Anda di halaman 1dari 41

-1-

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .......................................................................................................... 2


BAB I : PENGANTAR JARINGAN KOMPUTER ........................................... 3
1.1. Pendahuluan .......................................................................................................... 3
1.2. Teknik Routing pada Jaringan Komputer ............................................................... 4
1.3. Routing Information Protocol version 2 ................................................................. 5
1.4. Enhanced Interior Gateway Routing Protocol ........................................................ 9
BAB II : PERANGKAT UTAMA JARINGAN KOMPUTER WIRELESS .. 10
2.1. Pengenalan ........................................................................................................... 10
2.2. Jaringan Komputer Wireless ................................................................................ 10
a. Wireless Access Point ...................................................................................... 11
b. Wireless Router ............................................................................................... 14
c. Cara Kerja Wireless Access Point dan Wireless Router ................................... 18
BAB III : AKSES DNS PADA JARINGAN WIRELESS ................................ 23
3.1. Pendahuluan ........................................................................................................ 23
3.2. Domain Name System (DNS) ................................................................................ 23
3.3. Konfigurasi dan Akses DNS pada Jaringan Wireless ............................................. 25
BAB IV : MAC-ADDRESS FILTERING ......................................................... 36
BAB V : REPEATER-WIRELESS NETWORK DAN DHCP .......................... 37
BAB VI : BRIDGE-WIRELESS NETWORK .................................................... 38
BAB VII : OSPF (OPEN SHORTEST PATH FIRST) ..................................... 39
BAB VIII : JARINGAN VIRTUAL-LAN (VLAN) .......................................... 40
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 41

-2-
BAB I : PENGANTAR JARINGAN KOMPUTER

1.1. Pendahuluan
Sebuah jaringan komputer mendukung komunikasi data antara dua atau lebih
perangkat menggunakan media transmisi (Misra dan Goswami 2017). Media
transmisi yang digunakan pada jaringan komputer dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu wired (kabel) dan wireless (nirkabel). Sebuah jaringan dapat terbangun
karena didukung oleh perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software)
yang berfungsi di dalamnya. Gambaran dari perangkat-perangkat tersebut dapat
dikatakan sebagai arsitektur jaringan.

Gambar 1.1. Ilustrasi Jaringan Komputer

Arsitektur jaringan sangat dibutuhkan bagi administrator jaringan untuk melakukan


pengelolaan dan pengoptimalan terhadap jaringan komputer sebab arsitektur
jaringan berkaitan erat dengan topologi jaringan. Topologi jaringan umumnya
dirancang berdasarkan biaya, skalabilitas, penerapan, ukuran dan jenis jaringan.
Dari topologi sebuah jaringan dapat diambil beberapa keputusan tentang
pengelolaan jaringan. Pada bab ini akan disajikan tentang salah satu keputusan
pengelolaan jaringan yaitu teknik routing jaringan dan beberapa jenis routing yang
digunakan pada jaringan komputer.

-3-
1.2. Teknik Routing pada Jaringan Komputer
Teknik routing merupakan teknik menghitung rute antara titik sumber dan titik
tujuan untuk memungkinkan jaringan terhubung antara titik sumber dan titik tujuan.
Parameter-parameter dalam teknik routing menentukan algoritma dari routing itu
sendiri. Parameter-parameter tersebut dapat dikaitkan dengan pemanfaatan
bandwidth, delay, jumlah hop melewati router perantara dalam jaringan, lalu lintas
jaringan atau kombinasi diantara mereka, dan sebagainya. Parameter-parameter
tersebut dapat dilihat pada tabel routing. Ukuran paling sederhana untuk menilai
kehandalan algoritma dari routing adalah jumlah hop, yang menggambarkan
tentang seberapa jauh jalur yang dilalui oleh data. Secara umum teknik routing
dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Routing Statik, merupakan teknik routing yang mengubah dan memperbarui


tabel routingnya secara manual (Jayakumar, Ramya Shanthi Rekha, dan
Bharathi 2015). Tabel routing yang tersimpan pada node routing
menggunakan routing statik pada umumnya tidak akan berubah berdasarkan
perubahan infrastruktur jaringan yang terjadi. Seorang administrator
jaringan ketika menggunakan teknik routing statik harus senantiasa terjaga
dalam pengawasan jaringan, baik itu pengawasan terhadap hardware
maupun software sebab dengan menggunakan teknik routing statik
kegagalan komunikasi antar node mudah terjadi. Oleh karena itu routing
statik dapat disebut dengan routing non-adaptif.
b. Routing Dinamik, merupakan teknik routing yang mengubah dan
memperbarui tabel routingnya secara otomatis. Routing dinamik sudah
mengenal dengan istilah sistem otomasi (Autonomous System). Tabel
routing yang tersimpan pada node routing menggunakan routing dinamik
pada umumnya mampu berubah berdasarkan perubahan infrastruktur
jaringan yang terjadi. Seorang administrator hanya perlu mengawasi
infrastruktur fisik daripada jaringan yang menggunakan routing dinamik
sebab dengan menggunakan teknik routing dinamik kegagalan komunikasi
antar node mampu diminimalisir. Oleh karena itu routing dinamik dapat
disebut dengan routing adaptif. Routing dinamik memiliki beberapa jenis
diantaranya RIP, RIP v2, OSPF, EIGRP, BGP.

-4-
Pembahasan selanjutnya adalah mengenai salah satu routing dinamik yang telah
disimulasikan pada praktikum Teknik Jaringan Komputer III.

1.3. Routing Information Protocol version 2


Seperti yang telah dijelaskan di atas, jenis routing dinamik diantaranya adalah RIP,
RIP v2, OSPF, EIGRP, BGP, dan lain-lain. Pada pembahasan kali ini akan dibahas
tentang Routing Information Protocol (RIP) versi 2. Sebelum membahas RIP versi
2, ada baiknya untuk mengetahui secara singkat tentang RIP.

RIP adalah algoritma routing vektor jarak dan memanfaatkan hop-count sebagai
metrik. Jumlah hop dapat didefinisikan sebagai jumlah perangkat yang akan
dilewati oleh data dari sumber ke tujuan. Adapun jumlah hop maksimum adalah 15,
yang berarti bahwa data dapat ditransfer melalui maksimum 16 node. Setelah node
ke 16 dianggap tidak terjangkau. Hal ini menjadi salah satu batas kemampuan dari
RIP. Tabel routing RIP akan diperbarui setiap 30 detik sekali. Prioritas protokol
routing ditetapkan dengan menggunakan nilai jarak administratif yaitu 120 secara
default. Adapun jenis-jenis dari RIP diantaranya adalah sebagai berikut.

a. RIP versi 1
RIP v1 didasarkan pada metode broadcast. Pembaruan tabel routing
dilakukan setiap 30 detik. RIP v1 memiliki batas jumlah hop untuk
mencegah paket-paket melakukan looping. Adapun protokol ini merupakan
protokol classfull.
b. RIP versi 2
RIP v2 merupakan pengembangan dari RIP v1. Perbedaannya adalah RIP
v2 menggunakan metode multicast dalam transmisi paket data. RIP v2
merupakan protokol classless.
c. RIP Next Generation
RIP Next Generation atau RIPng merupakan RIP untuk alamat IPv6. Dua
RIP diatas berlaku untuk alamat IPv4. RIPng tidak memiliki otentikasi.
Jumlah hop-count yang sama tetapi tidak menggunakan otentikasi,
menyebabkan data melakukan loop terutama digunakan pada jaringan skala
besar.

-5-
Setelah diketahui tentang RIP dan macam bentuk pengembangannya, sesuai dengan
judul sub bab ini selanjutnya akan dibahas lebih jelas tentang RIP v2 menggunakan
analisa dari percobaan yang telah dilakukan pada praktikum Teknik Jaringan
Komputer III tahun 2018. Perhatikan gambar 1.2 berikut.

Gambar 1.2. Topologi Jaringan Komputer

Pada gambar 1.2 diatas dapat dijelaskan untuk masing-masing network yang
digunakan diantaranya seperti pada tabel 1.1 berikut.

Tabel 1.1. Network dari Topologi


Blok Network Netmask
Kuning (R1) 100.100.100.0 255.255.255.252
Putih (R1-R2) 10.10.10.0 255.255.255.252
Oranye (R2) 150.150.150.0 255.255.255.252
Putih (R2-R3) 20.20.20.0 255.255.255.252
Ungu (R3) 200.200.200.0 255.255.255.252
Putih (R3-WR1) 202.180.230.0 255.255.255.252
Putih (R3-WR2) 202.180.220.0 255.255.255.252

Dari tabel 1.1 diatas dapat dilakukan konfigurasi untuk routing RIPv2 seperti pada
tabel 1.2 berikut.

-6-
Tabel 1.2. Konfigurasi RIP v2
R1#conf t
Enter configuration commands, one per line. End with
CNTL/Z.
R1(config)#router rip
R1(config-router)#version 2
R1 R1(config-router)#network 100.100.100.0
R1(config-router)#network 10.10.10.0
R1(config-router)#end
R1#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
R1#
R2#conf t
Enter configuration commands, one per line. End with
CNTL/Z.
R2(config)#router rip
R2(config-router)#version 2
R2(config-router)#network 150.150.150.0
R2 R2(config-router)#network 10.10.10.0
R2(config-router)#network 20.20.20.0
R2(config-router)#end
R2#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
R2#
R3#conf t
Enter configuration commands, one per line. End with
CNTL/Z.
R3(config)#router rip
R3(config-router)#version 2
R3(config-router)#network 200.200.200.0
R3 R3(config-router)#network 20.20.20.0
R3(config-router)#network 202.180.230.0
R3(config-router)#network 202.180.220.0
R3(config-router)#end
R3#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
R3#

Dari tabel 1.2 dapat dilihat untuk masing-masing router diberi perintah untuk
memasukkan network yang terhubung langsung pada konfigurasi RIP v2.
Selanjutnya hasil dari konfigurasi RIP v2 dapat dilihat pada tabel 1.3 berikut.

Tabel 1.3. Tabel Routing


R1#sh ip route
Codes: C - connected, S - static, I - IGRP, R - RIP,
M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA -
R1 OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA
external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external
type 2, E - EGP

-7-
i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS
level-2, ia - IS-IS inter area
* - candidate default, U - per-user static
route, o - ODR
P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

10.0.0.0/30 is subnetted, 1 subnets


C 10.10.10.0 is directly connected, Serial0/0/0
R 20.0.0.0/8 [120/1] via 10.10.10.2, 00:00:24,
Serial0/0/0
100.0.0.0/30 is subnetted, 1 subnets
C 100.100.100.0 is directly connected,
FastEthernet0/0
R 150.150.0.0/16 [120/1] via 10.10.10.2, 00:00:24,
Serial0/0/0
R 200.200.200.0/24 [120/2] via 10.10.10.2,
00:00:24, Serial0/0/0
R 202.180.220.0/24 [120/2] via 10.10.10.2,
00:00:24, Serial0/0/0
R 202.180.230.0/24 [120/2] via 10.10.10.2,
00:00:24, Serial0/0/0
R2#sh ip route
Codes: C - connected, S - static, I - IGRP, R - RIP,
M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA -
OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA
external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external
type 2, E - EGP
i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS
level-2, ia - IS-IS inter area
* - candidate default, U - per-user static
route, o - ODR
P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set


R2
10.0.0.0/30 is subnetted, 1 subnets
C 10.10.10.0 is directly connected, Serial0/0/0
20.0.0.0/30 is subnetted, 1 subnets
C 20.20.20.0 is directly connected, Serial0/0/1
R 100.0.0.0/8 [120/1] via 10.10.10.1, 00:00:18,
Serial0/0/0
150.150.0.0/30 is subnetted, 1 subnets
C 150.150.150.0 is directly connected,
FastEthernet0/0
R 200.200.200.0/24 [120/1] via 20.20.20.2,
00:00:17, Serial0/0/1
R 202.180.220.0/24 [120/1] via 20.20.20.2,
00:00:17, Serial0/0/1
R 202.180.230.0/24 [120/1] via 20.20.20.2,
00:00:17, Serial0/0/1
R3#sh ip route
R3 Codes: C - connected, S - static, I - IGRP, R - RIP,
M - mobile, B - BGP

-8-
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA -
OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA
external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external
type 2, E - EGP
i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS
level-2, ia - IS-IS inter area
* - candidate default, U - per-user static
route, o - ODR
P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

R 10.0.0.0/8 [120/1] via 20.20.20.1, 00:00:10,


Serial0/0/1
20.0.0.0/30 is subnetted, 1 subnets
C 20.20.20.0 is directly connected, Serial0/0/1
R 100.0.0.0/8 [120/2] via 20.20.20.1, 00:00:10,
Serial0/0/1
R 150.150.0.0/16 [120/1] via 20.20.20.1, 00:00:10,
Serial0/0/1
200.200.200.0/30 is subnetted, 1 subnets
C 200.200.200.0 is directly connected,
FastEthernet1/0
202.180.220.0/30 is subnetted, 1 subnets
C 202.180.220.0 is directly connected,
FastEthernet0/1
202.180.230.0/30 is subnetted, 1 subnets
C 202.180.230.0 is directly connected,
FastEthernet0/0

Dari tabel 1.3 dapat dilihat dengan identifikasi network yang terhubung langsung
dengan router, RIP v2 sudah dapat berjalan. Destinasi yang dirutekan menggunakan
protokol RIP v2 diberikan simbol “R” pada tabel routing. Dapat dilihat

1.4. Enhanced Interior Gateway Routing Protocol

-9-
BAB II : PERANGKAT UTAMA JARINGAN KOMPUTER WIRELESS

2.1. Pengenalan
Meningkatnya kebutuhan dan jumlah pengguna jaringan komputer menuntut para
pengembang dan pengelola jaringan komputer untuk meningkatkan efektivitas dan
efisiensi layanan dalam jaringannya. Jaringan komputer secara sederhana
merupakan dua atau lebih komputer yang terhubung dengan tujuan untuk bertukar
informasi, resources dan lain-lain (Shinder 2001).

Jaringan komputer yang berkembang mulai dari menggunakan link berupa kabel
coaxial, twisted-pair, atau fiber optik sampai yang menggunakan link tanpa kabel
atau nirkabel (wireless). Pada bab ini, hanya akan dijelaskan mengenai jaringan
komputer yang menggunakan link tanpa kabel atau (wireless).

2.2. Jaringan Komputer Wireless


Sering kita mendengar istilah jaringan wireless dalam kehidupan sehari-hari saat
ini. Secara umum jaringan wireless merupakan jaringan yang dibangun dengan
koneksi antar perangkat akhir (end-device) tanpa menggunakan kabel. Dapat
dikatakan pula bahwa jaringan komputer wireless merupakan jaringan antar
komputer dengan koneksi dari komputer satu ke komputer lain tanpa menggunakan
kabel.

Dalam kondisi tertentu, jaringan komputer wireless memiliki keuntungan


(Nicopolitidis et al. 2003) diantaranya sbb:

1. Cocok digunakan untuk pengembangan jaringan di wilayah yang sulit


memungkinkan untuk instalasi kabel seperti di sungai, laut dan sebagainya.
Keadaan yang serupa dapat ditemui ketika melakukan pengembangan
jaringan di gedung-gedung atau kantor-kantor yang luas, dimana
menghabiskan biaya yang besar untuk penggelaran kabel.
2. Larangan pengembangan kabel seperti di gedung-gedung cagar budaya,
museum dan lain-lain.
3. Pembangunan jaringan sementara yang membutuhkan waktu cepat dalam
instalasi.

- 10 -
Berdasarkan paparan keuntungan diatas, dapat digambarkan secara sederhana
tentang arsitektur dari jaringan komputer wireless. Adapun arsitektur dari jaringan
komputer wireless adalah seperti pada gambar 1.1 berikut ini.

Gambar 1.1. Arsitektur Jaringan Komputer Wireless


Dari gambar 1.1 dapat dijelaskan bahwa PC Dudin dan PC Nurul saling
berkomunikasi menggunakan jaringan wireless. Hal ini dikarenakan ada perangkat
- perangkat yang mendukung untuk komunikasi jaringan komputer wireless.

Setelah mengetahui arsitektur dari jaringan komputer wireless, selanjutnya akan


dibahas tentang perangkat-perangkat penting yang mendukung jaringan komputer
wireless.

a. Wireless Access Point


Wireless Access Point (WAP) adalah sebuah node yang mengizinkan perangkat –
perangkat untuk mengakses sebuah jaringan (EC-Council 2010a). Dalam
kebutuhannya untuk jaringan komputer wireless, Wireless Access Point
dihubungkan kepada perangkat Router dengan kabel karena WAP merupakan
perpanjangan dari jaringan yang dikelola oleh Router. Contoh perangkat wireless
access point ada pada gambar 1.2 berikut ini.

Gambar 1.2. Wireless Access Point

- 11 -
Wireless Access-Point (WAP) memiliki fungsi-fungsi diantaranya sbb:

1. Sebagai pengatur lalu lintas data, sehingga memungkinkan beberapa client


dapat saling terhubung melalui jaringan.
2. Sebagai hub atau switch bagi client jaringan wireless menuju jaringan kabel.

Dalam konektivitasnya kepada client jaringan komputer wireless, WAP


menggunakan beberapa parameter diantaranya sbb:

1. SSID (Service Set Identifier) merupakan sebuah parameter identifikasi


jaringan wireless yang ditulis sampai 32 karakter (Palmer 2013). SSID
dalam jaringan wireless merupakan parameter pertama yang terdeteksi oleh
komputer atau end-device lainnya dalam rangka koneksi jaringan wireless.
Biasanya SSID diberi nama sesuai dengan nama area WAP atau nama
pemilik jaringan atau identitas lain yang berada misal “Lab.Telkom Timur
Lt-1”. Contoh SSID yang terdeteksi komputer disajikan pada gambar 1.3
berikut ini.

Gambar 1.3. SSID yang terdeteksi oleh sebuah Client

Berdasarkan gambar 1.3 dapat dilihat ada beberapa SSID yang terdeteksi
oleh sebuah client dan pada waktu gambar ini ditangkap client sedang
terhubung dengan jaringan “Kelompok 6 Jar 1”.
2. Wireless Security System meliputi WPA-PSK, WPA2-PSK merupakan
sebuah kata kunci enkripsi yang ditetapkan di dalam Wireless Access Point
dan harus dimasukkan client ketika hendak terhubung dengan jaringan

- 12 -
wireless. Parameter ini termasuk ke dalam bagian fitur keamanan jaringan
wireless, bersama dengan MAC-Filtering yang akan dibahas pada bab lain.
3. Signal Strenght merupakan kuat sinyal yang dipancarkan oleh wireless
Wireless Access Point dalam mencakup area tertentu untuk client jaringan
wireless. Pada perangkat end-device sisi client seperti PC, Laptop,
smartphone, signal strenght ditampilkan dalam bentuk signal bar dengan
jumlah bar yang berwarna jelas menunjukkan level kekuatan sinyal.
Semakin banyak bar yang berwarna jelas, semakin kuat pula sinyal yang
diterima oleh client.

Setelah dijelaskan mengenai parameter – parameter di dalam WAP, selanjutnya


akan dibahas mengenai konfigurasi yang dilakukan di dalam Wireless Access Point
untuk keperluan akses client menuju jaringan. Adapun konfigurasi tersebut adalah
konfigurasi SSID dan keamanan jaringan, yang digambarkan pada gambar 1.4
berikut ini.

Gambar 1.4. Konfigurasi SSID pada Wireless Access Point

- 13 -
Pada gambar 1.4 dapat dilihat bahwa SSID untuk Wireless Access Point adalah
“Kelompok 1”. Adapun konfigurasi keamanan jaringan tidak dilakukan pada
gambar 1.4. Dapat dibuktikan pula dari sisi client yang akan dihubungkan ke dalam
jaringan yang melewati Wireless Access Point “Kelompok 1”, dimana client
tersebut akan mendeteksi nama SSID “Kelompok 1”. Gambar dari sisi client ada
pada gambar 1.5 berikut.

Gambar 1.5. Tampilan SSID pada End-Device


Dari gambar 1.5 dapat dilihat pada sisi client terdapat SSID “Kelompok 1”, sesuai
dengan konfigurasi yang telah dilakukan pada Wireless Access Point sebelumnya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Wireless Access Point merupakan perangkat
perpanjangan jaringan yang dikelola oleh Router dengan menampilkan SSID
sebagai parameter yang dapat dilihat oleh end-device guna kebutuhan akses
jaringan. Selanjutnya akan dibahas tentang perangkat-perangkat jaringan komputer
wireless yang lain.

b. Wireless Router
Wireless Router merupakan perangkat Router yang memiliki interface wireless
(EC-Council 2010b). Wireless Router memungkinkan beberapa jaringan yang
berbeda dapat saling berkomunikasi. Hal ini dapat dilakukan karena sesuai dengan

- 14 -
namanya Wireless Router, memiliki karakteristik yang sama dengan Router yaitu
mampu merutekan paket data yang melewatinya sesuai dengan destinasi paket data
tersebut. Merujuk pada pembahasan perangkat Wireless Access Point, dapat
dikatakan pula bahwa Wireless Router merupakan perangkat wireless yang
memiliki gabungan fungsi yang diberikan oleh Router dan Wireless Access Point.

Pada umumnya, kita dapat menemukan penggunaan Wireless Router di sebuah


jaringan lokal kecil misal di rumah atau di kantor kecil.

Gambar 1.6. Perangkat Wireless Router


Penggunaan Wireless Router yang disebutkan tadi biasanya untuk keperluan akses
internet dan jaringan lokal wireless atau kabel bagi para client yang berada di
dalamnya. Wireless Router mampu menghubungkan ratusan pengguna secara
bersamaan tergantung pada kemampuan wireless dan sebagian Wireless Router
juga dapat berfungsi sebagai firewall, dengan kemampuan memblokir, memantau
dan mengendalikan serta memfilter lalu lintas data yang melewatinya (Techopedia
2018). Adapun interface yang tersedia pada perangkat Wireless Router diantaranya
sebagai berikut.

1. WAN / Internet Interface, merupakan interface yang dihubungkan dengan


jaringan internet milik ISP atau jaringan tertentu yang terkoneksi dengan
jaringan internet. Pada interface ini dikonfigurasikan IP Publik sebagai
identitas dari client yang terkoneksi dengan Wireless Router untuk
mengakses internet.
2. LAN Interface, merupakan interface yang dihubungkan dengan client
tertentu. Pada interface ini, dapat dikonfigurasikan IP Address berbeda dari

- 15 -
IP Publik yang telah dijelaskan sebelumnya karena interface ini bersifat
lokal atau internal.
3. WLAN Interface, merupakan interface yang memiliki fungsi sama dengan
LAN Interface. Perbedaannya hanya pada media yang digunakan karena
mendapat tambahan “W” yang artinya Wireless. Client dapat terhubung
dengan Wireless Router melalui WLAN Interface selama client memiliki
Wireless Adapter atau Wireless Interface.

Setelah mengetahui tentang definisi dan fungsi dari Wireless Router, berikut akan
dijelaskan mengenai konfigurasi yang dilakukan pada Wireless Router. Konfigurasi
yang dilakukan di dalam Wireless Router secara umum untuk keperluan akses
internet dan jaringan lokal wireless adalah sebagai berikut.

1. Memasukkan WAN / Internet IP Address dari ISP atau jaringan tertentu


yang terkoneksi dengan jaringan internet. Hal ini dilakukan untuk
mendapatkan IP Publik yang berlaku di dalam jaringan internet. Ada dua
mode konfigurasi WAN / Internet IP Address yaitu Statik dan Dinamik.
Statik digunakan apabila IP Publik yang dialokasikan sudah diketahui atau
ditentukan, sedangkan Dinamik digunakan apabila IP Publik yang
dialokasikan belum diketahui sehingga cukup diset ke mode tersebut agar
mendapat IP Publik sesuai alokasi yang dikelola oleh DHCP Server.
Adapun detail langkah konfigurasi di atas dapat dilihat pada gambar 1.7
berikut.

Gambar 1.7. Konfigurasi WAN / Internet IP Address

- 16 -
Dari gambar 1.7 dapat dilihat bahwa mode yang digunakan pada konfigurasi
WAN / Internet IP Address adalah Statik. Hal ini dilakukan karena pada saat
instalasi sudah diketahui alokasi IP Publik yang akan dipakai pada jaringan
internet bagi client yang terhubung dengan Wireless Router.
2. Memasukkan LAN / Client IP Address. Hal ini dilakukan sebagai identitas
bagi client di dalam jaringan lokal Wireless Router. LAN / Client IP Address
ditentukan mandiri, sesuai keinginan dan kebutuhan pemilik jaringan tidak
bergantung pada alokasi WAN / Internet IP Address. Hal ini merupakan
kelebihan dari Wireless Router yang mana mampu membuat beberapa
jaringan dalam satu perangkat. Ada dua mode konfigurasi LAN / Client IP
Address yaitu Statik dan Dinamik. Statik digunakan apabila jumlah client di
dalam jaringan dibatasi dan ditentukan sesuai kebutuhan, sedangkan
Dinamik digunakan apabila jumlah client cenderung tidak dapat diprediksi
jumlahnya.
3. Konfigurasi SSID (Service Set Identifier), merupakan sebuah parameter
identifikasi jaringan wireless yang ditulis sampai 32 karakter (Palmer 2013).
SSID dalam jaringan wireless merupakan parameter pertama yang
terdeteksi oleh komputer atau end-device lainnya dalam rangka koneksi
jaringan wireless. Biasanya SSID diberi nama sesuai dengan nama area
WAP atau nama pemilik jaringan atau identitas lain yang berada misal
“Lab.Telkom Timur Lt-1”. Adapun konfigurasi ini sama seperti dengan
konfigurasi Wireless Access Point.
4. Konfigurasi Wireless Security System meliputi WPA-PSK, WPA2-PSK
merupakan sebuah kata kunci enkripsi yang ditetapkan di dalam Wireless
Router dan harus dimasukkan client ketika hendak terhubung dengan
jaringan wireless. Parameter ini termasuk ke dalam bagian fitur keamanan
jaringan wireless, bersama dengan MAC-Filtering yang akan dibahas pada
bab lain.

Setelah dibahas mengenai pengertian dan konfigurasi dari Wireless Router maka
dapat dijelaskan tentang keuntungan yang didapatkan ketika menggunakan
Wireless Router. Adapun keuntungannya adalah sebagai berikut (Daniel 2018):

- 17 -
1. IP Address yang unik untuk setiap perangkat.
2. Akses Wi-Fi untuk setiap perangkat wireless.
3. Akses internet dimanapun dengan kekuatan sinyal.

c. Cara Kerja Wireless Access Point dan Wireless Router


Selanjutnya akan dibahas mengenai perbedaan cara kerja antara Wireless Access
Point dan Wireless Router. Kedua perangkat ini telah digunakan pada percobaan
praktikum Teknik Jaringan Komputer III dengan topologi seperti pada gambar 1.8
dan 1.9 berikut.

Gambar 1.8. Topologi Penggunaan Wireless Access Point

Gambar 1.9. Topologi Penggunaan Wireless Router

- 18 -
Pada gambar 1.8 topologi terdiri dari 1 jaringan global, 1 Router, 1 Access Point
dan 2 Client yang berupa PC dan Smartphone dengan network dan IP Address yang
digunakan pada masing-masing perangkat sebagai berikut.

Tabel 1.1. Pembagian Network dan IP Address Topologi Gambar 1.8

Perangkat Network IP Address Gateway


PC Nurul 192.168.4.3/24
(Client) 192.168.4.0/24 192.168.4.1/24
Smartphone 192.168.4.10/24
192.168.4.0/24 192.168.4.1/24 Fa0/1
Router
10.10.132.0/24 10.10.132.40/24 Fa0/0
Polines Network 10.10.132.0/24 10.10.132.40/24 10.10.132.1/24

Berdasarkan tabel 1.1 dapat dilihat bahwa PC Nurul dan Smartphone sebagai Client
berada pada network 192.168.4.0/24 dengan IP Address berturut-turut adalah
192.168.4.3/24 dan 192.168.4.10/24 serta gateway 192.168.4.1/24, artinya sebagai
identitas dari PC Nurul dan Smartphone dalam suatu jaringan berturut-turut adalah
192.168.4.3/24 dan 192.168.4.10/24 yang berada dalam network 192.168.4.0/24
dan saat berkomunikasi kepada perangkat lain ataupun sebagai destinasi
komunikasi bagi perangkat lain dalam topologi gambar 1.8 melewati
192.168.4.1/24. Koneksi antara PC Nurul dan Smartphone dengan network
192.168.4.0/24 menggunakan jenis wireless. Hal ini dapat dilihat karena PC Nurul
dan Smartphone terhubung dengan Wireless Access Point dengan SSID “Kelompok
1”. Wireless Access Point tersebut terhubung dengan Router melalui koneksi wire
sebagai Node antara Client dengan Router dengan alokasi IP client dikelola oleh
Router, sehingga seluruh Client dalam percobaan ini adalah PC Nurul dan
Smartphone mendapatkan IP Address yang disebarkan dari network 192.168.4.0/24
yang terhubung dengan Router via Wireless Access Point.

Kemudian pada perangkat Router yang memiliki dua port FastEthernet yaitu
berturut-turut adalah Fa0/0 dan Fa0/1 masing-masing berada pada dua network
berbeda, yaitu network 10.10.132.0/24 dengan Fa0/0 yang memiliki IP Address
10.10.132.40/24 dan network 192.168.4.0/24 dengan Fa0/1 yang memiliki IP
Address 192.168.4.1/24. Dalam kebutuhan akses internet berlaku istilah IP Publik
yaitu pada topologi ini adalah IP Address Fa0/0 dan IP Privat yaitu IP Address
Fa0/1.

- 19 -
Pada dasarnya IP Address Privat yang selanjutnya disebut IP Privat merupakan IP
yang hanya berlaku untuk komunikasi dalam satu jaringan lokal, sedangkan IP
Address Publik yang selanjutnya disebut IP Publik merupakan IP yang terdaftar dan
digunakan pada jaringan global atau internet. Untuk mendapatkan akses ke jaringan
global atau internet, diperlukan sebuah fitur yang melakukan proses translasi dari
IP Privat ke IP publik agar Client yang berada dalam sebuah jaringan lokal dapat
mengakses fasilitas yang tersedia di dalam jaringan global seperti akses internet dan
semacamnya. Fitur tersebut adalah Network Address Translation (NAT). Fitur
NAT dikonfigurasikan pada Router yang terhubung dengan jaringan lokal dan
jaringan publik. Pada gambar 1.8, fitur NAT dikonfigurasikan pada Router yang
terhubung dengan network 192.168.4.0/24 dan network 10.10.132.0/24 dengan port
Fa0/0 pada Router yang terhubung dengan IP Publik diaktifkan sebagai IP NAT
Outside dan port Fa0/1 pada Router yang terhubung dengan IP Privat diaktifkan
sebagai IP NAT Inside. Hal ini dapat dijelaskan bahwa network 192.168.4.0/24
merupakan network yang akan ditranslasikan ke IP Publik yang dikonfigurasi pada
port Fa0/0 yaitu 10.10.132.40/24 untuk hak akses ke jaringan internet. Kemudian
dapat dilihat pula bahwa Router diberikan konfigurasi sebagai berikut.

Router#access-list 1 permit 192.168.4.0 0.0.0.255


Router#ip nat inside source list 1 int fa0/0 overload

Pada baris pertama konfigurasi, dijelaskan bahwa Router akan mengizinkan


network 192.168.4.0/24 untuk mengakses seluruh tujuan yang tersedia pada
jaringan global. Selanjutnya pada baris kedua konfigurasi diatas, dijelaskan bahwa
paket dari network yang berada pada port Router yang dijadikan sebagai IP NAT
Inside akan dirutekan menuju port Fa0/0 sebagai port yang terhubung dengan
jaringan global. Sehingga dapat disimpulkan untuk topologi gambar 1.8 ini adalah
network 192.168.4.0/24 dapat mengakses network 10.10.132.0/24 dengan dibantu
fitur NAT yang dikonfigurasikan pada Router.

Selanjutnya pada topologi gambar 1.9 terdiri dari 1 PC yang diletakkan pada
network Server, 1 Router, 1 Wireless Router, 1 PC dan 1 Smartphone yang
diletakkan pada network Client dan sebuah network publik dengan network dan IP
Address yang digunakan pada masing-masing perangkat sebagai berikut.

- 20 -
Tabel 1. 2. Pembagian Network dan IP Address Topologi Gambar 1.9

Perangkat Network IP Address Gateway


PC Umar
192.168.100.3/24
(Client) 192.168.100.0/24 192.168.100.1/24
Smartphone 192.168.100.15/24
192.168.100.0/24 192.168.100.1/24 Fa0/1
Router
200.200.200.0/30 200.200.200.1/30 Fa0/0
PC
Prabowo 200.200.200.0/30 200.200.200.2/30 200.200.200.1/30
(Server)
Polines
10.10.132.0/24 10.10.132.40/24 10.10.132.1/24
Network
Wireless 192.168.100.0/24 192.168.100.2/24 LAN-1
Router 10.10.132.0/24 10.10.132.40/24 WAN

Berdasarkan tabel 1.2 dapat dijelaskan bahwa PC Umar dan Smartphone sebagai
Client terhubung pada Wireless Router dan berada pada network 192.168.100.0/24
dengan IP Address berturut-turut adalah 192.168.100.3/24 dan 192.168.100.15/24
serta gateway 192.168.4.1/24, artinya sebagai identitas dari PC Umar dan
Smartphone dalam suatu jaringan berturut-turut adalah 192.168.100.3/24 dan
192.168.100.15/24 yang berada dalam network 192.168.100.0/24 dan saat
berkomunikasi kepada perangkat lain ataupun sebagai destinasi komunikasi bagi
perangkat lain dalam topologi gambar 1.9 melewati 192.168.100.1/24. Kemudian
pada perangkat Router terhubung dengan dua network yaitu network
200.200.200.0/30 pada port Fa0/0 dengan IP Address 200.200.200.1/30 dan
network 192.168.4.0/24 pada port Fa0/1 dengan IP Address 192.168.100.1/24.

Selanjutnya PC Prabowo sebagai Server terhubung pada Router dan berada pada
network 200.200.200.0/30 dengan IP Address 200.200.200.2/30 serta gateway
200.200.200.1/30, artinya sebagai identitas dari PC Prabowo dalam suatu jaringan
adalah 200.200.200.2/30 yang berada dalam network 200.200.200.0/30 dan saat
berkomunikasi kepada perangkat lain ataupun sebagai destinasi komunikasi bagi
perangkat lain dalam topologi gambar 1.9 melewati 200.200.200.1/30.

Kemudian pada gambar 1.9, diberikan perangkat Wireless Router yang


menyediakan beberapa jaringan yang berbeda network serta dapat menjadi
penyedia layanan DHCP bagi client yang terhubung pada topologi gambar 1.9. Hal

- 21 -
ini dapat dilihat pada tabel 1.2 bahwa Wireless Router terhubung dengan dua
network yaitu network global 10.10.132.0/24 dengan IP Address 10.10.132.40/24
pada port WAN dan network lokal 192.168.100.0/24 dengan IP Address
192.168.100.2/24 pada port LAN-1 dan interface wireless. IP Address yang
didapatkan oleh client pada network 192.168.100.0/24 berasal dari layanan DHCP
yang disediakan oleh Wireless Router. Dengan menempatkan IP Publik pada port
WAN di Wireless Router maka tidak perlu dikonfigurasikan lagi fitur NAT untuk
keperluan akses internet pada jaringan 10.10.132.0/24 karena pada port WAN
sudah diaktifkan fitur NAT oleh Wireless Router.

Setelah dijelaskan cara kerja dari kedua perangkat di atas dalam kebutuhan akses
internet dapat disimpulkan bahwa:

1. Perangkat Wireless Access Point hanya dapat digunakan sebagai salah satu
cara dalam perluasan cakupan suatu jaringan sehingga memungkinkan
client dapat terhubung ke dalam satu jaringan tanpa menggunakan media
kabel. Sedangkan Wireless Router dapat digunakan dalam beberapa
jaringan yang berbeda network dengan tanpa media kabel.
2. Fitur yang terdapat pada Wireless Router yang tidak dimiliki pada Wireless
Access Point salah satunya adalah fitur Network Address Translation
(NAT), yang digunakan untuk kebutuhan jaringan lokal (LAN) dalam
mengakses ke jaringan global seperti Internet dengan mentranslasikan IP
Privat yang bersifat lokal ke dalam IP Publik yang telah diberikan hak akses
menuju jaringan global.

- 22 -
BAB III : AKSES DNS PADA JARINGAN WIRELESS

3.1. Pendahuluan
Keseharian manusia abad ini mulai dari membaca berita nasional maupun
internasional, menonton televisi, menonton video, bahkan sampai jual beli barang
telah dilakukan secara masif di dalam dunia jaringan. Keseharian tersebut didasari
atas memanfaatkan keuntungan jaringan komputer yang handal, cepat, efektif dan
sudah tersedia di seluruh dunia. Akan tetapi perlu diketahui bahwa perbedaan
komunikasi antara manusia dengan komputer salah satunya adalah pada sisi bahasa,
dimana manusia menggunakan bahasa manusia pada umumnya, sedangkan
komputer menggunakan bahasa biner yang dikonversikan ke dalam IP Address.
Perlu digunakan sebuah teknologi untuk mempermudah penggunaan dan akses
jaringan oleh manusia dimana jaringan komputer mampu memahami bahasa
manusia sehingga manusia tidak repot untuk mengkonversikan bahasa dirinya ke
dalam bahasa biner terlebih sangat sulit dilakukan bagi manusia yang berlatar
belakang sebagai pengguna saja. Pada bab ini akan disajikan mengenai teknologi
tersebut dan seluk-beluknya dalam dunia jaringan khususnya pada sisi pengguna
atau jaringan akses.

3.2. Domain Name System (DNS)


Semua komputer di dalam jaringan internet mulai dari Smartphone, Laptop
menerima konten untuk keperluan jual beli, komunikasi bahkan hiburan
menggunakan angka-angka. Angka-angka tersebut sering kita kenal dengan IP
Address. Dalam penggunaan komputer di dalam jaringan internet yang masif dan
berkelanjutan, angka-angka tersebut tidak serta-merta harus dihafalkan semuanya
melainkan cukup dengan memasukkan nama-nama sebuah website seperti
google.com, tokopedia.com, web.whatsapp.com dan sebagainya ke dalam
Browser. Hal ini dilakukan agar mempermudah kita dalam kegiatan akses sekaligus
memanfaatkan sumber daya jaringan internet. Teknologi translasi nama domain
tersebut dengan IP Address seperti yang telah dijelaskan sebelumnya disebut
teknologi sistem penamaan domain atau Domain Name System (DNS).

DNS dapat dikatakan pula sebagai layanan penerjemah bahasa manusia yaitu nama
domain seperti seperti google.com, tokopedia.com, web.whatsapp.com dan

- 23 -
sebagainya tersebut ke dalam IP Address serta menghubungkan permintaan akses
kepada tujuan. DNS yang ada pada jaringan internet dapat dikatakan pula sebagai
buku telepon dengan mengelola pemetaan antara nama dengan IP Address. DNS
Server menerjemahkan permintaan berupa nama website dengan IP Address,
mengarahkan permintaan kepada end user yang akan dituju.

Adapun cara kerja secara umum bagaimana DNS bekerja dalam perangkat kita
sehingga kita dapat mengakses konten web yang diinginkan digambarkan pada
gambar 2.1 berikut ini.

Gambar 2.1. Alur komunikasi dalam teknologi DNS


Dari gambar 2.1 dapat dijelaskan urutan-urutan kejadian yang terjadi sepanjang
komunikasi DNS dengan perangkat kita (AWS 2018) , yaitu:

1. Client membuka web di browser misal www.example.com.


2. Permintaan akses www.example.com diterima oleh DNS Resolver. DNS
Resolver biasanya dikelola oleh ISP atau sering disebut dengan DNS
Lookup. DNS Lookup bertugas mencari IP Address yang merupakan
identitas dari www.example.com
3. DNS Resolver meneruskan permintaan akses www.example.com ke salah
satu DNS Root Name-Server dan meneruskan permintaan akses
www.example.com ke Server domain .com. TLD

- 24 -
4. DNS Resolver meneruskan permintaan akses www.example.com untuk
domain .com. kemudian meneruskan permintaan dengan mengirimkan
nama-nama Server yang dikaitkan dengan www.example.com yaitu
Amazon Route 53.
5. DNS Resolver meneruskan permintaan akses www.example.com menuju
Server Amazon Router 53, dimana Amazon Router tersebut menjadi tempat
hosting web www.example.com. Permintaan tersebut bertujuan untuk
mencari IP Address yang menjadi identitas dari www.example.com
6. Server Amazon Router 53 memberitahukan IP Address untuk akses
www.example.com sebagai contoh yaitu 192.0.2.44 dan mengirimkan
informasi tersebut kepada DNS Resolver.
7. DNS Resolver memiliki informasi tentang IP Address dari
www.example.com dan mengembalikan IP Address kepada perangkat disisi
client. DNS Resolver juga membuat chace untuk IP Address
www.example.com dalam waktu tertentu guna respon yang lebih cepat
apabila client akan mengakses web yang sama kembali dalam waktu yang
telah ditentukan.
8. Web Browser mengirimkan permintaan akses www.example.com seperti
konten dalam web kepada IP Address yang telah disimpan oleh DNS
Resolver.
9. Web Server memberikan resources yang ada pada IP Address 192.0.2.44
identitas dari www.example.com kepada client dan halaman web dapat
tampil.

Setelah mengetahi bagaimana DNS bekerja dalam perangkat kita, pembahasan


selanjutnya adalah tentang konfigurasi dan akses yang terjadi pada sisi client yang
menggunakan teknologi DNS.

3.3. Konfigurasi dan Akses DNS pada Jaringan Wireless


Seperti pada penjelasan subbab diatas, bahwa hal yang difokuskan dalam penerapan
teknologi DNS adalah kemudahan bagi para pengguna layanan internet untuk
mengakses konten-konten web yang mereka kehendaki. Oleh karena itu, penting
sekali untuk kita mengetahui bagaimana konfigurasi dan hasil yang terjadi pada sisi

- 25 -
pengguna terhadap penerapan teknologi DNS dalam jaringan internet. Percobaan
konfigurasi dan uji akses pada sisi pengguna telah dilakukan dengan topologi
seperti pada gambar 2.2 berikut ini.

Gambar 2.2. Topologi Percobaan Konfigurasi dan Akses DNS


Berdasarkan gambar 2.2 diatas dapat dijelaskan untuk percobaan di atas
menggunakan perangkat dua buah Wireless Router, satu buah Switch D-Link DES-
1026G, satu buah Switch TP-Link dan empat buah Laptop sebagai client dengan
masing-masing dua Laptop yaitu Laptop Rizka dan Laptop Dini menggunakan
koneksi kabel, dan dua Laptop yaitu Laptop Ayu dan Laptop Dudin menggunakan
koneksi nirkabel (wireless). Adapun seluruh client tersebut akan digunakan untuk
mengakses konten-konten web yang tersedia di jaringan Internet melalui dua
wireless router yang dihubungkan dengan jaringan ISP yang ada di Polines.

Dari penjelasan topologi gambar 2.2 maka selanjutnya akan dibahas mengenai
konfigurasi yang digunakan pada masing-masing wireless router. Adapun
konfigurasi tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut.

- 26 -
Tabel 3.1. Konfigurasi pada perangkat Wireless Router

Device Konfigurasi Capture

Atur WAN
IP Address
ke mode
Dynamic
dan Assign
LAN IP
Address

Aktivasi
DHCP-
Wireless- Server, atur
Router 1 DHCP-
Pool dan
assign
DNS-
Server

Atur SSID
Network
dan
Channel 5

- 27 -
Atur
password

Cek status
WAN IP
Address

- 28 -
Cek status
WAN IP
Address

Wireless-
Router 2

Aktivasi
DHCP-
Server, atur
DHCP-
Pool,
Channel 5,
SSID
Network
dan
password

Dari tabel 2.1 dapat dilihat bahwa pada Wireless-Router 1 dan Wireless-Router 2
dimasukkan mode DHCP pada interface WAN/Internet. Hal ini dilakukan agar
kedua wireless router ini mendapatkan IP Publik dari DHCP Server ISP yang
terhubung di Polines, sebab pada waktu percobaan ini dilakukan IP Publik tidak
didapatkan secara personal. Adapun IP yang didapatkan oleh Wireless-Router 1 dan
Wireless-Router 2 dapat dilihat pada menu Status yaitu berturut-turut
10.10.132.52/24 dan 10.10.132.25/24. Kedua IP Publik ini nantinya akan menjadi
identitas seluruh client yang mengakses jaringan Internet melalui Wireless-Router
1 dan Wireless-Router 2.

- 29 -
Selanjutnya pada Wireless-Router 1 dan Wireless-Router 2 dimasukkan IP LAN
yang sama yaitu 192.168.0.1/24 dengan mengaktifkan DHCP Server bagi para
client mulai 192.168.0.100/24 s.d. 192.168.0.109/24. Adapun IP LAN dan DHCP
Server pada LAN digunakan untuk identitas masing-masing client di dalam
jaringan lokal wireless router. Adapun antar client yang berbeda wireless router
tidak dapat berkomunikasi karena IP LAN yang didapatkan bersifat internal,
sehingga tidak berpengaruh ketika IP LAN dan DHCP Server yang dimasukkan
sama.

Kemudian pada Wireless-Router 1 dan Wireless-Router 2 dimasukkan beberapa IP


ke dalam kolom DNS, yaitu 10.10.70.2, 10.10.70.46, dan 202.134.0.155. Adapun
IP yang dimasukkan ke kolom DNS pada konfigurasi wireless router merupakan IP
dari DNS Server yang diberikan oleh ISP. Konfigurasi ini harus dilakukan karena
sesuai dengan penjelasan sebelumnya mengenai komunikasi client dengan DNS
Server dimana client hanya memasukkan nama domain pada browser masing-
masing kemudian permintaan akses tersebut dirutekan menuju IP dari DNS Server
yang telah diisi pada wireless router. DNS Server akan melihat dan menyocokkan
domain permintaan client dengan daftar domain dan IP Address yang ada. Setelah
ditemukan IP Address dari domain permintaan, maka DNS Server akan
memberikan IP Address yang sesuai kepada router dan router akan merutekan
permintaan awal ke domain destinasi berdasarkan IP Address. Selanjutnya dari
destinasi tersebut akan mengirimkan konten-konten kepada client berdasarkan IP
Address. Sejenak kita lihat tabel 2.2 berikut ini.

Tabel 2.2. Uji komunikasi client

Device Destination Captured

Laptop-
Laptop-Dini
Rizka

- 30 -
Laptop-Ayu

Gateway
WAN WR-
1

Gateway
polines.ac.i
d

DNS-Server
Polines

DNS
google.com

www.poline
s.ac.id

polines.ac.i
d

- 31 -
Gateway
WAN WR-
2

Gateway
WAN WR-
2

Gateway
polines.ac.i
d

Laptop-
Dudin

DNS-Server
Polines

DNS
google.com

- 32 -
www.googl
e.com

www.poline
s.ac.id

polines.ac.i
d

Gateway
WAN WR-
1

Laptop-Ayu

Laptop-
Rizka

Dari tabel 2.2 dapat dilihat bahwa uji komunikasi menggunakan test PING dari
client jaringan wireless router 1 dan wireless router 2 diketahui bahwa untuk

- 33 -
komunikasi antar client yang berbeda jaringan tidak berhasil, komunikasi masing-
masing client ke IP 8.8.8.8 (DNS Google) berhasil, komunikasi masing-masing
client ke IP 10.10.70.2 (DNS Polines) berhasil, dan komunikasi masing-masing
client ke domain www.google.com, polines.ac.id dan www.polines.ac.id berhasil.
Dengan menggunakan test PING juga dapat diketahui IP yang terdeteksi untuk
masing-masing domain diantaranya 10.10.70.46 (www.polines.ac.id) dan
74.125.130.103 (www.google.com).

Berdasarkan pembahasan pada bab ini dapat disimpulkan bahwa:

2. Teknologi translasi nama domain tersebut dengan IP Address dalam


jaringan komputer disebut teknologi sistem penamaan domain atau Domain
Name System (DNS).
3. Dalam perangkat Router yang digunakan untuk akses jaringan Internet
harus dimasukkan IP dari DNS Server yang terhubung baik secara statik
maupun dinamik sebagai teknik routing menuju DNS Server.
4. Dengan menggunakan test PING dapat diketahui IP yang terdeteksi untuk
masing-masing domain web diantaranya 10.10.70.46 (www.polines.ac.id)
dan 74.125.130.103 (www.google.com).

- 34 -
- 35 -
BAB IV : MAC-ADDRESS FILTERING

......
......

- 36 -
BAB V : REPEATER-WIRELESS NETWORK DAN DHCP

......
......

- 37 -
BAB VI : BRIDGE-WIRELESS NETWORK

.......
.......

- 38 -
BAB VII : OSPF (OPEN SHORTEST PATH FIRST)

.......
.......

- 39 -
BAB VIII : JARINGAN VIRTUAL-LAN (VLAN)

......
......

- 40 -
DAFTAR PUSTAKA

AWS. 2018. “What is DNS? – Introduction to DNS.” Diambil 3 Januari 2019


(https://aws.amazon.com/id/route53/what-is-dns/).
Daniel. 2018. “Wireless Routers Guide: Everything You Need To Know.”
Breech.co. Diambil 25 Desember 2018 (https://breech.co/guides/wireless-
routers/).
EC-Council. 2010a. Computer Forensics: Investigating Wireless Networks and
Devices. diedit oleh CENGAGE Learning. New York: EC-Council Press.
EC-Council. 2010b. Wireless Safety. diedit oleh CENGAGE Learning. New York:
EC-Council Press.
Jayakumar, Megha, N. Ramya Shanthi Rekha, dan B. Bharathi. 2015. “A
comparative study on RIP and OSPF protocols.” Hal. 1–5 in 2015
International Conference on Innovations in Information, Embedded and
Communication Systems (ICIIECS). IEEE.
Misra, Sudip dan Sumit Goswami. 2017. “Introduction to Network Routing.” Hal.
1–34 in Network Routing. Chichester, UK: John Wiley & Sons, Ltd.
Nicopolitidis, P., M. S. Obaidat, G. I. Papadimitriou, dan A. S. Pomportsis. 2003.
Wireless Networks. Chichester: John Wiley & Sons, Ltd.
Palmer, Michael. 2013. Hands-On Networking Fundamentals, Second Edition.
Boston: Course Technology.
Shinder, Debra Littlejohn. 2001. Computer Networking Essentials. Indianapolis:
Cisco Press.
Techopedia. 2018. “What is a Wireless Router?” Diambil 25 Desember 2018
(https://www.techopedia.com/definition/10065/wireless-router).

- 41 -