Anda di halaman 1dari 6

PERBEDAAN KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS

TIPE 2 SEBELUM DAN SESUDAH LATIHAN JALAN KAKI DI KOTA SOLOK

Tintin Sumarni, Deharnita, Aini Yusra


(Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang)

ABSTRACT

The purpose of this study was to obtain a decrease in blood sugar levels in patients with type
2 diabetes before and after exercise walking. This study was an experiment with the design
of one group pretest-posttest design made on 14 April to 28 April 2015. The population in this
study was patients with diabetes mellitus type 2. The data was processed and then analyzed
using t test dependent with ɑ = 0.05. The results showed that the average value of blood
sugar levels prior to walking exercise was 175.5 mg / dL. Then the average value of blood
sugar levels after doing exercises walking was 114.1 mg / dL. There were significant
differences in blood sugar levels of patients with type 2 diabetes before and after physical
exercise walking. exercise walking is one way that can lower blood sugar levels for people
with type 2 diabetes.

Keywords: Diabetes Mellitus, Blood Sugar, Exercise Walking

ABSTRAK
Penderita DM setiap tahun meningkat didunia.. Untuk mengurangi penyakit DM adalah
menurunkan kadar gula darah. Salah satu caranya dengan latihan fisik jalan kaki. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendapatkan penurunan kadar gula darah pada penderita DM
tipe 2 sebelum dan sesudah dilakukan latihan jalan kaki. Penelitian ini bersifat eksperimen
dengan rancangan one group pretest- posttest design yang dilakukan pada tanggal 14 April
s.d 28 April 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita DM tipe 2. Data diolah
kemudian di analisa menggunakan uji t dependen dengan ɑ = 0,05. Hasil penelitian
menunjukan bahwa nilai rata-rata kadar gula darah sebelum dilakukan latihan jalan kaki
adalah 175,5 mg/dL. Kemudian nilai rata-rata kadar gula darah sesudah dilakukan latihan
jalan kaki adalah 114,1 mg/dL. Ada perbedaan yang signifikan kadar gula darah penderita
DM tipe 2 sebelum dan sesudah dilakukan latihan fisik jalan kaki. latihan jalan kaki
merupakan salah satu upaya yang dapat menurunkan kadar gula darah bagi penyandang
DM tipe 2.

Kata Kunci : Diabetes Melitus, Gula Darah, Latihan Jalan Kaki


PENDAHULUAN kunjungan terbanyak penderita DM
Diabetes mellitus adalah penyakit adalah di Puskesmas Tanjung Paku.
yang timbul dari adanya kondisi kadar gula Kurang lebih 90 % penderita
darah yang tinggi (hiperglikemia). Kadar diabetes di Indonesia mengalami diabetes
gula darah yang tinggi biasa disebabkan melitus tipe II, yaitu diabetes melitus yang
oleh kelainan yang berkaitan dengan tidak tergantung pada insulin. Diabetes
hormone insulin yang berfungsi sebagai melitus tipe II terjadi akibat sensitivitas
penyeimbang kadar gula darah. terhadap insulin (yang disebut resistensi
Gangguan hormone insulin disebabkan insulin) atau akibat penurunan jumlah
oleh ketidakmampuan organ pangkreas produksi insulin . (Purnomo, 2009)
dalam memproduksi insulin secara Latihan jasmani atau aktifitas fisik
optimal, yaitu jumlahnya kurang. Selain merupakan salah satu pilar
karena ketidakmampuan pancreas dalam penatalaksanaan DM disamping edukasi,
memproduksi insulin, gangguan juga terapi gizi medis dan intervensi
terjadi karena sel sel tubuh tidak dapat farmakologis. Manfaat latihan jasmani bagi
mempergunakan insulin dengan baik. penderita diabetes antara lain
Tingginya gula darah juga biasa meningkatkan penurunan kadar glukosa
disebabkan oleh asupan makanan sumber darah, mencegah kegemukan, ikut
gula yang berlebihan. (Teguh Susanto, berperan dalam mengatasi kemungkinan
2013) terjadinya komplikasi aterogenik,
Pada 2006 jumlah penyandang DM gangguan lemak darah, menormalkan
di Indonesia mencapai 14 juta orang. Dari tekanan darah, serta meningkatkan
jumlah itu baru 50% penderita yang sadar kemampuan kerja. (Smetzer & Bare,
mengindap, dan sekitar 30% diantaranya 2002)
melakukan pengobatan secara teratur. Salah satu jenis olahraga aerobik
Menurut beberapa penelitian epidemiologi yang direkomendasikan untuk penderita
prevalensi diabetes di Indonesia berkisar DM tipe II adalah jalan kaki. Dengan
1,4 % sampai 2,3 % kecuali di Manado berjalan kaki setiap hari, selama 30 menit
yang cendrung lebih tinggi yaitu 0,1%. sampai satu jam dilakukan secara teratur
(Purnomo, 2009) 3-5 kali per-minggu. Penderita diabetes
Di Kota Solok pada tahun 2014, bisa mendapatkan banyak manfaat yaitu
terdapat 4 Puskesmas yang terdiri dari peningkatan kontrol glukosa. Latihan
Puskesmas Tanjung Paku, Puskesmas membantu otot menyerap gula darah dan
Tanah Garam, Puskesmas Nan Balimo, mencegahnya bertambah dalam aliran
dan Puskesmas KTK. Dari empat darah, membantu mengatur berat badan.
puskesmas di Kota Solok didapatkan data (Sudoyo, 2006)
Banyaknya manfaat dari latihan gula darah bagi seseorang yang
fisik jalan kaki , maka latihan fisik sangat menderita penyakit DM.
penting sekali dianjurkan kepada Penelitian ini bertujuan Untuk
penyandang DM. Sebagaimana mengetahui perbedaan kadar gula darah
berdasarkan penelitian yang telah sebelum dan sesudah dilakukan latihan
dilakukan sebelumnya oleh Indriani, fisik jalan kaki terhadap pasien DM tipe II.
Supriyatno, dan Santoso (2004) Mengacu kepada kerangka konsep yang
menunjukkan bahwa latihan fisik jalan kaki digunakan dalam penelitian ini adalah pre
memberikan pengaruh terhadap test (Pengukuran kadar gula darah
penurunan kadar gula darah pada sebelum dilakukan aktifitas fisik jalan
penyandang DM dengan penurunan rata- kaki), perlakuan (intervensi dengan
rata sebesar 30,14 mg/dl. Jadi memang melakukan aktifitas fisik jalan kaki), post
terlihat bahwa latihan fisik dapat test (pengukuran kadar gula darah
berpengaruh terhadap penurunan kadar sesudah diberikan intervensi latihan fisik
jalan kaki).

METODE PENELITIAN 10 orang. Dengan kriteria : Bersedia


Penelitian ini merupakan menjadi responden, Klien laki-laki dan
eksperimental dengan rancangan yang perempuan yang berusia 35-55 tahun,
digunakan adalah one group pretest – Klien yang mempunyai batasan kadar gula
posttest design. Populasi pada penelitian darah >100 mg/dL atau <250 mg/dL. Klien
ini adalah pasien DM tipe II. Teknik tidak memiliki ulkus diabetikum dibagian
sampling yang digunakan dalam penelitian kaki atau telapak kaki (tidak memiliki
adalah non probability sampling yaitu kontra indikasi penyakit setelah
purposive sampling (penarikan sample melakukan latihan fisik jalan kaki). .Analisa
dengan memilih sabjek berdasarkan data dilakukan secara univariat dan
kriteria yang ditetapkan peneliti sebanyak bivariat

HASIL PENELITIAN
Tabel 1.. Distribusi rata-rata kadar gula darah responden
menurut pengukuran sebelum dan sesudah dilakukan latihan fisik jalan kaki

Variabel Mean SD SE P value N


Kadar Gula darah
Sebelum 175.5 43.8 13.8 0.00 10
Sesudah 114.1 23.5 7.4
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: nilai dengan standar deviasi 43,8. Frekuensi
rata rata (mean) frekuensi kadar gula kadar gula darah penderita DM tipe 2
darah penderita DM tipe 2 sebelum sesudah dilakukan latihan fisik jalan kaki di
dilakukan latihan fisik jalan kaki 175,5, peroleh rata rata (mean) 114,1 median 110
dengan standar deviasi 23,5. Hasil uji yang signifikan antara kadar gula darah
statistic didapatkan nilai p value 0.00 sebelum dan sesudah dilakukan latihan
maka dapat disimpulkan ada perbedaan fisik jalan kaki pada penderita DM tipe 2

PEMBAHASAN sebagai bahan bakar. Akibat dari itu,


Berdasarkan penelitian yang telah glukosa yang tidak bisa dipakai oleh sel-
dilakukan sebelumnya oleh Indriani, sel tubuh akan menumpuk dalam aliran
Supriyatno, dan Santoso (2004) darah. (Teguh Susanto, 2013)
menunjukkan bahwa latihan fisik jalan kaki Olahraga aerobik salah satunya
memberikan pengaruh terhadap adalah latihan fisik jalan kaki. Latihan fisik
penurunan kadar gula darah pada jalan kaki dapat membantu mengurangi
penyandang DM dengan penurunan rata- lemak dalam tubuh. Timbunan lemak yang
rata sebesar 30,14 mg/dl. Jadi memang berlebihan di perut bisa membuat sel
terlihat bahwa latihan fisik dapat tubuh menjadi tidak peka terhadap insulin.
berpengaruh terhadap penurunan kadar olahraga aerobic yang bersifat daya tahan
gula darah bagi seseorang yang akan memperkuat otot dan otot akan
menderita penyakit DM. menjadi aktif. Keadaan seperti ini
Diabetes tipe 2 adalah penyakit mengakibatkan peningkatan kepekaan
diabetes yang disebabkan karena sel-sel reseptor insulin otot. Kepekaan ini akan
tubuh tidak menggunakan insulin sebagai berlangsung lama dan menyebabkan lebih
sumber energi atau sel-sel tubuh tidak banyak jala-jala kapiler terbuka sehingga
merespon insulin yang dilepaskan oleh lebih banyak tersedia reseptor insulin dan
pankreas hal ini disebut dengan resistensi reseptor akan menjadi aktif. Aktifnya
insulin. Resistensi ini menyebabkan reseptor membuat glukosa dalam aliran
glukosa yang tidak dimanfaatkan sel akan darah dapat digunakan sebagai sumber
tetap berada didalam darah, semakin lama energy sehingga kadar glukosa dalam
semakin menumpuk. Pada saat yang darah dapat berkurang.
sama, terjadinya resistensi insulin Jika olahraga tidak dilakukan pada
membuat pankreas memproduksi insulin penderita DM tipe 2 akan berimbas pada
yang berlebihan. Lama kelamaan, dalam peningkatan sekresi kadar glukagon,
kondisi yang tidak terkontrol pankreas hormon pertumbuhan, dan katekolamin
akan mengurangi jumlah produksi insulin. yang semua ini akan memicu
Kurangnya atau tidak adanya produksi gluconeogenesis hati. Glukosa kemudian
insulin oleh pankreas menyebabkan terlepas lebih banyak, dan mengakibatkan
glukosa dalam aliran darah tidak diserap lonjakan gula darah. (Arisman, 2010).
oleh sel sel tubuh untuk digunakan

KESIMPULAN DAN SARAN


Ada perbedaan yang signifikan antara kepada penderita DM tipe 2 agar
kadar gula darah responden sebelum dan melakukan latihan jalan kaki sebagai salah
sesudah dilakukan latihan fisik jalan kaki satu upaya untuk menurunkan kadar gula
pada penderita DM Tipe 2 dan disaran darah.

DAFTAR PUSTAKA

Arisman.(2010).Obesitas, diabetes Smeltzer, Suzanne C, Brenda G. Bare.


mellitus, & dislipidemia : konsep, (2002). Buku Ajar Keperawatan
teori, dan penaganan aplikatif. Medikal Bedah (Edisi 8 volume 2).
Jakarta : EGC. Jakarta: EGC.
Bustan,M.N.(2007).Epidemiologi Penyakit Sudoyo, A. W. dkk. (Ed). (2006). Buku ajar
tidak menular.Jakarta:Agromedia ilmu penyakit dalam (Edisi IV jilid3)
Pustaka. Jakarta : Depertemen Ilmu Penyakit
Notoadmodjo, S. (2005). Metode Dalam FK-UI.
Penelitian Kesehatan. Cetakan: 3. Susanto, teguh. (2013).Diabetes Deteksi,
Jakarta: PT Rineka Cipta. Pencegahan, Pengobatan. Jakarta:
Purnomo, heru. (2009). Penyakit yang buku pintar.
Paling Mematikan. Yogyakarta: Sustrani, lanny. (2004). Diabetes. Jakarta:
Buana Pustaka. PT. Gramedia Pustaka Utama.