginjal endokrin, gizi buruk, alkoholisme akut &
pasien yang mendapat diuretik tiazid.

Efek potensiasi : meningkatkan keadaan Hipoglikemik dengan penggunaan bersama preparat


– praparat : Sulfonamid, Propanolol, Salisilat, Clofibrat, Fenilbutazon, Probenesid,
Dikumarol, Kloramfenikol, Mono Amino Oksidase Inhibitor, Alkohol.

Efek samping :
UGDP (University Group Diabetes Program) 1970 jumlah kematian yang disebabkan oleh
penyakit kardiovaskular pasien DM yang diobati dengan tolbutamide sangat besar dibanding
pasien yang diobati insulin atau plasebo.

Seperti sediaan – sedian lain sering dilaporkan : rasa tidak enak, sakit perut; Gangguan saluran
cerna (mual, muntah, diare) ; saraf (vertigo, bingung, sakit kepala, ataksia).

 efek samping : Kegagalan sekunder. Maksudnya disini adalah Gagal mempertahankan


respon yang baik pada terapi sulfonilurea dalam jangka panjang pada pengelolaan DM
tipe2 (dianjurkan terapi berselang dalam dosis tunggal dengan masa kerja pendek); juga
penurunan progrsef pada massa sel B pada DM Tipe2 kronis juga berperan untuk
kegagalan sekunder ini.
 Efek teratogen pada hewan uji pernah dilaporkan pada dosis yang besar sehingga tak
dianjurkan untuk wanita hamil
 Efek Diuretik dijumpai pada klorpropamid, Acetohexamide, Tolazamide & Gliburide
 Risiko terjadi Ikterus obstruktif paling sering dilaporkan dengan sediaan Klorpropamid
(+0,4%); pasien dengan predisposisi genetik bisa terjadi hiper emicflush ( = efek
disulfiram = efek Antabus) bila mengkonsumsi alkohol didalam penggunaan terapi
Tolbutamid, Gliburide & tersering klorpropamide
 Toksisitas Hematologik (Leukopenia sementara, Trombositopenia) terjadi pada kurang
dari 1% pasien dengan terapi klorpropamide.
 Hipoglikemi : (dosis tidak tepat, diet ketat, gangguan fungsi hati dan atau ginjal); dan
cenderung terjadi pada derivat – derivat kerja kuat (Glibenklamid, Klorpropamid).
 Nafsu makan diperbesar sehingga dapat menyebabkan berat badan meningkat.

 BIGUANIDE

 Obat hipoglikemik oral golongan biguanida bekerja langsung pada hati (hepar),
menurunkan produksi glukosa hati. Senyawa-senyawa golongan biguanida tidak
merangsang sekresi insulin, dan hampir tidak pernah menyebabkan hipoglikemia.

 Efek samping : Efek samping yang sering terjadi adalah nausea, muntah, kadang-
kadang diare, dan dapat menyebabkan asidosis laktat.

 METFORMIN
Metformin mempunyai t ½ : 1,5 - 3 jam, tak terikat protein plasma, tidak
dimetabolisme, dan dieksresi oleh ginjal sebagai senyawa aktif.

Efek samping :
 Diare, mual, perut terasa tidak enak, anoreksia
 Rasa metalik,
 Gangguan absorpsi vit B12 dan Folat (pernah dilaporkan Sampai terjadi
anemia), dan
 AAL (Acidosis Asam Laktat); usus adalah sumber utama Laktat yang akan
diperbesar oleh hepar bila ambilan Glukosa dihepar meningkat sesudah makan.
 TIAZOLIDINEDIONE
Merupakan penghambat kompetitif glukosidase usus dan memodulasi pencernaan
pasca prandial dan absorpsi zat tepung disakarida
Efek samping :

 Efek yang tidak diinginkan yang menonjol: flatulensi, diare dan rasa sakit nyeri
abdominal, akibat KH yang tidak diserap didalam kolon, difermentasi jadi asam
lemak rantai pendek dengan menghasilkan gas, pada penggunaan kronis, efek
samping cenderung berkurang
 Hipoglikemi dapat terjadi pada pemberian bersamaan dengan sulfonilurea. Dapat
diobati dengan Glukosa (Dextrosa)
 Dikontra indikasikan pada pasien dengan penyakit usus besar kronis / penyakit
peradangan usus besar atau berbagai kondisi usus yang dapat memperburuk keadaan
yang disebabkan terjadinya gas dan regangan; pasien dengan gangguan ginjal; untuk
penggunaan Acarbose harus hati – hati pada penyakit hati.

5. Edukasi pasien dengan DM

Edukasi Pasien perlu untuk menghindari gula dan asupan lemak jenuh, rokok,
dan alkohol. Pasien perlu menjaga berat badannya di kisaran indeks massa tubuh (IMT)
normal serta berolahraga secara teratur, setidaknya 30 menit selama 3 kali seminggu.
Pasien juga perlu diedukasi bahwa diabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit kronis
yang belum dapat disembuhkan namun dengan perubahan gaya hidup dan pengobatan
teratur, penyakit ini dapat dikontrol sehingga tidak menyebabkan komplikasi. Untuk
itu, pasien perlu dimotivasi untuk minum obat secara terus-menerus walau tidak merasa
sakit, kontrol rutin setiap 3-6 bulan, dan melakukan pemeriksaan kaki dan mata secara
berkala.
Edukasi kesehatan untuk diabetes mellitus mencakup gaya hidup sehat, pola
makan, serta berolahraga secara teratur dan berhenti merokok dan minum alkohol.
Dukungan psikologi oleh tenaga professional juga dapat diberikan, khususnya jika
terjadi komplikasi pada pasien.
Di Indonesia, terdapat organisasi Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) yang
bergerak di bidang promosi kesehatan untuk diabetes, beranggotakan tidak hanya
pasien diabetes tetapi juga tenaga kesehatan dan simpatisan. Terdapat juga puskesmas
yang memiliki poli khusus diabetes. Tenaga kesehatan di poli tersebut tidak hanya
terlatih mengenai aspek diagnosis dan penanganan diabetes, tetapi juga dalam aspek
edukasi yang perlu diberikan pada pasien, seperti cara mengecek kadar gula darah, diet
pasien, dan aspek edukasi lainnya.