Anda di halaman 1dari 9

PROFESIONALISME DOKTER DI ERA JKN

Disusun Oleh :

Mazida Maghfira Putri (201810330311072)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2019
BAB I

A. PENDAHULUAN

Mutu pelayanan kesehatan suatu negara sangat ditentukan oleh tenaga kesehatan
yang berkualitas. Sehingga, untuk menjaga kualitas dan etika seorang dokter
dibakukanlah suatu pedoman norma etik profesi dokter yang disebut Kode Etik
Kedokteran Indonesia (KODEKI). KODEKI merupakan kumpulan peraturan etika
profesi yang akan digunakan sebagai tolak ukur perilaku ideal dan penahan godaan
penyimpangan profesi. Dalam menjalankan profesinya seorang dokter harus memiliki
enam nilai yang terdapat di KODEKI yaitu altruisme, responsibilitas, idealisme profesi,
akuntabilitas terhadap pasien, integritas ilmiah dan integritas sosial. Kasus malpraktik
yang dilakukan dokter dalam kurun waktu 2006-2012 tercatat sebanyak 182 kasus. Hal
ini menunjukkan adanya krisis hubungan kepercayaan dokter-pasien. Situasi ini tentu
harus mendapat tanggapan serius dari organisasi profesi demi menjaga dan
meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap profesionalisme dokter. Terlebih
setelah diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pada sistem JKN ini
diberlakukan sistem rujukan berjenjang, dimana seorang pasien harus mengunjungi
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) terlebih dahulu. Hal ini membuat banyak
pasien yang tertumpuk di fasilititas kesehatan primer. Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) mencatat jumlah peserta yang terdaftar pada September 2015 yaitu
146.338.576 orang peserta dengan jumlah FKTP 19.657 buah . Tentunya dengan
jumlah yang begitu banyak seorang dokter yang bertugas memberikan pelayanan
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang berkualitas terhadap 6.708 pasien
menjadi sulit. Jumlah yang berlebih (overload) akan membuat pelayanan dokter
layanan primer menjadi menurun dan membuat ambruknya profesionalisme pelayanan
dokter terhadap pasien. Bertambahnya beban kerja profesi dokter juga tidak diimbangi
dengan besaran upah yang diperolehnya melalui pembayaran sistem kapitasi dan INA
CBGs. Saat ini tarif yang di dapatkan FKTP per pasien adalah Rp 3.000 s/d Rp 6.000
per orang. Tarif itu sudah mencakup biaya operasional dan pembayaran jasa termasuk
dokter. Hal ini tentu mempengaruhi profesionalisme seorang dokter dalam bekerja
karena merasa tidak mendapatkan pembayaran jasa yang setimpal, hal ini akan
membuat dokter tersebut berfikir secara ekonomis dalam memberikan pelayanan
kepada pasien agar FKTP-nya tidak menjadi rugi.
BAB II
A. PENGERTIAN PROFESIONALISME

Profesionalisme berasal dari akar kata “profesi” . Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2008), profesionalisme adalah “tindak tanduk yang merupakan ciri suatu
profesi.” Sedangkan profesi merupakan suatu kelompok yang memiliki kekuasaan
tersendiri dan karena itu mempunyai tanggung jawab khusus. Suatu profesi disatukan
oleh latar belakang pendidikan yang sama serta memiliki keahlian yang tertutup dari
orang lain (Bertens, 2005). Orang yang bergabung dengan kelompok profesi memiliki
pengetahuan dan keahlian yang tidak dimiliki kebanyakan orang lain. Anggota profesi
ini diatur oleh kode etik dan menyatakan komitmen terhadap kemampuan, integritas
dan moral, altruism, dan dukungan demi kesejahteraan masyarakat. (Cruess S.R &
Cruess R.L., 2012)

Sebagai panduan dalam menilai profesionalisme, Arnold dan Stern (2006)


memberikan definisi bahwa profesionalisme ditunjukkan melalui sebuah dasar
kompetensi klinis, kemampuan berkomunikasi, pemahaman etika dan hukum yang
dibangun oleh harapan untuk melaksanakan prinsip-prinsip profesionalisme: excellence
(keunggulan), humanism (humanisme), accountability (akuntabilitas), altruism
(altruisme). Selanjutnya Arnold dan Stern memvisualisasikan definisi profesionalisme
seperti bagan di bawah ini.

Dari bawah ke atas, terlihat bahwa clinical competence (kompetensi klinis),


communication skills (kemampuan berkomunikasi), dan ethical and legal
understanding (pemahaman hukum dan etik) menjadi sebuah dasar profesionalisme.
Sedangkan excellence (keunggulan), humanism(humanisme), accountability
(akuntabilitas), dan altruism (altruisme) merupakan tonggak profesionalisme.

Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa profesionalisme


merupakan suatu penentu kualitas hubungan dokter yang digambarkan melalaui
seperangkat perilaku dan sangat bergantung dengan kepercayaan. Hubungan ini tidak
terbatas pada dokter dan pasien sebagai individu, tetapi juga hubungan dokter sebagai
sebuah kelompok profesi dengan dengan masyarakat luas. Penulis berpendapat bahwa,
aplikasi profesionalisme juga tidak terbatas pada hubungan dokter dengan eksternal
profesinya, tetapi juga dapat digunakan dalam hubungan internal profesi.
B. PRINSIP-PRINSIP PROFESIONALISME
Profesionalisme memiliki beberapa prinsip dalam pelaksanaannya. Berdasarkan
definisi yang dikemukakan oleh Stern, terdapat empat prinsip utama, yaitu (Arnold dan
Stern, 2006; Kanter, et al, 2013):
a. Excellence (Keunggulan) :Dokter senantiasa terus belajar untuk meningkatkan
kemampuan dan pengetahuan.
b. Accountability (akuntabilitas) :Dokter hendaknya dapat mempertanggungjawabkan
tindakan yang telah dibuat, serta menerima konsekuensinya.
c. Altruism (altruisme) Dokter hendaknya mendahulukan kepentingan pasien di atas
kepentingan pribadi. Komunikasi yang baik dengan pasien dan menghormati
kebutuhan pasien dari merupakan bagian dari aspek ini.
d. Humanism (humanisme) Humanisme merupakan rasa perikemanusiaan yang meliputi
rasa hormat (respect), rasa kasih (compassion), empati, serta kehormatan dan integritas
(honor and integrity).

C. DASAR HUKUM
Profesionalisme menjadi bagian dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia pada tahun
2012. Pasal mengenai profesionalisme terdapat pada pasal delapan Kode Etik Kedokteran
Indonesia (2012) dengan bunyi “ Seorang dokter wajib, dalam setiap praktik medisnya,
memberikan pelayanan secara berkompeten dengan kebebasan teknis dan moral
sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat
manusia”. Di dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, profesionalisme dokter
terdapat pada area kompetensi satu yaitu “Profesionalitas yang luhur”. Hal tersebut sesuai
dengan amanat yang tersirat di dalam peraturan perudang-undangan, antara lain:

a. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

b. Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

c. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit

d. Undang-undang nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional


(SJSN)

e. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial


(BPJS).
D. PERAN DOKTER DI ERA JKN

Sesuai UU No 20-2013 tentang Pendidikan Kedokteran, dokter baru wajib ikut


Program Internship Dokter Indonesia (PIDI). Setelah selesai menjalani PIDI, dokter
baru dapat bergabung dengan 125.146 orang dokter umum ter-registrasi KKI (Konsil
Kedokteran Indonesia), untuk terlibat langsung dalam layanan kesehatan bagi peserta
JKN.

Pada faskes primer, dokter baru memiliki tugas untuk melakukan layanan
kesehatan non spesialistik, promotif dan preventif, pemeriksaan, pengobatan dan
konsultasi medis. Selain itu, juga dituntut terlibat dalam peran administratif, terutama
untuk menyusun berbagai laporan, misalnya Program Pengelolaan Penyakit Kronis
(prolanis), SDM sesuai kompetensi, tagihan non kapitasi, kegiatan promotif dan
preventif, maupun laporan kunjungan peserta dan rujukan ke RS. Tantangan karier
profesional dokter baru pada faskes primer meliputi ketrampilan dalam mencari,
mempertahankan, dan mengatur jumlah kepesertaan. Hal ini disebabkan karena
pembayaran jasa medis dokter menggunakan sistem kapitasi, yang ditentukan oleh
jumlah peserta yang menjadi tanggungjawab profesonalnya. Juga tantangan dalam
aspek koordinasi dengan tenaga kesehatan profesional lain, yaitu dokter gigi, bidan,
laboratorium klinik, dan apotek.

Pada faskes sekunder di RS, dokter baru biasanya ditugaskan dalam bidang
administrasi layanan, bantuan teknis medis dan mediator dalam proses pengajuan klaim
biaya, baik secara manual ataupun vedika (e-claim). Hal ini disebabkan karena dokter
baru memiliki pemahaman dan penguasaan tentang istilah medis dan administratif yang
lebih baik dan sangat bermanfaat, agar RS tidak mengalami selisih biaya negatif.
Tantangan profesional dokter baru pada faskes lanjut di RS biasanya adalah pada proses
penentuan kriteria ‘emergency’ yang dijamin program JKN untuk pasien di UGD,
layanan edukasi pra hospital di konter admisi, dan tugas kendali biaya dan mutu
layanan, agar terjadi efisiensi secara baik. Hal ini karena pembayaran oleh BPJS
Kesehatan untuk faskes sekunder menggunakan sistem case-mix. Selain itu, juga
membantu koordinasi layanan antar petugas profesional kesehatan dan yang tidak kalah
penting adalah peran dokter baru dalam bantuan proses penyusunan klaim, juga
menyelesaiakan klaim ‘pending’ dan ‘dispute’. Dokter umum baru juga dapat memulai
karier profesional sebagai regulator, agar layanan JKN dapat dilaksanakan dengan baik.
Peran dokter dapat dilakukan di kantor Dinas Kesehatan, baik di tingkat propinsi,
kabupaten, atau kota. Selain itu, juga dapat melalui jalur P2JK Kemenkes (Pusat
Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan), untuk membantu menyusun kebijakan teknis,
pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang analisis pembiayaan dan
jaminan kesehatan (Permenkes 64-2015 pasal 877). Dokter baru juga dapat berperan
aktif dalam organisasi profesi IDI (Ikatan Dokter Indonesia), baik di tingkat pusat,
wilayah ataupun cabang. Tantangan tugas profesional dokter sebagai regulator adalah
kemampuannya untuk bersikap adil, tegas dan manusiawi. Selain itu, juga harus mampu
membina hubungan antar profesi kesehatan dan instansi.

Peran yang tidak kalah menarik adalah jalur profesional dokter umum baru sebagai
ahli asuransi. Di Indonesia sudah terbentuk PAMJAKI (Perhimpunan Ahli Manajemen
Jaminan dan Asuransi Kesehatan Indonesia), yaitu kumpulan ahli di bidang asuransi
khusus kesehatan. Para dokter baru dapat mengikuti ujian untuk mendapatkan gelar
AAAK (Ajun Ahli Asuransi Kesehatan) dan AAK (Ahli Asuransi Kesehatan), setelah
menyelesaikan modul ujian dari PAMJAKI. AAAK harus lulus 5 (lima) modul yaitu 2
Managed Care, 2 Dasar Asuransi Kesehatan, dan Asuransi Kesehatan Nasional.
Sedangkan AAK harus lulus 10 (sepuluh), yaitu AAAK ditambah 5 (lima) modul lagi
yang meliputi Asuransi Biaya Medis, Asuransi Kesehatan Suplemen, Asuransi
Disabilitas, Long Term Care dan Fraud. Tantangan profesional dokter umum baru
sebagai ahli asuransi adalah membantu mencarikan jalan keluar atas masalah defisit
biaya.
BAB III

PENUTUPAN

KESIMPULAN :

Profesionalisme merupakan hal yang sangat penting dan harus dimiliki oleh
tenaga kesehatan, terutamanya bagi seorang dokter di era JKN. Profesionalisme ini bisa
dijadikan sebagai tolak ukur untuk menentukan kualitas pelayanan kesehatan seorang
dokter. Untuk menjaga kualitas dan etika seorang dokter ini dibakukanlah suatu
pedoman norma etik profesi dokter yang disebut Kode Etik Kedokteran Indonesia
(KODEKI), yang terdapat enam nilai di dalamnya yaitu altruisme, responsibilitas,
idealisme profesi, akuntabilitas terhadap pasien, integritas ilmiah dan integritas sosial.
REFERENSI :

 Retnaningsih, Hartini. 2016. Dilema Upaya Peningkatan Kompetensi Dokter Layanan


Primer di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. Jurnal Info Singkat Kesejahteraan
Sosial, Vol. VIII, No. 20/11/P3DI/Oktober/2016.
 Wahid, Syarifudin. 2017. Etika dan Profesionalisme di Bidang Kedokteran. Makassar:
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
 Ardiani, Vani, dkk. 2017. Penerapan Nilai Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)
pada Era Jaminan Kesehatan Nasional di Kota Dumai. Jurnal Online Mahasiswa
Fakultas Kedokteran, Vol. 4, No. 1, Februari 2017.
 Budiarto, Wasis & Oktarina. 2016. Analisis Kesiapan Fasilitas Kesejahteraan Tingkat
Pertama sebagai ‘Gatekeeper’ dalam Penyelenggaraan JKN di Kalimantan Timur dan
Jawa Tengah, Tahun 2014. Surabaya : Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Vol. 19,
No. 1, Januari 2016.
 Kusumawati. Profesionalisme dan Profesional Behavior. Yogyakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ǀ Mutiara Medika : Jurnal
Kedokteran dan Kesehatan.
 Malik, Abd Halik. 2015. Analisis Peran Dokter Layanan Primer sebagai ‘Gatekeeper’
di Era Jaminan Kesehatan Nasional (Monitoring 3 Bulan Pertama Pelayanan di PPK
1 BPJS Kesehatan). Kongres InaHEA, Perhimpunan Dokter Umum Indonesia.
 Ikatan Dokter Indonesia. 2004. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia
(MKEK).
 Purnamasari, Cicih Bhakti .2015.Pembelajaran Profesionalisme Kedokteran Dalam
Persepsi Inspektur dan Mahasiswa. Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Kedokteran
Indonesia.
 Peran Puskesmas sebagai Penyedia Pelayanan Kesehatan Primer di era JKN, http://
indonesia-implementationresearch-uhc.net/index.php/13-forum-diskusi/50- anareg-1c,
diakses 8 April 2019.
 Perkembangan dan Tantangan Implementasi JKN”, http://www.depkes.go.id/pdf.
php?id=16102600001, diakses 10 April 2019.