Anda di halaman 1dari 22

AKU AKAN MENIKAH BAGIAN 1 ♥

By Shopie

Palembang, 20 September 2007

Hari ini aku bahagia sekali Dy, seorang lelaki telah melamarku. Ia akan menikahiku 6 hari lagi.
Pernikahan akan berlangsung setelah shalat Jum’at dan disaksikan para jemaah masjid As-Shaff.
Setelah itu kami akan langsung terbang menuju Makkah.
Dy, Umroh adalah Mahar darinya, dan yang lebih mengharukan lagi, ingatkah engkau malam apa itu
Dy?, Benar sekali!. Malam Nuzulul Quran, malam bersejarah bagi umat Islam. Di malam turunnya Al-
quran, aku akan menjadi seorang istri. Dy, impianku akan terwujud. Lelaki itu, sang pemimpinku, dia
berjanji akan menghadiahkan surah Ar-Rahman.
Dy, sudahkah aku ceritakan tentang Surah ini?. Belum yah, mungkin aku lupa. Tapi Dy, terakhir aku
datang untuk melihat kakekku, aku berikan hadiah Surah ini, dan ketika beliau wafat, aku duduk di
dekatnya sambil kudekap, kukatakan, apa khabarmu wahai kakekku? Kulihat engkau seperti tidur.
Baiklah setelah surah Yaasin, akan kukirim lagi surah cinta ini, surah yang mengingatkan kita betapa
besar nikmat Allah telah diberi. Dy, sambil menangis kubacakan surahnya. Hanya aku, kakek, Allah dan
malaikat yang tahu, betapa aku sangat kehilangannya.
Sudahlah kita lupakan masa lalu yah. Tapi Dy, aku ingat kembali apa permintaannya, permintaan yang
belum bisa aku kabulkan sebelum orangtuaku pergi menunaikan ibadah Haji. Kakek mengatakan
didepan bapak, ibu, dan kakakku. Setelah orang tuaku berhaji, Kakek akan datang lagi dan menginap
dirumah kami untuk menghadiri pernikahanku. Saat itu aku hanya tersenyum, dan menjawab InsyaAllah
dalam hati.
Aku yakin Khabar ini telah sampai kepadanya, dan ia turut bahagia di alam sana. Dy, di bulan
Ramadhan ini apalagi kebahagiaan yang dapat kuungkapkan selain sujud syukurku kepada Allah.
Pertama hari lahirku bertepatan dengan awal Ramadhan dan sekarang aku seakan terbang ke langit
ketujuh.
Dy, ternyata Allah tidak pernah mengingkari janjiNya. Ia benar-benar memberikan lelaki yang terbaik,
bukan terbaik atas permintaanku tapi terbaik dari pilihanNya.
Dy, doakan yah semoga ini bukan mimpi. Sebentar lagi aku akan menyambut kebahagiaan terbesar
dalam hidup seorang gadis. Dy masih ingatkan dengan doaku waktu itu, engkau yang menemaniku. Ku
tulis dalam lembarmu, doa suciku. Dy akan kutulis lagi agar aku tak lupa. Boleh yah. Terimakasih
sahabatku.
Di Penghujung Hijriah
Apa yang kau rindukan di penghujung hijriah ini?
"Semua orang pasti akan berharap menjadi lebih baik kiki emotikon"
Begitu juga aku, dan tahukah engkau yang sangat kurindu kiki emotikon

Kupinang engkau dengan Alquran


Kokoh dan suci ikatan cinta
Kutambatkan hati penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia
Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah tuk selalu syukur pada-Nya
Hadapi gelombang ujian...sabarlah, tegar, tawakal...
Arungi samudra kehidupan...ingatlah syukur pada-Nya
"Allah jika aku masih memiliki waktu
Ku ingin mengenapkan dienku dengan kebaikan ini
Allah jika belum pantas jagalah hati ini
Agar tidak tergelincir
Allah jika belahan jiwaku telah datang
Ikhlaskan hati ini untuk menerimanya
Dengan segala kebaikan, kelebihan dan kekurangan darinya”
"Allah bila hati merindu
Maka labuhkan hati ini padaMu
Allah jika hati bimbang
Kuatkan agar langkahku tak goyah
Allah jika samudra begitu luas
Maka layarkan hati ini pada perindu cintaMU”
.:: Senandung di ujung hijriah ::.
Aduh Dy, jika aku ingat tulisanku dulu jadi malu, bayangkan di blog ini aku telah melakukan tindakan
besar yang tidak pernah bisa aku lupakan. Disinilah aku membuka diriku, apa adanya. Apapun kata
orang aku akan tetap menulis, walau cuma tulisan biasa, puisi sederhana yang mungkin sebenarnya tak
pantas disebut puisi mungkin hanya ungkapan hati.
Dy, akan kuperkenalkan engkau dengan lelaki itu. Ia adalah muridku. Namanya Muhammad Hanif
Akbar, kami hanya pernah bertemu sekali tetapi ternyata ia tidak pernah melupakan aku.
“Kenapa?”
“Apa, Kau bilang apa Dy?”
“Dia tidak pernah melupakan aku karena jatuh cinta padaku?”
Oh bukan Dy, ia tidak mengatakan cinta dalam suratnya eh dalam emailnya. Duuh Dy, aku kok lupa.
Email kan sama saja dengan surat. Hehehe. Instruktur komputer kok bego hehehe, udah ah boleh dong
error sedikit. O’iya tadi aku belum sampaikan isi emailnya. Baca ya Dy,

To : sophie@palcomtech.com
From : “Hanif” < Hanif@yahoo.com >
Date : Thu, 20 Sep 2007 03:00:03
Subject : Assalamualaikum Wr.Wb
Apa khabar Ibu Sophie?.
Semoga Allah selalu memberi keberkahanNya untuk kita semua, Allahuma Amin.
Sebelumnya maafkan saya yang tiba-tiba menulis surat kepada anda.
Langsung saja, saya berniat untuk menjalin ikatan yang suci dengan anda.
Ini bukan sebuah lelucon, tapi kebenaran.
Saya telah beristikharah kepada Allah, dan Allah telah memilih Anda untuk menjadi pendamping hidup
saya.
Saya berikan waktu 2 hari untuk istikharah. Silahkan reply email saya di Sepertiga Malam. Di sini saya
Attach Biodata, Goal Setting 10 Tahun, Foto dan Mahar.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Jepang, 20 September 2007
Muhammad Hanif Akbar

Dy, engkau masih disitu? Kenapa? Gila!!!. Yah aku pikir ini email benar-benar gila. Aku tidak mengenal
orang ini, tiba-tiba mengatakan akan menjalin ikatan suci denganku. Mimpi kali ye, hehehe.
Tapi Dy, aku penasaran dengan isi attachment mailnya. Aku fikir tak ada salahnya, sapa tahu isinya
lelucon yang lebih gila. akhirnya aku coba mendownload 4 filenya. Pertama yang aku download
biodatanya, tapi belum aku lihat, aku lanjut lagi mendownload goal setting 10 tahunnya. Terus
kulanjutkan mengambil file fotonya dan mahar, aku tidak tahu apa maksudnya dengan mahar.
Memangnya mahar bisa di attach. Dasar sableng!.
Dari semua filenya, aku membuka…loh kok gelap, Yah mati lampu Dy. Aku kesal, Mana filenya tadi di
save di desktop. Kalau sudah begini, hilanglah filenya karena aku menggunakan system deepreeze. Tak
ada file yang akan tersimpan dalam system C atau sistem komputernya. Aduuuh, aku menyesali
kebodohanku. Dalam hati masih ngedumel, lagi ngak musim mati lampu eh tiba-tiba mati lampu. Sabar
ucapku, mungkin ini cobaan. Tapi Dy, sampai pagi ternyata listrik di rumah nggak hidup juga. Temennya
bawang “CABE DECH”.
***
Aku bersiap ke kantor masih dengan perasaan kesal. Sangat kesal dan penasaran. Sudah sepuluh
menit aku menunggu Uwak Kandar, tapi belum kelihatan. Oh Mr. Ojek kemanakah engkau, aku bisa
terlambat, ucapku. Akhirnya Dy, aku pergi naik angkot dan bisa kau tebak?. Well, aku terlambat. Bagus
sekali, sekarang point keterlambatanku bertambah lagi, siap-siap kena marah bos.
Tapi hore, hip-hip hore. Wah kalau ada pemandu sorak, aku ikut menari bersamanya. Ups!, nggak boleh
yah. Tahu nggak Dy, ternyata listrik di kantor juga mati. Selamat ucapku, secepatnya aku ke ruang
akademik, ituloh tempat nongkrongnya Vivi yang suka latah sama “Nyebelin” eh Lindia maksudku. Dy,
Lindia kok ku panggil “Nyebelin”, itu karena dia punya id YM susah disebut “blve_fvn”. Tapi nggak boleh
yah, seharusnya kita memanggil nama dengan indah, karena nama adalah doa.
Sukses, absen manual sudah di isi. Sambil duduk ku lihat di ruang karyawan, penuh oleh staf. kami
menyebut ruang ini dengan aquarium, karena letaknya ditengah-tengah ruang dan dikelilingi kaca. Asyik
sekali sepertinya obrolan mereka, maklum kalau para pria telah berkumpul apalagi yang dibicarakan
kalau bukan persiapan tuk futsal malam minggu nanti.
Dari arah tangga kulihat mbak Alin, salah satu rekan kerja dan sobat terbaikku sedang berjalan cepat,
“wah ternyata terlambat juga”, fikirku. Mungkin kecapean memikirkan persiapan walimahnya bulan
depan, insyaAllah setelah lebaran.
“Fie, rumahmu mati lampu nggak?”
“Di tempatku mati, di Palcom juga. Kok bisa mati total yah?”.Ucapnya setelah mengisi absensi.
Jawabku “Ya iyalah, gimana ngak mati total. Tadi aku baru dapat sms dari Yuni “For Sister”, temanku
yang bapaknya kerja di PLN, katanya terjadi kerusakan di PLN Pusat, dan gardu induk dekat
pembangunan fly over konslet. Makanya listrik padam. Semoga saja bisa cepat diperbaiki”.
“Ya udah yuk turun”, kataku.
“Kita kasih tahu dulu siswa untuk menunggu 30 menit, kalau listrik belum nyala juga, kita ganti di lain
hari”.
Maka kami berduapun turun. Mbak Alin ke lantai 3, aku ke lantai 2. Dan ternyata para security dan OB
telah menutup semua kelas, jadilah koridor penuh sesak siswa yang masih menunggu.
Setelah bertemu siswa, aku pergi ke ruang shalat. Ternyata disinipun ramai, siswa putri duduk sambil
mengobrol, ada yang sms, dan bertelepon.
Salah seorang diantaranya menyapaku, cuma basa basi. Tapi aku duduk didekatnya. Ku tanya
bagaimana laporan akhirnya, dia jawab belum selesai. Akhirnya aku sandarkan tubuhku di dinding,
kucoba pejamkan mata.
Aku baru ingat, setelah salah satu siswa menyebut kata email. kembali aku teringat dengan email
“Lamaran”, huhuhu. Aku tersenyum geli, bila mengingat lagi isinya. Dasar orang kurang kerjaan. Tapi
diam-diam, aku suka juga. Duee Grr hehehe. Waduh aku jadi malu nih. Dari pada mikir yang nggak-
nggak segera aku berwudhu dan shalat dhuha, kebetulan kulihat ada beberapa siswa sedang shalat
dan ada juga yang tilawah.
***
Akhirnya ba’da Ashar listrik hidup, dan innalillahi. Server error, semua staf EDP bergerak cepat, jika
tidak semua data akan hilang. Kami hanya bisa berdoa, terutama aku. Aku berharap email kantor tidak
apa-apa. Bagaimana bila error, semua surat akan hilang dan yang terpenting sekarang adalah Email
“Lamaran” untukku, jangan sampai hilang.
Pak Alam, bos EDP telah berusaha, tapi baru 30% data yang di cek. sampai berbuka kami terus
mensupportnya. Shalat maghrib kali ini terasa begitu nikmat, kami berjamaah dan berdoa dengan
khusyuk berharap Allah masih mau membantu kami.
Tepat pukul 19.00, aku selesai mengajar dan kakakku telah menunggu dengan setia diatas RX Kingnya.
Ah kapan aku bisa mengajakmu shalat bersama kak?. Ingin sekali rasanya aku melihatmu berada
dalam masjid, seperti dulu ketika kita kecil, kau dulu sering bermain di langgar sebelah rumah, adzan,
takbiran di malam lebaran, memukul bedug bersama teman-temanmu. Tapi seperti kata ustad, shalat
adalah kesadaran, kita hanya bisa mengingatkan. Semua kembali pada dirinya sendiri. Jika ingin
berubah, insyaAllah pasti Allah akan membantunya. Jangan berhenti mendoakannya. Terus berikan
contoh semoga Allah berkenan membuka hatinya. Samapai saat ini kakakku masih bolong-bolong
shalatnya.
***
Langit malam masih kelam, kuintip sebentar dari balik jendela. Barisan daun katu masih berjajar dengan
rapi, terlihat beberapa helai daun yang menguning.
Setelah shalat Isya dan Tarawih sendirian dikamarku, aku ah kembali keraguan itu tiba, akankah
kunyalakan komputer atau ah, lagi-lagi aku resah. Akhirnya kurebahkan tubuh yang lelah ini di temapt
tidurku. Berusaha ku pejam mata ini tapi tak mau juga. Ku bolak balikkan tubuh tapi tak kunjung nyaman
kurasa.
Akhirnya ku ambil handphoneku dan kulihat jam yang tertera disana. 22:20 menit, hampir setengah
sebelas malam. Dan aku masih gelisah. Aku baru teringat tadi siang, Erly staf baru keuangan, teman
baruku meminjamkan buku yang dulu pernah kudengar bahwa buku itu bagus sekali ceritanya. Buku
“Diorama sepasang AlBanna”, aku segera membuka tas hitamku yang sudah lusuh.
Lumayan tebal, tapi tidak setebal Ayat-Ayat Cinta. Ku baca sinopsisnya, belum menantang. Dari Erly
sedikit diceritakannya tentang perjalanan hidup seorang ikhwan dan akhwat sampai mereka menikah
dan perjalanan mereka itu yang sungguh sangat mengharukan.
Dalam hatiku, boleh juga bukunya. Apalagi ada tulisan bahwa novel ini adalah karya terbaik kedua
dalam sayembara menulis novel remaja Islami Mizan 2002. Yang lebih membuatku kagum dua nama
yang menjadikan buku ini patut di perhitungkan, dua penulis favoritku, mbak Helvy dan mas Gola Gong.
Dua nama yang kukenal setelah Dosenku menghadiahkan novel duet mereka dalam Nyanyian Sunyi
sebagai hadiah atas Hijrahku.
Tak terasa aku terus membaca dan berkali-kali air mata ini menetes. Tokoh Rani sangat menyentuh
hatiku, dan gaya sang lelaki sangat nyata bagiku. Bila Rani menyusun kepingan Puzzle dunia dakwah,
maka aku menyusun kepingan puzzle titik akhir perjalananku.
Pada halaman 58, aku menemukan kata-kata indah “Aku hanyalah sepotong kayu yang rapuh,
terombang-ambing di sungai deras. Tak juga bertemu muara, agar bisa mengapung tenang dilautan
luas. Karena di tengah jalan aku terhempas oleh sebatang pohon yang melintang di tengah sungai. Aku
hancur berkeping-keping…”
Duhai mbak Ari, jika Allah berkenan mempertemukan kita. Alangkah banyak yang akan aku ucapkan.
Maha Suci Allah yang telah memberikan kata-kata indah dalam tulisanmu. Ketika rasa itu hadir, akupun
terkadang tak kuasa. Hanya Allah yang tahu.
Ketika engkau menulis tentang wanita, aku begitu terpesona. Sepertinya engkau berbicara padaku,
engkau mengambarkan kepribadianku. Wanita ini yang selalu berkutat dengan ilmu, berada diluar
istananya, membagi ilmu berharap akan lahir manusia-manusia yang nanti bisa lebih beradap.
Tapi wanita ini, lemah dalam berdandan, lemah dalam memasak, tugas utamanya bukan ia lupakan,
tapi ia belum punya waktu untuk memulainya. Bila ada tak ada yang menemani, ia tak berani bertindak
sendiri. Karna ia hidup bukan dirumah sendiri. Terlalu banyak mata, mulut dan ah, malas aku
membahasnya, bagi mereka seberapapun dewasanya aku, aku tetaplah anak kecil. Biarlah mereka
yang mengerjakan semuanya. Aku hanya berkerja dan hiduplah dengan duniaku.
Tapi ibu, mbakku, tanteku. Betapa aku merindu saat-saat ini, untuk memotong daging, membersihkan
ikan saja aku tak tahu. Bagaimana nanti bila berumah tangga? Haruskah aku membeli lauk melulu?
Bisa bangkrut aku. Apa kata suamiku nanti. Arggggh. Mataku lelah setelah berkali-kali berlinang air
mata.
***
AlBanna, sang pembangun. Nama yang tak asing. Walau aku bukan aktivis dakwah yang baik. akhwat
futur, akhwat tak jelas Mrnya, akhwat yang belum ngaji-ngaji sampai sekarang. Tapi aku tetap loyal.
Dakwah selama di kampus cukup menyedot memori otakku. Tapi bukan itu saja, seseorang dengan
nama inipun telah berhasil membuatku lemas tak berdaya, setelah virus bersarang tepat di jantungku.
Menambah kekotoran dalam hati. Tapi aku telah berhasil sedikit-sedikit mengikis lumut yang menutupi
hatiku.
Jika dia jodohku, Allah pasti akan memberinya, jika tidak akan ada yang lain. Masih banyak mujahid
bertebaran di bumi Allah ini. Seperti beberapa hari yang lalu saat aku hadir dalam acara partai yang
kudukung, walau aku tak suka politik. Tapi semoga sedikit demi sedikit nanti aku bisa berjuang
bersamanya.
Allah, maafkan aku. Bukannya aku cuci mata, tapi memang banyak ikhwan disana, aduh aku lupa
menjaga pandangan. Astaghfirullahal Adzim. Tapi bolehkan Allah, aku melihat saja. Siapa tahu
soulmateku lagi berdiri disana dengan baju koko, atau jangan-jangan yang sedang memakai baju
kepanduan.
Halah, apa sih yang sedang aku fikirkan ini. Duh hati yang buat aku semakin malu. Malu pada Allah, dan
malu pada bidadari yang turun ke bumi, yang dengan setia telah mempersiapkan jiwanya lahir dan
bathin untuk menegakkan Islam, dan mencetak generasi Rabbani.
***
“Dek, dek!”.
Kudengar suara kakakku sambil pintu kamarku diketuk.
“iya, sebentar lagi kusiapkan makanan untuk sahur”. Tapi kali ini kakakku bilang “Dek, dah jam 4 lewat
nih, cepetan ntar lagi imsak”.
“Apa?”, secepatnya aku bangun dan membuka pintu sambil kulihat jam di dinding. Ya ampun, kesiangan
nih.
Akhirnya kami makan dengan lauk dingin, air putih. Alhamdulillah. Syukur dipanjatkan, masih bisa
sahur. Bayangkan dengan orang yang berpuasa tanpa sahur. Wah tak dapat ku bayangkan.
Jadi ingin mendengar murattal Ar-Rahman. Segera ku hidupkan komputer dan aku memutarnya di
Winamp.
Tanpa sadar aku menghidupkan modem dan mulai melakukan koneksi internet. Beberapa detik
kemudian aku sudah online. Dan aku sign in ymku. Ada offline message, beberapa teman mengirimkan
Hadist dan ayat Alquran untuk renungan. Dan kulihat ada informasi message mail. Langsung aku klik
dan tidak beberapa lama terbuka mail yahooku. Well beberapa posting milis masuk, wah ini bukan
beberapa lagi kalau sudah 49 message. Setelah ku cermati subjectnya, hanya posting biasa. Maka aku
klik sender dan beberapa email penting ku klik agar tak terhapus. Sampai mataku tertuju pada satu
email, aha from hanif@yahoo.com. Ternyata, ia memforward emailku di yahoo juga. Segera ku klik, ku
batalkan mendelete surat. Dan semua file berhasil ku download. Alhamdulillah.
***
Sayang adzan Subuh, menghentikan segala kegiatanku. Lama aku berdoa, memohon pada Allah agar
aku diberi kekuatan. Umat Islam juga, aku berdoa untuk keluarga, almarhum kakek dan nenek. Serta ku
doakan seluruh saudara yang terkena musibah akan di balas Allah dengan nikmat tiada tara.
Kulirik Quranku, kuambil sambil seperti biasa aku ajak Allah berdialog. “Allah kali ini Engkau akan
berkata apa?”. Baiklah Bismillah kupejam mataku dan jemari tanganku mulai menari mencari tempat
yang pas dan nyaman. Perlahan kubuka mataku dan kudapati Surat Al-Mukminun, bersanding dengan
Surah An-Nur.
“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu mendustakannya?” (Al-
Mukminun:105).
“Sungguh ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka
ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik” (Al-
Mukminun:109).
Berkali-kali kubaca lagi dan dari semua ayat, Al-Mukminun 105 dan 109 lebih aku resapi.
Setelah tilawah, walau mengajiku tidak bagus, walau sampai sekarang surah Al-Baqarah belum selesai
kubaca, setidaknya aku telah berusaha, semoga Allah membalasnya kelak. Aku ingat mbak Diana,
teman mayaku pernah mengirim hadist, kita akan mendapat syafaat dari tilawah, dan satunya ah aku
lupa. Nantilah jika aku online akan kuminta ia mengirim kembali.
Aku kembali menatap monitor komputerku. Ada rasa aneh menjalar dalam tubuhku, aku arahkan mouse
untuk melihat…ah yang mana dulu nih. Tapi mouse telah mengklik file mahar, dan disana terlihat
sebuah tiket berisi perjalanan umroh ke Makkah, 16 Ramadhan. Dan ada lagi tulisannya “Maka nikmat
Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”.
Sebuah catatan kecil terselip “Alangkah indah andai aku bisa menghadiahkan Surah Ar-Rahman untuk
Istriku di Tanah Suci”.
Ya Allah, bukankah ini yang kuinginkan, bila aku menikah aku ingin suamiku membacakannya.
Airmataku tak terasa telah menetes dan aku tak kuasa untuk membacanya lagi. Entah berapa lama, aku
baru bisa membuka mataku lagi. Setelah aku membuka memori lama tentang kisah surat Ar-Rahman.
Allah bisik hatiku, izinkan aku melihat wajahnya. kubuka file berisi fotonya. Dan kudapati seraut wajah,
aku terdiam.
Bagaimana mungkin? Bukankah wajah ini adalah wajah yang selalu hadir memberi postingan di setiap
tulisanku. Yang isinya tak lebih dan kurang berisi tausiyah. aku juga sering mengunjungi blognya, untuk
menambah energi tuk ruhiyahku. Wajahnya sebenarnya tak terlihat hanya sebuah gambar langit fajar
dan satu bintang bersinar. Dalam profilenya sudah pernah kulihat, ia seorang suami dan memiliki 2
orang anak. Dari semua kumpulan fotonya hanya berisi kaligrafi, masjid, dan 2 orang remaja putri
berjilbab. Aku perkirakan usia mereka 15 dan 10 tahun.
Ya Allah, ucapku dalam hati. Bagaimana mungkin. Aku memang mendukung poligami, tapi aku belum
bisa ikhlas. Apalagi harus menjadi istri kedua. Tubuhku sudah lemas duluan.

Aku kembali mengklik file dan membaca biodata dirinya.


Biodata
Nama : Muhammad Hanif Akbar
Agama : Islam
TTL : Palembang, 31 Desember 1977
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Dokter
Hobi : Baca buku, Mendengar nasyid, Travelling
Alamat :
Jepang, segera berakhir 2 hari lagi (Tapi aku akan mengajak calon istriku berkunjung ke sini dan melihat
salju, InsyaAllah)
Indonesia, Palembang. Jl. D.I Panjaitan No.505, Bagus kuning Plaju (Rumah Orang Tua)
Sedang disiapkan sebuah istana mungil untuk istri dan anakku, rumah limas kebanggaan wong
Palembang.
Tempat Berdakwah : Rumah Sakit Umum M. Husin Palembang dan Rumah Sakit Islam Internasional
Palembang (segera).
Keinginan : Membahagiakan seorang wanita, menjadi pemimpinnya dan menjadi teladan bagi anak-
anak.
Terakhir :
Saya ingin bercerita tentang pertemuan kita.
Ibu Sophie, saya adalah salah satu murid di kursus Expressmu. Dulu engkau mengajarkan internet
kepadaku dan teman-teman. Mungkin engkau sudah lupa. Tapi dari engkau, saya bisa berada di
belahan bumi Allah yang lain, mensyukuri segala nikmat yang telah diberiNya.
Ibu Sophie, Demi Allah, aku tak pernah menyimpan sesuatu yang tak halal dalam hatiku.
Hanya Allah yang telah memberi jalan. Mengenai blog, saya hanya menjalin ukhuwah karena kita satu
daerah. Tapi selama ini saya tidak pernah memikirkan suatu rasa apapun terhadap ukhti.
Sampai suatu ketika, ketika hati merindu menikah. Saya beristikharah dan pada satu malam saya
melihat wajahmu, bukan wajah dalam blog. Tapi wajah wanita yang sedang mengajar, dan kudapati
seraut wajah itu berusaha menyampaikan tujuan hidupnya, tiba-tiba aku terbangun. Maaf dalam
setengah sadarku terucap namamu.
Bila engkau berkenan, silahkan melihat foto di bawah ini. Tidak ada manusia yang sempurna.
***
Aku masih terpana dengan semua yang telah ditulisnya. Rasanya bumi tidak kupijak lagi. Semua yang
ditulisnya adalah impianku. Dia telah mengambil seluruh isi hatiku. Kutatap wajah itu, biasa saja. Mata
teduh, hidung agak mancung, rambut agak bergelombang, bibir yang tipis dan tanpa senyuman, tapi
terlihat cool. kulihat jenggot terhias didagunya. Tapi sayang aku tak bisa jadi istri keduanya.
Satu filenya belum sempat aku buka, karena aku harus bersiap untuk kerja. Segera kumatikan
komputer, dan berusaha menenangkan diriku. Masih ada satu malam sebelum aku mengatakan isi
hatiku, aku masih bisa istikharah, ucapku. Walau dalam hati aku telah condong untuk melupakannya.
Bagaimana mungkin aku sanggup menjadi wanita kedua.

BERSAMBUNG..,

** Sumber: FanPage JANGAN JADI MUSLIMAH NYEBELIN

TAG / TANDAI FOTO ?? IZIN DULU --> KOMENTAR YA.... LIKE SEIKHLASNYA !

AKU AKAN MENIKAH BAGIAN 2 ♥
By Shopie

Palembang, 21 September 2007

Pagi ini aku banyak berzikir, diatas motor aku memandang kosong. Debu berterbangan tak kuhiraukan, sang fajar
dan bintang tak kutatap kali ini. matahari pagi inipun tak kusapa.

Aku melangkah memasuki area kantor, begitu pintu kubuka aku di sambut senyum Wiza, salah satu CSO kami.
Akupun menumpang absen ngajar dari komputernya.

Aku langsung menuju ke lantai 2. Baru beberapa langkah, seseorang memanggilku. Rupanya mbak Atin, kepala
pendidikan. Ia bertanya padaku, sofi ada kelas yah? Dan kujawab iya. Tapi di jawab lagi, bukannya hari ini semua
kelas diliburkan, kan sistem belum normal.

Ya ampun, sofi lupa mbak, jawabku. Nggak papa katanya, nanti sewaktu cekout ngajar bilang aja lupa. Ok deh,
mbak keatas yah.

Ok, makasih. Mbak jawabku.

Akhirnya aku tidak jadi ke atas, kebetulan ada 2 kelas di lantai 1 ini yang di buka. Maka aku kesana, membuka
worksheet dan cekout mengajar. Percuma juga aku disini, internet tidak konek. Tiba-tiba, aku ingin bersilaturahmi
dan curhat dengan Mrku mbak Sari. Aku coba sms beliau, dan Alhamdulillah ia ada dan akan menunggu
kedatanganku. Aku segera ke atas, shalat dhuha dahulu kemudian langsung pergi ke rumahnya.

Dari depan kantor, aku menyetop sebuah biskota jurusan Perumnas. Jam 9 pagi ini cuaca cukup panas, matahari
bersinar dengan garang. Bus melaju dengan cepat, yang kusayangkan, padahal bulan Ramadhan tapi house
music masih setia menemani dengan suara yang berisik.

Suasana di simpang Polda benar-benar semrawut. Pembangunan Fly Over membuat macet jalan utama kota
Palembang ini.

Setelah hampir 1 jam aku berada di biskota, akhirnya sampai juga di terminal. Aku langsung melangkah menuju
rumah mbak Sari.

Alamat baru yang diberikannya cukup membuatku bingung, karena aku memang tidak begitu mengenal daerah di
sini. Tapi akhirnya aku bisa menemukan rumahnya.

Kuketuk pintu rumahnya, sambil mengucapkan salam. Tidak berapa lama aku disambut oleh putrinya, Naila.
Lama tak jumpa, si kecil sudah semakin besar dan cantik. Kemudian mbak Sari keluar sambil mempersilahkan
aku masuk.

Kami bersalaman dan berpelukkan rindu.

Apa khabarmu dek?

Lama sekali tidak silaturahmi, hayoo katanya mau datang ikut ngaji, tapi ditunggu-tunggu ngak ada. Iftor dan
merayakan miladnya batal deh.

Aku masih menatapnya sambil tersenyum malu. Aku masih saja mengecewakannya. Aku masih ingat dengan
pesannya, ketika ia menyinggung tentang kehadiran. Baginya ketidak hadiran kami tidak masalah, ia tidak rugi,
yang memerlukan penguatan ruhiyah itu siapa? Dan yang sangat disesalkannya adalah dengan ketidakhadiran
kita apalagi sama sekali tidak ada khabar akan menjadi beban fikiran orang lain. Menyusahkan orang lain yang
sebenarnya adalah saudaranya sendiri. Tempat ia berbagi suka dan duka.

Maafkan aku mbak, aku masih egois dan tidak memikirkan kalian. Lingkaran bidadari yang dikelilingi malaikat.

Kemudian, mbak Sari langsung menembakku, maksudku langsung to the point menanyakan kedatanganku, ia
berkata ini bukan silaturahmi biasa kan?. Dan aku mengangguk lemah. Ia masih setia menunggu ceritaku.
Aku mulai berkisah tentang hal yang telah membuatku resah dan gelisah. Sesekali kulihat bina matanya, apalagi
ketika kukatakan dipinang dengan mahar umroh dan surah Ar-Rahman. Berkali-kali ia bertasbih.

Sampai akhir ceritaku, ia masih setia mendengar. Aku bercerita sambil menunduk. Saat ku tatap, kulihat
airmatanya. Kemudian ia menarik nafas dalam dan bersiap memberikan masukan untukku, tapi lama ku tunggu.
Ia malah diam. Tiba-tiba suaranya mengagetkan aku, karena saat itu aku jadi melamun.

Ia berkata, dek alangkah beruntungnya engkau. Tapi karena kita belum mengenalnya, alangkah baiknya bila kita
mengetahui keluarganya. Bukankah ia telah memberi alamat orang tuanya. Kebetulan mbak ngak ada acara hari
ini, kita bisa kesana.

Benar juga kata-kata mbak Sari, kenapa tidak mencari tahu dulu tentang dirinya secara langsung dari
keluarganya.

Mbak Sari kemudian bertanya, Tahun berapa ia lahir? Tahun 77 jawabku. Berarti usianya sekitar 30, kau bilang
dua orang anaknya usianya sekitar 15 dan 10 tahun. Rasanya tidak rasional ia memiliki anak dalam usia 15
tahun. Dan yang membingungkan mbak, tadi sofi katakan, ia merindu untuk menikah. Dan di blognya ia telah
menikah. Rasanya ini juga tidak masuk akal, untuk orang yang telah menikah, berkata ia merindu untuk menikah.
Mungkinkah ia membuat data dalam blog fiktif untuk menjaga diri dan Izzahnya.

Subhanallah, tidak terfikirkan olehku mbak, jawabku kemudian.

Mbak sari melanjutkan lagi, kalau masih ragu dengan pekerjaannya kita bisa cek ke rumah sakit dulu mengenai
dirinya. Setelah itu kita ke rumah orangtuanya.

Kali ini aku benar-benar beryukur, dan tiba-tiba bunga dalam hatiku bermekaran kembali. Jadi tidak akan ada
poligami. Alhamdulillah, ucapku dalam hati.

Tapi aku tidak menyangka, mbak Sari bisa membaca pikiranku. Ia mengatakan sesuatu yang ingin kuhindari
sebenarnya.

Sekarang wajahnya sangat serius, dan aku sudah paham betul, jika ia sudah memasang wajah ini akan ada kata-
kata penting yang harus disampaikan.

Sofi, masih ingat dengan materi yang pernah mbak sampaikan. Kenapa dek? Kamu masih belum bisa memahami
poligami?. Bukankah kita sudah mendiskusikannya waktu itu dan kalian telah sepakat untuk menerimanya
berdasarkan ilmu yang telah kita dapatkan.

Dek, kemuliaan dunia ataukah akherat yang engkau inginkan. Bukankah kalian ingin menjadi bidadari dunia,
bukankah kalian ingin menjadi pewaris surga, dan bukankah semua yang didunia ini adalah titipan.

Kita menikah karena untuk tujuan mulia, bukankah kita menikah untuk mendapat RahmatNya, mencapai derajat
Taqwa. Kita menikah karena ingin berada disisi Allah, suami adalah titipan, anak adalah titipan, agar kehidupan
terasa indah Allah beri kasih dan sayang dengan istilah cinta. Tapi kita tidak boleh terlena, jika tidak maka
kemuliaan akan tercabut. Yang hadir adalah angkara murka, keegoisan, kehancuran.

Bukankah engkau sudah tahu berapa banyak yang sedang menanti kemuliaan ini, menikah impian setiap wanita.
Menikah dan mendapat suami yang menjadi pemimpin dan jalan menuju surga.

Yang cantik, yang jelek, yang muda dan tua semua kadarnya sama. Sama-sama menanti. Kita akan menjadi
mujahid, sebaik-baik Umat, bila kita bisa ikhlas, ihsan dan berfikir untuk kemashalatan umat.

Bukankah hanya Allah yang tahu balasan apa untuk kita. Kita memang makhluk sosial, fitnah dan prasangka dan
salah faham pasti ada, tapi bukan untuk mematahkan tapi menjadi cambuk untuk menguatkan kita, bila tidak ada
yang memberi contoh yang benar, siapa lagi yang akan memperjuangkan kebenaran itu.

Berharaplah Allah menjadikan kita umat yang terbaik, agar ampunan dan rahmatNya bisa kita dapatkan. Bila
tidak, alangkah mudah bagi Allah untuk menciptakan peradapan baru dengan makhluk yang kuat imannya.
Bukankah itu hal mudah bagiNYa.
Alangkah meruginya kita, sampai masa kebangkitan sungguh kita pasti akan merugi.

Mbak tidak pernah memaksa kalian untuk menerima, tapi meminta kalian memahami hal ini. Wanita memang
peka dengan perasaan tetapi Allah, Alquran, Alhadist, dan orang-orang beriman akan selalu bersama kita selama
kita berusaha meyakininya.

Cobalah difikirkan kembali, semoga Allah akan bersamamu selalu adikku.

Aku hanya bisa menangis, tapi aku akan berusaha mbak, semoga Allah menjadikan aku termasuk orang yang
beriman.

Tak terasa, hampir memasuki waktu dzuhur. Aku lupa ini hari jumat. Kami beristirahat sejenak. Setelah memasuki
waktu dzuhur, kami shalat berjamaah.

***

Sesuai rencana, kami akan mencoba datang ke rumah sakit umum. Kebetulan mbak Sari memiliki banyak
kenalan disana.

Aku berkali-kali mengucapkan terima kasih padanya, padahal ia sedang mengandung 4 bulan, dan si kecil Naila
jadi ikut terepotkan olehku.

Tapi yang membuatku bertambah kagum padanya, setelah shalat dzuhur tadi. Ia menceritakan sesuatu yang
tidak kusangka. Katanya setelah lebaran, suaminya Akhi Firdaus, akan menikahi seorang akhwat. Subhanallah,
alangkah kuatnya ia dan sungguh mulia, dari awal aku mengenalnya aku sudah tahu ia termasuk wanita yang
mulia, kepribadiannya sungguh menjadi teladan.

Semoga aku bisa sepertimu mbak. Dalam perjalanan, Naila tertidur di pangkuannya, padahal ia sedang
mengandung. Subhanallah.

***
Kami segera turun dan menemui sahabat mbak Sari, ternyata sahabatnya telah mencari tahu tentang Hanif, dia
membenarkan bahwa akan ada dokter yang bertugas disini, yang telah study di Jepang. Dan benar namanya
adalah Muhammad Hanif Akbar.

Darinya juga kami tahu bahwa Hanif adalah siswa terbaik kedokteran Unsri yang mendapat beasiswa
melanjutkan study ke luar negeri.

Karena beliau telah banyak memberikan informasi, maka atas izinku, mbak Sari menceritakan kisahku. Dan
dokter Indri terkejut dan sama seperti mbak Sari sewaktu kuceritakan kisahku, tak kuasa menahan airmata dan
bertasbih.

Ah, alangkah indahnya ukhuwah ini, begitu lembut hati mereka. Allah pasti selalu bersama mereka. Kuperhatikan
dokter Indri tak jauh berbeda dengan mbak Sari, gaya bicara, berpakaian, jilbab lebar dan sempat kulihat ada
cincin melingkar dijarinya, ah telah menikah juga rupanya.

Tiba-tiba dokter Indri berkata “ aku ingat, disini ada Amran. Ia satu angkatan dengan Hanif. Mungkin kita bisa
mencari tahu tentang Hanif.

Maka kami segera ke paviliun musi elok, karena Amran bertugas disana.

Karena ia masih memeriksa pasien, kami menunggu di depan suster jaga. Tak lama kemudian Amran dan
seorang suster terlihat berjalan dan dokter Indri segera memanggilnya.

Karena dokter Indri adalah senior, Amran bisa mengenalinya. Setelah berbasa basi sebentar, dokter Indri
mengatakan ingin menanyakan tentang Hanif. Dan dokter Amran mengajak kami ke Mushalla yang tidak jauh dari
paviliun.

Akhirnya Amran juga diberitahu mengenai hal ini. Alhamdulillah dari sepengetahuan Amran, Hanif termasuk aktifis
yang cukup aktif. Kepribadiannya dan tingkah lakunya baik. Kalau tidak begitu bagaimana mungkin ia bisa
menjadi mahasiswa terbaik. Dan yang tidak dilupakan mbak Sari, tentang status Hanif. Menurut Amran, Hanif
belum menikah. Tapi ia juga tidak tahu pasti selama Hanif di luar negeri. Tapi rasa-rasanya belum mbak, jawab
Amran.

Kulihat mbak Sari begitu bersemangat, kalau kalian tanya aku. Hehehe, jadi malu. Aku seribu kali lebih
bersemangat.

Kemudian kami pamit, untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Hanif. Kali ini aku benar-benar
malu, berkali-kali wajahku bersemu merah. Mbak Sari mengodaku.

Ternyata mencari rumah keluarga Hanif tidaklah sulit, semua mengenal orang tuanya. Ayahnya bernama K.H.
Abidin Hanif, Ibunya bernama Hj. Aminah.

Mereka memiliki biro perjalanan Haji dan Umroh Al-Islam.

Begitu sampai di depan rumahnya, kami sambut beberapa wanita. Sungguh kami tidak menyangka, keluarga
sepertinya sudah memperkirakan akan ada yang datang untuk menanyakan dan meminta penjelasan dari perkara
ini.

Tidak berapa lama K.H Abidin Hanif menemui kami, beserta istri dan yang membuatku takjub, dua wajah yang
kukenal lewat blog, akhirnya bisa kutatap langsung.

Kami saling bersalaman dengan ibu dan dua orang anak Hanif, sampai saat ini aku meyakini mereka adalah anak
Hanif. Tapi ternyata analisa mbak Sari benar, Hafidzoh dan Fatimah bukan anak Hanif, tapi anak kakaknya.
Mereka yatim dan piatu, Ayahnya meninggal kecelakaan dan ibunya meninggal ketika melahirkan Fatimah.

Semua rahasia mulai terbuka, tinggal menanyakan status Hanif, dan rupanya pak haji, panggilan mbak Sari
kepada ayah Hanif, termasuk orang yang supel, ramah dan suka bercanda.

Kali ini aku kena lagi. Pak haji mengatakan, ia sebenarnya menginginkan seorang menantu yang bisa
mengajarkan caranya menggunakan Internet, kenapa? Karena katanya dengan internet ia bisa bertemu Hanif.
Apalagi, katanya jika Hanif bersedia nantinya Biro akan diserahkan padanya, dan ia menjadi pembimbing Haji.
Maka bila nanti Hanif di Tanah Suci masih bisa bercakap-cakap. Kalau lewat telepon biayanya mahal.

Amiin, semua yang mendengar mengaminkan. Dan yang benar-benar membuatku keki, pak haji tiba-tiba berkata
“Bagaimana Sofi? Bisa mengajakan bapak internet?”.

Dan aku hanya mengangguk sambil menahan malu karena wajahku sudah seperti kepiting rebus, merah
membara.

Alhamdulillah, syukur terus kupanjatkan. Dan terakhir pak haji, berkata istikharahkanlah dahulu. Jika memang
berjodoh pasti akan bersatu.

Kamipun pamit, sebelumnya keluarga Hanif menawarkan untuk mengantar kami, tapi dengan halus kami tolak.
Biarlah kami menikmati hari ini dengan kebahagiaan.

Dalam perjalanan pulang, aku mendapat sms dari mbak Alin, dia mengatakan koneksi sudah lancar dan ada
meeting mendadak. Maka aku pamit pada mbak Sari, berkali-kali kuucapkan terima kasih atas bantuannya dan
kehadirannya dalam menemaniku menuju perjalan masa depanku. Dan aku memohon maaf tidak bisa
mengantarnya pulang.

Mbak Sari mengerti, dan hanya menitip pesan “Mohonlah dengan sungguh-sungguh, semoga Allah memberi
petunjuknya”. Karena bis sudah didepan kantorku, aku pamit mengucap salam dan segera turun.

***

Meeting kali ini ternyata membahas jadwal untuk perkuliahan perdana, ternyata jadwal belum bisa fix, ada
beberapa materi yang belum ada dosennya. Karena pembahasan masih panjang dan waktu berbuka telah tiba,
meeting di pending dan di lanjutkan ba’da shalat maghrib.
Mbak Alin tiba-tiba bertanya padaku, “kok sepertinya ada aura yang lain disini?, gi heppy yah? Napa, dah cair apa
honor penguji?”. Ah mbak Alin ini, bukan itu tapi ups, aku hampir keceplosan. Tapi dah terlanjur membuatnya
penasaran.

Akhirnya aku dibawa ke ruang kelas dan diintrogasi, hehehe. Kembali kisahku diputar ulang dan wajah
bahagianya sungguh tidak dapat kubayangkan. Dan kamipun membuka mailku, berkali-kali ia geleng-geleng
kepala dan bertasbih. Aku hanya tersenyum.

Dan saat kami akan membaca goal setting, tiba-tiba ada prochat meeting akan segera dimulai lagi. Walau
kecewa tapi tak apa-apa masih bisa dibaca nanti.

Ia hanya mengucap selamat untukku, jangan lupa istikharah, kalau benar wah katanya mbak Alin kepotong nih,
maksudnya keduluan sofi menikah. Dan ia akan membantu mengurus semua jadwal ngajarku selama aku pergi.

Jam 20.30 meeting selesai, jadwal sudah fix. Saatnya pulang. Dan seperti biasa kakakku tercinta telah setia
menunggu di depan kantor diatas motor kesayangannya.

***

BERSAMBUNG..
AKU AKAN MENIKAH BAGIAN 3 ♥
Malam, 21 SeptembEr 2007

Selamat malam duhai hati


Lelah aku berkelana
Akhirnya aku sampai
Pada titik akhir
Pada kedamaian

Duhai Rabbi
Sungguh aku tak layak
Ampunkanlah aku
Terimalah Taubatku
Bila ini masanya
Berilah kekuatan padaku

Duhai pemilik semesta raya


Hari ini
Izinkan aku menghadapMu
Untuk meminta, mengadu dan berharap
Engkau menemaniku
Merengkuhku

Duhai Rabbi
Kupinta bantuanMu
Mudahkan perkara ini
Kumengadu padaMu
Telah datang seseorang
Jika benar ia terbaik dariMu

Berikanlah padaku
Aku berharap
Satu saja, ku mendapat berkah dariMu

Tuhanku Allah yang satu, malam ini aku berdoa, malam ini aku sendiri, malam ini aku berharap. Tuhanku Allah,
aku sangat lelah, setelah tarawih ini aku akan beristikharah. Aku tak minta banyak, hanya petunjuk dariMu.

Aku tak tahu sudah pukul berapa sekarang, aku terus memujaNya. Sampai mata ini tak kuasa untuk terbuka lagi.
Aku terlelap dalam malam sunyi, gemerisik angin mengantarku menuju alam lain. Aku rebah beralas sajadah,
berbalut mukena putihku, masih kudekap Al-Quran mungilku. Ku terlalu lelah hari ini, dingin lantai tak terasa,
kumerasa hangat. Mungkin kah Allah menghampiriku? Ataukah para malaikat utusanNya menemaniku, aku tak
tahu. Ku merasa tak sendiri, ku merasa hangat, adakah yang menyelimutiku? Aku sungguh tak tahu.

Alam sadarku telah sirna, hanya tasbih semesta alam menemani bergulirnya waktu. Sampai sesuatu menimpaku,
“Bruuk”. Aduh, itu kata yang pertama kali terucap dari mulutku, mata masih terpejam. Dan setelah kubuka,
MasyaAllah, buku hadist Bukhari yang tebal telah menimpa badanku. Rupanya saat aku tertidur, kakiku
menendang rak buku yang berada di belakang tubuhku. Lumayan buku setebal 1000 halaman terjun bebas.
Untung hanya mengenai badan, bagaimana kalau kena muka. Wah kuyakin, memar akan menghiasi wajahku.

Setelah sadar, aku mencari hpku dan kulihat jam menunjukkan pukul 2 lebih 50 menit. Haaa, sepertiga malam
tinggal 10 menit menit lagi tiba, bagaimana ini aku belum mendapat petunjuk. Apa yang harus kujawab. Aku tidak
bermimpi apa-apa. Aduh, Allah bagaimana ini. Apa orang yang beristikharah ada yang sepertiku ini tidak?.
Waduh aku bingung sekali. Tenang, aku segera menarik nafas mencoba tuk tenang. Aku mulai membereskan
mukena, sajadah.

Saat aku membereskan mukena dan sajadah, ternyata aku lupa Al-Quranku tergeletak di dekat tempat tidur.
Astaghfirullahal Adzim, kertasnya jadi lecek. Terlipat patah. Tapi tunggu dulu, apa ini? Ku perhatikan
lembarannya.

Allahu Akbar, aku segera bersujud mengucap syukur kepada Allah, aku yakin inilah isyarat dariNya. Lipatan itu
pas sekali menunjuk pada satu surah yang biasa tercetak dalam undangan pernikahan. Ar-Rum:21.

“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu
sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantarmu rasa kasih dan
sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang
berfikir”.

Aku telah mantap, dan segera kunyalakan komputer, koneksi internet ku klik, dan ku buka mail yahooku.

To : hanif@yahoo.com

Subject : Assalamualaikum Wr.Wb

Alhamdulillah, Allah maha mendengar dan tidak pernah tidur untuk memberi rahmatNya untuk seluruh
makhlukNya.

Wahai akhi, hari ini aku sangat lelah, tapi akan kuberikan jawaban dari pinanganmu kemarin.

Jawabanku ada di surah Ar-Rum:21, maka jika engkau bersungguh-sungguh maka kirimlah keluargamu untuk
memintaku dengan sebaik-baik cara.

Dan setelah sahur, aku akan mengatakan kepada seluruh keluargaku. Jika hari ini akan ada keluarga yang
bersilaturahmi dan akan meminang putrinya.

Tak ada yang sempurna, semoga kebaikan yang kita harapkan akan membawa keberkahan.

Kemarin aku telah bersilaturahmi kepada keluargamu, dan mereka sudah meminta alamat dan telepon rumahku.
Jika Allah berkehendak, maka bersegeralah menyambut suatu kebaikan.

Wassalamualaikum wr.wb

Ukhti sofi

Alangkah leganya hati, aku segera keluar dari kamar dan menyiapkan makanan untuk sahur. Kebetulan bagianku
hanya menyiapkan saja, kalau memasak sudah dilakukan kakak perempuan dan tanteku.

Sambil menunggu adzan subuh, seperti biasa keluarga masih berkumpul. Bapak dan ibu duduk didepan dan
menonton televisi, kebetulan ada siaran tilawah Al-Quran. Adik dan kakak sudah naik lagi ke lantai 2, ke kamar
mereka masing-masing.

Kakak perempuanku masih berada di ruang tengah sambil menidurkan anaknya sedangkan suaminya membaca
koran yang belum sempat dibaca.
Tanteku kulihat sedang membaca surah yasin, sambil menunggu shalat subuh.
Ku beranikan diri menemui mereka semua, dan ku minta kali ini kami berkumpul di ruang depan, dan memninta
mereka shalat subuh bersama-sama. Setelah itu aku akan mengatakan perkaraku.

***

Setelah shalat subuh, akhirnya aku sampaikan hal ini dan semua terdiam. Tidak berapa lama, bapak berbicara.
Jika memang semua itu benar, apakah engkau sudah siap? Menikah bukan hal mudah, apalagi kalian belum
saling kenal. Ah, dalam hatiku. Aku berkata. Bapak, bukankah sudah pernah kukenalkan bagaimana pernikahan
yang seperti ini. Pernikahan yang tidak melalui tahap awal dengan pacaran, kami akan menikah karena mengikuti
sunnah Rasulullah, dan mengenapkan dien kami serta membangun peradapan Islam yang lebih baik lagi.

Akupun menjawab “sudah bapak, sofi sudah pertimbangkan. Kemarin juga walau baru bertemu sekali dengan
keluarganya, tapi sofi sudah merasa mereka menerima sofi apa adanya”.

“Baiklah kalau begitu, kita tunggu kedatangan mereka, dan maaf bapak belum bisa mengajak keluarga besar,
karena bapak belum yakin. Semoga akan segera kita dengar khabar dari mereka. Dan alangkah baikna jika
mereka memberi khabar sebelum kedatangan mereka. Sudahkah kau beri telepon rumah kita, nak?”. ucap bapak
kemudian.

“Sudah, dan aku juga sudah memberi pesan pada kak Hanif, untuk memberi tahu keluarganya, dan secepatnya
memberi khabar”.

Akhirnya kamipun bubar, dan aku sudah hafal. Kakak perempuanku dan tante akan segera memburuku. Hehehe,
aku hanya tersenyum.

Mereka memintaku memperlihatkan foto kak Hanif, dan lagi-lagi aku tersenyum, apalagi kalau bukan komentar
dari mereka.

Wah, dapet Ustadz Jenggot lah, kenapa nggak dikirim seluruh badan, yah umroh berdua saja yah?. Kapan
mengajak kami, umroh. Dan banyak lagi pertanyaan mereka. Aku hanya menjawab seadanya dan sesuai dengan
pengetahuanku tentang dirinya.

Aku baru bisa bernafas lega setelah kakakku dipanggil suaminya dan tanteku dipanggil ibuku.

***

Pagi ini, aku masih masuk kantor dan tidak seperti biasanya, bapak meminta kakakku untuk mengantarku kerja.

Aku hanya menurut saja, dan diatas motor kakaku bercanda, karena aku akan melangkahinya, dia cuma bilang
pelangkahnya boleh mobil, boleh motor, boleh emas, boleh uang, boleh …

Sebelum ia semakin banyak bicara, langsung kututup dengan kata boleh, semua boleh kalau sudah jadi. Boleh
mobil, tapi rodanya dulu, boleh motor tapi kaca spionnya dulu, boleh emas tapi emas-emasan, boleh uang cepek
dulu dong. Hehehe, kami berdua langsung tertawa.

***

Jam 11, hpku berdering. Kulihat telepon dari rumah, dan kakak perempuanku langsung mengatakan, keluarga
Hanif sudah menelepon. Mereka akan datang setelah Ashar. Kalau aku bisa izin, diminta bapak untuk segera
pulang.

Aku jawab, akan aku usahakan. Setelah menanyakan kepada teman-teman, adakah yang bisa menggantikan aku
untuk mengajar sampai pukul 7 malam nanti.Alhamdulillah, Allah masih baik padaku, salah satu rekan kerja,
Yunita bersedia, kebetulan ia memiliki waktu luang setelah jam 3. Akhirnya aku menelepon kerumah dan
kukatakan akan tiba setelah Ashar.

***

Setelah Ashar, aku segera bersiap pulang. Di jalan aku memilih pulang dengan naik bis kota jurusan KM 12,
setelah itu aku nanti naik lagi angkot yang menuju rumahku. Dan tidak berapa lama biskota datang, Bismillah aku
segera naik dan duduk. Ternyata bisnya tidak melewati jalan RRI, langsung melewati jalur simpang empat Polda,
maka akupun turun tepat di depan simpang jalan RRI, aku mulai berjalan sampai di simpang PLN di kawasan
jalan Demang Lebar Daun.

Saat aku berjalan, aku tidak melihat di belakangku ada biskota yang kebut-kebutan, dan terjadilah peristiwa itu.

***

22 September 2007 09:10:38

Saat siswa mengerjakan latihan, aku memcoba mengecek email dan disana ternyata ada email dari kak Hanif.
Segera aku buka emailnya.

To : micidesandro123@yahoo.com

Subject : Assalamualaikum Wr.Wb


Alhamdulillah, segala puji hanya pada Allah, shalawat dan salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad Saw,
keluarga dan para sahabat.

Saya sudah membaca emailmu, Alhamdulillah. Saya juga sudah menelepon keluarga di Palembang. Mereka
akan datang hari ini. Dan aku telah meminta kepada ayah untuk menyampaikan bahwa pernikahan akan
dilangsungkan pada hari Jum’at ba’da shalat Jum’at, di masjid dekat rumahmu ukhti. Setelah itu jam 4 kita
berangkat dari Palembang, menuju Jakarta selanjutnya kita terbang ke tanah suci Makkah, disana kita akan
Umroh selama 3 hari. Sesuai dengan janjiku itu sebagai Mahar utamanya, kemudian Mahar keduanya
membacakan Surah Ar-Rahman didepan seluruh Jamaah masjid, dan yang ketiga emas dan uang tunai untukmu.

Aku akan pulang ke Indonesia dua hari lagi. Satu hari aku di Jakarta setelah itu langsung ke Palembang.

InsyaAllah kita akan segera bertemu.

Wassalamualaikum wr.wb

Muhammad Hanif Akbar

Aku menutup email darinya, dan segera kubuka blogku dan kutulis rasa bahagiaku disana, agar para sahabatku
tahu dan bisa turut merasakan kebahagiaanku.

***

Karena sebelumnya keluarga kak Hanif telah memberi khabar, maka bapak dan ibu mengundang keluarga besar
untuk hadir menyambut keluarga kak Hanif.

Terlihat suasana bahagia disana, saling bercengkrama, bersalaman dan sangat akrab. Bapak menanyakan,
apakah aku sudah pulang atau belum pada kakakku, dan segera mereka menghubungi hpku. Tapi beberapa kali
dihubungi tidak ada yang mengangkatnya. Akhirnya kakakku menelepon kantor dan di jawab salah satu CSO,
kalau mereka melihat aku sudah keluar dari kantor.

Kakak menyampaikan hal ini, dan mengatakan aku dalam perjalanan. Untuk mempersingkat waktu akhirnya
acara pinangan dilanjutkan tanpa kehadiranku, semua sepakat dan Alhamdulillah, disana ada pengurus masjid,
ustadz Ahmad, imam masjid juga hadir, ia juga nantinya yang akan menjadi saksi di pernikahan nanti.

Akhirnya keluarga kak Hanif pamit sekita pukul 5 sore. Dan semua terlupa bahwa aku belum pulang juga, mereka
terlalu gembira sampai lupa denganku.

Lalu di manakah aku?

***

Adakah yang tahu apa yang terjadi padaku? adakah yang berusaha mencariku?. Aku sedang berada di tempat
serba putih, cahaya terang menyilaukan mataku. Aku tak tahu tempat apa ini.

Banyak orang menangis, mengaduh, berteriak kesakitan. Ada yang berlumuran darah, ada yang memegang
kepalanya, ada yang tak sadar membersihkan tubuhnya dari serpihan kaca jendela yang menusuk kulitnya. Ada
anak kecil yang menangis. Ada juga yang terbujur kaku. Apa yang telah terjadi?.

Terjadi kepanikan di sana, sirine mobil ambulan dan polisi semakin ramai, orang berkerumun ingin mencari tahu,
ada apa disana?

Para suster dan dokter berlarian mencoba menyelamatkan para korban, tapi aku dimana?.

Apa yang terjadi padaku?. Kudengar samar dari balik warna putih itu, khabarnya terjadi tabrakan dua bis kota
ugal-ugalan, ngebut di tanjakan depan RRI, salah satu bis kota menabrak orang yang berjalan kemudian terbalik
dan terseret sampai ke depan gedung RRI dan yang satunya menabrak rumah makan di depan RRI, banyak
korban terkena pecahan kaca. Yang parah adalah biskota yang terseret sampai depan RRI, banyak korban yang
meninggal di tempat. Orang yang ditabrak khabarnya meninggal dengan kondisi mengenaskan.
Apakah orang itu aku? Hei, apakah kalian tidak tahu aku masih hidup, aku hanya terperangkap dalam ruang putih
ini. Baiklah aku akan berteriak, agar kalian bisa menemukan aku.

***

BERSAMBUNG.
"AKU AKAN MENIKAH" BAGIAN 4
oleh Maiya Azyzaa pada 5 Agustus 2012 pukul 15:10 •
By Shopie

Tapi belum sempat aku berteriak, warna putih yang mengelilingiku lenyap. Aku sekarang bisa melihat tempat itu,
orang yang berbicara tadi ternyata hanya beberapa langkah tepat berada didepanku. Tiba-tiba blas, tubuhnya
melewatiku.
Aku kaget!. Bagaimana bisa? Nggak masuk akal. Aku seperti bayangan. Apa yang terjadi denganku?, jangan-
jangan aku benar-benar sudah mati. Apa aku sudah jadi hantu? Aku terduduk lemas di lantai.

Kulihat seorang laki-laki berlari sambil mengendong seseorang, ia berteriak kencang, tolong wanita ini, suster,
dokter. Dia bisa mati.

Aku langsung berdiri dan ikut berteriak panik. Lelaki itu semakin dekat ke arahku, reflek aku berjalan dan ingin
membantunya memegang orang yang di gendongnya.

Sebelum aku bertindak ia telah menembus tubuhku, aku hanya berteriak “Hei”... , aku tak tahu apakah warna baju
wanita itu memang merah ataukah darah. Darahnya menetes ke lantai.
Segera beberapa suster membantu lelaki itu dan alangkah kagetnya aku saat ku lihat wajah wanita itu. Tuhan, itu
aku ucapku lirih.
Segera kudekati dan benar itu aku. Lagi-lagi aku berkata bagaimana bisa? Tubuhku berlumur darah, dan siapa
lelaki ini? Enak saja dia membawa tubuhku, dalam hatiku, boleh juga kekuatannya. Tubuhku kan berat. Ah, kalau
dalam kondisi begini rintangan seberat apapun pasti akan ringan. Bukankah itu adalah spiritnya keyakinan.
Tubuhku di bawa ke ruang ICU, segera kudekati lelaki itu. Ingin kutanyakan apa yang telah terjadi, benarkah aku
korban yang dikatakan orang-orang tadi. Tapi kulihat ia menangis, dan berkali-kali berkata seharusnya aku bisa
mencegahnya, seharusnya aku bisa lebih cepat.
Allah, kenapa aku selalu terlambat menyadarinya. Jika aku bisa berfikir lebih cepat, aku pasti bisa mencegah hal
ini. Allah, untuk apa aku memiliki kekuatan ini bila aku tidak bisa menolong orang, aku benci diriku sendiri.
Kenapa dengan lelaki ini? Apa dia bisa mengetahui akan sesuatu yang belum terjadi, oh jangan-jangan dia
memiliki indra ke enam yang bisa mengetahui hal-hal gaib. Tapi kalau benar, kenapa ia tidak bisa melihatku
ataukah ia belum menyadari keberadaanku.
Apa sebaiknya ku coba saja yah. “Bung, permisi…, apa anda bisa melihat saya. Waduh kok dia tidak
memperdulikanku. Menyebalkan”.
Tiba-tiba, wajahnya yang tadinya menunduk terangkat dan ia menoleh kearahku. Astaghfirullahal adzim. Ia
beristighfar dan sangat kaget. Karena ia baru menyadari kalau aku Adalah orang yang telah ditolongnya tadi.
“Kenapa ruh anda berada di sini, apa yang telah terjadi? Apa mereka didalam sana tidak bisa menolong anda?”.
Aku langsung menjawab, “jadi anda bisa melihat saya?”.
“Iya, jawabnya. Maaf tadi saya kira anda, ah sudahlah”.
“Bung, apa yang sebenernya anda lihat saat peristiwa itu terjadi?”.
“Sebelumnnya, saya memiliki firasat kuat akan terjadi sesuatu tepatnya di dekat keramaian, tapi karena beberapa
kali sering tidak terjadi, maka aku tidak menghiraukan firasatku”.
Tapi entah kenapa, aku seperti ingin berjalan ke dekat tempat kejadian, maka saat kedua biskota itu memasuki
jalan, tubuhku bergetar dan bayangan mengerikan yang pernah aku lihat dalam mimpiku hadir, sampai kepalaku
terasa sakit sekali.
Anda sedang berjalan tepat berada di depan biskota yang naas itu. Tubuh anda terpental dan kepala anda
membentur dinding pagar gedung RRI, sementara bis terus menabrak pagar dan terguling di halaman RRI.
Jarak saya dengan anda cukup jauh. Karena itu maafkan saya yang tidak bisa menyelamatkan anda pada saat
itu, ucapnya lirih penuh penyesalan.
Sudahlah, jawabku. Semua sudah terjadi. Kita hanya berusaha, tapi semua diluar kemampuan kita. Maaf
siapakah nama anda? Nama saya sofi.
Mbak sofi bisa memanggil saya Indra. Jawabnya kemudian.
Aku kembali bertanya padanya.
Indra, sebelumnya aku sudah berada disini, awalnya ada dinding putih yang mengelilingi aku, dan sebuah sinar
menyadarkan aku. Setelah itu warna putih memudar dan aku bisa melihat dunia. Tetapi aku hadir dengan
keadaan seperti ini. Apakah engkau tahu akan hal seperti ini?
Ia segera berkata, saya tidak tahu. Pengetahuan saya masih sedikit.
Setengah jam kemudian dari ruang ICU terlihat beberapa dokter keluar dan disusul dua orang suster. Segera ku
minta Indra menanyakan keadaanku.
Salah satu dokter berkata, pasien ini mengalami luka serius. Kami sudah berusaha. Semoga Allah menolongnya.
Ia masih koma dan belum bisa di lihat. Kemudian dokter bertanya pada Indra, apakah Indra saudaraku? Ku
katakan pada Indra, jawab Iya.
Dokter juga berkata bersabarlah, beritahu keluarga segera. Setelah itu ia pergi. Mungkin dokter ingin istirahat
dahulu. Setelah menangani banyak pasien korban kecelakaan.
Kemudian Indra bertanya padaku, sekarang apa yang harus aku lakukan mbak, berapa nomor telepon rumahmu?
Agar aku bisa menghubungi keluargamu.
Ku jawab, teleponlah ke nomor 661122 dan bicara kepada bapakku. Namanya Muchtar Umar.
Segera Indra pergi tuk mencari wartel. Ia memintaku untuk menunggu disini.
Setelah ia pergi, aku penasaran. Perlahan aku mendekati ruang ICU dan blas aku melewati pintu tanpa harus
membukanya. Disini terdapat 7 pasien yang belum sadarkan diri, aku melihat jasadku terbaring, dimana-mana
selang mengelilingi tubuhku. Aku masih tidak percaya dengan penglihatanku..
Seorang suster menghampiri jasadku dan tiba-tiba suster itu menoleh padaku, ia cuma berkata “kok merinding
yah, ah kasihan sekali mbak ini. Semoga Allah menyelamatkannya. Walau dokter Burhan sudah mengatakan
tidak ada harapan. Mesin itu hanya merangsang organ tubuh agar bias berfungsi dan aktif. Tapi semoga ada
keajaiban”.
Aku kira ia bisa melihatku, ternyata ia hanya merasakan kehadiranku. Tunggu, apa katanya tadi? Aku tidak bias
diselamatkan lagi?
Aku tidak percaya dengan kata-katanya, aku langsung berlari. Terus berlari menembus dinding-dinding, aku
menangis. Aku belum ingin mati. Aku masih ingin hidup.
***
BERSAMBUNG
Bisa juga dilihat dicatatan => http://www.facebook.com/notes/maiya-azyzaa/aku-akan-menikah-bagian-
5/346913988724383

AKU AKAN MANIKAH BAGIAN 5

By Shopie...

Aku lelah, dan bersandar di sebuah pohon. Kenapa harus begini. Aku belum ingin mati, Allah aku belum
menyelesaikan tugasku. Allah aku masih ingin menikah, Allah biarkan aku hidup karena aku ingin sekali
merasakan menjadi seorang ibu. Allah bukankah aku telah membuat syair itu, aku akan dendangkan untuk
anakku, agar ia nanti tahu bahwa aku mencintainya dan merawatnya agar menjadi mujahid untuk
kupersembahkan padaMu.

Allah aku bukanlah orang yang tak bersyukur, tapi jika masih ada waktu, maka aku akan memperbaiki diriku.
Allah, kafan yang dulu telah kubeli belum ingin kupakai, biarlah ia kupakai saat syahid memperjuangkan
kebenaran. Bukan seperti ini. Walau kutahu kecelakaan juga termasuk syahid. Tapi ah…mungkin aku memang
bukan makhluk yang bersyukur.

Astaghfirullahal Adzim, ucapku. Dalam sedihku, gema Adzan Maghrib membuatku segera bangkit. Alhamdulillah
ucapku. Andai aku bisa berbuka puasa, ucapku lirih. Aku berjalan menuju suara Adzan, aku ingin ikut shalat.

Aku memasuki tempat wudhu, beberapa wanita sedang berwudhu. Aku mencoba memutar kran tapi
menyentuhpun aku tak bisa, kucoba membasuh tanganku dengan air dari kran wanita disebelahku yang sedang
berwudhu. Air tidak mengenai tanganku. Ah, ucapku. bila aku tidak bisa berwudhu dengan air biarlah kulakukan
tayyamum. Maka aku menghadap ke dinding dan bertayyamumlah aku.

Beberapa saat kemudian imam masjid menuju tempatnya. Kudengar takbirnya. Akupun segera berniat dan
mengikuti shalat.

***

Di luar sana, sungguh aku tak pernah tahu. Kalau telah terjadi sesuatu. Tak ada manusia yang sanggup
melawannya. Kematian yang memang perkara yang hanya Allah dan para Malaikat yang tahu.

Indra telah menghadap Ilahi Rabbi. Sebuah motor menabraknya dan ajalnya segera tiba. Tanpa pesan. Tanpa
ada yang tahu siapa dirinya. Kematian yang tak terduga tapi sudah ditakdirkan. Sayang pesanku tak pernah
sampai pada keluargaku.

***

Di rumah, semua keluarga panik. Kenapa sampai sekarang aku belum juga pulang, Adzan Maghrib sebentar lagi
terdengar. Orang-orang bersiap untuk berbuka puasa. Tapi aku belum juga datang.

Adikku membuka saluran televisi lokal dan barulah mereka tahu bahwa telah terjadi kecelakaan. Informasi itu
disampaikan lewat text yang berjalan. Sebelumnnya adikku tidak memperhatikan. Hanya keponakanku Fifi yang
memperhatikan, kemudia ia membacanya “Telah terjadi kecelakaan biskota di jalan RRI, diperkirakan korban
meninggal 15 orang dan 20 orang luka-luka, saat ini korban berada di Rumah Sakit Umum Palembang. Bagi
keluarga yang merasa kehilangan sanak dan keluarganya, segera mencari informasi di RSUP”.

Maka kakak tertuaku bersama bapak segera bersiap menuju Rumah sakit. Setelah berbuka dan shalat Maghrib
langsung kesana.

Adikku mencoba menghubungi call center rumah sakit. Sayang bagian umum tidak bisa memberikan informasi.

***

Di rumah keluarga Hanif, berita kecelakaan inipun telah terdengar. Ibu Hanif mencoba menelepon kerumah. Tapi
nada sibuk selalu terdengar. Saat itu kebetulan Adikku sedang menelpon rumah sakit. Sedang Ayah Hanif telah
pergi Shalat Maghrib di Masjid.
Karena waktu berbuka telah tiba, semua berusaha tenang dan mempasrahkan diri kepada Allah, semoga tidak
terjadi apa-apa denganku.

***

Ternyata yang pergi ke rumah sakit, tak hanya Bapak dan 2 orang Kakakku tapi Ibu dan adikku, juga ikut. Semua
ingin mencari tahu keberadaanku

Kakak dan adikku berpencar, jika ada yang melihat aku segera saling menelpon.

Bapak, Ibu dan kakak tertuaku menuju ruang ICU, mencari tahu adakah korban dengan ciri-ciri seperti difoto yang
mereka bawa.

Begitu suster jaga melihat fotoku, maka dengan berhati-hati ia mengatakan aku termasuk korban, dan ia
mengajak bapak dan ibu masuk kedalam.

Sementara kakakku menelpon kakak kedua dan adikku. Setelah itu menelpon kerumah.

Ia hanya bisa menunggu diluar, karena yang boleh masuk hanya dua orang.

Bapak dan Ibu semakin dekat, dan ibuku menjerit keras ia menangis dan memelukku. Sementara Bapak terdiam
mungkin shock melihat keadaanku.

Kakakku yang tak tahan untuk masuk segera menerobos begitu mendengar jeritan ibuku. Dan iapun tak kuasa
melihat keadaanku.

Tubuhku telah bersih, tak terlihat banyak luka diluar, tapi entah didalam. Dokter telah menjahit luka-luka
ditubuhku. Hanya balutan perban di kepala dan sudah pasti mahkotaku telah hilang semua. Karena tak terlihat
sehelaipun rambut disana. Beberapa selang yang mengelilingi tubuhku, mulai dari hidung, mulutku, infus di
tangan sungguh menyedihkan.

Sayang mereka belum boleh berada disana. Karena aku memerlukan perawatan khusus. Mereka saja saat
masuk keruang harus menggunakan pakaian steril.

Adik dan kakakku yang menunggu diluar langsung menanyakan keadaanku, setelah Bapak, ibu dan kakakku
keluar dari ruang ICU.

Ibu masih shock, dan akhirnya tak sadarkan diri. Segera suster menyiapkan tempat darurat untuk menolong
ibuku.

Seorang dokter yang baru tiba, segera memeriksa keadaan ibuku. Untunglah ibu tidak memiliki penyakit jantung.
Atas saran dokter ibu sebaiknya dirawat dulu. Kakakku segera memesan sebuah kamar untuk ibu.

Kedua kakakku segera mencari dokter dan menanyakan kondisiku. Sementara Bapak masih duduk di temani
adikku. Dan ibu belum sadar masih terbaring di atas ranjang.

***

Aku masih di masjid rumah sakit. Aku terus berdzikir dan berdoa kepada Allah. Sampai waktu Isya tiba dan
orang-orang kembali ramai untuk shalat isya dan dilanjut dengan tarawih.

Aku masih terus berdzikir, tiba-tiba aku merasakan sangat lelah dan aku terguncang, aku tak kuasa semua
menjadi gelap.

***

Begitu mendengar keberadaanku dan kondisiku yang menyedihkan, kakak perempuanku segera menghubungi
beberapa saudara Ibu, memberi tahu kondisiku. Dan ia juga menelpon ke keluaga Hanif.

Semua tak dapat menahan sedih, padahal baru saja mereka mendapat kabar gembira tentang rencana
pernikahanku. Tapi sekarang, semua hanya pasrah pada Allah. Semua berharap keajaiban akan datang.

***

Kondisiku masih kritis, itu yang dikatakan dokter Burhan, dokter yang menangani operasiku tadi. keadaanku akan
selalu dipantau katanya. Dokter menceritakan tentang seorang laki-laki yang membawa aku, dan berusaha
menyelamatkanku, menurut dokter lelaki itu adalah saudaraku. Tapi kedua kakakku langsung membantah, kalau
tidak ada saudara yang bersamaku, karena aku dikatakan baru pulang bekerja.

Dokter menjadi bingung, tapi sudahlah. Dokter mengambil kesimpulan, mungkin lelaki itu adalah orang yang ingin
menolongku saja. Dokter berkata dalam hati, bisa jadi orang itu adalah malaikat. Bukankah sampai sekarang aku
tak melihat orang itu lagi.

Kakakku meminta izin pada dokter, salah satu dari mereka boleh menemaniku didalam sana. Tapi sayang dokter
tak mengizinkan.

Mereka keluar dari ruangan dokter dengan perasaan kecewa. Ternyata di luar sana, di dekat ruang ICU,
beberapa om dan tante telah datang, begitu juga dengan keluarga Hanif, dua orang pamannya menanyakan
keadaanku pada kakakku. Kakak keduaku mengajak tante dan om beristirahat dulu di kamar inap ibu. Sekalian
membesuk ibu yang saat ini sudah siuman tapi masih belum stabil.

Begitu tante Nila dan Mia masuk, maka terdengar kembali tangisan ibuku dan mereka saling bertangisan.

Ibuku berkata, apa salah anakku, kenapa ini harus terjadi. Ia baru saja menerima lamaran. Ia baru saja akan
merasakan kebahagiaan, tapi apa? Sungguh Allah tidak adil.

Tante Nila berusaha menyadarkan ibuku, untuk istighfar dan bersabar. Semua sudah digariskan Allah, kita
berdoa saja semoga Sofi akan baik-baik saja.

Ah, ibuku begitu terpukul, dan ia menyalahkan Allah, ia berfikir Allah tidak menyayangiku. Padahal Allah selalu
bersamaku.

Allah maafkanlah ibuku, ia tak bermaksud begitu. Ia hanya tak ingin kehilanganku. Maafkanlah ia, ia hanya
terlupa bahwa aku hanya titipan, bahwa manusia tak ada yang abadi. Semua akan kembali padamu Ya Rabb.

Sementara Om Bayu merangkul bapak, mencoba menguatkan. Kulihat kakak dan adikku segera menyingkir
keluar, kalau tidak meraka juga hanya akan terlarut dalam kesedihan ini.

***

23 September 2007

Sahur kali ini benar-benar berbeda, semua tak bergairah. Semua masih diliputi perasaan cemas dan sedih.

Entah sudah berapa kali surah yaasin bergema dirumah, di kamar inap ibuku, dan di setiap rumah-rumah yang
mengetahui keadaanku. Semua mngirimkan doa untukku.

***

Pagi itu, Ayah Hanif sedang berdiskusi dengan keluarganya. Mereka menunggu keputusan pak Haji, apakah
perkara ini akan di sampaikan kepada Hanif sekarang juga, ataukah menunggu kepulangannya satu hari lagi.

Pak Haji akhirnya mengambil keputusan untuk menghubungi Hanif.

Semua diam, ingin mendengar apa yang akan disampaikan pak Haji.

Terdengar suara nada telepon masuk, dan kemudian suara Hanif yang khas mengucap salam.

Hanif : Assalamualaikum Wr.Wb


Pak Haji : Waalaikumsalam Wr.Wb

Hanif : Ayah? Ada apa menelpon, semua baik-baik saja kan?

Pak Haji : Alhamdulillah baik, Hanif. Urusanmu disana apakah sudah selesai?

Hanif : Sudah Ayah, dan besok aku tinggal berangkat saja. Hari ini aku hanya ingin bersilaturahmi dengan teman-
teman di kampus dan di Islamic center.

Pak Haji : Hanif, apa kau bisa mendapatkan tiket hari ini?

Hanif : memangnya ada apa ayah? Kenapa harus cepat. Bukankah pernikahan telah diatur. Dan aku akan pulang
besok, setelah itu aku ke jakarta sebentar untuk mengurus dataku di Arabic Fondation, terkait dengan
pekerjaanku nanti di Rumah Sakit Islam International nanti.

Pak Haji : nak, ayah harus menyampaikan sesuatu. Allah berkehendak lain, nak. Sofi mengalami kecelakaan. Ia
saat ini dalam keadaan koma. Karena itu Ayah ingin engkau segera pulang dan tunaikan janjimu. Semoga Allah
masih memberi kesempatan menjadikannya seorang istri.

Hanif : Astaghfirullahal Adzim. Innalillahi wa inna lillahi rojiun. Semoga Allah memberi kesabaran untuk
keluarganya dan kita semua.

Kalau begitu, Hanif akan segera mencoba menelepon biro, semoga ada tiket untuk ke Jakarta secepatnya.

Pak Haji : baiklah, hati-hati dijalan. Semoga Allah bersamamu, Assalamualaikum wr.wb

Hanif : waalaikumsalam wr.wb

***

BERSAMBUNG...,,