Anda di halaman 1dari 109

PROPOSAL PENDIRIAN RUMAH SAKIT

“Batanghari Trauma Center Hospital di Daerah Batanghari,


Jambi”

Dosen Pengampu :

Maftuhah, S.Kep.,M.Kep.,PhD

Disusun Oleh :
TIM Medis Kelompok 3 PSIK 2016

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1
TIM MEDIS KELOMPOK 3 PSIK 2016

1. Dhanny Pratiwi (1161040000006)


2. Risa Lusiana (1161040000016)
3. Vina Ayu W (1161040000018)
4. Ikhsanul Amal R (1161040000019)
5. Mia Nurjanah (1161040000021)
6. Rizkiyah A W (1161040000025)
7. Monalisa Putri (1161040000028)
8. Yustiana Anwar (1161040000040)
9. Maryam Hafidzo (1161040000046)
10. Iklil Farida (1161040000055)
11. Arika Destritiana (1161040000063)
12. Shita Trangcati (1161040000070)
13. Nindya Kintan (1161040000074)
14. Fitriyani Nursyifa (1161040000081)
15. Cholifatul Aulia (1161040000084)
16. Putri Adelia T (1161040000086)

2
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan
karunia-Nya lah kami Kelompok 3 PSIK 2016 dapat menyelesaikan Proposal
Rumah Sakil berjudul “Pendirian Rumah Sakit Trauma Center di Btatang Hari”.
Penulisan proposal ini bertujuan untuk memenuhi tugas pada Modul
Manajemen Keperawatan. Dalam penulisan Proposal ini tim penulis mengalami
berbagai hambatan. Akan tetapi, berkat motivasi dan dukungan dari berbagai
pihak tim penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Selain itu juga kami
mengucapkan terima kasih kepada Maftuhah,S.Kep.,M.Kep.,PhD selaku PJ
Modul Manajemen Keperawatan.
Tim penulis menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Karena
itu tim penulis mengharapkan kritik dan saran untuk makalah ini agar makalah ini
lebih baik lagi. Penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan kita
tentang Pendirian Rumah Sakit Trauma Center di Btatang Hari”.
Wassalamualaikum Wr. Wb

Ciputat,Mei 2019

Tim Penyusun

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................

DAFTAR ISI ..............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................

1.1 Latar Belakang ..............................................................................................


1.2 Tujuan ..........................................................................................................
1.3 Visi dan Misi .................................................................................................
1.4 Strategi Pasar ................................................................................................
1.5 Strategi Pemasaran ........................................................................................
1.6 Proyeksi Kunjungan Pasien ..........................................................................
1.7 Analisa SWOT ..............................................................................................

BAB II MANAJEMEN DAN ORGANISASI ...........................................................

2.1 Manajemen Rumah Sakit ..............................................................................


2.2 Struktur Organisasi Rumah Sakit..................................................................
2.3 Peraturan dan Tata Tertib Rumah Sakit ........................................................
2.4 Hak dan Kewajiban Pasien ...........................................................................
2.5 Tata Tertib Jam Besuk ..................................................................................
2.6 Peraturan Bagi Penjaga Pasien ......................................................................
2.7 Keamanan dan Ketertiban Rumah Sakit .......................................................
2.8 Tata Cara Pengajuan Keluhan .......................................................................
2.9 Hak dan Kewajiban Perawat, Bidan, dan Rumah Sakit ................................
BAB III ASPEK LEGAL ...........................................................................................
3.1 Perizinan Bangunan ......................................................................................
3.1.1 Izin Mendirikan Rumah Sakit .............................................................
3.1.2 Persyaratan ..........................................................................................
3.1.3 Persyaratan Izin Mendirikan ...............................................................
3.1.4 Prosedur Izin Mendirikan ...................................................................
3.1.5 Prosedur Perizinan Operasional ..........................................................
3.2 Izin Praktik Tenaga Kesehatan .....................................................................

4
BAB IV ASPEK TEKNIK JASA PELAYANAN .....................................................
4.1 Jenis Pelayanan .............................................................................................
4.2 Rincian Pelayanan .........................................................................................
BAB V ASPEK FINANSIAL ....................................................................................
5.1 Rencana Anggaran Dana ...............................................................................
5.2 Rincian Cashflow ..........................................................................................
5.3 Estimasi Pengeluaran Rumah Sakit Per Bulan .............................................
BAB VI ASPEK PEMASARAN ...............................................................................
6.1 Analisa Pasar dan Pemasaran ........................................................................
6.2 Langkah Penyusunan Strategi Pemasaran.....................................................
BAB VII PENUTUP ..................................................................................................
7.1 Kesimpulan ...................................................................................................

5
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan merupakan faktor yang paling dominan dalam kehidupan
masyarakat kita, untuk itu diperlukan suatu lembaga atau balai yang bisa
menangani pelayanan di bidang kesehatan. Rumah Sakit merupakan suatu unit
usaha pelayanan publik dengan ciri khas memberikan pelayanan medis serta
merupakan institusi yang padat modal, padat teknologi dan padat tenaga
sehingga pengelolaan Rumah Sakit tidak bisa sebagai unit sosial semata.
Rumah Sakit harus mempertanggungjawabkan kinerjannya secara total, baik
kinerja layanan maupun kinerja keuangan dengan memperhatikan standar-
standar kerja dan peningkatan mutu yang terus menerus.
Sebagai warga yang sedang berkembang, sampai saat ini kita masih
menghadapi banyak permasalahan kesehatan masyarakat. Salah satunya
adalah trauma bagi kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja. Dalam rangka
upaya menanggulangi permasalahan kesehatan tersebut pemerintah telah
berupaya mengembangkan berbagai macam kegiatan pelayanan kesehatan
masyarakat, pelayanan tersebut selain dilaksanakan di sarana kesehatan milik
pemerintah juga sarana pelayanan milik swasta atau masyarakat sendiri.
Insiden trauma saat ini meningkat karena adanya industrialisasi,
urbanisasi, peningkatan transportasi dan jumlah kecelakaan bermotor,
kekerasan yang terjadi di masyarakat, konflik sosial, dan perbuatan manusia
yang menyebabkan timbulnya bencana alam. Trauma center saat ini
didefinisikan sebagai sebuah fasilitas RS yang khusus menyediakan kebutuhan
akan adanya dokter bedah spesialis, dokter spesialis, ahli anestesi, perawatan
dan peralatan “life support” secara cepat, selama 24 jam untuk menangani
pasien yang terluka berat atau pasien terluka yang beresiko lukanya bertambah
gawat.
Berdasarkan survey yang telah dilakukan, Kabupaten Batang Hari, perlu
memiliki suatu fasilitas kesehatan khususnya fasilitas kesehatan trauma center
yang memadai karena meninjau masih minimnya tenaga kesehatan dan

6
fasilitas kesehatan yang tersedia. Apabila masyarakat ingin mendapatkan
pelayanan kesehatan trauma center, warga harus menempuh jarak yang agak
jauh dari tempat tinggal mereka. Jarak ini terkadang membuat warga menjadi
kembali acuh akan kesehatan, mereka tidak menghubungi petugas kesehatan
atau mengunakan tempat pelayanan kesehatan sebelum mereka benar-benar
mengalami sakit atau penyulit yang tidak bisa mereka tahan lagi atau setelah
sakit yang mereka alami terjadi lama, sehingga setelah menggunakan tempat
pelayanan kesehatan mereka sudah dalam keadaan sakit atau mengalami
komplikasi yang berlanjut.
Oleh karena itu kami ingin membangun suatu tempat pelayanan kesehatan
trauma center yang lebih mudah dijangkau oleh warga sehingga warga dapat
lebih mudah menjangkau tempat pelayanan kesehatan dan di harapkan warga
dapat mengurangi kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan yaitu
Batang Hari Trauma Center Hospital, yang merupakan Rumah Sakit Tipe C.
yang terdiri dari Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap, Instalasi Gawat
Darurat, Instalasi Radiologi, Instalasi Laboratorium, Instalasi Farmasi,
Instalasi Gizi, Instalasi Rehabilitasi, Instalasi Bedah Sentral, dll.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum


Tujuan dibuatnya proposal ini untuk mendukung perencanaan
pembangunan Rumah Sakit Trauma Center Batang Hari

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Untuk memudahkan langkah dalam menjalin kerjasama dalam proses
pembangunan pembangunan Rumah Sakit Trauma Center Batang Hari
2. Sebagai sarana informasi mengenai pembangunan Rumah Sakit
Trauma Center Batang Hari
3. Sebagai panduan dalam praktek bisnis/usaha yang akan dijalani, baik
dilihat dari segi biaya, managemen, cakupan maupun target pasar.

7
1.3 Visi dan Misi

1.3.1 Visi
Menjadikan Rumah Sakit sebagai pusat pelayanan unggulan trauma center
yang berbasis keislaman di tingkat Provinsi

1.3.2 Misi
1. Menerapkan pelayanan kesehatan yang berbasis islam dan profesional
2. Mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan kepuasan pasien

1.4 Strategi Pasar


Target utama yang dituju adalah masyarakat yang bekerja di lingkungan yang
beresiko terjadiya kecelakaan kerja di daerah Batanghari.

1.5 Strategi Pemasaran


1. Memasang spanduk ditempat - tempat umum yang strategis

2. Melakukan periklanan dimedia cetak

3. Bekerjasama dengan para perusahaan yang tertentu

4. Pencatatan rekam medik pasien dan pengelolaan administrasi


menggunakan sistem komputerisasi

5. Menawarkan pelayanan kesehatan yang berkelas, nyaman, dan


memenuhi standar pelayanan kesehatan terakreditasi

1.6 Proyeksi Kunjungan Pasien


1. Memasang spanduk ditempat - tempat umum yang strategis

2. Melakukan periklanan dimedia cetak

3. Bekerjasama dengan para perusahaan yang tertentu

4. Pencatatan rekam medik pasien dan pengelolaan administrasi


menggunakan sistem komputerisasi

8
5. Menawarkan pelayanan kesehatan yang berkelas, nyaman, dan memenuhi
standar pelayanan kesehatan terakreditasi

1.7 Analisa SWOT

Strength
1. Memiliki tenaga kesehatan yang profesional

2. Lolasi yang mudah dijangkau

3. Memiliki fasilitas yang bertahap internasional

4. Memiliki tata ruang rehabilitatif

Weakness
1. Memerlukan dana yang besar

2. Pemeliharaan alat - alat rumit

Opportunity
1. Belum tersedianya rumah sakit khusus trauma center

2. Dengan tempat yang strategis memungkinkam pasien lebih mudah


untuk datang ke trauma center

3. Banyak angka kejadian trauma di daerah tersebut

Threats
1. Rumah sakit masih baru

2. Membutuhkan staff banyak

9
BAB II

MANAJEMEN DAN ORGANISASI

2.1.Manajemen Rumah Sakit

1) Nama Rumah Sakit: Batanghari Trauma Center Hospital


2) Alamat Rumah Sakit: Kecamatan Muara Bulian, Batanghari, Jambi
3) Logo Rumah sakit dan Filosofi:

Lingkaran: melambangkan sifat fleksibel dan tidak kaku dalam


memberikan pelayanan kepada masyarakat
Tanda tambah atau ‘+’ : digunakan oleh banyak negara sebagai lambang
medis untuk menolong korban perang maupun bantuan kemanusiaan. Hal
ini juga sejalan dengan rumah sakit yang mengedepankan pelayanan
trauma center.
Warna Hijau: melambangkan kesehatan bagi semua lapisan masyarakat.
Warna Biru: merupakan warna yang tenang, bersifat profesional dan
melambangkan kepercayaan.
Huruf B, T, C, dan H: merupakan singkatan dari rumah sakit yang
didirikan yaitu Batanghari Trauma Center Hospital (BTCH)

10
2.2.Struktur Organisasi Rumah Sakit

a. CEO : Yustiana Anwar


b. Direktur Utama : Cholifatul Aulia
c. Wakil Direktur : Mia Nurjannah
d. Komite Medis : Nindya Kintan
e. Direktur Medik dan Keperawatan : Risa Lusiana
f. Direktur Keuangan : Maryam Hafidzoh
g. Direktur General Service : Ikhsanul Amal
h. Kepala Bidang Pelayanan Medik : Shita Trangcati
i. Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan : Dhanny Pratiwi
j. Kepala Bidang Fasilitas Medik : Iklil Farida
k. Kepala Ruangan Instalasi Gawat Darurat : Putri Adelia Taufik
l. Kepala Ruangan Intensif Care Unit (ICU) : Arika Destritiana
m. Kepala Ruangan Rawat Inap : Fitriyani Nursyifa
n. Kepala Ruangan Poliklinik : Monalisa Putri
o. Kepala Ruangan Rehabilitasi Medik : Vina Ayu Wardhani
p. Kepala Ruangan operasi (OK) : Rizkiyah Ayu

Yang dimana masing-masing memiliki tugas sebagai berikut:

a. CEO
a) Merencanakan, mengelola, dan menganalisis segala aktivitas
fungsional bisnis seperti operasional, sumber daya manusia,
keuangan, dan pemasaran
b) Merencanakan dan mengelola proses penganggaran, lalu mengamati
dan menganalisis apabila ada kejanggalan dalam prakteknya
c) Mengelola perusahaan sesuai dengan tujuan strategis perusahaan
dengan keefektivan dan biaya seefisien mungkin
d) Merencanakan dan mengelola kinerja pada sumber daya manusia
agar sumber daya manusia yang berkompeten teridentifikasi dan
dapat ditempatkan pada posisi yang sesuai sehingga dapat
memaksimalkan kinerja perusahaan

11
e) Merencanakan, mengelola, dan mengeksekusi perencanaan strategi
bisnis atau korporat baik untuk jangka waktu menengah maupun
panjang dengan mengacu pada visi dan misi perusahaan
f) Mengidentifikasi dan meningkatkan performa operasional
perusahaan dengan cara memotivasi berbagai divisi di perusahaan
g) Mengambil berbagai keputusan strategis yang berdampak baik bagi
sustainabilitas perusahaan berdasarkan hasil analisis data dan fakta
baik yang telah menjadi jejak rekam (record) perusahaan maupun
analisis terhadap berbagai faktor lingkungan bisnis
h) Menjaga sustainabilitas keunggulan kompetitif perusahaan dan
meningkatkan kompetensi utama perusahaan dan
mengimplementasikannya
i) Menganalisis dan mengambil langkah paling prioritas bagi alokasi
sumber daya dan penganggaran perusahaan
j) Membuat kebijakan, prosedur, dan standar pada organisasi
perusahaan
k) Menganalisis segala masalah dalam perusahaan dan
mengkoordinasikan manajemen puncak dalam menyelesaikan
masalah tersebut secara efektif dan efisien
l) Membuat keputusan strategis dalam hal integrasi, divestasi,
investasi, aliansi, dan joint venture

b. Direktur Utama
a) Menetapkan rencana kegiatan pelayanan medis,
keperawatan, penunjang medis dan kegiatan administrasi
di rumah sakit termasuk kebutuhan pembiayaan.
b) Menetapkan rencana pengembangan pelayanan medis,
keperawatan, penunjang medis dan kegiatan administrasi
termasuk pembiayaan.
c) Menetapkan standar prosedur kerja bidang pelayanan
medis, keperawatan, penunjang medik dan kegiatan
administrasi di rumah sakit.

12
d) Menetapkan upaya kemitraan dengan mitra kerja
potensial dalam upaya meningkatkan nilai rumah sakit.
e) Meningkatkan kegiatan pembinaan, pengawasan dan
penilaian kinerja semua staf yang ada di rumah sakit.
f) Mengkoordinir seluruh kegiatan yang ada di rumah sakit.
g) Menyampaikan laporan pertanggungjawaban
pelaksanaan tugas secara periodik dan tertulis kepada
pemegang saham/pemilik.
h) Direktur berhak mewakili segenap kepentingan rumah
sakit, mengadakan perjanjian dengan pihak lain.

c. Wakil Direktur
1. Bertanggung jawab langsung bersama Direktur pada pemilik
Rumah Sakit (Direktur PT)
2. Diangkat dan dipekerjakan langsung oleh Rumah Sakit ( Direktur
PT)
3. Bersama Direktur mengangkat kepala bagian
4. Wakil Direktur merupakan penanggung jawab penuh operasional
manajemen Rumah Sakit
5. Membantu Direktur Membuat RPK ( Rencana Pelaksanaan
Kegiatan)
6. Bertanggung Jawab bersama direktur atas Pelayanan, administrasi,
keuangan, evaluasi, dan pelaporan meliputi pelaksanaan visi, misi,
dan strategi kepada seluruh jajaran manajemen.
7. Memiliki wewenang penuh untuk memerintah dan mengarahkan
Bagian-bagian yang ada di Rumah Sakit
8. Bertanggung jawab bersama Direktur terhadap pembuatan rencana
kegiatan semesteran dan tahunan dan pengawasan terhadap
pelaksanaannya.
9. Menetapkan bersama wakil direktur dalam usulan strategis untuk
pengembangan Rumah Sakit sesuai dengan ilmu pengetahuan,

13
merancang sumber pendapatan dan belanja Rumah Sakit dibantu
jajaran manajemen.
10. Bertanggung jawab bersama Direktur terhadap kinerja, laporan-
laporan pertanggung jawaban kerja terhadap bagian-bagian
pelayanan di Rumah sakit.
11. Bertanggung jawab bersama terhadap kemajuan, kelangsungan,
keuangan, dan operasional Rumah Sakit secara menyeluruh.
12. Bertanggung jawab bersama direktur sebagai pengambil keputusan-
keputusan strategis dalam Rumah Sakit (Decission Maker)
13. Mampu menjalankan bersama direktur, menterjemahkan keinginan
dan perintah dari pemilik Rumah Sakit serta mampu memadukan
ide-ide pribadi yang akan menjadi operasional Rumah Sakit ke
depan.
14. Membuat laporan-laporan bersama direktur rutin pada pemilik dan
membuat laporan pertanggung jawaban setiap periode, yang
periodenya ditentukan oleh Rumah Sakit.

Tugas dan Tanggung Jawab Umum dan Harian

1. Menjalin komunikasi dan informasi dengan Direktur dan komite,


tentang perkembangan operasional Rumah Sakit setiap
hari/minggu/bulan
2. Memantau kondisi operasional Rumah Sakit setiap hari berdasarkan
laporan-laporan harian semua Bagian
3. Bertanggung Jawab sebagai pengambil keputusan strategis harian
atau mendelegasikan wewenang tersebut pada wakilnya saat
direktur tidak ada di tempat.
4. Memimpin briefing, meeting dan rapat-rapat penting rutin jajaran
direksi
5. Direktur juga bertugas sebagai dokter, dan melaksanakan tugas dan
tanggung jawab sebagai dokter.

14
d. Komite Medis
a) Membantu direktur rumah sakit menyusun standar pelayanan medis
dan memantau pelaksanaannya
b) Melaksanaan pembinaan etika profesi, disiplin profesi dan mutu
profesi
c) Mengatur kewenangan profesi antar kelompok staf medis
d) Membantu direktur menyusun medical staff bylaws dan memantau
pelaksanaannya
e) Membantu direktur rumah sakit menyusun kebijakan dan prosedur
yang terkait dengan mediko-legal
f) Membantu direktur rumah sakit menyusun kebijakan dan prosedur
yang terkait dengan etika-legal
g) Melakukan koordinasi dengan kepala bidang pelayana medik dalam
melaksanakan pemantauan dan pembinaan pelaksanaan tugas
kelompok staf medis
h) Meningkatkan program pelayanan, pendidikan dan pelatihan serta
penelitian dan pengembangan dalam bidang medis
i) Melakukan monitoring dan evaluasi mutu pelayanan medis antara
lain melalui monitoring dan evaluasi kasus bedah, penggunaan obat,
farmasi dan terapi, ketepatan, kelengkapan dan keakuratan rekam
medis, tissue review, mortalitas dan morbiditas, medical care
review/peer review/ audit medis melalui pembentukan sub komite –
sub komite
j) Memberikan laporan kegiatan kepada direktur rumah sakit

e. Direktur Medik dan Keperawatan


TUGAS POKOK: Memimpin dan Melaksanakan Program Kegiatan
dan Penyusunan Kebijakan Penyelenggaraan Kegiatan Pelayanan Sesuai
Dengan Peraturan Perundang-Undangan yang Berlaku dan Sesuai
Dengan Tugas Pokok Direktur Utama Agar Berjalan Dengan Lancar.

15
RINCIAN TUGAS :
1. Merumuskan kegiatan program pelayanan berdasarkan peraturan
dan ketentuan yang berlaku agar terlaksananya proses kegiatan
tugas pokok Direktur Utama berjalan dengan lancar.
2. Mengkoordinasikan kegiatan sesuai ketentuan BidangP elayanan
Medik, Bidang Pelayanan Keperawatan dan Bidang RekamMedik
dan Akreditasi agar berjalan lancar sesuai yang diharapkan.
3. Membina dan memotivasi bawahan secara berkala dalam upaya
peningkatan produktifitas kerja dan pengembangan karier
bawahan.
4. Mengarahkan kegiatan pelaksanaan tugas bawahan agar berjalan
sesuai ketentuan yang efektif dan efisien.
5. Menyelenggarakan pelaksanaan kegiatan lingkup pelayanan untuk
meningkatkan kinerja dan mencapai hasil yang diharapkan.
6. Melakukan evaluasi secara periodik untuk mengetahui hambatan
yang terjadi dan mencari alternatif pemecahannya.
7. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait sesuai bidang
tugasnya dalam rangka singkronisasi pelaksanaan tugas.
8. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya sesuai instruksi atasan agar
tugas berbagi habis.
9. Membuat laporan hasil pelaksanaan tugas kepada atasan sebagai
bahan untuk penyusunan program selanjutnya.

f. Direktur Keuangan
Tugas pokok: merumuskan kebijakan, mengembangkan,
mengkoorndinasikan, mengawasi, membina dan mengendalikan
kegiatan kepegawaian, peerencanaan program, ketatausahaan,
pengelolaan keuangan dan instalasi dibawah koordinasinya.
Untuk melaksanakan tugas tersebut, direktur keuangan mempunuyai
fungsi:
a) Pengkoordinasian perumusan strategi dan kebijakan dibidang
kepegawaian, perencanaan program, ketatausahaan dan keuangan

16
b) Perencanaan dan pengembangan kepegawaian, penyusunan
program, ketatausahaan dan keuangan
c) Pengkoordinasian pelaksanaan kepegawaian, perencanaan program,
ketatausahaan, dan keuangan
d) Pembinaan terhadap penyelengaraan kepegawaian, perencanaan
program, ketatausahaan, keuangan dan instalasi dibawah
koordinasinya
e) Pengkoordinasian dan sinkronisasi pengelolaan kepegawaian, dan
keuangan dengan instalasi dan/atau instalasi lainnya
f) Pemantauan, pengawasan, pengendalian, dan evaluasi kegiatan
kepegawaian, perancanaan program, ketatausahaan, dan keuangan

g. Direktur General Service


Direktur Layanan Umum dalam melaksanakan tugas memiliki
wewenang untuk melaksanakan tata laksana seluruh unsur dalam
organisasi. Direktur umum membawahi :
a) Manajer Personalia, memiliki wewenang :
1) Memberi pelayanan administrasi kepada semua unsur
organisasi
2) Mengatur dan meningkatkan hubungan kerjasama antar
karyawan perusahaan dengan masyarakat.
3) Memberi pelatihan pendidikan bagi karyawan.
b) Manajer Umum, memiliki wewenang :
1) Memberi pelayanan kepada semua unsur dalam organisasi di
bidang kesejahteraan dan fasilitas kesehatan serta keselamatan
kerja bagi seluruh karyawan dan keluarganya.
2) Memberikan penyuluhan mengenai fasilitas perusahaan

17
h. Kepala Bidang Pelayanan Medik
1. Uraian Tugas
a) Merumuskan bahan rencana strategis dan program kerja Bidang
Pelayanan Medis sebagai pegangan pelaksanaan operasional
tugas:
1) Mempelajari program – program sebelumnya dan program
instansi serumpun;
2) Mengonsep tahap-tahap pelaksanaan program kerja;
3) Mengalokasikan sumberdaya yang dibutuhkan;
4) Merumuskanbahan program kerja dan rencana operasional.
b) Mempelajari peraturan perundang undangan mengenai
pelayanan medis sebagai pedoman pelaksanaan tugas
1) Membaca regulasi
2) Meresum materi yang diperlukan
3) Mengkaji pelaksanaan tugas yang kurang relevan
c) Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait dengan
tugas pelayanan medis kepada dinas serumpun guna
sinkronisasi dan kelancaran pelaksanaan tugas
1) Menyiapkan bahan koordinasi
2) Menyelenggarakan rapat koordinasi
3) Melaksanakan komunikasi dengan perangkat Daerah
terkait melalui media komunikasi
4) Melaksanakan komunikasi hasil koordinasi dengan
pimpinan
d) Menyelenggarakan Perencanaan kegiatan mutu pelayanan
medis
1) Menyiapkan perencanaan kegiatan
2) Menyelenggarakan kegiatan
3) Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan
4) Mengawasi kegiatan
5) Melaporkan kegiatan

18
e) Mengatur dan menyusun program, prosedur dan pedoman di
bidang lingkungan pelayanan medis
1) Mengatur dan menyusun program kerja di pelayanan
medis;
2) Mengatur dan menyusun pedoman pengorganisasian di
pelayanan medis;
3) Mengatur dan menyusun pedoman pelayanan unit kerja di
pelayanan medis;
4) Mengatur panduan layanan di pelayanan medis;
5) Mengatur sistem prosedur operasional di pelayanan medi
6) Mengatur operasional kebutuhan dan pemeliharaan sarana
prasarana;
7) Mengatur peningkatan utilisasi sarana pelayanan medis;
8) Mengatur pelaksanaan pengembangan peningkatan
kompetensi sumber daya pelayanan medis
9) Mengatur pengelolaan data dan informasi pelayanan medis
untuk keperluan perencanaan dan evaluasi;
10) Mengatur peningkatan mutu pelayanan medis;
f) Mengatur peningkatan keamanan dan keselamatan pasien di
pelayanan medis Menyelenggarakan bahan kebutuhan dan
pemeliharaan sarana prasarana pelayanan medis
1) Menyiapkan bahan kegiatan sarana prasarana
2) Menyelenggarakan kegiatan
3) Mengkoordiansikan pelaksanaan kegiatan
4) Mengawasi kegiatan
5) Melaporkan kegiatan
g) Menyelenggarakan manajemen kepegawaian di lingkup
pelayanan medis untuk mendayagunakan SDM secara
maksimal
1) Menyelenggarakan kegiatan penanaman disiplin pegawai
2) Menyelenggarakan sistem karir pegawai
3) Menyelenggarakan pelayanan umum kepegawaian

19
4) Menyelenggarakan upaya peningkatan kesejahteraan
pegawai
5) Menyelenggarakan pembinaan dan pengawasan kinerja
pegawai
h) Menyelenggarakan peningkatan mutu pelayanan medis,
keamanan dan keselamatan pasien serta pengelolaan data dan
informasi pelayanan medi
1) Menyiapkanbahan kegiata
2) Menyelenggarakan kegiata
3) Mengkoordiansikan pelaksanaan kegiatan
4) Mengawasi kegiatan
5) Melaporkan kegiatan
i) Mengevaluasi pemanfatan alat medis
1) Memberi arahan pemanfaatan alat medis
2) Mengevaluasi dan membuat laporan pemanfatan alat medis
j) Mengevaluasi kinerja bawahan untuk memperoleh informasi
terhadap capaian kinerja bawahan
1) Mempelajari SKP bawahan
2) Mempelajari buku catatan penilaian
3) Melalukan penilaian bawahan
4) Mengkoordinasikan hasil penilaian dengan atasan
k) Melaporkan pelaksanaan tugas kepada atasan sebagai wujud
akuntabilitas dan pertanggung jawaban pelaksanaan tugas.
1) Menyusun bahan laporan
2) Mengonsep laporan
3) Menyampaikan laporan
l) Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh
pimpinan, baik lisan maupun tertulis.
1) Memahami dan mencermati perintah atasan
2) Menyiapkan bahan pelaksanaan tugas
3) Melaksanakan tugas
4) Melaporkan hasil tugas

20
2. Wewenang:
a) Meminta bahan rencana strategis dan program kerja
b) Meminta jenis-jenis regulasi
c) Menentukan teknik koordinasi tugas
d) Meminta rencana kegiatan mutu pelayanan medis
e) Meminta bahan program, prosedur dan pedoman di bidang
lingkungan pelayanan medis
f) Meminta bahan kebutuhan dan pemeliharaan sarana
prasarana pelayanan medis
g) Memberikan instruksi untuk manajemen kepegawaian
h) Memberikan instruksi peningkatan mutu pelayanan medis,
keamanan dan keselamatan pasien serta pengelolaan data
dan informasi pelayanan medis
i) Meminta bahan laporan
j) Menentukan nilai kinerja bawahan
k) Meminta bahan laporan.
l) Menolak pelaksanaan tugas non kedinasan

3. Tanggung Jawab :
a) Kebenaran bahan rencana strategis dan program kerja
b) Ketepatan pemilihan jenis-jenis regulasi
c) Ketepatan pemilihan teknik koordinasi tugas
d) Kebenaran rencana kegiatan mutu pelayanan medis
e) Kesesuaian bahan program, prosedur dan pedoman di
bidang lingkungan pelayanan medis
f) Kesesuaian bahan kebutuhan dan pemeliharaan sarana
prasarana pelayanan medis
g) Keefektifan instruksi untuk manajemen kepegawaian
h) Keefektifan instruksi peningkatan mutu pelayanan medis,
keamanan dan keselamatan pasien serta pengelolaan data
dan informasi pelayanan medis
i) Kebenaran bahan laporan

21
j) Kesesuaian nilai kinerja bawahan
k) Kebenaran bahan laporan
l) Kelancaran pelaksanaan tugas kedinasan

4. Hasil Kerja:
a) Bahan rencana strategis dan program kerja
b) Terfahaminya regulasi
c) Sinkronisasi tugas
d) Dokumen kegiatan mutu pelayanan medis
e) Dokumen bahan program, prosedur dan pedoman di bidang
lingkungan pelayanan medis
f) Terlayaninya pemeliharaan sarana prasarana pelayanan
medis
g) Terkelolannya manajemen kepegawaian
h) Terkelolannya peningkatan mutu pelayanan medis,
keamanan dan keselamatan pasien serta pengelolaan data
dan informasi pelayanan medis
i) Bahan laporan
j) Nilai kinerja bawahan
k) Bahan laporan.
l) Kelancaran pelaksanaan tugas kedinasan

5. Bahan Kerja
a) Peraturan perundangan Bidang Kesehatan
b) Disposisi dan arahan pimpinan
c) Surat dinas dan dokumen kedinasan lainnya
d) Data Base Kepegawaian
e) Data base saran prasarana

22
i. Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan
a) Tugas Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan

a) Melaksanakan pembinaan penerapan asuhan keperawatan,


pembinaan peningkatan pelayanan keperawatan dan
bimbingan mutu keperawatan serta pengawasan penerapan
etika keperawatan
b) Mengkoordinasikan, mengatur dan mengendalikan asuhan
keperawatan, kebutuhan tenaga, serta melaksanakan
pembinaan etika dan mutu keperawatan
c) Mengendalikan penyusunan standar operasional prosedur
pelayanan keperawatan
d) Mengendalikan penyusunan falsafah keperawatan
e) Mengendalikan penyusunan kebutuhan tenaga keperawatan
rumah sakit
f) Mengendalikan perencanaan dan penyusunan petunjuk teknis
asuhan keperawatan, etika dan mutu keperawatan
g) Mengendalikan kegiatan kerjasama dengan lembaga
pendidikan keperawatan
h) Menyiapkan laporan kegiatan pelayanan keperawatan kepada
Direktur pelayanan medic dan keperawatan
i) Mendistribusikan surat dan menjawab surat yang masuk ke
Bidang Keperawatan
j) Menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Direktur pelayanan
medis dan keperawatan serta bagian/bidang terkait
k) Menyusun rencana awal Rencana strategis rumah sakit dalam
lingkup Bidang Pelayanan keperawatan.
l) Menyusun rencana awal kebijakan dalam lingkup Bidang
Pelayanan Keperawatan.
m) Menyusun rencana awal Standar Operation Procedure (SOP)
dalam lingkup Bidang Pelayanan Keperawatan.
n) Melaksanakan pemantauan dan evaluasi kegiatan pelayanan
keperawatan rawat jalan, rawat inap dan rawat khusus.

23
o) Mengevaluasi kinerja pegawai berdasarkan Sasaran Kinerja
Pegawai (SKP) Pegawai Bidang Pelayanan Keperawatan.
p) Melaksanakan tugas kedinasan lainnya.

b) Wewenang Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan

a) Membuat standar perencanaan pelayanan keperawatan


b) Membuat standar pengorganisasian keperawatan
c) Membuat standar evaluasi keperawatan
d) Membuat standar tugas pokok tenaga keperawatan
e) Membuat standar kualifikasi tenaga keperawatan
f) Membuat standar penilaian kinerja keperawatan
g) Membuat standar dokumnetasi keperawatan.
h) Memberikan pengarahan dan bimbingan pelaksanaan tugas
keperawatan
i) Melakukan penilaian kinerja tenaga keperawatan (sesuai
Kebijakan Rumah Sakit)
j) Meminta informasi dan pengarahan kepada atasan
k) Menanda tangani surat dan dokumen yang ditetapkan menjadi
wewenang Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan
l) Memberi saran dan pertimbangan kepada atasan, khususnya
yang berkaitan dengan pelayanan keperawatan

c) Prosedur Pelayanan Bidang Keperawatan


a) Kepala bidang keperawatan bersama-sama dengan kepala
seksi keperawatan dan kepala seksi asuhan keperawatan serta
para perawat koordinator ruangan merumuskan dan
menyusun kebijakan dan prosedur pelayanan keperawatan
antara lain tentang :
1) Kebutuhan jumlah tenaga keperawatan sesuai standar
2) Kebutuhan peralatan sesuai standar
3) Alur / prosedur pelayanan keperawatan
4) Pedoman Asuhan Keperawatan (PAP)

24
5) Pengendalian mutu asuhan keperawatan
6) Penyelesaian permasalahan etika keperawatan
b) Ada dokumen tertulis mengenai kebijakan dan prosedur
pelayanan keperawatan yang disahkan dan ditetapkan oleh
direktur
c) Manajemen bidang keperawatan melaksanakan tugasnya
sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan
d) Pelaksana keperawatan melakukan tindakan asuhan
keperawatan berdasarkan instruksi kerja dan prosedur yang
telah ditetapkan.

d) Standar Perencanaan Pelayanan Keperawatan


a) Standar 1
Divisi Keperawatan mempunyai falsafah dan struktur yang
menjamin pemberian asuhan keperawatan yang bermutu tinggi
dan merupakan sarana untuk menyelesaikan berbagai persoalan
praktik keperawatan di seluruh institusi asuhan/ pelayanan
keperawatan.
b) Standar 2
Divisi keperawatan dipimpin oleh seorang perawat eksekutif
yang memenuhi persyaratan dan anggota direksi.
c) Standar 3
Kebijaksanaan dan praktek divisi keperawatan menjamin
pelayanan keperawatan merata dan berkesinambungan yang
mengakui perbedaan agama, sosial budaya, dan ekonomi
diantara klien/pasien di institusi pelayanan kesehatan.
d) Standar 4
Divisi keperawatan menjamin bahwa proses keperawatan
digunakan untuk merancang dan memberikan asuhan untuk
memenuhi kebutuhan individu klien/pasien dalam konteks
keluarga.

25
e) Standar 5
Divisi keperawatan menciptakan lingkungan yang menjamin
efektifitas praktik keperawatan
f) Standar 6
Divisi keperawatan menjamin pengembangan berbagai program
pendidikan untuk menunjang pelaksanaan asuhan keperawatan
yang bermutu tinggi
g) Standar 7
Divisi keperawatan memprakarsai, memanfaatkan, dan
berperan serta dalam telah atau berbagai proyek penelitian
untuk peningkatan asuhan klien/ pasien

e) Standar Operasional Prosedur (SOP) Asuhan Keperawatan

ASUHAN KEPERAWATAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/1

RS Batang
Hari NIP :

1. Pengertian Merupakan serangkaian proses yang terorganisir/ terstruktur


untuk mengindentifikasi keluhan, kebutuhan, permasalahan
pasien serta menyelesaikan permasalahan yang dihapapi.

2. Tujuan Sebagai acuan pelaksanaan perawat dalam melaksakan


pemberian asuhan keperawatan di Puskesmas Dompu Kota

26
3. Kebijakan

4. Referensi 1. Permenkes nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan


Masyarakat.
2. Permenkes nomor 279 tahun 2006 tentang Penyelenggaraan
Upaya Keperawatan Kesehatan Masyarakat
3. Buku saku NANDA NIC NOC
4. Buku Rencana Asuhan Keperawatan Marilyn E Doenges
5. Prosedur/ 1. Perawat mengucapkan salam kepada pasien
Langkah- 2. Perawat melakukan komunikasi terapeutik sesuai urutan
langkah dengan pasien
3. Perawat melakukan pengkajian keperawatan dan menganalisa
hasil pengkajian yang dilakukan
4. Perawat menentukan diagnosa keperawatan berdasar hasil
analisa pengkajian
5. Perawat menyusun intervensi keperawatan berdasar diagnosa
keperawatan yang muncul yang berisikan rencana tindakan
keperawatan mandiri dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan
lain
6. Perawat melaksanakan kegiatan implementasi keperawatan
7. Perawat melakukan evaluasi terhadap implementasi
keperawatan yang telah dilakukan
8. Perawat melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan
yang telah dilakukan pada form yang tersedia

6. Falsafah Keperawatan
Falsafah keperawatan adalah dasar pemikiran yang harus dimiliki
perawat sebagai kerangka dalam berfikir, pengambilan keputusan
dan bertindak yang diberikan pada klien dalam rentang sehat sakit,
yang memandang manusia sebagai mahluk yang holistic dan yang
harus dipenuhi kebutuhan biologi, psikologi, social, cultural dan
spiritual melalui upaya asuhan keperawatan yang komprehensif,
sistematis, logis, dengan memperhatikan aspek kemanusiaan

27
bahwa setiap klien berhak untuk mendapatkan perawatan tanpa
membedakan suku, agama, status social dan ekonomi.

7. Kode Etik Keperawatan


Kode etik keperawatan mencakup bagaimana tanggung jawab
perawat terhadap klien, tanggung jawab terhadap praktik
keperawatan, tanggung jawab perawat terhadap masyarakat,
tanggung jawab perawat terhadap teman sejawat serta tanggung
jawab perawat terhadap profesi keperawatan.
a) Tanggung jawab perawat terhadap klien (PPNI, 2000;
ICN, 2000).
1) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan
menghargai harkat dan martabat manusia, keunikan klien
dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan,
kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik
dan agama yang dianut serta kedudukan social.
2) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan
senantiasamemelihara suasana lingkungan yang
menghormati nilai-nilai budaya, adapt istiadat dan
kelangsungan hidup beragamadari klien.
3) Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka
yang membutuhkan asuhan keperawatan.
4) Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui
sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya
kecuali jika diperlukan oleh yang berwenang sesuai
ketentuan hokum yang berlaku.
b) Tanggung jawab perawat terhadap praktik (PPNI, 2000;
ICN, 2000)
1) Perawat memeliharan dan meningkatkan kompetensi
dibidang keperawata melalui belajar terus menerus.
2) Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan
keperawatan yang tinggi disertai kejujuran profesional

28
dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan
keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.
3) Perawata dalam membuat keputusan didasarkan pada
informasi yang adekuat dan mempertimbangkan
kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan
konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi
kepada orang lain.
4) Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi
keperawatan dengan selalu menunjukkan perilaku
profesional.

c) Tanggung jawab perawat terhadap masyarakat (PPNI,


2000)
Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat
untuk memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan dalam
memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. Elemen ketiga
kode etik keperawatan di atas bermakna bahwa perawat
bersama masyarakat berperan dalam upaya pencegahan
penyakit, peningkatan kesehatan, pemulihan, dan
memperbaiki/merehabilitasi kondisi kesehatan masyarakat.

d) Tanggung jawab perawat terhadap teman sejawat (PPNI,


2000; ICN, 2000).
1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan
sesame perawat maupun dengan tenaga kesehatan
lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana
lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan
pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan
yang memberikan pelayanan kesehatan secara tidak
kompeten, tidak etis dan illegal.

29
e) Tanggung jawab perawat terhadap profesi (PPNI, 2000;
ICN, 2000)
1) Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan
standar pendidikan dan pelayanan keperawatan serta
menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan
pendidikan keperawatan.
2) Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan
pengembangan profesi keperawatan.
3) Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk
membangun dan memelihara kondisi kerja yang kondusif
demi terwujudnya asuhan keperawatan yang bermutu
tinggi.
8. Mutu Pelayanan Keperawatan
a) Tangibles (wujud nyata) yaitu wujud kenyataan fisik yang
meliputi fasilitas, peralatan, pegawai dan sarana informasi
b) Responsiveness (tanggapan) yaitu keinginan petugas untuk
memberikan pelayanan dengan tanggap dan peduli terhadap
harapan pelanggan.
c) Reliability (kehandalan) yaitu kemampuan memberikan
pelayanan dengan segera, dan memuaskan.
d) Assurance (jaminan) yaitu kompetensi yang dimiliki sehingga
memberikan rasa aman, bebas dari bahaya dan kepastian yang
mencakup pengetahuan, kesopanan dan sifat yang dapat
dipercaya.
e) Empaty (empati) yaitu sifat dan kemampuan untuk memberikan
perhatian penuh pada pasien, kemudahan dalam melakukan
kontak, komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan
pelanggan secara individual.
f) Courtesy (kesopanan) yaitu pertimbangan kesopanan dan rasa
hormat dalam hubungan personal.
g) Competence (kemampuan) yaitu posisi keterampilan dan
pengetahuan yang dibutuhkan dalam melakukan pelayanan.

30
h) Security (keamanan) yaitu bebas dari bahaya, resiko atau
keraguan.
9. Sasaran Kinerja Pegawai Keperawatan
a) Empat Katagori Dasar Penilaian Kinerja keperawatan
1) Soft Competencies : Karakter, Sikap dan perilaku bekerja
agar sukses bekerja
2) Hard Competencies : Kepandaian dan keahlian/
keterampilan agar mampu bekerja
3) Output : Semua sasaran/ target individual yang harus
dicapai dalam melaksanakan tugas
4) Outcome : Hasil atau akibat yg dicapai setelah output
diperoleh

b) Kompetensi Yang Harus Diukur


1) Soft Competencies : Siap Melayani, Disiplin, Komitment,
Integritas, Kerja sama, Kepemimpinan, Hard
Competencies
2) Teknical Skill : Profesional dalam bidang teknis
3) Management skill : Profesional dalam perencanaan,
implementasi, monitoring dan evaluasi.

c) Periode evaluasi dan penilaian kinerja


1) Evaluasi Orientasi
Evaluasi dilakukan 1-3 bulan setelah pegawai selesai
melakukan orientasi
2) Evaluasi Penempatan
Evaluasi dilakukan 1 bulan setelah pegawai ditempatkan
secara definitif (pegawai baru maupun alih jabatan)
3) Evaluasi Bulanan
Dilakukan setiap bulan, sesuai dengan kontrak kerja
pegawai yang bersangkutan

31
4) Evaluasi Tahunan
Dilakukan di akhir tahun, sebagai evaluasi kompetensi
dan target kinerja tahunan
d) Penilaian Indikator Kinerja Individu (IKI)
Indikator penilaian dari IKI terdiri dari :
1) Kuantitas merupakan jumlah kegiatan/tugas
pokok/program kerja/jumlah tindakan yang diselesaikan
dalam suatu periode waktu yang telah ditentukan dengan
cara membandingkan antara target kerja yang seharusnya
dengan capaian/realisasi targetnya.
2) Kualitas adalah hasil kerja yang dicapai sesuai dengan
standar dan persyaratan yang telah ditetapkan sesuai
kelompok jabatan/JFU/JFT
3) Perilaku Kerja adalah kemampuan berperilaku
seseorang dalam berbagai situasi yang konsisten dalam
suatu periode waktu yang ditentukan berdasarkan
indikator keberadaan, inisiatif, kehandalan, kepatuhan
dan kerja sama
4) Nilai kinerja individu merupakan kumulatif/jumlah nilai
dari hasil kinerja kuantitas (bobot 40%) ditambah nilai
hasil kinerja kualitas (bobot 30%) dan nilai perilaku kerja
(bobot 30%) serta nilai kegiatan tambahan (jika ada).

e) Penilaian Kerja Bidang Keperawatan


Penilaian kinerja pegawai pada Bidang Keperawatan
dilakukan oleh atasan langsung (Ka.Sie) dan KaBid
Keperawatan. Pegawai yang tidak mematuhi ketentuan dan
atau kinerja dalam bentuk output pekerjaan tidak sesuai target,
maka atasan langsung akan melakukan pembinaan sesuai
dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan. Penilaian prestasi
kerja PNS dilakukan berdasarkan prinsip: Objektif, Terukur,
Akuntabel, Partisipatif dan Transparan.

32
Penilaian prestasi kerja PNS dilaksanakan oleh Pejabat Penilai
sekali dalam 1 tahun (akhir Desember tahun
bersangkutan/akhir Januari tahun berikutnya), yang terdiri
atas unsure :
a) SKP (Sasaran Kerja Pegawai) bobotnya 60 %
b) Perilaku kerja bobotnya 40 %
Unsur perilaku kerja yang mempengaruhi prestasi kerja yang
dievaluasi harus relevan dan berhubungan dengan
pelaksanaan tugas jabatan PNS yang dinilai.
Sasaran Kerja Pegawai
Nilai capaian SKP dinyatakan dengan angka dan keterangan
sbb:
a. 91 – ke atas : Sangat baik
b. 76 – 90 : Baik
c. 61 – 75 : Cukup
d. 51 – 60 : Kurang
e. 50 – ke bawah : Buruk
Penilaian Perilaku Kerja
1) Nilai perilaku kerja PNS dinyatakan dengan angka dan
keterangan sbb:
a) 91 – 100 : Sangat baik
b) 76 – 90 : Baik
c) 61 – 75 : Cukup
d) 51 – 60 : Kurang
e) 50 – ke bawah : Buruk
2) Penilaian perilaku kerja meliputi aspek:
a) Orientasi pelayanan
b) Integritas
c) Komitmen
d) Disiplin
e) Kerja sama
f) Kepemimpinan

33
10. Kualfikasi Tenaga Keperawatan
A. Kompetensi perawat IGD
a) Perawat Pelaksana

Kualifikasi :

Pendidikan D3 keperawatan dengan pengalaman


klinik dua (2) tahun Ners dengan pengalaman klinik
1 tahun di Rumah Sakit dan sudah tersertifikasi
Emergency nursing basic 2

Kompetensi yang harus dimiliki :

1) Mampu menguasai basic assessment primary survey


dan secondary survey.
2) Mampu memahami triase dan relriase,
3) Mampu memberikan asuhan keperawatan
kegawatdaruratan; pengkajian,diagnosa, perencanaan,
memberikan tindakan keperawatan, evaluasi dan
tindak lanjut.
4) Mampu melakukan tindakan keperawatan : fife
saving anlara lain resusitasi dengan atau tanpa alat,
slabilisasi
5) Mampu memahami terapi definilif
6) Mampu menerapkan aspek elik dan legal
7) Mampu melakukan komunikasi terapeutik kepada
pasien/ keluarga,
8) Mampu bekerjasama didalam tim
9) Mampu melakukan pendokumentasian / pencatatan
dan pelaporan.

34
b) Ketua Tim
Kualifikasi Ketua Tim IGD Level III dan IV:
1) D3 keperawatan dengan pengalaman lima (5)
tahun di IGO dan sudah tersertifikasi emergency
nursing basic 2 dan pelatihan gawat darurat advance
lainnya.
2) Ners dengan pengalaman tiga (3) tahun di IGD
dan sudah memiliki sertifikat emergency nursing
basic 2 dan pelatihan gawat darurat advance
lainnya.
3) S2 keperawatan dengan pengalaman satu (1)
tahun di IGD dan sudah tersertifikasi emergency
nursing basic 2 dan pelatihan gawat darurat advance
lainnya.

Kompetensi yang harus dimiliki :

1) Memiliki kemampuan sebagai perawal pelaksana.


2) Mampu mengelola pelayanan asuhan keperawatan.
3) Mampu menjaga mulu asuhan keperawalan.

Kualifikasi Kelua Tim IGD Level I dan II :


1) D3 keperawalan dengan pengalaman kerja dua (2)
tahun di IGD dan sudah memiliki sertifikat
emergency nursing basic 2.
2) Ners dengan pengalaman kerja salu (1) tahun di
IGD dan sudah memiliki sertilikal emergency
nursing basic 2.
Kompetensi yang harus dimiliki :
1) Memiliki kemampuan sebagai perawal pelaksana.
2) Mampu mengelola pelayanan asuhan keperawatan.
3) Mampu menjaga mutu asuhan keperawatan.
4) Mampu melakukan Triase

35
c) Perawat Kepala Ruangan
Kualilikasi Kepala Ruangan IGD level III dan IV
Minimal Ners, pengalaman sebagai perawat pelaksana
tiga (3) lahun di IGD, pengalaman menjadi ketua tim
dua (2) tahun dan sudah memiliki sertifikat emergency
nursing basic 2 dan pelatihan gawat darurat advance
lainnya serta pelatihan manajemen.
Kompetensi yang harus dimiliki dan dibuktikan dengan
sertifikal :
1) Memiliki kemampuan sebagai kelua tim
2) Mampu menjamin lersedianya lenaga keperawatan
yang kompelen di rumah sakit
3) Mampu mengorganisasi dan mengkoordinasi
semua kegialan keperawatan gawat darurat dan
bencana
4) Mampu membuat perencanaan dan melakukan
pengembangan keperawalan serta pelayanan gawat
darurat.

B. Kompetensi Perawat ICU


Persyaratan menjadi perawat ICU adalah :
1. Minimal lulusan D3 keperawatan
2. Pengalaman minimal 3 tahun di ICU
3. Sertifikat ICU dan ACLSSertifikat BLS

Kompetensi perawat intensif dasar atau minimal diantaranya:


1) Memahami konsep keperawatan intensif
2) Memahami issue etik dan hukum pada perawatan intensif
3) Mempergunakan keterampilan komunikasi yang efektif
untuk mencapai asuhan yang optimal
4) Melakukan pengkajian dan menganalisa data yang
didapat khususnya mengenai: henti nafas dan jantung,

36
status pernafasan, gangguan irama Jantung, Status
hemodinamik pasien dan status kesadaran.
5) Mempertahankan kebersihan jalan nafas pada pasien yang
terpasang ETT
6) Mempertahankanpotensi jalan nafas dengan
menggunakan ETT
7) Melakukan fisioterapi dadaMemberikan
inhalasiMengukur saturasi oksigen dengan menggunakan
pulse oximetri
8) Memberikan terapi oksigen dengan berbagai metod
9) Melakukan monitoring haemodinamik
10) Memberikan BLS (basic Life Support) dan ALS
(Advance life support)
11) Melakukan perekaman EKG
12) Melakukan interpretasi hasil rekaman EKG:Gangguan
sistem konduksi, Gangguan irama, Pasien dengan
gangguan miocard
13) Melakukan pengambilan sampel darah untuk AGD
14) Melakukan interpretasi AGD
15) Melakukan pengambilan terhadap hasil analisa untuk
pemeriksaan elektrolit
16) Mengetahui koreksi terhadap hasil analisa gas darah yang
tidak normal
17) Melakukan interpretasi hasil foto thorax
18) Melakukan persiapan pemasangan Water Seal Drainage
(WSD)
19) Mempersiapkan pemberian terapi melalui syiring pump
dan infus pump
20) Melakukan pengelolaan pasien dengan nutrisi parenteral
21) Melakukan pengelolaan pasien dengan terapi cairan intra
vena
22) Melakukan pengelolaan pasien denganSKA/ ACS

37
23) Melakukan penanggulangan infeksi nosokomial.

Sedangkan kompetensi khusus atau lanjut :

1) Memahami konsep keperawatan intensif


2) Memahami issue etik dan hukum pada perawatan
intensif
3) Mempergunakan keterampilan komunikasi yang efektif
untuk mencapai asuhan yang optimal
4) Melakukan pengkajian dan menganalisa data yang
didapat khususnya mengenai: henti nafas dan jantung,
status pernafasan, gangguan irama Jantung, Status
hemodinamik pasien dan status kesadaran.
5) Mempertahankan kebersihan jalan nafas pada pasien
yang terpasang ETT
6) Mempertahankanpotensi jalan nafas dengan
menggunakan ETT
7) Melakukan fisioterapi dada
8) Memberikan inhalasi
9) Mengukur saturasi oksigen dengan menggunakan pulse
oximetri
10) Memberikan terapi oksigen dengan berbagai metod
11) Melakukan monitoring haemodinamik
12) Memberikan BLS (basic Life Support) dan ALS
(Advance life support)
13) Melakukan perekaman EKG
14) Melakukan interpretasi hasil rekaman EKG:
15) Gangguan sistem konduksi
16) Gangguan irama
17) Pasien dengan gangguan miocard
18) Melakukan pengambilan sampel darah untuk AGD
19) Melakukan interpretasi AGD
20) Melakukan pengambilan terhadap hasil analisa untuk
pemeriksaan elektrolit

38
21) Mengetahui koreksi terhadap hasil analisa gas darah
yang tidak normal
22) Melakukan interpretasi hasil foto thorax
23) Melakukan persiapan pemasangan Water Seal Drainage
(WSD)
24) Mempersiapkan pemberian terapi melalui syiring pump
dan infus pump
25) Melakukan pengelolaan pasien dengan nutrisi parenteral
26) Melakukan pengelolaan pasien dengan terapi cairan
intra vena
27) Mengelola pasien yang menggunakan ventilasi mekanik
28) Mempersiapkan pemasangan kateter arteri
29) Mempersiapkan pemasangan kateter vena sentral
30) Mempersiapkan pemasangan kateter arteri pulmonal
31) Melakukan pengukuran curah jantung
32) Melakukan pengukuran tekanan vena central
33) Melakukan persiapan pemasangan intra aortic baloon
pump (IABP)
34) Melakukan pengeloaan asuhan keperawatan pasien yang
terpasang IABP
35) Melakukan persiapan pemasangan alat hemodialisis,
hemofiltrasi
36) Melakukan pengelolaan pengukuran tekanan
intrakranial
37) Melakukan pengelolaan pasien yang terpasang kateter
invasive (Arteri line, cup line, kateter swan ganz)
38) Melakukan pengelolaan pasien yang menggunakan
terapi trombolitik
39) Melakukan pengukuan PETCO2

39
C. Kompetensi Perawat Rawat Inap
Kepala Instansi Rawat Inap
1) Pendidikan: serendah-rendahnya berijazah S1
2) Kursus/pelatihan: Manajemen pelayanan Keperawatan
ruangan
3) Kondisi fisik dan mental: sehat jasmani dan rohani

Kepala Ruangan
1) Pendidikan: serendah-rendahnya berijazah D.III
Keperawatan
2) Kursus/pelatihan: Manajemen pelayanan Keperawatan
ruangan
3) Pengalaman kerja: sebagai perawat pelaksana
sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun
4) Kondisi fisik dan mental: sehat jasmani dan rohani

Ketua Tim
1) Sarjana Keperawatan/D. III Keperawatan
2) Mempunyai kemampuan memimpin
3) Disiplin, jujur, bertanggung jawab, berwibawa dan
berdedikasi.
4) Sehat jasmani dan rohani

Perawat Pelaksana
1) Pendidikan: Berijazah pendidikan formal
keperawatan/kebidanan dan semua jenjang
pendidikan yang disahkan oleh pemerintah/yang
berwenang
2) Kondisi fisik: Sehat jasmani rohani

40
Instruktur Klinik Keperawatan

a. Pendidikan: serendah-rendahnya berijazah D.III


Keperawatan/kebidanan
b. Kursus/ pelatihan : Clinical instruktur
c. Pengalaman kerja: sebagai pelaksana keperawatan
3- 5 tahun
d. Kondisi fisik dan mental: sehat jasmani dan rohani

Administrasi
a. Pendidikan minimal SLTA
b. Mempunyai Sertifikat Komputer
c. Sehat jasmani dan rohani

D. Kompetensi Perawat Ruang OK


Perawat karyawan dengan strata pendidikan untuk perawat
adalah:
1) S1 Keperawatan dan profesi keperawatan dengan
keterampilan OK dan anasthesi
2) S1 Keperawatan dan profesi keperawatan

j. Kepala Bidang Fasilitas Medik


a) Menyusun rencana kebutuhan pelayanan penunjang medis.
b) Melaksanakan pemantauan pengawasan dan pengendalian
pelayanan penunjang medis pada instalasi radiologi, gizi,
laboratorium, farmasi, dan bank darah rumah sakit.
c) Memantau pemanfaatan fasilitas penunjang medis pada instalasi
radiologi, laboratorium, gizi, farmasi, dan bank darah.
d) Membuat analisa kebutuhan pelayanan penunjang medis dan
fasilitas penunjang medis.
e) Melakukan pemantauan mutu pelayanan pada instalasi terkait.
f) Menyelenggarakan tugas dan fungsi lain sesuai dengan tugas dan
fungsinya berdasarkan peraturan perundang-undangan.

41
k. Kepala Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Berdasarkan struktur organisasi RS Kepala IGD dibawah Kasi
Keperawatan dan bertanggung jawab untuk direktrur RS. Tugas Pokok
yaitu menyelenggarakan pelayanan Asuhan Medis dan asuhan
keperawatan sementarajuga pelayanaan pembedahan darurat baik px yg
berkencan dengandarurat Medis atau melakukan rujukan baik magang
juga instalaanilainnya juga dengan demikian satuan menarik diluar RS
dengan memanfaatkan sumberdaya yang efeektif dan efisien
a) Fungsi
1) Menyelenggarakan pelayanan medis
2) Menyelenggarakan pelayana askep
3) Menyelenggarakan pelayanan rujuka
4) Menyelenggarakan pelayanan penunjang Medis dan non medis
5) Menyelenggarakan pelayanan 24 selai setiap hari.

b) Wewenang
1) Memimpin, arahan, nilai dan memmbina staf dlm
pelaksanaatugas, kinerjanya.
2) Menetapkan dan Ya pembagian staf
3) Menetapkan dan Ya peralatan yg diperlukan
4) Menyusun rencana program kerjaprogra mproritas utk
meningkatakanmutu pelayanan
5) Melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap semua
Kegiatan di IGD baik pelayanan, fasilitas dan prasarana
6) Mengusulkan pengembangan staf
7) Menganalisa kebutuhsn tenaga / staf.
3. Tanggung jawab
1) Melengkap sumber daya yg diperlukan dlm kerangka
pelaksanaa tugas sehari-hari di IGD.
2) Menegakan disiplin staff
3) Menciptakan suasana kerja yg harmonis dan selaras
4) Meningkatkan pengetahuan dan Keterampilan

42
5) Meningkatkan dan mengembangankan tugas dengan cepat,
tepat, benar
6) Memegang teguh rahasia jabatan
7) Memperhatikan dan mengusahakan kesejahteraan dan
pengembangan karir bagi tenaga IGD

l. Kepala Ruang Intensive Care Unit (ICU)


Visi dan Misi Ruangan
Visi :
Menjadikan ruangan ICU sebagai salah satu ruangan atau unit pelayanan
yang unggul dengan fasilitas yang lengkap dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien kritis dengan memperhatikan aspek keislaman

Misi :

1. Memberikan asuhan keperawatan dengan mengutamakan pasien


safety
2. Memberikan asuhan keperawatan secara profesional
3. Memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dan dengan
tingkat kepedulian yang tinggi.
4. Memberikan asuhan keperawatan dengan memperhatikan aspek
keislaman
5. Mengembangkan SDM yang berkompeten

Tugas pokok:
1. Bertanggung jawab terhadap pemberian pelayanan ASKEP,
mengatur tenaga perawat, mengatur Alkes/ linen di unit pelayanan
ICU.
2. Mengatur dan mengendalikan kegiatan pelayanan kesehatan di
ruang ICU sesuai SOP.
3. Menganalisis dan menetapkan kebutuhan tenaga perawat di
Ruangan yang menjadi tanggung jawabnya.

43
4. Mengawasi serta melaksanakan peraturan/ kebijakan yang berlaku
di rumah sakit.
5. Merencanakan, mengatur dan mengendalikan tenaga perawat
serata tenaga lainnya di ruang ICU agar bekerja dengan berdaya
guna dan berhasil guna.
6. Membimbing, melaksanakan, mengawasi pelaksanaan asuhan
keperawatan, serta pencatatan dokumen medik sesuai dengan
standar yang ditetapkan.
7. Mengatur tata ruang ICU agar memudahkan dan memperlancar
pelayanan yang diberikan kepada pasien.
8. Merencanakan keperluan perlengkapan peralatan dan obat-obatan
yang mendukung kualitas pelayanan keperawatan di ruangan ICU.
9. Mendampingi dokter visite.
10. Menciptakan dan memelihara hubungan yang harmonis antara
perawat dengan perawat, perawat dengan dokter dan petugas
kesehatan lainnya, serta perawat dengan keluara pasien.
11. Membuat SOP dilingkungan ICU dan melakukuan Revisi jika di
perlukan.
12. Mengawasi seluruh pencatatan inventaris seluruh peralatan medis
dan non medis, serta obat-obatan.
13. Mengawasi dan melaksanakan kalibrasi alat-alat kesehatan sesuai
SOP.
14. Menciptakan dan memelihara lingkungan kerja yang aman,
nyaman, dan etis.
15. Mengadakan rapat berkala dengan perawat penanggung jawab dan
tenaga pelaksana lainnya.
16. Menghadiri rapat rumah sakit yang sudah ditentukan.
17. Membuat laporan berkala kepada Kepala seksi Keperawatan.

44
Persyaratan Khusus
a) Letak bangunan instalasi ICU harus berdekatan dengan instalasi
gawat darurat, laboratorium, instalasi radiologi dan instalasi bedah
sentral.
b) Harus bebas dari gelombang elektromagnetik dan tahan terhadap
getaran.
c) Gedung harus terletak pada daerah yang tenang.
d) Temperatur ruangan harus terjaga tetap dingin.
e) Aliran listrik tidak boleh terputus.
f) Harus tersedia pengatur kelembaban udara.
g) Disarankan sirkulasi udara yang dikondisikan seluruhnya udara
segar (;fresh air).
h) Perlu disiapkan titik grounding untuk peralatan elektrostatik.
i) Tersedia aliran Gas Medis (O2, udara bertekanan dan suction).
j) Pintu kedap asap & tidak mudah terbakar, terdapat penyedot asap
bila terjadi kebakaran.
k) Terdapat pintu evakuasi yang luas dengan fasilitas ramp apabila
letak instalasi ICU tidak pada lantai dasar.
l) Ruang ICU/ICCU sebaiknya kedap api (tidak mudah terbakar baik
dari dalam/dari luar).
m) Pertemuan dinding dengan lantai dan pertemuan dinding dengan
dinding tidak boleh berbentuk sudut/ harus melengkung agar
memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang debu
dan kotoran.

Standar Operasional Prosedur Ruang ICU


1) Penerimaan pasien baru di ruang ICU
Pengertian Penerimaan pasien baru adalah kegiatan yang dilakukan oleh tim
petugas yang bekerja di ruang ICU saat pasien baru masuk ke ruang
ICU

Tujuan 1. Meningkatkan efektivitas pelayanan terhadap pasien

45
2. Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas

Kebijakan Semua petugas yang bekerja di ruangan intensif baik dokter


konsultan, dokter jaga, pelaksana perawat dan petugas lainnya

Prosedur 1. Sebelum menerima pasien, dokter dan perawat jaga


mempersiapkan bed ICU dan semua peralatan yang diperlukan
seperti O2 transport, bagging dan tiang infus, ventilator,
monitor transport.Serah terima dari dokter yang merujuk ke
dokter konsultan ICU atau ke dokter jaga ICU, dan dari perawat
ruangan ke perawat ICU.

2. Pasien disambut oleh dokter, perawat, dan petugas ICU, pasien


dipindahkan dari brankar ke tempat tidur ICU oleh perawat
pelaksana dan petugas pekarya, dan dibantu juga oleh keluarga
pasien bila diperlukan dengan memperhatikan prosedur pasien
safety.

3. Setelah pasien berada diatas bed ICU, pasien didorong ke


dalam ruangan dengan semua fasilitas (C02 monitor, ventilator
transport) yang memadai.

4. Setelah pasien berada ditempatnya, kemudian amankan jalan


nafas pasien dan beri theraphy 02 sesuai dengan kebutuhan
terlebih dahulu.

5. Pasang semua peralatan monitor vital sign dan peralatan


lainnya (infus, chateter, dan urin bag) pada tempatnya.

6. Observasi semua kebutuhan pasien mulai dari ventilasi dan


sirkulasi pasien (sp02, EKG, RR, NIBP, Temp, CVC) intake
dan output pasien.

7. Observasi hasil lab terakhir dan lakukan pemeriksaan darah


sesuai kebutuhan. (darah tepi lengkap, darah kimia, AGO dan
pemeriksaan kultur).

46
8. Observasi hasil radiologi terakhir dan lakukan pemeriksaan
radiologi seperti yang dibutuhkan.

9. Dokter jaga melaporkan semua tentang KU pasien pada kepala


ICU dan menegakan semua theraphy yang diberikan oleh
kepala ICU.

10. Dokter jaga bekerja sama dengan perawat jaga ICU untuk
memberikan theraphy yang akan diberikan seperti obat-obatan,
nutrisi dan cairan.

Unit
Terkait

2) Kriteria pasien masuk atau dirawat di Instalasi Rawat Intensif (ICU)

Pengertian ICU memberikan pelayanan pemantauan yang canggih dan terapi


yang intensif. Dalam keadaan penggunaan tempat tidur yang tinggi,
penilaian objektif atas beratnya penyakit dan prognosis hendaknya
digunakan untuk menentukan prioritas masuk ICU.

Tujun Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk menentukan pasien


mana yang akan dirawat di ICU. Berdasarkan prioritas kondisi medik,
bila kebutuhan masuk ICU melebihi tempat tidur yang tersedia.

Kebijakan SK Menkes RI nomor 1778 / Menkes / SK / XII / 2010 / tentang


pedoman penyelenggaraan pelayanan intensive care unit (ICU) di
rumah sakit. Dan SK direktur RS Batanghari Trauma Center nomor
0T.01.01.1.758 tentang pelayanan instalasi rawat intensif RA
Batanghari Trauma Center

Prosedur Kriteria masuk :

a. Pasien Prioritas 1 (satu)

Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis, tidak stabil

47
yang memerlukan terapi intensif dan tertitrasi, seperti :
dukungan / bantuan ventilasi dan alat bantu suportif organ /
sistem yang lain, infus obat-obat vasoaktif kontinyu, obat anti
aritmus kontinyu, pengobatan kontinyu tertitrasi, dan lain-
lainnya.

b. Pasien prioritas 2 (dua)

Pasien ini memerlukan pelayanan pementauan canggih di


ICU, sebab sangat beresiko bila tidak mendapatkan terapi
intensif segera, misalnya pemantauan intensif menggunakan
pulmonary arterial cateter.

c. Pasien prioritas 3 (tiga)

Pasien golongan ini adalah pasien sakit kritis, yang tidak


stabil status kesehatan sebelumnya, secara sendirian atau
kombinasi.Kemungkinan sembuh dan atau manfaat terapi di
ICU pada golongan ini sangat kecil.

d. Pengecualian

Dengan pertimbangan luar biasa, dan atas persetujuan


kepala ICU, indikasi masuk pada beberapa golongan pasien
bisa dikecualikan, dengan catatan bahwa pasien-pasien
golongan ini swaktu-waktu harus bisa dikeluarkan dari ICU,
agar fasilitas ICU yang terbatas dapat digunakan untuk pasien
prioritas 1,2,3.

Pasien yang tergolong demikian antara lain :

1) Pasien yang memenuhi kriteria masuk tetapi menolak


terapi tunjangan hidup yang agresif dan hanya demi
“perawatan yang aman” saja.

2) Pasien dalam keadaan vegetatif permanen.

48
3) Pasien yang telah dipastikan mengalami mati batang
otak. Pasien-pasien ini dimasukan ke ICU untuk
menunjang fungsi organ hanya untuk kepentingan
donor organ

Unut Terkait Seluruh departemen dan instalasi di lingkungan RS Batanhari


Trauma Center

3) Prosedur Pasien Masuk ICU

Pengertian ICU (Intensive care unit) adalah suatu bagian dari rumah sakit
yang mandiri dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang
khusus yang ditujukan untuk observasi perawatan dan terapi.
Pasien-pasien yang menderita penyakit, cidera atau penyulit-
penyulit yang mengancam nyawa atau potensial mengancam
nyawa dengan prognosis dubia.

Tujun Sebagai acuan perlengkapan langkah-langkah untuk mengirim pasien


masuk ICU.

Kebijakan SK Menkes RI nomor 1778 / Menkes / SK / XII / 2010 tentang


pedoman penyelenggaraan pelayanan intensive care unit (ICU) di
rumah sakit dan SK Direktur RS Batanhari Trauma Center no
0T.01.01.1.758 tentang pelayanan Instalasi Rawat Intensif RS
Batanhari Trauma Center

Prosedur 1. Pasien masuk ICU, sesuai dengan indikasi :

a. Pasien yang memerlukan intervensi medis segera


oleh tim intensive care

b. Pasien yang memerlukan pengelolaan fungsi sistem


organ tubuh secara terkoordinasi dan berkelanjutan
sehingga dapat dilakukan pengawasan yang konstan

49
dan metode terapi titrasi.

c. Pasien sakit kritis yang memerlukan pemantauan


kontinyu dan tindakan segera untuk mencegah
timbulnya dekompensasi fisiologis.

2. Dokter dari departemen dalam lingkungan RS mengajukan


permohonan tertulis kepada dokter ICU dengan
menyebutkan alasannya dan dalam keadaan kritis dapat
dilakukan melelui telepon atau lisan.

3. Dokter ICU mengevaluasi kondisi pasien, bila masuk dalam


indikasi dan ada tempat di ICU, keluarga pasien diharap
datang ke ruang ICU untuk inform consent perawatan ICU.
Bila ruangan sudah siap (tempat maupun sarana), pasien
baru dapat ditransportasi ke ICU (Jika pasien aman untuk
ditransportasi).

4. Pasien yang masuk ICU minimal harus sudah dibebaskan


jalan napas sampai dengan intubasi, perbaikan sirkulasi
dengan pemasangan infus kalau perlu pasang nasogastric
tube.

5. Pasien diserah terimakan oleh perawat pelaksana ruangan


ke perawat pelaksana ICU lengkap dengan status di
ruangan sebelumnya.

Unit Terkait Seluruh departemen dan instalasi di lingkungan RS Batanhari


Trauma Center

50
4) Kriteria Pasien Keluar ICU

Pengertian Pasien yang keluar dari ICU adalah pasien yang tidak
memerlukan pelayanan pemantauan yang canggih dan terapi
yang intensif

Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk menentukan pasien


yang boleh keluar dari ICU

Kebijakan SK Menkes RI nomor 1778 / Menkes / SK / XII / 2010 tentang


pedoman penyelenggaraan pelayanan intensive care unit (ICU) di
rumah sakit.

Prosedur 1. Prioritas pasien dipindahkan dari ICU berdasarkan


pertimbangan medis oleh kepala ICU dan atau tim medis
yang merawat pasien antara lain :

a. Penyakit atau keadaan pasien telah membaik dan


cukup stabil, sehingga tidak memerlukan terapi atau
pemantauan yang intensif lebih lanjut.

b. Secara perkiraan dan perhitungan terapi atau


pementauan intensif tidak bermanfaat atau tidak
memberi hasil yang berarti bagi pasien. Apalagi
pada waktu itu pasien tidak menggunakan alat bantu
mekanis khusus (seperti ventilasi mekanis).

2. Pasien atau keluarga menolak untuk dirawat lebih lanjut di


ICU.

3. Pasien hanya memerlukan observasi secara intensif saja,


sedangkan ada pasien lain yang lebih gawat yang
memerlukan terapi dan observasi yang lebih intensif, pasien
seperti ini diusahakan pindah ke ruang yang khusus untuk
pemantauan secara intensif yaitu HCU.

51
4. Pasien telah meninggal dunia.

Unit Terkait Seluruh departemen dan instalasi di lingkungan RS Batanhari


Trauma Center

5) Prosedur Pasien Keluar ICU

Pengertian Pasien yang keluar dari ICU adalah pasien yang tidak
memerlukanpelayanan pemantauan yang canggih dan terapi yang
intensif.

Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk mengirim pasien


pindah keluar dari ICU

Kebijakan

Prosedur 1. Prioritas pasien dipindahkan dari ICU, berdasarkan


pertimbangan medis oleh kepala ICU atau tim yang
merawat pasien.

2. Sebelum dipindahkan dari ICU sebaiknya keluarga pasien


diberikan penjelasan alasan pasien dipindahkan dari ICU
dan ruangan yang akan dituju.

3. Sebelum pasien dipindahkan, pelaksana perawatan di ICU


harus menghubungi ruangan yang dituju dan meminta
pelaksana perawatan di ruangan tersebut untuk menjemput
pasien.

4. Status, kartu kendali, slip tindakan, slip pindah harus


lengkap dibuat dan ditimbangterimakan dengan pelaksana
perawatan ruangan yang dituju.

5. Membuat tanda terima dengan pelaksana perawatan


ruangan tempat pasien dirawat berikutnya.

52
6. Bila pasien meninggal, perawat pelaksana harus segera
memberitahu dokter yang merawat, lalu perawat
melakukan perawatan jenasah.

7. Melakukan kegiatan administrasian yang akan dilaporkan


ke loket E untuk pasien ASKIN, loket I bila pasien umum
atau askes.

Unit Terkait Seluruh departemen dan instalasi di lingkungan RS Batanhari


Trauma Center

m. Kepala Ruangan Rawat Inap

n. Kepala Ruangan poliklinik/Rawat Jalan


Visi dan Misi Ruangan
Visi
“Menjadikan instalasi rawat jalan sebagai tempat yang unggul dalam
memberikan pelayanan kesehatan yang cepat, tanggap dan
menyenangkan dengan mengutamakan keselamatan pasien.”
Misi
1) Meningkatkan kualitas kinerja tenaga medis dalam upaya
penyembuhan dan pemulihan pasien.
2) Memberikan pelayanan kesehatan secara profesional yang
berorientasi pada peningkatan mutu dan keselamatan pasien.
3) Menyediakan fasilitas yang memadai pada setiap poli.
4) Menciptakan suasana kerja yang mengutamakan keharmonisan dan
kepedulian terhadap sesama.

Tugas kepala ruangan instalasi rawat jalan :

1) Melakukan koordinasi rawat jalan mulai dari keberadaan dokter


hingga pelayanan keperawatannya.

53
2) Menyiapkan fasilitas dan lingkungan praklinik untuk kelancaran
pelayanan serta memudahkan pasien dalam menerima pelayanan
dengan cara mengawasi kebersihan lingkungan megatur tata ruang
poliklinik dan memeriksa peralatan yang dibutuhkan dalam
pelayanan.
3) Melaksanakan pelayanan umum untuk kepuasan customer.
4) Menentukan mutasi atau rotasi seluruh staf yang ada di divisi rawat
jalan.
5) Menentukan waktu dan ruang praktek dokter yang akan berpraktek.
6) Mengadakan penilaian prestasi kerja seluruh staf yang di didivisi
rawat.
7) Membantu dokter dalam pemeriksaan rawat jalan.
8) Melayani/mengantar pasien ke laboratorium, radiologi, atau
fisioterapi.
9) Mengirim rekam medik dan resep ke apotik.
10) Mencatat data pasien yang mendapat layanan poliklinik.
11) Membuat laporan secara berkala kepada Direktur.
12) Melaksanakan tugas-tugas khusus yang diberikan oleh Direktur.

Berdasarkan Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit


Kelas C dari Depkes RI (2007), lingkup sarana pelayanan pada
instalasi rawat jalan antara lain :

1) Poli umum, yang terdiri dari 4 spesialistik dasar, antara lain:


a) Klinik penyakit dalam
b) Klinik bedah
c) Klinik anak
d) Klinik kebidanan dan penyakit kandungan
e) Klinik tambahan atau pelengkap, antara lain :
a) Klinik THT
b) Klinik mulut dan gigi
c) Klinik orthopedi

Pembagian tenaga medis perawat rawat jalan

54
Alur pelayanan

o. Kepala Ruangan Rehabilitasi Medik


Visi dan Misi Ruangan
Visi :
Menjadikan ruang pelayanan perawatan bagi pasien trauma center yang
unggul, mandiri, terpercaya untuk meningkatkan kesembuh pasien agar
segera pulih dan kembali kemasyarakat.
Misi :
1. Menciptakan suasana yang aman, nyaman dan terpercaya bagi
pasien
2. Mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada
3. Memenuhi kebutuhan pasien rehab dengan baik

55
Tugas :

a) Membuat dan mengevaluasi sistem, pedoman, SOP, juknis kegiatan


pelayanan Rehabilitasi, meliputi penerimaan pasien, penyelesaian
administrasi, proses pelayanan dan akhir pelayanan Rehabilitasi
Medik.
b) Merencanakan sumber daya untuk pelaksanaan kegiatan,
mengevaluasi kebutuhan sumber daya yang dibutuhkan.
c) Mengkoordinir, mengawasi dan mengendalikan pendayagunaan
tenaga dan fasilitas unit kerja degan berorientasi pada mutu
pelayanan.
d) Memberi petunjuk dan bimbingan dalam pendayagunaan tenaga dan
fasilitas unitrehabilitasi medik
e) Mengawasi perawatan dan izin penggunaan alat-alat rehabilitas
medik dan alat-alat fisioterapi
f) Menyusun program kerja dan anggaran unit rehabilitasi medik
g) Membuat dan mengatur jadwal dinas dokter rehabilitasi medik dan
fisioterapi
h) Melaporkan adanya pelanggaran disiplin atau peraturan rumah sakit
i) Menangani dokumen sesuai ke!enangan yang dimiliki, antara lain
surat rujukan konsulan, laporan bulanan, permintaan fasilitas rutin
dan notulen rapat
j) Menyelenggarakan dan memimpin rapat unit rehabilitasi medik.
k) Bertanggungjawab dan menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi di
rehabilitasi medik.

Lingkup Sarana Pelayanan

Lingkup pelayanan Instalasi Rehabilitasi Medik mencakup :

1) Rehabilitasi fisik
a. Rehabilitasi sistem kardiovaskular
b. Rehabilitasi sistem pernafasan
c. Rehabilitasi sistem neuromuskuler dan lokomotor

56
2) Rehabilitasi Mental
3) Rehabilitasi Sosial

Pada dasarnya tata ruang Unit Rehabilitasi Medik ditetapkan atas


dasar:
1. Lokasi mudah dicapai oleh pasien, disarankan letaknya dekat
dengan instalasi rawat jalan/ poliklinik dan rawat inap.
2. Ruang tunggu dapat dicapai dari koridor umum dan dekat pada
loket pendaftaran, pembayaran dan administrasi.
3. Disarankan akses masuk untuk pasien terpisah dari akses masuk
staf.
4. Disarankan menggunakan sistem sirkulasi udara/ ventilasi udara
alami.
5. Apabila ada ramp (tanjakan landai), maka harus diperhatikan
penempatan ramp, lebar dan arah bukaan pintu dan lebar pintu
untuk para pemakai kursi roda serta derajat kemiringan ramp
0
yaitu maksimal 7
6. Untuk pasien yang menggunakan kursi roda disediakan toilet
khusus yang memiliki luasan cukup untuk bergeraknya kursi
roda.

Alur Kegiatan

57
Alur Petugas Medik
1) Dokter ahli RM, Psikolog RM, Terapis/Paramedis dan Petugas
OP, masuk ke ruang ganti untuk ganti dengan pakaian RM yang
disediakan.
2) Petugas RM selanjutnya menuju ke ruangannya masing-masing.

Alur pasien rehabilitasi medik.


a) Pasien RM yang ingin memperoleh pelayanan RM mendaftar di
Loket pendaftaran, petugas pendaftaran melakukan pencatatan dan
pendataan pasien RM.
b) Pasien RM menunggu panggilan di ruang tunggu pasien RM.
c) Setelah ada panggilan dari petugas RM, pasien RM masuk ke
ruang pemeriksaan dan penilaian, bertemu dengan Dokter Ahli
RM, menyampaikan keluhan dan berkonsultasi.
d) Bila dianggap perlu, Dokter ahli RM memeriksa pasien RM di
ruang pemeriksaan diagnostik.

58
e) Dari hasil konsultasi dan diagnostik, oleh Dokter ahli RM, pasien
RM sesuai kebutuhannya diteruskan ke ruang pemeriksaan dan
penilaian psikologis, ruang pelayanan fisioterapi, ruang pelayanan
terapi okupasi dan terapi vokasional, serta ruang pelayanan terapi
wicara.
f) Bila hasilnya perlu dikonsultasikan kembali ke Dokter ahli RM,
pasien RM kembali ke ruang pemeriksaan dan penilaian, bila tidak
diperlukan, pasien bisa langsung ke luar dari Ruang rehabilitasi
medik, untuk selanjutnya melakukan pembayaran di kasir Rumah
Sakit.

Pembagian Tenaga Medis / shifting

Rehabilitasi Medik buka setiap senin s/d sabtu jam 08.00 – 17.00
1) Pembagian shift ada 2 :
Shift pagi 08.00 – 12.00

Shift siang 13.00 - 17.00

2) Setiap terapi membutuhkan waktu berbeda :


Terapi Mental 10-15 menit/shift

Terapi Fisik 30-60 menit/shift

p. Kepala Ruang Operasi (OK)


Visi dan Misi Ruangan
Visi:
Menjadi center bedah pilihan utama dengan nilai-nilai islami dan
Profesional.

Misi
1. Memberikan Asuhan Keperawatan dengan sikap yang mencerminkan
nilai-nilai islami

59
2. Memberikan pelayanan bedah universal dan unggul dalam Trauma
Center secara professional
3. Keselamatan pasien sebagai ikhtiar utama

Tugas:
a) Melaksanakan fungsi perencanaan, meliputi:
1) Merencanakan jumlah tenaga, obat, alat-alat medik dan non
medik yang dibutuhkan oleh ruangan
2) Membuat rencana (jadwal) dinas serta tugas para pelaksana
serta menggiatkan pelaksana dalam melaksanakan tugas-tugas
yang diberikan
3) Membuat rencana kerja tahunan untuk disampaikan pada
atasan.

b) Melaksanakan fungsi pelaksanaan, meliputi:


1) Mengatur system pelayanan di ruangan agar berjalan baik,
sehingga tidak timbul masalah/komplain dari pasien/keluarga
2) Menjelaskan SOP Asuhan Keperawatan Rs di Kamar Operasi
3) Memantau pelaksanaan Asuhan Keperawatan
4) Menjalin kerjasama dengan profesi lain yang terkait dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien
5) Menjelaskan peraturan di ruangan, agar pelaksanaan Asuhan
Keperawatan dapat diberikan secara cepat, tepat, dan
profesional
6) Memberi pendidikan/penyuluhan kesehatan kepada pasien dan
keluarga

c) Melaksanakan Fungsi Inventarisasi, meliputi:


1) Melakukan Inventarisasi barang dan alat yang ada di Ruangan
Operasi

60
2) Membuat sistem arus obat/alat Permintaan/pemakaian yang
tertib

d) Melaksanakan Fungsi Pelaporan, meliputi:


1) Melaporkan masalah yang dihadapi sesuai garis tanggung
jawab
2) Melaporkan inventarisasi barang dan obat dalam rapat dinas
3) Melaporkan kasus pasien yang dihadapi dalam rapat dinas

Pedoman teknis sarana dan prasarana Rumah sakit kelas C,


berdasarkan DEPKES

a) Lingkup Sarana Pelayanan


Kamar bedah, adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang
berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan pembedahan
secara elektif maupun akut, yang membutuhkan kondisi steril dan
kondisi khusus lainnya. Pelayanan bedah pada rumah sakit kelas C
meliputi :
a. Bedah minor (antara lain : bedah insisi abses, ekstirpasi, tumor
kecil jinak pada kulit, ekstraksi kuku / benda asing, sirkumsisi).
b. Bedah umum dan bedah sub spesialistik (antara lain:
kebidanan, onkologi/tumor, urologi, orthopedic, plastik dan
rekonstruksi berat, anak, kardiotorasik dan vaskuler)

b) Kebutuhan SDM
Berdasarkan standar ketenagaan menurut Depkes RI 2001, Dasar
penghitungan tenaga di kamar operasi :
1) Jumlah dan jenis operasi
2) Pemakaian kamar operasi ( 6 jam perhari) pada hari kerja
3) Tugas perawat di kamar operasi : instrumentor, perawat sirkulasi
(2orang/tim) Tingkat ketergantungan pasien
a. Operasi besar : 5 jam
b. Operasi sedang : 2 jam
c. Operasi kecil : 1 jam

61
Misalkan :
Rata-rata dalam sehari terdapat 10 operasi perhari, dengan rincian :
Operasi besar 2 orang, operasi sedang 3 orang, dan 5 orang operasi
kecil
{(2x5jam)+(3x2jam)+(5x1jam)}x 2orang / 8jam X2
= 10 orang perawat + 1 cadangan tetap = 11 orang perawat
a) Spesialis Bedah : 3 orang
b) Spesialis Kebidanan dan Kandungan : 2 orang
c) Spesialis Ortopedi dan Trauma : 3 orang
d) Spesialis Urologi : 2 orang
e) Spesialis Bedah mulut : 1 orang
f) Spesialis THT : 1 orang
g) Spesialis Mata : 1 orang
h) Spesialis Anestesi : 2 orang
i) Dokter Umum : 2 orang
j) Paramedik : 11 perawat dan 3 bidan

c) Rencana Jadwal
Waktu Kerja Normal menurut Keputusan Menteri Tenaga kerja
dan Transmigrasi, No. Kep. 102/MEN/VI/2004.
“Untuk 6 hari kerja : Waktu Kerja 7 jam/hari (hari ke1-5), 5
jam/hari (hari ke-6) , 40 jam/minggu. Dan untuk 5 hari kerja :
Waktu Kerja 8 jam/hari, 40 jam/minggu”. Lebih dari waktu ini
dihitung waktu kerja lembur, jam Kerja Shift fleksibel.
a. Shift Pagi : jam 08.00 - 15.00 WIB= 7jam

62
b. Shift Siang : 15.00 – 22.00 WIB = 7jam
c. Shift Malem : 21.00 –08.00 WIB= 11 jam

Shift Ns.A Ns.B Ns.C Ns.D Ns.E Ns.F Ns.G Ns.F Ns.H Ns.I Ns.K
Senin P P P S S S M M M P S
Selasa P P P S S S L L L P S
Rabu M M M L L L S S S M L
Kamis L L L P P P S S S L P
Jumat S S S P P P L L L S P
Sabtu S S S M M M P P P S M
Minggu L L L L L L P P P L L

Persyaratan Khusus

a) Jalan masuk barang-barang steril harus terpisah dari jalan keluar


barang-barang & pakaian kotor
b) Pembagian daerah sekitar kamar bedah, berdasarkan “pedoman
teknis sarana dan prasarana rumah sakit kelas C .Pusat Sarana,
Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, DEPKES-
RI 66 :
1) Daerah Publik, artinya daerah yang boleh dimasuki oleh semua
orang tanpa syarat khusus.Daerah ini misalnya : ruang tunggu,
koridor, selasar kamar bedah.
2) Daerah Semi Publik, artinya daerah ini hanya boleh dimasuki
oleh orang-orang tertentu saja, yaitu para petugas, dan sudah
ada pembatasan tentang jenis pakaian yang dipakai petugas-
petugas ini (pakaian khusus atau lepas-sandal/sepatu, dan
sebagainya).

63
3) Daerah ASEPTIK, yaitu daerah kamar bedah sendiri, yang
hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang langsung ada
hubungannya dengan kegiatan pembedahan saat itu, umumnya
dianggap daerah yang harus dijaga ke-sucihama-annya. Di
daerah ini sering masih ada istilah tambahan: yaitu apa yang
disebut daerah ‘HIGH-ASEPTIC’, yaitu dimaksudkan dengan
daerah tempat dilakukannya pembedahan dan sekitarnya
(lapangan bedah).
4) Harus disediakan pintu ke luar tersendiri untuk jenazah dan
bahan kotor yang tidak terlihat oleh pasien dan pengunjung.

Persyaratan ruang operasi :

a) Pintu kamar operasi yang ideal harus selalu tertutup selama operasi.
b) Pergantian udara yang dianjurkan sekitar 18-25 kali/jam.
c) Tekanan udara yang positif di dalam kamar pembedahan, dengan
demikian akan mencegah terjadinya infeksi ‘airborne’.
d) Sistem AC Sentral, suhu kamar operasi yang ideal 26 – 280
e) Kelembaban ruang yang dianjurkan 70% (jika menggunakan bahan
anaestesi yang mudah terbakar, maka kelembaban maksimum
50%). C yang harus terjaga kestabilannya dan harus menggunakan
filter absolut untuk menjaring mikroorganisme.
f) Penerangan alam menggunakan jendela mati, yang diletakkan
dengan ketinggian diatas 2m.
g) Lantai harus kuat dan rata atau ditutup dengan vinyl yang rata atau
teras sehingga debu dari kotoran-kotoran tidak tertumpuk, mudah
dibersihkan, bahan tidak mudah terbakar.Plafon harus rapat dan
kuat, tidak rontok dan tidak menghasilkan debu/kotoran lain.
h) Pintu harus yang mudah dibuka dengan sikut, untuk mencegah
terjadinya nosokomial.
i) Harus ada kaca tembus pandang di dinding ruang operasi yang
menghadap pada sisi dinding tempat ahli bedah mencuci tangan.

64
j) Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, harus dilindungi terhadap
bahaya kebakaran, meliputi Sistem Proteksi Pasif (elemen
konstruksi bangunan) dan Sistem Proteksi pasif terutama untuk
menahan dan membatasi penjalaran api, asap dan panas, dengan
demikian akan memberikan lingkungan yang aman untuk evakuasi
dan penyelamatan.

Tugas perawat dan alur kegiatan.

a) Prosedur Sebelum Operasi


1) Petugas masuk ke kamar operasi (OK) harus :
a. Mengganti baju dengan baju khusus dikamar ganti pakaian.
b. Memakai alas kaki khusus dalam OK.
c. Memakai tutup kepala dan rambut tertutup semua.
d. Memakai masker.
e. Membukukan data-data pasien di buku register.

2) Pasien
a. Diagnosa penyakit pasien yang benar dan tepat dilakukan
oleh dokter yang merawat (yang ahli dalam
bidangnya),kemudian dilaporkan kedokter OK untuk
mempersiapkan danmengatur jadual operasi.
b. Keadaan umum (vital sign) pasien diusahakan dalam
keadaan seoptimal mungkin .Pasien/ keluarga telah
menandatangani persetujuan operasi (inform concent).
c. Untuk pasien yang akan dioperasi dan supaya
direncanakan operasi harus sudah dilaporkan ke
kamaroperasi (OK) 2 (dua) hari sebelumnya atau sesuai
denganperaturan yang berlaku untuk mengatur pasien OK.
d. Persiapan prosedur pasien di ruang perawatan pra operasi

65
a) Mencukur/ membersihkan daerah yang akan
dioperasi.
b) Persiapan pasien 4-6 jam.
c) Lavamen dan lain-lain.
e. Pasien diberitahu untuk dibawa ke kamar operasi (OK).
f. Pakaian pasien diganti di kamar persiapan operasi dengan
pakaian khusus kamar operasi (OK)dan kepala dibungkus
g. Pasien diperiksa Vital sign : tensi, suhu, nadi dan ditulis
dicatatan perawatan.
h. Pasien yang akan dioperasi dimasukkan setelah pencatatan
selesai.

3) Prosedur tentang Ruangan dan Alat-alat.


a) Ruangan selalu dalam keadaan bersih dan siap pakai.
b) Alat yang akan dibutuhkan diatur atau disiapkan
sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan, sudah dalam
keadaan steril.

4) Prosedur selama operasi.


a) Semua petugas yang akan melakukan operasi mencuci
tangansesuai dengan peraturan yang berlaku.
b) Memakai jas yang steril menurut cara yang berlaku.
c) Memakai sarung tangan sesuai dengan ukuran.
d) Asisten instrumen menyiapkan alat - alat yang
dibutuhkansesuai dengan kebutuhan operasi diatas meja
instrumen yangsebelumnya dialas dengan 2 lapis kain
steril.
e) Asisten operasi mengadakan desinfeksi didaerah
operasimenurut ketentuan yang berlaku.

66
f) Asisten operasi menutup tubuh pasien dengan doek
sterilyang berlubang pada daerah yang akan dioperasi.
g) Petugas melakukan sesuai dengan yang dibutuhkan
danmemonitor keadaan pasien kemudian melaporkan ke
Operatorbahwa operasi dapat dimulai.
h) Operator dan asisten operator melakukan operasi.
i) Petugas yang lain yang tidak ikut serta dalam operasi
siapditempat untuk keperluan mendadak.

5) Prosedur Sesudah Operasi.


a) Operator/asisten operator setelah selesai operasi
membukadoek penutup pasien.
b) Asisten instrument operator mengumpulkan kembali
yang dipakai dan menghitung apakah sudah cukup
jumlahnya dandimasukkan kembali ke loyang untuk di
cuci.
c) Pasien dibersihkan oleh petugas OK dan dipasangi
pakaian.
d) Dipindahkan ke ruang pulih sadar, diawasi pelaksana
anestesi dan petugas pulih sadar, sampai keadaan pasien
membaik.
e) Petugas kamar operasi (OK) lainnya membersihkan
meja operasi dan alat lain yang dipakai misal: Suction,
Oksigen dll.
f) Setelah keadaan umum pasien baik, pasien dipindahkan
keruang perawatan dengan brankar bedah, bersama
statuspasien.
g) Petugas kamar operasi (OK) mencatat kedalam buku
register.

6) Prosedur Pencatatan

67
a) Data pasien dicatat dalam buku register kamar OK
termasukNama pasien, Dokter yang merawat pasien.
b) Petugas anestesi mencatat tindakan dan medikasi yang
dilakukan selama operasi
c) Operator/asisten operator mencatat laporan operasi di
lembar C beserta tindakan yang dilakukan operator
maupun anestesi danpetugas memindahkan ke buku
register OK.
d) Kalau ada permeriksaan Pathologi Anatomi (PA) harus
mengisi formulir untuk permintaan Pathologi Anatomi
(PA).
e) Setiap awal bulan petugas administrasi OK membuat
laporan kegiatan di lembar C.
f) Operator menandatangani formulir permintaan
permeriksaan Pathologi Anatomi (PA).
g) Petugas kamar operasi (OK) setiap hari membuat
laporan kegiatan yang akan diserahkan kepala seksi
medis/ perawatan.
h) Petugas kamar operasi (OK) membuat laporan
inventaris.

7) Prosedur Penanganan pasien yang meninggal selama Operasi


a) Mentalkinkan, mengajak paien mengingat Tuhan, saat
sakaratul maut
b) Dokter operator menjelaskan kepada keluarga sehingga
dapatdimengerti dengan jelas.
c) Jenazah disemayamkan sementara 2 jam di ruangan
khusus diwilayah OK.
d) Perawat OK memberitahukan ke petugas kamar jenazah
bahwa ada pasien meningggal di kamar OK.
e) Jenazah dibawa ke kamar jenazah oleh petugas jenazah.

68
Alur Kegiatan Pada Instalasi Bedah Sentral ditunjukkan pada
bagan alur berikut :

2.3.Peraturan dan Tata Tertib Rumah Sakit

1) 15 menit sebelum pergantian shift


a. Shift pagi : 07.00 – 14.00
b. Shift siang : 14.00 – 20.00
c. Shift malam : 20.00 – 08.00
2) Bagi karyawan yang telat akan di berikan sangsi berupa pemotongan gaji
Rp. 100.000,- / 2 jam
3) Berpakaian rapih, sopan, dan sesuia dengan yang telah ditetapkan
a. Baju putih – putih : Senin dan Selasa

69
b. Baju seragam warna Biru : Rabu dan Kamis
c. Batik : Jumat
d. Baju putih garis biru : Sabtu dan Minggu
4) Budayakan 5 S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun ) terhadap pasien
dan keluarga, rekan sejawat, dan staf rumah sakit.
5) Mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi
6) Mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas dan jabatannya
7) Jika berhalangan hadir karena sakit atau izin diharapkan until bertukar
dinas dengan pegawai yang dapat menggantikan, dan dibayar dengan
jadwal dinas pegawai yang berhalangan hadir
8) Seluruh karyawan diberikan cuti maksimal 6x per tahun
9) Wanita hamil diberikan cuti selama 3 bulan terhitung 1.5 bulan sebelum
melahirkan dan 1.5 bulan setelah melahirkan
10) Menjaga dan peduli terhadap kebersihan lingkungan
11) Dilarang merokok, menggunakan Narkoba dan minum-minuman keras
12) Dilarang melakukan tindakan kejahatan dan kriminalitas

2.4.HAK dan KEWAJIBAN PASIEN (Peraturan Menteri Kesehatan RI No.


69 Tahun 2014 Tentang Kewajiban Rumah Sakit Dan Kewajiban Pasien)
A. Hak Pasien :
1) Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa
diskriminasi;
2) Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional;
3) Memperoleh pelayanan yang efektif dan efisien sehingga pasien
terhindar dari kerugian fisik dan materi;

70
4) Memilih Dokter dan serta kelas perawatan sesuai dengan
keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
5) Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada
Dokter yang mempunyai SuratIzin Praktik (SIP) baik di dalam
maupun di luar Rumah Sakit;
6) Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya;
7) Mendapatkan informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara
tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternative tindakan, risiko
dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap
tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan;
8) Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan
dilakukan oleh Tenaga Kesehatan terhadap penyakit yang
dideritanya;
9) Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
10) Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang
dianutnya selama hal tersebut tidak mengganggu pasien lainnya;
11) Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam
perawatan di Rumah Sakit;
12) Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit
terhadap dirinya;
13) Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan
agama dan kepercayaan yang dianut;
14) Mendapatkan perlindungan atas rahasia kedokteran termasuk
kerahasiaan rekam medik;
15) Mendapatkan akses terhadap isi rekam medis;
16) Memberikan persetujuan atau menolak untuk menjadi bagian
dalam suatu penelitian kesehatan;
17) Menyampaikan keluhan atau pengaduan atas pelayanan yang
diterima;

71
18) Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai standar
pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
19) Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit
diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar
baik secara perdata ataupun pidana.

B. Kewajiban Pasien :
1) Mematuhi peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
2) Menggunakan fasilitas rumah sakit secara bertanggungjawab;
3) Menghormati hak-hak pasien lain, pengunjung dan hak Tenaga
Kesehatan serta petugas lainnya yang bekerja di rumah sakit ;
4) Memberikan informasi yang jujur, lengkap dan akurat sesuai
kemampuan dan pengetahuannya tentang masalah kesehatannya;
5) Memberikan informasi mengenai kemampuan finansial dan
jaminan kesehatan yang dimilikinya;
6) Mematuhi rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga
Kesehatan di rumah sakit dan disetujui oleh Pasien yang
bersangkutan setelah mendapatkan penjelasan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan;
7) Menerima segala konsekuensi atas keputusan pribadinya untuk
menolak rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga
Kesehatan dan/atau tidak mematuhi petunjuk yang diberikan oleh
Tenaga Kesehatan dalam rangka penyembuhan penyakit atau
masalah kesehatannya; dan
8) Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

2.5.Tata Tertib Jam Besuk


1) Waktu berkunjung (Besuk) pasien:
a. Hari senin sampai dengan sabtu
Siang : jam 11.30 – 13.30 WIB
Sore : jam 15.30 – 18.00 WIB

72
Malam: jam 19.30 – 21.00 WIB
b. Hari minggu / libur
Siang : jam 11.00 – 13.30 WIB
Sore : jam 16.30 – 18.00 WIB
Malam: jam 19.30 – 21.00 WIB

2) Pintu masuk / keluar berkunjung hanya dari pintu masuk yang telah
ditentukan.
3) Untuk kepentingan kesehatan, anak sehat dibawah 14 tahun tidak dan
tidak diijinkan / dilarang memasuki area perawatan rumah sakit.
4) Untuk keselamatan dan kenyamanan pasien:
a. Jumlah pengunjung yang masuk ruang perawatan pada saat
bersamaan tidak lebih dari 3 (tiga) orang
b. Pengunjung tidak diijinkan membawa bunga ke ruangan Intensive
Care Unit (ICU) dan Ruang Rawat Inap Paru atau ruangan lain
yang pasiennya alergi terhadap bunga
c. Pengunjung yang sedang sakit flu, tenggorokan atau memiliki
penyakit menular tidak diperbolehkan mengunjungi rumah sakit
d. Bicara seperlunya dengan suara yang tidak keras
e. Waktu berkunjung diusahakan sesingkat mungkin
f. Dilarang membawa hewan peliharaan ke lingkungan rumah sakit.

5) Tidak diperkenankan membawa barang berharga, tikar / alas tidur, alat


/ barang elektronik (Rice Cooker, laptop / notebook, setrika atau
barang sejenis lainnya) kedalam lingkungan rumah sakit dan kami
tidak bertanggungjawab atas kehilangan, pencurian atau kerusakan
terhadap barang tersebut.
6) Dilarang merokok selama berada di lingkungan rumah sakit termasuk
di area parkir rumah sakit.

73
7) Setelah jam kunjungan (Besuk) berakhir, petugas Satpam akan
menutup/mengunci seluruh pintu ruang rawat inap.
8) Petugas Satpam berwenang untuk melaksanakan penertiban sesuai
ketentuan tersebut diatas.
9) Pengunjung pasien yang dirawat di ICUtidak diperkenankan masuk ke
ruang ICU, disediakan ruang kunjungan dengan pembatas jendela
kaca, kesempatan masuk ke ICU bertemu pasien hanya diberikan
kepada keluarga dan akan dilakukan pengaturan secara bergantian oleh
perawat ICU.
10) Izin berkunjung diluar waktu kunjungandiberikan hanya pada keadaan
tertentu atau alasan khusus dengan ketentuan pengunjung meminta
izin kepada staf Customer Care & Kantor Terima (CCKTM) dengan
menyebutkan alasan khususnya.Demi kenyamanan pasien dan
ketertiban diruang perawatan maka petugas akan mengatur jumlah
pengunjung yang bolehmasukserta alokasi waktuberkunjungnya, sesuai
dengan kondisi pasien saat itu dan situasi di ruang perawatan.

BARANG MILIK PASIEN, KELUARGA DAN PENGUNJUNG

1) Dianjurkan TIDAK memakai perhiasan, membawa barang-barang


berharga, maupun menyimpan uang dalam jumlah besar di kamar
perawatan. Jika pasien memakai perhiasan atau membawa barang
berharga ketika masuk rumah sakit, mintalah agar keluarga
menyimpannya di rumah.
2) Penyimpanan uang danbarang berharga pasien/ keluargamenjadi
tanggungjawab pasien/ keluarga pasien sendiri. Jangan
menyerahkan barang/ uang kepada orang/ petugas yang tidak jelas
identitasnya/ tidak dikenal.
3) TIDAKdiperkenankan untuk membawa Peralatan Elektronikaseperti
Televisi, Tape Recorder, pemanas air, pemasak nasi, microwavedan
peralatan listrik lainnya yang berpengaruh pada lonjakan bebanserta
instabilitas kelistrikan rumah sakit.

2.6.Peraturan Bagi Penjaga Pasien

74
1) Penjaga pasien wajibselalumengenakan KARTU IJIN JAGAselama berada
di area rumah sakit dan dikembalikan ke petugas perawatan ketika
sementara waktu meninggalkan rumah sakit atauketikaproses perawatan
selesai.
2) Demi menjaga kenyamanan dan privasi pasien maka:
a. Satu pasien dijaga oleh 1 (satu)penjaga, kecuali ada indikasi medis
yang mengharuskan dijaga lebih dari 1 (satu) orang.
b. Kamar mandi di ruang perawatan khusus untuk pasien, tidak
diperkenankan untuk mencucibaju. Penunggu/ penjaga pasien tidak
diperkenankan menggunakan kamar mandi pasien.
3) Tempat tidur di kamar perawatan disediakan khusus untuk pasien, penjaga
pasien disediakan kursi, mohon tidak duduk/ tidur di tempat tidur pasien
maupun di lantai.

2.7.Keamanan dan Ketertiban Rumah Sakit


1) Rumah Sakit dilengkapi dengan sistim keamanan terpusat dengan
ditunjang perangkat CCTV di beberapa area.
2) Meskipun rumah sakit sudah mengupayakan sistim keamanan tersebut,
namun karena rumah sakit merupakan area publik dan tidak semua
orang yang datang dapat dipantau satu per satu, maka kehilangan atas
uang dan/ barang berharga milik pasien / keluarga/pengunjung menjadi
tanggung jawab perseorangan. Rumah Sakit tidak bertanggungjawab
atas kehilangan tersebut.
3) Keluarga, penjaga dan pengunjung pasien diharapkan ikut serta
menjaga keamanan, kebersihan, kerapian, dan ketertiban di
lingkungan rumah sakit.
4) Apabila melihat orang/ barang/ hal-hal yang mencurigakan, segera
hubungi/ laporkan kepada perawat ruangan/ petugas sekuriti.

2.8.Tata Cara Pengajuan Keluhan

75
1) Rumah sakit menyiapkan sarana untuk pasien dapat menyampaikan saran,
keluhan/ komplain melalui petugas Customer Care & Kantor Terima
(CCKTM) atau petugas di unit terkait tempat pasien dilayani
2) Penyampainan saran, keluhan/komplain bisa dilakukan secara langsung,
melalui kuesioner/kotak saran, melalui telepon atau email yang tersedia.

2.9.Hak dan Kewajiban Perawat, Bidan, dan Rumah Sakit

Hak dan Kewajiban Perawat dan Bidan di Rumah Sakit (SK Dirjen
Yanmed No. YM 00.03.2.6.956 Th 1997
1) Hak-hak Perawat dan Bidan
a. Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai
dengan profesinya.
b. Mengembangkan diri melalui kemampuan spesialisasi sesuai latar
belakang pendidikannya.
c. Menolak keinginan klien/pasien yang bertentangan dengan peraturan
perundangan serta standar profesi dan kode etik profesi.
d. Mendapatkan informasi lengkap dari klien/pasien yang tidak puas
terhadap pelayanannya.
e. Meningkatkan pengetahuan berdasarkan perkembangan IPTEK
dalam bidang keperawatan/kebidanan/kesehatan secara terus
menerus.
f. Diperlakukan adil dan jujur oleh rumah sakit maupun klien/pasien
dan atau keluarganya.
g. Mendapatkan jaminan perlindungan terhadap risiko kerja yang
berkaitan dengan tugasnya.
h. Diikutsertakan dalam penyusunan/penetapan kebijakan pelayanan
kesehatan di rumah sakit
i. Diperhatikan privasinya dan berhak menuntut apabila nama baiknya
dicemarkan oleh klien/pasien dan atau keluarganya serta tenaga
kesehatan lain.

76
j. Menolak pihak lain yang memberi anjuran/permintaan tertulis untuk
melakukan tindakan yang bertentangan dengan perundang-undangan,
standar profesi dan kode etik profesi.
k. Mendapatkan perhargaan imbalan yang layak dari jasa profesinya
sesuai peraturan/ketentuan yang berlaku di rumah sakit.
l. Memperoleh kesempatan mengembangkan karir sesuai dengan
bidang profesinya.

2) Kewajiban Perawat dan Bidan


a. Mematuhi semua peraturan RS dengan hubungan hukum antara
perawat dan bidan dengan pihak RS.
b. Mengadakan perjanjian tertulis dengan pihak rumah sakit
c. Memenuhi hal-hal yang telah disepakati / perjanjian yang telah
dibuatnya.
d. Memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan atau kebidanan
sesuai dengan standar profesi dan batas kewenangannya atau otonomi
profesi.
e. Menghormati hak-hak klien atau pasien.
f. Merujuk klien atau pasien kepada perawat lain atau tenaga kesehatan
lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik.
g. Memberikan kesempatan kepada klien/pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarganya dan dapat menjalankan ibadah
sesuai dengan agama atau keyakinannya sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan pelayanan kesehatan.
h. Bekerjasama dengan tenaga medis/tenaga kesehatan lain yang terkait
dalam memberikan pelayanan kesehatan/asuhan kebidanan kepada
klien/pasien.
i. Memberikan informasi yang adekuat tentang tindakan keperawatan
atau kebidanan kepada klien/pasien dan atau keluarganya sesuai
dengan batas kewenangannya.
j. Membuat dokumen asuhan keperawatan atau kebidanan secara akurat
dan berkesinambungan.

77
k. Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan atau kebidanan sesuai
standar profesi keperawatan atau kebidanan dan kepuasan
klien/pasien.
l. Mengikuti IPTEK keperawatan atau kebidanan secara terus menerus.
m. Melakukan pertolongan darurat sebagai tugas perikemanusiaan sesuai
dengan batas kewenangannya.
n. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang klien/pasien
bahkan juga setelah klien/pasien tersebut meninggal, kecuali jika
diminta keterangannya oleh yang berwenang.

SE Direktur Jenderal Pelayanan Medik No.YM.02.04.3.5.2504


Tahun 1997 tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter
dan RS

1) Hak-hak Rumah Sakit


a. Rumah sakit berhak membuat peraturan-peraturan yang berlaku
di rumah sakitnya sesuai dengan kondisi/keadaan yang ada di
rumah sakit tersebut (hospital by laws)
b. Rumah sakit berhak mensyaratkan bahwa pasien harus mentaati
segala peraturan rumah sakit.
c. Rumah sakit berhak mensyaratkan bahwa pasien harus mentaati
segala instruksi yang diberikan dokter kepadanya.
d. Rumah sakit berhak memilih tenaga dokter yang akan bekerja di
rumah sakit melalui panitia kredensial.
e. Rumah sakit berhak menuntut pihak-pihak yang telah melakukan
wanprestasi (termasuk pasien, pihak ketiga, dan lain-lain).
f. Rumah sakit berhak mendapat perlindungan hukum.

2) Kewajiban Rumah Sakit


a. Rumah sakit wajib mematuhi perundangan dan peraturan yang
dikeluarkan oleh Pemerintah.
b. Rumah sakit wajib memberikan pelayanan kepada pasien tanpa
membedakan suku, ras, agama, seks dan status sosial pasien

78
c. Rumah sakit wajib merawat pasien sebaik-baiknya dengan tidak
membedakan kelas perawatan (duty of care).
d. Rumah sakit wajib menjaga mutu perawatan dengan tidak
membedakan kelas perawatan (quality of care)
e. Rumah sakit wajib memberikan pertolongan pengobatan di unit
gawat darurat tanpa meminta jaminan materi terlebih dahulu
f. Rumah sakit wajib menyediakan sarana dan peralatan umum
yang dibutuhkan.
g. Rumah sakit wajib menyediakan sarana dan peralatan medik
(medical equipment)sesuai dengan standar yang berlaku.
h. Rumah sakit wajib menjaga agar semua sarana dan peralatan
senantiasa dalam keadaan siappakai (ready for use).
i. Rumah sakit wajib merujuk pasien kepada rumah sakit lain
apabila tidak memiliki sarana , prasarana, peralatan dan tenaga
yang diperlukan.
j. Rumah sakit wajib mengusahakan adanya sistem, sarana dan
prasarana pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana
k. Rumah sakit wajib membuat standar dan prosedur tetap baik
untuk pelayanan medik, penunjang medik, non medik.
l. Khusus untuk RS Pendidikan, RS wajib memberikan informasi
bahwa penderita termasuk dalam proses/pelaksanaan pendidikan
dokter/dokter spesialis.

BAB III

ASPEK LEGAL

3.1 Perizinan Bangunan


Penetapan kelas rumah sakit merupakan salah satu bagian dari klasifikasi
dan penilaian dalam proses ijin mendirikan dan operasional rumah sakit yang
telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit dan diterjemahkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

79
340 tahun 2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit dan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 56 tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah
Sakit. Dalam hal ini Batanghari Trauma Center Hospital, termasuk dalam
klasifikasi Rumah Sakit Tipe C. Oleh karena itu dalam aspek legal izin
mendirikan, izin operasional dan izin peningkatan kelas oleh Dinas Kab/Kota
dan dalam pembentukan tim visitasi oleh Dinkes Kab/Kota berdasarkan
Rekomendasi teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

3.1.1 Izin mendirikan rumah sakit


Izin mendirikan diberikan untuk mendirikan bangunan baru atau
mengubah fungsi bangunan lama untuk difungsikan sebagai rumah sakit.
Pengajuan izin mendirikan paling sedikit 12 (dua belas) bulan sebelum
pembangunan rumah sakit

3.1.2 Persyaratan
Pemilik atau pengelola yang akan mendirikan rumah sakit harus
mengajukan permohonan izin mendirikan kepada institusi yang berwenang
sebelum dilakukan pendirian bangunan sesuai dengan klasifikasi rumah
sakit dengan melampirkan dokumen administrasi:

a. Surat rekomendasi dari tim ahli bangunan pada Badan/Dinas


Pelayanan Terpadu Satu Pintu bidang kesehatan atau Dinas
Pekerjaan Umum setempat;
b. Surat rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang
kesehatan pada Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota sesuai
dengan klasifikasi Rumah Sakit berdasarkan data rasio kebutuhan
jumlah 1 tempat tidur Rumah Sakit per 1000 penduduk dengan
batas toleransi kelebihan 10% dari kebutuhan tempat tidur di
Provinsi/Kabupaten/Kota (yang dinyatakan masih terdapat
kekurangan tempat tidur);
c. Fotokopi akta pendirian badan hukum yang sah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangundangan, kecuali instansi
Pemerintah atau Pemerintah Daerah;
d. Studi kelayakan (feasibility study) rumah sakit

80
e. Master plan;
f. Detail Engineering Design (DED);
g. Dokumen pengelolaan dan pemantauan lingkungan;
h. Fotokopi sertifikat tanah/bukti kepemilikan tanah atas nama badan
hukum pemilik rumah sakit;
i. Izin Undang-Undang Gangguan (Hinder Ordonantie/HO);
j. Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
k. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

3.1.3 Persyaratan Izin Mendirikan


a. Studi kelayakan merupakan gambaran kegiatan perencanaan rumah
sakit secara fisik dan non-fisik yang terdiri atas:
1. kajian kebutuhan pelayanan rumah sakit yang meliputi:
1) Kajian demografi yang mempertimbangkan luas wilayah dan
kepadatan penduduk serta karakteristik penduduk yang terdiri dari
umur, jenis kelamin, dan status perkawinan;
2) Kajian sosio-ekonomi yang mempertimbangkan
kultur/kebudayaan, tingkat pendidikan, angkatan kerja, lapangan
pekerjaan, pendapatan domestic rata-rata bruto;
3) Kajian morbiditas dan mortalitas, yang mempertimbangkan
sekurang-kurangnya sepuluh penyakit utama, angka kematian
(GDR, NDR), dan angka persalinan;
4) Kajian kebijakan dan regulasi, yang mempertimbangkan
kebijakan dan regulasi pengembangan wilayah pembangunan
sector non-kesehatan, kesehatan, dan perumahsakitan.
5) Kajian aspek internal Rumah Sakit merupakan rancangan sistem-
sistem yang akan dilaksanakan atau dioperasionalkan, yang terdiri
dari sistem manajemen organisasi termasuk sistem manajemen
unitunit pelayanan, sistem unggulan pelayanan, arif teknologi
peralatan, sistem tarif, serta rencana kinerja dan keuangan.
2. Kajian kebutuhan lahan, bangunan, prasarana, sumber daya
manusia, dan peralatan sesuai kriteria klasifikasi Rumah Sakit yang
akan didirikan yang meliputi:

81
1) Lahan dan bangunan rumah sakit harus dalam satu kesatuan
lokasi yang saling berhubungan dengan ukuran, luas dan bentuk
lahan serta bangunan/ruang mengikuti ketentuan tata ruang
daerah setempat yang berlaku.
2) Persyaratan lokasi meliputi:
a. Tidak berada di lokasi area berbahaya (di tepi lereng, dekat
kaki gunung yang rawan terhadap longsor, dekat anak
sungai atau badan air yang dapat mengikis fondasi, dekat
dengan jalur patahan aktif/gempa, rawan tsunami, rawan
banjir, berada dalam zona topan/badai, dan lain-lain).
b. Harus tersedia infrastruktur aksesibilitas untuk jalur
transportasi.
c. Ketersediaan utilitas publik mencukupi seperti air bersih,
jaringan air kotor, listrik, jalur komunikasi/telepon.
d. Ketersediaan lahan parkir.
e. Tidak berada di bawah pengaruh SUTT dan SUTET.
3) Rencana cakupan, jenis pelayanan kesehatan, dan fasilitas lain;
4) Jumlah, spesialisasi, dan kualifikasi sumber daya manusia; dan
5) Jumlah, jenis, dan spesifikasi peralatan mulai dari peralatan
sederhana hingga peralatan canggih
6) Kajian kemampuan pendanaan/pembiayaan yang meliputi:
a. Prakiraan jumlah kebutuhan dana investasi dan sumber
pendanaan;
b. Prakiraan pendapatan atau proyeksi pendapatan terhadap
prakiraan jumlah kunjungan dan pengisian tempat tidur;
c. Prakiraan biaya atau proyeksi biaya tetap dan biaya tidak
tetap terhadap prakiraan sumber daya manusia;
d. royeksi arus kas 5 (lima) sampai 10 (sepuluh) tahun; dan
e. Proyeksi laba atau rugi 5 (lima) sampai 10 (sepuluh)
tahun.
b. Master plan memuat strategi pengembangan asset untuk sekurang-
kurangnya 10 (sepuluh) tahun ke depan dalam pemberian

82
pelayanan kesehatan secara optimal yang meliputi identifikasi
proyek perencanaan, demografis, tren masa depan, fasilitas yang
ada, modal dan pembiayaan;
c. Detail Engineering Design (DED) merupakan gambar perencanaan
lengkap rumah sakit yang akan dibangun yang meliputi gambar
arsitektur struktur dan mekanika elektrik sesuai dengan persyaratan
teknis yang ditetapkan oleh Menteri;
d. Dokumen pengelolaan dan pemantauan lingkungan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf e terdiri atas upaya pengelolaan
lingkungan (UKL), upaya pemantauan lingkungan (UPL), atau
analisis dampak lingkungan (AMDAL) berdasarkan klasifikasi
rumah sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
e. Izin Undang - Undang Gangguan (hinder ordonantie/HO) dan/atau
surat izin tempat usaha (SITU), dan izin mendirikan bangunan
(IMB) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g, huruf h, dan
huruf i diperoleh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Izin Mendirikan Bangunan atau biasa dikenal
dengan IMB adalah perizinan yang diberikan oleh Kepala Daerah
kepada pemilik bangunan untuk membangun baru, Imengubah,
memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan sesuai
dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang
berlaku. IMB merupakan salah satu produk hukum untuk
mewujudkan tatanan tertentu sehingga tercipta ketertiban,
keamanan, keselamatan, kenyamanan, sekaligus kepastian hukum.
Kewajiban setiap orang atau badan yang akan mendirikan
bangunan untuk memiliki Izin Mendirikan Bangunan diatur pada
Pasal 5 ayat 1 Perda 7 Tahun 2009.

3.1.4 Prosedur Izin Mendirikan


Pemilik/Pimpinan rumah sakit mengajukan surat permohonan izin
mendirikan ditujukan kepada penerbit izin (Badan/Dinas Pelayanan

83
Terpadu Satu Pintu bidang kesehatan) dengan melampirkan persyaratan
administrasi;

a. Surat permohonan tembusannya disampaikan kepada:


1. Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan
2. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi setempat
3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
b. Berkas surat permohonan yang telah diterima dilakukan
pemeriksaan kelengkapan dokumen oleh Badan/Dinas Pelayanan
Terpadu Satu Pintu bidang kesehatan;
c. Penerbit izin harus menerbitkan bukti penerimaan berkas
permohonan yang telah lengkap atau memberikan informasi
apabila berkas permohonan belum lengkap kepada pemilik atau
pengelola yang mengajukan permohonan izin mendirikan dalam
jangka waktu paling lama 6 (enam) hari kerja sejak berkas
permohonan diterima. Dokumen yang belum langkap agar segera
dilengkapi oleh rumah sakit selama waktu 6 (enam) hari;
d. Penerbit izin (Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu bidang
kesehatan) memberikan data dukung kelengkapan berkas
permohonan izin mendirikan kepada Direktur Jenderal di
lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung
jawabnya di bidang pembinaan perumahsakitan atau pejabat yang
berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota;
e. Untuk RS kelas A dan PMA, Direktur Jenderal di lingkungan
Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang pembinaan perumahsakitan mendelegasikan wewenang
pembentukan Tim Visitasi pemberian izin mendirikan kepada
Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan
tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan Perumahsakitan;
f. Direktur Jenderal di lingkungan Kementerian Kesehatan yang
tugas dan tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan
Perumahsakitan mendelegasikan wewenang pembentukan Tim

84
Visitasi pemberian izin mendirikan kepada Direktur di
lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung
jawabnya di Bidang Pembinaan Perumahsakitan;
g. Berdasarkan data dukung kelengkapan berkas permohonan,
Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan
tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan Perumahsakitan atau
pejabat yang berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah
Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan:
1) Telaah terhadap kelengkapan dokumen
2) Kajian audit master plan, analisa studi kelayakan bangunan
dan dokumen lainnya;
3) Berkoordinasi dengan tim ahli bangunan pada Badan/Dinas
Pelayana Terpadu Satu Pintu bidang kesehatan atau Dinas
Pekerjaan Umum setempat untuk mendapatkan rekomendasi;
h. Membentuk Tim Visitasi izin mendirikan yang terdiri atas:
1) izin mendirikan RS kelas A dan RS PMA terdiri atas
Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan,
Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan, Direktorat Fasilitas
Pelayanan Kesehatan), Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, Asosiasi Perumahsakitan
Nasional
2) izin rumah sakit kelas B terdiri atas unsur Dinas Kesehatan
Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Asosiasi
Perumahsakitan Nasional.
3) izin rumah sakit kelas C dan rumah sakit kelas D terdiri atas
unsur Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, Asosiasi Perumahsakitan Nasional.
i. Berdasarkan penunjukan Tim Visitasi, Tim bertugas:
1) Untuk audit masterplan dan penilaian kelayakan
pembangunan rumah sakit, tim berkoordinasi dengan tim
ahli bangunan pada Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu

85
Pintu bidang kesehatan atau Dinas Pekerjaan Umum
setempat;
2) Sesuai jadwal yang ditentukan Tim Visitasi akan
melaksanakan kunjungan ke rumah sakit untuk melakukan
penilaian dokumen dan peninjauan lapangan atas kelayakan
paling lama 7 (tujuh) hari setelah penunjukan;
j. Tim Visitasi harus menyampaikan laporan hasil visitasi kepada
Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan
tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan Perumahsakitan atau
pejabat yang berwenang di bidang kesehatan di tingkat provinsi
atau kabupaten/kota dan umpan balik (feed back) kepada
Pemohon yang ditandatangan oleh Direktur di lingkungan
Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang pembinaan perumahsakitan atau pejabat yang berwenang
di Bidang Kesehatan di tingkat Provinsi atau Kabupaten/Kota
kepada pemohon;
k. Berdasarkan laporan hasil visitasi oleh Tim Visitasi, Direktur di
lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung
jawabnya di bidang perumahsakitan menyampaikan laporan
kelayakan pembangunan rumah sakit kepada Direktur Jenderal di
lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung
jawabnya di bidang perumahsakitan;
l. Berdasar laporan kelayakan pembangunan, Direktur Jenderal di
lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung
jawabnya di Bidang Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang
di Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota menyampaikan surat rekomendasi
penerbitan/penolakan izin kepada penerbit izin paling lama 7
(tujuh) hari kerja;
m. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak rekomendasi teknis
diterima, penerbit izin (Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu

86
Pintu bidang keehatan) harus mengeluarkan surat penerbit
/penolakan izin rekomendasi teknis.

1.3.5 Prosedur Perizinan Operasional


a. Pemilik/Pimpinan rumah sakit mengajukan surat permohonan izin
Operasional ditujukan kepada penerbit izin (Badan/Dinas
Pelayanan Terpadu Satu Pintu bidang kesehatan) dengan
melampirkan persyaratan administrasi;
b. Surat permohonan tembusannya disampaikan kepada:
1. Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan
2. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi setempat
3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
c. Berkas surat permohonan yang telah diterima dilakukan
pemeriksaan kelengkapan dokumen oleh Badan/Dinas Pelayanan
Terpadu Satu Pintu bidang kesehatan;
d. Penerbit izin harus menerbitkan bukti penerimaan berkas
permohonan yang telah lengkap atau memberikan informasi
apabila berkas permohonan belum lengkap kepada pemilik atau
pengelola yang mengajukan permohonan izin mendirikan dalam
jangka waktu paling lama 6 (enam) hari kerja sejak berkas
permohonan diterima. Dokumen yang belum langkap agar segera
dilengkapi oleh rumah sakit selama waktu 6 (enam) hari;
e. Penerbit izin (Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu bidang
kesehatan) memberikan data dukung kelengkapan berkas
permohonan izin mendirikan kepada Direktur Jenderal di
lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung
jawabnya di bidang pembinaan perumahsakitan atau pejabat yang
berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota;
f. Untuk RS kelas A dan PMA, Direktur Jenderal di lingkungan
Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang pembinaan perumahsakitan mendelegasikan wewenang
pembentukan Tim Visitasi pemberian izin mendirikan kepada

87
Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan
tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan Perumahsakitan;
g. Direktur Jenderal di lingkungan Kementerian Kesehatan yang
tugas dan tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan
Perumahsakitan mendelegasikan wewenang pembentukan Tim
Visitasi pemberian izin mendirikan kepada Direktur di
lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung
jawabnya di Bidang Pembinaan Perumahsakitan;
h. Berdasarkan data dukung kelengkapan berkas permohonan,
Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan
tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan Perumahsakitan atau
pejabat yang berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah
Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota membentuk Tim Visitasi
i. Sesuai jadwal yang ditentukan Tim Visitasi akan melaksanakan
kunjungan ke rumah sakit untuk melakukan penilaian dokumen
dan peninjauan lapangan paling lama 14 (empat belas) hari
setelah penunjukan;
j. Pelaksanaan proses visitasi sebagai berikut:
1. Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas
dan tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan
Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di Bidang
Kesehatan pada Pemerintah Daerah Provinsi,
Kabupaten/Kota menyampaikan surat tertulis kepada rumah
sakit untuk pelaksanaan visitasi;
2. Pada pelaksanaan visitasi, Tim Visitasi membagi tugas
dalam penilaian di 4 (empat) kelompok yaitu :
1) Administrasi dan manajemen;
2) Pelayanan;
3) Sumber daya manusia;
4) Sarana prasarana dan alat kesehatan;
3. Tim Visitasi melakukan kompilasi hasil penelusuran dan
penilaian;

88
4. Hasil penilaian Tim Visitasi berikut catatancatatan
mengenai hal-hal yang perlu disempurnakan/diperbaiki
disampaikan oleh Tim Visitasi kepada pihak rumah sakit
(pada pertemuan exit meeting yang dihadiri oleh seluruh
pimpinan rumah sakit);
5. Tim Visitasi membuat Berita Acara Hasil Penelusuran
setelah dilakukan klarifikasi bersama pihak rumah sakit
terhadap seluruh hasil penelusuran dan penilaian;
6. Berita Acara Pemeriksaan (BAP) ditandatangani oleh Tim
Visitasi dan pihak rumah sakit
k. Tim visitasi harus menyampaikan laporan hasil visitasi kepada
Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan
tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan Perumahsakitan atau
pejabat yang berwenang di bidang kesehatan di tingkat Provinsi
atau Kabupaten/Kota paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah
visitasi dilakukan;
l. Berdasarkan laporan hasil visitasi, Tim Visitasi membuat umpan
balik (feedback) hasil visitasi kepada Pimpinan rumah sakit, yang
ditandatangani oleh Direktur di lingkungan Kementerian
Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang
Pembinaan Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di
bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota untuk dilakukan perbaikan/tindak lanjut
paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah visitasi dilakukan;
m. Tim Visitasi memastikan rumah sakit memberikan surat
komitmen untuk melengkapi perbaikan terhadap catatan hasil
penilaian dan komitmen sampai berapa lama untuk dilakukan
perbaikan setelah menerima surat umpan balik (feedback) hasil
visitasi paling lama 6 (enam hari) kerja;
n. Dalam hal hasil verifikasi lapangan tidak sesuai dengan
klasifikasi yang ditetapkan, Direktur di lingkungan Kementerian
Kesehatan yang tugas dan 19 tanggung jawabnya di bidang

89
Pembinaan Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di
Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota menugaskan Tim Visitasi untuk
melakukan satu kali penilaian ulang dengan waktu yang
disepakati. Hasil penilaian ulang dilaporkan paling lambat 12
(dua belas hari);
o. Terhadap rumah sakit yang masih dalam proses pengurusan
perpanjangan Izin Operasional dan dilakukan verifikasi ulang,
Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan
tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan Perumahsakitan atau
pejabat yang berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah
Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota dapat memberikan surat
keterangan sedang dalam pengurusan perpanjangan izin
operasional yang dapat dipergunakan sampai batas izin
operasional sebelumnya habis;
p. Berdasarkan tindak lanjut perbaikan atas catatan hasil
pemeriksaan Tim Visitasi oleh rumah sakit, Direktur Jenderal di
lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung
jawabnya di Bidang Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang
di Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota menyampaikan surat rekomendasi
penerbitan/penolakan izin kepada penerbit izin (Badan/Dinas
Pelayanan Terpadu Satu Pintu Bidang Kesehatan) paling lama 7
(tujuh) hari kerja;
q. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak rekomendasi teknis
diterima, penerbit izin (Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu
Pintu Bidang Kesehatan) harus mengeluarkan surat
penerbitan/penolakan izin sesuai rekomendasi teknis;
r. Dalam hal rekomendasi teknis permohonan Izin diterima dari
Direktur Jenderal di lingkungan Kementerian Kesehatan yang
tugas dan tanggung jawabnya di Bidang Perumahsakitan atau
pejabat yang berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah

90
Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota, penerbit izin (Badan/Dinas
Pelayanan Terpadu Satu Pintu Bidang Kesehatan) menerbitkan
Izin berupa surat keputusan dan sertifikat yang memuat kelas
Rumah Sakit dan jangka waktu berlakunya izin;
s. Dalam hal rekomendasi teknis permohonan Izin ditolak, pemberi
izin harus memberikan alasan penolakan yang disampaikan secara
tertulis kepada pemohon dan memberikan pilihan kepada
pemohon untuk:
1. melengkapi persyaratan izin operasional sesuai klasifikasi
rumah sakit yang akan diselenggarakan; atau
2. mengajukan permohonan izin operasional sesuai klasifikasi
rumah sakit hasil penilaian Tim Visitasi tanpa dilakukan
visitasi ulang
t. Dalam hal terdapat masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam
kurun waktu sebagaimana dimaksud pada prosedur perizinan,
Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan
tanggung jawabnya di Bidang Perumahsakitan atau pejabat yang
berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota dapat memperpanjang jangka waktu
pemrosesan izin paling lama 14 (empat belas) hari kerja dengan
menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada pemohon.

3.2 Izin Praktik Tenaga Kesehatan


a. Dasar hukum
1. Undang – undang nomor 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik;
2. Inpres nomor 5 tahun 2004 tentang percepatan pemberantasan korupsi;
3. Permenpan rb nomor 15 tahun 2014 tentang standar pelayanan;
4. Peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor
2052/menkes/per/x/2010 tentang izin praktik dan pelaksanaan praktik.
b. Persyaratan izin praktek tenaga kesehatan baru/perpanjangan
1. Surat permohonan bermaterai rp. 6000,-
2. Kartu tanda penduduk (ktp);
3. STR yang diterbitkan dan dilegalisir asli yang masih berlaku;

91
4. Surat pernyataan mempunyai tempat praktik atau surat keterangan
dari sarana pelayanan kesehatan sebagai tempat praktiknya;
5. Surat rekomendasi dari organisasi profesi, sesuai tempat praktik;
6. Pas photo berwarna ukuran 4×6 3 lembar dan 3×4 sebanyak 2
lembar;
7. Ijasah dan transkip nilai;
8. Surat keterangan berbadan sehat;
9. Surat izin praktik lama;
10. Kartu anggota profesi;
11. Semua persyaratan masing-masing dibuat 2 rangkap kecuali surat
permohonan dan pas photo.
12. Jangka waktu : permohonan baru = 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak
berkas dan persyaratan lengkap dan benar / setelah verifikasi
peninjauan lapangan dan tidak ada permasalahan.
c. Pedoman pengelolaan pelayanan
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang
Rumah Sakit Pasal 5 ayat(1), pasal 20, pasal 28H ayat (1), paal 34 ayat 3

92
BAB IV

ASPEK TEKNIS JASA PELAYANAN

Pelayanan Trauma Center yang memberikan pelayanan khusus trauma terdiri


dari 5 level yaitu:
1) Level 1
Memberikan pelayanan terhadap kasus–kasus trauma secara menyeluruh, yang
merupakan sumber daya daerah setempat, termasuk sebagai sarana
pendidikan, penelitian dan perencanaan sistem. Pada level ini menyediakan
pelayanan kesehatan kasus trauma yang dilengkapi tenaga ahli seperti: dokter
ahli bedah trauma, dokter ahli bedah umum, dokter ahli anestesi, dokter ahli
lainnya, perawat dan dilengkapi perlengkapan resusitasi.

2) Level II
Memberikan pelayanan trauma secara menyeluruh serta sebagai pendukung
Trauma Center Level I pada daerah perkotaan yang besar atau sebagai rumah
sakit utama pada daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, namun di
level ini tidak memerlukan atau mengadakan sarana pendidikan, penelitian
yang berkelanjutan.

3) Level III
Memberikan pelayanan terhadap kasus trauma, namun tidak memiliki atau
menyediakan pelayanan ahli/spesialis secara penuh, tetapi memiliki sumber
daya untuk resusitasi gawat darurat, bedah, pelayanan intensif dari hampir
semua pasien trauma. Trauma Center level III memberikan pelayanan pada
masyarakat yang akses ke Trauma Center level I atau II cukup jauh.

4) Level IV dan V
Memberikan pelayanan terhadap kasus trauma pada daerah yang tidak
memiliki pelayanan trauma yang lebih tinggi. Peranan dari Trauma Center
level IV lebih terfokus pada resusitasi dan stabilisasi pasien serta mengatur
proses rujukan pasien ke Trauma Center yang memilki perlengkapan yang

93
lebih memadai serta berada di lokasi yang mudah diajangkau dalam waktu
singkat. American College of Surgeons tidak menandai secara spesifik
Trauma Center level V, tetapi pada level ini disiapkan untuk memberikan
pelayanan kesehatan pada pasien trauma di daerah-daerah yang jauh dari
rumah sakit yang memiliki perlengkapan hidup lanjut.

4.1.Jenis Pelayanan

1) Pelayanan Rawat Jalan


2) Pelayanan Rawat Inap
3) Pelayanan Gawat Darurat 24 Jam
4) Pelayanan Penunjang Medik Pelayanan Ambulance
5) Pelayanan Mobil Jenazah

4.2.Rincian Pelayanan

Rumah Sakit Trauma Center Batanghari memberikan pelayanan kesehatan


dengan rincian sebagai berikut :
1) Pelayanan Rawat Jalan
Adapun pelayanan rawat jalan Rumah Sakit Trauma Center Batanghari
adalah sebagai berikut :
a. Poli Penyakit Dalam
b. Poli Kesehatan Anak
c. Poli Penyakit Bedah
d. Poli Penyakit Kebidanan dan Kandungan
e. Poli Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT)
f. Poli Bedah Orthopaedi
g. Poli Klinik Gigi Spesialis
a) Bedah Mulut
b) Orthodonti
h. Poli Klinik Umum :
a) Poli Klinik Umum Anak
b) Poli Klinik Umum Dewasa

94
c) Poli Klinik Gigi Umum
2) Pelayanan Rawat Inap
Terdapat beberapa kamar yang disediakan yaitu VIP, Kelas 1, Kelas 2,
Kelas 3

3) Pelayanan Gawat Darurat 24 Jam


Dalam melaksanakan fungsi pelayanan kepada masyarakat,
pelayanan IGD dilengkapi oleh peralatan yang cukup memenuhi
standar juga didukung oleh SDM yang cukup terampil dibidangnya.

4) Pelayanan Penunjanng
Jumlah pemeriksaan yang terbanyak dilakukan pemeriksaan
laboratorium, pemeriksaan radiologi terbanyak adalah Thorax dan
tindakan pembedahan terbanyak adalah operasi besar. Berikut ini
adalah pelayanan penunjang yang dimiliki Rumah Sakit Trauma Center
Batanghari :
a. Pelayanan Bedah Sentral
b. Pelayanan Radiologi ( termasuk USG )
c. Pelayanan Laboratorium
d. Pelayanan Patologi ( Patologi klinik )
e. Pelayanan Farmasi
f. Pelayanan Konsultasi Gizi
g. Pelayanan Rehabilitasi Medik
h. Pelayanan ICU
5) Pelayanan Ambulance
6) Pelayanan Mobil Jenazah
7) Pelayanan lain terdiri dari :
a. IPSRS
b. Pemulasaraan Jenazah
c. Laundry
d. Pojok Laktasi

95
96
BAB V

ASPEK FINANSIAL

5.1 Rencana Anggaran Dana


DATA UNIT BIAYA
Tanah 2 ha Rp. 2.000.000.000
Bangunan 1 Rp. 10.000.000.000
Perizinan 1 Rp. 13.000.000
Peralatan, antara lain :
1. Ruang IGD
a. Perlengkapan O2 4 Rp. 3.000.000
b. Alat alat intubasi 4 Rp. 200.000
c. DC Shock 1 Rp. 60.000.000
d. Alat resitutasi 3 Rp. 900.000
e. EKG 1 Rp. 30.000.000
2. Ruang ICU
a. Perlengkapan O2 4 Rp. 3.000.000
b. EKG 1 Rp. 30.000.000
c. Alat resitutasi 3 Rp. 900.000
3. Ruang Operasi
a. Meja operasi 2 Rp. 80.000.000
b. Meja anestesi 2 Rp. 300.000.000
c. Lampu operasi 2 Rp. 60.000.000
d. Instrumen
pembedahan 4 Rp. 12.000.000
e. Suction 4 Rp. 4.000.000
4. Radiologi
a. Tilting table 1 Rp. 40.000.000
b. Stationery bucky table 1 Rp. 75.000.000

c. USG 1 Rp. 25.000.000


d. CT Scan 1 Rp. 2.000.000.000

97
5. Laboratorium
a. Auto analyzer 1 Rp. 200.000.000
b. Centrifuge 1 Rp. 2.000.000
c. Fotometer 1 Rp. 18.000.000
d. Alat pemeriksaan 2 Rp. 20.000.000
kimia klinis
e. Alat pemeriksaan 2 Rp. 5.000.000
urine
6. Rehabilitasi Medis
a. Terapi panas 2 Rp. 30.000.000
(inframerah)
b. Terapi dingin 2 Rp. 20.000.000
c. Traksi 4 Rp. 50.000.000
d. Elektri stimuli 2 Rp. 3.000.000
7. Ruang rawat inap dan
jalan 60 Rp. 18.000.000
a. Laken dan selimut
b. Bantal 60 Rp. 3.000.000
c. Gorden 50 Rp. 7.500.000
d. Stetoskop 40 Rp 12.000.000
e. Tensimeter 40 Rp. 8.000.000

8. Lainnya Rp. 2.500.000


a. Infus set 50
b. Suntikan set 50 Rp. 4.500.000
c. Kursi 50 Rp. 3.000.000
d. Meja 50 Rp. 3.000.000
e. Trolley 50 Rp. 4.000.000
f. AC 20 Rp. 100.000.000

g. Sabun 30 Rp. 150.000


h. Hand sanytizer 30 Rp. 300.000

98
i. Sarung tangan steril 50 Rp. 2.500.000
dan non steril
j. Kassa 50 Rp. 2.000.000
k. Tempat sampah 50 Rp. 1.500.000
TOTAL KESELURUHAN Rp. 15.253.800.000

4.2 Rincian Cashflow


Perhitungan Gaji untuk Karyawan/Staff Rumah Sakit :

TENAGA KERJA MEDIK

a. Gaji tenaga medis ahli,Dokter (16) : Rp. 250.000.000

b. Gaji tenaga media lainnya,perawat (108 orang) : Rp. 300.000.000

c. Gaji cleaning service ( 5 orang) : Rp. 17.500.000

Total : Rp. 567.500.000

APOTEK

a. Gaji Apoteker (4orang) : Rp. 24.000.000

b. Gaji asisten apoteker (1oramg) : Rp. 4.000.000

b. Gaji cleaning service,khusus apotek (3orang) : 3.500.000

Total : Rp.31.500.000

LAB dan Administrasi

a. Gaji petugas LAB (3orang) : Rp. 15.000.000

b. Gaji rekam medik (1orang) : Rp. 4.000.000

c. Gaji administrasi (3orang) : Rp. 15.000.000

Total : Rp. 34.000.000

PETUGAS OUTDOOR

99
a. Supir Ambulance (2orang) : Rp. 10.000.000

b. Satpam (3orang) : Rp. 12.000.000

Total : Rp. 22.000.000

Total Gaji untuk Rumah Sakit - : Rp. 655.000.000

4.3 Estimasi Pengeluaran Rumah Sakit Perbulan

No Jenis Pengeluaran Jumlah


1 Gaji Pegawai
Dokter Umum dan Gigi 8 Rp 40,000,000,-
Dokter Spesialis 10 Rp 100,000,000,-
Perawat Umum (S1) 20 Rp 100,000,000,-
Perawat Umum (D3) 50 Rp 175,000,000,-
Perawat Spesialis 6 Rp 57,000,000,-
Petugas Laboratorium 2 Rp 9,000,000,-
Apoteker 3 Rp 15,000,000,-
Asisten Apoteker 2 Rp 7,000,000,-
Fisioterapist 8 Rp 40,000,000,-
Rekam Medis dan Rp 32,000,000,-
Administrasi 8
Supir Ambulance 2 Rp 7,000,000,-
Cleaning Service 6 Rp 18,000,000,-
Satpam 4 Rp 12,000,000,-
Pos 10 Rp 30,000,000,-
2 Bahan Habis Pakai
Handscoon 6 Ruangan Rp 14,000,000,-
(kondisional ruangan 460 box
handscoon)
Underpad (kondisional Rp 125,000,-
ruangan 50 pcs)
Alcohol Swab Rp 2,286,000,-
(@12.700x30x6)

100
3 Instalasi Listrik Rp 372,000,000,-
4 Pemeliharaan Gedung Rp 3,500,000,-
5 Pemakaian Obat dan Plastik Rp 2,500,000,000,-
obat

Total Rp 3,533,911,000,-

101
BAB VI

ASPEK PEMASARAN

5.1 Analisa Pasar dan Pemasaran


a. Produk / jasa yang dihasilkan
Keunggulan yang dimiliki
Produk yang kami jual adalah pelayanan kesehatan yang diberikan pada
masyarakat. Keunggulan dari rumah sakit kami adalah pelayanan
kesehatan dilakukan oleh dokter yang profesional dan memiliki surat ijin
praktek dan bekerja pada jam praktek. Selain itu rumah sakit kami juga
memberikan pelayanan dengan menerapkan 5s (senyum, salam, sapa,
sopan satun) dengan berciri islami dalam memberikan pelayanan
kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.
b. gambaran pasar
Data penghasilan pasien berkunjung (1 – 5 tahun yang akan datang)
Penurunan atau kenaikan pasien yang berkunjung biasanya
disebabkan oleh cuaca, hari biasa/ hari keagamaan, dan lain-lain. Dan
biasanya kenaikan jumlah pasien yang berkunjung terjadi pada hari raya
keagamaan, hal ini terjadi karena arus mudik serta dalam satu waktu
terjadi wabah penyakit. Selain itu perubahan cuaca yang terjadi juga
menyebabkan kondisi kesehatan masyarakat bisa terganggu
Kegiatan pemasaran dan promosi yang akan dilakukan
1. Personal selling
Personal selling adalah interaksi antar individu, saling bertemu,
tatap muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki,
menguasai dan mempertahankan hubungan pertukaran yang saling
menguntungkan dengan pihak lain. Di batang hari trauma center
hospital , kami melakukan personal selling dengan cara pelayanan
yang diberikan dokter kepada pasien dilakukan semaksimal
mungkin dan menggunakan bahasa komunikasi yang santun dan
ramah. Selain itu pasien selalu diberi kontrak agar kembali untuk
konsultasi apabila sakit yang diderita belum sembuh atau obat yang

102
dikonsumsi habis, dan juga apabila akan dirujuk ke rumah sakit
lain. Dan hasilnya sebagian pasien banyak yang kembali berobat di
Batang Hari Trauma Center Hospital
2. BROSUR
Kami telah membuat brosur yang berisi ajakan pada masyarakat
agar berobat di Batang Hari Trauma Center Hospital, selain itu kita
juga memasang papan nama Rumah Sakit kami di depan Gedung
Rumah Sakit dan kami juga mencetak plastik pembungkus obat
yang diberi nama Batang Hari Trauma Center Hospital, dan
hasilnya banyak yang berkunjung ke Batang Hari Trauma Center
Hospital.
3. FASILITAS
Fasilitas yang akan kami dirikan guna mendukung kemajuan
Rumah sakit kami. Fasilitas yang kami sediakan adalah sistem
pendaftaran yang diatur menggunakan sistem komputerisasi,
sehingga pasien yang sudah terdaftar data kami simpan untuk
riwayat kesehatan. Selain itu, kami merencanakan area bermain
anak-anak sebagai media penghibur bagi pasien yang berobat ke
Batang Hari Trauma Center Hospital serta kami menyediakan
fasilitas umum seperti toilet yang dipisah laki-laki dan perempuan,
Kantin yang menyediakan makanan sehat, Tempat tunggu
Keluarga pasien disetiap sudut lorong rumah sakit kami, kami
meyediakan taman baca bagi pengunjung, serta fasilitas wifi gratis.
4. KEMITRAAN
Rumah Sakit kami bekerja sama dengan beberapa rumah sakit
umum, daerah dan pusat untuk mempermudah dalam mengajukan
rujukan bagi pasien, Serta Rumah sakit kami bekerja sama dengan
Ambulans yang berada di daerah-daerah dibatang hari untuk
mempermudah dalam membawa pasien kerumah sakit kami. Dan
juga bekerja sama oleh Pemerintahan daerah dan Kemenkes daerah
guna untuk meningkatkan pelayanan rumah sakit kami agar dapat
meningkatkan kesehatan masyarakat.

103
c. Target atau segmen pasar yang dituju
Target utama yang dituju adalah masyarakat yang berada disekitar batang
hari dan daerah yang berada sekitar nya
d. proyeksi kunjungan pasien
Diperkirakan dari bulan pertama sampai bulan ke-12 akan selalu
mengalami peningkatan pendapatan, pertama karena nama rumah sakit
kami yang mulai terkenal, selanjutnya karena kebutuhan masyarakat akan
kesehatan yang semakin meningkat, serta lokasi rumah sakit kami yang
strategis mudah dijangkau masyarakat baik dari segi ekonomi maupun
lokasi rumah sakit.
Strategi pemasaran
1. Dengan memasang sepanduk di tempat – tempat umum yang
setrategis.
2. Bekerja sama dengan kelompok pkk di setiap desa untuk
mempromosikan ke masyarakat
3. Berperan serta dalam kegiatan posyandu
4. Ruangan menggunakan pendingin ac
5. Area rumah sakit menggunakan fasilitas wifi, agar pengunjung
dapat mengakses internet.
6. Pendataan pasien menggunakan sistem komputerisasi
7. Menggunakan media sosial untuk memeperkenalkan rumah sakit
kami baik dari web, youtube, instagram mau pun media sosial
lainnya.
8. Menyebarkan bosur terkait rumah sakit kepada masyarakat
9. Menyediakan taman yang luas serta taman bermain yang ramah
anak-anak

5.2 Langkah Penyusunan Strategi Pemasaran


Menurut Freddy Rangkuti (2009):

1. Pengumpulan data
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk
memperoleh data yang diperlukan. Data yang berhubungan erat dengan

104
studi dan objek penelitian. Data yang dikumpulkan dapat berupa data
primer maupun sekunder. Data primer didapat melalui beberapa metode
pengumpulan data primer antara lain :
a. Metode Pengamatan Langsung
Metode ini cara pengambilan data dengan menggunakan mata
tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut.
Cara mencatat pengamatan tidak mempunyai standar tertentu yang
terpenting adalah fenomena dapat dicatat dan perilaku dapat
diketahui dengan jelas.
b. Metode dengan menggunakan Pertanyaan
1) Kuesioner
Kuesioner adalah sebuah set pertanyaan yang secara logis
berhubungan dengan masalah penelitian dimana yang menulis
isiannya adalah responden.
2) Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk
tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap
muka antara penanya dengan penjawab dengan menggunkan
alat yang dinamakan paduan wawancara (interview guide).
2. Analisis
Analisis merupakan suatu proses yang dapat memberi makna
pada data dalam memecahkan permasalahan penelitian dengan
memperlihatkan hubungan-hubungan antara fenomena yang kemudian
dibuat penafsiran-penafsiran terhadap hubungan antara fenomena yang
terjadi.
Tahapan analsis dalam SWOT adalah memanfaatkan semua data
dan informasi dalam model-model kuantitatif perumusan strategi
(Freddy Rangkuti, 2009). Analisis SWOT terlebih dahulu dilakukan
pencermatan (scanning) yang pada hakekatnya merupakan pendataan
dan pengidentifikasian sebagai pra analisis. Model-model yang
digunakan dalam analisis SWOT antara lain sebagai berikut :
a. - IFAS – EFAS (internal - eksternal strategic factor analysis

105
b. summary)
c. - Matrik Space
d. Matrik SWOT
Penggunaan beberapa analisis akan lebih baik sehingga menghasilkan
rumusan strategi yang dapat menyelesaikan permasalahan dan strategi
yang terbentuk sesuai dengan tujuan dan lingkungan yang
dihadapinya.

106
BAB VII

PENUTUP

7.1 Kesimpulan
Batanghari Trauma Center hospital dibuat untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat Jambi khususnya Batanghari yang memerlukan fasilitas trauma
center yang berkualitas dan terjangkau. Diharapkan dengan adanya
pembangunan Rumah Sakit ini dapat digunakan sebagai fasilitas kesehatan
yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat dengan pelayanan yang
berbasis islami dan profesional.

Demikian proposal ini kami buat dengan segala kekurangan dan


ketidaksempurnaannya. Besar harapan kami untuk dapat segera
merealisasikan adanya pembangunan Batanghari Trauma Center hospital ini.

107
Daftar Rujukan

Depkes. 2012. Pedoman teknis bangunan rumah sakit ruang operasi.Jakarta :


Depkes

Kemenkes RI. 2012. Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit Ruang Operasi.
Jakarta: Kemenkes RI

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari.2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif Konsep,


Proses, dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika.

Permenkes nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

Permenkes Nomor 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan RS

Permenkes nomor 279 tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Upaya Keperawatan


Kesehatan Masyarakat

RS Katolik St. Vincentius n Paulo. 2017. HAK/KEWAJIBAN PASIENDAN


TATA TERTIB RAWAT INAP. http://rkzsurabaya.com/wp-
content/uploads/2017/03/Form-Informasi-Hak-Kew-dan-Tata-Tertib-
_lampiran-RM-1-C_-Revisi-05-20171.pdf Diakses pada 31 Mei 2019 pukul
12.00 WIB.

RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Tata Tertib Pengunjung Pasien.


http://web.rshs.or.id/alur-pelayanan/ketentuan-berkunjung-bezoek-kepada-
pasien/. Diakses pada 31 Mei 2019 pukul 11.00 WIB.

108
109