Anda di halaman 1dari 25

TUJUAN PEMBELAJARAN

• Mahasiswa mampu membangun paradigma


baru dalam dirinya sendiri berdasar nilai-nilai
Pancasila melalui kemampuan: (1)
menjelaskan sejarah, kedudukan dan hakikat
sila-sila Pancasila, (2) merespon persoalan
aktual bangsa dan negara, dan (3)
menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan.
URGENSI PENDIDIKAN PANCASILA
• Agar mahasiswa tidak tercerabut dari akar budayanya
sendiri dan agar mahasiswa memiliki pedoman atau
kaidah penuntun dalam berpikir dan bertindak dalam
kehidupan sehari-hari dengan berlandaskan nilai-nilai
Pancasila
• Memperkokoh jiwa kebangsaan mahasiswa sehingga
menjadi dorongan pokok (leitmotive) dan bintang
penunjuk jalan (leitstar) (Abdulgani, 1979: 14).
• Sebagai pembentuk civic disposition (watak) yang dapat
menjadi landasan untuk pengembangan civic knowledge
dan civic skills mahasiswa (Branson (1998)
• Menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai kaidah penuntun
(guiding principle) sehingga menjadi warga negara yang
baik (good citizenship)

FAKTA NEGATIF
• Dekadensi moral yang terus melanda bangsa Indonesia
yang ditandai dengan mulai mengendurnya ketaatan
masyarakat terhadap norma-norma sosial yang hidup
dimasyarakat
• Para elit politik (eksekutif dan legislatif) mulai
meninggalkan dan mengabaikan budaya politik yang
santun, kurang menghormati fatsoen (sopan santun)
politik dan kering dari jiwa kenegarawanan
• Banyak politikus yang terjerat masalah korupsi yang
sangat merugikan keuangan negara
• Penyalahgunaan narkoba yang melibatkan generasi dari
berbagai lapisan menggerus nilai-nilai moral anak
bangsa
KOMPETENSI LULUSAN
BERPENDIDIKAN PANCASILA (1)

• Bertaqwa kepada Tuhan YME dan mampu


bersikap religius
• Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam
menjalankan tugas berdasarkan agama, moral
dan etika
• Berkontribusi dalam peningkatan mutu
kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
bernegara dan peradaban berdasarkan
Pancasila

KOMPETENSI LULUSAN
BERPENDIDIKAN PANCASILA (2)

• Berperan sebagai warga negara yg bangga dan


cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta
tanggung jawab pada negara dan bangsa
• Menghargai keanekaragaman budaya,
pandangan, agama, dan kepercayaan serta
pendapat atau temuan orisinel orang lain
• Bekerjasama dan memiliki kepekaan sosial
serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan
KOMPETENSI LULUSAN
BERPENDIDIKAN PANCASILA (3)

• Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan


bermasyarakat dan bernegara
• Menginternalisasi nilai, norma dan etika
akademik
• Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas
pekerjaan di bidang keahlian secara mandiri
• Menginternalisasi semangat kemandirian,
kejuangan, dan kewirausahaan

NILAI-NILAI HISTORIS BANGSA INDONESIA


SEBAGAI AKAR NILAI-NILAI PANCASILA
• JAMAN PRA SEJARAH: Peninggalan Zaman
Megalith ikum: Animisme, Dinamisme sebagai
wujud keyakinan tentang kekuasaan yang
melampaui diri manusia dan penghormatan
kepada orang-orang yang berjasa dalam
kehidupan.
https://www.google.co.id/search?q=sejarah+kebudayaan+indonesia&source=lnms&tbm=isch&s
a=X&ved=0ahUKEwjfmbOL8sjWAhWCKpQKHTZBAEwQ_AUICigB&biw=1280&bih=699#imgrc=5t
dS_77S9h395M:

MEGALITIKUM
• Punden berundak : terbuat dari batu untuk
meletakan sesaji
dolmen : meja batu yang digunakan untuk
meletakan sesaji
waruga : kubur batu yang berbentuk kubus
kubur batu : tempat menyimpan mayat
Sarkofagus : kubur batu yang berbentuk
lesung
https://www.google.co.id/search?biw=1280&bih=699&tbm=isch&q=masa+berburu+dan+me
ngumpulkan+makanan&sa=X&ved=0ahUKEwiEmMHP98jWAhUHmpQKHfXdBvAQhyYIKg#img
dii=hXLQkItaq1B06M:&imgrc=JA9c0_8eKw2tzM:

NILAI-NILAI HISTORIS BANGSA INDONESIA


SEBAGAI AKAR NILAI-NILAI PANCASILA
• JAMAN PURBA: Kehadiran Agama Budda dan
Hindu (Kerajaan Kutai, Tarumanegara,
Kalingga, Sriwijaya, Majapahit dll). Sejarawan
menyebut sebagai jaman formalisasi
keyakinan dari kepercayaan (Animisme dan
Dinamisme) ke agama (Budda dan Hindu)
Kerajaan Hindu/Buddha di Indonesia
• Kerajaan Hindu/Buddha di Kalimantan
a. Kerajaan Kutai
• Kerajaan Hindu/Buddha di Jawa
a. Kerajaan Salakanagara (150-362)
b. Kerajaan Tarumanegara (358-669)
c. Kerajaan Sunda Galuh (669-1482)
d. Kerajaan Kalingga
e. Kerajaan Mataram Hindu
f. Kerajaan Kadiri (1042 - 1222)
g. Kerajaan Singasari (1222-1292)
h. Kerajaan Majapahit (1292-1527)
• Kerajaan Hindu/Buddha di Sumatra
a. Kerajaan Malayu Dharmasraya
b. Kerajaan Sriwijaya

(http://afrizalazhari.blogspot.co.id/2010/11/sejarah-kebudayaan-indonesia.html)

NILAI-NILAI HISTORIS BANGSA INDONESIA


SEBAGAI AKAR NILAI-NILAI PANCASILA
• JAMAN ABAD TENGAH: Kehadiran Islam di Indonesia.
Sejarawan menyebut sebagai Islamisasi agama Budda
dan Hindu di Indonesia dengan proses penuh
kedamaian tanpa konflik karena memiliki kesamaan
keyakinan tentang ketuhanan Yang Maha Esa
• JAMAN MODERN: Kehadiran para ekspatriat bangsa
Barat yang menelorkan Amanat Penderitaan Rakyat
yang sangat mendalam berkat panjangnya masa
penjajahan mereka atas bangsa Indonesia. Lahirnya
nasionalisme, kesadaran berbangsa dan bernegara.
NILAI-NILAI KULTURAL BANGSA INDONESIA
SEBAGAI ASAL NILAI-NILAI PANCASILA
• Praktek berketuhanan Yang Maha Esa: Upacara
ritual dalam adat kebiasaan, adat kebudayaan,
dan adat keagamaan
• Praktek penghargaan akan harkat dan martabat
manusia: “Lima Larangan/Pantangan” yakni
dilarang: mateni (membunuh); maling (mencuri),
madon (berzina), mabok (minum minuman
keras/candu), main (berjudi) (sumber= Ismaun,
1981: 79 dalam Kaelan, 2010: 22)

NILAI-NILAI KULTURAL BANGSA INDONESIA


SEBAGAI ASAL NILAI-NILAI PANCASILA
• Usaha-usaha mempersatukan bangsa:
Sumpah Palapa patih Gadjah Mada (ingin
mempersatukan nusantara), Bhinneka Tunggal
Ika Tan hana Dharma Mangrua (walaupun
berbeda, namun satu jua adanya, sebab tidak
ada agama yang memiliki Tuhan yang beda)
bersumber kepada buku Sutasoma karangan
Empu Tantular (Kaelan, 2010: 31)
NILAI-NILAI KULTURAL BANGSA INDONESIA
SEBAGAI ASAL NILAI-NILAI PANCASILA
• Perwujudan musyawarah dan mufakat yang
terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan:
praktek gotong royong (gotong adalah
kebersamaan dalam pengerjaan kewajiban,
dan royong adalah kebersamaan dalam
mengenyam hasil) dan praktek musyawarah
pada masyarakat adat/tradisional yang belum
terkena “polusi-pamrih”, justru terdapat
surplus kebajikan, kebaikan, dan kepedulian

NILAI-NILAI KULTURAL BANGSA INDONESIA


SEBAGAI ASAL NILAI-NILAI PANCASILA
• Cita-cita adil dalam kemakmuran dan
makmur dalam keberadilan: marvuat vanua
Criwijaya siddhayatra subhiksa yakni suatu
cita-cita negara yang adil dan makmur
(Sulaiman, tanpa tahun: 53 dalam Kaelan,
2010: 30); gemah ripah loh jinawi tata
tentrem kertoraharjo, masyarakat madani, dll.
SEJARAH PERUMUSAN PANCASILA
(Periode Pengusulan Pancasila)
• Sartono Kartodirdjo: benih nasionalisme sudah mulai
tertanam kuat dalam gerakan Perhimpoenan Indonesia
yang sangat menekankan solidaritas dan kesatuan
bangsa
• Lahirnya Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928
merupakan momen-momen perumusan diri bagi
bangsa Indonesia.
• Perumusan Pancasila ikuti diktum John Stuart Mill atas
Cass R. Sunstein tentang keniscayaan mengumpulkan
the best minds atau the best character yang dimiliki
suatu bangsa, sehingga memenuhi keabsahan
prosedural dan keabsahan esensial (Pabottinggi, 2006:
1 58-159 dalam DJPK Kemenristekdikti, 2016: 51).

SEJARAH PERUMUSAN PANCASILA


(Periode Pengusulan Pancasila)
• BPUPKI dibentuk oleh Pemerintah Pendudukan
Jepang pada 29 April1945 dengan jumlah anggota
60 orang. Badan ini diketuai oleh dr. Rajiman
Wedyodiningrat yang didampingi oleh dua orang
Ketua Muda (Wakil Ketua), yaitu Raden Panji
Suroso dan Ichibangase (orang Jepang). BPUPKI
dilantik oleh Letjen Kumakichi Harada, panglima
tentara ke-16 Jepang di Jakarta, pada 28 Mei
1945.
• Sidang pertama BPUPKI (29 Mei - 1 Juni 1945)
SEJARAH PERUMUSAN PANCASILA
(Periode Pengusulan Pancasila)
• Tokoh yg beri gagasan: Mr. Muh Yamin, Ir. Soekarno, Ki
Bagus Hadikusumo, dan Mr. Soepomo
• Lima butir gagasan Ir. Sukarno tentang dasar negara
a. Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia,
b. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan,
c. Mufakat atau Demokrasi,
d. Kesejahteraan Sosial,
e. Ketuhanan yang berkebudayaan.
• Buku yang berjudul Lahirnya Pancasila (1947), bahwa 1
Juni dinyatakan sebagai lahirnya Pancasila
• Ada upaya “de-Soekarnoisasi” oleh penguasa Orde
Baru

SEJARAH PERUMUSAN PANCASILA


(Periode Perumusan Pancasila)

• Sidang BPUPKI kedua pada 10 - 16 Juli 1945 disetujuinya


naskah awal “Pembukaan Hukum Dasar”
• Pada alinea keempat Piagam Jakarta terdapat rumusan
Pancasila , yakni:
1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam
bagi pemeluk-pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
PETA POLITIK JELANG KEMERDEKAAN

• Para tokoh Indonesia persiapkan kemerdekaan skenario


Jepang
• 6 Agustus 1945 Bom kota Hiroshima tandai Jepang
takluk kpd Sekutu
• 7 Agustus 1945 Maklumat Pemerintah Jepang:
(1) pertengahan Agustus 1945 akan dibentuk Panitia
Persiapan Kemerdekaan bagi Indonesia (PPKI),
(2) panitia itu rencananya akan dilantik 18 Agustus 1945
dan mulai bersidang 19 Agustus 1945, dan
(3) direncanakan 24 Agustus 1945 Indonesia
dimerdekakan

PETA POLITIK JELANG KEMERDEKAAN

• 8 Agustus 1945 Sukarno, Hatta, dan Rajiman dipanggil


Jenderal Terauchi (Penguasa Militer Jepang di Kawasan
Asia Tenggara) yang berkedudukan di Saigon, Vietnam
dan diberi kuasa utk bentuk PPKI
• 9 Agustus 1945 Bom kota Nagasaki oleh Sekutu.
• Saigon: 12 Agustus 1945 Ir Sukarno, Hatta, dan Rajiman
Wedyodiningrat dipanggil kembali oleh penguasa
Militer Jepang utk penetapan hari kemerdekaan
Indonesia
• Para tokoh Indonesia bentuk PPKI prakarsa sendiri
PETA POLITIK JELANG KEMERDEKAAN
• 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat serta
menjadikan bekas jajahan Jepang (termasuk Indonesia) sbg
wilayah perwalian seku
• 15 Agustus 1945 sekembali dari Saigon, didesak para pemuda
utk segera merdekakan Indonesia
• Penculikan oleh para pemuda atas diri Soekarno dan M. Hatta
ke Rengas Dengklok berdasarkan keputusan rapat yang
diadakan pada pukul 24.00 WIB menjelang 1 6 Agustus 1945
di Cikini no. 71 Jakarta (Kartodirdjo, dkk., 1975: 26).
• Melalui jalan berliku, akhirnya dicetuskanlah Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Teks
kemerdekaan itu didiktekan oleh Moh. Hatta dan ditulis oleh
Soekarno pada dini hari

makna kemerdekaan atau proklamasi bagi


bangsa Indonesia
• 1. Proklamasi sebagai pernyataan kemerdekaan yang berisi
keputusan bangsa Indonesia telah melepaskan diri dari semua
belenggu dan ikatan para penjajah (Jepang dan Belanda).
• 2. Pernyataan perubahan bangsa Indonesia menuju negara
yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
• 3. Proklamasi sebagai pernyataan bahwa hukum kolonial atau
hukum penjajah sudah tidak berlaku lagi di Indonesia
• 4. Proklamasi sebagai puncak perjuangan bangsa Indonesia
untuk mendapatkan kedudukan yang sederajat dengan
bangsa lain
• 5. Pengakuan bahwa pemerintahan Indonesia sebagai
pemerintahan tertinggi

(https://guruppkn.com/makna-kemerdekaan-indonesia)
SEJARAH PERUMUSAN PANCASILA
(Periode Pengesahan Pancasila)
• 18 Agustus 1945, PPKI bersidang untuk menentukan dan
menegaskan posisi bangsa Indonesia dari semula bangsa
terjajah menjadi bangsa yang merdeka.
• Putusan-putusan penting yang dihasilkan mencakup hal-hal
berikut:
(1). Mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara (UUD ‘45)
yang terdiri atas Pembukaan dan Batang Tubuh. Naskah
Pembukaan berasal dari Piagam Jakarta dengan sejumlah
perubahan. Batang Tubuh juga berasal dari rancangan
BPUPKI dengan sejumlah perubahan pula.
(2). Memilih Presiden dan Wakil Presiden yang pertama
(Soekarno dan Hatta).
(3). Membentuk KNIP yang anggota intinya adalah mantan
anggota PPKI ditambah tokoh-tokoh masyarakat dari
banyak golongan. Komite ini dilantik 29 Agustus 1945
dengan ketua Mr. Kasman Singodimejo.

Rumusan Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.


2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Pengertian Pancasila dalam sejarah bangsa
Indonesia menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
• Pancasila merupakan produk otentik pendiri
negara Indonesia (The Founding fathers).
• Nilai-nilai Pancasila bersumber dan digali dari
nilai agama, kebudayaan, dan adat istiadat.
• Pancasila merupakan pandangan hidup
bangsa dan dasar filsafat kenegaraan

Pentingnya Pancasila dalam sejarah bangsa


Indonesia menunjukkan hal-hal berikut:
• Betapapun lemahnya pemerintahan suatu rezim,
tetapi Pancasila tetap bertahan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.
• Betapapun ada upaya untuk mengganti Pancasila
sebagai ideologi bangsa, tetapi terbukti Pancasila
merupakan pilihan yang terbaik bagi bangsa
Indonesia.
• Pancasila merupakan pilihan terbaik bagi bangsa
Indonesia karena bersumber dan digali dari nilai-
nilai agama, kebudayaan, dan adat istiadat
yang hidup dan berkembang di bumi Indonesia.
KEDUDUKAN PANCASILA
(PANCASILA SBG DASAR NEGARA)

• Pancasila adalah cerminan dari jiwa dan cita2


hukum (recht-idee) bangsa Indonesia
• Fungsi pokok Pancasila adalh sumber dari
sumber hukum di Indoensia (Tap MPRS No
XX/MPRS/1966 Jo Tap MPR No IX/MPR/1978)
• Hubungan Pancasila dan Pembukaan UUD
1945 bersifat formal dan material.
• Sifat formal= kedudukan yuridis; sifat material
= substansi esensial.

Hubungan Pancasila, Pembukaan dan


Batang Tubuh UUD 1945
• Pembukaan sbg Pokok kaedah yang fundamental
yang didalamnya termuat materi Pancasila, dan
ditetapkan oleh Pendiri Negara
• Hubungan Pembukaan dan Batang Tubuh UUD
1945 bersifat kausal dan organis
• Kausal = penyebab keberadaan; organis = satu
kesatuan yang tak terpisahkan.
• Pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD
1945 merupakan penjabaran Pancasila ke dalam
Batang Tubuh (cita-cita hukum menjadi hukum
formal)
Empat pokok pikir
(Penjelasan UUD 1945)
• Berintikan Persatuan = mengatasi paham
golongan dan perseorangan
• Keadilan Sosial = causa finalis = cita-cita yg
hendak dicapai
• Kedaulatan Rakyat = sistem negara yang
terbentuk, kekuasaan tertinggi ada pada rakyat
dan dilkukan sepenuhnya oleh MPR
• Ketuhanan Yang Maha Esa = pelihara ketaqwaan
kepada Tuhan YME dan budi pekerti kemanusiaan
yang luhur dalam segala aspek kehidupan
konstitusional.

Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-


undangan
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota
PANCASILA SBG IDEOLOGI BANGSA
(Definisi Idologi)
• kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas
pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan
tujuan untuk kelangsungan hidup
• himpunan nilai, ide, norma, kepercayaan, dan
keyakinan yang dimiliki seseorang atau
sekelompok orang yang menjadi dasar dalam
menentukan sikap terhadap kejadian dan
problem politik yang dihadapinya dan yang
menentukan tingkah laku politik
“Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)”

IDEOLOGI BESAR DUNIA

• INDIVIDUALISME

• SOSIALISME

• INTEGRALISTIK
INDIVIDUALIS
• Teori individualisme, dengan tokoh-tokohnya
Thomas Hobbes, John Locke, Jean Jacques
Rousseau, dan H. J. Lakski.
(http://angel4season.blogspot.co.id/2008/10/hu
bungan-teori-integralistik-dengan.html)
• INDIVIDUALISME: Ekonomi Kapitalisme, Gerakan
Sosial Politik Liberalisme, Orientasi Hidup
Pragmatisme
• ADAM SMITH (1776) Teori Ekonomi Pasar:
Kebebabasan Individu dlm usaha, justru akan
datangkan kesejahteraan sosial

SISI NEGATIF INDIVIDUALISME


• Ciptakan masyarakat teknokrat (Mekanistik,
Fragmentatif, Depersonalisasi, Dehumanisasi)
• Pola ketergantungan
• Untungkan negara induk kapitalisme
• Pertahankan Status Quo sbg Negara Adi Kuasa

(POESPOWARDOJO, 1989: 194-195)


SOSIALISME
• Teori golongan (class theory) yang dipelopori
oleh Karl Marx dan Engels, serta Lenin.
(http://angel4season.blogspot.co.id/2008/10/hu
bungan-teori-integralistik-dengan.html)
• SOSIALISME: Karl Marx perjuangkan Kelas
Proletar utk perangi Kapitalisme dg partai
Komunisme (Materialistik)
• JOHN MAYNARD KEYNES (1936) Teori Ekonomi
Terkendali Ekonomi harus dikendalikan oleh
negara demi keadilan

NEGARA SOSIALIS-
KOMUNIS

KAPITALIS
dominasi
AGRARIS pemodal
menetap
berkelas VS
KOMUNAL:
BORJUIS masyarakat
elite
sosial, tanpa kelas,
politik, diperjuangkan
NOMADEN ekonomi melalui
pindah- partai komunis
pindah
SISI NEGATIF SOSIALISME
• Ciptakan sistem otoriter
• Dehumanisasi (tujuan halalkan cara)
• Ciptakan konflik dan kontradiksi
• Ekspansi kekuatan

(POESPOWARDOJO, 1989: 194-195)

INTEGRALISTIK
• Teori integralistik, dengan para pencetusnya:
Spinoza, Adam Muller dan Hegel
(http://angel4season.blogspot.co.id/2008/10/hubunga
n-teori-integralistik-dengan.html)
• INTEGRALISTIK: padukan kepentingan individu dan
sosial
• Mubyarto (2002: 68):Sistem Ekonomi Pancasila
Negara tidak dominan, swasta tdk mendominasi, bukan
sistem ekonomi liberal, dan bukan sistem ekonomi
komando; negara-swasta saling beriringan,
berdampingan, mendukung secara damai
INTEGRALISTIK
• Golongan yang terlibat dalam kehidupan bersama
berhubungan erat dan merupakan kesatuan
organis
• Eksistensi tiap golongan diakui, dan hanya berarti
dalam hubungannya dengan keseluruhan
• Tidak terjadi situasi yang memihak pada golongan
yang kuat atau yang penting
• Tidak terjadi dominasi mayoritas dan tirani
minoritas

INTEGRALISTIK
• Penuaian kewajiban lebih diutamakan daripada
penuntutan hak-hak pribadi
• Memadu pendapat akan diutamakan daripada
mencari menangnya sendiri
• Kehidupan bersama dilaksanakan berdasarkan
kasih sayang, pengorbanan, kerelaan, bukan
kecurigaan dan fitnah
• Orientasi kehidupan bersama adalah menuju
keseimbangan lahir dan batin, individu dan
masyarakat serta lingkungan
HUBUNGAN NEGARA DAN AGAMA
• (1) NEGARA BERDASAR ATAS KETUHANAN YME
• (2) BANGSA INDONESIA ADL BANGSA YANG
BERKETUHANAN YME: WN MILIKI HAK AZASI UTK
MEMELUK DAN BERIBADAH SESUAI DG AGAMANYA
• (3) TDAK ADA ATHEISME DAN SEKULERISME KRN MANS
MAKHLUK TUHAN YME
• (4) TIDAK ADA PERTENTANGAN AGAMA, GOL AGAMA,
ANTAR DAN INTER PEMELUK AGAMA
• (5) TIDAK ADA PEMAKSAAN AGAMA KRN KETAQWAAN
BUKAN HASIL PAKSAAN BAGI SIAPAPUN
• (6) WN HARUS JALANKAN TOLERANSI THD ORANG LAIN
DLM JALANKAN AGAMA

PANCASILA DALAM HIDUP


BERAGAMA (Abdurrahman Wahid) (I)

• agama memiliki lingkup yang berjangkauan


universal sehingga terasa sulit untuk
dibatasi hanya pada ‘sisi ke-Indonesia-an’
belaka
• Pancasila menekankan sisi ‘lapang dada’
dan toleransi dalam kehidupan antara
ummat beragama
• Agama memiliki visi eksklusivitiknya sendiri,
sedangkan Pancasila bervisi universal yang
mempersamakan semua agama
PANCASILA DALAM HIDUP
BERAGAMA (Abdurrahman Wahid)
(II)

• wawasan Pancasila tentang kebersamaan antara


agama-agama tidak sepenuhnya sama dengan
wawasan sekian agama yang satu sama lain
saling berbeda
• eksistensi Pancasila adalah sebagai ‘polisi lalu
lintas’ yang akan menjamin semua fihak dapat
menggunakan jalan raya kehidupan bangsa
tanpa kecuali
• Pancasila harus bersifat netral dan tidak
memenangkan pihak manapun di antara
agama-agama yang berkembang di negara RI

PANCASILA DALAM HIDUP BERAGAMA


(Abdurrahman Wahid) (III)

• agama-agama tetap saling berbeda baik secara


kelembagaan maupun orientasi kehidupan, namun di
balik perbedaan tersebut secara keseluruhan agama-
agama tetap mengembangkan sejumlah pandangan yang
bersifat universal
• kejujuran (baik sikap maupun perilaku), keikhlasan dan
ketulusan dalam sikap dan tindakan, tekanan pada sisi
keakhiratan dan keduniawian dalam porsi cukup
seimbang, dan sejumlah hal-hal lain yang mendasar
dapat ditarik dari agama-agama yang ada
• Perlu inventarisasi sejumlah etos tertentu yang dianggap
disepakati bersama, untuk dijadikan landasan seterusnya
HUBUNGAN ILMU DENGAN AGAMA (1)
• 1. Ilmu percepat kita sampai tujuan, dan agama
tentukan arah yang kita tuju.
2. Ilmu menyesuaikan manusia dengan
lingkungannya, dan agama meyesuaikan dengan
jati dirinya.
3. Ilmu hiasan lahir dan agama hiasan batin.
4. Ilmu memberikan kekuatan dan menerangi jalan,
dan agama memberi harapan dan dorongan bagi
jiwa.

HUBUNGAN ILMU DENGAN AGAMA (2)

5. Ilmu jawab pertanyaan yang dimulai dengan


“bagaimana” dan agama jawab yang dimulai
dengan “mengapa” .
6. Ilmu tidak jarang mengerahkan pikiran
pemiliknya, sedangkan agama selalu
menenangkan jiwa pemeluknya yang tulus.
(Oleh: Hartono Junaidi)
(Sumber:http://ongosc.blogspot.com/2011/11/keru
kunan-umat-beragama-dalam-keragaman.html )